Lembah Nirmala Jilid 24

 Jilid 24

"Apakah gurunya itu. belum mati juga?"

Maka diapun berpikir lebih jauh.

Bisa jadi gurunya yang hampir sekarat dan duduk dikuda kurusnya telah bertemu dengan Kim Thi sia ditengah jalan, kecerdikan dan kegagahan Kim Thi sia segera menimbulkan rasa terharu dihati gurunya itu hingga sebagai balas jasanya dia wariskan ilmu silat simpanannya itu kepada pemuda tersebut.

Ini berarti Kim Thi sia pasti mengetahui perbuatan mereka yang terkutuk itu, dia pasti mendapat pesan dari Malaikat pedang berbaju perlente untuk berpura-pura mengikat tali hubungan dengan mereka, kemudian setelah kesempatan yang baik tiba, dia akan melaksanakan harapan si Malaikat pedang berbaju perlente itu....

Dengan termangu-mangu diawasinya Kim Thi sia tanpa berkedip, dia merasa seakan-akan Malaikat pedang berbaju perlente telah berdiri dihadapannya. Tiba-tiba saja dia merasa bergidik dan mendusin kembali lamunannya.......

Makin dipikir sipedang perak merasakan persoalannya semakin gawat, dengan wajah berubah hebat akhirnya dia membatin:

"Sudah jelas aku sedang memelihara harimau untuk mencelakai diri sendiri. Mungpung sayapnya belum tumbuh secara utuh, kenapa aku tidak berupaya untuk melenyapkan sekarang juga sehingga akibat yang lebih fatal bisa dihindari?"

Lain gumamnya lebih jauh: "Yaa betul, aku mesti memakai akal untuk memancingnya agar dia membeberkan dulu rahasia ilmu silat andalannya itu. Kemudian baru membungkamkan mulutnya untuk selamanya. Atau paling tidak nama serta pamorku harus meningkat lebih tenar dan tersohor."

Lambat laun sekulum senyuman yang susah diduga artinya tersungging diujung bibirnya, dia mengepal tinjunya kencang-kencang sambil melirik sekejap kearah Kim Thi sia, agaknya sebuah keputusan besar telah diambil.

Mendadak segulung desingan angin tajam menyambar lewat dari belakang punggungnya.

Ia segera menarik kembali senyumannya seraya membalikkan badan seraya tiba-tiba sambil melepaskan sebuah gempuran balasan.

orang itu segera mendengus tertahan dan berjongkok keatas tanah dengan napas terengah- engah.

sipedang perak tertawa dingin, tiba-tiba bentaknya lagi dengan suara keras: "Kaupun harus roboh"

Ditengah bentakan keras sebuah serangan jari tangannya mendadak disodokkan kearah seseorang yang sedang menyergap datang dari belakang tubuhnya........

Desingan angin tajampun menderu- deru ditengah udara, belum sempat ruyung penjang orang itu dipergunakan, tahu-tahu jalan darahnya sudah tersambar serangan jari tangan itu, sepasang lututnya menjadi lemas lalu roboh terjungkal keatas tanah. Pada saat itulah terdengar Kim Thi sia membentak keras: "Kena"

Ketika putri Kim huan mendongakkan kepalanya ia saksikan kakek bermuka hitam pekat macam pantat kuali itu sudah jatuh terjungkal keatas tanah dan roboh terkapar.

Wajahnya yang hitam kini berubah jadi pucat pias seperti mayat. napasnya terengah-engah dan tak sanggup lagi untuk merangkak bangun. sambil tertawa Kim Thi sia segera berkata kepada sipedang perak:

"suheng, kemampuanku betul-betul tidak becus, masa setengah harian lamanya baru bisa merobohkan dia"

sipedang perak segera tersenyum.

"Kemampuanmu tak jelek kau tahu, kepandaian silat orang ini kelewat tangguh. sute yang bisa merobohkan dia dalam setengah jam saja sudah terhitung sangat hebat."

sementara dihati kecilnya dia berpikir:

"Bocah keparat ini betul-betul menggidikkan hati, bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus, tak sampai setengah tahun kemudian niscaya dia telah berhasil melampaui kemampuanku."

Tiba-tiba kakek bermuka pantat kuali yang sudah roboh terkapar ditanah itu melompat bangun, kemudian dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya melepaskan babatan maut kelambung anak muda tersebut.

Gerak serangannya ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, itulah sebabnya disaat Kim Thi sia tidak sadar akan datangnya sergapan tersebut. Ujung telapak tangan lawan sudah berada empat inci didepan perutnya, dalam keadan begini jelas ia tak berkesempatan lagi untuk menghindarkan diri, terpaksa sebuah pukulan dilontarkan secara tergesa-gesa untuk membendung datangnya ancaman tadi. "Blaaaaammmmmm. "

Ditengah benturan dahsyat, kakek itu mencelat kebelakang dan tewas seketika, sebaliknya Kim Thi sia mundur dengan sempoyongan lalu jatuh berjumpalitan diatas tanah. Dengan wajah berubah hebat buru-buru putri Kim huan memburu maju kemuka. Tiba-tiba.......

"Jangan bergerak" sipedang perak yang berada dibelakangnya membentak keras.

Disusul kemudian tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat diikuti munculnya bayangan manusia lain dari arah yang berlawanan. Kedua sosok bayangan manusia itu bertemu satu dengan lainnya hampir pada saat yang bersamaan.

"Blaaaaammmmmm. "

Benturan dahsyat segera bergema memecahkan keheningan, kedua belah pihak sama-sama jatuh keatas tanah.

Untuk berapa saat lamanya putri Kim huan berdiri termangu- mangu saking kagetnya, menanti kesadarannya pulih kembali sipedang perak telah memayang tubuh Kim Thi sia, sementara diatas tanah telah bertambah dengan sesosok mayat.

Putri Kim huan menjumpai mayat itu tewas dalam keadaan yang mengerikan, ia tak tega melihat lebih jauh dan buru-buru berjalan menghampiri sipedang perak.

Ia sadar, orang tersebut berniat menyergapnya dari belakang, untung sipedang perak tiba pada saatnya dan membinasakan orang tersebut.

Dalam pada itu, paras muka Kim Thi sia kelihatan agak pucat, peluh dingin bercucuran bagaikan air hujan, sewaktu berbicarapun nampak agak kepayahan. "Terima kasih suheng, aku. aku tidak apa-apa."

Baru saja sipedang perak hendak berbicara, sorot matanya telah menangkap sesuatu ditengah arena, buru-buru dia melejit ketengah udara sambil berseru cepat: " Kim sute, perhatikan nona baik-baik, jangan sampai musuh melukai dirinya."

Ternyata posisi sipedang besi sangat gawat, musuhnya dari dua kini telah berubah menjadi empat bahkan semuanya merupakan jago-jago kelas satu dari dunia persilatan yang menyerang dan mendesak terus menerus secara gencar. sipedang besi jadi kelabakan dan keteter sangat hebat, posisinya kritis sekali.

Untung saja keadaan tersebut segera diketahui sipedang perak hingga dengan cepat dia mengambil keputusan untuk memberi bantuan.

"Terima kasih suheng" bisik sipedang besi kepayahan.

sambil berkata dia lepaskan sebuah tendangan kilat ketubuh seorang musuhnya, diasaat lawan berkelit, diapun manfaatkan peluang tersebut dengan mengayunkan pedang besinya membacok dua orang musuh yang berada disisi kiri sipedang perak yang melihat keadaan tersebut segera berpikir.

"Kalau dilihat tenaga dalamnya yang makin melemah, agaknya ia sudah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan diri"

Ia menjadi tak tega, maka sesudah melepaskan dua buah pukulan dahsyat untuk mendesak mundur si lo su dan lo ngo setengah langkah, buru-buru bisiknya kepada sipedang besi:

"sute, pergilah beristirahat, biar aku yang menghadapi mereka disini. "

sipedang besi tak sungkan-sungkan, dia segera mengundurkan diri dari arena pertarungan dan mencari tempat sepi untuk mengatur pernapasan.

Kepandaian silat dari sipedang perak ternyata jauh melampaui kemampuan sipedang besi, begitu ia terjun kearena pertarungan, situasipun seketika berubah. serangan musuh yang gencar seketika terdesak balik, maka suatu pertarungan snegitpun segera berkobar.

Tampaknya Pek kut sinkun cukup mengetahui bahwa sipedang perak beserta rombongannya bakal muncul disitu, sadar akan ketangguhan ilmu silat musuh, maka jago-jago yang dikirim kesitupun boleh dibilang merupakan jago-jago pilihan yang sangat tangguh.

sementara itu Nyoo soat hong sudah tak sabar lagi menghadapi musuhnya setelah tiga macam ilmu pedang yang digunakan belum berhasil juga mengalahkan sipelajar tersebut.

Dalam jengkelnya ia segera membentak nyaring, lalu dengan mengeluarkan ilmu pedang simpanannya Ya li kiam hoat dia menegur musuhnya habis-habisan. Betul juga, pelajar setengah umur itu segera terdesak mundur selangkah dari posisi semula.

Namun Kim Thi sia segera mendapatkan kalau gelagat tak beres, sebab ia saksikan pelajar setengah umur itu sejak awal hingga sekarang bolak balik cuma memakai semacam ilmu pukulan saja untuk membendung serangan pedang sinona yang gencar. Ini berarti kepandaian sesungguhnya dari orang tersebut belum digunakan sama sekali.

Jangan dilihat Kim Thi sia orangnya kasar, sesungguhnya dia berhati tajam dan teliti, walaupun hanya melihat sekejap kepandaian lawan, namun ia tahu kalau kungfu yang sesungguhnya dari orang tersebut mungkin masih lima kali lipat lebih hebat dari sekarang.

Menyadari kalau keadaan sangat gawat pelan-pelan dia pun berjalan mendekati Nyoo soat hong.

Mendadak putri Kim huan berteriak sambil menarik muka.

"Hey, apakah kau tidak akan menuruti perintah abang seperguruanmu?" "Dia perintahkan apa?" tanya Kim Thi sia sambil berhenti.

"Bukankah dia menyuruh kau menjaga aku?" setelah berhenti sejenak dan menatap pemuda itu tajam-tajam desaknya lebih jauh. "seandainya aku sampai dilukai mereka, apa jadinya?"

"suruhlah sipedang besi, dia pasti lebih tertarik dengan tugas memacam ini ketimbang aku."

Tiba-tiba putri Kim huan berlarian menghampiri sipedang besi so Bun pin, kemudian dengan wajah berseri-seri serunya:

"so Bun pin, cepat katakan, dalam hal manakah nona itu jauh lebih bagus ketimbang aku?" Pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba ini kontan saja membuat sipedang besi jadi tertegun,

dengan perasaan tak mengerti dia gelengkan kepalanya sambil berkata:

"soal ini maaf kalau aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu, sebab belum pernah kupikir

kesitu serta melakukan uji perbandingan." Putri Kim huan mendongkol sekali, serunya kemudian:

"Baiklah, kalau tak sanggup menjawab menyingkirlah agak jauhan, tunggu sampai kau bisa menjawab pertanyaanku itu baru datang mencari aku lagi. "

Ketanggor batunya sipedang besi so Bun pin jadi sangat terkejut, segera pikirnya:

"Waaaah, rupanya tabiat putri Kim huan belakangan ini telah mengalami perubahan yang besar sekali, sedikit-sedikit dia lantas marah, sebetulnya apa yang terjadi?" Tapi untuk menarik simpatik gadis tersebut, sambil tertawa segera katanya lagi: "Terus terang kubilang, tak setitikpun nona Nyoo bisa menandingi kecantikanmu."

Mendengar ucapan tersebut, paras muka putri Kim huan yang semula cemberut seketika dihiasi dengan senyuman kembali. "Benarkah itu? Kau tidak berbohong?" tegurnya genit.

"Kecantikan nona tiada tandingannya dikolong langit, kalau ada orang mengatakan kau tak cantik, orang itu pasti buta matanya buat apa mesti berbohong? Tapi "

setelah berhenti sejenak. terusnya lagi:

"Aku sungguh tak habis mengerti, kenapa nona bertanya begitu? Apakah kau sendiripun tak tahu bahwa bidadari dari khayanganpun tak bisa menandingi kecantikanmu?"

Putri Kim huan kembali tersenyum lembut membuat sipedang besi so Bun pin tak mampu menahan diri lagi dan pelan-pelan berjalan mendekatinya. Tampak gadis itu menggelengkan kepalanya seraya berkata:

"Aku sendiripun tak bisa mengemukakan apa alasannya, tapi yang jelas hanya dengan bertanya begitu, hatiku baru merasa nyaman sekali. "

Mendadak terdengar Kim Thi sia berteriak dengan suara nyaring:

"Adik soat hong, jangan bertindak gegabah orang itu lihay sekali, cepat mundur....aduh. " Ketika putri Kim huan mendongakkan kepalanya, dia menyaksikan Kim Thi sia sedang menarik tangan Nyoo soat hong sambil melepaskan sebuah pukulan untuk membendung serangan pelajar setengah umur itu.

Menyaksikan adegan tersebut, entah mengapa tahu-tahu muncul perasaan kesal dalam hati putri kim huan, segera pikirnya:

"Betul-betul tak tahu malu, baru bertemu sikapnya sudah begitu mesra-, huuuh betul-betul manusia biadab yang tidak mengenal tata kesopanan."

Pelan-pelan dia tundukkan kepalanya dan tak mau menengok kearah Kim Thi sia dan Nyoo soat hong lagi.

Melihat kekesalan dan kesedihan yang menyelimuti wajah gadis tersebut, pelan-pelan sipedang besi so Bun pin menghampirinya dan menggenggam tangannya yang putih halus itu sambil berbisik:

"Nona tak usah marah lagi, aku tahu hatimu tak gembira "

"so Bun pin, hampir saja air mata kujatuh bercucuran. " ucap putri Kim huan sedih.

Ternyata ia tidak melepaskan diri dari genggaman pemuda tersebut, bahkan membiarkan pemuda itu menggenggamnya dengan mesra.

sebaliknya sipedang besi yang sudah ketanggor batunya dulu, kali inipun tak berani bersikap kelewat batas. sambil menggenggam mesrah tangan sinona, hiburnya:

"Nona adalah bidadari yang anggun sedang dia dia tak lebih cuma lelaki miskin yang hidup

bergelandangan dalam dunia persilatan."

"Yaa benar" putri Kim huan mengangguk. "Dia cuma seorang gelandangan, kenapa aku harus marah kepadanya?"

sipedang besi hendak mengucapkan sesuatu lagi, namun tiba-tiba dia merasa ada sepasang mata yang dingin menyeramkan sedang mengawasinya tanpa berkedip.

Maka diapun berlagak tetap berbincang-bincang dengan gadis itu secara santai. Padahal secara diam-diam ia mulai melepaskan genggamannya pada tangan sinona.

Ternyata orang yang mengawasinya tidak lain adalah sipedang tembaga, abang seperguruannya, betapapun hatinya tak senang hati, namun dia tidak berani kemukakan diluar, sengaja tegurnya sambil tertawa:

"Apakah suheng kelelahan? Bagaimana kalau aku menggantikan kedudukanmu?"

sambil menggempur mundur seorang musuh, sipedang tembaga segera menjawab dengan suara dalam:

"Bila sute mempunyai kegembiraan, tak ada salahnya menggantikan kedudukanku ini." sipedang besi adalah pemuda cerdik, mendengar perkataan tersebut ia merasa makin tak

senang hati, namun diluarnya mau tak mau dia mesti berlagak wajar. Padahal sikap

permusuhannya pun dari Kim Thi sia sekarang sudah beralih pada sipedang tembaga, pikirnya:

"Jelas sudah suheng menaruh maksud tertentu terhadapnya, aku harus berusaha menyusun rencana agar ia membenci dirinya."

Dalam pada itu sipelajar setengah umur itu sudah berpekik nyaring, suara pekikannya melengking dan mengalun tiada hentinya ditengah udara.

Mendengar pekikan tersebut sipedang perak segera berpaling, lalu serunya sambil tertawa dingin:

"sobat, hebat juga tenaga dalammu, mungkin tiada orang yang bisa menandingi dirimu saat ini. sayang kau selalu menyembunyikan kepandaianmu sesungguhnya. Hmmmm, coba kalau bukan begitu, aku pasti akan minta pelajaran berapa jurus darimu." Buru-buru Kim Thi sia melompat mundur selangkah kebelakang, la lu pikirnya pula:

"orang ini sengaja menyembunyikan kepandaian saktinya, coba kalau suara pekikannya tidak membongkar kemampuannya itu, mungkin sipedang perakpun tak akan mengetahuinya. Boleh dibilang orang ini berbahaya sekali. Aku sebagai orang yang harus menghadapinya mesti bersikap lebih berhati-hati."

sementara itu pelajar setengah umur itu mengira Kim Thi sia sudah dibuat terkejut oleh suara pekikannya tadi sehingga mundur tanpa sebab. Tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.....haaaaah......haaaaah. bukankah kau adalah Kim Thi sia, manusia yang paling

susah dilayani? Bila dipertimbangkan menurut berita yang tersebar dalam dunia persilatan, bukankah aku pantas untuk kau hadapi. "

Berbicara sampai disitu, kembali dia tertawa terbahak-bahak. Kim Thi sia terkejut sekali, pikirnya:

"Belum pernah kujumpai orang tersebut, dari mana dia bisa mengetahui asal usul serta identitasku sejelas ini?"

Berpikir sampai disini, dia semakin menganggap orang ini tak gampang dihadapi

diam-diam hawa murninya yang dihimpun dalam telapak tangannya mencapai sepuluh bagian, maksudnya untuk menghajar mundur musuhnya dalam sekali pukulan kalau bisa. sementara itu, diluarnya dia berkata dengan tenang: "Benar, akulah Kim Thi sia, darimana kau bisa tahu?" Pelajar setengah umur itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaaah.......haaaaaah. jangan harap ada persoalan didunia ini yang bisa lolos dari

sepasang mata saktiku, bukankah saat ini kau sudah menghimpun tenaga pukulanku dalam ujung telapak tangan?"

"Kalau benar kenapa?" sahut Kim Thi sia dengan kening berkerut.

Tiba-tiba dia melontarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan, tujuannya adalah untuk mencoba kemampuan lawan. Namun dalam melepaskan serangan tersebut gerakan sama sekali tidak menunjukkan titik kelemahan.

Pelajar setengah umur itu melirik sekejap kearahnya, tiba-tiba dia berseri sambil tertawa tergelak:

"Haaaah.....haaaah.......haaaah bukankah kau ingin mengetahui kekuatan tenaga

pukulanku yang sebenarnya? Hmmm, hmmmm, coba saksikanlah. "

sembari berkata ia membungkukkan badan sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat keatas batu cadas. "Blaaaammmmmm. ^

Batu cadas yang kuat dan berat itu seketika pecah menjadi dua bagian oleh tenaga pukulan tersebut, bukan cuma begitu bahkan seluruh bagian batu cadas tersebut tidak meperlihatkan bekas celah yang besar, seakan-akan tanpa sebab batu itu patah sendiri menjadi dua bagian.

Perlu diketahui, orang yang mampu membelah batu cadas menjadi dua bagian tak sedikit jumlahnya dalam dunia persilatan. Tapi untuk bisa membelah batu tanpa celah dan retakan, rasanya hanya berapa gelintir manusia saja yang mampu melakukannya. oleh sebab itu jagoan yang berpengalaman seperti pedang perak. pedang tembaga serta pedang besi seketika dibuat terperanjat sekali oleh kejadian ini.

Tapi sayang dia bermaksud mempertontonkan kepada Kim Thi sia, justru Kim Thi sia adalah manusia yang kurang berpengalaman. ia hanya manggut- manggut sambil berkata:

"Ehmmmm, tenaga pukulanmu masih terhitung hebat juga, cukup untuk menghadapi kawanan manusia biasa, tetapi keyakinanku untuk menangkan dirimu tak menjadi luntur karena perbuatanmu itu, ayolah silahkan mulai menyerang. " Diam-diam pelajar setengah umur itu merasa terkesiap. pikirnya:

"Ternyata Kim Thi sia memang manusia yang punya pamor, kenyataannya demonstrasi, ilmu hancurkan bunga melumat batu ku sama sekali tak membuatnya keder, mungkin saja ia berilmu jauh lebih hebat dariku?"

Karena pendapat tersebut, tanpa terasa diapun menilai Kim Thi sia dua tiga kali lipat lebih hebat, ia tak berani memandang enteng musuhnya lagi, sambil mendengus serunya:

"Lebih baik kau duluan"

Hawa murninya segera dihimpun dan bersiap-siap melancarkan serangan mematikan.

Melihat musuhnya menunjukkan sikap yang begitu serius, dengan cepat Kim Thi sia menirukan pula lagaknya dengan bersikap serius dan menarik napas panjang sembari menantikan datangnya serangan musuh.

sikap maupun tingkah lakunya ini kebetulan memang mirip sekali dengan sikap seorang tokoh sakti didalam menghadapi pertarungan sengit, maka pelajar setengah umur itu semakin mengira musuhnya adalah tokoh silat yang betul-betul tangguh.

Ia semakin tak berani bertindak secara geggbah, bahkan mengambil taktik "musuh tak bergerak, aku tak bergerak, musuh bertindak, aku bertindak duluan".

Akhirnya Kim Thi sia tak sabarlagi untuk menunggu lebih lama, segera teriaknya keras-keras: "Hey, bagaimana sih kamu ini? Memangnya merasa takut?" Karena berbicara, otomatis

perhatiannya pun menjadi bercabang.

Pelajar setengah umur itu yang segera manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik- baiknya, mendadak ia membentak keras lalu secara beruntun melancarkan tiga buah serangan dahsyat yang seketika menyelimuti seluruh angkasa.

Dalam waktu singkat Kim Thi sia terjerumus dalam posisi yang berbahaya sekali. salah sedikit saja dalam keadaan demikian bisa berakibat hilangnya selembar nyawa.

Untunglah disaat yang kritis ia tak gugup, dengan cepat pemuda itu melancarkan serangan dengan jurus "kecerdikan menyelimuti empat samudra" serta "mati hidup ditangan takdir" dari ilmu Tay goan sinkang.

Walaupun dalam keadaan tergesa-gesa dia tak sempat menghimpun tenaga dalamnya, namun dengan mengandalkan daya pengaruh dari ilmu Tay goan sinkang yang maha sakti, seketika itu juga pelajar setengah umur itu dibuat terperanjat sehingga buru-buru menarik kembali serangannya sambil melompat mundur.

Kim Thi sia sendiripun tidak menyangka kalau ilmu Tay goan sinkang mampu untuk menghadapi pelbagai serangan maut yang maha dahsyat, sekarang dia mulai memahami rahasia jurus silatnya sehingga keberaniannya pun makin besar.

sebaliknya pelajar setengah umur itu sudah menganggap Kim Thi sia sebagai musuh yang amat tangguh, begitu mundur kebelakang. Pelan-pelan ia mulai bergeser mengitari arena, setiap satu langkah, gerak langkahnya selalu berubah-ubah bentuknya.

sebentar langkahnya menyerupai langkah harimau, sebentar berubah lagi menjadi langkah elang. Hanya sepasang matanya yang menatap wajah Kim Thi sia tanpa berkedip. Melihat sikap musuhnya itu, sambil tersenyum Kim Thi sia segera berkata:

"Kau tak usah menatap wajahku lekat-lekat, ketahuilah aku bukan seorang pria yang berwajah tampan."

Lalu sambil menuding kearah sipedang besi, lanjutnya:

"Coba kau lihat, bukankah wajahnya jauh lebih tampan dari wajahku? Mengapa kau tidak mengawasi wajahnya saja?" Banyolan yang konyol ini cukup membuat orang lain menangis tak bisa tertawapun tak dapat.

Pelajar setengah umur itu makin terperanjat, apalagi melihat sikap musuhnya yang begitu santai walaupun sedang menghadapi musuh tangguh didepan mata segera pikirnya:

"Dia pasti mempunyai suatu andalan yang meyakinkan, aku harus bersikpa lebih hati-hati. "

Tanpa terasa serangan dahsyat yang sudah siap dilancarkan pun diurungkan kembali pikirnya agak tertegun:

"Aku sungguh tak habis mengerti, gerak serangan apakah yang telah digunakan untuk memusnahkan jurus "lima elang mematuk" bersama ku tadi? Bila dilihat dari sikapnya yang begitu santai, jelas sudah ia memiliki ilmu andalan yang hebat, aku tak boleh membiarkan ilmu elangku yang sudah termashur banyak tahun harus hancur ditangannya."

semakin dipikir dia makin ragu-ragu untuk melancarkan serangan, sebab meski nama Kim Thi sia cukup termashur, namun bila ilmu elangnya sampai berantakan ditangan musuh, bisa jadi selama hidup ia tak mampu mengangkat kepala lagi.

sebaliknya Kim Thi sia segera membentak ketika ketika dilihatnya pihak lawan sampai sekian lama belum melancarkan serangan juga.

"Hey, kalau toh kau bersungkan-sungkan, biar aku saja yang menyerang duluan, kalau tidak begini, sampai besokpun pertarungan belum tentu bisa dilangsungkan"

sambil bertekuk pinggang dia melejit kedepan secepat anak panah yang terlepas dari busurnya, sementara dengan jurus "kekerasan menguasahi jagad" dia hajar tengkuk musuh.

setelah melalui pelbagai pertarungan dan pengalaman, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang boleh dibilang sudah meningkat satu tingkatan, tak heran kalau angin pukulan yang dilancarkan menderu- deru kencang.

Dalam pada itu telapak tangan kanannya telah mengancam pula lambung musuh dengan jurus "kelembutan bagaikan air dan api" jurus serangan ini sangat ganas dan mematikan. seketika membuat pelajar setengah umur itu terdesak mundur satu langkah. Nyoo soat hong yang menonton jalannya pertarungan itu kontan saja berseru nyaring: "Bagus sekali"

Dengan cepat teriakan ini membangkitkan hawa amarahnya pelajar setengah umur ditengah pekikan nyaring, tangannya yang tergenggam dirubah bagaikan paruh elang, lalu sambil melejit keudara bagaikan seekor rajawali raksasa, dia menerkam kebawah sambil melancarkan patukan maut.

Kim Thi sia terlambat menarik kembali tangannya, termakan patukan tersebut seketika dia merasakan lengan itu bagaikan terkena pukulan martil raksasa, hampir saja dia menjerit keras.

Kerugian kecil yang dideritanya ini mengakibatkan amarahnya berkobar pula, alis matanya berkenyit, dengan jurus " ketenangan menimbulkan awan kabut" yang kemudian disusul dengan jurus " kedamaian membahagiakan sembilan langit" dia terobos masuk kebali bayangan patukan pelajar setengah umur itu.

Dengan pengalaman berapa kali pertarungan seru, ilmu Tay goan sinkang boleh dibilang sudah dikuasahi penuh oleh pemuda kita. Tanpa persiapanpun serangan yang dilancarkan bisa memancarkan kekuatan hingga mancapai sepuluh bagian.

Ditambah pula tenaga dalamnya telah peroleh peningkatan, ibarat harimau tumbuh sayap. pada hakekatnya susah bagi pelajar setengah umur itu untuk meraba gerak serangannya secara pasti.

Dalam suasana bingung itulah cepat-cepat dia mengundurkan diri kebelakang dan menghindar sampai sejauh satu kaki lebih. sambil tertawa nyaring Kim Thi sia segera berseru: "Hey, jangan lari dulu, coba sambut dua buah seranganku lagi"

Belum habis ucapannya diutarakan, sekali lagi dia mengeluarkan jurus "kedamaian membahagiakan sembilan langit" untuk memancing perhatian pelajar setengah umur itu. sementara kepalan kanannya secara tiba-tiba disodokkan kedepan dengan jurus "hembusan angin mencabut pohon".

Pelajar setengah umur yang terdesak hingga mati kutunya itu menjadi nekad tiba-tiba bentaknya nyaring:

"Bajingan cilik, kau berani mempermainkan aku? Hmmm, aku akan beradu jiwa denganmu." sambil mengembangkan jurus teratngguh dari ilmu patukan elang kemalanya secara beruntun

dia melancarkan empat buah serangan gencar yang menyelimuti seluruh angkasa.

Dengan cepat Kim Thi sia melompat keluar dari arena pertarungan sambil teriaknya keras- keras:

"Hey, apakah kau benar-benar hendak mengajakku untuk beradu jiwa?"

"Tak usah banyak bicara" tukas pelajar setengah umur itu sambil mempersiapkan serangan lagi. "satu nyawa dibayar satu nyawa, aku toh tidak mencari keuntungan apa-apa buat apa kau menyalak terus macam anjing gila. "

"Baik" seru Kim Thi sia dengan gusar. "Bila ingin beradu jiwa, mari kita beradu jiwa, ketahuilah Kim Thi sia bukan manusia yang takut mampus."

sambil mengayunkan telapak tangannya dia maju menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Agaknya kedua belah pihak telah menggunakan selembar nyawa mereka sebagai barang taruhan-

Tiba-tiba Nyoo soat hong menjerit lengking sambil menutupi wajahnya. "ooooh. kau, kau tak

boleh berbuat begitu. "

"Apa kau bilang?" tanya Kim Thi sia segera teringat kembali dengan pesan ayahnya maka dengan cepat dia berubah pikiran, katanya kemudian:

"Ucapanmu memang betul, aku memang masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan, aku tak boleh beradu nyawa secara begini tolol."

"sute" tiba-tiba sipedang besi berseru sambil menarik muka. "Bila kau enggan beradu jiwa, biar aku saja yang beradu jiwa dengannya. "

"Kenapa?" tanya Kim Thi sia tertegun. "Apakah suheng berharap aku beradu jiwa dengannya?" "Sute tak usah menuruti perkataannya, dia lagi kheki" sela sipedang perak cepat-cepat.

Kim Thi sia berpaling, ia saksikan semua orang sudah berhenti bertarung, entah sejak kapan ternyata pihak musuh berhasil dipukul mundur, tanpa terasa dia tertawa geli, pikirnya:

"Tampaknya aku benar-benar tolol. masa aku tidak merasa kalau semua orang sedang menonton aku seorang bertarung?" Kemudian dia berpikir lagi:

"Mengapa sipedang besi harus mengucapkan perkataan semacam ini? Apakah ia benar-benar enggan memaafkan aku? Atau mungkin dia mempunyai maksud tujuan tertentu dengan perkataan itu. ?"

Pelan-pelan sorot matanya dialihkan sekejap sekeliling arena, lalu berhenti pada sipedang tembaga serta putri Kim huan.

Tampak olehnya kedua orang itu sedang berdiri berdampingan sambil bergurau tiada hentinya, secara jelas dia memahami duduknya persoalan, pikirnya kemudian:

"Yaa betul, rupanya sipedang besi menaruh minat terhadap sinona, ia menjadi tak senang hati setelah melihat suhengnya bermesrahan dengan pujaan hatinya itu."

setelah memahami perasaan sipedang besi yang kalut, seketika itu- juga dia memaafkan dirinya.

Menanti dia membalikkan badan, sipelajar setengah umur itu sudah berkata kepadanya. "Sobat, terus terang kukatakan, akulah si Raja cakar elang. Pemberianmu hari ini tak akan kulupakan untuk selamanya, sebulan kemudian aku pasti akan mencarimu lagi untuk membayar kebaikanmu ini. Maaf kalau aku harus mohon diri lebih dulu sekarang." selesai berkata, dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. Tiba-tiba sipedang perak berseru keras:

"Hey, rupanya kau adalah Raja cakar elang yang termashur itu Aku benar-benar tak habis mengerti kenapa anda bisa berkomplotan dengan Pek kut sinkun? Bila tidak keheranan bolehkah kau menjelaskan duduk persoalan sebenarnya?"

"sudah lama kukagumi nama besarmu, aku bersedia untuk mengikat tali persahabatan denganmu."

Tanpa berpaling pelajar setengah umur itu menjawab secara ketus:

"Nama besar pedang perak kelewat tersohor sehingga aku tak berani menerima tawaran itu. Ketahuilah aku bersedia bekerja untuk Pek kut sinkun karena lima tahun berselang aku pernah menerima bakti kebaikan darinya, karena itu untuk membalas budi kebaikannya akupun bersedia membantunya satu kali. Coba kau pikirkan sendiri apakah perbuatanku ini salah?"

"Anda tidak bersalah, baiklah apa salahnya kalau kita bersahabat?"

Pedang perak bentak pelajar setengah umur itu sambil berpaling. "Kaupun seorang yang cerdik, apakah kau menginginkan aku si Raja cakar elang sekali lagi mendapat malu?"

selesai berkata, tanpa memperdulikan orang-orang lagi dia beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar. Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-

Menunggu sampai bayangan punggung orang itu lenyap sipedang perak baru berkata sambil menghela napas:

"sute, kau telah membuat suatu bencana besar."

"Apa?" Kim Thi sia melompat bangun sambil berseru. "Aku telah membuat bencana besar? Aneh, masa dengan mengalahkan dirinya maka aku telah membuat bencana? Lantas bila aku mengalahkan orang lain, apakah hal inipun merupakan perbuatan yang mendatangkan bencana?"

"Raja cakar elang merupakan tokoh nomor wahid dalam dunia persilatan, ia sangat membedakan antara budi dan dendam, bila hutang budi dibayar budi, hutang sakit hati dibayar dengan keji. sute, diapun seorang yang amat menepati janji, satu bulan kemudian dia pasti akan datang mencarimu lagi untuk membuat perhitungan-" Dengan nada tak senang hati Kim Thi sia berseru:

"Aku Kim Thi sia bukan manusia yang takut urusan, bila semua orang berhati-hati macam begitu, apalah artinya berkelana didalam dunia persilatan?" Kemudian sambil membusungkan dada dia melanjutkan lebih jauh:

"suheng, kau kelewat mengada-ngada, sekalipun nasibku kurang mujur dan tewas dalam pertarungan itu, toh urusannya bukan luar biasa, paling banter aku hanya minta bantuan suheng untuk menguburkan mayatku "

sementara itu Nyoo soat hong sudah menyerbu masuk ke dalam rumah penginapan dan menolong kakaknya Nyoo Jin hui. Berpisah selama beberapa bulan, Nyoo Jin hui nampak agak kurusan, tapi wajahnya tidak nampak letih, malah sebaliknya menambah banyak pengalaman yang berharga baginya.

Kim Thi sia saling berangkulan dengannya, kejut dan gembira membuat mereka tidak sanggup berkata-kata. Akhirnya Nyoo Jin hui berkata:

"Adikku sudah meningkat dewasa, dulu dia berwatak kurang baik tapi sekarang semuanya telah berubah. Adik Thi sia, kau mesti baik-baik menjaganya karena berbuat begitu sama artinya dengan baik kepada kakak angkatmu ini, mengerti?" Kim Thi sia hanya manggut- manggut tanpa mengartikan lain, sebaliknya Nyoo soat hong justru telah menganggap keledai sebagai kuda. Dia mengira Kim Thi sia bersedia memperistri dirinya, malu dan gembira membuat paras mukanya berubah menjadi merah padam.

Menyusul kemudian Kim Thi sia pun memperkenalkan semua orang dengan Nyoo Jin hui.

Mendengar nama sipedang perak. tembaga dan besi, kontan saja Nyoo Jin hui dibuat terbelalak.

saat inilah mendadak Kim Thi sia teringat kembali akan Malaikat pedang berbaju perlente, air mukanya segera berubah menjadi tak wajar, dia merasa bagaimanapun juga peristiwa tragis yang menimpa gurunya harus diselidiki sampai tuntas.

Berpikir begitu, diapun segera menarik sipedang perak kesamping dan bertanya dengan suara rendah:

"suheng, kau pasti lebih mengetahui tentang sebab-sebab kematian suhu, harap kau menceritakan segala sesuatunya kepadaku secara jelas." Perkataan ini diucapkan dengan nada memerintah.

Dengan pandangan tercengang sipedang perak balas menatap pemuda tersebut melihat matanya yang terbelalak lebar, ia segera mengetahui apa gerangan yang telah terjadi sahutnya sambil tersenyum:

"Sute, mengapa kau berkata demikian? Apakah sute curiga kalau kematian suhu disebabkan perbuatanku ?"

"Tentu saja" pikir Kim Thi sia didalam hati. "Kalau tidak, mengapa aku tidak bertanya kepada orang lain?"

Namun mulutya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dari perubahan mimik muka pemuda tersebut, sipedang perak segera dapat meraba jalan pikirannya, sambil menarik muka segera katanya lagi:

"Aku tak tahu siapa yang membuat berita yang bohong ini, benar-benar kejam dan jahat. sute, coba kaupikirkan sendiri, suhu dia orang tua telah mewariskan kepandaian silat kepada kita semua, budi kebaikannya lebih besar dari bukit. Apakah kita tega untuk mencelakainya? "

Perkataan tersebut diutarakan dengan nada keras membuat Kim Thi sia susah untuk menilai benar salahnya persoalan ini dari perubahan mimik wajahnya. Dengan kepala tertunduk ia berpikir sebentar, tiba-tiba katanya lagi:

"Terus terang saja watak suheng memang terbuka dan bisa membedakan mana benar dan mana salah. Mustahil kau bisa melakukan perbuatan biadab seperti itu, tapi. " setelah ragu

sejenak, katanya lebih jauh: "suheng, bila aku salah berbicara apakah kau bakal marah?" Dengan cepat sipedang perak menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya:

"sute tak usah ragu-ragu untuk mengutarakan semua persoalan yang ingin kau katakan, dengan begitu kita bisa membuktikan mana yang betul dan mana yang salah. Justru dengan perkataanmu ini aku bakal sangat gembira, masa harus marah kepadamu?"

"sebetulnya perbuatan seorang sute yang mencurigai tingkah laku seorang suheng memang merupakan tindakan yang tak sopan- Tapi semua persoalan ini diutarakan sendiri oleh suhu, sehingga mau tak mau aku harus mempercayainya juga."

sipedang perak tersenyum senang, sambil menepuk bahunya dengan penuh persahabatan dia bertanya:

"Apakah dia orang tua menuduh kami kakak adik seperguruan yang menyebabkan kematiannya? "

Kim Thi sia manggut- manggut, mendadak ia mundur selangkah dengan cekatan sekali, kemudian katanya lagi dengan suara dalam: "Kata suhu, semua luka cacad yang dideritanya merupakan hasil karya dari suheng sekalian- suheng, benarkah hal ini telah terjadi?"

sembari berkata, dia telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam telapak tangan. Asal sipedang perak menunjukkan perubahan sikap, maka dia akan segera melancarkan serangan lebih dulu.

siapa sangka, sama sekali diluar dugaannya sipedang perak sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun setelah mendengar perkataan tersebut. Ia kelihatan tenang sekali tanpa perubahan, yang nampak malah rasa sedih yang dalam, seakan-akan kematian suhunya tiada hubungan sama sekali dengannya dan ia merasa amat sedih karena sudah dituduh tanpa dasar.

Bukan cuma begitu, Kim Thi sia malah sempat melihat sepasang matanya berkaca-kaca, seakan-akan sedih sekali. Meski dia berusaha untuk mengendalikan rasa sedih itu, namun karena luapan yang kelewat besar membuat perasaan tadi tidak terkendali lagi.

Menyaksikan keadaan seperti ini Kim Thi sia menjadi beriba hati, walaupun diluar tak berkata- kata, namun dia merasa pertanyaan yang diajukan terlalu berlebihan. Tak mungkin suhengnya melakukan perbuatan serendah itu.

selang berapa saat kemudian, senyuman hambar kembali pulih diwajah sipedang perak, tapi Kim Thi sia amat menyesal.

Terdengar ia berkata:

"Kecurigaan sute memang tanpa dasar, walaupun aku tidak melakukan perbuatan terkutuk itu namun akupun tidak menyalahkan dirimu. sebab kesadaran suhu waktu itu kabur, sehingga apa yang diucapkanpun akan kabur pula kedengarannya, bukankah begitu sute?"

Bila seseorang sudah mulai kabur kesadarannya, seringkali apa yang diucapkan memang tanpa berpikir secara sungguh-sungguh.

Mendengar perkataan itu mendadak Kim Thi sia seperti memahami akan sesuatu segera teriaknya keras-keras:

"Yaa benar, waktu itu suhu sudah menderita pelbagai luka yang parah, kesadarannya kabur, tentu saja apa yang diucapkan tidak muncul dari hatinya yang tulus. Yaa. akhirnya aku berhasil

juga memahami akan hal tersebut "

Ia segera menepuk bahu sipedang perak kuat-kuat, lalu sambil mengawasinya dengan pandangan minta maaf, dia berkata: "suheng, aku telah salah menuduhmu. "

Dengan cepat sipedang perak menggeleng kepalanya berulang kali, sahutnya:

"Kita adalah sesama saudara sendiri, sekalipun sudah terjadi kesalahan paham, bukan berarti sudah mencapai tahap keretakan-"

Habis berkata begitu, kerisauan yang semula menghiasi wajahnya pun hilang lenyap seketika. Kim Thi sia sebera berseru lagi dengan girang:

"Bagus, bagus sekali, kita bisa bekerja sama secara baik sekarang. Terus terang kubilang, sebelum ini aku selalu merasa curiga dan tak pernah tenteram bila berada bersama suheng sekalian."

"Untung saja sute masih berotak terang" seru pedang perak cepat. "Kalau tidak, bila kau menyerangku secara tiba-tiba dari belakang, aku tak tahu bagaimana mesti menghindarkan diri"

Begitulah, sambil bergurau mereka menelusuri jalan raya dan tiba didepan rumah penginapan Liong pia.

Rumah penginapan Liong pia merupakan rumah penginapan yang terbesar dikota tersebut, selain perlengkapannya sangat bagus dan mewah, banyak pula tamu yang menginap disitu. Dengan tak bosan-bosannya sipedang tembaga menuturkan asal usul penginapan tersebut kepada putri Kim huan dengan niat menarik simpatiknya, hal ini membuat sipedang besi yang merasa tercampak jadi mendongkol dan timbul kesan jelek terhadapnya.

Kim Thi sia, Nyoo Jin hui serta Nyoo soat hong pun memperhatikan perlengkapan dirumah penginapan Liong pia dengan seksama.

Hanya sipedang perak seorang yang mendongakkan kepalanya mengawasi sesuatu benda tanpa berkedip.

sebetulnya benda itu tidak aneh atau istimewa, karena tak lebih hanya selembar kain yang bertuliskan rumah penginapan Liong pia.

Tapi justru karena kesederhanaan dan kelumrahan itulah membuat orang-orang yang lainpun turut memperhatikan benda tadi.

sipedang besi segera berseru tercengang lebih dulu, disusul semua orangpun dibuat Ternyata diatas kain panjang itu tertera beberapa huruf yang bertuliskan: " Nirmala nomor

sepuluh menantang sembilan pedang dari dunia persilatan untuk berduel."

oleh karena tulisan itu tertera dibalik kain yang bertuliskan rumah penginapan Liong pia, maka selain sipedang perak yang teliti, lainnya hampir tidak menduga kesitu sambil menarik wajahnya sipedang perak bergumam:

"Nirmala nomor sepuluh......Nirmala nomor sepuluh. rasanya tidak mirip nama manusia, juga

tak mirip sesuatu julukan. Lalu sebagai lambang apakah itu?"

sejak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah ia menjumpai peristiwa seaneh dan serumit hari ini, begitu rahasia dan misteriusnya hingga ia tak mampu memecahkannya.

Dengan senyum dikulum sipelayan muncul dan siap mengatakan "silahkan masuk toaya" namun sebelum perkataan mana sempat diutarakan keluar, mendadak sipedang perak melompat maju kedepan, mencengkeram bahunya dan bertanya: "siapa yang menulis tulisan tersebut?"

Pelayan itu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kearah tulisan tadi, dia agak tertegun sejenak. lalu sahutnya tergagap: "Hamba. hamba sendiripun tidak tahu."

sipedang perak yang sudah terbiasa menilai seseorang dari perubahan mimik wajahnya segera tahu kalau pelayan itu tidak berpura-pura, maka sambil melepaskan dirinya dia berkata:

"Baiklah, malam ini aku akan menginap disini lekas siapkan tujuh buah kamar kosong dan segera beritahu kepada pembantu lainnya agar menurunkan kain tersebut, mengerti?"

Pelayan itu mengiakan dan segera beranjak pergi, tak lama kemudian ada orang yang mendaki keatas atap rumah serta mengganti kain tersebut dengan kain lain-

sementara semua orang sudah memasuki kamar masing-masing, hanya sipedang perak seorang dengan perasaan yang begitu berat dan hati yang tidak tenang keluar dari penginapan duduk dirumah makan diseberang jalan sambil memperhatikan setiap orang yang masuk keluar didalam rumah penginapan tersebut.

Tunggu punya tunggu akhirnya muncullah seorang lelaki setengah umur bercambang lebat dari balik rumah penginapan-

Begitu keluar dari penginapan orang itu langsung bergabung dengan dua orang lelaki kekar yang muncul dari arah depan- Lalu mereka bersama-sama menuju kejalan raya.

Diam-diam sipedang perak tertawa dingin setelah menanyakan dengan jelas kamar tinggal lelaki setengah umur itu, dia balik kembali kerumah makan diseberang jalan-

Dalam pada itu, Kim Thi sia dengan perasaan gembira berbincang-bincang dengan Nyoo Jin hui dikamarnya, sampai dia merasa tak ada persoalan yang dibicarakan lagi, pemuda itu berpamitan untuk kembali kekamar sendiri. Baru saja pintu kamar dibuka tiba-tiba terendus bau harum semerbak berhembus keluar dari balik kamarnya, sewaktu diperhatikan lebih seksama, ternyata orang itu adalah putri Kim huan-

Dia mengira telah salah memasuki kamar, dengan wajah bersemu buru-buru minta maaf sambil berniat meninggalkan tempat tersebut.

Siapa tahu putri Kim huan segera maju kedepan menghalangi jalan perginya seraya berkata: "Jangan pergi dulu, ada berapa persoalan ingin kutanyakan kepadamu "

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Kim Thi sia berkata: "Katakanlah"

"Kau harus menjawab dengan sejujurnya, aku bisa mengetahui bohong tidaknya perkataanmu dari perbuahan mimik wajahmu itu."

Melihat keseriusan sinona, Kim Thi sia pun berkata dengan wajah sungguh-sungguh:

"aku tak tahu persoalan apakah yang ingin kau tanyakan tapi aku tahu, tak mungkin aku dapat mengelabuhi dirimu."

Agaknya putri Kim huan juga tahu kalau pemuda tersebut adalah orang jujur, dia manggut- manggut setelah mendengar perkataan tersebut, sahutnya: "Baiklah, aku ingin bertanya kepadamu. Apakah kau ingin menjadi seorang pembesar?"

"Tidak pingin"

"Rupanya kau belum mengetahui keuntungannya menjadi seorang pembesar sehingga tak ingin menjadi pembesar. Padahal setelah menjadi seorang pembesar maka segala keinginan akan terpenuhi seperti misalnya menginginkan rumah tinggal yang berbentuk bagaimana, ingin mencicipi hidangan seperti apa semuanya bisa terpenuhi dalam waktu singkat. Kehidupan seperti itu-jelas jauh berbeda dengan kehidupan sebagai gelandangan yang tiap hari luntang lantung kesana kemari dibawa hujung kilauan senjata "

setelah berhenti sejenak, dengan mempertegas ucapannya dia melanjutkan:

"Apalagi jika kau mempunyai banyak anak buah, andaikata kau mempunyai kesulitan maka kau tak perlu maju untuk mengerjakan serta menyelesaikan segala sesuatunya dengan baik, Disamping itu masih banyak lagi kenikmatan yang bakal kau alami, kenikmatan yang mimpipun belum pernah kau bayangkan. Kau "

sambil menggelengkan kepalanya, Kim Thi sia memotong perkataannya yang belum selesai diucapkan itu.

"Aku adalah seorang yang bernasib buruk. pada hakekatnya aku tak ingin menjadi seorang pembesar untuk mencari kenikmatan hidup, Terus terang saja aku bilang, kehidupan semacam inipun sudah cukup membuat hatiku puas dan bahagia."

selesai berkata dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. sikap maupun tingkah lakunya jelas menunjukkan sifat jantannya yang amat perkasa.

Dengan termangu putri Kim huan menikmati pemuda tersebut, mungkin kejantanan serta keperkasaan lelaki inilah yang menjadi daya tarik bagi dirinya.

Lelaki tampan yang lemah lembut sudah sering dijumpai didalam istananya, oleh sebab itu kekasaran dan sifat acuh tak acuh yang diperlihatkan Kim Thi sia segera menimbulkan rasa ingin tahu baginya, perasaan yang membuatnya ingin selalu berada disampingnya. Ia berkata kemudian-

"Aku mengerti, kau adalah seorang silat yang kasar, dari dulu hingga sekarang, orang silat memang susah bergaul dengan orang sastra. kalau orang satra lebih bercita-cita mencari pangkat dan kehidupan yang tenang, maka orang silat hanya ingin mencari kekuasaan dan daya pengaruhnya terhadap suatu lingkungan-"

Ia berhenti sejenak untuk tertawa genit, lalu sambungnya lebih jauh: "Aku tebak, aku pasti berkeinginan menjadi seorang jenderal bukan?" "Diatas jenderal masih ada kaisar, padahal aku paling tak sudi bertekuk lutut dihadapan orang lain. Bagiku, lebih baik kepala dipenggal daripada tunduk dibawah perintah orang lain- "

sambil mencibirkan bibirnya dan mengerling gemas kearah pemuda tersebut, putri Kim huan berkata lebih jauh:

"Kau adalah seorang yang bersemangat, sudah barang tentu kau tak sudi bertekuk lutut dihadapan orang lain, tapi bila kutawarkan kedudukan seorang jenderal yang tidak teringat oleh siapa saja, apakah kaupun bersedia untuk menerimanya?"

"Aku tentu akan menyanggupinya secara terpaksa" sahut Kim Thi sia cepat. tiba-tiba dia teringat akan sesuatu, sambil tertawa terbahak-bahak lanjutnya:

"Apa sih artinya mengobrol tanpa dasar semacam ini? Apakah kau kelewat menganggur sehingga khusus datang kemari mengajak ku kongkou?"

"Aku tak pernah berbicara tanpa dasar. Kau jangan menuduh orang secara sembarangan" seru putri Kim huan.

sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dan membelalakkan matanya yang lebat, Kim Thi sia kembali berkata:

"Waaah, kalau begitu aku telah salah berbicara? Baik, baik, anggap saja aku memang salah berbicara. Kalau begitu aku ingin bertanya lagi, benarkah didunia ini terdapat seorang jendral berkuasa penuh yang tidak usah tunduk dibawah perintah seorang Kaisar?" 

"Asal kau bersedia. mungkin saja hal seperti ini akan segera terwujud."

"Ooooh " Kim Thi sia makin tertegun untuk sesaat dia tak habis mengerti dengan jawaban

itu, sehingga tak tahan dia berkata lebih jauh:

"Aku hanya seorang manusia kasar yang bodoh dan tak berguna, bila dibicarakan siapa saja tak akan percaya bahwa manusia goblok semacam aku bisa menjadi seorang jendral. Hey, kau anggap aku seorang bocah berumur tiga tahun yang bisa dibohongi semaunya sendiri?"

"Benarkah kau tidak memahami maksud perkataanku ini? Atau mungkin kau cuma berlagak pilon. ?" ucap putri Kim huan kemudian sambil menghela napas sedih.

Dengan perasaan keheranan Kim Thi sia mengawasi dirinya, sampai detik ini dia belum juga memahami apa yang telah terjadi.

Putri Kim huan mempertimbangkan berapa saat, akhirnya dia memberanikan diri berkata: "Baiklah, kalau toh kau tetap tak mengerti, biar kubuka persoalan ini sejelas-jelasnya. semenjak

ketiga orang panglima perak Liong, kau dan aku tewas secara mengenaskan. Aku selalu berharap

bisa menemukan seseorang yang pantas untuk melindungi pulang keistana. setelah kulihat ilmu silatmu bagus, orangpun jujur dan setia, maka aku bermaksud hendak mengundangmu. "

"ooooh, tidak bisa, tidak bisa. "

Bagaikan tersengat tusukan jarum yang tajam, Kim Thi sia melompat keudara sambil berkaok- kaok keras.

"Bagus, bagus sekali, rupanya kau hendak menyuruh aku menjadi budakmu, betul-betul menjengkelkan hati. Rupanya setelah berbicara setengah harian lamanya, kau hanya bermaksud menyuruh aku melakukan perbuatan yang memalukan seperti ini?"

"Siapa sih yang akan menyuruhmu menjadi budak? Hmmm, kau jangan sembarangan berbicara" seru putri Kim huan tak senang hati. Kim Thi sia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaah.....haaaaah......haaaaah jadi kau belum mau mengaku juga? Kau anggap aku

belum cukup paham dengan sikap ketiga orang manusia raksasa dulu terhadapmu? Hmmm, rupanya kau sedang mempermainkan aku selama ini. " Makin berbicara dia merasa semakin mendongkol, suara pembicaraannya pun makin lama semakin keras, serunya lebih jauh:

"Aku masih mengira didunia ini benar-benar terdapat pekerjaan yang begitu enak. Rupanya kau hendak menyuruh aku menjadi seorang budak. "

Putri Kim huan menjadi tertegun dan membungkam dalam seribu bahasa. ibaratnya seorang pelajar bertemu tentara, biar ada alasanpun susah diterangkan hingga jelas.

Keadaan Kim Thi sia setelah mengumbar hawa amarahnya tak jauh berbeda seperti seekor kerbau bengis. Bukan saja hal mana menggetarkan perasaan putri Kim huan bahkan mengejutkan pula segenap penghuni rumah penginapan tersebut.

Mula-mula Nyoo Jin hui bersaudara yang muncul lebih dulu, sambil membujuknya agar meredakan hawa amarahnya, disusul kemudian sipedang tembaga serta pedang besi pun turut melerai.

Dengan suasana semacam ini, tentu saja putri Kim huan yang merasa paling rikuh dan serba susah.

Untung saja sipedang besi berhasil menjadi penengah yang baik dengan meninggalkan sedikit harga diri kepadanya, tapi atas kejadian tersebut gadis itupun mengunci diri didalam kamar dan menangis seorang diri.

Nyoo Jin hui pun tak tega menyaksikan kemurungan dan kesedihan yang mencekam perasaan gadis cantik itu, ia segera maju kehadapan Kim Thi sia dan berkata dengan serius:

"Adik Thi sia, kau benar-benar keterlaluan- Paling tidak kau mesti mengalah terhadap kaum wanita. Coba bayangkan sendiri betapa sakit hatinya dia setelah kau hadapi secara begini kasar, ayoh cepat pergi meminta maaf kepadanya."

seingatnya, kakak angkatnya ini sejak awal perkenalan hingga sekarang belum pernah membelai orang lain, tapi sekarang ternyata menyalahkan pula dirinya, kejadian tersebut kontan saja mencengangkan hati Kim Thi sia.

Namun dia sudah menganggap Nyoo Jin hui sebagai saudara angkat sendiri, karena itu dia tidak membantak. tetapi mengiakan berulang kali.