Lembah Nirmala Jilid 23

 Jilid 23

Sementara itu Kian an ngo hiong sudah berjalan semakin dekat, sipedang perak segera maju kedepan menyapa kelima orang tersebut, katanya sambil tertawa:

"Aku dengar sebab kematian plan pacu kalian ada sangkut pautnya dengan ketua dari Tiang pek san, benarkah begitu?"

"Benar, benar" sahut kelima orang itu sambil tertawa. "Semula kami memang mencurigai kematian plan pacu kami sebagai ulah dari ketua Tiang pek san, kemudian setelah dilakukan penyelidikan yang seksama dapat kami ketahui bahwa disaat terjadinya peristiwa ini, ketua Tiang pek san menutupi diri bahkan selama berapa bulan sebelum dan sesudah peristiwa itu tak pernah meninggaikan bukit Tiang pek san, maka kamipun menaruh perhatiannya terhadap Pek kut sinkun. Aku rasa kecuali dia seorang kedua yang ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu lagi."

"Benar, benar apakah kalian sudah menyelidiki sebab musabab terjadinya peristiwa itu?" sela Kim Thi sia. "Kalau toh Pek kut sinkun telah menyerahkan kotak Hong toh kepada pian pacu kalian, berarti dia tidak mempunyai kemungkinan untuk membunuhnya, aku rasa sipembunuh tersebut adalah orang yang berniat merampas mestika itu."

Lima orang gagah dari Kian an mengalihkan perhatiannya kewajah pemuda itu. Salah seorang diantaranya segera berkata:

"Ooooh rupanya sauhiap. Maaf, maaf, apakah ciang sianseng baik-baik saja?"

Begitu perkataan tersebut diutarakan, sipedang perak bertiga menjadi tertegun dibuatnya. Kim Thi sia segera menjawab:

"aku baru berpisah satu bulan lamanya, jadi tidak kuketahui bagaimana keadaannya belakangan ini."

Rupanya dia pernah bersua dengan kelima orang ini, sewaktu berjumpa Ciang sianseng pun hadir disisinya. Karena itu kelima orang tersebut kenal juga dengan dirinya.

"Perkataan sauhiap memang benar" sahut Kian an ngo hiong kemudian. "Kami memang bermaksud melakukan penyelidikan lagi dengan lebih seksama."

"Kalian mesti lebih waspada. " pesan Kim Thi sia.

Mendadak ia melihat salah satu diantara kelima orang tersebut sedang mengawasi putri Kim huan dengan wajah penuh kegusaran.

sebaliknya putri Kim huan melengos kearah lain dengan mulut dicibirkan dan wajah menghina.

Kim Thi sia tahu pasti ada sesuatu yang tak beres, cepat dia menegur: "sobat, apakah kau mempunyai sakit hati dengannya?"

Merah membara paras muka orang itu. Agaknya dia sedang berusaha mengendalikan gejolak hawa amarahnya, sepatah demi sepatah kata ujarnya kemudian:

"Budak cilik ini tak tahu aturan, setengah bulan berselang dia pernah menitahkan anak buah raksasanya untuk "

Berbicara sampai disitu mendadak ia menjadi tergagap dan tak mampu melanjutkan perkataannya, jelas peristiwa yang memalukan itu sulit diutarakan keluar olehnya. Tiba-tiba putri Kim huan berpaling, kemudian balas berseru dengan wajah gusar:

"Kau mengatakan siapa yang budak kecil? Hmmm, seandainya kau mau menuruti perkataanku, tak mungkin dirimu digaploki oleh anak buahku. Kalau sudah tahu bersalah, buat apa banyak bicara lagi?"

Dengan hati mendongkol orang itu mendesak maju kedepan, lalu bentaknya lagi: "Budak kecil, justru kau yang tak mau membedakan mana yang benar dan mana yang

salah. hmmm, setelah kutemukan hari ini, akan kutuntut keadilan darimu."

Kim Thi sia cukup mengetahui tabiat putri Kim huan yang gemar membuat gara-gara dimana- mana, dengan wajah masam dia segera maju kedepan dan menegur dengan suara dingin:

"Sebenarnya apa yang terjadi? Cepat katakan, coba kupertimbangkan siapa yang benar dan siapa yang salah."

"Waktu itu tanduku sedang melalui sebuah jembatan kecil, jembatan tersebut amar sempit dan hanya bisa dilewati tandu saja. saat itulah dia datang dari arah seberang ketika aku suruh dia menyingkir. Hmmm, dia jahat sekali, bukan saja tidak menyingkir bahkan sambil tertawa tergelak malah melompat setinggi dua kaki dan melangkahi tanduku. Aku jadi sangat mendongkol maka kusuruh Hon ciangkun memberi hajaran kepadanya."

"Hanya dikarenakan alasan tersebut?" "Benar"

Dengan kening berkerut Kim Thi sia segera membentak:

"Hmmm, ulahmu benar-benar kelewat batas, kau bukan sri baginda, apa salahnya kalau dia melompati tandumu? Atas dasar apa kau menyuruh anak buahmu menghajarnya? Hmmm, sudah kuduga kesalahan pasti berada dipihakmu. Ayoh sekarang minta maaf kepadanya. Kalau tidak aku akan menghajarmu sampai babak belur."

Buru-buru sipedang perak maju melerai, katanya sambil tertawa:

"sute, buat apa kau mesti marah-marah? Yang sudah lewat biarkan saja lewat, kesalahan toh berada dikedua belah pihak. apa salahnya bila didamaikan secara baik-baik. Apalagi dia toh seorang wanita yang menjadi lelaki pantas mengalah kepadanya."

Walaupun perkataan ini enak kedengarannya, namun siapa saja bisa mendengarkan kalau ia sedang mengumpat kepicikan hati orang tersebut, tak heran paras muka orang itu menjadi merah padam.

Putri Kim huan pun merasa amat sedih, apalagi ditegur oleh Kim Thi sia dihadapan umum. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak sehingga tak kuasa lagi air matanya jatuh bercucuran.

selang berapa saat kemudian, ia baru berkata dengan sedih:

"sekarang anak buahku telah mati semua, kau boleh saja menganiaya diriku sesuka hatimu.

Akupun tahu, kau adalah orang yang suka menganiaya diriku kaum lemah "

"Kau tak usah menilai rendah diriku, aku hanya bekerja sesuai dengan permasalahannya, aku tak takut kau sindir."

"Tapi perkataan nona ini memang benar?" pedang besi segera menyela. "Aku melihat sute sering kali menganiaya dirinya. "

"Yaa betul" sambung s ipedang tembaga. "Mungkln sute sudah menaruh kesan lain kepadanya, sehingga urusan yang kecil pun kau sengaja besar-besarkan "

Ditegur oleh dua orang suhengnya, Kim Thi sia menjadi termangu dan bungkam diri dalam seribu bahasa.

Diam-diam iapun berpikir benarkah dia sudah menaruh "kesan buruk" terhadap gadis tersebut? sewaktu ia terbangun dari tidurnya diluar pintu kamar tempo hari, hatinya sempat dibuat

terharu ketika putri Kim huan menyelimuti tubuhnya, tapi kemudian kesan itu berubah menjadi

buruk setelah ia mendengar pembicaraannya dengan pedang besi.

Dalam pada itu salah satu diantara lima orang gagah dari Kian an telah dibuat rikuh juga oleh suasana tersebut, terutama setelah menyaksikan keadaan putri Kim huan yang mengenaskan, pikirnya kemudian:

"Aaaai, sudah, sudahlah akupun tak tega memperlakukan gadis secantik ini secara kasar." Maka tanpa berkata-kata lagi berlalulah lima ornag gagah itu dari hadapan mereka.

Tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka didepan sebuah kuil, mendadak pedang perak menghentikan langkahnya sambil memperhatikan permukaan tanah dengan sorot mata yang tajam.

Rupanya diatas tanah yang becek bekas tertimpa air hujan, terlihat bekas telapak kaki yang banyak sekali, sekilas pandangan bekas telapak kaki itu nampak kacau, tapi bila diperhatikan seksama, rasanya jejak itu rapi dan teratur sekali. seakan-akan terdapat serombongan manusia yang baru lewat dari sana. "Su sute" ujar pedang perak kemudian. "Coba kau hitung, berapa orang yang baru lewat dari sini?"

Dengan seksama pedang besi memperhatikan tanah, lalu jawabnya serius: "Semuanya berjumlah dua belas orang, diantara mereka delapan orang memiliki ilmu

meringankan tubuh yang agak sempurna agaknya kemampuan mereka sudah mencapai sepuluh bagian kesempurnaan." sipedang perak segera tertawa dingin.

"Heeeeh.....heeeeh......heeeeh ternyata dugaanku memang benar. Pek kut sinkun memang

memiliki delapan orang jagoan yang memiliki kepandaian silat cukup tangguh." setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya:

"Coba kalian tunggu sebentar, aku segera akan balik kemari."

selesai berkata dia segera melejit keudara bagaikan seekor burung walet. Ditengah udara dia berjumpalitan secara indah dan menutulkan ujung kaki kirinya pada punggung kaki kanan.

Kemudian badannya melejit setinggi satu kaki lebih dan melayang turun diatas atap kuil bagaikan seekor rajawali raksasa.

Entah disengaja atau tidak- demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukannya ini segera mendatangkan pujian dari semua yang hadir disana.

Kuil itu nampaknya begitu kuno tapi bila diperhatikan lebih seksama bangunannya selain berlubang sesungguhnya sudah mempunyai sejarah seratus tahunan.

Dengan gerakan yang sangat ringan sipedang perak bergerak kesana kemari sehingga boleh dibilang seluruh permukaan atap sudah dijelajahi, tapi entah apa yang dibuatnya.

Tak lama kemudian mendadak wajahnya sudah mandi peluh langkahnya tidak seringan tadi lagi. Bagaikan diatas bahunya sudah diberi beban yang sangat berat. Melihat kejadian ini sipedang tembaga segera berseru:

"Heran, mengapa ji suheng mengerahkan tenaga dalamnya diatas atap rumah secara percuma. ?"

"Yaa, sungguh mengherankan" sambung sipedang besi. "Padahal selama ini ji suheng amat sayang dengan tenaga dalam sendiri. "

Belum selesai dia bergumam, sipedang perak telah melayang turun kembali keatas tanah dan berdiri didepan pintu kuil tanpa berbicara.

semua orang dapat melihat dengan jelas wajahnya nampak pucat pias, keringat bercucuran amat deras sedang napasnya tersengkal-sengkal.

Mendadak terdengar suara gemuruh yang sangat memekikkan telinga, perasaan terkejut semua orang berpaling, ternyata atap bangunan kuil tadi telah roboh sama sekali keatas tanah.

Debu dan pasir yang berterbangan segera mengotori seluruh wajah pedang perak. akan tetapi ia tetap berdiri tak bergerak, seakan-akan ia tidak merasakan akan hal itu Pedang perak tak bisa menahan diri lagi, segera teriaknya: "Ji suheng cepat mundur, berbahaya sekali."

"Tak usah kuatir" sahut sipedang perak sambil berpaling. "Aku cukup mengetahui keadaan." sambil berkata dia maju kedepan berapa langkah, lalu dengan wajah menyeramkan tertawa

dingin tiada hentinya, seakan-akan ia sedang menantikan sesuatu.

Betul juga, dari balik kuil mendadak bergema dua kali jeritan kesakitan yang memilukan hati, disusul kemudian terdengar suara benturan yang keras. Pintu kuil telah didobrak orang dan muncullah serombongan manusia berbaju ringkas yang berdesak-desakan lari keluar dari pintu.

Pedang perak yang sudah menantikan sejak tadi segera bertindak cepat, sepasang telapak tangannya diayunkan berulang kali. "Blaaaam, blaaaammmm, blaaaammmmmmm"

Tiga pukulan bersarang telak ditubuh tiga orang lelaki kekar yang kabur paling depan. Jeritan ngeri yang menyayat hatipun segera bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu ketiga orang itu sudah terhajar oleh pukulan yang maha dahsyat itu hingga mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula dan tewas seketika.

suasana menjadi sangat gaduh, disusuk kemudian kawanan lelaki kekar yang berebut keluar dari pintu pun berlarian menghindar kesamping.

sambil tertawa dingin sipedang perak segera berpaling seraya membentak keras:

"sute bertiga, cepat halangi perjalanan mereka, jangan biarkan orang-orang itu melarikan diri"

Kecuali putri Kim huan, ketiga orang pemuda tersebut segera memahami maksud hati sipedang perak. mereka tak berani berhayal lagi dan serentak memecahkan diri dalam tiga penjuru dan menghadang jalan lari orang-orang itu.

Tampaknya kawanan lelaki kekar itupun sudah memiliki disiplin yang keras, mereka hanya kalut sebentar untuk kemudian dapat menguasahi kembali keadaan disitu.

serentak mereka meloloskan senjata dan membentuk barisan untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang diinginkan.

sementara itu sipedang perak sudah bertarung melawan empat orang jago berbaju hitam yang memiliki kepandaian silat tangguh.

Angin pukulan menderu- deru menyelimuti angkasa, namun keempat lelaki berbaju hitam itu bukan manusia lemah. Mereka mengurung sipedang perak ditengah arena dalam barisan su siu tin hoat yang tangguh.

sipedang tembaga menghadang dihadapan tiga orang jago, agaknya dia berniat mendemontrasikan kebolehannya, dengan pukulan yang amat dahsyat ia gempur ketiga orang musuhnya habis-habisan sehingga mereka hanya mampu menangis saja.

Tapi keadaan yang menguntungkan itu hanya berlangsung sebentar saja, sepuluh gebrakan kemudian tiba-tiba ketiga orang itu berpekik nyaring kemudian melancarkan pukulan bersama- sama.

Enam gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat seketika mendesaknya mundur sejauh satu langkah.

Dalam waktu singkat ketiga orang itu telah berubah arah kembali, kini mereka terbagi dalam tiga arah dan membentuk barisan sam huan tin hoat yang menyerang maupun menarik diri secara bersama-sama. Kerja sama mereka amat sempurna membuat serangan sipedang tembaga meski amat gencar, untuk sesaat pun sulit untuk menghalau musuhnya.

sipedang besi menghadang dua orang musuh, posisinya jauh lebih menguntungkan, apalagi setiap serangannya selalu berhasil mendesak mundur musuhnya sampai berapa langkah.

Namun seperti juga jalan pikiran sipedang tembaga dia tidak terburu-buru untuk memberesi musuhnya, tapi justru mendesak mereka yang sampai kalang kabut dan selalu terancam bahaya.

sedang musuh yang bertarung melawan Kim Thi sia adalah manusia berbaju hitam yang berperawakan jangkung. Kim Thi sia kenali orang ini sebagai orang yang mengepungnya didalam hutan malam itu dan menyerang dirinya dengan kukunya yang tajam.

oleh sebab itulah sepanjang pertarungan berlangsung, dia selalu bertindak sangat hati-hati, asalkan musuh menggunakan kukunya yang tajam maka buru-buru dia menghindarkan diri lebih jauh.

sementara itu putri Kim huan hanya mengawasi jalannya pertarungan dari sisi arena, dia sangat memperhatikan setiap gerakan jurus yang dipergunakan pedang perak dalam menghadapi musuhnya, kadang kala ia nampak termenung tapi sebentar kemudian berseri, jelas sekali dia sedang mencuri belajar ilmu silat orang itu. Dalam pada itu, diam-diam sipedang besi sedang menghitung jumlah musuhnya, termasuk tiga orang yang telah tewas, jumlahnya tiga belas orang.

sebagai pemuda yang cerdik ia tahu bahwa diantara sekian orang, ada seorang diantaranya yang menguasahi ilmu meringankan tubuh sebangsa menginjak salju tanpa bekas. semula dia tak tahu siapakah orang itu, tapi setelah diperhatikan lebih jauh, jawabnya segera ditemukan.

Ia tahu orang itu pastilah si jago gedang setengah umur yang sedang bertarung melawan Kim Thi sia.

Entah mengapa, disaat dia mengetahui kalau musuh yang paling lihay telah menjadi tandingan Kim Thi sia. Tiba-tiba saja timbul perasaan gembira dihati kecilnya, dia berharap orang itu bisa membunuh atau melukai atau bahkan membuat Kim Thi sia menjadi cacad seumur hidup.

orang tersebut memang lihay sekali, terutama ilmu Ci ka sian kangnya yang sangat lihay, dalam keadaan terpaksa Kim Thi sia harus mengeluarkan ilmu tay goan sinkangnya untuk menghadapi serangan-serangan tersebut.

Dalam waktu singkat, mereka berdua telah bertarung hampir dua puluh gebrakan lebih. Baru saja Kim Thi sia mengeluarkan dua jurus serangan dari ilmu Tay goan sinkangnya,

manusia berusia setengah umur itu seketika sudah didesaknya hingga mundur tiga langkah lebih. Hal ini membuat keheranannya semakin bertambah.

Baru saja dia hendak menggunakan jurus serangan yang ketiga, tiba-tiba pemuda itu jadi terperanjat sekali hingga gerak serangannya tak berani digunakan lebih jauh.

Ternyata secara diam-diam putri Kim huan sedang mencuri belajar ilmu silatnya. Kim Thi sia bukan takut ilmunya tercuri orang, tapi dia tak ingin gadis itu mempelajari silatnya hingga menyusahkan dirinya dikemudian hari....

Begitu pikirannya bercabang, manusia berbaju hitam itu segera manfaatkan kesempatan yang sangat baik itu untuk melancarkan serangan balasan, tiga buah pukulan dan dua serangan jadi tangannya yang dilancarkan secara beruntun memaksa tubuhnya mundur sejauh tiga langkah lebih.

sementara itu putri Kim huan sudah mulai menirukan gerakan yang dicuri lihatnya tadi, tapi dia seperti mengalami sesuatu kesulitan, tahu-tahu gerakan tersebut terhenti sampai ditengah jalan.

sampai lama sekali ia termenung, namun kesulitan tersebut tak berhasil juga dipecahkan, maka dia memperhatikan kembali kearah arena pertarungan.

Dengan cepat ia melihat bahwa Kim Thi sia sudah tidak mengeluarkan jurus-jurus tangguhnya lagi. Ia sadar, sudah pasti pemuda itu tidak membiarkan dirinya mencuri belajar jurus ampuhnya itu, tentu saja peristiwa mana membuat hatinya menjadi tak senang.

sebagai seorang jago yang berpengalaman manusia berbaju hitam itupun sadar bahwa kesempatan yang sangat baik ini tak boleh disia-siakan dengan begitu saja. Dalam waktu singkat dia menyerang dengan jurus " menuding kearah Peng ho" serta "sambil tertawa menunjuk langit selatan" dari ilmu jari Ci ka sian kangnya.

Desingan angin tajam yang menderu- deru menyelimuti angkasa dan seketika mengurung Kim Thi sia ditengah arena.

Kim Thi sia berhasil meloloskan diri dari serangan tangan kiri, namun gagal menghindarkan diri dari serangan jari tangan kanan-"sreeeetttt "

Kontan saja bajunya tersambar robek hingga lengannya menderita luka memanjang, dengan perasaan terkejut bercampur gusar ia segera membentak keras dan sekali lagi mengeluarkan ilmu Tay goan sinkangnya.

Manusia berbaju hitam itu segera mendengus tertahan dan mundur selangkah kebelakang, menggunakan peluang itu Kim Thi sia melirik kembali kearah putri Kim huan. Ketika dilihatnya gadis itu memusatkan perhatiannya lagi untuk mencuri belajar ilmu silatnya dengan hawa amarah yang meluap segera teriaknya keras-keras:

"sudah kubilang jangan mencuri belajar ilmu silatku mengapa sih kau nekat terus Jangan sampai bikin hatiku marah, hmmm? Aku bisa tak acuh kepadamu sepanjang hidup,"

Putri Kim huan menjadi terkejut sekali, pikirnya menjadi kaku dan jurus serangan yang baru saja diingatnya menjadi kacau kembali.

sipedang besi yang mengikuti pembicaraan itu segera tertawa nyaring, tiba-tiba dia mendesak mundur dua orang musuhnya, kemudian berkata dengan lantang:

" Nona, perhatikanlah permainanku ini, ilmu pukulan yang kugunakan adalah ilmu-ilmu silat maha sakti."

sembari berseru dia bergeser kesamping lalu memutar dirinya kebelakang, ketika serangan dari kedua orang lawannya sudah menyebar lewat, ia segera memutar telapak tangannya yang menghajar salah seorang musuhnya hingga sempoyongan-

" Inilah jurus pertama, menangkap naga dibalik pintu"

Menanti orang itu sudah berdiri tegak. mendadak tangannya menyapu kembali kebawah dengan kecepatan luar biasa, ketika dua orang musuhnya membentak keras gusar sambil melancarkan serangan balasan, sipedang besi sedikitpun tidak gugup,

Ia menunggu sampai serangan musuhnya hampir mengena diatas badannya, mendadak napas ditarik dalam-dalam dan tubuhnya berjongkok kebawah.

Menanti serangan kedua orang musuhnya sudah menyambar lewat dari sisi badannya, dengan secepat kilat dia melompat bangun kembali sementara itu telapak tangan kirinya membabat keluar membendung serangan musuh sedangkan tangan kanannya melepaskan serangan yang dahsyat.

serangan tersebut dilancarkan dengan cepat dan luar biasa, sasarannyapun. terarah secara jitu, tak ayal bahu salah seorang musuhnya terhajar secara telak. Diiringi jeritan kesakitan, orang itu segera jatuh berjumpalitan diatas tanah. Terdengar ia berseru lagi sambil tertawa nyaring:

"Inilah jurus yang kedua, lengan merah menaklukkan harimau"

Putri Kim huan sangat gembira, sambil tertawa merdu serunya berulang kali:

"Benar-benar serangan ilmu pukulan yang amat hebat, dalam satu gebrakan saja dapat merobohkan seorang musuh. "

" Cepat lihat nona, inilah jurus yang ketiga."

Menyusul seruan itu, jerit kesakitan kembali bergema memecahkan keheningan.

Kasihan dua orang lelaki tersebut, hakekatnya mereka dijadikan bulan-bulanan oleh sipedang besi. Pukulan kiri kanannya membuat kepala mereka pening tujuh keliling dan mengeluh kesakitan tiada hentinya.

"Hey, kau harus mengajarkan ilmu pukulan itu kepadaku" teriak putri Kim huan tiba-tiba. "Tentu saja nona, asal kau mau belajar. Akupun rela mewariskan segenap kepandaian silatku

kepadamu."

"Tidak. tak usah semuanya, yang jelek tak usah diajarkan sebab aku segan mempelajari ilmu silat yang tak berguna."

"Waah, nona terlalu memandang rendah kemampuanku, kau tahu ilmu pukulan maupun ilmu pedang yang kupelajari rata-rata merupakan ilmu silat pilihan yang amat hebat. "

"Berapa lama yang dibutuhkan untuk mempelajari semua kepandaian tersebut ?"

"soal itu. soal ini mah tergantung pada kecerdasan serta daya tangkapmu."

"Bagaimana menuruti pendapatmu tentang diriku?" sambil berkata gadis itu segera memperlihatkan sekulum senyumannya yang sangat menawan hati.

si pedang besi segera merasakan hatinya berdebar ker sampai lama sekali dia termangu, kemudian baru katanya:

"Nona adalah gadis tercantik dan terpintar yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku yakin dalam hal mempelajari ilmu silatpun kau tak perlu membutuhkan waktu yang cukup lama."

sementara itu Kim Thi sia telah berhasil pula melukai manusia berbaju hitam itu, sambil memegangi perutnya orang itu berjongkok diatas tanah sambil berkerut muka menahan rasa kesakitan yang luar biasa.

Melihat orang itu mengerang kesakitan, Kim Thi sia yang berhati bajik tak tega melanjutkan serangannya, ia segera menarik kembali pukulannya dan mengundurkan diri dari situ.

sipedang besi yang menyaksikan kejadian ini tidak berbicara sepatah katapun,

mendadak ia melejit dua kaki ketengah udara lalu dari situ dia lepaskan sebuah pukulan yang dahsyat sekali kebawah.

Manusia berbaju hitam yang pada dasarnya sudah terluka parah itu kontan saja mengeluh kesakitan, darah segar menyembur keluar dari mulutnya dan ia jatuh pingsan seketika itu juga.

sipedang besi yang segera melayang turun keatas tanah kembali melepaskan dua buah pukulan gencar kearah kedua orang musuhnya.

Dua orang manusia berbaju hitam lawannya itu sesungguhnya sudah kepayahan, apalagi kena diterjang serangan dahsyat tersebut, mereka tak mampu menahan diri lagi dan tewas seketika.

Kim Thi sia merasa sangat tak puas, dia tak mengira sipedang besi begitu kejam dan tak berperi kemanusiaan sehingga orang yang sudah terlukapun masih digempur secara kejam.

Dalam keadaan begini dia berpura-pura melengos kearah lain dan berlagak tidak melihat kejadian tersebut.

sipedang tembaga pun sudah berhasil meringkus musuhnya, namun dia menderita sedikit kerugian, terutama terjadi dihadapan putri Kim huan, nampaknya ia merasa kehilangan muka sehingga selama ini hanya berdiri membungkam bagaikan patung. Putri Kim huan memandang sekejap kearahnya tiba-tiba ia berseru keheranan: "Hey, kau terluka?"

Merah padam selembar wajah pedang tembaga, sambil tertawa getir dia menggelengkan kepalanya seraya berkata:

"Aaaah, tidak apa-apa, tidak apa-apa hanya luka sekecil ini kenapa mesti dirisaukan?" Pelan- pelan putri Kim huan berjalan mendekatinya, kemudian menegur dengan lembut:

"Coba lihat, darah telah meleleh keluar masa keadaan beginipun dibilang tidak apa-apa?"

Dari sakunya dia mengambil sapu tangannya yang putih bersih lalu membalut luka tadi dengan lembut.

Ketika lengan sipedang tembaga tergenggam oleh tangannya yang lembut itu. Hampir saja pemuda tersebut tak percaya kalau hal tersebut merupakan suatu kenyataan. Rasa sakit pada lengannya seketika hilang tak berbekas, diawasinya nona itu dengan termangu- mangu sementara perasaan dalam hatinya terasa bergolak keras.

Ia merasa biarpun harus mengorbankan selembar jiwanyapun dia rela, asal keadaan seperti ini bisa terulang kembali atas dirinya. Dengan suara terharu bisiknya kemudian:

"Aku......aku tak tahu bagaimana mesti berterima kasih kepadamu. Aku. biarlah aku lakukan

sendiri. "

"sudahlah, jangan bergerak dulu, coba lihat, darahnya mengalir makin lama semakin banyak." Dengan lemah lembut dan penuh perhatian kembali dia menyeka darah yang mengalir keluar itu dengan sapu tangannya.

" Kalian orang laki-laki memang senang berlagak jantan" ia berbisik lembut. "Coba lihat, sudah terluka pun masih tak diurus. aaai, benar-benar."

Sekali lagi sipedang tembaga menatap wajah nona itu lekat-lekat, kecantikan wajahnya, kelembutannya dan kecerdikannya tiba-tiba saja membangkitkan suatu ambisi yang tak terkendali dalam hati kecil pemuda ini.

"cukup, cukup,......kau jangan bergerak lagi, coba lihat, darah bisa mengalir makin deras. "

kedengaran gadis itu berseru lagi.

"Terima kasih......terima kasih. " sekali demi sekali sipedang tembaga mengulangi perkataan

tersebut, sementara pikirannya melayang memikirkan kesoal lain.

Dalam pada itu pedang besi merasa sangat tak senang hati setelah menyaksikan putri Kim huan merawat luka suhengnya dengan begitu lembut dan mesra . Dia sangat berharap bisa mengalami keadaan seperti abang seperguruannya itu.

Coba tahu bakal begini, dia pasti akan membiarkan tubuhnya dilukai musuh dalam pertarungan tadi, agar dia pun memperoleh kesempatan untuk merasakan kelembutan tangan gadis tersebut.

sipedang perak yang berhasil menghajar musuhnya jalan mendekat dengan wajah berseri, serunya sambil tertawa:

"Haaaaah.....haaaaah......haaaaah dengan tindakan kita ini, Pek kut sinkun pasti akan

dibuat keder lebih dulu "

Kim Thi sia yang telah mengubur mayat-mayat musuhpun telah berkumpul kembali dengan rekan-rekan lainnya.

Baru saja dia muncul, putri Kim huan telah berjalan menghampiri sambil berbisik: "so Bun pin bersedia mengajarkan ilmu silatnya kepadaku, gembirakah kau. ?"

Kim Thi sia tertegun, namun melihat wajah gadis itu berseri-seru, diapun tak ingin menghilangkan rasa gembiranya, dengan singkat sahutnya:

"Bila ia bersedia mengajarkan ilmunya kepadamu, pergilah belajar, kenapa mesti bertanya lagi kepadaku?"

Mendadak terdengar pedang tembaga berteriak keras:

"Ayoh kita segera berangkat, jangan ngobrol terus membuang waktu."

Agaknya perkataan itu sengaja ditujukan kepada Kim Thi sia. Ketika pemuda tersebut mendongakkan kepalanya terlihat wajah pemuda itu masam dan amat tak senang hati. Dia tak tahu apa sebabnya abang seperguruannya itu mendongkol kepadanya, terpaksa dia hentikan pembicaraan dan menempuh perjalanan kembali dengan langkah lebar.

Berapa li kemudian dari depan situ tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia yang bergerak dengan kecepatan tinggi.

sipedang perak segera menengok sekejap kedepan, lalu katanya sambil tertawa: "ooooh, rupanya hanya seorang nona, kukira Pek kut sinkun yang telah datang kemari."

Kim Thi sia berjalan dipaling depan, ia tidak mendengar perkataan dari sipedang perak. Disaat "nona" itu melintas lewat dari sisi tubuhnya, ia seperti mengendus bau harum yang tipis.

Merasa keheranan, pemuda itu segera berpaling dan mengawasi bayangan manusia itu dengan seksama.

Tampaknya sinona itupun seperti menemukan sesuatu, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya seraya berpaling. "Aaaaaah. " dengan perasaan bergetar keras Kim Thi sia seegra berseru tertahan-

"Bukankah kau kau adalah nona Nyoo soat hong?"

Gadis itupun kelihatan agak tertegun, lalu berseru pula keheranan: "Kau adalah Kim Thi sia. "

Dibalik nada seruan tadi terselip luapan rasa gembira yang amat sangat, seakan-akan tanpa disengaja telah bersua dengan seorang sahabat kentalnya.

Gadis ini memang tak lain adalah Nyoo soat hong, gadis pertama yang dikenal Kim Thi sia ketika baru turun dari gunung. Dia terhitung adik angkatnya pula sebab dengan kakak gadis tersebut, mereka adalah saudara angkat.

Kedua orang itu sama-sama dicekam rasa gembira yang meluap, meski ada beribupatah kata ingin disampaikan, namun pada saat perjumpaan tersebut ternyata taksepatah katapun sanggup diutarakan.

sampai lama kemudian Nyoo soat hong baru berbisik,

"Waaaah, sekarang kau sudah menjadi seorang manusia yang luar biasa. "

"Aaaah, siapa yang bilang? Manusia sebesar diriku ini tak becus dan tak mampu melakukan apa-apa. " merah padam selembar wajah Kim Thi sia. "Bagaimana dengan keadaanmu

sendiri? Mana kakak angkatku? Apakah dia sehat-sehat saja. "

"Aaaai, segala sesuatunya bagaikan impian. " keluh sinona yang dulunya berhati keras tapi

kini nampak mengalami perubahan yang besar sekali. setelah tertawa getir terusnya:

"Aku dan abangku sudah berupaya kesana kemari dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, namun bukan saja tak berhasil menyelidiki musuh besar pembunuh ayahku, hampir saja nyawa kami turut melayang. Kalau dulu aku seorang periang, maka sekarang. aaai."

Kim Thi sia dapat melihat kemurungan dan bekas penderitaan yang membekas diwajah nona yang cantik. Dia tahu selama ini mereka pasti sudah banyak merasakan pahit getirnya penghidupan, kalau tidak mustahil gadis tersebut akan berkeluh kesah.

"Mana abangmu? Kau belum mengatakan hal ini kepadaku" seru Kim Thi sia kemudian setelah termangu sejenak.

"Dia berada dikota, aku memang hendak bertemu dengannya, tak disangka disini telah bersua denganmu lebih dulu."

"Haaaah......haaaah......haaaah kalau begitu aku segera akan bersua kembali dengan abang

angkatku." Tiba-tiba sipedang tembaga menyela:

"Sute, kau memang pandai bergaul sehingga siapa saja kau kenal, nona ini sangat hebat dalam ilmu meringankan tubuh, aku percaya dia pastilah seorang pendekar wanita dari perguruan kenamaan, mengapa kau tidak perkenalkan kepada kami semua?"

"ooooh, tentu saja, tentu saja. " secara ringkas Kim Thi sia pun mencerirakan asal usul Nyoo

soat hong kepada semua orang.

sementara itu Nyoo soat hong segera maju kedepan dan memberi hormat kepada sipedang perak, peang tembaga serta pedang besi.

Tatkala ia menyaksikan disitu hadir pula seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan, perasaannya segera bergetar keras. Melihat itu buru-buru Kim Thi sia menerangkan:

"Dia bukan bangsa Han. kau tahu, dia mempunyai asal usul yang hebat. Dia masih terhitung

putri dari kaisar negeri Kim saat ini." Nyoo soat hong nampak terkejut bercampur keheranan, segera katanya:

"Belum pernah kutemui seorang putri raja kecuali mendengarnya dari kisah cerita. Waaah.......tak disangka kecantikan seorang putri raja benar-benar luar biasa. " sipedang tembaga segera menyela:

"Nona, kau tentu teman intim suteku bukan? Bila tak keberatan mari kita masuk kota bersama- sama, dengan begitu sutepun punya teman."

Merah padam selembar wajah Nyoo soat hong, kata "intim" terasa berbau porno untuk diartikan dalam hubungan antara laki dan perempuan, tapi diapun tidak menyangkal sebab sebagai adik angkatnya, hubungan mereka boleh dibilang intim sekali.

sementara itu putri Kim huan telah mengamati pula gadis tersebut berapa kejap. Terasa olehnya walaupun nona itu penuh berdebu namun tak kehilangan kecantikan wajahnya, terutama hubungannya yang begitu akrab dengan Kim Thi sia, diam-diam ia merasa amat tak senang hati.

Nyoo soat hong sendiri merupakan gadis yang tahu diri, selama berada dihadapan orang banyak. ternyata ia tak pernah menyinggung masalah keluarganya.

Namun ketika ia mendapat tahu kalau Kim Thi sia hendak bertarung melawan Pek kut sinkun, gadis tersebut segera menyatakan kesediaannya untuk turut serta bersamanya.

sebab sedikit banyak kematian ayahnya memang melibatkan pula tokoh persilatan tersebut.

Bukan cuma begitu, malah kedatangan mereka kekota itupun berniat untuk menyambangi pek kut sinkun.

Entah mengapa, sejak kehadiran Nyoo soat hong dalam rombongan itu, sipedang tembaga kelihatan gembira sekali, dia sering mencari alasan untuk berbincang atau bergurau dengan putri Kim huan.

Hanya sipedang besi seorang yang merasa tak senang hati, agaknya dia sudah merasakan bahwa sam suhengnyapun menaruh minat yang besar atas diri putri Kim huan.

Hanya pedang perak sendiri yang membungkam dalam seribu bahasa, memang begitulah wataknya, sekalipun menghadapi masalah yang besarpun, perasaan hatinya tak pernah diungkapkan keluar.

Tiba didalam kota, kehadiran empat pria dan dua wanita ini segera menggemparkan disekeliling lorong jalanan.

Tak lama kemudian berita kedatangan mereka sudah disampaikan kepada Pek kut sinkun, maka menjelang magrib, muncullah serombongan manusia persilatan lagi kekota tersebut.

Kawanan jago persilatan yang muncul kemudian ini memiliki perbedaan yang menyolok dari kawanan jago lainnya, dari sorot mata mereka yang tajam menggidikkan hati dapat disimpulkan kalau mereka semua memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh.

setibanya didalam kota, rombongan tersebut segera membaurkan diri dengan masyarakat lain beristirahat dalam rumah makan-

Ketika sipedang perak sekalian memasuki sebuah rumah makan, sipedang besi segera merasakan akan hal ini, sambil tertawa dingin ia segera berkata:

"Ji suheng, rupanya kakek panca bisa yang kita paling benci pun telah datang kemari. Rupanya perencanaan Pek kut sinkun cukup sempurna."

"sute tak perlu kuatir" sahut pedang perak cepat. "Walaupun kelima manusia cebol itu punya sedikit nama didalam dunia persilatan, namun mereka tak ada nilainya dihadapan kami, bila mereka berani menyerang datang, malam ini juga kita habisi mereka semua."

sementara pembicaraan berlangsungl kebetulan disisi mereka lewat dua orang jago persilatan yang bertubuh kekar dan berwajah penuh tahi lalat, agaknya mereka sempat mendengar pembicaraan tersebut hingga tanpa terasa mendengus dingin.

Mendengar dengusan itu, dengan kening berkerut sipedang perak segera tertawa dingin, jengeknya: "Keparat busuk. rupanya kalian adalah sepasang pedang langkah sakti. "

Kemudian setelah berhenti sejenak. terusnya:

"Bukankah sepanjang pedang langkah saktipun terhitung manusia kenamaan? Kenapa sewaktu lewat disamping kami harus tundukkan kepala? oooh, rupanya kalian tak berani mencabut kumis harimau....haaaah....haaaah...haaaaaah. "

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, dia sengaja berbicara dengan suara keras sehingga dua orang lelaki itucun ikut mendengar dengan jelas sekali.

seketika itu juga sepasang pednag langkah sakti menghentikan langkahnya dan berpaling sambil melotot penuh kegusaran.

"Ada apa?" sipedang besi segera menjengek sambil tertawa dingin. "Apakah kalian tidak terima dengan perkataan suhengku itu?"

sambil berkata, dia menerjang maju kedepan dan langsung melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Dengan gerakan cepat dua orang itu memencarkan diri kekiri dan kanan sambil beruntun melepaskan tiga buah tendangan dan sebuah pukulan.

sipedang besi segera membungkukkan badan, dari bacokan dia merubah jurus serangannya menjadi dorongan dan melepaskan dua buah pukulan berantai.

sepasang pedang langkah sakti menjengek dingin, mereka membalikkan telapak tangannya lalu menyambut ancaman tersebut dengan keras melawan keras. "Blaaaammmmmm. "

Ditengah benturan keras, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh tiga langkah dari posisi semula.

Pedang besi segera berkerut kening, baru saja dia akan melancarkan serangan lagi, mendadak dari depan pintu sana muncul lima orang kakek ceking yang bertubuh cebol.

"Hey pedang besi, kau jangan bertindak keterlaluan" bentakan keras segera bergema memecahkan keheningan. "Hmmmm, tunggu saja sampai esok pagi, akan datang orang yang menuntut keadilan darimu."

Jangan dilihat kelima orang itu bertubuh cebol pun kecil, ternyata suara bentakannya keras bagaikan suara guntur.

sipedang perak segera tampil kedepan menghadang dihadapan sipedang besi, sahutnya kemudian dengan suara dalam:

"Baik, sampai jumpa esok pagi."

Dalam pada itu, Nyoo soat hong dengan sorot matanya yang tajam ikut mengawasi pula gerak gerik kelima orang itu, mendadak ia seperti menemukan sesuatu, dengan wajah terkejut bercampur gugup dia mendekati Kim Thi sia lalu berbisik dengan cemas:

"Aduh celaka saudara Thi sia, kakak ku telah ditangkap orang-orang itu, ayolah kau cepat selamatkan dia"

Kecemasan dan kegugupan yang menyelimuti wajah sinona seketika membuat Kim Thi sia turut terkejut, serunya kebingungan:

"Apa kau bilang? Adik Hong, apa kau bilang? saudara Jin hui ditangkap orang. ?"

Nyoo soat hong segera menunjuk kearah seorang manusia berbaju putih yang duduk bersama serombongan jago, lalu serunya:

"Coba lihat, bukankah orang itu adalah abangku? Lihatlah, dia sama sekali tak bergerak, sudah pasti jalan darahnya telah ditotok." Kim Thi sia segera menengok kearah yang ditunjuk. betul juga, ia segera kenali pemuda berbaju putih itu sebagai kakak angkatnya, Nyoo jin hui yang sudah berpisah dengannya selama berapa waktu.

Perasaan hatinya yang semula tenang kontan saja bergolak keras, katanya kemudian- "Waaaah celaka, bila Nyoo jin hui sampai terjatuh ketangan mereka, dia pasti akan menderita

siksaan- Adik Hong, kau tak usah cemas, aku pasti akan berusaha untuk menyelamatkan jiwanya . "

Kedua orang itu berbicara dengan suara lirih, karenanya sipedang perak sekalian sama sekali tidak mendengar. sedang Kim Thi sia pun tidak mengatakan persoalan ini kepada mereka, ia membalikkan badan lalu lari mendekati orang-orang tersebut.

Buru-buru Nyoo soat hong menyusul kedepan, ditengah jalan ia sudah meloloskan pedangnya siap menyerang.

Tiba dihadapan pemuda berbaju putih itu Kim Thi sia segera mengamati orang tersebut dengan seksama, kebetulan orang berbaju putih pun mendongakkan kepalanya, begitu empat mata bertemu, nampak bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan. Dengan cepat Kim Thi sia berpikir:

"Aaaah, saudara Jin hui, sudah lama kita tak bersua, tak disangka kita akan bersua kembali dalam suasana begini."

sementara itu kawanan jago persilatan yang duduk semeja dengan pemuda berbaju putihpun sudah merasakan akan kehadiran Kim Thi sia yang diliputi kebengisan itu, mereka saling berpandangan sekejap. kemudian tiga orang diantaranya bangkit berdiri dan mendekati pemuda kita sambil menegur: "Sobat, ada urusan apa kau?"

Agaknya orang-orang itupun tahu bahwa Kim Thi sia bukan manusia sembarangan yang bisa dihadapi dengan begitu saja, apalagi ia berada satu rombongan dengan sipedang perak sekalian. Karena itu meski diluar mereka tak berkata apa-apa, namun secara diam-diam sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Kim Thi sia yang bernyali besar sama sekali tak gentar menghadapi kawanan jago tersebut, dengan angkuh katanya:

"Tanpa urusan aku tak akan datang kemari, terus terang saja, tujuanku kemari adalah untuk meminta orang"

"Meminta orang?" seorang lelaki bercodet yang berdiri disisi paling kiri segera menjengek. "Siapa yang kau minta? Tentunya sobat tak akan mengatakan batok kepalaku yang diminta bukan?"

Melihat sikap menjengek dari orang tersebut, Kim Thi sia menjadi sangat mendongkol, segera sahutnya dingini

"Bila kalian tidak menyerahkan orang yang kuminta, kemungkinan besar harus meminta batok kepalamu lebih dulu."

seraya berkata dia segera bertolak pinggang dan mengawasi lawannya dengan sikap menentang.

Lelaki itu sebetulnya berasal dari golongan perampok, dia sudah terbiasa melakukan segala kejahatan, maka sambil menarik wajahnya dia berseru dengan buas:

"Manusia keparat, bila kau memang pingin mampus, jangan salahkan bila aku bertindak kejam."

Lalu sambil menjengek sinis bentaknya keras-keras: "Bocah keparat, lihat serangan-"

sebuah telapak tangan yang besar dan dahsyat langsung menyambar kedepan dengan sangat hebatnya. Kim Thi sia membentak nyaring lalu melancarkan sebuah bacokan pula kedepan. "Blaaaammmmmm.

Ditengah benturan keras, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih.

Merasa bertemu dengan tandingannya, lelaki utu semakin berang kembali teriaknya: "Maknya, aku tak percaya sibabi hutan sakti tak mampu mengungguli dirimu. "

Kembali sebuah pukulan dahsyat dilontarkan dengan tangan kanannya.

Kim Thi sia memang paling ahli dalam sistim pertarungan semacam ini, melihat gerak serangan yang digunakan lelaki itu amat sesuai dengan keinginan hatinya, ia menjadi kegirangan setengah mati.

sambil memperkokoh kuda-kudanya dia pun tidak menghindarkan diri, sebaliknya sambil maju setengah langkah dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan-

Dalam waktu singkat tangan lelaki tersebut sudah menyambar pinggangnya serta memeluk dengan kencang, pikirnya dengan geram:

"Bocah keparat yang tak tahu diri, dengan jurus "babi hutan mencabut pohon" ku ini, akan kuhancur lumatkan tubuhmu menjadi perkedel."

Dia ingin mendemonstrasikan kebolehannya didepan rekan-rekan lainnya maka begitu tangannya berhasil merangkul pinggang lawan- dia segera membetotnya kencang-kencang dengan maksud mematahkan pinggang musuh kemudian telapak tangan yang lain diayunkan untuk menghajar ubun-ubunnya.

sayang seribu kali sayang perhitungannya meleset sama sekali, sejak terjun kedunia persilatan Kim Thi sia memang tersohor karena pertarungan kerasnya, bila dibandingkan dengan si babi hutan sakti ini, entah tenaganya berpa kali lebih hebat.

sekarang dia memang sengaja tak menghindar dan membiarkan lawannya merangkul pinggangnya, tapi begitu musuh mulai membetot pinggangnya, tiba-tiba saja dia meronta serta meloloskan diri dari cengkeraman lawan, disusuk kemudian bentaknya keras-keras: "Telur busuk. kau anggap Kim toaya bisa dipermainkan semau hati sendirinya. ?"

Telapak tangannya segera diayunkan dan menghajar kebawah.

sibabi hutan sakti merupakan seorang manusia kasar yang tak pernah memakai otaknya, selama ini dia kelewat percaya dengan keampuhan jurus "babi hutan mencabut pohon"nya dimana ia sudah berulang kali meremukkan tulang pinggang musuh.

Tapi sayang kali ini dia salah perhitungan, menanti tenaga pukulan musuh terasa sudah mengancam punggungnya, untuk menghindarkan diri jelas sudah tak sempat lagi.

Kim Thi sia yang mempamerkan kekuatannya hingga mengagetkan lawannya segera menambahi kekuatannya dengan dua bagian-"Kraaaaakkkk. "

Begitu tenaga pukulannya menghantam dipunggung sibabi hutan sakti, orang segera menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati. Tulang punggungnya seketika hancur berapa bagian dan pingsanlah orang itu.

Bagaikan bukit karang yang ambruk, tubuh sibabi hutan sakti yang tinggi besar roboh terjengkang keatas tanah, kontan saja peristiwa itu menggemparkan semua jago.

Padahal semua orang tahu bahwa sibabi hutan sakti memiliki tenaga yang luar biasa dengan daya tahan yang mengagumkan, siapa tahu hari ini dia telah dibuat keok oleh seorang pemuda tak dikenal, tentu saja mereka tak mengira kalau pemuda tak dikenal itu sesungguhnya adalah Kim Thi sia yang termashur karena paling susah dihadapi.

Ketika berhasil merobohkan musuhnya, Kim Thi sia segera memberi tanda kepada Nyoo soat hong agar jangan bertindak gegabah, kemudian teriaknya dengan lantang: " Kalian semua harus tahu, aku datang kemari untuk minta orang karena orang itu mempunyai hubungan denganku, kalian harus membebaskannya. Kalau tidak. hmmm, sibabi hutan ini

merupakan contoh yang paling jelas."

Kelima kakek cebol yang duduk disekitar situpun tidak bergerak dari posisi semula, lama sekali mereka awasi pemuda tersebut lekat-lekat, kemudian salah seorang yang berada dipaling ujung sebelah timur bertanya dengan lantang:

"Aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya persoalan ini atas prakara dirimu sendiri ataukah atas suruhan dari sipedang perak."

"Aku sudah lama kenal dengan orang itu, tentu saja atas prakarsa diriku sendiri" jawab Kim Thi sia cepat.

Mendengar jawaban  itu,  sikakek  segera  tertawa  dingin. "Heeeeh......heeeeeh.......heeeeeh aku tahu, kau satu komplotan dengan sipedang perak.

aku lihat lebih baik akui saja bahwa niat meminta orang tadi merupakan prakarsa dirinya, bukankah kalian hendak menggunakan alasan ini untuk mencari gara-gara dengan kami?"

"Ngaco belo" teriak Kim Thi sia makin gusar. "Persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan sipedang perak. hey tua bangka, kau tak usah banyak berbicara lagi, katakan saja kau bersedia membebaskan orang itu atau tidak?"

Kembali kakek itu tertawa dingin-

"Baik, anggap saja aku memang ngaco belo "

Kemudian sambil berpaling kearah sipedang perak sekalian, teriaknya lagi dengan lantang: "Hey pedang perak, katakan saja, bukankah hal ini atas prakarsamu yang ingin mengajukan

pertarungan? sebenarnya apa maksud tujuanmu yang sebenarnya?"

Ketika Kim Thi sia berpaling dia menyaksikan sipedang perak sekalian telah balik kembali kesana dan mengikuti jalannya peristiwa dengan tenang. Tiba-tiba saja pemuda itu merasa menyesal, pikirnya:

"Aaaai, jelas akulah yang membuat gara-gara dalam peristiwa ini, aku telah mendatangkan kerepotan baginya."

Tapi teringat akan makian kakek cebol itu, amarahnya seketiak meluap. tiba-tiba dia mendesak maju kedepan, lalu dnegan menggunakan jurus "kecerdikan menyelimuti jagad" dari ilmu Tay goan sinkang, ia lancarkan sebuah serangan yang dahsyat kedepan-

Berubah hebat paras muka kakek itu sambil membentak keras dia melompat bangun dari tempat duduknya, lalu dari tengah udara dia membentangkan telapak tangannya langsung menghajar keatas ubun-ubun pemuda tersebut.

Begitu ia mulai bertindak keempat orang kakek ceking lainnya pun turut bangkit dari tempat duduknya dan berhubungan keluar rumah makan-

Agaknya sipedang perak pun sadar bahwa situasi memaksa mereka untuk melangsungkan pertarungan, ia segera memberi tanda kepada sipedang besi dan pedang tembaga lalu masing- masing mengancam posisi yang berbeda untuk mengamati gerak gerik musuh.

sementara itu Kim Thi sia telah terlibat dalam pertarungan sengit melawan orang ketiga dari kakek panca bisa.

Kepandaian silat yang dimiliki kakek ceking tersebut benar-benar sangat hebat, tenaga pukulan hawa panasnya yang menderu- deru mengurung Kim Thi sia ditengah arena.

Namun Kim Thi sia pun tidak lemah, sambil mengerahkan ilmu Tay goan sinkangnya dia lancarkan serangan berulang kali untuk menjebolkan pertahanan musuh yang berusaha mengurungnya itu. Dalam waktu singkat mereka sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru. Ketiga Nyoo soat hong mengayunkan pedangnya ikut menyerbu kedepan, ia segera dihadang oleh seorang pelajar berambut panjang, dengan cepat mereka berduapun terlibat dalam pertarungan sengit.

Dalam pada itu sipedang perak telah berkata kepada putri Kim huan-

"Nona, aku tahu kau tak mengerti ilmu silat, akupun takut kau akan terluka dalam pertarungan masal nanti, karenanya kuminta nona suka mempertimbangkan bagaimana kalau berada disisiku saja, sebab dengan berbuat begitu maka kemungkinan terluka akan menjadi kecil. apakah

nona bersedia menerima tawaranku ini?"

Putri Kim huan memutar biji matanya sebentar, dengan cepat dia memahami maksud hati sipedang perak. maka dengan langkah lebar dia berjalan kesisi pemuda tersebut.

sambil tersenyum sipedang perak segera berkata kepada pedang tembaga serta pedang besi, "sam sute, coba kau hadapi lotoa dan loji dari kakek panca bisa, sedang losu dan longo

dihadapi su sute, yang lainnya serahkan saja kepadaku untuk dibereskan, entah bagaimana pendapat sute berdua?"

sipedang tembaga melirik sekejap kearah putri Kim huan, lalu sahutnya dengan suara dalam: "Aku turur perintah"

Kemudian bersama sipedang besi so Bun pin, mereka mendekati musuh-musuhnya dan segera terlibat dalam pertarungan seru.

Menanti kedua orang adik seperguruannya telah pergi, sipedang perak baru berpaling kearah putri Kim huan sambil bertanya:

"Nona, benarkan kau menaruh minat yang besar terhadap ilmu silat?"

"Yaa, sejak dua tiga hari berselang, aku mulai tertarik dengan kepandaian silat" sahut putri Kim huan sambil tersenyum. "Dulu aku sudah mengabaikan kebaikannya, tapi sekarang, setelah berada diluaran seorang diri Aku baru sadar bahwa ilmu silat merupakan bekal yang sangat penting." sambil tertawa pedang perak segera berseru:

"Aaaah, rupanya nona bisa tertarik pada ilmu silat karena sudah memahami arti penting dari kepandaian tersebut "

Mendadak terdengar suara bentakan keras dari Kim Thi sia memotong pembicaraan mereka berdua, tampak pemuda itu dengan rambut kusut sedang mendekati kakek bermuka hitam dihadapannya selangkah demi selangkah.

Mendadak oemuda itu melancarkan serangan dengan jurus "mengebas baju membersihkan debu" ditangan kirinya dan jurus " angin menyambar merobohkan pohon- ditangan kanannya memaksa kakek bermuka hitam itu mundur sampai sejauh satu kaki lebih terlihat jelas pukulan yang dilancarkan kakek bermuka hitam itu nyata tak mampu membendung gerak majunya.

melihat akan kejadian ini, sambil menghela napas panjang sipedang perak berkata:

"Ilmu pukulan yang dimiliki Kim sute benar-benar sangat hebat dan mengagumkan sekali." Mendadak putri Kim huan mendongakkan kepalanya, lalu bertanya:

"Bukankah kau adalah abang seperguruannya? sepantasnya kaupun menguasahi ilmu pukulan tersebut, masa kau tidak bisa?"

sipedang perak nampak tertegun sejenak lalu dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu dia mengawasi Kim Thi sia sekejap, seakan-akan ada sesuatu perkataan yang hendak diutarakan, namun akhirnya niat tersebut diurungkan-

"Apakah aku telah salah berbicara??" tanya putri Kim huan kemudian. sambil menggelengkan kepalanya sipedang perak menghela napas panjang, katanya: "Nona, jangan salah paham, aku sedang berpikir apa sebabnya adik seperguruanku ini bisa menguasahi ilmu pukulan yang begitu aneh dan sakti." Putri Kim huan segera tertawa.

"Padahal masalahnya sangat gampang sekali, bisa jadi suhumu hanya mewariskan ilmu tersebut kepadanya dan tidak diajarkan kepadamu. "

Mendadak ia merasakan perubahan aneh pada wajahnya, tanpa terada gadis ini berhenti berbicara dan mengawasinya dengan termangu, pikirnya lebih lanjut:

"sungguh aneh orang ini, lagaknya seakan-akan sudah tiada orang yang dipercayai lagi didunia ini, tak heran kalau suhunya hanya mewariskan ilmu silat simpanan tersebut kepada Kim Thi sia seorang."

Padahal waktu itu sipedang perak sedang mengenang kembali suatu peristiwa yang tak pernah terlupakan olehnya...

Dia merasa dihadapannya seakan-akan terdapat segumpal darah segar, diatas genangan darah terkapar tiga sosok mayat perempuan mereka semua adalah anak keluarga Malaikat pedang berbaju perlente.

Tak lama kemudian gurunya pulang, mereka kakak adik seperguruan yang berjumlah sembilan orangpun bersembunyi dibalik kegelapan lalu disaat gurunya tak siap. sembilan bilah pedang mestika pun menyerang secara serentak ketubuhnya, kemudian toa suheng dan dia mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki melancarkan bacokan dahsyat kemuka.....

Gurunya tak mampu menahan diri dan segera roboh terkapar diatas tanah, maka merekapun bersepakat untuk memotong lidahnya, mencukil matanya, memotong rambut, tulang, telinga, otot nadi, lengan dan kakinya.