Lembah Nirmala Jilid 22

 Jilid 22

orang itu membalik pergelangan tangannya sambil melancarkan cengkeraman maut lagi kebawah, begitu mendadak datangnya serangan tadi membuat Kim Thia sia amat terkesiap dan buru-buru membuyarkan serangannya sambil mundur dengan tertegun-

Tapi sayang gerakan itu teria mbat, tahu-tahu saja lengannya sudah kena dicengkeram musuh hingga sama sekali tak berkutik. Terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak seraya berseru: "Haaaah.......haaaaah.......haaaaah. Ngo te, Lakte, bekuk bangsat ini"

Dua orang jago pedang berbaju ringkas yang berada dibelakang orang itu serentak mengiakan, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun mencengkeram tubuh Kim Thia sia. Putri Kim huan yang melihat kejadian ini segera berteriak keras. Dua orang itu tertegun dan serentak menghentikan langkahnya.

Sambil menuding kearah manusia bertubuh jangkung yang berada dihadapannya, putri Kim huan berseru:

"Sebenarnya kesalahan apa yang telah kami perbuat? cepat katakan- "

"Siapa suruh bocah keparat ini enggan diperiksa sebaliknya malah melukai anak buah kami?

Hmmm, kesalahannya sudah setinggi bukit dan tak terampuni lagi."

"Atas dasar apa kalian hendak memeriksa kami? Memangnya kalian adalah opas atau petugas pengadilan?"

orang itu mendengus dingin.

"Hmmm, pertanyaan nona kelewat tak tahu sopan, kami hanya tahu berprinsip "siapa melawan dia harus mati" dan tak mengerti apa dasarnya."

orang ini berbicara dengan tegas dan keras jelas sudah merupakan pemimpin dari rombongan tersebut.

Dengan perasaan tak senang hati putri Kim huan segera berkata:

"Hmmm, mengandalkan jumlah yang banyak untuk mempermainkan orang baik, kami tak akan tunduk kepada kalian."

Mendengar itu, orang tersebut segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaah.....haaaaah.....haaaaah. nona tak usah banyak bicara, kami tak mempersoalkan

mengandalkan jumlah yang banyak atau tidak. yang penting tujuan kami dapat tercapai." Mendadak Kim Thia sia menyela:

"Hey, buat apa kau mengajak kawanan manusia yang tak tahu aturan itu berbicara?" sambil menempelkan bibirnya disisi telinganya, putri Kim huan berbisik,

"Aku bermaksud menyuruh mereka menangkap aku seorang dan membebaskan dirimu, entah usahaku ini akan berhasil atau tidak?"

Ucapan tersebut seketika mengharukan perasaan Kim Thia sia, setelah tertegun berapa saat dia baru bertanya: "Mengapa kau harus berbuat demikian?"

"Aku tahu aku merupakan beban bagimu membuatmu menderita dan sengsara, coba kalau tak ada aku, mungkin kau sudah kabur amat jauh dari sini. Maka setelah kau tertangkap hatiku menjadi amat gelisah dan tak tenang, itulah sebabnya aku ingin- "

"Tak usah kuatir, aku tak pernah berpendapat demikian, apalagi kawanan cecunguk itu adalah kawanan manusia yang tak tahu diri, aku Kim Thia sia bukan manusia lemah, aku tak sudi menerima perintahnya dengan begitu saja."

Kemudian sambil membusungkan dada, dia berteriak kepada sijago pedang berbaju hitam itu. "Hey kawanan cecunguk. bila kalian hendak turun tangan silahkan turun tangan sekarang juga.

Aku perlu mengucapkan sepatah kata yang tak sedap didengar. Hari ini aku terjatuh ketangan kalian maka kubiarkan kalian berbuat apa saja terhadap diriku, tapi selewatnya satu masa, andaikata kalian yang terjatuh ketanganku, maka jangan harap akan menerima kebaikan dariku."

"Bagus, bagus sekali, perkataanmu memang tepat sekali. Tapi sayang bila aku tak ganas, percuma diriku berkelana dalam dunia persilatan, karenanya apa yang menjadi harapanmu mungkin baru akan terwujud dua puluh tahun kemudian, disaat kau telah menitis kembali sebagai manusia."

Mendadak Kim Thia sia meronta keras hingga terlepas dari cengkeraman musuh, kemudian sambil membalikkan badan, tangan kirinya melepaskan sebuah serangan dengan jurus "kecerdikan mencapai langit" dari ilmu Tay goan sinkang, yang menjadi angin pukulan yang menderu langsung menyambar kedepan menghantam tubuh dua orang musuhnya.

Bersamaan waktunya, secara tiba-tiba dia melancarkan kembali serangan kedua dengan jurus "kelincahan menyelimuti empat samudra."

Dalam waktu singkat dua orang manusia berbaju hitam itu menjadi kabur pandangan matanya dan buru-buru membuyarkan serangan sambil mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

"Hiante, kenapa kau?" manusia berbaju hitam itu segera menegur. Dengan wajah tertegun sahut dua orang jago pedang berbaju ringkas itu.

"Entah gerakkan tubuh apa yang dipergunakan bocah keparat ini, tahu-tahu saja bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan."

"Hiante, apa kau bilang? Bukankah dia masih tetap berdiri diposisinya semula?" seru manusia berbaju hitam itu makin tertegun.

"Aneh benar" dua orang itu menggelengkan kepalanya. "Mengapa kami berdua tidak melihatnya?"

Kim Thia sia yang mengikuti tanya jawab itupun merasa bingung tertegun, tapi setelah dipikir sebentar tiba-tiba saja satu ingatan melintas dalam benaknya, diam-diam ia berseru:

"Aaaaah, mungkinkah hal ini berkat keampuhan dari Tay goan sinkang ajaran guruku? Yaa, mungkin juga kepandaianku sudah mencapai tingkat kesempurnaan?" Pikir punya pikir, hatinya terasa makin girang sehingga wajahnyapun berseri-seri. Melihat gadis itu berseri mukanya, putri Kim huan segera bertanya dengan keheranan: "Hey, apa yang membuatmu gembira?"

"sekarang akupunya keyakinan untuk mengalahkan mereka" bisik sang pemuda lirih. "sungguh?" seru putri Kim huan sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.

Melihat keyakinan sang pemuda dan keseriusannya, gadis itu menjadi amat gembira hingga tanpa terasa dia menggenggam tangannya kencang-kencang.

sementara itu terdengar manusia berbaju hitam tadi sedang bergumam dengan suara dalam: "Masa ada kejadian begini aneh didunia ini? Baiklah biar kucoba sendiri. "

seraya berkata, dia segera mendesak maju kedepan dan mengendap-ngendap seperti seekor kucing lalu secepat sambaran petir melancarkan terkaman kedepan.

Kim Thia sia tahu, musuhnya memiliki ilmu silat yang sangat lihay, dia tak berani gegabah, sambil menghimpun tenaga dalamnya, dengan cepat dia melepaskan dua serangan kilat dengan jurus "mati hidup menjadi pertanyaan" serta "kejujuran bagaikan batu emas". 

Dua gulung bayangan pukulan segera menyebar bagaikan sebuah jaring yang ketat dan menutup rapat seluruh pukulan dari musuh. seperti apa yang dialami dua orang rekannya tadi, manusia berbaju hitam itupun merasakan pandangannya silau dan kehilangan jejak lawannya, dalam keadaan begini cepat-cepat dia membuyarkan setengah langkah kebelakang.

Ketika dia mencoba memperhatikan lagi dengan seksama, ternyata Kim Thia sia masih tetap berdiri diposisi semula, hal ini kontan saja membuat perasaannya sangat bergetar.

Dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi Kim Thia sia tanpa berkedip. lalu jari tangannya disentilkan kembali kedepan. "criiiingggggg. "

Ditengah dentingan nyaring, telapak tangan yang lain diayunkan juga kemuka sekuat tenaga, sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata diiringi desingan suara aneh langsung menyergap jalan darah penting didada pemuda tersebut.

Kim Thia sia mundur selangkah, ditengah pekikkan nyaring kembali dia melancarkan serangan dengan jurus "kepercayaan menguasai jagad" serta " kekerasan mencekam bumi".

Belum sempat dari tangan manusia berbaju hitam itu mencapai pada sasarannya, tahu-tahu ancaman tersebut sudah meleset dan tergelincir kearah samping.

Dengan begitu, jurus serangan " kekerasan mencekam bumi" yang dilancarkan Kim Thia sia langsung saja menghajar diatas lengannya secara telak.

Rupanya kejadian ini membuat manusia berbaju hitam itu merasa amat ngilu, wajahnya berubah menjadi merah padam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia langsung melancarkan sergapan ketubuh putri Kim huan.

Waktu itu putri Kim huan berdiri bersanding dengan Kim Thia sia, mimpipun dia tak menyangka kalau manusia berbaju hitam itu dari malu menjadi gusar hingga tanpa memperdulikan kedudukannya lagi langsung menyergap dirinya secara keji.

Akibat dari serangan tersebut, Kim Thia sia menjadi gelagapan setengah mati, melihat putri Kim huan segera akan terluka ditangan lawan, dalam gugupnya terpaksa ia mendorong gadis itu keras- keras hingga jatuh terguling diatas tanah.

Dengan begitu maka serangan dari manusia berbaju hitampun mengenai sasaran yang kosong.

Bukan hanya begitu, akibat terjangannya yang tak mencapai sasaran, pertahanan tubuh bagian depannya terbuka sama sekali.

Kim Thia sia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini dengan begitu saja, dengan jurus "kekerasan mencekam bumi" dia melontarkan sepasang kepalanya kepada lawan.

"Duuuuuukkkkkkkk. "

Manusia berbaju hitam itu menjerit kesakitan dan mundur tiga langkah kcbelakang, hawa darahnya terasa bergolak keras dan susah sekali dikendalikan kembali.

sementara itu Kim Thia sia telah membangunkan putri Kim huan dari atas buru-buru tanyanya: "Apakah kau terluka?"

Putri Kim huan menghembuskan napas panjang sahutnya lirih: "Yaa, lenganku terasa agak sakit."

Dengan cepat Kim Thia sia menengok. benar juga lengannya terasa robek satu jalur panjang, darah nampak meleleh keluar membasahi tubuhnya.

Cepat-cepat dia merobek baju sendiri dan membalut luka tadi dengan amat berhati-hati, kemudian tanyanya lagi: "Masih terasa sakit?" Putri Kim huan menggeleng.

"Terima kasih atas bantuanmu, sekarang sudah terasa agak baik. "

Dalam pada itu, manusia berbaju hitam tadi sedang duduk bersila sambil berusaha mengatur pernapasan, serangan Kim Thia sia yang tepat menghajar jalan darah Ho hek hiatnya membuat ia menderita luka dalam yang cukup parah, dengan luka seperti ini, mustahil baginya untuk memulihkan kembali kekuatannya didalam waktu singkat.

sebaliknya kawanan jago pedangnya lainnya telah dibuat tertegun oleh kelihayan ilmu silat Kim Thia sia. Untuk sesaat mereka hanya bisa saling berpandangan tanpa berbicara, tak seorangpun berani bertindak secara sembarangan. Kim Thia sia berkata demikian-

"siapa suruh kau mencari gara-gara untuk diri sendiri Hmmmm Jangan salahkan kalau aku tak mengenal kasihan. "

Dengan perasaan benci manusia berbaju hitam itu membuka matanya dan melotot sekejap kearah lawan, tapi hanya sebentar dengan cepat dia pejamkan matanya kembali.

Walaupun hanya sekejap saja, namun semua orang dapat melihat bahwa sorot matanya jauh lebih lemah ketimbang semula. Mendadak.......

satu diantara tujuh orang musuh yang tersisa memberanikan diri maju kedepan sambil membentak:

"Bocah keparat, sambutlah seranganku ini"

Menyusul bentakkan tersebut, sebuah pukulan yang amat dahsyat dilontarkan kedepan-

Kim Thia sia tidak berpeluk tangan saja, dia menggetarkan pula telapak tangannya dengan jurus " kelembutan mengatasi air dan api", sementara sepasang kakinya tidak diam diri, dengan mengerluarkan ilmu san tong tui dia lepaskan juga sapuan ketubuh bagian bawah lawan-

Ketika serangan orang tadi bersarang diatas bahu Kim Thia sia, orang itupun terhajar oleh sebuah tendangan hingga mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Kim Thia sia merasakan bahunya panas sakit dan sangat linu, tapi ia sudah terbiasa menderita kesakitan semacam ini maka setelah mendengus tertahan, rasa sakitpun segera teratasi.

Dala mperkiraan kawanan jago lainnya, Kim Thia sia yang terkena serangan itu pasti akan tewas atau paling tidak terluka parah, siapa tahu pemuda itu masih tetap tegap tanpa bergerak. bahkan tanda-tanda terlukapun tak ada, mereka mulai kaget dan berpikir "jangan-jangan kepandaian pemuda ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa?"

Makin pikir mereka makin ngeri, untuk sesaat lamanya suasana menjadi hening dan tak seorangpun berani bergerak.

selang berapa saat kemudian, putri Kim huan tak dapat menahan sabar lagi, diam-diam bisiknya:

"Ayoh kita pergi saja"

Kim Thia sia menganggap anjuran itu memang benar, kalau tidak angkat kaki pada saat ini, mereka harus menunggu sampau kapan lagi? Dengan suara rendah ia segera menjawab: "Tak usah terburu-buru, biar kutakut-takuti mereka lebih dulu."

Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia berkata dengan lantang: "Terus terang kukatakan, kalian bukan tandinganku, tapi sebagai orang persilatan dari

golongan lurus, akupun tak ingin membunuh orang secara sembarangan- Meski demikian, bila kalian masih tak puas, akan kusediakan sedikit waktu untuk bermain-main dengan kalian, cuma perlu kuperingatkan dulu pedang dan golok tak bermata, bila sampai tewas jangan salahkan diriku. sehingga setelah kejadian nanti, kalian akan menuduh aku manusia she Kim berhati kejam."

orang-orang itu segera menunjukkan sikap mendongkol dan marah, namun tak seorangpun diantara mereka yang berani bergerak.

sebagai seorang gadis yang cerdik, dengan cepat putri Kim huan mengetahui apa yang terjadi tujuan pemuda tersebut, sambil tertawa dia segera turut menimbrung: " Kalian tahu, engkoh ku adalah murid dari manusia kenamaan dikolong langit, ia mulai belajar silat sejak berumur enam tahun hingga kini sudah dua puluhan tahun coba bayangkan sendiri apakah kalian mampu menandingi kemampuannya?"

Ketika menyebut " engkoh ku" tanpa terasa gadis tersebut mengerling sekejap kearah Kim Thia sia.

Pemuda tersebut segera manggut-manggut, wajahnya nampak berseri dan perasaannya merasa hangat.

sesaat kemudian ia berkata kembali:

"sekarang aku hendak pergi, tolong kalian sampaikan kepada pemimpin kamu semua, katakan bahwa perselisihan kita cepat atau lambat pasti akan diselesaikan, kalianpun tak usah mengirim orang banyak untuk memusuhi diriku ketahuilah pedangku tak bermata, kalau sampai banyak korban yang berjatuhan, sayang bukan?"

Rupanya pemuda inipun telah melihat bahwa kawanan manusia tersebut tergabung dalam suatu organisasi, maka dia menirukan logat si unta mengucapkan perkataan tersebut. Kawanan jago itupun segera berpikir setelah mendengar ucapan mana:

"Rupanya orang ini adalah musuh pemimpin kami, tak heran ilmu silatnya begitu hebat, tampaknya hanya pemimpin sendiri yang dapat meringkus dirinya. "

ketika Kim Thia sia mengetahui bahwa gertak sambalnya berhasil, dia segera menggandeng tangan putri Kim huan dan diajak berlalu dari situ. Ternyata tak seorangpun yang turun tangan menghalangi perjalanannya........

setelah jauh meninggalkan orang-orang itu, putri Kim huan dengan perasaan ngeri dan peluh dingin membasahi tubuhnya segera bisiknya:

"Hey, apakah kalian sebagai orang persilatan akan sering kali menjumpai ancaman bahaya maut seperti ini?"

"Betul, itulah sebabnya kuanjurkan kepadamu agar jangan belajar ilmu silat."

"asal kubelajar silat dan hidup damai dengan siapapun, siapakah yang akan datang mencari gara-gara denganku?"

"oooh, jadi kau menganggap aku kurang ramah, kurang suka berdamai sehingga sering kali mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri?"

"Aku toh tidak menuduhmu? Kenapa kau mesti membayangkan yang bukan-bukan- ?"

"Tapi aku tahu, maksud perkataanmu tadi tak akan sederhana itu, bukan demikian?" "Ngaco belo, atas dasar apa kau menuduh begitu?"

"Atas dasar perkataanmu."

"Heran, mengapa sih kau suka ribut denganku?" "siapa suruh kau senang menyindir orang?"

Tak lama kemudian mereka telah kembali kerumah penginapan dengan terjadinya peristiwa tadipun hubungan kedua orang tersebut makin dekat dan rapat.

Begitu masuk kedalam kamar, putri Kim huan merasa lelah sekali, dia menguap pelan dan serunya:

"Hey, tolong kau berjaga-jaga, aku ingin tidur sebentar." Kemudian seperti teringat akan sesuatu, kembali katanya:

"Apakah kau tak merasa tersiksa dengan saban hari tidur diluar pintu?"

"Mengapa tidak menyewa sebuah kamar lagi dikamar sebelahku? Bukankah tidurmu akan terasa lebih nyaman?" sambil merapatkan pintu kamar dan berjongkok diluar pintu, sahut Kim Thia sia: "Tak usah menyewa kamar lagi, aku sudah terbiasa tidur dilantai."

"sudah terbiasa. ?" putri Kim huan tak percaya ada orang didunia ini yang tak sayang

dengan kesehatan sendiri "Hey, apakah kau miskin sehingga tidak mampu membeli rumah dan cuma bisa tidur dilantai?"

"sudah, tidurlah, tak usah banyak bertanya lagi" tukas sang pemuda cepat. "Mengapa kau begitu miskin?" kembali sinona bertanya.

"Nona, kau tak usah bertanya lagi, pokoknya aku sudah terbiasa tidur dihutan dan lantai, cepatlah tidur. "

"ooooh, kau benar-benar kasihan padahal digunung banyak ular berbisanya, apakah kau

tidak takut. ?"

Teringat soal ular berbisa, putri Kim huan teringat kembali dengan pengalamannya dalam hutan tadi, segera serunya lagi:

"Eeei, aku belum berterima kasih kepadamu, kau telah selamatkan jiwaku. sebagai balas jasanya aku wajib membelikan sebuah rumah untukmu."

Waktu itu Kim Thia sia sudah merasa lelah sekali, tak sampai perkataan putri Kim huan selesai diucapkan ia sudah tertidur nyenyak.

selang sesaat kemudian, tiba-tiba gadis itu merasa tak tega, dia mengambil selimut dan keluar dari kamar, melihat Kim Thia sia tertidur didepan pintu, dia menghela napas dan menyelimuti tubuhnya. Entah berapa saat sudah lewat.

Dalam tidurnya mendadak Kim Thia sia mendengar suara orang ribut didalam kamar putri Kim huan, ia segera terjaga dan memasang telinga untuk mendengarkan dengan seksama. Terdengar suara seorang lelaki sedang berkata dengan nada rendah tapi bertenaga.

"sudah lama aku mencarimu, selama ini aku merasa makan tak enak. tidurpun tak nyenyak. setiap kali pejamkan mata aku selalu teringat akan dirimu, apakah kau begitu keji dan tak berperasaan?"

"Tiada persoalan yang baik dibicarakan antara kita berdua. " suara putri Kim huan

bergema dengan nada tak senang hati. "Kalau kau menderita, hal ini sebagai akibat mencari penyakit buat diri sendiri, toh aku tak mempunyai perasaan begitu. "

Kim Thia sia terperanjat sekali, diam-diam pikirnya:

"siapa gerangan lelaki tersebut? mengapa dia mengganggu gadis tersebut? Tampaknya kedua orang itu sudah pernah mengenal. tapi, bukankah nona itu bangsa asing? Masa dia punya

kenalan disini. ?"

Dicekam pelbagai kecurigaan, pemuda kita tidak langsung menyerbu kedalam kamar tapi menyadap pembicaraan tersebut secara diam-diam. Terdengar lelaki tadi berkata lagi:

"Nona, aku adalah seorang lelaki yang berperasaan lembut, sekali aku jatuh cinta kepadamu maka aku sendiripun gagal untuk menguasahi sendiri. Nona, bagaimanapun juga kau tak boleh bersikap dingin dan hambar kepadaku "

" Cukup, kau tak usah mengutarakan ucapan-ucapan yang memuakkan laga, terus terang saja aku bilang, aku sudah tak berminat lagi untuk berhubungan denganmu"

Jawaban putri Kim huan kedengaran sangat dingin dan kaku, nada pembicaraannya pun tak sabar.

Kim Thia sia segera berpikir lagi: "Aneh, sejak kapan orang itu masuk kedalam kamar? Padahal didepan pintu, bila dia lewat sini, aku pasti akan terjaga dari tidurku? Ehmm. tahu aku sekarang, dia pasti masuk lewat

jendela."

Iapun merasa nada pembicaraan pria tersebut amat dikenal, seakan-akan pernah terdengar disuatu tempat, hanya saja dia tidak bisa mengingatnya kembali.

"Nona" terdengar pria itu merengek lagi. "Untuk menemukan jejakmu, aku telah menelusuri setiap ujung dunia coba kalau bukan gara-gara urusan genting hingga kebetulan aku masuk kekota ini dan mendengar banyak orang membicarakan tentang dirimu mungkin seumur hidup aku tak dapat menemukan dirimu kembali."

"Nona, aku mencintaimu dengan tulus hati mengapa kau justru bersikap dingin dan hambar kepadaku? tahukah kau, betapa sakit hatiku. "

suasana menjadi hening sesaat, agaknya putri Kim huan tak mampu menjawab perkataan tersebut.

"sekembalinya kerumah aku telah menceritakan tentang dirimu kepada kedua orang tuaku. setelah mendengar penuturanku ini dia orang tuapun berharap bisa bertemu denganmu. Nona, kau harus turut aku pulang kerumahku. "

Kembali Kim Thia sia mendengus dingin, pikirnya dengan sinis:

" Lelaki ini benar-benar tak becus, perbuatan hanya akan memalukan setiap orang lelaki.

HMmm kalau berjumpa nanti, aku harus mennyindirnya habis-habisan-" Kemudian dia berpikir lagi:

"Aku tak percaya kalau seorang gadis cantik memiliki kedudukan yang begitu penting dalam kehidupan seorang pria, kecuali orang itu gemar main perempuan- Hmmm coba kalau aku, tak nanti aku mampu mengucapkan kata-kata seperti ini." sementara dia masih berpikir, pria tadi telah berkata lagi:

"Terus terang kubilang, aku telah berhasil mendapat kabar tentang jejak pedang leng gwat kiam tersebut, asal kau bersedia mengucapkan sepatah kata saja kepadaku, pedang tersebut pasti akan kupersembahkan kepadamu. "

"Dimanakah benda itu sekarang?" tanya putri Kim huan cepat, agaknya dia menaruh perhatian besar.

Kim Thia sia segera merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya pula:

"Entah siapakah orang ini? Darimana dia bisa mengetahui jejak pedang leng gwat kiam? Ehmmm. bila ditinjau dari garis besarnya perhatian putri Kim huan atas benda tersebut,

nampaknya dia masih berkeinginan besar untuk mendapatkan senjataku itu. Ehmmm aku harus

mulai bersiap sedia."

Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menyerbu kedalam serta membongkar kedok orang- orang itu tapi sebelum dilakukan ingatan telah melintas pula dalam benaknya.

"Tidak boleh, aku harus menunggu sampai putri Kim huan memberikan jawabannya, aku tak boleh menggebuk rumput mengejutkan sang ular. Hal ini bisa merugikan diriku sendiri" Terdengar pria tadi berkata lagi dengan suara rendah dan dalam.

"Harap nona sudi memaafkan, rahasia ini tak bisa kukatakan kepadamu. Gara-gara benda tersebut serta sebuah mestika yang lain, kami bakal melangsungkan suatu pertarungan yang sengit karenanya sebelum menang kalah ketahuan, aku tak bisa membocorkan rahasia tersebut kepadamu."

"Hmmm, bicara pulang pergi tak ada gunanya semua" dengus putri Kim huan dengan nada tak senang hati. "Kau toh mengatakan sendiri, asal aku menginginkan benda itu maka kau akan mempersembahkan kepadaku, sekarang mengapa kau katakan juga bahwa rahasia ini tak boleh dibocorkan sebelum menang kalah ditentukan?" "Nona, walaupun menang kalah belum ketahuan, namun aku berani mengatakan bahwa pedang leng gwat kiam serta benda mestika yang satunya lagi sudah menjadi benda dalam saku kami yang setiap saat bisa diambil. Betul musuh memiliki pengaruh yang sangat besar, namun mereka bukan tandingan dari kami bersaudara, sedang akupun sudah mengatakan kepada abang seperguruanku, ternyata abang seperguruanku setuju untuk menyerahkan pedang leng gwat kiam kepadaku, itulah sebabnya aku berani mengatakan bahwa pedang leng gwat kiam pasti akan menjadi milikmu."

"Hmmm, kau tak perlu mengajak aku bergurau, sampai sekarang pedang leng gwat kiam masih berada ditangan orang lain, tapi kau sudah berani bicara takabur. Hmmm aku paling benci mendengar kata-kata kosong itu, lebih baik kau angkat kaki saja."

sementara itu Kim Thia sia merasakan hatinya amat berat sekali, dia tak menyangka pedangnya sudah terjatuh ketangan orang lain- sekalipun ia mampu mengalahkan orang tersebut, belum tentu senjatanya dapat direbut kembali.

Dalam gelisahnya, timbul keinginan untuk mengintip siapa gerangan orang yang membujuk dan merayu putri Kim huan tersebut.

Diam-diam ia membuka pintu kamar dan mengintip kedalam, ternyata orang itu adalah seorang pemuda tampan, dan tak lain adalah abang seperguruannya sendiri, sipedang besi so Bun pin.

Untuk sesaat pemuda kita dibuat tertegun akhirnya sambil menghela napas sedih, pikirnya: "Betulkan abang seperguruan adalah manusia yang tak berguna?"

Ketika ia merapatkan kembali pintu kamar tersebut, ternyata orang didalam kamar tidak mengetahui perbuatannya.

Terdengar sipedang besi soBun pin merendahkan suaranya dan berbisik secara tiba-tiba: "Aku tahu kau sangat benci dengan bajingan itu, mumpung dia masih tertidur nyenyak

sekarang, bagaimana kalau kumanfaatkan ini untuk membunuhnya ?"

"Kau tak usah repot-repot, aku bisa melakukannya sendiri"

"Kau tidak mengerti ilmu silat, bagaimana mungkin kau bisa melakukannya. ?"

"siapa bilang aku tak bisa? Dia pernah mewariskan berapa jurus ilmu silat kepadaku" kata putri Kim huan tak senang hati. "Tempat ini sudah tidak membutuhkan dirimu lagi, kau boleh segera angkat kaki."

Hening untuk berapa saat lamanya, jelas sipedang besi so Bun pin telah dibuat gusar oleh pengusiran tersebut.

"Hey...heeeey. kau hendak berbuat apa?" tiba-tiba terdengar putri Kim huan menjerit kaget.

"Coba bayangkan sendiri, bagaimana sikapmu terhadapku bila dibandingka sikapku terhadap dirimu?"

"Enyah kau dari sini, kalau ebrani berbuat lagi aku akan berteriak keras-keras."

"silahkan berteriak. kecuali bocah cecunguk itu, tak seorangpun akan mencampuri urusanmu dan lagi akupun tak pandang sebelah matapun terhadap bocah keparat itu, percuma kau berteriak sekalipun tenggorokanmu sampai serakpun. "

suara langkah kaki yang kacau dan tamparan nyaring berkumandang dari dalam kamar, lalu terdengar putri Kim huan berseru dengan gemas: "Manusia tak tahu malu, kau berani mempermainkan aku?"

"Siapa suruh kau tak mau turuti kehendakku? Hmmm, jangan salahkan aku bila bermain kasar. " seru sipedang besi so Bun pin sambil tertawa dingin. "Asal kau menyanggupi

permintaanku, maka apa pun yang kau minta akan kupenuhi, kalau tidak Hmmmm, lihat saja

apa jadinya nanti." "Tolong " gadis itu segera menjerit keras.

Jeritan itu mengejutkan Kim Thia sia, juga menggemparkan para tamu lainnya, sebagai pemuda yang pintar, Kim Thia sia segera mengetahui apa yang terjadi, kontan umpatnya: "Bajingan busuk so Bun pin, perbuatanmu sangat memalukan-" Dengan cepat dia mendorong pintu dan melangkah masuk kedalam.

Pemandangan yang segera terlihat didepan mata segera mengobarkan hawa amarah didalam dada pemuda tersebut, ia saksikan sipedang so Bun pin dengan wajah yang bengis sedang memeluk pinggang putri Kim huan dan memaksa untuk mencium wajahnya.

sebaliknya putri Kim huan dengan wajah terkejut bercampur gusar sedang mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga.

Dengan langkah lebar Kim Thia sia menyerbu masuk kedalam kamar, lalu tegurnya sambil mendengus dingin-

"Hey pedang besi, kau sebetulnya manusia atau binatang?"

Begitu sipedang besi melepaskan pelukannya, dengan cepat putri Kim huan lari kedepan seraya berseru:

"Hey, dia jahat. cepat kau usir orang itu dari sini."

Dengan pandangan dingin Kim Thia sia memandang sekejap kearahnya, melihat gadis itu pucat pias karena ketakutan, tiba-tiba saja timbul perasaan girang dihati kecilnya. Dengan nada ketus jawabnya cepat:

"Benar, dia memang jahat, tapi kau sendiripun tidak berbeda jauh dengannya." "Apa kau bilang?" seru putri Kim huan tertegun.

Kim Thia sia sama sekali tak menggubris dirinya lagi, kepada sipedang besi so Bun pin kembali ujarnya:

"Perempuan ini tak punya perasaan Kau tak perlu mencintainya, sedang aku telah menyanggupi untuk melindungi keselamatannya, karena itu tak bisa mengingkar janji. sebagai seorang yang pintar, kuharap kau sudi memandang pada hubungan persaudaraan kita untuk segera angkat kaki dari tempat ini. "

sipedang besi sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap lawannya, ia segera tertawa dingin.

"Kau berulang kali mengaku sebagai adik seperguruanku. Hmmmm Apakah perkaraanmu itu tidak keliru besar? Aku heran, mengapa kau masih bertebal muka mengajak berbicara."

"Mau percaya atau tidak terserah padamu sendiri, yang jelas aku adalah murid terakhir dari simalaikat pedang berbaju perlente. Coba kalau suhu masih hidup, kau pasti akan percaya dengan perkataanku ini. "

"Bocah keparat, kau berani berbicara sembarangan dan mengaku-ngaku sebagai murid malaikat pedang berbaju perlente. Hmmm manusia macam kau wajib diberi pelajaran."

Begitu selesai bicara tiba-tiba sipedang besi so Bun pin bergerak maju kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Angin pukulan yang menderu- deru dengan hebatnya seketika memaksa Kim Thia sia mundur selangkah kebelakang.

"Pedang besi, kau kelewat memojokkan posisimu. Hmmmm, jangan salahkan kalau aku akan berlaku kasar kepadamu " seru Kim Thia sia mulai sewot dibuatnya.

Mendadak ia melancarkan sebuah sapuan sementara telapak tangan kirinya melontarkan sebuah pukulan yang tak kalah dahsyatnya. Dalam waktu singkat dua gulung tenaga cukulan saling beradu satu sama lainnya. Kim Thia sia segera merasakan datangnya tenada dorongan yang kuat membuat badannya gontai dan mundur selangkah.

Cepat-cepat putri Kim huan memburu kedepan serta memayang tubuhnya, sewaktu Kim Thia sia berpaling, hampir saja kepalanya saling beradu dengan wajah gadis itu.

Kontan paras muka gadis itu berubah menjadi merah padam, namun ia tersenyum manis sebaliknya pemuda kita jadi tertegun.

Hanya sebentar saja, Kim Thia sia telah mendorong tubuh gadis itu sambil berseru dingin: "Hmmm, siapa yang suruh kau mencampuri urusanku "

Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali dia menambahkan:

"Kau tak usah berlagak lagi, aku tahu sikap baikmu selama ini hanya sikap berpura-pura saja." Mendadak terdengar sipedang besi membentak keras: " Keparat, lihat serangan"

sambil menyerobot maju kedepan, serangkaian pukulan dilontarkan secara bertubi-tubi. Kim Thia sia segera berpikir:

"Berulang kali sipedang besi melancarkan serangan dengan jurus-jurus keji, tampaknya dia memang berhasrat membinasakan diriku. Hmmm Bila tak kuberi sedikit pelajaran, ia pasti menganggap diriku sebagai kaum lemah yang dapat dipermainkan semaunya."

Mendadak ia teringat kembali dengan dendam sakit hati gurunya, dengan mata merah membara ia membentak keras, secara beruntun berapa jurus serangan dari ilmu Tay goan sinkang dilontarkan kedepan-

Ilmu Tay goan sinkang dan Ngo hud kiam hoat merupakan dua jenis ilmu simpanan dari Malaikat pedang berbaju perlente yang belum sempat diwariskan kepada kesembilan orang muridnya, bila dibandingkan dengan ilmu silat yang dipelajari kesembilan orang jagoan selama ini, tentu saja kedua macam ilmu tersebut jauh lebih hebat.

Baru dua gebrakan, sipedang besi sudah dibuat kalang kabut dan gelagapan setengah mati. sejak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah so Bun pin mengalami kejadian setragis

hari ini, tentu saja dia tak mampu menahan diri, dengan cepat pedang besinya dicabut keluar.

Pada saat itulah mendadak terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat masuk kedalam ruangan dengan kecepatan tinggi.

Putri Kim huan yang melihat kedatangan orang itu kontan saja menjerit kaget: "Hey, kalian jangan berkelahi dulu, ada orang. "

Ketika sipedang So Bun pin melihat jelas pendatang itu, ia menghentikan segera gerak serangannya dan menegur dengan keheranan: "sam suheng, dari mana kau bisa tahu kalau aku berada disini?"

orang itu tersenyum, dia melepaskan kain kerudungnya membiarkan rambutnya tergantung kebawah, ternyata orang itu adalah seorang pemuda berhidung mancung dan berbibir sangat tipis, dibalik senyuman terselip kebuasan yang menggidikkan hati. Diam-diam Kim Thia sia berpikir.

"sipedang besi menyebutnya sebagai sam suheng, kalau begitu orang ini adalah sipedang tembaga."

Pedang tembagapun merupakan seorang pemuda yang tak kalah tampannya dari pedang besi, terutama disaat rambutnya dibiarkan terurai dibelakang punggungnya, terasa pancaran kegagahan yang mengerikan. Tanpa terasa Kim Thia sia memperhatikan pedang tembaga itu berapa kejap. makin dipandang dia merasa pemuda itu makin tampan sehingga tanpa terasa timbul perasaan rendah diri pada dirinya. sementara itu sipedang tembaga tidak berbicara dengan pandangan tercengang dia mengawasi putri Kim huan. Berapa kejap seakan-akan diapun dibuat terpesona oleh kecantikan wajah gadis itu. Berapa saat kemudian dia baru berkata:

" Gerak gerik sute telah berada dibawah pengawasan musuh, andai kata kawanan serigala dungu yang memuakkan itu tidak mengawasi rumah penginapan ini. Mungkin akupun tidak tahu kalau kau berada disini."

Kemudian setelah berhenti sejenak. sambil menuding kearah putri Kim huan tanyanya sambil tertawa:

"Apakah nona ini yang sering kali sute singgung-singgung?" "Benar"

Pedang tembaga segera tertawa nyaring, pujinya:

"sute memang tak mau memiliki ketajaman mata yang mengagumkan, nona ini boleh dibilang merupakan gadis paling genit yang pernah kujumpai sepanjang hidupku. Haaaah.....haaaah "

Dengan kening berkerut sipedang besi bertanya:

"Apakah suheng telah berhasil menghajar buyar kawanan serigala yang memuakan itu?" Pedang tembaga tertawa.

"Untuk membunuh ayam, buat apa mesti memakai golok pembunuh kerbau? Ketika melihat aku memasuki rumah penginapan ini, kawanan gentong nasi tak berguna itu sudah kabur terbirit-birit untuk menyelamatkan diri."

"Ya a, siapa tahu keadaan dan menyelamatkan diri selekasnya memang merupakan tindakan tepat dari seorang lelaki cerdik."

"Haaaah......haaaaah. " sipedang tembaga tertawa nyaring ketika alis matanya melentik

keatas tampaknya wajahnya yang lebih tampan dan perkasa. Pelan-pelan dia berkata lagi:

"selama ini kita masuk keluar dunia persilatan sambil mempertaruhkan nyawa nama besar yang diraih bukan hanya nama kosong belaka. sudah barang tentu kawanan cecunguk dan badut itu tak berani mencari penyakit buat diri sendiri. "

sementara berbicara, sepasang matanya yang jeli tiada hentinya mengawasi wajah putri Kim huan-

sipedang besi segera menuding kearah Kim Thia sia dan berkata lagi:

"sam suheng, mari siaute perkenalkan kalian, orang inilah pemuda yang mengaku sebagai murid terakhir dari si Malaikat pedang berbaju perlente Kim Thia sia."

Pedang tembaga agak tertegun, lalu setelah mengamati pemuda itu sekejap. serunya: "Jadi pemuda inilah orang yang sering sute bicarakan?"

"Benar........benar " berbicara sampai disini, sipedang besi segera tertawa terbahak-bahak.

"Aku rasa orang ini lebih pantas dianggap sebagai orang sinting.....haaaah........haaaaah. "

"Kau jangan mengaco belo tak karuan" teriak Kim Thia sia dengan wajah berkerut dan tak senang hati. "Aku bukan orang sinting kalau tak percaya tanyalah nona ini, ia adalah orang yang paling mengetahui tentang diriku."

"Yaa betul" sahut putri Kim huan cepat. "Cara berbicara maupun tindak tanduknya normal, dia memang tak pernah berbohong." sambil tersenyum sipedang tembaga berkata:

"Aku tak ambil perduli kau sinting ataukah tidak tahu yang jelas kau mencabut nama besar orang dan mengaku sebagai murid seorang jago kenamaan memang bisa terjadi, bila kulihat tampangmu yang gagah dan tubuhmu yang kekar. sesungguhnya tak miri^ seorang cecunguk. heran mengapa kau justru melakukan perbuatan yang rendah dan hina seperti ini?sayang......sungguh teramat sayang. " "Tapi aku benar-benar adalah murid terakhir dari Malaikat pedang berbaju perlente,

aku........aku berani bersumpah. "

"Baik" sipedang tembaga segera menarik muka dan menatap pemuda itu dengan sorot mata yang tajam. "Asli atau gadungan, sebentar lagi akan ketahuan hasilnya."

Baru selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dia bergerak amat cepat. sepasang tangannya secepat ular berbisa mengayunkan kedepan melancarkan dua serangan gencar yang mengancam jalan darah sang seng hiat, Pek hui hiat, Hong wi hiat dan Hoat hiat empat buah jalan darah penting ditubuh lawan-

semua serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan sama sekali tidak membawa deruan angin, menanti Kim Thia sia sadar kalau dirinya sedang disergap. Tahu-tahu jalan darah sang seng hiat nya yang sudah tak terasa kaku dan kesemutan-

Untung saja Kim Thia sia tidak gugup dalam keadaan segawat ini, tiba-tiba saja dia menghimpun tenaga dalamnya dan menyonsong datangnya serangan itu dengan jurus "kecerdikan menguasai jagad", sementara tangan yang lain menyerang musuh dengan jurus "kelincahan menyelimuti empat samudra."

Tampak bayangan pukulan berlapis-lapis dan menyelimuti seluruh angkasa, sipedang tembaga segera merasakan pandangan matanya menjadi kabur, apa yang dilihat adalah disekeliling situ bermunculan begitu banyak musuh yang mengancam dirinya dari mana-mana.

Ia merasa serangan lawan ibarat jaring ikan yang mengurung badannya dari empat penjuru, membuat dirinya susah meloloskan diri...

Dalam keadaan demikian, seandainya Kim Thia sia mengerahkan sedikit tenaga saja untuk mengancam lawannya, niscaya pedang tembaga akan menderita kekalahan.

Namun Kim Thia sia yang bijaksana dan berhati mulia enggan berbuat demikian, ketika serangannya mencapai setengah jalan, tiba-tiba dia buyarkan jurus serangan tersebut dan melompat mundur kebelakang.

Dalam saat itu juga sipedang tembaga sadar kembali dari lamunannya, baru saja Kim Thia sia menarik sebagian dari serangannya dan belum sempat mengundurkan diri, tenaga pukulannya yang kuat telah menyambar tiba.

Kim Thia sia sangat terkesiap. sekuat tenaga dia melemparkan tubuhnya kesamping untuk menghindarkan diri.

Dengan gerakan tersebut, walaupun dia berhasil melepaskan diri dari serangan utama, toh tak urung gagal meloloskan diri dari sambaran angin cukulan yang datang dari samping, akibatnya dia tergetar keras hingga mundur dengan sempoyongan.

Belum sempat tubuhnya berdiri tegak mendadak muncul kembali sebuah pukulan yang cepat bagaikan sambaran kilat dari sisi arena dan langsung mengancam diubun-ubunnya. Ternyata sipenyergap licik itu tak lain adalah sipedang so Bun pin Menghadapi kejadian seperti ini, Kim

Thia sia sgeera berpikir:

"Hmmm, betapa kejamnya hati orang ini, bukan hanya menyergap secara licik, bahkan diapun tanpa menuruti peraturan persilatan berusaha menghabisi nyawaku. "

Dalam keadaan begini tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri, terpaksa disambutnya serangan yang maha dahsyat itu dengan mempergunakan bahunya.

"Blaaaaammmmmmm."

Ditengah benturan yang sangat keras, pemuda itu merasakah bahunya kesakitan, sementara badannya terjungkal kebelakang dan berjumpalitan beberapa kali, matanya terasa berkunang- kunang dan dadanya terasa sesak sekali...... Pelan-pelan dia merangkak bangun, tampak olehnya sipedang besi sedang mengawasinya sambil tertawa bangga, senyum dinginpun menghiasi ujung bibirnya, seakan-akan tindakan sergapannya barusan bukan suatu perbuatan yang memalukan-

Kim Thia sia menjadi teramat berang, hawa amarah serasa membara didalam dadanya, sambil membentak nyaring sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan-

"Tunggu sebentar" tiba-tiba sipedang tembaga yang berhasil menenangkan hatinya membentak nyaring.

Kemudian katanya lebih jauh setelah berhenti sebentar:

" Kepandaian silatmu sangat tangguh perbuatanmu tidak mirip perbuatan kaum berandal kampungan- Mengapa sih kau bersikeras mengaku sebagai adik seperguruanku?"

"Aku tak berhasrat membicarakan persoalan ini" tukas Kim Thia sia ketus. "Bila ingin bertarung mari kita segera bertarung. Kalau enggan bertarung lebih baik kalian berdua cepat-cepat tinggalkan tempat ini. "

Merah padam selembar wajah pedang tembaga, katanya kemudian-

"Kalau dugaanku tak salah, kau berniat mencatut nama besar dari Malaikat pedang berbaju perlente untuk meng katrol namamu hingga menjadi begal, sekalipun sesungguhnya kau tak ingin mengaku-ngaku, tapi keadaan yang memaksamu untuk menyerempet bahaya ini, bukan demikian?"

"Benar, benar, terserah apapun yang hendak kau bilang. " sahut Kim Thia sia tak senang

hati.

Ketika sorot matanya dialihkan kembali kesisi ruangan, paras mukanya kembali berubah hebat.

Entah sejak kapan, ternyata dalam ruangan tersebut telah bertambah lagi dengan seseorang.

orang itu berperawakan tinggi dan berbaju putih keperak-perakkan, sepasang matanya tajam bercahaya sehingga sekilas pandang ia mirip sekali dengan sebuah arca.

Dia berusia tiga puluh tahunan, berwajah tampan, alis mata yang tebal dan berbibir merah dengan sebaris gigi yang putih bersih, namun sikapnya agaknya angkuh memberi kesan keren bagi yang memandang.

Ketika melihat kehadiran orang itu, sipedang tembaga dan sipedang besi serentak menghentikan perbuatan mereka dan bersama-sama hormat seraya berkata: " Rupanya ji suheng telah berkunjung kemari, terimalah salam hormat dari siaute."

"sute sekalian tak usah banyak adat" sahut sipedang perak sambil mengebaskan ujung bajunya.

suaranya nyaring dan tajam, jelas terlihat bahwa dia memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh.

Dengan sikap yang sangat angkuh sipedang perak memandang sekejap kesekeliling ruangan.

Namun selama ini ternyata tak sampai memperhatikan putri Kim huan barang sekejappun, sikapnya mantap dan mencerminkan kegagahan seorang lelaki sejati.

Kim Thia sia paling kagum dengan manusia berhati dingin seperti ini, tanpa terasa dia maju kedepan dan memberi hormat. Dengan wajah tercengang gedang gerak segera menegur: "siapakah cuangsu? Rasanya kita belum pernah bersua muka. "

"Aku bernama Kim Thia sia, seorang dusun yang tak mengerti urusan" jawab pemuda itu cepat.

Mendengar perkataan ini, putri Kim huan segera tertawa cekikikan sambil mendesis. "Kau memang mirip sekali."

suara tertawanya ibarat burung nuri yang berkicau, sangat mempesonakan hati pria. Tak kuasa sipedang besi danpedang tembaga dibuat termangu- mangu untuk berapa saat lamanya. Namun sipedang perak seperti tak terpengaruh oleh godaan tersebut, dengan sikap yang tetap tenang dia berkata:

" walaupun Kim Thia sia sauhiap belum lama terjun kedalam dunia persilatan, nama besarmu telah termashur diseantero jagad, benar-benar seorang jago muda yang luar biasa. Nona, bila kau menyindirnya dengan perkataan begitu, sikapmu benar-benar kurang tahu hormat."

Dari nada pembicaraan itu, jelas sudah dia senang menegur ketidak sopanan putri Kim huan-

Kim Thia sia semakin kagum dibuatnya cepat-cepat dia menjura seraya berkata lagi: "saudara kelewat memuji, padahal siaute memang tak becus dan tak lebih hanya seorang

dusun yang tak tahu urusan." Pedang perak tertawa-tawa.

"Aku dengar Kim sauhiap masih mempunyai hubungan perguruan dengan kami bersaudara, apakah hal ini benar?"

"Betul, aku adalah murid terakhir dari malaikat pedang berbaju perlente, tapi tak seorangpun yang mau percaya, padahal aku berbicara dengan jujurnya."

Kemudian sambil menatap sekejap kearah pedang besi dengan amarah yang berkobar katanya lebih jauh:

"Mengapa aku mesti mengaku-ngaku, sekalipun Malaikat pedang berbaju perlente adalah seorang tokoh dunia persilatan yang luar biasa. Namun aku, Kim Thia sia bukan seorang manusia pengecut yang bisanya hanya membonceng ketenaran orang lain."

"Sute kesepuluh, kau jangan marah" sipedang perak segera berkata sambil tertawa. "Dari pancaran wajahmu yang gagah dan keren, aku tahu bahwa kau bukan manusia kurcaci yang suka mencatut nama besar orang lain, aku percaya dengan pengakuanmu itu."

Berbicara sampai disini dia segera berpaling kearah sipedang tembaga dan pedang besi sambil bertanya lagi:

"Sute berduapun tak usah menaruh curiga lagi. Ayoh cepat saling menghormat sebagai sesama saudara seperguruan."

Dengan perasaan tak senang hati kedua orang itu memanggil "sute" kepada Kim Thia sia, sebaliknya Kim Thia sia pun memanggil kedua orang itu sebagai "suheng" dengan nada tak senang.

Dengan demikian, maka hubungan sebagai sesama saudara seperguruan pun telah diresmikan oleh sipedang perak.

setelah suasana hening berapa saat, sipedang perak baru berkata lagi:

"Besok adalah hari yang ditentukan untuk berlangsungnya pertarungan penentuan antara kita bersaudara seperguruan dengan Pek kut sinkun, tokoh kenamaan dari kawasan Kang lam. sebagai jago pilihan yang diandalkan pihak Kanglam sudah jelas Pek kut sin kun bukan manusia sembarangan yang boleh dipandang secara gegabah. Apakah sute berdua telah melakukan persiapan yang matang ?"

"Semua persiapan telah selesai" jawab pemuda tembaga dan pedang besi serentak.

Kim Thia sia segera teringat kembali dengan kematian murid-murid Empat naga dari Tionggoan ditangan si "manusia dengki" dalam peristiwa tersebut Pek kut sinkun merupakan orang yang paling dicurigai, maka timbullah niat untuk menyelidiki persoalan tersebut didalam hatinya.

sementara dia masih termenung, sipedang perak telah berkata lagi sambil tertawa.

"Sute, apabila kau berniat, mari bergabung dengan kami untuk bersama-sama menggempur Pek kut sinkun bersama anak buahnya."

Kim Thia sia memang sangat berharap akan kesempatan tersebut, dengan cepat dia menjawab: "Aku terima tawaran ini dengan senang hati, bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga?" sipedang perak segera manggut-manggut.

"Yaa, undangan Pek kut sin kun adalah esok pagi, tapi kita harus membuat persiapan mulai sekarang juga."

sebagai seorang pemuda yang pintar, dengan cepat Kim Thia sia dapat menangkap bahwa kata "persiapan" yang diucapkan orang itu mengandung arti yang mendalam sekali, ia segera berpikir:

"Andaikata kawanan jago persilatan yang tanpa sebab musabab mencari gara-gara denganku tadi adalah pengikut Pek kut sinkung. HHmmmm, kawanan manusia macam begitu memang pantas dibunuh. seorang lebih sedikit berarti lebih besar kebahagian hidup rakyat"

Berpikir demikian, diapun menjawab:

"Perkataan suheng memang benar, mari kita membuat persiapan sekarang juga." "Bagaimana dengan gadis ini?" tanya sipedang perak sambil tersenyum.

"Biarlah dia menempuh perjalanan bersama kami, tapi apakah hal ini akan merintangi atau menghalangi kerja kita?"

sebelum pedang perak memberikan jawabannya, sipedang besi telah berkata duluan. "Sute terlalu curiga walaupun kemampuan kita belum bisa dibilang tiada tandingannya lagi

dikolong langit, paling tidak masih termasuk jago pilihan. Apa artinya dengan kehadiran nona ini bersama kita semua?"

Tiba-tiba saja nada pembicaraan sipedang besi berubah menjadi lebih lembut dan ramah seakan-akan sedang berbicara dengan saudara sendiri saja.

sebagai seorang lelaki yang berjiwa terbuka, tentu saja Kim Thia sia tak akan mengingat-ingat persoalan lama, dengan cepat sahutnya:

"Baiklah, kalau begitu terpaksa suheng harus membuang tenaga lebih banyak lagi." "Aaaaah, tak terhitung seberapa, tak terhitung seberapa " jawab sipedang besi sambil

tertawa nyaring.

Kemudian sambil berpaling kearah putri Kim huan katanya lebih jauh:

"Setelah aku melindungi keselamatanmu maka kau tak akan terancam bahaya apa-apa lagi." "Terima kasih atas maksud baik kalian" ucap putri Kim huan dengan suara lirih. "Tapi

aku.....aku tak ingin pergi. "

Pedang besi jadi tertegun, untuk sesaat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Iapun tahu bahwa keseganan gadis itu berangkat bersama mereka tak lain dikarenakan ulahnya, dalam waktu singkat perasaan cinta dan benci bercampur aduk dalam benaknya. Air mukanya pun turun berubah hebat.

Melihat abang seperguruannya dibuat tersipu-sipu, Kim Thia sia segera membentak nyaring: "Kalau kau tak mau pergi, lantas apa yang hendak kau lakukan? Apakah kau tidak tahu kalau

sekeliling penginapan ini sudah berjaga-jaga pihak musuh? Apakah kau ingin mencari jalan kematian buat diri sendiri. ?"

Putri Kim huan sedih sekali, teguran yang pedas membuat air matanya hampir saja jatuh bercucuran, sambil menundukkan kepalanya la berkata kemudian:

"Bila kau memaksa untuk pergi, terpaksa aku hanya akan menuruti perkataanmu."

Diam-diam Kim Thia sia mendengus dingin, dia maju dua langkah kedepan dan berbisik disisi telinganya sambil tertawa dingin.

"Kau anggap aku berbuat begini karena kehendak hati kecilku? Hmmmm. seandainya

bukan atas usul suhengku, buat apa aku mesti memelihara harimau untuk mencelakai diri sendiri?" Rupanya sejak dia mendengar putri Kim huan bermaksud melakukan perbuatan keji terhadapnya, sikapnya terhadap gadis itupun mengalami perubahan 180 derajat.

Kalau semual dia masih menaruh perasaan iba atas nasibnya yang tragis, maka sekarang ia justru membencinya hingga merasuk ketulang sumsum.

Putri Kim huan bukan gadis yang bodoh, tentu saja dia mengerti apa maksud memelihara harimau untuk mencelakai diri sendiri tersebut.

Paras mukanya kontan saja berubah hebat, tapi hanya sebentar saja telah pulih kembali seperti sedia kala, gumamnya lirih:

"Kau telah menaruh salah paham kepadaku, tadi aku sengaja berkata begitu tak lain hanya ingin melepaskan diri dari orang tersebut."

Dengan kepala tertunduk dan rasa sedih yang luar biasa, pelan-pelan dia beranjak meninggalkan ruangan dan mengikuti dibelakang keempat orang tersebut.

Ditengah jalan, Kim Thia sia tak bisa menahan diri lagi, tiba-tiba tanyanya: "Suheng, apakah kau mengetahui kabar berita tentang pedang Leng gwat kiam itu?"

Merah padam selembar wajah sipedang besi, dengan cepat dia segera mengerling sekejap kearah putri Kim huan, ia sedih dan serba salah untuk sesaat pemuda ini tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Tapi selang berapa saat kemudian, sahutnya juga: "Pedang itu berada ditangan Pek kut sinkung "

Mendadak dari kejauhan sana muncul lima orang lelaki kekar yang berjalan mendekati kearah mereka, sambil tertawa sipedang tembaga segera berkata:

"Kelima orang itupun merupakan lawan tangguh dari Pek kut sinkun. suheng, sudah seharusnya kita bersekongkol dengan mereka."

"Benar" jawab pedang perak. "Sejak pianpacu mereka mati secara misterius dibukit terpencil, lima orang gagah dari Kian an memang sedang menyusun rencana untuk melakukan pembalasan dendam."

Kim Thia sia yang mendengar perkataan tersebut segera teringat kembali dengan pertemuannya bersama Ciang sianseng tempo hari. Kematian Pianpacu tersebut waktu itu adalah disebabkan ia mendapat titipan dari Pek kut sinkun untuk menyerahkan kotak Hong toh kepada Ciang sianseng, tapi akhirnya mati ditangan orang yang mengincar mestika tersebut.

Mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, segera gumamnya:

"Aaaaah tidak benar, tidak benar, kalau toh Pek kut sinkun telah menyerahkan kotak Hong toh kepadanya untuk disampaikan kepada Ciang sianseng, berarti ia tidak mempunyai maksud untuk membunuh Pianpacu tersebut, sudah pasti dalam peristiwa ini terjadi kesalahan paham. pek kut sin kunlah dituduh tanpa dasar oleh lima orang gagah dari Kian an.