Lembah Nirmala Jilid 21

 Jilid 21

Meski sipedang besi So Bun pin sangat romantis dan mengerti tata cara pergaulan, namun bila dibandingkan dengan Kim Thi sia yang terbuka, jujur dan perkasa maka So Bun pin sudah jelas tertinggal jauh sekali.

Sebagai seorang gadis yang cerdik, dalam waktu singkat ia sudah dapat menentukan hasil perbandingannya, dia sadar Kim Thi sia yang kasar tapi polos dan jujur ini jauh lebih dapat dipercaya.

Kecabulan dan perbuatan sipedang besi So Bun pin yang berbuat kurang senonoh kepadanya membuat gadis ini amat membenci dirinya, sebaliknya Kim Thi sia meski selalu bentrok dengannya, namun pemuda itu tak pernah menunjukkan sikap kurang ajar, itulah sebabnya dia merasa Kim Thi sia jauh mengungguli So Bun pin-Setelah berpikir sebentar gadis itupun menggoyang-goyangkan badan dipemuda.

Kim Thi sia membuka matanya dengan terkejut, dia mengira musuh telah datang hingga sambil mengucak matanya dia bertanya: "Sudah jam berapa sekarang?"

"Mendekati luhur"

"Aaaah, aku benar-benat pikun." kata Kim Thi sia sambil melompat bangun. "Tak nyana aku sudah tertidur senyenyak ini, coba kalau ada musuh mengusirku, aku pasti akan menjadi orang yang berdosa, untung saja. "

sambil mengucak matanya kembali dia tertawa tergelak. "sudahlah, matamu jangan digosok terus. sudah cukup merah, bisa-bisa akan buta nanti. "

seru putri Kim huan sambil tertawa.

Nampaknya gadis itu merasa hatinya agak cerah hingga gelak tertawanya pun lebih terbuka dan merdu.

"Mataku sudah cukup merah. " Kim Thi sia tertegun. "sudah tentu disebabkan kurang tidur.

Aaaah, kau bikin hatiku terperanjat saja."

sambil tertawa diapun mengangkat kepalanya tiba-tiba melihat sepasang matanya yang jeli sedang mengawasinya tanpa berkedip. dengan keheranan ia segera bertanya: "Hey, apa yang sedang kaupikirkan?"

"Aaah......tidak apa-apa. " sinona tertawa.

Mendadak paras mukanya berubah menjadi merah dadu, seakan-akan rahasia hatinya sudah terbongkar.

Kim Thi sia tak ingin menyelidiki perkataan dari seseorang sampai sejelasnya karena gadis itu begitu enggan menjelaskan, diapun tidak bertanya lebih jauh setelah membetulkan letak bajunya, sambil tertawa katanya: "Daripada menganggur didalam kamar, ayoh kita jalan-jalan saja."

"Bagus, tapi aku tak akan pergi lagi kerumah makan Eng pin lo tersebut" seru sinona. Kim Thi sia tertegun, lalu katanya dengan nada minta maaf. "Aaaah. betul, aku menyesal sekali dengan

peristiwa ditengah hari tadi. "

sepeninggal dari penginapan Hoi lok. mereka berdua berjalan menelusuri jalan raya. Ditengah jalan mendadak Kim Thi sia berpikir dengan rasa kaget.

"Hey, apa yang terjadi, kenapa kawanan manusia cecunguk itu belum juga membubarkan diri?

Memangnya siang malam mereka bertugas mengawasi gerak gerik orang?"

Karena curiga diapun memperhatikan sekelompok manusia diujung lorong dengan lebih seksama lagi.

Mereka terdiri dari tujuh, delapan orang lelaki kekar yang sedang berjongkok diatas tanah sambil bermain dadu.

satu ingatan segera melintas dalam benak Kim Thi sia, kepada putri Kim huan bisiknya kemudian-

"Perlahan sedikit jalannya, coba kita sadap apa pembicaraan mereka."

Dengan langkah yang amat santai, selangkah demi selangkah mereka mendekati kelompok manusia tersebut.

Terdengar salah seorang lelaki yang didepannya terlihat setumpuk uang sedang bergumam dengan nada gembira:

"Huuuh, perduli amat dengan segala macam tugas, aku rasa main dadu paling asyik, selalu bisa mengantongi berapa tahil perak- tak usah menyerempet bahaya pula."

"Maknya si ong tua" seri seorang gemuk yang berjongkok disisinya. "Baru menang bicara tak karuan, hati-hati kalau sampai ketahuan pemimpin kita, semua orang bisa dimaki habis-habisan. Eeeei sian ong, kau yang menang hari ini, sepantasnya kau juga yang bertanggung jawab bila dimaki nanti."

"ssstt. kalau bicara jangan keras-keras" seru seorang lelaki yang lain- "Kita mendapat tugas

mengawasi gerak gerik musuh, bila lawan sampai mendengar teriakanmu itu, bukan kita yang mengawasi orang lain, bisa jadi orang lain yang akan mengawasi kita. Apalagi pemimpin kita kan sudah berpesan, sewaktu bekerja jangan malas, masa kalian tidak mendengarnya ?"

sementara itu Kim Thi sia sudah lewat dari lorong tersebut, dia merasa amat kecewa karena tak berhasil menyadap pembicaraan apapun, saat itulah mendadak terdengar seseorang berbisik, " Kalian jangan ribut dulu, bicara terus terang selain sipedang emas bangsat muda itu, konon diapun masih membawa banyak orang untuk memusuhi pemimpin kita. Aku lihat lebih baik kita hentikan permainan pada hari ini, mari kita lakukan pengawasan disegala pelosok kota."

"Benar" timbrung si ong tua. "Kita harus melakukan pemeriksaan, andaikata tidak menemukan sesuatu apapun yang penting tugas kita sudah selesai dikerjakan."

Kim Thi sia tahu semua orang akan bubaran, cepat ia menarik ujung baju putri Kim huan smabil berbisik,

"Cepatan sedikit jalannya, mereka segera akan berhambur keluar."

Belum berapa langkah mereka berjalan, ketika Kim Thi sia berpaling kembali, betul juga ia melihat dari lorong tersebut muncul tujuh, delapan orang lelaki kekar yang segera berhamburan keempat penjuru jalanan.

Kini terbukti sudah sipedang emas memang telah bermusuhan dengan pemimpin dari suatu perkumpulan besar dalam dunia persilatan, bahkan telah berjanji akan melangsungkan pertarungan disuatu tempat. Maka diam-diam pemuda kitapun memutuskan akan pergi ketempat tersebut guna membantu abang seperguruannya.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak terdengar putri Kim huan berseru: "Hey, kemana perginya pedang Leng gwat kiam mu?"

Menyinggung masalah pedang Leng gwat kiam, wajah gadis itu berubah menjadi amat tegang, sebab gara-gara pedang inilah diantara mereka berdua pernah terjadi bentrokkan yang tak menyenangkan-

Kim Thi sia agak tertegun, kemudian sahutnya singkat: " Hilang" sementara dalam hati kecilnya berpikir:

"Pertanyaanmu ini benar-benar sebuah pertanyaan yang tidak pintar, mengapa sih diantara kita berdua mesti terjadi bentrokkan lagi gara-gara urusan pedang itu?"

"Apakah orang yang mengambil pedangmu itu berilmu silat sangat tinggi?" kembali gadis itu bertanya.

"Belum tentu begitu" "Lalu kenapa bisa hilang?"

"Pedang itu dicuri orang tanpa kurasakan sama sekali, ilmu mencopet orang itu sangat lihay sekali."

"Waaaah kalau begitu pedang tersebut tak bisa diperoleh kembali untuk selamanya?"

"Belum tentu begitu, asal sipencurinya sudah kutangkap. paling tidak pedang itu akan ketahuan kemana perginya."

"Diantara kita berdua sesungguhnya tak pernah terjalin permusuhan apapun, tetapi kita selalu bentrok gara-gara pedang tersebut bukan?"

"Ehmmmmmm. "

"Bila pedang Leng gwat kiam tidak pernah ditemukan kembali, berarti diantara kita berduapun tak pernah akan terjadi bentrokkan yang tak menyenangkan bukan?"

"Benar."

Tiba-tiba Kim Thi sia menambahkan-

"Tapi hal ini tak mungkin, coba bayangkan saja pedang Leng gwat kiam ibarat ayah dan anak bagiku, mana mungkin kubiarkan orang lain mengangkanginya dengan begitu saja? Aku telah bersumpah selama hayat masih dikandung badan, aku tetap akan mendapatkannya kembali."

"oooooh. begitu akrabnya hubunganmu dengan pedang leng gwat kiam?" "Aku ingin bertanya lagi manusia macam apakah yang mempunyai hak untuk menyuruhmu mempersembahkan pedang Leng gwat kiam tersebut secara rela?"

"Kecuali kedua orang tuaku. " Kim Thi sia menjawab sedih. "Tapi mereka berdua telah

meninggal dunia, jadi tiada orang didunia ini yang bisa membuat aku persembahkan pedang Leng gwat kiam dengan begitu saja. ?"

"Apakah hanya terbatas pada kedua orang tuamu saja? Misalnya saja abangmu, cicimu atau mungki adik,adikmu istrimu."

Mendadak paras muka Kim huan berubah menjadi merah padam setelah berhenti sebentar lanjutnya:

"Apakah mereka semua tidak berhak untuk menerima pedang leng gwat kiam tersebut?" Kim Thi sia agak tertegun serunya:

"Pertanyaanmu terlalu banyak. aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu. Tapi heran, mengapa kau menanyakan persoalan itu?"

"Aku ingin tahu sampai dimana kemesrahan hubunganmu dengan pedang leng gwat kiam tersebut, belum pernah kujumpai orang yang mengajakku ribut hanya gara-gara sebilah pedang."

"Tapi kenyataannya kau telah menjumpai manusia semacam itu bukan?" "Ya a, kau memang manusia aneh."

"Mari, kita jangan membicarakan persoalan ini lagi, apakah kau merasa lapar?"

Putri Kim huan menggeleng kepala, keningnya berkerut kencang. Tampaknya ia merasa tak senang karena belum memperoleh jawaban yang memuaskan hati.

"Baiklah" kata Kim Thi sia kemudian- "Kalau toh kau merasa tak lapar, akupun tak ingin bersantap."

Putri Kim huan mengangkat kepalanya dan menatap pemuda tersebut dengan matanya yang jeli kemudian bertanya:

"Mengapa? bila gara-gara aku tak lapar menyebabkan kaupun hilang napsu makan-Kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan berbuat sebodoh itu. "

Kim Thi sia menghindarkan diri dari tatapan matanya, lalu menjawab dengan geli: "Bukan, bukan begitu, sesungguhnya aku memang tida terlalu lapar "

Untuk berapa saat kemudian suasana menjadi hening, kedua belah pihak sama-sama tidak berbicara mereka belok disebuah tikungan dan menuju kearah jalan raya teramai dikota itu.

sementara putri Kim huan masih celingukan kian kemari. Tiba-tiba ia berseru tertahan dan mengawasi seseorang dengan perasaan terkejut bercampur keheranan-

orang itu sedang mabuk. mukanya merah darah bagaikan kepiting rebus, langkahnya santai seakan-akan hendak roboh oleh hembusan angin. seperti menjumpai iblis jahat saja, putri Kim huan bergumam lagi: "Mana mungkin orang itu....? bukankah. bukankah dia sudah

mati. ?^

Kim Thi sia berpaling mengikuti arah yang dilihat gadis tersebut diapun turut mengamati lelaki tersebut namun matanya segera terbelalak lebar, ternyata lelaki pemabuk itu tak lain adalah si unta, situa bangka yang selalu merecoki dirinya itu.

Bertemu dengan si unta, Kim Thi sia merasa seperti bertemu ular berbisa saja cepat-cepat dia menarik putri Kim huan untuk bersembunyi dibelakang pohon lalu serunya cemas:

"Jangan bersapa dengan orang itu dia licik mulutnya tajam, paling suka menyindir dan memperolok orang lain, aku paling benci dengan orang ini. "

"Kalau begitu dia telah pura-pura mati?" tanya putri Kim huan lirih. Kim Thi sia mengangguk.

"Yaa, dia memang pandai berbuat apa saja. "

"Kau takut kepadanya?" kembali putri Kim huan bertanya sewaktu melihat pemuda tersebut gelagapan-

sambil mengepal tinjunya pemuda Kim menjawab:

"Yaa paling kutakuti adalah mukanya yang tebal seperti kulit badak itu "

Putri Kim huan tertawa cekikikan karena geli, serunya manja: "Jadi kau paling takut dengan orang yang bermuka tebal?"

"Yaa, orang semacam ini memang paling memusingkan kepala."

Hubungan antara kedua orang itupun terasa makin dekat berlangsungnya pembicaraan ini.

Putri Kim huan sadar sudah percuma dia menjual lagak dihadapan pemuda ini. Malah sebaliknya dengan pembicaraan yang santai, hubungan mereka terasa lebih bebas, santai dan menggembirakan.

Mendadak terdengar Kim Thi sia berbisik sambil menuding kearah si unta tersebut. "Coba kau lihat, ada orang sedang menguntil dibelakangnya "

Putri Kim huan melihat juga, orang tersebut mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, bermuka bengis dan bermata tajam. orang tadi menguntil terus dibelakang si unta dari jarak tertentu.

Putri Kim huan segera berbisik dengan suara murung:

"Coba kau lihat, senyumannya amat tak sedap dipandang, mungkinkah jiwanya bakal terancam? Aku kuatir dia dibokong orang sampai tewas dalam keadaan mabuk seperti itu."

Kim Thi sia merasa pendapat tersebut ada benarnya juga, maka sahutnya kemudian-"Kalau begitu mari kita ikuti."

Dengan cepat mereka berdua mengikuti pula dibelakang lelaki kekar tadi.

Agaknya lelaki tersebut telah memusatkan seluruh perhatiannya untuk menguntil dibelakang si unta, dia tak sadar kalau dibelakangnya justru ada orang lain yang menguntil pula sambil mengawasi gerak geriknya.

Ketika melalui sebuah hutan, tiba-tiba si unta berjalan masuk kebalik pepohonan yang rimbun itu, sambil tertawa seram lelaki tadi segera menyusul dari belakangnya.

Kim Thi sia segera merasa keadaan semakin gawat, tanpa berpikir panjang lagi dia menyambar tubuh putri Kim huan lalu dibawanya lari kemuka.

"Hey, mau apa kau?" tegur putri Kim huan dengan wajah tersipu-sipu.

Kim Thi sia tak sempat menjawab, dengan menyelinap dibalik pepohonan dia bergerak lebih cepat melewati didepan si unta.

Kasihan si unta, ternyata dia masih belum sadar kalau ancaman bahaya maut sudah muncul dibelakang tubuhnya, dengan langkah sempoyongan dia masih berjalan seenaknya memasuki hutan dan bersenandung pelan-

sementara itu, lelaki kekar tadi telah memperhatikan sekejap sekeliling tempat tersebut dengan sorot mata yang tajam, ketika dia melihat ada orang lain yang menguntil, dia segera mengerahkan gerakan tubuhnya yang lincah untuk mendekati korbannya.

Jangan dilihat orang itu memiliki perawakan tubuh yang tinggi besar, ternyata gerak geriknya sangat lincah bagaikan seekor kucing. "Aaaah ternyata dugaanku tak meleset, orang ini memang berniat jahat terhadap situa

bangka" pikir Kim Thi sia dengan cepat, "Baiklah memandang diatas wajah Thian maha pengasih, biar kuselamatkan jiwanya sekali ini. "

Baru saja dia hendak turun tangan untuk memberi bantuan, si unta yang nampak sempoyongan karena mabuk tadi tahu-tahu sudah membalikkan badan dan menegur sambil tertawa seram.

"Hey lo toako, aku sudah menunggumu cukup lama, tolong tanya ada urusan apa kau menguntilku hingga disini?"

Lelaki itu nampak terperanjat sekali, sekali ia menghentikan gerak terjangannya dan berdiri mematung, agaknya rasa kaget yang luar bisa membuat dia kehilangan pikiran dan tak tahu apa yang mesti diperbuat.

sambil melotokan matanya bulat-bulat, kembali si unta mengumpat: "Lo toako, maknya kamu sudah kau dengar pertanyaanku tadi?"

Menyaksikan adengan tersebut, diam-diam Kim Thi sia menghembuskan napas lega, pikirnya: "Sialan betul orang ini, percuma aku menguatirkan keselamatan jiwanya selama ini. Rupanya

dia sudah tahu akan kehadiran orang tersebut namun masih berlagak pilon-"

Berpikir begitu, segera bisiknya kesisi telinga putri Kim huan-"Tak nyana bangsat ini lebih licik daripada seekor rase, kita semua sudah tertipu."

"Ya a, tadi aku masih mengira dia mabuk oleh arak" sahut putri Kim huan setengah berbisik. "Hmmm, biarpun dia sudah minum arak seguci besar, nampaknya pikiran orang ini masih tetap

jeli. Mari kita pergi saja, bajingan ini tak gampang dihadapi, dia pandai berlagak mati, bisa jadi

sebentar lagi dia akan berlagak jadi setan "

"Tunggu dulu, aku ingin melihat bagaimana caranya berlagak menjadi setan." sementara pembicaraan masih berlangsung, lelaki kekar tadi telah mendusin dari rasa

tertegunnya, dengan bengis dia segera berseru:

"Tua bangka celaka, tak usah banyak bicara, kau berani memusuhi pemimpin kami, berarti kau harus mampus secepatnya."

"Maknya" kembali si unta mengumpat. "Justru manusia macam dirimu itu yang pantas untuk mampus." Kemudian katanya lagi:

"Hmmm, padahal aku cuma memaki pemimpinmu dengan beberapa patah kata, masa kalian menganggap serius persoalan ini? Maknya, apa sih hebatnya dengan memaki orang. Aku sudah terbiasa hidup dengan memaki orang. Manusia macam apa pun sudah pernah kuumpat, memangnya cuma pemimpin kalian macam telur busuk itu yang tak boleh dimaki? Maknya.......

kau tak usah sok"

"Tutup bacot anjingmu bangsat hari ini saat ajalmu bakal tiba" teriak lelaki itu gusar. "Maknya memang beginilah watakku, sampai menjelang matipun aku tetap akan memaki

orang, apalagi dihadapan manusia macam kerbau dungu semacam dirimu. Apa sih yang kau miliki? Bukan cuma kau, dua ekor udang busuk yang bersembunyi dibelakang pohon pun akan kumaki juga, melihat orang terancam bahaya tanpa menolong, terhitung manusia busuk macam apakah mereka "

Berubah hebat paras muka Kim Thi sia setelah mendengar perkataan ini, dengan gemas dia berbisik,

"silahkan, benar-benar menggemaskan orang ini, rupanya dia sudah mengetahui akan kehadiranku tapi berlagak pilon, sialan "

"Hey dia memaki kita sebagai udang busuk" putri Kim huan menimpa h dengan suara mendongkol. "Aku sudah mengatakan sedari tadi, orang ini bukan manusia sembarangan, tapi kau justru ingin menonton ulahnya, tentu saja kita yang dimaki oleh bajingan tua itu."

"Tapi dia kau sudah mengetahui jejak kita sedari tadi?" bantah putri Kim huan cepat. sementara itu lelaki kekar tadi sudah celingukan kian kemari, ketika tidak menjumpai dua orang

yang dimaksud, ia segera tertawa terbahak-bahak sambil berseru:

"Telur busuk. toaya tak akan tertipu oleh akal muslihatmu, ayoh cepat serahkan nyawamu" sambil berkata dia segera mendesak maju kedepan dan melepaskan dua buah serangan

berantai.

Dengan cekatan si unta berkeliat kesamping, belum lagi berdiri tegak dia telah mengumpat lagi: "Sialan-....sialan-..... kau si cucu kura-kura berani menyerang yayamu. ? Hmmm,

perbuatanmu ini merupakan pelanggaran besar, raja akhirat pasti tak akan mengampuni dirimu"

Lelaki kekar itu bertambah gusar, gagal dengan serangan pertama, ia segera meloloskan ruyungnya dan melepaskan serangkaian serangan yang gencar sekali mengurung seluruh badan si unta.

Menghadapi ancaman yang datang bertubi-tubi, ternyata si unta tidak mengeluarkan ilmu silatnya untuk melawan, sebaliknya dia justru melompat kesana kemari untuk menghindari diri dari sergapan musuh.

Begitu ada kesempatan baik, diapun berkaok-kaok sambil mengejek:

"Hey lelaki busuk. kau memang manusia busuk. manusia beruang yang goblok dan dungu kau manusia tak berontak. raja akhirat pasti akan

mengutukmu........oooh.....raja akhirat, tolong aku. cepat cabut nyawa beruang dungu ini"

Kim Thi sia yang menyaksikan kejadian tersebut kembali mengomel dengan suara mendongkol. "Dasar manusia tak berpendidikan, makin lama makin macam-macam ulahnya. "

Ketika melihat putri Kim huan sedang menutup mulutnya sambil tertawa karena geli, tanpa terasa tegurnya lagi:

"Apanya sih yang lucu, jangan lupa, barusan dia masih memaki kita sebagai udang busuk"

Putri Kim huan segera menatap pemuda itu lekat-lekat, lalu tegurnya: "Mengapa sih kau selalu mengganggu kegembiraan orang?"

"Asal kau tidak tertawa, hatikupun akan merasa lebih lega " ucap Kim Thi sia cepat.

setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya:

"Tentu saja kau dapat tertawa sekarang, sebab kau belum pernah menderita kerugian ditangannya, belum mengetahui kejahatan orang tersebut, coba kalau kau pernah tertipu olehnya, tanggung kau tak bisa tertawa sekarang. "

"Baiklah" ucap putri Kim huan kemudian sambil menunduk. "Bila kau melarangku untuk tertawa akupun tak akan tertawa."

Ucapannya lembut dan sikapnya amat menurut, jauh berbeda dengan sikapnya dihari-hari biasa, kontan saja Kim Thi sia dibuat tertegun oleh perubahan sikapnya ini.

Dalam pada itu, pertarungan yang berlangsung diarena telah memasuki tahap tegang, sekalipun posisi nampak berimbang dan kedua belah pihak tak berhasil meraih keuntungan apa- apa namun Kim Thi sia tahu siunta belum mengeluarkan ilmu simpanannya sedangkan lelaki kekar tadi telah mengeluarkan segenap kemampuannya.

Atau dengan perkataan lain, seandainya si unta berniat merobohkan musuhnya, hal ini bisa dia lakukan semudah membalikkan telapak tangan namun nyatanya ia tak berbuat begitu, sebaliknya menggunakan kesempatan tadi untuk mengejek dan menggodanya habis-habisan- Akhirnya habis sudah kesabaran lelaki kekar itu, dalam gusar dan mendongkolnya mendadak ia membuang senjata ruyungnya, lalu sambil merentangkan lengannya lebar-lebar, ia menerjang kedepan bagaikan harimau kelaparan yang menerkam kambing.

Dengan cekatan si unta berkelit kesamping, dengan begitu lelaki kekar tadi menerkam tempat yang kosong, dalam gusarnya lelaki itu berteriak nyaring dan sekali lagi melancarkan terkaman-

"Hey lo toako, buat apa kau terburu-buru macam monyet kena terasi?" ejek si unta lagi dengan suara sinis, "memangnya kau sudah bosan hidup karena kelewat lama hidup membujang. "

setelah meloloskan diri dari tubrukkan lawan, si unta mengejek lebih lanjut:

"Lo toako jangan salah mengerti, aku bukan perempuan, kalau pingin mencari gadis yang hangat carilah yang bermata agak gedean, tapi sekarang waaah, napsu mu kelewat besar,

masa tanpa membedakan laki atau perempuan, kau main terjang saja. aku mah geli kalau

kena dipeluk lelaki macam kau."

Kim Thi sia tidak tahan mendengar ejekan-ejekan semacam ini, kontan saja ia menyumpah: "Monyet busuk ini kelewat batas, mulutnya kotor dan cabul. biar mampus pun raja akhirat

tak bakal menerima nyawanya."

Kemudian sambil berpaling kearah putri Kim huan, katanya pula:

"Hey, aku sudah tak sanggup mendengarkan lebih jauh ayoh kita pergi saja. "

sementara itu paras muka putri Kim huan telah berubah pula menjadi merah padamu karena jengah tanpa banyak berbicara dia segera mengikuti dibelakang yang pemuda dan pergi meninggalkan hutan-

Belum jauh mereka pergi, tiba-tiba muncul empat orang lelaki kekar yang menghadang jalan perginya, seorang diantara mereka membentak nyaring: "Berhenti."

"Kalian ada urusan apa?" tanya Kim Thi sia tertegun "Jangan bergerak, kami hendak melakukan pemeriksaan-" "Pemeriksaan apa?" tanya Kim Thi sia lagi.

Dengan wajah tak sabar lelaki kekar itu menarik wajahnya seraya membentak nyaring:

"Sudah kau jangan banyak bicara, pokoknya kami hendak melakukan pemeriksaan terhadap kalian-"

"Akutoh bukan penyamun, kalian juga bukan pejabat pengadilan, kenapa kalian hendak memeriksa diriku?" seru sang pemuda tak senang hati.

Lelaki itu mendengus dingin, ancamnya: "Bila kau tak terima, silahkan saja melawan dengan kekerasan?"

"Melawan, yaa melawan, memangnya aku takut kepada kalian?" sahut Kim Thi sia dengan kening berkerut kencang.

"Haaaah.....haaaah.....haaaah sobat betul-betul seorang lelaki berkeras hati, aku sangat

kagum "

Belum habis berkata tiba-tiba dia mengayunkan kepalannya melepaskan sebuah pukulan kedepan-

Dalam keadaan tak terduga, Kim Thi sia tak sempat menghindarkan diri hingga tubuhnya terhajar telak dengan badan sempoyongan dia terdorong mundur sejauh dua langkah lebih.

Kim Thi sia menjadi gusar sekali, sambil membentak keras dia melepaskan sebuah serangan balasan- Dalam waktu singkat keempat orang itu sudah tertawa dingin dan masing-masing meloloskan senjata andalannya, tampak cahaya tajam menyelimuti seluruh angkasa dan mengurung tubuh anak muda itu dari empat penjuru.

Kim Thi sia tidak gentar, dia menghindar kesamping meloloskan diri dari bacokan lalu serunya sambil tertawa keras:

"Bagus sekali, kau lihat justru kalian yang tak tahu aturan, kalianlah berandal busuk. Hmmm, lebih baik majulah bersama-sama."

sebuah sambaran kilat menyingkirkan sapuan ruyung yang tertuju kebadannya, kemudian sebuah sapuan dilontarkan kedepan.

serangan itu datangnya cepat sekali, karena tak menyangka orang yang berada dipaling depan tersapu telak hingga senjatanya terlepas dari genggaman dan tubuhnya mencelat sejauh berapa puluh kaki dari posisi semula.

Mendadak terasa desingan tajam menyambar datang dari belakang dengan cepat Kim Thi sia berpaling. Ternyata entah sejak kapan disitu telah muncul lagi tiga orang lelaki asing yang langsung melancarkan serangan kearahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dalam gusarnya Kim Thi sia mengeluarkan ilmu Tay goan sinkangnya untuk melepaskan serangan balasan.

Kontan saja ketiga orang penyergapnya terdesak hebat hingga mundur berulang kali kebelakang dan berkaok-kaok marah.

Mendadak kilatan cahaya tajam menyambar tiba, ternyata sebuah bacokan pedang langsung mengarah batok kepalanya.

Cepat-cepat Kim Thi sia menghimpun tenaga dalamnya kedalam telapak tangan.

Kemudian sambil memutar tangannya dia menangkis ancaman tersebut. "Traaaaanggg. "

Diiringi dentingan nyaring, pedang tersebut tertangkis hingga mencelat kearah lain. Berhasil dengan tangkisan tersebut, Kim Thi sia merasa kegirangan setengah mati dia segera mengerahkan kembali tenaganya untuk menyerang seorang lelaki bersenjata toya yang datang dari kiri.

Belum sempat mendekat, lelaki itu sudah termakan serangan dahsyat tersebut hingga jubahnya mencelat pula kebelakang.

Agaknya kawanan lelaki itu tak mengira kalau musuhnya amat hebat, seorang lelaki bercodet yang rupanya menjadi pemimpin rombongan tersebut, segera berteriak memperingatkan.

"Awas, bangsat ini memiliki tenaga pukulan yang hebat. "

Dengan memutar ruyung tujuh ruasnya, lelaki bercodet itu segera melepaskan serangkaian serangan dengan gencarnya.

Kim Thi sia mendengus dingin, dia tahu untuk menghadapi kerubutan orang-orang tersebut, paling baik kalau dia membekuk pemimpinnya lebih dulu.

Dengan jurus mengebas baju menghilangkan debu ia melepaskan babatan kedepan, sementara kaki kirinya menyapu bagian bawah tubuh musuh.

Baru saja lelaki itu mengayunkan ruyungnya menghajar bahu Kim Thi sia, tahu-tahu sapuan pemuda itu sudah bersarang telak ditubuh bagian bawahnya.

orang itu menjerit kesakitan, sambil berteriak ngeri badannya roboh terjungkal ketanah.

Kim Thi sia segera menyambar badannya lalu dicengkram bagaikan burung elang menangkap ayam kecil, setelah digaplok beberapa kali bentaknya keras:

"Barang siapa berani bergerak lagi secara sembarangan, aku segera akan membunuh orang ini." Betul juga, kawanan lelaki kekar itu serentak mengundurkan diri kebelakang dan mengawasi lawannya dengan wajah tertegun-

"Sekarang katakan segera, apa maksud kalian melakukan pemeriksaan- Kalau tidak dijawab, hati-hati kalau kubunuh bangsat ini."

Belum habis perkataan tersebut, mendadak terdengar putri Kim huan berteriak keras: "Hey, cepat menyingkir"

Kim Thi sia sadar, tentu ada sesuatu yang tidak beres, dengan cepat dla berpaling.

Ternyata seorang lelaki setengah umur berbaju ringkas warna hijau dan berwajah licik telah berdiri dibelakang tubuhnya, dari kehadirannya yang sama sekali tidak terasa, dapat disimpulkan bahwa ilmu meringankan tubuhnya benar-benar amat sempurna. Baru saja Kim Thi sia hendak menegur: "Mau apa kau?"

Mendadak orang itu sudah mengancam dengan suara dingin-

"Jangan bergerak sobat, kalau tidak akupun tak akan mengampuni jiwamu."

Tahu-tahu pinggangnya telah disentuh semacam benda keras membuat tenaganya punah secara tiba-tiba, otomatis lelaki yang berada dicengkeramannyapun terlepas dari genggaman dan jatuh keatas tanah.

"Pengawal, bekuk dulu perempuan itu" terdengar jago pedang setengah umur itu berseru kembali.

Kim Thi sia gusar sekali, teriaknya:

"siapa berani menyentuh, aku tak akan mengampuninya. "

Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, tahu-tahu pinggangnya terasa kaku, disusul kemudian terdengar jago pedang setengah umur itu berkata dengan suara dingin: "sobat, nyawamu sudah berada ditanganku, lebih baik bersikaplah lebih tenang."

Kim Thi sia tertunduk sedih, apalagi melihat putri Kim huan sudah ditangkap dua orang lelaki kekar, dengan rasa pedih pikirnya:

"Biarpun harus menyerempet bahaya, aku harus membalas sakit hati ini."

Diapun mengambil keputusan untuk menyerang secara mendadak, sekalipun selembar jiwanya dibuat pertarungan.

siapa tahu, belum sempat dia melakukan sesuatu tindakan, mendengar suara gelak tertawa yang sangat aneh berkumandang datang.

Menyusul gelak tertawa terdengar suara si unta berteriak pula dengan nada khasnya:

"Hey toako, jangan terburu napsu, aku segera akan mengirimmu untuk pulang ke see thian-" Dengan gusar jago pedang setengah umur itu membentak:

"Hey sobat, bila kedatanganmu untuk mencari gara-gara. Hmmmm, tindakanmu itu kelewat bodoh. "

si unta segera meludah, lalu jengeknya lagi sambil tertawa cengar cengir:

"Eeei toako, buat apa sih kau bersikap galak kepadaku? Aku tak suka diperlakukan dengan kasar, bersikaplah lebih lunak kepadaku. "

Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya:

"Hey bocah kunyuk. nona manis, kita bersua lagi. Haaaah.....haaaah. walaupun kalian

berdua benci kepadaku, tapi sekarang aku telah menjadi tuan penolong kalian berdua. Masa kalian tidak berterima kasih kepadaku? Haaaah....haaaah.......haaaah. "

Jago pedang setengah umur itu tak kuasa menahan amarahnya lagi, kembali bentaknya keras- keras: "Hey sobat, bila kau tidak tahu diri terus menerus, jangan salahkan kalau aku tak berlaku sungkan-sungkan lagi."

"Eeeei loko, sekarang jalan darah tertawa dan menangis mu sudah berada dibawah kekuasaan- Bila kusuruh kau menangis, kau segera akan menangis, bila suruh tertawa, kau pun segera akan tertawa, karena itu bila kau tak pingin menjadi orang edan, lebih baik kurangi gertak sambalmu yang menyebalkan itu" teriak si unta keras-keras.

Jago pedang setengah umur itu sangat murka, mendadak ia melepaskan sebuah gempuran sedikit suarapun-

Kim Thi sia mendengus tertahan, dengan cepat dia melepaskan pula sebuah serangan balasan- "Blaaammmmm. "

Ketika dua gulung tenaga saling bertemu, terjadilah suara bentrokan keras yang menyebabkan tubuh kedua orang itu sama-sama bergoncang keras.

Hampir pada saat yang bersamaan, enam tujuh orang lelaki kekar yang berada diseputar arena serentak meloloskan senjata masing-masing sambil menerjang maju kemuka.

Saat itulah si unta telah mencengkram ujung baju lelaki setengah umur tadi sambil membetotnya kebelakang.

Jago pedang setengah umur itu jadi sempoyongan dan mundur terhuyung kebelakang. Kembali si unta berteriak keras:

"Toako sekalian tak perlu gelisah, setiap perkataanku pasti akan kujalankan sebaik-baiknya, kalau kuberjanji akan mengirim dia ke see thian, sudah pasti dia akan kuhantar ke see thian- Kalian tunggu saja dengan sabar, jangan mendesakku terus-terus an. "

"Dan sekarang. " si unta melirik sekejap kearah putri Kim huan, kemudian melanjutkan-

"Kuharap lo toako suka tertawa lucu, agar sinona cantik merasa agak terhibur hatinya."

Putri Kim huan merasa amat sebal melihat tampangnya yang tengik itu, dengan gemas dia cemburu dan melengos kearah lain.

Mendadak jago pedang setengah umur itu tertawa tergelak. seakan-akan telah bertemu dengan suatu kejadian yang lucu sekali. Ia tertawa terpingkal-pingkan sampai air matanya bercucuran-

Putri Kim huan yang menyaksikan peristiwa ini menjadi tertegun, pikirnya keheranan-"Hebat benar kepandaian orang ini, masa disuruh tertawa dia lantas tertawa?"

Tentu saja sinona yang tak mengerti ilmu silat ini tak tahu kalau jalan darah tertawa orang itu sudah tertotok sehingga tertawapun bukan muncul atas kemauannya sendiri

sebaliknya Kim Thi sia berpikir dengan tak senang hati:

"Musuh besar didepan mata, ia masih berminta untuk bergurau dengan musuh. Hmmm, kalau hal ini sampai menarik perhatian komplotan lainnya, bisa berabe jadinya lebih baik aku kabur

saja dari sini."

Maka sewaktu melihat putri Kim huan masih berada dalam cengkeraman musuh, diapun menyusun rencana untuk menyelamatkan gadis tersebut.

sementara itu semua orang masih tertegun dibuatnya menyaksikan pemimpin mereka dipermainkan si unta, untuk sesaat mereka tak tahu bagaimana mesti berbuat untuk mengatasi kejadian itu.

Karenanya sewaktu Kim Thi sia bergerak mendekati mereka, ternyata tak seorangpun yang mengetahuinya.

Dengan cepat Kim Thi sia memberi kerdipan mata kepada putri Kim huan, sinona memahami maksudnya dan tiba-tiba meronta dengan sekuat tenaga. Ternyata rontaannya kali ini berhasil melepaskan diri dari cengkeraman lelaki itu, begitu bebas seperti anak kecil yang ketakutan saja cepat-cepat dia lari menuju kesamping Kim Thi sia.

Dengan cepat pemuda itu menyambut kedatangan sinona dan menyembunyikannya dibelaka tubuhnya.

Paras muka putri Kim huan nampak pucat pias seperti mayat, sekalipun sudah lolos dari cengkeraman musuh namun rasa kagetnya belum juga hilang. Ia menghembuskan napas panjang dan bergumam:

"Hmmm. sungguh berbahaya, coba kalau dia tidak menarik perhatian orang lain untuk

dialihkan kearah lain. "

"Sudah, kau jangan menyinggung dia lagi, orang itu jahat sekali" tukas Kim Thi sia cepat.

Dalam pada itu gelak tertawa jago pedang berusia pertengahan itu telah berubah menjadi isak tangis yang amat memedihkan hati, yang begitu sedihnya suara tangisan tersebut, seperti orang yang kematian orang tua saja...

Putri Kim huan sangat keheranan oleh kejadian ini, tak tahan segera tanyanya: "Apa sih yang dia lakukan?"

"Mengapa orang itu sebentar bisa menangis sebentar bisa tertawa?" "Coba kau perhatikan tangannya "

Ketika putri Kim huan mencoba memperhatikan tangan si unta, benar juga tangannya yang kurus kering itu sedang menempel dipinggang jago pedang setengah umur itu sementara jari telunjuk dan jari tangannya mencengkeram diatas pinggang orang itu.

Agaknya putri Kim huan belum juga mengerti, dengan wajah keheranan dia bertanya lebih jauh:

"Dengan berbuat begitu saja, mengapa dia bisa membuat orang itu tertawa dan menangis?" "Tentu saja, sebab disitulah letak suara tertawa dan menangis. Kalau tak percaya coba buktikan

atas dirimu."

Putri Kim huan yang terpengaruh rasa ingin tahunya segera meniru letak jari tangan si unta dan mencengkeram pinggang Kim Thi sia.

Tiba-tiba saja pemuda itu nampak bergetar keras menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak dengan suara yang amat nyaring.

Putri Kim huan sangat terkejut dan buru-buru melepaskan tangannya, dengan cepat Kim Thi sia pun berhenti tertawa.

Melihat hal ini, putri Kim huan merasa gembira sekali, katanya kemudian dengan bersemangat: "Benar-benar menarik sekali, tiba-tiba saja aku ingin belajar silat, bersediakan kau?"

Kim Thi sia mengetahui maksud hatinya, cepat dia menggeleng seraya berkata:

"Percuma kau belajar silat, engkau adalah putri kesayangan kaisar negeri Kim, dihari-hari biasa kaupasti dikawal banyak orang sehingga boleh dibilang tidak perlu engkau bersusah payah untuk mempelajari sendiri Apalagi belajar silat itu berat dan mesti mengalami berbagai penderitaan, kau tak bakal tahan menghadapi penderitaan tersebut."

"Buat apa kau mengajukan alasan sebanyak ini? Katakan saja kalau keberatan, aku tog segera paham maksudmu."

"Kalau kau menyuruh aku berkata demikian yaa terpaksa aku harus berkata demikian." Putri Kim huan semakin tak senang hati, dia menundukkan kepalanya tanpa berkata lagi,

namun keinginannya untuk belajar silat justru makin membara pikirnya: "Banyak orang pandai didarata n Tionggoan, dimana-mana orang gagah bermunculan.

HHmmm, sekalipun kau enggan memberi pelajaran kepadaku, memangnya aku tak bisa belajar dari orang lain?"

sementara itu, sijago pedang berusia pertengahan itu sudah berhenti menangis, dengan napas tersengkal-sengkal dia berkata:

"Sobat, mau dibunuh, bunuhlah mau dicincang silahkan, tapi bila kau mempermainkan aku terus menerus dengan cara begini aku akan memaki nenek moyang tiga generasimu."

Tampaknya dia sudah cukup menderita oleh siksaan si unta sehingga nada pembicaraannya tidak segarang tadi lagi. Dengan suara melengking si unta segera berteriak

"Lo toako, terus terang saja kubilang, seandainya kuinginkan nyawamu maka semenjak tadi kau sudah mampus aku sengaja bermesrahan denganmu selama ini tak lain karena kuharap kau pergi dengan tenang bersama semua benggolmu, dan sampaikan kepada pemimpin kalian bahwa aku sudah terbiasa memaki siapa saja, termasuk juga dirinya, bila dia merasa tak boleh dimaki, maka aku pingin tahu apakah dia memang berwajah lain daripada yang lain sehingga tak boleh dimaki orang, atau mungkin pendidikannya kelewat rendah sehingga tidak tahan dimaki orang"

"Kalau kau jantan tinggalkan namamu" seru jago pedang setengah umur itu dengan penuh kebencian-

"Aku disebut orang kuda berbisul dipunggung"

setengah mengerti setengah tidak jago gedang berusia pertengahan itu manggut- manggut, tanpa banyak bicara lagi dia segera beranjak pergi dari tempat itu.

Menanti bayangan punggung orang-orang itu sudah lenyap dari pandangan, si unta baru berjalan mendekat sambil tertawa terkekeh-kekeh, lalu setelah memberi hormat, dia menyodorkan telapak tangannya kedepan bersikap meminta sesuatu.

"Eeei apa yang kau minta?" Kim Thi sia menegur keheranan.

"Anak muda, kau benar-benar tidak tahu diri" ucap si unta sambil cengar cengir, "kalau sudah bersantap dirumah makan, bukankah kau mesti membayar? setelah menginap dirumah penginapan tentu membayar? Nah, apa salahnya bila akupun memungut ongkos pertolongan setelah kutolong jiwa kalian berdua barusan." Kim Thi sia mendongkol sekali, tanpa sungkan- sungkan dia berkata:

"Itukan atas kehendakmu sendiri, aku juga tidak menyuruh kau menolong kami berdua, lantas apa hubungannya denganku?"

Bagaikan awan hitam yang terhembus angin, dalam waktu singkat air muka si unta telah berubah menjadi amat tak sedap. umpatnya keras-keras:

"Maknya kau sibocah kunyuk. jangan berusaha main sabun denganku, jadi kau anggap ikan dan udang ditangkap untuk sayurpun kehendak mereka sendiri untuk ditangkap?"

Putri Kim huan yang berasal dari keluarga terpandang, nampaknya segan ribut dengan orang lain gara-gara uang, dengan penampilan yang menyaksikan dia bertanya: " Katakan saja, berapa ongkos pertolongan yang kau minta?"

Kembali senyuman menghiasi wajah si unta, sambil memperlihatkan ketiga jari tangannya dia berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Heeeeh......heeeeeh tidak banyak. tidak banyak.

cuma seangka ini saja"

Steelah berhenti sejenak. mungkin takut putri Kim huan enggan memberi jumlah tersebut, buru-buru dia menambahkan:

"Terus terang saja kubilang, selama hidup aku paling benci dengan segala bentul pemerasan, berapa banyak pekerjaan yang kuselesaikan, berapa banyak pula ongkos kutarik, setelah dibayarpun aku tak bakal minta bayangan......maka. " "Tiga puluh tahil perak yang kau inginkan?" tukas putri Kim huan tanpa berpikir. si unta tertegun, setelah memandang sekejap kearah si nona dia berpikir:

"Aku kira tiga tahilpun kau enggan membayar, eeeh. siapa tahu kau malah menawarkan tiga

puluh tahil, ini yang kubilang pucuk dicinta ulam tiba, kebenaran bagiku." sambil tertawa yang dibuat-buat, dia segera menyahut:

"Betul, betul tiga puluh tahil perak. Harap nona sudi memaklumi aku memang hidup berkelana dalam dunia persilatan, kebetulan bekalku habis, tanpa sandang tanpa pangan toh mustahil bagiku untuk hidup karenanya kuharap."

"Tidak mengapa" sela putri Kim huan lagi.

ia segera merogoh kedalam sakunya mengeluarkan selembar uang kertas kemudian ujarnya lebih jauh:

"ambillah seratus tahil perak ini, kembalinya tak usah kau serahkan lagi kepadaku"

sikap seorang nona bangsawan memang berbeda dengan orang biasa, biarpun seratus tahil sudah cukup untuk biaya hidup satu keluarga kecil selama tiga tahun penuh, namun gadis itu menyodrokan uang kertas dilihat lagi.

Si unta nampak agak tertegun, lalu sambil tertawa cengar cengir ia memburu kedepan untuk menerimanya.

Mendadak Kim Thi sia menyerobot maju kedepan dan merampas uang tadi sambil mengumpat: "Hey tua bangka, katanya saja seorang jago kenamaan dari dunia persilatan- Hmmm, masa

perbuatan memalukan seperti inipun kau lakukan? Aku sungguh merasa malu untukmu." sambil mengembalikan uang tadi kepada putri Kim huan, dia berkata lebih jauh:

"Kalau ingin melakukan perbuatan yang memalukan, lakukanlah terhadap bangsa sendiri, kau tak boleh menjual muka bangsa kita dihadapan suku asing. Hey tua bangka, bila kau berani buka suara lagi, jangan salahkan kalau aku akan mengajakmu bertarung habis-habisan-"

"Telur busuk jelek. nampaknya kau memang selalu bermaksud main gila denganku" teriak si unta pula. "Mulutmu memang berbicara sangat merdu, padahal siapa tahu apa yang kau pikirkan? Hmmm, bukan kau takut uang yang mengalir keluar terlalu banyak akan mengurangi jatah-jatah yang bekal kami terima sendiri. "

Kim Thi sia gusar sekali, sambil mengepal tinjunya dia membentak penuh amarah.

"Tua bangka celaka, kau berani menfitnah orang dengan perkataan yang tak senonoh? Aku akan menuntut keadilan darimu."

Baru saja si unta hendak mengucapkan sesuatu lagi, mendadak dari kejauhan sana terdengar seseorang berteriak keras: "Ayoh cepatan sedikit, mereka belum pergi"

Pada jarak sepuluh kaki didepan sana, tampak bayangan manusia berkelebat lewat dan muncullah serombongan manusia yang bergerak mendekati arena. Gerak g erik mereka sangat ringan bagaikan burung elang yang terbang diangksa, dalam berapa kali lompatan saja tubuh mereka sudah berada didepan mata. Dengan penuh rasa gemas si unta segera berseru:

"Siapa suruh kau sikura-kura kecil enggan membayar ongkos pertolongan? sekarang musuh telah datang lagi, maaf kalau aku tak punya semangat untuk mengurusi lagi."

Selesai berkata ia segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan melejit setinggi empat lima kaki ketengah udara, kemudian dengan kecepatan luar biasa menyusup masuk kebalik hutan-

Sementara itu kawanan musuh telah menyebarkan diri keempat arah delapan penjuru, jelas mereka berniat menangkap Kim Thi sia dalam keadaan hidup-hidup. Dalam keadaan demikian, Kim Thi sia pun sadar kalau situasinya berbahaya sekali, dalam paniknya satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, dengan cepat dia menyambar segenggam pasir lalu diayunkan kedepan-

Kemudian menggunakan kesempatan disaat semua orang lagi panik mengucak mata, pemuda itu menyambar pinggang putri Kim huan dan diajak kabur masuk kedalam hutan-

Bagi umat persilatan sebetulnya beriaku pantangan memasuki hutan yang gelap, tapi kawanan manusia itu tak ambil perduli, dengan mengandaikan jumlah yang lebih banyak mereka melakukan pengejaran masuk kedalam hutan-

Sementara itu Kim Thi sia sudah merasa agak lega setibanya dalam hutan, meski rembulan bersinar cerah namun sukar menembusi setiap kegelapan yang mencekam sekeliling tempat itu, suasanapun amat sepi.

sambil memeluk tubuh putri Kim huan, pemuda itu bersembunyi dibalik pohon sambil mengintip kemuka dan mengawasi gerak gerik musuh.

Rupanya pihak lawan berjumlah delapan orang yang terbagi dalam dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari empat orang dan berjalan didepan, mereka membabat ranting dengan pedangnya sambil bergerak kedepan-

orang-orang itu semuanya memakai baju ringkas dan bermata tajam, dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa mereka adalah jagoan yang bertenaga dalam sempurna.

Diam-diam Kim Thi sia amat terkejut, andaikata putri Kim huan tak berada disini, dia pasti akan melakukan perlawanan tapi...

"Mana dia?" tiba-tiba putri Kim huan berbisik.

Menyinggung soal si unta, Kim Thi sia mengerutkan dahinya kencang-kencang sambil menjawab singkat: "Sudah kabur."

"Bagaimana dengan kita?" tanya putri Kim huan lagi mulai tegang. "Apakah kau sanggup menghadapi mereka?"

"Aku tidak yakin, yang pasti lebih banyak bahayanya daripada keberuntungan-" "Apakah mereka akan membunuhmu?"

"Mungkin "

"Kau takut?"

"Dan kau?" Kim Thi sia balik bertanya.

Putri Kim huan segera menghela napas panjang sambil membenamkan kepalanya dalam pelukan pemuda itu, lamat-lamat sang pemuda dapat mendengar detak jantungnya yang keras. selang berapa saat kemudian.......

Mendadak putri Kim huan mendongakkan kepalanya lagi dan menatap pemuda tersebut dengan matanya yang terbelalak lebar, tanyanya lagi dengan suara lirih: "Apakah kita akan mati bersama?"

Kim Thi sia tak berani menatap pandangan gadis tersebut, sengaja dia mengalihkan perhatiannya mengawasi gerak gerik musuh kemudian menjawab:

"Hal ini tak mungkin akan terjadi, sebab bila kau yang tertangkap maka musuh akan menyekapmu serta memperlakukan dirimu secara baik, sebaliknya bila kau yang tertangkap maka hanya jalan kematian yang kuperoleh. "

"Mengapa bisa begitu?" "sebab kau adalah wanita."

"Apakah bangsa Han kalian tidak akan menganiaya kaum wanita?" "Bukan begitu, wajahmu amat cantik,  mereka  tak  akan  tega  mencelakai  jiwamu" "ooooh " setelah menghela napas putri Kim huan berkata. "Mungkin seandainya mungkin,

aku bersedia mempunyai wajah lebih jelek."

"Hal itu tidak mungkin terjadi. Hey, mengapa sih kau senang membicarakan persoalan yang tak mungkin akan terjadi."

Jelas Kim Thi sia sudha habis kesabarannya, musuh tangguh berada didepan mata, kini ia butuh waktu untuk berpikir dan berusaha mencari jalan keluar untuk keluar dari kepungan tersebut.

Putri Kim huan jadi mengambek. dia menarik kembali tangannya serta menjaga jarak sejauh satu depa lebih dari pemuda itu.

Kim Thi sia kembali tertegun, dia tidak habis mengerti kenapa gadis tersebut bersikap begini, namun diapun tidak banyak komentar.

Dalam pada itu dua orang jago lihay telah mendekati kearah tempat persembunyian mereka, pedang yang diayunkan berulang kali membabat habis semua ranting yang menutupi pandangan, andaikata mereka meneliti lebih seksama lagi, sebenarnya tidak susah menemukan jejak lawannya.

Kini, selisih jarak tinggal tiga kaki diam-diam Kim Thi sia mengambil sebutir batu dan memerintahkan putri Kim huan untuk tahan napas, lalu dia menghimpun tenaga siap melakukan serangan-Mendadak........

Disaat yang amat kritis inilah putri Kim huan berteriak keras: "Ular.......ular. "

Kim Thi sia sangat gusar, tak sempat menjawab lagi lengannya segera diayunkan kedepan, batu itu segera meluncur kedepan dengan membawa desingan angin tajam dan langsung menyerang lelaki berbaju ringkas yang berada dipaling muka.

Tampaknya kedua orang jago itu cukup cekatan, serentak mereka menghentikan langkahnya dan menangkis dengan pedangnya. "Traaaaangggg. "

Dimana cahaya hijau berkelebat lewat. Batu itu sudah tertangkis hingga mencelat kesamping. Menggunakan kesempatan inilah Kim Thi sia menendang ular berbisa itu hingga mencelat jauh.

ketika memandang lagi kearah putri Kim huan, tampak gadis itu berdiri dengan badan gemetar

dan wajah pucat pias seperti mayat, ia menjadi tak tega dan segera memaafkannya.

Ular berbisa yang tertendang tadi nampak bergulingan diatas tanah lalu bangkit kembali secepat kilat binatang itu menyambar kedepan dan kali ini menyerang Kim Thi sia.

Anak muda ini memang tak malu disebut lelaki jantan, dia panik menghadapi bahaya, tiba-tiba kakinya menendang ular tersebut sementara tangannya menyambar lehernya.

Ular berbisa itu berpekik aneh, ekornya mendadak menggulung sambil menyapu balik. Kontan saja pemuda itu tak mampu berdiri tegak lagi dan jatuh terjerembab keatas tanah.

Untung saja ia sudah lama hidup diatas gunung dan cukup menguasai watak binatang berbisa itu, begitu berguling ditanah sepasang tangannya yang mencengkram leher siular segera membetotnya dengan sekuat tenaga. "Kraaaaaaakkkkk. "

Tulang leher ular itu seketika terlepas dari persendiannya, dengan begitu tak punya tenaga lagi untuk menyerang pemuda kita.

Kim Thi sia membentak keras, sambil melompat bangun dia melemparkan bangkai ular berbisa sepanjang satu kaki itu kearah dua orang musuhnya yang sementara itu menerjang tiba.

Kedua orang itu segera merasakan pandangan matanya jadi gelap. buru-buru pedang mereka dibabat kemuka. Percikan darah segar menyembur kemana- mana membuat dua orang tadi terkejut. Cepat- cepat mereka melompat mundur kebelakang sekalipun tindakan mereka cukup cekatan, tak urung darah ular sempat menyembur mengotori wajah serta badan mereka.

Kim Thi sia tidak membuang waktu, dia menyambar tubuh putri Kim huan dan diajaknya kabur lagi kedalam hutan.

Kali ini baru lari sejauh berapa kaki, mendadak dari arah depan muncul kembali dua orang musuh yang menghadang jalan pergi mereka.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Kim Thi sia melontarkan serangan gencar kedepan-

Dua orang jago itu tertawa dingin serentak mereka lancarkan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

"Blaaaammmmmmm. "

Benturan nyaring bergema memecahkan keheningan, tubuh kedua orang yang jago itu nampak bergetar keras, sebaliknya Kim Thi sia terdorong mundur sejauh lima langkah dan hampir saja jatuh terjungkal.

"Aku lihat. aku lihat kita menyerah saja" bisik putri Kim huan tiba-tiba dengan suara

gemetar karena kaget.

"Tidak bisa" tampik Kim Thi sia cepat. "sikap seperti itu bukan tindakan seorang gagah, aku tak sudi melakukannya."

Dalam waktu singkat penggeledahan telah dihentikan, semua jago pun telah berkumpul disitu serta mengepung Kim Thi sia berdua ditengah arena.

Dengan gusar pemuda itu berseru:

"Lebih baik kalian maju bersama-sama, siapa yang takut kepada kalian, dia bukan seorang lelaki jantan."

Ketika mendengar perkataan itu, sijago pedang bertubuh jangkung yang berdiri dipaling muka segera tertawa seram, dengan sinar matanya setajam sembilu jengeknya:

"Bocah keparat, kau salah alamat bila menganggap dirimu sebagai seorang lelaki sejati.

Hmmm, kulihat lebih baik kau menyerah saja."

sambil berkata, tiba-tiba dia mendesak maju kedepan dan melancarkan sebuah cengkraman maut.

Kim Thi sia segera melakkukan tangkisan, tiba-tiba dia berteriak kesakitan dibawah sinar yang redup tampaklah sebuah mulut luka sepanjang satu inci telah muncul diatas lengannya, darah segar jatuh bercucuran membasahi seluruh badannya. Kejadian ini kontan saja menggusarkan hatinya dnegan geram dia berteriak keras:

"Hmmm, kalau melukai orang dengan menggunakan akal busuk bukanlah perbuatan seorang gagah bila memang bernyali, ayoh kita lakukan pertarungan secara blak-blakan."

orang itu tertawa keras, sepasang telapak tangannya direntangkan lebar-lebar sementara kesepuluh jari tangannya itu dengan luka yang berapa inci panjangnya mencuat persis seperti mata pisau yang tajam, tak heran kalau pemdua tersebut terluka oleh sambaran kukunya.

Terdengar dia berkata sambil tertawa dingin-

"Bocah keparat, siapa suruh kau tak tahu diri. Hmmm, jangan harap kemampuanmu itu mampu untuk menahan ilmu Ci ka sikang ku"

Kim Thisia gusar sekali, sambil membentak keras dia melancarkan sebuah pukulan kedepan-
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(