Lembah Nirmala Jilid 20

 
Jilid 20

Jeritan tertahan bergema memecahkan keheningan, tubuh Kim Thi sia mencelat ketengah udara dan teriempar mundur kebelakang.

Sebaliknya nenek itu terhantam oleh serangan Kim Thi sia persis pada lambungnya. Berasa hawa murni membuyar kemana-mana sambil mendengus tertahan tubuhnya mundur dua langkah kebelakang.

Sambil berusaha keras menahan gejolak hawa murninya, nenek itu mengumpat dengan gemas: "Bocah keparat, kau sangat menggemaskan biar mampuspun rasanya kegemasanku belum bisa

hilang."

Sementara itu putri Kim huan telah manfaatkan kesempatan itu untuk mengundurkan diri kebelakang, ketika mendengar nenek itu memaki Kim Thi sia, seketika itu juga timbrungnya: "Dugaanmu keliru, dia tak akan takut digeblek."

Ternyata apa yang diduga memang benar, Kim Thi sia yang terpental sejauh tiga kaki lebih itu segera meronta sambil melejit bangun lalu serunya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Hey nenek, aku belum mampus kenapa kau mengumumkan kematianku lebih dulu?"

Berubah hebat paras muka nenek itu, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan seperti seekor burung rajawali, dia melintas diangkasa dan melancarkan serangan dengan menggunakan toyanya.

Dengan cekatan Kim Thi sia berkelit kesamping. "Blaaaaammmmmm" diatas tanah segera

muncul sebuah liang besar. Kembali Kim Thi sia tertawa tergelak.

"Haaaah......haaaaah.....haaaaah. si nenek kau jangan sewot dulu. Mari kita bertarung pelan-

pelan. "

"Hmmmm, apa yang bisa kau perbuat terhadapku, dengan mengandalkan ilmu luar semacam begitu" jengek sinenek sambil tertawa dingin. "Tongkat naga emasku ini khusus dipakai untuk merusak ilmu khikang pelindung badan. Hoy bocah keparat, saat ajalmu sudah tiba."

seraya berkata, tongkatnya dengan membawa desingan angin tajam menyambar kemuka dengan hebatnya.

Kim Thi sia melangkah maju tiga langkah kesamping untuk meloloskan diri dari serangan tersebut, lalu dengan mengeluarkan jurus " kehidupan semu membingungkan hati" dan "kejujuran bagaikan batu emas" Tay goan sinkangnya dia menciptakan selapis bayangan tangan untuk mencengkeram nenek itu......

sinenek amat terkejut, dia menggetarkan pula tangannya, diiringi dengungan nyaring dari sebuah serangan totokan dirubahnya menjadi bacokan. Dengan menciptakan selapis bunga-bunga toyadia kurung tubuh lawan dengan amat rapatnya. Jurus serangan yang dipergunakan ini adalah jurus "selaksa toya menyemburkan api" dari ilmu toya naga emas. Bukan saja hebat juga memiliki perubahan yang amat banyak sehingga kemanapun musuh menghindar sulit baginya untuk melepaskan dari kurungan tersebut.

Rupanya nenek itu sudah menjadi gusar karena malu agaknya ia berniat membinasakan Kim Thi sia seketika itu juga.

Baru saja serangan Kim Thi sia mencapai sasaran yang kosong bahunya sudah termakan oleh serangan toyaitu. Ia menjerit kesakitan lalu roboh terjungkal kebelakang.

Begitu serangannya berhasil menghajar musuhnya, dengan cepat nenek itu melancarkan serangan kembali dengan jurus "tongkat panjang menggapai sukma" dalam waktu singkat angin serangan menderu- deru bertitik-titik cahaya emas memancar keempat penjuru bagaikan sebuah jala.

Tiba-tiba melejit tiga titik cahaya bintang dari beberapa ujung toya yang mengancam jalan darah tulan leng hiat, tee hiat serta dengan lambung anak muda tersebut, padahal ketiga jalan darah itu merupakan jalan darah kematian, barang siapa terkena serangan bakal tewas seketika.

Dengan demikian keadaan Kim Thi sia menjadi kritis dan berbahaya sekali, sehingga tanpa sadar putri Kim huan menjerit kaget.

Dalam keadaan demikian Kim Thi sia tak sempat berpikir panjang lagi, disaat ujung toyahampir menyentuh tubuhnya, tiba-tiba saja ia melejit kesamping serta melancarkan sebuah sapuan dengan kaki kirinya, kemudian dengan jurus " menuding langit selatan dengan pedang" sepasang tangannya melancarkan serangan berantai.

Biarpun nenek itu sangat berpengalaman dan memiliki kepandaian silat yang tangguh, tak urung dia dibuat kebingungan juga menghadapi ancaman tersebut.

Menanti dia sudah memahami akan kehebatan dari ilmu pukulan Kim Thi sia tersebut, tahu- tahu tubuh bagian bawahnya sudah termakan oleh sambaran kakinya, disusul kemudian serangkaian pukulan menghantam tiba.

Cepat-cepat dia menutup jalan darah sambil menghimpun tenaga dalam. seketika itu juga badannya terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.

Dengan cepat Kim Thi sia melompat bangun, wajahnya sama sekali tak berubah karena menghadapi keadaan yang amat kritis tadi, malah sebaliknya semua persoalan yang dihari biasa serasa menyumpat pikirannya kini sama sekali sudah tertembusi, tanpa terasa senyum gembira pun menghiasi wajahnya.

Untung nenek itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, begitu mengatur pernapasan.

Kekuatan badannya telah pulih kembali seperti sedia kala, namun secara diam-diam dia harus memuji kehebatan Kim Thi sia. otomatis penilaiannya terhadap pemuda itupun meningkat sepuluh kali lipat.

sekalipun tenaga dalam yang dimiliki pemuda ini masih belum mampu menandingi kemampuan sendiri, tapi jurus aneh yang dipergunakan secara tiba-tiba sangat tangguh dan pada hakekatnya susah untuk dilawan.

Hatinya menjadi dingin separuh, dia tak berani lagi mencari gara-gara secara gegabah. selangkah demi selangkoh dia berjalan mendesak maju kemuka, toyanya ditancapkan keatas

tanah kuat-kuat hingga ujung toyanya melesak sedalam berapa depa ketanah dan toya mendengung keras.

Dari sini terbukti sudah betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki nenek itu.

Tiba-tiba terdengar sekali keritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan, dengan perasaan berdebar serentak sinenek, Kim Thi sia dan putri Kim huan berpaling kearah arena pertarungan- Rupanya salah seorang diantara keenam orang jago lihay yang dibawa nenek tersebut sudah terhajar oleh sambaran tangan seorang raksasa hingga tubuhnya mencelat sejauh tiga, empat kaki dan roboh terkapar diatas tanah untuk tak bangun lagi selamanya. Dengan gemas nenek itu segera bergumam:

"Manusia yang tak berguna, hmm sungguh bikin malu orang lain saja "

sebaliknya putri Kim huan nampak tersenyum lega, namun senyuman tersebut tak bisa bertahan terlalu lama, sebab Liong ciangkunnya kembali terkepung oleh lima orang musuh dan posisinya terjerumus dalam keadaan yang amat berbahaya.

Hon ciangkun dan Pa ciangkun sudah terdesak keluar dari lingkaran barisan Nao song tin yang diciptakan lawan, betapa pun mereka membentak gusar namun usaha untuk menerjang masung kedalam arena tak pernah berhasil, dengan begitu kerja sama dalam barisan sam tau tin merekapun sudah dihancurkan musuh.

Tiba-tiba Liong ciangkun menjadi kalap. tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri, ia menerjang maju kedepan sambil menyerap dua orang musuh yang berada disisi kiri.

Waktu itu kedua orang tersebut juga sudah marah, mereka tidak menghindar, bukannya mundur kedua orang tadi justru mendesak kemuka dan menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Blaaaaammmmmm."

Ditengah benturan yang amat keras, terdengar suara seseorang memekik gusar dan dua kali jeritan kesakitan yang memilukan hati.

Ketiga orang tersebut sama-sama sudah tergempur oleh serangan musuh yang maha dahsyat hingga roboh terkapar diatas tanah dan sama-sama kehilangan nyawa.

Liong ciangkun dengan kemampuannya satu melawan dua mesti berhasil membinasakan lawan. Akan tetapi dia sendiripun tak dapat menghindarkan diri dari sergapan lawan. Empat buah pukulan yang bersarang ditubuhnya membuat isi perutnya hancur dan tewas seketika.

sambil menjerit nangis putri Kim huan lari kedepan sambil menggoyang-goyangkan jenasah Liong ciangkun. Tentu saja tubuh tersebut yang tak pernah bisa bergerak lagi dalam putus asanya ia berteriak keras lalu roboh tak sadarkan diri

Hou ciangkun dan Pa ciangkun menjadi sangat berang, dengan sepasang mata berapi-api dan menggertak gigi kencang-kencang mereka mendesak maju kemuka dalam keadaan begini.

Mereka sudah tidak memikirkan keselamatan diri lagi, bagaikan banteng terluka mereka menggempur ketiga orang musuhnya habis-habisan.

Rasa dendam kesumat yang berkobar dengan tewasnya rekan masing-masing membuat pertarungan berjalan makin sengit. Kedua belah pihak sama-sama nekad dan berusaha adu jiwa. Hal ini membuat suasana menjadi mengerikan sekali......

Menghadapi perubahan situasi yang sama sekali tak terduga ini, sinenek menjadi tertegun dan untuk sesaat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun-

Tiba-tiba Kim Thi sia membentak keras:

"Kini, kedua belah pihak sudah saling bermusuhan, aku lihat kitapun tak bisa menganggur terus, lihat serangan"

seraya membentak tubuhnya mendesak maju kemuka, sepasang telapak tangannya segera diayunkan kedepan melancarkan sebuah serangan yang maha dahsyat. sinenek yang berada tiga depa dihadapannya itu tiba-tiba saja membentak keras:

"Hoy bocah keparat, rupanya kau pun memiliki tenaga dalam. Hmmm, kalau begitu kau sengaja menyembunyikan kepandaianmu tadi "

seraya berkata dia melancarkan sebuah sapuan pula kedepan. Ucapan mana kontan saja membuat Kim Thi sia menjadi tertegun, pikirnya tanpa terasa: "semenjak kapan aku mempelajari ilmu pukulan tenaga dalam."

Dalam keadaan begini, dia tak sempat lagi untuk berpikir panjang, dengan cepatnya tenaga kekuatan masing-masing membentur satu sama lainnya.

Kali ini Kim Thi sia hanya terdesak mundur sejauh tiga langkah, hal tersebut membuat hatinya menjadi girang setengah mati, segera pikirnya:

"Jangan-jangan tenaga dalam yang berhasil kuhisap dari tubuh musuh telah mendasar didalam pusar hingga tenaga dalamku telah memiliki dasar yang kuat. ? Kalau tidak, sebelum

seranganku tiba, mengapa pihak musuh sudah merasakan tenaga seranganku?"

Dalam waktu singkat pemuda ini telah memahami ucapan dari nenek tersebut, bahkan semakin dipikir semakin benar, seperti menemukan mestika saja, ia menjadi kegirangan setengah mati.

Untuk membuktikan kebenaran dari pikiran tadi, tiba-tiba saja dia melepaskan sebuah pukulan kembali.

Benar juga, ternyata nenek itu melepaskan pula sebuah pukulan dari jarak berapa depa untuk menyambut datangnya ancaman tadi.

Dalam gembiranya pemuda itu semakin bersemangat, tanpa banyak bicara dia segera melancarkan serangkaian serangan berantai.

Nenek itu makin bertarung makin gusar dia menyerang terus dengan tenaga pukulan yang semakin hebat.

Kim Thi sia sendiri masih mundur terus tiada hentinya dengan lagak terdesak dan tak mampu menahan diri Padahal dalam hati kecilnya dia merasa amat kegirangan-

Dalam waktu singkat dia telah mundur didepan sebatang pohon dan tak mungkin mundur lagi kebelakang. Hal ini membuat keningnya segera berkerut kencang.

Mendadak ia menggetarkan tangannya sambil berpekik nyaring, suaranya keras menembusi awan, belum habis pekikan itu bergema sebuah pukulan yang amat dahsyat telah dilontarkan kedepan-

Kali ini sinenek tak berani menyambut dengan kekerasan, dia mundur setengah langkah kebelakang untuk menghindarkan diri

Kim Thi sia segera mendesak maju lebih jauh, secara beruntun dia melancarkan serangan dengan jurus " kebajikan memancar keempat samudra" dan " kehidupan semu membingungkan hati" dari ilmu Tay goan sinkang.

seperti apa yang dialaminya tadi, sinenek segera merasakan pandangannya menjadi kabur dan seakan-akan dari empat arah delapan penjuru muncul serangkaian pukulan yang membingungkan hati.

Tergopoh-gopoh dia mundur kebelakang untuk menghindarkan diri. Kim Thi sia makin bersemangat, menyusul kemudian ia melepaskan serangan dengan jurus "kejujuran teguh bagaikan emas", jurus "kepercayaan membuka jagad", jurus "kekuatan menaklukan bumi", " kelembutan mencairkan api". " ketenangan bagaikan awan", "kedamaian mencakut awan semesta", "melenyapkan kejahatan dari muka bumi", dan jurus terakhir " angin mencabut pohon siong".

Dalam waktu singkat nenek itu dibuat terperanjat sampai matanya terbelalak lebar, dan mulutnya melongo. Dia mundur terus tiada hentinya hingga mundur ketempat semula.

Paras muka nenek itu berubah sangat hebat, mimpipun ia tak menduga kalau seorang pemuda yang berkemapuan biasa ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu dahsyat dan hebatnya, dengan perasaan terkesiap ia segera berpikir: "Aku tak boleh mencari gara-gara dengan bocah keparat ini, muridnya saja begitu hebat, apalagi gurunya. sudah pasti merupakan seorang tokoh silat yang luar biasa."

Begitu dia tidak bergerak, ternyata Kim Thi sia pun tak bergerak, kedua belah pihak saling berhadapan dengan mulut membungkam.

Kalau nenek itu dicekam rasa kaget, maka Kim Thi sia diliputi perasaan gembira hingga sekulum senyum banggapun menghiasi ujung bibirnya.

sementara itu putri Kim huan telah mendusin dari pingsannya, bagaikan seorang bocah yang mendapat perlakuan tak baik ia mendekam diatas jenasah Liong ciangkun sambil menangis terseduh-seduh. semua sikap angkuh dan anggunnya kini hilang lenyap tak berbekas.

Kim Thi sia berkerut kening dengan perasaan kesal dan murung, tiba-tiba saja timbul perasaan kasihan terhadap gadis itu.

Bagaimanapun juga, gadis ini adalah seorang putri yang datang dari kejauhan, bisa dibayangkan betapa besarnya pukulan batin yang dideritanya akibat kematian, dari pembantu setianya itu.

Kalau dihari-hari biasa Kim Thi sia selalu mengejek dan menyindirnya, maka sekarang dia berkata dengan wajah serius.

"sudahlah, ditangisipun tak ada gunanya, toh orang yang sudah mati tak mungkin bisa hidup kembali, yang penting sekarang adalah menyelesaikan persoalan terakhir. "

Baru saja dia selesai berkata, mendadak terlihat Hon ciangkun memuntahkan darah segar dan mundur dengan sempoyongan-

seorang jago lihay dari istana segera tertawa seram sambil mendesak maju kemuka, ketika sebuah ayunan tangan dilancarkan setitik cahaya bintang segera menyambar ketubuh lawan-

Hon ciangkun tak sempat lagi untuk menghindarkan diri, darah segar segera menyembur keluar dari lengannya membuat paras mukanya yang hitam berubah jadi merah karena darah.

Jago lihay dari istana itu tertawa seram, ia mendesak lebih kedepan sambil mengayunkan telapak tangannya. segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menya kedepan.

Kim Thi sia segera membentak gusar, dengan cepat dia mendesak maju kemuka.....

Tapi sebelum serangannya sempat dilancarkan. Hon ciangkun telah berpekik keras sambil menerkam kemuka.

Waktu itu sijagoan lihay dari istana itu sedang bergembira karena berhasil menghantam musuhnya sampai sempoyongan, mimpipun dia tak mengira kalau Hon ciangkun bakal menerjang tiba serta memeluknya erat-erat.

Dalam keadaan begini nampaknya Hon ciangkun telah nekad dan siap untuk beradu jiwa, bagitu berhasil memeluk tubuh musuhnya erat-erat. Dia segera mengerahkan segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya untuk mendekap  tubuh  orang  tersebut. "Kraaaaakkkk......kraaaaaakkkk. "

Tak ampun lagi, tulang kepala sijagoan dari istana telah terdekap sampai hancur. semburan darah segar segera memancar kemana-mana, diiringi kemudian kedua belah pihak sama-sama roboh terjungkal keatas tanah dan menghembuskan napas penghabisan.

Baru saja putri Kim huan sadar dari pingsannya, ketika melihat Hon ciangkun pun mengalami saat akhir yang tragis, dari tiga orang pengawalnya kini tinggal seorang yang masih mempertahankan diri, rasa sedih yang luar biasa mmebuat gadis itu pingsan sekali lagi.

Pada dasarnya putri Kim huan memang bertubuh lemah, dia tak mampu menahan pukulan batin yang datangnya secara bertubi-tubi. Kim Thi sia segera melihat percikan darah meleleh keluar dari ujung bibirnya, dengan perasaan iba pemuda itu segera membopong tubuh sang gadis dan dibiarkan diatas rumput, lalu menyeka noda darah dari ujung bibirnya. sementara itu pertarungan antara Pa ciangkun melawan dua orang jago dari istana masih berlangsung dengan serunya.

Waktu itu seluruh tubuh Pa ciangkun sudah berpelepotan darah, napasnya tersengkal-sengkal seperti napas kerbau, jelas jarak dengan kematianpun sudah tak jauh lagi.

Melihat hal ini, Kim Thi sia segera berpikir dengan murung.

"Bila ketiga orang pengawalnya mati semua, bagaimana mungkin seorang wanita lemah bisa pulang sendiri ketempat asalnya?"

Mendadak sinenek meluncur tiba, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia melancarkan sebuah serangan dahsyat kedepan.

Rupanya dia dibuat tertegun ketika melihat anak buahnya sudah tinggal dua orang saja, karena malu untuk pulang kerumah, maka rasa bencinya segera dilampiaskan kepada Kim Thi sia yang dianggapnya sebagai biang keladi dari segala kekalahannya ini. ia bertekad hendak beradujiwa dengannya.

Kim Thi sia berkerut kening, diambilnya sebutir batu kemudian disambitkan kedepan.

Nenek itu mengayunkan toyanya untuk memukul pental batu tadi, dengan manfaatkan kesempatan tersebut Kim Thi sia segera melompat bangun dan melancarkan serangan dengan ilmu Tay goan sinkang.

Waktu itu sinenek sudah bertekad untuk beradujiwa, setelah mundur dua langkah dia segera mengembangkan ilmu pukulan Tay engjin dari Tibetnya untuk mendesak pemuda itu habis- habisan.

Kim Thi sia menyadari akan datangnya bahaya, dia segera menangkis serangan tersebut dengan keras melawan keras. "Blaaaakkkk "

Begitu bentrokan terjadi, ia baru merasa amat terkejut rupanya seluruh lengannya sudah dibuat linu dan kaku bahkan dia makin terkejut lagi setelah melihat lima bekas jari tangan yang merah darah yang membekas diatas lengannya.

Rasa kaget dan gusar segera mencekam perasaannya dia tahu bahwa dirinya sudah terkena serangan beracun nenek itu. sambil menggertak gigi ia segera melancarkan serangan balasan-

Dalam pada itu sinenekpun merasa tak mampu berdiri tegak setelah melepaskan serangan tadi tubuhnya mundur berapa langkah dengan sempoyongan.

Kim Thi sia mendengus dingin, dengan mengeluarkan empat jurus serangan berantai dari ilmu pedangnya panca Buddha yang masing-masing dengan jurus "menyulut api diatas bahu", " walet terbang diatas dahan", " angin berhembus melenyapkan rembulan" dan " memukul rumput mengejutkan ular".

Dalam waktu singkat muncullah beribu-ribu titik cahaya emas yang mengurung seluruh tubuh nenek itu.

sinenek menjadi gugup dan gelagapan menghadapi ancaman tersebut, dia menjadi bingung dan tak tahu bagaimana mesti menghadapi ancaman semacam itu. Akibatnya pelbagai titik kelemahanpun sama sekali terbuka.

Kim Thi sia segera manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya, ia mendesak maju kedepan sambil melepaskan sebuah sapuan kilat. "Blaaaaammmmm. "

Tendangan yang pertama ternyata tak berhasil menggetarkan tubuhnya barang sedikit punjua, sambil menggigit bibir Kim Thi sia seegra melepaskan tendangan berikut.

Kali ini sinenek menjerit kesakitan, tubuhnya terlempar jauh dari posisi semula, begitu mencium tanah ia berkelejitan sebentar lalu menghembuskan napas yang penghabisan. Ternyata dalam tendangan yang terakhir tadi tanpa disengaja Kim Thi sia telah menghajar jalan darah sang seng hiatnya, ia sendiripun tak tahu apa yang menyebabkan kematian sinenek. malah dikiranya nenek itu tewas akibat getaran tenaga dalamnya.

Dengan berhati-hati sekali dia maju memeriksa denyut nadi sinenek. setelah yakin kalau musuhnya telah tewas, dia baru pergi meninggalkannya.

Dengan kematian dari sinenek. dua orang jago lihay dari istana yang sedang bertarung melawan Pa ciangkun menjadi gugup dan gelagapan, mereka terdesak hebat dan mundur terus berulang kali.

Pa ciangkun yang kehilangan dua orang saudaranya tentu saja tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, dia mendesak lebih kedepan sambil melancarkan serangkaian serangan dahsyat.

Pertarungan sengitpun segera berkobar kembali dengan serunya.

Mendadak terdengar putri Kim huan yang baru sadar pingsannya berteriak keras: "Pa ciangkun, kau tidak boleh meninggalkan aku"

Ketika mendengar teriakan tersebut, gerak serangan Pa ciangkun menjadi agak berbeda, dua orang musuhnya segera manfaatkan kesempatan itu untuk balik mendesak lawannya. Kim Thi sia yang menyaksikan kejadian ini segera memperingatkan.

"Kau jangan mencoba untuk memecahkan perhatiannya lagi, kalau tidak akibatnya bernar- benar tak akan terbayangkan-"

Berbicara sesungguhnya pemuda inipun tidak berharap Pa ciangkun tewas dalam pertarungan, sebab bila sampai terjadi begini, sudah pasti gadis tersebut akan menjadi bebannya.

Karenanya begitu selesai berkata cepat-cepat dia terjun pula kedalam arena untuk membantu Pa ciangkun.

Akan tetapi Pa ciangkun yang sudah bertarung sengit setengah harian lamanya kini sudah terluka parah dan kehabisan tenaga. Andaikata ia tidak ingin membalaskan dendam bagi kematian saudaranya sehingga ada segulung kekuatan yang menunjang dirinya, mungkin sejak tadi ia sudah roboh keatas tanah.

sepasang matanya kini sudah berubah merah, dia hanya tahu bagaimana merobohkan musuh dan membalas dendam, bagaimana terhadap putri Kim huan selanjutnya boleh dibilang ia tak smepat untuk dipikirkan kembali.

Bantuan dari Kim Thi sia sama sekali tidak meringankan tekanan padanya, malah sebaliknya bantuan yang datang membuat ia teringat kembali akan kematian saudara-saudaranya. Hal ini membuat semangatnya mengencor dan tubuhnya yang tinggi besar mulai sempoyongan-

sementara itu dua orang jago lihay dari istana pun kalau ibarat lentera yang sudah kehabisan minyak. serangan gencar dari Kim Thi sia yang masih segar bugar membuat mereka tak mampu memberikan perlawanan lagi, sambil muntah darah segar hampir pada saat yang bersamaan kedua orang itu roboh binasa.

Putri Kim huan segera memburu kemuka dan memeluk Pa ciangkun dengan air mata bercucuran, serunya sambil terisak: "Pa ciangkun, kau tak boleh mati. "

Pa ciangkun menatapnya sekejap dengan wajah mengejang dan bibir bergetar seperti ingin menyampaikan sesuatu, namun sebelum sempat berbicara, tubuhnya sudah tak mampu menahan diri lagi.

Tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi gelap, Tubuhnya segera roboh terjungkal keatas tanah dan tak mampu merangkak bangun lagi untuk selamanya.

Dengan ketakutan putri Kim huan berdiri gemetar dan kaku bagaikan patung, ia bingung dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Pelan-pelan Kim Thi sia maju mendekat Pa ciangkun dan memeriksa denyut nadinya, namun manusia raksasa yang terakhir pun yang telah berhenti bernapas. Dengan masgul dia bergumam:

"Habis sudah, habis sudah, rupanya Thian memang sengaja menyusahkan aku, apa dayaku sekarang?"

Yang dimaksudkan sebagai menyusahkan jelas menunjukkan kehadiran putri Kim huan ya jelas merupakan beban baginya.

Ketika dilihatnya gadis itu masih berdiri termangu bagaikan patung, pemuda tersebut segera bekerja sendirian mengubur jenasah disekitar sana. Iapun mengubur jenasah ketiga orang raksasa tadi dalam satu liang yang sama.

Kalau dihari biasa putri Kim huan selalu dihiasi dengan senyuman, maka sekarang dia nampak selalu bermuram durja dan sedih sekali. Berapa saat kemudian, Kim Thi sia baru berbisik:

"mari kita pergi."

"Kemana?" tanya putri Kim huan seperti orang yang kehilangan semangat.

"Entah kemanapun yang pasti jauh lebih aman berada disini apakah kau hendak menanti kematian."

"Baiklah " bisik sinona kemudian sambil berusaha mengendalikan rasa sedihnya.

"Mari kita pergi."

"Kau harus dapat menenangkan hatimu. " kembali Kim Thi sia berbisik. "Peristiwa semacam

ini bukan suatu kejadian yang luar biasa, sebab setiap orang tentu akan mati, hanya kematian mereka jauh lebih cepat saja."

Putri Kim huan manggut-manggut tanpa berbicara, berada dalam keadaan begini seandainya Kim Thi sia hendak berbuat apa saja, niscaya akan tercapai.

Dengan mulut membungkam kedua orang itu melanjutkan perjalanannya. Kim Thi sia merasa masgul sedang putri Kim huan amat sedih kedua belah pihak sama-sama tak bersemangat untuk memecahkan keheningan yang mencekam.

Kim Thi sia sadar bahwa dia hanya seorang lelaki kasar yang tak akan memahami perasaan seorang wanita, apalagi diapun tak pernah rasa tertarik dengan gadis itu.

Apalagi yang paling ditakuti adalah waktu putri Kim huan yang suka memerintah dia paling benci dengan watak tersebut. Apakah selama ini dia harus menemani seorang gadis demikian ini untuk melakukan perjalanannya.

Mendadak ia teringat kembali dengan abang seperguruannya, sipedang besi So Goan pin, hanya lelaki romantis macam abang seperguruannya yang bisa menghibur serta menggembirakan hati seorang gadis seperti putri Kim huan.

diam-diam dia pun mengambil keputusan hendak menyerahkan putri Kim huan kepada orang sepeerguruannya, ia percaya dengan kemampuan abang seperguruannya itu. Putri Kim huan pasti akan terhibur hatinya. Berpikir sampai disitu, diapun segera berkata: "Hey, aku ingin berbicara denganmu?"

"Katakanlah " sahut putri Kim huan.

"selama ini, kita berdua tidak pernah senang bukan? Kau akui hal tersebut?" Melihat putri Kim huan telah mengangguk, dia berkata lebih jauh:

"Bila kedua belah pihak sudah merasa tak berkenan dihati dan merasa amat tak puas dengan tindak tanduk serta sepak terjang pihak yang lain, sepantasnya mereka harus berpisah bukan?"

Dengan perasaan tercengang putri Kim huan mengeriing sekejap kearah pemuda itu kemudian mengangguk lagi. Kim Thi sia segera berkata lebih jauh: "Barusan aku telah mengambil keputusan- oleh karena kulihat kau merasa cocok sekali dengan sipedang besi so Bun pin, lagipula so Bun pin telah memberikan janjinya akan menemanimu mengembara serta mengunjungi tempat-tempat kenamaan didaratan Tionggoan. Aku rasa kaupun sangat berharap bisa bersua dengannya bukan? Maka aku bermaksud menyerahkan kau kepadanya, sebab dia mengerti bagaimana menemanimu serta memenuhi kebutuhanmu.......sedang aku aku hanya orang kasar, tidak mengerti watak dari kalian nona

tingkat atas.......karena itu kumohon maaf "

Berubah hebat paras muka putri Kim huan begitu mendengar pemuda tersebut menyinggung soal sipedang besi so Bun pim, tampiknya keras-keras: "Tidak. aku tak sudi bersua lagi dengan so Bun pin-"

"Mengapa?" dengan perasaan kecewa Kim Thi sia menghentikan langkahnya seraya bertanya. "Apakah dia telah menyakiti hatimu? atau diapun seperti juga aku, tidak bisa menyelami perasaanmu? "

"Itu masalah pribadiku, aku tidak ingin menjelaskan kepadamu" tiba-tiba warna semu merah menghiasi wajah putri Kim huan seakan-akan dia merasa malu apabila persoalan ini sampai diketahui anak muda itu.

"Kau. kau harus dapat menyelami perasaanku" dengan gelisah Kim Thi sia mengemukakan

suara hatinya. "Kau boleh mengerti sendiri, kita tidak pernah sepaham. Tak pernah mempunyai saling pengertian, aku senang menyindirmu, kaupun suka memakiku. ibarat api dan air, kita tak pernah bisa bersatu. Kau harus tahu bahwa semua masalah ini tak bisa dihindari lagi. "

"Tiap kali kaulah yang membuat gara-gara lebih dulu. Bukan aku yang lebih dulu mengusikmu, kau harus mengerti tentang soal ini dengan sejelas-jelasnya "

Kim Thi sia tertawa rikuh.

"Aku bilang keadaan kita berdua ibarat air dan api yang tak mungkin dipersatukan, karenanya lebih baik kita menempuh jalan masing-masing agar terhindar dari segala bentuk kejadian yang tak diharapkan dikemudian hari. Terus terang saja, aku sendiripun tak ingin menyalahimu, membuat gara-gara denganmu, apalagi aku sebagai warga negara bangsa lain- Tak lama lagi pasti akan kembali kenegerimu sendiri, buat apa mesti meninggalkan kesan buruk. kesan yang tidak menyenangkan bagimu?"

Tiba-tiba putri Kim huan menjadi sangat lemah, ujarnya: "Baiklah, apa yang hendak kau perbuat lakukanlah ^" ^

Suatu perasaan hampa, sedih dan murung yang entah darima na munculnya tiba-tiba menyelimuti seluruh perasaan hatinya, diantara kerdipan biji matanya yang jeli terlihat cahaya air mata. Kim Thi sia segera berkata lagi:

"seandainya kau bersikeras menolak usulku itu, aku tentu akan mencarikan jalan lain yang lebih baik lagi."

Kim Thi sia memang paling takut melihat perempuan menangis, begitu senjata andalan kaum wanita itu dipergunakan betapa pun kerasnya hati seorang lelaki pasti akan menjadi lemah separuh dibuahnya. Maka diapun berkata lebih jauh:

"Akan kulakukan apa yang menjadi keinginanmu. "

"Aku ingin kembali kesamping ayah baginda" kata putri Kim huan dengan cepat. Kim Thi sia menjadi tertegun, kemudian tertawa getir.

"Hal ini mustahil bisa kulakukan, aku tidak memiliki kemampuan sampai disitu" Putri Kim huan segera tertawa dingin-

"HeeeeH......heeeeH.......heeeeeh. kalau berbicara saja enak didengar. Hmmm, segala

keinginanku akan kau penuhi siapa tahu baru saja kuungkapkan isi hatiku, kau telah

mengingkari kembali janjimu itu. " "Persoalan tersebut benar-benar merupakan suatu masalah yang pelik, aku sungguh tak memiliki kemampuan untuk berbuat demikian, bayangkan saja jarak antara dua negeri ribuan li, toh aku tak bisa terbang kesitu "

Tiba-tiba hawa amarahnya berkobar, dengan wajah merah padam teriaknya lebih jauh:  "Kau tak usah menyindirku, bila kau anggap pekerjaan yang tak mampu kulakukan dianggap

sebagai menyesal, maka kau boleh mengajukan permasalahan yang lebih besar lagi misalnya aku memetik rembulan diangkasa mengambil bintang sebagai permainanmu bagaimana mungkin aku dapat melakukan kesemuanya itu." Putri Kim huan tertawa dingin, umpatnya didalam hati: "Betul- betul seorang manusia kasar yang sama sekali tak berpendidikan. "

Karena berpendapat demikian, maka diapun malas untuk memberikan jawaban lebih jauh.

Kim Thi sia masih ingin berbicara lagi, namun secara tiba-tiba dari depan sana muncul seorang lelaki bertubuh kecil pendek yang berwajah bengis....

Begitu berjumpa dengan orang itu, berubah hebat paras muka Kim Thi sia, dengan gemas gumamnya:

"Benar-benar sempit dunia ini bagi orang yang bermusuhan, ternyata aku berjumpa lagi dengan situa bangka itu."

Tampaknya orang itupun sudah mengetahui kehadiran Kim Thi sia, tapi dia berlagak tidak melihat dan berjalan terus dengan kepala tertunduk. Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah saling berpapasan.

"sungguh berbahaya" seru Kim Thi sia didalam hati.

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar orang itu berseru dengan bengis:

"Hoy bocah keparat, darimana kau dapatkan nona yang begini cantik, sombong amat kau, sudah menggandeng nona cantik lantas teman lamapun enggan dikenali lagi."

Putri Kim huan memperhatikan sekejap tamu asing yang tak dikenalnya itu dengan perasaan muak. hanya sekejap lalu tak pernah menengok kembali, bahkan meneruskan perjalanannya kedepan.

Tak sampai Kim Thi sia berbicara, silelaki ceking itu telah berseru kembali:

"Hmmmm, sombong amat sinona cantik ini. Hoy bocah keparat, kali ini kau pasti akan cukup menderita "

sambil berkata kembali dia mengorek kotoran dari lubang hidungnya dengan jari tangan-Kim Thi sia berkerut kening, bentaknya penuh amarah:

"Hoy siunta busuk. sudah berulang kali kuperingatkan kepadamu, kau masih saja tak ambil perduli. Hmmm, jangan salahkan bila aku tak akan mengenal perasaan lagi."

selesai berkata dia segera menggulung lengan bajunya dan mengayunkan kepalannya kedepan- Dengan cekatan si unta berkelit kesamping, kemudian teriaknya keras-keras:

"Maknya, kau ingin melawan aku? Hmmm, mengapa tak pernah kau bayangkan bagaimana semasa kecilmu dulu sering mengompol dibajuku? Hmmm, dengan susah payah aku telah memeliharamu hingga dewasa, tak nyana kau benar-benar bagaikan manusia berhati binatang, sedikit perasaan balas budipun tidak dipunyai. "

"Tua bangka celaka, kuharap kau jangan sembarangan berbicara" teriak Kim Thi sia sambil menghentakkan kakinya berulang kali. Kemudian sambil merendahkan suaranya dia berkata lebih jauh: "Dia adalah keturunan bangsawan, kau jangan bersikap kurang ajar. " "Aaaah, masa iya. " melihat Kim Thi sia tak mau memperlihatkan sikap yang lemah, si unta

sengaja melongokkan kepalanya dan memperhatikan sekejap wajah Kim huan dari atas hingga kebawah, kemudian bertanya lagi:

"Hey bocah keparat, kau bodoh dan tak tahu urusan. Tidakkah kau salah menganggap dirinya?" "Kau jangan sembarangan bicara, aku dan diapun tak punya hubungan apa-apa "

"Lantas kau hendak kemana sekarang?" "Tanpa tujuan-"

si unta sengaja membelalakan matanya lebar-lebar lalu berseru lagi dengan suara keras:

"Aku situa memang lagi kesal karena tak punya teman, nampaknya aku bakal merepotkan dirimu lagi."

seraya berkata dia segera membuntuti dibelakang Kim Thi sia.

Melihat sikap orang itu, Kim Thi sia segera mengernyitkan alis matanya kencang-kencang, dia tahu tak mungkin baginya untuk melepaskan diri dari orang itu.

"Hoy bocah muda, mengapa kau bermuram durja?" kembali si unta mengomel. "Kau tahu, sudah dua hari tak pernah makanpun wajahku tetap berseri, mengapa kau justru berkerut kening macam orang kesusahan saja. Yang benar kau harus mentraktir aku makan sekenyangnya "

"Hoy situa, jangan ribut dulu" bisik Kim Thi sia kemudian- "Bagaimana kalau kuserahkan semua uang yang kumiliki kepadamnu, tapi dengan syarat kau jangan mengikuti aku terus?"

"Hmmm, berapa sih uang yang kau miliki? Paling banter hanya cukup bagiku untuk bersantap selama tiga hari. Tidak. aku tetap akan mengikutimu. "

"Hoy tua bangka keparat, kau berniat mengikuti diriku sepanjang masa ?"

"Telur busuk. bila kuikuti dirimu selamanya berarti aku bakal bekerja untukmu selamanya.

Apakah kau tidak senang?"

"Hmmm, apa yang bisa kau lakukan?"

"Perbuatan kalangan atas, kalangan menengah maupun perbuatan kaum rendah semuanya bisa kulakukan dengan sempurna. Asal kau bersedia memberi makan untukku perbuatan apapun bersedia kulakukan-"

Kim Thi sia berkerut kening, tanpa berbicara lagi dia berjalan lebih cepat mendampingi putri Kim huan dan meninggalkan si unta dibelakang.

sambil mengangkat bahu si untapun mengikuti dibelakang mereka berdua tanpa berbicara lagi. sepanjang jalan si unta memperhatikan terus gerak gerik putri Kim huan- Menyaksikan

potongan tubuhnya yang ramping serta cara berjalannya yang menawan hati tanpa terasa dia

bergumam:

"Bocah keparat itu tak pandai dalam urusan apapun heran darimana dia peroleh seorang nona secantik ini? jangan-jangan didapat dari merampas?" Dengan wajah heran dia segera memburu kemuka, lalu menegur dengan kasar: "Hey bocah keparat, apakah kau telah melakukan kejahatan?"

sikap dingin dan menegur yang ditunjukkan si unta seketika mengobarkan hawa amarah Kim Thi sia. Teriaknya lantang:

"Telur busuk. hanya manusia macam kau yang bisa melakukan kejahatan-"

"Hey bocah keparat, bangsa Han adalah bangsa yang kebudayaannya tinggi. Mengerti sopan santun dan memegang teguh tradisi leluhur, kau tahu merampas aneka milik orang lain adalah perbuatan jahat yang dikutuk setiap orang, sekarang para pendekar dari golongan lurus mulai memperhatikan gerak gerikmu. Kuanjurkan kepadamu bersikaplah lebih berhati-hati dikemudian hari."

Ketika putri Kim huan melihat paras muka Kim Thi sia berubah menjadi merah padam, ia segera menduga kalau pemuda tersebut memang orang jahat seperti apa yang diduganya semula.

Kepada si unta diapun bertanya: "Apakah kau adalah komplotannya?" si unta segera mengangguk.

"Yaa benar, ayahnya adalah seorang perampok kenamaan, sejak kecil akulah yang memelihara dan mendidik bocah ini dengan harapan setelah ia dewasa nanti bisa melanjutkan pekerjaan ayahnya itu"

Putri Kim huan membelalakkan matanya besar-besar. sambil berpaling ia segera bertanya: "Bukankah sekarang ia sudah meningkat dewasa? Kalau begitu diapun seorang perampok

kenamaan?"

si unta tidak mengakui secara langsung namun katanya pelan: "Itulah sebabnya kau mesti bersikap lebih hati-hati."

"Hoy, kau jangan percaya dengan omongan setannya" buru-buru Kim Thi sia berseru cepat. Putri Kim huan tidak menanggapi, dia berkata lebih jauh:

"Aku tak takut kepadanya, ayahku adalah kaisar dari negeri Kim. "

Gadis ini memang paling suka mempertunjukkan identitasnya yang luar biasa itu untuk menarik sikap hormat orang lain terhadapnya.

Kim Thi sia bermaksud menghalangi perbuatannya itu namun tak sempat, sementara si unta tertegun dibuatnya.

Berapa saat kemudian dengan sikap seorang kakak memberi nasehat kepada adiknya dia berseru keras:

"Hoy bocah keparat, kali ini kau telah berbuat kesalahan besar. Nona ini adalah putri kaisar negeri Kim, ia berkedudukan tinggi, anggun dan mulia, maka kau aaaai, kau kelewat tolol,

kelewat pikun-"

Mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa putri Kim huan ikut menaruh curiga, dia mengira Kim Thi sia benar-benar adalah seorang perampok yang banyak melakukan kejahatan sehingga tanpa sadar dia menganggap dirinya sedang berada dalam sarang harimau.

Hatinya berdebar keras, merasa tegang hingga tangannya berulang kali menyeka peluh dingin yang membasahi jidatnya.

Kim Thi sia sadar, dia tak mampu mengungguli kecerdikan serta kelicikan orang itu, maka ujarnya langsung kepada putri Kim huan:

"Hoy coba kau bayangkan sendiri, seandainya aku benar-benar adalah.........manusia........

manusia macam begitu, mengapa aku hendak menghantar

dirimu untuk dilindungi orang lain?" Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi:

"sicebol ini licik dan banyak akal muslihatnya, dia senang membuat berita sensasi, coba kau tak hadir disini, pasti sudah kugaplok wajahnya." Lalu dengan wajah bersemu merah, katanya tergagap:

"Terus terang saja, aku......aku belum tahu bagaimana cara kerja seorang perampok. "

" Kenapa kau tak menggaploknya karena aku berada disini?" tanya putri Kim huan seraya berpaling.

" Karena kau hadir disini, aku merasa rikuh untuk berbuat kasar." "Mengapa ia tak rikuh membuat berita sensasi?" "Sebab mukanya memang tebal seperti dinding."

Mendengar perkataan itu, si unta segera berlagak mengukur ketebalan kulit muka sendiri, lalu semakin melihat Kim Thi sia berbicara kelewat kasar, ia segera melotot seraya berseru:

"Maknya, kita boleh mengukur ketebalan muka sendiri, coba lihat pipi siapa yang lebih tebal. "

Putri Kim huan berkerut kening, kenapa Kim Thi sia segera serunya:

"Dia selalu berbicara kotor, apakah kau merasa senang untuk mendengarnya terus?"

Dari perkataan ini bisa disimpulkan kalau dia lebih condong berpihak Kim Thi sia dan menganggap si unta kurang pendidikan sehingga delapan puluh persen perkataannya tak dapat dipercaya. Kim Thi sia segera menjawab:

"Bila kau sudah tak ingin mendengarkan obrolannya lagi, sekarang juga aku akan menghajarnya "

"Aku memang paling benci mendengar perkataan kotor seperti itu." Meskipun nadanya angkuh namun merupakan ucapan yang sejujurnya.

Kim Thi sia segera berpaling kearah si unta dan membentak keras:

"Kuharap kau menggelinding pergi sejauhnya dari sini, kalau tidak aku segera akan menghajarmu. "

"Maknya, kau anggap aku tak punya kepalan dan tak berani menghadapimu. ?" seru si

unta marah juga.

sambil berkata segera menggulung lengan bajunya dan siap melakukan perlawanan-

Kim Thi sia tak berpikir panjang lagi, tiba-tiba ia mendesak maju kemuka dan segera mengayunkan kepalannya melepaskan serangkaian pukulan berantai.

sesungguhnya si unta hanya berniat gertak sambal untuk melindungi muka sendiri dari rasa malu, dia tak menyangka pemuda itu benar-benar akan menyerangnya.

Melihat datangnya serangan tersebut, dengan cekatan dia menyelinap lewat bawah ketiak musuh dan melarikan diri terbirit-birit sambil berteriak keras: "Aduh celaka, ada perampok hendak mencabut nyawaku, tolong "

Melihat tindak tanduknya yang lucu, putri Kim huan segera tertawa cekikikan karena geli.

Kim Thi sia tak sungkan-sungkan lagi, dia mengejar kedepan dan tiba-tiba menyerang dengan jurus "mati hidup ditangan takdir" dan "cahaya terang diempat samudra" dari ilmu Tay goan sinkang.

Betapapun lincah dan cekatannya si unta bagaimana mungkin ia bisa menghindarkan diri dari serangan yang dahsyat itu. ?

Tak ampun bahunya terhajar telak sambil menjerit kesakitan tubuhnya segera roboh terjungkal keatas tanah dan tidak bergerak lagi mungkin jiwanya sudah melayang.

Agaknya hawa amarah Kim Thi sia belum mereda kembali bentaknya dengan suara keras: "Hoy situa, jangan berlagak macam bangkai anjing karena tak mampu mengungguli lawan,

terhitung orang gagah macam apakah dirimu itu?"

Namun ketika jari tangannya menyentuh hidung si unta, paras mukanya berubah secara tiba- tiba, dengan wajah tertegun serunya: "Haaaah, sudah mati? Masa dia mati dengan begitu saja?"

Walaupun orang ini sangat menjengkelkan namun bagaimanapun juga tiada hubungan dendam sakit hati dengannya sekarang dia telah melukainya, bagaimanapun juga sebagai pemuda berhati lembut, kejadian ini membuatnya menyesal sekali. sampai lama kemudian dia baru berpikir dengan hati tak karuan. "Aaaah, siapa suruh dia menggangguku terus menerus? Coba ia tak menggodaku, akupun tak akan tega melukainya. "

setelah mengawasi sekejap mayat siunta diapun berseru kepada putri Kim huan: "Mari kita pergi."

Agaknya pengalamannya selama berapa hari terakhir membuat putri Kim huan mulai terbiasa dengan kejadian seperti ini. Tanpa membuang banyak waktu ia segera mengikuti dibelakang pemuda itu.

Tiba didalam kota, tiba-tiba mereka saksikan ada banyak orang persilatan yang berkecamuk dalam kerumunan rakyat biasa. sekalipun mereka hanya memakai baju biasa dan tidak menggembel senjatanya namun dari sorot matanya yang begitu tajam dan langkah yang tegap Kim Thi sia segera mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang persilatan yang sedang menyaru.

Terdorong rasa ingin tahu pemuda itu mencoba mencari berita dari sana sini. Akhirnya dia berhasil mengetahui suatu rahasia.

"Murid pertama dari malaikat pedang berbaju perlente, sipedang emas telah bentrok dengan seseorang."

"siapakah orang itu?"

Tak seorangpun tahu, namun bila ditinjau dari suasana dalam kota saat ini, bisa disimpulkan bahwa orang itu bukan jago sembarangan.

Konon bentrokan itu terjadi gara-gara sebuah mestika, tapi apakah mestika itu? Kim Thi sia tak berhasil menyelidiki secara jelas. Ia cuma tahu tempat berlangsungnya pertarungan dan waktu berlangsungnya kejadian ini, tapi ia tahu delapan orang sutenya pasti tak akan berpeluk tangan belaka. Kim Thi sia merasakan hatinya berdebar keras, pikirnya:

"Lewat dua hari lagi aku bakal bertemu dengan seluruh abang seperguruanku, apa yang mesti kuperbuat?"

Kim Thi sia mendampingi putri Kim huan memasuki rumah makan terbesar dikota itu yang memakai merek Eng pia lo.

Baru masuk kepintu gerbang, empat orang lelaki kekar telah menghampiri mereka seorang diantaranya segera menjura dengan hormat seraya bertanya: "Sobat, siapakah namamu?

Bolehkah kami mendapat tahu?" "Aku Kim Thi sia."

Habis berkata dia mendorong lelaki itu kesamping kemudian masuk dengan langkah lebar, buru-buru putri Kim huan mengikuti dari belakang.....

Empat lelaki kekar itu berpandangan sekejap dengan wajah tertegun, Tapi dengan cepat memaafkan sikap ketidak sopannya, sambil tertawa tergelak katanya:

"Haaaah......haaaaah......haaaaah......rupanya kau, maaf kami telah berbuat kasar "

Dengan lagak yang angkuh Kim Thi sia mengambil tempat duduk dan tidak menggubris keempat orang itu lagi, ia berteriak memesan sayur kemudian bersantap dengan lahap.

Ketika putri Kim huan mendongakkan kepalanya, ia melihat semua tamu diruangan tersebut telah tertuju kearahnya. Seakan-akan sedang menikmati suatu benda mestika. Hal ini membuatnya mendongkol ia segera berhenti bersantap dan menarik tangan Kim Thi sia. Dengan keheranan pemuda itu segera bertanya: "Ada apa?"

"Mereka pada mengawasi diriku"

Tatkala Kim Thi sia berpaling betul juga, dia melihat banyak orang sedang mengawasi putri Kim huan dengan mata terbelalak besar. Ada yang segera berbisik-bisik ada pula yang mengawasinya makin melotot. jelas bahan pembicaraan mereka adalah gadis tersebut. Kim Thi sia segera berpikir:

"Apanya yang aneh? Siapa suruh wajahmu cantik sekali."

Melihat pemuda itu tanpa reaksi, kembali putri Kim huan berkata:

"Kalau mereka mengawasi diriku terus, aku benar-benar tak mampu bersantap. "

"Cobalah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan" kata Kim Thi sia sambil tertawa. "Mata kan milik mereka, bagaimana mungkin aku bisa mencampuri urusan ini?"

Putri Kim huan menggigit bibirnya kencang-kencang dan membungkam tanpa menjawab. sementara dalam hati kecilnya memaki kegoblokan Kim Thi sia yang tak memahami jalan pikiran seorang wanita, pikirnya:

"Coba kalau ia mau memaki orang-orang itu, setibanya dinegeriku, pasti akan kumohon kedudukan yang tinggi dari ayah baginda."

Tapi sayang Kim Thi sia bukan seorang pelindung yang memahami perasaan wanita. Hal ini membuat putri Kim huan mendongkol sekali, tangannya dikepal kencang-kencang seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat.

Makin dipikir gadis itu makin mendongkol, matanya menjadi merah. Coba disitu tak ada orang, ia pasti akan menangis sepuas hati.

Akhirnya sambil menggebrak kakinya keatas tanah, dia berseru: "Ayoh kita pergi saja dari sini" "Tidak. aku masih ingin berdiam sebentar lagi. Disini, ingin kulihat apakah ada perempuan lain

yang baru."

Ia menyeka mulutnya lalu membuka jendela lebar-lebar, ketika angin berhembus lewat ia pun berseru: "oooh, nyaman amat. "

Putri Kim huan makin mendongkol, sambil berkerut kening dia membungkam dalam seribu bahasa.

Lama kelamaan tampaknya Kim Thi sia tak tahan melihat gadis itu selalu bermuram durja, dia segera melompat bangun dan tanpa berpikir panjang teriaknya keras-keras:

"Sobat sekalian, maaf kalau aku ingin numpang berbicara sebentar, bagaimanapun juga dia adalah seorang nona yang sedang melakukan perjalanan diluar rumah sudah merasa amat tak leluasa, apalah artinya kalian berbisik-bisik membicarakan tentang dirinya atau lebih tak sedap lagi untuk dikatakan, kita semua adalah manusia. Meski ia seorang perempuan toh bukan manusia ajaib yang memiliki tiga kepala enam lengan, apakah yang bagus untuk ditonton- Karena itu kuharap sobat sekalian memakluminya sebagai seorang wanita dan bersikaplah lebih sopan-"

Dasar tak pandai berbicara, ucapan tadi membuat suasana bertambah runyam dan memancing gelak tertawa orang banyak.

Putri Kim huan malu bercampur marah, seandainya disana ada gua, niscaya ia telah menerobos masuk untuk menyembunyikan diri dari suasana yang serba merikuhkan ini. Dengan kening berkerut dan hawa amarah yang membara, Kim Thi sia berseru lagi:

"Kalian tak usah mentertawakan barang siapa mereka tak puas. silahkan mencari urusan dengan aku Kim Thi sia."

Begitu namanya disebutkan, seketika menggemparkan beberapa orang tamu yang mengetahui identitasnya, maka berita ini segera tersebar luas. Ketika semua orang mendapat tahu kalau pemuda ini adalah manusia yang paling susah dilayani, merekapun berhenti mentertawakan.

Melihat suasana kembali menjadi hening dan tak seorang pun berani berkaok-kaok lagi. Kim Thi sia menyapu sekejap sekeliling ruangan, lalu sambil tertawa dingin duduk kembali ketempatnya semula. Dengan terjadinya peristiwa itu, Kim Thi sia merasa semakin murung, ia sadar melakukan perjalanan bersama gadis tersebut yang benar-benar suatu pekerjaan yang merepotkan dan memusingkan kepalanya, ia mulai mencari akal bagaimana caranya melepaskan diri dari gadis tersebut.

Putri Kim huan yang tidak mengetahui akan hal itu kembali mengambek. tiba-tiba katanya: "Bagaimanapun juga, aku hendak pergi dari sini."

"Kalau ingin pergi, pergilah"

Putri Kim huan bangkit berdiri, mendadak ia merasa perkataan tersebut ada yang tidak beres, segera tanyanya lagi: "Bagaimana dengan kau? Apakah tidak pergi?"

"Tidak Aku ingin mengetahui apa yang telah terjadi disini, aku harus menanti sebentar lagi." Dengan gemas putri Kim huan berpikir:

"Baik, kalau kau tak mau pergi, biaraku pergi sendiri. Hmmm, siapa yang membutuhkan pengawalanmu? "

Tanpa terasa dia berjalan menuju kepintu gerbang.

Namun setibanya didepan pintu kembali dia merasa ragu sehingga tanpa terasa berpaling kembali kedalam ruangan, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Kebetulan dari seberang jalan sana muncul serombongan berandal, ketika melihat ada seorang nona cantik berdiri sendirian didepan pintu rumah makan. Kontan saja mereka bersiul sambil mengawasi dengan cengar cengir, malah seorang diantaranya segera berseru: 

"Nona cilik, wajahmu benar-benar cantik lagi manis bagaikan bidadari dari khayangan. Apakah kau sudah punya suami? Kalau belum punya pasangan, pasti akan kusuruh mak comblang untuk pergi melamarmu. "

"Hey nona cantik, kau datang dari mana?" seru seorang berandal lagi. "Kecantikanmu sungguh luar biasa, dandananmu pun sangat aneh. Hmmm, sibopeng mari kita segera turun untuk memeluknya "

Putri Kim huan mundur berapa langkah kebelakang, rasa percaya pada diri sendirinya hancur total tanpa berpikir panjang lagi dia lari masuk kembali kedalam rumah makan dan duduk kembali disisi Kim Thi sia dengan kepala tertunduk. sambil tertawa Kim Thi sia segera berkata:

"Aku tahu kau tak bakalan pergi jauh, orang perempuan memang sangat tak leluasa untuk berjalan seorang diri didaratan Tionggoan-"

sebenarnya putri Kim huan sudah duduk kembali, tapi perkataan itu membuat dia mengambek lagi, sambil melotot gemas serunya:

"Hmmm, apa sih hebatnya kaum pria, apalagi macam kau dungu seperti kerbau. "

"Apa? Kau memakiku seperti kerbau? Kau sendiri macam apa?" teriak Kim Thi sia sambil melompat bangun-

Suara teriakannya amat nyaring membuat setiap orang dalam rumah makan itu mendengarnya dengan jelas, serentak mereka berhenti berbicara dan mengalihkan perhatiannya kearah mereka.

setengah menahan isak tangisnya putri Kim huan berkata: "Kau jangan menganiaya aku dihadapan umum. Aku.......aku. "

Dia adalah seseorang yang suka akan gengsi dan nama baik, ketika harga dirinya dirusak orang dihadapan orang lain, maka rasa sedihnya melebihi dibunuh. Kata-kata selanjutnya pun sulit baginya untuk diutarakan lebih lanjut.

Kim Thi sia cukup memahami perasaan hatinya, oleh sebab itu dia merasa tak tega sendiri, sambil menahan diri katanya: "Eeeei, kau mesti memaafkan aku, toh kau sudah tahu aku bukan orang yang bisa menahan emosi. Bila kau memakiku maka akupun kehilangan kendali. "

"Bila engkau tidak mau pergi dari sini, biarlah aku yang mati saja ditempat ini, aku tak tahan ditertawakan orang lain terus menerus" seru putri Kim huan sambil menangis.

"Baik, kita segera tinggalkan tempat ini."

Dengan kepala tertunduk putri Kim huan berjalan meninggalkan rumah makan, setibanya diluar gedung dia baru menghembuskan napas panjang. Kim Thi sia segera bertanya dengan lembut: "Apakah kau lelah? Apakah ingin beristirahat sebentar?"

Putri Kim huan manggut-manggut tanpa menjawab.

Kim Thi sia segera mengajak gadis itu memasuki sebuah rumah penginapan yang memakai merek Hok lok.

Putri Kim huan kelihatan murung dan amat bersedih hati, setibanya didalam kamar, dia segera membaringkan diri diatas pembaringan dan tertidur dengan nyenyak sekali.

Kim Thi sia sebagai seorang lelaki sejati yang jujur, biarpun dia berada dihadapan seorang nona cantik yang sedang tertidur nyenyak. hatinya tak tergoda, malah dengan penuh perhatian dia menyelimuti badannya, merapatkan pintu kamar lalu berjongkok diluar kamar sambil beristirahat.

Hingga menjelang matahari terbenam dilangit barat, putri Kim huan baru mendusin dari tidurnya, dia baru saja mendapat impian buruk hingga peluh dingin membasahi tubuhnya. Ketika tidak melihat Kim Thi sia hatinya semakin berdebar keras.

Tergopoh-gopoh dia membentulkan letak bajunya lalu keluar dari kamar, Tapi dalam pandangan mata pertama ia telah melihat Kim Thi sia sedang berjongkok diluar pintu sambil tertidur. Kejadian ini kontan saja menghancurkan hatinya.