Lembah Nirmala Jilid 19

 
Jilid 19

Sin Hong tojin tidak berusaha menghindarkan diri dari belaiannya, dia merasa pikirannya sangat kalut, selama banyak tahun hidup memencilkan diri belum pernah dia melakukan kesalahan seperti saat ini. Saking sedih dan murungnya dia sampai menundukkan kepalanya tanpa berbicara.

Mungkin saja dalam hati kecilnya telah tumbuh benih sayang, hingga setelah salah turun tangan tadi, hatinya terasa amat sedih.

Ketika tidak mendengar suara Jawaban gadis cantik itu kembali meronta sambil mengulangi kembali pertanyaannya.

Sin Hong tojin amat kalut pikirannya, diam-diam ia berpikir:

"Aaaai dalam keadaan begini apa salahnya kalau kubilang menyukai? toh dia sudah hampir

mati, mengapa aku tak berusaha untuk menghibur hatinya?" Berpendapat demikian, diapun menjawab dengan suara rendah. "Yaa, aku memang menyukaimu. " Baru selesai mengucapkan perkataan tersebut, paras mukanya telah berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus, sejak menjadi pendeta tiga puluh tahun berselang, belum pernah dia mengungkapkan kata-kata seperti ini terhadap seorang wanita, apalagi seorang gadis cantik bak bidadari dari khayangan.

Iapun pernah mengalami masa remaja, apa yang tak pernah dialami dimasa remaja ternyata harus dijumpai dimana tuanya, selisih waktu yang amat jauh ini membuat sin Hong tojin merasa rikuh, malu dan amat menderita.

Mendadak ia tersadar kembali dari lamunannya ketika itu terdengar gadis cantik itu bergumam lirihi

"Kau telah mengucapkan sendiri perkataan itu, kau sendiri yang mengucapkan kata-kata itu. "

suaranya makin lama semakin lirih dan lemah, akhirnya sin Hong tojin tidak mendengar suara apa-apa lagi.

Dengan perasaan kecut dan gelisah sin Hong tojin segera berseru lagi:

"Aku tak pernah berbohong, apa yang kuucapkan merupakan kenyataan. Kau kau tak usah

kuatir "

"sungguh?" mendadak gadis cantik itu meronta keras.

"sungguh" entah karena menyesal ataukan karena sedih, lambat laun dia mulai lupa dengan statusnya sekarang.

"Kau sendiri yang berkata demikian" seru gadis cantik itu lagi sambil mengulumka senyuman manis diujung bibirnya.

"Hmmm. " sin Hong tojin kembali merasakan hatinya bergoncang keras dia tahu sebentar

lagi kehidupan gadis cantik itu akan berakhir. Karenanya ia tak kuatir untuk membenarkan kejadian itu.

siapa tahu tiba-tiba saja gadis cantik itu tertawa terkekeh, mendadak ia meronta keras untuk melepaskan diri dari genggaman tosu itu, kemudian sambil bangkit berdiri katanya lagi:

"Kau mengatakan perkataanmu tak pernah bohong, nah aku menghendaki bukti sekarang." sin Hong tojin menjadi terkejut sekali, segera tanyanya: "Kau tidak terluka?"

sambil tersenyum gadis cantik itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya: "Tidak. siapa bilang aku terluka?"

Tiba-tiba saja sin Hong tojin merasa dirinya telah dibodohi orang, hatinya amat mendongkol, rasa benci dan marah pun meluap memenuhi benaknya tanpa berpikir panjang lagi dia melepaskan sebuah pukulan dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Dengan suatu gerakan ringan gadis cantik itu mengebaskan ujung bajunya, tahu-tahu saja tenaga pukulan yang maha dahsyat itu sudah memantul balik tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Mimpipun sin Hong tojin tak pernah menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki gadis cantik itu begitu sempurna dan hebatnya.

Tak ampun tubuhnya mundur dengan sempoyongan, sampai beberapa kaki jauhnya ia baru dapat mengatur kembali keseimbangan badannya.

Tidak menunggu sampai tosu tua itu berbicara, sinona cantik tersebut sudah berkata lebih dulu: "sin Hong totiang kau telah mengucapkan perkataan tadi dengan sungguh hati, bohong atau

tidak aku membutuhkan buktinya sekarang." Karena ucapannya tadi telah dijadikan sebagai pegangan, sementara melawanpun bukan tandingan, terpaksa sin Hong tojin menundukkan kepalanya sambil menghela napas panjang, katanya kemudian:

"Dosa, dosa hasil pertapaanku selama banyak tahun akhirnya harus runtuh bagaikan air

yang megalir, apa yang kau kehendaki dariku?"

sambil menunjuk kearah kedua orang tosu lainnya yang masih duduk mematung, gadis cantik itu berkata sambil tertawa:

"Kau harus turut aku kembali kelembah. Apakah kedua orang itu akan dibawa serta?" "Yaa, mereka berdua adalah adik seperguruanku, hidup mereka sama seperti hidupku."

"Bagus sekali, mari kita berangkat beramai-ramai." Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi:

"Terus terang saja aku bilang, aku sengaja mencarimu karena ada suatu persoalan membutuhkan bantuanmu agar berhasil, sampai waktunya nanti kau masih punya kesempatan untuk kembali lagi kesini."

Tergerak pikiran sin Hong tojin setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia bertanya: "Persoalan apa yang nona harapkan bantuannya dariku? Dapatkah engkau utarakan dulu?"

Tanpa berpikir panjang gadis cantik itu manggut- manggut, sahutnya dengan lembut:

"Aku sedang melatih semacam ilmu sakti yang bernama Tay yu sinkang, kekuatannya luar biasa dan jarang dijumpai tandingan didunia saat ini, siapa tahu abang seperguruanku amat kejam dan jahat, ia kuatir keberhasilanku dalam ilmu sakti tadi akan mencelakai dirinya, maka diapun menggunakan ilmu Tay goan sinkang membuyarkan himpunan hawa murniku, untuk memulihkan kembali kekuatan tersebut berdasarkan rahasia perguruanku, terpaksa aku membutuhkan bantuan kalian."

"Tay yu sinkang?" gumam sin Hong tojin. "Belum pernah kudengar kepandaian tersebut, bagaimana caraku untuk membantumu?" Gadis cantik itu segera tertawa.

"Tentu saja kau tidak pernah mendengarnya, apalagi pekerjaan tersebutpun bukan sembarangan orang akan dapat melakukannya, aku membutuhkan bantuan dari berapa orang jago persilatan yang bertenaga dalam sempurna untuk bekerja sama membantuku agar pulih kembali seperti sedia kala, bagaimana caranya untuk membantu. Lebih baik dibicarakan setibanya dalam lembah saja. "

Begitulah tosu bengis itu mengakhiri kisahnya. sejak itu sin Hong koancu bersama kedua adik seperguruannya lenyap tak berbekas, banyak tahun lewat tanpa kabar berita, maka sebagian besar anggota kuil yang terdiri dari manusia liarpun kehilangan kontrol, mereka mulai membuat ulah yang bermacam-macam. Bukan saja pelbagai kejahatan dilakukan, mereka pun dibabat dengan keji. Lambat laun nama baik pek hun koanpun makin ternoda dan dikenal sebagai sarang kaum penjahat.....

"Bagaimana dengan kau sendiri. ?" jengek Kim Thi sia sambil tertawa dingin. "Bukankah kau

salah satu diantara komplotan mereka?" dengan wajah hampir menangis tosu itu berkata.

"Mula-mula aku hanya seorang pekerja dalam kuil Pek hun koan, tapi sejak lenyapkan koancu, mereka memaksaku untuk masuk komplotan. sebab barang siapa berani membangkang perkataan mereka segera dibunuh dengan kejam. Aku takut jiwaku terancam maka dengan terpaksa turut menjadi komplotan orang-orang itu oooh, tayhiap. berbuatlah kebajikan dengan mengampuni selembar jiwaku ini. "

"Bagaimana dengan kawanan perempuan itu? Mengapa mereka ditawan disini. ?" tanya Kim

Thi sia lebih jauh.

" Kejahatan yang dilakukan Pek hun koan sudah termashur dimana-mana, rakyat kecil tak berani hidup disekitar tempat ini lagi. Karena banyak orang sudah pindah rumah maka rekan- rekan kamipun beralih mencari sasaran dikeresidenan lain. Terutama mereka yang gemar main perempuan, entah sudah berapa banyak waktu yang menjadi korban perkosaan mereka.

Akibatnya sekawan pendekar wanita menjadi gusar dan mereka datang untuk menumpas kami. sayang ilmu silat yang dimiliki perempuan-perempuan itu terlalu biasa, belum sempat memasuki kuil Pek hun koan, mereka sudah kena diringkus disini dan digantung ditiang besi siap. "

"siap menjadi bebek panjang bukan?" sela lelaki ceking itu mendadak.

Agaknya tosu itu tak menyangka akan muncul pertanyaan tersebut, kontan ia menjadi terperanjat dan mengawasi wajahnya dengan ketakutan. Kim Thi sia segera mengulapkan tangannya lalu berseru:

"Hey situa lebih baik jangan banyak bicara, aku akan menganggap dirimu sebagai bisu." "Maknya.....kau sibocah kampungan yang bisu " balas lelaki ceking itu cepat.

Kim Thi sia tahu, orang itu sedang mengumpatnya maka dengan hati mendongkol tiba-tiba saja sebuah pukulan dilontarkan kedepan.

Lelaki ceking itu segera berteriak keras:

"Hey nona-nona, mari cepat lihat, bocah ini benar-benar kampungan masa sedikit-dikit mau menunju orang."

suaranya keras lagi melengking, kontan saja dua puluhan orang nona yang sedang duduk disisi arena serentak berpaling kearah Kim Thi sia.

selama hidup Kim Thi sia paling takut dilihat perempuan, dengan wajah bersemu merah dia segera menghentikan serangannya. Melihat itu, kembali lelaki ceking tersebut menjengek.

"Hmmm, kukira kau sibocah busuk punya nyali dan berapi menghajar orang, ternyata kaupun gentong nasi yang tak berguna, begitu berada didepan perempuan lantas tak berani apa-apa "

Tak terlukiskan rasa mendongkol Kim Thi sia menyaksikan hal ini, kalau bisa dia ingin menghajar mampus lelaki tersebut.

sementara itu keempat orang kakak adik seperguruan akupun duduk tidak jauh dari rombongan nona-nona, mereka nampak berbicara dengan asyiknya, terutama murid pertama dari Pedang sakti bunga beterbangan itu, nampaknya ia sedang bermain mata dengan seorang gadis cantik, meski tak berkata-kata, namun jelas terlihat kedua belah pihak sama-sama punya maksud.

Dalam pada itu, sisute keempatpun sedang menuding kearahnya sambil membual sesuatu, lain tampak beberapa orang perempuan berpaling mengawasi kearahnya.

Cepat-cepat Kim Thi sia berpaling dan pura-pura tidak melihat, dengan kepala tertunduk ia mengajak tosu tadi berbicara lagi.

Diantara sekian orang, lelaki ceking itu yang nampak paling lincah, sebentar dia berada disini sebentar berada disana, dimanapun dia berada, kawanan gadis itu selalu dibuat tertawa terpingkal-pingkal.

Mendadak terlihat dua puluhan orang gadis itu bersama-sama mengawasi kearahnya sedang lelaki ceking itu nampak berbicara entah apa yang dikatakan, tapi sejenak kemudian tampak semua orang tertawa cekikikan.

Kim Thi sia yang melihat hal ini segera menganggap lelaki ceking tersebut sedang menggunakan dirinya sebagai bahan gurauan, dengan gemas ia segera melotot sekejap kearahnya.

siapa tahu lelaki ceking itu bukan saja tak berhenti berbicara, malah dengan suara keras teriaknya:

"Hey bocah muda, matamu tidak berbeda seperti mata patung dikuil, lebih banyak putihnya daripada hitamnya. " Kim Thi sia benar-benar dibuat kehabisan akal, ia tak ambil perduli.

Mungkin lelaki ceking itu mengira dia takut dengan suara lebih keras kembali teriaknya:

"Hey bocah muda, jangan kau anggap tubuhmu lebih kekar maka aku takut kepadamu, padahal aku hanya takut dengan tulangmu, tulang bahumu keras lagi busuk. sampai kepalakupun enggan menggebukmu. "

Perkataan itu segera memancing gelak tertawa kawanan sinona, kali ini Kim Thi sia benar-benar dibuat naik darah, tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, lelaki ceking tadi telah berkata lagi:

"Tapi kalau berbicara sesungguhnya, otot tulang bocah muda inipun ada kebaikannya, dia bisa membuat musuhnya kaok sendiri bila berani menggebuknya. Hal inilah membuat aku merasa amat kagum."

segera Kim Thi sia menghentikan langkahnya, dibawah pandangan orang banyak tentu saja dia tak bisa mencari gara-gara terhadap orang yang memuji dirinya.

Ia sadar tak mungkin bagi dirinya untuk melakukan perjalanan bersama-sama silelaki ceking itu lagi.

Dari penuturan si tosu tadi, diapun mengetahui bahwa lenyapnya sin hong tojin sekalian adalah merupakan ulah dari bibi gurunya.

Yang dimaksud sebagai "lembah nirmala" diapun teringat kembali pesan terakhir ayahnya, ia tahu lembah Nirmala merupakan sebuah lembah dengan sekawanan jago lihay berdiam disitu, jago-jago lihay hasil paksaan dari bibi gurunya.

Dari sepak terjang bibi gurunya itu, diapun bisa menyimpulkan bahwa perbuatannya amat jahat, dia merasa berkewajiban untuk melenyapkannya dari muka bumi.

Disamping itu Kim Thi sia juga mendapat bukti bahwa Tay goan sinkang merupakan ilmu tandingan dari Tay yu sinkang, ia sadar asal kepandaian tersebut dilatih dengan tekun, maka tak sulit baginya untuk menjagoi dunia persilatan dikemudian hari.

Begitu keputusan diambil, maka ujarnya kepada keempat orang murid dari sipedang sakti bunga beterbangan itu.

"Rekan- rekanku, terus terang saja aku harus meninggalkan kalian, sebab masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, semoga kalian bisa baik-baik menjaga diri dalam perjalanan selanjutnya."

Meski baru bergaul berapa hari, nampaknya keempat orang pemuda itu sudah menjalin hubungan yang baik dengan Kim Thi sia, tentu saja mereka merasa keberanian dan berusaha untuk menahannya, tapi Kim Thi sia tetap bersikeras dengan putusannya, begitu selesai berkata ia segera beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.

"Kim tayhiap. apakah kami telah melakukan kesalahan?" sute keempat bertanya dengan sedih.

Namun Kim Thi sia tidak menjawab lagi, dia meneruskan langkahnya pergi meninggalkan tempat itu.

silelaki ceking yang mengikuti adegan tadi kontan saja menjengek sambil tertawa dingini

"Aku lihat, bukan saja sepak terjang orang ini kampungan, wataknya juga berangasan macam kerbau, hey bocah kunyuk, kalau ingin menggelinding pergi cepatlah pergi. Hmmm, dia toh bukan mestika, kenapa mesti bergaya macam-macam "

"Yaa, tabiat orang she Kim ini memang aneh" sambung seorang nona dengan suara nyaring. Habis sudah kesabaran Kim Thi sia, mendadak ia berpaling sambil umpatnya:

"situa, bila kau berani menyebut nama aku she Kim lagi, akan kusuruh kau menitis menjadi seekor anjing." Lelaki ceking itu tidak menggubris, dia mengorek lubang hidungnya dengan begitu asyik, sampai Kim Thi sia hendak meneruskan perjalanannya, dengan suara lengking ia baru berseru:

"Kau sikunyuk sembarangan mengumpat orang, dalam penitisan mendatangpun tida akan lebih baik daripada binatang." Kim Thi sia gusar sekali, bentaknya keras-keras: "Kalau punya nyali, ayoh tinggalkan namamu. "

"Binatang khas dari gurun pasir"sahut lelaki itu acuh tak acuh. "Kalau bicara yang lebih jelas"

"Kuda berbisul dipunggung"

Kim Thi sia agak tertegun sejenak, tapi ia segera mengerti apa yang dimaksud, dengan suara dalam katanya kemudian:

"Hey unta busuk, bila kita bersua lagi dikemudian hari, saat itulah kita akan berduel mati- matian-"

"Jangan kuatir, aku situa memang senang berkelahi. "

Kim Thi sia tidak banyak berbicara lagi, pikirnya:

"Percuma bicara dengan manusia macam gonggongan anjing begitu, biar kuberi pelajaran yang setimpal bila bersua lagi nanti."

Maka tanpa membuang waktu ia segera meneruskan perjalanannya kedepan......

Tak lama kemudian ia sudah masuk kedalam kota.

Dari kejauhan ia telah melihat lima orang gagah dari yang wi muncul dari rumah makan Kuipin, tapi tak nampak Lin lin bersama mereka. Kim Thi sia terkejut, ia tahu sebentar lagi Lin

lin tentu akan muncul, ia tak ingin bertamu dengan gadis itu, cepat-cepat dia menyelinap masuk kedalam sebuah lorong kecil.

Besar juga suara tertawa Lin lin kedengaran makin lama semakin mendekat cepat-cepat Kim Thi sia berlarian menelusuri lorong lalu dengan cepat membelok lagi ketikungan lain.

Dia sendiri tak habis mengerti kenapa menaruh rasa marah kepada Lin lin, dia hanya tahu Lin lin telah menyakiti hatinya, bila dia mesti tebalkan muka untuk berbaikan dulu dengannya, hal ini- jelas merupakan suatu penghinaan besar baginya.

Itulah sebabnya dia berharap Lin lin yang minta maaf dulu kepadanya agar dia tak kehilangan muka.

Tapi Lin lin pun tak pernah berbuat demikian itulah sebabnya Kim Thi sia yang berwatak kaku tak ingin mendekatinya lebih dulu.

Dalam waktu singkat ia telah menelusuri berpuluh lorong dan menempuh arah yang berlawanan keenam orang tersebut.

Akhirnya sampailah dia disebuah persimpangan jalan, baru saja dia hendak melangkah tiba-tiba dilihatnya putri Kim huan muncul pula diujung jalan sana. Entah mengapa tiba-tiba saja dia berjalan mendekati gadis itu dengan langkah lebar.

Tanda yang digunakan putri Kim huan sedang berhenti ditepi jalan agaknya gadis tersebut sedang menikmati keindahan panorama. Apalagi dibulan delapan ini merupakan musim pohon Kui berbunga, aneka bunga tumbuh segar menghiasi sepanjang sisi jalan.

Hari ini gadis itu nampak berdandan cantik dan menarik. sampai Kim Thi sia sendiripun terikat jadinya.

Waktu itu putri Kim huan sudah memetik banyak sekali bunga Kui, lagaknya tak berbeda seperti seorang bocah cilik saja. Tiga orang pengawalnya yang bertubuh tinggi kekar bagaikan raksasa bersembunyi d ibalik pepohonan, mereka nampak tertegun ketika melihat Kim Thi sia berjalan mendekati mereka.

Ketiga orang raksasa itu saling berpandangan sekejap. diluar dugaan ternyata mereka tidak bermaksud menghalanginya selain dari tenggorokannya memperdengarkan suara geraman lirih.

Kim Thi sia merasa amat bangga pikirnya: "Jangan-jangan mereka takut digebukin olehku?"

Rupanya suara geraman dari ketiga orang pengawalnya mengejutkan pula putri Kim huan. Ia segera berpaling ketika melihat Kim Thi sia sedang mengawasi wajahnya, sepasang biji matanya yang besar dan jeli itu nampak terkejut bercampur keheranan. Hal ini membuat Kim Thi sia menghentikan langkahnya tanpa terasa.

Disaat empat mata saling bertemu paras muka putri Kim huan kelihatan agak bersemu merah, tapi dengan cepat dia melengos kearah lain dan ia segera melanjutkan memetik bunga, sikapnya dingin lagi hambar seakan-akan menganggap pemuda itu sebagai orang asing. 

Kim Thi sia yang masih mendongkol karena dipermain silelaki ceking yang mengaku bernama Unta itu, kini telah muncul keinginan untuk mempermalukan gadis ini, sambil tertawa tergelak segera serunya:

"Selamat berjumpa tuan putriku yang cantik"

Putri Kim huan pura-pura tidak mendengar dia melanjutkan memetik bunga dari atas pohon.

Entah mengapa ternyata watak berangasan Kim Thi sia tiba-tiba saja seperti lenyap. sambil membetulkan letak bajunya dia maju makin mendekat dan katanya lagi:

"Aku dengar tuan putri amat menyukai Leng gwat kiamku, sekarang aku sudah mengerti, aku bersedia menghadiahkan pedang mestika untuk gadis cantik, menghadiahkan kepadamu tanpa syarat."

Putri Kim huan segera berkedip dengan mata yang bersinar tajam, agaknya dia merasakan hatinya berdebar keras, namun mulutnya tetap membungkam dalam seribub bahasa. melihat itu, Kim Thi sia segera berkata lagi:

"Mau atau tidak terserah pada putusan tuan putri sendiri, aku tak akan memaksa."

Putri Kim huan tidak bisa menahan diri lagi, mendadak dia menatap pemuda itu tajam-tajam dan berseru: "Aku tak akan mau ditipu olehmu lagi" "

"omong kosong, kapan aku pernah menipumu?"

sambil tertawa geli ia segera melepaskan pedangnya dari pinggang dan maju kedepan sambil dipersembahkan, kembali katanya: "Bagaimana kali ini pasti kau sudah percaya bukan?"

Pedang tersebut memang pedang palsu sejak leng gwat kiam lenyap dicuri orang, dia merampas pedang dari tangan Pek hun koan sebagai gantinya, dan sekarang ia selalu menggunakan pedang palsu itu untuk putri Kim huan dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengolok-olok dirinya.

Namun putri Kim huan cukup cekatan, tidak tertipu dengan begitu saja, sekejap saja dia melirik, kepalsuan pedang tadi sudah diketahui, sahutnya kemudian dingini "Pedang itu palsu."

Tercekat juga perasaan Kim Thi sia melihat ketajaman mata orang, tapi dia pura-pura melonjak marah, teriaknya keras: "Apa? kau jangan menghina, masa pedang begini palsu?"

"Mungkin kau yang tak mengerti mutu sebilah pedang."

"sudahlah, kau boleh pergi dari sini, aku tak punya banyak waktu lagi untuk ribut denganmu."

Melihat usahanya untuk mempermainkan gadis itu tak berhasil, maka diapun berkata lagi terang-terangan. "Kau memang amat cerdik, dalam sekilas pandangan saja, sudah tahu kalau pedang ini palsu, tadi kaupun mesti niat sebab Leng gwat kiam telah dicuri orang. selanjutnya kita berdua sama- sama tak punya rejeki lagi untuk memilikinya."

"Ayah baginda mempunyai banyak benda mestika. Hmmmm, aku sih tak sudi dengan benda macam begitu."

"Yaa, tentu saja kau tak sudi karena pedang itu sudah hilang tercuri" jengek Kim Thi sia sambil tertawa dingin- "Coba kalau pedang tersebut masih berada ditanganku, kujamin paras mukamu pasti akan berubah sangat hebat. Benar tidak?"

"Kau sangat jahat, selalu berkeinginan mempermainka aku. Aku yakin kau pasti sekarang telur busuk yang banyak berbuat jahat." Mendengar perkataan itu, Kim Thi sia segera tertawa terbahak- bahak.

"Haaaaah.....haaaaaah......haaaaaah denganmu memang sangat tepat sekali, aku memang

seekor harimau ganas dari Tionggoan, tidak seperti abang seperguruanku. Begitu melihat kau, dia lantas gelagapan seperti orang yang kehilangan semangat "

Dengan nada setengah memohon dan kening berkerut kencang putri Kim huan berseru: "Rasanya diantara kita berdua tak pernah terjalin permusuhan yang terlalu mendalam kenapa

sih kau selalu memusuhi aku? Aku rasa lebih baik kita tak usah saling menyapa dan menggubris kepada pihak lain. Kita anggap sebagai orang saja, bagaimana menurut pendapatmu "

setelah berhenti sejenak. kembali dia menambahkan-

"Kedatanganku kedaratan Tionggoan tak lain karena ingin menikmati keindahan panorama alam disini, bukan datang untuk cekcok serta bersilat lidah dengan kalian bangsa Han-sekalipun leluhur kita berasal dari satu sumber dan satu aliran darah, tapi sekarang kita sudah berbeda suku dan rasa antara sukuku dan sukumu sudah berbeda sekali, bukankah hal ini sama artinya bahwa kita adalah orang asing?"

"Aku belum pernah berpikir sampai kesitu. " kata Kim Thi sia.

"Berapa hari lagi aku akan pulang kenegeriku, mengapa kau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk bergembira sebentar?"

"Kalau begitu kau selalu merasa pusing kepala bila bertemu denganku?" tanya Kim Thi sia sambil tertawa.

Putri Kim huan tersenyum, ia tidak membantah kenyataan tersebut. Kim Thi sia segera berkata lebih jauh:

"Keliru besar bila kau mengatakan diantara kita berdua tak pernah terjalin permusuhan atapun perselisihan, bila diselidiki sesungguhnya. sebetulnya diantara kita pernah terjalin hubungan permusuhan, bukankah berapa hari berselang kau pernah memerintahkan anak buahmu untuk menghajarku?"

"siapa suruh kau mencari penyakit buat diri sendiri?" Kim Thi sia segera mendengus. "Hmmm, seandainya kau tak berhasrat merampas pedangku, kenapa aku mesti cekcok

denganmu? Apalagi waktu itu kau sedang disekap dalam sumah besi oleh sipembesar dari Kanglam, dimana kau tak bisa bergerak bebas. Pernahkan kau bayangkan siapa yang bersedia menjual nyawa bagimu dalam keadaan begitu?"

"Kau anggap ketulusanmu berasal dari keluarga anggun, keluarga terhormat maka kau pun boleh merampas barang milik orang lain dengan sesuka hati. ?"

" Untung aku yang menghadapi persolaan ini, kalau orang lain apakah dia tak akan dibuat ketakutan oleh kebengisan anak buahmu sehingga ibaratnya orang bisu menelan empedu. Biar kepahitan pun tak mampu mengutarakan perasaan hatinya." Putri Kim huan sudah terbiasa hidup dalam kemanjaan, selama hidup belum pernah dia ditegur orang, maka sindiran dan kritikan dari Kim Thi sia segera mengobarkan kembali watak aslinya.

Tanpa mengusapkan sepatah katapun dia segera membalikkan badan dan menyingkir dari situ, agaknya dia enggan mendengarkan perkataannya lagi. Dengan mempertinggi suaranya Kim Thi sia berkata lebih lanjut:

"Kalau toh kau berniat mengakui kesalahan, akupun tak akan memojokkan kedudukanmu lebih jauh."

Kesabaran putri Kim huan ada batasnya, sekarang dia tak bisa mengendalikan diri lagi, sambil tertawa dingin serunya:

"siapa yang mengaku salah? Kau jangan bicara sembarangan"

"Baik, kau sendiri yang berkata begitu, lihat saja bagaimana akhirnya nanti"

Putri Kim huan betul-betul tak sanggup menahan diri, segera serunya keras-keras: "Ciangkun-......dia "

Belum habis seruan itu bergumam, tiga orang raksasa itu sudah melompat bangun dan siap melancarkan terkaman kedepan-

Tapi dalam waktu singkat putri Kim huan seperti sudah berubah pikiran, kembali serunya: "Duduk"

sambil mengerang rendah, ketiga orang raksasa itu duduk kembali ketempat semula.

Kim Thi sia ingin berbicara lagi, tetapi saat itulah dari depan situ muncul debu yang menggulung-gulung diikuti munculnya serombongan penunggang kuda. seorang diantara penunggang kuda itu menuding kearah tandu sambil berseru keras: "Berhenti didepan situ itulah dia mereka"

Penunggang-penunggang kuda itu hampir semuanya memiliki gerakan tubuh yang cekatan, dalam waktu singkat mereka sudah melompat turun dari kudanya dan berdiri berjajar ditengah jalan-

Walaupun pakaian mereka berbeda, namun dapat dilihat bahwa mereka terdiri dari tujuh orang jagoan lihay dari dunia persilatan-

Diantara ketujuh orang itu terdapat seorang wanita, tapi usianya sudah mencapai lima puluhan tahun, rambutnya setengah beruban hingga mendekati seperti seorang nenek.

Waktu itu sinenek mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kearah Kim Thi sia, ketika empat mata saling bertemu tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya segera:

"Tajam amat pandangan mata orang ini, entah darimana datangnya mereka "

sementara itu, ketiga orang raksasa telah bangkit berdiri dan berdiri tegak ditengah jalan hingga memisahkan jalanan tersebut menjadi dua bagian.

Keenam orang jago lihay yang berdiri dibelakang nenek tersebut dengan sorot mata tajam dan kening menonjol tinggi sekali, berdiri tegak tanpa melakukan sesuatu gerakan, agaknya mereka tak akan bergerak sebelum mendapat perintah dari nenek tersebut.

Sudah jelas sinenek adalah pemimpin dari keenam orang tersebut hanya dandanan serta asal usul mereka terasa amat misterius dan membingungkan hati. Kim Thi sia kembali berpikir:

"Delapan puluh perasaan kedatangan orang-orang itu adalah untuk mencari putri Kim huan, itu berarti tak ada sangkut pautnya denganku. Lebih baik aku jangan mencampuri urusan mereka."

Berpikir demikian, dia segera mengundurkan diri kesamping arena dan berpeluk tangan sambil menonton peristiwa tersebut. Mendadak nenek itu menuding kearahnya sambil membentak:

"Hey anak muda, sebelum mendapat perintah dariku, lebih baik kau jangan sembarangan menggerakkan badan-"

selalu bernada mengancam, jelas merupakan suatu perintah yang tak boleh dibantah.

Diam-diam KimThisia merasa tidak senang hati, namun untuk mengetahui peristiwa yang bakal terjadi terpaksa dia harus menelan perasaan mendongkolnya itu seraya mengangguk. "Aku sudah tahu"

Nenek itu tersenyum hingga kerutan diatas wajahnya nampak semakin kentara, garis-garis kerutan wajahnya membentuk celah-celah yang banyak sekali. "Nah, begitu baru penurut" katanya lagi pelan-

setelah berhenti sejenak. dia segera menuding kembali kearah tiga manusia raksasa yang menghadang dihadapannya itu sambil perintahnya lagi: "singkirkan batu penghambat tersebujt"

serentak keenam orangjugo itu mengiakan, dengan langkah yang tertib sekali mereka menyebarkan diri dan mengurung ketiga orang raksasa tersebut ditengah arena.

Agaknya tingkah laku orang-orang tersebut menggusarkan pula hati ketiga orang raksasa tersebut, sambil membentak gusar mereka bersiap-siap untuk melakukan sesuatu tindakan-

"TUnggu sebentar" tiba-tiba Kim huan berseru. Lalu sambil berpaling kearah sinenek dia bertanya: "Hey nenek tolong tanya apa maksudmu?"

Nenek itu tersenyum ramah, sikapnya berbeda sekali dengan kelakuannya tadi, dengan lembut ia berkata:

"Bila nona bersedia mengikuti kami, tentu saja kamipun tak akan menyulitkan mereka."

Putri Kim huan membelalakkan matanya lebar-lebar, sepasang biji matanya yang jeli nampak diliputi perasaan tak habis mengerti, kembali dia berseru dengan nada tak habis mengerti:

"Aku tidak memahami maksudmu"

Dengan suatu pandangan mendalam nenek itu mengerling sekejap kearahnya, lalu ujarnya sambil tertawa:

"Nama besar nona memang tidak meleset seperti apa yang sudah tersiar dalam dunia persilatan selama ini, kecantikan wajahmu pun tiada taranya dikolong langit, nada suaranya juga amat merdu bak kicauan burung nuri. Hmmmmm. entah dari mana datangnya rejeki baginya?"

Ucapan yang tiada ujung pangkalnya ini semakin membingungkan putri Kim huan, diapun tak tahu siapa yang dimaksud sebagai "nya" oleh nenek tersebut?

Tapi sebagai seorang gadis yang cerdik, dengan cepat putri Kim huan sadar bahwa ada orang yang secara lamat-lamat menaruh niat jahat terhadapnya bisa jadi hendak mengangkangi dirinya.

Tentu saja dia merasa amat rikuh untuk menanyakan masalah seperti ini, apalagi dihadapan umum. Tiba-tiba Kim Thi sia menyela: "Nenek dia bukan bangsa Han"

Nenek itu tersenyum ramah, sahutnya singkat: "Anak muda, akujauh lebih mengerti dari padamu."

Melihat Kim Thi sia turut menimbrung dengan wajah yang santai dan senyuman dalam, putri Kim huan segera mengira pemuda tersebut telah bersekongkol dengan kawanan yang dipimpin sinenek ini.

Paras mukanya segera berubah hebat, sambil menuding kearahnya dia berseru:

"Aku sudah menduga kalau kau bukan orang baik, Hmmm, ternyata dugaanku tidak salah." Kim Thi sia jadi tertegun, tetapi dengan cepat ia berseru: "Hey apa maksud perkataanmu itu, apakah aku orang baik atau bukan, rasanya toh tiada sangkut pautnya dengan dirimu."

"sudahlah, kau tak perlu membantah lagi, sekalipun kau berdebat sampai putus lidahmu, aku tetap tak akan percaya dengan perkataanmu."

Kim Thi sia yang tanpa sebab musabab telah disangkut pautkan dengan persoalan tersebut menjadi jengkel, watak liarnyapun ikut tumbuh, segera teriaknya keras-keras:

"Kalau tidak percaya yaa sudah, toh aku tidak berniat memaksamu untuk percaya, apa pun kau ingin berbicara silahkan saja berbicara, yang pasti aku tak akan mencampuri urusanmu."

Putri Kim huan tidak menggubris pemuda itu lagi, sambil berpaling lagi kearah sinenek dia bertanya:

"Nah nenek. sekarang kau boleh jelaskan maksudmu. Asal aku mampu melakukannya tentu akan kubantu kalian sebisanya."

sebaliknya Kim Thi sia sambil berpeluk tangan telah duduk diatas batu, mulutnya dicibirkan dan dia menonton kejadian tersebut tanpa turut berbicara lagi. Terdengar nenek itu berkata sambil tertawa:

"Nona, bila kau bersedia ikut bersama kami, sepanjang masa kau akan hidup bahagia." Kemudian tambahnya lagi:

" Kecantikan wajahmu telah menggambarkan seluruh daratan Tionggoan- Entah berapa banyak gadis cantik yang kau ungguli, itulah sebabnya kami mendapat perintah untuk mengundangmu. "

"siapa yang mengutus kalian datang kemari?" putri Kim huan balik bertanya dengan wajah tertegun-

"soal ini tak perlu kau tanyakan dulu" kata sinenek sambil tertawa. "Pokoknya orang yang mengutus kami adalah bangsa Han yang amat berkuasa dinegeri ini"

"Hmmm, apanya yang luar biasa dengan kedudukan itu. " putri Kim huan menjengek sinis.

setelah mengerling sekejap kearah Kim Thi sia, dia berkata lebih jauh dengan nada angkuh: "Ayahku pun seseorang yang sangat berkuasa, aku hanya ingin tahu siapakah dia? Apa

kekuasaannya dinegeri ini? Dan mengapa mengundang aku untuk menjumpainya?" Dengan suara lembut setengah membujuk nenek itu berkata lagi:

"Nah, kau tak usah banyak bertanya lagi, yang pasti kami tak akan menyia-nyiakan dirimu." "Bila kau tidak menjelaskan lebih dulu akupun tak akan menyanggupi" tukas putri Kim huan

mulai tak senang hati.

Memanfaatkan kesempatan ini, Kim Thi sia segera menyela sambil tertawa dingin.

"Kalau berganti aku yang menghadapi persoalan ini. Hoeeh......heeeeh bila diundang secara

halus tak bisa, akan kuundang dengan kekerasan- "

"Manusia jahanam, tutup mulutmu yang bau itu" teriak putri Kim huan sangat marah. "Heeeeeh.....heeeeeh......heeeeeh manusia jahanam? Kau berani memakiku sebagai

manusia jahanam?" Kim Thi sia segera melompat bangun dan tertawa tergelak. "Haaah...haaah...haaaah. mulut toh menempel ditubuhku, mau berbicara atau tidak. apa hakmu

untuk melarang?"

Ketika melihat si nona menjadi marah, nenek itu segera menegur pula dengan suara nyaring: "Hey anak muda lebih baik kau jangan mencampuri urusan kami, sebab tindakan seperti ini

akan mendatangkan ketidak beruntungan bagimu." Kim Thi sia segera berkerut kening, dia

berseru pula dengan suara lantang: "Hey nenek. jangan kau kira aku benar-benar takut kepada kalian- " Tapi secara tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, hawa amarahnya segera mereda sambil duduk kembali katanya:

"Baiklah, tidak mengurus yaa tidak mengurus, bagaimanapun jua mati hidupnya toh tiada sangkut pautnya denganku."

"Eeei anak muda, siapa namamu?" tiba-tiba nenek itu menegur. "Ki Pian li"

Nenek itu segera manggut-manggut dengan perasaan lega, katanya kemudian singkat: "Aneh betul namamu. "

sebaliknya putri Kim huan seperti memahami akan sesuatu, ia segera tertawa cekikikan, mesti tak diutarakan keluar namun dia merasa tindakan Kim Thi sia barusan amat menggelikan.

Rupanya nama yang dipakai pemuda tersebut "Ki Pian li" mempunyai arti yang sama sebagai "aku bohongi dirimu".

Dalam pada itu, sinenek telah menatap kembali wajah putri Kim huan dengan wajah serius, katanya lagi:

"Nona, apa yang hendak kuucapkan telah selesai kusampaikan, sekarang tinggal kau yang mempertimbangkan."

Yang dimaksukan "mempertimbangkan" pun amat jelas, yaitu sebelum mereka mengambil suatu tindakan, gadis tersebut diberi kesempatan untuk menentukan pulihannya bila putri Kim huan tetap menolak, maka nenek itupun akan memaksanya dengan menggunakan segala kemampuan.

Kim Thi sia nampak kasar dan bodoh diluar sesungguhnya memiliki otak yang encer. Dia segera dapat memahami maksud perkataan dari nenek tersebut, diam-diam pikirnya:

"Terlepas dari budi dendam pribadi yang terjalin antara aku dengan perempuan ini. Bila ditinjau dari sikap sinenek yang hendak menculik orang yang tanpa sebab musabab yang jelas, tindakan ini sudah terang tak benar. aku tak bisa berpeluk tangan saja membiarkan kejahatan

berlangsung dihadapan mataku."

Ia memang seorang pemuda yang amat cermat membedakan antara baik dan buruk karena diapun bisa mengambil keputusan dengan cepat.

sementara itu putri Kim huan masih termenung sambil berputar otak untuk sesaat dia tak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan itu.

Dengan biji matanya yang jeli dia mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dengan kekuatan tujuh lawan tiga sudah jelas pihak lawan yang berada diposisi menguntungkan apalagi disitupun masih hadir Kim Thi sia yang tidak diketahui statusnya sebagai teman atau musuh.

Pikir punya pikir dia mulai menggerutu dalam hati kecilnya mengapa tempat tersebut bukan negeri Kim, kalau tidak mustahil bisa terjadi peristiwa yang demikian anehnya.

Untuk sementara waktu suasana pun dicekam dalam keheningan- Walaupun diluarnya kedua belah pihak nampak amat ramah dan penuh kedamaian, namun inilah saat yang paling kritis menjelang terjadinya suatu bentrokan kekerasan-

segulung angin kencang berhembus lewat membawa debu dan pasir yang beterbangan-Tanpa terasa semua orang memejamkan matanya sekejap.

Waktu itu hanya Kim Thi sia seorang masih melototkan matanya lebar-lebar sebab disaat angin kencang berhembus lewat tadi, dia telah menyaksikan lambang khusus dari istana Kaisar yang tertera ditubuh anak buah nenek tersebut.

sejak kecil ia sudah sering mendengar kisah cerita tentang keraton serta pelbagai seluk beluk kehidupan dalam istana dari ayahnya. sebab itu diapun mengetahui pula pelbagai lambang dan ciri khas dari petugas istana kaisar. Dalam waktu singkat diapun menjadi paham siapa gerangan nenek itu dan apa maksud kedatangannya kesana.

Jangan-jangan kecantikan wajahnya telah menggeparkan kolong langit sehingga mereka berniat memaksanya masuk istana untuk melayani Baginda raja saat ini ? demikian ia mulai

berpikir.

Kemudian diapun berpikir lebih jauh.

"sudah pasti orang-orang ini berharap bisa dimanja dan disayang oleh sri baginda hingga memperoleh pangkat yang lebih tinggi. Hmmmm kalau dipikir kembali, cara kerja jago-jago

lihay dari istana kaisar ini benar-benar keji dan jahat. "

Tanpa terasa diapun terbayang kembali segala siksaan dan penderitaan gadis-gadis cantik yang tertampung dalam istana raja, dimana setiap hari kerjanya hanya disekap dan menghbur raja....

Biarpun dia adalah seorang lelaki, tidak urung peluh dingin bercucuran juga membasahi tubuhnya.

"Rencana keji ini terlalu menakutkan " kembali dia berpikir didalam hati.

Sekarang dia sudah mulai menguatirkan keselamatan putri Kim huan, meskipun ia merasa takpuas dengan sikap angkuh dari gadis tersebut namun bagaimanapun juga dia adalah seorang nona yang amat cantik.

Dengan termangu-mangu pemuda itu menatap wajahnya tanpa berkedip. tapisinona belum merasakannya .

selang beberapa saat kemudian, agaknya ia sudah selesai mempertimbangkan hal itu baru saja akan berbicara mendadak terasa olehnya sorot mata Kim Thi sia sedang tertuju kearahnya cepat- cepat dia berpaling memandang pemuda tersebut.

Empat mata segera saling bertemu membuat gadis itu merasakan hatinya berdebar keras gumamnya lirih:

" Heran, mengapa sorot matanya begitu aneh seakan-akan telah mengetahui sesuatu seperti juga hendak memberi petunjuk kepadaku. sebetulnya apa yang sedang dia pikirkan ?^

Dari kilatan mata yang terpancar keluar dari balik matanya Kim Thi sia, putri Kim huan salah mengartikan maksudnya, pelan-pelan dia mendekatinya sambil berkata:

"Aku tahu, kau pasti ada persoalan yang hendak disampaikan kepadaku, bukankah begitu. ?"

Begitu dia berbicara, perhatian semua orangpun sama-sama dialihkan kewajahnya. Kontan saja nona itu merasakan wajahnya berubah menjadi merah karena jengah, sambil menghentikan langkahnya dia tertunduk rendah-rendah......

"Tidak. aku tak ada urusan apa-apa" sahut Kim Thi sia singkat.

Habis berkata dia segera duduk kembali sambil termenung. Tiba-tiba terdengar nenek itu bertanya sambil tertawa ramah: "Nona, apakah kau sudah selesai mempertimbangkan persoalan ini?"

Dengan cepat Kim Thi sia mendongakkan kepalanya dan menatap sekejap kearah gadis itu, melihat senyuman menghiasi wajahnya, diam-diam ia mendengus marah, gumamnya: "Hmmm, senyum palsu yang amat menggemaskan- "

sekali lagi dia menatap sekejap kewajah putri Kim huan, tapi gadis itu sudah melengos dengan pandangan dingin dan hambar malah pelan-pelan ujarnya:

"Aku rasa kemanapun aku hendak pergi merupakan kebebasan pribadiku, kalian tak usah memaksaku dengan kekerasan."

"Tepat, aku amat setuju dengan keputusan itu?" sorot Kim Thi sia dengan suara lantang. Nenek itu nampak tertegun, tiba-tiba senyumannya lenyap tak berbekas, bukan berpaling kearah putri Kim huan, ia justru menuding kearah Kim Thi sia sambil menegur:

"Hey anak muda, apa hubunganmu dengannya, berani amat berbicara kurang ajar dihadapanku. Hmmmm, kau anggap aku adalah manusia yang gampang dipermainkan dengan begitu saja?"

"Muluttoh milikku sendiri, apa yang ingin kubicarakan apa sangkut pautnya denganmu?" Nenek itu segera tertawa dingin.

"Hmmm, kalau aku bersikeras akan mencampuri mau apa kau. "

Tiba-tiba dia mengayunkan toyanya sambil melancarkan sebuah serangan dahsyat, desingan angin tajam yang menderu- deru serasa membelah angkasa.

Kim Thi sia segera memutar pedangnya sambil menangkis, ditengah dentingan nyaring, nampak cahaya hijau berkilat, pedangnya segera terpental oleh sambaran toya tersebut.

Nenek itu tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk mengatur napas, berhasil dengan serangan yang pertama, dia mendesak maju setengah langkah kedepan dan sekali lagi melepaskan sebuah serangan secepat sambaran kilat.........

sambil menghimpun tenaga dalamnya Kim Thi sia menyongsong ancaman tadi dengan tangkisan pedangnya.....

"Traaaaaangggg "

Tiba-tiba saja ia merasakan datangnya tenaga tekanan yang maha dahsyat menghimpun tubuhnya, tanpa sadar pedangnya terlepas dari genggaman dan mencelat ketengah udara.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, cepat-cepat pemuda itu menjatuhkan diri menggelinding diatas tanah, nyaris dia termakan oleh sambaran toya yang maha dahsyat itu.

Dengan demikian nenek itupun seegra mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Kim Thi sia, dia menganggap pemuda tersebut tidak memiliki kemampuan apa-apa.

Karenanya sambil menarik kembali toyanya dia menjengek sambil tertawa dingin-

"Hey anak muda, dua buah seranganku barusan hanya menjadi pelajaran bagimu agar tidak mencampuri urusanku, bila kau tetap membandel, jangan salahkan bila kuberi pelajaran yang lebih hebat lagi."

"Hey nenek. akupun ingin bertanya kepadamu" sahut Kim Thi sia sambil menahan kobaran hawa amarahnya.

"Coba katakan"

"Katakan terus terang, sebenarnya apa hubunganmu dengan sri Baginda saat ini?" Berubah hebat paras muka nenek itu, kontan dia membentak:

"Bocah muda, kau jangan bicara sembarangan kalau tak ingin mampus secara mengerikan-" "Kalau tak ingin berbicara terus terang yaa sudahlan mengapa kau mesti berkata sekasar

itu. ?"

"Mengapa kau mengajukan pertanyaan tersebut?"

"Bukankah kau mengatakan tadi bahwa orang yang mengundang nona ini adalah manusia yang paling berkuasa dikolong langit. sri Baginda raja, siapa lagi yang lebih berkuasa dikolong langit saat ini?"

"Bocah muda, rupanya kau meraba dari perkataan tersebut " senyum ramah kembali

muncul diwajah nenek itu. "Padahal dugaanmu itu keliru. Kecuali Baginda raja masih banyak orang yang berkuasa didunia ini, seperti misalnya ketua dari suatu perkumpulan besar atau ketua dari suatu perguruan besar. Bukankan merekapun orang yang amat berkuasa?" "Tapi kau maksudkan orang yang sedang berkuasa didunia ini" sengaja Kim Thi sia berseru. "Sudahlah bocah muda, kau jangan ngebacot terus, aku tak punya waktu untuk ribut

denganmu" tukas sinenek kemudian dengan wajah berubah. Lalu sambil berpaling kearah putri

Kim huan, dia berkata lebih jauh:

"Nona tak bisa menguatirkan hal-hal yang lain, kujamin tempat itujauh lebih indah daripada tempat manapun didunia ini. Disitu ada gunung, ada pohon, ada kolam, ada sungai, ada bunga dan rumput, yang pasti merupakan taman nirwana yang diimpilan setiap gadis cantik. Bukan saja hidangannya terlezat didunia, baju sutra halus dan kendaraan kencanapun selain tersedia, kujamin hanya sehari saja disitu kau sudah tak akan kemana lagi."

"Hmmmm apa yang luar biasa. " jengek putri Kim huan sinis. "Tempat itu tak bakal lebih

nyaman dari tempat dirumahku juga terdapat aneka macam yang kau katakan-setiap hari malah ada banyak penari dan penyanyi yang datang menghibur kami. "

Nenek itu menjadi tertegun, tanyanya kemudian-"Apakah ayah nonapun seseorang yang amat berkuasa. "

Menyinggung soal asal usulnya, senyum cerah segera menghiasi wajah putri Kim huan, sambil mengerdipkan matanya yang jeli dia menahut: "Yaa, ayahku adalah raja dari suatu negeri."

Nenek itu menjadi tertegun sesaat, tiba-tiba wajah mukanya berubah menjadi amat murung dan ragu, mungkin setelah putri Kim huan menyebutkan asal usulnya, dia menjadi ragu untuk mengambil keputusan.

sementara itu ketiga manusia raksasa tersebut masih berdiri berhadap muka dengan keenam jagoan lihay itu. Tak seorangpun diantara mereka yang melancarkan serangan lebih dulu.

Perundingan antara sang tuan putri dengan sinenekpun tidak mereka gubris pokoknya begitu perintah diturunkan maka mereka akan segera melaksanakannya.

setengah harian kemudian, nenek itu baru mengambil keputusan segera katanya: "Bagaimanapun juga, nona harus mengikuti aku sebab aku mesti memberi pertanggung jawab

kepada atasanku itu. Harap nona sudi memaklumi kesulitan ini."

"Kalian tak punya alasan untuk memaksaku. Aku mempunyai kebebasanku sendiri, meskipun tempat ini adalah daratan Tionggoan, namun kebebasan tetap menjadi milikku sendiri"

"Baiklah, kalau memang begitu aku terpaksa harus berlaku kasar kepada nona, sebab bagaimanapun jua aku mesti memberikan pertanggungan jawab kepada atasanku" kata sinenek dengan suara dalam.

"Aku tak ambil perduli. " seru putri Kim huan tak senang hati. "Apapun yang hendak kalian

lakukan, silahkan saja dilakukan."

Nenek itu mengangguk. dengan suara dalam ia segera berseru kepada keenam orang tersebut. "Hayo turun tangan"

Begitu perintah diturunkan keenam orang itu serentak membentak keras dan mengayunkan telapak tangan masing-masing melancarkan serangan dahsyat kearah ketiga orang raksasa tersebut.

Tiga orang raksasa itu membentak keras, tiba-tiba saja mereka memisahkan diri membentuk posisi segi tiga, enam buah telapak tangan dibalik sambil mendorong kemuka melepaskan enam buah pukulan yang amat dahsyat.

Kerja sama ketiga orang ini amat rapat tanpa titik kelemahan apapun, seketika itu juga keenam orang musuhnya berhasil didesak keluar dari lingkaran arena.

Kepandaian silat yang dimiliki keenam orang itu cukup tangguh, dalam waktu sekejap mata mereka telah menyebarkan diri dalam posisi enam sudut dan menyerang dari situ. serangkaian serangan yang gencar seketika memaksa salah seorang manusia raksasa itu terdesak mundur sejauh dua langkah lebih.

Begitu barisan sam tau tin terpecah dengan cepat merapat kembali, tiga manusia raksasa itu bagaikan satu tubuh saja, begitu melihat seorang rekannya terdesak mundur, dua orang lainnya serentak menutup kelemahan tadi dengan serangan yang gencar, tak sampai keenam orang musuhnya melancarkan gempuran balasan, mereka telah menyingkir kesamping serta membentuk kembali barisannya.

Gaya pertarungan dari barisan sam tau tinpun amat hebat, kalau seorang menggunakan kepalan maka yang lain menggunakan telapak tangan serta sepasang kakinya, deruan angin serangan yang begitu gencar diantara deruan angin serangan seringkali muncul serangkaian tendangan berantai yang ama hebat.

Mendadak terdengar teriakan kesakitan bergema memecahka keheningan, rupanya seorang diantara keenam orang tersebut sudah termakan oleh tendangan tadi hingga tubuhnya mencelat sejauh dua kaki lebih.

Dalam waktu singkat barisan pertahanan keenam orang itu menjadi kalut dan berbahaya sekali posisinya.

Untung saja mereka adalah kawanan jago persilatan yang sudah memiliki didikan ilmu silat yang hebat. Begitu muncul titik kelemahan dalam barisan Lah hap tin, dengan cepat mereka merubah barisannya menjadi Ngo huan tin-

Lima gulung serangan muncul dari lima posisi yang berlawanan secara berantai. Dalam waktu singkat kawanan manusia raksasa itu tak mampu melangkah maju satu tindak pun, posisi diatas angin yang semula direbut pun dalam sekejap saja telah berubah kembali menjadi seimbang.

Mendadak jagoan yang terluka itu telah membentak keras dan terjun kembali kedalam arena pertarungan.

Kim Thi sia segera dapat merasakan bahwa keenam orang tersebut rata-rata merupakan jagoan yang amat tangguh cukup dilihat dari kemampuan orang itu dalam mengatur napas serta memulihkan kembali kekuatan badannya, dapat diketahui bahwa ilmu silat mereka betul-betul hebat sekali.

sementara itu putri Kim huan sedang mengikuti pula jalannya pertarungan tersebut, ketika dilihatnya ketiga orang raksasa tersebut tak mampu melakukan keenam orang musuhnya. selapis perasaan sedih dan murung segera menghiasi wajahnya.

Dengan perasaan kuatir dia melirik sekejap kearah Kim Thi sia, ketika dilihatnya anak muda tersebut tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk terjun kearena pertarungan serta membalas dendam bagi sakit hatinya dulu. sedikit banyak dia merasa agak lega juga hatinya.

Mendadak sinenek itu berjalan menghampirinya sambil berseru: "Nona terpaksa aku harus menyiksamu sebentar"

Agaknya putri Kim huan memahami maksud perkataannya, dengan ketakutan dia mundur dua langkah kebelakang dan mencabut sebilah pisau yang tajam dari sakunya, lalu sambil ditempelkan diatas leher sendiri ancamnya:

"Bila kau berani maju selangkah lagi, aku segera akan menghabisi nyawaku sekarang juga. "

Tanpa sadar nenek itu menghentikan langkahnya, lalu berseru sambil tertawa: "Nona, kau jangan bergurau, apa artinya kau berbuat senekad ini?"

"Aku tak ambil perduli, kaulah yang memaksaku untuk berbuat demikian^. "

Nenek itu memutar biji matanya sebentar tiba-tiba ia mendapat satu akan, sambil menuding kemuka tiba-tiba serunya: "Hey nona, coba lihat, apakah itu?" Tanpa sadar putri Kim huan berpaling namun ia tak melihat sesuatu yang aneh, ketika hendak menegur, tahu-tahu desingan angin tajam telah menyambar lewat, pisau belati yang semula berada dalam genggamannya kini sudah dirampas oleh nenek tersebut dengan gerakan yang cepat sekali.

Dengan hilangnya ancaman, nenek itupun berseru lagi sambil tertawa bangga.

"Harap nona jangan marah, aku masih menyayangi nyawamu. Itulah sebabnya terpaksa aku mesti berbuat demikian-"

Berubah hebat paras muka putri Kim huan serunya mendongkol:

"Kau berani menyerangku secara licik. Hmmm, bila ayah baginda mengetahui akan hal ini, jangan harap kau bisa hidup dengan tenang didunia ini. "

Nenek itu segera tertawa.

"Tempat ini adalah daratan Tionggoan, lebih baik nona jangan menggunakan kekuasaan raja negeri Kim untuk menakut-nakuti aku."

Putri Kim huan merasa mendongkol sekali sehingga tak mampu berkata-kata, dengan badan gemetar dia mundur kebelakang tapi ketika dilihatnya sebatang pohon yang tumbang telah menyumbat jalan mundurnya, dia segera pejamkan mata seraya bergumam:

"Aku sendiri yang salah, bukan hidup senang dalam istana, siapa suruh aku mohon ijin kepada ayah Baginda untuk berpesiar kedaratan  Tionggoan?  sekarang  menyesalpun  tak  ada gunanya. "

Dalam pada itu sinenek telah menggenggam lengannya yang putih seraya memuji: "Nona, memiliki kulit badan yang benar-benar halus serta putih. "

Baru saja dia hendak menotok jalan darahnya, mendadak terdengar desingan angin tajam menyambar datang dari arah belakang. Ketika dia berpaling dengan cepat, tampaklah Kim Thi sia telah melancarkan sebuah pukulan dahsyat tanpa mengeluarkan sedikit suarapun. Dengan perasaan geram nenek itu tertawa dingin, serunya: "Bocah keparat, rupanya kau sudah bosan hidup,"

Tak nampak bagaimana cara untuk menghimpun tenaga, tahu-tahu sebuah pukulan telah dilontarkan pula kedepan-"Blaaaaammmmm. "

Dalam waktu singkat kedua gulung tenaga pukulan itu telah saling membentur satu sama lainnya.

Kim Thi sia segera merasakan munculnya segulung tenaga tekanan yang amat besar menghimpit tubuhnya. Kontan saja dia tak mampu berdiri tegak lagi dan mundur sejauh tiga langkah lebih sebelum dapat berdiri tegak. Dengan gusar nenek itu mengumpat:

"Bocah keparat, mengapa kau tidak bercermin dulu sampai dimanakah kemampuan yang kau miliki sehingga begitu berani mengganggu kelancarkan kerjaku."

Kim Thi sia sudah terbiasa menderita akibat dari serangan tersebut diapun tidak berbicara lagi, tubuhnya segera mendesak maju kemuka dan mengayunkan telapak tangannya melancarkan serangkaian serangan dahsyat.....

"Bocah keparat ini benar-benar tak tahu diri" umpat si nenek didalam hati. "Kalau tidak diberi pelajaran, dia pasti tak akan mengetahui tingginya langit dan tebalnya bumi."

Berpikir sampai disitu, hawa napsu membunuhnya segera berkobar, sambil menghimpun tenaga dalamnya sebesar enam bagian sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan-

Kim Thi sia amat membenci sinenek tersebut karena ia menyembunyikan golok dibalik senyuman dan berniat jahat. Kalau semula dia berniat adu kekerasan dengan saling menggempur, tiba-tiba saja ia berubah pikiran- Disaat serangannya mencapai setengah jalan, mendadak tangannya diayunkan kebawah dan melepaskan sebuah pukulan beradu jiwa.

Secara diam-diam ia telah menggunakan jurus kelima dari ilmu Tay goan sinkang yaitu jurus "Kekerasan menaklukkan jagad" untuk melepaskan sebuah babatan dahsyat.

Nenek itu kelewat memandang rendah kemampuan lawannya, ketika melihat pemuda itu merubah gerakan dengan membabat lambungnya, bahkan menggunakan bahu untuk menangksi serangan yang datang, ia menjadi marah sekali, tapi untuk berubah jurus tak sempat lagi, terpaksa dengan meningkatkan tenaga serangannya mencapai delapan bagian ia lepaskan serangan dahsyat kemuka.