Lembah Nirmala Jilid 18

 
Jilid 18

Lalu sambil menuding kearah seorang tosu bermuka hitam yang sudah tergeletak diatas tanah, dia mengumpat lagi:

"Maknya, engkau harus roboh agak pelan, tahukan kau tidurmu kali ini paling tidak akan berakhir sampai akhir jaman nanti? Huuuh, buat apa kau berlagak mampus sekarang, tangan mencoba menakut-nakuti aku, kau tahu aku adalah sobat karib siraja akhirat."

Dalam waktu singkat belasan orang tosu telah roboh bergelimpangan diatas tanah dan tak berkutik lagi, tampaknya mereka sudah roboh karena asap beracun yang dilepaskan silelaki ceking tadi.

Dengan begitu, kepungannya yang menghimpit Kim Thi sia juga semakin mengendor. Bahkan sisanya yang masih hidup pun kini sedang berdiri termangu- mangu sambil mengawasi rekan- rekan tosu yang telah mampus secara mengerikan itu.....

Dengan cepat Kim Thi sia pun menjadi paham apa gerangan yang telah terjadi, dia tahu lelaki ceking itu bukan mata-mata, rupanya secara diam-diam telah membantunya untuk merobohkan kawanan tosu tersebut.

Karenanya dengan nada setengah minta maaf dia berkata:

"Hey situa, kukira kau adalah mata-mata musuh, sekarang aku baru tahu keadaan yang sebenarnya, harap kau sudi memaafkan-"

Mendengar perkataan itu, silelaki ceking itu kontan menarik mukanya dia mencaci maki. "Telur busuk goblok, kalau aku berniat membantu mereka mengapa batok kepalamu tidak

kupenggal lebih dulu?"

Terbentur pada batunya, Kim Thi sia segera menggerutu.

"Ayah pernah bilang bila kita sudah minta maaf maka urusanpun dianggap selesai. Heran, kenapa situa justru berkaok-kaok macam anjing kelaparan. ?"

Karena mendongkol diapun tidak menggubris lagi.

Agaknya lelaki ceking itu hanya pura-pura marah, melihat pemuda itu mendongkol. Diapun berlagak termenung sambil mengorek lubang hidungnya dengan jari tangan.

Lalu setelah menyentilkan kotoran hidung ketempat jauh, dia seperti teringat akan sesuatu, pelan-pelan tanyanya sambil tertawa: "Hey rekan muda, berapa orang bajingan yang berhasil kau jagal?"

"Enam orang" jawab Kim Thi sia tetap mendongkol.

"Benar-benar manusia tak becus" umpat lelaki ceking itu lagi sambil menarik muka dan mendengus dingin. "Masa begitu lama bertarung, baru enam orang yang berhasil dijagai. Padahal tosu baru itu jumlahnya puluhan, kalau semua orang bekerja macam dirimu, sampai kapan urusan baru selesai? Hmmm, dasar orang goblok dimintai bantuan urusan makin runyem. "

Perkataan itu nampaknya sengaja ditujukan kepada Kim Thi sia karena diucapkan dengan suara keras.

Bagaikan dipagut ular berbisa, Kim Thi sia segera berteriak keras-keras:

"Tua bangka, kalau kau hebat, kerjakan saja seorang diri, aku tak akan mencampuri urusanmu lagi." Lelaki ceking itu nampak agak tertegun lalu gumamnya:

"Baik, baik biar aku yang selesaikan sendiri, biar aku yang kerjakan sendiri Bila berita ini sampai tersiar dalam dunia persilatan nanti. Lihat saja siapa yang bakal apes."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh:

"Haaaah.....haaaah bakal ada seseorang yang dianggap sebagai manusia pengecut yang

takut mampus. "

"Hey tua bangka" Kim Thi sia berteriak marah. "Bila kau berani mengusirku lagi, jangan salahkan kalau aku akan menyerangmu?"

"Bocah keparat, kau hendak menakut-nakuti aku? Hmmm, jangan dilihat badanku ceking, tulangku enteng. Hmmmm.......hmmmm. sebelum memukul aku. Coba diperiksa dulu berapa

kerat tulang yang kau miliki."

Makin berbicara lelaki ceking itu makin mendongkol, kembali serunya:

"Maknya, selama berapa puluh tahun aku hidup berkelana didalam dunia persilatan, semua jago yang bertemu aku baik dari golongan hitam maupun putih selalu memanggil toaya kepadaku. setiap bersua mereka pasti menyapaku dengan hormat, sungguh tak sangka aku malah diumpat- umpat orang disini. Hey bocah keparat, nampaknya kau memang sengaja mencari gara-gara denganku "

Kim Thi sia mendengus dingin dan segera melengos kearah lain.

Tapi ketika dilihatnya lelaki ceking itu makin mencaci maki tiada hentinya, dengan langkah lebar dia segera berjalan menghampirinya lalu menegur:

"Hey situa, aku lihat kau belum mencucuran air mata sebelum melihat peti mati, memangnya ingin berkelahi denganku?"

Pada dasarnya Kim Thi sia memang seorang lelaki kasar, bila dia sudah berniat membunuh orang, biar seorang kaisarpun mungkin akan diserangnya juga. Lelaki ceking itu segera berteriak:

"Bila kau berani maju selangkah lagi, hati-hati kalau batok kepalamu bakal berpindah tempat, ayoh cepat hentikan langkahmu dan dengarkan dulu perkataanku."

Kim Thi sia sama sekali tak menggubris, sambil mengayunkan langkahnya dia melanjutkan perjalanan kedepan, makin berjalan semakin mendekat.

Jarak mereka makin lama semakin dekat, andaikata Kim Thi sia memiliki tenaga dalam, sekarang ia sudah bisa mulai menyerang.

Agaknya lelaki ceking itu mulai gugup dan gelisah, jeritnya lengking: "Hey anak muda, dengarkan dulu perkataanku."

Kim Thi sia menghentikan langkahnya pada jarak satu kaki dihadapannya, lalu menegur: "Kalau ingin berbicara ayoh cepat katakan."

"Anak muda, lebih baik kita jangan berkelahi" kata silelaki ceking itu sambil tertawa cengar cengir.

"Hmmm, tidak bisa."

Dengan kening berkerut lelaki ceking itu berkata lagi:

"Kita sama-sama orang yan banyak pengalaman, kejadian macam apapun pernah dijumpai, buat apa sih kita berkelahi hanya gara-gara urusan kecil? Tak baik bila dilanjutkan, lebih baik kita bekerja sama untuk bertarung melawan kawanan tosu bau saja, coba lihat, kawanan tosu itu sedang menonton kita dengan wajah gembira."

Tanpa terasa Kim Thi sia memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, benar seperti apa yang dikatakan lelaki ceking itu, kawanan tosu tersebut sedang menonton ulah mereka dari sisi arena, namun wajah mereka tak nampak gembira, sebaliknya hanya berdiri mematung disitu. Dia mulai sangsi, dia sadar bila mereka sampai gontok-gontokan sendiri, niscaya pihak musuh yang gembira, apalagi kesempatan dikemudian hari toh masih banyak. kenapa urusan mereka harus diselesaikan dalam keadaan begini? Berpikir sampai disitu, mimik wajahnyapun berubah agak kendor kembali.......

Terdengar lelaki ceking itu berkata lagi:

"Padahal bicara yang sesungguhnya, tangankupun sudah gatal sekali setelah kau maki diriku tadi, namun memikirkan masalah didepan mata, terpaksa aku harus menyingkirkan dulu masalah pirbadi. "

Kim Thi sia segera berkerut kening, pikirnya: "setan ini mulai mengatur gerak mundur." sebagai pemuda yang berhati bajik, dia tak ingin menghilangkan nyawa orang demi

kepentingan pribadi, maka katanya kemudian:

"Baiklah, kali ini aku menuruti saja perkataanmu, tapi lain kali tak akan segampang ini persoalan bisa diselesaikan."

Tampaknya lelaki ceking itupun telah memadamkan api kegusarannya, dia berkaok kembali: "Hmmm, akupun tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja seandainya tidak teringat

dengan keselamatan jiwa para jago kaum lurus yang sedang terancam. "

Tak terlukiskan rasa mendongkol Kim Thi sia saat ini, tapi terpaksa ia mesti menahan diri sedapat mungkin, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dia bergerak maju meninggalkan tempat itu.

Belum berapa langkah dia berjalan, tiba-tiba jalan perginya telah dihadang seseorang, Kim Thi sia mencoba untuk mengawasi orang itu ternyata dia adalah seorang tosu tua bermuka kuning yang kurus kering dan brusia enam puluh tahunan.

sekalipun tidak nampak sikap ketuaannya, namun orang itu berwajah penyakitan hingga wajahnya nampak amat suram dan tua.

Tanpa berpikir panjang dia segera mengayunkan tangannya melancarkan sebuah pukulan.

Mendadal dalam benaknya terlintas kembali ucapan dari ayahnya dulu.

"Anak sia, banyak macam manusia dalam dunia persilatan yang harus diampuni, terutama sekali orang yang sudah tua, lemah, cacad atau sakit. sekalipun mereka telah melakukan kejahatan namun dosa mereka harus diampuni. Kau tak boleh bertindak kelewat keji hingga bisa dianggap orang sebagai manusia yang tak berperi kemanusiaan." Teringat akan hal ini, cepat- cepat dia menarik kembali serangannya sambil berkata: "Tosu tua, aku tak ingin membunuhmu cepatlah pergi meloloskan diri. "

Dengan suara lemah tosu tua itu segera menjawab:

"Anak muda, kau jangan salah melihat, aku adalah tianglo bagian hukum dari kuil Pek hun koan?"

"Aku tak ambil perduli siapakah kau, wajahmu yang berpenyakitan membuat aku tak tega membunuhmu? "

Tosu tua itu segera tertawa.

"sebelum menang kalah ditentukan, kau sudah berani bicara besar, nyata sekali kau sibocah muda memang orang baik."

Mendadak tubuhnya mendesak kemuka selincah kera, dalam waktu singkat sepasang telapak tangannya sudah diayunkan kedepan melancarkan dua buah serangan yang amat dahsyat.

segulung angin pukulan yang amat dahsyatpun segera menggulung kedepan mengancam tubuh Kim Thi sia. Dengan perasaan amat terkejut Kim Thi sia melompat mundur kebelakang, begitu lolos dari serangan dia segera berteriak dengan gusar. "Maknya, rupanya kau sitosu tua sedang berpura- pura sakti."

Gagal dengan seragannya yang pertama tosu tua itu mendesak maju lebih kedepan kembali dua buah serangan yang amat gencar dan dahsyat dilontarkan kedepan.

Deruan angin serangan yang tajam seketika menyelimuti seluruh udara, bila dibandingkan dengan kawanan tosu yang mengepung Kim Thi sia tadi, kepandaian orang ini berapa kali lipat lebih dahsyat.

Begitu kehilangan posisi yang menguntungkan Kim Thi sia tak berani bertindak gegabah, sekali lagi dia melompat mundur keb elakan sambil berseru dengan penuh kegusaran.

"Jika, kau masih saja tak tahu diri, jangan salahkan bila aku lancarkan serangan balasan-" Tosu tua itu tertawa dingin.

"Hmmm, apa salahnya bila kau mencoba sekali lagi?"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dia telah melancarkan sebuah sapuan kaki yang gencar.

Dengan cekatan Kim Thi sia menghindarkan diri kesamping, angin serangan yang tajam dan kuat segera menyambar lewat dari sisi tubuhnya.

Tosu itu tertawa dingin, kali ini dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat dari kejauhan-

Angin pukulan yang dilancarkan kali ini dilancarkan dengan suatu gerakan yang luar biasa seketika itu juga Kim Thi sia dipaksa tak sempat melancarkan serangan balasan dan segera terkurung oleh angin pukulan lawan-Dalam keadaan begini, pemuda itu segera pikirnya:

"sungguh tak disangka seoran tosu berpenyakitanpun memiliki tenaga dalam yang begitu hebat. Nampaknya aku harus menghadapinya dengan keras melawan keras."

Berpikir demikian, ia segera membentak keras, bukannya mundur dia malah mendesak maju kedepan dan menyambut serangan tersebut dengan bahunya, bersamaan waktunya diapun mengeluarkan ilmu Tay goan sinkangnya dan secara beruntun melancarkan serangan balasan dengan menggunakan jurus "suara guntur kilat menyambar", "awan menyambar kabut menggulung" serta "kobaran api dibalik bata".

Tak terlukiskan rasa kaget tosu tua yang hadapi datangnya serangan yang begitu dahsyat dan ampuhnya tak sempat lari untuk menarik kembali serangannya tadi, tiba-tiba "Blaaaaammmmmmmmm "

Kim Thi sia segera termakan oleh pukulan yang dahsyat itu hingga kuda-kudanmya gempur dan mundur tiga langkah kebelakang.

sebaliknya tosu tua itupun terhajar punggungnya sehingga menjerit keras dan mundur sejauh dua langkah.

Dalam satu gebrakan saja, kedua belah pihak telah saling menyerang secara nekad sehingga berakibat sama-sama terkena pukulan.

Lengan kiri Kim Thi sia menjadi linu, kaku dan tak mau menuruti perintahnya lagi, buru-buru dia mengeluarkan ilmu Ciat khi mi khinya untuk menarik hawa murninya kepusat dan menembusi nadi ditangan kirinya yang tersumbat, lambat laun perasaan linu tadi bisa dihilangkan kembali.

sebaliknya sitosu tadi dengan tenaga dalamnya yang sempurna, meski sudah termakan oleh pukulan dahsyat dari Kim Thi sia namun dengan cepatnya ia berhasil memulihkan kembali kondisi tubuhnya seperti semula.

sebagai seorang yang berpengalaman dengan dia yang mengetahui pula bahwa musuhnya hanya lihay didalam jurus serangan tapi lemah dalam tenaga dalam, itulah sebabnya diapun segera menyusun suatu rencana yang jitu untuk menghabisi nyawa pemuda tersebut dengan mengandalkan titik kelemahannya itu.

Kim Thi sia sebagai lelaki yang keras kepala, tentu saja merasa tidak puas setelah menderita kerugian dalam satu gebrakan saja, segera gumamnya seorang diri:

"Hmmm, bila harimau tidak unjuk gigi, pasti orang mengira aku sebagai kucing penyakitan. "

Dengan penuh amarah dia mengerling sekejap kearah tosu tua itu, kebetulan tosu tua itupun sedang mengerling sekejap kearahnya, begitu empat mata saling bertemu, tiba-tiba saja Kim Thi sia melompat penuh amarah, teriaknya keras-keras: "Tosu hidung kerbau, kucincang tubuhmu hingga hancur berkeping."

sepasang tangannya segera digetarkan keras, dua gulung tenaga pukulanpun segera meluncur kemuka membabat dada sitosu tua itu.

Tosu tua tersebut tertawa dingin, ia mundur selangkah sambil mengebaskan telapak tangannya kedepan.

seketika itu juga Kim Thi sia merasakan munculnya segulung tenaga dorongan yang sangat kuat menumbuk tubuhnya membuat ia tak mampu menahan diri, dengan perasaan terkejut bercampur ngeri tubuhnya terdorong mundur kebelakang.

Agaknya tosu tua itu sudah yakin kalau tenaga dalam yang dimiliki musuhnya amat cetek. dia segera manfaatkan kelemahan itu untuk menggempurnya berulang kali, dengan tenaga pukulan udara kosongnya yang hebat seketika itu juga Kim Thi sia terdesak hingga sulit untuk maju selangkahpun-

Menurut perhitungan tosu tua itu, bila ia menggepur anak muda tersebut secara terus menerus, maka kendatipun Kim Thi sia memiliki ilmu pukulan yang amat dahsyat. Mustahil dia bisa mempergunakannya dan apda akhirnya pasti akan tewas diujung telapak tangannya.

sayang dia tak mengira kalau musuh yang sedang dihadapinya sekarang adalah Kim Thi sia manusia yang termashur karena paling susah diladeni malah dia menyangka pemuda itu cuma bocah kemarin sore yang belum lama terjun kedunia persilatan-

Bila Kim Thi sia menyerang maka diapun tak bergerak, begitu pemuda tersebut mendesak kemuka, dia segera mendesaknya mundur dengan mengandalkan tenaga pukulannya yang maha dahsyat.

Akibatnya kedua orang itu saling bertatapan sampai lama sekali tanpa sempat melakukan sesuatu gerakanpun-

secara diam-diam Kim Thi sia melirik sekejap sekeliling tempat itu ia saksikan keempat orang suheng te itu sedang bertarung sengit melawan balasan orang tosu sedang lelaki ceking itupun betrok dengan lima enam orang tosu, dalam waktu singkat suara pertarungan telah menggetarkan seluruh angkasa.

Kini tinggal pihaknya saja yang masih menganggur, tanpa terasa dia menganggap peristiwa ini sebagai semacam penghinaan yang tak berujud paras mukanya segera berubah hebat.

Mendadak dari kejauhan sana tampak bayangan manusia berkelebat datang, Kim Thi sia mencoba menghitung jumlahnya, ternyata mencapai dua puluhan orang, tanpa terasa lagi dia membusungkan dada dan berseru sambil tertawa etrbahak-bahak.

"Haaaah......haaaaah......haaaah bagus sekali biar datang berkumpul semua, dengan begitu

suasana akan bertambah ramai."

Baru selesai perkataan itu diucapkan, dua puluhan tosu bengis itu sudah melubruk datang. seorang tosu bermuka codet langsung memberi hormat kepada tosu tua itu, kemudian

bentaknya keras-keras: "Serbu" serentak dua puluhan orang tosu itu meloloskan senjata masing-masing dan menyerang Kim Thi sia bersama-sama.

Kim Thi sia tak ambil diam, dengan jurus "guntur langit menyebar bunga" dia menghajar roboh seorang tosu menyusul kemudian dengan jurus "kobaran api menggulung kelangit" dia hajar seorang tosu yang berada didekatnya, sementara kakinya menyambar seorang tosu berwajah seram yang berdiri disisi kirinya.

Hanya dalam satu jurus tiga gebrakan dia telah berhasil merobohkan tiga orang musuh sekaligus keberhasilan ini bukan saja diluar dugaannya sama sekali bahkan membuat pemuda ini semakin memahami taktik dalam menghadapi musuh.

Pada saat itulah api berkobar semakin ganas lalu terdengar jeritan ngeri dan seorang wanita.

Baik, Kim Thi sia maupun lelaki ceking itu segera berubah wajahnya muka mereka mengejang keras seperti menyesali ketidak becusan sendiri

Dengan suara yang memekik telinga Kim Thi sia membentak nyaring, bagaikan singa terluka dia menggetarkan tangan kirinya merebut sebilah pedang lalu diantara kilauan cahaya hijau, jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan-

Beberapa orang tosu bengis yang berada dibarisan terdepan segera terpapas oleh sambutan pedangnya hingga lengan atau kaki mereka terpapas kutung. Percikan darah segar menyembur kemana-mana membuat suasana amat mengerikan hati. sisa tosu lainnya menjadi ngeri sendiri setelah melihat kelihayan musuhnya, serentak mereka mengundurkan diri d engan paras jeri.

Berhasil membabat musuhnya, Kim Thi sia membuang pedangnya lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang keluar dari kepungan, lalu dengan menggetarkan tangannya dia merobohkan sebatang tiang besi.

Tiang itu panjangnya satu kaki lebih, meski tiang yang dirobohkan membuat gadis yang terikat jatuh pingsan, namun dengan begitu merekapun lolos dari jilatan api yang membara.

Dengan cara yang sama secara beruntun dia merobohkan enam buah tiang besi dan menyelamatkan enam orang, tapi saat itulah kembali dia terkepung oleh sekawanan tosu bengis sehingga usaha pertolongannya terpaksa harus dihentikan. Dalam keadaan begitu, diapun berteriak keras:

"Hey situa, sekarang menjadi jawaban untuk menolong mereka, bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan, diantara kita tak bakalan ada kedamaian lagi "

Tampaknya lelaki ceking itupun menyadari gawatnya situasi, dia segera menarik kembali sikap badutnya dan menerjang keluar dari kepungan untuk menolong orang.

sementara itu toa suheng dari empat bersaudara seperguruan itu telah menderita luka, sambil menjerit tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.

Kim Thi sia yang menyaksikan peristiwa itu menjadi sangat terkejut akibatnya gerak serangannya menjadi melamban.

seorang tosu bengis yang melihat kesempatan baik segera memanfaatkannya dengan cepat, sebuah sapuan toya persis bersarang ditubuhnya, ia kesakitan setengah mati dan mundur sempoyongan sejauh satu kaki lebih.

Dengan sepasang mata merah membara dia segera merangkak bangun dari atas tanah sambil mengerahkan Tay goansin kang secara beruntun dia menghajar roboh empat orang musuhnya, lalu menerjang lepas dari kepungan dan mendekati si toa suheng itu.

saat ini dia merasa benci sekali dengan orang yang telah mencuri pedang Leng gwat kiamnya, andaikata dia tidak kehilangan senjata andalannya itu, sudah pasti kepandaian saktinya bisa dikeluarkan sekarang untuk membantai kawanan tosu bengis dari Pek hun koan.

"Semua kesalahan terletak pada dia, aku sudah menjalin permusuhan sedalam lautan dengannya." Dengan penuh rasa geram Kim Thi sia membentak keras, bagaikan malaikat yang baru turun dari khayangan secara beruntun dia merobohkan dua orang tosu, lalu membimbing toa suheng lolos dari kepungan.

"Kim tayhiap" gumam toa suheng kemudian. "Aku tak bisa memenuhi pengharapanmu, aku tak berkemampuan lagi untuk melanjutkan pertarungan."

"Menang kalah adalah kejadian lumrah dalam suatu pertarungan, lebih baik kau beristirahat saja disini."

Cepat-cepat dia merobek baju untuk membalut luka ditubuh Toa suheng, kemudian setelah menyembunyikan badannya dibalik semak yang lebat, buru-buru dia menerjang kembali ketengah arena.

Ditengah jalan ia memungut sebuah toya lalu menerjang ketangan arena, tanpa pilih kasih lagi begitu bertemu tosu, dia segera menyerang dengan sekuat tenaga.

Biarpun waktu itu bahunya sudah terkena bacokan golok, pedang, sambaran toya dan cambuk, namun dasar keras kepala, dia tak perduli dengan semua lukanya itu, dengan ganas dan kalap dia hajar semua musuhnya secara kejam dan tak mengenal ampun-

Sejak terjun kedunia persilatan, agaknya kawanan tosu itu belum pernah menjumpai seorang lelaki kalap seperti ini, diam-diam mereka jadi keder sendiri hingga tanpa banyak bicara lagi serentak orang-orang itu melompat kesamping untuk meloloskan diri.

Dengan begitu ketiga orang suheng te itu pun mendapat kesempatan untuk mengatur pernapasan, tak selang berapa saat kemudian kekuatan mereka telah pulih kembali, dengan semangat baru serentak mereka bertiga terjun kembali kearena pertarungan-

Kim Thi sia pun secara diam-diam mengerahkan ilmu "tangguh tanpa akhir" dari ciat khi mi khinya untuk mengatur pernapasan, dengan begitu meski dia harus bertarung sekian lama tanpa beristirahat, namun kekuatan tubuhnya tak nampak menjadi lemah.

Justru disinilah letak rasa takut dari para tosu itu, hingga tanpa terasa perhatian semua orang pun beralih pada pemuda ini.

Biarpun lelaki ceking itu memiliki kepandaian silat yang tangguh, namun orang itu tidak memiliki daya tahan yang begini hebatnya.

itulah sebabnya setiap kali para tosu itu bersua dengan Kim Thi sia, tanpa syarat mereka menghindarkan diri kesamping dan berusaha menjauhkan diri dari bentrokan secara langsung dengannya, tentu saja hal ini membuat pemuda Kim mendapat banyak keuntungan.

secara beruntun lelaki ceking itu sudah merobohkan dua belas buah tiang besi. Kini tinggal enam, tujuh buah tiang yang belum sempat dirobohkan ketika kawanan tosu bengis itu menyerang kembali kearahnya secara ganas.

Berbicara sesungguhnya ilmu silat yang dimiliki kawanan tosu itu tidak terlalu tinggi, tapi mengandalkan jumlah yang banyak itulah membuat orang yang menjadi muak dan jengkel.

Dalam keadaan kritis, Kim Thi sia tak sempat lagi membantu tiga bersaudara itu untuk bertarung, cepat-cepat dia memburu kesamping lelaki ceking tadi sambil teriaknya keras-keras:

"Hey situa, lanjutkan usahamu untuk menolong orang, serahkan saja tosu-tosu bangsat ini kepadaku."

sambil menyeka peluh lelaki ceking itu menyahut sambil membuat muka setan.

"Tentu saja kau harus menjadi setan pengganti matiku, sebab nyawaku memang lebih berharga daripada nyawamu."

Kim Thi sia segan bersilat lidah dengannya hanya didalam hati kecilnya dia berpikir: "Tungguh saja sampai semua musuh sudah selesai diringkus, biar kaupunya selembar lidah

yang tajam, tak akan bisa banyak membantumu nanti." Meski tak sampai diutarakan keluar, namun dalam hati kecilnya ia sudah bertekad hendak memberi pelajaran yang setimpal kepada orang itu.

sambil melintangkan toyanya didepan dada, ia berseru kepada kawanan tosu yang lari mendekatinya itu.

"Digunung ada sarang, dilaut ada kedung, dibukit ada pentolan, dialut ada raja, tapi akulah yang menjadi raja disini sekarang. Bila kalian berani bertindak secara sembarangan, jangan salahkan bila toyaku akan menghancurkan batok kepala kalian."

Kawanan tosu itu menjadi tertegun, malah berapa orang diantara mereka yang berangasan sudah siap melancarkan serangan. Mendadak Kim Thi sia membentak lagi dengan mata melotot besar:

"Sejak kecil aku sudah ikut Ciang sianseng merantau diseantero jagad tanpa menjumpai tandingan. Hmmm, kalian berapa cecunguk han terhitung manusia macam apa? Berani betul mencabut kumis harimau. "

Dengan gayanya yang keren dan serunya sebagai murid Ciang sianseng, kontan saja kawanan tosu itu menjadi termangu dan tak berani berkutik secara sembarangan.

Melihat musuhnya terkelabuh, Kim Thi sia segera manfaatkan kesempatan itu untuk membual lagi.

"Terus terang saja aku bilang, sejak berusia sepuluh tahun aku sudah mulai mengembara d idalam dunia persilatan, algipula aku punya kegemaran membunuh, apa saja yang tak berkenan dihati segera akan kubantu sampai habis. Hinga berusia lima belas tahun, aku membunuh orang seperti menginjak mati semut, jumlahnya sudah tak terhitung lagi dengan jari tangan, maka bila kalian pingin merasakan gaya membantaiku, silahkan saja maju untuk mencoba tanggung kuberi kepuasan untuk kalian."

Ketika dilihatnya semua orang dibuat tertegun, diam-diam ia tertawa puas dan melirik sekejap kesamping, ia menjumpai silelaki ceking itu sudah berhasil merobohkan sisa ketujuh tiang besi itu, malah sekarang sedang memotong tali pengikat tubuh gadis-gadis tersebut.

Melihat usahanya telah berhasil, maka diapun berkata lebih jauh sambil tertawa dingin:

"Tapi berbicara lebih lanjut, dengan kegemaranku untuk membunuh, lama kelamaan sifatku ini menjadi mendarah daging, sehingga walaupun kalian tak berani mencoba sekarang, aku tetap akan mencari kalian untuk melancarkan serangan-"

Tiba-tiba sambil membentak keras dia memutar toyanya sambil melancarkan serangan dahsyat kedepan-

Waktu itu kawanan tosu tersebut sedang mendengarkan kisah tersebut dengan serius dan asyik. Diam-diam perasaan bergidik telah muncul dalam hati kecil mereka, maka begitu melihat anak muda itu mulai menyerang dengan kalap serentak mereka kabur kalang kabut untuk menyelamatkan diri

Dua tiga orang tosu yang tak percaya dengan obrolannya itu berniat melakukan perlawanan, tapi akhirnya merekapun kena dirobohkan oleh pukulan toya yang keras.

Entah sejak kapan ternyata tosu berwajah penyakitan itu sudah muncul pula disitu, tanpa menimbulkan sedikit suarapun, dia segera mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Desingan angin tajam yang menyambar dari belakang membuat Kim Thi sia berpaling secara tiba-tiba, begitu mengetahui siapa penyerangnya, hawa amarah segera berkobar dalam benaknya.

sambil membentak keras, dia segera mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

"Blaaaaaaa mmmmmmm." Tenaga pukulan yang dilancarkan tosu tua berwajah penyakitan itu benar-benar sangat dahsyat. Akibat dari bentrokan kekerasan itu, tubuh Kim Thi sia mundur kebelakang dengan sempoyongan-

Mendadak terdengar silelaki ceking itu memperingatkan-

" Kepandaian silat yang dimiliki tosu bengis ini termasuk jagoan top dari kuil Pek hun koan, lebih baik jangan kau hadapi serangannya dengan keras, cepat hadapi saja dengan ilmu meringankan tubuh. Tosu bau ini tidak pernah belajar ilmu meringankan tubuh, itulah titik kelemahannya yang terbesar. "

Begitu perkataan tersebut diutarakan keluar, paras muka tosu tua itu segera berubah hebat, dengan gemas dia melotot sekejap kearahnya. Kim Thi sia pun mengernyitkan alis matanya yang tebal, pikirnya:

"sialan, akupun belum pernah mempelajari ilmu meringankan tubuh, darimana aku bisa menghadapinya dengan cara tersebut?"

Ia tak menyangka musuh yang dihadapinya sekarang mempunyai kelemahan seperti dirinya, ini berarti kedua belah pihak sama-sama tak dapat meraih kemenangan dengan mengandalkan kelincahan tubuh.

Tapi untuk menakut-nakuti musuhnya itu, dia snegaja menyahut:

"Baik, aku segera akan menghadapinya dengan ilmu meringankan tubuh "

Tapi pertarungan sudah berlangsung sekian lama ternyata belum nampak juga pemuda itu mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya, tapi akibatnya cukup mempengaruhi kehebatan tosu tua tersebut.

Karena takut pemuda itu benar-benar menghadapinya dengan ilmu meringankan tubuh, tosu tua itu menjadi was- was sehingga tenaga serangannya tak pernah bisa mencapai sepuluh bagian.

Itulah sebabnya ketika secara beruntun Kim Thi sia mengajaknya beradu tenaga sampai enam kali, posisi anak muda tersebut tetap tenang tanpa kelihatan terdesak.

Agaknya lelaki ceking itu menjadi amat merah, karena pemuda itu tak mau menuruti nasehatnya, mendadak ia mengumpat keras:

"Tolol, ilmu pukulanmu masih ketinggalan jauh dibandingkan dirinya, kenapa kau tidak segera menghadapinya dengan ilmu meringankan tubuh ?^

Waktu itu Kim Thi sia sedang mendongkol karena tak punya kesempatan untuk mengundurkan diri dari pertarungan, mendengar dirinya dimaki sebagai orang tolol, kontan saja dia naik darah, segera teriaknya:

"Yaa, betul, aku memang tak becus aku memang tolol, kalau kau memang lebih hebat mengapa buka kau yang turun tangan untuk menghadapinya?" Lelaki ceking itu segera tertawa katanya:

"Baik, baik anggap saja memang salah berbicara kalau toh kau ingin bertarung menurut caramu sendiri, silahkan aku tak akan mencampuri urusanmu lagi."

setelah itu gumamnya seorang diri

"Hmmm, sudah tak becus dalam ilmu meringankan tubuh, sekarang ingin menyeret aku terlibat dalam pertarungan. Hmmm, silahkan kau rasakan sendiri pahit getirnya pertarungan itu haaaah......haaaah "

Kim Thi sia menganggap perkataannya tadi kelewat lemah, maka dengan cepat tambahnya lagi:

"selama hidup aku paling tak percaya dengan segala tahayul, biarpun aku tahu lima pukulanku lemah, aku tetap akan bertarung lebih jauh, mau apa kamu?" Untuk menunjukkan kebolehannya didepan lelaki ceking itu, secara beruntun ia lancarkan serangan dengan menggunakan jurus "kobarkan api dibalik batu" dan "guntur menggelegat kilat menyambar" dari ilmu Tay goan sinkang untuk menyerang musuhnya.

Tentu saja tosu tua itu tidak memberi kesempatan bagi lawannya untuk bergerak maju, dengan sebuah pukulan yang maha dahsyat dia bendung datangnya ancaman itu.

Pucat pias selembar wajah Kim Thi sia tubuhnya nampak sempoyongan, tapi akhirnya sambil menggigit bibir ia melancarkan terjangan kembali kemuka........

sambil mendengus dingin tosu tua itu melepaskan sebuah pukulan lagi kedepan.

Kini paras muka Kim Thi sia berubah makin memucat, langkah kakinya mulai kacau tak karuan, tapi kekerasan hatinya membuat dia tetap bertahan dan mendesak maju lagi kemuka.

Lambat laun selisih jarak antara kedua orang itu semakin mendekat. Hal ini membuat tosu tua tersebut mulai nampak gugup, sambil menghimpun segenap tenaga dalamnya dia melepaskan dua buah pukulan dahsyat.

Tapi pada saat yang bersamaan pula Kim Thi sia telah melepaskan dua serangan yang tak kalah dahsyatnya.

Dalam waktu singkat seluruh angkasa nampak diliputi bayangan tangan yang berlapis-lapis. Kim Thi sia yang berkemampuan biasa, tiba-tiba saja berubah menjadi perkasa dnegan kekuatan sepuluh kali lipat lebih hebat daripada keadaan semula.

Dibalik serangannya terdengar desingan angin tajam dan suara guntur yang amat memekikkan telinga. sedemikian dahsyatnya sampai lelaki ceking yang menonton dari sisi arena pun merasa bergidik,

Tosu tua itu paling takut bila musuhnya menyerang dengan segenap kekuatan, maka begitu melihat pemuda itu melepaskan sergapan kearahnya dengan mempertaruhkan selembar jiwanya berubah hebat paras mukanya.

Dalam keadaan begini, dia tak mempunyai jalan lain kecuali menghadapi datangnya ancaman dengan adu jiwa.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sama-sama berteriak keras dan roboh terjungkal kebelakang.

Tosu tua itu segera memuntahkan darah segar, setelah tertawa parau berapa saat, matanya melotot dan tubuhnya melejit, dia tewas seketika itu juga.

sebaliknya kulit muka Kim Thi sia pun kelihatan berkejang keras, tapi hanya sebentar, tiba-tiba saja melompat bangun lagi dan seraya sambil menuding kearah lelaki ceking itu.

"Hey, kau jangan pergi dulu, aku hendak berbicara denganmu."

Lelaki ceking itu mengira Kim Thi sia tak bisa hidup lebih lanjut, selalu timbul perasaan menyesal yang mendendam, dia mengangguk dengan wajah serius, pikirnya:

"Bocah muda yang patut dikasihani, mungkin dia hendak titip pesan terakhir kepadaku. "

Baru selesai dia berpikir, Kim Thi sia telah berseru:

"Hey situa, coba kau lihat, ilmu pukulanku lebih hebat atau ilmu meringankan tubuh lebih dahsyat?"

"Hey bocah muda, kau tidak menderita apa-apa?" tanya silelaki ceking itu keheranan, matanya terbelalak lebar-lebar.

"Aku sedang bertanya kepadamu, sudahkah kau dengar?" teriak Kim Thi sia lagi. Dengan cepat sikap cengar cengir muncul kembali diwajah lelaki ceking itu, sahutnya:

"Anak muda, ilmu pukulanmu memang sangat indah, cuma aku merasa sedikit agak kampungan." "Bagaimana kemampuannya?" Kim Thi sia tertegun. Lelaki ceking itu segera tertawa. "Kampungan adalah tingkal laku orang yang hidup didusun, jauh dari keramaian kota, orang

kampung yang urakan dan berkelahi semau hatinya sendiri, tidak pakai aturan, tidak menuruti

peraturan permainan yang berlaku. "

" Kurang ajar, kau berani mencemooh diriku?" tiba-tiba saja Kim Thi sia jadi naik darah. sambil berseru ia segera melakukan cengkeraman kemuka.

Tapi lelaki ceking itu amat cekatan, dengan suatu gerakan yang indah dan lincah dia meloloskan diri dari cengkeraman itu, kemudian sambil menunjukkan muka setan katanya:

"Hey anak muda, kau bukan kampungan dalam cara berkelahi saja, sepak terjangmu, cara berbicara mu, semuanya masih kampungan.....kau masih mirip orang gunung. "

"Hmmm, apa gunanya ilmu meringankan tubuh selain untuk berkentut?" seru Kim Thi sia kemudian- "Kita berkelahi kan bertujuan merobohkan musuh, sekalipun tak mempergunakan ilmu meringankan tubuh, buktinya musuh dapat kurobohkan, bagaimana mungkin kau menuduhku berkelahi secara kampungan ?"

"Aaaah kau cuma pandai mengotot, coba berganti orang lain, pasti kutabok sampai

mampus. " dengki lelaki ceking itu.

sekalipun diluarnya dia berkata begitu, secara diam-diam dia harus mengagumi atas kelihayan dan ketangguhan daya tahan tubuh pemuda ini.

Kim Thi sia ingin berbicara lagi, namun waktu itu lelaki ceking tersebut sudah bertarung sengit melawan seorang tosu bermuka merah, sepuluh gebrakan kemudian senyuman yang menghiasi wajah lelaki itupun sudah hilang lenyap tidak berbekas, hal ini menunjukkan kalau ia telah menjumpai musuh yang cukup tangguh.

Kim Thi sia segera mengalihkan perhatiannya kearah lain, dia saksikan tiga saudara seperguruan itupun sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Tampak cahaya golok bayangan pedang dan suara bentakan keras menyelimuti seluruh arena, pertarungan berjalan dengan amat serunya.

Tujuh, delapan sosok mayat tosu telah tergeletak disepanjang jalan, agaknya itulah hasil pembantaian dari tiga bersaudara seperguruan tersebut.....

sisa dari sekawanan tosu lainnya sudah lenyap entah kemana, tampaknya mereka sadar kalau bukan tandingan dan kini sudah kabur menyelamatkan diri.....

Tiba-tiba muncul suatu kecurigaan dalam hati kecil Kim Thi sia, pikirnya dengan cepat: "Tampaknya kawanan tosu ini hanya berkumpul sebagai komplotan saja, mereka tak mendapat

pendidikan yang baik, tidak kelihatan juga siapa pemimpinnya, mungkinkah mereka hanya merupakan gabungan dari pelbagai kelompok tosu jahat yang bersama-sama melakukan kejahatan?"

semula dia berniat membekuk pemimpinnya lebih dulu sebelum membasmi anak buahnya, tetapi sekarang sang "pemimpin" sudah tak nampak muncul disitu, otomatis rencananyapun mengalami kegagalan.

"Nama busuk Pek hun koan yang sudah termashur sampai dimana-mana, apakah anak buahnya hanya berupa kelompok berandal yang tak berguna begitu?"

"Dimanakah koancu atau pemimpin kuilnya? Bukankah dia seharusnya merupakan pemimpin dari mereka semua."

serangkaian pertanyaan itu berkecamuk dalam benak pemuda kita, namun jawabannya tak berhasil ditemukan. Yang mirip sebagai seorang koancu hanya tosu tua berwajah penyakitan atau si tosu bermuka merah ini, namun bila dilihat lebih jauh merekapun tidak mirip, sebab pertarungan sengit antara tosu bermuka merah melawan lelaki ceking itu sama sekali tak digubris atau diperhatikan oleh kawanan tosu lainnya, bahkan kematian si tosu tua berwajah penyakitan tadipun seolah-olah tak ada hubungannya dengan mereka.

Bagi kawanan tosu itu, seakan-akan kecuali mengurusi diri sendiri, tiada persoalan lain yang menarik perhatiannya lagi. Kejadian seperti ini benar-benar sangat aneh. Tanpa terasa diapun mulai berpikir:

"Pek hun koan tak lebih cuma begini saja dengan kemampuan sekawanan manusia gentong nasi, apa pula yang mesti ditakuti? kalau begitu berita yang tersiar ditempat luaran selama ini hanya berita kosong belaka."

Berpikir sampai disitu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera lari kedepan mencengkeram tubuh seorang tosu dari belakang membantingnya keatas tanah dan ditatap dengan pandangan dingin-

Pelan-pelan tosu itu merangkak bangun dari atas tanah wajahnya kelihatan amat bengis.

Cambuk panjang yang berada ditangannya segera dilecutkan berulang kali hingga menimbulkan suara keras.

Kim Thi sia menjadi gusar sekali dengan cepat dia maju kedepan sambil menggetarkan tangannya. sekali sambaran ujung ruyung musuh telah berhasil dicengkeramannya.

Lalu dalam sekali sentakannya yang berkekuatan ruyung panjang tadi sudah berpindah tangan, menyusul kemudian tinjunya diayunkan berulang kali kedepan menghujani tosu tersebut dengan pukulan yang bertubi-tubi.

Tak ampun lagi orang itu menjerit-jerit seperti babi mau disembelih, sekali tendangan Kim Thi sia menghajar orang itu sampai bergelinding diatas tanah, bentaknya kemudian:

"Telur busuk. siapa pemimpin kalian?"

Ketika tosu itu tetap membungkam, dengan gusar Kim Thi sia menghujani pukulan lagi keatas tubuhnya, dalam waktu singkat wajah orang itu memar berdarah, kepalanya pusing tujuh keliling dan pandangan matanya berkunang-kunang, dalam keadaan seperti ini dia tak mampu untuk berdiam diri lebih lanjut.

Akhirnya dengan suara yang lirih karena harus menahan rasa sakit yang luar biasa, dia menjawab: " Koancu kami telah lenyap"

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu"

Kim Thi sia tahu kalau tidak diberi pelajaran tak mungkin tosu itu berbicara terus terang, maka dia menghajar kembali tawanannya habis-habisan hingga tosu itu tak tahan dan berteriak minta ampun, dalam keadaan begini terpaksa, orang itupun menceritakan keadaan yang sebenarnya.

Ternyata Pek hun koan adalah sebuah kuil yang banyak dikunjungi jemaah. Pemimpin mereka bernama sin hong tojin, berusia enam puluh tahunan dan berwajah keren.

sin hong tojin mempunyai dua orang adik seperguruan yang sama-sama memiliki ilmu silat amat tinggi, sejak jemu melakukan pengembaraan dalam dunia persilatan, mereka bertigapun mendirikan kuil Pek hun koan untuk hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Lambat laun kuil Pek hun koan banyak menarik minat jemaah untuk berdoa disitu hingga mereka sampai kewalahan melayani begitu banyak umat yang datang, dalam keadaan begini sin hong tojin segera mengumpulkan anak buah dari segala penjuru dunia, tentu saja diantara mereka terdapat tosu yang baik tapi lebih banyak kaum tosu yang berwatak jelek dan jahat.

Mula-mula sin hong tojin menaklukkan mereka dengan ilmu silat kemudian baru memimpin mereka menuju kejalan kebenaran tentu saja kawanan tosu jahat itu harus menerima kenyataan dalam keadaan begitu, padahal secara diam-diam mereka selalu berusaha mencari kesempatan untuk mencelakai sin hong tojin-

Beberapa kali usaha tersebut selalu berhasil ditanggulangi sin hong tojin dengan mengandalkan ilmu silatnya yang hebat tapi dengan kejadian tersebut tertanamlah bibit kurang baik dalam kuil tadi.

suatu malam pada tiga tahun berselang disaat sin hong tojin bersama kedua orang adik seperguruannya bersembahyang malam tiba-tiba mereka dengar ada jago persilatan yang masuk kekuil mereka secara diam-diam serentak merekapun berhenti bersembahyang sambil menunggu kedatangan orang itu.

Ia tahu semasa mudanya dulu banyak permusuhan yang telah dibuatnya sehinga tak sedikit orang yang membenci serta berusaha membalas dendam kepadanya, karena itu sambil menghela napas dia menunggu kedatangan orang itu.

Ternyata sipendatang memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna, dengan gerakan yang sangat ringan tanpa menimbulkan sedikit suarapun orang itu melayang datang dengan cepatnya.

Ternyata orang itu berbaju hitam, bertangan kosong dan tidak membawa senjata. Hal tersebut membuat sin hong tojin agak lega, tapi bila teringat kelihayan ilmu meringankan tubuhnya, diapun agak kuatir.

Hingga waktu itu ternyata kedua orang adik seperguruannya masih belum tahu kalau ada musuh telah memasuki kuil mereka.

Dengan langkah yang amat ringan manusia berbaju hitam itu berjalan mendekati kearahnya, langkahnya amat santai seakan-akan tak ada yang ditakuti olehnya.

sin hong tojin tahu kalau pendatang itu tidak bermaksud baik, diam-diam ia segera menghimpun tenaga untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Diluar dugaan ternyata pendatang itu tidak melancarkan serangan apa-apa, ia hanya berhenti pada jarak tiga kaki dihadapannya dan mengulumkan senyuman yang cerah.

Melihat jelas paras muka orang itu, sin hong tojin segera merasakan hatinya berdebar keras, ternyata pendatang itu merupakan seorang gadis cantik bak bidadari dari khayangan.

Diam-diam sin hong tojin mencucurkan keringat dingin, meskipun dia memiliki iman yang kuat dan tak pernah terpengaruh oleh gejolak perasaan ataupun napsu, tapi kecantikan gadis itu terutama disaat sedang tertawa, membuat hatinya terasa goncang dan muncul pelbagai ingatan yang aneh.

saat itulah kedua orang adik seperguruannya mengetahui juga akan kehadiran gadis cantik ini, tapi dengan cepat merekapun termangu- mangu seperti kehilangan semangat.

Berapa saat kemudian, Sin hong tojin dapat mengendalikan gejolak perasaannya. Ia segera menegur dengan suara dalam:

"Ada urusan apa Li sicu mendatangi kuil kami ditengah malam buta begini. ?"

Gadis cantik itu hanya tertawa manis tanpa mengucapkan sepatah katapunjua.......

Tak tahan sin hong tojin bertanya lagi:

"Apakah li sicu datang kemari untuk menuntut balas?"

Kali ini gadis itu cuma mengerling genit lalu menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu Li sicu hendak memasang hio?" tanya sin hong tojin keheranan, wajahnya nampak agak tertegun.

sekali lagi gadis cantik itu menggelengkan kepalanya berulang kali, dia tetap tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun- "Jangan-jangan dia bisu?" sin hong tojin yang melihat kejadian itu segera berpikir:

Diam-diam ia merasa sayang begitu cantik wajahnya mengapa memiliki cacad badan ya mengenaskan?

Tapi tiba-tiba saja dia sadar kalau pikirannya sudah melayang terlalu jauh, dalam kagetnya cepat-cepat dia memejamkan matanya rapat-rapat.

sementara itu kedua orang adik seperguruannya telah terpikat sama sekali oleh kecantikan gadis itu, mereka menatap wajah nona tadi tanpa berkedip. rasa kagum dan terpesona menyelimuti wajah kedua orang itu, seakan-akan mereka terbayang kembali masa remajanya dulu.

Menanti sin hong tojin melotot tajam kearah mereka, dengan wajah merah padam kedua orang itu baru menundukkan kepalanya rendah-rendah, tapi tak lama kemudian mereka mendongakkan kepalanya lagi sambil mengawasi gadis itu tanpa berkedip. jelas sudah kecantikan wajah gadis itu telah menggerakkan pikiran mereka berdua.

Menyaksikan hal ini, diam-diam sin hong tojin menghela napas panjang, segera tegurnya lagi: "Lisicu, apabila kau tak ada urusan lain silahkan pergi dari sini, jangan kau ganggu ketenangan

kami untuk bersemedi." Gadis cantik itu tertawa ringan, tiba-tiba ujarnya: "Apakah kau merasa terganggu oleh kehadiranku?"

Ternyata gadis cantik itu bukan cuma bisa berbicara, bahkan mempunyai suara yang amat merdu bagaikan kicauan burung nuri. Dalam tertegunnya sin hong tojin segera berkata lagi:

"Li sicu, sesungguhnya apa maksud kedatanganmu ditengah malam buta begini? Bila tiada persoalan lain tolong pergilah dari sini dengan cepat, jangan membuat nama baik Pek hun koan ternoda."

"Tosu tua, aku sedang bertanya kepadamu. Apakah kau merasa terganggu oleh kehadiranku?" gadis cantik itu bertanya lagi.

"Ya, pinto mengakui akan hal ini."

Padahal sejak pertama kali bertemu dengannya, iman tersebut sudah merasa terganggu pikirannya.

Gadis cantik itu segera tertawa merdu sambil menutupi wajahnya dengan manja dia berseru: "Tosu tua kau sedang berbohong"

sambil berkata dia berjalan maju dua langkah kedepan, sewaktu berjalan pinggulnya kelihatan bergoncang amat keras sekali hingga menimbulkan kesan yang mendalam bagi siapapun yang melihatnya.

sin hong tojin segera merasakan hatinya terpikat hampir saja dia mengira ada bidadari yang baru turun dari khayangan.

Dengan gerakan yang genit gadis cantik itu melepaskan tali pengikat rambutnya serta membiarkan rambutnya yang panjang terurai kebawah gerak geriknya amat lembut dan santai seakan-akan sedang duduk didepan cermin saja. sin hong tojin menjadi amat gelisah buru-buru dia berseru lagi:

"Li sicu, tempat ini merupakan kuil bukan kamar tempat merias muka, harap kau segera pergi dari sini jangan membuat nama baik Pek hun koan ternoda oleh ulahmu itu."

"Tosu tua, kau tak perlu begitu gelisah" seru sinona cantik itu sambil tertawa genit. "Aku toh bukan harimau galak."

Habis berkata dia berlagak membereskan bajunya yang kusut, bahkan seperti sengaja tak sengaja dia menyinsing gaUn panjangnya serta membelai pahanya yang putih, halus dan menyolok mata itu. "ooooh. dua hari dua malam aku harus menempuh perjalanan tanpa berhenti, rasanya benar-

benar melelahkan" kembali gumamnya.

sin hong tojin segera berpaling memperhatikan kedua orang sutenya, ternyata mereka sudah dibuat terperana sampai lupa keadaan-

Melihat kejadian tersebut, dia segera menghembuskan napas panjang lalu dengan perasaan apa boleh buat menyingkir dari situ.

"Tosu tua, bantulah aku sebentar" tiba-tiba gadis cantik itu menggapai kearahnya dengan lembut.

Ketika sin hong tojin berpaling, ia melihat gadis itu sedang membungkukkan badan sambil melepaskan sepatunya, tapi begitu kakinya menginjak tanah dia nampak sempoyongan seakan- akan hendak roboh terjungkal kearah tanah....

sin hong tojin yang sudah terbiasa menolong orang, tanpa sadar segera maju mendekat dan membimbing tubuhnya.

Gadis cantik itu melepaskan sepasang sepatunya lebih dulu, kemudian baru mengerling genit kearah tosu tua tadi sambil katanya:

"ooooh. begini baru nyaman rasanya, terima kasih banyak tosu tua atas bantuanmu?"

"Aaaah, itu mah belum terhitung seberapa."

Mendadak dia mengenduskan bau harum semerbak yang amat memabukkan hati, dengan wajah tertegun sin hong tojin segera mengerling sekejap kearah gadis itu. sambil tertawa merdu gadis tersebut berseru: "Tosu tua, kau baik sekali"

sin hong tojin amat terkejut, ia merasa perbuatannya sudah kelewat batas, dengan wajah tersipu karena malu cepat-cepat dia membalikkan badan siap pergi meninggalkan tempat tersebut.

Tiba-tiba terdengar gadis cantik itu berteriak keras dengan nada amat terkejut. "Aduh.....binatang apakah ini......tosu tua, cepat kemari. "

sin hong tojin segera berkerut kening, pikirnya:

"Hmmm, tampaknya kau memang sengaja hendak menyusahkan aku. "

Walaupun begitu dia toh membalikkan badan dan berjalan mendekati gadis tersebut.

Ternyata binatang yang ditunjuk gadis itu tak lebih cuma dua, tiga ekor semut besar, tapi agaknya binatang itu cukup membuat sinona ketakutan sampai gemetar keras. sin hong tojin segera berpikir lagi:

"Apa yang aneh dengan semut-semut besar itu? Hmmm, hanya semutpun sudah menjerit ketakutan, apalagi melihat ular "

Dengan perasaan tak senang hati dia segera membungkukkan badan mengusir pergi semut- semut besar, kemudian baru ujarnya: "Li sicu, sekarang kau boleh pergi dari sini" Gadis cantik itu nampak agak tertegun, lalu serunya:

"Tosu tua, apakah kau sedang mengusirku dari sini? Malam ini aku tak bisa melanjutkan perjalanan lagi kau suruh aku pergi kemana? ooooh tosu tua, berbuatlah kebaikan dengan menampungku disini, aku hanya seorang gadis yang hidup sebatang kara, aku paling takut menjumpai orang jahat yang berpikiran tak senonoh. Tosu tua, bagaimana pun juga kau harus menyediakan sebuah kamar untukku malam ini "

"Tiga li dari kuil ini terdapat beberapa orang penduduk. silahkan Li sicu pergi mencari pemondokan disitu, ketahuilah kuil Pek hun koan tak bisa menampung tamu wanita."

Dengan kening berkerut gadis cantik itu segera berseru:

"Aku sudah tak kuat melanjutkan perjalanan lagi, tosu tua hatimu amat dingin dan tidak berperasaan- " sin hong tojin berpaling ketika sepasang matanya saling beradu dengan sepasang mata sinona yang jeli. Tiba-tiba dia berseru dengan suara keras:

"Li sicu, kau adalah seorang pendekar wanita yang berilmu silat amat tinggi, kenapa mesti mengucapkan kata-kata bohong? jarak tiga li hanya ditempuh dalam sekejap bila kau tidak segera meninggalkan kuil ini berarti kau memang sengaja hendak mencari keributan denganku."

Mendadak gadis cantik itu tertawa merdu, suara tertawanya amat menarik hati. selang sesaat kemudian ia baru berkata:

"Tosu tua, kau memang amat pintar, gara-gara kau seorang nona harus mencari keterangan sampai satu Siangan lebih, coba bayangkan sendiri Apakah susah payahku selama ini tak pantas memperoleh suatu imbalan?"

"Aku tidak mengerti dengan maksud perkataanmu itu."

"Aku menyelidiki tentang dirimu karena aku memang mempunyai tujuan tertentu, sin hong tojin adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, bagaimana mungkin aku bisa melepaskan dirimu dengan begitu saja?"

sin hong tojin segera merasakan hatinya bergetar keras, tegurnya dengan suara dalam.

"Li sicu, apa yang hendak kau perbuat terhadap pinto? silahkan diutarakan saja secara terus terang."

sambil mengerling genit kearah tosu itu, sinona tertawa terkekeh-kekeh, katanya: "Sin hong totiang, aku ingin bertanya kepadamu, sukakah kau kepadaku. "

Pertanyaan yang diajukan gadis cantik ini kontan saja membuat perasaan sin hong tojin berdebar keras, tapi dengan cepat dia mencoba memperingatkan diri sendiri.

"Wahai sin hong totiang, kau adalah seorang imam yang sedang mendapat godaan, berhati- hatilah dalam mengendalikan naps u sendiri " Dengan wajah berubah hebat tosu itu segera

berseru:

"Li sicu, pinto adalah seorang pendeta buat apa kau mempermainkan aku dengan pertanyaan semacam itu? Bilamana kau membutuhkan pasangan yang serasi, carilah ditempat lain, masih b nyak lelaki didunia ini yang membutuhkan dirimu, kenapa kau keluar dari Pek hun koan sekarang juga, tempat ini adalah tempat beribadah, jangan kau nodai dengan ulahmu tersebut."

"Tosu tua, kau benar-benar berhati sekeji itu?" seru sinona cantik itu penuh kemanjaan- "Omong kosong, sebagai seorang pendeta kecantikan wajah seseorang hanya kotoran yang

najis bagiku, inilah saat bagiku untuk menguji ketangguhan imanku."

"Baiklah, kalau toh berpikiran begitu nonapun tak takan menyudahi persoalan sampai disini saja."

Berubah hebat paras muka sin hong tojin segera tegurnya dengan penuh kegusaran-"Li sicu, apakah kau hendak mendesakku terus menerus?"

"Buat apa kau mesti gelisah?" gadis cantik itu tertawa cekikikan- "Terus terang saja kubilang, banyak orang yang tertarik kepadaku namun tak seorangpun yang penuju dihatiku, sekarang aku telah tertarik kepadamu. sin hong tojin, kau berbeda dengan orang lain, karena itulah nona hanya menyukai kau seorang. "

"Li sicu, berhati-hatilah kalau berbicara" sin hong tojin segera membentak keras. "Ketahuilah, pinto bukan seorang lelaki yang gemar akan kecantikan wajah perempuan."

Gadis cantik itu sama sekali tidak marah bahkan dengan senyuman dikulum selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati tosu tersebut. Bau harum yang semerbakpun berhembus keluar menyelimuti seluruh ruangan.

sin hong tojin amat terkejut, cepat-cepat dia mundur tiga langkah kebelakang, lalu serunya lantang: "Li sicu, bila kau tidak segera menghentikan langkahmu, jangan salahkan bila pinto akan berlaku kasar."

Gadis cantik itu sama sekali tidak menghentikan langkahnya, bahkan selangkah demi selangkah berjalan terus mendekatinya.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa sin hong tojin mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan, maksudnya hendak menghalangi sinona mendesak maju lebih kedepan.

siapa tahu sambil tertawa gadis cantik itu melanjutkan langkahnya menembusi angin pukulan tersebut.

sin hong tojin menjadi amat terkesiap, ia tak berani berayal lagi dengan menghimpun tenaga dalamnya sebesar delapan bagian ia lepaskan sebuah pukulan kedepan.

Selisih jarak kedua belah pihak cuma satu kaki, tak ampun lagi serangan tersebut bersarang telah ditubuh lawan-

Tiba-tiba saja gadis cantik itu menjerit kesakitan kemudian tubuhnya roboh terjungkal kebelakang.

sin hong tojin adalah seorang yang jujur, saleh dan berjiwa besar. selama hidup dia tak pernah membunuh orang baik, maka sewaktu melihat gadis cantik itu terluka oleh serangannya, buru- buru dia maju kemuka dan membimbingnya bangun-

Paras muak gadis cantik itu pucat pias seperti mayat, dibawah cahaya lilin, tampak jelas nona darah yang membasahi ujung bibirnya, jelas isi perutnya sudah terluka oleh tenaga pukulannya tadi. sin hong tojin amat menyesal, pikirnya:

"Biarpun dia telah mengganggu ketenanganku, namun perbuatannya belum terhitung suatu kesalahan besar, masa aku harus melukainya hingga membuat dia menderita?" Cepat-cepat dia membimbing tubuh gadis tersebut sambil tertawa: "Apakah Li sicu merasa agak baikan?"

Isi perut yang terluka oleh tenaga pukulan merupakan luka yang berbahaya bagi umat persilatan, dibawah sinar yang redup, kelihatan gadis itu amat lemah keadaannya mukanya pucat dan napasnya kelihatan senin kemis.

Biarpun jiwanya terancam bahaya, gadis cantik itu tidak menunjukkan perasaan menyesal, malahan air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya yang putih dan halus, bisiknya tiba- tiba:

"Cepat katakan, sukakah kau kepadaku?" 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(