Lembah Nirmala Jilid 16

 
Jilid 16

"Hmmm, kau jangan berbangga hati dulu, cepat atau lambat kita berdua tentu akan berduel untuk menentukan siapa yang lebih dulu. "

Sementara itu Kim Thi sia dibawa kabur orang berbaju hitam itu dengan kecepatan luar biasa, sepanjang jalan dia hanya merasa desingan angin tajam menderu-deru sementara tubuhnya bagaikan terapung diatas awan saja. Dengan perasaan agak terkejut buru-buru tegurnya: "Siapa kau? Mengapa menolong aku?" Mendadak manusia berbaju hitam itu menghentikan gerak larinya dan menurunkan tubuh Kim

Thi sia keatas tanah, setelah itu katanya dengan suara dingin:

"Sebetulnya cepat atau lambat kau bakal mampus, jadi tak perlu aku mesti bersusah payah menolongmu dari bahaya. Tapi aku menginginkan kau mati secara jelas. Aku berharap kau bisa memahami dulu apa yang disebut manusia yang bermuka dingin dan keji diluar tapi berjiwa kesatria dan pendekar didalamnya?"

Biarpun nada suara itu dingin menyeramkan namun bagi pendengaran Kim Thi sia amat dikenalnya, cepat-cepat dia mengamati wajah orang itu dengan seksama, kemudian serunya tertawa:

"Aaaah, rupanya sipelajar bermata sakti"

orang itu memang tak lain adalah sipedang bermata sakti, satu-satunya murid dari Ciang sianseng.

sambil tertawa dingin pelajar bermata sakti berkata lagi:

"Mungkin didalam hati kecilmu kau anggap aku sebagai gembong iblis yang amat keji dan tidak berperasaan. padahal tahu mukanya tahu orangnya siapa yang mengetahui hatinya? siapa pula yang mengetahui bahwa sejak terjun kedalam dunia persilatan, sudah banyak pahala dan jasa yang kusumbangkan bagi masyarakat dunia persilatan?"

sekalipun perkataan diucapkan dengan nada dingin dan kedengaranya sombong, namun bila diperhatikan dengan seksama justru terkandung perasaan pedih dan linu yang tak terhingga.

Kim Thi sia segera berkata:

"seandainya kau adalah orang baik seperti ini, mengapa sikap maupun cara berbicara mu terhadap gurumu begitu dingin dan tak menaruh rasa hormat. Padahal ciang sianseng adalah seorang yang bajik?"

sebagai seorang yang polos dan jujur apa yang terjadi beban dalam hatinya langsung saja diutarakan secara terbuka.

sipelajar bermata sakti segera mendengus dingin, katanya:

"sebagai seseorang yang hampir mau mati, buat apa kau mengetahui kelewat banyak pokoknya salahku dapat menunjukkan waktuku yang sebenarnya berarti tujuanku telah tercapai."

Begitu selesai berkata, tanpa menunggu pertanyaan dari Kim Thi sia lagi dia segera membebaskan pemuda itu dari belenggu, kemudian berkelebat pergi meninggaikan tempat tersebut.

Menghadapi watak yang begitu aneh dan belum pernah dijumpai sebelumnya ini untuk sesaat Kim Thi sia menjadi tertegun dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Dia mencoba untuk mengerahkan tenaga namun kecuali bisa berjalan seperti manusia biasa, hakekatnya dia tak mampu mempergunakan sedikit tenaga lagi bahkan saban kali dia mencoba mengerahkan tenaga, seluruh badannya segera terasa linu dan kaku.

Dari seorang manusia yang luar biasa tiba-tiba saja berubah menjadi seorang manusia biasa kembali. Bisa dibayangkan betapa sedihnya perasaan pemuda tersebut sekarang. Kim Thi sia segera menjerit keras lalu roboh tak sadarkan diri

Dibawah sinar rembulan yang menyinari tubuhnya, suasana disekeliling tempat itu terasa begitu hening dan tenang.

Entah berapa saat sudah lewat, disaat sorot sang surya yang panas membakar tubuhnya, ia baru siuman kembali dari pingsannya. Yang pertama-tama terlihat adalah bungkusan obat yang ditinggalkan pelajar bermata sakti disisi tubuhnya. Kalau dulu dia tak ingin memikirkan semua persoalan sedalam-dalamnya, maka saat ini telah terjadi perubahan yang besar sekali dalam waktu singkat ia mulai mencurigai sikap setiap orang kepadanya. sikap baik yang mungkin belum tentu baik seratus persen, sebab saat ini dia merasa bagaikan tercampak dari pergaulan manusia.

Rasa percaya pada diri sendirinya mulai goyah, pelbagai persoalan yang pelikpun satu per satu melintas dalam benaknya, diantara kesemua itu ucapan dingin dari sipelajar bermata sakti yang paling berkesan dalam.

Ia seperti memahami akan sesuatu, seperti mendalami sesuatu, dengan mata terbelalak lebar karena kaget dan tercengang dia berteriak keras:

"Yang ia maksudkan tentu Ciang sianseng,. Ya a, pasti Ciang sianseng, ilmu silatnya yang lihay, perawakan tubuhnya yang tinggi besar serta sorot matanya yang tajam, boleh dibilang semuanya mirip dengan si Manusia dengki......delapan puluh persen aku. aku sudah dicelakainya secara

diam-diam"

Dia sendiripun tak tahu mengapa dirinya mencurigai tokoh dunia persilatan yang paling disanjung dan dihormati, Ciang sianseng dulu. Diapun berpendapat bahwa tidak percaya kepada Ciang sianseng berarti suatu penghinaan dan sikap tak hormat kepada dia orang tua, tetapi sekarang ingatan semacam itu terasa makin tipis dan padam.

Apalagi obat seorang pemuda yang membawa dendam dan hampir saja mati, amarah paling mudah berkobar ia mulai membenci keadilan takdir mulai membenci Ciang sianseng yang menghancurkan masa depannya. sambil mendongakkan kepala teriaknya kemudian:

"ooooh....ciang sianseng, mengerti aku sekarang. kau adalah manusia munafik, manusia

keparat.....akhirnya kau pasti akan mampus dalam keadaan mengerikan. "

Teriakannya yang parau bergema dalam lembah dan bukit, mengalunkan gema suara yang keras dan menyusup kesetiap sudut tempat.

Mendadak dari kejauhan sana terdengar seseorang mengumoat dengan suara keras: "Siapa yang telah menghina Ciang sianseng? Tampaknya sudah bosan hidup lagi didunia

ini. "

Kim Thi sia segera tertegun, dia merasa suara umpatan tersebut amat dikenal olehnya, setelah dipikir sejenak. seperti sampan kecil ditengah badai yang tiba-tiba menemukan daratan, dengan kegembiraan yang meluap-luap segera teriaknya:

"Hey lima orang gagah dari Yang wi, cepat kemari, aku adalah Kim Thi sia bagaimana keadaan Lin lini. "

Disaat ia sedang memperhatikan sekeliling situ dengan gelisah, tiba-tiba ia melihat sorot mata Lin lin yang jeli muncul dikejauhan situ. sorot mata yang jernih dan selalu membawa sinar kehangatan, cahaya yang menggetarkan kembali perasaan hatinya yang layu.

Beribu-ribu kata serasa akan diutarakan namun ia tak tahu harus mulai berbicara darimana, ia berdiri kaku bagaikan patung. sementara sepasang matanya yang sayu mengawasi terus gerak langkah Lin lin tanpa berkedip.

Lambat laun selisih jarak antara kedua belah pihak makin mendekat, tanpa sadar Kim Thi sia merentangkan sepasang tangannya, dia berniat memeluk Lin lin kedalam rangkulnya, tapi Lin lin telah menghentikan langkahnya dibawah sebatang pohon, lebih kurang lima kaki dihadapannya, gadis itu tidak menyapa, tidak pula mengajaknya berbicara.

Dengan kecewa Kim Thi sia duduk kembali sambil memeluk lutut, sementara dalam hati kecilnya ia mencoba berpikir:

"Kesalahan apa yang pernah kuperbuat? Mengapa kau tidak anggukkan kepala maupun mengajakku berbicara? Apakah kaupun enggan menolong orang yang hampir mati?" Pikir punya pikir, akhirnya watak liarnya berkobar kembali, rasa bencinyapun meluap-luap. seperti gunung berapi yang meletus secara tiba-tiba, dia melompat bangun dari atas tanah dan berteriak keras:

" Kalau tidak ingin mengenal diriku lagipun tak jadi soal. Tapi kau harus mengembalikan kotak mestika Hong toh hap tersebut kepadaku, mulai detik ini kita mengambil jalan sendiri-sendiri, kita tak usah saling menggubris lagi satu dengan lainnya."

Lin lin Mengerdipkan matanya lalu mengeluarkan kotak Hong toh tersebut dari sakunya dan dilemparkan kehadapan sang pemuda tubuhnya tetap bersandar pada pohon mukanya tenang seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apapun.

sikap gadis itu ibaratnya api bertemu minyak. rasa tak puas Kim Thi sia makin berkobar-kobar, sambil menuding kearah gadis itu teriaknya keras-keras:

"Perempuan busuk. perampuan busuk. bila kusapa dirimu lagi, biar dalam penitisan mendatang aku dijadikan kuda atau kerbau." Lin lin tersenyum hambar, katanya lembut:

"Bukankah kau pernah bilang, disaat kotak Hong toh dikembalikan kepadamu berarti saat kita untuk berkisah dan tidak saling menggubris lagi. "

"Benar" Kim Thi sia mengangguk dengan tegas. Kembali Lin lin tersenyum.

"Nah, kalau toh memang begitu, kotak Hong toh sudah kuserahkan kembali kepadamu, dan berarti kitapun sudah menjadi asing. Moga- moga kau bisa menepati janjimu dan tidak menghalangi kepergianku lagi. ?"

Berbicara sampai disitu ia lantas memberi tanda kepada lima orang gagah dari Yang wi sambil berseru: "Mari kita pergi"

Lima orang gagah dari Yang wi seperti hendak mengucapkan sesuatu namun niat tersebut diurungkan, tapi akhirnya mereka toh berbicara juga.

"Kim tayhiap. perselisihan apakah yang terjalin antara kau dengan ciang sianseng? Mengapa kau memaki-maki dia orang tua?"

Berapa hari berselang, dengan mata kepala sendiri mereka masih menyaksikan Kim Thi sia berbincang-bincang dengan ciang sianseng. Hubungan mereka nampak begitu akrab dan hangat, tapi sekarang Ciang sianseng tentu saja peristiwa ini membuat mereka keheranan dan tak habis mengerti.

Kedua belah pihak telah berpapasan dan lewat, namun Kim Thi sia seperti tidak mendengar perkataan mereka, ia berdiri termangu-mangu sambil memandang ketempat kejauhan. Entah apa saja yang sedang dipikirkan.

Melihat hal tersebut, lima orang gagah dari Yang wi segera berkerut kening, kemudian setelah saling bertukar pandangan sekejap. katanya kepada Lin lin hampir berbareng:

"Nona tunggu sebentar, lebih baik semua kesalahan paham dibereskan didepan mata, sebab bila kedua belah pihak kukuh pada pendirian masing-masing maka kesalahan paham akan bertambah mendalam yang berakibat penderitaan bagi kedua belah pihak."

"Tidak" tukas Lin lin hambar. "Kesalahan bukan terletak padaku, kesalahan pahampun tak mungkin makin mendalam, yang ada cuma impian. Impian yang berakhir "

"Tapi nona. Kim tayhiap hanya kelewat cepat kalau bicara, padahal hatinya justru nan tulus.

Mungkin saja kata-katanya kurang berkenan dihati, tapi janganlah hubungan kalian menjadi retak gara-gara urusan yang sepele "

sambil berbicara dia melirik sekejap kearah Kim Thi sia tampak pemuda tersebut masih berdiri termangu dengan alis matanya berkenyit kencang. Lin lin melanjutkan langkahnya kedepan serunya ketus:

"Toako sekalian, mari kita pergi, bukankah dia telah menunjukkan sikap mengusir kita?" Lima orang gagah dari Yang wi menghela napas panjang dan pelan-pelan menyusul dibelakangnya .

seakan-akan baru sadar dari lamunannya, Kim Thi sia berseru tiba-tiba:

"Yaa, siapa yang sedang mengusir kalian? Harap kalian jangan menaruh salah paham."

Nada suaranya kedengaran lemah tak bersemangat, membuat orang lain susah untuk meraba suara hatinya, mengapa sikapnya sebentar hangat sebentar marah dan garang bagaikan singa, sebentar lagi bagaikan kucing?

Tanpa sadar kelima orang gagah Yang wi menghentikan langkahnya, sekilas rasa girang menghiasi wajahnya.

Lapisan kabut hitam yang menyelimuti wajah Lin lin pun sedikit terhapus, sepasang matanya nampaknya lebih cerah bagaikan sang surya yang mengintip dari balik awan.

Tapi dia hanya sejenak, kemudian sambil melanjutkan perjalanannya kedepan katanya lebih jauh:

"Tidak. kita sudah berjanji sejak dulu, tak mungkin apa yang telah dijanjikan bisa dirubah kembali. "

"Nona" dengan gelisah lima orang gagah dari Yang wi berseru. "Kim tayhiap sudah mengungkapkan perasaan hatinya bahwa dia tidak mengusir kita, mengapa kau mesti mengajaknya cekcok kembali?"

"Toako sekalian, siapa tahu setan apa yang sedang dipikir olehnya didalam hatinya?" sambil bertepuk dada, lima orang gagah dari Yang wi berseru lagi:

"Nona, kami tak berani menjamin Kim tayhiap bukan manusia rendah seperti itu. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kami selama bertahun-tahun mengembara dalam dunia persilatan, dalamz sekilas pandangan saja kami sudah tahu kalau Kim tayhiap adalah orang polos yang jujur. "

Lin lin tetap menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan perjalanannya, ia berkata: "Toako sekalian, aku merasa amat lelah, kepalaku pening ingin tidur. Ayoh hantarlah aku

pulang kekota aku tak ingin banyak berbicara lagi. "

Angin lembut berhembus mengacaukan rambut Lin lin yang hitam memanjang, menelimuti pula bayangan punggungnya yang makin lama semakin menjauh.

Tiba-tiba Kim Thi sia seperti teringat akan sesuatu, sambil mencak-mencak kegusaran teriaknya segera:

"Mengerti aku sekarang, kau pasti sudah mempunyai teman baru sehingga begitu tega kau meninggalkan kawan lama, siapakah biang keladinya ini? Hmmm, selama Kim Thi sia masih hidup didunia ini, dialah yang pertama-tama akan kulumat jadi abu"

saking gusarnya, luka yang diderita dalam tubuhnya menjadi kambuh, ia segera roboh terjungkal keatas tanah dan tak mampu merangkak bangun kembali, bahkan untuk berbicara pun susah. Namun dihatinya dia berteriak penasaran:

"Ciang sianseng.......Lin lini.....putri Kim huan kalian semua adalah musuh-musuh

besarku. "

Entah berapa lama dia mengumpat, tahu-tahu pemuda itu sudah jatuh tertidur dengan nyenyaknya.

Tak lama kemudian tampak sesosok bayangan abu-abu munculkan diri dari balik hutan. Dalam dua tiga lompatan saja bayangan tadi telah tiba disisi pemuda tersebut.

orang itu berperawakan jangkung dan bermuka kurus, matanya dan bibirnya terkatup rapat. Diawasinya sekejap wajah Kim Thi sia dari atas hingga kebawah, akhirnya pandangan itu terhenti pada bungkusan obat yang masih berada dalam genggamannya.

"Dasar tolol. " terdengar orang itu bergumam. "Ada obat enggan digunakan sama artinya

mencari jalan kematian buat diri sendiri Kalau dilihat dari watakmu yang keras, kau nampak begitu gagah dan luar biasa, tak tahunya perasaanmu begitu lemah. "

"Ya a, kau pasti sudah terbelenggu oleh asmara. Makin terjerumus makin dalam hingga akhirnya tak tertolong, seperti juga aku."

Tapi dengan cepat ia teringat kembali semua sejak terjangan selama ini, sambil bertepuk dada gumamnya lebih jauh:

"Aku tak mengerti apa artinya asmara, aku hanya tahu berbakti, membuat orang tuaku bahagia. Aku tak pernah berharap ada gadis yang mendampingiku, aku adalah manusia sebatang kara. sejak berumur enam belas tahun aku sudah sebatang kara, tiga puluh tahun bagaikan sehari. Hingga kini aku tak pernah menyesal, tak pernah berubah pikiran- Banyak orang gagah yang tidak bisa mengatasi soal cinta, tapi aku bisa, sepantasnya kalian belajar dariku, aku disebut orang pelajar bermata sakti. Padahal yang benar aku cuma pelajar sebatang kara, sebab aku berhasil mengatasi soal cinta dari dulu hingga sekarang belum pernah ada yang   mengungguliku. "

Bergumam sampai disitu dia termangu sejenak, lalu dengan wajah sedih lanjutnya: "Tapi....tapi......bila dibicarakan sesungguhnya, aku. akupun belum bisa membanggakan hal

ini. sebab aku pernah gagal, aku pernah menderita seperti kau sekarang, seandainya bukan si

malaikat pedang berbaju perlente mengakui sebagai abang seperguruannya dan selain memusuhi diriku. Aku. aku tetap seorang lelaki biasa, akupun tak pernah bisa mengatasi masalah

cinta. "

Makin bergumam pelajar bermata sakti menggumam makin jauh, jelas ia sudah dibuat tersiksa dan menderita selama banyak tahun gara-gara persoalan ini.

selang sesaat kemudian, sambil menuding kearah Kim Thi sia yang tak sadarkan diri ia berkata lagi:

"Kau adalah murid terakhir malaikat pedang berbajuperlente, kau telah memperoleh seluruh warisan ilmu silatnya, berarti kau telah mewakilinya, kau tak ambil perduli masalah aturan, aku tak perduli harus menggempur seorang angkatan muda, tapi aku akan selalu mengacau dirimu terutama  dalam  soal  hubungan  cinta,  dengan  segala  upaya  aku  akan  menggagalkan dirimu. sebab dulu, gurumu si malaikat pedang berbaju perlente melalu

mengacau hubungan cinta kami, membuat hatiku kecewa dan dingin, hidup tak berarti, beberapa kali hendak bunuh diri."

"Mungkin juga. " sorot mata sipelajar bermata sakti melotot makin berat dan makin tajam.

"Mungkin juga aku hendak berduel denganmu, aku tahu usiaku sUdah tua tak jauh dibandingkan usiamu yang muda, namun aku memiliki sepasang mata yang memiliki daya pikat bagi wanita, aku pasti akan mengungguli dirimu, bilamana perlu akan kurebut kekasihmu dengan mengandalkan mataku yang tajam, aku akan memaksamu mengikuti jejakku, menjadi seorang manusia sebatang kara."

"Dendam orang tua, anak yang harus membalas hutang angkatan tua, angkatan muda yang mesti menanggung tindakanku inipun tidak menyalahi hukum. Apalagi aku hendak menolongmu mengembalikan kekuatan tubuhmu agar kau bisa memberi perlawanan. Nah orang she Kim, disaat dia sudah memahami bagaimana beratnya penderitaan yang kualami selama ini, maka kaupun akan melupakan juga semua penderitaan pada dirimu sendiri"

sampai disini dia segera membangunkan Kim Thi sia, melepaskan pakaiannya yang robek dan memeriksa luka yang dideritanya. Tiba-tiba ia berseru keras: "suhu, hatimu sungguh keji, rupanya kau telah memutuskan urat penting ditangannya dengan menggunakan tenaga Ci yang cengkhi. Tak heran kalau seorang pemuda yang lincah bagaikan naga tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya, kau tak berperi kemanusian, aku benar- benar tak mengerti mengapa kau berbuat demikian, apa yang menjadi tujuanmu. "

Pelajar bermata sakti mengambil air bersih dan membuka bungkusan obat itu lalu mengoleskan kesetiap luka yang ada ditubuh Kim Thi sia merintih kesakitan dan mendusin kembali dari pingsannya.

"Jangan bergerak" pelajar bermata sakti segera memperingatkan. "Disaat kutusuk jalan darahmu dengan pisau nanti, usahakan untuk bertahan jangan bersuara, kalau tidak maka hawa murnimu akan menyembur keluar hingga menyebabkan kematian."

Diam-diam Kim Thi sia bergidik, tapi ia mengangguk juga sambil melemparkan pandangan terima kasih kepadanya.

sekalipun nada suara pelajar bermata sakti dingin menggidikkan, namun bagi pendengaran Kim Thi sia justru lebih hangat dan ramah daripada suara Ciang sianseng.

"Paling baik gertak gigi keras-keras, aku segera akan turun tangan."

sambil berkata pelajar bermata sakti mencabut keluar sebilah pisau dari sakunya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun ditusukkan keatas jalan darah Hong awan hiat ditungkai Kim Thi sia.

Darah segar segera menyembur keluar menodai tubuh mereka berdua.

Pelajar bermata sakti segera memutar pisaunya kuat-kuat, segumpal daging segera terkorek keluar dari tungkai kaki pemuda itu.

Rasa sakit yang tidak terlukiskan dengan kata segera membuat Kim Thi sia lupa akan peringatan, tidak tahan dia menjerit keras-keras.

Berubah hebat paras muka pelajar bermata sakti, secepat kilat ia cabut keluar pisaunya dan menghantam jalan darah Hek seng hiat dibahu kiri Kim Thi sia sebanyak tiga kali.

Kim Thi sia segera merasakan segulung tenaga hisapan yang amat besar menyergap tubuhnya secara otomatis ia menggerakkan tangannya untuk menangkis, saat itulah pelajar bermata sakti mendengus tertahan sambil melepaskan sebuah tendangan keras.

Kim Thi sia segera tertendang hingga mencelat sejauh berapa kaki dan jatuh terjerembab mencium tanah.

Dengan suara dingin menyeramkan pelajar bermata sakti segera menegur: "Hey orang she Kim, apakah kau sudah bosan hidup?"

Kim Thi sia amat mendongkol, apalagi bila teringat apa yang terjadi barusan serta ucapan pelajar bermata sakti yang begitu garang, ia mengira pihak lawan snegaja hendak mempermalukannya, dengan suara keras sahutnya lantang:

"Pergi, pergi, aku tak sudi menerima pertolongan seperti in.., cepat enyah dari hadapanku, biar aku mati disini dengan tenang" Pelajar bermata sakti mendengus lalu tertawa dingin

"Heeeeh......heeeeh heeeeh tak nyana kau adalah manusia yang tak punya keberanian.

Menahan sakit penderitaan pun tak mampu, benar-benar manusia tak becus"

Merah padam selembar wajah Kim Thi sia sebetulnya dia hendak mengumpat orang itu, namun setelah melihat wajah sipelajar bermata sakti yang berwarna kuning kehijauan dan jidatnya basah oleh keringat jelas banyak tenaga yang telah dikorbankan untuk menepuk jalan darahnya tadi, dengan nada minta maaf katanya kemudian-

"Rupanya aku memang bodoh, maaf, aku telah menganggap maksud baikmu menjadi niat jahat."

Pelajar bermata sakti tertawa hambar. "Masih membutuhkan pengobatan dariku? Gara-gara teriakanmu tadi, bukan saja usaha kita semua gagal total, hampir saja akupun tak dapat menahan diri hingga turut menderita."

"Ya a, semua ini gara-gara salahku sendiri hampir saja aku menyeretmu terjerumus dalam lembah penderitaan-"

"Sudah tak usah banyak berbicara lagi bila ingin hidup maka kau harus mendapat pengobatan- Kalau tidak. aku akan pergi dari sini."

Meski Kim Thi sia tak senang hati namun teringat kebaikan orang lain. Rasa mendongkolnya hilang separuh sambil menunjukkan senyum paksa katanya cepat:

"Tentu saja aku ingin hidup, justru yang kutakuti kau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menyelamatkan diri"

"Kesempatan memang tak banyak. bila kau tak dapat memanfaatkan peluang yang ada maka sekalipun aku berniat menolongmu niatku tersebut tak akan bisa dipergunakan-"

"Baik" kata Kim Thi sia kemudian sambil mengangguk. "Mari kita coba sekali lagi, bila kali ini gagal akupun tak akan memanggilmu lagi"

Berbicara sampai disini, dia segera menggertak gigi sambil memejamkan matanya rapat-rapat. "Kalau memang begitu, manfaatkan kesempatan yang terakhir ini dengan sebaik-baiknya."

Mendadak Kim Thi sia berseru lagi:

"Sobat, aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya ciang sianseng adalah orang baik atau orang jahat? Dapatkah kau memberitahukan soal itu kepadaku. ?"

Pertanyaan yang muncul sangat mendadak ini segera membuat pelajar bermata sakti jadi tertegun, selang sesaat kemudian ia baru berkata:

"Bukankah kau tahu bahwa aku adalah murid Ciang sianseng, mengapa kau ajukan pertanyaan semacam itu kepadaku?"

"Aku lihat meski kalian punya hubungan sebagai guru dan murid, namun dalam pembicaraan maupun tindakan justru sama sekali tak cocok satu dengan lainnya."

"Persoalan tersebut merupakan masalah kami pribadi, lebih baik orang luar tidak usah mencampurinya, tidak terkecuali dirimu" kata sipelajar bermata sakti sambil menarik muka.

Kim Thi sia segera terbungkam dalam seribu bahasa, sementara dihati kecilnya dia menggerutu.

"Masa ditanyapun tak boleh, bunuh, peraturan bau kalian kelewat banyak. tapi suatu ketika aku pasti akan menunjukkan kenyataannya agar kau pingin disembunyikanpun tak bisa menyembunyikan kembali."

sementara itu pelajar bermata sakti telah menyeka pisau emasnya dengan kain, lalu katanya dengan suara dalam:

"sekarang aku hendak mulai lagi, bila kau takut sakit lebih baik katakan mulai sekarang, daripada aku gagal melakukan pengobatan akibatnya diriku justru terjerumus kedalam lembah kehancuran. Kau tahu, cara pengobatan yang kulakukan sekarang merupakan suatu cara pengobatan yang amat menyerempet bahaya. Keberhasilan ataupun menyerempet hampir semuanya tergantung pada kemampuan si penderita untuk menahan siksaan-" Kemudian katanya lebih jauh:

"Aku tahu pikiran dan perasaanku sekarang sedang kalut karena perubahan yang kau alami masalah cinta, padahal perasaan yang tersumbat semacam ini justru merupakan penghambat yang hendak kulakukan. Itulah sebabnya kuharap kau bisa membuang jauh-jauh semua pikiran, asal kau bisa berbuat begitu berarti usaha kita sudah berhasil separuh."

"Darimana kau bisa tahu kalau aku retak hubungannya dengan Lin lini ?" Pelajar bermata sakti menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya dengan suara keheranan-

"Nona itu bernama Lin lin? tampaknya dia amat menaruh perhatian kepadamu?"

"Hmm. siapa bilang dia menaruh perhatian kepadaku? Takpernah ada kejadian seperti itu" Kim Thi sia mendengus. "Setiap kali menyinggung soal dia, hatiku menjadi sangat mendongkol.

Hmmm, apanya yang hebat sih dari dirinya? Mau pergi biarkan saja pergi, aku sih tidak kelewat membutuhkan dirinya. "

"Pahit dalam perut, manis diujung bibir, kau tak perlu mengelabuhi diriku" kata pelajar bermata sakti cepat. "Aku tahu rasa cintamu kepadanya sangat mendalam. Kalau bukan demikian, tak nanti kau akan begitu mendongkol dan marah"

"Sudahlah, persoalan ini tak usah disinggung kembali, gara-gara dia, aku telah melakukan perbuatan yang menyalahi abang seperguruanku sendiri setiap kali teringat akan dia aaaai.

sudahlah tak usah dibicarakan terus toh perempuan didunia ini bukan cuma dia seorang toh perempuan didunia ini belum mampus semua"

"Kau tahu, Lin lin mempunyai sebuah rahasia dan kebetulan rahasia tersebut dapat kuketahui" kata sipelajar bermata tajam dengan nada sungguh-sungguh.

"Apa rahasianya?" tanya Kim Thi sia cepat. "Apakah dia sudah berhubungan intim dengan pria lain?"

"Bukan begitu maksudmu"

"Lalu apa rahasianya?" gumam Kim Thi sia makin gelisah. "Apakah dia masih mempunyai persoalan lain yang belum pernah diberitahukan kepadaku ?"

" orang she Kim, rasa cintamu kepadanya sudah kau perlihatkan secara jelas dalam kata-kata serta mulut wajahmu. sekarang kau jangan mencoba mengelabuhi diriku lagi"

"Tapi aku benar-benar sudah tidak menaruh kesan baik lagi kepadanya, seandainya ada, itu

dulu, sekarang aku sama sekali sudah tidak memikirkan tentang dirinya lagi"

" Inginkah kau mengetahui rahasianya?" tiba-tiba pelajar bermata sakti bertanya sambil tertawa dingin.

Kim Thi sia ragu-ragu sejenak, tapi toh akhirnya dia menebalkan muka seraya mengangguk.

Pelajar bermata sakti mendengus dingin sambil melirik sekejap kearahnya dengan pandangan rendah katanya:

"setelah kalian cekcok dan berpisah tadi, Lin lin berjalan terus menuju kedepan situ diikuti lima orang lelaki kekar, karena tempo hari aku pernah berjumpanya sekali, maka etelah melihat dirinya dari kejauhan, akupun segera memperhatikan dirinya secara sungguh-sungguh"

"Aku tahu" tukas pemuda itu cepat, "ayoh katakan apa rahasianya"

"Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi kuikuti mereka secara diam- diam, sebetulya aku ingin mengetahui sedikit tentang keadaanmu, tapi disaat kalian sedang cekcok tadi, sesungguhnya akupun sudah mengintai tak jauh disana, aku lihat paras muka kelima orang lelaki kekar itu agak aneh, sebelum berbicarapun mereka saling memberi tanda, mula-mula kukira kelima orang lelaki itu akan berniat jahat kepadamu, tapi sesaat kemudian kurasa hal ini pun tak mirip. sebab sikap mereka terhadap dirimu cukup menghormat."

"Tatkala kalian telah berpisah dan kau jatuh tak sadarkan diri, sebetulnya aku ingin segera menolongmu, tapi tiba-tiba saja kujumpai sudut mata Lin lin telah basah oleh air mata, karena itu timbul suatu perasaan aneh dalam hati kecilku sekalipun sikap Lin lin dihadapanmu dingin dan hambar, mengapa disaat berpisah ia dapat menunjukkan sikap berat hati? Perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang singkat, sebagai lelaki yang kasar kau tak menemukannya, tapi perubahan sikap tersebut tak nanti bisa lolos dari ketajaman mata saktiku." "Tak lama kemudian mereka telah menempuh perjalanan sejauh satu li, saat itulah tiba-tiba Lin lin menangis terseduh, isak tangisnya amat memedihkan hati, cepat-cepat kukerahkan ilmu meringankan tubuhku untuk menyembunyikan diri dibalikpohon besar, pada waktu itu kelima orang lelaki kekar tadi berusaha membujuk dan menghiburnya, tapi Lin lin tak mau menuruti, sambil menangis dia bahkan menegur kelima orang itu yang dibilang cara yang diajarkan tak benar sehingga menyebabkan kesalahan paham, diantara kalian bertambah dalam."

"sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Kim Thi sia tertegun berapa saat.

"sikap dingin dan tak acuh dari Lin lin sesungguhnya hanya sikap berpura-pura, karena sesungguhnya dia amat mencintaimu, ingin berbaikan lagi denganmu. Tapi dia menuruti nasehat dari kelima lelaki kekar tadi untuk berlagak menjauhi dirimu. Ya. kelima orang lelaki itu memang

sudah berpengalaman cukup dalam masalah cinta, tipu muslihat mereka memang cukup banyak. tapi kali ini mereka salah perhitungan, akibatnya dialah yang menjadi korban-"

"Kalau begitu sikap dingin dari Lin lin tak lain dikarenakan dia ingin kembali kesisiku sehingga sengaja berbuat demikian?"

"Tentu saja, tapi kelima orang tersebut tidak memahami perasaanmu, mereka mengira cara tersebut pasti akan berhasil untuk membawamu kembali kesisi Lin lin- sayang seribu kali sayang akhirnya mereka justru melukis ular diberi kaki, bukan kebaikan yang dingin, kerenggangan hubungan yang terjadi, kalian berdua harus menjadi korban kesalahan tafsir mereka. "

Makin dipikir Kim Thi sia merasa pendapat tersebut makin mendekati kebenaran, diapun dapat merasakan betapa cinta dan mesrahnya sikap Lin lin terhadapnya.

Tak kuasa lagi hatinya menjadi kecut rasa sedih dan menyesal pun seketika menyelimuti seluruh perasaannya.

"Kalau begitu aku takpantas menegur dan memakinya dengan suara keras. " dia bergumam

lirih.

"Yaa, berita itu boleh dibilang merupakan berita baik, terhitung juga sebuah rahasia besar, tujuanku mengutarakan rahasia ini tak lain adalah berharap agar kau jangan bertindak dan mengambil suatu keputusan hanya berdasarkan perasaan. Berdasarkan pada luapan emosi, tapi pikir dan pertimbangkan dulu sematang- matangnya."

Padahal tujuam yang sebenarnya dari pelajar bermata sakti bukanlah begitu, sudah barang tentu diapun tak bisa mengungkapkan rahasia dari tujuan sesungguhnya kepada Kim Thi sia.

sementara itu Kim Thi sia telah berteriak keras:

"Kalau begitu aku harus mencarinya hingga ketemu. "

Tanpa terasa dia mengeluarkan kotak Hong wan dan membelainya dengan penuh kasih sayang, dengan memegang kotak itu dia merasa bagaikan sedang memeluk Lin lin-

sebaliknya sipelajar bermata sakti seakan-akan beru saja menemukan suatu peristiwa besar yang amat mengejutkan hati sepasang matanya terbelalak lebar-lebar dan mengawasi kotak tersebut tanpa berkedip. mulutnya terbungkam sementara rasa terkejut bercampur keheranan mencekam seluruh perasaan hatinya.

Menyusul kemudian dengan suatu gerakan yang amat cepat dia berusaha menyambar kotak Hong wan tadi.

Namun Kim Thi sia sudah membuat persiapan, ketika sipelajar bermata sakti menggerakkan tangannya untuk merebut, ia segera menggunakan jurus "mengumpulkan awan membuyar kabut" dari ilmu pedang panca Buddha untuk menyongsong datangnya gerakan tersebut sambil bentaknya keras-keras:

"Hey pelajar bermata sakti, bila kau berani bertindak secara sembarangan, aku akan musnahkan kotak ini" Dalam waktu singkat pelajar bermata sakti merasakan dihadapan matanya telah muncul berlapis-lapis bayangan tangan yang muncul dari empat empat arah delapan penjuru, dalam terkejutnya ia segera menarik kembali serangannya sambil berseru:

"orang she Kim, kau jangan salah paham, aku sama sekali tak bermaksud untuk merebut benda itu, sesungguhnya "

"sesungguhnya kotak Hong wan adalah sebuah benda mestika bukan?" sambung Kim Thi sia setengah mengejek.

Pelajar bermata sakti segera mendengus dingin.

"Kau jangan mengaco belo secara sembaragan terus terang saja kubilang barang siapa membawa benda ini maka jiwanya akan berada diujung tanduk sering kali dalam keadaan tanpa sadar dia akan kehilangan jiwanya secara percuma. Kini aku berusaha merebut benda tersebut karena terdorong niat baikku, bila kau menganggap aku berambisi untuk mendapatkan mestika tersebut, hal ini sama artinya kau punya mata namun tak berbiji." Kim Thi sia segera tertawa mengejek.

"Heeeeh.......heeeeeh.......heeeeh apa gunanya kau membantah? Bukankah secara terang-

terangan kau telah berusaha merebutnya barusan? Kalau dibilang hal tersebut terdorong oleh niat baik, Hmmm, siapa pula yang mau percaya?"

Paras muka sipelajar bermata sakti berubah hebat agaknya semenjak dilahirkan dari rahim ibunya, belum pernah ia peroleh penghinaan seperti ini, tapi hanya sejenak saja sikapnya telah pulih kembali seperti sedia kala, hanya sepasang "mata iblis" nya memancarkan sinar tajam yang amat menggidikkan hati.

"Aku tak akan menghalangi bila kau tak ingin hidup lebih lama" katanya kemudian-"Tapi kuanjurkan kepadamu, lebih baik rahasiakan benda tersebut dan jangan biarkan siapapun mengetahui rahasia tersebut, kalau tidak bukan cuma gembong-gembong jago persilatan saja yang akan mengancam jiwamu, bahkan "

Berbicara sampai disini, tiba-tiba ia merasa seperti sudah salah berbicara hingga cepat-cepat menutup mulutnya kembali. sementara sorot matanya yang tajam mengawas wajah Kim Thi sia tanpa berkedip.

Dasar bodoh, ternyata Kim Thi sia tidak bisa menangkap arti yang lebih mendalam dari perkataan tersebut, dia masih menganggap perkataan tersebut sebagai ucapan mendongkol seseorang.

Dengan cepat dia menyimpan kembali kotak rahasia tersebut kedalam sakunya, kemudian dengan pandangan curiga dia memandang lagi kearah sipelajar bermata sakti.

"Tak usah curiga, nilai dari kotak Hong wan tersebut akan membuat dirimu mimpipun takpernah menduganya sama sekali. Kalau bukan demikian, orang persilatan tak akan memandang tinggi benda tadi."

"Loheng, apa maksudmu?"

"Babi goblok" umpat pelajar ebrmata sakti tak senang hati. "Kau bakal mendapat kembali nyawamu dengan mestika yang terkandung dalam kotak tersebut, masa soal beginipun tidak kaupahami?"

Kim Thi sia kontan saja mencak-mencak kegusaran ketika mendengar dirinya dimaki sebagai babi goblok. teriaknya keras:

"Loheng, kalau berbicara sedikitlah tahu diri, kalau kubilang tidak mengerti berarti aku benar- benar tak mengerti. sampai sekarangpun aku masih belum mengetahui dengan jelas apa gerangan yang telah terjadi. Kau jangan sedikit-dikit memaki orang, kau tahu biar sampai dimanapun Kim Thi sia tak akan takut kepadamu" Dengan kening berkerut, pelajar bermata sakti segera berseru penuh amarah: "Kau benar-benar manusia yang tak tahu diri, setengah hidupku sudah banyak orang yang kutolong, namun belum pernah kujumpai manusia yang tak tahu adat macam dirimu. Hmmm, anggap saja aku sudah repot selama setengah harian dengan percuma "

"Bila kau mengajakku berbicara secara baik-baik, tentu saja aku akan berterima kasih kepadamu, tapi bila kau memaki diriku sebagai babi goblok. tentu saja aku tak terima. "

"sudah memandang pada keadaanmu yang hampir mampus, aku tak akan ribut lebih jauh tapi suatu ketika bila kau beruntung dapat hidup dan bersua lagi denganku, saat itulah aku akan memberi pelajaran yang setimpal atas kelancanganmu hari ini" selesai berkata dia segera membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari situ.

Kim Thi sia dengan watak kerbaunya merupakan seorang pemuda yang tak bisa dihadapi secara keras. Ketika mendengar perkataan tersebut dia segera menarik mukanya dan berteriak keras:

"Loheng, tak usah dibilang lain kali, sekarangpun aku tak akan takut menghadapi dirimu" Bila berada dihari-hari biasa, Kim Thi sia bakal berbuat demikian lancang, dan tak tahu diri.

Tapi berbeda sekali dengan keadaan sekarang. Kesatu sikap aneh dari pelajar bermata sakti

adalah sikap yang tak bisa dihadapi siapapun dengan begitu saja kedua sifat berangasannya akibat penderitaan putus cinta membuat pemuda itu gampang suka naik pitam dan mengumbar hawa amarahnya.

Pelajar bermata sakti sudah berjalan berapa langkah ketika mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba ia membalikkan badan dan berseru dengan suara dingin

"orang she Kim, kau jangan berkaok-kaok seperti setan kelaparan, bukan aku memandang hina dirimu. sekalipun kau beruntung bisa hidup lima tahun lagipun belum tentu kau bisa menandingiku"

Kim Thi sia yang pada dasarnya sudah gusar, kini semakin meluap amarahnya setelah mendengar perkataan itu, sedemikian gusarnya sampai tangan dan kakinya gemetar keras, kalau bisa dia ingin selepasnya memperoleh kembali seluruhnya kepandaian silatnya lalu berduel tiga jurus dengan orang tersebut.

" orang she Kim" kata pelajar bermata sakti lagi. "sekarang juga aku hendak pergi dari sini, kuharap kau bisa melanjutkan hidup segera sehat walafiat. Bila ada kesempatan carilah aku untuk berduel serta melampiaskan semua rasa kesalmu selama ini. Dan akhirnya aku perlu menganjurkan kepadamu cara yang paling aman dan paling terjamin untuk menyelamatkan diri adalah berusaha mempelajari ilmu silat yang ada didalam kotak Hong wan itu"

Tergerak perasaan Kim Thi sia sesudah mendengar perkataan itu, namun sebagai pemuda yang keras kepala, dia tak ingin mengaku kalah dihadapan orang lain, katanya acuh tak acuh:

"Mati hidup berada ditangan Thian, aku Kim Thi sia bukan manusia yang takut mampus, bila kau hendak pergi, soal ini merupakan kebebasanmu sendiri, aku tak ingin turut mencampurinya. "

Pelajar bermata sakti mendengus dingin, dalam dua tiga lompatan saja ia sudah berkelebat menuju kejalan dan sesaat kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

"setan busuk" Kim Thi sia segera bergumam. "Lima tahun kemudian bila aku tak mampu menghajarnya sampai sekarang minta ampun, mungkin setanpun akan merasa keheranan "

Tiba-tiba serombongan burung gagak terbang melintas dan meninggalkan suata pekikan yang memilukan hati. Kim Thi sia merasakan hatinya bergidik, bayangan kematian seakan-akan menyelimuti sekeliling tubuhnya.

Tiba-tiba dari kejauhan situ berkumandang datang suara nyanyian yang amat merdu. suara itu makin lama makin mendekat, dengan gembira Kim Thi sia melompat bangun dan menengok kearah mana datangnya suara nyanyian merdu itu. Tapi dengan cepatnya dia telah melihat suatu benda yang amat dikenal sekali olehnya, yaitu sebuah tandu kecil yang digotong oleh tiga manusia raksasa. orang-orang itu amat dikenal olehnya dan membuat pemuda tersebut merasakan hatinya tercekal, buru-buru ia duduk kembali keatas tanah.

Untuk sementara waktu ini dia tak ingin bertemu dengan putri Kim huan beserta ketiga orang pengawal, apalagi dalam keadaan lemah seperti ini, dia tak ingin menjadi bulan-bulanan mereka lagi.

Tak lama kemudian rombongan tandu itu sudah pergi menjauh dan lenyap dikejauhan sana. sudah satu jam lebih Kim Thi sia duduk termenung, ketika teringat akan lin lin tanpa terasa ia

mengeluarkan kembali kotak Hong wan tersebut dan membelainya dengan penuh kasih sayang.

Tapi rasa sakit yang dirasakan dalam tubuhnya segera menyadarkannya kembali dari lamunan, tiba-tiba saja ia teringat dengan perkataan sipelajar bermata sakti tadi.

Akhirnya terdorong rasa ingin tahu dia membuka kotak Hong wan tersebut serta diperiksa isinya.

Namun dengan cepat ia menghela napas kecewa isi kotak tersebut bukan benda mestika melainkan sebuah lentera kecil yang terbuat dari tembaga hijau.

Lentera hijau itu tidak ada yang aneh dan nampak sederhana sekali, Kim Thi sia tidak habis mengerti dimanakah letak ke mestikaan benda tersebut hingga menjadi benda rebutan umat persilatan ?

Dengan perasaan mendongkol ia membuang lentera kecil itu kesudut pohon, tapi saat itu juga dia seperti mendengar suara dentingan lirih dari balik lentera kecil itu.

Menghadapi kematian yang serasa makin didepan mata, Kim Thi sia merasakan pikirannya berubah menjadi semakin tenang, tiba-tiba pikirnya:

"Mengapa aku tidak membuka lentera ini dan diperiksa apa isinya? Paling tidak aku bisa mengisi waktu yang senggang ini dengan kesibukan?"

Begitu ingatan tersebut melintas lewat, dia pungut kembali lentera kecil itu serta digoyangkan berulang kali.

Dari dalam lentera segera bergema suara dentingan kecil,seolah-olah ada dua lembar besi yang saling beradu satu lainnya.

"Benar-benar aneh sekali" demikian dia berpikir, seharusnya dalam lentera berisi banyak, kenapa dalam lentera ini justru disimpan dua benda kecil tersebut?"

Didorong oleh rasa ingin tahu, iapun memasukkan jari tangannya kedalam lentera tadi serta dirabanya benda kecil dalam lentera tersebut.

Ternyata disitu terdapat dua benda bulat yang lunak dan halus menyerupai dua buah bola kecil, berbeda sama sekali dengan dugaannya yang semula yaitu benda sebangsa besi. "sungguh aneh" kembali pemuda itu berpekik.

sekarang dia baru teringat dengan ucapan dipelajar bermata sakti yang dinilai mempunyai maksud dalam satu ingatan segera melintas dalam benaknya. "Aaaaah, ternyata benda ini memang luar biasa. " kembali gumamnya lirih.

Maka dengan berhati-hati sekali dia masukkan jari tangannya untuk mengorek keluar benda itu namun sayang mulut lentera kelewat kecil, biarpun sudah dikorek setengah harian lebih namun benda yang bulat lunak itu belum berhasil dikorek keluar.

semakin susah benda itu diambil, semakin besar pula rasa ingin tahu pemuda ini, dalam gelisahnya dia segera mencoba menjepit bola kecil yang empuk itu dengan jari tangannya lalu berniat menekannya lebih kecil agar bisa dikorek keluar. Akan tetapi bola kecil yang empuk itu betul-betul aneh sekali, kalau hanya disentuh benda tersebut terasa lunak. maka tatkala dijepit dengan tenaga ternyata berubah menjadi keras seperti baja.

Kim Thi sia menjadi kerepotan setengah mati, dia sudah berusaha setengah harian lebih hingga bermandi keringat, namun usahanya tak pernah berhasil......

Dalam keadaan begini, watak kerbaunya lagi-lagi muncul, sambil menuding kearah lentera kecil itu umpatnya:

"Setan sialan, kau tak usah bergaya. Lihat saja locu banting dirimu sampai remuk"

Tentu saja ucapan mana hanya kata-kata orang mendongkol. Benda tersebut dipandang sebagai mestika oleh umat persilatan. sudah barang tentu dia tak akan membuang lentera hijau tadi dengan begitu saja.

Pikir punya pikir, tiba-tiba saja pemuda itu merasakan dadanya menjadi lega dan nyaman sekali, gerak geriknya terasa lebih enteng dan cekatan. Diam-diam ia berpikir dengan terperanjat:

"Hey, apa yang telah terjadi? sepertinya ada orang telah mengobati luka dalamku secara diam- diam? Kalau bukan begitu, kenapa tubuhku yang semula terasa tersiksa, kini terasa begini nyaman dan segar?"

Makin dipikir dia semakin keheranan, makin keheranan diapun semakin ingin tahu apa gerangan yang telah terjadi.

Buru-buru dia mencoba bangkit berdiri serta mengatur pernapasan, seketika itu juga ia merasa dadanya amat lega. Hawa murninya berputar seperti keadaan sebelum terluka.

Ia makin terkejut lagi sewaktu telapak tangannya diayunkan menghantam sebatang pohon besar yang tumbuh disamping kirinya. "Plaaaakkk. " diiringi suara keras, pohon itu bergetar

keras dan daun serta ranting berguguran keatas tanah.

"Waaah. sungguh aneh" teriaknya dengan perasaan amat terperanjat. "Mungkin ada kejadian

yang begini aneh didUnia ini?"

sepanjang hidup ia paling takpercaya dengan segala yang gaib, tiap orang menyinggung masalah tersebut, dengan kening berkerut ia selalu memaki orang itu sebagai gila.

Tapi sekarang, kepercayaan atas hal tersebut mulai goyah, dia mulai curiga jangan-jangan memang ada setan atau dedemit yang telah menembuhkan luka dalamnya itu. Tiba-tiba ia teringat dengan benda lunak dalam lentera kecil itu, segera pikirnya:

"sudah pasti gara-gara tersebut, tentu benda ini yang membuat ulah. sewaktu dibuang tadi rasanya begitu lunak. tapi ketika berbenturan menimbulkan suara seperti besi, benda ini aneh bin ajaib, sudah pasti kesembuhan lukaku dikarenakan benda ini." Berpikir sampai disitu, gumamnya lebih jauh:

"Kalau begitu bukan tanpa sebab Ciang sianseng menyiarkan berita yang mengatakan bahwa ia bersedia mewariskan segenap ilmu silatnya untuk ditukar dengan benda ini, tapi apa gunanya Ciang sianseng mencari benda ini? ilmu silatnya telah mencapai tingkatan kesempurnaan- Air dan api susah melukai tubuhnya, masa dia seperti aku juga, menderita luka yang parah. "

Persoalan semacam ini tak ingin dia pikirkan lebih jauh. sebab ia sekarang mempunyai kekuatan, dengan kekuatan ini dia bisa menyelesaikan banyak persoalan.

Karenanya cepat-cepat dia menyimpan kembali kotak mestika itu, namun ditemukan pakaian bagian atasnya telah lenyap tanpa terasa pikirnya ragu:

"sekarang aku harus mencari pakaian dulu sebelum pergi menyelesaikan persoalan- persoalanku. " Ditengah hutan sulit baginya untuk mencari pakaian, setelah berpikir sesaat diapun mengambil daun pohon yang diikatnya menjadi satu sebagai pengganti baju, lalu dengan menelusuri jalan setapak ia berangkat menuju kearah barat. sepertanak nasi kemudian-......

Dari kejauhan tiba-tiba bergema suara petikan khiem yang amat merdu. Kim Thi sia cukup mengenal suara tadi, karena tempo hari diapun pernah mendengar irama tersebut disaat ia disekap dalam kamar penginapan-

Dengan cepat ia merubah arah tujuannya, dengan langkah lebar pemuda itu bergerak mendekati sumber irama medu itu.

Ia mengerti, putri Kim huan sangat menyukai pedang Leng gwat kiamnya, oleh sebab itu sudah dapat dipastikan pedang mestika itu pasti berada didalam tandu.

Ia tak kuatir putri Kim huan akan bersedih hati karena kehilangan pedang Leng gwat kiam yang hendak dirampasnya sekarang, sebab dia memang tak menaruh simpatik terhadap gadis tersebut.

sepanjang jalan ketiga orang raksasa tersebut itu tidak sadar kalau dibelakang mereka bertiga ada orang yang menguntil. Hal ini bukan disebabkan tenaga dalam mereka bertiga belum mencapai puncak kesempurnaan, tapi disebabkan irama khiem yang begitu merdu telah mengisap semua perhatiannya.

Tanpa bersusah payah Kim Thi sia mendekati tandu kecil itu hingga jarak tiga kaki, satu ingatan segera melintas dalam benaknya, diam-diam ia mengambil sebutir batu besar lalu dilemparkan kesisi kiri arena. "Blaaaaaaaaaaaammmmm "

Jangan dilihat ketiga orang raksasa itu besar lagi bebal, disaat bergema suara lirih serentak mereka mengalihkan perhatiannya kearah mana batu besar itu jatuh. Bahkan seorang diantaranya segera melambung diangkasa dan melancarkan dua serangan dahsyat yang menggempur batu besar tadi sehingga hancur berkeping-keping.

Walaupun Kim Thi sia amat terkejut melihat kelihayan musuhnya, namun ia tak berani berayal, memanfaatkan kesempatan disaat ketiga orang itu mengalihkan perhatiannya kearah lain dengan gerakan cepat ia menyusup kesisi tandu dan menyingkap tirainya.

Begitu tirai tersingkap dengan sorot mata yang tajam Kim Thi sia memandang sekejap sekeliling tandu, belum sempat putri Kim huan menjerit kaget tahu-tahu pedang Leng gwat kiam telah terjatuh ketangannya.

setelah pedang berada ditangan, Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, ia segera tertawa tergelak suaranya keras memekikkan telinga.

Gerak reftek dari ketiga manusia raksasa itu sungguh mengagumkan, tahu-tahu seorang diantara mereka sudah membalikkan badan sambil melancarkan sebuah sapuan kilat sementara sepasang tangannya direntangkan mengancam tubuh bagian atas dan bawah musuh.

Kim Thi sia tidak gentar menghadapi ancaman tersebut, dengan tanpa ragu-ragu dan mengeluarkan jurus "bunga pedang diatas api" dan "bayangan pedang dibalik salju" dari ilmu pedang panca Buddha untuk membendung datangnya ancaman. "sreeeet......sreeeeet "

Dibawah babatan pedang Leng gwat kiam yang memancarkan hawa dingin, terasa segulung angin serangan dahsyat mengancam dua orang raksasa yang berada dekat dengannya.

Begitu hebat serangan tersebut, mau tak mau terpaksa kedua orang raksasa itu berpekik keras dan melompat mundur kebelakang. Kim Thi sia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.....haaaah.....haaaah bila tidak puas, silahkan untuk mencoba lagi, biar aku cuma

selembar jiwa, kita lihat saja nyawa kalian bertiga yang bakal ludas atau nyawaku seorang. "

Dengan suatu gerakan cepat ketiga orang raksasa itu sudah saling memberi tanda sambil melakukan gerakan mengepung, senyum menyeringai yang menyeramkan menghiasi orang-orang itu, seolah-olah seratus persen Kim Thi sia bakal mampus ditangannya. Jangan dilihat Kim Thi sia kasar orangnya, ia memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, dalam keadaan begini dia tak berani untuk bertindak gegabah, sambil berdiri menanti pedangnya disilangkan didepan dada, sementara telapak tangan kirinya siap melepaskan pukulan.

Ketiga orang raksasa itupun tidak ambil diam, sambil mengerahkan tenaga masing-masing hingga terdengar suara gemerutukan nyaring, ketiga orang itu siap melancarkan serangan mematikan.

Disaat yang amat kritis itulah mendadak terdengar bentakan nyaring bergema dari balik tandu. "Tunggu dulu"

Ketiga orang raksasa serentak menghentikan gerakannya sambil menunjukkan wajah tak senang. Mereka heran apa sebabnya majikan mereka selalu berusaha menghalangi usaha mereka bertiga setiap kali mereka hendak membunuh Kim Thi sia, padahal orang lain tak pernah saat keadaan demikian.

Tentu saja mereka bertiga tak berani banyak bertanya, sebab bila hal tersebut ditanyakan, majikan mereka selalu naik darah dan memerintahkan mereka berlutut berjam-jam lamanya sebagai hukuman-

sementara itu putri Kim huan telah melirik sekejap kearah Kim Thi sia, sesaat kemudian dia mengulurkan tangannya yang putih seraya berkata:

" Kembalikan kepadaku"

Kim Thi sia paling benci melihat sikap sinona yang sangat sombong itu, dengan sinis ia mendengus, lalu jengeknya: "Apa kau bilang?"

" Kembalikan pedang itu kepadaku"

Kim Thi sia berlagak tidak mengerti, sambil garuk kepala ia bertanya lagi: "Kau sedang memerintah kepadaku ataukah memohon kepadaku?"

Putri Kim huan segera mengepal tangannya kencang-kencang, sesaat lamanya ia tak mengucapkan sepatah katapun, jelas ia sedang marah karena ulah pemuda tersebut. Melihat sinona sudah marah, Kim Thi sia segera mengejek kembali: "Apakah kau sedang memberi perintah?"

"Benar"

Kim Thi sia sengaja menjulurkan lidahnya dan mengejek.

"Sejak kapan sih pedang Leng gwat kiam ini menjadi benda milikmu?"

"Aku tak ambil perduli soal itu, pokoknya pedang tersebut harus kau kembalikan kepadaku bila tak ingin mendapat kesulitan"

"Waduh. gayamu memang luar biasa aku toh baru saja bertanya. sejak kapan pedang

mestika ini menjadi benda milikmu? Memangnya kau membeli dariku? Atau mungkin kau mencuri milikku?"

"Aku telah membelinya darimu"

Kim Thi sia memang berniat membuat gadis ini jengkel, ia sengaja membuat muka setan dan berseru sambil menjulurkan tangannya kemuka.

"Mana uangnya? Yang penting bagi suatu transaksi dagang adalah pembayaran kontan-Kau toh tak bisa membayar pedang Leng gwat kiam ku hanya dengan ucapan kosong. "

"Uangnya toh sudah kuserahkan kepadamu, kau jangan mungkir" seru putri Kim huan sewot. "Apa iyah?" Kim Thi sia pura-pura keheranan- "Tapi aku tak pernah menerima uangmu, coba

lihat dandananku sekarang seandainya aku ini berduit, buat apa aku memakai daun pohon sebagai baju. " Putri Kim huan marah sekali, dia tahu pemuda tersebut memang sengaja mengejeknya. Tapi pedang Leng gwat kiam sudah jatuh ketangan pemuda itu, meski mangkel gadis itupun tak bisa berbuat banyak. Terpaksa dia berkata lagi:

"Aku tak mau tahu, pokoknya sebelum pedang itu dikembalikan kepadaku, jangan nanti kau bisa kabur dari sini" Kim Thi sia segera tertawa.

"ooooh, kau tak boleh aku pergi, suruh aku tidur disini? sekarang hari sudah larut malam, apakah aku harus tidur ditempat terbuka. Aku bisa sakit parah kalau tiduran ditempat terbuka seperti ini"

"Lebih baik kau mampus saja" teriak putri Kim huan marah sekali. "Aku membencimu setengah mati"

Mendengar perkataan ini Kim Thi sia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. "Kau hendak kabur?" teriak putri Kim huan-

Kim Thi sia tak ambil perduli, dia tetap melanjutkan perjalanannya kedepan-

Berubah hebat paras muka putri Kim huan yang cantik, ia tak bisa menahan diri lagi. segera bentaknya:

"Berhenti"

Kali ini Kim Thi sia menghentikan langkahnya danpelan-pelan berpaling, kemudian dengan suara mendongkol ia bertanya:

"Nona, ada urusan apa kau memanggilku."

"Kau jangan harap bisa melarikan diri" seru putri Kim huan dengan penuh kebencian- "Melarikan diri?" Kim Thi sia membelalakkan matanya lebar-lebar. "siapa bilang aku hendak

melarikan diri?"

"Kau masih mungkir, bukankah tadi. " Kim Thi sia segera menukas:

"ooooh. bukankah kau menyuruh aku pergi mati? sekarang aku hendak pergi mati, mengapa

kau mengatakan aku melarikan diri?"

Putri Kim huan menjadi tertegun, dia sama sekali tak menyangka kalau Kim Thi sia akan menggunakan permainan semacam ini untuk membungkamkan mulutnya. setelah termangu sejenak. akhirnya dia baru berkata dengan gemas: " Kalau ingin pergi mampus, cepatlah mampus, tapi tak usah kau bawa serta pedang itu"
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).