Lembah Nirmala Jilid 14

 
Jilid 14

"Sobat Cilik apa yang kau gelikan?" tiba-tiba Ciang sianseng menegur.

Sebenarnya Kim Thi sia hendak memberitahukan kepadanya bahwa dia sedang melatih ilmu ciat khi mi khi sehingga dalam waktu singkat bisa memperoleh kemajuan yang pesat dalam tenaga dalam.

Tapi belum sempat perkataan tersebut melompat keluar dari ujung bibirnya tiba-tiba ia teringat kembali dengan pesan terakhir gurunya. Malaikat pedang berbaju perlente yang melarang dia mengungkapkan persoalan tersebut kepada siapa saja karenanya cepat-cepat dia urungkan niatnya itu.

Dengan perasaan tak menentu ujarnya kemudian: "Aku aku sedang membayangkan mimik wajah sipedang sakti bunga beterbangan yang

menggelikan tadi."

ciang sianseng nampak agak tertegun, tapi kemudian sambil tertawa ramah katanya:

"Aaaah, mungkin saja sobat cilik memiliki bakat alam yang luar biasa sehingga kemajuan dapat kau raih diluar kebiasaan. Pada umumnya, aku kelewat menguatirkan hal yang bukan-bukan- Mari, kita tak usah membicarakan masalah lain lagi. Sekarang aku ingin mencoba sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang kau miliki. Silahkan menggunakan segenap kekuatan yang kau miliki untuk melepaskan pukulan kepadaku. Tak usah ragu-ragu"

Kim Thi sia agak sangsi sebentar, tapi akhirnya dia mengangguk, dengan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya ia lepaskan sebuah pukulan kedepan.

serangan tersebut dilancarkan olehnya dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya, belum lagi angin pukulannya mencapai sasaran. Pasir dan debu sudah nampak beterbangan diseluruh angkasa.

sambil mengebaskan ujung bajunya Ciang sianseng menyambut datangnya serangan itu.

Kim Thi sia segera merasakan segulung tenaga yang besar yang tak berwujud tapi amat lembek menyambut datangnya serangan itu, kemudian memantulkannya kembali. Keseimbangan tubuhnya segera tergempur dan tak kuasa lagi dia tergetar mundur sejauh berapa kaki dari posisi semula.....

sambil tersenyum Ciang sianseng segera memuji:

"Bagus, bagus sekali, bila kau bersedia melatih diri dengan tekun, tak usah untuk jadi seorang jagoan lihay dikemudian hari. "

Kemudian setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh:

"Coba sekali lagi, akan kulihat sampai dimanakah taraf kemampuanmu didalam menganggulangi datangnya serangan dari luar" Tiba-tiba ia lepaskan sebuah serangan kedepan.

Kim Thi sia segera merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu sebuah telapak tangan yang putih bagaikan salju telah berada hanya setengah depa dari hadapan tubuhnya.

Dengan sekilas pandangan pemuda itu segera dapat melihat bahwa ditengah telapak tangan ciang sianseng yang putih bagaikan kemala, lamat- lamat terbentuk sebuah lingkaran kecil setebal berapa inci. Lingkaran tersebut amat berkilat sehingga seakan-akan menonjol keluar dari telapak tangannya itu.

Lin lin menjerit kaget, ia melihat pemuda kekasihnya sedang terancam bahaya maut.

Kim Thi sia sendiripun tak sempat lagi untuk berpikir panjang menghadapi situasi yang amat kritis ini. Tiba-tiba ia mengeluarkan jurus "air sungai mengalir tak berhenti" serta "menuding langit menekan bumi" dari ilmu pedang panca Buddha untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Tapi sebelum seragan tersebut mencapai pada sasaran tiba-tiba ia merasa kuatir bila Ciang sianseng tak sanggup menerima dua jurus serangannya itu dalam saat yang terakhir telapak tangannya mendadak dimirngkan kesamping....

Terdengar Ciang sianseng berseru kaget, tahu-tahu seluruh badannya sudah tergulung oleh semacam tenaga kekuatan lembek yang tak berwujud hingga sama sekali tak berkemampuan untuk melakukan perlawanan lagi. Badannya kontan terlempar sejauh delapan sampai sepuluh kaki dari posisi semula.

Lin lin maupun lima orang gagah dari Yang wi membelalakan matanya lebar-lebar karena tercengang. Ternyata Kim Thi sia sama sekali tak cedera ia masih berdiri diposisi semula dengan perasaan terkejut. Baru sekarang ia sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki Ciang sianseng sesungguhnya telah mencapai ketingkatan yang luar biasa sekali. setelah berhasil berdiri tegak. ciang sianseng berseru pula:

"sobat cilik, tampaknya kedua jurus serangan yang kau pergunakan barusan adalah ilmu pedang panca Buddha milik gurumu?"

"Benar"

Ciang sianseng segera tertawa terbahak-bahak. suaranya yang keras bagaikan pekikan naga yang membumbung tinggi keangkasa.

Belum selesai gelak tertawa itu bergema, Ciang sianseng telah melompati kembali kesisi Kim Thi sia lalu sambil menepuk bahunya dia berseru: "Punya harapan, punya harapan"

Kim Thi sia bersikap acuh tak acuh, dia masih dibuat tertegun oleh kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ciang sianseng.

Bukan hanya dia, selain sipelajar bermata sakti yang mengikuti jalannya peristiwa dari sisi arena hampir semua hadirin dibuat terbelalak dengan mulut melongo. Tiba-tiba......

Kim Thi sia merasakan bahunya yang kena ditepuk Ciang sianseng itu terasa sedikit linu dan kaku. Rasa linu tadi pelan-pelan menjalar keseluruh lengan kirinya.

Ia terkejut dan cepat-cepat mundur dua langkah, tapi rasa linu tersebut hanya berlangsung sejenak lalu lenyap tak berbekas. Dalam waktu singkat kesegaran badannya telah pulih kembali.

Mengalami hal ini mau tak mau ia harus memuji juga kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Ciang sianseng.

"Tak heran kalau setiap orang menyebutnya sebagai Tuan pUkulan atau Ciang sianseng, rasul diantara rasul dari selaksa pukulan" demikian ia berpikir dihati. "Ternyata tepukan hangat yang tidak mengandung kekuatanpun sudah cukup membuat orang tak tahan" sementara itu Ciang sianseng telah berkata lagi sambil tertawa:

"sobat cilik, biar kita berpisah dulu sampai disini, aku akan segera pulang kegunung bila kau menjumpai suatu persoalan yang tak dapat diselesaikan, datang dan carilah aku, tak perlu sungkan-sungkan. "

Lalu setelah memberi tanda kepada si pelajar bermata sakti ia beranjak pergi dari situ.

Ketika pelajar bermata sakti berjalan melalui samping Kim Thi sia, tiba-tiba ia tertawa dingin sambil melirik sekejap kearah Kim Thi sia. senyum mengejek dan penuh penghinaan tersungging diujung bibirnya.

Kim Thi sia amat muak terhadap orang ini, ia lebih mendendam lagi setelah melihat sikap menghina dari orang tersebut, mendadak bentaknya dengan suara keras: "Hey, menang kalah diantara kita belum diputuskan"

"Lebih baik tak usah dilanjutkan." tukas pelajar bermata sakti dengan suara dingin. "Aku hendak membataikan saja niatku untuk berduel denganmu "

sementara Kim Thi sia masih tertegun, mendadak terasa desingan angin tajam berh embus lewat, tahu-tahu pelajar bermata sakti telah maju kembali kehadapannya.

Cepat-cepat pemuda itu mundur selangkah sambil menyilangkan tangannya melindungi dada, tegurnya penuhama rah: "Kau hendak main membokong?"

"Hmmm" pelajar bermata sakti tertawa dingin. "Martabatku belum serendah dan sehina dina seperti itu. "

setelah berhenti sejenak kembali menatap wajah Kim Thi sia lekat-lekat, sepatah demi sepatah kata dia berkata: "Aku hanya ingin bertanya kepadamu sebetulnya kau lebih suka berhubungan dengan seseorang yang tampangnya saja kelihatan jujur dan penuh belas kasihan tapi sesungguhnya berhati keji, buas dan licik ataulah berhubungan dengan seseorang yang tampangnya nampak dingin, keji dan tak berperasaan, tapi sesungguhnya mempunyai jiwa ksatria dan bercita-cita luhur?"

"Tentu saja dengan orang yang bermuka dingin tak berperasaan tapi berhati ksatria"

Mendadak pelajar bermata sakti mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak suara tertawanya keras hingga menembusi awan sampai lama sekali gema suara tertawa nyabaru mereda.

seakan-akan ia mempunyai suatu maksud yang mendalam, setelah tertawa dingin katanya lagi: "sayang kau sudah tidak mempunyai kesempatan seperti ini."

sehabis berkata iapun beranjak pergi dari situ, menyusul kearah mana Ciang sianseng berlalu tadi.

Kim Thi sia jadi termangu-mangu, gumamnya dengan perasaan tak habis mengerti. "Apa maksud perkataannya itu? mengapa aku sudah tak punya kesempatan?"

Melihat Kim Thi sia hanya berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh. Lin lin yang cerdik segera tertawa geli, tegurnya:

"Hey tolol, dia tak lebih hanya bermaksud mengemukakan tentang dirinya, ia hendak mengatakan kepadamu bahwa meski dia orangnya dingin, kaku dan tak berperasaan sesungguhnya adalah orang yang berniat baik dan luhur, berbeda dengan orang yang berwajah luhur dan jujur padahal sesungguhnya merupakan manusia jahanam yang berhati keji, atau tegasnya dia hendak menunjukkan bahwa dia adalah orang yang keras diluar lunak didalam. Coba kau lihat tampangmu sekarang mana orang sudah pergi jauh kau masih berdiri melongo disitu."

"Tapi mengapa dia harus memberi pertanda kepadaku kalau dirinya adalah lelaki sejati, seorang kuncu. " gumam Kim Thi sia lebih jauh dengan wajah tak mengerti. Mendadak ia seperti teringat

sesuatu dengan amarah yang meluap kontan teriaknya:

"Yaa, aku memang tolol, aku memang bodoh soal apapun tidak mengerti hanya kau seorang yang pintar hanya kau yang tahu urusan."

Melihat kekasaran pemuda itu lima orang gagah dari Yang wi segera menggerutu: "Bagaimana sih Kim Thi sia ini, maka kasih sayang seorang pemuda terhadap gadispun tak

dimengerti. Perempuan manakah didunia ini yang tidak manja serta bersikap macam begini?

Aaaai. bila orang she Kim ini berwatak dia berpendirian seperti ini. Bagaimanakah mungkin

mereka akan bisa hidup berbahagia dikemudian hari?"

semula Lin lin masih tersenyum dan bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk berbaikan lagi dengan sang pemuda.

Tapi begitu Kim Thi sia mengumbar wataknya yang aneh, kontan saja sinona jadi sewot.

Betapapun sabarnya dia, saat ini pun tak akan mampu menahan gejolak emosinya lagi.

Mendadak ia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ tanpa mengucapkan sepatah katapun.

seandainya Kim Thi sia yang melihat gelagat tidak menguntungkan segera mengejar serta membujuknya dengan kata-kata lembut mungkin gadis itu akan kembali kesisinya.

Apa mau dikata ia justru mengumbar wataknya menuruti suara hati, bukan saja ia tak mengejar serta membujuknya, malahan dengan suara yang tajam teriaknya keras: "Kalau mau pergi silahkan pergi. Lebih baik kita tak usah bertemu lagi selama hidup," Lima orang gagah dari Yang wi sudah berusia lebih dari tiga puluh tahunan pengetahuan mereka luas, pengalamanpun banyak. Apa lagi dalam soal cinta muda mudi, sudah barang tentu merekapun cukup mengetahui tempat dimanakah akibat dari teriakan tersebut.

Namun untuk mencegah kejadian ini tak sampai lagi, dalam hati kecil mereka hanya bisa berseru:

"Waaaah bisa berabe ini. "

Ternyata dugaan mereka memang benar. Mendadak Lin lin membalikkan badannya serta menatap wajah Kim Thi sia lekat-lekat.

Wajah cantiknya yang semula berwarna putih kemerah-merahan kini sudah berubah menjadi pucat pias karena marah bercampur sedih, sambil menggigit bibir ia segera berseru:

"Kim Thi sia, sekalipun aku bersalah kau boleh memukulku atau memakiku, tapi kau tidak seharusnya mengusirku dengan cara sekasar ini. "

Dengan perasaan sedih, pedih dan perasan yang hancur lebur ia segera lari meninggalkan tempat itu. sementara air mata jatuh bercucuran bagaikan air hujan.

Lima orang gagah dari Yang wi bukan lelaki yang berhati keras dan dingin seperti besi mereka segera terpengaruh oleh rasa sedih yang terpancar dari wajah sinona. Lupa dengan luka yang diderita, serentak mereka maju mendekati pemuda itu, lalu teriaknya dengan suara mendongkol: "Kim tayhiap. "

Waktu itu Kim Thi sia mulai menyesal, tapi nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya dengan lemah katanya:

"Kalian pergilah melindungi keselamatan jiwanya,jangan biarkan dia luka atau dicelakai oleh kaum iblis dari golongan hitam"

"Bagaimana dengan Kim tayhiap sendiri? Apakah tidak ikut bersama. ?" kembali lima orang

gagah dari Yang wi menegur.

"Tidak. la sedang marah lebih baik aku tidak menemuinya dalam berapa hari mendatang." " Kim tayhiap bermaksud akan pergi kemana?"

"Tidak tentu biar kutengok kalian dikemUdian hari saja."

setelah tertawa getir, selangkah demi selangkah Kim Thi sia berjalan meninggalkan tempat itu. sekarang ia baru merasakan betapa sengsaranya seseorang yang terlibat dalam hubungan

"asmara"

Dengan masgul ia berjalan sambil menyepaki batu-batu kecil, langkahnya terasa amat berat belum lagi mencapai dua jam, dia sudah berubah menjadi seorang yang lain.

Dengan kepala tertunduk ia berjalan menelusuri setiap jalan raya yang ditemui tapi lama kelamaan dia mulai merasa jenuh dan bosan sementara kegelapan malam sudah mulai menyelimuti seluruh angkasa.

Akhirnya sampailah dia didepan sebuah rumah penginapan sambil celingukan kedalam segera teriaknya keras-keras: "Hey, kemana perginya sipelayan?"

suara langkah manusia bergema tiba, sipelayan yang terluka tadi telah muncul dengan wajah senyuman dipaksa, serunya kemudian seraya menjura: "Apakah kek koan hendak mencari tempat pemondokan?"

senyuman yang tawar tak dapat menutupi rasa gugup, panik, takut dan perasaan tak tenteramnya.

Kim Thi sia manggut-manggut. Dengan cepat pelayan itu berkata lagi:

"Maaf kek koan, hari ini penginapan kami tidak menerima langganan baru. " "Apa maksudmu?" Kim Thi sia segera tertegun.

Ia mencoba mengawasi keadaan didalam ruangan penginapan, tapi apa yang terlihat hanya kegelapan yang pekat, semua lentera telah dipadamkan sehingga suasana hening dan sepi.

Dengan perasaan tercengang ia bertanya lagi: "Sudah penuh semua kamar disini?" "Bukan begitu" sahut pelayan sambil tertawa getir. setelah menjura dalam-dalam kembali

terusnya:

"Maaf kek koan semua kamar dalam penginapan kami telah diborong orang"

"ooooh, seharusnya hal ini merupakan berita baik untuk kalian, mengapa kau justru bermuram durja?" Kim Thi sia tidak habis mengerti.

Agaknya ada suatu kesulitan yang tak bisa diutarakan pelayan itu, dengan wajah masam ia menggeleng.

"Aaaai lebih baik tak usah disinggung lagi, memang beginilah keadaan penginapan kami."

"Kau jangan mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, aku pingin tanya. Apakah orang yang memborong semua kamar dipenginapan ini adalah begal atau mungkin pentolan perampok?"

"Kek koan, lebih baik kau jangan banyak bertanya" pelayan itu tertawa getir. "Coba lihat tulang bahuku ini. "

sambil memegang bahunya dengan wajah kesakitan ia berhenti sejenak, tapi kemudian dengan perasaan tak puas dan nada benci lanjutnya lebih jauh:

"Belum pernah kujumpai ada nona yang begitu susah dilayani. HHmmm semenjak aku bekerja dirumah penginapan ini, belum pernah kujumpai orang yang pakai aturan seperti dia, begitu masuk kekamar, kalau bukan mengatakan ini jelek. Tentu mengatakan itu kurang baik, tempat kurang bersih, ranjang kurang empuk. sedikit-sedikit sudah memaki dan memaki terus.

Huuuh. , sungguh menjengkelkan, apa lagi kalau tak berkenan dihati, segera diundangnya sang

anak buah yang besar seperti malaikat gunung untuk menggaplok atau menghajarku. "

setelah meludah, sambil menggigit bibir katanya lebih jauh:

"Dia mengira setiap bangsa Han adalah manusia-manusia rendah yang menyukai uang setengah mati, maka asal membayar dengan uang emas atau perak. lantas orang lain dianggap seperti budak. Hmmm, engkau tahu ketika aku datang menghantar teh, sewaktu masuk kedalam kamar aku disuruh berlutut. Hmmm, tentu saja aku menolak, tapi tiga orang lelaki raksasa yang berwajah macam malaikat gunung itu segera menghajarku habis-habisan. sampai sekarangpun tubuhku terasa linu dan sakit terutama tulang bahuku, rasanya seperti sudah remuk saja tulang disekitar sana. Akhirnya diapun memaki kita orang-orang Han sebagai babi."

Belum selesai perkataan tersebut diucapkan, dengan marah yang meluap-luap Kim Thi sia telah bertanya:

"Bagaimana tampang orang itu? Apakah dia adalah seorang nona berwajah amat cantik seperti bidadari dari khayangan dan rambutnya diikat dengan tiga buah gelang emas?"

"Kek koan, kau kenal dengan perempuan itu?" sipelayan bertanya dengan mata terbelalak dan suara tergagap.

"Tentu saja"

Pelayan itu semakin gelisah.

"Jadi kek koan stu rombongan dengannya."

Ia nampak panik sekali, seolah-olah takut Kim Thi sia akan menjatuhi hukuman yang lebih berat lagi kepadanya karena ia telah menjelek-jelekkan gadis cantik tersebut dihadapannya. "Kau tak usah gelisah" ujar Kim Thi sia sambil melangkah masuk keruang penginapan. "Kau bukan satu rombongan dengan mereka, Ia telah merampas pedangku maka aku akan segera memintanya kembali. Hey, katakan kepadaku, ia berdiam dikamar yang mana?"

Pelayan itu segera merasakan hatinya berdebar keras, perasaan tak tenang yang semula mencekam perasaannya pelan-pelan mereka kembali, tapi seperti menguatirkan sesuatu segera katanya lagi:

"Kek koan, terus terang saja seumur hidupku baru pertama kali ini kujumpai nona yang berparas begitu cantik bak bidadari dari khayangan, aku berani mengatakan didunia ini tak akan ada gadis kedua yang bisa menandinginya, tapi sejak ia memakiku dan menyuruh orang memukulku. Aku mulai membencinya, kek koan kau harus berhati- hati dengan tiga manusia aneh yang bertubuh kekar seperti malaikat gunung itu mereka tak mudah dilayani." Kemudian sambil menjulurkan lidahnya ia menambahkan:

"Pagi tadi, dengan mata kepala sendiri kusaksikan mereka bertiga melatih ilmu silat. Hanya dengan sekali pukulan saja, sebatang pohon besar yang tumbuh ditengah kebun sudah terhajar patah, bayangkan saja meski rasa benci dan dendamku meluap-luap mana berani kubalas sakit hati tersebut."

makin mendengar Kim Thi sia merasa makin gusar, tiba-tiba ia mendorong pelayan itu kesamping, lalu masuk kedalam ruang penginapan dengan langkah lebar, teriaknya: "Kau tak usah kuatir, aku akan membalaskan dendam bagimu"

Pelayan itu tak mendengarkan perkataan tersebut hingga selesai, karena tiba-tiba saja dia melarikan diri ketengah jalan dengan langkah cepat, lalu sekejap kemudian sudah lenyap dari pandangan mata. Entah ia sudah bersembunyi dimana.

sambil menelusuri beranda rumah Kim Thi sia mengawasi keadaan disekelilingnya dengan seksama waktu itu hari sudah gelap. Dalam berandapun tiada cahaya lentera. Bahkan sesosok bayangan manusiapun tak nampak. hal ini membuat penginapan yang besar terasa lengang dan menyeramkan.

"Tak heran kalau semua orang yang berada dalam penginapan telah kabur semua." demikian ia bercikir. "Agaknya ketiga orang yang disebut sebagai "ciangkun" itu bukan cuma

berwajah jelek dan berperawakan raksasa. Bahkan ganasnya setengah mati, sedikit-sedikit ia suka memukul orang lain."

sambil mendengus dingin ia segera belokpada satu tikungan dan menelusuri beranda yang lain.

Akhirnya dari kajuhan sana ia melihat ada cahaya lentera yang memancar keluar dari balik sebuah ruangan besar, dalam seluruh bangunan penginapan yang begitu luas, hanya dari kamar itu saja tampak cahaya lentera, oleh sebab itu Kim Thi sia segera menduga secara pasti bahwa dikamar itulah Kim huan kuncu berdiam.

Ketika terbayang kemampUan tiga makhluk raksasa yang berkekuatan maha besar itu, ia hanya nampak berhenti sebentar, kemudian sambil membusungkan dada melanjutkan kembali langkahnya.

"Pedang mestika Leng gwatpo kiam merupakan mestika warisan keluargaku, mengapa aku mesti biarkan ia merebutnya? Bila arwah ayah didalam baka sampai tahu, dia pasti akan merasa tak senang hati" demikian dia berpikir dihati kecilnya. Berpikir sampai disitu, keberaniannyapun semakin membara.

selisih jarak antara kedua belah pihakpun makin lama semakin mendekat, sekarang Kim Thi sia sudah dapat menyaksikan keadaan didalam kamar itu dengan jelas.

Dari ketiga orang manusia raksasa yang berwajah jelek lagi menyeramkan itu. Hanya ada dua orang yang sedang berjongkok disisi kiri kanan pintu kamar mereka berjongkok sambil memeluk lutut sementara keempat buah mata mereka yang besar dan bersinar tajam sedang tertuju kearahnya tanpa berkedip. Biarpun kedua orang manusia aneh itu sedang berjongkok, namun perawakan tubuh mereka justru jauh lebih tinggi ketimbang ketinggian badan Kim Thi sia dalam posisi berdiri teggk sekarang bisa dibayangkan betapa tinggi besarnya manusia- manusia raksasa itu bila mereka berada dalam posisi berdiri tegak.

Bagaikan tidak melihat kehadiran orang-orang tersebut, Kim Thi sia melanjutkan langkahnya mendekati tempat tersebut.

Dua orang manusia raksasa itu mulai memperdengarkan suara raungan rendah yang menyerupai pekik binatang liar, sementara sepasang matanya yang lebih besar dari lentera mulai memancarkan cahaya buas yang menggidikkan hati.

Ketika Kim Thi sia maju dua langkah lebih mendekat, tiba-tiba saja kedua orang manusia raksasa itu bangkit berdiri Bagaikan sebuah bukit kecil yang menghadang jalan pergi Kim Thi sia, mereka membentak dengan suara rendah: "Kau jangan mencoba maju lagi kemari"

Ucapan tersebut disampaikan dengan bahasa Han yang kaku, suaranya kasar dan amat tak sedap didengar.

Tapi Kim Thi sia dapat menangkap arti perkataannya, dengan angkuhnya dia menjawab. "Aku hendak berjumpa dengan Kim huan kuncu."

Tiba-tiba kedua manusia raksasa itu melompat bangun seluruh beranda segera bergoncang keras bagaikan terlanda gempa bumi dahsyat. Atap berguguran keatas tanah, dinding ruangan bergetar keras dan nyaris retak debu danpasir beterbangan diseluruh udara....

Rupanya kedua orang itu merasa terperanjat karena pemuda itu yang dapat menyebutkan nama majikan mereka dengan jelas.

begitu dapat menguasai diri kembali, dengan sepasang mata yang membelalak besar mereka awasi wajah Kim Thi sia tanpa berkedip. sorot mata yang hijau menyeramkan bergerak dari ujung kepala hingga keujung kakinya.

Kim Thi sia tak sanggup beradu pandangan dengan mereka. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya kearah lain.

Tapi pemuda itu segera berpendapat bahwa tindakan semacam ini menunjukkan kelemahannya sedapat mungkin dia alihkan kembali sorot matanya untuk balas menatap wajah lawan-

Tiba-tiba kedua orang raksasa itu seperti teringat siapakah Kim Thi sia ini dengan pandangan terkejut bercampur keheranan mereka saling berpandangan sekejap. lalu tegurnya lagi dengan bahasa Han yang kaku:

"Anjing bangsa Han, rupana kau" Kim Thi sia amat gusar, umpatnya:

"Bajingan suku asing, hati-hati sedikit kalau berbicara bila kalian berani mengusikku, maka aku tak akan perduli berapapun kehebatan kalian. sepanjang hidup aku tak akan melepaskan kalian dengan begitu saja."

Berbicara sesungguhnya, pemuda ini memang seorang yang mampu berbicara mampu pula melaksanakan.

Dua orang manusia raksasa itu segera berpekik keras, kendatipun mereka tak bisa menangkap arti kata-kata tersebut, namun bisa merasakannya dari perubahan mimik muka Kim Thi sia yang dicekam hawa amarah itu, serunya kemudian: "Kau berani memaki kami? Aku akan patahkan tulang badanmu"

"Kentut busuk mak mu" umpat Kim Thi sia lagi. sambil membentak, lagi- lagi dia mendesak maju kemuka. Dengan demikian selisih jarak diantara kedua belah pihakpun tinggal tiga depa saja, atau dengan perkataan lain, asal kedua orang raksasa itu mengayunkan tangan mereka, maka sekali jangkauan saja sudah cukup untuk menghajar Kim Thi sia.

Namun kedua manusia raksasa itu tidak melakukan sesuatu gerakan, agaknya mereka sudah dibuat tertegun oleh sikap maupun tindakan Kim Thi sia yang amat berani itu.

"Hey, apakah kalian sudah mendengarnya?" kembali Kim Thi sia berteriak keras. "Bajingan gede, cepat minggir dari situ, aku hendak bertemu dengan Kim huan kuncu"

Manusia yang berada disebelah kiri berpekik keras, sorot matanya mencekam, bukannya menyingkir kesamping. Tiba-tiba saja dia melepaskan sebuah pukulan kedepan.

Cepat-cepat Kim Thi sia menyingkir kesamping, kemudian jengkeknya sambil tertawa nyaring: "Haaaahh.....haaaah.....haaaah tempo hari aku sudah cukup kenyang menerima kebaikanmu,

untung nyawaku belum sempat kabur dari dunia ini, maka kali ini aku tak akan membiarkan diriku digebuki segampang dulu lagi. "

Dengan mengeluarkan jurus "maju terus pantang mundur" sebuah gerak serangan dari ilmu pedang panca Buddha, tiba-tiba saja ia melepaskan sebuah pukulan kedepan.

Bunga-bunga pukulan menyebar keseluruh angksa, lalu berkuntum-kuntum melayang kembali kebawah, begitu dahsyat dan hebatnya jurus serangan ini membuat manusia raksasa tersebut menjadi gugup dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya. "Duuuukkkk "

Tak ampun lagi pukulan keras itu bersarang diperutnya dengan telak.

Ia mendengus tertahan dan mundur dua langkah kebelakang, tubuhnya terbungkuk-bungkuk sambil memengangi perutnya, jelas ia merasa kesakitan luar biasa.

Melihat itu Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak. diangkatnya tangan sendiri dan diperhatikannya sekejap dari serangan yang dilancarkan tanpa dugaan ini dia dapat membuktikan kalau tenaga dalam yang dimilikinya telah memperoleh kemajuan yang pesat.

sementara itu manusia raksasa kedua telah menerjang datang seperti harimau kelaparan, angin serangan yang menderu-deru bagaikan amukan angin topan terasa begitu mengerikan sehingga cukup membuat keder bagi mereka yang berilmu silat agak rendah.

Namun Kim Thi sia sama sekali tak gentar, sambil mengayunkan telapak tangannya dia sambut datangnya serangan tersebut. "Blaaaammmm. "

Ditengah benturan yang amat keras tubuh Kim Thi sia jatuh beejumpalitan beberapa kali kebelakang.

Ia sudah terbiasa dengan suara yang timbul karena bentrokan tenaga pukulan dengan musuh diapun sudah terbiasa dengan penderitaan rasa sakit akibat terpukul mundur oleh kekuatan lawan, karenanya Kim Thi sia sama sekali tak berkedip ataupun mengeluh karena terlempar kebelakang.

Sambil merangkak bangun, ia menerjang lagi kearah manusia raksasa tersebut dengan jurus yang sama yaitu "maju terus pantang mundur."

Manusia raksasa itu meraung penuh amarah, sambil menerjang pula kedepan umpatnya keras- keras:

"Anjing bangsa Han, kau telah mengganggu ketenangan tidur tuan putri kami, kau jangan harap bisa pergi lagi dari sini dalam keadaan hidup-hidup. "

Sambil melepaskan serangan yang dahsyat, Kim Thi sia sengaja hendak membuat Kim huan kuncu mendongkol, dengan suara keras segera teriaknya:

"Huuuuuh. tuan putri apaan macam dirinya itu? aku lihat dia tak lebih cuma seorang kepala

begal" Secara beruntun beberapa kali benturan terjadi, tubuhnya pun terlempar sejauh tiga kaki lebih dari posisinya semula.

Dengan terjadinya berapa kali benturan keras yang memekikkan telinga, rupanya suara hiruk pikuk tersebut segera membangunkan putri Kim huan dari tidurnya.

Disaat manusia raksasa itu siap melancarkan terkaman kembali, dari balik telah terdengar suara teguran dari seorang gadis yang merdu: "Apa yang telah terjadi diluar? mengapa begitu gaduh?"

Dua orang manusia raksasa itu serentak menarik kembali serangannya, lalu menjawab dengan hormat:

"Anjing bangsa Han itu telah....telah datang lagi mencari gara-gara. "

"oooh " agaknya putri Kim huan merasa terkejut bercampur keheranan, selang sesaat

kemudian ia baru berseru: "Usir dia pergi dari sini"

Dua orang raksasa itu segera mengiakan- masing-masing dengan merentangkan telapak tangannya siap melakukan pengusiran.

Umpatan "Anjing bangsa Han" yang tertuju kepada Kim Thi sia tadi rupanya telah membangkitkan rasa nasionalnya, ia merasa kehormatan bangsanya dihina orang, apa lagi mendengar putri Kim huan memerintahkan anak buahnya untuk mengusir dia, hawa amarahnya kontan saja berkobar dan meluap-luap. Bentaknya dengan suara keras:

"Kepala begal, kau adalah kepala begal perempuan dari negeri asing. Kalian bangsa Kim memang tak lebih cuma sekawan bangsa perampok. termasuk juga raja dan putrinya. "

Tampaknya kedua manusia raksasa itu merasa teramat gusar hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya yang jelek agaknya mereka sudah bertekad hendak membungkam mulut anak muda tersebut untuk selama lamanya.

sayang Kim Thi sia belum sadar kalau ancaman maut telah berada didepan mata dia masih mengumpat terus dengan penuh emosi.

Dua orang raksasa itu mulai menggetarkan seluruh tubuhnya keras- keras, sepasang tangannya mulai digosokkan satu dengan lainnya, agaknya mereka sedang mempersiapkan semacam ilmu pukulan yang maha dahsyat.

Tapi. disaat yang kritis inilah mendadak pintu kamar dibuka orang, lalu tampak manusia

raksasa ketiga munculkan diri seraya berseru: "Hey, putri Kim huan menyuruh kau masuk"

Nada perkataan itu jelas bernada memerintah, kontan saja Kim Thi sia berkerut kening dan menunjukkan wajah tak senang hati.

Tapi untuk mencapai tujuan yang lain, terpaksa dia baru menahan rasa gusar dan mendongkol yang mencekam perasaannya itu dengan langkah lebar ia segera masuk kedalam ruangan.

Dua manusia raksasa itu tertawa seram, tiba-tiba mereka lancarkan terkaman kembali dengan hebatnya.

Tubuh belum mencapai sasaran angin sergapan yang menderu-deru seperti hembusan angin puyuh telah melanda tiba dengan hebatnya.

Padahal waktu itu Kim Thi sia sedang melangkah masuk kedalam ruangan, pintu kamar begitu semcit sehingga tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri

Tampaknya bila serangan dahsyat dari kedua manusia raksasa itu bersarang telak ditubuh sasarannya, betapapun lihaynya ilmu silat yang dimiliki seseorang niscaya akan terbunuh juga.

Disaat yang amat kritis inilah tiba-tiba terdengar putri Kim Huan membentak keras:

"Hey, mengapa kalian tidak mentaati perintahku dan melanjutkan serangan. ? sebenarnya

apa maksudmu?" Bentakan ini kontan saja mengejutkan dua orang raksasa yang sedang melancarkan serangan itu, dengan perasaan bergidik cepat-cepat mereka membuyarkan kembali ancamannya.

Kendatipun begitu, toh masih ada sebagian tenaga yang tak terkontrol sempat menerjang kemuka dan menghantam tubuh Kim Thi sia hingga maju sejauh berapa kaki dengan sempoyongan, suasana dalam ruanganpun turut menjadi gelap.

Untung saja kamar itu cukup luas dan lagi Kim Thi sia segera berhasil menyambar sebuah kursi hingga tubuhnya pun segera berhenti. Dengan perasaan yang geram ia segera memaki.

"Dasar bajingan, tak salah lagi kalau kubilang kalian adalah kawanan perampok. Huuuh. tahu

begini, akupun akan menyergap kalian secara tiba-tiba pingin kulihat bagaimana cara kalian untuk menghindarkan diri"

"Bagaimana sih kau ini" putri Kim huan segera menegur dengan suara dingin. "Mengapa kau begitu senang memakai orang?"

Walaupun suaranya dingin dan hambar namun terselip pula sikap acuh tak acuhnya, seakan- akan dia baru terjaga dari tidurnya sehingga rasa kantuk belum hilang sama sekali.

Sementara itu suasana didalam ruangan telah terang benderang kembali, keadaan disitupun dapat terlihat dengan jelas.

Waktu itu putri Kim huan sedang duduk disisi pembaringan dengan mengenakan pakaian tidur yang amat tipis, kakinya yang putih mulus kelihatan telanjang, rambutnya amat kusut dan baju tidurnya tak teratur. Namun sepasang matanya yang jeli dan besar justru memancarkan sinar yang terang benderang, tak sedikitpun rasa kantuk yang terpancar dari sana.

Ketika ia memandang sekejap kewajah Kim Thi sia dengan pandangan dingin, pemuda itu segera merasakan hatinya berdebar keras dan hampir saja melompat keluar dari rongga dadanya.

suatu perasaan hangat tapi bukan hangat, dingin pasti bukan dingin dengan cepat menyelimuti seluruh lubuk hatinya.

Dengan sekuat tenaga Kim Thi sia berusaha menunjukkan sikap acuh tak acuh, sementara dihati kecilnya ia berpikir:

"Hmmmm dia memandang hina kami bangsa Han akupun tak boleh menundukkan kepala dihadapannya"

setelah termangu berapa saat, akhirnya pemuda itu berhasil menenangkan hatinya kembali, ia segera berkata:

"Maksud kedatanganku kemari adalah untuk meminta kembali pedang Leng gwatpo kiam tersebut. Kuharap kau jangan bermaksud menyusahkan aku, sebab bila aku sampai marah, tak akan kuperdulikan siapakah dirimu"

Sambil berkata dia segera maju dua langkah kedepan dan mengawasi gadis tersebut dengan sorot mata yang tajam, ia sedang menantikan jawabannya.

Dari arah belakang terdengar suara langkah manusia, tanpa berpaling Kim Thi sia segera tahu bahwa ketiga manusia raksasa itu sudah berdiri dibelakangnya serta mengawasi setiap gerak geriknya.

Akan tetapi ia tidak takut, setiap kali rasa ngeri muncul dalam benaknya,aliran darah angkuhnya segera menimbulkan perasaan malu dalam hati kecilnya.

Tampaknya Putri Kim huan merasa jemu dengan masalah itu, dengan kening berkerut ia segera berseru:

"Pedang Leng gwatpo kiam kubeli dengan uang, kenapa kau menuduhku "

"Hmmm, enak benar kalau berbicara" tukas Kim Thi sia sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kata-katanya, "siapa yang telah menjualnya kepadamu? Bila kau tak pakai aturan, akan kubuat seluruh rakyat bangsa Kim menjadi malu." Kembali putri Kim huan berkerut kening, katanya:

"sudah berapa kali kuperingatkan kepadamu, berbicaralah yang sopan dan tahu adat, jangan menyinggung perasaan orang lalu semaunya sendiri Hmmm, tapi nyatanya watakmu tersebut tak pernah berubah, atau mungkin bangsa Han kalian memang manusia- manusia yang tak tahu sopan santun?"

"Tutup mulutmu yang bau, kau belum berhak untuk mengeritik bangsa Han kami" bentak Kim Thi sia dengan mata melotot.

Putri Kim huan kelihatan agak tertegun, lali serunya lagi:

" Jadi kau sengaja datang kemari untuk mengajakku cekcok?"

"Pokoknya selagi pedang Leng gwatpo kiam belum diserahkan kembali kepadaku jangan harap pula kau bisa peroleh kehidupan yang tenang, terus terang kukatakan kepadamu, mungkin kaupun sudah mengetahui secara jelas, didaratan Tionggoan aku dikenal orang sebagai Kim Thi sia, manusia yang paling susah dilayani. "

Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar suara yang aneh, cepat-cepat dia membalikkan badan sambil mengayunkan telapak tangannya.

Ternyata ketiga manusia raksasa itu sedang melotot kearahnya dengan wajah penuh kegusaran.

Putri Kim huan segera mengulap tangannya dan berkata:

"sebelum mendapat perintahku, kalian jangan berkelahi didalam kamarku ini. "

Tiga orang raksasa itu serentak berlutut, serunya dengan perasaan tak puas: "Tuan putri, anjing bangsa Han itu selalu berbicara kotor dan tidak senonoh. "

Kim Thi sia kontan saja berkerut kening, agaknya dia hendak mengumbar hawa amarah. Tapi putri Kim huan telah berkata lebih dulU:

"Aku mengerti, dan sekarang adalah kesempatan yang paling akhir baginya untuk bersikap galak dan kasar kepadaku. Lain kali aku tak akan membiarkan ia berbuat semaunya sendiri"

Dengan perasaan amat tak sabar terpaksa ketiga orang itu berdiri disisi ruangan namun dari sikap mereka kelihatan jelas bahwa orang-orang itu sudah tak bisa menahan diri lagi, setiap saat hawa amarahnya bisa meledak dengan hebatnya.

Sinar lentera yang terang benderang menyinari wajah putri Kim huan yang cantik, Wajahnya yang menawan hati bakbidadari kelihatan lebih cantik dan menawan hati.

Agaknya ia sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba sambil tertawa diambilnya sebilah pedang mestika dari sisi tubuhnya.

Pedang itu tak lain adalah Leng gwatpo kiam milik Kim Thi sia. Tampaknya kemanapun ia pergi, pedang tersebut selalu dibawanya kemana-mana dari sini dapat diketahui betapa berharganya senjata itu dalam pandangannya.....

setelah mengambil pedang tersebut putri Kim huan baru berkata lagi sambil tersenyum: "Aku dengar suka yang indah merupakan watak setiap manusia, terutama bagi kalian bangsa

Han. Apakah kau setuju dengan pendapat itu?"

Dengan wajah tak habis mengerti Kim Thi sia mengangguk. Dia tak tahu permainan setan apakah yang sedang dipersiapkan nona itu.

Putri Kim huan segera tertawa, sepasang lesung pipinya kelihatan amat jelas, setelah termenung sesaat dengan alis mata berkenyit tiba-tiba ia bertanya lagi: "cantikkan wajahku?"

Kim Thi sia tertegun, ia makin tak habis mengerti. Kecantikan wajahnya sangat menonjol, bahkan setiap orang yang bisa melihat pasti dapat merasakan hal tersebut, lalu apa maksudnya mengajukan pertanyaan seperti itu?

"Huuuuh, apa artinya pertanyaan itu?" Kim Thi sia mulai menggerutu didalam hati.

Tapi diluarnya dia mengangguk. meski tak mengerti apa makna dari pertanyaan tersebut, sahutnya juga:

"Kau memang amat cantik, kuakui hal tersebut sejujurnya"

Kembali putri Kim huan tersenyum, senyuman yang membuat wajahnya nampak lebih cantik dan menawan hati.

Kim Thi sia tak berani manatap wajahnya berlama-lama, ia merasa kecantikan nona itu seperti mempunyai daya pikat yang luar biasa menjerumuskan seseorang kedalam cengkeramannya .

Ia mencoba berpaling kebelakang, ternyata ketiga orang "ciangkun" itupun sedang berdiri termangu-mangu macam orang bodoh. Agaknya merekapun terpesona oleh keayuan majikanya.

Melihat hal ini, diam-diam ia menghela napas, pikirannya:

"seandainya ia dapat bersikap lembut dan gampang diajak berbicara seperti sekarang mungkin akupun tak akan memusuhinya terus mcnerus. "

Namun diapun tak habis mengerti mengapa terjadi semua perubahan tersebut?

Mengapa dari sikapnya yang dingin dan angkuh putri Kim huan justru menunjukkan sikap yang lembut menawan hati? Apa gerangan yang tersembunyi dibalik kesemuanya ini? Sementara ia masih tersenyum, putri Kim hua telah berkata lagi sambil tertawa merdu.

"Kalau memang aku berwajah cantik dan menarik, mengapa kau selalu memusuhiku? Bukankah kalian bangsa Han menyulai semua yang cantik dan menarik? Atau mungkin terkecuali kau seorang? Aaaai. sepanjang jalan sampai kemari tak sedikit lelaki yang kujumpai tapi belum

pernah kutemui seorang manusiapun semacam kau, apakah kau bisa memberi tahu alasannya kepadaku?"

Kim Thi sia segera menjadi paham apa yang menjadi tujuan perempuan itu,pikir punya pikir tiba-tiba saja ia merasa seperti dihina dan dipermainkan secara halus. segera pikirnya:

"Hmmmm, kau manusia akupun manusia, setelah kau merampas pedangku semau hati sendiri, kenapa aku tak boleh memusuhimu?"

Berpikir demikian ia segera mengangkat kepalanya, tampak putri Kim huan sedang mengawasinya sambil tersenyum. Agaknya gadis itu sedang menantikan jawabannya.

Dalam keadaan seperti ini, hampir saja dia hendak mengurungkan niatnya untuk memusuhi gadis tersebut.

Tapi perasaan tersebut hanya berlangsung sejenak, dengan cepat ia telah berkata dengan lantang:

"Baiklah, kalau toh kau bersikeras hendak mendengarkan akupun tak akan berusaha untuk merahasiakan. Kesatu aku tak kuat melihat sikapmu yang dingin dan angkuh. Kedua meskipun kau cantik bak bidadari dari khayangan namun tidak memiliki kelembutan serta kehalusan seorang gadis. Ketiga meskipun orang lain suka hal yang cantik, aku justru tidak menyenangi hal seperti itu. Hmmmm toh setiap manusia yang berada didunia ini bukan berasal dari orang tua yang sama. Kenapa setiap orang mesti memiliki watak serta kegemaran yang sama?"

Perkataan tersebut kedengarannya memang tepat dan masuk diakal, padahal dalam hati kecilnya pemuda itupun tahu bahwa pandangan tersebut hanya merupakan pandangannya seorang diri

Tatkala mendengar alasan yang pertama tadi, senyum manis menghiasi wajah putri Kim huan, tapi setelah mendengar alasan yang kedua ia nampak tak senang hati. Apa lagi selesai mendengarkan alasan yang ketiga, wajah yang dingin dan kaku telah menyelimuti seluruh wajahnya. Ia nampak begitu mendongkol sehingga berapa saat Ia manyatak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Kim Thi sia tidak heran atau kaget menyaksikan sikapnya itu, sebab ia sudah menduga kesitu jauh sebelum itu

setelah tertawa bangga ia segera mengulurkan tangannya kedepan seraya berseru: "Nah, pedang Leng gwat kiam harus dikembalikan kepadaku bukan?"

Putri Kim huan masih tetap sadar namun penderitaan sikap batin yang dialami sekarang jauh lebih parah ketimbang ia menangis terseduh sampai setengah harian lamanya ia baru dapat menjawab dengan sepatah kata yang singkat: "Tidak"

Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya keluar jendela, mengawasi rembulan yang bersinar diatas langit perasaan hatinya amat kalut disamping pedih, akhirnya dengan suara lirih dia bergema:

"Aku tak percaya, aku tidak memiliki kelemahan sebanyak itu, kau sedang menipuku. Aku tahu kau sengaja hendak membuatku sedih, membuatku mendongkol " Entah sejak kapan titik air

mata ternyata sudah meleleh keluar membasahi pipinya.

Kim Thi sia segera merasakan penyesalan yang tak terhingga namun iapun merasa kegembiraan yang tak terlukiskan dengan kata- kata, setiap kali melihat gadis itu menangis dengan cucuran air mata, ia selalu merasa murkanya sendiri semakin meningkat. Diam-diam ia bergumam:

"Hmmm, siapa suruh kau memandang hina orang lain, yang lebih mengesankan lagi kau berani memandang rendah bangsa Han kami. Hmmm. rasain sekarang."

Dua perasaan yang saling bertentangan segera menciptakan suatu perasaan yang bercampur aduk dan luar biasa sekali. Dia sengaja tertawa ringan, katanya:

"Terus terang kubilang, dengan Lin lin pun kau masih ketinggalan jauh sekali. "

Menyinggung kembali soal Lin lin, senyuman yang menghiasi wajahnya hilang seketika, ia merasa terlalu banyak kesalahan yang telah diperbuatnya terhadap gadis itu, dan sekarang ia telah pergi, sedang ia merasa rindu sekali dengan gadis itu. Dengan meningkatkan suaranya

lebih tinggi, pemuda itu berkata lebih jauh:

"Dia tak pernah menyakiti perasaan orang lain, diapun tak pernah bikin susah orang, kecantikannya mencerminkan kesederhanan. ia merupakan seorang gadis yang lembut dan halus. Bila didunia saat ini masih ada yang mengatakan ia tak menarik. mungkin orang itu akan percaya kalau sang surya bisa terbit dari langit barat" Kemudian setelah berhenti sejenak^ kembali gumamnya:

"seperti apa yang telah kukatakan tadi, kau kekurangan kesemuanya itu. Aku berani mengatakan, orang yang baru pertama kali bertemu denganmu tentu akan memuji akan kecantikan wajahmu yang tiada tandingannya didunia ini. Tapi mereka yang sudah mengetahui seluk belukmu yang sebenarnya mereka pasti akan mengatakan kau dingin, kaku, sombong dan tidak berperasaan. Akhirnya merekapun pasti akan menilaimu sebagai seorang gadis yang tidak sempurna "

Mendadak putri Kim huan menatap wajahnya lekat-lekat, kemudian teriaknya sambil menggertak gigi:

"Jangan kau lanjutkan perkataanmu itu"

Kim Thi sia mendengus dingin, ia amat puas dengan sikap lawannya, pelan-pelan sinar matanya dialihkan keatas Leng gwatpo kiam yang berada ditangan gadis tersebut, tiba-tiba saja timbul niat untuk merampasnya. Tapi ia tal sempat untuk melakukan hal ini, sebab putri Kim huan telah menjatuhkan diri keatas pembaringan sedang pedang Leng gwat kiam justru tertindih dibawah badannya. saking gusar dan mendongkolnya hampir saja ia jatuh tak sadarkan diri.

Putri Kim huan seorang putri raja yang dianggap sebagai gadis paling cantik diseluruh dunia oleh rakyat negeri Kim nya, kini harus merasakan siksaan batin yang luar biasa hebatnya.

selama hidup belum pernah ia mendengar kata-kata seperti ini, diapun tak pernah menyangka ada orang berani mengucapkan kata-kata demikian kepadanya, harga diri yang banyak tahun dipupuk serta dibina hingga mencapai ketingkatan melebihi siapapun serasa tercampakkan begitu saja oleh kata-kata tersebut, membuat ia sakit hati dan tak akan melupakan untuk selama nya.

Kim Thi sia sendiripun amat menyesal gadis secantik bidadari ini boleh dibilang amat langka didunia saat ini. Kendatipun wataknya agak keras namun iapun bukan manusia sempurna, titik kelemahannya tetap dimilikinya dan sekarang ia telah menyerang titik kelemahan gadis itu, ia merasa menyesal sekali.

Apa lagi bila teringat dengan senyuman manis sikap hangat dan lembut yang terpancar dari mukanya terutama pandangan matanya yang jeli dan begitu menawan hati......

"ploooookkkkk"

la segera memukul jidat sendiri keras- keras.

Bentakan gusarpun segera bergema dari belakang tubuhnya, salah seorang diantara ketiga raksasa itu sudah melotot kearah Kim Thi sia dengan penuh amarah, wajahnya yang jelek kini telah berubah menjadi hijau membesi. Kalau boleh dia akan menyerang pemuda tersebut sekarang juga, ia akan mencabik-cabik tubuhnya hingga hancur berkeping-keping.

Tapi perintah dari putri Kim huan tak berani dilanggar, ia tak berani bertindak secara gegabah meski kobaran api kegusarannya sudah membara, membuat sepasang matanya yang hijau kini berubah jadi merah berapi-api.

"Anjing bangsa Han......." ia mulai mengumpat dengan suara yang parau. "Kau kau bajingan

besar.....nasibmu bakal berakhir hari ini..... kurang ajar kau berani menghina dan

mencemoohnya. Kau tahu putri kerajaan Kim kami yang cantik bukan saja memiliki wajah yang ayu rupawan bak bidadari dari khayangan. Diapun menguasahi secara sempurna ilmu main khim, membaca syair, melukis, main catur maupun sulam menyulam. Kau manusia biadab, keparat terkutuk. Hmmmm, tunggu saja sampai ia mendusin nanti, kami bertiga akan menguliti tubuhmU dan mencabik-cabik badanmU. "

Manusia raksasa yang lain segera menyambung pula:

"Anjing bangsa Han, bila kau bisa meemukan seorang gadis dari daratan Tionggoan yang memiliki kecantikan serta kecerdikan melebihi tuan putri kami, setiap saat kau boleh memenggal batok kepalaku."

secara bergilir ketiga manusia raksasa itu meraung dan mengumpat dengan suara keras dan mata merah membara, masing-masing seperti ingin melampiaskan rasa benci dan dendamnya yang membara.

Andaikata putri Kim huan memberikan persetujuannya, bara api dendam dan benci yang telah meluap-luap itu pasti akan melanda keseluruh daratan Tionggoan dengan Kim Thi sia pribadi, mungkin dia akan merasakan siksaan yang terkeji didunia ini.

Namun putri Kim huan tidak memberikan perintah tersebut, hanya ucapnya dengan sepatah demi sepatah kata:

"Siapakah Lin lin? dia berada dimana? katakan-....cepat katakan. "

Kata-kata itu belum sempat diucapkan hingga habis namun napasnya sudah tersenkal-senkal.

Mimpipun Kim Thi sia tak menyangka kalau putri Kim huan memandang begitu tinggi terhadap harga dirinya ia menjadi tak tega akhirnya dengan suara lembut katanya: "Lin lin adalah adikku, tapi bukan adik kandungku, sekarang ia telah pergi entah kemana" "Kau bukan membelainya?" seru putri Kim huan sambil membalikkan tubuhnya ia kelihata

seperti begitu lemah, bagaikan sebuah sampan kecil yang dipermalukan ombak, membuat ia tak

sanggup menahan sedikit gempuranpun. Kim Thisia agak tergagap. keberaniannyapun makin melemah sahutnya kemudian lirih:

"Aku....aku tak tahu apakah lebih membelainya atau tidak lagi semestinya memang begitu. "

sejak dilahirkan, baru pertama kali ini dia berbicara dengan suara tergagap.

Mendadak putri Kim huan melompat bangun, sepasang matanya yang bulat besar nampak bersinar lebih terang, sambil terengah-engah teriaknya keras- keras: "Enyah. enyah kau dari

sini, aku....aku. "

Kim Thi sia berkerut kening, tapi akhirnya sambil menahan gejolak emosi ia menggeserkan tubuhnya dan mengundurkan diri dari situ. Mendadak terdengar putri Kim huan berseru lagi: "ciangkun, belenggu....belenggu dia. "

Perubahan yang amat mendadak ini segera membuat Kim Thi sia tertegun sebaliknya tiga orang raksasa yang masih berlutut itu seperti mendapat anugerah yang besar, sambil meraung keras mereka menerjang kemuka dengan menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Kim Thi sia bukan manusia yang gampang menyerah dengan begitu saja, amarahnya segera berkobar, dan tanpa memperdulikan lagi segala sesuatu dia segera menyilangkan telapak tangannya dan menghajar dua orang musuh dan menerjang datang paling muka.

Tapi baru saja serangan mencapai setengah jalan, mendadak ia merasakan tangannya jadi linu dan kaku sehingga tanpa terasa berhenti bergerak. sementara segenap tenaga yang dimilikipun seperti bola yang kempes tahu-tahu hilang lenyap dengan begitu saja.

Dengan cepat la mundur kebelakang, tapi tubuhnya sudah terbekuk oleh musuh.

Dengan cepat otaknya berputar memikirkan persoalan tersebut, rasa linu dan kaku pada lengannya membuat ia teringat kembali akan pertumpaannya dengan ciang sianseng ditengah jalan tadi, waktu itu sikapnya yang mesrah dan hangat terasa jauh berbeda dengan keadaan yang lumrah.

Tapi ingatan tersebut hanya melintas sesaat, menanti ia merasakan gelagat tak beres, rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya sudah tak tertahankan lagi, tak kuasa lagi ia menjerit keras.

Dibawah cahaya lentera, tampak wajah yang penuh diliputi perasaan benci dan dendam serta suara tertawa yang menyeramkan telah muncul didepan mata, apa lagi disaat seorang raksasa membelenggu tubuhnya dengan tali yang besar, ia sengaja menggunakan tenaganya tiga kali lipat lebih besar.

Kontan saja pemuda itu merintih kesakitan namun watak keras kepalanya membuat dia tak mau mengeluh, bibirnya digigit kencang-kencang.

"Bagaimanapun juga aku toh bakal mati, tampaknya tepukan dari Ciang sianseng telah melukai bagian penting ditubuhku, mUngkin juga nasibku memang jelek sehingga harus mengalami nasib setragis ini"

Ia hanya tahu mengeluh atas nasibnya yang jelek. la seperti tidak menaruh curiga sama sekali apa sebabnya timbul rasa linu dan kaku pada lengannya dan mengapa kekuatan tubuhnya lenyap dengan begitu saja.

sementara itu si raksasa telah membanting tubuhnya disudut ruangan, lalu meludahi mukanya dengan riak kental, akan tetapi Kim Thi sia menerima penghinaan tersebut dengan mulutnya membungkam dan mata terpejam rapat, dia enggan banyak berbicara, bahkan melirik sekejap kearah putri Kim huan pun tidak. Entah disebabkan rasa linu dari tubuhnya ataukah belenggu yang mengikat badannya kencang- kencang menimbulkan rasa kaku. sampai lama sekali perasaan linu dan kaku itu masih menyelimuti seluruh badannya.

Ditengah keheningan yang mencekam, mendadak terdengar suara pekikan khim bergema membelah keheningan. suara pekikan khim seperti apa yang terdengar malam itu.

Ia tahu putri Kim huan pasti sedang memetik tali senar khimnya, dibawah sinar lentera yang terang benderang sebenarnya ia bisa menyaksikan kesemuanya itu dengan jelas. Namun ia tak sudi melihatnya, melirik sekejappun tidak.....

Irama musik bergema kian lama melengking, tapi tiba-tiba nadanya berubah pula menjadi rendah dan berat pada hakekatnya permainan tersebut tanpa disertai irama yang teratur.

Kim Thi sia sangat keheranan, tapi dia tak ingin melihat gerak gerik maupun mimik wajah gadis itu Lambat laun diapun mulai dapat menangkap makna dari irama tersebut.....

Ketika irama lagu itu mencapai nada yang tertinggi, seakan-akan gadis itu hendak memperlihatkan sikapnya yang dingin dan angkuh, seolah-olah tiada orang kedua yang lebih tinggi daripadanya.

Kim Thi sia tak tahan lagi, ia segera berpaling kesamping, tampak putri Kim huan dengan bajunya yang longgar sedang memetik sebuah khim kecil yang berbentuk aneh sementara air matanya telah membasahi seluruh wajahnya.

Dengan wajah hijau membesi dia memusatkan perhatiannya keatas alat khim tersebut, napasnya nampak terengah-engah bahkan tangannpun kelihatan gemetar keras.

Ia mencoba berpaling lagi, tampak ketiga manusia raksasa itupun berlutut dengan wajah bercucuran air mata, tubuhnya kelihatan gemetar keras.

Walaupun ketiga manusia raksasa itu kelihatan garang dan buas seperti iblis hingga siapapun merasa seram bila menjumpainya, tapi sekarang mereka kelihatan begitu jinak dan memelas.

saat itulah mendadak......

Akhirnya salah satu diantara ketiga orang raksasa itu tak sanggup menahan diri lagi, ia merengek dengan suara pedih:

"Tuan putri.....tuan putri. kau tak boleh meneruskan permainanmu, kami kuatir bila kau

lanjutkan maka.......maka. "

Kata selanjutnya ditelan kembali bersama cucuran air mata.

Kim Thi sia tak habis mengerti namun diapun tak berani bertanya, sebab ia sadar rasa benci orang-orang disitu kepadanya melebihi rasa benci seorang musuh terhadap pembunuh orang tuanya.

Putri Kim huan tidak menggubris, dia masih meneruskan permainannya,jari jemari yang putih lentik masih saja menari diatas senar khim, sementara tubuhnya turut bergoyang pula kekiri dan kekanan.

Dia seperti tak akan menghentikan permainannya sebelum kehabisan tenaga, sebelum tubuhnya menjadi lelah. sedang air matanya bercucuran keluar terus seperti bendungan sungai yang jebol.

Lama kelamaan manusia raksasa yang berlutut disebelah kiri itu tak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba ia melompat bangun dan menotok jalan darahnya....

Putri Kim huan tidak merasa, bahkan ketika jari tangan raksasa itu menyentuh tubuhnyapun ia seperti tak merasakannya sama sekali. Dalam keadaan seperti ini, biarpun disekeliling tubuhnya telah muncul berpuluh ekor harimau yang sedang mengaum keraspun, mungkin putri tersebut tak akan merasakan.

Begitu jari tangan raksasa itu menotok jalan darahnya, putri Kim huan segera mengenjotkan jari tangannya dan tanpa mengucapkan sepatah kata jatuh tertidur dengan nyenyak.

Dua orang raksasa yang lain segera menghembuskan napas panjang, kemudian pelan-pelan bang kit berdiri.

Tanpa berbicara ha atau hu, ketiga orang raksasan itu serentak berjalan mendekati Kim Thi sia, lalu mengayunkan tangannya yang besar dan........

"Plaaak Ploook Plaaak Plook"

Berapa kali tamparan keras membuat pemuda itu merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pening tujuh keliling, darah kental bercucuran keluar membasahi ujung bibirnya. Diam- diam Kim Thi sia mendengus dingin, pikirnya:
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏