Lembah Nirmala Jilid 13

 
Jilid 13

Manusia berkerudung itu sudah lenyap kedua sosok mayat dari pasangan bocah berwajah tertawapun turut hilang tidak berbekas.

Satu ingatan yang menyeramkan segera melintas kembali didalam benaknya. "Siapakah dia?

Siapakah manusia dengki yang berkerudung dan mengerikan hati ini?"

Tapi begitu rasa takut hilang, timbul perasaan gusar dan dendam didalam hati keCilnya, segera gumamnya:

"Suatu hari aku pasti akan membasmi bajingan itu dari muka bumi, entah siapapun orangnya." Tergesa-gesa dia meninggalkan tempat persembunyiannya sambil meneruskan perjalanan,

hanya perasaannya memang berbeda sekali ketika ia baru datang tadi. Kini sepasang kakinya terasa berat dan seakan- akan diberi beban yang banyak.

Pemuda ini baru sadar setibanya kembali digedung pembesar Kanglam, cepat-cepat dia merangkak naik dari dinding pekarangan.

Disebuah tanah lapang ia saksikan Cahaya obor telah menerangi sekeliling tempat itu. Bahkan nampak sejumlah besar tentara kerajaan danjago silat melakukan perondaan disana. Tampaknya bila seseorang sudah terjebak ditempat tersebut, biar punya sayappun sukar untuk meloloskan diri.

Disisi gundukan api unggun yang berada disebelah barat, tampak duduk lima orang manusia berbaju perlente yang mukanya dirundung kesedihan. Kim Thi sia segera dapat mengenali kembali, diantara mereka terlihat juga kakek seperguruannya sipedang kayu serta sijagoan delapan penjuru Kek Jin.....

Waktu itu, sipedang kayu sedang memukul-mukul tanah dengan sebatang ranting kering. sementara sorot matanya mengawasi jilatan api unggun tanpa berkedip. Entah apa yang sedang dipikirkan- Kim Thi sia merasa amat iba, dia mengerti apa yang dipikirkan oleh abang seperguruannya ini.

Diapun sadar apa yang menganjal dihati abang seperguruannya, tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur, disesali juga tak ada gunanya.

Maka dengan langkah yang berhati-hati sekali dia menyelinap masuk dengan jalan melompati pagar pekarangan, lalu dengan bergerak menempel diatas dinding ia berusaha menghindarkan diri dari pengawasan para pengawal tersebut.

sementara itu sipedang kayu telah bersuit keras dengan kening berkerut, ia seperti telah berhasil memikirkan sesuatu.

begitu suitan bergema, ratusan orang tentara kerajaan tadi serentak berkumpul dan membentuk barisan yang rapi sambil menantikan perintah.

Cepat-cepat Kim Thi sia menyelinap kedepan dan bersembunyi dibelakang gedung sambil mencoba menyadap pembicaraan mereka. Terdengar sipedang kayu berkata dengan suara berat:

"Pembesar Kanglam menyatakan amarahnya karena putri Kim huan telah diculik orang, sebetulnya kejadian tersebut merupakan tanggung jawab kalian yang mendapat tugas untuk mengawal serta menjaga gedung ini. Tapi berhubung orang yang melakukan penculikan justru adalah adik seperguruanku sendiri, maka itu ceritanya menjadi lain. sampai kini rombongan kedua yang dikirim keluar belum juga datang melapor. Besar kemungkinan merekapun telah mengalami nasib yang jelek. karenanya sekarang aku pingin bertanya siapakah diantaranya kalian yang bersedia untuk berangkat sebagai rombongan ketiga? Coba angkat tangan saja bagi yang berminat Cuma ada satu hal yang perlu diingat, adik seperguruanku itu hanya boleh ditangkap hidup, hidup dan jangan dibunuh, bagi mereka yang berjasa diberi hadiah besar. Tapi bagi yang melanggar. HHmmmmm, begitu aku berhasil mengetahui pelanggaran yang diperbuatnya hukuman besar akan segera kujatuhkan. Nah, siapakah sipemberani yang bersedia angkat tangan?"

Baru selesai ucapan tersebut diutarakan, ada empat lima puluhan orang yang meng angkat tangannya tinggi-tinggi.

sipedang kayu segera menghitung jumlahnya, kemudian berkata lebih jauh:

"Bagus sekali, harap bentuk sebuah barisan lain disebelah sana, tapi kalianpun harus perhatikan, adik seperguruanku itu berasal dari satu perguruan denganku. Meski dalam hal ilmu silat agak rendah dibandingkan diriku, namun selisihnya tak akan terlalu banyak, karena itu dalam pertarungan nanti jangan menaruh sikap pandang enteng. gunakan sistem pertarungan roda berputar untuk memeras habis tenaganya. Kemudian setelah dia lelah baru dibekuk hidup,hidup,"

Keempat lima puluhan orang jago itu serentak mengiakan kemudian mempersiapkan senjata masing-masing untuk berangkat, suasana berubah menjadi hiruk pikuk.

Dengan suara dalam sipedang kayu berseru lagi:

" Kalian boleh ikuti diriku sekarang andaikata ada orang persilatan yang menganggap tindakan kita ini kelewat menyolok. segala sesuatunya menjadi tanggung jawabku untuk penyelesaian awas jangan bertindak sendiri-sendiri. "

Ketika semua orang telah selesai mempersiapkan diri, berangkatlah mereka meninggalkan gedung tersebut dengan meng ikuti dibelakang sipedang kayu.....

sedangkan si jagoan delapan penjuru Kek Jin bersama sisa jago lainnya tetap melakukan perondaan didalam gedung sikap mereka serius dan tidak berani berayal tampaknya amarah dari pembesar Kanglam itu membuat semua orang tak berani bersikap main-main, sebab siapa teledor dialah yang bakal sial. Bukan cuma menghancurkan mangkuk nasi sendiri bisa jadi akan dijatuhi hukuman mati.

selama berapa tahun memangku jabatannya, si pembesar dari kanglam inipun baru pertama kali ini marah besar, karenanya setiap petugas keamanan merasakan hatinya tak tenteram seolah- olah mereka takut kalau tanggung jawab tersebut dilimpahkan keatas bahu mereka. sementara itu Kim Thi sia telah menyelinap kebalik gedung dengan langkah yang sangat berhati-hati, dia langsung mendekati kamar tidur Lin lin-

Tapi ia tak berani bergerak lebih lanjut, sebab dikedua sisi ruangan tersebut berdiri sebaris tentara kerajaan yang melakukan penjagaan dengan senjata lengkap. Andaikata ia hendak kesitu berarti puluhan orang prajurit tersebut harus dirobohkan lebih dulu. 

Padahal kepandaian silat yang dimilikinya sekarang masihamat terbatas mustahil baginya untuk merobohkan sekian banyak orang dalam satu gebrakan. oleh sebab itu ia tak berani melakukan tindakan ibarat menggebuk rumput mengejutkan sang ular. Bila kehadirannya sampai ketahuan semua petugas, bisa berabe akhirnya.

Lama juga dia menunggu tapi kawanan prajurit tersebut sama sekali tak beranjak dari posisinya semula. Kim Thi sia mulai gelisah, matanya mulai dipentangkan lebar-lebar tapi selalu menggigit bibir menahan diri apa pula yang bisa diperbuat olehnya?

Ketika ia mencoba melirik kearah kamar tidur Lin lin tampak cahaya lampu menerangi seluruh ruangan disisi meja terlihat tujuh delapan orang dayang berbaju hijau sedang berkumpul disitu sambil menuding kesana sini, rupanya mereka sedang membicarakan masalah dia dengan putri Kim huan tersebut.

Lin linpun berada diantara mereka cuma keningnya nampak berkerut mukanya sedih dan bekas air mata masih membasahi pipinya, dengan termangu- mangu dia mengawasi luar jendela, tidak berbicara maupun bergerak sehingga keadaannya nampak sangat mengenaskan.

Kim Thi sia merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya serasa mendidih, hampir saja dia menerjang keluar dari tempat persembunyiannya, untung niat tersebut diurungkan kembali.

Lin lin nampak murung dan masgul, kelihatan dia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kekamar tidur dengan kepala tertunduk. Kadangkala ia mendongakkan juga kepalanya memandang rembulan diangkasa sambil menghela napas sedih, keadaannya benar-benar mengibakan hati.

Beberapa kali Kim Thi sia menggapai tangan kearahnya, namun sayang Lin lin tidak melihat akan hal tersebut. Hal ini membuat pemuda kita merasa bertambah gelisah. Waktu itu Lin lin sedang berpikir:

"Mengapa aku harus berkenalan dengannya? sejak berkenalan dengannya, selain kemurungan dan kemasgulan hanya rasa rindu dan kuatir yang mencekam perasaannya. "

Kemudian dengan gemas dan mendongkol dia berpikir lebih jauh:

"Mengapa dia harus menolong perempuan asing itu? Kenapa ia harus melakukan perbuatan sebodoh itu "

makin dipikir nampaknya Lin lin merasa pikirannya makin kesal dan tersumbat. Akhirnya ia mendekam dijendela dan menangis tersedu-sedu.

Kim Thi sia dapat mendengar suara isak tangisnya itu, suara tangisan yang memedihkan hati membuatnya teringat kembali peristiwa dimalam itu, waktu itu diapun pernah menangis.

Akhirnya Kim Thi sia tak sanggup mengendalikan diri lagi. Bagaikan seekor singa kelaparan ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian tanpa memperdulikan keadaan disekelilingnya dia lari menuju kebawah jendela dan menghancurkan daun jendelanya.

Dengan cepat sepasang mata mereka saling bertemu dan beradu pandangan, hanya dalam sedetik saja. Namun rasanya mengungguli sejuta perkataan, serasa semua kesalahan paham telah hilang. seakan-akan dalam sedetik pandangan tersebut keluar berani bersama-sama memperoleh pengertian yang mendalam. Dengan cepat Kim Thi sia merangkul tubuhnya, Lin lin segera terjatuh kedalam pelukannya, tapi Kim Thi sia tak sempat lagi merasakan kehangatan dan kemesraan tersebut. sambil merangkul pinggang gadis tersebut, ia cepat-cepat kabur meninggalkan tempat itu.

Ketika bunyi tanda bahaya dibunyikan dalam gedung, dia telah berhasil melompati pagar pekarangan dan menerobos masuk kedalam hutan.

Dari balik dinding pekarangan gedung pembesar secara beruntun muncul rombongan demi rombongan prajurit kerajaan, dengan senjata terhunus mereka berlarian menuju ketanah perbukitan untuk melakukan pengejaran serta penggeledahan.

Tak lama kemudian, rombongan tentara itu telah lenyap dari pandangan suasanapun pulih kembali dalam keheningan.

Dalam keadaan beginilah Kim Thi sia baru merangkak keluar dari persembunyiannya, kemudian dengan mengambil arah yang berlawanan dia kabur menyelamatkan diri

Rembulan telah condong kearah barat napas Lin lin telah tersengkal. Namun dibalik wajahnya yang cantik terselip perasaan kejut dan garang, selain tentu saja rasa kaget bercampur ngeri.

Tanpa disadari lagi Lin lin balas memeluk tubuh Kim Thi sia yang kekar erat-erat sebab hanya dengan kata begini ia dapat merasakan kehangatan dari pemuda tersebut. Kim Thi sia yang mulai mengenal rasa cinta mendadak menghentikan gerak larinya.

Mengawasi wajah sinona yang cantik jelita serta bau harum keperawanannya yang merangsang, tiba-tiba saja ia merasa tak kuasa untuk menahan diri lagi. Pelan-pelan kepalanya ditundukkan lalu bersiap-siap untuk mengecup bibirnya yang mungil.

Namun sebelum niat tersebut tercapai, mendadak saja Lin lin membuka matanya lagi, kemudian dengan perasaan kaget bercampur gugup, serunya dengan napas terengah: "Engkoh sia, jangan "

sambil berseru ia mencoba mendorong tubuhnya.

Kim Thi sia merasa tak dapat merangkul tubuhnya lagi, karena itu dengan rasa tak habis mengerti serunya:

"Lin lin, mengapa tak boleh? Bukankah kau bersedia untuk kawin denganku? Menjadi biniku?" "oooh......engkoh sia. " pelan-pelan tlin lin membalikkan badan sambil berbisik dengan sedih.

"Bunga yang cakap akan cepat pula layunya, kenapa kita harus."

Biarpun sebagai seorang dayang, telah banyak buku pendidikan yang pernah dibacanya. Lin lin tahu sebagai seorang gadis yang punya harga diri, dia tak ingin berbuat sesuatu yang mesra dan hangat yang terlalu melampaui batas sebelum perkawinan yang resmi dilakukan.

Karenanya setelah berhasil menenangkan hatinya dan membenarkan rambutnya yang kusut, pelan-pelan dia membalikkan tubuhnya dan menatap pemuda tersebut lekat-lekat.

0000000

"Engkoh sia maafkan daku" bisiknya kemudian dengan suara yang halus dan lembut.

"Akhirnya aku toh pasti menjadi milikmu, tapi kuminta janganlah kau lakukan hal yang diluar

batas, hatiku merasa amat kalut."

Tiba-tiba ia menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda tersebut dan menangis terseduh-seduh.

Kim Thi sia tahu masalah pelik apakah yang sedang mengganjal perasaan gadis tersebut, lama sekali ia berdiri tertegun, kemudian baru katanya:

"Kita tak ada yang salah, mengapa harus minta maaf kepadaku? toh meski kau menolak, akupun tak berani memaksa. mari, jangan membuang waktu lagi disini, kita harus pergi

secepatnya sebab sebentar lagi tentara kerajaan akan mengejar sampai disini." Lin lin meras akan hatinya sakit pedih dan tak karuan rasanya dilihat dari sikap pemuda tersebut bisa jadi dia merasa sakit hati karena penolakannya tadi...tiba-tiba saja ia berpendapat bahwa penolakannya tadi merupakan suatu langkah yang keliru bisa jadi pemuda itu merasa amat sedih hanya perasaan tersebut tak ingin diutarakan keluar.......

sekali lagi Lin lin memeluk tubuh pemuda tersebut erat-erat suara isak tangis membuatnya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

seandainya Kim Thi sia mengajukan permintaan macam apapun saat itu, mungkin Lin lin tak akan menolak. Mungkin segala permintaannya bakal dikabulkan dengan begitu saja termasuk melakukan hubungan suami istri sekalipun.....

Kim Thi sia tak berbicara lagi, diapun tak membelainya dengan kasih sayang, sambil mengempit tubuhnya kembali dia berlarian menelusuri jalanan......

Lin lin benar-benar amat sedih, suatu perasaan kecewa yang aneh membuat perasaannya tak tenang, namun dibalik kekecewaan terselip juga perasaan bersyukur.......

Yaa pikirannya saat itu amat kalut saling bertentangan satu dengan lainnya ia merasa tak mampu menolak permintaan orang namun diapun tak berani menerimanya......

Mendadak ia menjumpai luka-luka yang berada ditubuh Kim Thi sia, darah yang telah membeku membuatnya terkejut.

"Engkoh sia, masih sakitkah lukamu ini?" bisiknya kemudian dengan penuh pcrhatian. "oooooh.......cepat berhenti coba kau lihat darahnya mengalir keluar kembali. "

Kim Thi sia menghentikan larinya tidak jauh disebelah depan terdapat sebuah kolam dengan air yang jernih.

Lin lin segera membasuh sapu tangannya dengan air, kemudian dengan penuh kasih sayang menyeka darah dari tubuh pemuda itu.

Kim Thi sia berdiri termangu-mangu, mengawasi suasana hening yang mencekam sekeliling tempat itu membuatnya teringat kembali dengan suasana dibukit tengkorak tempo hari disaat dia masih hidup berdua dengan ayahnya. tanpa sadar titik air matajatuh berlinang membasahi

wajahnya.

Yaa dia melelehkan air mata, selama hidup baru pertama kali ini dia melelehkan air mata.

Lin lin yang melihat keadaan tersebut segera salah mengartikan kesoal lain tiba-tiba saja seluruh tubuhnya gemetar keras.

Ia turut melelehkan air mata lalu sambil menggigit bibir dibelainya tubuh pemuda itu dan bisiknya dengan suara terbata-bata.

"Engkoh sia.....apa......apapun yang ingin kau lakukan.......aku. aku bersedia menuruti

perkataanmu.....asal......asal kau tidak marah kepadaku. "

sambil berkata dia segera merangkul tubuh pemuda tersebut dan membelainya dengan penuh kasih sayang.

sebagai seorang lelaki yang masih normal Kim Thi sia mempunyai perasaan, diapun mempunyai napsu, rangsangan yang membangkitkan birahinya ini membuat ia tak mampu menahan diri lagi.

Dengan cepat pemuda itu memeluknya, mereka saling berpelukan dengan erat berangkulan dengan mesra.

sementara itu sepasang bibirpun saling bertemu, saling mengecup dengan penuh kemesrahan aliran hawa hangatpun menyebar keseluruh tubuh membangkitkan gairah yang lain-....

Namun dengan cepat Kim Thi sia menyadari perbuatannya dia merasa tak pantas dirinya menodai seorang gadis lemah yang masih suci bersih seperti Lin lin sekalipun sebagai lelaki normal sesungguhnya diapun membutuhkan hal tersebut. Lama. lama sekali mereka berpelukan akhirnya waktupun dilewatkan dalam kebahagiaan dan

kegembiraan.....

suatu ketika, tiba-tiba Kim Thi sia teringat kembali dengan kotak peta yang berada dalam sakunya dia mencoba meraba seluruh tubuhnya namun tak ditemukan, akhirnya ia berseru kaget:

"Engkoh sia ada apa?" Lin lin segera bertanya dengan wajah keheranan-

"Aku telah kehilangan kotak. padahal benda itupenting sekali artinya " seru sang pemuda

sambil memukul jidat sendiri

"Benda inikah yang kau maksudkan?" tanya Lin lin sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.

Kim Thi sia menjadi kegirangan setengah mati serunya cepat:

"Yaa benar benda inilah yang kumaksudkan kau mendapatkannya dimana?"

Lin lin tertawa manis.

"Aku menemukannya waktu kuhantar kau pulang kekamar untuk beristirahat tempo hari sepulangku dari situ aku merasa tak bisa tidur sehingga pergi mencari tempat untuk bercakap- cakap siapa tahu kakiku tersangkut sebuah benda sehingga hampir saja terjerembab ketika kulihat ternyata benda tersebut adalah sebuah kotak kecil maka akupun membawanya kembali maksudku sambil menunggu pemiliknya mencari benda tersebut, tapi kemudian kau membuat huru hara didalam gedung, akibatnya hatiku menjadi tak tenteram "

Kim Thi sia merasa amat terharu, dia ingin menciumnya tapi Lin lin segera menghindar. "Kenapa sih kau suka......aku tak mau. "

"Kenapa tidak mau?" tanya pemuda itu tak mengerti.

Rupanya sejak kecil dia hanya hidup berdua dengan ayahnya dipegunungan yang terpencil, selama itu dia tak pernah bergaul dengan orang kedua. oleh sebab itu diapun tidak mengetahui perkataan dari muda mudi.

Kontan saja pertanyaan tersebut membuat Lin lin tertawa terpingkal-pingkal karena geli. Kim Thi sia tak tahu apa yang ditertawakan gadis itu, maka diapun turut tertawa terbahak-

bahak.

"Lin lin" daitak berkata kemudian. "Aku tak pandai menyimpan barang ini tak ternilai harganya.

Tolong simpan benda tersebut baik-baik."

Lin lin merasa ucapan tersebut amat hangat dan mesrah, ia segera manggut-manggut dan menyimpan kembali kotak tersebut.

Tiba-tiba satu ingatan aneh melintas didalam benak Kim Thi sia, pikirnya:

"Putri Kim huan sama-sama seorang perempuan, kalau bisa menikmati kemauan dan kegembiraan dengan tenang, mengapa tidak dengan Lin lin?"

Maka dia segera merogoh keluar ketiga butir mutiara tersebut, setelah itu katanya lebih jauh: "Lin lin, besok aku akan mengundang banyak sekali jago lihay untuk melindungimu. Aku pingin

melihat kau hidup senang seperti putri Kim huan "

Lin lin nampak tertegun, lalu diawasinya pemuda itu dengan rasa tak habis mengerti. "Kenapa begitu?" tanyanya tercengang.

"Kau tak mengerti ilmu silat, kaupun amat lemah, aku tak tega membiarkan kau hidup sendirian-"

Cepat-cepat Lin lin menggeleng.

"Tapi kau toh berada disisiku, kehadiranmu memberi ketentraman dan keamanan bagiku." "Tidak. kau tidak mengerti maksudku "

Lin lin memang tidak mengerti apa tujuan pemuda tersebut, namun diapun tidak banyak bertanya, sebab sebagai seorang istri yang baik maka semua kehendak suami jangan mencoba untuk ditanya ataupun diselidiki, apalagi diapun tak ingin menentang kehendak pemuda tersebut.

Kim Thi sia segera memeluk kembali tubuhnya dan berlarian menuju keluar kota. Disitu ia mencari sebuah rumah penginapan.

Ketika hari sudah terang tanah, Kim Thi sia membeli setumpuk pakaian baru untuk Lin lin dan dirinya, kemudian mereka berdandan rapi sehingga hampir saja berbeda dengan keadannya semula.

Kim Thi sia berdandan sebagai seorang busu, wajah yang tampan, tubuhnya yang kekar dan langkahnya yang mantap mencerminkan ia sebagai seorang lelaki sejati.

Mereka berdua melangkah masuk kedalam sebuah rumah pengawalan barang, kehadiran mereka amat menyolok itu dengan cepat menimbulkan perhatian orang banyak. Menyaksikan kesemuanya ini, tiba-tiba Lin lin berbisik, "Engkoh sia, aku takut. "

"Apa yang perlu ditakuti?" jawab Kim Thi sia sambil berjalan lebih rapat disisinya. "selama aku berada disampingmu, tak nanti mereka berani berbuat apa-apa terhadapmu."

sambil berkata dia segera mengawasi sekelilingnya dengan mata melotot, akibatnya para penduduk yang semula mengawasi mereka segera melengos kearah lain atau bubaran. Melihat itu Lin lin tertawa ringan, perasaan hatinyapun menjadi tenang kembali.

Ketika melangkah masuk kedalam perusahaan piawkiok. Kim Thi sia segera berteriak keras memanggil keluar pemiliknya.

seorang lelaki yang kurus kering segera mengawasinya sekejap sambil tertawa. "Apakah kek koan hendak mengawalkan sesuatu barang?"

Diam-diam Kim Thi sia merasa pipinya menjadi merah, sahutnya:

"saya bukan datang untuk mengawalkan barang, aku hanya ingin mengundang beberapa orang toa suhu untuk mengawal. "

Ia melirik sekejap Lin lin yang menunduk dengan tersipu-sipu kemudian terusnya lagi: " Untuk mengawal adikku ini. "

Dia mengira perkataannya sudah cukup sesuai dengan keadaan apa lagi memanggil pengawal piawkiok sebagai toa suhupun mengandung nada persilatan. siapa tahu si pemilik piawkiok tersebut segera berseru dengan nada tercengang:

"Kek koan, perusahaan Yang ti piawkiok kami hanya mengawal barang tidak mengawal orang." Dengan kening berkerut Kim Thi sia segera menggebarak meja keras-keras, serunya:

"sauyamu jelek-jelek masih terhitung seorang jagoan dari dunia persilatan, kalau Cuma permintaan seperti inipun ditolak buat apa kalian membuka perusahaaan pengawalan?"

Baru selesai perkataan tersebut diucapkan dari dalam ruangan sudah terdengar seseorang tertawa tergelak. menyusul kemudian tampak seorang kakek bermuka merah dan bertubuh tegap berjalan keluar dari ruangan mengiringi kakek berlima orang lelaki setengah umur yang bertubuh tegap pula. Tampak kakek bermuka merah itu menjura sambil berseru: "selamat jalan saudara- saudara, maaf kalau aku tidak menghantar lebih jauh." sambil tertawa tergelak kelima orang itu menjawab: "Terima kasih cong piawtau. "

Sambil berkata mereka bersama-sama melirik kearah Kim Thi sia kemudian memandang kearah Lin lin dengan cepat dibuat tercengang hingga sampai lama kemudian baru menarik kembali pandangan matanya.

sementara didalam hati kecil masing-masing pun timbul sebuah ingatan yang sama. "Cantik nian nona ini. " sebaliknya Kim Thi sia telah memperhatikan pula kelima orang tersebut, melihat dandanan serta sikap mereka yang begitu gagah, iapun segera menjura sambil serunya: "Cuangsu, harap tunggu sebentar."

Waktu itu, kelima orang tadi sudah berada didepan pintu mereka segera berpaling seraya menegur mendengar seruan itu "Ada urusan apa kek koan?"

"Konon perusahan ini hanya mengawal barang dan tidak mengawal orang, apa benar demikian" "Benar"

"Boleh aku tahu, apakah saudara sekalian bekerja diperusahan ini?"

"Berkat bimbingan dari congpiantau, kami memang bekerja disini, tapi ada urusan apa kau menanyakan tentang masalah ini?"

"Bagus sekali kalau begitu" seru Kim Thi sia sambil tertawa. "Boleh aku tahu kalian?"

Kelima orang itu nampak agak tertegun, tapi segetra jawabnya sambil tertawa. "Kami adalah lima orang gagah dari Yang wi"

"Sudah lama kukagumi nama anda, sungguh beruntung aku bisa bersua dengan kalian hari ini" seru Kim Thi sia segera sambil menjura.

Ternyata dia telah menirukan ucapan yang pernah diajarkan ayahnya kepada dirinya dulu untuk menghadapi orang persilatan, tentu saja kata-kata tersebut membuat paras muka kelima orang itu berseri-seri.

Meski demikian kelima jagoan itupun merasa kebingungan dan tidak habis mengerti. sekalipun pemuda tersebut tidak menunjukkan sikap permusuhan, tapi apa maksudnya berbuat begitu?

Kalau kejadian ini berlangsung disaat lain- mungkin kelima orang tersebut segera akan beranjak pergi setelah mengucapkan kata-kata sungkan, tapi dengan kehadiran Lin lin yang cantik, keadaan menjadi berubah. setiap orang hampir mempunyai pikiran yang sama, yaitu ingin berada disana lebih lama sehingga mempunyai kesempatan untuk menikmati kecantikan wajah gadis tersebut.

Itulah sebabnya meski Kim Thi sia bertanya terus tiada hentinya, mereka sama sekali tidak merasa jenuh.

Kembali terdengar Kim Thi sia berkata:

"Aku hendak memohon bantuan dari anda sekalian, apakah kalian bersedia untuk menerimanya?"

Kelima orang itu melirik sekejap kearah Lin lin, kemudian sahutnya sambil tertawa: "Persoalan apakah itu? Asal kami sanggup untuk mengerjakan tentu saja akan kami terima."

"Ehmmmmm, tak nyana lima orang gagah dari Yang wi memang sangat terbuka orangnya yang kumohon kepada kalian adalah kesediannya untuk mengawal adikku. Berhubung dia tak pandai berilmu silat, aku takut terjadi sesuatu atas dirinya. "

Lima orang gagah dari Yang wi nampak tertegun, lalu dengan cepat menuding kearah Lin lin sambil berseru: "Adikmu yang ini "

Lin lin yang ditunjuk segera menundukkan kepalanya dengan wajah bersemu merah. "Benar" Kim Thi sia mengangguk. "Apakah kalian bersedia tawaranku itu?"

Kemudian sambil mengeluarkan sebutir mutiara, katanya lebih jauh dengan wajah serius: "sedikit balas jasa harap kalian terima."

sebutir mutiara sudah tak ternilai harganya apalagi kelima orang itu sudah terbiasa mengawal barang, tentu saja mereka mengerti berapa harganya.

Dalam pada itu si ciangkweee perusahan telah bangkit berdiri sambil mengamati mutiara tersebut, lalu serunya: " Untuk kali ini kita boleh melanggar kebiasaan- " sudah jelas dengan perkataan tersebut ia mendesak kelima orang gagah dari Yang wi agar menerima transaksi tersebut karena kuatir Kim Thi sia membatalkannya.

Dengan kening berkerut kelima orang itu memandang sekejap kearah Lin lin, kemudian sahutnya sambil mengangguk:

"Kalau toh kek koan memang meminta dengan sungguh hati, tentu saja kami tak akan menampiknya. Tapi sebelum itu biar kami memohon petunjuk dulu dari congpiautau, harap kek koan tunggu sebentar "

Dengan langkah tergesa-gesa kelima orang itu masuk kembali kedalam ruangan- sepeninggal kelima orang itu, Lin lin segera menarik ujung bajU Kim Thi sia sambil berbisik,

"Engkoh sia, batalkan saja, aku takut dengan mata mereka. Masa mengawasi diriku terus tanpa berkedip"

"Lin lin, kau tak usah menyalahkan mereka juga tak usah menyalahkan aku, tetapi harus menyalahkan dirimU sendiri siapa suruh kau mempunyai wajah yang begitu cantik" sahut sang pemuda sambil tertawa.

Lin lin segera cemberut dengan gemas bercampur girang ia memukul bahu pemuda itu. Kim Thi sia merasa makin kegelian godanya:

"Kau tidak kuatir pukulanmu itu menghandurkan bahuku?"

"Engkoh sia, bila kau menggoda diriku terus, selama hidup aku tak akan menggubris dirimU lagi. "

Kim Thi sia tertawa semakin keras.

"Haaaaahhh.....haaaahhhh....haaaaahh....... dasar perempUan tetap perempuan kenapa tak

mau menggubrisku lagi? Aaaaah, ucapanmu sangat membingungkan hatiku tetapi rasanya juga nyaman sekali. "

Tak lama kemudian lima jagoan tersebut sudah muncul kembali. Mereka segera bertanya sambil tertawa:

"Congpiantau sudah menerima tawaran ini berapa hari kek koan hendak menggunakan tenaga kami?"

"soal itu aku sendirripun tak tahu pokoknya sampai waktunya nanti aku baru putuskan." Maka kelima orang itupun mengiringi Lin lin berjalan-jalan menelusuri jalan raya.

Dari kejauhan Kim Thi sia dapat menyaksikan sikap Lin lin yang begitu canggung takut dan gugup, tapi ia segera berpikir:

" Kalau belum biasa memang nampaknya canggung, tapi lama kelamaan toh akan terbiasa kembali. "

Maka diapun tidak menggubris gadis itu lagi.

setelah menelusuri jalan raya baru akan berbelok kesebuah tikungan mendadak terdengar seseorang menyapanya dari belakang. "sobat cilik, sobat cilik,. "

Ketika Kim Thi sia berpaling, hatinya segera bergetar keras. Tampaklah seorang kakek yang bertubuh tegap dan berwajah saleh setelah berjalan menghampirinya. orang itu tak lain adalah ciang sianseng yang termashur namanya diseantero jagad itu.

Disamting ciang sianseng mengikuti seorang jago sedang setengah umur yang bertubuh tegap. berwajah panjang dan bermata tajam bagaikan sembilu. Dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa orang ini memiliki tenaga dalam amat sempurna.

Kim Thi sia tidak habis mengerti apa sebabnya ciang sianseng mencarinya disitu. Maka cepat- cepat dia memberi hormat seraya berseru: "Empek. baik-baikkah kau selama ini?" "Segala sesuatunya tetap lancar seperti sedia kala" jawab ciang sianseng sambil tersenyum. sekali lagi Kim Thi sia memperhatikan jago pedang setengah umur yang berada disamping

ciang sianseng. Namun ketika sorot matanya bertemu kembali dengan sorot matanya. Kim Thi sia

segera merasakan sekujur badannya ini yang menjadi dingin, tanpa sadar ia melengos kearah lain dan tak berani menatapnya kembali. Terdengar ciang sianseng berkata sambil tersenyum:

"Dia adalah satu-satunya muridku. orang silat menyebutnya sebagai pelajaran bermata sakti.

Mari kuperkenalkan kalian berdua"

Begitu nama sipelajar bermata sakti disebutkan, lima jagoan dari Yang wi yang sudah pergi jauh tadi segera menghentikan langkahnya dan berpaling dengan rasa terkejut.

Menyusul kemudian mereka berlima berlarian mendekat dan berlutut dihadapan ciang sianseng sambil berseru:

"Rupanya kau orang tua adalah ciang sianseng Ciang locianpwee, terimalah salam hormat

kami. "

Melihat tampang muka kelima orang itu yang kesemsem bagaikan orang mabuk. Kim Thi sia bisa membayangkan betapa terkejut dan gembiranya kelima orang itu karena bisa berada dengan ciang sianseng yang termashur itu.

Dalam pada itu dia telah menjura kearah sipelajar simata sakti sambil berkata: "Sudah lama kukagumi nama besar anda."

Pelajar bermata sakti hanya memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, selang sejenak kemudian dia baru berkata angkuh: "Tak usah banyak adat"

Kemudian kepada ciang sianseng katanya pula:

"Terima kasih banyak atas petunjukmu sejak kini tecu dapat mengenal kembali seorang jago muda yang terkenal"

Perkataannya dingin, kaku tanpa menunjukkan sikap hormatnya sebagai seorang murid terhadap gurunya. Bahkan hingga detik itu, mukanya yang kurus panjang masih tetap kaku tanpa perubahan emosi.

Diam-diam Kim Thi sia merasa amat mendongkol sekali, pikirnya:

"Manusia macam apakah iyu? Huuuuh, hanya binatang yang berdarah dingin baru menunjukkan sikap begitu terhadap gurunya."

Tapi sungguh aneh, ciang sianseng sama sekali tidak menunjukkan rasa tak senangnya, malah berkata kembali sambil tertawa:

"silahkan kalian berlima bangkit berdiri, penghormatan sebesar ini tak berani kuterima. "

Namun lima orang gagah dari Yang wi tetap berlutut sambil menyembah berulang kali, mereka seakan- akan tak ingin bangkit berdiri, atau mungkin dalam anggapan mereka bisa berlutut dihadapan ciang sianseng dihadapan umum merupakan suatu kejadian yang patut dibanggakan-

Dengan pandangan dingin sipelajar bermata sakti melirik sekejap kearah kelima orang tersebut lalu jengeknya sambil mendengus:

"Manusia sebangsa ini sudah sering dijumpai dalam dunia persilatan tiada sesuatu yang perlu diherankan."

Biarpun perkataan tersebut ditujukan kepada lima orang gagah dari Yang wi tetapi Kim Thi sia dapat merasa bahwa perkataan tersebut sengaja ditujukan kepadanya, rasa gusar dan mendongkol kontan saja berkobar.

Andaikata saja ciang sianseng tidak hadir disitu, ingin sekali ia melabrak orang tersebut dan ingin diketahui sampai dimanakah kepandaian silat yang dimiliki orang itu sehingga berani memandang hina orang lain- Keramah tamahan ciang sianseng dan kesadisan serta kekakuan sipelajar bermata sakti persis menunjukkan dua sikap yang berbeda secara menyolok.

Kim Thi sia tidak mengira kalau ciang sianseng yang merupakan tokoh silat yang bermata jeli, kenapa memilih manusia semacam itu sebagai muridnya.

Tapi, walaupun hatinya merasa amat mendongkol namun sebisa mungkin pemuda tersebut berusaha untuk menahan diri

Ketika itu ciang sianseng telah mengeluarkan obat mestika dan membagikan seorang sebutir kepada lima jagoan dari Yang wi Hadiah tersebut diterima kelima orang itu dengan linangan air mata karena gembira, akhirnya diiringi ucapan terima kasih setinggi langit mereka menyimpan pil tersebut kedalam sakunya.

Walaupun lima orang yang gagah Yang wi telah bangkit berdiri, namun mereka masih berdiri ditepi arena dengan sikap yang amat menghormat, bahkan berulang kali melirik sekejap kearah ciang sianseng, seakan-akan mereka berusaha untuk mengamati tokoh sakti ini seteliti mungkin sehingga dikemudian hari bisa digunakan sebagai bahan cerita. Mendadak terdengar pelajar bermata sakti menjengek dengan suara dingin. "suhu, hatimu sungguh baik. "

ciang sianseng hanya tertawa getir tabpa menjawab.

Tiba-tiba Kim Thi sia merasakan darah didalam tubuhnya serasa mendidih tanpa berpikir panjang lagi ia berteriak keras:

"Empek. boanpwee ingin memohon sesuatu kepadamu, harap kau sudi mengabulkan" "Katakanlah " ucap ciang sianseng sambil tertawa ramah.

"Aku ingin menantang muridmu yang bernama pelajar bermata sakti ini untuk beradu kepandaian-"

Pelajar bermata sakti kontan saja dibikin tertegun lalu dengan sinar mata setajam sembilu diawasinya wajah Kim Thi sia sekejap. Lalu serunya sambil tertawa dingin: "Bocah muda, berpa lembar nyawa yang kau miliki?"

" Hanya selembar" sahut Kim Thi sia dengan penuh amarah. "Asal kau merasa mampu untuk mencabutnya, silahkan dicabut sekarang juga. "

Lin lin yang berada diujung jalan sana menjerit kaget dan cepat-cepat lari mendekat sambil menarik tangan Kim Thi sia mukanya yang cantik kini telah berubah menjadi pucat pias karena takut.

Melihat hal ini Kim Thi sia merasakan hatinya jadi lembek kembali untuk sesaat ia tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Tatkala lima orang gagah dari Yang wi melihat Kim Thi sia sepertipunya hubungan dengan ciang sianseng. Mereka segera mengerti kalau pemuda tersebut bukan manusia sembarangan-

Tapi setelah melihat pemuda itu berniat menantang murid ciang sianseng untuk berduel.

Mereka berlima segera menganggap perbuatan tersebut merupakan suatu tindakan yang tidak cerdik, sekalipun mereka sendiripun merasa agak mendongkol terhadap pelajar bermata sakti, namun nama besar orang tersebut membuat mereka tak berani banyak berbicara.

Karenanya cepat- cepat mereka menghalangi Kim Thi sia sambil berusaha membujuk. "sauhiap. jangan sekali-kali kau lakukan hal itu."

Dalam pada itu ciang sianseng telah berkata pula sambil menghela napas panjang. "Muridku apakah kau berniat membunuhnya?"

"Benar"jawab pelajar bermata sakti tanpa berpikir panjang. "Aku percaya kau tidak akan membantunya bukan?"

Mendengar perkataan itu, kemarahan Kim Thi sia kembali berkobar sambil mendorong Lin lin kebelakang, serunya lagi sambil tertawa keras: "Mari, mari, mari. akan kubuktikan kepadamu bahwa Kim Thi sia bukan manusia bangsa

tempe yang sudi diinjak-injak semau hatinya. "

Nama "Kim Thi sia" boleh dibilang sudah merupakan lambang dari seseorang jagoan yang paling susah dilayani. Lima orang gagah dari Yang wi yang berpengetahuan luas sudah sering kali mendengar sepak terjang Kim Thi sia yang tak pernah kenal menyerah itu. Berbicara sesungguhnya mereka merasa kagum sekali dengan keuletan serta kegagahan pemuda itu.

Karenanya setelah mendengar nama tersebut disebut, mereka jadi tertegun dan saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

sementara itu Kim Thi sia telah bersiap sedia untuk menghadapi sipelajar bermata sakti yang nama besarnya telah menggetarkan seantero jagad itu, meski sorot matanya yang tajam dari pelajar bermata sakti membuat kepalanya tertunduk. namun hati kecilnya tak pernah merasa menyesal, bahkan ia ingin mencoba untuk melabrak orang itu Kembali Lin lin menarik tangannya membujuk pemuda tersebut agar mengurungkan niatnya.

Tapi Kim Thi sia yang sudah berang bukannya menurut, malah secara tiba-tiba ia teringat kembali dengan ucapan ayahnya dulu, maka dengan suara keras segera teriaknya:

"sekarang aku harus mengerti, tak heran kalau ayah sering bilang, seorang lelaki sejati jangan sekali- kali akrab dengan perempuan- Kalau tidak maka semua semangat dan keberaniannya akan turut musnah. Lin lin, bila sekali lagi kau menghalangi niatku untuk berduel dengannya, maka

aku bersUmpah tak akan meladeni dirimU lagi."

Walaupun perkataan yang diucapkan itu agak mengandung nada emosi dan kasar kedengarannya, namun tidak menutupi semangat jantan serta gagahnya sebagai seorang lelaki sejati.

Lima orang gagah dari Yang wi segera manggut-manggut dengan perasaan amat kagum. sementara itu Lin lin kelihatan agak terkejut, dengan mata terbelalak lebar dia mengawasi

wajah Kim Thi sia dengan perasaan sedih dan tak habis mengerti. Lama sekali dia berdiri

termangu-mangu sambil bergumam:

"Dia bukan manusia semacam itu, bukan manusia semacam itu, dia bukan. "

Tiba-tiba matanya menjadi merah, lalu sambil menutup wajah lari meninggalkan tempat tersebut.

Pada saat itulah dari depan sana muncul serombongan kuda yang dilarikan cepat. Rombongan kuda tadi langsung menerjang kearah Lin lin yang sedang berlarian sambil menutupi wajahnya.

Berubah hebat paras muka Kim Thi sia setelah menyaksikan peristiwa ini, segera bentaknya: "Lima orang gagah dari Yang wi, apa kerja kalian disitu?"

Dalam cemasnya bentakan tersebut diucapkannya dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi, kontan saja lima jagoan itujadi terperanjat dan berubah hebat paras mukanya.

Untung ciang sianseng bertindak secepat kilat, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan kilat dia menyerang kedepan sambil mengebaskan ujung bajunya.

segulung tenaga yang amat besar menerjang rombongan berkuda tadi sehingga lari kuda serentak terhenti.

Dipihak lain Kim Thi sia pun telah memburu kedepan sambil menghantam kuda yang lain-Kuda tersebut segera meringkik panjang dan mundur beberapa langkah kebelakang.

Ternyata penunggang kuda itupun amat cekatan, meski terjadi secara mendadak namun ia berhasil mengendalikan kudanya secara sempurna. Dalam waktu singkat kudanya berhasil dijinakkan kembali. Lin lin dengan wajah pucat pias berdiri tertegun ditengah jalan, rasa kaget yang luar biasa membuatnya tak mampu bergerak untuk beberapa saat lamanya. Lima jagoan dari Yang wipun terkejut sekali, cepat- cepat mereka memburu kedepan-

Dalampada itu sipenunggang kuda yang kudanya dihadang Kim Thi sia mengayunkan cambuknya untuk menghajar tubuh anak muda itu.

Dengan cekatan Kim Thi sia menghindarkan diri kesamping, lalu bentaknya keras-keras: "Telur busuk anak kura-kura, kalian pingin mampus rupanya" sebuah pukulan segera dilontarkan kedepan-

Melihat datangnya seragan,jago pedang yang berada dikuda itu segera berkerut kening dan melompat turun dari kudanya. Lalu tanpa mengucapkan sepatak katapun ia melepaskan tiga buah pukulan dan empat tendangan berantai mengancam tubuh Kim Thi sia.

serangan-serangan gencar mendesak Kim Thi sia mundur kebelakang dan hampir saja tak mampu menahan diri. Dalam gusarnya ia segera mengeluarkan ilmu pedang panca Buddha dan melancarkan serangkaian serangan balasan yang gencar.

Begitu dahsyat serangan tersebut membuat jago pedang muda itu terkesiup, belum sempat ia berbuat sesuatu sebuah pukulan dari Kim Thi sia telah menghantamnya hingga mencelat sejauh dua tiga langkah.

Pemuda itu menjadi berang, sambil membentak keras kembali ia menerjang kedepan-

Pelajar bermata sakti tak malu disebut seorang bermata sakti, walaupun berada dikejauhan namun ia dapat menyaksikan semua gerak gerik Kim Thi sia dengan jelas. Ketika menjumpai gerak pukulannya yang begitu sakti dan rasa kaget segera pikirnya:

"Ilmu pukulan apakah itu, nampaknya kepandaian yang dimiliki orang ini tidak berada dibawahku."

sementara dia masih tertegun, ciang sianseng sendiripun nampak berkerut kening dengan perubahan wajah tak menentu.

Dari rombongan orang berkuda tadi duduk seorang kakek berusia lima puluh tahunan, agaknya baru sekarang ia dapat melihat jelas wajah Ciang sianseng paras mukanya segera berubah hebat lalu dengan suara nyaring bentaknya: "Tahan"

suara yang keras membuat para penunggang kuda lainnya sama-sama menghentikan gerakan sambil bertanya: "Ada apa?"

Namun kakek berusia lima puluh tahunan itu tidak menjawab ia segera melompat turun dari kudanya dan menyembahk dihadapan ciang sianseng dengan sikap hormat, katanya dengan nada bersungguh-sungguh:

"Boanpwee tak tahu akan kehadiran Ciang sianseng, harap kelancangan kami tadi sudi dimaafkan, kamipun bersedia hukuman apapun yang akan dijatuhkan kepada kami."

Ketika para penunggang kuda itu mengetahul bahwa kakek berjenggot panjang yang berdiri dihadapan mereka adalah Ciang sianseng yang termashur serentak mereka berseru kaget dan melompat turun dari kuda masing-masing untuk menyembah dihadapan kakek tadi. suatu ancaman pertarunganpun seketika mereda dengan sendirinya. sambil tersenyum Ciang sianseng berkata:

"Silahkan kalian bang kit berdiri sesungguhnya peristiwa ini terjadi karena salah paham, jadi akupun turut bertanggung jawab atas peristiwa itu, kenapa aku mesti menyalahkan kalian?"

setelah mendengar ucapan itu, kakek berusia lima puluh tahunan itu baru bangkit berdiri bersama anak buahnya, kembali ujarnya: "Boanpwee bersedia menerima hukuman apapun tanpa mengeluh."

"Jangan terlalu serius, anggap saja masalahnya telah usai. oya, aku belum tahu siapa nama anda sekalian?" Dengan sikap yang amat menghormat kakek itu berkata:

"Boanpwee disebut orang pedang sakti bunga beterbangan ciang Itpeng, sedang mereka adalah murid-murid boanpwee, untuk menambah pengalaman dalam dunia persilatan boanpwee sengaja mengajaknya untuk berkelana."

"Bagus, bagus sekali angkatan tua memang sudah waktunya untuk pensiun, dunia persilatan harus diserahkan kepada generasi muda berikutnya "

Dengan sorot mata yang tajam kakek berusia lima puluh tahunan itu mengawasi sekejap wajah Kim Thi sia, lalu katanya sambil menjura:

"Apakah yang ini adalah murid baru ciang locianpwee? Meski usianya masih muda tak nyana ilmu silatnya luar biasa masa depannya pasti cemerlang. Aaaaai. bila dibandingkan berapa

orang muridku yang nakal, entah ia berapa puluh kali lipat lebih hebat, untuk itu boanpwee perlu menyampaikan ucapan selamat kepada sianseng selain itu kami pun memohon hati Ciang

locianpwee untuk memberi petunjuk kepada kami. "

Dalam pada itu Lin lin yang masih kaget telah bergerak untuk mendekati Kim Thi sia, tapi secara tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, setelah melirik sekejap kearah pemuda itu dengan pandangan kesal iapun menghentikan kembali gerakan tubuhnya.

Sambil tersenyum Ciang sianseng memandang sekejap kearah Kim Thi sia terhadap pertanyaan tadi ia tidak memberi jawaban. Tapi hanya mengawasi Kim Thi sia ambil tersenyum.

Dengan cepat Kim Thi sia berseru:

"Dugaan empek Ciang salah besar aku bukan murid Ciang sianseng, guruku adalah simalaikat pedang berbaju perlente."

Begitu perkataan tersebut diutarakan Ciang sianseng pun kelih atan agak tertegun tiba-tiba ia bertanya: "Jadi gurumu adalah dia?"

"Benar" Kim Thi sia mengangguk. "Sayang dia orang tua telah meninggal dunia." "sudah meninggal dunia? sungguh?"

Sipedang sakti bunga beterbangan maupun lima orang gagah dari Yang wi adalah orang- orang persilatan yang berpengetahuan luas. Saat ini mereka dibuat menjadi kaget bercampur tak habis mengerti, pikirnya dihatinya:

"Sirasul dari selaksa pedang dan sirasul dari selaksa pukulan terjalin hubungan yang kurang serasi. Diantara mereka berdua terjadi perselisihan yang dalam, bahkan persoalan ini diketahui setiap umat persilatan, tapi sekarang. sungguh aneh, kenapa muridnya sirasul dari selaksa

pedang bisa bergaul dengan Ciang siansen- Bahkan hubungan mereka berdua nampaknya begitu akrab?"

Tentu saja Kim Thi sia tidak mengetahui akan persoalan tersebut, dia mengira semua orang dibuat terkejut karena nama besar gurunya, oleh sebab itu diapun tidak mempersoalkan hal ini didalam hati.

Dengan rasa ingin tahu sipedang sakti bungan beterbangan menegur:

"sobat cilik, bolehkah aku tahu anda adalah murid yang manakah diantara kesembilan orang murid dari sirasul dari selaksa pedang?"

"Aku adalah muridnya yang paling penghabisan, jadi urutan kesepuluh. sayang dia orang tua hanya sempat mewariskan berapa hari ilmu silat kepandaian sebelum meninggal."

"Aaaaah....maaf. maaf, tak nyana pertanyaanku hanya menimbulkan rasa sedih dari

siauhiap. "

Meski diluara ia berkata begitu, dalam hati keciinya justru merasa keheranan- "setiap umat persilatan mengetahui kalau selama hidupnya malaikat pedang berbaju perlente cuma menerima sembilan orang murid, kenapa bisa muncul seorang lagi secara tiba-tiba, bukankah hal ini sangat aneh?" Diam-diam kelima orang gagah dari Yang wi cun berpikir:

"Ternyata dugaan kami tak meleset, anak muda tersebut memang mempunyai asal usul yang luar biasa. "

Kemudian merekapun berpikir kembali:

"Dengan ilmu silat Malaikat pedang berbaju perlente yang begitu lihay, tak mungkin muridnya tak berkemampuan apa-apa. Tapi heran, mengapa ia tak mampu melindungi adiknya sendiri sehingga pengawalnya diserahkan kepada orang lain? Apakah kejadian seperti ini bukan suatu lelucon besar?"

sementara itu, sipedang sakti bunga beterbangan sebagai jago kawakan segera dapat mengendalikan diri sekalipun rasa kaget dan keheranan sempat menggelitik hatinya, sambil tersenyum ia segera berkata lagi:

"Sorot mata sobat amat tajam, wajahmu cemerlang dan gagah, aku percaya tak sampai setahun kemudian kau pasti sudah bisa mendapat posisi yang baik dalam dunia persilatan- Bolehkah aku tahu nama sobat sehingga dikemudian haripun bisa saling menyebut?"

sesungguhnya sipedang sakti bunga beterbangan adalah seorang jagoan yang termashur didalam dunia persilatan, selain namanya besar, kedudukannyapun tinggi.

Tapi sekarang ia justru bersikap ramah dan merendah, hal ini tak lain disebabkan dua hal. Kesatu, karena rasul dari selaksa pukulan hadis disitu.

Kedua, karena orang yang diajak berbicara adalah murid terakhir sirasul dari selaksa pedang.

Itulah sebabnya dia tak ingin bersikap sembrono menghadapi dua orang yang punya nama besar ini.

Dalam pada itu Kim Thi sia telah menjawab: "Aku bernama Kim Thi sia."

Mendengar nama tersebut, sipedang sakti bunga beterbangan segera berseru tertahan. "Ooooh rupanya sobat kecil adalah jago muda yang belum lama muncul dalam dunia persilatan dan disebut orang sebagai manusia yang paling susah dilayani. "

Agaknya secara tiba-tiba ia merasa ucapan tersebut kurang pantas diutarakan tiba-tiba ia membungkam kembali.

sementara itu, keempat orang jago pedang muda yang berdiri dibelakangnya telah membelalakkan mata mereka lebar-lebar. sambil tertawa nyaring Kim Thi sia menjawab:

"Perkataan empek memang tepat aku memang Kim Thi sia orang yang disebut sebagai manusia paling susah dilayani"

sipedang sakti bunga beterbangan segera tertawa tergelak. "Haaaahh.....haaaahh.....haaaahh bagus bagus, bagus sekali sungguh mujur nasibku hari

ini. bukan saja dapat menyambangi Ciang locianpwee, bahkan bisa berkenalan pula dengan

jago muda yang namanya melejit naik baru-baru ini. Nah anak-anak sekalian perjalanan kalianpun rasanya tidak sia-sia kali ini"

semasa masih belajar silat dulu keempat pemuda tersebut sudah sering mendengar angkatan tua mereka membicarakan tentang situasi dalam dunia persilatan, karenanya dihati kecil masing- masing sebetulnya sudah lama timbul keinginan untuk mengalami sendiri kejadian seperti itu, terutama untuk menjumpai kawanan jago kenamaan dari dunia persilatan-

sekarang hanya didalam waktu yang relatif singkat ternyata mereka telah menjumpai beberapa orang tokoh persilatan sekaligus. Bisa dibayangkan betapa gembiraya perasaan mereka. Maka dari balik mata merekapun memancar keluar sinar kegembiaraan yang luar biasa, bagaikan burung-burung kecil yang baru tumbuh sayapnya dan pertama kali terbang bebas sendiri diangkasa raya. Apa yang dilihat dan apa yang dialami kini membuat rasa gembira mereka tak terlukiskan dengan kata-kata.

sebagai seorang angkatan tua yang berpengalaman, sudah barang tentu sipedang sakti bunga beterbangan pun dapat menyelami perasaan girang dari anak buahnya maka sambil tertawa diapun berkata:

"sekawanan anak muda ini masih belum mengerti tingginya langit dan tebalnya bumi. Mereka hanya ingin keluar untuk mencari pengalaman- sobat kecil, kau sebagai jagoan yang sering berkelana didalam dunia persilatan tentu akan sering pula bersua dengan mereka. Kuharap dikemudian hari kau sudi banyak memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka untuk itu aku merasa berterima kasih sekali."

"Aaaah, mana, mana, empek kelewat sungkan" buru-buru Kim Thi sia berseru cepat.

Kembali sipedang sakti bunga beterbangan memimpin jago-jago muda itu untuk memberi hormat kepada Ciang sianseng sekalian, kemudian baru berlalu dari situ.

sepeninggal orang-orang itu, lima orang gagah dari Yang wi segera berbisik-bisik pula dengan suara lirih:

"Bagaimanapun jua, sepasang mata kita betul- betul sudah terbuka lebar. seandainya dia tak menyebut nama sendiri, bagaimana kita bisa tahu kalau dia adalah Kim Thi sia?"

selama ini lin lin tidak ikut mendekat tapi berulang kali dia melirik serta mengerling kearah Kim Thi sia. Namun setiap kali Kim Thi sia memperhatikan dirinya, sambil mencibirkan bibir ia segera melengos kearah lain-...

Ingin sekali Kim Thi sia memohon maaf kepadanya, namun ia tak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaannya itu.

Ciang sianseng mengamati pemuda tersebut berapa saat lalu dengan suara dalam tiba-tiba ia berkata:

"sobat cilik sebagai anak murid malaikat pedang berbaju perlente tentu mempunyai masa depan yang cemerlang"

singkat kata-katanya namun tiada ujung pangkalnya, ini membuat orang lain susah memetik makna sebenarnya dar iperkataan tersebut, begitU juga bagi Kim Thi sia, ia segera dibuat tertegun-

setelah berhenti sejenak. ciang sianseng kembali berkata lebih jauh:

"Baru berpisah berapa hari ternyata keadaanmu sudah jauh berbeda. Aku merasa tenaga dalam yang sobat cilik miliki belum seb erapa hebat, tapi dua hari kemudian nampaknya banyak kemajuan yang berhasil kau capai. Hal ini hampir saja membuatku curiga, benarkah kalian adalah orang yang sama. Tapi gejala semacam inipun bukan pertanda yang baik, sebab kemajuan yang dicapai seseorang yang mempelajari tenaga dalam harus melalui tahap demi tahap secara teratur. Berbeda sekali dengan kondisimu, sekali langkah sepuluh tindak telah kau lewati. Aku jadi tak habis mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas dirimU."

"Maksud locianpwee, kemajUan yang kucapai dalam tenaga dalam jauh berbeda dengan keadaan wajah orang-orang persilatan lainnya?" tanya Kim Thi sia cepat.

ciang sianseng manggut-manggut, dengan wajah yang berubah menjadi serius secara tiba-tiba ia berkata kembali:

"Tegasnya saja kemajuan yang kau capai sama sekali diluar ukuran normal, mungkin saja hal ini dipengaruhi pelbagai alasan, tapi yang pasti gejala seperti ini amat merisaukan hati." Kim Thi sia amat terkejut, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesUatu, Lin lin yang turut mengikuti pembicaraan tersebut dan merisaukan keselamatan jiwa kekasihnya tiba-tiba saja menimbrung: "Empek tua, mungkinkah dia " Melihat sikap sinona, Kim Thi sia segera berpikir:

"sudah jelas ia masih menguatirkan keselamatanku, tapi sengaja berlagak tak menggubris.

Haaaah......haaaah rupanya kau sedang bersandiwara untuk membohongi diriku"

Tanpa terasa ia mengerling mesrah kearah sinona.

Dengan wajah bersemu merah dan tersipu-sipu Lin lin segera menundukkan kepalanya kembali. selapis perasaan risau melintas diwajahnya. Ciang sianseng termenung beberapa saat kemudian tanyanya tiba-tiba: "Kau pernah menelan cairan mestika atau buah ajaib?"

"Tidak sama sekali, tak pernah" Kim Thi sia menggeleng.

"Pernahkan kau menemui kejadian aneh? Maksudku dalam beberapa waktu belakangan ini kau telah bersua dengan seorang tokoh silat yang memiliki tenaga dalam sempurna dan orang itu telah menyalurkan hawa murninya untuk membantu kemajuan tenaga dalammu?"

"juga tidak pernah" Kim Thi sia tetap menggeleng.

Ciang sianseng segera berkerut kening, rasa murung segera menyelimuti seluruh wajahnya. "Atau mungkin kau memang sengaja merahasiakan kemampuanmu yang sesungguhnya. "

gumamnya lirih.

Tapi baru mencapai setengah jalan ia sudah menggelengkan kepalanya berulang kali lanjutnya: "sekalipun kau sengaja merahasiakan kemampuanmu yang sesungguhnya, tak mungkin hal ini

bisa mengelabuhi ketajaman mataku. "

Berbicara sampai disini, dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi pemuda itu lekat-lekat.

Kim Thi sia tak berani beradu pandang dengannya, dia merasa sorot mata kakek itu lebih tajam bagaikan tusukanp isau belati cepat-cepat dia menunduk.

sementara itu hatinya mulai tegang nampaknya diapun merasakan gawatnya persoalan yang sedang dihadapi.

Tapi perasaan tegang itu hanya berlangsUng sebentar tiba-tiba saja ia teringat kembali dengan ilmu Ciat khi mi khi atau pinjam tenaga manfaatkan tenaga-tenaga yang sedang dipraktekkan selama ini, sudah pasti kemajuan tenaga dalamnya diperoleh karena dia telah banyak menghisap kekuatan tubuh orang lain.

Berpikir begitu, perasaanpun menjadi tenang kembali diam-diam dia geli karena sudah merasa tegang dengan percuma selama ini.