Lembah Nirmala Jilid 12

 
Jilid 12

Sekali lagi bahunya termakan sebuah lecutan rujung yang amat keras.

Tubuhnya terpental jauh sekali dari posisi semula sementara diatas punggungnya yang telanjang bertambah dengan sebuah mulut luka yang memanjang.

Luka tersebut merah membara dan bengkak besar sekali dengan mendongkol pemuda itu segera berseru:

"Tidak bisa jika aku tak membunuh maka merekalah yang akan membunuhku. Aaaaah gara- gara pikiranmu kelewat kekanak-kanakan, maka aku mesti menderita lecutan dengan percuma."

Selesai berkata ia segera mengejar orang itu dengan amarah, lalu pedangnya dibacokkan keras-keras keatas tubuhnya.

Tampak cahaya hijau berkelebat, lelaki yang melucuti dirinya tadi tak sampai sempat berteriak kesakltam, tahu-tahu badannya sudah terbelah menjadi dua bagian dan roboh binasa seketika itu juga.

Dalam waktu singkat, belasan orang lelaki yang menyusul tiba itu mengalami nasib yang sama semua, kalau bukan kepalanya terpenggal, lengan atau kakinya terpapas kutung.

Kini, hanya sikakek bercabang beserta tiga empat orang lelaki yang bertahan terus secara gigih.

Sementara itu Kim Thi sia sendiripun sudah terpengaruh oleh suasana disekitarnya, kini perasaannya seolah-olah sudah membeku biarpun berapa kali pukulan ruyung sempat mampir diatas tubuhnya, namun sama sekali tak terdengar keluhan ataupunjeritan kesakitannya, malah sebaliknya ia berteriak bagaikan orang kalap.

"Haaah...haaahhh....haaahhh. aku telah membunuh orang aku telah melanggar pantangan

membunuh, ayoh maju kalian semua, hanya orang peliharaan anjing yang melarikan diri dari sini." Mendadak terdengar sinona cantik itu berteriak keras sambil mengeruyitkan alis matanya.

"Hey kau jangan berkoak-koak begitu, suaramu tak sedap didengar."

"Kau sendiri tak usah cerewet" tukas Kim Thi sia sambil melotot kearahnya sehabis memaksa dua orang musuhnya. " Kalau aku s ampai jengkel kubunuh dirimu sekarang juga."

sinona tidak tahu kalau kesadaran pemuda tersebut sudah menjadi kaku sehingga apa yang perlu diucapkan segera diutarakan tanpa berpikir panjang lagi. saking jengkelnya paras mukanya berubah menjadi hijau membesi, selapis hawa dinginpun menyelimuti seluruh wajahnya.

Kalau dihari-hari biasa dia selalu main perintah. sejak kecil hingga dewasa selalu memperoleh apa yang diinginkan, tentu hatinya mendongkol sesudah memperoleh perlakuan semacam ini.

Bibirnya ternganga untuk sesaat dan tak sepatah katapun dapat diutarakan keluar.

Dipihak lain, Kim Thi sia telah mengembangkan permainan pedangnya dengan ilmu pedang Ngo hud kiam hoat dalam dua gebrakan berikut ia berhasil mencabut nyawa kedua orang lelaki lainnya dengan begitu orang yang masih terlihat dalam pertarungan sengit melawannya tinggal si kakek bercabang, serta seorang lelaki berbaju hitam yang pendek lagi ceking.

Kepandaian silat yang dimiliki kakek bercabang tersebut nyata memang cukup tangguh, ia selalu berusaha mencari kesempatan untuk melancarkan serangan-serangan balasan. sedangkan silelaki pendek lagi ceking itu memiliki gerakan tubuh yang amat lincah, lompatnya seperti monyet, berapa kali bacokan Kim Thi sia tak berhasil menyentuh seujung rambutnyapun.

Mendadak terdengan lelaki berbaju hitam yang berbadan pendek itu berseru dengan gugup, "Toako, lebih baik kita mengundurkan diri saja. Kepandaian silat dari bajingan she Kim ini

kelewat lihay, mari kita mencari bala bantuan lebih dulu"

"Tidak bisa" tampik kakek bercambang itu dengan suara dalam. "Bocah keparat tersebut sudah terkena pululan beracun seratus tulangku, aku tak percaya kalau tubuhnya terbuat dari baja murni yang tahan pukulan-"

Tampaknya lelaki ceking itu makin panik sesudah melepaskan diri dari sebuah tusukan pedang Kim Thi sia. Ia tidak balas menyerang sebaliknya berseru lantang:

"Toako, kau tak usah kelewat keras kepala seorang lelaki sejati tak akan sudi mencari kerugian didepan mata apa gunanya kita mesti. "

Tiba-tiba ia tutup mulut dan tak berbicara lagi, sorot matanya dialihkan kewajah kakek bercambang itu sementara paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Dengan suara yang amat nyaring bagaikan suara genta, kakek bercambang itu membentak keras-keras:

"Bila engkau takut mampus, lebih baik angkat kaki lebih dulu aku tak bakalan menghalangi kepergianmu cuma. masih punya mukakah dirimu untuk pulang menemui loya?"

Disatu pihak kedua orang lelaki itu saling membujuk. maka dipihak lain semangat Kim Thi sia makin lama semakin berkobar rasa girang yang menyelimuti perasaannya sama sekali tak tersembunyi diwajahnya.

Ia tak habis mengerti apa sebabnya dia tak sampai mampus walaupun sudah berulang kali terkena senjata rahasia beracun dan pukulan beracun- Apakah hal ini disebabkan nasibnya yang mujur ataukah niscaya memang diberkahi panjang?

Padahal kesemuanya itu tak lain merupakan jasa dari Malaikat pedang berbaju perlente menjelang ajalnya. Ilmu ciat khi mi khi yang merupakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi telah melindungi jiwanya berulang kali. Itulah sebabnya tatkala tubuhnya terkena senjata rahasia beracun dan pukulan beracun, hawa murni yang tersimpan dibalik tubuhnya segera menerjang keluar dan mendesak keluar sari racun dari tubuhnya.

Bau busuk yang menyembur keluar dari dalam tubuhnya, mengingatkan Kim Thi sia dengan keadaan sewaktu terkena jarum beracun Hon ko ciam tempo hari. Rasa gembiranya benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.

Akan tetapu diapun merasa amat menyesal karena bercana yang ditimbulkan olehnya terlalu besar, sambil menepuk kepala sendiri dan menarik kembali serangannya, ia berkata:

" Kalian berdua bukan tandinganku, lebih baik mundur saja dari sini mumpung masih ada waktu."

"Toako " dengan gelisah lelaki ceking itu berseru. Kakek bercabang itu segera menghela

napas panjang. "Aaaaai. habis sudah riwayatku"

Mendadak dia mengambil pedangnya dan menggorok lehernya sendiri.

Kim Thi sia berusaha untuk menghalangi perbuatannya, namun keadaan sudah terlambat kakek bercabang itu sudah tergeletak mati diatas tanah.

Menyaksikan peristiwa tersebut, lelaki ceking itu nampak bergidik, tanpa banyak berbicara lagi ia membalikkan badan dan segera melarikan diri terbirit- birit, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Kini tinggal Kim Thi sia seorang berdiri disitu sambil mengawasi mayat yang bergelimpangan dimana-mana, teriaknya tiba-tiba: "Wahai Kim Thi sia, apa yang telah kau perbuat. Kim Thi sia, apa yang telah kau lakukan?"

sebagai seorang pemuda yang bermurah hati, ia tak mengira kalau dalam sifatnya telah membunuh sekian banyak manusia, rasa sedih dan menyesal membuat isak tangisnya secara meledak.

Ia membenamkan kepalanya dibalik lengan lalu bersandar diatas batang pohon sambil menangis tersedu-sedu.

suara tangisannya amat keras hingga bergema sampai ketempat yang jauh sekali.

Dalam pada itu, sinona cantik itu mengawasi ulahnya dari kejauhan dengan wajah yang dingin seperti es, dari balik pancaran matanya yang bulat besar terselip perasaan tak habis mengerti, pikirnya diam-diam:

"Aneh benar orang ini, apa sih yang ditangisi? tadi saja gayanya nampak galak dan bengis macam malaikat langit, tapi sekarang ia justru menyesali perbuatannya."

Kim Thi sia memang merasa masgul dan murung, dia hanya ingin menangis, maka suara tangisannyapun bergema dimana-mana.

"Kau menyesal bukan?" jengek sinona secara tiba-tiba dengan suara dingin. Kim Thi sia tidak menggubris, ia tetap membungkam diri dalam seribu bahasa. sambil tertawa dingin nona itu kembali mengejek.

"Heeeeh......heeeeh.......heeeeh kalau sudah tahu begini, buat apa kau lakukannya sedari

tadi?"

Kim Thi sia tak mampu menahan diri lagi, sambil mendelik besar bentaknya keras-keras: "Kau tak usah menyindir diriku, kau harus tahu, kesabaran seseorang ada batasnya."

Nona cantik itu mendengus dingin kemudian berpaling kearah lain, sikapnya selain dingin terlintas pula ketulusannya yang amat tebal.

selang berapa saat kemudian ia baru berkata lagi dengan suara sedingin salju:

"Tempat ini adalah wilayah Han, tentu saja aku tak dapat banyak berbicara, coba kalau disini negeri Kim. Hmmm, sebutan "kau" "aku" yang kau pergunakan barusan sudah cukup untuk menjauhi hukuman yang amat berat kepadamu."

Kim Thi sia segera menyeka air matanya lalu dengan penuh amarah teriaknya: " Lantas aku mesti memanggil apa kepadamu?"

"Aku adalah putri raja, paling tidak kau mesti memanggilku sebagai tuan putri Kim huan, mengerti"

Nada pembicaraannya sombong lagi ketus, agaknya ia sudah habis kesabarannya.

"Huuuuuh kau tak usah bermimpi disiang hari bolong " umpat Kim Thi sia dengan suaranya.

Kemudian seperti teringat akan sesuatu tambahnya lebih jauh:

"Yaa, aku mesti mengakui lagi sial, gara-gara kau seorang, aku telah membunuh sekian banyak manusia"

Tiba-tiba saja Kim huan kuncu pingin menangis tapi ia tahan sekuat tenaga, serunya kemudian agak mendongkol:

" Lebih baik kau antar aku kembali ketempat semula, aku tak sudi ditolong oleh manusia macam dirimu itu"

Kemudian sambil meremas genggaman sendiri tambahnya:

"sekalipun membutuhkan pertolongan aku tak sudi kau tolong, selewatnya hari ini, bila anak buahku mengetahui kalau aku menghilang mereka pasti akan datang untuk menolongku." "Baik" teriak Kim Thi sia menuruti adat hatinya, "Aku segera akan menghantarmu kembali ketempat semula, moga- moga saja kau terkurung untuk selamanya disana" sambil berkata ia maju mendekat dan siap memeluk tubuhnya.

sambil menggigit bibirnya kencang-kencang mendadak Kim huan kuncu mengayunkan tangannya dan.....

"Plaaaaakkk"

sebuah tamparan keras telah bersarang diatas pipinya.

Mimpipun Kim Thi sia tak pernah menyangka kalau Kim huan kuncu bakal menamparnya. setelah tertegun sejenak. api kegusarannya segera berkobar menyelimuti perasaannya, tanpa berpikir panjang ia segera menyambar pinggang nona itu dan memeluknya erat-erat.

Kim huan kuncu tak mampu berkutik sama sekali saking mendongkolnya ia hanya ingin menangis sepuas-puasnya.

seorang gadis yang berparas cantik, tiba-tiba menangis tersedu dengan begitu sedihnya. Lama kelamaan Kim Thi sia menjadi tak tega sendiri dengan suara lembut katanya kemudian-

"Janganlah menyindir atau memaki diriku lagi asal kau bersikap lembut akupun segera akan melepaskan dirimu."

Kim huan kuncu tidak menggubris, ia menganggap semua perlakuan anak muda tersebut terhadapnya merupakan suatu penghinaan.

Apalagi bila teringat kebebasan yang dikecapnya sebelum ini. Mimpipun ia tak mengira kalau dirinya akan mengalami penderitaan dan cemoohan seperti saat ini. Perasaan menyesal segera menyelimuti seluruh perasaannya. setelah menangis beberapa saat, dengan penuh kebencian ia berseru:

"se. sekembalinya dari sini pasti akan kulaporkan semua kejadian ini kepada ayah

baginda. aku akan minta kepadanya untuk membasmi semua bangsa Han semacam kalian

itu. "

Kim Thi sia terkejut sekali, pikirnya:

" Waduh celaka, gara-gara perbuatan seorang, berjuta manusia bakal ikut menderita." Dalam pekiknya cepat-cepat ia berkata:

"Kau tak boleh berbuat begitu, masa gara-gara perbuatanku seorang, kau ingin mengobarkan peperangan antara dua negeri......hal ini......hal ini. "

"Aku tak perd uli, pokoknya akan kulaparkan kejadian ini kepada ayah baginda" Habis sudah kesabaran Kim Thi sia, teriaknya kemudian dengan gusar: "Baik, kalau begitu biar kubunuh dirimu lebih dulu"

Tapi ia segera merasa amat menyesal sehabis mengucapkan perkataan itu pikirnya: "Bagaimana sih kau ini, masa sedikit-sedikit sudah ingin membunuh orang, apa gerangan yang

sudah terjadi atas diriku ini?"

Nampaknya Kim huan kuncu terkejut sekali ia tidak menangis lagi tapi sesudah berpikir sebentar tantangnya dengan dingini "Hmmmm, masa kau berani?"

Belum selesai perkataan tersebut diucapkan mendadak bergema suara auman nyaring dari suatu tempat yang jauh dari situ.

Kim Thi sia yang sudah lama berdiam diatas gunung segera berseru tertahan sehabis mendengar suara tadi. "Aaaaaah, binatang buas"

Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dihadapannya telah muncul tiga sosok makhluk aneh yang tinggi badannya mencapai satu kaki lebih. Yang membuatnya terkejut bercampur keheranan adalah ketiga makhluk tersebut berbentuk persis seperti manusia punya kepala lengan, tangan dan kaki hanya saja bila dipandang dari kejauhan maka bentuknya seperti tiga raksasa yang tingginya macam bukit kecil. 

Dengan cepat Kim huan kuncu mengerling sekejap kesana tiba-tiba sekilas perasaan gembira menyelimuti wajahnya yang cantik. Dengan gembira segera teriaknya keras-keras: "Hey ciangkun (panglima) aku berada disini"

sekali lagi ketiga sosok makhluk tinggi besar itu memperdengarkan suara pekikan yang keras, sementara sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi wajah Kim Thi sia tanpa berkedip.

Tanpa sadar pemuda kita mundur dua langkah kebelakang perasaan ngeri seram dan bimbang menyelimuti benaknya.

sementara itu Kim huan kuncu telah mengoceh dengan kata-kata asing yang aneh, Kim Thi sia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis tersebut, ia hanya berdiri termangu- mangu ditempat.

Ketiga makhluk raksasa yang dipanggil "panglima perang" itu pelan-pelan berjalan mendekat, setiap ayunan kakinya selalu melebihi jarak sejauh satu kaki. Dalam waktu singkat mereka telah tiba lebih kurang tiga kaki dihadapan Kim Thi sia.

"seakan-akan aku merasa sangsi." Ketiga makhluk raksasa itu memandang sekejap kearah Kim huan kuncu yang berada dalam pelukan Kim Thi sia, kemudian mereka menghentikan langkahnya dan mengawasi kedua orang tersebut dengan sorot matanya yang tajam dan mengerikan.

Kim Thi sia amat terkejut, ia merasa ketiga orang tersebut adalah makhluk aneh yang manusia bukan manusia, monyetpun bukan monyet. seluruh badan mereka ditumbuhi bulu yang amat tebal, dari tulang kening kebawah tumbuh bulu hitam yang panjang sekali seperti kepala singa, sedangkan pinggangnya yang besar memakai kulit binatang selebar tiga depa saja. Hal ini membuat bentuknya tidak mirip seekor binatang liar.

Makhluk raksasa itu memiliki sepasang lengan yang luar biasa panjangnya dan terkulai kebawah hampir menyentuh permukaan tanah, Mulutnya yang besar bila terbuka lebar kelihatan barisan giginya yang putih runcing, agaknya barang siapa sampai tergigit olehnya, baik binatang maupun manusia niscaya akan tewas seketika.

Apalagi mereka sedang marah. sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar menggidikkan, begitu seramnya bentuk mereka sampai Kim Thi sia yang tak takut bumi pun ikut mengucurkan keringat dingin.

satu hal yang membuatnya tak habis mengerti adalah sebutan Kim huan kuncu kepada mereka bertiga sebagai "Ciangkun" atau panglima perang, mungkinkah panglima perang dari negeri Kim, negeri bermusuhan dengan daratan Tionggoan macam begitu?

Diam-diam ia mulai menguatirkan keselamatan negerinya, sebab bila apa yang dibayangkan benar, jelas sudah bahwa negeri Kim merupakan negeri yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan membuat pemuda kita diam-diam menghembuskan napas panjang.

Kecantikan Kim huan kuncu memang tiada taranya, belum pernah ia saksikan gadis secantik ini, karenanya ia tak yakin kalau kaisar dari negeri Kim adalah seorang dari suku bangsa liar yang belum beradab. sebab kecantikan serta gerak gerik nona ini tak mungkin bisa muncul dari didikan seseorang yang liar, buas dan belum beradab. setelah termenung berapa saat lamanya ia berkata kemudian-

"Kim huan kuncu apakah rakyat dinegeri Kim kalian bertampang macam mereka semua?"

Kim huan kuncu tertegun, ia tak menyangka kalau pemuda tersebut tidak berhasrat untuk melarikan diri, sebaliknya malah mengajukan pertanyaan seaneh itu Maka dengan perasaan ingin tahu sahutnya: "Tidak" oooo0oooo

Kim Thi sia menghembuskan napas lega katanya lagi sambil tertawa:

"ooooh. tadinya aku mengira rakyat negeri Kim adalah manusia-manusia liar yang belum

beradab dan gemar minum darah manusia."

Kim huan kuncu segera berkerut kening tak terlukiskan rasa benci, muak serta mendongkolnya

.

Tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, kembali Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak

seraya bergumam:

"Bukan cuma begitu, rakyat negeri Kim bukan manusia biasa, apa sih yang mereka miliki?

Huuuh, jauh berbeda dengan bangsa Han yang memiliki negeri kaya raya dengan tanah yang luas dan subur, sejarah serta kebudayaan yang amat tingi. coba kalau raja Kim berani menyerbu, semua bangsa Han pasti akan bangkit untuk membasminya dari muka bumi, mana mungkin telur bisa diadu dengan batu? Huuuuh, itu mah berarti mencari keanehan bagi diri sendiri. "

Lalu setelah tertawa tergelak, lanjutnya:

"Haaaah......haaaah.....haaaah " katanya saja. "Biar kesuruh ayah baginda membasmi

seluruh bangsa Han.....haaaah..... haaaah aku rasa kau sedang mengingau disiang bolong.

Memangnya kau anggap bangsa Han adalah bangsa tempe? Padahal cukup dengan tenaga sejari kelingking negerimu pasti hancur dan rata dengan tanah."

Pada mulanya Kim huan kuncu masih mengawasi pemuda tersebut dengan kebingungan selesai mendengarkan perkataan tersebut tiba-tiba teriaknya keras:

"Ciangkun, orang itu jahat sekali, cepat kalian hajar dirinya habis-habisan untuk membalaskan sakit hatiku"

Ketiga makhluk raksasa tersebut segera mengepung Kim Thi sia dari tiga jurusan yang berbeda, akan tetapi mereka tak berani bergerak secara sembarangan sebab Kim huan kuncu masih berada ditengah pemuda tersebut.

Mereka kuatir bila ditindak secara gegabah hingga tuan putrinya menderita cedera, siapa yang sanggup menanggung tanggung jawab seberat itu?

Melihat ketiga makhluk itu tak bergerak sekali lagi Kim Thi sia menghembuskan napas lega.

Iapun ikut tak bergerak.

Menurut ayahnya dulu, dalam ilmu peperangan terdapat sebuah taktik yang berbunyi demikian- " Dengan tenang mengatasi gerak, dengan ketenangan menaklukkan lawan- cari keteledoran musuh dan serangnya habis-habisan, kemenangan pasti berada dipihak kita.

Tanpa berkedip diawasinya gerak gerik ketiga orang musuhnya itu, sebaliknya ketiga makhluk raksasa itupun mengawasi dirinya lekat-lekat, tatkala sorot mata mereka saling bertemu. Kim Thi sia cepat-cepat melihat kearah lain- Ia merasa sinar mata yang terpancar sinar dari balik mata lawan lebih tajam daripada sembilu. sehingga ia tak mampu beradu pandangan dengannya.

Dengan tak senang hati Kim huan kuncu berseru lagi. "Hey tak usah perduli diriku apakah kalian berani membangkang perintah?"

"Baik, akan kulaporkan peristiwa ini kepada ayah baginda."

Belum selesai perkataan itu diutarakan makhluk raksasa yang berwajah menyeramkan itu telah mendesak maju lebih kedepan. Kim Thi sia segera membentak keras:

"Barang siapa berani bergerak lagi secara sembarangan, akan kubunuh perempuan ini lebih dulu.." tangannya segera diangkat dan siap menghantam buru-buru Kim huan kuncu......

Tentu saja ketiga makhluk raksasa itu menjadi ketakutan, serentak mereka menghentikan langkah masing-masing. Padahal pemuda kita berbuat demikian hanya bermaksud mencegah gerak maju lawan. Tapi ia tak mengira bahwa tindakannya tersebut justru merupakan suatu taktik peperangan yang lihay sekali.

Kim huan kuncu membencinya setengah mati bukan saja pemuda tersebut membuatnya terkejut dan ketakutan, berulang kali ia dihina dan dicemoohkan rasa benci dan dendamnya benar-benar sudah merasuk sampai kedalam tulang sum sum. Lagi-lagi ia membentak:

"Aku toh menyuruh kalian tak usah menggurbisku, mengapa kalian tetap berdiam diri.

Aku. "

Berbicara sampai disitu, ia seperti teringat akan sesuatu, tiba-tiba matanya menjadi merah terusnya:

"Aku tahu, ayah baginda tak ada disini maka kalianpun tak sudi menuruti perkataanku lagi. "

suaranya amat sedih, murung dan mengetuk perasaan siapapun, berbeda sekali dengan nada ketus yang diperdengarkan semula.

Kim Thi sia benar-benar beriba hati hampir saja ia meneuruti emosinya dan membebaskan gadis tersebut.

Akan tetapi ketiga makhluk raksasa itu seperti mempunyai kesulitan yang amat besar mereka saling berpandangan dengan sedih mulutnya terbungkam dan tiada reaksi apa-apapun yang diperbuatnya.

Kim Thi sia adalah seorang lelaki yang gagah dan perkasa. Ia merasa tindakannya mempergunakan seorang gadis lemah sebagai tameng bukankah perbuatan seorang lelaki sejati.

Maka dengan secara tiba-tiba ia melepaskan dekapannya atas nona itu, kemudian katanya dengan lantang:

"Nah, dengan berbuat demikian tentunya kalian tak usah takut untuk bertindak bukan? Bila ingin berkelahi, ayolah maju bersama-sama."

Ketiga makhluk raksasa itu belumjuga bergerak. ditunggunya sampai Kim huan kuncu pergi jauh, mereka baru terpekik girang lalu menerjang kemuka bersama-sama.

Perawakan tubuh mereka bertiga betul-betul besar lagi lebar, dalam waktu singkat Kim Thi sia hanya merasakan timbulnya deruan angin kencang dari empat penjuru, lalu terlihatlah tiga sosok bayangan hitam menyergap tiba dengan hebatnya.

Pemuda itu menjadi panik sekali, tanpa berpikir panjang ia segera menerjang kemuka dan menumbuk dengan kepalanya. "Blaaaaammm. "

Akibat tumbukan tersebut, makhluk raksasa yang menerjang datang lebih dulu itu tergetar mundur satu langkah tapi sepasang lengannya segera menyambar dan berusaha memeluknya.

sayang usaha itu menemui kegagalan- hal ini membuat simakhluk raksasa itu mengerang penuh kemarahan-

Dipihak lain, agaknya Kim huan kuncu menganggap kejadian itu sangat menggelikan, tiba-tiba saja ia tertawa cekikikan, wajahnya yang nampak begitu ceria dan cantik membuat Kim Thi sia menjadi termangu- mangu untuk berapa saat.

Tiba-tiba Kim huan kuncu mendengus dingin dan menutup wajahnya dengan ujung bajunya.

Kim Thi sia segera tersadar kembali dari lamunannya, tapi pada kesempatan itulah salah satu diantara makhluk raksasa itu sudah menerjang maju kemuka, telapak tangannya yang lebar bagaikan kipas dipentangkan dan.....

"plaaakkkk. " Tubuh Kim Thi sia terhajar telak sehingga ia menjerit kesakitan tubuhnya mencelat sejauh empat lima kaki dari posisi semula.

Berada dalam keadaan demikian- ia tak berani bertindak gegabah lagi, ia tahu ketiga makhluk raksasa itu selain memiliki kekauatan yang luar biasa besarnya, merekapun memiliki ilmu silat yang tangguh.

Masih untung saja dia memiliki ilmu Ciat khi mi khi yang tahan pukulan cepat-cepat dia mengatur pernapasan sebentar begitu kekuatannya pulih kembali seperti sedia kala cepat-cepat dia melompat bangun kembali....

Tampaknya Kim huan kuncu merasa keheranan dengan peristiwa ini dia berseru tertahan lalu gumamnya:

"sungguh mengherankan, padahal Hon ciangkun luar biasa hebatnya. seekor harimaupun mampu dicabik-cabik secara mudah, kenapa lelaki bau itu tidak sampai mampus. ?"

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagat, Kim Thi sia dapat menangkap suara gumaman itu secara cepat, diam-diam ia tertawa geli kemudian sambil membalikkan badan ia menerjang makhluk raksasa yang berada disebelah timur.

Ketika empat telapak tangan saling beradu satu dengan yang lain terjadilah suara bentrokan yang keras sekali. "Duuuuuuk. "

Pasir dan debu beterbangan keangkasa, lagi-lagi tubuhnya mencelat sejauh empat lima kaki dari tempat semula bagaikan layang-layang yang putus benang dan terbanting keras-keras diatas tanah.

Kini, celananya sudah robek tak karuan lagi bentuknya bahkan celana dalampun sudah kelihatan tapi semuanya itu tidak membuatnya sedih, ia malah kegirangan setengah mati.

sebab pada bentrokan yang terakhir ini ia menemukan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat dan jauh berbeda dengan kekuatannya dulu.

Padahal jangka waktunya belum lama dari sini dapat disimpulkan kalau masa depannya pasti cemerlang.

Berpendapat sampai disini diam-diam pikirnya lagi dengan perasaan terkejut bercampur girang: "Coba kalau bentrokan ini berlangsung dua tiga hari berselang, niscaya badanku akan mencelat

sejauh sepuluh kaki lebih dari posisinya semula. "

Kenyataan memang membuktikan kalau tenaga dalam yang dimiliki ketiga orang makhluk raksasa tersebut tidak berada dibawah kemampuan ketua Tay sangpang sipukulan penggetar langit Khu It kim.

Jikalau Khu It kim sanggup menghajarnya hingga mencelat sejauh delapan kaki lebih berarti ketiga orang raksasa inipun mampu melakukan hal yang sama.

Tanpa terasa semangatnya berkobar dengan hebatnya, ia segera berpaling dan memperhatikan lawannya.

Waktu itu, ketiga makhluk raksasa tadipun sedang mengawasinya dengan seksama, mereka tidak bergerak karena belum mengetahui bagaimanakah nasib lawannya.

Maka sambil tertawa nyaring, pemuda kita segera melompat bangun dan maju menghampiri mereka.

Benar juga, ketiga makhluk raksasa itu segera tertegun dibuatnya, sepasang mata mereka sempat terbelalak lebar.

Raksasa yang berada disebelah kiri itu mengerang secara tiba-tiba. Kemudian mengayunkan tangannya menyerang rekannya yang berada disisi lain, dengan cepat kedua orang tersebut disisi lain, dengan cepat kedua orang tersebut sudah saling beradu tenaga satu kali. Ditengah bentrokan yang memekikkan telinga, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh satu langkah.

Kepandaian yang berusaha mereka lakukan membuktikan kalau ilmu silat yang mereka miliki sama sekali belum pernah, tapi anehnya serangan gabungan dari mereka bertiga tak berhasil membunuh pemuda tersebut? Kim Thi sia amat geli, segera ejeknya:

"Hey, mengapa kalian bertiga tidak melancarkan serangan bersama-sama? Kalau menyerang secara bergilir satu demi satu. selamanya aku tetap hidup dengan segar bugar."

Ketiga orang makhluk raksasa itu saling berhadapan sekejap. sorot mata mereka segera memancarkan sinar tajam, sambil berpekik keras, tiba-tiba mereka melancarkan serangan bersama kedepan-

Gabungan tenaga mereka bertiga ternyata memang luar biasa sekali dalam waktu singkat pepohonan telah dibikin goncang, pasir dan debu berterbangan keangksa, gulungan angin serangan yang membawa suara desingan tajam yang memekikkan telinga secepat kilat kemuka.

Berubah hebat paras muka Kim Thi sia, sekarang ia baru merasa menyesal sekali dengan tantangannya.

Belum sempat ingatan kedua melintas lewat, gulungan angin pukulan yang maha dahsyat itu sudah melemparkan tubuhnya hingga mencelat sejauh belasan kaki lebih.

Berada ditengah udara, ia merasakan kepalanya pening tujuh keliling dadanya terasa sakit sekali napasnya sesak dan sekujur badannya menjadi kaku serta mati rasa. "Aduh celaka" pekiknya dihati.

Tapi saat itulah badannya sudah terlempar masuk kebalik sebatang pohon dengan dedaunan yang rimbun-

Batang dan ranting pohon berguguran keatas tanah diiringi suara benturan keras, tubuhnya sekali lagi terbanting keras-keras keatas semak belukar.

Dada bahu lengan dan kakinya segera terluka dan mengucurkan darah sementara bagian tubuh yang lain dipenuhi luka guratan terkena duri-duri semak yang tajam.

Walau tak sampai mampus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa daripada kematian begitu terbanting keatas tanah, ia segera jatuh tak sadarkan diri

Dengan cepatnya ketiga makhluk raksasa itu memburu datang ketika dilihatnya pemuda itu sudah tak berkutik lagi, lengan dan kakinya sudah mendingin. Mereka mengira lawannya sudah mati diiringi gelak tertawa aneh, mereka segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Kim Thi sia sudah mencoba untuk meronta apa daya seluruh badannya terasa kaku dan mati rasa, terpaksa dia mengurungkan niatnya itu.

Meski begitu Kim Thi sia tidak menyerah kepada nasib, diam-diam ia berusaha mengatur pernapasan dengan ilmu Ciat khi mi khinya. Apalagi dalam bentrokan yang terjadi barusan ia berhasil menghisap sejumlah hawa murni yang tak sedikit jumlahnya sekalipun sekujur badannya dibikin kesemutan hingga tak mampu berkutik lagi.

Ia segera mengerti bahwa hanya meronta saja tak ada gunanya, ia membutuhkan istirahat sekarang, namun ia tak mampu mengendalikan rasa mangkelnya, beberapa kali dia ingin berteriak untuk menyatakan bahwa ia belum mampus.....

Tapi sayang ia tak mampu berbicara sehingga niatnya itu terpaksa diurungkan kembali. Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Kim huan kuncu berkata dengan suaranya yang merdu. "Ciangkun, disakunya terdapat sebilah pedang mestika yang indah sekali, aku menginginkan

benda itu. "

Dibalik nada pembicaraannya ternyata tak tersalip rasa iba atau kasihan karena kematiannya, dalam sekejap mata itulah tiba-tiba Kim Thi sia merasa sangat membencinya. "Bila aku masih mempunyai sedikit kekuatan pasti akan kucemooh dan kuhina dirinya. "

demikian ia berpikir dihati.

sayang sekali hal tersebut tak mampu dilakukan karena tenaga untuk berbicara pun sudah tidak dimiliki lagi sekarang.

Hawa murni beredar sekali demi sekali peredaran tersebut berlangsung amat lambat membuat Kim Thi sia gelisah, masgul dan sangat mendongkol...

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yang amat berat. Kim Thi sia segera memejamkan matanya rapat-rapat. Tapi ia sempat mendengar gelak tertawa aneh yang makin lama semakin menjauh. Menanti ia membuka matanya kembali pedang mestika leng gwat kiam sudah lenyap dari sisi tubuhnya.

Rasa gusar dan benci segera bercampur aduk menjadi satu, entah karena tenaga dalamnya telah pulih kembali ataulah disebabkan desakan semangatnya yang berkobar-kobar tahu-tahu ia dapat duduk kembali.

Dikejauhan sana ia saksikan ketiga orang makhluk aneh tersebut sedang berjalan meninggalkan tempat tersebut mengiringi Kim huan kuncu yang cantik Ia tak sanggup menahan diri lagi

dengan penuh amarah teriaknya keras-keras: "Bajingan busuk. kembalikan pedangku"

Dengan perasaan terkejut ketiga makhluk raksasa serta Kim huan kuncu berpaling. Kim Thi sia meronta dengan sepenuh tenaga, namun ia tak mampu berdiri kembali.

Dalam waktu singkat ketiga makhluk raksasa tadi telah berjalan balik, dari balik matanya yang lebar terpancar pancaran sinar benci dan napsu membunuh yang tebal.

Melihat kehadiran ketiga orang musuhnya Kim Thi sia kembali merasa menyesal, tapi belum lenyap ingatan tersebut, ingatan lain telah melintas kembali, dengan suara keras segera umpatnya:

"Biarpun hati ini aku Kim Thi sia bakal mampus ditangan kalian, tapi dua puluh tahun kemudian pasti akan muncul seorang Kim Thi sia lagi yang akan membalaskan dendam bagi kematianku"

Ketiga makhluk raksasa itu telah mengayunkan telapak tangannya bersama-sama dibawah sinar rembulan tampak cepat segumpal cahaya merah membara dibalik telapak tangannya ya lebar itu, entah ilmu silat apa yang mereka latih.

setelah sadar bahwa kematian segera akan tiba Kim Thi sia malah tidak merasa takut barang sedikit jua. sambil berpeluk tangan diawasinya ketiga orang itu dengan sinis.

Jarak antara kedua belah pihak kian lama kian bertambah dekat, tiba-tiba ketiga orang raksasa itu berpekik nyaring sambil menerjang maju kedepan.

Jangan dilihat tubuh mereka yang tinggi besar hingga kelihatan lamban, ternyata ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki terbukti sangat tangguh.

Tapi sedetik sebelum serangan mereka bertiga dilontarkan, mendadak terdengar lagi Kim huan kuncu berkata merdu.

"sudahlah, lebih baik ia belum mampus kalau tidak hatiku pasti tak akan tenteram."

Agaknya ketiga makhluk raksasa itu amat menurut perkataannya. serentak mereka hentikan perbuatannya lalu setelah melototi pemuda itu sekejap dengan penuh kebencian mereka membalikkan badan dan berjalan balik,

sebelum hilang rasa gusar Kim Thi sia tentu saja ia tak sudi menerima kebaikannya, kembali umpatnya:

"Hey, kalau toh sudah berniat menjadi perampok, apa gunanya berlagak sok berwelas kasih?"

Kim huan kuncu segera menghentikan langkahnya seraya berpaling selapis hawa amarah menyelimuti wajahnya yang cantik serunya: "Huuuh, apa sih kedudukanmu? Berani amat mencaci maki diriku. "

serentak ketiga orang makhluk raksasa itu membungkukkan badannya siap menerima perintah. Tapi dengan lembut Kim huan kuncu mengulapkan tangannya seraya berkata lagi: "Sudahlah,

ampuni selembar jiwanya sekali lagi" sambil tertawa dingin Kim Thi sia segera berseru:

"Heeeh......heeeh......heeeh. sekarang kau boleh bergaya dihadapanku tapi jangan lupa aku

Kim Thi sia masih akan menuntut balas atas perlakuanmu hari ini. Pergi saja kau pokoknya suatu saat aku orang she Kim pasti akan menuntut kembali pedang Leng gwat kiam tersebut. "

Kim huan kuncu mendengus dingin-

"Hmmmm, apa sih hebatnya dengan sebilah pedang mestika? biar kau tak rela, biar kubeli berapapun harganya."

sambil berkata ia mengeluarkan tiga butir mutiara yang gemerlapan dan segera diangsurkan kedepan-

Mutiara itu besarnya seperti buah kelengkeng, sebutirpun nilainya sudah tak terhitung apalagi tiga sekaligus. Boleh dibilang harganya bisa menjadikan seseorang menjadi jutawan baru.

sayang sekali orang yang dihadapinya adalah Kim Thi sia yang tak membutuhkan harta kekayaan sikap gadis tersebut hendak membeli pedangnya dengan uang justru dinilai sebagai suatu penghinaan-

saking gusarnya pemuda kita sampai tak mampu berkata-kata, dia hanya bisa bergumam dihati:

"Aku pasti akan menyiksamu pasti kau terlalu menghina aku kelewat memandang rendah

nilaiku sebagai seorang lelaki"

Kim huan kuncu mengira pemuda tersebut tertarik dengan mutiaranya ia semakin mencemoohnya makin memandang rendah dirinya, sehabis mendengus ia segera membalikkan badan dan beranjakpergi dari sini.

Merah membara sepasang mata Kim Thi sia tiba-tiba ia berteriak keras dan merangkak kedepan dipungutnya ketiga butir mutiara tersebut kemudian dibuang jauh-jauh dari situ teriaknya lagi sambil tertawa seram:

"Heeeeeh......heeeeeh......heeeeeeh perbuatanmu memang benar, bagus sekali

perbuatanmu, aku Kim Thi sia benar-benar takluk. Haaaah.....haaaah......haaaah. "

Kim huan kuncu menghentikan langkahnya sewaktu mendengar seruan tersebut ia segera berkerut kening sesudah melihat kelakuan pemuda tadi katanya terkejut bercampur keheranan-

"Kalau kau tak mau menerima ya sudahlah pokoknya pedang ini sudah kubeli."

Dalam pada itu dua orang makhluk raksasa telah menggotong keluar sebuah tandu kecil dari balik pepohonan.

sambil memeluk pedang Leng gwat kiam itu. Kim huan kuncu naik keatas tandu kecil lalu diikuti tiga orang raksasa lain berlalulah mereka dari situ dengan kecepatan tinggi.

Angin malam berhembus lewat suasana disekeliling tempat itu pulih kembali dalam keheningan-

Kim Thi sia termangu-mangu, mendadak ia mendengar suara petikan khim bergema datang dari kejauhan sana. sewaktu diperhatikan dengan seksama, ternyata suara itu berasal dari tempat dimana Kim huan kuncu pergi tadi....

Entah mengapa setelah mendengar suara petikkan khim yang merdu merayu itu semua rasa benci dan gusarnya hilang lenyap seketika.

Makin didengar suara petikan khim itu semakin merayu. Kim Thi sia segera terlelap dalam lamunan yang panjang. "Tak nyana ia pandai sekali memetika harpa dan membawakan lagu yang begitu merdu."

Tak lama kemudian alunan suara merdu itu makin meninggi tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan pergolakan darah dalam dadanya membara. Lalu bayangan wajah Lin linpun melintas didalam benaknya.

"Entah bagaimana dengan dia sekarang?" ingatan tersebut memenuhi pikirannya.

Tanpa terasa diapun mulai membanding-bandingkan antara Lin lin dengan Kim huan kuncu, pikirnya:

"Mereka berdua sama-sama perempuan, tapi nasib mereka mengapa terdapat perbedaan yang begitu besar? Yang satu hidup bermewah-mewahan dan sangat dihormati orang, sebaliknya yang lain..." Entah mengapa emosinya kembali berkobar sambil mengepal tinjunya ia bergumam.

"Aku harus memperlakukan dirinya secara baik, agar dia berbahagia. Agar dia berbahagia, agar hidupnya seperti Kim huan kuncu, makan hidangan lezat, pergi kemana-mana naik kereta."

Sementara itu tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala, sekujur badannya terasa amat nyaman dengan wajah merah segar, ia segera bangkit berdiri dan memungut kembali ketiga butir mutiara tersebut.

Kemudian sambil memberanikan diri ia ebrjalan menuju kegudang pembesar semula. sepanjang jalan ia mencoba memperhatikan sekitarnya, ia berharap bisa menemukan kembali

jejak Kim huan kuncu serta meminta kembali pedang Leng gwat kiamnya.

Tapi Kim huan kuncu beserta pengawalnya entah telah pergi kemana, yang nampak saat itu hanyalah serombongan manusia berbaju hitam yang bergerak menuju kearahnya.

Dengan cepat pemuda kita mendapat tahu kalau belasan orang manusia berbaju hitam itu pastilah para begundal pembesar Kang lam yang ditugaskan mencarinya.

Ia tak ingin mencari gara-gara apalagi menguatirkan keselamatan Lin lin- dengan cepat pemuda itu menerobos masuk kebalik semak belukar dan kabur dari arah yang lain-

Entah berapa lama sudah lewat, tak jauh didepan sana muncul sebuah jalan raya yang cukup lebar.

Belum lagi dia melangkah kelaur dari balik semak, mendadak terdengar dua kali gelak tertawa nyaring bergema datang dari kejauhan. suara tertawa itu sangat keras dan menusuk pendengaran-

Cepat-cepat ia berjongkok dan menyembunyikan diri kebelakang sebuah batu besar.

Tak selang berapa saat kemudian, dari depan sana muncul dua orang jago pedang berperawakan sedang, terdengar salah seorang diantaranya berkata sambil tertawa tergelak.

" Engkoh Pul, aku dengar murid-murid Tiong goan su liong telah dibunuh oleh seorang manusia berkerudung dalam semalaman saja tanpa sempat memberi perlawanan, coba bayangkan peristiwa itu menggelikan tidak."

"Ya a, menggelikan sekali" sahut orang she pul itu sambil tertawa. "Keempat tua bangka Tionggoan su liong bukannya menyalahkan diri sendiri. Yang sudah tua dan mulai lemah sehingga tak mamcu mendidik murid sendiri sebaliknya malah datang kegedung kita dan melakukan penyelidikan sampai berapa kali. Hmmm, andaikata suhu tidak kasihan melihat kepanikan mereka niscaya dia akan menyindirnya dengan kata-kata pedas, kau tahu suhu tak pernah cocok dengan mereka berempat."

"Haaaaah....haaaaah....haaaah sebenarnya Tionggoan su liong masih terhitung jagoan tapi

gara-gara peristiwa itu, mereka telah kehilangan pamornya. Bukan begitu?"

"Tentu saja, tentu saja" sahut orang she Pul itu sambil tertawa tergelak. "Kalau kubayangkan wajah mereka berempat sewaktu panik. oooh....benar-benar menggelikan. " Maka kedua orang

itupun tertawa terpingkal-pingkal tiada hentinya...... Kedua orang tersebut paling banter baru berusia dua puluh tiga empat tahunan, tapi kenyaringan suara tertawanya benar-benar menggetarkan perasaan siapapun.

Kim Thi sia mendongkol sekali, sebab Tionggoan su liong disebut sebagai tua bangka, lagipula nadanya amat menghina pikirnya:

"Jelek-jelek Tionggoan su liong masih terhitung juga sebagai tokoh dunia persilatan jagoan dari angkatan tua, masa mereka berdua sebagai anak muda berani mencemooh sesuka hatinya sendiri."

Akan tetapi sebelum ia sempat turun tangan, perasaannya menjadi tenang kembali.

Peristiwa yang dialaminya berulang kali pada berapa hari berselang membuat pemuda itu bertindak lebih waspada. Ia tahu tenaga dalam yang dimiliki kedua orang tersebut telah mencapai puncak kesempurnaan hal ini bisa diketahui dari gelak tertawanya yang nyaring.

Itu berarti ia pasti bukan tandingannya daripada mencari penyakit buat diri sendiri. Apa salahnya kalau berpeluk tangan belaka sambil menyadap pembicaraan mereka? Karenanya diapun berpikir:

"Bila kalian berdua berani memakai lagi biar mesti pertaruhkan selembar nyawapun pasti akan kubelai martabat serta nama baik Tionggoan su liong. "

Kedua orang jago tersebut memang nyata sekali kelihayannya. Begitu tubuhnya bergerak mereka segera merasakan kehadirannya dan berpaling. Empat buah mata yang memancarkan sinar taham memandang sekejap kearahnya lekat-lekat.

Untung Kim Thi sia telah bersiap sedia, cepat-cepat la menyembunyikan diri kebelakang batu besar.

setelah mengamati sekejap sekitar sana kedua orang itu baru tertawa tergelak lagi. "Haaaah......haaaah....haaaah. saudara Pui, setiap kali membicarakan soal Tionggoan su

liong, mengapa sih kita jadi kebingungan macam bertemu setan saja? memangnya kita sudah takut kepadanya?"

" omong kosong, aku mah tak bakal takut, kenapa aku mesti takut dengan empat orang tua bangka yang sudah dekat dengan liang kubur?"

"Yaa betul, toh tidak ada salahnya kita membicarakan tentang mereka berempat "

Berbicara sampai disitu, kembali mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Kim Thi sia

mengerutkan dahi pikirnya:

"Edan rupanya, masa tak ada persoalanpun tertawa melulu sejak awal sampai akhir tak habisnya tertawa memangnya sudah tidak waras barangkali "

Tak lama kemudian terdengar lelaki she Pui itu berkata lagi:

"saudaraku menurut perasaanku nampaknya nama besar kita Dua bocah ajaib berwajah tertawa kian lama kian bertambah termashur, padahal sejak meninggalkan suhu hingga kini baru lewat dua bulan tapi kenyataannya dimanapun membicarakan soal kita "

sekali lagi Kim Thi sia berkerut kening pikirnya:

"Dua manusia bermuka tebal masa ada orang memuji diri sendiri. "

Sementara itu rekannya telah berkata pula sambil tertawa terbahak-bahak: "Haaaah......haaaaah......haaaaah. aku sendiripun keheranan, rasanya kita berdua tak pernah

melakukan pekerjaan besar, mengapa setiap orang justru menyanjung dan menghormati kita?" Lelaki yang disebut saudara Pui tadi segera menepuk-nepuk bahunya sambil berkata:

"Bukan cuma begitu, aku dengar ketua perkumpulan Tay sang pang yang bernama It Kim pun punya maksud untuk mengajak kita bersaudara sebagai menantunya. Aku dengar kedua orang putri kesayangannya yang dianggap bagaikan nyawanya sendiri itu hendak dikawinkan kepada kita. Menurut pendapatmu haruskah kita menerimanya "

"Menakutkan, sungguh menakutkan- seru pemuda yang berada disebelah kiri sambil mengangkat bahu. "Tentu saja kita tak boleh menerima lamarannya dengan begitu saja. Usia kita belum tua tapi pamor serta nama besar kita termashur dimana-mana. Berarti masa depan kita masa yang akan cemerlang. Kenapa kita mesti memendam karier dan masa depan kita hanya gara-gara dua orang perempuan?"

"Tapi " pemuda yang disebut saudara Pui itu sengaja berkerut kening. "Aku dengan Khu It

kim bersikeras hendak menjodohkan kedua orang putrinya kepada kita. Apa yang harus kita lakukan? Bila diterima rasanya berat, bila ditolak Khu It kim si tua bangka itu tentu akan merengek-rengek kita dengan wajah yang memelas. "

sementara itu Kim Thi sia yang menyadap pembicaraan tersebut merasa mendongkol bercampur geli, namanya saja mentereng. sepasang bocah berwajah senyum, nyatanya hampir setiap menit, setiap detik tiada hentinya mereka membuat lelucon yang menggelikan hati. Tanpa terasa iapun berpikir:

" Kejadian aneh didunia ini memang amat banyak, kalau dihitung-hitung maka kedua orang ini bisa menempati urutan yang pertama"

sementara itu, pemuda yang berada disebelah kiri itu sudah menundukkan kepalanya kembali sambil menunjukkan muka murung. Akhirnya setelah berpikit setengah harian lamanya, dengan perasaan apa boleh buat ia berkata:

"Baiklah, baiklah siapa suruh nama besar kita terlalu terkenal, pohon besar tentu mengundang angin, terpaksa kita harus menghadapinya."

"saudaraku " kata orang she Pui itu kemudian dengan wajah murung. "Padahal baru dua

bulan kita munculkan diri didalam dunia persilatan, tapi nama besar kita sudah makin terkenal dimana-mana, bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus. Waaaah. bukan main,

nampaknya jalan yang terbaik untuk kita adalah mencukur rambut menjadi pendeta. "

Kedua orang itu saling berpandangan sekejap. kemudian sama-sama mengangkat kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Entah murid siapakah kedua orang ini?" pikir Kim Thi sia lagi. "Tapijika dilihat dari gerak gerik mereka, nampaknya ilmu silat yang dimiliki guru mereka hebat sekali. Namun pasti bukan berasal dari perguruan kaum lurus. "

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba dari kejauhan sana tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang tanpa menimbulkan sedikit suarapun- Gerak tubuhnya begitu cepat sehingga dalam satu kedipan mata saja bayangan tubuhnya yang tinggi kurus tadi telah berdiri dibelakang tubuh sepasang bocah berwajah senyum.

Kim Thi sia yang menyaksikan adegan itu, diam-diam menjulurkan lidahnya, kembali dia berpikir.

"Bila dalam sepuluh tahun kemudian ilmu silatku dapat mencapai tingkatan seperti ini saja, hatiku sudah merasa puas sekali, karena semua harapanku dapat tercapai."

Kim Thi sia percaya ilmu silat yang dimiliki sepasang bocah berwajah senyum sangat lihay sekali, tapi sekarang walaupun orang berperawakan jangkung itu telah berdiri dibelakang tubuh mereka, ternyata mereka masih belum juga merasakan bahkan sambil berangkulan mereka tetap tertawa terbahak-bahak.

segulung angin dingin berhembus lewat tiba-tiba saja Kim Thi sia merasakan dadanya menjadi sesak, hawa dingin yang berhembus membuat bulu kuduknya pada bangun berdiri.

suatu firasat jelekpun melintas dalam benaknya dengan cepat.

Diam-diam ia mencoba untuk melirik kembali kearah orang tersebut. Tapi dengan cepatnya dia menjadi amat kaget bahkan hampir saja bersuara.......

Untung saja pemuda kita cukup menyadari akan bahaya yang sedang mengancam sehingga suara jeritan yang hampir meluncur keluar dari mulutnya itu segera ditelan kembali, napasnya segera ditahan sementara sorot matanya yang memancarkan sinar kaget dan ngeri diam-diam mengawasi manusia jangkung yang berdiri kaku dihadapannya sana.

Perawakan tubuh orang itu sangat dikenal olehnya sebab dia tak lain adalah simanusia dengki yang telah membunuh cungpiau pacu dari tujuh propinsi wilayah selatan tempo hari.

Peluh dingin yang telah membasahi seluruh telapak tangan Kim Thi sia sementara jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat daripada biasanya.

Malam yang dingin terasa makin dingin, malam yang gelap menambah seram suasana sekeliling tempat itu terutama dengan hadirnya manusia bertubuh jangkung ini, entah berapa banyak ancaman maut yang bakal tersebar dari tubuhnya.

Kim Thi sia mengerti apa yang hendak dilakukan simanusia dengki tersebut degan kehadirannya disana.

Ya a, sepasang bocah berwajah senyum telah berhasil membangun nama serta kedudukan yang cukup tinggi didalam dunia persilatan- Hampir semua orang menyinggung namanya, membicarakan kehebatannya.

Tapi justru karena itulah nasib mereka jadi tak menentu karena maut siap mencabut nyawanya

.Justru karena usia mereka masih muda dan masa depannya tak terbatas. Maka simanusia dengki itu terpancing untuk melakukan pembunuhan atas diri mereka.

Dengan sorot mata yang dingin menggidikkan manusia dengki itu mengawasi sekejam sekeliling tempat itu sinar matanya yang tajam bagaikan sembilu dan dingin bagaikan salju itu segera membuat perasaan Kim Thi sia bergidik dan ngeri hampir saja jejaknya ketahuan-

Untung nyalinya cukup besar dan pikirannya cukup tajam ia berusaha untuk menahan diri serta tetap mendekam ditempat persembunyiannya.

sungguh menggelikan sepasang bocah bermuka tertawa itu ternyata mereka masih belum sadar kalau maut telah mengancam keselamatan jiwanya. Mungkin bahan lelucon yang mereka cipta ka n kelewat batas sehingga mereka sendiripun tak mampu mengendalikan diri

Dengan diliputi perasaan kaget ngeri dan kasihan Kim Thi sia berharap terjadinya sesuatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan, ia berharap manusia berkerudung yang munculkan diri saat itu bukanlah manusia berkerudung yang pernah dijumpainya tempo dulu.

Tentu saja pengharapan tersebut terasa amat tipis, bahkan boleh dibilang sama sekali tak mungkin terjadi.

Lama.....lama sekali keheningan yang mengerikan serasa mencekam seluruh angkasa.

Akhirnya manusia berkerudung itu buka suara, dengan suara yang lembut tapi penuh bertenaga ia bertanya:

"Apakah kalian berdua adalah sepasang bocah berwajah tertawa?"

Dengan suatu gerakan cepat sepasang bocah berwajah tertawa membalikkan badannya, paras muka mereka nampak berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat. Perasaan terkejut dan ngeri yang luar biasa membuat kedua orang tersebut tak mampu berkata-kata.

Padahal mereka berdua menganggap kepandaian silat yang dimilikinya telah mencapai taraf yang luar biasa dan tiada bandingannya lagi didunia ini. Tapi dalam kenyataannya, mereka sama sekali tidak merasa kalau ada orang yang telah berdiri dibelakang tubuhnya, peristiwa semacam ini boleh dikata merupakan suatu peristiwa yang amat memainkan mereka.

Pemuda dari marga Pui itu kontan saja menunjukkan wajah tak senang hati. Dengan pandangan mata yang dingin dan mendongkol dia awasi orang berkerudung itu dari ujung kepala sampai keujung kaki, tapi sewaktu sepasang matanya saling beradu pandangan dengan sorot mata manusia berkerudung itu, tanpa terasa cepat-cepat dia melengos...

Tapi kemudian, sekali lagi dia mengawasi kain kerudung hitam yang menutupi wajah orang itu.

Lama sekali pemuda itu tertegun, mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, sambil menjerit kaget tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang. Perasaan kaget, ngeri takut dan seram dengan cepat menyelimuti serta mencekam seluruh tubuh mereka.

"Buuu......bukan-......bukankah kau ad..... adalah " suaranya terbata-bata lagi pula bernada

gemetar, dari sini bisa diketahui betapa takutnya kedua orang tersebut.

semua keangkuhan kejumawaan dan kesombongan serasa hilang dan tak berbekas. Suatu ingatan yang mengerikan merangsang daya kerja rasa takut mereka berdua. Kalau tadi mereka masih bisa membuat lelucon sambil tertawa tergelak. maka sekarang untuk berbicarapun suaranya tak jelas lagi.

Paras muka kedua orang itu berubah dari merah menjadi pucat, lalu dari pucat menjadi kehijau-hijauan, akhirnya paras muka yang hijau membesi itu berubah menjadi keabu-abuan-Tak jauh berbeda seperti wajah kakek yang hampir sekarat.

Dengan sorot mata yang tetap tajam dan menggidikkan hati, kembali manusia berkerudung itu mengawasi lawannya lekat-lekat. Lalu menegur untuk kedua kalinya. "Benarkah kalian berdua adalah sepasng bocah berwajah tertawa?"

Bagaikan orang yang meronta disaan sekarat, kedua orang pemuda itu segera menjerit lengking. "Benar "

"Bagus sekali" kata manusia berkerudung itu kemudian-

Meski hanya terdiri dari dua patah kata namun mengandung artinya yang banyak sekali.

Dengan perasaan ngeri dan takut sepasang bocah berwajah tertawa mundur terus tiada hentinya, tiba-tiba mereka mencabut pedang masing-masing.

Tapi sebelum kedua bilah pedang itu sempat dipergunakan, bagaikan sukma gentayangan saja manusia berkerudung itu sudah bergerak maju kedepan....

sementara Kim Thi sia masih menonton dengan perasaan tegang entah secara bagaimana tahu-tahu pedang yang semula berada ditangan sepasang bocah tertawa itu sudah terjepit oleh jepitan jari tangan kiri dan kanannya. menyusul kemudian-"Criiiinggg. "

sepasang pedang itu sudah patah menjadi dua bagian dan rontok keatas tanah. sepasang biji mata dua orang pemuda itu melotot besar bagaikan mau melompat keluar.

Dengan penuh perasaan yang menyeramkan mereka memandang sekejap kutungan pedangnya yang tergeletak ditanah, lalu sambil menjerit ketakutan serunya keras-keras: "Mau. mau apa

kau. "

"Bagus, bagus sekali" kata manusia berkerudung itu singkat. "Ilmu silat kalian bagus nama dan pamor kalian cemerlang aku rasa kalian berdua sudah cukup bergembira bukan."

Pemuda she Pui itu tak sanggup menerima teeor semacam ini lebih lanjut, mendadak pandangan matanya serasa menjadi gelap dan tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.

Melihat rekannya sudah roboh, pemuda kedua tak mampu mengendalikan diri lagi. Ia menjerit histerius kemudian melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat tersebut.

Manusia berkerudung itu sama sekali tak bersuara, tidak nampak bagaimana ia menutulkan ujung kakinya keatas tanah, tidak nampak juga bahunya bergerak. tetapi tahu-tahu tubuhnya yang jangkung itu telah berada disisi kiri pemuda tersebut menyusul kemudian sebuah totokan jari tangan dilontarkan kedepan- Jeritan ngeri yang memilukan hatipun bergema membelah kegelapan malam dan memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu, tubuh pemuda itu segera nampak roboh terjungkal mencium tanah.

Manusia berkerudung itu tidak berpaling barang sekejappun- selangkah demi selangkah ia melanjutkan perjalanannya mendekati tempat orang she Pui tadi roboh. Pelan-pelan ia membungkuk lalu jari tangan kembali melepaskan totokan kebawah.

Kim Thi sia betul-betul tak tega menyaksikan peristiwa ini, buru-buru dia melengos kearah lain-

Meski begitu benaknya telah dipenuhi cekaman perasaan tegang, kaget dan ngeri, biarpun waktu berlangsung amat singkat, namun bagi perasaannya seakan-akan dia telah melewati kehidupan yang berat selama bertahun-tahun lamanya.

Tiba-tiba saja dia membenci keheningan yang mencekam sekeliling tempat itu mengapa tidak muncul serombongan manusia yang bersenjata lengkap dan menyerang manusia berkerudung tersebut habis-habisan?

Baginya, dia lebih suka mengalami ketegangan dalam pertarungan ketimbang menyaksikan suatu adegan seram yang menggidikkan hati ditempat yang begitu hening dan sepi.

Menanti Kim Thi sia mengintip kembali ketempat kejadian ternyata suasana disitu telah berubah menjadi hening kecuali selembar besar kain baju berwarna keperak-perakan, disitu tak nampak sesuatu apapun-