Lembah Nirmala Jilid 11

 
Jilid 11

Sambil tertawa terbahak-bahak pedang kayu segera bangkit berdiri, katanya kemudian:

"Lin lin, ajaklah tuan Kim beristirahat. Layani kehendaknya secara baik-baik dan jangan sampai menyinggung perasaannya besok aku tentu akan memberi hadiah besar untukmu. "

Kemudian setelah mengucapkan "Sampai jumpa esok pagi", bersama Pat bin wi hong Kek Jin ia melangkah pergi dengan langkah lebar.

Kim Thi sia benar-benar tak mampu menahan diri, tubuhnya hampir seluruhnya terjatuh kedalam pelukan Lin lin-

Dengan hati berdebar keras buru-buru Lin lin memayang tubuhnya, tapi Kim Thi sia terlalu kekar, gadis itu dibuat mandi keringat dan tersengkal-sengkal napasnya.

cepat-cepat dia menghindari tatapan mata rekan-rekan dayang lainnya yang penuh rasa dengki. Dibawanya pemuda itu menelusuri serambi samping yang panjang ketika mencapai ujung serambi sana, ia betul-betul sudah kehabisan tenaga.

Kebetulan sekali, kaki Kim Thi sia tersangkut batu waktu itu sehingga tak ampun lagi badannya roboh terjengkang kedepan.

Lin lin tak mampu menahan tubuhnya yang berat, sambil menjerit kaget, ia ikut terjatuh ketanah.

Waktu itu langit sudah gelap, tiada cahaya bintang tiada rembulan, ditengah kegelapan malam hanya angin dingin berhembus kencang menerbangkan ranting serta dedaunan.

Kim Thi sia terlelap tidur diatas badan Lin lin yang tertindih dibawahnya. Namun angin dingin yang berhembus lewat membuatnya bersin dan setengah sadar dari mabuknya.

Ketika menjumpai Lin lin terlentang dibawah tindihan tubuhnya dalam keadaan tersengkal- sengkal cepat-cepat ia membimbingnya bangun seraya bertanya: "Lim lin, apakah kau terluka?"

"Tidak....tidak. aku takut tuan Kim yang terluka" jawab Lin lin lirih.

Kim Thi sia terharu sekali, dengan maksud mencari letak luka ditubuh nona itu ia berusaha merabanya kesana kemari. Namun malam sangat gelap hingga sukar melihat kelima jari tangan sendiri ia tak tahu tangannya telah menggerayang sampai kebagian tubuh yang mana?

"Lin lin katakan kepadaku bagian manakah tubuhmu yang terluka?" bisiknya lirih.

Lin lin gelisah disamping jengah meski ditengah kegelapan malam yang mencekam, namun kesucian badannya sempat digerayangi pemuda tersebut tanpa terasa katanya sambil menangis terisak:

"Tuan Kim, aku tidak terluka, kau kau jangan berbuat begitu."

Kim Thi sia melirik kembali tangannya lalu berkata keheranan: "Mengapa kau menangis? Aku toh tidak berbuat apa-apa padamu."

Lin lin malu sekali, ia tak mampu berkata selain memejamkan matanya rapat-rapat.

Kim Thi sia duduk bersandar diujung serambi panjang yang berlantai batu hijau, ditengah hembusan angin malam, ia menarik bajunya hingga dadanya terbuka, seketika itu juga tubuhnya terasa segar kembali.

"Mengapa sih kau menangis?" kembali tanyanya keheranan. "Mari duduklah disamping ku, kita isi waktu yang senggang ini dengan bercerita. Kau tahu semasa masih digunung dulu setiap malam tiba apalagi pada malam yang gelap tak berbintang seperti hari ini aku paling senang mendengarkan cerita setan kau lain perasaan kita waktu bisa menjadi tebang, terangsang dan seru sekali Lin lin kau bisa bercerita setan?"

Lin lin yang lemah lembut justru paling takut mendengar cerita setan, tanpa terasa ia menggeser badannya hingga duduk merapat disamping pemuda itu, serunya agak gugup: "Aku tidak pandai bercerita aku takut setan"

Agaknya Kim Thi sia masih agak mabok ia segera tertawa nyaring setelah mendengar perkataan itu, serunya:

"Setelah bernyali kecil, aku saja tidak takut, apa sih yang kau takuti?" "Kau kan orang lelaki" protes Lin lini

"Laki-laki manusia, perempuan pun manusia, kalau aku tidak takut setan, kenapa kau mesti takut?"

Teori yang membingungkan hati ini kontan saja membuat Lin lin melongo dan tak mampu menjawab.

Lagi-lagi segulung angin dingin berhembus lewat menggigilkan seluruh badan Lin lini Ia semakin merapatkan tubuhnya disamping Kim Thi sia bisiknya ketakutan: "Tuan Kim. "

Kim Thi sia berkerut kening, tiba-tiba tukasnya:

"Aku bernama Kim Thi sia, kata tuan dimuka nama margaku benar-benar mengkilik-kilik hatiku Jangan kau sebut tuan lagi kepadaku"

"Kim......Thi......sia kau tidak kedinginan?" bisik Lin lin kemudian agak tergagap.

Kim Thi sia tertawa tergelak.

"Haaaah......haaaahh.......haaaahh. sepanjang tahun aku hidup ditengah hutan belantara

yang jauh dari keramaian dunia. Kedinginan, basah, lembah dan kesepian sudah menjadi kebiasaan bagiku apa artinya hembusan angin seperti ini? coba lihatlah, bukankah dadakupun kubiarkan terbuka lebar ?"

Dengan perasaan ingin tahu Lin lin melirik sekejap hatinya segera berdebar keras kekekaran dada pemuda tersebut menimbulkan suatu perasaan yang sangat aneh didalam hatinya.

Dengan agak tersipu-sipu ia berbisik,

"Kim......Thi.......sia.......kau. kau belum pernah berhubungan dengan kaum wanita?"

"Buat apa kau menanyakan persoalan ini?" tanya Kim Thi sia keheranan.

sekilas warna merah menghiasi selembar wajah Lin lin ia amat jengah dibuatnya tapi selang sesaat kemudian katanya lagi: "Aku hanya iseng saja bertanya"

"Hmmm, berhubungan sih pernah berhubungan namun kami tak pernah mempunyai hubungan yang mendalam."

" Kenapa?"

"Tidak menarik hatiku"

"Kau benar-benar seorang manusia aneh"

"Apanya yang aneh? Masa berkumpul dengan kaum wanita mesti menarik hati?"

sekali lagi paras muka Lin lin berubah menjadi merah padam karena jengah, tetapi diapun enggan merubah pandangan sendiri kembali ujarnya:

"orang bilang setiap enghiong menyukai perempuan cantik, kau pantas disebut seorang enghiong mengapa......mengapa engkau tidak ?"

"Tidak menyukai wanita cantik maksudmu?" jawab Kim Thi sia sambil tertawa. "Bukankah aku pernah berkata kepadamu, perempuan tidak mendatangkan daya tarik bagiku. Aku tidak memahami soal cinta kasih. sejak kecil aku hidup ditengah gunung yang terpencil, aku hanya tahu siapa baik kepadaku, akupun baik kepadanya. orang jahat kepadaku akupun jahat kepadanya apa sih manfaatnya memahami soal cinta kasih? Dari ayah pernah kudengar, cinta hanya mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri oleh sebab itulah aku tak pernah mau membayangkan soal yang satu itu"

Lin lin menjadi sangat kecewa setelah mendengar perkataan itu, tapi ia tak puas menyerah begitu saja segera katanya lagi:

"suatu hari kau pasti akan merubah pandanganmu yang keliru itu"

"Hmmm, tidak mungkin- Aku yakin ini tak mungkin akan terjadi pada diriku."

Jawaban itu diucapkan tegas dan penuh keyakinan membuat Lin lin hampir menangis sangking kecewanya, namun iapun tak dapat memberikan komentar apa-apa.

"Kim Thi sia, kau adalah lelaki yang tidak berperasaan" bisiknya kemudian. "Omong kosong, kau sendiri yang tidak berperasaan"

"Aku bukan mengajakmu berdebat" pinta Lin lin pedih. Kim Thi sia tertawa, segera katanya: "Kau mengatakan diriku tak berperasaan sebaliknya sampai dimana perasaan sendiri."

"Aku mempunyai perasaan yang amat tebal" kata Lin lin sambil menghela napas sedih "tapi aku tak punya tempat sebagai pelampiasan dari semua perasaanku itu."

"Kenapa?"

". " tiada jawaban sama sekali.

Kim Thi sia segera menggenggam tangannya dan menarik gadis itu kedalam pelukannya lalu katanya keras-keras: "Katakan kepadaku"

Lin lin yang lemah tak bertenaga tak sanggup menahan diri begitu ditarik keras-keras pemuda tersebut, tubuhnya segera terjatuh kedalam pelukannya.

Rasa malu, menyesal dan suatu perasan yang aneh sekali, entah rasa manis atau menderita membuat nona itu amat gelisah dan tak mampu berkata-kata.

"Katakan padaku" kembali Kim Thi sia mendesak. tiba-tiba Lin lin menangis tersedu dengan air mata bercucuran katanya lirih:

"Jangan-jangan desak diriku Aku aku tak tahu bagaimana mesti menjawab"

Bau harum gadis perawan yang menusuk hidung menyebar kesekeliling sana, membuat Kim Thi sia merasa kenyamanan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Tanpa terasa ia peluk gadis itu kencang-kencang dan bertanya keheranan: " Heran, mengapa tubuhmu begitu harum?"

Lin lin tidak tahu bagaimana mesti menjawab. Ia berusaha meronta namun tak berhasil, akhirnya sambil menangis ia meminta: "Kim Thi sia.......lepaskan aku. "

Kim Thi sia sama sekali tidak menjawab. Benaknya sedang diperas untuk mencari jawaban, mengapa tubuh nona itu begitu harum.

Bau lelaki yang aneh menimbulkan pula perasaan nyaman bagi Lin lin yang selama hidup belum pernah bersentuhan dengan kaum pria. Perasaannya terbuka seketika rasa girang pun menyelimuti seluruh perasaannya. Ditambah lagi ia memang menaruh perasaan lain terhadap pemuda tersebut, maka setelah usahanya meronta gagal, iapun tidak memberontak lagi.

Pipinya persis menempel diatas dadanya yang bidang, tubuh yang kekar berotot itu membuatnya seperti mabuk. Teka teki yang semula mencekam perasaannya tentang laki-laki tiba- tiba saja seperti terjawab sama sekali. Ia seperti baru sadar betapa mempesonanya seorang lelaki bagi pandangan gadis remaja seperti dia. Mendadak ia memeluk pemuda itu kencang-kencang, lalu bisiknya dengan suara setengah merintih: "Thi sia. "

"Ada apa?" ketika dilihatnya gadis itu memeluk tubuhnya kencang-kencang, dengan rasa iba tanyanya. "Apakah kau kedinginan Lim lin?"

Lin lin tidak menjawab pertanyaan itu, ia bergumam lirih seolah-olah sedang menuangkan seluruh perasaan hatinya.

"Thi sia, sukakah kau dengan kehidupan semacam ini?"

Kim Thi sia berkerut kening, ia tidak mendorong gadis itu karena disangka kedinginan, sahutnya:

"Aku menyukai kehidupan yang bebas merdeka tanpa kekangan- saban hari mengembara sejauh ribuan li. Berkelana mengarungi seluruh jagad."

"Seandainya. seandainya ada seseorang mendampingimu, sering menyanyikan lagu

untukmu....bukan.....bukankah kehidupanmu akan lebih bahagia. ?"

"Ya a, tentu saja, tapi siapakah yang bersedia mendampingiku, saban hari menyanyikan lagu merdu untukku?"

Lin lin merasakan pipinya panas, agak terengah bisiknya: "Andaikata......aku. aku

bersedia. "

"ooh, alangkah bahagianya aku" teriak Kim Thi sia kegirangan. "suara nyanyian merdu merayu, belum pernah kudengar suara semerdu suara nyanyianmu"

Lin lin sangat gembira, biarpun hanya beberapa patah kata yang sederhana namun mendatangkan perasaan nyaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata dalam hatinya. Ia memeluk pemuda itu lebih kencang, lalu katanya lagi lirih:

"Thi sia, aku bersedia mendampingimu untuk selamanya. Kau adalah lelaki yang baik tak mungkin menganiaya diriku. Kau lebih gagah dan baik ketimbang orang-orang yang berada disini"

Kim Thi sia kegirangan setengah mati, dengan rangkulan yang penuh bertenaga ia peluk nona itu sampai terengah-engah. "Lin lin kau baik sekali"

Entah karena luapan emosi atau desakan biologis, tiba-tiba saja pemuda tersebut ingi mencium wajah Lin lin yang cantik jelita terutama bulu matanya yang setengah terpejam.

Lin lin yang berada dalam pelukannya merasakan badannya gemetar keras, ia tidak menjawab, napasnya terengah karena rasa malu yang sangat. Ya a, bagaimana mungkin seorang gadis yang masih suci bersih dan perawan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan lawan jenisnya? Ia tak lebih hanya bisa menanti dengan perasaan sangat aneh.

sementara itu Kim Thi sia berpendapat nona itu membungkam berarti telah menyetujui permintaannya .

Maka ia segera menundukkan kepalanya dan mencium pipi, mata serta kening Lin lin dengan bibirnya yang berbau alkohol.

Suatu perasaan nyaman yang aneh membuatnya ingin mengulangi kembali perbuatan tersebut.

Ciuman demi ciuman berlangsung terus secara bertubi-tubi.

Lin lin sendiripun gemetar keras dia tak dapat melukiskan bagaimanakah perasaan nyaman yang dirasakan ketika itu seperti terkena aliran listrik bertegangan tinggi. seluruh organ tubuhnya seolah-olah ikut bergetar keras tubuhnya gemetar dan tiba-tiba saja menangis.

Tangisan seorang wanita sering kali menandakan perasaan girang, sedih atau murung, tapi ia tak tahu mengapa air matanya meleleh saat itu ?

Tangisan yang menandakan kelemahan kaum wanita ini bukan saja tidak berhasil menghentikan niat Kim Thi sia untuk menciumnya, malah sebaliknya mengobarkan napsune makin membara. setiap orang lelaki memang mempunyai perasaan demikian apalagi disaat kaum wanita menunjukkan kelemahannya. Hal itu justru meningkatkan kegembiraan serta kepuasannya.

Ciuman Kim Thi sia diseluruh wajah Lin lin mendatangkan kobaran napsu yang makin membara didalam dadanya, rasa hangat dan nyaman membuat pemuda itu memeluk sinona semakin kencang. Tindakannyapun melangkah lebih jauh lagi.......

Disaat keempat lembar pipinya saling bertemu, Lin lin merasa bagaikan disambar petir. Hampir saja membuatnya jatuh pingsan.

"Engkoh sia, jangan..... jangan berbuat begitu " pinta Lin lin sambil menangis.

" Kalau aku main paksa, mau apa kamu?" pikir Kim Thi sia didalam hati kecilnya.

Pemuda ini memang keras kepala. sering kali dia senang berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki lawan, justru kesengajaannya itulah sering kali membuatnya terlibat dalam pelbagai masalah.

Dalam keadaan demikian, tentu saja Lin lin tak bisa berbuat banyak selain pasrah dan membiarkan pemuda tersebut berbuat sekehendak hatinya.

Ketika segulung angin dingin berhembus lewat, Kim Thi sia baru melepaskan rangkulannya yang kencang, meski dia agak berat hati meninggalkan pinggang Lin lin yang ramping, dadanya yang montok dan halus itu.....

Ketika ia mencoba menengok nona itu, tampak Lin lin yang lembut sedang menangis tersedu- sedu.

Isak tangis yang begitu memedihkan hati dari sinona membuatnya menjadi tak tenang. Maka sambil membelai rambutnya yang halus, hiburnya pelan:

"sudahlah Lin lin, tak usah menangis terus, memang aku yang bersalah. Aku telah mempermainkan kau."

Lin lin tidak menjawab punduknya masih bergoncang keras menahan isak tangisnya sementara dadanya naik turun mengikuti napasnya yang masih tersengkal. Kesemuanya ini menambah rasa iba bagi siapapun yang melihatnya.....

Entah darimana datangnya dorongan perasaan, tiba-tiba Kim Thi sia berbisik pelan:

"Lin lin-..aku.....aku berniat memperistri dirimu. sering kudengar dari ayah. Katanya seorang

gadis hanya boleh kawin dengan seorang selama hidupnya lagipula tak boleh tak senonoh

dengan gadis lain.....maka....aku pikir lebih baik kau menjadi istriku saja mau bukan?"

Lin lin semakin terbungkam dalam seribu bahasa. Dia cuma mengangkat kepalanya dan menengok sekejap dengan matanya yang terbelalak lebar serta berkaca-kaca itu.

Mendadak timbul kembali keinginan Kim Thi sia untuk menciumnya, tapi ia tak berani berbuat sembarangan, maka sambil merangkul pinggangnya ia berbisik,

"Lin lin, aku menyesal, kuharap kau sudi memaafkan diriku. bersediakan kau menghantarku kekamar tidur?"

"Tidur?" dengus Lin lin dingin

Kim Thi sia memutar biji matanya, mendadak paras mukanya menjadi merah padam cepat- cepat katanya lagi agak tergagap.

"Lin lin-...bukan.....bukan soal itu yang kumaksud.....maksudku.......aku. aku hendak

beristirahat."

saking gugup dan tergagapnya sehingga tak jelas yang diutarakan keluar. Lin lin menjadi kegelian, ia tertawa merdu lalu katanya: "Baiklah, akan kuhantar dirimu."

Betapa leganya Kim Thi sia ketika dilihatnya nona itu sama sekali tidak marah sambil tertawa katanya lagi: "sudah kuduga, kau memang orang baik. Pasti tak tega menampik keinginanku." sambil menggigit bibir Lin lin segera merangkul pinggang pemuda itu dan berusaha

memayangnya .

Ketika Kim Thi sia mencoba mengamati wajahnya, tampak air mata nona itu belum juga berhenti menetes, hal ini membuatnya amat terharu, serunya tanpa sadar:

"Lin lin, bila kau bersedia kawin denganku aku pasti akan melayanimu secara baik-baik," Lama sekali Lin lin membungkam, kemudian baru sahutnya pelan: "Aku mengerti. "

sewaktu melewati sebuah ruangan, terlihat cahaya api melintas lewat, Kim Thi sia mencoba menengok kesana, tapi jendelanya berterali besi, sedang didekat pintu terali itu bersandar sesosok bayangan tubuh yang samar.

sayang cahaya api tadi hanya melintas sebentar lalu lenyap sehingga Kim Thi sia tak sempat melihat isi ruangan dengan jelas, maka segera tanyanya:

"Lin lin siapa sih yang berada disana?"

Lin lin menengok sekejap kedalam ruangan, lalu jawabnya:

"Seperti seorang gadis asing, konon ia diculik oleh anak buah pejabat pengawas Kang lam yang hendak dipersembahkan kepada tuan pembesar sebagai istri mudanya yang ketujuh tapi ia menolak malah melukai wajah loya akibatnya perempuan itu disekap dalam ruang tersebut"

Kim Thi sia menjadi amat mendongkol setelah mendengar keterangan itu umpatnya tanpa terasa:

"Hmmm perbuatan pembesar itu betul-betul terkutuk. "

Baru selesai perkataan tersebut diutarakan mendadak saja muncullah dua sosok bayangan hitam dari depan sana sambil membentak keras: "Kata sandi?"

"Dia adalah adik seperguruan Gi toaya, Gi toaya memerintahkan aku untuk mengantarnya pulang kekamar."

"Lin lin kau disitu?" dua orang yang berada dibalik kegelapan segera menegur.

Kedua orang itu segera mengiakan dan beranjak pergi dari sana, lamat-lamat terdengar suara orang itu sedang bergumam: "Bocah keparat itu benar-benar punya rejeki."

"stt Jangan kelewat keras kalau bicara bocah itu adalah adik seperguruan tuan Gi. Ia bukan manusia sembarangan, konon ilmu silat dari malaikat pedang berbaju perlente sudah mencapai tingkatan yang luar biasa dari pembicaraan Kek loya. Katanya ilmu silat dari sang sute masih jauh lebih hebat daripada kemampuan suhengnya tuan Gi."

"Tentu saja, bocah itu kan murid terkahir dari Malaikat pedang berbaju perlente?"

Tanpa terasa Kim Thi sia melirik sekejap kearah Lin lin, lebetulan Lin lin pun sedang menengok kearahnya dengan wajah bersemu. Lin lin segera tersenyum manis hingga kelihatan sepasang lesung pipinya yang menawan hati.

Kim Thi sia dibikin terpesona, pemuda yang baru mengenal arti cinta ini lagi-lagi berniat menciumnya, tapi Lin lin segera berkelit sambil bisiknya tertawa: "Waktu dikemudian hari masih panjang."

"Ya a, betul" sahut Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak. segera dipeluknya nona itu kencang- kencang. "Waktu dikemudian hari memang masih panjang"

setibanya didalam kamar, Lin lin segera menyulutkan lampu lentera kemudian mempersiapkan pembaringan.

Mendadak Kim Thi sia seperti teringat akan sesuatu segera tanyanya:

"Lin lin katanya kau pernah membaca banyak buku tentunya kau pandai bercerita bukan?" "Selain bercerita setan aku memang bisa menceritakan kisah lain" sahut Lin lin sambil tertawa hambar.

Menyinggung kembali soal "setan" tiba-tiba ia merapatkan badannya disamping Kim Thi sia katanya lagi:

"Thi sia aku takut, aku tak berani pulang sendirian-"

"Tidak apa-apa nanti kuhantar" sahut Kim Thi sia tertawa. "Yaa kalau begitu aku bakal sering mendengar cerita darimu. Kau tahu, semasa kecil dulu setiap ada waktu senggang, aku tentu merecoki ayah untuk bercerita. Tapi semenjak ayah tiada, aku kesepian itulah sebabnya aku merasa gembira bila kau bersedia bercerita untukku."

"Selain bercerita untukmu, akupun dapat menyanyikan lagu merdu untukmu setiap saat" kata Lin lin lembut. Kim Thi sia gembira sekali.

"ooh, alangkah gembiranya aku, mari kuhantar kau pulang kekamar. "

sewaktu melewati bangunan rumah bertirai besi tadi, tiba-tiba terdengar suara helaan napas bergema dari situ. Helaan napas tersebut segera mengobarkan jiwa pendekar pemuda itu. Diam- diam ia berjanji akan memberi pertolongan kepada perempuan cantik tersebut.

0000000

Lampu lentera telah dipadamkan, Kim Thi sia telah melepaskan pakaian dan berbaring diatas pembaringan.

Entah mengapa, pikirannya terasa amat kalut, betapapun ia berusaha untuk memejamkan mata tak pernah dia bisa pejamkan mata barang sekejappun akhirnya ia bangkit membuka jendela, lalu berdiri melamun ditengah hembusan angin malam.

Tiba-tiba bergema lagi suara helaan napas Kim Thi sia tahu suara tersebut berasal dari gadis berdandan aneh yang disekap dalam kamar berterali besi tadi.

"Pembesar pengawas aparat pemerintah Kang lam benar-benar menusia bedebah." demikian ia mengumpat dihati. "Masa gadis secantik bidadari dari khayanganpun disekap dalam kamar berterali besi ooh. Betapa sepinya hidup seorang diri disana"

sebagai pemuda yang berjiwa besar, berkobarlah jiwa kependekarannya, sambil menyiapkan pedang mestika Leng gwat, diam-diam ia menyelinap keluar dari kamarnya.

Waktu itu tampak dua sosok bayangan manusia berkelewat lewat ditengah kegelapan disudut timur sana. Kim Thi sia segera manfaatkan peluang tersebut dan menyelinap maju kemuka.

suasana didalam gedung besar itu amat gelap tanpa setitik cahayapun, namun meminjam cahaya bintang yang redup diluar jendela lamat-lamat masih terlihat dengan samar sesosok bayangan tubuh manusia yang tinggi semampai berdiri tak bergerak dimuka jendela. sambil menengok rembulan diangksa, orang itu menghela napas tak hentinya.

Kim Thi sia yang seksama mengerti disekeliling ruangan tersebut tentu tersebar banyak pengawal lihay yang melakukan penjagaan, karenanya secara berhati-hati sekali ia menyusup kemuka dan bersembunyi dibalik dinding ruangan yang gelap.

Walaupun selisih jarak mereka berdua saat ini tinggal lima, enam kaki. Namun Kim Thi sia tak berani menegurnya, ia tahu suara yang betapapun lirihnya niscaya akan mengundang perhatian dari kawanan jago lihay yang mengawal ruangan tersebut.

Ia sangat gelisah apalagi awan gelap dlangksa lambat laun makin memudar sehingga cahaya rembulan yang beningpun mulai menyinari setiap sudut ruangan.

Untung saja tempat persembunyiannya cukup rapat sehingga tiada setitik cahayapun yang memancar kesitu. Kalau tidak tentu bayangan badannya akan memancing perhatian orang.

Mendadak nona berdandan aneh tapi berparas cantik bak bidadari dari khayangan itu duduk kembali, kepalanya masih mendongak memandang rembulan dengan terpesona. sementara ia masih mengawasi nona yang cantik dengan tubuh yang putih bersih, tiba-tiba tampak dua sosok bayangan manusia muncul kembali dari sudut timur.

Cepat-cepat Kim Thi sia menahan napas sambil merapatkan tubuhnya diatas dinding menuggu bayangan manusia tadi sudah pergi jauh ia baru menghembuskan napas panjang.

Mendadak ia menemukan sebuah cara yang bagus, hal mana membuatnya semangatnya segera berkobar.

Cepat-cepat diambilnya sebutir batu kerikil lalu ditimpuk kedalamjendela. "Plaaaaaaaaaak" Nona berdandan aneh itu kelihatan terkejut dan segera bangkit berdiri.

Kim Thi sia menghindari tatapan matanya yang bening dan jeli itu, lalu menggapai berulang kali kearahnya.

Pelan-pelan gadis cantik itu berjalan mendekat lalu tegurnya: "Ada apa?"

Kim Thi sia enggan melepaskan kesempatan yang baik itu, sambil merendahkan suaranya ia berbisik:

"Aku datang untuk menolongmu"

"Menolong aku?" nona cantik itu kelihatan agak tercengang. "Mengapa kau hendak menolongku?"

Biarpun suaranya merdu merayu, sayang suaranya dingin kaku bagaikan bongkahan salju. Kontan saja semangat Kim Thi sia yang semula berkobar seketika menjadi dingin separuh,

sahutnya selang berapa saat kemudian-"Aku hanya tahu ingin menolongmu."

Mendadak nona yang cantik itu membalikkan badan dan beranjak pergi tanpa memperdulikan dirinya lagi.

Kim Thi sia menjadi sangat gelisah, buru-buru serunya: "Hey, bagaimana sih kamu ini?"

Tiba-tiba ia merasa serunya kelewat keras. Menanti ia sadar akan hal tersebut keadaan sudah terlambat.

Dua sosok bayangan manusia yang berada disudut sebelah Timur tadi telah melaju mendekat dengan kecepatan bagaikan sambaran-"Aduh celaka" pekik Kim Thi sia dihati kecilnya.

Buru-buru ia menyembunyikan diri semakin rapat sementara tangannya maraba gagang pedang Leng gwat asal jejaknya ketahuan maka ia berniat menyerang secepat kilat.

Ketika tiba lebih kurang lima kaki dari tempat persembunyian Kim Thi sia. Kedua sosok bayangan manusia itu segera memisahkan diri dan melakukan pengepungan dari dua arah yang berlawanan-

orang yang berada disisi kiri segera bertanya lirih:

"Bagaimana? Apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

Lelaki yang disebelah kanan segera menyumpah dengan hati mendongkol. "sialan rupanya cuma kucing. huuh. Bikin hati orang berdebar saja"

Rupanya dari atas wuwungan rumah memang kedengaran suara kucing sedang mengeong. Tak heran kedua orang itu segera beranjak pergi sambil menyumpah-nyumpah.

Kim Thi sia harus berterima kasih kepada kucing itu, ia sadar andaikata kucing itu tidak muncul tepat pada waktunya, besar kemungkinan jejaknya akan ketahuan-Tapi rasa tak senang terhadap gadis cantik itupun segera timbul pikirannya:

"Perempuan itu benar-benar tak berperasaan dengan susah payah aku kemari untuk menolongnya. Eeeh....siapa tahu dia tak sudi menerima uluran tanganku. sialan" Dalam mendongkolnya hampir saja ia membalikkan badan tak sudi mengurusi persoalan itu lagi.

Mendadak terdengar nona cantik itu menegur dengan suaranya yang dingin ketus. "Hmmm. bagus amat nasibmu"

Kim Thi sia segera berkerut kening sahutnya cepat:

"Ya a, memang aku sendiri yang mencari penyakit buat diri sendiri Air susu dibalas dengan air tuba"

Habis berkata ia segera beranjak pergi dengan uring-uringan-Tiba-tiba nona cantik itu tertawa dingin dan menjengek kembali:

"Heeeeehhh......heeeehhh.....heeehh kalau berbicara memang enak benar kedengarannya

memangnya kau mampu menolongku?"

Kim Thi sia tertegun lalu mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, segera dijumpainya baik pintu, jendela bangunan maupun atap rumah ternyata terbuat dari besi semua ini berarti sekalipun ia berniat menyelamatkan nona itu belim tentu memiliki kemampuan untuk melakukannya.

"Nah tidak salah bukan perkataanku?" jengek nona itu sinis.

Kim Thi sia amat sakit hati, sifat keras kepalanya kembali membara karena ucapan tersebut sambil menggigit bibir segera gumamnya:

"Hmmm,aku justru akan berusaha menolongmu lihat saja kemampuanku nanti"

Dengan gemas dicengkeramnya terali besi didepan jendela lalu ditariknya dengan sepenuh tenaga.

Tapi begitu dicoba, hawa amarahnya kontan padam, dia mencoba berapa kali lagi. Ternyata semua usahanya tak pernah berhasil. Pada saat itulah terdengar nona cantik itu kembali menjengek: "Wahai pendekar besar, lebih baik berhematlah dengan tenagamu"

Ejekan tersebut kembali mengobarkan api kegusaran didalam dada Kim Thi sia dengan gemas diliriknya nona itu sekejap lalu ujarnya angkuh: "Hmmm, lihat saja hasilnya nanti"

Dengan mempergunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya ia membetot lagi terali besi itu Tapi terali tersebut tetap utuh seperti sedia kala, biarpun peluh telah membasahi seluruh tubuhnya, karena napasnya sudah tersengkal-sengkal seperti kerbau. Namun usahanya tidak memberikan hasil apapun, selama hidup ia memang segan mengaku kalah sekalipun ia sadar bahwa kemauan ada namun tenaga kurang tapi dengan watak keras kepalanya pemuda tersebut tak sudi menelan kegagalannya dengan begitu saja.

Maka ia mulai menggigit bibirnya kencang-kencang sampai berdarah untuk menghimpun seluruh kekuatannya.

selang berapa saat kemudian pakaiannya sudah basah kuyup oleh keringat. Apalagi sewaktu angin malam berhembus lewat, tiba-tiba saja ia merasa agak kedinginan-

Gejala semacam ini belum pernah dialami sebelumnya, akan tetapi ia tidak memikirkan masalah tersebut didalam hati.

sementara itu sinona cantik hanya memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin sekulum senyuman sinis menghiasi ujung bibirnya seakan-akan mentertawakan kebodohan pemuda tersebut. Lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlalu dari situ.

Kim Thi sia beristirahar sebentar, mendadak ia teringat dengan pedang mestika peninggalan leluhurnya pedang leng gwat kiam.

"Dapatkah pedangku itu memotong putus terali besi itu?" ingatan tersebut melintas dalam benaknya. Dengan timbulnya secerca harapan, tanpa terasa melipat gandakan kekuatan tubuhnya.

Buru-buru ia meloloskan pedangnya, agar pedang tersebut tidak menimbulkan cahaya terang yang bisa menarik perhatian pengawal ia melepaskan pakaiannya untuk membungkus senjata tersebut. Kemudian baru pelan-pelan dicabut keluar.

Pedang Leng gwat kiam bentuknya amat panjang, sekalipun sebagian besar telah terbungkus oleh pakaiannya, masih ada sepanjang tiga inci yang muncul dibalik kain, cahaya hijau yang tajam memancar keempat penjuru.

Dalam keadaan begini, terpaksa ia mesti menyembunyikan ujung pedangnya itu dibalik sarung pedang. Lalu cepat-cepat dibabatkan keatas terali besi itu.

Pedang Leng gwat kiam memang sebilah gedang mestika tajam. Diiringi suara lirih terali besi sebesar kepalan itu sudah patah menjadi dua bagian.

Kim Thi sia segera menyambutnya dan pelan-pelan diletakkan diatas tanah.

Sekarang, kepalanya dapat ditongolkan kedalam ruangan tersebut melalui celah terali besi yang sudah berlubang, namun Kim Thi sia tidak berani bertindak gegabah, mengikuti cara semula, lagi- lagi ia memotong terali besi yang kedua.

Tampaknya ulah tersebut menarik perhatian sinona cantik berdandan aneh itu, dengan perasaan ingin tahu ia berjalan mendekat, lalu pikirnya: "Waah, tak nyana kau benar punya akal"

Meski hanya pujian sederhana namun cukup melonggarkan dada Kim Thi sia dari ganjalan hawa amarahnya, dengan perasaan bangga ia melirik sekejap kearahnya.

Tapi lirikan itu lagi-lagi membuat hatinya dingin separuh, ternyata wajah gadis itu tetap dingin tanpa emosi, sama sekali tidak menunjukkan wajah girang karena keberhasilannya memotong terali besi diatas jendela.

Yang lebuh menjengkelkan lagi, biarpun ia memuji, ternyata tatapan mata maupun sikapnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kagum. Masih terdengar ia berkata lagi: "Ehmmm, pedang mestikamu memang amat bagus" Maksud perkataan itu sudah jelas, seolah-olah ia sedang berkata begini:

"Apa yang hebat dengan dirimu? Coba kalau bukan mengandaikan pedangmu yang tajam, tak mungkin kau mampu memotong terali besi didepan jendela tersebut"

Kim Thi sia mendengus dingin, iapun tidak berbicara, sesudah menanggalkan terali-terali besi didepan jendela hingga cukup dilampaui tubuh seseorang ia baru berbisik,

"Hayo cepat keluar"

Gadis cantik itu hanya melirik sekejap kearahnya, ia sama sekali tidak bergerak.

Kim Thi sia merasa panas sekali hatinya dengan kasar ia menyambar pinggang nona itu kemudian menariknya keluar. setelah itu ujarnya dengan rasa mendongkol: "Menyesal aku menolong manusia macam kau. Hmmm sudah ditolong masih tak senang hati" Dengan gemas ia menurunkan tubuh sinona keatas tanah.

Paras muka nona cantik itu tetap kaku tanpa emosi. Katanya dengan suara dingin: "Padahal kau sendiri lagi mencari penyakit buat diri sendiri Lalu siapa yang hendak kau

salahkan? Kau kira aku bisa berbuat apa? Hmmm, asal kalian orang-orang Han berani mengusik

seujung rambutku. Ayahku pasti akan mengirim tentara untuk membasmi seluruh bangsa Han yang ada dinegeri ini"

"Atas dasar apa kau berbuat begitu? Huuuh, apa sih hebatnya dengan bapakmu?" ucap Kim Thi sia tak senang hati.

"Kau berani memaki ayahku? Kau tahu, ayahku adalah kaisar dari negeri Kim" Dari perkataan tersebut, seolah-olah ia hendak berkata begini: "Hati-hati kamu kalau bicara, ayahku adalah raja dari suatu kerajaan, aku tidak akan membiarkan dirimu menghina aku semaunya sendiri"

sayang sekali orang yang dihadapi adalah manusia macam Kim Thi sia . Ia tak pernah mau mengerti raja atau bukan. Ketika mendengar ucapan tersebut, dengan nada tak senang hati segera katanya:

"Apa hebatnya pula dengan seorang raja negeri Kim? Hmm, paling banter hanya seorang raja asing dari negeri kecil. Belum cukup untuk menakuti aku "

Gadis cantik itu benar-benar sangat mendongkol sampai mukanya berubah menjadi hijau membesi dan tangannya terasa amat dingin tiba-tiba ia menampar sambil mengumpat: "Bangsa Han busuk. ayahku pasti akan memotong lidah anjingmu itu "

Kim Thi sia tak mau kalah, dia mencengkeram pula lengannya sambil berteriak keras:

"jika kau berani memakiku lagi, jangan salahkah kalau aku tak berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu"

saking gemasnya tanpa sadar ia mencengkram lengan nona utu dengan penuh tenaga.

Tiba-tiba saja nona cantik itu menjerit kesakitan- butiran air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya tangannya yang lain segera diayun kembali untuk menampar muka pemuda tersebut.

Kim Thi sia segera berkerut kening baru saja ia hendak memberi pelajaran kepada gadis tersebut, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras bergema dari sisinya. "siapa yang berani menculik tawanan kami? Hayo cepat berlutut dan cepat minta ampun"

Empat, lima sosok bayangan manusia meluncur datang secara tiba-tiba dengan kecepatan tinggi.

Melihat usaha pertolongannya tidak mendatangkan hasil, Kim Thi sia segera menyambar gadis itu dan ditariknya untuk diajak melarikan diri......

sebuah dinding pekarangan yang tinggi menghadang jalan perginya dinding tersebut tingginya mencapai berapa kaki, dalam keadaan membawa seseorang tentu saja Kim Thi sia tak mampu untuk melampauinya.

Ia mencoba untuk berpaling kebelakang tampak olehnya keempat lima orang pengejarnya. makin lama sudah makin mendekat kini jaraknya tinggal sepuluh kaki.

orang bilang: Anjing yang terdesak akan melompati pagar, begitu pula keadaan Kim Thi sia saat ini, tanpa memperhitungkan lagi kemampuan yang dimilikinya, dengan mengikuti teori ilmu meringankan tubuh It tok wi kang ajaran ciang sianseng, ia segera menghimpun tenaganya sambil melompat keatas.

Entah darima na datangnya kekuatan ternyata lompatannya itu berhasil menyeberangkan mereka berdua dari pagar pekarangan tersebut tapi sayang ia tak mampu menguasai diri sewaktu tubuhnya meluncur kebawah.

Takut kalau melukai nona cantik yang dinilai bertubuh lemah itu, buru-buru ia mengguling kesamping. "B luuuuuukkkk. "

Akibatnya bibirnya membentur tanah sampai pecah dan berdarah, sedangkan gadis cantik itu hanya sedikit kaget dan sama sekali tidak menderita cedera apapun.

Tak sempat lagi membersihkan debu yang melekat ditubuhnya dengan sekuat tenaga ia tarik gadis itu untuk diajak melarikan diri.

Tampaknya nona cantik itu belum pernah merasakan penderitaan sehebat itu, sambil berlarian ia mengomel tiada hentinya.

"Huuuh, kalau sudah tahu tak berkepandaian, seharusnya kau tak perlu repot-repot menolongku. Coba lihat sekarang, aku jadi sangat menderita akibat ulahnya. betul-betul

gentong nasi yang tak berguna" Dalam keadaan begini, Kim Thi sia tidak punya kesempatan untuk cekcok dengannya. sambil mendengus, ia telan semua rasa mendongkolnya kedalam perut.

sementara itu keempat, lima sosok bayangan hitam itu masih melakukan pengejaran sambil berteriak:

"Hey sobat, pentang matamu lebar-lebar kita semua sama-sama orang persilatan apalah gunanya mesti bermusuhan yang tak ada gunanya? Kalau ingin berdamai, hentikan langkahmu, bukan saja kami tak akan menarik panjang peristiwa ini. Malah akan kami traktir saudara untuk makan sekenyangnya."

Kim Thi sia tak mau bersuara, ia lari terus dengan sekuat tenaga... suara bentakan dari belakang tubuhnya kembali berkumandang.

"sobat, arak kehormatan ditolak kau malah memilih arak hukuman. HHmmm, jika kau benar- benar tak tahu diri, jangan salahkan kalau kami akan bertindak keji."

sebagaimana diketahui, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Kim Thi sia tidak hebat apalagi ia mesti mengempit seseorang oleh sebab itu secara lambat laun jejaknya berhasil tersusul oleh lawan-Tentu saja ia gelisah sekali pikirnya:

"Waaah, kalau keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung terus. akhirnya aku pasti akan terkejar lawan, atau kalau tidak terkejarpun, aku bakal mati kehabisan tenaga."

Berpikir sampai disini, ia mencoba untuk memeprhatikan sekejap keadaan disekeliling sana, diantara tanah perbukitan yang membentang didepan mata, disudut selatan sana terdapat sebuah gundukkan tanah bukit kecil. satu ingatan segera melintas didalam benaknya, pikirnya:

"Mengapa tidak kusembunyikan dulu gadis tersebut, kemudian baru berusaha untuk memukul mundur musuh?"

Begitu keputusan diambil, semangat dan tenaganyapun ikut berlipat ganda. Dengan menelusuri jalan setapak yang kian lama kian menanjak tinggi, akhirnya pemuda itu berhasil menemukan sebuah batu cadas besar ditengah rimbunnya pepohonan, tempat tersebut memang rapat sekali letaknya.

Dengan langkah cepat ia berlalu menunjuk kesana dan menurunkan gadis cantik itu disana, lalu bisiknya:

"Bersembunyilah disini dan jangan bergerak, biar kupukul mundur musuh-musuh yang datang mengejar"

selesai berkata iapun membalikkan badan menyongsong kedatangan keempat lima orang manusia berbaju hitam itu.

Begitu kedua belah pihak saling bertemu tanpa mengucapkan sepatah katapun Kim Thi sia langsung melepaskan dua buah pukulan berantai.

Dengan suatu gerakan cepat keempat lima orang lelaki berbaju hitam itu menyebarkan diri keempat penjuru, kemudian mengurung Kim Thi sia rapat-rapat.

Dalam waktu singkat empat gulungan angin yang amat dahsyat telah meluncur kemuka membuat Kim Thi sia harus melompat mundur sejauh satu kaki dari posisi semula.

Melihat itu kelima orang lelaki berbaju hitam tersebut segera mengejek sambil tertawa dingin- "Heeeehh.....heeeh......heeeeh dengan kepandaian serendah itupun kau berani mencari

gara-gara. Hmmm kau memang benar-benar manusia yang tak tahu diri"

sementara berbicara, kembali terasa empat gulungan angin pukulan yang amat dahsyat menyapu kemuka.

Kim Thi sia sama sekali tak berbicara diam-diam ia kerahkan ilmu Ciat khi mi khi untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. Akibatnya meskipun ia sempat terhantam hingga tergetar mundur, namun tidak sampai menderita kerugian apa-apa, malah sistim yang dianutnya adalah sistim pertarungan keras lawan keras.

Kelima orang lelaki itu saling berpandangan sekejap. kemudian tertawa dingin tiada hentinya, lagi-lagi serangan yang amat dahsyat dilontarkan kedepan.

Kim Thi sia segera terhajar sampaijumpalitan diatas tanah, tapi dalam waktu singkat ia telah melompat bangun kembali. Kali ini ia mengincar salah satu lawannya kemudian melepaskan serangan balasan.

Dengan sigap lelaki berbaju hitam itu menyambut datangnya ancaman dengan keras melawan keras.... "Duuuuuuukkkk. "

Ditengah benturan keras kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur sejauh satu langkah lebih.

Diiringi suara caci maki yang keras sekali lagi kelima orang itu melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Mendadak salah seorang diantaranya berseru keras:

"Hey coba lihat, rupanya ia belum pergi dari sini cepat hadang orang ini, biar aku yang membekuknya kembali. "

Ditengah kerepotan Kim Thi sia menyempatkan diri untuk berpaling, tapi apa yang kemudian terlihat kontan saja membuat paras mukanya berubah hebat....

Ternyata gadis aneh itu tidak menuruti nasehatnya ia sedang duduk bersandar diatas batu sambil menikmati keindahan bulan-

Tatkala angin malam berhembus lewat dan mengincarkan ujung babunya, gadis itu kelihatan begitu cantik anggun bak bidadari dari khayangan-

Tanpa terasa keempat orang lelaki berbaju hitam itu sama-sama menghentikan serangan mereka serta mengawasi gadis tersebut dengan terkesima......

Kim Thi sia sendiripun dibuat tertegun pikirnya tanpa terasa:

"Tak nyana gadis ini begitu keras kepala dan enggan menuruti nasehatku. Huuuh gara-gara niatnya semua usahaku selama inijadi sia-sia belaka"

Pancaran sinar kecantikan dan keanggunan gadis tersebut bukan saja tidak menimbulkan daya tarik baginya, malahan ia merasa begitu muak serta sebal.

Digertaknya bibirnya keras-keras menahan rasa mendongkol serta gejolak emosinya biarpun ia jarang membenci orang lain tapi sekarang rasa bencinya terhadap gadis tersebut serasa merasuk ketulang sum sum.

sementara itu lelaki berbaju hitam tadi telah meneruskan terjangannya kedepan sesudah berhenti sejenak.... Tiba-tiba......

Semua rasa benci yang menggelora didalam dada Kim Thi sia seperti telah berubah menjadi segumpal kekuatan sambil membentak keras ia melompat kedepan menghadang jalan pergi lelaki berbaju hitam itu, kemudian melepaskan sebuah pukulan kearahnya.

Lelaki berbaju hitam itu sangat gusar disambutnya ancaman itu dengan kedua belah tangannya.......

"Blaaaaaaaammm "

Benturan yang keras membuat pasir dan debu beterbangan keangkasa. orang itu tergetar mundur sejauh lima langkah dengan wajah pucat pias seperti mayat, darah segar menyembur keluar dari bibirnya. Pelan-pelan dia mengangkat kepalanya dan menatap pemuda itu dengan pandangan penuh kebencian tapi Kim Thi sia pun ikut terpental sejauh satu kaki lebih hingga jatuh terduduk diatas tanah.

Melihat itu dia tertawa seram kembali tangannya diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan.

Walaupun isi perutnya telah menderita luka yang cukup parah, namun rasa benci dan dendam membuatnya melupakan segala ancaman bahaya yang mungkin akan menimpa dirinya.

Dalam keadaan begini dia hanya tahu berusaha untuk membunuh orang tersebut, bahkan kalau bisa hendak membinasakan orang itu diujung tangannya sendiri

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dilancarkan dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya itu. Belum lagi angin pukulannya menyambar datang, pasir dan debu telah beterbangan menyelimuti seluruh angkasa.

Tiba-tiba Kim Thi sia melompat bangun ditengah gelak tertawa yang amat keras dia bukannya mundur malah sebaliknya menerjang maju kemuka.

Akibatnya dari perbuatannya itu, keempat jago lainnya yang berada disisi arena menjadi terkesiap sekali. "Blaaaaam. "

sekali lagi terjadi bentrokan kekerasan yang memekikkan telinga, akibat dari bentrokan ini lelaki berbaju hitam itu terpental sejauh tiga langkah dari posisi semula dan jatuh terduduk diatas tanah, untuk beberapa saat dia tak mampu merangkak bangun kembali.

sebaliknya Kim Thi sia terpental lebih jauh lagi hingga punggungnya menubruk diatas batang pohon-"Duuukk. "

Biarpun benturan itu sangat keras sampai daun dan ranting berguguran, malahan sambil tertawa terbahak-bahak selangkah demi selangkah dia mendesak maju kemuka.

Ditinjau dari suara ketawanya yang amat nyaring dapat diketahui bahwa isi perutnya sama sekali tidak terluka.

Berubah hebat paras muka keempat orang itu, mendadak mereka seperti teringat akan seseorang, segera teriaknya tertahan-"spbat, apakah kau bernama Kim Thi sia?"

Kim Thi sia tertawa terbahak-bahak. "Haaah....haaaaah.....haaaaah tepat, aku memang

bernama Kim Thi sia nah sobat mari kita teruskan pertarungan ini"

Agaknya keempat orang itu sudah dibuat keder oleh nama besarnya tanpa terasa orang-orang itu mundur selangkah kebelakang.

Pada saat itulah tiba-tiba terlihat berkelebatnya tujuh, delapan sosok bayangan manusia dari kejauhan sana. Begitu tiba diarena terdengar seseorang diantaranya membentak keras.

"Apa sih yang ditakuti dari Kim Thi sia?"

"Haaaah......haaaah.......haaaah bagus bagus sekali" seru Kim Thi sia sambil tertawa keras,

"semakin banyak orang datang semakin baik mumpung tanganku sudah gatal karena sudah lama tak bertarung."

Akan tetapi begitu terjadi bentrokan Kim This ia segera merasakan datangnya tenaga tekanan yang berat sekali menghimpit dadanya, ia tak sanggup menahan diri lebih lanjut tak ampun tubuhnya mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula. Pelan-pelan ia merangkak bangun, diawasinya keadaan disekitar sana dengan seksama.

Dibawah sinar rembulan yang redup tampak seorang lelaki kasar bertubuh tegap beralis tebal, mata besar dengan hawa penuh kebengisan telah berdiri tegap dihadapannya.

Karena tidak melihat kehadiran sipedang kayu diantara mereka, pemuda itu merasa agak lega, katanya sambil tertawa tergelak. "Haaaah.....haaaah.....haaaah dengan senang hati kusambut kedatangan kalian semua,

bagiku makin lihay ilmu silat yang kalian miliki semakin berarti pula bagiku."

Lelaki kekar tadi berusia lima puluh tahunan sambil tertawa dingin perintahnya kepada keempat orang yang pertama tadi.

"Cepat urusi perempuan itu, urusan disini serahkan saja penyelesaiannya kepadaku." Keempat orang itu mengiakan dan segera beranjak pergi dari sana.

"Hey, tidak semudah itu kalian dapat pergi dari sini" bentak Kim Thi sia tiba-tiba.

Dengan suatu gerakan cepat ia meluncur kedepan dan menghadang jalan pergi keempat orang tersebut, dalam repotnya ia masih sempat melirik sekejap gadis aneh tadi. Dengan cepat diketahuinya kalau gadis itu sedang memperhatikan tindak tanduknya.

Pemuda itu jadi kegirangan untuk mendemontrasikan kebolehannya didepan gadis tersebut, maka tidak menunggu keempat orang itu sampai bertindak melakukan sesuatu ia telah melancarkan serangan terlebih dahulu dengan menggunakan jurus "Tangguh terus sampai mati" dan "mengobrak abrik seluruh jagad" dari ilmu panca Buddha.

Dalam waktu singkat seluruh angkasa telah dilapisi oleh bayangan mangan yang bersusun- susun, angin pukulan serasa menderu- deru dan amat memekikkan telinga.

selama hidup belum pernah keempat orang itu menjumpai ilmu pukulan yang sedemikian anehnya, tanpa terasa mereka jadi tertegun dibuatnya.

Menunggu sampai mereka menyadari akan gelagat yang tidak menguntungkan, keadaan sudah terlambat sekali. "Duuuk duuuk duuuk"

Tahu-tahu setiap orang sudah termakan oleh sebuah pukulannya hingga mencelat mundur kebelakang.

Berhasil dengan serangannya, Kim Thi sia merasakan semangatnya berkobar. Tidak menunggu sampai keempat orang lawannya sempat mengambil sesuatu tindakan, kembali ia melancarkan serangkaian pukulan dengan jurus jurus. "Awan hilang kabut membuyar" dan "rembulan hilang bintang penuh."

Ditengah deruan angin pukulan yang menggila, suara jeritan kaget terdengar bergema suara silih berganti, belum sempat keempat orang itu mengedipkan matanya tahu-tahu saja tubuh mereka kena digebuk sampai dadanya terasa sesak dan pandangan matanya berkunang-kunang .

Mendadak kakek bercabang menjadi pimpinan rombongan itu membentak keras, telapak tangannya diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan yang aman dahsyat. Kim Thi sia tak sanggup menahan diri, badannya terhajar hingga terjungkal ditanah.

Agaknya gadis berdandan aneh itu tak tega menyaksikan adegan tersebut, buru-buru ia palingkan mukanya kearah lain-

Kim Thi sia tertawa keras, lagi-lagi dia melompat bangun dari atas tanah.

"Hmmm, bocah keparat she Kim apa artinya gagah-gagahan dengan mengandalkan ilmu sesat macam begitu?" jengek kakek bercabang itu sambil mengernyitkan alis matanya. "Coba rasakan dulu kehebatan ilmu pukulan beracun seratus tulangku ini." seraya berkata ia melepaskan sebuah pukulan berhawa dingin kedepan-

Kim Thi sia sama sekali tak gentar dia sambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan, namun aneh sekali. Ternyata dia tidak merasakan adanya tenaga pukulan dibalik serangan tersebut.

sekalipun demikian disaat angin dingin tersebut berhembus lewat dari sisi badannya tahu-tahu saja ia merasa sangat kedinginan sehingga tak kuasa badannya gemetar keras. Sewaktu masih berada dibukit yang terpencil dahulu ayahnya sering bercerita tentang keganasan dari pelbagai ilmu pukulan beracun yang konon bisa menyerang orang tanpa menimbulkan sedikit suarapun, bahkan orang yang terserangpun tidak merasakan apa-apa.

sebagai seorang pemuda yang cerdik dan teliti, sadarlah ia kalau tubuhnya sudah terkena pukulan beracun seratus tulang dari orang tersebut.

sambil membentak keras penuh amarah ia segera menerjang maju kedepan dengan hebatnya.

Kakek bercabang itu segera tertawa dingin:

"Heeeeh.....heeeeh......heeeeh she Kim kau sudah terkena pukulan beracun seratus

tulangku bila nasibmu agak baik, maka kau masih mempunyai berapa kesempatan untuk hidup terus tapi dengan perbuatanmu sekarang. Hmmm. sama artinya dengan mencari jalan kematian

buat diri sendiri"

Peluh dingin membasahi seluruh wajah Kim Thi sia, pikirnya kemudian-

" omong kosong, jarum yang beracun Hon ko ciam dari keluarga Tong yang dibilang paling top pun tak mampu menewaskan aku masa ilmu pukulan beracun seratus tulang yang sama sekali tak terkenal ini bisa mencabut nyawaku"

Akan tetapi disaat dia mencoba untuk mengatur pernapasan, terasa olehnya segulung hawa dingin yang merasuk tulang menyebar dalam tubuhnya, begitu dinginnya seperti didalam gudang es sehingga tubuhnya menggigil keras.

"Habis sudah riwayatku kali ini" pekiknya dalam hati. Dengan perasaan dendam yang meluap ia segera mengawasi musuh besarnya tanpa berkedip kemudian teriak keras-keras. "Andaikata aku tak dapat hidup jangan harap kaupun bisa hidup terus didunia ini."

Ketika angin berhembus lewat, hawa dingin yang telah merasuk kedalam tubuhnya itu segera menimbulkan rasa kesakitan yang hampir saja tak tertahan olehnya.

Tiba-tiba pandangan matanya menyentuh wajah sinona yang cantik itu, ia tahu bila dirinya memperlihatkan kelemahan lagi dihadapannya niscaya gadis tersebut tentu akan memperolok-olok dirinya.

Biar kematian telah diambang pintu, namun watak keras kepalanya sama sekali tidak berkurang. sekuat tenaga dia menghimpun kedua jenis tenaga murni dan berusaha mendesak keluar hawa racun dari peredaran darahnya.

Himpunan dua jenis hawa murni yang berlainan jenis membuat anak muda itu menderita siksaan yang sangat hebat. Mendadak ia membentak keras lalu setelah mencabut keluar pedang Leng gwat kiam, ia lancarkan sebuah bacokan kemuka.

Pantulan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata membias dan dengan mata semua orang, sehingga tak mampu membuka matanya kembali.

Kakek bercabang itu sangat terkejut, cepat-cepat ia melompat mundur untuk menghindarkan diri.

Pedang Leng gwat kiam panjang lagi tajam, sewaktu diputar kencang maka wilayah seluas sekaki diselimuti cahaya tajam yang sangat menyilaukan mata. Terlintas setitik cahaya aneh dibalik mata nona aneh tersebut, tiba-tiba ia bergumam:

"Ooooh, betapa bahagianya hatiku bila pedang mestika itu jadi milikku. Andaikata tempat ini merupakan negeri Kim, ayah baginda tentu akan memintanya untuk diserahkan kepadaku "

Sementara itu Kim Thi sia dengan mengandalkan pedang Leng gwat kiam telah memainkan ilmu pedang panca Buddha yang maha dahsyat. ibarat harimau tumbuh sayap. kawanan jago tersebut dibuat kacau balau tak karuan sehingga tak seorangpun yang berani mendekatinya.

Mendadak terdengar dua kali jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan rupanya ada dua orang lelaki berbaju hitam yang terlambat menghindarkan diri, seketika itu juga kepalanya berpisah dengan badan, darah segar segera menyembur kemana-mana. "Aaaah. " gadis yang

cantik itu menjerit karena ngeri. Kemudian menutup

--------------------Halaman selanjutnya tidak terbaca----------