Lembah Nirmala Jilid 10

 
Jilid 10

Ciang sianseng segera menghela napas panjang.

"Aaaaaai sungguh tak disangka gara-gara urusan pribadiku, Pian pocu kalian harus mengorbankan jiwanya secara percuma peristiwa ini sungguh membuat hatiku tak tentram." Buru- buru Kim Thi sia bertanya:

"Bolehkah aku bertanya kepada kalian, siapakah yang telah menyerahkan kotak mestika Hong toh tersebut kepada Pian pocu kalian untuk diserahkan kepada ciang sianseng." Kelima orang itu mengira pemuda kita adalah sanak atau mungkin murid ciang sianseng.

Mendengar pertanyaan tersebut, mereka segera menjawab dengan sejujurnya:

"Dia adalah seorang jago kenamaan dari Kanglam. Pek kut sinkun (Malaikat sakti tulang putih) "

Setelah mengetahui bahwa Pek kut sinkun adalah seorang yang mengirim kotak mestika Hong toh Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan, secara diam-diam diapun menyusun rencana untuk membalaskan dendam bagi kematian Nyoo lo enghiong. Kembali dia bertanya:

"Hebatkah ilmu silat yang dimiliki Pek kut sinkun itu?" Kelima orang itu segera tertawa. "Berbicara dari wilayah Kanglam, Pek kut sinkun termasuk manusia nomor satu yang paling

disegani orang."

Sampai disini, mereka berlimapun segera berlutut didepan kuburan Pian pocu mereka dan berdoa dengan nada serius.

beristirahatlah Pian pocu dengan tenang selama Kian an ngo hiong masih hidup, dendam sakit hati kau orang tua pasti akan kami tuntut balas." Dengan nada penuh kebencian Kim Thi sia segera berseru:

"Aku yakin, manusia berkerudung itu tak lain adalah iblis jahat yang berhati culas dan pembunuh jago-jago muda belakangan ini, bagaimana menurut pendapatmu empek?"

Ciang sianseng termenung sejenak kemudian sahutnya:

"Akupun mendengar kalau belakangan ini telah terjadi serentetan pembunuhan keji terhadap sekawan jago muda yang baru menonjol namanya. Kalau dilihat kemampuan orang ini yang bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak rasanya peristiwa ini memang amat mencurigakan selama ini akupun telah melakukan penyelidikan secara diam-diam namun tiada sesuatu hasil yang kuperoleh padahal hanya berapa orang saja jago persilatan didaratan Tionggoan dewasa ini yang memiliki kepandaian silat sehebat ini."

" Ciang sianseng bersediakah kau untuk menyebutkan nama-nama dari para tokoh persilatan itu?"

" Kemungkinan besar simalaikat pedang berbaju perlente memiliki kepandaian tersebut, namun sudah lama ia lenyap dari keramaian dunia persilatan, bahkan menurut kabar yang tersiar, ia telah meninggal dunia. selain itu terdapat dua orang pendeta agung dari siau lim si yang usianya telah mencapai seratus tahun lebih, namun kedua orang ini adalah pendeta saleh yang hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia serta dari semua napas dan angkara murka. Mustahil mereka melakukan perbuatan sekejam ini."

"Ketua Tiang pek pay adalah seorang jagoan yang berada dalam posisi setengah lurus setengah sesat, meski dia hidup jauh dibukit Tiang pek san, namun dimasa mudanya dulu pernah melakukan serangkaian pembantaian secara besar-besaran. orang ini paling mencurigakan. sepuluh tahun berselang aku pernah bertemu dengannya, tapi aku dengar ia telah menutup diri untuk melatih semacam ilmu khikang yang maha dahsyat." Tergerak perasaan Kim Thi sia sesudah mendengar perkataan itu, segera ujarnya:

"Ciang sianseng, pasti dia, bukankah pihak Tiang pek pay mempunyai serangkaian sejarah yang penuh dengan ceceran darah. Kemungkinan besar ilmu khikang tingginya telah berhasil dipelajari sehingga dia bisa membunuh orang tanpa meninggalkan jejak" Kemudian seperti teringat akan sesuatu, dia bertanya lagi:

"Ciang sianseng, bagaimana sih bentuk badan ketua dari Tiang pek pay ini? apakah. "

"Dia berperawakan tinggi besar, kekar berbahu lebar, pinggang besar dan bermuka merah, mudah sekali untuk mengenalnya." "Yaa, betul. Kalau begitu pasti dla^ teriak Kim Thi sia keras-keras. " orang yang membunuh Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan tadi memang berperawakan tubuh seperti ini. Aku telah memperhatikannya dengan seksama."

Kianan ngo hiong (lima orang gagah dari Kianan) segera manggut-manggut. Katanya kemudian sembari menjura.

"setelah pianpacu kami mengalami musibah dan tewas ditangan penjahat.Boanpwee sekalian bersumpah pasti akan mencari pembunuh tersebut sampai ketemu, agar arwah dia orang tua bisa beristirahat dengan tenteram dialam baka." Ciang sianseng segera tertawa.

"Tapi kalian mesti berhati-hati manusia berkerudung ini sanggup mencelakai jiwa pianpacu kalian. Berarti ilmu silat yang dimilikinya hebat sekali, kalian tak boleh bertindak kelewat gegabah sehingga dipecundangi orang."

Kemudian ia merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol porselen kecil serta mengambil lima butir pil sebesar buah kelengkeng, sembari diserahkan kepada lima orang gagah tersebut katanya lagi sambil tertawa.

"Beberapa butir pil ini adalah bikinanku sendiri sekalipun tidak memiliki daya kasiat untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati, namun dapat memupuk tenaga dan merupakan obat mestika untuk meningkatkan tenaga dalam yang dimiliki seorang pesilat, terimalah pil tersebut siapa tahu akan bermanfaat bagi kalian semua."

Kian an ngo hiong saling berpandangan sekejap. tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut seraya berseru:

"Nama harum cianpwee termashur diseantero jagad, selama inipun sudah banyak melepaskan budi hitung-hitung boanpwee sekalian telah menambah pengetahuan kami tentang keluhuran budi cianpwee budi tersebut pasti akan kami balas dikemudian hari, dan sekarang boanpwee sekalian mohon diri lebih dulu."

sesudha memberi hormat tergesa-gesa mereka beranjak pergi meninggalkan tempat itu. selanjutnya tanpa ragu-ragu Ciang sianseng mewariskan pula teori rahasia dari ilmu meringankan tubuh It wi to koang kepada Kim Thi sia.

Dengan seksama pemuda itu menghapalkan dalam benaknya saja, rasa terima kasihnya kepada Ciang sianseng semakin berlipat ganda, katanya kemudian:

" Ciang sianseng, aku dengan setiap orang yang bertemu denganmu, baik dia berasal dari kedudukan rendah atapun terhormat. Berilmu silat tangguh atau lemah, semuanya pernah peroleh kebaikan darimu, benarkah demikian?" ciang sianseng segera tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah.....haaaaah terhitung seberapakah pemberianku itu? aku memang senang

berbuat begini, sebab dengan banyak melakukan amal kebajikan, hidupku pasti akan panjang usia. Haaaah.....haaaah. sobat cilik tak usah kau pikirkan persoalan itu didalam hati."

Kemudian sesudah berhenti sejenak. dia berkata kembali:

"sobat kecil, bila dikemudian hari kau menemukan kotak mestika tersebut tolong hantarkan, aku akan mewariskan semua ilmu pukulan yang kupahami kepadamu. Haaaah......haaaah. aku

pergi dulu. Tak ada salahnya kau mencari berita secara baik-baik. "

selesai berkata ia segera beranjak pergi dengan langkah lebar. Hampir saja Kim Thi sia mempersembahkan keluar kotak Hong toh yang disimpan dalam sakunya, tapi ingatan lalu segera melintas dalam benaknya.

"Benda ini milik Nyoo lo eng hiong, sekaipun beliau telah tewas namun orang yang berhak untuk memperoleh kembali benda tersebut adalah Nyoo Jin Hui, aku tak boleh menyerahkan kepada Ciang sianseng dengan begitu saja." Karena diapun segera mengurungkan niatnya. Dengan duduk bersandar diatas dahan pohon, ia mulai memejamkan mata dan mengulang kembali teori rahasia ilmu meringankan badan yang baru saja diperolehnya.

Kemudian diapun mulai membayangkan kembali semua pengalaman yang dialaminya selama ini. ^

Dalam semalaman saja, secara berurutan dia telah berhasil menjumpai tokoh-tokoh silat yang berilmu tinggi dan susah dijumpai dihari-hari biasa. Kesemuanya ini mendatangkan perasaan bangga dalam hati kecilnya.

Terutama sekali atas perjumpaannya dengan ciang sianseng dimana ia telah diwarisi ilmu meringankan tubuh It wi to kiang. Kesemuanya itu membuat dia menjadi gembira dan semangatnya terasa berkobar-kobar.

Teringat akan kekejaman serta kebuasan hati manusia berkerudung hitam itu, timbul kembali perasaan geram dan bencinya, diam-diam ia bersumpah:

"Kalau aku berhasil menjumpainya lagi dikemudian hari. Hmmm, pasti tak akan kulepaskan dirinya dengan begitu saja"

Dia teringat pula dengan Yu Kien si nona berbaju hitam beserta adiknya, mungkinkah mereka akan mengambil keputusan pendek lantaran tubuhnya terkena jarum racun mulut harimau?

Bagaimana pula dengan nasib Nyoo Jin Hui yang meninggalkan rumahnya untuk mencari musuh besarnya? Dia merasa kuatir sekali atas keselamatan jiwa dari saudara angkatnya itu.

Matahari baru menyingsing ketika pemuda tersebut mulai mencoba ilmu meringankan tubuh It wi to kiang yang baru dipelajari sesuai dengan pelajaran ciang sianseng semalam.

Apa yang kemudian terjadi sungguh mengejutkan hatinya ternyata dalam sekali lompatan ia telah berada dua kaki tingginya dari permukaan tanah.

Kenyataan tersebut bukan saja amat menggirangkan hatinya, diam-diam diapun memuji akan kehebatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ciang sianoeng, tapi ketika tubuhnya meluncur kebawah, Ternyata apa yang terjadi tidak sesuai dengan teorinya. Tak ampun lagi tubuhnya segera jatuh terjerembab diatas tanah.

"Jangan-jangan ciang sianseng hanya bernama kosong?" Kim Thi sia mulai mencurigai kemampuan ciang sianseng sebab dalam kenyataannya kehebatan ilmu meringankan tubuh It wi to kiang tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan semula. Tapi secara tiba-tiba ia teringat kembali dengan kemampuan Ciang sianseng dimana dalam sekali kelebatan saja tubuhnya sudah melintas lewat saringan burung, satu ingatan lain segera berkelebat kembali didalam benaknya:

"Jangan-jangan hal ini disebabkan tenaga dalamku tidak sempurna. Ya siapa pula yang mesti kukalahkan?" setelah keluar dari hutan brangkatlah pemuda itu menuju kekota. setelah dalam semalaman dia berhasil menjumpai beberapa orang tokoh persilatan, kini pengetahuan dan pengalamannya telah peroleh banyak kemajuan.

Baru saja dia masuk kota dan bersiap-siap akan mencari sebuah rumah makan, mendadak terdengar suara cambuk yang nyaring diiringi bertakan keras berkumandang datang dengan cepat dia memburu kearah mana berasalnya suara tersebut. Ternyata dari balik sebuah jalan raya telah berjalan mendekat sebuah kereta kencana yang dihela empat kuda.

Kereta tersebut terbuat dari perak dengan kain tirai berwarna merah, empat ekor kuda peng helanya bertubuh tegap dan berwarna putih bersih, suatu perpaduan warna yang indah sekali.

Disisi kereta tampak dua baris lelaki kekar mengawal kereta tersebut secara ketat. semuanya berdandan buan dan membawa cambuk kulit.

Ayunan cambuk kian kemari segera menimbulkan suara jeritan mengaduh dari para penduduk yang kebetulan tak keburu menyingkir, sebaliknya orang yang berada dalam kereta itu sama sekali tidak menyingkap kain tirainya, seakan-akan kejadian seperti ini sudah lumrah baginya. Baru saja Kim Thi sia bergerak maju kedepan mendadak terdengar suara desingan angin tajam menyambar datang dari belakang.

Buru-buru dia menghindar kesamping, siapa tahu gerakan tersebut masih terlambat juga, tak ampun lagi.........

"Taaaaaaarrrr. "

Bahunya kena dicambuk keras-keras sehingga mendatangkan rasa sakit yang luar biasa. Tampak seorang lelaki bengis bercodet melotot penuh amarah kearahnya sembari mengumpat: "Anjing kecil, ayoh minggir"

"Sialan orang ini" pikir Kim Thi sia segera. "Mana aku disebutnya anjing kecil? Hmmm aku sengaja tak mau menyingkir, mau apakahmu ?"

Melihat pemuda itu tak mau menyingkir, lelaki bengis itu semakin berang dengan pandangan mata memancarkan sinar buas. sekali lagi dia mengayunkan cambuknya untuk menghajar.

Kim Thi sia menjadi semakin berang, tanpa menghindar dia mengayunkan telapak tangannya sambil melancarkan sebuah bacokan kilat kedepan. Ayunan cambuk dan serangan tangan mengenai sasaran tepat pada saat yang bersamaan.

Baju dibagian bahu Kim Thi sia segera tercambuk sampai robek sebaliknya lelaki itu tak mengira akan dipukul. Tubuhnya tak ampun mencelat sejauh berapa kaki dari posisi semula.

Dengan suara keras Kim Thi sia segera berseru:

"Kalau aku sengaja akan melihat isi kereta tersebut mau apa kamu. "

Dia memburu maju kemuka kemudian membuka tirai kereta tersebut secara tiba-tiba.

Ternyata isi kereta itu adalah seorang nona yang berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Kim Thi sia menjadi tertegun, satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya: "Aaaai, tidak kusangka dalam dunia ini terdapat seorang nona yang begini cantik."

Belum sempat pemuda itu memperhatikan lebih jauh dari sekeliling arena telah bermunculan berapa orang lelaki kekar yang secara bengis dan kasar mengayunkan cambuknya menghajar diatas tubuhnya.

Dengan penuh kegusaran Kim Thi sia segera membentak keras: "Rupanya kalian ingin mampus semua"

Sepasang telapak tangannya segera didorong berulang kali, diiringi serangkaian jeritan kaget.

Kawanan lelaki yang mengerubut itu roboh bergelimpangan keatas tanah.

setelah berulang kali terjadi pertarungan selama beberapa hari ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan yang pesat sudah barang tentu kawanan lelaki kekar itu bukan tandingannya .

Tatkala Kim Thi sia membuka tirai kereta tersebut untuk kedua kalinya ternyata gadis cantik bak bidadari dari khayangan itu masih juga tidak memandang sekejappun kearahnya, nona kelihatan berkerut kening entah apa yang sedang dipikirkan.

Dengan cepat Kim Thi sia menemukan kalau dandanan nona itu sangat aneh. Gaun panjangnya yang terdiri dari tujuh warna diberi garis benang dari emas hitam rambutnya disanggul tinggi dan diikat dengan kain panjang berwarna hitam, diatas kain tersebut bersulamkan seekor burung hong yang nampak sangat hidup. sementara disisi kain merah itu terdapat dua buah gelang kecil terbuat dari emas yang mengikat rambutnya kencang-kencang.

"Aneh betul dandanan perempuan ini" pemuda tersebut segera berpikir dengan keheranan. "Rasanya tidak mirip dengan dandadan dari Nyoo soat hong maupun Yu Kien." Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, kembali terlihat ada empat lima orang lelaki kekar yang menyerbu kemuka diiringi suara bentakan keras.

sambil berkerut kening Kim Thi sia segera meloloskan pedang Leng gwat kiamnya, kemudian menghardik:

"Jika kalian masih saja tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan membunuh orang."

Pedang Leng gwat kiam adalah pedang yang tajam sekali, begitu diloloskan dari sarungnya segera terbias selapis cahaya hijau yang amat menyilaukan mata.

Keempat lima orang lelaki kekar itu segera merasakan matanya menjadi silau, dengan perasaan kaget buru-buru mereka mengundurkan diri kebelakang. Memanfaatkan kesempatan inilah Kim Thi sia melirik kembali kedalam kereta.

Nona itu memang sangat cantik, hidungnya mancung dengan bibir yang kecil mungil, mukanya bulat telur dan kulitnya putih halus. Dibalik gaunnya yang panjang, lamat-lamat terlihat bentuk tubuhnya yang mungil dan montok.

sekalipun Kim Thi sia belum mengerti secara pasti soal cinta muda mudi, namun setelah melihat kecantikan nona tersebut, ia merasa pikiran dan perasaannya menjadi kalut, bimbang dan aneh sekali.

secara beruntun tubuhnya terasa sakit sekali, ia tahu rasa sakit itu merupakan hasil karya dari kawanan lelaki bengis itu, namun dia tak ambil perduli. sambil menggertak gigi menahan rasa sakit, dia manfaatkan kesempatan yang ada untuk mengawasi wajah nona itu.

Tiba-tiba gadis yang cantik itu berpaling dan memandang sekejap kearahnya. Matanya yang besar dan dingin sama sekali tidak nampak kaget atau takut karena tatapan tersebut, malah sekejap kemudian ia telah melengos kearah lain.

Paras mukanya yang cantik itu selalu nampak dingin dan hambar, rasanya tidak gampang untuk menebak jalan pemikirannya lewat perubahan mimik wajahnya itu.

Perasaan aneh yang datangnya dengan tiba-tiba dalam hati Kim Thi sia. Dengan cepat dapat menjadi tenang kembali. Dia jadi teringat pula dengan kata-kata tempo dulu. "Aku tak lebih hanya seorang jago pedang yang rutin, Empat penjuru tiada sanak keluarga akupun tak akan rindu kepada siapapun, karena aku cuma seorang lelaki yang tidak disenangi orang"

Mendadak pemuda itu berpikir lagi:

"Yaa benar kenapa aku menaruh perasaan simpati kepadanya"

Mendadak dia menyarungkan kembali pedangnya kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Keempat lima orang lelaki kekar itu tak seorangpun berani menghalangijalan perginya. Mereka hanya mengumpat dari kejauhan:

"Hey anjing cilik, kalau berani sekali mencampuri urusan kami. Hmmm cepat atau lambat nyawamu pasti akan hilang."

Tapi setelah mengucapkan kata-kata tersebut, kawanan lelaki itu baru sadar kalau telah salah berbicara. Cepat-cepat mereka membungkam ditengah jalan.

sebenarnya Kim Thi sia tidak berhasrat mencampuri urusan itu, setelah mendengar perkataan ini, dia sadar dibalik kejadian tersebut pasti terdengar sebab musabab tertentu.

sebagai pemuda yang teliti, dengan cepat timbul rasa curiga didalam hatinya.

"Kenapa mereka melarangku untuk mencampuri urusan ini? Apakah perbuatan mereka adalah perbuatan jahat sehingga takut diusik orang lain?" Berpikir sampai disini cepat-cepat dia menerobos masuk kebalik kerumunan orang banyak. setelah lolos dari pengawasan kawanan lelaki bengis itu, secara diam-diam ia menguntil dari belakang kereta.

sayang kawanan lelaki kekar itu kelewat ceroboh. Mereka mengira urusan telah berat dengan begitu saja. Tentu saja tak seorangpun yang menduga kalau jejak mereka sebenarnya sedang diikuti orang.

Pelan-pelan kereta bergerak lagi menuju kemuka. Kawanan lelaki itupUn secara ganas mengayunkan cambuknya lagi menghajar setiap orang yang tak sempat menyingkir. Mendadak terdengar ada orang berseru dari balik gerombolan orang banyak.

"Aneh, sungguh aneh. Kereta itukan milik loya peronda dari Kanglam. Kenapa dalam perjalana kali ini justru dikawal sekelompok lelaki kasar yang buas? Padahal anak buah loya berseragam lengkap dan rapi. Masa kali ini bisa diiringi kawanan manusia kasar."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba orang itu dicambuk keras sehingga perkataannyapun terhenti ditengah jalan karena kesakitan. Tapi menyusul kemudian dia telah berseru lagi sambil merintih.

"sipejabat peronta ini benar-benar manusia bedebah. Tahun pertamanya ia menjabat pangkat tersebut masih mendingan. sungguh tak disangka makin lama semakin kelihatan belangnya."

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergema amat keras, ditengah jeritan kaget para penduduk, tampak empat kuda dilarikan cepat-cepat.

Tampaknya penunggang kuda itu cekatan sekali. Meskipun ditengah lautan manusia, namun mereka dapat mengendalikan kuda tersebut dengan begitu cepat dan mantap tak seorangpun yang kena diterjangnya.

Para penunggang kuda itu memakai baju kuning dengan ikat pinggang biri. sepasang matanya bersinar tajam, sewaktu duduk dikuda kelihatan gagah dan perkasa.

Ketika keempat kuda itu hampir tiba dibelakang kereta kuda tersebut tiba-tiba larinya diperlambat dan mengikuti dibelakang kereta tadi dengan santai seakan-akan mereka memang bertugas untuk melakukan pengawalan.

Ketika rombongan lelaki kasar itu mengetahui kalau yang datang adalah orang sendiri mereka segera menyapa kemudian tidak menggubris lagi.

Keempat penunggang kuda itu segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian setelah mendengus tidak berbicara lagi.

Kim Thi sia yang menguntil dari belakang dapat melihat bahwa keempat penunggang kuda itu memiliki tenaga dalam yang sempurna. sudah jelas bukan manusia sembarangan.

oooo0oooo

setelah melewati sebuah pekarangan gedung yang megah, tiba-tiba rombongan itu berhenti lalu terdengar orang-orang yang berada dikereta berteriak keras: "Buka pintu"

Pintu gerbang terbuka lebar dan muncullah sebuah papan nama didalamnya, berpuluh-puluh prajurit bersenjata lengkap nampak melakukan penjagaan diseputar sana, suasana terasa angker dan seram.

Keretapun bergerak masuk kedalam, sementara kawan lelaki kekar itu mengikutinya dari belakang secara tertip. sikap mereka nampak lebih serius.

Melihat hal itu, satu ingatan segera melintas dalam benak Kim Thi sia, dengan cepat dia mengambil segenggam pasir yang digosokkan diatas wajah sendiri Kemudian dia memburu kedepan dan mengikuti dibelakang rombongan tersebut memasuki gedung itu.

Pintu gerbang segera ditutup kembali setelah rombongan itu lewat, tiba-tiba terdengar keempat lelaki berbaju kuning itu berseru lantang: "saudara-saudara sekalian tentu sudah keletihan, kini pekerjaan telah usai dengan sukses, pergilah untuk melepaskan lelah." semua orang mengiakan dan membuyarkan diri

Dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia memperhatikan sekejap keadaan disekitar situ. sementara kereta kuda telah bergerak masuk kedalam gedung mengikuti serombongan lelaki kekar bersenjata lengkap. Mereka langsung menuju kesebuah gedung berloteng.

Jarak antara tempat ini dengan loteng tersebut paling tidak mencapai puluhan kaki, meski jaraknya tak seberapa namun pasukan tentara yang melakukan penjagaan justru ketat sekali Jelas bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk melewatinya.

Agar tidak dicurigai orang, Kim Thi sia pura-pura duduk mengantuk dibawah sebatang pohon- Padahal otaknya berputar kencang dan berusaha untuk menemukan cara terbaik untuk melewati pos-pos penjagaan tersebut.

Dua orang tentara berjalan mendekati, mereka hanya melirik sekejap kearahnya kemudian beranjak pergi ketempat lain.

Melihat penyaruannya berhasil, Kim Thi sia memandang sekejap kedirinya dengan perasaan bangga. seluruh badan penuh debu, pakaian kusut, dandanan semacam ini memang mirip sekali dengan orang yang baru saja menempuh perjalanan jauh. Mendadak terdengar seseorang tertawa nyaring dari balik suatu ruang gedung.

"Haaaah.....haaaah...haaaahhh kau adalah salah seorang diantara sembilan murid simalaikat

pedang berbaju perlente. Cukup mengandalkan nama gurumupun sudah dapat menggetar hati orang mana mungkin ada orang berani menyulitkan dirimu."

suara seorang pemuda segera menjawab:

"Ko tua kelewat memuji, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya toh jatuh juga. Kita sebagai orang yang dihargai oleh loya sedikit banyak toh harus menjual tenaga untuknya."

Kim Thi sia yang mendengar tersebut menjadi sangat terkejut, sekilas bayangan gurunya yang menderita siksaan dan penderitaan hebat menjelang saat ajalnya segera terbayang kembali didepan mata, hawa amarah dengan cepat pula berkobar dalam dadanya membuat pemuda itu hilang kendali.

setelah memperhatikan sumber suara tadi tiba-tiba berlari kencang memburu kesana.

Bentakan-bentakan nyaring dari para pengawal tidak digubris olehnya, malah sebaliknya dia berlari semakin cepat lagi.

Dalam waktu singkat ia sudah memasuki sebuah gedung yang diliputi asap dupa wangi. Bentuknya mirip sekali dengan sebuah kuil pribadi, seorang tua dan seorang muda sedang berbincang-bincang disitu penuh gelak tertawa.

Yang tua berusia lima puluh tahun, berjubah biru, dan memakai topi bulu, wajahnya cukup keren.

Sedangkan yang muda bermuka putih tampan dan menyoren sebilah pedang kayu. Diantara senyuman terlihat kilatan matanya yang menggidik hati.

Dalam sekilas pandangan saja Kim Thi sia telah mengenali pemuda tampan tersebut sebagai dipedang kayu diantara sembilan orang murid gurunya.

Baru saja dia hendak menantangnya untuk berduel, tiga orang tentara bertubuh tinggi besar telah memburu tiba serta menerjangnya seperti harimau kelaparan.

"Manusia bedebah, kau sudah bosan hidup rupanya" bentakan marah menggema diudara.

Berkilat sepasang mata Kim Thi sia, dia mengigos kesamping sambil menyambar seorang prajurit yang didorongnya keras-keras kemuka akibat dari dorongan tersebut prajurit itu kehilangan keseimbangannya sehingga jatuh terjerembab dan mengucurkan darah dari kepalanya. Dua orang prajurit lainnya menjadi bertambah berang setelah melihat lawannya berani turun tangan ditempat tersebut sambil meloloskan pedang serentak menyerbu kemuka.

Tua dan muda didalam kuil itu hanya melirik sekejap, kemudian bersikap acuh tak acuh kembali, mereka tetap melanjutkan pembicaraannya seperti semula.

Dengan geram Kim Thi sia meloloskan pedang Leng gwat kiamnya, cahaya hijau segera memancar keempat penjuru.

Malaikat itu, kedua orang prajurit tadi segera menghentikan terkamannya kemudian membentak:

"Bajingan cilik. rupanya kau sengaja menyusul kemari untuk membuat gara-gara.

HHmmm. kalau begitu-jangan harap bisa keluar lagi untuk selamanya."

Kim Thi sia sama sekali tidak menggubris dia mendesak maju kemuka, lalu sambil menuding kearah pemuda berpedang kayu itu, tegurnya keras-keras: "Kau adalah sipedang kayu?"

Pemuda tampan itu tidak berbicara lagi tatapan matanya segera dialihkan keatas pedang Leng gwat kiam ditangan lawannya kemudian memuji tiada hentinya: "Pedang bagus, rasanya dibandingkan dnegan pedang lain juga begitu saja."

Ternyata ia tidak menggubris teguran Kim Thi sia, Kakek yang disebut "ko tua" itu melirik kearah Kim Thi sia, kemudian baru bisiknya kepada pemuda itu: "Gi sauhiap, ada orang bertanya kepadamu."

"oyaaa" pemuda tampan itu pelan-pelan berpaling kearah Kim Thi sia lalu jawabnya:

"Betul, akulah sipedang kayu. Bila dilihat dari wajah anda yang begitu asing rasanya kita tak pernah bersua sebelumnya."

sementara itu kedua prajurit tadi sudah saling memberi tanda, kemudian menerjang kemuka bersama-sama.

Kim Thi sia mendengus marah, pedangnya langsung dibabat kesekeliling tubuhnya. "Teaaaaaang, traaaaaaaaang. "

Diiringi dentingan nyaring, tahu-tahu pedang ditangan prajurit itu sudah patah menjadi dua bagian mereka jadi terkesiap dan segera berdiri bodoh ditempat untuk beberapa saat lamanya tak seorangpun diantara mereka yang berani berkutik, sambil tersenyum pemuda tadi mengulapkan tenaganya seraya berkata: " Kalian bertiga boleh mundur dari sini."

Agaknya ketiga orang prajurit itu amat menaruh hormat kepadanya sesudah mendengar perkataan tersebut, masing-masing segera melotot sekejap kearah Kim Thi sia sebelum beranjak pergi dari situ.

Dengan suara dingin Kim Thi s ia segera berseru:

"Aku adalah murid kesepuluh dari malaikat pedang berbaju perlente, suheng baik-baikkah kau?" Berubah hebat paras muka sipedang kayu serunya terkejut:

"sejak kapan suhu menerimamu sebagai muridnya? kenapa aku tidak tahu. ?"

Dari nada pembicaraan tersebut, dapat didengar kalau dia tidak percaya bahwa Kim Thi sia adalah murid terakhir dari simalaikat pedang berbaju perlente.

Agaknya kakek she Ko itupun merasakan ada kejanggalan dalam persoalan itu katanya pula seraya menggeleng:

"setiap umat persilatan hanya tahu kalau malaikat pedang berbaju perlente hanya mempunyai sembilan orang murid."

"Bagus sekali" seru Kim Thi sia. "Engkau enggan mengakui diriku, belum tentu akupun bersedia mengakuimi sebagai suhengku. Hmmmm. " Rasa terkejut dan marah yang menyelimuti wajah sipedang kayu hanya melintas sejenak saja, dalam waktu singkat dia telah menjadi tenang kembali. Katanya kemudian sambil tertawa:

"Kuakui, kuakui, kuakui. sute, coba kau perlihatkan kebolehanmu sehingga suhengpun bisa berlega hati."

Kim Thi sia segera menggetarkan pedangnya membentuk berkuntum-kuntuk bunga pedang, inilah jurus "mantap bagaikan bukit karang" dari ilmu pedang panca Buddha.

sipedang kayu tertegun, ia tidak kenal dengan jurus pedang tersebut, namun dilihat dari cara Kim Thi sia menggunakan pedang jelas memang berasal satu aliran dengannya. Maka sambil tersenyum dia datang menghampirinya lalu berkata:

"Sute, ilmu pedangmu bagus sekali. Dilihat dari-jurus mu barusan suheng merasa takluk sekali." "Gi sauhiap" kata sikakek Kopula. " Gurumu memang seorang tokoh yang luar biasa, dari jurus

yang diperlihatkan sutemu barusan aku sudah merasa kagum dan takluk."

Dengan sikap ramah sipedang kayu segera menepuk-nepuk bahunya Kim Thi sia setelah itu katanya sambil tertawa:

"Sute, kau belum memberitahu namamu kepadaku mana suhu? sekarang dia orang tua berada dimana?"

Karena tidak menjumpai sikap permusuhan dari orang itu Kim Thi sia malah menganggapnya seperti orang sendiri semua rasa gusarnya tak mampu dilampiaskan keluar. Ketika mendegar perkataan tadi diapun segera menjawab:

"Aku bernama Kim Thi sia. Kim yang berarti emas. Thi adalah besi dan sia berarti kota. Tak lama setelah suhu menerimaku sebagai muridnya dia telah meninggal dunia."

"oooooh" sipedang kayu seperti teringat sesuatu, dia segera berseru keras:

"Suhu, oooooh suhu. sungguh tak nyana perjumpaan kita dulu merupakan perjumpaan yang terakhir. Padahal budi kebaikanmu belum sempat tecu bayar. Betapa sedih hatiku."

Dua tetes air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dia sedih sekali.

sedang kakek she Ko itu nampak tertegun sesaat kemudian berseru sambil tertawa keras: " Harap sauhiap janganlah bersedih hati, ilmu silat gurumu telah menjagoi seluruh kolong

langit, banyak budi kebaikan telah dilimpahkan untuk umat persilatan, sekalipun tubuh kekarnya

telah mati. Namun semangatnya masih berkobar terus dalam hati setiap umat persilatan. Kematiannya benar-benar menjadi kehilangan besar bagi segenap umat persilatan sungguh menyedihkan, sungguh menyedihkan. "

sebenarnya Kim Thi sia masih dicekam rasa gusar, dendam dan sedih. Tapi setelah melihat kesedihan yang mencekam perasaan pemuda tersebut, hatinya menjadi dingin separuh, tanpa terasa pikirnya: "Dia kelihatan sedih sekali, tadi suhu. "

Diam-diam dia mulai mencurigai suhengnya ini, kembali pikirnya lebih jauh:

"suheng berwajah simpati, bermuka tampan dan berhati mulia, kenapa suhu justru mengatakan dia sebagai manusia yang berhati binatang dimanakah letak kebuasannya?"

selang berapa saat kemudian, sipedang kayu baru menyeka air matanya sambil berkata dengan sedih:

"sute, disaat dia orang tua hendak menghembuskan napas penghabisan, apakah ada pesan yang ditinggalkan?"

"Tentu saja ada" pikir Kim Thi sia didalam hati. "Dia menyuruh aku membunuhmu."

Tentu saja perkataan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, sambil menggeleng katanya kemudian: "Tidak ada, dia orang tua hanya sempat menerimaku selama dua hari sebagai muridnya. Dan hari ketiga telah wafat."

"Sute, kalau begitu dia orang tua telah mewariskan segenap kepandaian silatnya kepadamu?" "Tidak sempat lagi, sewaktu menerimaku sebagai murid, kesadarannya sudah menurun.

Dengan susah payah dia hanya sempat mewariskan dua macam kepandaian sakti kepadaku."

"sayang, sungguh sayang" ujar sipedang kayu menghela napas. "Padahal kepandaian silat suhu telah mencapai tingkatan yang tiada tandingannya lagi." Mendadak ia menutup mulut dan memandang kakek Ko sekejap. Kakek Ko segera tersenyum dan berkata:

"sauhiap tidak usah sungkan, dalam kenyataan suhumu tiada tandingannya didunia ini." Kembali sipedang kayu menghela napas.

"Tapi dengan kematiannya banyak sekali ilmu silat maha sakti yang menjadi punah sungguh menyesal aku orang she Gi meski sudah banyak tahu mengikuti suhu yang berhasil kuperoleh cuma ilmu kucing kaki tiga belaka. sute, ilmu pukulan dari ilmu pedang apakah yang sempat suhu wariskan kepadamu?" Kim Thi sia menjawab secara langsung, diam-diam pikirnya dulu:

"Suhu telah berpesan agar aku tidak mengatakan kepada siapapun tentang ilmu ciat khi mi khi tersebut, sebab kepandaian ini merupakan ilmu sakti yang maha dahsyat. Aku tak boleh melanggar pesan tersebut." Karenanya dia menjawab:

"Ilmu pukulan itu adalah Tay goan sinkang sedang ilmu pedangnya adalah Ngo hud kiam hoat selain dua macam kepandaian tersebut yang lain tak sempat diwariskan kepadaku." Mendengar nama-nama itu kakek Ko segera berseru kaget:

"Ilmu pedang Ngo hud kiam hoat merupakan sejenis ilmu pedang yang tiada taranya didunia persilatan dewasa ini. Menurut apa yang kuketahui Malaikat pedang berbaju perlente tak pernah mewariskan ilmu tersebut kepada siapapun. sobat kecil, kau benar-benar mempunyai rejeki besar" Jelas kedengaran betapa kagumnya orang ini.

sebaliknya sipedang kayu segera bergumam dengan kening berkerut:

"Tay goansinkang. ? Tay goansinkang kenapa dia tak pernah memberitahukan soal ini

kepadaku ?"

Mendadak dia berseru:

"Sute, apakah kau berhasil menguasai sepenuhnya?" Nadanya gelisah bercampur tegang.

Dengan cepat Kim Thi sia menggelengkan kepalanya.

"Dasar siauwte bodoh aku cuma mengerti teorinya namun tidak mengerti bagaimana cara mempergunakannya . "

Berkilat sepasang mata si pedang kayu setelah mendengar perkataan tersebut, serunya segera: "sayang sungguh sayang "

Begitu selesai berseru, secepat kilat dia mendesak maju kemuka dan melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Kim Thi sia tidak menduga sampai kesitu, tubuhnya segera termakan sebuah pukulan sehingga mencelat sejauh empat lima langkah lebih segera bentaknya keras-keras: "Kau berani memukulku?"

Dendam lama dan kemarahan, baru bercampur aduk menjadi satu dengan suatu gerakan cepat dia menerjang kemuka.

Dengan cekatan sipedang kayu berkelit kesamping menghindar diri dari serangannya kemudian sambil menggoyangkan tangannya berulang kali dia berkata: "Harap siaute jangan marah. Aku hanya menjajal apakah perkataanmu betul atau tidak, kalau begitu kau benar-benar belum berhasil memahaminya."

Mendengar perkataan tersebut hawa amarah Kim Thi sia pun menjadi rada separuh tapi dengan nada tak senang hati dia berseru:

"Suheng, kalau toh ingin menyerang, kenapa kau tidak berbicara sama sekali." Diam-diam pedang kayu menghembus napas lega, katanya kemudian sambil tertawa:

"Diantara kita suheng te masa ada persoalan yang perlu dirahasiakan? Mari, mari, mari kita baru bersua untuk pertama kalinya biar kusiapkan sebuah perjamuan untuk menambut kedatanganmu. Moga-moga kau sukses selalu dikemudian hari?"

sesungguhnya Kim Thi sia menaruh kesan baik kepadanya, apalagi setelah mendengar perkataan itu, dia semakin terharu lagi tanpa terasa pemuda inipun menaruh perasaan akrab dengannya.

Dalam keadaan begini, semua pesan dari gurunya boleh dibilang sudah dilupakan sama sekali. sambil tertawa nyaring segera katanya:

"suheng, sikapmu yang begitu ramah membuat siaute sangat terharu "

sipedang kayu segera tertawa.

"Aaaaah kenapa kau mesti mengucapkan kata-kata begitu? selanjutnya hubungan kita bagaikan sesama saudara ada rejeki dinikati bersama ada kesusahan ditanggulangi berbareng bukankah keadaan semacam itu jauh lebih baik?" Kemudian sambil menunjuk kearah kakek berjubah biru itu dia berkata lagi:

"Dia adalah Ki Jin yang disebut orang sebagai Delapan penjuru berjaya. Ilmu pukulan Bwee hoa ciangnya menggetarkan seluruh dunia persilatan dan tiada tandingannya selama ini, benar-benar berjaya didelapan penjuru angin. Kau mesti baik-baik berhubungan dengannya. Kau tahu suheng pun sangat kagum kepadanya."

Walaupun perkataannya menyanjung namun sikapnya sama sekali tidak menunjukkan perasaan kagumnya. Bahkan maupun nada pembicaraannya bersahaja.

Kim Thi sia melihat keadaan tersebut makin memahami lagi seluk beluk hubungan antara manusia dia orang yang berkududukan tinggi sebetulnya tak perlu terlalu dihormati.

Pat bin wi hong kekjin sama sekali tidak marah, malah ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak: "Haaaahhhh......haaaahhhh. haaaaahhh sobat memiliki kepandaian sakti warisan malaikat

pedang berbaju perlente dikemudian hari kau tentu akan berhasil merebut kedudukan tinggi serta

nama besar didalam dunia persilatan. Aku yakin kesemuanya itu bisa kau raih semudah membalikkan tangan sendiri."

"Aku dapat berkenalan dengan sobat betul-betul merupakan suatu keberuntungan. Marilah kita berangkat, kita pergi minum arak."

sepanjang jalan, tiba-tiba dipedang kayu seperti teringat akan suatu persoalan segera tanyanya: "sute, bagaimana caramu masuk kemari?"

"Aku menyusup masuk" sahut Kim Thi sia dengan wajah tersipu-sipu merah lantaran jengah.

Pedang kayu segera tertawa nyaring.

"sudah kubilang, penjagaan ditempat ini kelewat kendor dan ceroboh. Nah saudara tua Kek. kali ini kau tentu setuju dengan pandanganku bukan? Kawanan pengalamanmu itu hanya bisa menggertak rakyat biasa, padahal kenyataannya cuma kawanan gentong tapi andaikata bukan begitu. Bagaimana mungkin aku bisa peroleh kesempatan untuk bertemu kembali dengan adik seperguruanku? Kalau dihitung-hitung kita malah mesti berterima kasih kepada mereka." Dari depan sana muncul tiga, empat orang prajurit kerajaan yang bertombak panjang. Mereka serentak memberi hormat ketika bertemu dengan Kim Thi sia berapa orang kemudian meneruskan perjalanannya dengan langkah lebar.

"Apakah tempat ini adalah gedung pembesar?" Kim Thi sia segera bertanya dengan keheranan. Pedang kayu segera tertawa.

"Disinilah pusat pengawasan seluruh aparat pemerintahan dikawasan Kanglam. Barang siapa menduduki jabatan pangkat diwilayah Kanglam baik itu pangkatnya tinggi atau rendah, saban tahun pasti akan berkunjung sekali kemari. Tentu saja kedatangan mereka sekalian membawakan pelbagai hadiah yang indah, menarik dan berharga. haaaah.......haaaah......haaaah. "

Mendadak Kim Thi sia teringat kembali dengan nona berbaju aneh yang digusur kedalam gedung tersebut. Tanpa terasa tanyanya lagi dengan nada keheranan:

"suheng, tadi kulihat ada seorang gadis cantik sekali diangkut kemari dengan menggunakan kereta kuda. Apakah seorang pejabat pengawasan seluruh aparat pemerintahan boleh menjumpai orang semaunya sendiri?" sekali lagi sipedang kayu tertawa tergelak.

"Haaaah.......haaaaah.......haaaah seorang pejabat pengawasan aparat pemerintahan sama

artinya dengan seorang raja dari kawasan tersebut. Apa yang diinginkan dapat diperbuat sesuka hati sendiri. siapa pula yang berani melarangnya. "

seperti teringat akan sesuatu, kembali ia bertanya:

"Darimana kau bisa tahu kalau kereta kuda itu mengangkut seorang perempuan cantik? padahal kereta itu dijaga amat ketat, tak mungkin mereka membiarkan orang lain mengintip isinya. "

Dengan nada agak rikuh sahut Kim Thi sia:

"Aku memaksa melihat isi kereta itu secara paksa. sebab "

"sudahlah, tak perlu diberi penjelasan" tukas pedang kayu sambil mengulapkan tangannya dan tertawa. "Aku sudah mengerti apa yang hendak kau ucapkan."

"Untung saja kaulah orangnya. Coba saja kalau orang lain sudah pasti suheng tak akan menyudahi persoalan itu hingga disinisaja."

sewaktu dia berpaling dan menyaksikan pakaian yang dikenakan Kim Thi sia compang camping tak karuan lagi bentuknya, apalagi ketika terhembus angin, kelihatan daging dan berapa buah mulut lukanya yang memanjang dan berdarah. Dengan kening berkerut kembali tegurnya:

"sute, siapa yang telah menghajarmu sedemikian rupa?"

"siapa lagi, tentu saja kawanan lelaki yang mengawal kereta kuda itu."

"ooooh, rupanya telah terjadi peristiwa semacam ini. Coba katakan kepada suheng masih ingatkan kau dengan wajah-wajah lelaki kekar yang telah menghajarmu tadi?"

"suheng, apa yang hendak kau lakukan?" tanya Kim Thi sia agak tertegun. sipedang kayu mendengus:

"Hmmmmmm, kawanan babi goblok itu berani menyakiti adik seperguruanku. Apakah kejadian ini harus dibiarkan saja? Tidak mungkin, aku mesti menagih kembali pokoknya ditambah bunganya berapa persen paling tidak mesti memberi pelajaran yang setimpal dulu kepada mereka."

"sudahlah suheng." kata Kim Thi sia kemudian dengan perasaan amat berterima kasih. "Apalagi aku toh tidak dapat mengingat kembali raut muka berapa orang itu. oyaa. rupanya kaupun

seorang yang berpangkat. ?"

"suheng bukan pembesar berpangkat" kata pedang kayu tertawa. "Tapi kekuasaanku justru lebih besar daripada mereka yang berkedudukan dan pangkat, kecuali pejabat pengawasan aparat pemerintah serta segelintir manusia tak seorangpun berani membangkang perintahku" "Waaaah suheng, kau memang luar biasa" puji Kim Thi sia dengan perasaan kagum.

"Apanya yang luar biasa? Bila sutepun berkeinginan memiliki kedudukan seperti aku tanggung suatu ketika kau akan menyamai kedudukan suheng sekarang, yakni menjadi komandan pasukan pengawal dari pejabat pengawas aparat negara kekuasaannya amat besar mau apa bisa berbuat apa tanggung tak seorang manusiapun berani menghalangimu." Tapi Kim Thi sia segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya cepat:

"Terima kasih banyak untuk kebaikan suheng, sayang siaute pernah berjanji dengan ayahku semasa kecil dulu, sepanjang hidup tak akan mencari sesuap nasi dengan bekerja untuk pemerintah" sipedang kayu segera tertawa.

"Begitupun tak ada salahnya, apalagi setiap orang memang mempunyai cita-cita yang berbeda dan cita-cita tersebut mungkin bisa dipaksakan. sute, pakaianmu kelewatjelek dan dekil, biar suheng siapkan berapa stel pakaian baru dari kwalitas unggul untukmu."

Hingga sekarang Kim Thi sia belum eprnah berpikir sampai kesitu, karena melihat bajunya memang kelewat dekil dan nyaris tak terpakai lagi maka tawaran itupun segera diterimanya.

sementara itu rasa terima kasihnya terhadap suhengnya inipun berlipat ganda, ingatan untuk membalaskan dendam sakit hati gurunya ikut tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Tak selang beberapa saat kemudian, mereka telah memasuki sebuah ruang tamu yang besar lagi nyaman. Kim Thi sia mencoba untuk mengamati sebentar sekeliling sana.

Diam-diam ia memuji kemewahan serta kemegahan gedung tersebut.

sesudah mengambil tempat duduk masing-masing munculk serombongan dayang cantik berbaju hijau yang menghampiri mereka. sesudah memberi hormat tanya mereka hampir bersama-sama .

"Tuan Gi tuan Kek ada perintah apa?"

"siapkan sebuah perjamuan lengkap" perintah sipedang kayu dengan angkernya. "Aku

hendak menjamu suteku yang baru saja bertemu ini dan kalian harus melayaninya secara baik- baik, Bila ia senang, aku akan memerseni kalian dengan hadiah besar. Tapi kalau tak senang. Hehhhhh kalian pasti akan memperoleh bagian yang cukup menggembirakan."

seketika itu-juga ketujuh delapan orang dayang cantik berbaju hijau itu mengalihkan pandangan matanya kearah pemuda asing yang berpakaian compang camping itu dengan tatapan terkejut bercampur keheranan-

Kalau ditinjau dari keseriusan sipedang kayu mengucapkan ancamannya tadi, bisa diduga bahwa pemuda asing tersebut merupakan seorang penting.

Maka seorang diantara mereka segera pergi menyiapkan hidangan serta arak sementara yang lain duduk disekeliling Kim Thi sia dengan senyuman dikulum. Hal ini kontan saja membuat paras muka Kim Thi sia berubah menjadi merah jengah dan tak mampu berkata-kata. sejak mengerti urusan belum pernah Kim Thi sia menjumpai keadaan semacam ini mengendus bau harum semerbak yang berhembus keluar dari tubuh perempuan itu membuatnya jadi bingung dan keadaannya mengenaskan sekali. sebagai pemuda yang pintar dan berotak tajam Kim Thi sia tak mau menunjukkan sikap yang bisa ditertawai suhengnya, maka sambil menarik muka dia hanya manggut atau mengiakan pertanyaan atau perkataan dari kawanan dayang tersebut. sikapnya sangat acuh tak acuh.

Melihat itu sipedang kayu segera berkata sambil tertawa hambar. "saute masih muda dan bertenaga kuat, namun justru tak suka main perempuan bila sikap semacam ini dapat mempertahankan terus, aku percaya masa depanmu pasti akan lebih cemerlang."

" Harap suheng jangan mentertawakan siaute" kata Kim Thi sia dengan wajah tersipu-sipu. "Berbicara terus terang saja, siaute masih kurang begitu mengerti tentang kaum hawa." Kek Jin kontan saja tertawa terbahak-bahak. "Haaaah.....haaaaah.....haaaaah. sobat cilik

adalah seorang lelaki sejati, kepandaianmu sangat tinggi. Bagaimana mungkin bisa terpikat oleh sekawanan pelayan."

Kim Thi sia semakin tersipu lagi, bahkan kawanan dayang berbaju hijau pun sama-sama berkerut kening. Meski gusar didalam hati kecil namun tak berani unjuk perasaan-

Untung saja hidangan telah siap pada saat itu, sehingga suasana yang tak sedap itu segera dapat dihilangkan.

Dengan perasaan setengah karena tugas dan setengah lagi karena perasaan ingin tahu kawanan dayang berbaju hijau itu meloloh Kim Thi sia dengan arak. pikir mereka didalam hati. "Mana mungkin didunia ini terdapat lelaki yang tidak suka perempuan?"

Kawanan dayang tersebut sebagian besar dibeli oleh pejabat pengawas aparat pemerintah dikawasan Kang lam ini dari penduduk miskin, meskipun kedudukannya cuma seorang dayang, tak sedikit diantara mereka yang pernah sekolah dan belajar syair.

otomatis pandangan merekapun tidak kelewat licik. Perjamuan telah berlangsung cukup lama.

Kim Thi sia yang tidak pandai minum arak kini sudah melupakan segala tata cara dan sopan santun, mukana merah padam membawa tujuh bagian keadaan mabuk. Kata-katanya mulai kasar dan sederhana, gelak tertawa terlepas bebas, sifat sebenarnya terbuka sama sekali.

Biarpun ia tidah termasuk ganteng, namun tubuhnya justru mengandung semacam daya tarik yang sangat aneh. seolah-olah besi semberani yang akan menarik setiap perempuan yang belum lama bertemu dengannya.

Tubuhnya seolah-olah memiliki segumpal bara api yang misterius memancarkan kelakian serta kejantanan yang membara, keadaan seperti ini-jauh lebih menarik ketampanan seorang lelaki lemah.

sementara perjamuan masih berlangsung tadi, ketujuh delapan orang dayang berbaju hijau itu seakan-akan dibuat terbuai oleh daya tarik pemuda itu. sebab pemdua yang periang ini justru makin lama semakin memancarkan daya tarik yang dapat membuat hati orang berdebar keras, menerbitkan suatu lamunan yang amat aneh. Memang dalam dunia ini terdapat dua macam manusia.

Pertama adalah segolongan orang yang menimbulkan daya tarik pada pertemuan yang pertama, daya tarik tersebut menimbulkan kekaguman dan daya pesona tapi bersama dengan larutnya sang waktu rasa simpatik itu lambat laun semakin menghambar sehingga pada akhirnya justru menimbulkan perasaan muak dan bosan yang membuat orang disekelilingnya ingin secepat mungkin menjauhinya.

Tapi ada pula orang yang memberi kesan biasa dan tawar pada perjumpaan yang pertama. sama sekali tidak memiliki daya tarik apapun, tapi setelah cukup lama bergaul cengahnya akan terasa daya tariknya yang kian lama kian bertambah dari perasaan yang biasa-biasa saja akhirnya berubah menjadi perasaan kagum dan terpesona yang mendalam.

Memang jarak antara baik dan jelek hanya selisih satu langkah, tapi selisih yang begitu sedikit justru memberikan perbedaan yang luar biasa besarnya dalam kenyataan-

Kim Thi sia termasuk golongan yang terakhir. seperti juga dalam pertemuannya dengan Nyoo soat hong serta Yu Kien sekalian- Pada jumpa pertama mereka, gadis-gadis itu tak terlalu menaruh perhatian kepadanya tapi bersama larutnya sang waktu merekapun mulai merasa timbulnya kesan aneh dalam hati kecilnya, hingga akhirnya perasaan memberitahukan sesuatu yang aneh kepada mereka. saat itu hati mereka sudah benar-benar terpaut kepadanya.

oleh sebab itu perasaan simpatik yang timbul dalam hati kecil ketujuh delapan orang dayang berwajah cantik itupun sedikit demi sedikit tertuju kepadanya.

Namun Kim Thi sia tetap bersikap masa bodoh, ia hanya tahu meneguk araknya, meski takaran minumnya tidak terlalu hebat, namun ia meneguknya pelan-pelan- Akhirnya dengan langkah terhuyung-huyung pemuda itu mendekati sisi tubuh sipedang kayu, kemudian sambil menepuk bahunya ia menegur sambil tertawa nyaring.

"Suheng, ternyata engkau memang seorang yang baik kesan jelek siaute terhadap dirimu dimasa lampau kini sudah berubah sama sekali mari kita meneguk secawan lagi" Ia memenuhi cawannya dengan arak lalu diteguk sampai habis.

Pedang kayu tersenyum, ujarnya:

"Sute, sebelum mabuk kita jangan berhenti minum hari ini, saudara Kek tua, hayolah ikut bergembira bersama kami"

Pat bin wi hong Kek Jin adalah seorang yang amat berpengalaman tentu saja ia enggan merusak suasana waktu itu, maka secawan demi secawan arakpun masuk ke dalam perut mereka.

Kim Thi sia mulai sempoyongan dan tak mampu berdiri tegak lagi, dua orang dayang cantik harus memayangnya untuk didudukkan kembali ketempat duduknya semula. Tapi pemuda itu berseru lagi sambil tertawa tergelak.

"Haaaah.....haaaah.....haaaah tepat sekali perkataanmu, tepat sekali

perkataanmu. sebelum mabuk kita jangan bubaran."

Lagi-lagi secawan arak mengalir masuk kedalam perutnya.

Mendadak seorang dayang cantik yang berada paling dekat dengannya berbisik lembut: "Tuan Kim, kau tak boleh minum lagi bila meneguk lebih lanjut, mungkin kau tak bisa bangun

esok pagi"

sembari berkata, ia bermaksud merampas cawan arak yang berada ditangannya. Tapi Kim Thi sia segera mendorongnya dan bergumam dengan kata-kata mabuk.

"Apa kau melarangku minum arak. tidakaku justru mau minum sampai mabuk hari

ini....haaah......haaah.......suheng kau tak boleh berhenti minum mari secawan lagi mari

secawan lagi "

sekali lagi ia meneguk berapa cawan arak.

Dayang cantik yang didorong olehnya tadi tiba-tiba melelehkan air mata dengan sedih setelah memandang sekejap kearah pemuda itu dengan pandangan yang pedih ia

menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Yaa, dia hanya bisa menesali nasib sendiri yang jelek. siapa suruh kedudukannya begitu rendah? kalau ia tentu punya cukup hak untuk melarangnya." Ketika pedang kayu menyaksikan kejadian ini ia segera menarik muka sambil menegur:

"Lin lin, siapa suruh kau merusak suasana disaat kami sedang minum arak dengan gembira? Bagus sekali kau sudah tahu salah tapi sengaja melanggar, kali ini aku tak dapat mengampuni dirimu lagi" tampaknya pedang kayu memang menaruh sikap bermusuhan dengan dayang tersebut, sehabis berkata ia tertawa dingin tiada hentinya. Dengan lemah dan sedih Lin lin berkata:

"Yaa, memang akulah yang bersalah, silahkan tuan Gi menjauhi hukuman kepadaku." perkataannya amat memelas hati menimbulkan perasaan iba bagi siapapun yang mendengarnya.

sekarang Kim Thi sia baru mengetahui bahwa dayang yang didorongnya tadi sedang melelehkan air mata dengan wajah yang amat memelas hati. sebagai seorang lelaki yang amat terbuka, ia menjadi tak tega sehingga segera serunya: "sudahlah, ia patut dikasihi, ampunilah dirinya."

Pedang kayu kelihatan agak tertegun, tapi ia segera tertawa penuh pengertian, katanya kemudian- "oooh....rupanya sute menaruh hati kepadanya.....haaaah....haaah.....tentu saja. tentu

saja. Lin lin kau memang bernasib mujur. coba kalau sute ku tidak mintakan ampun mungkin

tubuhmu sudah hancur karena siksaan-"

"Terima kasih untuk kebaikan tuan Gi. " kata Lin lin lagi dengan suara lirih. Kembali pedang

kayu berkata:

"sute, Lin lin ini bukan saja berwajah cantik, lagipula amat pandai ilmu sastra dan syair. Kau memang bermata jeli dan bisa tertarik kepadanya dalam sekali pandangan, kehebatanmu sungguh mengagumkan suheng. Nah Lin lin- bawakanlah sebuah lagu untuk menghibur Kim ya."

Lin lin mengiakan dan segera mengalihkan matanya kewajah Kim Thi sia, seakan-akan sedang menunggu pilihan lagu dari pemuda tersebut.

Kim Thi sia memahami maksudnya, terdorong rasa ingin tahu ia segera menarik lengan Lin lin dan diajaknya duduk disampingnya, lalu sambil tertawa serunya:

"Terserah pilihanmu, apapun lagu yang kau bawakan aku tentu akan menikmatinya dengan senang."

lin lin merasakan hatinya berdebar keras ia membiarkan tangannya ditarik pemuda itu sementara hati kecilnya merasa hangat dan gembira sekali karena jawaban pemuda itu

Lagu yang merdu dengan suara yang empuk didengarcun segera bergema mengalun dalam ruangan. Meski Kim Thi sia tidak mengerti apa maksud dari syair lagu tadi, namun ketika Lin lin selesai menyanyi iapun segera bertepuk tangan seraya memuji. "Bagus, bagus sekali bersediakah kau menyanyikan sebuah lagu lagi untukku?"

Dengan wajah tersipu-sipu Lin lin menundukkan kepalanya rendah-rendah. sementara hatinya berdebar amat keras. sikap semacam ini menarik perhatian kaum pria tadi. Tapi justru paling mudah memancing perasaan dengki dari rekan-rekan lainnya maka serentak dayang lainnya mencibirkan bibirnya dengan perasaan tak puas.

Lin Lin sebagai gadis yang pintar tentu saja dapat merasakan ketidak puasan rekan-rekan lainnya, maka setelah menghela napas sedih katanya. "Aku tak akan menyanyi lagi. Maafkan daku tuan Kim?"

Kata-katanya kembali lembut dan sangat mengetuk perasaan- sebelum Kim Thi sia memberi jawaban mendadak sipedang kayu membentak lagi.

"Lin lin sudah bersalah, kau berani melakukan kesalahan lagi. Hmm sikapmu benar-benar menggusarkan hati, aku mesti menjatuhi hukuman yang paling berat kepadamu."

"Budak mengaku salah" kembali Lin lin menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Tiba-tiba Kim Thi sia melompat bangun, lalu teriaknya. "Hey suheng, Apa-apaan kamu ini? Aku toh tak pernah menyalahkan dirinya malah aku merasa cocok sekali dengan perempuan."

"Baik-baiklah terserah pada sute sendiri, mau bagaimana terserah bagaimanalah. " kata

pedang kayu kemudian tertawa. Kim Thi sia merasa rikuh sendiri buru-buru ia berseru:

"Suheng, memang beginilah watakku apa yang ingin kukatakan segera kuucapkan, harap kau jangan marah."

"Aaaah, mana, mana......" pedang kayu tertawa. "sute tak perlu menduga yang bukan-bukan apalagi kita berasal dari satu perguruan. sebagai sesama saudara seperguruan, kitakan bukan orang luar"

"Terima kasih suheng atas kebaikanmu." Kim Thi sia jadi amat terharu. "siaute percaya banyak bicarapun tak ada gunanya biar kuterima kebaikanmu didalam hati saja " setelah berhenti

sejenak kembali tambahnya:

"Kepalaku terasa pening, kelopak mataku berat sekali, agaknya kau tak mampu minum lagi. "