Lembah Nirmala Jilid 09

 
Jilid 09

Sambil berteriak seperti suara guntur yang membelah bumi, tiba-tiba Kim Thi sia merangkak bangun dari atas tanah dan beriarian cepat meninggalkan tempat itu, jeritan-jeritannya yang mirip tangisan setan membuat hati siapapun menjadi bergidik.

Dua bersaudara Tong menjadi tertegun sejak terjun kedalam dunia persilatan, banyak sudah pertarungan besar maupun kecil yang mereka alami, namun belum pernah mereka temukan musuh yang susah dihadapi seperti Kim Thi sia hari ini. Dengan perasaan tegang kedua orang itu mulai menghitung didalam hati. "Selangkah... dua langkah, tiga langkah, lima langkah, enam langkah, tujuh langkah."

Lelaki setengah umur yang berdiri disebelah kiri seperti teringat akan sesuatu, mendadak ia menepuk bahu saudaranya sambil berseru:

"Aduh celaka Loji, kehebatan jarum mulut harimau yang mematikan korbannya dalam lima langkah telah kehilangan kemanjurannya."^

Padahal lelaki yang disebut Loji pun tak teriuklskan rasa kagetnya waktu itu, segera serunya pula:

"Lotoa, pemuda she Kim itu memang memiliki kemampuan yang luar biasa, selama ini jarum mulut harimau dari kelurga Tong menjagoi seluruh kolong lamngit, kami tak bisa kehilangan kedudukan tersebut lantaran dia "

Tanpa terasa kedua orang itu saling bertular pandangan sekejap^, sekilas rasa sedih dan murung menghiasi wajah mereka.

sementara itu Kim Thi sia sedang berlarian seperti orang sedang kalap sambil menjerit-jerit tiada hentinya.

Dengan sepenuh tenaga dia mengerahkan hawa murninya untuk mengitari seluruh badan, dengan peredaran darah yang membalik, dia berusaha mengurangi siksaan dan penderitaan yang dialaminya akibat daya kerja racun tersebut.

siapa tahu, justri karena perbuatannya itu, tanpa disengaja ia telah berhasil meloloskan diri dari ancaman bahaya maut yang telah siap merenggut jiwanya.

sebagaimana diketahui, dia pernah mempelajari tenaga dalam yang maha sakti dari malaikat pedang berbaju perlente. Ketika ia bermaksud mengurangi rasa sakit dengan mengedarkan darahnya secara terbalik tanpa disangka-sangka hal tersebut justru akan mendesak sari racun yang berada dalam tubuhnya keluar dari peredaran darah dan akhirnya malah terdesak keluar kulit badannya.

Ia tak sadar bahwa cara yang digunakan tersebut telah membuat keadaannya tak jauh berbeda dengan orang gila.

Entah berapa saat sudah lewat, dengan mengandalkan sedikit titik terang yang masih dimilikinya dia berusaha menelusuri jalan lebar menuju kedepan.

sebab dengan cara berlari keras dan menyiksa diri seperti ini, rasa sakit yang membuatnya menderita jadi lebih ringan.

Untung saja sepanjang perjalanan ia tidak bertemu dengan orang lain. Kalau tidak, perbuatannya itu pasti akan mengejutkan banyak orang. Dua bersaudara Tong sudah banyak mengalaminya pertarungan besar maupun kecil, selama ini merekapun selalu beranggapan senjata rahasianya sangat tangguh dan tiada tandingannya dikolong langit.

siapa tahu Kim Thi sia justru berhasil memusnahkan ancaman senjata rahasianya dengan cara begitu aneh, tentu saja hal semacam ini belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Begitulah, bagaikan orang kalap Kim Thi sia berlarian tanpa tujuan entah berapa saat sudah lewat, meski sepasang kakinya sudah tak mau menuruti perintahnya lagi, namun ia tetap nekad berlarian terus tanpa berhenti.

Tiba-tiba dari kejauhan sana muncul setitik cahaya api, ternyata ditengah jalan terdapat seonggokan api unggun empat orang duduk mengelilingi api unggun tersebut, mereka sama sekali tak bergerak dan entah apa yang sedang dilakukan.

Kim Thi sia yang berada dalam keadaan tak sadar menjadi berang ketika melihatjalan perginya dihadang orang. Tanpa berpikir panjang lagi sepasang tangannya segera didorong kemuka melancarkan serangan bentaknya keras-keras. "Minggir"

Baru saja bentakan itu berkumandang salah seorang dari keempat kakek yang duduk mengitari api unggun itu telah mendengus lalu mengebaskan ujung tangannya kemuka.

seketika itu juga Kim Thi sia merasakan dadanya seperti ditumbuk dengan martil yang berat sekali, sambil berteriak keras tubuhnya segera roboh terjungkal keatas tanah.

Tapi dengan terjungkalnya pemuda tersebut keatas tanah, ternyata ia menjadi jauh lebih sadar kembali.

Pelan-pelan pemuda itu merangkak bangun, rasa sakit yang semula menyiksa tubuhnya kini telah jauh berkurang benar kepalanya terasa agak pening, namunjauh lebih segar berapa puluh kali lipat daripada keadaan semula. Tanpa terasa ia berpikir:

"orang bilang, barang siapa terkena karum mulut harimau maka dia akan tewas dalam lima langkah padahal sudah sekian lama aku berlari bukan saja tak sampai mampus semua rasa sakitpun lenyap tak berbekas Jangan-jangan nama besar keluarga Tong hanya nama kosong belaka ?"

Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dia makin bimbang dan tak habis mengerti apalagi setelah melihat tubuhnya penuh dengan abu dan debu buru-buru dia membersihkan pakaiannya tersebut.

Tiba-tiba terendus bau busuk yang amat menusuk hidung memancar keluar dari badannya, disusul kemudian tangannya yang menyeka badan ternyata berubah menjadi hitam dengan perasaan curiga ia berpikir lebih jauh:

"Apa yang terjadi? mengapa keringatkupun terendus bau busuk. ?"

Ia tak mengerti bahwa racun jahat darijarum mulut harimau telah berhasil dipaksa keluar dari tubuhnya tanpa dia sadari dan kini berubah menjadi keringat yang tertinggal diluar kulit itulah sebabnya keringat yang bercucuran keluar menjadi busuk sekali baunya.

setelah keringat busuk diseka, pemuda itu baru sempat memperhatikan kembali keadaan disekitar situ.

Ternyata keempat kakek itu sedang duduk mengelilingi api unggun itu masih tetap duduk tak berkutik dan mengawasi kobaran api tanpa berkedip. rambut mereka rata-rata panjang dan terurai sepanjang dada.

sejak salah seorang diantara mereka melepaskan pukulan kearahnya tadi hingga kini ternyata tak seorangpun yang berbicara.

Keempat orang ini memiliki ketajaman mata yang menggidikkan, usianya telah lanjut dan penuh berwibawa, sehingga siapapun yang memandang tapi terasa menjadi keder sendiri Timbul perasaan ingin tahu dalam hati Kim Thi sia, diam-diam pikirnya: "Apa sih bagusnya api? masa hidup setua ini, belum pernah mereka saksikan api?"

Dengan niat minta maaf dia segera mendekati kembali keempat orang tersebut. Tapi dengan cepat ia telah menemukan kembali suatu kejadian yang sangat aneh.

Ternyata didepan keempat kakek itu masing-masing berbaring sesosok mayat. Keempat sosok mayat itu semuanya memakai baju perlente dan berusia sangat muda, selain tampan merekapun kira-kira kelihatan gagah namun entah mengapa ternyata pemuda itu telah mati dibunuh orang.

Menyaksikan hal tersebut, tanpa terasa Kim Thi sia berseru dalam hati kecilnya: "sungguh sayang "

sementara itu dibalik wajah keempat kakek yang datar dan dingin itu, lamat-lamat terlintas pula rasa gusar dan sedih yang amat tebal. jelas ada suatu masalah besar yang sedang membebani pikiran masing-masing....

Keempat sosok mayat pemuda tampan itu semuanya berada dalam keadaan utuh tanpa cacad pakaiannya rapi tak kusut dan kematiannya nampak sangat tenang, tak setitik luka yang mematikanpun dijumpai diseluruh tubuh mereka.

Tiba-tiba Kim Thi sia menyangka keempat pemuda itu dibunuh keempat kakek tersebut, alis matanya yang tebal itu berkerut baru saja dia hendak membuka suara, kakek yang telah menghantamnya tadi telah bertanya: "Anak kecil, siapa namamu?"

Kim Thi sia semakin tak senang hati, betapa tidak. ternyata kakek itu menganggap sebagai seorang bocah yang tak tahu urusan, bagaimana ia tidak menjadi marah? sambil tertawa dingin segera jawabnya: "Kim Thi sia"

"oooh" kakek itu mengangkat kepalanya dan memandang pemuda itu sekejap. ketika sepasang mata mereka saling bertemu, tiba-tiba saja Kim Thi sia menjerit kaget dan mundur selangkah. Ia merasa kakek itu memiliki ketajaman mata yang sanggup menembusi ulu hatinya.

Dengan suara dalam kakek itu berseru:

"Jadi kau adalah jago muda yang belakangan ini menggemparkan dunia persilatan Kim Thi sia?"

Kim Thi sia jadi tercengang, ia tak menyangka baru berapa hari dirinya terjun kedunia persilatan ternyata namanya sudah terkenal orang. Tak berayal lagi segera jawabnya: " Tepat sekali perkataanmu itu."

Kakek itu segera manggut-manggut seperti mengandung arti yang lebih mendalam ia berkata lebih jauh:

"Dan tindak tandukmu selanjutnya lebih baik bertindaklah lebih berhati-hati, paling baik lagi kalau tidak membuat nama sendiri kelewat terkenal tak usah memancing kobaran api yang bakal membakar diri sendiri sehingga kehilangan nyawa tanpa sebab musabab yang jelas. "

selesai berkata ia segera berpaling dan tidak menggubris anak muda itu lagi.

Untuk beberapa saat lamanya suasana disekleiling tempat itupun dicekam keheningan yang luar biasa. Hanya suara ranting yang terbakar api masih kedengaran memecahkan keheningan mendatangkan setitik suasana kehidupan ditempat tersebut.

Terpengaruh oleh ketajaman mata yang melebihi sembilu dari kakek tersebut, untuk berapa waktu lamanya Kim Thi sia tak mampu berbicara. Tapi akhirnya dia tak sanggup menahan diri dan segera tanyanya sesudah berhasil menenangkan hatinya.

"Aku tak bisa memahami maksud dari perkataanmu itu, bagiku asal perbuatan tak sampai melukai hati seseorang, aku yakin tiada persoalan lain yang perlu kurisaukan."

Pelan-pelan kakek itu membuka matanya memandang sekejap sekeliling tempat itu sebelum akhirnya berhenti diatas wajahnya, ia berkata: "Anak muda, kalau kau tak mau menuruti nasehatku. Cepat atau lambat kau bakal mampus dibunuh orang"

Kim Thi sia amat terkejut, serunya lagi semakin kebingungan: "Aku masih belum juga memahami perkataanmu."

Kakek tersebut menjadi mendongkol, tiba-tiba dengan kening berkerut dia membentak. "Kau memang tak bisa diberi nasehat." sebuah sapuan segera diayunkan kedepan.

segulung tenaga kekuatan seberat ribuan kati segera meluncur kemuka seperti gulungan ombak ditengah samudra......

Kim Thi sia sama sekali tak menduga kesitu sambil berteriak keras tubuhnya berjumpalitan sampai empat lima kali kebelakang, begitu keras dia terpental hingga kepalanya terasa amat penting untuk berapa saat lamanya tak mampus merangkak bangun dari tanah.

Untung saja sikakek tersebut tidak berniat untuk merenggut jiwanya kalau tidak mungkin semenjak tadi jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya.

Kim Thi sia yang diserang tanpa sebab musabab tertentu menjadi amat berang, meski perasaan tersebut diutarakan lewat kata-kata namun wajahnya kelihatan sangat tidak puas. Dengan suara keras kembali kakek itu membentak:

"Tidak mengerti? Hmmm, lebih baik kau terjun kesungai melakukan bunuh diri saja"

"Kau tak usah mengurusi diriku" bantah Kim Thi sia. "Bila aku ingin bunuh diri, hal tersebut bisa kulakukan sendiri, tak perlu kau bersusah payah ikut memikirkannya bagiku" Kakek itu menjadi tertegun.

"Hey bocah, nampaknya kau memang amat susah dihadapi, kalau begitu nama besarmu bukan cuma nama kosong belaka."

sementara itu ketiga orang kakek lainnya masih tetap membungkam diri dalam seribu bahasa.

Terhadap peristiwa yang terjadi didepan mata selain mereka tidak menggubris, berpalingpun tidak.

sorot mata mereka tertuju semua keatas onggokan api unggun, mukanya sebentar murung sebentar sedih, entah persoalan apa yang sedang dipikirkan. Kim Thi sia semakin tak senang hati, teriaknya kemudian keras-keras: "Apakah kau berniat menyusahkan aku"

Kakek itu memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, lalu berkata:

"Berbicara dari kepandaian silat yang kau miliki, sepersepuluh dari murid kupun tak mampu kau lewati, berani betul engkau bersikap kurang ajar kepadaku."

"Dimanakah muridmu sekarang?" seru Kim Thi sia dengan gusar. "Aku pasti akan mengajaknya untuk beradu kepandaian."

Mendengar ucapan tersebut mendadak kakek itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. suaranya tinggi melengking dan keras sekali hingga menembusi angkasa, begitu kerasnya suara tersebut hingga seluruh angkasa serasa bergetar keras.

Kim Thi sia menjadi amat terperanjat tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, hampir saja dia tak sanggup untuk menahan diri.

selembar muka kakek itu berubah menjadi sedih marah dan mendendam. Perasaannya bercampur aduk tak karuan, katanya kemudian sambil menunjuk kearah mayat pemuda yang berada dihadapannya:

"satu-satunya murid kesayanganku berada disini. Hey anak kecil, apakah masih ingin bertarung dengannya." Kim Thi sia adalah seorang pemuda yang sangat perasa biarpun kakek itu belum berbicara namun dari sikap sedih bercampur gusar yang tampil diwajahnya, segera disadari olehnya bahwa kakek tersebut telah ditimpa musibah.

Benar juga, ternyata murid kesayangannya telah tewas dibunuh orang, karena itu segera ujarnya:

"Kalau toh muridmu sudah mati akupun tak ingin beradu kepandaian lagi dengannya."

Pelan-pelan paras muak kakek itu putih kembali dalam kehambaran yang luar biasa katanya lagi:

"Kau tahu apa yang menyebabkan dia mati?"

satu ingatan segera melintas dalam benak Kim Thi sia, buru-buru katanya: "Aku toh bukan dewa atau malaikat tentu saja tidak tahu, apakah kau bersedia

memberitahukan kepadaku empek tua."

sikap permusuhannya hilang lenyap seketika, sekarang dia malah menyebutnya sebagai empek. "Bukankah sudah kubilang tadi, bila hendak berkelana didalam dunia persilatan lain waktu,

lebih baik bersikaplah lebih berhati-hati. Kalau tidak kau pasti akan mengalami nasib tragis seperti

apa yang dialami muridmu." " Kenapa?"

"sebab kalian sama-sama merupakan jago muda yang makin menonjol peranannya didalam dunia persilatan-"

"Tapi apa sangkut pautnya?"

sekali lagi kakek itu tertawa nyaring. suaranya keras dan sangat memekikkan telinga.

Cepat-cepat Kim Thi sia menutupi telinganya dengan jari tangan, ia saksikan sepasang mata kakek itu telah berkaca-kaca karena air mata.

"Hanya manusia yang iri hati merupakan manusia jahanam, murid kesayanganku yang telah kudidik dan kubina dengan susah payah selama belasan tahun akhirnya harus mati dibunuh orang yang iri hati sementara nama besarnya makin menanjak."

"siapakah orang itu?" tanya Kim Thi sia terperanjat. " Kenapa kau tidak berusaha untuk membalas dendam sakit hatinya?"

" orang itu mempunyai kepandaian silat yang sangat tinggi, tenaga dalamnya yang amat sempurna. Kehebatannya seperti gelombang samudra dilaut bebas, untuk menghadapi tenaga pukulannya yang bisa-bisa membunuh orang tanpa wujudpun, segenap kepandaian silat yang kumiliki selama puluhan tahun ini masih belum cukup untuk memadahi "

Kemudian setelah berhenti sejenak. dia berkata lebih jauh:

"Selama ini aku sudah mengembara keuatar maupun selatan sungai besar, baik perbatasan maupun gurun pasir. selama puluhan tahun terakhir tak sedikit orang pandai yang pernah kujumpai, tapi sangat menyesal ternyata aku tak mampu untuk menduga jenis pukulan yang telah dipergunakan pembunuh untuk mencelakai murid kesayanganku ini. "

"Menurut dugaanku, orang yang membunuh muridku ini sudah pasti adalah seorang iblis yang memiliki tenaga dalam amat sempurna. orang ini memiliki ilmu pukulan yang bisa membunuh orang tanpa meninggalkan bekas sudah pasti kepandaian semacam ini tak mungkin bisa tercapai bila tidak dilatih selama puluhan tahun lamanya. Aa aai kemunculan orang tersebut dalam dunia

persilatan pasti akan menimbulkan badai pembunuhan yang mengerikan sekali didunia ini.

"Aaaah, begitu hebatkah kepandaian silat yang dimiliki orang itu?" seru Kim Thi sia dengan perasaan terkejut. "Kalau begitu dia pasti adalah seorang tokoh silat yang bernama besar, tapi apa sebabnya dia begitu melakukan perbuatan yang terkutuk seperti ini?" Kakek itu menghela napas panjang.

"Nak. kau tak tahu, orang yang belajar silat dapat dibagi menjadi dua macam, pertama adalah orang yang belajar silat untuk melakukan baktinya kepada umat persilatan didunia ini, membantu kaum lemah dan menegakkan keadilan maka jenis kedua adalah mereka yang belajar silat demi nama dan kedudukan. Untuk mencapai kedudukan yang tertinggi dalam dunia ini, mereka tak segan-segan akan menyusahkan orang lain dengan berbagai cara yang licik. Ditangan manusia inilah murid kesayanganku telah terbunuh."

"oleh sebab itu nak, turutilah nasehatku. Berusahalah keras untuk menyembunyikan kemampuan demi keselamatan jiwa. Kalau tidak pohon yang besar tentu mudah mengundang

angin- Kau masih muda masa depanmu masih cemerlang, janganlah sampai kehilangan nyawa sebelum kau berhasil mencapai cita-citamu yang tertinggi."

"Ehmmm, sekarang kau baru paham, orang yang membunuh muridmu itu pasti mempunyai ambisi untuk menguasai seluruh dunia persilatan, karena kuatir kaum muda yang menonjol ini menjadi saingan dan penghalangnya dikemudian hari sehingga menggagalkan usahanya untuk meraih kursi terhormat dalam dunia persilatan. Maka dia tak segan-segan melakukan pembantaian secara besar-besaran, bukan begitu?"

Kakek itu segera mengangguk.

"Tak nyana meski kau lugu didepan ternyata cermat didalam "

Kemudian setelah menghela napas panjang, dia berkata lebih jauh:

"Sesungguhnya kami adalah sekelompok manusia yang sudah bosan dengan segala keramaian dalam dunia persilatan. Hidup kami selama ini ibarat bangau liar yang terbang kemana saja tanpa ikatan. sungguh tak disangka menjelang saat tua orang tersebut telah membinasakan murid kesayangan kami yang telah dibina dan dididik dengan susah payah selama banyak tahun.

Aaaai. kelihatan tenaga dalam yang dimiliki orang itu belum pernah kudengar sebelumnya, aku

yakin. "

Mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, bentakan keras yang menggelegar diangkasa segera menggetarkan seluruh jagad .

Dalam waktu singkat keadaannya telah berubah menjadi seseorang yang lain semua rambutnya berdiri kaku seperti ayam jago yang siap bertarung seperti juga seekor landak yang menghadapi ancaman dari luar keadaannya yang begitu menyeramkan membuat Kim Thi sia menjadi terperanjat dan segera mundur tiga langkah kebelakang. Terdengar orang itu berseru lagi dengan suara yang nyaring seperti bunyi genta.

"Kecuali pihak Tiang pek pay yang memiliki sejenis ilmu pukulan sakti tanpa bayangan yang bisa membunuh orang tanpa meninggalkan bekas, rasanya tiada manusia kedua didunia ini yang memiliki ilmu pukulan sehebat itu. Biarpun dunia persilatan didaratan Tionggoan sangat luas namun manusia yang mampu melawan kemampuan kami hanya beberapa gelintir saja. sebab kebanyakan jago segan memusuhi kami, hmmmm. Delapan puluh persen perbuatan ini pasti dilakukan oleh orang-orang Tiang pek pay. "

"Hmmmm, besar amat bacot orang ini. " diam-diam Kim Thi sia berpikir didalam hati.

Mendadak terdengar salah seorang diantara ketiga kakek lain yang selama ini hanya membungkam terus berkata:

"samte jangan kelewat yakin dengan dugaan sendiri tak dapat kau bilang kalau didaratan Tionggoan ini tidak terdapat manusia lain yang bisa membunuh orang tanpa meninggalkan bekas selain pukulan sakti tanpa bayangan dari Tiang pek pay. "

Jenggot kakek ini paling panjang lagipula sudah banyak yang memutih,jelas usianya sudah amat lanjut, namun setiap patah kata yang diucapkan justru amat tegas dan bertenaga Nampaknya kakek pertama tadi masih belum dapat meredakan hawa amarahnya kembali dia berseru: "Toako, didaratan Tionggoan memangnya bukan cuma dia seorang yang bisa menggunakan kepandaian tersebut, seperti contohnya si selaksa pukulan ciang sianseng dia menguasai pelbagai ilmu pukulan yang ada didunia ini dan siapapun tak dapat menandingi kemampuannya tapi ia adalah seorang yang saleh, berbudi luhur dan dihormati setiap orang. Tentu saja kita tak bisa mencurigai orang saleh seperti itu sebagai seorang pembunuh. Berbeda sekali dengan pihak pek pay, sudah lama mereka hidup terpencil diluar perbatasan. Partai tersebutpun bukan sebuah partai lurus gerak gerik dan tindak tanduk mereka hanya menuruti dorongan hati dand ia sudah lama mempunyai ambisi untuk menancapkan kaki didaratan Tionggoan oleh sebab itu menurut pendapat siaute, besar kemungkinan Tiang pek paylah yang menjadi biang keladi dari kematian murid-murid kita."

Kakek yang disebut "Toako" tadi segera menghela napas panjang.

"Losam jangan kelewat emosi, terlepas orang itu adalah jago dari Tiang pek pay atau orang lain yang pasti orang itu tentu memiliki kepandaian silat yang tidak berada dibawah kemampuan kami, buktinya dia mampu membunuh keempat murid kita sekaligus. Manusia misterius semacam ini biasanya amat susah dihadapi." Kakek yang disebut losam segera menyahut:

"Yaa, penjelasan toako memang betul sejak terjun kedalam dunia persilatan, kita empat naga dari Tionggoan sudah empat puluh tahun berkelana dalam dunia persilatan tetapi orang itu tak segan-segan memusuhi kita, bahkan bisa membunuh keempat murid kita berarti dia sudah pasti memiliki sesuatu kemampuan yang bisa diandalkan untuk itu memang ada baiknya kita harus kembali semua persoalan ini serta menyusun suatu rencana yang matang sebelum mengambil keputusan lebih jauh."

Kim Thi sia yang sudah tak sabar segera bertanya: "Dimana sih letak Tiang pek pay?" "Diluar perbatasan."

"Sedang sirasul dari selaksa pukula Ciang sianseng?"

"Di Tionggoan"

Ketika menjawab pertanyaan tersebut wajahnya segera memperlihatkan sikap yang sangat menaruh hormat. "Kalau begitu selamat tinggal, terima kasih banyak atas petunjukmu, aku merasa berterima kasih sekali."

selesai berkata dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. "Hey nak, hendak kemana kau?" tegur kakek itu setelah tertegun sejenak. "Mencari Ciang sianseng."

Kakek itu sgeera menarik wajahnya dan berkata dengan serius: "Kau mencurigai Ciang sianseng?"

"Bukankah sudah kau terangkan tadi, hanya pihak Tiang pek pay dan ciang sianseng yang memiliki ilmu pukulan untuk membunuh orang tanpa meninggalkan bekas? Tiang pek pay terletak jauh diluar perbatasan, mustahil aku bisa mendatanginya, sedang ciang sianseng berada di Tionggoan, maka aku bermaksud menyelidiki persoalan ini dari pihaknya siapa tahu "

"Bila kau berani bertindak demikian, bukan saja kami akan memandang hina dirimu bahkan segenap umat persilatan didunia inipun akan memusuhimu secara bersama-sama" hardik sikakek.

"Kenapa?" tanya Kim Thi sia tertegun-

" Ciang sianseng adalah seorang tokoh persilatan yang berkedudukan sangat tinggi, seorang yang salah dan berbudi luhur, banyak jago persilatan yang menaruh hormat kepadanya serta menganggapnya sebagai malaikat hidup. jika kau berani mengusik hidupnya maka segenap umat persilatan akan memakimu dan menyumpahi dirimu"

"Kalau begitu biar aku berangkat keluar perbatasan saja." Padahal dalam hatinya dia telah mengambil keputusan dan tak akan merubah rencananya semula.

"Nah, begitulah baru pandai" kata sikakek kemudian sambil manggut-manggut.

Keempat kakek itu segera bangkit berdiri, masing-masing membopong mayat muridnya dan berlalu dari situ.

Lamat-lamat dari kejauhan sana ia masih mendengar suara kakek itu berseru:

"Nak baik-baiklah menjaga diri sekarang kau sudah menjadi salah satu diantara jago muda yang menonjol, masa depanmu sudah terbuka tapi ingat baik-baik pesanku.Janganlah bersikap kelewat menonjolkan diri bila aku sudah menyelidiki duduknya persoalan ini hingga jelas. Kami pasti akan mewariskan ilmu silat kepadamu sebagai hadiah dari pertemuan kita hari ini. "

Diam-diam Kim Thi sia tertawa geli pikirnya:

"Lucu benar, sejak kapan aku menjadi jago muda yang menonjol? Benar- benar picik pengetahuanku, masa soal inipun tidak kuketa hui?Jangan-jangan aku menjadi tenar karena tahan dipukul?"

Kemudian diapun berpikir lebih jauh:

"sering kudengar dari ayah yang mengatakan bahwa empat naga dari Tionggoan adalah tokoh persilatan yang ternama dan merupakan angkatan tua dari dunia persilatan kepandaian silat mereka sudah mencapai puncak kesempurnaan. Tapi kenyataannya keempat muridnya telah dibunuh orang, jelas sipembunuh yang iri hati itu berhati jahat dan buas. Ehmmm dalam tindakanku selanjutnya memang paling baik jika aku menahan diri serta bersikap jangan kelewat menonjol bila namaku sampai dicantumkan dalam daftar hitamnya. Waaah. bisa berabe

dengan keselamatan jiwaku." sesaat kemudian ia berpikir lagi:

"Tapi suhu bilang tenaga dalamku masih cetek dan perlu sering melatih diri kalau tidak maka kekuatanku selamanya akan cetek dan tak akan peroleh kemajuan apa-apa bila sampai begitu bukankah aku bakal menyia-nyiakan serta harapan ayah?"

"Keluarga Kim adalah keturunan dari manusia berhati baja dan berkedudukan agung bukankah ayah sering bilang bila aku tidak mencari kemajuan nama baik leluhur Kim pasti akan rusak. "

Berpikir sampai disini semangatnya makin berkobar, tanpa terasa lagi dia berpekik nyaring dan melampiaskan keluar semua kekesalan yang mencekam perasaannya selama ini. siapa tahu......

Baru selesai ia berpekik tiba-tiba terdengar suara seseorang mendengus tertahan dengan penuh penderitaan, disusul kemudian terdengar seseorang berseru dengan suara yang parau:

"Ternyata kau adalah manusia semacam ini"

Nada perkataan itu seperti terkejut dan mengandung perasaan tak terduga terhadap sesuatu. seakan-akan baru sekarang dia mengerti kalau pandangannya selama ini ternyata keliru karena kenyataannya berbeda jauh dengan apa yang diketahui selama ini.

oooo0oooo

Ketika Kim Thi sia mendengar suara dengusan tersebut berasal dari suatu tempat yang tak jauh letaknya dari situ rasa ingin tahu segera timbul dalam hatinya, cepat-cepat dia bergerak mendekati sumber suara tersebut.

Sepanjang jalan ia mendengar suara yang rendah dan parau itu bergema lagi, tapi kali ini diiringi dengan suara gelak tertawa yang amat menyeramkan.

"Haaaahhh.....haaahhh.....haaahhh kalau ingin membunuhku bunuhlah, sekalipun sudah

menjadi setan gentayangan aku tetap akan membongkar kedok aslimu dihadapan umat persilatan didunia ini...haaahhh....haaahh silahkan turun tangan kalau kau mengharapkan kotak Hong toh

tersebut? Huuuh. jangan mimpi aku bakal menyerahkan kembali kepadamu." Kim Thi sia yang mendengar pembicaraan tersebut menjadi lebih terperanjat lagi, segera pikirnya:

"Aaaah orang ini menyinggung soal kotak mestika Hong toh, ini berarti dia pasti

mempunyai hubungan dengan terbunuhnya Nyoo lo enghiong, siapa tahu kalau orang inilah yang telah melakukan pembunuhan tersebut?"

semangatnya segera berkobar dengan menelusuri pepohonan yang lebat untuk menyembunyikan diri, ia bergerak maju terus mendekati tempat kejadian.

saat itulah, tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara yang keras dan tegas:

"Jika kau tak mau menyerahkan lagi. hmmmmm jangan salahkan kalau aku akan pergunakan

ilmu pembetot otot untuk menyiksamu sampai mati, terus terang saja keberitahukan kepadamu. Siksaan semacam ini tak mungkin bisa kau hadapi."

Kembali Kim Thi sia merasa terperanjat sebab dari nada pembicaraan orang itu, dia sudah menangkap kalau sipembicara tersebut memiliki kepandaian silat yang hebat sekali dan tak terlukiskan lagi dengan kata-kata. Jika dibandingkan dengan keempat naga dari Tionggoan, entah kepandaiannya itu berapa kali lipat lebih hebat.

"siapakah orang itu?"

sekalipun nyalinya lebih besar setelah mendengar perkataan tersebut tak urung rasa percaya pada diri sendiri mulai goyah.

sementara dia masih termenung suara yang parau dan berat tadi telah berkumandang lagi. "Sungguh tak kusangka kau adalah manusia seperti ini jika kau ingin berbuat bagaimana lakukan saja sekehendak hatimu. sekalipun harus menahan siksaan yang betapapun beratnya tak nanti akan kuberitahukan tempat penyimpanan kotak mestika Hong toh tersebut kepadamu. Hmmm aku mengira diriku pintar, tak tahunya sudah salah menilai orang kalau ingin membunuh hayolah bunuh, terserah kepadamu. Asal aku mengerutkan dahi, anggap saja tak becus menjadi pian pocu dari jauh propinsi diselatan-"

Perkataan yang terdengar Kim Thi sia segera membuktikan apa yang diduga sebelumnya. "orang yang dicelakai ini menyebut diri sebagai Pian pocu dari tujuh propinsi, menurut ayah, pian pocu adalah melambangkan seorang pemimpin persilatan yang mempunyai nama termashur dan pengaruh yang luar biasa lagipula memiliki ilmu silat yang sangat hebat, tadi nyatanya orang tersebut mampu membekuknya, sudah pasti kepandaian silat yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa."

Berpikir demikian, gerak geriknya menjadi jauh lebih berhati-hati lagi.

setelah berjalan lagi sekian waktu, mendadak terdengar orang yang menyebut diri sebagai pian pocu dari tujuh propinsi itu menjerit kesakitan. suaranya mengerikan sekali bagaikan jeritan iblis. sangat tak sedap didengar.

Kim Thi sia menjadi amat terkejut, buru-buru dia menyembunyikan diri dibelakang sebuah batu cadas yang besar.

Ketika ia mengintip dari balik batu cadas dari meminjam cahaya rembulan yang redup untuk memperhatikan keadaan didepan itu, tampaklah tak jauh dari tempatnya dua sosok bayangan manusia. seorang berada dalam posisi berdiri sementara yang lain berada dalam posisi duduk. yang sedang duduk jelas merupakan korban dari kejahatan tersebut.

Bayangan manusia yang sedang berdiri itu memiliki perawakan tubuh yang tinggi begitu tinggi besar dan kekar, mukanya ditutupi dengan kain kerudung hitam. seluruh tubuhnya tertutup oleh pakaian berwarna hitam tapi berkilauan tajam jelas bahwa pakaian tersebut terbuat dari yang luar biasa.

Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli dan tajam bagaikan sembilu itu benar-benar menggidikkan hati siapapun yang memandang. Apalagi ketika sinat mata berkelebat lewat Kim Thi sia merasa seolah-olah tempat persembunyiannya sudah ketahuan. Tanpa dia mengayunkan lengannya kebawah, orang yang sedang duduk itu segera memperdengarkan jeritan ngerinya yang menyayat hati suara jeritan yang membelah keheningan malam itu bergema sampai ketempat yang jauh sekali. Tak bisa dilukiskan suara itu mendadak penderitaan ataukah rasa ketakutan-Terdengar orang itu berteriak lagi keras-keras:

"Kalau ingin membunuh cepatlah membunuh perbuatanmu semacam ini.......bukan terhitung perbuatan manusia."

Mungkin disebabkan harus menahan penderitaan yang luar biasa, sehingga suara teriakannyapun kedengaran parau dan tak jelas.

Terdengar manusia berbaju hitam yang tinggi besar itu berkata lagi dengan suara yang menyeramkan:

"Pingin mampus? Hmmm, tak segampang itu,aku justru akan memaksamu untuk mengatakan dimanakah kotak peta rahasia tersebut kau sembunyikan. "

sang korban yang terduduk segera mendengus dingin-dingin, serunya sambil menggertak gigi kencang-kencang:

"Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong. Andaikata semudah itu aku dapat kau taklukan, percuma saja aku menjadi Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan"

Disatu pihak berusaha menggertak dengan kata-kata yang menakutkan, sebaliknya dipihak lain tak mau menyerahkan biar sudah dipaksa sekalipun-Jeritan-jeritan ngeri pun berkumandang tiada hentinya dan membelah keheningan. Diam-diam Kim Thi sia mulai berpikir:

"Entah siapakah orang yang berperawakan tinggi besar ini? Kekejaman hatinya benar-benar tak pernah kujumpai sebelumnya, mana mungkin pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini sanggup untuk mempertahankan diri lebih jauh?"

Karena pikirannya bercabang, pemuda itu menjadi bersikap gegabah sehingga mematahkan sebatang ranting.

Begitu ranting tersebut patah orang yang berperawakan tinggi besar itu segera berpaling dengan sigap. Kemudian dengan suara yang amat keras bagaikan geledek dia membentak.

"siapa disitu?"

Kim Thi sia menjadi sangat terperanjat dan cepat-cepat menutup semua pernapasannya.

Terdengar orang yang terduduk itu mengejek sambil tertawa seram.

"Haaahhh.....haaahhh....haaahhh. kau sudah merasa takut bukan? Kau takut kedok aslimu

terbongkar orang sehingga mereka yang selama ini menghormatimu dan menyanjungmu menjadi membenci serta menyumpahimu sepanjang masa bukan? Haaahh....haaahh.....haaahh. "

"Tutup mulut" sekali lagi manusia berperawakan tinggi besar itu membentak nyaring.

Ketika ujung bajunya dikebaskan kedepan pian pocu dari tujuh propinsi diwilayah selatan itu sekali lagi menjerit kesakitan dengan suara yang mengerikan sekali. Terdengar dia berseru dengan suara terputus-putus.

"Bagus....perbuatanmu bagus sekali...... sekarang tulang dadaku sudah patah semua. biar ada

obat yang mujarabpun tak akan menyembuhkan diriku lagi. jangan harap aku akan

memberitahukan rahasia tersebut kepadamu. "

Belum selesai perkataan itu diutarakan, keritan ngeri yang menyayat hati telah mengakhiri perkataan yang belum selesai itu.

Kim Thi sia sungguh merasa tidak tega menyaksikan siksaan keji itu, buru-buru ia menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tak berani menonton adengan yang mengerikan itu. Apa yang terlihat kemudian segera membuat sianak muda itu terkejut bercampur gembira.  Rupanya kotak rahasia Hong toh yang dibungkus dengan kain itu ditemukan berada dibawah sebuah batu cadas raksasa, cepat-cepat Kim Thi sia mengambilnya dan disembunyikan kebalik baju dibagian dadanya. Tapi masalah baru kembali melintas dalam benaknya:

"Andaikata Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini tak sanggup menahan siksaan sehingga mengakui tempat penyimpanan kotak rahasia tersebut. Ditinjau dari kebuasan dan kekejaman hati simanusia berperawakan tinggi besar itu, niscaya diapun akan disiksa dan dihabisi nyawanya."

kendati begitu, diapun tak berani meninggalkan tempat tersebut dengan begitu saja. sebab dia mengerti, orang berperawakan tinggi besar itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, ini berarti diapun memiliki ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa pula. Bila dia beranik bergerak secara gegabah, niscaya tempat persembunyiannya akan ketahuan.

selang berapa saat kemudian, agaknya manusia berkerudung hitam itu mulai habis kesabarannya, dengan suara dingin ia segera berseru:

"Aku sudah berusaha untuk bersabar dan bersabar terus, tapi kau tetap berkeras kepala enggan menjawab. Baiklah, kalau begitu jangan salahkan kalau aku akan bertindak tanpa belas kasihan."

Dengan nada angkuh Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan itu menyahut:

"setelah terjatuh ketanganmu, apalagi yang bisa kukatakan? Boleh saja bila kau berharap agar aku mengatakan tempat penyimpan kotak mestika itu, tapi kau harus memenggal dulu batok kepalamu dan persembahkan kepadaku"

Manusia berkerudung hitam itu menjadi teramat gusar, sekilas hawa napsu membunuh yang amat keji dan mengerikan melintas dari balik matanya tiba-tiba ia mengebaskan jari tangannya kebawah.

Kali ini pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini tidak menjerit kesakitan, namun tubuhnya bergulingan diatas tanah terlihat jelas bahwa paras mukanya pucat pias seperti mayat.

Menyaksikan hal ini Kim Thi sia segera berpikir:

" Entah siapa manusia berkerudung itu? mengapa ia bertekad untuk mendapatkan kotak mestika Hong toh tersebut? mungkinkah isi kotak ini benar-benar merupakan benda mestika yang langka dan tak ternilai harganya?" Tapi ia segera berpikir lebih jauh:

"Aaaah, benar orang ini berusaha keras untuk mendapatkan kotak mestika Hong toh, jangan- jangan diapun ingin mempelajari ilmu silat dari sirasul dari selaksa pukulan Ciang sianseng sehingga bisa menjagoi dunia persilatan. ? tapi bukankah dia sudah memiliki ilmu silat yang tak

terkirakan hebatnya, kenapa dia masih tamak dan ingin mempelajari pula ilmu silat dari Ciang sianseng. "

Dengan perasaan tak habis mengerti dia berpaling kembali ketengah area. Waktu itu ternyata pian pocu dari tujuh propinsi diselatan telah menggeletak tak berkutik lagi diatas tanah, rupanya dia sudah kehilangan kesadarannya.

Manusia berkerudung itu segera mendengus dingin, tangannya diayunkan kebawah lagi dengan keras. ^Blaaammmm. "

Seketika itu juga tulang dada Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan itu patah menjadi beberapa bagian, dan tanpa menimbulkan sedikit suarapun melayanglah selembar jiwanya.

Dengan suara rendah manusia berkerudung itu segera mengumpat dan menyumpah berulang kali setelah itu tubuhnya melesat sejauh belasan kaki dari tempat semula dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap tak berbekas. Diam-diam Kim Thi sia menjulurkan lidahnya karena ngeri, pikirnya dihati.

"Waaah, aku bisa memiliki ilmu meringankan tubuh sehebat ini pasti akan kumanfaatkan kepandaian tersebut untuk membantu kaum lemah dan menegakkan keadilan serta kebenaran bagi umat persilatan." Ketika ditunggunya sekian waktu tanpa ditemukan suatu kejadian, pelan-pelan pemuda itu baru munculkan diri dibalik tempat persembunyian- sewaktu lewat disamping mayat pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini, dia melongok serta memperhatikan sekejap. Terlihat olehnya, dari tujuh lubang indera mayat itu darah kental mengalir keluar dengan derasnya dibagian bawah sinar rembulan- wajahnya yang pucat pasi nampak lebih menyeramkan hati.

sambil memejamkan matanya rapat-rapat Kim Thi sia maju dua langkah kedepan, kemudian baru menghembuskan napas panjang.

Perasaannya yang tujam secara lamat-lamat mulai menduga, bisa jadi manusia berkerudung yang baru saja beranjak pergi dari situ tak lain adalah manusia iri hati yang maksud empat naga dari Tionggoan.

Dengan suara yang amat lirih berkumandang memecahkan keheningan yang mencekam disekeliling tempat itu. Kim Thi sia merasa tercekat, ditambah pula hembusan angin bukit yang dingin dan kicauan burung malam, suasana waktu itu tak ubahnya seperti berada didalam akhirat saja.

Cepat dia berpaling, segera ditemuinya anggoat tubuh mayat yang mengerikan itu mulai bergerak-gerak.

Dengan memberanikan diri Kim Thi sia segera maju mendekat kemudian tegurnya: "Hey, rupanya kau belum mati?"

Kembali terdengar suara rintihan lirih bergema memenuhi angkasa suaranya lemah dan sangat pelan-

Buru-buru Kim Thi sia berjongkok sambil memeriksa denyut nadi orang tersebut, terasa olehnya detak jantung orang itu sudah lemah sekali, dan seakan-akan setiap saat dapat berhenti berdetak.

Maka cepat-cepat dia membimbing bangun tubuh orang itu sambil tanyanya pelan: "Hey siapakah manusia berkerudung tadi"

Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan ini nampak sangat lemah kondisinya, dia sudah tak mampu lagi untuk berbicara dengan suara yang keras.

Terpaksa Kim Thi sia harus menempelkan telinganya diatas bibir orang itu, dengan begitu secara lamat-lamat dan suara terputus-putus ia dapat menangkap perkataannya.

"Kotak.....kotak Hong toh....ber berada dibawah

baaatu.....beeee....besar...iblisja....jahat....kau manusia munaftk.....kau manuu manusia

babi....biar sudah matipun aku.....aku tetap akan mengejar nyawamu. "

"Hey siapak iblis jahat itu?" teriak Kim Thi sia dengan suara keras. "Dia. dia

adalah........adalah "

sayang sekali perkataan itu tak sampai diselesaikan tiba-tiba kakinya mengejang keras disusul kepalanya terkulai lemas ternyata dia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Dengan gemas Kim Thi sia segera mendepakkan kakinya berulang kali keatas tanah serunya: "Benar-benar menjengkelkan kalau engkau bisa mengatakan namanya, aku kan dapat pula

membalaskan dendam bagi kematianmu."

sementara dia masih mendongkol, tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara yang lembut dan ramah: "Nak, apakah dia telah mati?"

Bagaikan burung yang terkena panah, Kim Thi sia segera melompatjauh-jauh dan membalikkan badan.

Entah sejak kapan ternyata disamping mayat Pian pocu dari tujuh propinsi diselatan itu telah bertambah dengan seorang kakek berwajah saleh lembut waktu itu sekulum senyuman ramah menghiasi ujung bibirnya. Mengetahui kehadiran kakek berwajah saleh ini, Kim Thi sia merasa sangat lega sahutnya kemudian-

"Empek tua, dia telah mati"

Dengan perasaan iba kakek itu memandang mayat itu sekejap lagi, kemudian tanyanya lebih jauh:

"orang ini tewas secara mengenaskan apakah dia adalah sanak saudaramu?"

Kakek ini berwajah saleh lembut dan halus penuh perasaan, bila dibandingkan dengan kebuasan dan kekejaman manusia berkerudung tadi, pada hakekatnya mereka berdua berbeda seperti langit dan bumi.

Tanpa terasa Kim Thi sia pun memberikan perbandingan yang nyata sekali atas kakek itu, otomatis rasa was-wasnya juga turut lenyap tak berbekas. Tanpa bermaksud untuk membohong dia menyahut:

"Bukan dia adalah pian pocu dari tujuh propinsi diselatan entah mengapa telah tewas dibunuh orang, bagaimana kalau kita kubur saja jenasahnya?" Kakek itu tersenyum.

"Baik, baik sekali, mari kita membuat liang serta mengubur mayatnya."

"Ehmmm. pian pocu dari tujuh propinsi diselatan memang seorang tokoh persilatan yang

gagah berani, sungguh tak disangka dia tewas ditempat ini, kematiannya benar-benar merupakan suatu kehilangan besar bagi segenap umat persilatan"

Kim Thi sia segera meloloskan gedang mestika Leng gwat kiamnya untuk digunakan menggali sebuah liang besar, setelah menurunkan jenasah pian pocu dari tujuh propinsi diselatan buru-buru dia menutup kembali liang tersebut dengan tanah.

"sobat, nampaknya pedangmu adalah sebilah pedang mestika yang luar biasa sekalipun aku tak mengerti benda mestika, tapi aku tahu benda tersebut pasti merupakan benda yang luar biasa."

Kim Thi sia tertawa.

"Pedang itu bernama Leng gwat kiam, warisan dari ayahku almarhum. "

"ooooh kalau begitu ayahmu tentulah seorang tokoh persilatan yang mempunyai nama

besar dalam dunia persilatan."

Merah jengah selembar wajah Kim Thi sia hatinya gembira sekali. ujarnya dengan bersemangat. "sayang ayahku sudah meninggal dunia, kalau tidak ia pasti termashur diseluruh dunia. " Kembali kakek itu tersenyum.

"sobat kecil, aku lihat kau mempunyai bakat istimewa dalam mempelajari ilmu silat bila peroleh petunjuk dari guru pandai, tak susah bagimu untuk menjadi seorang pendekar yang disanjung dan dihormati orang di kemudian hari."

" Empek kelewat memuji" dengan perasaan rikuh pemuda itu berseru. "Aku cuma seorang lelaki bodoh yang takpandai bersilat secara baik. Mana mungkin bis menjadi pendekar hebat dikemudian hari? bagiku asal tidak dipandang hina orang lain saja, hatiku sudah cukup puas"

Kakek itu segera tertawa terbahak-bahak dan tidak berbicara lagi. sementara itu didalam waktu yang amat singkat ini, Kim Thi sia telah menaruh kesan baik terhadap kakek itu, kembali dia bertanya:

" Empek. ilmu meringankan tubuhmu sangat bagus tanpa kusadari ternyata kau telah berdiri disampingku coba kau adalah musuhku niscaya aku tak akan memiliki kesempatan lagi untuk melancarkan serangan balasan."

"sobat kecil apakah kau ingin mempelajarinya?" tanya kakek itu sambil tertawa ramah.

Kim Thi sia menjadi sangat gembira, dengan rasa terharu bercampur terima kasih sahutnya: "Empek, kau sungguh baik, asal kau bersedia mewariskan kepadaku, aku pasti akan mempelajarinya dengan bersungguh hati"

"Haaaah.......haaaah. haaaah pasti akan kuwariskan, pasti akan kuwariskan"

Kemudian setelah berhenti sejenak. dia berkata lebih jauh:

"Padahal ilmu meringankan tubuh semacam ini tidak sulit untuk dipelajari. Ilmu tersebut bernama It wi to kiang, merupakan hasil ciptaan dari Tat mo consu dari siau lim si dimasa lalu, bagi setiap orang yang kuat, apabila hawa murninya disalurkan menembusi setiap bagian badan, otomatis akan timbul perasaan mengambang pada dirinya, dan ilmu meringankan tubuh It wi to koang pun diambil dari inti sarinya dari keadaan tersebut." Kim Thi sia menjadi amat terperanjat setelah mendengar perkataan ini pikirnya:

"Ayah sering bilang, ilmu meringankan tubuh yang paling hebat dalam dunia persilatan adalah ilmu meringankan tubuh It wi to kiang ciptaan Tat mo consu konon ilmu tersebut merupakan ilmu aliran lurus yang dapat mengungguli kepandaian lainnya, dalam kenyataannya empek ini menguasai ilmu meringankan tubuh It wi to kiang bisa jadi dia adalah seorang tokoh kenamaan dunia persilatan dewasa ini. "

Berpikir sampai disitu dengan perasaan kaget dia mengawasi kakek itu beberapa kejap tampak wajahnya cerah bagaikan dewa, meski senyum ramah selalu menghiasi wajahnya namun tidak menutupi pancaran sinar matanya yang tajam dan berkilat, hal mana semakin membuktikan kebenaran dari dugaannya. setelah tertawa ramah, kakek itu berkata:

"Anak muda, kau pasti keheranan kenapa aku bisa menguasai ilmu meringankan tubuh It wi to kiang bukan? sekalipun orang yang menguasai kepandaian tersebut cuma beberapa gelintir manusia saja, namun yang benar-benar mendalami serta menguasai inti sari dari kepandaian tersebut sesungguhnya bisa dihitung dengan jari tangan sebelah."

"Apalagi diwaktu belakangan ini, dimana sebagian tokoh silat enggan mewariskan semua kehebatan ilmu silatnya kepada generasi muda dan lebih banyak yang suka membawa kepandaian tersebut masuk keliang kubur hal ini menyebabkan orang yang menguasai ilmu meringankan tubuh It wi to kiang tersebut mungkin cuma diriku seorang, tapi bila kau ingin mempelajarinya berarti didunia ini bakalada dua orang saja yang mengerti tentang ilmu meringankan tubuh It wi to kiang tersebut" Kim Thi sia menjadi gembira, segera serunya:

"Empek, kau baik sekali, aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu." Kakek itu menggelengkan kepala berulang kali.

"Tak usah berterima kasih, aku paling senang dengan pemuda berbakat bagus, menurut penilaianku tidak sampai lima tahun kau pasti sudah dapat menggemparkan seluruh dunia persilatan "

Kim Thi sia segera merasakan semangatnya berkobar-kobar. Rasa gembiraya sekarang tidak terlukiskan lagi dengan kata-kata.

Dengan sikap yang menghormat dia berlutut dan memberi hormat kepada kakek itu kemudian baru ujarnya:

"Aku yang muda Kim Thi sia tak pernah akan melupakan budi kebaikan empek." "oooh jadi kaulah Kim Thi sia?" seru kakek itu sambil memandang kearahnya dengan

perasaan kaget bercampur tercengang.

"Darimana empek bisa tahu?" Kakek itu segera tertawa.

"sungguh tak kusangka ternyata kaulah Kim Thi sia, pertemuan ini semakin menggembirakan hatiku. Haaaahhhh.....haaahhh tahukah kau, berhubung kemampuanmu dalam usia muda yang

berhasil menyambut lima buah pukulan ketua Tay sang pang Khu It cing dengan sepenuh tenaga, namamu sekarang sudah termasuk dalam deretan jago-jago muda kenamaan. " "Sudah pasti, memang merekalah yang membuat berita sensasi ini. " ucap Kim Thi sia rasa

rikuh. "Padahal apa yang kupahami hanya sedikit kulit luar saja mana mungkin bisa dideretkan pada jago-jago muda?"

"Sudahlah kita tak usah membicarakan soal ini dulu, mari kuwariskan dulu ilmu meringankan tubuh It wi to kiang tersebut kepadamu."

sambil tertawa Kim Thi sia manggut-manggut, baru saja dia hendak mengucapkan kata-kata terima kasih, mendadak terlihat olehnya kakek itu sedang memperhatikan sesuatu, tampaknya dia seperti telah menemukan sesuatu buru-buru serunya keheranan:

"Empek. apa yang terjadi?" "Ada orang datang"

" Kenapa aku tidak melihat?"

"Haaaah.....haaaah......haaaah tidak sedikit jumlah rombongan yang datang, paling tidak

diatas angka lima. sekarang mereka masih berada seratus kaki dari tempat ini, bagaimana mungkin kau dapat mengetahuinya?"

"Jadi empek telah mendengarnya?" tanya Kim Thi sia lagi dengan perasaan terkejut.

Kakek itu hanya tertawa dan tidak menjawab selang berapa saat kemudian benar juga dari kejauhan sana telah muncul lima sosok bayangan tubuh manusia.

setelah melihat kenyataan tersebut mau tak mau Kim Thi sia harus mengagumi juga kesempurnaan dari tenaga dalam kakek itu, tapi secara diam-diam diapun merasa gembira karena ia bakal diwarisi ilmu meringankan tubuh It wi to kiang yang sangat hebat itu.

Dalam pada itu kelima sosok bayangan manusia tadi telah berjalan mendekat, makin kedepan makin mendekat.

saat itulah Kim Thi sia mendengar kakek itu berbisik: "Kelima orang itu adalah jago-jago utama dari Pian pocu tujuh propinsi diselatan bisa jadi mereka sedang mencari pemimpinnya yang telah hilang. Aa aai. siapa yang menduga kalau pemimpin mereka yang telah meninggal dunia? bila

berita duka ini mereka dengar, entah berapa sedihnya hati mereka."

Kim Thi sia merasa sangat terharu oleh perkataan itu pikirnya tanpa terasa

"Andaikata setiap orang didunia ini mempunyai hati yang tulus dan saleh seperti dia tentu tiada persengketaan yang bakal terjadi didunia ini."

sementara dia masih termenung, kelima orang itu sudah berjalan mendekat dengan sinar matanya yang tajam masing-masing memperhatikan sekejap kedua orang itu.

Tapi secara tiba-tiba mereka menjerit kaget bersama-sama menjatuhkan diri berlutut seraya berseru:

"Boanpwee menjumpai rasul selaksa pukulan disamping menyampaikan salam hormat kami semua."

Kim Thi sia yang ikut mendengarkan pembicaraan tersebut menjadi sangat terperanjat, segera tegurnya: "Empek. jadi kau adalah Ciang sianseng?"

Kakek itu tertawa sambil maju berapa langkah kedepan, kemudian sambil membangunkan kelima orang itu, ujarnya sambil tertawa ramah:

" Kalian pasti sudah letih sekali, sayang tempat ini jauh dari rumah sehingga tiada sesuatu yang bisa dihidangkan, hatiku benar-benar tak tenteram."

Dengan wajah amat berterima kasih, kelima orang itu bangkit berdiri kembali dan serunya bersama-sama: "Boanpwee tak berani merepotkan ciang loya." Ternyata rasul dari selaksa pukulan ini tidak menjadi angkuh atau jumawa karena kedudukannya yang sangat terhormat didalam dunia persilatan. Malah sebaliknya dia menyalami setiap orang dengan ramah dan lembut.

Tak heran kalau kawanan lelaki kasar yang dihari-hari biasa selalu bergelimpangan diujung golok ini menjadi kaget dan gelagapan setengah mati. otomatis rasa kagum dan hormatnya terhadap tokoh persilatan inipun semakin bertambah tebal.

sebagai kawanan manusia yang tak pernah mempersoalkan mati hidup sendiri ini kini malah timbul suatu perasaan rela berkorban demi Ciang sianseng yang dikagumi dan dihormati itu. serentak mereka menjura bersama-sama dan berseru:

" Ciang sianseng kelewat baik terhadap boanpwee kesemuanya ini membuat boapwee amat terharu, bila cianpwee membutuhkan tenaga kami, biarpun harus terjun kelautan api mendekati bukit bergolokpun tak akan kami tampik," Ciang sianseng segera mengelus janggutnya dan tertawa ramah.

"Maksud baik kalian sangat menggembirakan aku merasa cukut bangga karena mendapat sahabat seperti kalian ini. "

Dengan perasaan kaget dan senang kelima orang itu mengucapkan kata-kata merendah tapi saking gugupnya malah tak sepatah katapun yang bisa diutarakan secara lancar. Tiba-tiba Ciang sianseng bertanya:

"Jauh-jauh datang kemari, apakah kalian sedang mencari cong pian pocu kalian?"

"Ciapnwee benar-benar sangat hebat, ternyata dalam sepatah kata saja sudah dapat menebak tujuan kami."

Dengan wajah sedih Ciang sianseng menghela napas panjang, ketika kelima orang itu menanyakan apa yang telah terjadi. Ciang sianseng pun segera menuding kearah Kim Thi sia seraya berkata:

"Sobat cilik, coba kau beritahukan kepada mereka atas semua yang telah kau saksikan." Dengan sejujurnya Kim Thi sia pun menceritakan kembali apa yang telah disaksikan tadi.

Dalam sedihnya, dengan air mata bercucuran kelima orang itu segera bersumpah akan menggerakan segenap anak buah mereka yang berada di ketujuh propinsi diselatan sungai besar untuk mencari serta membunuh manusia berkerudung yang keji dan buas itu. sambil menghela napas Ciang sianseng berkata pula:

" Entah dikarenakan soal apa, Pian pocu kalian sampai tewas secara mengenaskan ditangan manusia berkerudung itu?" Dengan berterus terang kelima orang itu berkata:

"Berapa hari berselang Pian pocu mendapat titipan dari seorang sobatnya ditempat jauh untuk mempersembahkan kotak Hong toh tersebut kepada Ciang sianseng dan memohon ciang sianseng mau mewariskan ilmu silat kepadanya sesuai dengan perjanjian. siapa tahu, belum lagi Ciang sianseng dijumpai dia telah mati terbunuh lebih dulu ditangan manusia berkerudung."
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏