Lembah Nirmala Jilid 08

 
Jilid 08

Perkataan ini benar-benar menggusarkan ketua Tay sang pang yang merasa dirinya jagoan ini, mukanya hijau membesi sampai berapa saat lamanya ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Sebelum mendirikan perkumpulan Tay sang pang dahulu sesungguhnya si Tangan sakti penggetar jagad Khu It Cing sudah merupakan seorang kepala perampok yang sangat termashur didaratan Tionggoan, selama ini dia hanya tahu memberi perintah memandang tinggi kedudukan sendiri dan memandang hina kawanan jago persilatan lainnya.

Ilmu silat yang dimiliki memang sangat tangguh, tapi hatinya kejam, buas dan sama sekali tak berperasaan sekalipun dia sombong sekali namun tak pernah ada orang yang berani mencabut kumis dari wajah harimau apalagi sampai membuat perselisihan dengan dirinya.

Sungguh tak nyana Kim Thi sia yang masih muda dan sama sekali tak punya nama, sekarang justru mengupatnya secara blak-blakan dihadapan orang banyak gejala semacam ini dialami tak heran dia meniadi sewot sekali.

Kendatipun demikian, ia berusaha untuk menjaga diri mengingat kedudukannya yang terhormat dan tinggi, dia tak ingin berkelahi dengan seorang anak muda yang sama sekali tak bernama itu sebab tindakan tersebut dapat menurunkan pamor sendiri.

Betul hatinya snagat mendongkol dan jengkelnya setengah mati, akan tetapi tidak terlihat suatu tindakan yang mungkin akan mengancam jiwa lawan.

Mendadak sijago pedang angin dan guntur melompat bangun dari tempat duduknya, lalu berkata dengan suara yang dalam dan lambat. "Harap pangcu jangan gusar. serahkan saja bocah kecil ini kepadaku, biar aku yang melenyapkan dengan sebuah pukulan."

Khu It cing dengan suara menggeledek Kim Thi sia segera membentak keras. "Berani atau tidak hayo cepat katakan, apakah Tay sang pang kalian hanya terdiri manusia-manusia yang bernama kosong saja termasuk kau?"

sijago pedang angin dan guntur sangat berang, dia melompat maju kemuka dan segera mengayunkan telapak tangannya yang besar untuk menghantam lawannya. Tapi sebelum tindakan tersebut dilakukan mendadak terdengar Khu It cing berseru: "Tunggu sebentar adik Ti"

Kemudian sambil melompat bangun dari tempat duduknya, ia berseru kembali:

"Dalam puluhan tahun terkahir belum pernah seorang manusia yang berani mencaci maki dihadapku kecuali kau orang pertama, hari ini aku akan melanggar kebiasaan dengan melayani dirimu. Jika didalam lima gebrakan aku tak mampu membinasakan kau diujung tanganku, bukan saja akan kuhadiahkan dua ratus butir pil pemusnah racun, bahkan akan kuperintahkan kepada segenap anggotaku agar selanjutnya tidak mengganggu seujung rambutmu. "

"sungguhkah perkataanmu itu?" Kim Thi sia menegaskan. Dengan penuh amarah Khu It cing berseru:

"Kau anggap aku ini siapa? apakah bicaraku suka menela mencle dan tak bisa dipercaya?" Dengan cepat Kim Thi sia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak bisa, aku membutuhkan beberapa orang saksi kalau tidak, bila kau mungkir sampai waktunya aku akan repot dengan sia-sia saja. ?"

Pucat pias selembar wajah Khu It cing saking mendongkolnya, mendadak ia tertawa keras, lalu sambil menunjuk kearah dua orang tosu yang berada dibelakangnya, ia berkata:

"saudara cilik, kedua orang ini merupakan jago-jago pedang yang amat termashur dari Bu tong pay, bagaimana kalau mereka berdua yang menjadi saksi dalam persoalan ini?"

Kedua orang tosu tua itu serentak bangkit berdiri dan berseru sambil menjura:

"Pinto tak becus dan tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi kami bersedia bertindak sebagai saksi bagi Khu pangcu."

"Kalau begitu hayolah" seru Kim Thi sia kemudian.

Dengan langkah lebar dia beranjak keluar dari ruang tengah dan langsung menunjuk ketengah tanah lapang.

Perasaan hatinya sekarang dicekam dalam ketegangan yang luar biasa, ia tahu nama besar tangan sakti penggetar jagad termashur diseluruh kolong langit dan dikenal oleh setiap orang, sudah pasti ia bukan manusia sembarangan.

Tapi bila teringat akan Yu Kien, sinona berbaju hitam yang sedang bergulat dengan maut sedang ia sendiripun membutuhkan latihan yang sering untuk menghisap tenaga dalam lawan guna memupuk kekuatan sendiri, perasaan yang semula bergolakpun pelan-pelan menjadi tenang kembali.

Tatkala orang-orang penting dari perkumpulan tay sang pang mengetahui akan peristiwa aneh tersebut, banyak diantara mereka yang segera mengajukan diri untuk mewakili ketua mereka dan berusaha membaiki ketuanya, tapi permintaan mereka ditolak semua oleh Khu It cing secara tegas. Hal ini menandakan bahwa kali ini Khu It cing benar-benar sudah dibikin sangat marah.

Setelah mengatur posisinya, Kim Thi sia segera berpaling kearah kedua orang tosu tua itu seraya serunya:

"Hey, coba kalian perhatikan dengan lebih jelas lagi" Ucapan tersebut sama sekali tak mengenal sopan santun, tentu saja kedua orang tosu tua itu segera berkerut kening dan diam-diam mendengus marah.

sementara itu hawa napsu membunuh yang amat tebal telah menyelimuti seluruh wajah Khu It cing setelah mengambil posisinya, ia segera menegur: "Hey, sudah siapkah kau?"

"silahkan kau mulai menyerang"

Khu It cing segera mengeruyitkan alis matanya, tiba-tiba seluruh tulang belulangnya kedengaran gemerutukan kerja, ketika tangannya diayunkan kedepan secara ringan seketika itu juga muncullah segulung tenaga yang maha dahsyat meluncur kedepan dan menerbangkan pasir serta batuan-

Begitu dahsyat ancaman tersebut, dalam waktu singkat telah menyelimuti seluruh badan Kim Thi sia.

Menghadapi ancaman tersebut Kim Thi sia menarik napas panjang-panjang lalu sambil menghimpun segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya ia sambut datangnya ancaman tersebut, tentu saja disertai dengan ilmu Ciat khi mi khi guna menghisap kekuatan lawan. "Blaaammmmmmmmmm. "

Suatu ledakan keras bergema memecahkan keheningan keadaan Kim Thi sia waktu itu ibarat kecapung yang menubruk tiang. Ia segera terlempar kebelakang dan jatuh terbanting sejauh empat, lima kaki dari posisinya semula. Debu dan pasirpun segera menyelimuti seluruh angkasa.

sorak sorai yang gagap gempita segera menggetarkan seluruh jagad, para anggota Tay sang pang sama-sama memberikan pujian atas kehebatan ketua mereka bahkan ada pula diantaranya yang segera mempersiapkan alat cangkul dan sekop untuk mengubur jenasah sianak muda itu.

Tapi suatu kejadian aneh segera berlangsung didepan mata, mendadak terdengar para jago itu menjerit kaget: "Aaah, ternyata belum mampus."

Pelan-pelan Kim Thi sia merangkak bangun dari balik tumpukkan pasir, lalu sambil membersihkan mukanya dari debu, ia berteriak lagi keras-keras: "Hayo cepat lancarkan seranganmu yang kedua"

Khu It cing merasa terkejut bercampur gusar, diam-diam pikirnya:

"sialan benar, padahal didalam seranganku barusan, paling tidak telah kusertai tenaga pukulan sebesar lima ratus kati lebih, namun dalam kenyataan tak berhasil membinasakannya.

Baik. kali ini akan kutambah lagi tenaga seranganku dengan dua bagian."

Berpikir demikian, diapun segera menghimpun tenaganya lebih besar lagi sambil melepaskan sebuah serangan yang maha dahsyat.

Angin pukulannya kali ini disertai dengan suara desiran angin tajam yang memekikkan telinga, langsung meluncur kemuka dengan kecepatan luar biasa.

Dimana angin pukulan itu menyambar lewat, pasir dan debupun segera berterbangan menyelimuti angkasa keadaannya waktu itu benar-benar mengerikan hati.

Tanpa berpikir panjang, Kim Thi sia segera mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut ancaman tersebut. "Blaaammmmmmmm. "

suara ledakan yang kemudian timbul ternyata beberapa kali jauh lebih nyaring dan dahsyat daripada bentrokan yang pertama kali tadi.

Kim Thi sia segera mendengus tertahan, tubuhnya terlempar sejauh lima enam kaki lebih dari posisinya semula dan jatuh terpelanting diatas tanah.

Kepalanya segera terasa pusing tujuh keliling, pandangan matanya berkunang-kunang dan peredaran darahnya bertambah cepat. Namun dengan tangguhnya pemuda itu merangkak bangun kembali dari atas tanah. Kali ini napasnya sudah tersengkal-sengkal seperti suara napas kerbau, dari kejauhan sana dengusnya napasnya telah kedengaran dengan jelas.

Berubah hebat paras muka semua orang begitu pula dengan Khu It cing sendiri, dengan memancarkan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu dia segera membentak keras dan melancarkan serangan kembali dengan mendorong sepasang tangannya secara bersama-sama.

Kim Thi sia menjerit kesakitan seperti layang-layang yang putus tali, tubuhnya mencelat jauh tujuh, delapan kaki lebih dari posisi semula.

Kali ini dia merasakan isi perutnya amat sakit, peredaran darahnya mengalir tak beraturan, biarpun dia sudah mencoba untuk merangkak bangun dengan sekuat tenaga namun tak berhasil untuk berdiri tegak kembali.

Pada saat itulah entah siapa yang mulai dahulu, tiba-tiba berkumandang teriakan-teriakan yang sangat keras.

"Bocah keparat itu telah mampus bocah keparat itu telah mampus. "

sebaliknya Khu It cing sendiri segera berkata kembali sambil menghela napas panjang.

"Selama banyak tahun terakhir ini, hanya beberapa orang saja yang sanggup menerima beberapa buah pukulanku sekaligus. Padahal ilmu silat yang dimiliki bocah ini tidak seberapa hebat, tapi tubuhnya justru begitu keras dan tangguh apabila dibiarkan hidup selama beberapa tahun lagi entah bagaimana jadinya. "

semua perkataan yang diucapkan olehnya memang merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dibantah dan perlu pertimbangan yang serius. Cepat-cepat kedua orang tosu tua itu menyambung:

"Kepandaian silat yang dimiliki Khu pangcu memang sangat hebat bila pinto sanggup mempelajari satu dua jurus saja niscaya hati kami akan merasa puas sekali. "

Khu It cing segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sungguh menyesal dalam kenyataan bocah muda ini mampu menyambut tiga buah pukula sekaligus sebelum mampus."

Lalu sambil berpaling kearah dua orang lelaki yang berada disampingnya dia berseru: "Kuburlah jenasahnya. "

Mendadak tubuh Kim Thi sia bergerak kembali bahkan pelan-pelan merangkak bangun kembali dari atas tanah.

Waktu itu pakaian yang dikenakan telah compang camping tak karuan lagi bentuknya terkoyak- koyak oleh angin pukulan lawan yang begitu dahsyat, ditambah pula dengan debu dan pasir yang melekat diatas tubuhnya, hal ini membuat dia mirip dengan sebuah manusia lumpur bila dilihat dari kejauhan.

Terdengar pemuda itu berseru sambil mendehem beberapa kali: "Hayolah serangan keempat cepat lepaskan serangan yang keempat."

Berubah hebat paras muka Khu It cing setelah menyaksikan kejadian tersebut, sementara para anggota Tay sang pang lainnya sama-sama menjerit tertahan...

Rasa kaget, curiga, heran dan gusar segera berkecamuk didalam benaknya membuat gembong iblis ini menjadi berang dan sangat mendongkol. ingatan jahatpun turut muncul didalam benaknya, ia tahu bila manusia semacam ini tidak disingkirkan mulai sekarang, sudah dapat dipastikan akan menjadi bibit bencana baginya dikemudian hari.

Maka sambil menghimpun seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, ia membentak keras dan segera mengayunkan sepasang tangannya kedepan.

serangannya kali ini mengandung kekuatan yang mencapai ribuan kati lebih, segulung nagin puyuh yang sangat kencang segera menderu-deru meluncur kedepan. Ketika Kim Thi sia mencoba untuk memberikan perlawanan dengan kekerasan, seketika itu juga ia merasakan datangnya tenaga tekanan yang maha dahsyat langsung menekan keatas dadanya.

Ia segera mendengus tertahan dan berjungkir balik sejauh tujuh, delapan kaki lebih dan untuk sesaat tak mampu merangkak bangun kembali.

Tiba-tiba Khu It cing mendesak maju kemuka dengan kecepatan luar biasa, sepasang tangannya diayunkan bersama. lagi-lagi timbul dua gulung tenaga pukulan yang maha hebat seperti gulungan ombak ditengah samudra yang mendesak kemuka.

Entah dari mana munculnya kekuatan ditubuh Kim Thi sia yang setengah sadar itu, tahu-tahu segulung tenaga murni menembusi seluruh badannya dari pusar membuat ia segera menggelinding sambil melompat bangun. Kemudian secara membabi buta dia mengeluarkan jurus- jurus serangan tangguh terus sampai akhir dan "menyunggih langit menindih budi" ilmu pedang panca Buddha untuk menghadapi datangnya ancaman tersebut.

Berpuluh-puluh ribu bayangan tangan secara menyelimuti seluruh angkasa, kemudian ecara aneh sekali menembusi kekuatan lawan dan langsung menyergap kedada dan bahu Khu It cing

Dalam waktu singkat Khu It cing merasakan seluruh pandangan matanya telah dilamurkan oleh bayangan tangan lawan yang berlapis-lapis, lapisan bayangan tangan tersebut mirip awan, tapi mirip pula dengan kabut yang kiri kanan tak mungkin bisa dihindari lagi. 

Dalam keadaan begini, dengan mempertaruhkan kemungkinan tersambarnya pakaian yang dikenakan hingga robek dengan suatu gerakan cepat dia melepaskan pula sebuah serangan jari.

Peristiwa tersebut berlangsung cepat sekali, tahu-tahu Kim Thi sia sudah berteriak keras sambil roboh kebelakang. sebaliknya Khu It cing sendiri terdorong mundur sejauh dua langkah lebih.

Namun pakaian dibagian bahunya kelihatan ada bekas cakaran yang menyebabkan robek.

Dengan wajah berubah hebat cepat-cepat dia mengayunkan kembali telapak tangannya siap melepaskan serangan lebih jauh.

Mendadak terdengar kedua orang tosu tua itu berteriak keras. "Khu pangcu tahan... lima jurus sudah lewat. "

sambil berpekik nyaring Khu It cing segera menarik kembali serangannya sambil berpaling. ia saksikan Kim Thi sia telah berdiri dengan sempoyongan malah sambil mendesak kedepan, ia bergumam tiada hentinya.

"serahkan obat penawar racunnya serahkan obat penawar racunnya kalau tidak mari kita

bertarung puluhan jurus kembali."

Khu It cing tertawa pedih, ia segera menitahkan kepada anak buahnya untuk menyiapkan obat yang dimaksud.

Maka semenjak peristiwa itulah dalam dunia persilatan telah beredar sebuah perkataan yang berbunyi begini:

" Lebih baik disengat jarum mulut harimau dari keluarga Tong, ketimbang menghadapi Kim Thi sia murid malaikat pedang."

Padahal jarum mulut harimau dari keluarga Tong di Szuchuan termashur karena kehebatan racunnya. Barang siapa terkena sengatan maka lima langkah kemudian tentu tewas. Namun bila bertemu dengan Kim Thi sia orang akan dibikin pusing dengan ulahnya yang tak kenal gentar atau mundur itu.

ooo

sinar matahari senja telah menyinari seluruh tebing Bwee hoa nia dibarat kota.

Waktu itu Kim Thi sia belum tahu kalau dia telah disebut orang persilatan sebagai manusia yang paling susah dihadapi dalam dunia persilatan. setelah meninggalkan Tay sang pang dan beristirahat sehari semalam kesegaran tubuhnya mulai pulih kembali seperti sedia kala. saat itulah dengan membawa kedua ratus butir pil penawar racun itu ia berangkat menuju ketebing Bwee hoa nia.

Dibawah sebatang pohon benar tampak seorang nona berbaju hitam berdiri menanti dengan wajah gelisah, perasaan masgul, sedih dan murung jelas tertera diatas wajahnya.

Ketika Kim Thi sia mendekati kesisinya nona itu belum merasa juga sepasang matanya yang mendelong nampak berkaca-kaca oleh air mata tiba-tiba ia menghela napas panjang, lalu sambil menyandarkan kepalanya diatas dahan pohon ia menangis terseduh-seduh Menyaksikan hal ini,

Kim Thi sia segera berpikir:

"Dia pasti mengira aku sudah mengalami sesuatu peristiwa yang tak diinginkan.

Aaai. perasaan wanita memang terlalu lemah hanya dikarenakan nasibnya yang tragis ia

menangis karena kuatir aku tak berhasil mendapatkan obat penawar racun sehingga kehilangan nyawa?"

Maka dihampirnya gadis tersebut lalu serunya sambil menepuk bahunya lembut. "Yu Kien, aku telah kembali"

Nona berbaju hitam itu terperanjat dan segera berpaling, kemudian dengan perasaan setengah terkejut gembira ia berseru: "Kau tidak apa-apa bukan?"

"Tentu saja."

Jawaban tersebut diucapkan dengan amat ketus dan kasar, seakan-akan tidak seharusnya nona tersebut bertanya begitu karena dia pasti tak apa-apa.

Nona berbaju hitam itu menjadi tertegun, tapi kemudian katanya lagi dengan wajah berseri: "Yaa aku tahu kepandaian silatmu memang hebat aku sangat kagum, tadi aku masih

mengira. "

mendadak ia merasa perkataan selanjutnya tak baik diutarakan maka perkataan tersebut segera diurungkan ditengah jalan dan berganti perkataan lain.

" Kau tidak terluka bukan?" tanyanya kemudian- "Mana mungkin aku bisa terluka?"

sekali lagi nona berbaju perlente itu berkerut kening, diam-diam diapun berpikir.

" orang ini benar-benar sombong dan tinggi hati, seakan- akan setiap perbuatan yang dilakukan seratus persen pasti berhasil dan tak akan melakukan kesalahan, padahal usianya masih muda tapi nyatanya semua ucapannya jauh lebih mantap daripada perkataan ketua Tay sang pang, Khu It cing sendiri" sementara dia masing termenung, Kim Thi sia telah mengeluarkan obat racun itu dan diserahkan kepadanya sembari berkata:

"Nah, aku telah mintakan dua ratus butir pil penawar racun yang bisa mempertahankan hidupmu sampai seratus tahun lebih, aku pikir jatah obat tersebut tentu jauh lebih cukup untukmu bukan? bagi seorang manusia, hidup sampai usia seratus tahunpun sudah luar biasa sekali, tapi jika kau merasa belum cukup biar kucari Khu It cing untuk meminta berapa ratus butir lagi. "

Perkataan tersebut benar-benar membuat nona berbaju hitam itu menangis tak bisa, tertawapun tak dapat, namun melihat sikapnya yang tulus, polos dan jujur diapun merasa tak baik untuk menegurnya.

Maka sambil menerima pemberian obat tersebut, serunya dengan penuh rasa berterima kasih. "Terima kasih banyak atas bantuan siauhiap. biar tubuh harus hancurpun siauli pasti akan

membalas budi kebaikanmu ini."

Kim Thi sia segera berkerut kening, serunya: "Aku paling tak suka mendengar perkataan seperti ini, terus terang saja kukatakan, bila aku ingin berbuat sesuatu, maka biar langit ambrukpun tak akan mampu meritangi niatku, tapi sekali aku enggan melakukan sesuatu, biat dibunuhpun tak bakal kulakukan. Jika kau mengira aku membutuhkan balas jasa atas pertolongan yang telah kuberikan dan menginginkan pamrih atas pemberian obar penawar racun tersebut maka tanggapanmu ini keliru besar"

Nona berbaju hitam itu benar-benar tak mampu meraba watak sebenarnya dari anak muda tersebut, sepintas lalu dia mengira pemuda tersebut lugu, polos dan tak mengerti urusan tapi wataknya ternyata begitu khas dan luar biasa anehnya, membuat dia sendiripun kadang kala mengira bahwa pemuda tersebut adalah seorang yang sudah kenyang pengalaman dan pandai sekali membawa diri.

Menghadapi manusia dengan watak demikian, terpaksa diapun harus memberikan imbangannya .

"siauhiap" katanya kemudian- "siauli sangat kagum atas kehebatan, keberanian dan kebaikan hatimu. Harap kau jangan marah dengan ucapanku tadi, untuk  itu  harap  kau  sudi memaafkan "

"Aku rasa diantara kita tidak terdapat persoalan yang perlu dimaafkan " sela Kim Thi sia

cepat.

Berbicara sampai disitu diawasinya nona berbaju hitam itu lekat-lekat, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu lagi tapi kemudian niat tersebut diurungkan karena merasa masalahnya amat besar dan berat.

sikap ini dengan cepat menimbulkan salah tanggapan bagi nona berbaju hitam itu, apalagi setelah mendengar ucapannya yang terakhir dengan cepat pikirannya melayang kesuatu hal yang amat sensitif baginya.

Kontan saja hatinya menjadi berdebar keras wajahnya berubah menjadi merah padam dan kepalanya ditundukkan rendah-rendah karena malu.

Biar begitu hatinya terasa hangat kendatipun pemuda ini tidak terbilang tampan namun perawakan tubuhnya, tingkah lakunya wataknya serta pandangan matanya yang menyembur gumpalan api yang aneh mendatangkan kesan yang amat mendalam baginya.

"Dia jujur, polos dan berhati mulia" demikian ia berpikir. "Dikemudian hari pasti akan menjadi seorang manusia luar biasa sedangkan aku telah berbuat bodoh dengan menggabungkan diri kedalam kelompok orang jahat, mesti kesucian tubuhku tak pernah ternoda, tapi aku malu untuk bertemu lagi dengan orang tuaku setelah memperoleh kebebasan sekarang biarlah kuhabiskan sisa hidupku dengan berkelana dalam dunia persilatan. Aaaai. dalam masa begini, seandainya

kuperoleh pasangan hidup seperti dia, kehidupanku pasti akan bertambah bahagia."

Maka sambil mementangkan matanya lebar-lebar dan penuh pancaran sinar cinta dia mengawasi Kim Thi sia serta memperhatikan kata-kata berikut dengan seksama.

Agaknya Kim Thi sia pun dapat merasakan sikap penantian dari nona berbaju hitam itu tanpa berpikir panjang ia segera berseru: "Yu Kien, apakah ayahmu bernama Thi Ki ci?"

Dengan perasaan kecewa nona berbaju hitam itu mengangguk. sekarang ia telah menyadari bahwa apa yang hendak diucapkan pemuda tersebut ternyata jauh berbeda dengan apa yang dibayangkan dalam benaknya.

Tapi ia toh masih gembira juga, karena Kim Thi sia telah menyebut namanya secara langsung, padahal kecuali orang tua, sanak keluarga dan orang yang rapat dengannya. Tak pernah ada orang luar yang menyebutnya dengan panggilan semesra itu......

Terdengar Kim Thi sia berkata lebih jauh:

"Dua hari berselang aku telah bertemu dengannya disebuah kedai minum, bila kudengar dari nada pembicaraannya dia seperti belum mau mengerti akan dirimu bahkan setiap perkataannya selalu mengandung nada yang tidak menguntungkan bagimu " sepasang mata sinona berbaju hitam itu segera berubah menjadi merah, butiran air matapun jatuh bercucuran membasahi pipinya, agak tersengguk dia berkata:

"Aku tak akan menyalahkan ayah, memang kesemuanya ini kesalahanku sendiri. siapa suruh aku melukai hatinya bila dia menyuruh aku mati akupun akan segera mati, bila menyuruh aku hidup, akupun hidup pokoknya aku bersedia mati untuk menebus dosa dan aib yang telah menodai nama keluargaku."

Ditatapnya pemuda itu sekejap dengan pandangan murung seakan-akan dia tak senang karena pemuda tersebut tidak menunjukkan sikap apapun terhadapnya.

Mendadak ia menyadari bahwa sikapnya selama ini selalu menganggap pemuda tersebut sebagai kekasih hatinya, peristiwa ini begitu aneh dan mengerikan sekali.

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat Kim Thi sia telah menghibur dengan suara lembut. "Yu Kien kau tak usah kuatir, dalam hati kecilku telah berjanji aku bersumpah akan berusaha

keras untuk mempersatukan kembali kalian sekeluarga, agar kehidupan kalian akan berbahagia kembali. "

"sungguh?" suatu gejolak emosi yang aneh membuatnya melonjak kegirangan. "Tentu saja sungguh" jawab pemuda itu sambil tertawa.

"Aaai. kau memang sangat baik kepadaku" bisik nona itu kemudian dengan suara sedih.

"segala sesuatunya aku akan menuruti saja keinginanmu "

Dengan perkataan tersebut secara lamat-lamat dia telah mengutarakan isi hatinya yang paling rahasia, kemudian dengan perasaan tegang dan malu diliriknya pemuda itu sekejap lalu tertunduk.

sayang Kim Thi sia tidak terlalu menaruh perhatian terhadap perkataannya itu, malah katanya sambil tertawa:

"Haaaah.....haaaah haaaah kau memang sangat baik ayahku sering bilang perempuan paling

suka membantah kehendak hati kaum pria, tapi kenyataan sekarang, perkataan tersebut keliru besar. Haaah. haaah jangan kuatir. Aku pasti akan melaksanakannya secara baik aku pasti akan

mewujudkannya bagimu "

Nona berbaju hitam itu segera merasakan pipinya menjadi merah dan panas sekali. Andaikata saat itu malam belum tiba dia pasti akan mencari goa untuk menyembunyikan diri.

Berapa saat kemudian, dengan pancaran mata penuh rasa cinta nona itu mengerling kembali kearah Kim Thi sia, lalu katanya:

"Andaikata watak ayahku kurang baik dan tak mau menerima penjelasanmu, kau tak usah lewat menyerempet bahaya. biar matipun aku akan tetap melindungimu."

"Aaaah, perkataan macam apakah itu?" seru Kim Thi sia dengan wajah bersungguh-sungguh" selama hidup Kim Thi sia hanya tahu bagaimana berjuang untuk mencapai sasaran. Aku tak mau menjadi orang kasar yang berhati lemah, apalagi membengkalaikan sesuatu persoalan setengah jalan. kau tak usah kuatir. Andaikata usahaku ini gagal Kim Thi sia malu untuk hidup didunia ini."

Yu Kien, sinona berbaju hitam itu terbungkam terus dalam seribu bahasa, dia hanya merasakan hatinya berbeda keras dan tak bisa mengatakan bagaimanakah perasaan hatinya saat itu.

Pemuda yang keras hati ini telah memberikan perasaan aman yang amat besar kepadanya. Andaikata setiap wanita baik didampingi oleh suami macam begini, maka selama hidupnya pasti akan dilewatkan dengan perasaan yang aman dan tenteram.

suasana menjadi hening untuk beberapa saat, dalam keadaan begini nona itu hanya dapat menggunakan pancaran sinar matanya untuk mewakili kata-katanya guna menyampaikan semua perasaan cinta yang terpendam dalam hati sanubarinya.

sejak bergabung dengan Tay sang pang dalam setahun penuh dia sudah banyak bergaul dengan aneka ragam manusia, dan atas dasar pengalaman tersebut, ia dapat merasakan bahwa pemuda yang berada dihadapannya sekarang adalah seorang yang sangat dapat dipercaya.

Bagi seorang pemuda yang selama hidupnya berkelana dalam dunia persilatan biasanya ia mempunyai perasaan yang amat lemah. Dia membutuhkan seorang pasangan yang dapat dipercaya untuk membantunya melepaskan diri dari kehidupan yang menjemukan.

Demikian juga keadaan Yu Kien, sinona berbaju hitam itu sekarang, pikirannya terasa amat kalut dan bimbang. Akhirnya sambil menghela napas dia menengadah dan memandang ujung langit dikejauhan sana sambil termangu- mangu.

Kim Thi sia yang cermat segera dapat merasakan kekalutan perasaan yang mencekam nona tersebut, pelan-pelan dihampirinya gadis itu lalu ditepuk bahunya sambil berkata:

"Kau tak usah bersedih hati, kejadian yang sudah lewat anggap saja sebagai angin yang berlalu, lupakan kesemuanya itu. Kehidupan yang baru dimasa mendatang siapa tahu akan memberi kebahagiaan dan kegembiraan kepadamu"

Pemuda itu tak sadar bahwa sikap yang diperlihatkannya sekarang telah jauh melangkahi pergaulan umum antara seorang pria dan wanita. Karenanya disaat dia menepuk bahu sinona berbaju hitam itu kelihatan tergetar keras, sementara pancaran sinar mata yang muncul dari balik matapun menunjukkan perubahan yang sangat aneh. "Kau "

Mendadak gadis itu menggigit bibirnya kencang-kencang lalu menubruk kedalam pelukan Kim Thi sia dan menangis tersedu-sedu.

Bagaikan seorang bocah bersalah yang bertemu ibunya, semua rasa sedih, murung dan kesal yang mencekam perasaannya selama ini, segera dilampiaskan semua dalam isak tangis tersebut.

Dengan lemah lembut Kim Thi sia balas merangkul tubuhnya dan membelai rambutnya yang hitam.

Bagi pemuda yang lama hidup digunung dan tak mengenap tentang hubungan laki perempuan, dia hanya menganggap bahwa tindakannya tersebut wajar dan lumrah, tentu saja ia tak menyangka bahwa sikap tersebut jauh melebihi sikap seorang suami yang sedang menghibur dan menyayangi istrinya.

sekali lagi sinona berbaju hitam itu merasakan hatinya bergetar keras semacam perasaan aneh yang hangat dan nyaman yang belum pernah dirasakan seumur hidup, kini menyelimuti dan mencekam seluruh perasaannya. Rasa sedih, murung dan kesal yang semula membebani perasaannya. Kinipun hilang lenyap bagaikan terhembus angin-

Dengan hati berdebar keras, nona itu menyandarkan kepalanya diatas dada pemuda tersebut dan berusaha menikmati kehangatan dan kemesraan itu sebaik-baiknya.

Matanya dipejamkan rapat-rapat napasnya mendengus perlahan seperti seekor burung yang ketakutan, dia bersandar sambil membisik lirih. "Kim.....Thi......sia...... jangan "

Tapi sayang keadaan tersebut tidak berlangsung lama, dan mendadak Kim Thi sia mendonggakkan kepalanya dan memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian sambil mendorong tubuh nona itu, ia berkata: "Hari sudah gelap aku harus pergi dari sini"

"Kau hendak pergi kemana?" tanya nona itu dengan perasaan terperanjat.

Kim Thi sia terbungkam, dia tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut karena dia sendiripun tak tahu kemana ia akan pergi setelah hari ini.

setelah tertegun beberapa saat lamanya ia baru teringat dengan perkataan ayahnya dulu maka diapun segera berkata begini:

"Aku hanya seorang jago pedang yang hidup menyendiri, didunia ini tak punya sanak atau keluarga kemana aku akan sampai disitulah aku berada. sebab aku hanya seorang jago pedang yang tak disenangi siapapun karenanya arah langkahku yang akan menentukan arah tujuanku mendatang " Beberapa patah perkataannya itu ia segera menimbulkan perasaan geli yang bercampur mendongkol didalam hati nona berbaju hitam itu, apalagi menyaksikan sikapnya yang bersungguh- sungguh. Hal ini semakin menandakan betapa anehnya tabiat pemuda tersebut, maka segera ujarnya:

"Bersediakah kau mengajakku serta "

Kata-kata berikut terasa kurang sepandan untuk diucapkan oleh seorang nona yang masih suci bersih, karenanya dia menjadi tersipu-sipu dan tak sanggup meneruskan kembali. Tapi sepasang matanya yang jeli dan penuh pancaran sinar penantian dialihkan kewajah pemuda tersebut.

Kim Thi sia mempertimbangkan sejenak. kemudian berkata:

"Maaf, aku masih ada banyak persoalan yang perlu diselesaikan dengan segera. Bila kau turut serta, sudah pasti perjalananku mnejadi kurang leluasa, ayahku sering bilang, kalau menempuh perjalanan bersama seorang gadis, maka hal ini bisa menimbulkan banyak perguncingan orang terhadap kita berdua."

sepasang mata nona berbaju hitam itu menjadi merah, air matapun mulai berlinang membasahi pipinya .

Melihat itu, cepat-cepat Kim Thi sia berkata lagi:

"Tapi aku berjanji bila semua persoalanku telah kuselesaikan aku pasti akan menemanimu untuk bermain."

Ucapan mana segera membuat hati sinona berbaju hitam itu berdebar keras rupanya janji yang diberikan pemuda tersebut telah ditanggapi secara lain, sehingga ia menjadi sangat kegirangan.

Cepat-cepat dia berseru:

"Kau mesti berhati-hati selama berkelana didalam dunia persilatan ketahuilah dunia persilatan penuh dengan tipu muslihat dan kelicikan yang mengerikan. Aku. aku pasti akan menantikan

kedatanganmu. Biar ada hujan badai ataupun angin topan, aku akan selalu menunggu kedatanganmu dengan selamat ditebing Bwee hoa nia ini bila seandainya nasibmu malang. "

Wajahnya yang cantik segera berubah menjadi redup, dengan nada tandas dan tegas dia melanjutkan-

"Akupun tak ingin hidup seorang diri didunia ini. "

Ketika berbicara sampai disini, dia tak bisa menahan gejolak emosinya lagi sehingga menangis terseduh-seduh.

Dengan perasaan sangat terharu Kim Thi sia segera berkata:

"Kau sangat baik, kelewat memperhatikan diriku, bila persoalanku benar-benar telah selesai.

Pasti akan kutemani dirimu untuk selamanya."

Kemudian setelah mengangguk sambil tertawa dengan langkah lebat iapun beranjak pergi dari situ.

Mendadak nona berbaju hitam itu mengeluh kemudian sambil bersandar dibatang pohon bwee.

Ia menangis terseduh dengan amat sedihnya.

Kim Thi sia menjadi tertegun dan tanpa terasa berpaling, dia seperti ingi mengucapkan sesuatu namun akhirnya niat tersebut diurungkan sambil mengeraskan hati ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi tanpa berpaling lagi.

Mendadak terlihat sesosok bayangan kecil berwarna hitam meluncur datang dengan kecepatan tinggi serta menghadang jalan perginya.

"Hey, kita berdua kan belum melakukan duel, mengapa kau sudah ingin pergi?" tegurnya dingin. suara teguran tersebut amat merdu dan lembut, jelas sudah berasal dari mulut seorang nona muda.

Kim Thi sia segera berhenti sambil mengawasi lawannya lekat-lekat, ternyata bayangan kecil yang menghadang jalan perginya bukan lain adalah putri dari Thi khi ci yang pernah dijumpai dirumah makan tempo hari.

Baru sekarang dia teringat kalau masih punya janji dengan gadis tersebut, cepat ujarnya: "Kalau ingin berduel silahkan berduel, kau anggap aku merasa jeri kepadamu?" Nona itu

tertawa.

"Kalau begitu bagus sekali, sangat bagus sekali, nonapun tidak takut kepadamu meski kau adalah murid dari malaikat pedang berbaju perlente, aku sengaja hendak menantangmu"

sambil berkata ia segera meloloskan pedangnya, diantara kilatan cahaya hijau, sebuah bacokan kilat segera dilontarkan kedepan.

Dalampada itu sinona berbaju hitam itu menjadi sangat gelisah setelah melihat ada orang hendak mencari gara-gara dengan Kim Thi sia, menguatirkan keselamatan kekasih hatinya ini, cepat-cepat dia memburu kedepan sambil menangkis bacokan pedang lawan, kemudian bentaknya keras-keras: "Siapa kau? mengapa hendak melukai toako ku "

sinona bertubuh ramping dan memakai pakaian ringkas itu segera mendengus. "Hmmm.....apa itu engkoh Kim adik Kim. Hmmm. kau siperempuan tak tahu malu."

Tapi setelah melihat wajah sinona berbaju hitam itu dengan jelas, mendadak ia menjerit kaget: "cici. "

sembari menarik kembali pedangnya, ia segera menubruk nona berbaju hitam itu serta memeluknya erat-erat.

Agaknya nona berbaju hitam itupun amat emosi, sambil balas memeluknya ia belai rambutnya yang panjang dan ujarnya lembut:

"Aaaah, tak kusangka. adik telah sebesar ini, sejak meninggalkan rumah, setiap saat setiap

detik cici selalu merindukan ayah, kau dan adik. Eeeei. kenapa kau bisa sampai disini. Mana

ayah dan titi (adik lelaki)?"

"Diluar pengetahuan ayah dan titi secara diam-diam aku datang kemari untuk mengajaknya berduel. Cici, maafkanlah adikmu karena tidak tahu kalau kau datang, sehingga aku telah mengumpatmu tadi "

"Tidak apa-apa" sahut nona berbaju hitam itu lembut. "Kita kan sesama saudara sendiri, biarpun terjadi kesalahan paham, urusan mudah diselesaikan."

Nona muda itu segera menatap wajah Kim Thi sia lekat-lekat, setelah itu serunya:

"Cici, mengapa sih kau bergaul dengan orang ini, dia sangat jahat dengan mengandalkan nama besar malaikat berbaju perlente bukannya melakukan kewajiban, sebaliknya justru bergabung dengan Tay sang pang dan bergaul dengan orang-orang jahat. "

Secara ringkas dia segera menceritakan apa yang telah dijumpainya dirumah makan tempo hari. Bahkan menuduh pemuda tersebut sebagai penjahat yang amat berdosa.

Nona berbaju hitam itu berpaling dan memandang pemuda itu sekejap, lalu seperti memahami akan sesuatu katanya:

"Adikku, kau telah salah menduga sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat baik."

Maka secara ringkas diapun menceritakan keadaan yang dialaminya serta penampilan Kim Thi sia yang begitu gagah perkasa. Tanpa ragu diumpat orang sebagai penjahat, tujuan yang terutama sebetulnya adalah mencarikan obat pemusnah racun untuknya. sebagai nona yang pintar setelah tahu bahwa tindakan pemuda tersebut tak lain adalah untuk menyelamatkan jiwa encinya, semua kesalahan paham yang semula timbulpun seketika tersapu lenyap hingga tak berbekas. Malah sebaliknya dia menjadi rikuh sendiri

sebagai seorang yang berhati lapang, dengan penuh rasa berterima kasih nona itu menjura dalam-dalam kepada pemuda tersebut, kemudian katanya:

"Apabula selama ini aku telah bersikap lancang dan kasar, harap siauhiap sudi maafkan-" Kim Thi sia tertawa.

"Ya a, aku rasa kitapun tak perlu berduel lagi, sudah cukup lama kalian dua bersaudara tak bersua, pergunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya untuk berbicara nah aku pergi dulu."

sambil membalikkan badan, ia segera beranjak pergi dengan langkah lebar.

Mendadak seperti teringat akan sesuatu sekilas perasaan kaget memancar keluar dari balik mata nona muda itu, serunya tiba-tiba:

"Tunggu sebentar siauhiap. ada Suatu hal perlu kusampaikan kepadamu "

"soal apa?" Kim Thi sia segera menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan tersebut.

Dengan wajah amat menyesal bercampur malu, nona muda itu berkata lebih jauh:

"Aku telah mengundang ahli senjata rahasia dari keluarga Tong diwilayah szuchuan untuk menghadapimu sebentar lagi mereka akan tiba disini. Bila kau hendak pergi berangkatlah lewat hutan lebat tersebut, jangan sekali-kali kau lewat jalanan itu." Kim Thi sia tertegun.

"Siapa sih keluarga Tong dari szuchuan itu? rasanya aku belum pernah mempunyai dendam kesumat atau jalinan permusuhan dengan mereka, kenapa mereka datang mencari gara-gara denganku?"

Dengan perasaan tak tenang dan tergagap. nona muda itu berkata kembali:

"Semuanya ini memang kesalahanku, kemarin setelah kudengar tentang berita dunia persilatan yang mengatakan "Lebih baik terkena jarum mulut harimau dari keluarga Tong ketimbang membuat urusan dengan Kim Thi sia murid malaikat pedang" aku pun kuatir kau sebagai murid simalaikat pedang berbaju perlente tentu berkepandaian tinggi dan aku tak mampu menghadapimu seorang diri, maka timbul akal dalam benakku untuk menghasut jago-jago senjata rahasia dari keluarga Tong di szuchuan untuk menghadapimu, maka.........maka "

Rupanya nona cilik itu mengira Kim Thisia adalah kekasih kakaknya, saking gelisahnya hampir saja dia menangis.

"Cepat....cepatlah kabur lewat hutan lebat itu. sebentar lagi mereka pasti datang."

Yu Kien, sinona berbaju hitam itupun amat terperanjat, serunya tertahan: "Adikku, benarkan ada kejadian seperti ini?"

senjata rahasia keluarga Tong dari szuchuan memang termashur karena keganasan racunnya serta kelihayan penyerangannya, ia mulai menguatirkan keselamatan jiwa dari pujaan hatinya ini.

Rupanya semakin dibayangkan akibatnya nona muda itu semakin ketakutan, tiba-tiba ia menubruk kedalam pelukan kakaknya dan menangis terseduh-seduh.

"oooooh cici, maafkanlah adikmu, biarpun aku menyesal namun keadaan sudah terlambat. "

Isak tangis yang amat sedih membuat ucapannya menjadi kabur, entah rasa kaget yang luar biasa atau menyesal mendalam yang jelas ia amat menyesal dan takut karena dirinya telah melakukan suatu kesalahan yang amat besar.

sesungguhnya Kim Thi sia bersiap-siap akan pergi dari situ untuk menghindari segala persoalan yang perlu namun dengan terjadinya peristiwa ini, darah mudanya membuat ia enggan beranjak dari sana, malah serunya dengan lantang: "Bila ada tentara menyerang, panglima akan menghadang, bila ada air bah melanda kita bendung dengan tanah, aku tidak marah kepadamu Janganlah menangis lagi, jika orang-orang dari kelurga Tong itu akan menyusahkan diriku, akupun tak akan menunjukkan kelemahan kepada mereka."

Nona muda itu semakin gugup, sambil mengangkat kepalanya dan menatap sinona berbaju hitam itu, serunya: "Cici "

Kata-kata selanjutnya terasa disumbar oleh isak tangis sehingga tak mampu diutarakan lagi. sementara itu, Yu Kien sinona berbaju hitam itu merasa amat gelisah, mau menegur rasanya

tak tega, mau menghiburpun rasanya tak dapat, pikiran dan perasaannya amat kacau. Dalam keadaan begini terpaksa ia hanya bisa membujuk kepada Kim Thi sia.

"Kaburlah cepat dari hutan lebat itu, jangan berdiri terus disitu membuat tidak tenteram hatiku."

Bukan saja Kim Thi sia tidak menuruti perkataannya dia malah duduk dilantai sambil katanya dengan tegas:

"Terima kasih banyak atas maksud baik kalian leluhurku pernah berpesan, lebih baik mati daripada dihina orang. sekarang orang-orang keluarga Tong hendak mencari gara-gara denganku. cepat atau lambat akhirnya kami toh akan bersua juga kenapa Kim Thi sia mesti memikul resiko diumpat orang sebagai pengecut yang takut mampus?"

setelah pemuda ini mengumbar sifatnya, ternyata watak orang ini-jauh lebih keras daripada kerbau, siapapun digubris olehnya.

Rasa gelisah yang mencekam perasaan Yu Kien makin menjadi-jadi, mendadak dia berseru dengan suara keras:

"Kau benar-benar tolol. menghantar nyawa dengan cara begini bukanlah perbuatan dari seorang yang pintar."

perkataan tersebut diutarakan dengan nada yang keras.

Kim Thi sia menjadi tertegun, dia heran apa sebabnya gadis yang lemah lembut itu bisa mengucapkan kata-kata yang begini keras.

Dengan alis mata berkenyit dia segera menyahut dengan suara tak kalah kerasnya.

"Aku Kim Thi sia hanya melaksanakan pesan ayahku dulu lebih baik mati daripada terhina, kalian kaum perempuan tahu apa? Hayo cepat minggir"

perkataan tersebut diucapkan entah berapa kali lipat lebih nyaring daripada perkataan nona berbaju hitam itu.

Untuk beberapa saat lamanya Yu Kien menjadi tertegun, tapi sesaat kemudian ia sudah menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya kembali dengan lemah.

Nona muda itu merasakan lengannya jadi ngilu. ternyata air mata encinya menetes keluar membasahi lengannya, cepat-cepat dia menggoyangkan lengan kakaknya serunya berseru:

"Cici. kau menangis?"

Perasaan semakin tak tenang, apalagi gara-gara ulahnya sampai membuat encinya bentrok dengan pujaan hatinya. Untuk beberapa saat dia tak tahu ada yang mesti diperbuatnya sekarang.

Akhirnya dengan hati yang gelisah bercampur menyesal gadis itu berkata kepada Kim Thi sia: "Kim Siauhiap. akulah yang telah melakukan kesalahan bersediakah kalian memaafkan diriku?" Kim Thi sia tetap membungkam tanpa menjawab.

Nona cilik itu makin gelisah lagi, akhirnya sambil menggertak gigi ia meloloskan pedangnya dan berseru dengan sedih: "Kalau toh kalian semua enggan memaafkan aku biarlah aku mati saja untuk menebus dosa" Dia menggerakkan pedangnya dan menggorok leher sendiri

Dengan perasaan terkejut Kim Thi sia segera mengayunkan tangannya untuk merontokkan pedang itu, lalu serunya:

"Apa sangkut pautnya antara urusanku sendiri dengan kalian? mengapa sih justru hendak mencari gara-gara dengan diriku sendiri?"

Yu Kien sinona berbaju hitam itupun berseru dengan sedih sambil merebut pedang dari tangannya.

"Adikku, encilah yang bersalah, hampir saja kucelakai selembar jiwamu."

selama hidup belum pernah nona kecil itu mengalami rasa sedih sehebat ini, dalam keadaan demikian dia tak ubahnya seperti anak kecil yang lain sambil menubruk kedalam pelukan kakaknya nona itu menangis sejadinya.

sebaliknya nona berbaju hitam itu menatap Kim Thi sia tanpa berbicara, dari balik pandangan mata tersebut terpancar rasa sedih, murung dan gemas yang amat tebal.

Ketika sepasang mata Kim Thi sia saling bertemu dengan pandangan matanya itu,

tiba-tiba saja seluruh tubuh pemuda itu terasa tak sedap. dengan cepat dia menenangkan hatinya kemudian berkata:

"Aku tak akan menyalahkan kalian, biarlah aku berada disini seorang diri, seperti diketahui aku adalah seorang jago pedang sebatang kara yang tak akan disebut siapapun."

Pucat pias selembar wajah Yu Kien saking jengkelnya dengan gemas ia membopong adiknya lalu berlalu dari situ dengan langkag cepat, sikapnya yang gemas seakan-akan melukiskan perasaan hatinya saat itu, yakni tak ingin berjumpa lagi dengannya sepanjang masa.

Mendadak.......

suara tertawa dingin yang amat menyeramkan, begitu dinginnya serasa tak berhawa manusia, berkumandang datang memecahkan keheningan.

Dengan cepat Kim Thi sia melompat bangun, kemudian bentaknya keras-keras: "Apakah orang- orang keluarga Tong dari szuchuan yang telah datang?"

ketika mendengar teguran tersebut, tanpa terasa nona berbaju hitam itu menghentikan langkahnya dan memandang kearah Kim Thi sia dengan penuh rasa kuatir, sekejap mata semua rasa jengkelnya telah hilang, lenyap. sebagai gantinya adalah perhatian dan rasa kuatirnya yang sangat tebal.

Dibawah sinar rembulan, tampak dua sosok bayangan manusia yang amat jangkung, bagaimanakah burung siang malam melintas diangkasa, dengan cepatnya meluncur kehadapan Kim Thi sia dengan gerakan sangat ringan dan cepat.

Belum lagi orangnya tiba ditujuannya sudah terdengar suara tertawa dingin yang menggidikkan hati bergema membelah keheningan.

"Hey orang she Kim rupanya kau telah datang."

Menyusul teguran tersebut, tampak dua orang lelaki setengah umur yang berwajah putih, bertubuh jangkung dan bersinar mata tajam telah munculkan diri didepan mata. Kim Thi sia mundur selangkah, kemudian katanya dengan nyaring:

"Diantara kalian dengan diriku sama sekali tak pernah terikat dendam sakit hati apapun mengapa kalian mencari gara-gara denganku? Hayo cepat utarakan alasan kalian."

Angin malam terasa berhembus kencang membawa udara yang sangat dingin ujung lengan kanan lelaki setengah umur bertubuh jangkung itu nampak bergoyang tiada hentinya, jelas lengan kanan mereka telah kutung sama sekali. Terdengar orang itu menjawab dingin: "orang muda she Kim, menurut berita dunia persilatan, kau adalah manusia yang paling susah dihadapi. Karena itu kami berdua justru ingin menghadapimu. Akan kami lihat sampai dimana susahnya menghadapi manusia semacam kau"

"oooh, jadi lantaran didunia persilatan tersiar berita kalau aku susah dihadapi. Lantas kalian berniat datang mempermalukan aku? Hmmm. kalau begitu marilah, mau puluhan gebrakan atau

ratusan gebrakan, asalpunya kepandaian, keluarkan saja semuanya." Kedua orang lelaki itu segera mendengus.

"Hmmm, orang persilatan telah meletakkan kepandaianmu yang susah dihadapi jauh diatas kemampuan jarum mulut harimau dari keluarga Tong kami. Berita tersebut sangat menyakitkan hati kami, membuat kami tak mampu bersabar terus hey bocah muda she Kim, apabila jarum mulut harimau keluarga Tong kami benar-benar tak mampu berbuat apa-apa terhadapmu, maka sejak kini senjata rahasia keluarga Tong akan lenyap dari pendengaran dunia persilatan."

Nona berbaju hitam yang mengikuti pembicaraan tersebut dari tepi arena, segera berteriak keras setelah mendengar ucapan tersebut. "Kim, hati-hati dengan senjata rahasianya"

Watak keras kepala Kim Thi sia semakin membara oleh teriakan tersebut dia segera tertawa tergelak.

"Haaaahhh, haaaahhh haaaahh, tahu aku sekarang, rupanya kalian marah dan tak puas karena nama Kim Thi sia diletakkan jauh diatas kemampuan jarum mulut harimau andalan kalian bukan begitu? jadi kalian menganggap jarum mulut harimau adalah senjata rahasia yang tiada tandingannya dikolong langit? sayang aku Kim Thi sia justru paling tak percaya dengan segala macam ilmu sesat, mari, mari. Pinjamkan sebatang jarum mulut harimau yang kalian andalkan itu kepadaku."

Dua orang ahli senjata rahasia dari keluarga Tong ini segera bertukar pandangan sekejap.

Kemudian jengeknya sambil tertawa dingin:

"Hey bocah keparat she Kim, permaianan busuk apa yang sedang kau atur? Hayo utarakan sana secara blak-blakan, kau jangan mencoba untuk mengulur waktu."

"Benarkah diantara senjata rahasia beracun yang dimiliki keluarga Tong kalian jarum mulut harimau merupakan senjata rahasia yang paling hebat?" Kedua orang itu segera tertawa dingin.

"Benar, bila seseorang tertusuk jarum mulut harimau, maka tidak sampai lima langkah ia pasti akan menemui jalannya kenapa bocah muda? kau mulai ketakutan?"

Kim Thi sia segera mengernyitkan alis matanya, kemudian berseru dengan lantang:

"Kim Thi sia tak mengenal apa artinya dari ketakutan. HHmmmm. aku tahu senjata rahasia

kelurga Tong kalian bisa termashur selama banyak tahun dalam dunia persilatan, hal ini pasti ditunjang dengan suatu kepandaian khusus sehingga membuat orang tak mampu menghindarkan diri. Daripada membuang tenaga dengan percuma untuk berkelit, lebih baik serahkan saja sebatang jarum kepadaku untuk kutusukkan sendiri ketubuhku"

Perkataan tersebut diutarakan secara blak-blakan bahkan kelemahan sendiripun diberitahukan kepada orang lain padahal bila tahu diri tahu pula keadaan lawan maka setiap pertarungan akan dimenangkan.

sinona berbaju hitam yang jauh lebih mengerti soal ini ketimbang Kim Thi sia diam-diam menjadi bergidik hatinya, dia segera berseru: "Hey, jangan berbicara bodoh, dia akan mempergunakan kelemahanmu itu. "

Lelaki setengah umur dari keluarga Tong itu segera mendengus.

"Hmmmm, nona cilik, engkau tahu soal apa? orang-orang dari keluarga Tong tidak pernah melakukan perbuatan yang memalukan, lebih baik jangan banyak berbicara lagi."

Diam-diam nona muda itupun bergidik, katanya kemudian agak tergagap: "Cici. oooh cici, semua ini adiklah yang bersalah sehingga mencelakai dirinya." sementara itu Kim Thi sia telah berseru kembali dengan suara keras: "Hey, sudah kalian dengar perkataanku tadi?"

Lelaki setengah umur yang berada disebelah kiri segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebatang senjata rahasia, lalu sambil dilemparkan kedepan serunya dengan suara dingin:

"Bocah muda Kim, biarpun kau mempunyai niat busuk atau akal setan, kami dua bersaudara tak akan memandangnya dihati."

Kim Thi sia segera memungutjarum mulut harimau dan diperhatikan dengan seksama, ternyata jarum itu panjangnya mencapai tiga inci, dan seluruhnya terbuat dari emas murni. Ujung jarum terdapat beberapa buah lubang kecil yang berwarna hitam pekat agaknya dibalik lubang inilah terkandung racun yang jahat. Dengan suara lantang ia segera berseru lagi:

" Kalian berdua tak pernah mengikat tali permusuhan denganku, tapi selalu berusaha mencari gara-gara denganku. Apa sih yang kalian andalkan? Kalian anggap jarum mulut harimau tersebut betul-betul sangat hebat? Hmm hari ini aku segan bertarung dengan kalian tapi aku pasti akan membuktikan kepada kalian berdua bahwa Kim Thi sia adalah manusia yang tidak gampang dihadapi"

Dengan menggenggam gagang jarum mulut harimau dan menggulung ujung bajunya, ia mengeraskan hati ia tusuk lengan sendiri dengan jarum tersebut.

Darah seggr segera memancar keluar dari mulut lubang tersebut.

Dua bersaudara Yu yang melihat kejadian ini kontan saja menjerit lengking. "Kim Thi sia, kau. kau kelewat bodoh."

Mungkin saking kagetnya, tiba-tiba nona berbaju hitam itu merasakan pandangan matanya menjadi gelap kemudian roboh tak sadarkan diri, sambil tertawa nyaring Kim Thi sia segera berseru:

"Dua bersaudara Tong, Kim Thi sia mengerti kalau kepandaian silat yang kumiliki masih cetek. sehingga sulit rasanya untuk lolos dari sergapan senjata rahasia kalian oleh sebab itulah lebih baik kalian tak usah membuang tenaga lagi dengan percuma."

Kemudian sambil tertawa terbahak-bahak dia berpaling kearah nona muda yang sedang berdiri gemetar dengan wajah ketakutan itu sambil katanya:

"Seandainya terjadi sesuatu yang tak diinginkan atas diriku tolong kalian sudi menguburkan mayatku."

Dua bersaudara Tong sama sekali tidak menyangka kalau anak muda tersebut bagitu tega untuk melukai diri sendiri. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak mereka, segera bentaknya keras-keras:

"Bocah muda Kim, kau tak perlu menggunakan siasat menyiksa diri untuk memaksa kami dua bersaudara mendapat nama yang tercemar. Dalam pada itu, Kim Thi sia telah merasakan dadanya panas sekali seperti dibakar. Kepalanya pusing tujuh keliling dan hatinya yang berdebar terus, saking sakitnya dia sampai tak mendengar apa yang dikatakan kedua orang tersebut.

Penderitaan yang dialaminya saat itu bukan penderitaan yang bisa ditahan oleh setiap orang. setelah roboh keatas tanah, Kim Thi sia segera bergulingan diatas tanah sambil merintih kesakitan, suaranya mengenaskan sekali hingga menggidikkan hati siapapun yang mendengarnya.....

Ditengah keadaannya sadar tak sadar inilah, tiba-tiba saja dia mengerahkan segenap kekuatan tenaga yang dimilikinya untuk menerjang kearah pusar.

Terjangan darah dan hawa murni yang cepat membuat wajahnya yang semula pucat pias kini berubah menjadi merah membara seakan-akan terdapat seonggok api yang sedang membara didalam tubuhnya. Namun rasa sakit yang semual menyiksa badannya kini sudah jauh berkurang, ia merasa rasa sakit akibat tusukan jarum beracun itu-jauh lebih mendalam daripada hawa darah menembusi nadi- nadinya.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(