Lembah Nirmala Jilid 07

 
Jilid 07

Kim Thi sia segera mengalihkan pandangan matanya dan melirik sekejap ke arah mana berasalnya pembicaraan tersebut.

Ternyata orang yang sedang berbicara itu adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahunan yang berambut putih dan bermata tajam.

Disamping kakek itu duduklah sepasang muda mudi dengan wajah diliputi keheranan-Waktu itu dia mendengar pemuda tersebut sedang berkata.

"Ya ya.. kelihatannya selain memiliki daya tahan yang hebat ilmu silat yang dimilikinya tidak seberapa tinggi"

Kakek berambut putih itu segera menghela napas panjang. "Aaaai, andaikata bocah ini bisa memperoleh didikan dan bimbingan seorang guru dan memperoleh kesempatan untuk melatih diri barang tiga sampai lima tahun, tanggung kemampuannya akan sepuluh kali lipat lebih hebat daripada kemampuan kalian berdua." Nona muda itu segera cemberut serunya manja:

"Hmmmm, aku tak puas dengan pendapat tersebut, bayangkan saja sewaktu bertarung tadi dia cuma tahu menerkam dengan penuh tenaga macam binatang buas saja. Ia tak mengenal tehnik bertarung, dia pasti tak bakal becus dikemudian hari." Kim Thi sia jadi naik darah, pikirnya:

"Kau mengatakan aku hanya mengerti menyerang seperti binatang buas, tidak mengerti tehnik pertarungan? Baik, akan kudemontrasikan barang dua jurus kepandaian andalanku, agar kau melongo dibuatnya."

Berpikir sampai disitu, gadis remaja membentak keras untuk memancing perhatiannya.

Kemudian dengan mengeluarkan dua jurus serangannya yakni jurus "jaring langit perangkap bumi" dan "tangguh sendiri tanpa akhir" dari ilmu pedang panca Buddha, ia ciptakan berlapis-lapis bayangan pukulan yang maha dahsyat untuk mengurung belasan orang musuhnya itu rapat-rapat.

setelah itu tangan kirinya segera melancarkan serangkaian serangan gencar kearah dada lawan.

"Duuuuk.... d uuuukkk..... d uuuuukkkk. "

Tahu-tahu setiap orang sudah termakan oleh sebuah pukulannya yang hebat itu.

Tak terlukiskan rasa terkejut belasan lelaki kekar itu. Cepat-cepat mereka mundur sejauh tiga langkah dan memeriksa dada sendiri yang terkena pukulan. setelah tahu bahwa isi perutnya tidak terluka, mereka baru mendesak maju lagi kedepan untuk melakukan pengepungan kembali.

Dalam suasana ribut Kim Thi sia menyempatkan diri untuk melirik sekejap kearah ketiga orang itu.

segera terlihatlah kakek berambut putih itu sedang membelalakkan matanya lebar-lebar sambil memperlihatkan rasa bingung dan curiga. sementara paras mukanyapun turut berubah menjadi serius sekali. selang berapa saat kemudian baru berkata dengan suara dalam dan berat.

"Sudah kalian saksikan kedua jurus serangan tadi? kedua gerakan tersebut mirip sekali dengan ilmu pedang panca Buddha milik rasul selaksa pedang, si malaikat pedang berbaju perlente yang pernah menggetarkan seluruh daratan Tionggoan Aneh, sungguh aneh sekali, mengapa pemuda inipun sanggup mempergunakannya? paras muka pemuda ini asing sekali. Ia tak mirip dengan murid dari sembilan partai besar manapun siapakah dia sebenarnya?" sepasang muda mudi

itupun turut membelalakan matanya lebar-lebar sambil mengawasi wajah Kim Thi sia dengan perasaan terkejut, agaknya perkataan dari yayanya telah menimbulkan pula perasaan bingung dalam hati kecil kedua orang itu.

Kim Thi sia menjadi sangat kegirangan, dia sengaja tertawa nyaring lalu berseru dengan lantang:

" Kalau kalian semua begitu tak becus, jangan berharap kugunakan ilmu pedang panca Buddha lagi untuk menghadapi kalian."

sambil berkata kembali dia melirik sekejap kearah kakek berambut putih itu.

Ternyata kakek tersebut telah berubah muka dan termenung dengan wajah termangu- mangu.

Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya waktu itu. ?

sebaliknya pandangan mata sepasang muda mudi itu justru seperti melekat dengan tubuhnya, dibalik pandangan tadi terlihat jelas penuh diliputi rasa kaget, heran dan kagum.

Tanpa terasa Kim Thi sia berpikir:

"Tampaknya nama besar suhu memang betul-betul termashur diseantero jagad.

Waah beruntung sekali aku bisa memperoleh warisan ilmu silat darinya." Mendadak dari balik kerumunan orang banyak terdengar seseorang membentak keras. "Tahan" "Nah ini dia" Kim Thi sia segera berpikir. "Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga."

Ternyata benar juga apa yang diduga lelaki kekar yang pergi meninggalkan arena tadi kini muncul kembali mengiringi seorang kakek kurus kecil yang berusia lima puluh tahunan dan memelihara jenggot panjang.

Dengan pandangan mata yang tajam, kakek ceking itu memandang sekejap kearah Kim Thi sia, lalu tanyanya kepada lelaki kekar itu. "Bocah kecil inikah yang kau maksudkan?"

"Benar"jawab lelaki kekar itu penuh hormat. " Harap tong cu suka membalaskan sakit hati kami."

Mendadak kakek ceking itu mengayunkan tangannya kedepan dan-......

"Plooooook"

Tahu-tahu dia sudah menampar lelaki itu keras-keras kemudian umpatnya dengan penuh amarah.

"Kau benar-benar manusia tak berguna, masa seorang bocah kecilpun tidak mampu menghadapi, buat apa kalian hidup terus didunia "

Bertemu dengan kakek ceking tersebut, sikap belasan lelaki kekar itu seperti tikus bertemu kucing semuanya munduk-munduk dengan ketakutan dan segera menyingkir kesamping tanpa berani mengucapkan sepatah katapun-

Dengan langkah lebar kakek ceking itu maju kehadapan Kim Thi sia lalu tegurnya: "Hey bocah cilik, engkau murid siapa? hayo cepatjawab"

Dari balik nada pembicaraannya itu, tercermin kebiasaannya yang suka memerintah. Kim Thi sia segera tertawa dengan terbahak-bahak.

"HaaaHH......haaaaHH......haaaHH. sijenggot pendek. siapa suruh kau berkaok-kaok macam

jeritan setan? sudah belasan tahun sanya berkelana didalam dunia persilatan, tetapi belum pernah kujumpai manusia yang tak mirip manusia, setan tak mirip setan macam dirimu itu "

Dia masih teringat dengan kata-kata kangon yang pernah dipelajarinya dari ayahnya dulu, kini tanpa memperdulikan apakah perkataan tersebut benar atau tidak. ia segera mengobralnya secara lantang tujuannya memang tak lain agar lawan tidak mentertawakannya sebagai seorang anak ayam yang baru terjun kedalam dunia persilatan-

Kontan saja gelak tertawa geli berkumandang dari sekeliling arena, betapa tidak? usia Kim Thi sia paling banter baru tujuh delapan belas tahunan, tapi dia mengatakan sudah belasan tahun bekelana didalam dunia persilatan, siapa yang tidak geli mendengarnya?

segera terdengar sinona muda tadi berkata sambil tertawa geli:

"Koko. sangat menarik sekali orang ini, selain tak mengerti pada sopan santun tampaknya

dia sangat binal."

"Jangan berbicara dulu adikku, mari kita saksikan bagaimana caranya ia menghadapi tongcu dari perkumpulan Tay sangpang ini" dalam pada itu sikakek ceking itu sudah menarik muka sambil melancarkan sebuah cengkerama kilat secara tiba-tiba.

Kim Thi sia yang sama sekali tak menduga akan datangnya ancaman tersebut menjadi tak sempat untuk menghindarkan diri pakaian dibagian bahunya segera tersambar hingga robek besar.

Kim Thi sia menjadi gusar sekali, sambil melepaskan serangan balasan teriaknya: "Hey sijenggot kerdil, kau sudah bosan hidup?"

Dengan suatu gerakan yang sangat ringan kakek ceking itu, berkelit kesamping untuk meloloskan diri dari ancaman Kim Thi sia lalu ujarnya dengan suara dingin-"Hmm, sinar dari kunang- kuna ngpun ingin bertanding dengan cahaya rembulan. " sambil mendesak maju

kemuka ia segera mengirim sebuah pukulan keras. "Duuuukkk. "

Kim Thi sia segera terhajar sampai roboh terguling diatas tanah.

Ditengah teriakan kaget para penonton pelan-pelan Kim Thi sia merangkak bangun dari atas tanah, lalu teriaknya keras-keras: "Hey sijenggot kerdil, apakah kita sudah bertarung?" Kakek ceking itu tertegun sejenak lalu sahutnya dingini "Kalau benar kenapa?"

" Kalau toh sudah dimulai maka saya perlu memperingatkan kepadamu kita bakal bertarung terus sampai salah seorang keok. Perduli seratus jurus atau seribu jurus."

"Jumawa benar kau sibocah keparat" umpat kakek ceking itu penuh amarah.

sepasang telapak tangannya segera diputar sambil mendorong kedepan dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyatcun segera menggulung kemuka langsung menghantam tubuh anak muda tersebut.

Kembali Kim Thi sia tak sanggup menahan diri, tubuhnya segera terlempar sejauh tiga kali lebih dari posisi semula.

sambil menangis sinona yang ditepi arena segera berteriak keras:

"Koko, habis sudah riwayatnya kali ini, kita tak usah menonton keramaian ini lagi."

Dari nada pembicaraan tersebut jelas dapat disimpulkan kalau dia merasa kecewa atau ketidak mampuan Kim Thi sia sehingga ia tak bisa menyaksikan tontonan yang mengasyikkan.

Ditengah sorak sorai banyak orang, Kim Thi sia segera merangkak kembali dari atas tanah tanpa mengeluh, bahkan dia melancarkan kembali suatu terjangan dahsyat.

Dengan paras muka berubah menjadi menyeramkan kakek ceking itu segera melancarkan sebuah pukulan lagi. "Braaaakkk....

Kembali sepasang tangan saling beradu satu sama lainnya tapi ini kedua belah pihak sama- sama terdorong mundur setengah langkah.

Tampaknya kakek ceking itu merasa terperanjat sekali, tanpa terasa ia berseru: "Apakah kau tidak terluka?"

"Perduli amat terluka atau tidak, toh sudah kukatakan tadi, setelah pertarungan berlangsung sekarang, siapapun tak boleh menyudahi sebelum salah satu pihak keok."

Berbicara sampai disitu ia segera melirik sekejap kesamping arena, tempat muda mudi itu sedang menutup mulutnya sambil tertawa, sebaliknya kakek berambut putih itu segera berkerut kening sambil memikirkan sesuatu.

Dengan penuh amarah, kakek ceking itu berteriak kembali:

"Bocah, keparat, tampaknya kau sudah makan hati harimau, empedu beruang sehingga begitu berani mengucapkan kata-kata semacam itu"

Ia menarik napas panjang dan menyempitkan perut sendiri, lalu diiringi suara bentakan nyaring telapak tangannya diputar sambil melancarkan sebuah babatan kilat kemuka.

Deruan angin pukulan yang maha dahsyat pun segera meluncurkan kemuka melanda apa saja yang ditemuinya.

Tentu saja Kim Thi sia tak akan mampu membendung datangnya ancaman seperti itu, baru saja ia mencoba untuk menerimanya dengan ayunan tangan, tahu-tahu segulung tenaga pukulan yang sangat kuat telah menghantamnya sampai jatuh berjumpalitan diatas tanah, jidatnya segera terluka dan mengucurkan darah segar.

Didalam serangannya barusan, kakek ceking tersebut telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dia memang bertekad akan membunuh pemuda tersebut dalam serangannya itu. oleh karenanya, kerugian yang sedang diderita Kim Thi sia kali ini benar-benar banyak sekali, kepalanya segera terasa pening tujuh keliling. Pandangan matanya berkunang-kunang dan hampir saja dia tak mampu merangkak bangun-

Tiba-tiba satu ingatan melintas didalam benaknya, dia masih ingat dalam bentrokan kekerasan yang terjadi barusan dengan kakek ceking tersebut. Ternyata kekauatan mereka berimbang dan masing-masing pihak mundur selangkah kebelakang. Hal ini membuktikan bahwa tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat tanpa disadari.

Berpikir begitu, semangatnya kontan saja makin berkobar. setelah beristirahat sejenak ia lantas mendengus dan merangkak bangun kembali.

sementara itu para penonton yang mengikuti jalannya pertarungan tersebut dari sekeliling arena memang mengharapkan ada tontonan yang asyik dan mengejutkan maka sewaktu menyaksikan Kim Thi sia merangkak bangun kembali dengan penuh semangat, suasanapun menjadi gempar malah tak sedikit diantara mereka yang mulai memuji. Berubah hebat paras muka kakek ceking tersebut segera pikirnya dengan keheranan-

"sungguh aneh, kenapa bocah keparat yang masih asing dan tak punya nama ini sama sekali tidak terluka? padahal tenaga seranganku barusan mampu menghancurkan batu sekeras apapun mengapa dia yang tak berilmu tinggi justru sama sekali tak cedera"

Amarah yang membaca membuat pikiran jahatpun terus muncul, sekali lagi dia menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya siap melepaskan pukulan yang mematikan.

mendadak terdengar suara teriakan nyaring berkumandang datang, disusul munculnya seorang lelaki setengah umur dari balik kerumunan orang banyak. "Yap longcu apa sih yang terjadi? mengapa ribut-ribut ditempat ini"

setelah celingukan sekejap kesekeliling tempat itu, dengan pandangan kaget bercampur keheranan dia lantas mengamati wajah Kim Thi sia.

Tapi dengan cepat pandangannya membeku dan diatas wajahnya yang hitam pekat seperti pantat kualipun terlintas rasa kaget dan ngeri yang tebal.

Kim Thi sia pun segera mengenali orang ini sebagai si utusan racun- Keberaniannya makin meningkat, segera teriaknya dengan lantang:

"Hey utusan racun ternyata kaupun telah datang. HaaaHh......haaaHH. bagaimana kalau kita

bertarung berapa ratus jurus lagi."

Utusan racun menatap sekejap kearahnya tanpa menjawab, buru-buru ia menghampiri sikakek ceking itu dan memb isikan sesuat, sekilas rasa kaget dan tercengang, segera menghiasi wajah kakek ceking itu.

setelah memperhatikan Kim Thi sia sekejap. diapun manggut-manggut seraya berkata: sambil berpaling kearah belasan orang lelaki yang berdiri menghormat disisi arena, segera

bentaknya:

"Kalian kawanan telur busuk. benar-benar tak tahu diri aku ingin bertanya kepada kalian dimanakah kesalahan anak muda ini? apakah dia telah mengusik kalian?"

Dengan wajah bersemu merah karena malu, belasan orang lelaki itu berdiri menunduk, tak sepatah katapun yang diutarakan mereka. Kim Thi sia jadi tertegun, serunya tiba-tiba: "Hey sijenggot kerdil, kau sudah tak ingin berkelahi lagi?" Kakek ceking itu tertawa seram.

"Tempat ini merupakan tempat umum, semua orang ingin mencari ketenangan disini bila pertarungan dilangsungkan terus, niscaya kejadian ini akan mengurangi kegembiraan orang lain- Lagipula kesempatan untuk bertarung kemudian hari masih banyak sekali, kenapa kita harus bertarung disini?" Tak sedikit jago berpengalaman yang turut menonton pertarungan itu dari arena begitu mendengar perkataan dari kakek ceking tersebut, merekapun segera memahami maksud hatinya. Terdengarlah diantara mereka segera berteriak keras: "HaaaH.....haaaah. haaah dia tak berani."

"Yaa, dia mulai takut. "

Dengan penuh amarah dan napsu membunuh menyelimuti wajahnya kakek ceking itu memperhatikan sekejap sekeliling arena lalu serunya sambil mendengus:

"Hmmm, jika ada diantara kalian yang berniat mengadu domba silahkan menggelinding keluar." orang-orang yang semula memang berniat mengadu domba itu segera membungkam diri

dalam seribu bahasa terutama setelah menyaksikan wajahnya yang menyeringai bengis tak seorangpun yang berani berbicara atau tertawa lagi sebab mereka kuatir bila sampai menyalahi kakek tersebut kerugian besar tentu menanti dibelakang hari.

Begitulah, setelah suasana hening kembali sikakek yang ceking tersebut mendehem berapa kali kemudian berkata:

"Hey anak muda, jika ingin bertarung mari kita mencari tempat yang terpencil saja, kenapa kita mesti mengganggu kesenangan orang hingga menimbulkan keresahan hati mereka"

selesai berkata, dia lantas mengajak SiraSul racun untuk bersama-sama meninggalkan tempat tersebut.

Dengan susah payah Kim Thi sia berhasil menemukan titik terang tersebut, tentu saja dia enggan melepaskan lawannya dengan begitu saja. sambil melangkah maju kedepan, bentaknya keras-keras: "Berhenti"

Kedua orang itu berhenti setelah mendengar bentakan tersebut. sekilas perasaan rikuh menghiasi diatas wajah mereka, tanyanya kemudian-"Ada urusan apa?"

"Ajak aku untuk menjumpai ketua kalian-" Kedua orang itu kelihatan terkejut.

selang berapa saat kemudian, lelaki setengah umur itu baru berkata lagi dengan suara dingin:

"Pang cu adalah seorang pemimpin partai yang terhormat dan agung, ia merupakan pemimpin dari beribu orang dan memegang tampuk kekuasaan dari suatu perkumpulan- Kau anggap beliau sudi menemui sembarangan orang? Apalagi terhadap seorang manusia yang tak punya nama seperti dirimu?"

sudah jelas kalau nada pembicaraan tersebut mengandung sindiran kepada Kim Thi sia yang dianggapnya tak punya nama tapi mempunyai angan-angan yang sangat muluk.

"Benarkah pangcu kalian tak sudi bertemu orang?" seru Kim Thi sia menegaskan-

"Buat apa aku mesti berbohong?" sahut kedua orang itu hampir bersamaan waktunya dengan nada gusar.

"Andaikata aku berniat masuk menjadi anggota Tay sang pang?"

Mendengar perkataan mana kedua orang itu segera saling berpandangan sekejap.

Dengan nada kurang percaya kakek ceking itu segera berkata. "Bila kau berkeinginan masuk anggota, tentu saja Tay sang pangcu akan menyambut dengan gembira. Tapi aku kuatir kau berbicara  menela  mencle.  sekarang   mengatakan   begitu   akhirnya   timbul   rasa menyesal. beranikah kau jamin bahwa perkataanmu itu benar-benar timbul dari sanubarimu?"

Kim Thi sia tahu, bila tak berani memasuki sarang macan, tak mungkin bisa memperoleh anak harimau, maka sambil menepuk dada ia berkata:

"Hal ini mah tergantung apakah kalian bersedia mempercayai perkataanku atau tidak. Padahal sudah lama sekali aku berkeinginan untuk masuk menjadi anggota Tay sang pang."

siutusan racun segera tertawa dingin-"Lalu mana budak rendah itu?" "siapa sih budak rendah yang kau maksudkan?"

Dengan nada marah, utusan racun segera berseru. "Bocah muda, pandai amat kau berlagak pilon- Hmm dari hal inipun pangcu sudah tak sudi bertemu denganmu. Aku maksudkan sianggota murtad itu, kemana perginya perempuan muda berbaju hitam itu?"

"Akupun sendirian tidak tahu" jawab Kim Thi sia berlagak kebingungan- "sejak kaupun pergi meninggalkan aku, ketiga orang lelaki kekar dan nona berbaju hitam itupun pergi entah kemana aku sama sekali tak ada hubungan dengan perempuan itu. sedang kita dapat berkelahi karena kau turun tangan duluan- Urusannya antara aku dengan perempuan tersebut?"

Utusan racun menjadi tertegun-

"Bila kau ingin masuk menjadi anggota Tay sang pang, maka kau mesti menelan sebutir pil buatan Tay sang pang pangcu lebih dulu, dengan begitu kau baru tak berani punya ingatan untuk berhianat. Nah, bagaimana menurut pendapatmu?" Terkesiap juga Kim Thi sia setelah mendengar perkataan itu, segera katanya:

"soal obat sih aku tak tertarik, baiklah jika kalian tidak bersedia mengajukan untuk bertemu dengan pangcu aku mempunyai kaki untuk pergi mencari sendiri" Kedua orang itu saling berpandangan sekejap. kemudian tertawa terbahak-bahak.

"HaaaaaHh....haaaaHh....haaaHH bagus sekali anak muda kau memang cukup hebat.

sekarang juga kami akan mengajakmu pergi menemuinya."

Kim Thi sia menjadi kegirangan setengah mati. Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak lengannya terasa kesemutan- entah sejak kapan lelaki setengah umur itu sudah mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangannya erat-erat. Dengan perasaan terkejut ia segera berteriak: "Hey, mau apa kau?" Utusan racun segera tertawa.

" Untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tak diinginkan, terpaksa aku harus menyiksa sobat sebentar."

Kim Thi sia berusaha untuk meronta namun lengannya sudah kesemutan dan tak menurut perintah lagi, terpaksa dia berseru: "Hayo kita berangkat."

Kedua orang itu tertawa seram, seorang dari kiri yang lain dari kanan, mereka segera membawa Kim Thi sia berlalu dari situ dengan langkah lebar.

^oooo0ooooo

"Tunggu sebentar" mendadak kakak berambut putih itu membentak keras.

Kedua orang itu segera berpaling dan memperhatikan kakek itu sekejap. perasaan kaget dan keheranan segera melintas lewat dari balik mata mereka. setelah tertegun beberapa saat, merekapun segera menjura seraya berkata:

"selamat bertemu, selamat bertemu, rupanya Thi Khi locianpwee telah datang entah ada urusan apa?"

Thi Khi si kakek berambut putih itu berkata dengan suara lamban-"Apakah saudara berdua adalah tongcu dari perkumpulan Tay sang pang."

Kedua orang itu segera mengangguk. "Benar ada urusan apa cianpwee?"

Biarpun kedua orang itu angkuh dan tinggi hati, namun sikapnya terhadap kakek tersebut justru sangat menaruh hormat. Menyaksikan hal ini, Kim Thi sia segera berpikir:

" Kalau dilihat dari sikap mereka, agaknya kakek ini adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi."

Dalam pada itu si kakek berambut putih itu sudah berkata lagi. "Tolong tanya apakah putriku berada diperkumpulan Tay sang pang?"

Gemetar keras tubuh kedua orang tersebut, dengan suara dalam mereka segera bertanya: "Siapakah nama putra cianpwee?" "Yu Kien "

Berubah hebat paras muka kedua orang itu, tapi sebentar kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala, ujarny kemudian sambil tertawa:

"Nama tersebut terasa asing sekali. Rasanya dalam perkumpulan Tay sang pang tidak terdapat manusia tersebut, apakah kedatangan locianpwee dikarenakan putrimu hilang?" Dalam pada itu Kim Thi sia telah merasakan hatinya tergerak. segera pikirnya pula:

"Bukankah Yu Klen adalah sinona berbaju hitam itu? Bukankah dia turut serta seperti perkumpulan Tay sang pang, malah seperti juga utusan racun- sama-sama menjahat sebagai seorang Tongcu. Kenapa dia justru mengatakan tak ada manusia seperti ini."

Berpikir sampai disitu rasa gusar dan mendongkolnya segera timbul, baru saja dia akan mengutarakan kabar berita tentang Yu Klen ketika secara tiba-tiba ia saksikan paras muka kakek berambut putih itu telah berubah hebat dan matanya memancarkan hawa napsu membunuh.

Dalam terkesiapnya buru-buru dia urungkan niatnya untuk berbicara lebih jauh.

"sebagai pemuda yang cermat ia segera dapat menduga bahwa kepergian Yu Kien pasti telah melanggar peraturan rumah tangga keluarganya, sehingga kedatangan ayahnya kali ini bisa jadi berniat untuk menghukumnya."

Diam-diam pemuda itu bertekad didalam hatinya untuk merahasiakan jejak gadis tersebut, bahkan bersumpah akan mengisahkan suatu pertemuan yang penuh kedamaian diantara mereka ayah dan anak.

sementara itu si kakek berambut putih itu sudah berkata lagi sambil menggigit bibir. "Budak ini benar-benar bedebah, ia berani berkomplot dengan kaum durjana untuk melakukan kejahatan.

Hmmm bila aku berhasil menemukannya kembali pasti akan kubunuh dia dengan sekali pukulan. "

Kim Thi sia segera menimbrung:

"Perkataan dari cianpwee keliru besar, bagaimanapun kalian mempunyai hubungan erat sebagai ayah dan anak. sekalipun putri sudah melakukan kesalahan- sudah sepantasnya kalau aku berusaha untuk memaafkannya. "

"Hey anak muda, kau jangan mencampuri urusan ini. " tukas kakek berambut putih itu

dingin-

Kemudian ia berkata lagi:

"Sebagai murid dari rasul selaksa pedang sepantasnya menghormat keluhuran budi gurumu dimasa lalu. Mengapa kau justru ingin bergabung dengan Tay sang pang untuk melakukan kejahatan-

Kim Thi sia tertegun apalagi menyaksikan wajahnya yang serius dan keren, sudah pasti dia sangat menguatirkan tentang dirinya sebab bukan ia tak marah, malah diterimanya dengan senang hati.

Kedua orang itu segera mendehem pelan lalu kata bersama:

"Kami berdua tidak setuju dengan pendapat cianpwee, Tay sang pang adalah suatu perkumpulan yang khusus menolong kaum lemah dari penindasan bagaimana mungkin bisa disebut melakukan kejahatan? mungkin cianpwee kelewat banyak mendengar berita sensasi yang memburukkan pihak kami sebab dalam kenyataan banyak manusia kurcaci yang iri dan tak senang perkumpulan kami. "

Kakek berambut putih itu sama sekali tidak menggubris perkataan tersebut, mendadak ia membentak dengan suara keras: "sobat kecil, benar tidak perkataan ini?" diam-diam Kim Thi sia mengeluh didalam hati, namun terpaksa sahutnya juga. "Kau memang betul, kau memang betul."

Kakek berambut putih itu segera berseri sambil mengelus jenggotnya dan tertawa ia berkata lebih jauh:

"Bila teguranku kelewat pedas harap sobat kecil sudi memaafkan- Tapi aku terpaksa berbuat demikian demi keselamatan sobat kecil dikemudian hari, ketahuilah dalam dunia persilatan dewasa ini terlalu banyak manusia kurcaci yang pandai memutar balikkan fakta, padahal sobat kecil berbakat bagus dan lagi telah mewarisi ilmu silat yang maha dahsyat dari malaikat pedang berbaju perlente. Kau lebih pantas untuk memikul tanggung jawab yang berat untuk membela kaum lemah dan menegakkan keadilan dalam dunia persilatan- oleh sebab itulah aku terpaksa menegurmu dengan kata-kata yang kurang sedang didengar tadi untuk itu harap kau sudi memakluminya. "

"Kau mengenal suhuku?" tanya Kim Thi sia.

Dengan pertanyaan tersebut, berarti secara tak langsung dia telah mengakui sebagai murid malaikat pedang berbaju perlente.

Tiba-tiba kakek berambut putih itu bangkit berdiri dan berseru sembari menjura.

"suhumu adalah seorang tokoh sakti yang sangat terhormat dan kedudukan tinggi dalam dunia persilatan, sedang aku ini manusia macam apa mana mungkin berjodoh untuk bertemu dengannya? tapi banyak sudah kabar berita yang kudengar tentang dirinya, akupun mengetahui semua sepak terjang yang dilakukan selama ini, karena itu akupun sudah puas dapat bertemu dengan muridnya hari ini. sobat, aku percaya dengan bekal ilmu silat ajaran malaikat pedang berbaju perlente kau pasti akan menggetarkan seluruh dunia persilatan- Kuharap kau dapat bertindak sebaik-baiknya hingga tidak menyia-nyiakan pengharapan gurumu. "

Biarpun kakek berambut putih ini termasuk seorang tokoh yang termashur didunia persilatan, setelah menyinggung soal malaikat pedang berbaju perlente, sikapnya segera berubah menjadi begitu hormat dan merendah. Dari sini dapatlah disimpulkan betapa besar dan terhormatnya nama serta kedudukan malaikat pedang berbaju perlente didalam dunia persilatan-

Kim Thi sia segera sadar bahwa sepak terjang dimana mendatang harus diperhitungkan secara cermat sebab sedikit saja dia bertindak salah, maka sejuta orang akan mengutuknya. Maka setelah memberi hormat iapun berkata:

"Terima kasih banyak atas nasehat cianpwee, boanpwee percaya masih mampu mengendalikan sepak terjangku."

Dalam pada itu, paras muka kedua orang tongcu dari Tay sang pang telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat. Apalagi setelah mengetahui bahwa bocah muda yang tak dikenal namanya ini ternyata merupakan murid malaikat pedang berbaju perlente.

Rasul racunpun merasa keder, tanpa terasa cengkeramannya atas lengan Kim Thi sia segera menarik kembali tangannya sambil melotot sekejap kearahnya, semakin berhati-hati lagi untuk menjaga diri.

sepasang muda mudi yang berada disisi arenapun membelalakan matanya lebar-lebar. saking kagumnya merekapun tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

sejak kecil mereka sudah banyak mendengar tentang kegagahan serta sepak terjang malaikat pedang berbaju perlente didalam dunia persilatan sehingga penampilan malaikat pedang berbaju perlente dalam bayangan mereka sudah bukan sebagai manusia lagi melainkan sebagai malaikat sakti.

Biarpun mereka tak mengharao bisa peroleh kesempatan untuk bertemu muka dengan malaikat pedang berbaju perlente pribadi, tapi mereka telah bertemu dengan muridnya sekarang.

Rasa kagum, menghormati dan sanjungan berkecamuk menjadi satu dalam benak mereka, semuanya seakan-akan membentuk sebuah jaringan dan mereka sebagai ikan-ikan kecil yang masuk kejaring, tiada kekuatan sedikitpun untuk meronta ataupun melawan. Diam-diam kedua orang itu berpikir didalam hatinya:

"Ternyata murid si malaikat pedang berbaju perlentepun tak jauh berbeda seperti kami semua mengapa kami harus kaget, panik dan begini gugup?"

Sementara itu si kakek berambut putih tadi telah berkata lagi sambil menghela napas.

"sobat, angkatanku sudah tua semua. Tugas kami sudah seharusnya diserahkan semua kepada kalian-"

Kakek itu seolah-olah berhasil memahami arti kehidupan manusia dalam detik tersebut ia merasa dirinya bagaikan mata hati waktu senja yang pelan-pelan menghilang dan memudar sinarnya sedangkan pemuda yang berada dihadapannya bagaikan sinar sang surya yang pelan- pelan terbit dilangit timur, diantara mereka berdua seakan-akan terdapat kegentingan untuk saling berhubungan dan saling menyambung. Mendadak rasul racun mundur beberapa langkah sambil berseru dengan ketakutan:

" Kami tak bisa mengajakmu untuk bertemu dengan pangcu." " Kenapa?" tegur Kim Thi s ia.

Rasul racun sendiripun tidak habis berpikir, mengapa dia bisa berubah pikiran setelah mengetahui bahwa pemuda yang berada dihadapannya adalah murid malaikat pedang berbaju perlente.

"Tidak. aku harus bertemu denganmu." kata Kim Thi sia menegaskan. "Apakah kalian bersedia kehilangan satu kesempatan yang sangat baik ini?"

"Kesempatan apa?"

"Apakah Tay sang pang tidak ingin menghisap tenaga baru yang penuh dengan semangat tinggi?"

"kau benar-benar ingin bergabung dengan kami?" "Hmmmm. "

Kim Thi sia cukup mengerti posisi serta kedudukannya didalam dunia persilatan dewasa ini maka nada pembicaraannyapun turut bertambah keras dan ketus.

Berubah hebat paras muka kakek berambut putih itu, dia menghela napas panjang dan duduk kembali kekursinya dengan lemas lalu dengan suara lirih bergumam: "Dunia telah berubah, dunia telah berubah. kalau murid malaikat pedang berbaju perlente pun bersedia menggabungkan diri

dengan perkumpulan sesat, apalagi yang bisa kukatakan."

Sepasang muda mudi itupun serentak melompat bangun, lalu sambil menuding kearah Kim Thi sia teriaknya:

"Kau harus mengerti, kami berdua tidak takut kepadamu"

"Yaa, tapi siapa yang suruh kalian takut?" sahut Kim Thi sia dengan wajah tertegun.

Merah jengah selembar wajah muda mudi itu, semula mereka bermaksud untuk ingin menunjukkan keberaniannya, siapa tahu perkataan tersebut justru mengungkapkan bahwa sesungguhnya mereka takut.

Tapi keadaan ini bisa dimaklumi, selama ini mereka menganggap malaikat pedang berbaju perlente sebagai dewa, sebagai malaikat sakti mereka tak ingin menyaksikan muridnya terperosok kejalan yang sesat itulah sebabnya dorongan emosi membuat darah yang mengalir ditubuh mereka makin kencang dan saking tegangnya merekapun tak mampu mengendalikan diri lagi.

"Mengapa kau bersikeras akan menggabungkan diri dengan Tay sang pang? mengapa kau enggan menuruti nasehat yaya ku...kau. kau anggap kami tak berani." Perasaan kaget dan kagum kini berubah menjadi rasa kecewa yang sangat mendalam dan kekecewaan tersebut menimbulkan kobaran emosi yang tak diketahui asal mulanya.

"Inikan menjadi kebebasanku" kata Kim Thi sia kemudian "atas dasar apa kalian hendak mengekang kebebasanku?"

Demi keselamatan jiwa nona berbaju hitam itu dia mesti memendam kesulitannya didalam hati.

Dengan harapan sikap tersebut akan menarik kepercayaan tongcu dari Tay sang pang ini terhadapnya.

Pemuda itu tertegun, lalu diam-diam pikirnya:

"Yaa, benar juga perkataannya, dia akan bergabung dengan Tay sang pang atau tidak akan merupakan kebebasannya? atas dasar apa aku hendak mengurusinya?"

Tidak seperti pemuda tersebut, entah mengapa nona muda itu justru menangis terisak saking emosinya sambil menangis ia berseru dengan penuh kebencian-

"Aku tak perduli siapa malaikat pedang berbaju perlente itu pokoknya jika kau berani bergabung dengan Tay sang pang maka aku.....aku akan membunuhmu "

"Aneh benar bocah perempuan ini " diam-diam Kim Thi sia berpikir dihati kecilnya. "Apa

sangkut pautnya keinginanku bergabung dengan Tay sang pang dengan dirinya? Bukan saja ia sudah menangis, bahkan mengancam akan membunuh ku sungguh aneh sekali."

saking kesalnya diapun segera berseru:

"Asal kau merasa punya kepandaian setiap saat akan kunantikan kedatanganmu" Mendadak kakek berambut putih itu membentak keras:

"Sobat kecil, apakah kau hendak mengandalkan nama besar dari malaikat pedang berbaju perlente untuk memojokkan diriku?"

Dari balik pandangan matanya yang tajam, entah terselip rasa sedih atau marah tapi yang pasti kesempatan itu telah menciptakan hawa napsu membunuh yang sangat tebal. Pelan-pelan dia mengangkat telapak tangannya keatas.

Seluruh tenaga dalam yang dimilikinya telah dihimpun dalam telapak tangannya, bila serangan tersebut sampai dilancarkan niscaya kekuatan yang timbul akan dahsyat sekali. Kim Thi sia tak mau menunjukkan kelemahan dihadapan orang lain, segera ujarnya pula:

"Bila empek memang berhasrat untuk bermain denganku, silahkan saja kau lepaskan seranganmu. Aku pasti akan menemani dengan sebaik-baiknya." dengan tatapan matanya yang tajam kakek berambut putih itu mengawasi lawannya sekejap. kemudian sambil menghela napas ia menurunkan kembali tangannya sambil berkata dengan suara kasar:

"Aaaai dunia kalau mulai kalut, siluman dan dedemitpun akan bermunculan. pergilah kau dari

sini"

Kim Thi sia sengaja mendengus dingin lalu ia sambil berpaling kearah kedua orang tongcu dari Tay sang pang ia berseru:

"Bagaimana? apakah kalian bersedia mengajakku untuk bertemu dengan pang cu?" sandiwara yang diperankan olehnya benar-benar dibawakan secara hidup, kecuali Kim Thi sia

sendiri yang ibarat sibisu makan empedu biar kepahitan namun tak mampu mengutarakan keluar.

Lainnya termasuk juga para jago yang menonton keramaian tersebut sama-sama menghela napas sedih dan turut menyesal karena keputusan murid dari malaikat pedang berbaju perlente yang rela bergabung dengan suatu perkumpulan jahat.

Bahkan ada pula diantara jago-jago golongan lurus yang diam-diam berlalu dari situ sambil membesut air mata dan menyebarkan berita buruk ini kepada rekan-rekan lainnya.

sementara itu pandangan mata kedua orang tongcu itu masih mendelong entah apa yang sedang mereka pikirkan, sehingga perkataan dari Kim Thi sia pun sama sekali tak terdengar Kim Thi sia menjadi berang, segera teriaknya keras-keras:

"Hey, sudah percayakah kalian bahwa aku bersungguh hati akan bergabung dengan Tay sang pang?"

Bagaikan baru mendusin dari impian kedua orang itu saling berpandangan sekejap lain seperti terkejut cepat-cepat mereka menjura seraya berseru:

"Tentu saja, dengan senang hati kami sambut kedatangan anda. Malaikat pedang berbaju perlente adalah seorang pendekar yang hebat kehadiran anda pasti akan membuat Tay sang pang lebih termasyur diseluruh kolong langit" dalam hati merekapun ikut bersorak gembira sebab peristiwa tersebut jelas merupakan jasa besar bagi mereka siapa tahu mereka akan dinaikkan pangkatnya?

"Kalau begitu mari kita pergi" ajak Kim Thi sia kemudian- Bagaikan mayat hidup saja, kedua orang itu sgeera mengangguk berulang kali. "silahkan, silahkan- "

Tiba-tiba terasa bayangan manusia berkelebat lewat lalu tampaklah seorang nona berdiri menghadang jalan pergi mereka kemudian dengan sepasang matanya yang bulat besar dia awasi pemuda kita lekat-lekat serunya kemudian dengan penuh rasa geram: "Mari kita tentukan waktu dan tempat untuk bertarung" Perkataan tersebut diutarakan dengan suara yang amat tegas.

Kim Thi sia menengok sekejap wajahnya ketika melihat kelopak matanya masih merah membengkak dan hingga kini belum hilang akibat menangis kelewat sedih hati ia menjadi tak tega, katanya lembut:

"sudahlah, kita tak usah mempersoalkan kejadian itu lagi" "Tidak"

" apakah kau yakin bisa mengalahkan aku?"

"Biar tak mampu mengalahkan juga tetap akan kuhadapi" Kim Thi sia jadi sedikit berang, segera ujarnya:

"Bila kau bersikeras akan menghadapku yaa apa boleh buat, katakan saja tempat dan saatnya tempat manapun boleh"

Nona itu menundukkan kepalanya sambil berpikir sebentar, kemudia serunya dengan jengkel: "baik akan kutunggu kehadiranmu ditebing Bwee hoa nia pada senja tiga hari kemudian." "Bwee hoa nia?"

Diam-diam Kim Thi sia bersedia dia tak menyangka kejadian tersebut berlangsung begitu kebetulan padahal ia telah punya janji dengan encinya Yu Klen untuk berjumpa di Bwee hoa nia tiga hari kemudian.

Karena masih ada persoalan lain maka tanpa berpikir panjang lagi ia berseru lantang: "Baik, kita tetapkan dengan sepatah kata-kata tersebut, sampai saatnya aku pasti akan

muncul."

Kemudian dengan mengikuti dibelakang kedua orang Tongcu dari Taysang pang, ia segera beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.

suara umpatan, makian, helaan napas dan keluhan terdengar bergema dari belakang situ, diam-diam Kim Thi sia terkejut juga setelah melihat reaksi keras para jago terhadap keputusannya ini. Dia tak mengira kalau nama besar malaikat pedang berbaju perlente telah mendarah daging dalam hati setiap orang.

Diam-diam pemuda itu mulai kuatir, ia takut perbuatannya ini telah menodai nama besar gurunya.

Tapi ingatan lain segera melintas kembali didalam benaknya: "Perduli amat, untuk memenuhi janjiku dengan Yu Kien-...bagaimanapun juga hal ini mesti kulaksanakan, toh dikemudian hari aku masih punya kesempatan untuk mencuci bersih semua noda dan kesalahan yang telah kuberbuat sekarang. ?"

Entah berapa lama mereka telah berjalan, tiba-tiba kedua orang itu menghentika langkahnya seraya berseru: "sudah sampai."

Ternyata mereka telah berhenti didepan sebuah bangunan gedung yang begitu besar, megah dan belum pernah ditemui selama ini.

Namun Kim Thi sia tidak berhasrat untuk menikmati kemegahan gedung tersebut, segera ujarnya:

"Ayo ajak aku bertemu dengan ketua kalian."

Kedua orang itu segera berjalan mendekati pintu gerbang yang tingginya mencapai dua kaki dan sangat lebar itu, kemudian menggoyangkan gelang tembaganya. suara benturan nyaring segera memecahkan keheningan-"Kata sandi "

"Baju hijau, bunga merah"

"ooooh, rupanya Tongcu, maaf kalau hamba kurang hormat"

Pintu gerbang dibuka lebar dan muncullah belasan orang lelaki kekar bertombak yang mempunyai gerak gerik cekatan serta berlangkah tegap dan mantap. sambil menjura mereka berseru: "silahkan tongcu"

Dengan langkah lebar kedua orang itu melangkah masuk kedalam gedung mendampingi Kim Thi sia.

Disebuah tanah lapangan yang sangat luas terlihat deretan delapan belas macam senjata berjajar dikedua belah tepinya berapa ratus lelaki bertelanjang dada sedang berlatih diri disitu dengan penuh semangat dan suara bentakan bergema bagaikan belahan guntur.

Diujung lapangan merupakan bangunan rumah yang berlapis-lapis tiada habisnya, semuanya dironda dan dijaga oleh sekawanan lelaki kekar bertombak terhunus. Namun sikap mereka cukup menghormat bila bersua dengan kedua orang tongcu tersebut.

Entah berapa lama sudah berjalan, Kim Thi sia mulai habis kesabarannya mendadak ia bertanya:

"Apakah masih jauh?" "sebentar lagi sudah sampai"

setelah membelok sebuah tikungan, mereka berjalan kembali beberapa waktu.

Kim Thi sia mulai memperhatikan keadaan sekelilingnya, didepan mata sekarang telah muncul sebuah gedung yang amat besar, dua puluhan orang lelaki kekar yang terbagi dalam dua barisan berdiri berjajar disisi gedung dengan tombak terhunus, penjagaan disekitar sana terasa amat ketat.

"Pasti sudah sampai. " pikir Kim Thi sia diam-diam.

Ternyata dugaannya memang benar, terdengar kedua orang itu berkata dengan lirih: "Harap siauhiap menunggu sebentar kami akan lapor dulu pada pangcu."

Habis berkata rasul racun mengerling sekejap kearah rekannya dan kakek ceking itu menanggapi serta manggut-manggut.

Maka rasul racunpun melangkah pergi lebih dulu dengan langkah lebar. sementara itu suara gelak etrtawa yang amat nyaring lama-lama berkumandang dari balik gudang besar itu, agaknya tak sedikit orang yang berada disana dari gelak tertawa yang nyaring bisa diketahui pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu amat sempurna. Rasul racun segera melangkah kedepan mendekati gedung tersebut, namun ia tak berani memasuki ruangan tadi, sambil berdiri diluar pintu segera serunya:

"Tongcu bagian hukum rasul racun ada urusan hendak dilaporkan kepada pangcu."

Gelak tertawa didalam ruangan segera berhenti sejenak. karena menyusul kemudian terdengar seseorang menegur dengan suara yang amat nyaring. "Apakah rasul racun yang datang?"

" benar hamba" jawab rasul racun sambil munduk-munduk penuh hormat. "Ada urusan apa?"

" Lapor pangcu, murid si malaikat pedang berbaju perlente ingin bertemu dengan kau orang tua, bahkan mengatakan berniat menggabungkan diri dengan Ta y sang pang kita. Tolong tanya apakah pangcu berniat untuk menemuinya."

"Aaaai " suara orang itu kedengaran agak tertejut, sesaat kemudian ia baru bertanya.

"Apakah kau tidak salah melihat?" "Hamba tak berani bertindak gegabah."

"udah diberi obat dari perkumpulan kita?" "Belum"

"Mengapa kau tidak melaksanakan peraturan yang telah digariskan oleh perkampungan kita?"

"Berhubung hamba melihat bahwa dia adalah muridnya malaikat pedang berbaju perlente maka...maka. "

saking gelisahnya, siutusan racun sampai dibuat gelagapan dan tak mampu meneruskan perkataannya lagi.

"Hmmm, kau benar-benar teledor jika keadaan ini dibiarkan terus, bagaimanakah pertanggungan jawabmu kepadaku. ^ "

"Yaa. hamba memang pantas dihukum mati tapi mohon pangcu tadi mengampuni kesalahan

ini" ucap rasul racun cepat-cepat dengan peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya.

"Ehmmmm, mengingatkan adalah pembantuku yang setia selama banyak tahun dan kesaksianmu tak ada cacadnya, maka aku bersedia mengampuni kesalahanmu untuk kali ini saja tapi. "

Mendadak orang itu berhenti berbicara hal ini membuat rasul racun menjadi amat gelisah hingga hampir saja bertekuk lutut. saat itulah terdengar orang itu berkata lagi:

"Lain kali, jika kau sampai melakukan keteledoran yang sama sekali lagi, jangan salahkan bila aku akan menindakmu tegas."

Rasul racun menjadi sangat kegirangan namun rasa gembira tersebut tak berani diperlihatkan diwajahnya kembali ujarnya dengan sikap yang menghormat:

"Terima kasih atas kebaikan pangcu, budi ini tak akan hamba lupakan untuk selamanya." "Nah, ajaklah dia masuk"

Rasul racun segera menggapai kebelakang cepat-cepat kakek ceking itu mengajak Kim Thi sia memasuki ruangan-

sambil berjalan kakek ceking itu kembali berpesan dengan suara lirih:

"Setelah berjumpa dengan pangcu nanti harap siauhiap suka menjawab semua pertanyaan yang diajukan sejujurnya Jangan sekali-kali mencoba menipu atau mengelabuhi sebab pangcu kami berilmu sangat hebat dan melihat kebohongan orang. Bila sampai ketahuan bohongnya, sudah pasti siksaan yang bakal diterima tak akan tertahan oleh seorang pemuda seperti kau, biar akupun......hmmm.....mungkin tak. " Mendadak ia seperti merasa tak baik untuk melanjutkan kata-katanya, maka ucapan tersebut terhenti sampai ditengah jalan-

"Aku sudah tahu" jawab Kim Thi sia segera.

Mendadak terdengar ^uara teriakan keras bergema memecahkan keheningan. "Pangcu tiba."

Cepat-cepat kakek yang kurus kecil itu menjatuhkan diri berlutut keatas tanah, dia menarik tangan Kim Thi sia untuk diajak berlutut pula namun Kim Thi sia sebagai pemuda yang tinggi hati tak sudi berlutut kepada siapa saja. Pikirnya dihati:

"Hmmm, lutut seorang lelaki seperti lebih berharga daripada emas selaksa tahil, kenapa aku mesti berlutut pada seorang pentolan perampok macam begitu?"

sementara itu dari balik ruangan telah muncul empat orang manusia. sebagai orang pertama adalah seorang lelaki berperawakan tinggi besar seperti malaikat yang berjubah hijau, sayang hidungnya bengkok seperti paruh betet. Madanya tajam seperti mata maling berwajah menyeramkan.

orang ini tak lain adalah ketua Tay sang pang yang disebut Ciang ceng Thian kang (pukulan yang menggetarkan jagad) Khu it cing.

orang kedua berusia enam puluh tahunan berkepala harimau bermata macan, ia memakai baju berwarna kuning. orang ini adalah salah satu pembantu utama dari ketua Tay sang pang yang disebut orang jago pedang angin dan guntur Ti Hui.

orang ketiga dan keempat berdandan sebagai tosu yang berusia lima puluh tahunan, memegang senjata kebutan dan bersinar mata amat tajam, dalam sekilas pandangan saja orang akan tahu kalau mereka merupakan jago-jago lihay yang bertenaga dalam amat sempurna. 

setelah mengambil tempat duduk. keempat orang itu segera mengawasi Kim Thi sia dengan pandangan kaget bercampur tercengang, agaknya mereka tercengang kalau manusia macam Kim Thi sia merupakan anak murid dari malaikat pedang berbaju perlente.

Dengan kening berkerut ketua Tay sang pang Khu It cing segera berkata dengan suara dalam: "saudara cilik adalah murid keberapa dari malaikat pedang berbaju perlente? dapatkah

kuketahui?"

"Murid kesepuluh."

" Kesepuluh?" Khu It cing berseru keheranan- "Aku dengar malaikat pedang berbaju perlente hanya mempunyai sembilan orang muris, yang dibagi dalam urutan "emas, perak, tembaga, besi, air, kayu, api, tanah dan bintang" jangan-jangan saudara cilik hanya mengaku-ngaku saja?"

Perkataan itu diutarakan amat datar dan hambar sehingga sulit bagi orang lain untuk menebak isi hatinya.

Dengan wajah tak senang Kim Thi sia segera berseru:

"oooh, jadi kau mengatakan aku hanya mengaku-ngaku saja?"

Sebagai pemuda yang sudah lama tinggal digunung dan baru pertama kali terjun kedalam dunia persilatan, ia sama sekali tidak mengerti tentang sopan santun seorang muda terhadap orang tua, dan hanya tahu apa yang ingin diutarakan, segera diucapkan tanpa segan-segan- Khu It cing kembali berkerut kening, nampaknya diapun merasa tak senang hati, namun sebagai seorang yang licik dan berotak cerdas, dia tak pernah memperlihatkan perasaan girang, sedih atau gusarnya didepan wajahnya. Kembali katanya dengan suara hambar:

"Aku sama sekali tak bermaksud demikian, aku hanya menginginkan saudara cilik menjelaskan, bagaimana kisahnya sampai malaikat pedang berbaju perlente menerimamu lagi sebagai muridnya yang kesepuluh?" "Aku tidak tahu, pokoknya suhu menerimaku menjadi muridnya karena ia mempunyai janji demikian dengan ayahku, apa yang sebenarnya terjadi tidak kupahami."

Dengan sinar matanya yang tajam Khu It cing menatap sekejap wajah Kim Thi sia sebagai orang yang berpengalaman ia segera tahu kalauperkataan itu jujur maka katanya kemudian sambil manggut-manggut.

"saudara cilik mengatakan kalau kau berkeinginan masuk menjadi anggota Tay sang pang, bolehkan aku tahu alasan yang membuatmu berkeinginan untuk melakukan hal ini?"

"siapa bilang aku punya hasrat untuk menjadi anggoat Tay sang pang, aku kemari karena hendak mengajakmu untuk merundingkan suatu persoalan. Hmm, jangan kau pandang diriku kelewat rendah."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, paras muka rasul racun dan sikakek ceking yang berdiri disisinya segera berubah hebat, serentak mereka membentak keras:

"Hey bocah busuk. bukankah kau sendiri yang mengatakan hal tersebut kepada kami. Rupanya kau berniat membohongi kami?"

Khu It cing segera mengulapkan tangannya smabil menukas: "Kalian tak boleh banyak berbicara"

"Baik,..." sahut kedua orang itu dengan sikap menghormat, namun sinar matanya yang penuh kebencian tak urung mengerling sekejap kearah Kim Thi sia.

setelah tersenyum Khu It cing berkata lagi:

"Persoalan apakah yang hendak saudara rundingkan denganku?"

Dengan wajahnya yang dingin menyeramkan, senyuman tersebut mendatangkan perasaan yang lebih mengerikan bagi siapapun yang melihat. Kim Thi sia muak sekali, ujarnya segera:

"Aku dengar pihak kalian mempunyai sejenis obat racun yang berdaya kerja lambat. barang siapa telah menelannya maka dalam setengah tahun berikut harus mentaati perintah, kalau tidak dia akan mati akibat keracunan- Benarkah ada kejadian seperti ini?"

"Benar, ada urusan apa saudara cilik menanyakan persoalan ini?" kata Khu it cing hambar. "Terus terang saja kukatakan- aku sengaja datang menemuimu karena aku ingin meminta

penawar racun tersebut darimu." Khu It cing jadi melongo.

"Jadi maksud kedatangan saudara cilik untuk meminta obat pemusnah racun adalah untuk menolong murid perkumpulanku yang murtad?"

sebelum Kim Thi sia sempat menjawab rasul racun telah berteriak lantang:

"Pangcu, orang yang hendak ditolong bocah keparat ini adalah budak rendah tersebut, Yu Kien-

"

"Hey, kau menyebut budak rendah, lantas manusia macam apa pula dirimu itu?" tukas Kim Thi

sia sambil melotot.

sambil menarik muka Khu It cing segera menukas:

"Aku telah menyuruh mu jangan ikut berbicara, mengapa kau nekad terus? Apakah kau tidak memahami perkataanku itu?"

"Yaa...yaa. tecu memang berdosa" dengan penuh rasa takut rasul racun mengiakan berulang

kali.

Khu It cing segera berkata kembali:

"saudara cilik, tahukah kau bahwa tindakanmu menolong murid perkumpulan kami yang murtad merupakan suatu tindakan yang melanggar peraturan kami?" " Kalau tahu kenapa, kalau tidak kenapa pula?" tanyang Kim Thi sia ketus. Khu It cing tertawa nyaring.

"Bila kau tak tahu maka mengingat perbuatanmu tak disengaja, aku bersedia melepaskan dirimu asal kau mengutungi sepasang lenganmu sendiri, tapi kalau kau berhasrat memusuhi perkumpulan kami, hal ini sama artinya dengan mencari kematian buat diri sendiri"

"Jangan membicarakan soal itu lebih dulu, aku ingin tahu. Bersediakan kau menyerahkan obat penawar racun tersebut?"

Berubah paras muka Khu It cing, pepatah kuno bilang, pohon membutuhkan kulit, manusia memerlukan muka.

setelah ditegur Kim Thi sia secara langsung dihadapan orang banyak, betapapun hebat dan pintarnya Khu It cing, tak urung dibuat berang juga akhirnya. Dia segera tertawa keras, lalu berseru:

"Jadi saudara cilik khusus kemari untuk meminta obat penawar racun?"

"Benar" jawab Kim Thi sia dengan lantang. "Bahkan aku hendak menantangmu untuk bertarung berapa ratus gebrakan, berani kau menerima tantanganku itu?"

saking gusarnya Khu It cing tertawa tiada hentinya sampai lama sekali ia tidak berbicara sepatah katapun-

Kim Thi sia juga tak menggubris sikap lawan dia berkata lebih lanjut:

"Jika aku yang kalah terserah hukuman apa yang akan kaujatuhkan kepadaku, tetapi bila aku beruntung bisa mengungguli dirimu, jangan lupa hadiahkan dua ratus butir obat penawar racun kepadaku nah bila berani hayo kita laksanakan sekarang juga. Aku tak punya cukup waktu untuk bersilat lidah denganmu"
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).