Lembah Nirmala Jilid 06

 
Jilid 06

Kemudian tanpa memperdulikan Kim Thi sia dan Nyoo Soat hong lagi, dia segera menjejakkan kakinya dan berkelebat pergi dengan menerobos jendela.

Dalam beberapa kali lompatan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Setelah menyorenkan pedangnya Kim Thi sia bersiap-siap pula akan berangkat, tapi secara tiba-tiba ia saksikan Nyoo Soat hong bersandar dikursi dengan wajah pucat pias maka segera pikirnya:

"Kalau kami berdua pergi semua, bagaimana dengan dia? seandainya musuh jahanam itu datang lagi dan menghadiahkan sebuah tusukan ketubuhnya dalam keadaan tidak sadar niscaya dia akan mati, bukankah jiwanya akan melayang dengan penasaran?"

jangan dilihat dia polos dan sederhana, padahal orangnya cermat dan seksama, maka setelah mempertimbangkan sejenak, buru-buru diambilnya semangkuk air dan diguyur keatas wajahnya.

Nyoo Soat hong segera mendusin kembali dari pingsannya, dengan cepat dia memandang sekejap kesekeliling tempat itu, tapi keningnya segera berkerut, perasaan sedihpun menyelimuti wajahnya.

"Mana kakakku?" tanyanya kemudian.

"Engkoh mu sedang pergi mencari musuh yang jahanam itu, dia ketimur dan aku kebarat.

Baik-baiklah kau berada disini untuk menjaga jenasah lopek, disamping itu kaupun harus berhati-hati, jangan memberi kesempatan kepada musuh untuk mencelakai jiwamu tanpa kau sadari. Nah aku pergi dulu." Dengan melompati jendela, dia beranjak pergi dari situ dengan langkah besar. Tiba-tiba terdengar Nyoo soat hong berseru dari belakang: "Hay tunggu sebentar, aku ikut dirimu."

sambil menggertak gigi Nyoo soat hong melompati jendela dan memburu kebelakang anak muda tersebut.

Dengan kening berkerut Kim Thi sia segera berteriak keras:

" Kau tak boleh ikut pergi, bila kaupun pergi lantas siapa yang akan menjaga jenasah empek?" "Tidak, aku harus pergi dari sini" seru Nyoo soat hong bersikeras. "Ayah tewas tanpa sebab

yang jelas, aku harus mencari musuh jahanam itu sampai ketemu dan mencincang tubuhnya

hingga hancur berkeping-keping."

Kim Thi sia menjadi amat gusar tanpa berpikir panjang lagi dia segera mendorong tubuh nona itu sambil bentaknya:

"Kenapa sih kau tak mau menurut? Bukan saja hal ini akan menyulitkan kau sendiri, bahkan akan mencelakai seluruh keluargamu"

Nyoo soat hong sama sekali tidak menyangka kalau Kim Thi sia bakal mendorong tubuhnya, sementara masih tertegun tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri.

Tak ampun lagi, dadanya kena didorong keras-keras sehingga kehilangan keseimbangan badannya, kontan tubuhnya mundur sejauh tiga langkah kebelakang.

Biarpun tak disengaja ternyata dorongan Kim Thi sia ini persis mengenai sepasang payudara sinona yang montok dan empuk itu.

sekalipun Nyoo soat hong berada dalam keadaan sedih tak urung dibuat tersipu-sipu juga setelah payudaranya dipedang orang kepalanya segera tertunduk rendah.

selang berapa saat kemudian, dia baru mengangkat kepalanya kembali, dari balik sepasang matanya yang terbelalak besar, terlintas rasa malu yang amat sangat.

sebaliknya Kim Thi sia tetap bersikap wajar, dia sama sekali tidak nampak jengah atau tersipu karena perbuatan itu.

Malah dengan suara rendah dan mendalam dia berkata lagi:

"Nona, turutilah perkataanku, kau tak usah ikut menyerempet bahaya, bila aku tidak pulang berarti telah terjadi suatu hal yang tak dlinginkan atas diriku.Jagalah diri kalian baik-baik, atau carilah bantuan orang lain, atau dalam ilmu silat kalian, tapi yang penting janganlah bertindak menuruti emosi, mengerti?"

Pemuda itu tidak mengerti adat kesopanan ataupun tata cara pergaulan baginya apa yang ingin dibicarakan, langsung diutarakan secara blak-blakan. sehingga tanpa disadari ucapannya itu bernada memerintah.

seandainya kejadian tersebut berlangsung diwaktu biasa, Nyoo soat hong yang tinggi hati pasti tak akan tahan. Tapi keadaannya saat ini jauh berbeda, kesatu karena ayahnya baru saja terbunuh sehingga pikiran Nyoo soat hong masih kalut, kedua nona itupun sudah menaruh suatu perasaan aneh terhadap pemuda tersebut.

oleh karenanya terhadap ucapan Kim Thi sia yang bernada memerintah itu bukan saja tidak memancing keangkuhannya malah sebaliknya justru mengangguk dengan menurut sekali. Malah dengan penuh rasa kuatir berpesan:

"Bila ilmu silat yang dimiliki musuh jahanam itu terlalu hebat dan kalian tak mampu menandinginya, tak usah dihadapi secara kekerasan. Pulanglah cepat-cepat dan kita bertindak setelah berunding nanti."

Mendadak Kim Thi sia mencabut pedangnya sehingga terdengarlah suara nyaring bergema memecahkan keheningan. cahaya hijau yang menyilaukan mata segera memancar keluar dari tubuh pedang Leng Gwat kiam tersebut. sambil membelai pedangnya yang bersinar tajam itu, Kim Thi sia berseru keras-keras:

"Aku bersumpah tak akan kembali kemari lagi sebelum dapat membalaskan dendam sakit hati empek. Nona Nyoo, aku segera akan pergi, segala sesuatunya atasilah secara baik-baik. "

Nyoo soat hong menjadi terkejut sekali, setelah mendengar perkataan itu serunya tertahan: "Kau. "

Dia tak tahu bagaimana harus melanjutkan perkataan itu, menanti nona itu menemukan kata- kata yang sesuai bayangan tubuh Kim Thi sia yang kekar telah lenyap dibalik pepohonan yang gelap nan jauh didepan sana.

Nyoo soat hong merasa sedih sekali, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Kesedihan yang datang secara bertubi-tubi membuat perasaannya bergolak keras seperti dilanda gelombang yang menggunung.

Ia tak mengerti apa sebabnya air mata bercucuran membasahi wajahnya, sedih karena kematian ayahnya? atau sedih karena kepergian pemuda itu?

Tapi yang jelas dia merasa sedih sekali sehingga ingin menangis tersedu-sedu sampai puas. Kim Thi sia menghentikan langkahnya setelah berjalan beberapa saat pikirnya:

"Kemana aku harus pergi? dengan pengalamanku yang cetek dan tak mengenal daerah disekitar tempat ini, bagaimana mungkin aku dapat menemukan musuh jahanam itu? Lagipula syarat yang terutama bagi pencarian ini yakni raut wajah lawanpun tak kuketahui, biar bertemu ditengah jalanpun belum tentu aku bisa mengenalinya "

Pikir punya pikir dia menjadi putus asa dunia begini luas, kemanakah dia mesti menemukan musuh tersebut? akhirnya sambil menghela napas panjang dia duduk bersandar disisi dahan pohon. Mendadak.........

saat itulah ia saksikan sesosok bayangan hitam berkelebat lewat dari hadapannya sana dengan kecepatan tinggi dalam sekilas pandangan saja bayangan tersebut telah lenyap tak berbekas. Kim Thi sia segera merasakan hatinya melonjak-lonjak. segera pikirnya: "Aaah, jangan- jangan orang ini. "

Dia segera mempercepat langkahnya menyusul kebalik hutan yang lebat itu sambil melakukan pencarian.

Lebih kurang dua kali sudah dia berjalan hingga tembus dari balik hutan ternyata ia tak berhasil menemukan jejak bayangan hitam yang terlihat tadi.

Ia mencoba menunggu sebentar, tapi tiada kecurigaan yang ditemukan harapan yang semula tumbuh kontan lenyap tak berbekas. Tanpa terasa gumamnya seorang diri:

"Yaa, siapa suruh aku tak becus, ilmu meringankan tubuh tak mampu kalau tidak, niscaya orang itu dapat kususul."

Dengan kepala tertunduk dia melanjutkan kembali perjalanannya dengan pikiran yang melayang entah kemana, jangan lagi memperhatikan jalanan, pemandangan disekelilingnyapun tidak dipandang barang sekejappun. Tiba-tiba.......

Kembali terlihat sesosok bayangan-bayangan hitam melesat naik keatas pohon dari suatu tempat tak jauh dihadapannya menyusul kemudian tapak orang itu meluncur kedepan dengan cepatnya.

Kim Thi sia menjadi sangat kegirangan sambil mengejar dibelakang manusia berbaju hitam itu pikirnya :

"Bagaimanapun juga, kali ini aku tak akan membiarkan dia lolos dengan begitu saja." Bayangan manusia berbaju hitam itu mempunyai perawakan tubuh yang kurus dan kecil, dia memakai pakaian ringkas berwarna hitam dengan sepasang pedang tersoren dipunggungnya.

Gerak g erik orang itu sangat ringan dan lincah, sekali lompatan beberapa kaki dapat tercapai. Untukng saja dia sedang berlari dengan kepala tertunduk. kalau tidak tak nanti Kim Thi sia dapat menyusul.

Tak selang berapa saat kemudian, Kim Thi sia sudah kehabisan napas, dia ngos-ngosan seperti kerbau, kakinya letih dan lemas sehingga nyaris tak sanggup diangkat kembali, tapi dengan mengeraskan hatinya dan menggertak gigi kencang-kencang dia mengikuti terus tiada hentinya.

setelah masuk kota, tiba-tiba manusia berbaju hitam itu mengurangi kecepatan geraknya masih dengan kepala tertunduk dia selalu menghindari tempat keramaian dengan memilih jalan yang sepi tapi kadang kala dia mengangkat kepalanya juga untuk memperhatikan keadaan disekitar situ.

Waktu itu Kim Thi sia sudah kepayahan untuk mengikuti terus, ketika melihat orang itu kegirangan setengah mati. Maka dengan berlagak seolah-olah tiada bermaksud apa-apa dia memegang gagang pedangnya dan membusungkan dada berjalan dengan langkah lebar, padahal secara diam-diam dia awasi terus kemanapun orang itu pergi.

Begitulah, dengan tanpa arah tujuan tertentu ia mengguntil terus dibelakang manusia berbaju hitam itu, setelah menikung dua tiga kali akhirnya mereka masuk kedalam sebuah lorong sempit. Tiba-tiba manusia berbaju hitam itu berhenti sambil celingukan kian kemari untung Kim Thi sia telah bersiap sedia, cepat-cepat dia menyembunyikan diri kesudut lorong. Beberapa kali orang berbaju hitam itu berjalan mondar mandir diseputar lorong tersebut menanti dia sudah yakin kalau disekitar sana tiada orang lain, orang itu baru melompat setinggi tiga kaki dan melayang keatas sebuah bangunan loteng dan menerobos masuk melalui jendela yang terbuka lebar.

Hal itu tentu saja amat menyulitkan Kim Thi sia yang tidak mengerti ilmu meringankan tubuh, dia harus membuang waktu hampir setengah harian lamanya untuk merangkak nani keatas dinding pekarangan lalu setingkat demi setingkat dia menaiki loteng tadi. Tatkala tiba ditepi jendela tersebut dia sudah kecapaian serta bermandikan keringat. Jendela itu belum ditutup sehingga Kim Thi sia dapat mengintip kedalam ruangan itu

Disana ia jumpai sebuah ruangan yang sangat indah dan mewah, diatas dinding penuh bergantung lukisan-lukisan mahal. Disudut ruangan terdapat lemari yang penuh dengan buku, barang antik serta jambangan indah. sudah jelas kamar tersebut milik orang kaya.

Ruangan itu kosong melompong, sedang manusia berbaju hitam tadi entah sudah menyusup kemana, diam-diam Kim Thi sia menerobos masuk kedalam ruangan dan bersembunyi dibalik kelambu.

Disamping ruangan itu terdapat pula ruangan lain yang jauh lebih megah dan mewah daripada ruangan pertama, diatas pembaringan yang terbuat dari gading gajah. Tampak seorang lelaki bertubuh kekar sedang tidur menghadap kedalam, hanya dengkurannya yang terdengar jelas tapi terlihat bagaimanakah raut mukanya.

Dis isi pembaringan terdapat lemari manusia berbaju hitam yang dijumpainya tadi sedang membongkar lemari tersebut. Entah apa yang sedang dicari, tapi cara kerjanya sangat cekatan, meskipun sedang menggeledah namun sama sekali tak terdengar sedikit suarapun.

Diam-diam Kim Thi sia berpikir:

"ooh, rupanya dia cuma seorang pencuri. Aaai sialan, tak nyana setelah dikuntil setengah

harian, yang diikuti cuma seorang pencuri kecil."

Manusia berbaju hitam itu agaknya belum emrasa kalau ada orang lain sedang mengintip dari balik pintu, ketika ia gagal menemukan benda yang dicari setelah menggeledahnya sekian lama. orang itu nampak murung dan kesal sekali, terhadap emas dan perak yang memenuhi lantai ternyata ia tak memandang sekejappun. selama ini dia tak pernah berpaling sehingga Kim Thi sia tidak sempat untuk nelihat raut wajahnya, tapi dia dapat membayangkan wajahnya saat itu tentu murung sekali.

Tiba-tiba manusia berbaju hitam itu menghentikan pencariannya lalu berdiri termenung disitu agaknya ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

Berapa saat kemudian, agaknya ia telah mengambil suatu keputusan besar, selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati lelaki yang masih tertidur nyenyak itu.

Tiba-tiba rasa gusar muncul dalam hati Kim Thi sia, dengan kening berkerut sebera bentaknya: "Ada pencuri"

suaranya begitu keras, sampai membuat manusia berbaju hitam itu menjadi tertegun.

Mendadak lelaki yang berbaring diatas ranjang itu tertawa terbahak-bahak. agaknya diapun telah membuat persiapan sementara manusia berbaju hitam itu masih tertegun ia telah melancarkan sebuah serangan dengan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan manusia berbaju hitam itu.

Dengan sekuat tenaga manusia berbaju hitam itu berusaha untuk meronta, tapi gagal, akhirnya sambil menghela napas sedih ia menghentikan rontaannya dan pasrah pada nasib.

Menyaksikan peristiwa tersebut Kim Thi sia menjadi menyesal sendiri, dari apa yang terjadi didepan mata dapat disimpulkan kalau lelaki setengah umur yang bertubuh kekar itu sudah melakukan persiapan yang matang.

Melihat manusia berbaju hitam itu begitu lemah dan menghentikan perlawanannya untuk pasrah pada nasib tiba-tiba suatu perasaan membantu kaum lemah timbul dalam hati kecilnya.

sementara itu lelaki setengah umur itu sudah tertawa nyaring, dia segera menarik ikat kepala manusia berbaju hitam itu sehingga terurailah rambutnya yang panjang. terdengar lelaki kekar itu berkata dengan bangga:

"Nona, lebih baik padamkan saja niatmu itu, bila raja akherat telah menetapkan kentongan ketiga saat kematianmu, nyawamu tak bakal lolos sampai kentongan kelima. Bah rupanya nasibmu memang lagi naas, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji kepadamu."

selesai berkata dia segera membereskan pakaian sendiri tanpa memandang kearah Kim Thi sia barang sekejappun. seakan-akan dia memang tak memandang sebebah matapun kepadanya.

Dari pembicaraan yang barusan berlangsung, Kim Thi sia dapat menyimpulkan kalau antara lelaki setengah umur dengan manusia berbaju hitam itu jelas sudah saling mengenal satu sama lainnya. Siapa tahu gara-gara kecerobohannya, menyebabkan urusan pribadi orang jadi berantakan.

Tiba-tiba manusia berbaju hitam itu berpaling dan memandang sekejap kearah Kim Thi sia sepasang matanya berkaca-kaca penuh air mata, wajahnya yang cantik nampak sedih dan murung terdengar ia berkata dengan suara lirih:

"sejak semula aku sudah tahu kalau kau sudah menguntit dibelakangku, tapi tak mengira kalau kau bakal berteriak"

suaranya lembut dan lemah sama sekali tidak mengandung nada benci atau marah seolah-olah dia hanya menyalahkan nasib sendiri yang kurang mujur.

Kim Thi sia berdiri termangu ditempat untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menjawab perkataan itu

Dalam pada itu, lelaki kekar itu telah berkata lagi dengan suara yang keren-

"Murid murtad, pangcu loya sudah tahu kalau kau berniat menghianatinya, karena selama berapa hari terakhir ini aku selalu mengawasi gerak gerikmu. Hmmm tak disangka kau berani datang mencuri obat. Nah, tahu rasa sekarang" "Paling banter toh mati, kenapa aku mesti membantu kaum durjana untuk berbuat kejahatan lagi? Aku tak sudi lagi membantu kalian untuk menindas dan menyiksa rakyat biasa. "

Biar bodoh Kim Thi sia tidak tuli atau buta, sekilas pandangan saja ia sudah tahu kalau nona berbaju hitam itu bukan orang jahat rasa simpatik segera berkobar dalam hatinya.

Dalam pada itu lelaki setengah umur bertubuh kekar itu sudah berkata lagi sambil tertawa dingini

"Kurang ajar, kau berani mengupat pangcu? Hmm, kali ini jangan lagi hidup bebas, mau matipun tak gampang Hmm, tunggu saja hukuman berat yang bakal menimpamu sesuai dengan peraturan yang berlaku. "

Kemudian teriaknya keras-keras: "Pengawal. "

Terdengar suara langkah bergema tiba, nampak tiga orang lelaki berbaju perlente munculkan diri dengan langkah lebar. Begitu tiba dalam ruangan, serentak mereka berseru: "Tongcu, ada perintah apa?"

"Gusur dia pergi dari sini dan serahkan kepada Tongcu bagian hukuman untuk membereskannya "

Kim Thi sia merasa darahnya mendidih mendadak ia mendesak maju kemuka lain bentaknya penuh amarah.

"Bebaskan dia, kalau tidak. "

"Kalau tidak kenapa?" jengek lelaki kekar itu tanpa menengok barang sekejappun kearahnya. Kim Thi sia jadi tertegun, bicara sejujurnya dia memang tak yakin dapat mengungguli orang itu.

sinona berbaju hitam itu tertawa getir pelan-pelan dia beranjak pergi dari situ mengikuti disisi ketiga orang lelaki berdandan busu tersebut.

senyum getir mana seolah-olah sedang mentertawakan nasib sendiri yang jelek tapi bisa diartikan pula mentertawakan Kim Thi sia yang tak akan memiliki kemampuan untuk membantunya.

"Hey berhenti kalian bertiga."

Tiba-tiba lelaki setengah umur bertubuh kekar itu tertawa nyaring serunya:

"Hey, anak muda. Lagakmu pada hari ini sudah cukup banyak. andaikata aku tidak mengingat bahwa kau telah memberi kabar kepadaku atas kejadian hari ini, kemunculan dalam kamar tidur pribadiku hari inipun sudah cukup bagimu untuk menerima kematian.

Haaaah......haaaah.......haaaah "

Kim Thi sia gusar sekali tiba-tiba dia melepaskan sebuah pukulan kemuka.

Lelaki setengah umur itu mendengus dingin, lengan kirinya segera dikebaskan keatas, seketika itu juga muncul segulung kekuatan besar yang menumbuk anak muda tersebut.

Kim Thi sia tak sanggup berdiri tegak. secara beruntun tubuhnya mundur sejauh lima langkah lebih.

Kedengaran lelaki itu berkata lagi dengan suara dingin:

"Hey anak muda, kau masih ketinggalan jauh Bila ingin menjadi seorang pendekar yang mampu menahan sepuluh jurus seranganku, lebih baik berlatih sepuluh tahun lagi."

Dengan penuh amarah, Kim Thi sia menyerbu kedepan, dia segera mengeluarkan jurus-jurus ampuh seperti " bintang lenyap rembulan hilang" dan "awan muncul kabut membuyar" dari ilmu pedang Ngo hud kiam hoat untuk melancarkan serangan kanan kiri. Lelaki setengah umur itu kelewat memandang enteng musuhnya. Tahu-tahu dia merasa bayangan tangan berkelebat lewat dihadapannya. sebelum ia sempat berseru tertahan, tahu-tahu dadanya sudah termakan sebuah logam mentah.

Masih untung tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna sehingga pukulan tersebut hanya menyebabkan badannya sedikit goyah, serta merta dia merentangkan cakar mautnya untuk mencengkeram tubuh sianak muda itu.

Biarpun serangan dari Kim Thi sia berhasil menghantam dada orang, sayang tenaganya kurang sehingga tidak memberi hasil yang sepandan, maka ketika dilihatnya cengkeraman lawan menyambar datang secepat kilat sehingga tidak memberikan kesempatan baginya untuk menghindar, cepat-cepat dia mengeluarkan lagi jurus-jurus tangguh seperti "guntur menggelegar angin berhembus dan batu retak gunung gugur" dari ilmu Ngo hud ciang kiam hoat untuk balas menghajar dada lelaki itu.

Berubah hebat paras muka lelaki setengah umur itu, dia kaget lantaran musuhnya meski bertenaga dalam rendah ternyata memiliki jurus serangan yang begitu tangguh.

sadarlah dia, apalagi tenaga dalamnya tidak dipergunakan untuk meraih kemenangan secepatnya bisa jadi dia akan menderita kerugian dan rasa malu yang tidak terlukiskan besarnya.

Berpendapat begitu, maka tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia segera menghimpun tenaga dalamnya sebesar lima bagian, kemudian sebuah pukulan kembali dilancarkan.

Kim Thi sia bukan orang bodoh, diam-diam diapun mengerahkan ilmu menghisap tenaganya ciat khi mi khi untuk menyongsong datangnya ancaman lawan. "Bluuuuukkk. "

Akibat dari bentrokan tersebut, badannya mencelat sejauh tiga kaki lebih sehingga punggungnya menumbuk diatas daun jendela dan menimbulkan suara gaduh yang memekikkan telinga.

sambil tertawa terbahak-bahak lelaki setengah umur itu sebera mengejek. "HaaaaHH.....haaaaH.....haaaaHh bagaimana rasauya seranganku ini? cukup enak bukan

dirasakan dalam tubuhmu?"

Baru saja dia berniat untuk membekuk Kim Thi sia serta memaksauya untuk menyerahkan jurus-jurus pukulannya yang hebat itu kepadanya, mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Kim Thi sia telah merangkak bangun kembali dari atas tanah. sembari mengayunkan telapak tangannya pemuda itu segera bergerak kembali.

"Hey kunyuk, busuk. Mari, mari, mari kita bertarung lagi. jangan berhenti sebelum salah seorang tanpa diantara kita mampus."

Lelaki setengah umur itu menjadi tertegun, tanpa terasa pikirnya didalam hati: "Aneh, kenapa bocah keparat ini belum juga mampus setelah termakan seranganku?"

Dengan mengerahkan tenaga dalamnya sebesar tujuh bagian sekali lagi dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Bagaikan layang-layang yang putus benang, kali ini Kim Thi sia mencelat kebelakang hingga menumbuk diatas dinding ruangan, darah segar muncrat keluar dari jidatnya yang terluka.

Baru saja lelaki setengah umur itu merasa sayang karena tak berhasil mengorek jurus serangan lawannya yang hebat, tiba-tiba Kim Thi sia telah melompat bangun lagi sambil menerjang kearahnya.

"Hmmm, baru dua serangan- mari kita bertarung dua ratus gebrakan lagi sebelum berhenti" terdengar ia berteriak.

Terkesiap sekali hati lelaki setengah umur itu, segera teriaknya keras-keras:

"Aku tak percaya kalau dikolong langit terdapat ilmu sesat sehebat ini. Wahai bocah keparat, ingin kubuktikan sendiri apakah tubuhmu terbuat dari baja asli atau terdiri dari tembaga." " Weeeesssss ......... . weeeesssss "

secara beruntun dia melancarkan dua buah serangan berantai yang maha dahsyat.

Kim Thi sia sama sekali tidak mencoba menghindar diapun berkedip. ia sambut datangnya ancaman tersebut sambil melontarkan sepasang tangannya kedepan, ia lebih suka memilih pertarungan keras melawan keras daripada main menghindar.

sementara itu ketiga lelaki kekar yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena telah dibuat terbelalak matanya dengan mulut melongo.

sebaliknya sinona berbaju hitam itu merasa kuatir sekali, dia heran mengapa pemuda itu tidak mengendalikan jurus serangannya yang tangguh untuk meraih kemenangan, sebaliknya justru menggunakan ketidak mampuan dirinya untuk melangsungkan pertarungan keras melawan keras. Lama kelamaan dia menjadi tak tega sendiri untuk mengikuti jalannya pertarungan itu, sepasang mata segera dipejamkan rapat-rapat. Dia tak rega menyaksikan Kim Thi sia mati konyol ditangan lawan-"Blaaaamm. "

Kembali terdengar suara benturan keras bergema memecahkan keheningan- Tubuh Kim Thi sia terpental sampai menubruk meja dan kursi.

Dengan perasaan terkejut bercampur gusar lelaki setengah umur itu segera berseru: "Mampus kau kali ini. "

Belum habis perkataan itu diucapkan tampaklah Kim Thi sia dengan pakaian compang camping sedang merangkak bangun dari balik hancuran meja kursi, lalu dengan pandangan mata penuh kegusaran dia mengawasi lelaki setengah umur itu tanpa berkedip.

Betapapun besarnya nyali lelaki setengah umur itu keder juga hatinya setelah menghadapi kejadian seperti ini, tanpa terasa dia mundur selangkah kebelakang ini. Lalu teriaknya dengan suara sangat aneh:

"Sungguh aneh, sungguh aneh, hari ini toaya bersumpah akan menjagal dirimu."

sambil menerjang kedepan, sepasang tangan dan kakinya melancarkan serangan secara bertubi-tubi, seperti hembusan angin puyuh dan hujan badai, secara beruntun dia menghadiahkan pukulannya keatas kepala, badan, bahu, lengan dan kaki si anak muda tersebut.

Kim Thi sia sedikitun tidak mengeluh ataupun merintih kesakitan- sekalipun sekujur badannya sudah kena digebuk dan serangan yang meluncur tiba yang satu lebih cepat dari sebelumnya, namun setiap kali tubuhnya berhasil mempertahankan diri secara kokoh, malah sanggup pula melancarkan serangan balasan...

selang berapa saat kemudian, sekujur badan lelaki setengah umur itu sudah basah bermandikan keringat, napasnya makin lama semakin tersengkal tapi pemuda itu justru seperti seekor harimau ganas yang menerkam secara ngawur tanpa aturan- Lagipula yang mengerikan adalah semakin bertarung pemuda itu semakin kosen, makin bertahan, tenaga dalamnya semakin bertambah sempurna.

Seratus jurus sudah lewat tanpa terasa, keringat yang telah membuat seluruh badan lelaki setengah umur itu basah kuyup, tenaga dalamnya makin lemah.

Ketika dia mencoba untuk memperhatikan lawannya Kim Thi sia justru bagaikan orang gila saja, sepasang kepalanya menyerang secara membabi buta, ia seperti tak pernah mengincar sasarannya secara tepat. Asal kepalanya bisa bersarang ditubuh lawan seakan-akan hal itu sudah lebih dari cukup baginya. Begitu mendongkol dan marahnya lelaki setengah umur itu sampai mukanya yang hitam pekat seperti pantat kuali itu kini berubah menjadi pucat pias.

Bukan cuma begitu, suatu peristiwa yang sama sekali tak terdugapun kini telah muncul didepan mata, kalau tadi ia sama sekali tidak gemilang meski termakan oleh pukulan Kim Thi sia, maka sekarang keadaannya justru berbeda, setiap serangan yang disambut olehnya dengan kekerasan- selalu mengakibatkan seluruh tubuhnya tergetar mundur setengah langkah. Keadaan dari ketiga orang lelaki kekar lainnya yang berada disisi arenapun tak jauh berbeda dengan keadaan pemimpin mereka semakin menonton jalannya pertarungan itu, perasaan hati mereka makin tercekat.

Lain halnya dengan sinona berbaju hitam, kini sekulum senyuman telah menghiasi ujung bibirnya, ia berpikir:

" Heran, siapakah pemuda ini? tak nyana kalau dia memiliki ilmu kebal yang mampu menahan pukulan waaah, sekalipun seorang jago persilatan kelas satupun belum tentu bisa mengapa-

apakan dirinya dalam berapa ratus gebrakan kemudian, kebanyakan mereka akan pusing sendiri. "

Waktu itu Kim Thi sia dengan ilmu ciat khi mi khinya telah berhasil menghisap tenaga dalam lawan dalam jumlah yang cukup banyak. la sedang merasa gembira ketika menyaksikan tenaga serangan lelaki setengah umur itu makin lama semakin bertambah lemah.

Keadaan ini segera menimbulkan kembali jiwa mudanya, maka sambil meneruskan pertarungan, ia berteriak keras:

"Hey, kenapa sih kau makin loyo begitu? masa makin bertarung makin tak berkekuatan saja. ? Huuuh kalau begini terus keadaannya lama kelamaan aku bisa bosan sendiri"

Cemas bercampur mendongkol silelaki setengah umur itu mendengar ejekan tersebut tapi diapun tak bisa berkutik sebab pertarungan sekian lama benar-benar telah menguras hampir sebagian besar tenaga dalamnya, sebab itu biar musuh berkaok-kaok seperti apapun, dia tetap membungkam diri dalam seribu bahasa padahal otaknya berputar terus untuk mencari cara terbaik guna mengatasi keadaan tersebut.

sinona berbaju hitam itu merasa amat geli melihat kepolosan dan kelucuan pemuda itu, serunya kemudian-

"siauwhiap. hebat sekali ilmu silatmu, selama hidup belum pernah siauwli menyaksikan kepandaian semacam ini."

Tapi kemudian, setelah menghela napas sedih ia berkata lebih jauh:

"Aa aai setela h menyaksikan caramu bertarung tadi biar harus matipun aku akan mati

dengan perasaan tenteram."

"Eeei siapa bilang kau bakal mati?" teriak Kim Thi sia penasaran- "Mereka saja tak berkutik

terhadapku bagaimana mungkin bisa membunuhmu?"

Segera timbul keinginan didalam hatinya untuk memperhatikan kebolehannya didepan nona manis itu sambil menghimpun tenaga ia segera mengeluarkan jurus "hancuran batu mengejutkan langir" dan " gapaian maut mencabut sukma" dari ilmu Ngo hud kiam hoat untuk melancarakn serangan.

sebagai mana diketahui sekalipun Ngo hud kiam hoat atau ilmu pedang panca Buddha ini merupakan sejenis ilmu pedang yang luar biasa hebatnya, namun tanpa memegang senjatapun, serangan tersebut dapat dilakukan dengan memakai telapak tangan sebagai pengganti senjata, kelihayan dan keganasan jurus serangannya sama sekali tak terpengaruh.

Padahal lelaki setengah umur itu sudah tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, bayangkan saja, bagaimana mungkin ia mampu menahan datangnya dua serangan berantai yang muncul seperti amukan angin puyuh dan hujan badai itu?

Tampak bayangan telapak tangan menyelimuti angkasa, sementara ia merasa kaget dan siap untuk menghindarkan diri kesamping, keadaan sudah terlambat. "Duuuuk. .... d uuukkk. "

Dua kali suara bentura keras bergema memecahkan keheningan secara beruntun dua buah bogem mentah telah menghantam tepat diatas dadanya. Dalam keadaan amat lemah serangan tersebut kontan saja membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan badan- tak tercegah lagi badannya mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan-

"Bagus " pekik nona berbaju hitam itu gembira.

Merasa dirinya dipuji, Kim Thi sia semakin kegirangan, ia segera mendesak maju lebih kedepan- .... Mendadak lelaki setengah umur itu membentak keras.

"Tahan, hey bocah keparat, diantara kita berdua telah terikat dendam sakit hati mulai sekarang. selama gunung nan hijau kita pasti akan bersua kembali dilain saat. Dalam dua hari mendatang aku pasti akan datang kembali untuk memenggal batok kepala anjingmu."

seusai berkata, tanpa membuang waktu lagi ia segera menerobos jendela dan melarikan diri dari situ.

Dengan suara keras Kim Thi sia sebera berteriak:

"Huuuuh, apa itu dendam sakit hati atau tidak. hakekatnya aku tak suka dengan perkataan semacam itu. Kalau toh menganggap dirinya mampu bila bersua kembali dilain waktu, bisa saja kita bertarung lagi sebanyak dua tiga ratus jurus. Hmmmmmm. " sembari mengoceh, dia segera

berjalan mendekati ketiga orang lelaki kekar lainnya.

Waktu itu, ketiga orang lelaki kekar itu sudah dibuat keder oleh kehebatan dan kekosenan lawannya, dimana pemuda itu mandah digebuk tanpa menderita sedikit cederapun-

Maka ketika melihat ia mendekati mereka dengan langkah lebar, sambil membentak keras serentak mereka meloloskan senjata senjata masing-masing. Kim Thi sia menjadi tertegun-

"oooh, rupanya kalianpun pingin bertarung melawan? bagus, bagus sekali silahkan kalian bertiga maju bersama-sama.....nah begitu baru bertambah asyik,. "

Padahal ketiga orang lelaki itu sudah pecah nyalinya, bagaimana mungkin mereka berani bertarung lebih jauh? senjata yang mereka cabut tadi tak lebih hanya merupakan gertak sambal belaka.

Begitu melihat musuhnya agak tertegun, tanpa kompromi lagi serentak mereka membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit. Menanti semua lawan sudah kabur meninggalkan tempat itu, nona berbaju hitam itu baru berjalan mendekat dan berkata sambil memberi hormat:

"siankong terima kasih banyak atas budi pertolonganmu, sambutlah hormat dari siauli"  "Eeeei. nanti dulu, kau memanggil apa kepadaku?" tanya Kim Thi sia melongo. Nona berbaju

hitam itupun kelihatan agak tertegun, tapi segera jawabnya: "siauli memanggil siangkong

kepadamu"

"Apa itu siangkong?" seru Kim Thi sia semakin keheranan. "Huuuuh. sebutan itu tak sedap

didengar, jangan pakai sebutan itu lagi, lain kali panggil saja Kim Thi sia kepadaku" selesai berkata ia segera beranjak pergi dari situ dtngan langkah lebar.

Nona berbaju hitam itu menjadi gelisah sekali cepat-cepat dia memburu kedepan sambil serunya:

"Kim.....Kim.....Kim Thi sia. kau hendak kemana?"

"Dunia sangat luas banyak sekali tempat yang akan kudatangi, tapi tak sebuah nama tempatpun yang kukenal. oya......siapa namamu? hampir saja aku lupa bertanya "

sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah, nona berbaju hitam itu menyahut:

"siauli bernama Yu Kien, untung ada siauhiap yang telah menyelamatkan jiwaku, budi kebaikan ini tak pernah akan kulupakan untuk selamanya." "Menolong yaa menolong, apa sih gunanya bicara setumpuk? lagi pula aku yang merusak rencana pekerjaanmu lebih dulu. Masih mending keadannya tidak bertambah parah..."

Ketika dilihatnya sepasang mata nona itu berkaca-kaca seperti orang yang sedang menangis, tanpa terasa dia bertanya lagi:

"Yu Kien, mau kau datang kemari? kalau toh bukan pencuri, bukan pula perampok, barang apa sih yang sedang kau cari?"

Dasar pemuda gunung yang tak mengerti tata krama, apa yang terlintas dalam benaknya segera diutarakan begitu saja, dia tak ambil perduli apakah perkataan itu sedap didengar atau tidak.

Merah jengah selembar wajah Yu Kien, setelah menghela napas sedih katanya kemudian: "Aaaai siali telah berbuat kesalahan dengan menggabungkan diri kedalam perkampungan

Tay sanpang tapi setelah kusadari bahwa sebagian besar anggota perkumpulan itu merupakan bandit yang banyak melakukan kejahatan dan menindas kaum lemah, tiba-tiba aku mendusin bahwa setelah melakukan kesalahan- Tak boleh mengulangi kembali dengan kesalahan lain, oleh sebab itu akupUn bertekad untuk keluar dari perkumpulan ini serta melepaskan diri dari dosa-dosa yang mereka lakukan-"

"Kalau toh kau sudah mengerti bahwa Tay sanpang banyak melakukan kejahatan dan menindas kaum lemah, mengapa dulunya kau bersedia masuk menjadi anggota mereka?" air mata bercucuran membasahi wajah Yu Kien ujarnya sambil terseduh:

"sebenarnya aku adalah putri dari ketua perkumpulan penunggang kuda. suatu hari ketika aku sedang melakukan perjalanan didalam dunia persilatan dalam suatu kesempatan yang tak terduga, aku telah terkena siasat buruk anggota perkampungan Tay sanpang sehingga menelan sejenis obat racun yang mempunyai daya kerja lambat. obat beracun itu merupakan bikinan dari ketua tay sanpang sendiri, sehingga barang siapa yang terkena racun itu dan tak sudi menuruti perintahnya, setengah tahun kemudian dia akan muntah darah sampai mati. sebaliknya bila bersedia masuk menjadi anggota Tay sanpang, maka dia akan memberi pil pemusnah untuk menetralkan daya kerja racun tersebut."

"Begitulah, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa siauli menggabungkan diri dengan mereka dan menjadi salah satu anggota perkumpulannya."

" Kemudian karena siauli mendapat warisan ilmu silat dari ayahku maka aku diangkat menjadi seorang Tongcu didalam perkampungan sejak itu aku semakin menyadari bahwa semua perbuatan yang sangat jahat dan amoral. Hal tersebut membuat rasa kesalku kian hari kian bertambah, akhirnya akupun mengambil keputusan untuk meloloskan diri dari perkumpulan itu serta mendapatkan kembali kebebasanku."

"Lalu apa tujuanmu datang kemari?" tanya Kim Thi sia.

"seperti apa yang siauli katakan tadi aku sudah terkena racun dari ketua Tay sang pang yang bersifat lambat, bila aku berani meninggalkan perkumpulan ini maka tak sampai setengah tahun jiwa ku pasti akan melayang itulah sebabnya siauli berniat mencari sejumlah obat pemusnah racun untuk menyelamatkan jiwaku. "

"Jadi orang tadi mempunyai obat pemusnahnya?" sela Kim Thi sia cepat. Yu Kien mengangguk. "Yaa, orang itu bernama Utusan racun, hatinya keji dan jiwanya busuk. Dia amat disayang oleh

ketua Tay sang pang dan merupakan satu diantara kedua belas tongcu orang itu juga bertugas

menyimpan obat penawar racun kami. siauli mengerti bila ingin mendapatkan pil pemusnah racun itu dari tangan pangcu sendiri jelas hal ini mustahil bisa tercapai itulah sebabnya akupun berniat mengincar obat tersebut dari tangannya, siapa tahu. "

Kim Thi sia segera memukuli kepala sendiri sambil berseru:

" Goblok. goblok aku benar-benar sangat goblok. mengapa kubiarkan dia kabur tadi? Aaaai......kalau negitu rencana nona menjadi berantakan gara-gara kecerobohanku. " Dari sikap gugup, panik dan gelisah yang terpancar keluar dari wajah pemuda itu. Yu Kien mengerti bahwa Kim Thisia adalah seorang pemuda yang berjiwa polos dan jujur, dia merasa terharu sekali segera hiburnya.

"Nasi toh sudah menjadi bubur apa gunanya kau risaukan? paling tidak siauli masih punya kesempatan hidup selama setengah tahun lagi. siapa tahu kalau selama jangka waktu ini aku akan memperoleh satu dua butir obat pemusnah. "

"satu dua butir paling cuma memperpanjang usiamu selama satu tahun bagaimana selewatnya itu? Dengan cara apa kau akan menjamin kehidupanmu berikut? sebagai manusia, kau toh tak mungkin harus menggantungkan hidupmu dari jatah pil pemusnah racun?"

Perkataan itu mengenai persis luka didalam hati Yu Kien- Kontan saja seluruh badannya gemetar keras, sambil melelehkan air mata segera katanya:

"siauli mengerti bahwa dosa dan kesalahan yang kuperbuat sudah kelewat besar. Aku sudah tak punya muka lagi untuk melanjutkan hidup didunia ini. Aaaai jiwaku bisa diperpanjang satu dua tahun saja, hatiku sudah puas sebab aku dapat memanfaatkan peluang waktu yang ada untuk bersama-sama membasmi perkumpulan Tay sangpang yang terkutuk dan banyak melakukan kejahatan itu, bila cita-citaku ini dapat terwujud biar matipun aku mati dengan mata meram"

"Tidak bisa" seru Kim Thi sia tegas. "kau adalah orang baik. orang sebaik kau tidak boleh mati. Tunggu saja disini, aku akan segera pergi mencarikan sebotol besar obat penawar racun agar kau bisa hidup seratus tahun lagi."

Yu Kien merasa sangat terharu digenggamnya tangan pemuda itu erat-erat, lalu katanya: "Kau tak usah menyerempet bahaya ketahuilah pihak Tay sang pang mempunyai jago-jago

lihay yang sangat banyak. Markas mereka ibaratnya sarang naga gua harimau.Jiwamu bisa

terancam bahaya kalau pergi kesana, aku memang pantas mati, dosaku sudah kelewat banyak. Tak ada harganya untuk berkorban demiku biarlah maksud baikmu itu kuterima didalam hati

saja."

Dengan cepat Kim Thi sia mendorong mundur tubuh nona itu lalu bertanya:

"Yu Kien, tempat manakah yang paling termashur dikota ini? Dapatkah kau memberitahukan kepadaku"

Yu Kien tidak mengerti apa maksudnya, setelah berpikir sejenak segera sahutnya:

"Tebing Bwe hia nia diluar kita sebelah barat merupakan tempat rekreasi yang paling banyak dikunjungi orang. Apakah kau ada sesuatu persoalan disitu?"

"Tunggulah aku ditebing Bwe hoa nia tiga hari kemudian, pokoknya sebelum bertemu tak akan buyar jika sehari setelah lewat saat yang dijanjikan aku belum datang juga, ini berarti sudah terjadi sesuatu yang tak diinginkan atas diriku, tapi kau tak perlu berputus asa. Pokoknya asal gunung tetap menghijau jangan kuatir akan kehabisan bahan bakar, Nah, aku pergi dulu, baik- baiklah kau menjaga diri"

setelah mendorong tubuh sinona berbaju hitam itu, dia segera beranjak pergi dari sana dengan langkah lebar. setelah menelusuri sebuah jalan raya, pemuda itu baru teringat kalau dia tidak tahu dimanakah letak markas besar perkumpulan Tay sang pang. Tanpa alamat yang pasti, bagaimana mungkin ia bisa mencuri obat? setelah mengumpat kebodohan sendiri, dia meneruskan kembali langkahnya kedepan.

sebagai seorang pemuda yang keras kepala dia segan untuk balik kembali ketempat semula untuk menanyakan persoalan ini kepada sinona berbaju hitam itu, baginya biarpun harus menderita siksaan dan penderitaan berapapun besarnya, ia tak akan mundur sebelum tujuannya tercapai.

Jalan raya penuh dengan aneka ragam manusia yang berlalu lalang diantaranya terdapat pula kaum gelandangan para jago dari golongan putih maupun hitam kaum saudagar, opas, tentara dan lain sebagainya. Tapi Kim Thi sia yang sedang menghadapi persoalan didalam hatinya, sama sekali tidak memperhatikan orang-orang itu barang sekejappun-

Mendadak satu ingatan melintas lewat didalam benaknya, dia segera berpikir: "Kalau bukit tak bisa mencariku mengapa bukan aku yang pergi mencari bukit?"

Ia sering mendengar dari ayahnya kalau rumah makan merupakan pusat berkumpulnya para jago persilatan bila ingin mencari kabar maka tempat tersebutlah merupakan sumber berita yang paling tepat.

siapa tahu dari tempat tersebut bukan saja ia akan berhasil mendapatkan alamatnya dari markas besar perkumpulan Tay sangpang, bahkan berita tentang hilangnya mestika Hong toh pun akan berhasil diperoleh juga.

Berpikir sampai disitu, dengan perasaan yang lebih cerah ia segera berjalan menuju kesebuah rumah makan yang terbesar dikota itu.

sesuai dengan petunjuk dari ayahnya dulu ia langsung menuju ketepi jendela dan mengambil tempat duduk disitu, kemudian serunya dengan lantang: "Hey, pelayan cepat sediakan air teh terbaik untuk sauya, jangan kuatir soal persen-"

Dengan senyuman dikulum seorang pelayan segera muncul menyiapkan peralatan minum teh, kemudian setelah memberi hormat, pelayan itu mengundurkan diri dengan mundur-mundur. Geli sekali perasaan Kim Thi sia menyaksikan hal itu, segera pikirnya: "Lucu benar tingkah laku pelayan ini."

Maka dengan mengikuti petunjuk ayahnya dulu kembali dia berteriak keras:

"Hey, pelayan daun teh yang dipakai berasal dari Juan hoo atau Ci hoo? kalau Juan hoo berkwalitas jelek. sauya tak doyan" sambil tertawa pelayan itu menjawab:

"Tak usah kuatir tuan, kedai kami mengutamakan kepercayaan dan mutu teh, tanggung air tehnya berasal dari kwalitas nomor satu. silahkan tuan mencicipinya asal mutunya jelek. tuan tak perlu membayar."

Waktu itu suasana didalam kedai sudah cukup ramai dengan suara pembicaraan para tetamu lainnya tak heran kalau teriakannya yang begitu keras segera memancing perhatian orang banyak. Beratus pasang mata serentak dialihkan kearahnya.

Kim Thi sia sama sekali tak ambil perduli dengan menirukan gaya dari lima orang lelaki kasar yang kebetulan duduk sebelah mejanya. Ia melepaskan kancing baju dibagian dadanya lalu membiarkan badannya ditiup angin, setelah itu ia baru berseru lagi sambil tertawa terbahak- bahak.

"Haaaah....haaah....haaah. bagus juga tempat ini, rasauya tak jauh berbeda dengan

kemegahan rumah makan Ui hok lo"

Padahal ia sama sekali tak tahu dimanakah letak rumah makan Ui hok lo tersebut. ocehnya tersebut tak lebih cuma mengikuti petunjuk dari ayahnya dulu.

Padahal rumah makan Ui hok lo merupakan rumah makan yang amat tersohor waktu itu, boleh dibilang setiap orang mengenalinya nama tersebut tak heran kalau sipemilik rumah makan itu menjadi kegirangan setengah mati setelah mendengar kedainya disamakan tarafnya dengan rumah makan Ui hok lo. Kim Thi sia segera melepaskan pedang leng Gwat kiamnya dan disandarkan pada dinding, mendadak timbul suatu ingatan dalam benaknya dengan suara lantang segera teriaknya:

"Huuuuh....apa itu perkumpulan Tay sang pang perkumpulan kaum kurcaci yang tak becus,

gerombolan setan, dedemitpun berani memasang merek didepan umum, kalau sauya sudah jengkel. Hmm.....akan kuobrak abrik sarang tikusnya itu. " Pemuda itu memang sengaja hendak mencari urusan, tak heran kalau ucapan tersebut diteriakkan keras-keras, seketika itu juga semua tamu mengalihkan kembali pandangan mereka yang segera berkerut kening sambil berpikir:

"Bagaimana sih bocah keparat ini? datang-datang sudah berkaok-kaok membuat kegaduhan saja. Membuat perasaan orang menjadi tak tenang saja. "

Kim Thi sia tak acuh terhadap sikap tak senang orang-orang itu, dia memang bermaksud meneriakkan kata-kata tersebut agar terdengar oleh setiap orang. Karenanya semakin banyak yang memperhatikannya semakin tercapai pula tujuannya. Maka dengan suara yang lebih nyaring kembali dia berteriak:

"Tak salah kalau kukatakan perkumpulan Tay sang pang cuma perkumpulan bangsa cecunguk buktinya. begini besar rumah makan ini, nyatanya tak seorang anggota Tay sang pangpun

berada disini serta mencoba menghalangi sauya. Haaah......haaah.....haaah. "

Mendadak...

Belasan orang lelaki bertubuh kekar yang duduk disamping kanan meja bangkit berdiri secara serentak. kemudian sambil mengawasi Kim Thi sia sekejap dengan pandangan dingin mereka menegur: "Sobat, siapa namamu?"

Belasan lelaki tersebut hampir semuanya mengenakan pakaian ringkas berwarna biru dengan senjata tersoren dipinggangnya. Hawa napsu membunuh memancar diwajah masing-masing, sudah jelas mereka telah diliputi oleh hawa amarah yang meluap-luap.

"Bagus sekali" pekik Kim Thi sia didalam hati. Maka dengan berlagak acuh, kembali dia berkata:

"Locu she Kim, Kim yang berarti emas .Jikalau kalian merasa tak senang denganku katakan saja terus terang, tak usah berlagak sok galak macam anjing beruang, tampang macam begitu hanya membuat hati sauya tak sedap saja. "

Berubah wajah kawanan lelaki kekar itu, namun mereka belum berani turun tangan secara gegabah.

salah seorang diantaranya sebera menegur dengan suara dalam:

"Sobat, wajahmu terasa asing sekali, bolehkah aku tahu anda adalah orang gagah dari mana?"

Kim Thi sia tidak memahami apa yang dimaksud orang tersebut, maka dengan berlagak tak sabar dia berpekik:

"Perduli amat wajahku asing atau dikenal, aku hanya tahu bahwa perkumpulan Tay sang pang adalah perkumpulan kaum manusia busuk. Jika kalian memang tak kenal dengan locu, lebih baik jangan banyak bertanya, daripada membuat sauya naik darah. Akan kuhajar kalian sampai babak belur."

semua orang segera berkerut kening dan melakukan pengepungan disekelilingnya. Kembali terdengar salah seorang diantaranya berkata:

"Sobat dalam kelopak mata yang sehat tak akan kemasukan pasir, lebih baik pentang matamu lebar-lebar kami sudah belasan tahun hidup dalam dunia persilatan, sudah bosan kami dengan cara begitu maka lebih baik tak usah bermain lagak terus." silelaki yang mukanya penuh tahi lalat itu segera menyambung:

"Sobat, harap sebutkan identitasmu, kalau tidak jangan salahkan kalau kami berlaku kasar." "Apa itu berlaku kasar atau tidak sudah dua puluh tahun lohu hidup dalam dunia persilatan,

memangnya aku mesti jeri kepada cecunguk- cecunguk seperti kalian?" teriak Kim Thi sia lantang.

Dengan pandangan tajam lelaki bermuka tahi lalat itu mengawasi lawannya sekejap tiba-tiba ia mendesak maju kedepan secepat kilat dia cengkeram pergelangan tangan sianak muda itu. Belasan orang lainnya serentak membubarkan diri dan membalikkan meja dan kursi yang ada disekitar sana dalam waktu singkat mereka telah mengepung Kim Thi sia rapat-rapat.

Kim Thi sia telah membuat persiapan sendiri nanti, tentu saja ia tidak membiarkan lengannya ditangkap orang. Dengan cepat tangannya ditarik kebelakang, kemudian secepat kilat menolaknya kembali, tak ampun lelaki yang penuh tahi lalat itu kena terdorong sampai mundur sejauh dua langkah lebih. Dengan suara keras orang itu sebera berteriak:

"Memberontak. memberontak kau sianak setan berani menganiaya aku "

sepasang telapak tangannya segera diputar kencang dan menciptakan serangkaian serangan gencar yang rapat dan berbahaya.

Tampaknya para tamu yang hadir dalam ruang loteng itu pada tidak menaruh kesan baik terhadapnya, masing-masing segera menyingkir kesamping dan tak seorangpun yang berusaha melerai pertarungan tersebut.

Semenjak pertarungannya melawan salah satu tongcu dari Taysang pang, yakni siutusan racun sampai ratusan gebrakan, tenaga dalam yang dimiliki Kim Thi sia sekarang telah memperoleh kemajuan pesat. Apalagi dia telah mempergunakan ilmu pedang panca Buddha yang dahsyat itu, bagaimana mungkin belasan orang lelaki kekar tersebut sanggup untuk menahan diri?

Agaknya lelaki yang bertahi lalat itu merupakan pemimpin rombongan, dengan suara keras ia sebera membentak:

"Bocah keparat, tak nyana kepandaian yang kau miliki hebat juga, tak heran kalau lagakmu sombong dan jumawa sekali."

Dengan menghimpun tenaga kedalam sepasang tangannya dia segera melepaskan sebuah serangan dahsyat.

Cepat-cepat Kim Thi sia mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. "Braaaakkkk. "

Ditengah bentrokan yang keras kedua orang itu sama-sama tergetar mundur sejauh selangkah lebih.

"saudara-saudara sekalian, serang dia dengan pukulan tangan kosong. " teriak lelaki itu

kemudian-

Dalam waktu singkat angin pukulan menderu- deru dan mengurung sekujur tubuh Kim Thi sia ditengah arena.

serangan yang datangnya secara bertubi-tubi dan muncul dari empat penjuru ini segera membuat Kim Thi sia kewalahan bagaimana pun juga sepasang tangan memang sulit menghadapi empat tangan. Termakan oleh gencetan angin serangan tersebut, tubuhnya terlempar kesana kemari seperti sebuah bola.

Namun keadaan tersebut tidak membuatnya menjadi gugup atau gelagapan, sebab kejadian mana dianggapnya sebagai kesempatan yang sangat baik untuk menambah kekuatan tenaga dalamnya.

oleh sebab itu disamping mengerahkan tenaganya untuk menghadapi ancaman musuh, diam- diam diapun mengeluarkan ilmu Ciat khi mi khi untuk menghisap tenaga dalam musuh.

Puluhan jurus kemudian ia masih tetap berdiri tegak bagaikan sebuah batu karang meski pakaian yang dikenakan telah koyak-koyak tak karuan lagi bentuknya.

Menyaksikan peristiwa tersebut belasan orang lelaki kekar itu menjadi terperanjat sekali, tanpa terasa mereka berpikir: "Sungguh aneh, kenapa bocah keparat ini belum juga roboh?"

sejak mempelajari ilmu Ciat khi mi khi, Kim Thi sia memang memiliki daya tempur yang luar biasa hebatnya terutama sekali daya tahannya menghadapi pukulan- sekalipun tenaga dalam yang dimilikinya tidak termasuk hebat, namun biarpun sudah bertarung sekian waktu ia tetap kokoh bertahan dan sedikitpun tidak nampak kelelahan.

Ratusan gebrakan kemudian, para jago-jago yang menonton jalannya pertarungan itu dari sekeliling arena mulai kasak kusuk membicarakan persoalan itu, setiap orang boleh dibilang dibuat kagum oleh daya tahan serta kemampuan Kim Thi sia untuk mempertahankan diri sekian waktu.

Peluh sudah membasahi jidat belasan lelaki kekar itu, serangan demi serangan yang mereka lancarkanpun jauh lebih hebat dan dahsyat namun usaha mereka tak pernah berhasil merobohkan musuhnya yang seorang ini.

Lama kelamaan, kejadian ini membangkitkan hawa amarah didalam dada mereka.

Mendadak Kim Thi sia melancarkan sebuah serangan dahsyat untuk mendesak mundur seorang musuhnya kemudian dengan suara keras ia berseru:

"Kalian manusia-manusia bangsa cecunguk masih bukan tandinganku, lebih baik undang saja pemimpin kalian, kalau masih saja tak tahu diri Hmmmm. jangan salahkan kalau locu akan

melangsungkan pembunuhan secara besar-besaran."

Tampaknya lelaki itu menganggap perkataan tersebut ada benarnya juga sebab ia sadar, apabila keadaan demikian dibiarkan berlangsung terus maka pada akhirnya bukan bocah keparat itu yang keok. sebaliknya pihak mereka sendiri yang bakal menderita kerugian besar.

Karena itu, tanpa banyak berbicara lagi dia segera membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit meninggalkan arena.

sebaliknya Kim Thi sia segera berputar mengitari arena sambil mengawasi sekeliling tempat itu dia seperti ingin memeriksa apakah pemimpin mereka sudah muncul atau belum.

Mendadak dari sudut ruangan sebelah kiri kedengaran seorang nona muda berkata dengan keheranan-

"Yaya, kenapa orang itu begitu hebat? Coba lihatlah, walaupun sudah bertarung sekian waktu, tidak setetes keringatpun yang membasahi jidatnya."

Lalu terdengar suara seorang pemuda berkata:

"Adik bodoh, tenaga dalam yang dimiliki orang ini sangat sempurna, tentu saja dia sanggup bertarung lama tanpa lelah." Tetapi suara seorang kakek segera menyela:

"Aku rasa bukan begitu, coba kalian berdua perhatikan baik-baik, keningnya biasa saja sinar matanya tak tajam, kemampuannya bertahan sekian waktu tentu ada hubungannya dengan kemampuan alam yang dia miliki jangan dilihat bocah itu polos dan lugu sesungguhnya dia merupakan sebuah batu kemala mestika yang belum digosok."