Lembah Nirmala Jilid 04

 
Jilid 04

Pintu kamar segera dibuka dan muncul seorang pemuda tampan dengan senyuman dikulum, sambil meniura ia berkata:

"Saudara benar-benar telah tertidur nyenyak berhubung aku kuatir kau akan diterkam binatang buas bila dibiarkan tertidur ditempat alam terbuka, maka tanpa menunggu persetujuan saudara, aku telah memindahkan dirimu kemari. Untuk itu mohon saudara sudi memaafkan"

Sebelum Kim Thi sia sempat menjawab, dari balik pintu telah muncul kembali selembar wajah cantik terdengar nona itu menegur: "Apakah sudah mendusin?"

Bayangan merah tampak berkelebat lewat, sinona yang berwajah cantik itu sudah muncul pula didalam ruangan-Dengan wajah tertegun Kim Thi sia berseru:

"Siapakah kalian? aku sama sekali tidak kenal dengan kalian berdua"

Perkataannya yang berterus terang tanpa embel-embel kata yang bernada sungkan membuat nona berbaju merah itu segera berkerut kening dan menunjukkan wajah tak senang hati.

cepat-cepat pemuda tampan itu mengerdipkan matanya mencegah nona itu berang, lalu sambil menjura dan tertawa katanya:

"Aku Nyoo Jin hut, sedang dia adalah adikku Nyoo Soat hong, kami dua bersaudara bernama szuchuan siang kiat, sepasang orang gagah dari szuehuan. Bolehkah aku tahu siapa nama anda?"

"Aku bernama Kim Thi sia."

setelah mengucapkan kata-kata yang singkat itu, ia segera duduk kembali dan termenung. Muda mudi berdua itu berpandangan sekejap. agaknya mereka merasa tak enak hati atas sikap

Kim Thi sia yang tak tahu sopan santun itu.

Pertama-tama sinona berbaju merah itu yang tak mampu menahan diri lebih dulu, dia segera berseru:

"Huuh, apa sih yang hebat dengan dirimu? kau tak usah berlagak sok. "

selesai berkata ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. Tiba-tiba Kim Thi sia mengangkat kepalanya sambil menegur: "Kau mengatakan aku?"

"Hmm, ya kau Apa sih yang hebat denganmu?" dengus nona berbaju merah itu sambil berpaling. sekali lagi Kim Thi sia tertegun, ujarnya keheranan:

" Kapan sih kukatakan kalau diriku hebat?" tampaknya pemuda tampan itu lebih berpengalaman dan lebih tebal imannya buru-buru dia menengahi sambil tertawa.

" Harap saudara jangan marah, karena adikku memang masih kecil dan tak tahu urusan, harap kau sudi memaafkan dirinya."

Kemudian dengan berlagak marah dia berkata kembali:

"Adikku, orang lain kan tamu, mana kau bersikap tak hormat dengan tamu kita? Hayo cepat minta maaf dan lain kali jangan berbuat demikian lagi." Nona berbaju merah itu merasa amat tertekan batinnya. Apalagi setelah mendengar ucapan dari kakaknya hampir saja air matanya jatuh bercucuran setelah mendengus ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. sementara itu Kim Thi sia telah berkata lagi:

"Aku kan tak pernah mengatakan dia bersalah, kenapa mesti dimaafkan "

Agaknya pemuda tampan itu tidak menyangka kalau tamunya bisa mengucapkan perkataan tersebut ia menjadi tersipu-sipu sendiri

sinona berbaju merah yang berhasil mendapatkan kesempatan baik itu, dengan cepat memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya, sambil tertawa dingin dia berseru:

"Hmm, orang berbaik hati ternyata tidak mendapat balasan yang setimpal, koko buat apa kau mesti mencari penyakit buat diri sendiri."

Terdengar suara langkah kaki bergema makin jauh dan akhirnya lenyap di kejauhan sana. Mendadak Kim Thi sia seperti teringat akan sesuatu, dia segera berseru: "Nyoo Jin hui, mana pedang Leng Gwat kiam ku?"

oleh karena semenjak kecil dia hidup dipegunungan yang terpencil dan belum pernah terjun dalam pergaulan manusia, karena itu diapun tidak mengetahui tentang sopan santun dan tata krama. setelah mengetahui kalau pemuda itu bernama Nyoo Jin hui, diapun menyebut nama itu secara langsung.

Pemuda tampan itu tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, dia menganggap tamunya tak tahu sopan santun, sudah berulang kali dia membantunya, namun selalu ditanggapi secara menghina.

Meski begitu, dia toh cukup berpengalaman dalam pergaulan, maka setelah menenangkan hatinya diapun berkata sambil tertawa:

"Pedang mustika anda memang berada ditanganku, bila anda menginginkannya, sekarang juga aku akan mengambilkan untukmu."

"oooh disimpan ditempatmupun tidak jadi soal lagipula aku belum membutuhkannya sekarang, tolong simpankan berapa hari bagiku." Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata:

"Nyoo Jin hui mana guruku? Dia orang tua telah meninggal dunia kau simpan jenasahnya dimana?"

Nyoo Jin hui segera merasakan hatinya berdebar keras cepat dia balik bertanya: "Apakah si malaikat pedang berbaju perlente Loocianpwee?" Kim Thi sia manggut-manggut.

"Benar, darimana kau bisa mengetahui nama dia orang tua?"

Terkejut juga Nyoo Jin hui setelah mendengar perkataan itu, tapi diapun segera tertegun pikirnya :

"Aneh benar orang ini nama besar Malaikat pedang berbaju perlente termasyhur diseantero jagad dan dikenal setiap orang, benar-benar aneh sekali sikap dan tindak tanduk pemuda ini." sambil tertawa diapun berkata:

" Kepandaian silat yang dimiliki gurumu menjagoi seluruh dunia persilatan, segenap umat persilatan menaruh hormat kepadanya karena itu mestinya aku tidak becus, nama besar malaikat pedang berbaju perlente masih dapat kukenal." Kim Thi sia yang mendengar ucapan tersebut segera berpikir:

"Ternyata perkataan suhu memang benar, dia bergelar malaikat pedang tentu saja ilmu silatnya menjagoi seluruh dunia persilatan dan dihormati segenap umat persilatan benar-benar menggelikan jalan pikiranku, aku masih mengira dia lagi mengibul." Berpikir begitu, diapun bertanya: "Kau telah menguburnya dimana?"

"Dibukit tengkorak. sungguh minta maaf berhubung kami berdua harus melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa sehingga tak sempat bagi kami untuk mengubur jenasah dia orang tua disebuah tempat yang berpemandangan permai." Dengan gembira Kim Thi sia berseru:

"Kau telah mengubur ditempat yang benar, sebab dia orang tua memang minta kepadaku agar dikubur dibukit tengkorak sungguh tak disangka kau telah membantuku untuk menyelesaikan tugas ini. Kalau begitu aku harus berterima kasih kepadamu." selesai berkata dia segera menjura dan memberi hormat.

Cepat-cepat Nyoo Jin hui balas memberi hormat selain itu timbul juga perasaan simpatiknya atas sikap keterbukaan pemuda itu ujarnya kemudian-

"Bantuan yang tak seberapa buat apa mesti pikirkan, bolehkah kutahu anda adalah murid keberapa dari malaikat pedang berbaju perlente loocianpwee?"

"Murid yang keberapa?"

"ooooh, kau adalah sipedang bintang Go An bin? tapi mengapa kau mengaku bermarga Kim?" seru Nyoo Jin hui keheranan-

"Aku memang berasal dari marga Kim, aku termasuk murid kesepuluh dari malaikat pedang berbaju perlente"

Baru sekarang Nyoo Jin hui memahami duduknya persoalan, katanya kemudian-

"Tak heran kalau aku menaruh kesalah pahaman, rupanya kau adalah murid yang baru diterima oleh malaikat pedang berbaju perlente. Ilmu silat malaikat pedang tiada tandingannya didunia ini, nama besarnya disanjung diseantero jagad, benar-benar mujur sekali nasib anda karena dapat diterima menjadi muridnya. Hanya sayang "

Tiba-tiba ia merasa kurang leluasa untuk melanjutkan kata-kata sehingga segera menutup mulut.

Dengan perasaan tertegun Kim Thi sia segera bertanya: "Apanya yang sayang?" setelah mempertimbangkan setengah harian, Nyoo Jin hui baru berkata:

"sayang sekali malaikat pedang berbaju perlente loocianpwee meninggal dunia kelewat cepat.

Kalau tidak. ilmu silat yang anda miliki pasti sepuluh kali lebih hebat lagi." Kim Thi sia segera tertawa.

"Apa gunanya memiliki ilmu silat yang hebat, seperti misalnya suhu, dia orang tua memiliki kepandaian silat yang luar biasa, tapi kenyataannya. "

Tiba-tiba ia merasa gurunya tak boleh dibocorkan, karena itu cepat-cepat membungkam kembali.

Ketika Nyoo Jin hui melihat pemuda itu menghentikan pembicaraannya ditengah jalan, dengan perasaan tegang ia segera bertanya:

"Maksud saudara, dengan kepandaian silat yang begitu hebat dari si malaikat pedang berbaju perlentepun akhirnya masih mati terbunuh ditangan orang?"

Namun dia segera merasa kata "mati terbunuh" mencerminkan sikap yang kurang sopan terhadap malaikat pedang berbaju perlente, maka cepat- cepat dia menengok sekejap kearah Kim Thi sia, dalam anggapannya pemuda tersebut tentu akan marah dan meninggalkannya. 

siapa tahu Kim Thi sia masih duduk disitu dengan tenang, malah seakan-akan tidak mengambil perduli atas ucapannya yang tak senonoh itu. Tanpa terasa diapun menjadi lega. sementara itu Kim Thi sia telah berkata:

"Hari ini aku telah berbicara kelewat banyak, sebetulnya kata-kata itu tak baik kuucapkan, tapi entah kenapa setelah melihat wajahmu yang penuh senyuman itu, aku jadi tak tahan untuk mengutarakannya keluar. Aaaai " Melihat sewaktu berbicara, pemuda itu menunjukkan sikap yang polos dan jujur, Nyoo Jin hui segera tahu kalau apa yang diucapkan memang benar diam-diam ia menjadi terharu. segera pikirnya:

"orang ini jujur dan polos, kalau berbicara blak-blakan, dia adalah seorang teman yang sejati. "

Tanpa terasa ia semakin menaruh simpatik kepadanya. selang sejenak kemudian, Nyoo Jin hui berkata lagi:

"Aku ingin mengajukan sebuah permintaan yang kurang pantas, apakah saudara bersedia untuk mengabulkan?"

"Asal dapat kulaksanakan, tentu akan kupenuhi"

"Terus terang saja kukatakan sejak mengetahui saudara adalah murid malaikat pedang berbaju perlente loocianpwee, timbul suatu ingatan aneh dalam benakku, aku tahu malaikat pedang berbaju perlente menjagoi dunia persilatan dengan ilmu silatnya yang maha sakti, oleh sebab itu aku ingin mencoba kehebatan loocianpwee tersebut melalui tanganmu, apakah saudara bersedia memenuhi pengharapan yang sudah bertahun lamanya terpendam didalam hati ini?"

Kim Thi sia segera berkerut kening. "Aku tidak mengerti ilmu silat"

Tapi secara tiba-tiba ia teringat kalau dasar tenaga dalamnya hanya akan memperoleh kemajuan bila sering melatih diri dengan menggunakan ilmu Ciat Khi Mi Khi, maka sambil tertawa nyaring dia bangkit berdiri seraya berkata:

"Baik, kalau memang saudara Nyoo mempunyai kegembiraan ini, baiklah kuturuti saja kemauanmu itu." Ketika mendengar pemuda itu mengaku tak berilmu, Nyoo Jin hui mengira lawannya tak sudi beradu kepandaian dengannya, sementara dia masih tak senang hati, tahu-tahu mendengar teriakan mana dengan perasaan gembira dia segera berkata:

"Terima kasih banyak atas kesudian anda memberi muka, bila aku bodoh nanti harap kau sudi mengampuniku."

"Aaah, saudara Nyoo jangan berkata begitu mestinya kaulah yang mesti berbelas kasihan kepadaku" sahut Kim Thi sia sambil tertawa nyaring.

Ditengah ucapan saling merendah, mereka berdua berjalan keluar dari kamar dan selang sejenak kemudian telah tiba disebuah kebun yang amat luas, sekeliling kebun penuhi ditumbuhi pepohonan yang rindang serta aneka bunga yang berwarna warni, benar-benar sebuah taman yang indah dan permai. Tak kuasa lagi dia berseru:

"Aaaah, Nyoo Jin hui, kau benar-benar bernasib baik tempat kediamanmu indah bagaikan disorga."

Nyoo Jin hui segera tertawa.

"Bila saudara mempunyai kegembiraan tak ada salahnya untuk berdiam disini, siauwte akan menyambutmu dengan senang hati."

Paras muka Kim Thi sia segera berubah menjadi redup, katanya kemudian:

"Maksud baik saudara Nyoo biar kuterima dalam hati saja, sesungguhnya aku tertarik dengan tawaranmu itu, tapi apa boleh buat masih banyak urusan yang harus kuselesaikan secepatnya lagipula masa depanku masih mengambang, mati hidupku masih menjadi tanda tanya aku tak ingin mengganggu ketenangan saudara Nyoo."

Nyoo Jin hui mengira dia mendapat pesan dari gurunya untuk membalaskan dendam bagi kematian gurunya, sedang lawannya berilmu tinggi sehingga mati hidup tidak menentu. segera timbul perasaan simpatik dalam hati kecilnya cepat dia berkata:

"saudara tak usah sedih, nasib manusia berada ditangan Yang kuasa asalkan saudara mempunyai tekad yang besar dan jiwa yang lurus, aku percaya nasib jelekpun akan berubah menjadi baik. siauwte hanya menyesal tidak memiliki kepandaian silat yang hebat sehingga tak dapat membantumu, karenanya bisa suatu hari kau telah menyelesaikan perintah gurumu, silahkan datang kemari dan berdiamlah bersama kami." Dengan perasaan amat berterima kasih Kim Thi sia berkata:

"Beruntung sekali aku Kim Thi sia bisa menjumpai sahabat macam saudara Nyoo dalam perjalanan turun gunungku saat ini, bila terjadi sesuatu apapun aku tentu akan mati dengan mata meram"

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seorang nona menegur dengan suara merdu: "Koko, apa yang sedang kalian lakukan"

Nona berbaju merah itu munculkan diri diiringi seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah saleh tapi bermata amat tajam bagaikan sembilu. Nyoo Jin hui segera berbisik: "saudara Kim, ayahku sudah datang." Kemudian dengan suara lantang serunya:

"Ayah, apakah kau orang tua sedang berjalan-jalan mencari angin?"

Dengan senyuman dikulum kakek berwajah saleh itu memperhatikan Kim Thi sia sekejap lalu katanya:

"Sobat kecil inikah yang menjadi murid Rasul dari selaksa pedang? sudah lama aku mengagumi nama besar Malaikat pedang berbaju perlente, sungguh tak nyana aku dapat bertemu dengan murid kesayangan dari malaikat pedang, benar-benar suatu kemujuran bagiku" Dengan cepat Kim Thi sia maju memberi hormat seraya serunya: "Empek, terimalah hormat dari Kim Thi sia"

sambil tertawa kakek itu manggut-manggut.

"Bagus sekali, memang tak main menjadi seorang tokoh kenamaan tidak sombong tidak angkuh merendahkan diri dan tahu sopan santun- Ehmmm, murid orang kenamaan memang berbeda dengan manusia biasa, berapa usiamu ini sobat kecil?"

"Baru tujuh belas tahun-"

"Sungguh hebat" kembali kakek itu memuji sambil tertawa, "dikemudian hari kau pasti akan menjadi sekuntum bunga ajaib dari dunia persilatan dan menjadi tenar diseluruh dunia." sementara itu sinona berbaju merah hanya memandang sekejap kearah Kim Thi sia dengan pandangan dingin, kemudian mendongakan kepala dan sama sekali tak mendongkol. Terdengar Nyoo Jin hui berkata lagi:

"Ayah, sudah lama anak Hui mengagumkan akan kelihayan ilmu silat yang dimiliki malaikat pedang berbaju perlente. Mumpung ada kesempatan baik hari ini, aku ingin mencoba berapa jurus dari saudara Kim. siapa tahu dari percobaan tersebut akan mendatangkan manfaat besar bagiku, entah bagaimana menurut pendapat ayah?"

"Bagus sekali, kalian dua orang bocah kecil yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi memang pantas diberi pelajaran agar kalian sadar bahwa diatas langit masih ada langit, diatas bukit masih ada bukit. Haaah......haaah......haaah. "

Kepada Kim Thi sia katanya pula:

"Sobat kecil sebagai murid dari malaikat pedang berbaju perlente tentu memiliki ilmu silat yang sangat hebat, kuharap kau sudi berbuat kebajikan dengan memperingan seranganmu nanti yang penting berilah pelajaran kepada putraku itu agar rasa angkuhnya bisa lenyap dari tubuhnya. "

Kim Thi sia merasa rikuh, sekalipun dia memiliki jurus rahasia yang amat hebat tanpa penunjang tenaga dalam yang sempurna bisa jadi dia akan menderita kekalahan total. Kalau cuma dia saja yang malu masih mendingan. Andaikata nama gurunya ikut tercemar bukankah hal ini menjadi berabe? Maka dari itu dia segera berseru:

"Empek terlalu memuji, padahal siauwtit baru sempat belajar silat selama tiga hari ketika suhu meninggal dunia secara mendadak pelajaran silat yang kuperolehpun amat minim. Bila dibandingkan dengan saudara Nyoo sesungguhnya masih selisih jauh sekali." sementara ini wajah sinona berbaju merah itu sudah berseri ketika mendengar kalau dua orang pemuda tersebut akan beradu ilmu silat, tapi sesudah mendengar kata-kata merendah dari Kim Thi sia itu, disangkanya pemuda itu memandang rendah ilmu silat keluarganya sehingga tanpa terasa ia mendengus.

Kim Thi sia memandang sekejap kearahnya, rasa anti patiknya semakin tebal tapi ia tak ingin mengutarakan perasaan tersebut. setelah menjura katanya: "Silahkan saudara Nyoo"

Nyoo Jin hui sudah lama mengagumi nama besar serta kesaktian ilmu silat dari malaikat pedang berbaju perlente, diapun tidak merendah lagi, katanya sambil tertawa:

"saudara Kim, berbelas kasihanlah kepadaku nanti, maaf bila siauwte takan bertindak kasar lebih dulu."

Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangannya secara direntangkan kesamping dengan melancarkan totokan berantai kearah dua buah jalan darah penting ditubuh Kim Thi sia. sianak muda itu sama sekali tidak bergerak dari posisi semula. sampai ancaman tersebut hampir mencapai diatas tubuhnya, ia masih belum tahu bagaimana caranya untuk mematahkan ancaman tersebut.

Dalam gelisahnya, pemuda itu merasa pikirannya makin cemas dan kalut, otomatis semakin tak mampu melancarkan serangan balasan- sebagai mana diketahui, baru pertama kali ia bertarung melawan orang, saking tegang dan boleh dibilang pemuda itu seperti lupa dengan semua pelajaran yang pernah diterima dari malaikat pedang berbaju perlente.

sampai serangan dahsyat dari Nyoo Jin hui hampir mengenai tubuhnya, ia tetap belum bergerak bergerak dari posisi semula. Hanya rasa malu bagi ketidak mampuannya serta nama baik gurunya segera meliputi seluruh benaknya, tanpa terasa peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Mendadak Nyoo Jin hui menarik kembali serangannya sambil mundur selangkah kebelakang, serunya kemudian dengan perasaan kagum. "saudara Kim benar-benar bermata tajam rupanya sudah kau dugakan kalau seranganku ini hanya tipuan belaka. Kagum, sungguh mengagumkan-

....."

Rupanya dia kelewat jeri terhadap kelihayan ilmu silat yang dimiliki simalaikat pedang berbaju perlente sehingga dalam jurus yang pertama dia melancarkan tipuan secara berhati-hati sekali dan tak berani memandang enteng lawan-

Tentu saja ia tak menyangka kalau Kim Thi sia justru bisa bersikap demikian lantaran dia sendiri panik dan gugup sehingga tak tahu bagaimana caranya mengatasi ancaman tersebut.

Akan tetapi disaat Nyoo Jin hui melancarkan serangannya yang kedua, Kim Thi sia telah bulatkan tekad untuk menjaga nama baik gurunya dengan cara apapun, kendati dia harus pertaruhkan selembar nyawapun.....

Dengan cepat tangan kanannya mengeluarkan jurus babatan pedang menggetarkan ranting dari ilmu pedang lima Buddha untuk melancarkan sebuah sapuan kedepan, sementara telapak tangan kirinya mengeluarkan jurus kejujuran melebihi kerasnya emas dari ilmu Tay goan sinkang untuk menyongsong ancaman lawan secara ngawur.

Ia tak ambil perduli apakah gerakannya itu benar atau salah, pokoknya begitu serangan dilepaskan maka diapun mengikuti simhoat dari ilmu ciat Khi Mi Khi untuk berusaha menghisap tenaga dalam lawan sebanyak-banyaknya.

Jangan dilihat serangan tersebut dilancarkan secara mengawur, tapi sikakek dan Nyoo Hui yang mengikuti dari samping justru dibuat sangat terkesiap.

Nyata sekali kalau kedua jurus serangan tersebut memiliki daya kemampuan yang luar biasa. Sekalipun tabokan dan bacokan itu dilepaskan dalam satu jurus, padahal setiap sendi gerakannya memiliki perubahan yang berbeda-beda. Dalam setiap perubahan mengandung pula entah berapa banyak gerakan pembunuh yang secara lambat-lambat muncul susul menyusul ibarat sebuah jaring besar yang mengurung sekelompok ikan disamudra luas, membuat pandangan orang berkunang-kunang dan kepalanya terasa amat pening.....

Malaikat pedang berbaju perlente sendiri memang memiliki ilmu silat yang cukup menggemparkan seluruh daratan Tiong goan, ditambah lagi beberapa jurus ilmu pukulan dan pedang itu merupakan kepandaian yang dibanggakan olehnya selama ini.

sekalipun tenaga dalam yang dimiliki Kim Thi sia belum memadahi dan didalam ayunan tangannya tidak berapa banyak kekuatan yang terkandung tapi berbeda sekali hasil yang terpampang dihadapan Nyoo Jin hui saat itu......

Ketika ia berniat menarik kembali serangannya, keadaan sudah terlambat dan jurus serangan Kim Thi sia yang maha dahsyat itu sudah menyerang tiba seperti gulungan ombak ditengah samudra.

Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus mengeraskan kepala dan menyambut datangnya serangan tersebut dengan sepenuh tenaga.......

"Breeeeeeeeetttttt "

Dibawah serangan Kim Thi sia yang maha dahsyat dan luar bisa itu Nyoo Jin hui tak mampu menghindarkan diri lagi sehingga baju dibagian bahunya kena tersambar dan robek besar.

sebaliknya disaat itu pula Kim Thi sia merasakan datangnya tenaga dorongan yang maha dahsyat menindih badannya tenaga itu begitu besar sehingga dia tak sanggup undur diri dan mundur beberapa langkah kebelakang.

Disaat itulah, mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya:

"Aaaah, bukankah dalam ilmu Tay goan sinkang terdapat sebuah jurus serangan yang bisa memanfaatkan gerakan mundur untuk melancarkan serangan?"

Begitu ingatan tadi melintas lewat, ia tidak berusaha untuk menghentikan gerak langkahnya yang menyusut kebelakang. sambil membentak nyaring, dia mengeluarkan jurus "sin seng mi li" untuk melakukan serangan balasan-

Jurus serangan tersebut memang jauh berbeda dengan jurus-jurus serangan pada umumnya, tahu-tahu tubuhnya berputar setengah lingkaran busur, sikut kanannya segera ditekuk sambil menyodok. sementara telapak tangan kirinya melancarkan tiga buah serangan berantai.

Menyusul kemudian telapak tangan kanannya secara tiba-tiba menggeliat masuk seperti seekor ular berbisa.

Tak terlukiskan rasa terkejut Nyoo Jin hui menghadapi ancaman tersebut, untuk mundur jelas sudah terlambat, padahal sekeliling tubuhnya tertutup oleh jaringan angin serangan yang begitu rapat dan dahsyat kesemuanya ini membuat ia tak mampu berkelit lagi. sambil menggretak giginya kencang-kencang, dia segera menutup sepasang matanya. "sreeeeett "

Lagi-lagi sebagian baju diatas bahu kanannya tersambar sehingga robek besar.

Lengan kanan Kim Thi sia bagai seekor ular sakti saja melintas lewat dengan suatu gerakan yang luar biasa, kemudian dengan cepat menariknya kembali kebelakang. Dengan wajah menyesal bercampur kagum, Nyoo Jin hui segera menjura seraya berkata:

"Terima kasih banyak atas belas kasihan saudara Kim, cukup menyaksikan kedua buah serangan yang lihay dan maha dahsyat tersebut, kesemuanya jauh berbeda diluar dugaan siauwte nyata sekali kalau ilmu silatmu luar biasa hebatnya, siauwte betul-betul merasa sangat kagum. "

Diam-diam Kim Thi sia bersyukur didalam hati, cepat-cepat hiburnya sambil tertawa.

"Kedua jurus serangan tersebut merupakan jurus sakti yang diandalkan suhuku dihari-hari biasa saudara Nyoopun tak usah putus asa atau malu kepada diri sendiri, sebab selama guruku mengembara diutara maupun selatan sungai besar dengan mengandalkan jurus serangan yang amat hebat itulah beliau tak pernah menjumpai tandingannya. "

Paras muka Nyoo Jin hui segera berubah hebat, tapi kemudian menghela napas panjang lagi setelah tertawa getir ujarnya:

"Suhumu memang seorang tokoh sakti yang tiada taranya didunia ini, beberapa jurus erangan yang sederhanapun cukup membuat siauwte takluk dan tunduk apalagi jurus serangan yang digunakan Kim tadi merupakan jurus serangan yang luar biasa biarkanlah iauwte merasa bangga mana mungkin aku jadi putus asa?" sikakek segera menimbrung juga.

"Ya, setelah menyaksikan kepandaian silat dari sobat kecil, pengetahuankupun bertambah satu bagian. Aaaai. bila teringat kembali akan sepak terjangku dimasa muda dulu, begitu latah dan

begitu sombong pada hakekatnya tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain- Perbuatanku waktu itu benar-benar tak tahu diri dan memalukan- Kini aku baru sadar bahwa diatas langit, diatas manusia pandai masih ada manusia pandai, tidak sedikitjago lihay yang tersebar luas didunia ini. Aaaaai. "

Rasa sedih yang amat tebal jelas membekas diatas wajahnya yang tua, seakan-akan dia memang sedang menyesali perbuatannya yang tak tahu diri dimasa lalu.

"Empek tak usah bersedih hati, sesungguhnya beberapa orang sih yang dapat menandingi empek didunia ini?"

sinona berbaju merah yang selama ini tidak digubris dan berdiri seorang diri segera cemberut sambil bergumam:

"Huah apanya sih yang luar biasa, baru bisa menggunakan beberapa jurus serangan saja gayanya sudah hebat. Hmm, nonamu justru tak mau percaya dengan tahayul"

Entah disengaja entah tidak. tapi yang pasti gumaman itu diutarakan dengan suara keras dan nyaring sehingga dapat terdengar oleh ketiga orang lainnya.

Kim Thi sia sesungguhnya merupakan seorang lelaki yang berlapang dada dan berjiwa terbuka, tapi diapun memiliki sifat keras hati.

Entah mengapa, ternyata gumaman tersebut menyinggung perasaan hatinya hawa amarah segera berkobar didalam dadanya, dengan suara keras serunya kemudian-"Kalau kau tak puas silahkan dicoba sendiri kau anggap aku takut kepadamu"

Nona berbaju merah itu segera berkerut kening, dengan sepasang matanya yang jeli dia memandang sekejap wajah Kim Thi sia, lalu serunya lagi sambil tertawa merdu.

"Nonamu justru tak percaya dengan segala macam tahayul kepingin kulihat, apa yang bisa kau lakukan terhadapku"

sambil berkata dia segera meloloskan pedangnya, diantara kilauan cahaya hijau yang membias diangkasa, pelan-pelan dia berjalan menuju ketengah arena. Hampir pada saat yang bersamaan, sikakek dan Nyoo Jin hui membentak bersama. "soat hong, jangan bertindak kurang ajar, dia kan tamu kita. "

Hawa amarah yang berkobar didalam dada nona berbaju merah itu membara sambil menggertak gigi serunya:

"Tamu? Hmmm, kalau sudah tamu lantas kenapa? melihat tampangnya yang begitu sombong dan tak tahu diri, aku sudah muak rasanya "

sesudah terjadi bentrokan kekerasan dengan Nyoo Jin hui tadi, tak sedikit tenaga dalam yang secara diam-diam berhasil dihisap oleh Kim Thi sia ditambah pula pengalamannya dalam pertarungan tadi, diapun tak sudi memperlihatkan kelemahan dihadapan orang dengan suara lantang segera serunya:

"Kalau memang begitu, mari kita buktikan kehebatan kita berdua diujung senjata" Dengan suatu gerak cepat Nyoo Jin hui menerjang ketengah arena dan merampas pedang ditangan nona berbaju merah, kemudian ujarnya dengan suara tak senang hati: "Adikku, mengapa sih kau selalu memusuhi? Hayo cepat kau mesti minta maaf kepadanya"

"Tidak aku tidak mau, heran- kenapa sih kalian malah membantunya? apakah aku bukan

anggota keluarga kalian?" Nyoo Jin hui tertawa getir.

"Adikku, kau tak boleh berkata begitu jika kau tetap berkeras kepala semacam ini, bagaimana caraku untuk memberi penjelasan. Bagaimanapun juga, dia toh tamu kita, sekalipun ada hal yang kurang berkenan dihatimu sebagai tuan rumah kita harus bersikap sewajar mungkin, apalagi dia toh tak pernah menyalahi dirimu?"

"Hmmm tamu, tamu, tamu, tamu melulu. sungguh membosankan Tamu begini, tak sudi

kutolong dirinya tempo hari.... coba kau lihat. Huuuuh. gayanya saja soknya luar biasa"

Kim Thi sia jadi tertegun, mendadak ia berkata dengan suara bersungguh-sungguh.

"Baik, anggap saja aku memang bersalah, aku tak pantas berada disini, terima kasih banyak kuucapkan atas pertolongan kalian berdua yang telah membawaku kemari, budi kebaikan tersebut tak akan kulupakan untuk selamanya. sekarang juga aku akan pergi dari sini" selesai memberi hormat kepada semua orang, dengan langkah lebar ia beranjak pergi dari situ.

Betapapun sayangnya kakek tiu terhadap putrinya, ia tak bisa berpeluk tangan belaka setelah peristiwa itu berkembang lebih jauh dan membuat murid simalaikat berbaju perlente pergi lantaran marah. Dengan suara keras bentaknya:

"soat hong, bila kau tidak segera minta maaf kepada sobat kecil ini serta menahannya disini, hubungan kita berdua sebagai ayah dan anak lebih baik berakhir sampai disini saja." setelah mengucapkan kata-kata tadi, agaknya sinona berbaju merah itupun sadar kalau perbuatan sudah kelewatan apalagi setelah ditegur ayahnya dengan muka dengan muka penuh amarah dan diancam akan putus hubungannya sebagai ayah dan anak ia makin kebingungan dibuatnya. Tapi sebagai seorang gadis yang keras kepala, diapun enggan minta maaf dengan begitu saja kepada Kim Thi sia setelah terlanjur mengejeknya. Karena itu untuk beberapa saat lamanya ia jadi tertegun dan berdiri melongo disitu. sementara suasana diliputi serba rikuh mendadak kedengaran seorang berseru keras: "Cengcu. "

Kemudian tampak seorang centeng berlari mendekat dengan wajah gugup dan langkah tergopoh-gopoh, kepada kakek tersebut dia membisikkan sesuatu. Paras muka kakek itu segera berubah hebat, dengan suara keras bentaknya.

"sudahlah, kalau toh tiga setan dari szuchuan mempunyai keinginan tersebut akupun tak akan memikirkan hal yang lain lagi."

Kim Thi sia segera berpaling setelah mendengar perkataan itu, dia saksikan paras muka locengcu telah berubah menjadi hijau menyeramkan rambut dan jenggotnya serasa berdiri kaku bagaikan landak. sudah jelas dia sedang dicekam rasa gusar dan yang luar biasa. Perubahan tersebut tentu saja sangat mencengangkan hati sianak muda tersebut.

Nyoo Jin hui telah merasakan juga betapa gawatnya persoalan yang sedang dihadapi ayahnya, sementara dia masih termangu tiba-tiba dilihatnya Kim Thi sia berpaling. satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya, dengan suara keras dia berseru:

"saudara Kim, pedangmu masih kusimpan sebentar biar kusuruh adikku minta maaf kepadamu, apalagi kita berduapun sudah cocok satu dengan lainnya, mengapa tidak menginap selama beberapa hari lagi disini."

Teringat kembali dengan pedang Leng Gwat po kiam miliknya, cepat-cepat Kim Thi sia berjalan balik sambil berkata: "Maksud baik saudara Nyoo biar kuterima didalam hati saja, harap saudara Nyoo sudi mengembalikan prdang ku itu, soal menginap toh kemudian hari masih banyak kesempatan biar kupenuhi undanganmu itu dilain waktu saja"

Tapi sewaktu melihat sinona berbaju merah memandanganya dengan wajah penuh kegusaran, keningnya kembali berkerut pikirnya:

"Perempuan itu benar-benar keras kepala belum pernah kutemui perempuan macam begini......biar kujauhi saja perempuan semacam ini dikemudian hari "

Untuk menghilangkan rasa mangkel yang menyesakkan napas diapun mengangkat kepala dan menarik napas panjang lalu kancing baju bagian dadanya dilepas.

Tiba-tiba ia saksikan paras muka nona berbaju merah itu berubah menjadi merah dadu dan melengos kedepan sikapnya yang tersipu-sipu itu jauh berbeda dengan sikap garang dan keras kepala yang diperlihatkan tadi.

"Sikap semacam ini adalah sikap yang begitu amat tak sopan" teringat kembali dengan nasehat gurunya itu cepat-cepat dia mengancingkan kembali pakaian dibagian dadanya. setelah itu dia berpikir lebih jauh:

"Heran, begitu banyak peraturan yang harus ditaati manusia didunia ini? padahal membuka kancing baju dibagian dada toh bukan suatu perbuatan asusila? Mengapa hal inipun dilarang? sungguh mengherankan- "

sementara itu sikakek telah menghela napas berulang kali dan pelan-pelan beranjak pergi dari situ.

Kim Thi sia dapat merasakan bahwa langkah sikakek itu begitu besar, penuh diliputi perasaan gusar bercampur sedih. Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu didalam hatinya. Buru-buru dia berseru:

"Empek tua, apakah kau menjumpai sesuatu kesulitan?" Kakek itu tertawa getir.

"Yaa, tiga setan dari Szuchuan telah datang mencari gara-gara benar-benar bedebah"

"Tiga setan dari szuchuan? HHmm didengar dari namanya saja sudah diketahui kalau mereka bukan manusia baik-baik. Empek. kalau toh ketiga setan dari szuchuan itu tanpa alasan datang mencari gara-gara, ini berarti merekalah yang bersalah. Keponakan bersedia untuk mewakili empek dalam menghadapi mereka "

Begitu mendengar perkataan tersebut, rasa murung dan sedih yang semula menyelimuti wajah kakek tersebut kontan hilang lenyap tak berbekas segera serunya dengan gembira: "sungguh? sobat kecil benar-benar bersedia membantu diriku?"

"Tentu saja" sahut Kim Thi sia sambil bertepuk dada. "setiap perkataan yang kuucapkan, tentu saja harus kulaksanakan. Apalagi sebelum wafat ayahpun telah berpesan demikian kepadaku, masa aku berani membangkang pesannya?" Dengan perasaan gembira Nyoo Jin hui ikut berseru:

"Asal saudara Kim bersedia membantu kami, niscaya musibah yang mengancam perkampungan Liong lim ceng akan terhapus sama sekali, hayo jalan biar siauwte siapkan sedikit sayur dan arak untuk menyampaikan rasa terima kasih kami kepadamu."

sekilas cahaya girang sempat pula memancar keluar dari balik mata nona berbaju merah itu, namun ketika Kim Thi sia berpaling kearahnya, dengan cepat dia menarik muka sambil mendengus. Kepalanya didongakkan keatas dan menunjukkan sikap acuh tak acuh.

Untung saja Kim Thi sia tidak menggubris atas sikap gadis tersebut malah ujarnya sambil tertawa:

"Saudara Nyoo terlalu sungkan, urusan sekecil ini sudah sepantasnya kalau kuhadapi, buat apa sih kau persiapkan hidangan segala?" "sudah dua hari lamanya saudara Kim tidur pulas, selama inipun kau belum pernah mengisi perut, apakah engkau tidak merasa lapar?"

"Aaaah, iya. betul juga perkataan itu, ayoh berangkat, kita segera bersantap. Terus terang

saja saudara Nyoo, selama hidup aku belum pernah minum arak, tapi ayahku sering bercerita, sebetulnya macam apa sih arak?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, suara tertawa cekikikan yang amat nyaring telah bergema memecahkan keheningan.

Menanti Kim Thi sia berpaling dengan perasaan tertegun dilihatnya sinona berbaju merah itu telah menunjukkan kembali sikapnya yang dingin dan kaku. Tanpa terasa dia berpikir kembali:

"Bagaimana sih dengan perempuan ini? sebentar marah, sebentar tertawa, sebentar jengkel, sebentar lagi girang jangan-jangan taknya rada kurang waras?"

Ketika melangkah masuk kedalam ruangan, hidangan yang beraneka ragam telah disiapkan diatas meja, tanpa sadar pemuda itu berpikir kembali:

"Wah cepat betul sekejap mata saja hidangan telah siap." Ketika melihat empat orang centeng berdiri mendampinginya tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kim Thi sia mengangkat cawan araknya dan meneguk seteguk. lalu serunya:

"Hey, mari kalian berempatpun mencicipi secawan arak." Tapi setelah dilibatkan keempat orang itu tetap berdiri dan berkutik dan sama sekali tak menggubris tawarannya,

Kim Thi sia segera menggerutu.

"Kalau toh kalian tak berani minum, lebih baik jangan minum. Memang lebih baik jangan minum, atau mungkin kalian tak berani? Hayo cepat kemari dan rasanya enak kok." Keempat orang centeng itu tetap tak bergerak dari posisinya semula. Akhirnya Nyoo Jin hui yang berpaling dan serunya sambil berkata:

"Kalau toh saudara Kim menghendaki demikian, kalian jangan menampik maksud baiknya itu, teguklah secawan-"

Keempat orang itu saling berpandang sekejap kemudian setelah menerima cawan dan meneguk isinya sampai kering dengan sikap hormat mereka mundur kembali ketempat semula. melihat itu Kim Thi sia kembali berpikir:

"Bagus sekali, tadi kusuruh kalian minum, kalian enggan Nyoo Jin hui cuma menggapai, kalian segera datang. Kalian berempat memang terlalu menghina orang."

Ketika perjamuan telah berlangsung setengah jalan, mendadak terdengar Nyoo Jin hui berkata: "Saudara Kim, aku rasa cita-cita dan jalan pemikiran kita berdua hampir sama dan sejalan, apa

salahnya kalau kita mengangkat diri menjadi saudara saja?"

"Aku tak ada usul lain- Asal kau bersedia pokoknya aku menurut saja "

Kontan saja Nyoo Jin hui kegirangan setengah mati dengan wajah berseri-seri.

"Bagus sekali, tak kusangka jiwa saudara Kim begitu terbuka, aku jadi malu sendiri karena keraguanku tadi anggap saja secawan arak ini sebagai ikatan persaudaraan diantara kita.

Selanjutnya kita berdua tak akan terpisahkan oleh apapun- Tahun ini aku berusia dua puluh tahun, bagaimana dengan dirimu?"

"Aku tujuh belas tahun" sahut Kim Thi sia dengan wajah bersemu merah. "Adikku, mari kita teguk habis isi cawan ini" ucap Nyoo Jin hui lagi.

Tanpa banyak bicara, Kim Thi sia segera meneguk habis isi cawannya, sementara dalam hatinya berpikir:

"Tadi kau masih memanggil aku saudara kini berubah menjadi adik, besar amat perubahan ini." Dalam pada itu, Nyoo Jin hui telah menuding kearah nona berbaju merah itu sambil berkata lagi:

"Dia adalah adi perempuan kita yang keras kepala dan selanjutnya menjadi adik perempuanmu- juga. Kuharap kalian jangan saling mendongkol lagi, toh kita sudah menjadi orang sendiri. "

Tanpa sebab merah jengah selembar wajah nona berbaju merah itu, setelah melotot kearah kakaknya, dia menunduk dan membungkam dalam seribu bahasa. sebaliknya Kim Thi sia segera berpikir sambil berkerut kening.

"Hmm, aku mah tak sudi menerima saudara dengan perempuan judes itu Aaaaai tapi apa

boleh buat?"

sementara perjamuan berlangsung dengan meriah mendadak Kim Thi sia berjongkok kebawah. Ternyata telapak kakinya terasa amat sakit sekali, tanpa berpikir panjang dia melepaskan sepatu dan memeriksa telapak kakinya itu, ternyata disitu telah muncul sebuah bisul kecil yang membengkak dan berwarna merah membara.

Tindakannya mencopot sepatu dihadapan orang banyak merupakan suatu perbuatan yang amat tak sopan, tak heran kalau para centeng yang berada disekitar sana kontan menutup mulut sambil tertawa geli.

Tapi Kim Thi sia tak ambil perduli sehabis memeriksa telapak kakinya itu segera pikirnya: "Yaa, bukankah aku sudah berhasil menghisap tenaga murni orang dengan menggunakan ilmu

Ciat Khi Mi Khi? kata suhu, bagian yang merasa sakit itu merupakan titik kelemahan, sudah pasti disitulah terletak titik kelemahan itu "

Tapi diapun bersyukur karena titik kelemahannya justru terletak diatas telapak kakinya. Padahal letaknya justru berada dipaling bawah dan paling tertutup dan aman, sekalipun sedang bertarung dengan orang lainpun mustahil orang bisa mengarah telapak kakinya itu.

sementara dia masih kegirangan, Nyoo Jin hui telah menegur dengan penuh perhatian: "Adik Kim, adakah sesuatu yang kurang beres?"

"ooooh tidak. aku cuma merasa telapak kakiku gatal sekali." "Jangan-jangann kena penyakit koreng?"

Maksudnya dia mengira Kim Thi sia menderita sakit maka pertanyaan tersebut diajukan dengan penuh rasa kuatir.

Tapi Kim Thi sia yang polos justru salah mengira kalau-kalau lawan telah mengetahui rahasianya, teringat kembali perkataan gurunya tempo hari ia menjadi amat terkesiap. sambil melompat bangun segera teriaknya keras-keras:

"Ooooh bukan, bukan, siauwte bilang bukan yaa bukan"

sambil berkata mukanya jadi merah membara dan terasa panas sekali.

Nyoo Jin hui dibuat tertegun, sebaliknya Nyoo soat hong atau nona berbaju merah itu segera tertawa cekikikan, seperti mengejek seperti juga mentertawakannya.

Buru-buru Kim Thi sia berpaling kebetulan Nyoo soat hong juga sedang menengok kearahnya empat mata segera saling bertemu.

Tiba-tiba Nyoo soat hong merasakan hatinya berdebar, suatu perasaan aneh timbul didalam hati kecilnya, segera pikirnya:

" orang ini benar-benar aneh, sewaktu pertama kali bertemu dengannya, aku tidak merasakan sesuatu yang aneh, tapi ketika bertemu untuk kedua kalinya, dia seakan-akan lebih cakep. dan sampai pada pandangan yang ketiga rasanya ia lebih ganteng dan menarik. padahal jika diamati dengan seksama rasanya ia tak punya keistimewaan apa-apa. Waaah. jangan-jangan dia

punya ilmu sihir sehingga membuat orang yang melihat makin menarik?" Yaa, kalau berbicara yang sejujurnya, Kim Thi sia memang bukan termasuk pemuda yang ganteng, tapi ia justru memiliki banyak bagian yang jauh menarik kaum wanita ketimbang ketampanan wajahnya. Dia seperti segulung api yang menyala-nyala dengan hebatnya, sifat jantan dan gagah yang memancar dari wajahnya, mendatangkan perasaan simpatik orang tanpa dia sadari.

Kini malam sudah makin larut suasana yang mencekam sekeliling tempat itupun bertambah hening....

Nyoo Jin hui pelan-pelan bangkit berdiri sambil mengangkat cawannya kemudian berkata: "Kesediaan Kim siauwhiap membantu kami pada hari ini jauh melebihi bantuan dari seratus

orang jago biasa. sebentar lagi kita akan mulai bertindak, untuk menghormati Kim siauwhiap kami ayah dan anak bertiga akan mengajak serta para centeng tersebut, sebab mereka lebih hanya gentong nasi yang sama sekali tak ada gunanya." Kim Thi sia pun tidak banyak bicara lagi, bersama ketiga orang itu berangkatlah mereka meninggalkan tempat dengan langkah lebar.....

Entah berapa jauh mereka berjalan, yang jelas jalanan setapak yang dilewati penuh berliku-liku dan belok kesana belok kemari tiada hentinya, sampai akhirnya sampailah mereka disebuah tempat terpencil.

Tempat itu amat liar, semak belukar tumbuh amatr lebat dan subur, ranting pohon bercabang kian kemari daun kering hampir menutupi permukaan tanah, suasana betul-betul menyeramkan.

Dibawa h sinar rembulan yang redup ditambah lagi suasana disekitar situ gelap gulita, hembusan angin dingin yang sepoi-sepoi justru membuat bulu kuduk orang pada bangkit berdiri. Ditepi batu gunung yang besar terhentang sebuah telaga yang luas, air telaga amat jernih, ketika angin berhembus permukaan air yang beriak memancarkan gelombang kecil seperti beribu-ribu ekor ular yang sedang berkelejitan.

Dengan perasaan hati yang kebat kebit ayah beranak dari marga Nyoo itu berdiri kaku ditempat, sebentar-sebentar mereka celingukan kian kemari dengan perasaan gugup dan tebang.

Hanya Kim Thi sia yang sama sekali tidak mengerti arti kata "Takut" ketika dilihatnya permukaan telaga amat tenang, tanpa terasa diawasinya tempat tersebut dengan termangu. Mendadak dari balik permukaan air muncul tiga buah titik hitam yang pelan-pelan bergerak mendekati pantai.

"Waaah, besar amat ikan tersebut" pikir Kim Thi sia dalam hati.

Dengan cepat ia mengambil sebutir batu besar lalu ditimpuk kemuka dengan sepenuh tenaga. "Pluuuuuuuung "

Percikan air memancar keempat penjuru, tahu-tahu terdengar suara tertawa seram bergema memecahkan keheningan, lalu tampak tiga sosok bayangan hitam melompat keluar dari balik permukaan air dan melayang ketepi pantai.

Menyaksikan hal tersebut, dengan perasaan tak senang hati Kim Thi sia segera berpikir. "Sialan, rupanya bukan ikan tapi manusia, kalau begitu aku sudah ditipu mereka habis-

habisan?"

saat itulah terdengar Nyoo Lo enghiong berkata sambil tertawa nyaring:

"Tiga setan dari szuchuan, aku datang untuk memenuhi undangan kalian, tapi jika kalian memaksa aku untuk menyerahkan kotak wasiat Hong toh tersebut, biar matipun tak bakal kupenuhi."

Gerakan tubuh ketiga sosok bayangan manusia itu benar-benar amat cepat, begitu mencapai diatas daratan- serentak mereka melepaskan pakaian luarnya yang berwarna hitam sehingga tampaklah pakaian ringkas, yang dilengkapi dengan tiga buah ruyung besi yang sangat besar....... orang yang berada dibagian tengah adalah seorang kakek bermuka putih bersih yang beralis pendek dan hidung pesek. sambil tertawa seram ia segera berkata:

"setiap orang tahu kalau kotak wasiat Hong toh menyimpan rahasia yang amat besar jangan lagi kami tiga setan dari szuchuan, bahkan semua jago silatpun menginginkan benda tersebut. Nah Nyoo lo enghiong, banyak berbicarapun tak ada gunanya, sebagai sama-sama jago kenamaan yang bercokol didaerah szuchuan, mari kita saling beradu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita, kasihan para jago persilatan lainnya kalau tak punya bahan cerita untuk mengisi waktu senggang mereka." Dalam pada itu Nyoo Jin hui telah berkata pula:

"Kim hiante, ketajaman matamu benar-benar mengagumkan sungguh tak nyana kau dapat melihat kalau tiga setan dari szuchuan telah bersembunyi didasar telaga. Menggelikan sekali diriku ini, aku masih menyangka mereka belum datang" Kemudian setelah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh:

"Kakek berwajah putih bersih itu merupakan pemimpin dari tiga setan orang menyebutnya sisetan berwajah putih, disampingnya sikakek bermuka hitam itu menduduki urutan kedua orang menyebutnya si setan bermuka hitam sedang yang ketiga adalah sisetan bermuka merah."

"Tiga setan dari szuchuan mulai angkat nama diwilayah szuchuan, masing-masing semuanya memiliki kepandaian silat yang begitu luar biasa dan malang melintang diwilayahnya tanpa tandingan, banyak sudah kejahatan yang telah mereka lakukan, namanya makin lama makin busuk. Tak nyana dia justru datang mencari gara-gara dengan ayahku" Dengan kening berkerut Kim Thi sia berkata:

"Serahkan saja sisetan bermuka putih itu kepadaku, sedang saudara Nyoo berdua serta empek menghadapi kedua setan lainnya"

sesungguhnya tiga setan dari szuchuan dapat termasyur didunia persilatan, separuhnya dikarenakan ilmu silat yang dimiliki sisetan berwajah putih amat lihay dan tiada taranya didunia ini, bahkan jauh melebihi loji maupaun losam.

oleh karena itu ketenaran tiga setan dari szuchuan boleh dibilang merupakan hasil karya sisetan bermuka putih seorang.

Kim Thi sia menyayangi untuk menghadapi sisetan bermuka putih ini berarti kedua orang lainnya akan lebih mudah untuk dihadapi Dengan perasaan amat berterima kasih Nyoo Jin hui segera berkata:

"Hiante, biarpun ilmu silatmu sangat lihay, tapi janganlah gegabah. Kau harus berhati-hati, sisetan bermuka putih ini selain berilmu tinggi, otaknya juga amat cerdas, kalau kurang waspada kau bisa dipecundangi olehnya"

Kim Thi sia segera manggut-manggut, kemudian dengan suara lantang serunya:

"Hey sisetan bermuka putih, hayo turut aku bila kau tak takut mampus, mari kita bertarung dibelakang sana"

Rupanya anak muda itu kuatir ia mendapat malu dihadapan keluarga Nyoo sehingga mengecewakan mereka, karenanya dia sengaja menantang sisetan bermuka putih agar bertarung dibelakang hutan saja. Pikirnya kemudian-

"Bagaimanapun juga aku toh sudah berlatih ilmu Ciat khi mi khi sehingga tidak takut digebuk, kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghisap tenaga dalamnya? menurut keterangan suhu, makin tinggi musuh yang dihadapi makin besar pula manfaat yang akan diperoleh. Padahal sisetan bermuka putih adalah pentolan dari tiga setan, ilmu silatnya paling hebat, bukankah dia paling cocok untuk menambah tenaga dalamku?"

Maka tanpa menunggu jawaban dari sisetan bermuka putih, Kim Thi sia segera beranjak dari situ dengan langkah perlahan-

sebagai seorang gembong iblis yang berilmu tinggi, tentu saja sisetan bermuka putih jadi amat mendongkol setelah melihat ada orang berani menantangnya untuk berduel, apalagi orang itu adalah seorang pemuda ingusan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Dengan amarah yang berkobar-kobar segera pikirnya:

"sialan benar bocah keparat ini, sejak terjun kedunia persilatan, hampir semua jago kenal denganku sisetan bermuka putih, selama inipun belum pernah ada yang berani menantangku secara kasar macam begini. siapa sih orang ini? berani betul dia menantangku." 

Tapi sebagai manusia yang licik biarpun hatinya jengkel perasaan tersebut tak sampai diutarakan keluar, malah serunya sambil tertawa nyaring:

"Kalau ingin mampus silahkan saja, bocah keparat. Tak nyana kalau kau bernyali besar sungguh hebat, sungguh hebat"

Padahal dalam hati kecilnya ia sudah memutuskan akan membunuh Kim Thi sia secepatnya.

Begitulah, dengan langkah cepat mereka berdua berjalan keluar dari hutan dan menuju ketanah lapang dibelakang hutan tersebut.

Begitu terlepas dari pengamatan keluarga Nyoo, nyali Kim Thi sia semakin membesar, sambil menjura ia tertawa licik segera serunya:

"Hey setan bermuka putih, aku dengar ilmu silatmu jauh melebihi kedua setan lainnya, apa betul berita ini?"

setan bermuka putih ini yang sudah bertekad akan menyelesaikan dirinya secepat mungkin agar bisa membantu kedua orang saudaranya, tentu saja tak sudi banyak berbicara lagi.

Diiringi suara tertawa yang menyeramkan, dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun melepaskan satu pukulan kedepan.

Dengan suatu gerakan cepat Kim Thi sia mundur sejauh lima enam langkah kebelakang, kemudian tegurnya dengan marah:

"Hey setan bermuka putih, kenapa sih kau menyerang tanpa bersuara?Huuh, sungguh memalukan-"

Terkesiap juga perasaan sisetan bermuka putih setelah melihat bocah muda itu sama sekali tidak roboh walaupun sudah terkena serangan, malah sempat memaki dirinya habis-habisan-

Ditinjau dari hal ini bisa diketahui bahwa kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki sungguh diluar dugaan.

Menyadari akan kelihayan lawannya, dia tak berani untuk bertindak gegabah lagi dengan menambahi tenaga pukulannya dengan bagian tenaga murni, dia lancarkan kembali sebuah pukulan dahsyat.

Kali ini Kim Thi sia sudah melakukan persiapan, ia sambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan. sementara simhoat ilmu ciat khi mi khi segera dilakukan guna menghisap tenaga dalam lawannya. "Blaaaaaaammmmmm. "

Tubuh Kim Thi sia terpental sejauh satu kaki lebih dan roboh terjungkal keatas tanah, dadanya terasa sesak dan hawa darahnya bergolak amat kencang.

Dalam kagetnya tanpa terasa ia berpekik didalam hati. "Habis sudah riwayatku kali ini. Tak nyana ilmu ciat khi mi khi yang diajarkan suhu kepadaku bukan saja tidak mendatangkan hasil apa-apa, keempat anggota badanku malah dibikin lemas tak bertenaga dan kepala jadi pusing tujuh keliling."

sementara dia masih berpikir, sisetan bermuka putih itu telah berseru sambil tertawa seram: "Heeeehhh......heeeehhh....heeeehhhh. bocah keparat, rupanya kau cuma bisa begitu-begitu

saja, hampir saja aku terkecoh. Heeehhh.....heeeeehhh " Berbicara sampai disitu, kembali ia mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Kim Thi sia berpekik kaget lalu memejamkan matanya rapat-rapat menantikan datangnya saat ajal.

Disaat yang terakhir itulah mendadak terjadi suatu keanehan, hawa darah yang semula bergelora dengan hebatnya tahu-tahu menjadi tenang kembali dan pelan-pelan mengalir mengitari seluruh badan, bukan cuma begitu, malah kekuatannya berapa kali lipat jauh lebih hebat dari pada keadaan semula.

Dalam kejut dan gembiranya, tak sempat lagi berpikir panjang, dia segera melompat mundur sejauh setengah kaki lebih. "Blaaaaaaaammmmmmm. "

segulung desiran angin tajam segera menyambar lewat dengan amat hebatnya, pasir dan debu segera beterbangan memenuhi seluruh angkasa tahu-tahu diatas tanah dimana ia berdiri tadi telah muncul sebuah liang sedalam setengah depa lebih. Dengan perasaan tertegun sisetan bermuka putih seger berseru: "Hey bocah keparat belum mampus kau rupanya kau sengaja menipuku?"

sambil mengincer posisi Kim Thi sia berdiri, dengan telapak tangan kiri melancarkan sodokan- Mendadak dia lancarkan serangan kembali dengan kecepatan yang mengerikan hati.

Begitu mengetahui kalau dirinya tidak terluka, Kim Thi sia merasakan hatinya semakin mantap dan keberaniannya bertambah besar. seluruh tenaga dalamnya segera dihimpun kedalam tubuh lalu dengan tangan kiri memainkan jurus "Kelincahan menyebrangi empat samudra" dari ilmu Tay goan sinkang sementara tangan kanan mengeluarkan jurus "Tangan sakti menyembah Buddha" dari ilmu Ngo hud ciang, ia sambut datangnya ancaman lawan dengan keras melawan keras.

Tentu saja ilmu ciat khi mi khi yang khusus menghisap tenaga dalam lawan digunakan pula.

Diantara kilatan bayangan manusia yang saling menyambar, terjadilah ledakan keras yang memekikkan telinga. "Blaaaammmmmm. "

Tubuh Kim Thi sia terdorong mundur sejauh beberapa kaki lebih, sementara sisetan bermuka putih memegangi baju pada bahu kirinya yang robek besar sambil berdiri termangu-mangu.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).