Lembah Nirmala Jilid 03

 
Jilid 03

"Tangisan gadis itu benar-benar mengharukan sekali, dalam waktu singkat Kiam sianseng dibuat kelabakan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan-"

Dalam keadaan beginilah tiba-tiba gadis itu menjatuhkan diri kedalam pelukan gurunya serta merangkulnya erat-erat sambil membenamkan wajahnya diatas dada Kiam sianseng lalu dengan sedih dia berkata:

"Suhu, tecu sudah tak punya muka untuk hidup terus didunia ini kecuali kau bersedia mengawiniku suhu, kecuali cara ini, rasanya tak mungkin ada cara penyelesaian lain yang lebih tepat."

Kiam sianseng meniadi amat terkeiut, segera dia berseru:

"Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin terjadi, kau adalah muridku. Bagaimana mungkin seorang guru akan mengawini muridnya sendiri? orang lain bisa metertawakan kita."

Tapi gadis itu mendesak terus bahkan mengancam kalau Kiam sianseng tidak bersedia mengawininya maka dia akan menggorok leher sendiri untuk melindungi kesucian tubuhnya.

Sudah barang tentu Kiam sianseng tidak membiarkan muridnya berbuat demikian, pada saat itulah gadis itu mulai menciumi pipi gurunya, Kiam sianseng terkejut dan segera membuka matanya.

Begitu mata dibuka maka musibahpun tak terelakkan lagi, kendatipun Kiam sianseng mempunyai ilmu yang kuat, namun gadis itu benar-benar merupakan bidadari dari kahyangan yang berparas cantik dan tubuh sangat montok dan menggiurkan hati.

sebagai seorang yang pernah putus cinta dan hidup menyendiri ditengah gunung yang sepi, Kiam sianseng tak sanggup mengendalikan gejolak hawa napsu birahinya, dan apa yang diharapkan gadis itupun segera terjadi...

Ketika peristiwa itu telah berlangsung Kiam sianseng amat menyesal, dia tak menyangka latihannya selama puluhan tahun akhirnya berantakan karena tak mampu menahan godaan, sejak itu setiap hari dia bermuram durja dan merasa tak tenang, apalagi atas desakan murid perempuannya itu dia harus menyerahkan ilmu Tay yu sin kang yang merupakan kepandaian andalannya...

Ternyata apa yang telah terjadi merupakan rangkaian siasat sigadis itu semenjak dia menderita kekalahan ditangan suhengnya tempo hari, rupanya hal itu selalu mengganjel didalam hatinya, dia mengira Kiam sianseng pilih kasih dan lebih banyak mewariskan ilmu sakti kepada suhengnya ketimbang dirinya karena itu diapun mempergunakan kecantikan wajahnya untuk menjebak Kiam sianseng kemudian memaksanya untuk mewariskan ilmu Tay yu sinkang kepadanya.

Tatkala Kiam sianseng menyadari akan hal ini, nasi sudah menjadi bubur dan keadaan tak mungkin bisa dirubah lagi, karena itu dia hanya bisa menyesali diri sendiri...

sang murid yang berhasil memperoleh ilmu Tay yu sinkang dengan akal ternyata tidak menjadi puas karena keberhasilannya itu. sebagai seorang perempuan yang berwatak jelek. dia memang setiap waktu berkeinginan mewakili kedudukan Kiam sianseng dalam dunia persilatan bahkan selalu berupaya agar Kiam sianseng menuruti semua perkataan dan permintaannya . sebaliknya Kiam sianseng sendiri menjadi putus asa sejak melakukan kesalahan besar waktu itu, dalam sedih dan menderitanya diapun menjadi acuh tak acuh terhadap sikap kurang ajar muridnya itu.......

setelah mengatur napas sejenak. manusia berbaju perlente itu menulis lebih jauh. "sesungguhnya Kiam sianseng merupakan seorang manusia yang berwajah dingin tapi

berperasaan hangat, dia kuatir murid perempuannya setelah mempelajari Tay yu sinkang akan mencelakakan umat persilatan dengan kepandaiannya itu, maka secara diam-diam diapun mewariskan ilmu Tay goan sinkangnya kepada sang murid lelaki dengan pesan untuk mengawasi gerak gerik seperguruannya itu. Apabila suatu ketika adik seperguruannya menunjukkan gejala hendak melanggar rel kebenaran maka dia diwajibkan untuk menandingi ilmu Tay yu sinkang tersebut dengan ilmu Tay goan sinkang."

" Ketika Kiam sianseng selesai mewariskan Tay goan sinkang dan mendapat tahu kalau murid lelakinya telah menguasai penuh kepandaian tersebut, ditengah suatu malam yang gelap diapun pergi dari situ. Menunggu kedua orang muridnya menyadari hal ini, Kiam sianseng yang termasyhur selama dua puluh tahunan didalam dunia persilatan  itu  sudah  pergi  entah kemana "

semenjak kepergian Kiam sianseng sepasang kakak beradik satu perguruan inipun makin tidak cocok. akhirnya mereka berpisah untuk turun gunung bersama.

Tak selang berapa waktu kemudian, dalam dunia persilatan mulai dihebohkan dengan munculnya seorang perempuan siluman yang berwajah amat cantik dan berilmu silat amat hebat, secara beruntun perempuan itu brhasil membinasakan puluhan orang jago lihay.

Ketika sang murid lelaki mendapat kabar itu dia segera tahu kalau peristiwa itu hasil perbuatan adik seperguruannya, serta merta dilakukan pencarian hampir satu bulan lamanya, terakhir dipuncak bukit Go bie san ia berhasil menemukan adik seperguruannya itu.

Waktu itu sang adik seperguruan belum tahu kalau kakak seperguruannya telah mempelajari ilmu Tay goan sinkang yang merupakan tandingan dari ilmu Tay yu sinkang melihat posisinya didesak terus, bukan saja dia enggan menerima nasehat, sebaliknya malahan menyerang dengan mengandalkan ilmu Tay yu sinkang tersebut.

"sesuai dengan pesan gurunya, sang murid lelaki itupun menghadapi ancaman dengan ilmu Tay goan sinkang, baru dua gebrakan sang adik seperguruan telah melarikan diri dengan membawa luka......sejak itu dunia pers ilatanpun tak pernah lagi mendengar kabar beritanya "

sang murid lelaki itupun mengembara dalam dunia persilatan seorang diri, tetapi dengan wataknya yang aneh dia sering merasa tak leluasa melihat suatu kejadian hingga selalu turut campur lama kelamaan dia sendiripun tak dapat mengendalikan semua nasehat Kiam sianseng dianggap angin berlalu peristiwa demi peristiwa berlangsung terus tanpa bisa dicegah lagi.

"Dengan kepandaian silatnya yang tinggi dan lagi memiliki Tay goan sinkang, ibarat harimau tumbuh sayap dalam satu tahun saja tak seorangpun bisa menandingi kemampuannya, maka kejayaan Kiam siansengpun terwakil kembali, semua orang menyebutnya sebagai malaikat pedang berbaju perlente karena orang itu gemar berdandan perlente."

Tiba-tiba Kim Thi sia melompat bangun, lalu sambil menuding manusia berbaju perlente itu serunya:

"orang itu adalah kau, sang murid lelaki adalah kau bukan? Yaa, pasti kau. "

Manusia berbaju perlente itu termenung sejenak. lalu menulis lebih jauh:

"Nama besar Malaikat pedang berbaju perlente segera menjadi lambang "Kematian" bagi kalangan hitam dan rimba hijau dan menjadi lambang "Kengerian" bagi golongan putih dan lurus sebab tinda tanduknya aneh dan tak menentu, selalu berbuat menurut perasaan sendiri Hingga orang menggolongkan dirinya sebagai manusia diantara lurus dan sesat " "suatu waktu dia berhasrat akan menerima murid, ketika berita itu tersiar maka dunia persilatanpun menjadi gempar, banyka putra putri raja muda dan hartawan kaya berbondong- bondong datang melamar bahkan bersedia membayar tinggi."

"Tapi malaikat pedang berbaju perlente memandang harta kekayaan bagaikan sampah. Belum lagi orang-orang itu masuk kepintu, kebanyakan telah diusir pergi, tapi yang datang melamar justru makin meningkat sehingga hal ini mendatangkan perasaan muak."

Dalam keadaan inilah tiba-tiba muncul sebuah pikiran aneh dibenaknya, dia ingin menerima murid secara paksa dan ingin menonton betapa canggung dan lucunya orang-orang itu sewaktu belajar silat, karenanya diapun kembali berkelana.

"Suatu hari, disaat dia sedang berpesiar ditelaga see ou dikota Hangciu, dia telah bertemu dengan seorang gadis yang amat cantik, dengan cepat gadis itu mendapat tahu kalau manusia berbaju perlente yang sedang memandangnya sambil tersenyum-senyum tak lain adalah Malaikat pedang berbaju perlente yang termashur namanya itu, ia nampak tertegun lalu cemberut dan berlalu dengan wajah dingin."

Padahal semenjak termashur malaikat pedang berbaju perlente yang muda dan tampan itu sudah banyak menarik perhatian kaum wanita tapi selama ini tak seorangpun yang penuju dihati entah mengapa sejak bertemu dengan gadis itu timbul suatu perasaan yang aneh dalam hatinya, maka ketika gadis itu pergi diapun segera membuntutinya.

"sinona cantik berbaju hijau itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna tapi dibandingkan simalaikat pedang berbaju perlente justru ketinggalan jauh sekali, makin cepat dia berlalu makin cepat pula malaikat pedang mengikutinya."

sepertanak nasi kemudian dia berpaling dengan wajah tersipu-sipu tapi ketika melihat malaikat pedang berbaju perlente masih mengikuti terus, dalam gelisahnya dia segera memakinya sebagai hidung bangor.

Tapi si malaikat pedang berbaju perlente bukannya marah malah menyahut sambil tertawa: "Nona, kalau toh kau menganggapku sebagai hidung bangor, baiklah kali ini aku berperan

sebagai hidung bangor, toh bagaimanapun juga aku telah kau maki."

sinona berbaju hijau itu menjadi merah dadu selembar wajahnya, setelah mendengus dia berlarian lagi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan lebih tiggi.....

Ketika berbicara sampai disitu, paras muka manusia berbaju perlente itu kelihatan agak berseri, seakan-akan dia membayang kembali kejadian manis saat itu. Berapa saat kemudian, ia baru berkata lebih lanjut:

"Sambil tertawa ringan, malaikat berbaju perlente itu membuntuti terus dibelakangnya, lama kelamaan nona berbaju hijau itu menjadi sangat mendongkol sehingga hampir saja mau menangis."

Tiba-tiba ia membalikkan badan lalu sambil bertolak pinggang bentaknya keras:

"Dulu, nona mengira malaikat pedang berbaju perlente adalah seoang manusia luar biasa.

Hmm lebih baik cuma mendengar namanya daripada bertemu dengan orangnya ternyata kau tidak lebih hanya seorang manusia hidung bangor yang tak tahu malu"

Mendengar perkataan ini malaikat pedang berbaju perlente segera menjawab sambil tertawa: "Tapi, akupun mengira nona adalah seorang perempuan berkeras hati yang tak takut urusan

dan gangguan kaum lelaki iseng oleh sebab itu aku segera menampakkan diri tak tahunya kau tak

lebih hanya seorang perempuan pengecut yang berhati sekecil tikus."

"Jalanan ini toh milik negara, kau boleh memakainya, masa aku tak boleh memakainya pula? atas dasar apa kau melarangku melewati jalan ini?"

Nona berbaju hijau itu menjadi tertegun, lalu dengan pipi yang bersemu merah karena jengah ia menjawab: "Hmm, mengapa kau mengikutiku terus menerus? biasanya manusia begini delapan puluh persen pasti manusia tidak genah."

"Wah kalau begitu aku masih punya kesempatan sebesar dua puluh persen untuk menjadi orang baik?" kata simalaikat pedang berbaju perlente kemudian seraya tertawa. Nona berbaju hijau itu tidak apa-apa lagi dengan wajah tak senang hati dia segera berlalu dari situ.....

Dasar memang sudah jodoh setelah terjadinya pertemuan yang tak terduga itu, akhirnya dia menjadi istriku, ia memang lemah lembut dan amat setia dalam tahun-tahun berikut ia telah memberi tiga orang putri untukku. Kehidupanku waktu itu bagaikan didalam sorga saja, ketika bicara sampai disini sorot matanya yang semula penuh pancaran sinar kebahagiaan itu tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan. Ranting yang dipergunakan untuk menulispun ditekan keras- keras sehingga pasirpun beterbangan

"Dikalau aku mendapat tahu kalau ayahnya telah tewas ditangan sekawan manusia menganggap dirinya sebagai perlente kaum lurus, aku menjadi marah sekali. seluruh cinta kasih yang ia berikan kepadaku merubahnya menjadi sesuatu kekuatan untuk membalaskan dendam baginya, ia berusaha untuk membujukku agar menyudahi saja persoalan ini dengan begitu saja. Tapi aku tak dapat menerimanya dengan begitu saja, maka kucari semua musuh besar yang pernah membunuh ayahnya, kemudian menghina mereka habis-habisan."

" Untung saja istriku memang berhati mulia, dia telah menganjurkan kepadaku agar mau mengampuni mereka patut diampuni. coba kalau tidak begitu, niscaya mereka telah kubereskan semua."

" Kawanan manusia itu hampir semuanya merupakan jago-jago kawakan dimasa itu namun setelah bertemu denganku, justru menjadi ketakutan setengah mati. Dibawah desakanku, akhirnya merekapun harus mempersembahkan putra kesayangannya masing-masing untuk mengangkatku sebagai gurunya."

" Cara ku menerima murid dengan sistim paksaan ini boleh dibilang belum pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia. Tak heran kalau berita itu begitu tersiar, semua orangpun melukiskan diriku sebagai seorang manusia yang dingin, sadis dan berwatak aneh. Padahal meski watakku aneh, sifatku tak jauh berbeda dengan manusia lain pada umumnya."

sinar mata kebencian mendorong semakin tebal dari balik mata manusia berbaju perlente itu, terusnya kemudian-

"Adapun kesembilan orang itu adalah say Pak It siu (kakek sakti dari luar perbatasan), Pek Peh sin Kun (pukulan sakti seratus langkah), siJin cinjiu, Raja laba-laba, sin Heng ci, Ku Tiok tojiu, telapak tangan sakti dari Tiong Lam san, tiang le bagian hukuman dari Tay Kek Bun yang bernama Ih Ceng Yong serta iblis beracun mencabut nyawa. Putra-putra mereka telah kupaksa menjadi murid-muridku setiap orang hanya berhak mempelajari sepersepuluh dari kepandaianku bahkan dengan sesumbar akupun berkata waktu itu. Apabila suatu ketika mereka sudah yakin dapat mengalahkan diriku, mereka kupersilahkan untuk turun tangan setiap waktu."

"Menurut urutannya adalah Kim kim (pedang emas) Gin Kiam (Pedang perak) Tong Kiam (Pedang tembaga) Thi Kiam (Pedang baja) Bok Kiam (Pedang kayu) sul Kiam (Pedang air) Hwee Kiam (Pedang api) Toh Kiam (Pedang bumi) seng Kiam (Pedang bintang) setiap orang cuma dapat sepersepuluh bagian ilmu silatku saja hmm bukan aku sengaja mencemooh mereka, tapi dengan rasul pedang sebagai gurunya, tidak sulit bagi kesembilan orang itu untuk mendapatkan sedikit nama besar dalam dunia persilatan"

"Bagaimana ceritanya dengan ayahku?" tanya Kim Thi sia penuh curiga. "Apa sebabnya diapun kau paksa. "

"Ayahmu tak tahu diri dan memaksaku untuk beradu kepandaian, sebelum bertarung masing- masing orang mengajukan syarat, bila aku yang kalah, maka batok kepalaku akan segera kupersembahkan, sebaliknya jika dia yang kalah maka selain pedang mustika Leng Gwat Kiam itu harus diserahkan padaku kaupun diwajibkan belajar silat dariku, tentunya sarat itu tidak terlalu merugikan bukan?"

sebagai putranya, Kim Thi sia merasa lemas juga ketika mengingat ayahnya kehilangan muka, katanya kemudian agak tergagap: "Akhirnya ayahku kalah?"

Manusia berbaju perlente itu mengangguk tulisnya:

" Walaupun kepandaian silatnya cukup tangguh, namun dia toh tak mampu bertahan sebanyak sepuluh gebrakan ditanganku."

"Tutup mulutmu" bentak Kim Thi sia tiba-tiba dengan kening berkerut.

Manusia berbaju perlente itu tertegun, tapi setelah menyaksikan raut wajahnya yang diliputi marah, dengan cepat dia memahami jalan pikiran pemuda itu, dengan kening berkerut segera tulisnya:

"Kau tak usah emosi karena memang demikianlah kenyataannya. Aku sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri"

Kemudian setelah berhenti sebentar, dia menulis lebih jauh:

"setelah memperoleh warisan sepersepuluh bagian ilmu silatku, kesembilan muridku itu menjadi lupa daratan, suatu ketika sewaktu aku pulang dari bepergian jauh. Kujumpai musibah besar telah menimpa keluargaku, bukan saja anak istriku terbunuh, bahkan mereka diperkosa secara bergilir oleh kawanan manusia yang lebih rendah dari binatang itu, bagaikan disambar guntur ditengah siang hari bolong aku jadi tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. "

sampai disitu, tangan manusia berbaju perlente itu nampak gemetar keras sehingga tulisannya menjadi miring tak karuan- Andaikata tidak diperhatikan dengan seksama, rasanya untuk mengenali tulisan itu..........

"Anakku tersayang, istriku tercinta terkapar ditengah ruangan bermandikan darah. Aku menjadi marah kalap, akhirnya setelah berteriak-teriak bagaikan orang gila, akupun roboh tak sadarkan diri. "

"Tatkala aku sadar kembali, kujumpai ilmu silatku telah musnah. Kesembilan jahanam yang terkutuk itu telah meninggalkan pelbagai macam luka cacad yang mengerikan ditubuhku. Mereka mengelilingi dan mencemooh aku, tapi tidak berusaha untuk menghabisi nyawaku. saat itu aku telah merasakan siksaan dan penderitaan yang paling keji didunia ini, aku tidak merintih waktu itu aku baru sadar bahwa pembalasan yang harus kuterima akibat kesalahan yang telah kuperbuat ternyata begitu kejam dan tak berperasaan kutatap mereka dengan pandangan penuh

kebencian, tapi mereka selalu menghindar dan tak berani saling beradu pandang denganku, kobaran rasa benci dan dendam seketika menyelimuti seluruh benakku."

Dengan penuh emosi manusia berbaju perlente itu menghapus tulisannya dari atas tanah, kemudian ia tulis lebih jauh:

"Akhirnya mereka naikkan aku keatas seekor kuda kurus dan membiarkan kuda kurus itu membawaku berkelana kesuatu tempat yang jauh, aku memahami tujuan mereka. Kawanan biadab itu menginginkan agar semua orang didunia ini dapat menyaksikan keadaanku yang mengenaskan ini, perbuatan mereka benar-benar amat keji......kelewat keji. "

"Muridku, sebenarnya aku sudah merasa putus asa dan amat kecewa, tapi aku tak dapat melupakan dendam sedalam lautan ini. Aku memang salah dan tidak menyesal untuk mati. Tapi apa salahnya dengan anak istriku? mengapa mereka harus diperkosa dulu sebelum dibunuh. "

Tetesan darah segar jatuh bercucuran membasahi wajahnya yang sendu mendadak tulisannya kembali:

"Muridku, aku tak perduli apakah kau membenciku karena aku telah membuat malu ayahmu tapi kau harus membalaskan dendam bagi sakit hatiku ini segenap ilmu silatku akan kuwariskan kepadamu dan disaat kau tak tega untuk turun tangan, nyanyikanlah lagu ciptaanku ini. Kusebut lagu itu sebagai nyanyian sembilan dendam kesumat. setiap kali kau bawakan lagu itu, dalam benakmu pasti akan muncul bayangan kekejian dan kebuasan dari kesembilan manusia biadap itu, perhatikan baik-baik syairnya."

Dendam sakit hatiku jauh melebihi samudra. Haruskah aku mati dalam keadaan begini?

Biar badan hancur, biar tubuh remuk. akan kucuci semua sakit takit ini.....

Lidahku dipotong Mataku dicukil, Rambutku dipapas, Tulangku dikunci, Telingaku diiris, ototku dicabut,

Lenganku dikutungi dan kakiki dipotong......

Rasa dendam merasuk tulang.

Aku merasa pedih, aku merasa sedih. Dendam kusumat ini harus dituntut balas.

Dengan perasaan yang amat berat Kim Thi sia manggut-manggut katanya: "Baik, aku bersumpah akan mengabulkanmu itu."

"Didalam hati kecilnya, dia merasa amat marah atas kekejaman dan kebengisan kesembilan orang " Kakek seperguruannya" itu, sekalipun manusia berbaju perlente itu pernah melakukan kesalahan besar, toh cukup dia seorang yang pantas menerima hukuman, apa dosanya anak dan istirnya?"

"Mengapa mereka harus diperkosa dulu sebelum dibunuh?" Manusia berbaju perlente itu kembali menulis:

"Dalam kehidupanku kini hanya ada dua keinginan yang ingin dapat terpenuhi, kesatu aku ingin tahu kemana kaburnya adik seperguruanku itu aku takut setelah sembuh dari lukanya dia akan melakukan keonaran lagi didalam dunia persilatan, kedua membalaskan dendam sakit hatiku bila kedua hal ini bisa terpenuhi biar matipun aku akan tersenyum didalam baka."

Dengan semangat berkobar-kobar Kim Thi sia segera berkata:

"Asal kau bersedia mempercayai aku, biarpun harus terjun kedalam lautan api aku tak akan menampik."

Pancaran sinar mata yang mencorong keluar dari balik matanya mencerminkan kobaran semangat yang tinggi.

Dengan tangan tunggalnya, manusia berbaju perlente itu menggenggam tangan Kim Thi sia erat-erat, selang berapa saat kemudian ia baru menulis lagi:

"Kau sebagai muridku yang kesepuluh, benar-benar memiliki kelebihan daripada orang lain- Moga- moga saja kau dapat teringat selalu dengan lagu, "Sembilan dendam kusumat" serta mencuci bersih sakit hatiku ini."

senja telah menjelang tiba, angin gunung yang berhembus kencang terasa membawa suasana yang penuh semangat.

Kim Thi sia melepaskan kancing bajunya dan membiarkan dadanya yang bidang dan berotot itu dihembus angin gunung. Dia menarik napas panjang-panjang lalu berkata:

"Suhu, jadi kau tidak menghendaki pedang mustika Leng Gwat Kiam ini lagi?" Manusia berbaju perlente itu menggelengkan kepalanya dan menulis: "Coba kau perhatikan keadaanku ini, mungkinkah bagiku untuk bertarung lagi dengan orang lain? Leng Gwat Kiam sebagai pedang mustika milik keluarga Kim kalian, sudah sepantasnya kalau disimpan pula oleh keturuunan keluarga Kim."

Kim Thi sia menjadi sangat gembira, segera serunya:

"Ya, memang paling baik begitu, sebab terus terang saja suhu, seandainya pedang Leng Gwat Kiam itu sampai kau ambil. Maka disaat aku telah berhasil menguasai ilmu silat nanti, pedang tersebut akan kusebut kembali dari tanganmu."

Berubah hebat paras muka manusia berbaju perlente itu setelah mendengar ucapan tersebut pikirnya kemudian:

"Kesalahan apakah yang telah aku lakukan? mengapa setiap orang murid yang kuterima selalu berniat mengerjai diriku?"

Namun ketika dilihatnya Kim Thi sia berwajah gagah, jujur dan polos sedikitpun tidak menunjukkan sifat licik, keji atau sesat, hatinyapun segera menjadi tenang kembali, tulisnya kemudian: "Muridku, apakah kau merasa lapar?"

Kim Thi sia tertegun, ia merasa gurunya amat memperhatikan sebuah kerlingan penuh rasa terima kasih kepadanya.

Pelan-pelan manusia berbaju perlente itu mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dari sakunya, kemudian menulis:

"Botol ini berisikan obat anti lapar, bila kau merasa kelaparan telanlah dua butir maka semua rasa laparmu akan hilang."

Dari gerak gerik serta tingkah laku Kim Thi sia, ia tahu pemuda itu polos, berpikiran sederhana dan tak mirip orang yang pantas menggunakan akal muslihat oleh sebab itu kendatipun dia menghadiahkan pil mustika yang dapat menambah tenaga murni seseorang ini kepadanya namun sama sekali tidak dijelaskan kalau obat tersebut.

sesungguhnya adalah buah Lian som ki yang berusia ratusan tahun dan merupakan benda langka dalam dunia saat itu.

Kim Thi sia dan segera menelan dua butir dalam waktu singkat dia merasakan seluruh mulut dan tenggorokannya terasa harum semerbak. begitu kena ludah, pil tersebut segera mencair dan mengalir masuk kedalam perutnya. Yang aneh rasa laparya seketika itu juga hilang lenyap tak berbekas.

satu ingatan segera melintas didalam benaknya, cepat-cepat dia berkata:

"Terima kasih atas pemberianmu obat ini sangat harum dan rasa laparku hiolang lenyap, bila dugaanku tidak salah isi botol itu pastilah obat mustika hasil bikinan suhu dengan susah payah, kasiatnyapun pasti luar biasa."

Diam-diam manusia berbaju perlente itu merasa terkeut setelah mendengar perkataan itu, pikirnya:

"Tak nyana dengan sikapnya yang begitu polos, sederhana dan kasar ternyata dia memiliki otak yang cerdas dan teliti, kalau begitu aku telah salah menilainya." Berpendapat demikian, diapun segera menulis kembali:

"Muridku, ucapanmu tadi memang tepat sekali, pil itu memang terbuat dari sari buah Lian som ko yang telah berusia seratus tahun lebih, khasiatnya luar biasa, bawalah serta dalam sakumu. sebab ajal gurumu sudah tak jauh lagi, aku hanya berharap kau jangan lupa melaksanakan kedua permintaan itu." Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali dia menulis:

"Menurut pengamatanku, tenaga dalam yang kau miliki saat ini tidak terlalu tinggi itu berarti walaupun segenap ilmu silatku telah kuwariskan kepadamu, tak mungkin dapat kau serap dan manfaatkan secara penuh, karenanya kau harus giat berlatih terutama sekali ilmu Tay goan sinkang yang paling sulit dipelajari. sekalipun kau dapat menguasai dari semua teori-teori dan rahasianya secara matang-matang tapi tanpa disertai tenaga dalam yang sempurna tak nanti ilmu tersebut dapat kau pergunakan sebagai mana mestinya, tahukah kau bahwa berlatih rajin setiap hari, kemajuan pesat baru dapat dicapai disinilah letak rahasia orang belajar silat."

Dengan wajah serius dan sikap menghormat Kim Thi sia segera menyahut:

"Ucapan suhu memang tepat sekali, sejak kecil hingga dewasa tecu hidup menyendiri diatas sebuah bukit yang terpencil meski selama ini sudah banyak yang kudengar namun sedikit sekali yang kulihat sehingga tidak banyak mengandung manfaat yang dapat kuserap Apalagi ayahku belum pernah secara resmi memberi petunjuk ilmu silat kepadaku akibatnya dalam bidang tenaga dalam, tidak banyak kemajuan yang bisa kucapai." Kembali malaikat pedang berbaju perlente menulis:

"Ilmu silatku memang sedikit berbeda dengan kepandaian silat aliran lain, lantaran kau belum pernah belajar tenaga dalam dengan sendirinya sulit pula bagimu untuk mendalami ilmu tenaga dalamku ini."

"Tapi kau tak usah kecewa, sekarang akan kuwariskan dulu rahasia ilmu pedang dan pukulan, setelah itu akan kuajarkan pula ilmu "Ciat Khi Mi Khi" yakni semacam ilmu sakti yang dapat menghisap tenaga dalam orang lain untuk memperkuat tenaga dalam sendiri. Bila tenaga dalammu telah mencapai kesempurnaan dikemudian hari, kau bisa mulai melatih diri menurut teori yang akan kuturunkan kepadamu nanti, aku yakin kau pasti akan memperoleh kemajuan yang pesat sekali."

"Apakah ilmu Ciat Khi Mi Khi itu?" tanya Kim Thi sia keheranan.

" Kepandaian tersebut merupakan semacam ilmu rahasia tingkat tinggi dari perguruan kami. Dan merupakan sebab suatu utama mengapa Kiam sianseng dapat menjagoi dunia persilatan sebelum berusia lima puluh tahun. siapa saja dapat mempelajari ilmu ini, bahkan sekalipun tidak memiliki tenaga dalam, dia dapat bertarung melawan orang lain dengan mengandalkan kepandaian tersebut, justru disaat terjadi benturan kekerasan dengan secara diam-diam kita hisap tenaga dalam lawan. Lambat laun tenaga dalam yang berhasil kita curi akan bertambah banyak.

Apalagi jika kau sering beradu tenaga dalam dengan orang lain, tenaga dalammu makin hari akan semakin sempurna, berapa tahun kemudian tenaga dalam seorang jago lihay manapun" Kim Thi sia segera tertawa tergelak sesudah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian:

"Hahaa.......hahaa rupanya ilmu silat ini baru dapat terwujud apabila kita sering berkelahi,

ayahku pernah bilang watak keluarga Kim kami paling ulet kami tidak takut bertarung. Tidak takut pula digebrak orang. Hahaa....hahaa.....hahaa. kalau sudah berhasil mempelajari ilmu Ciat Khi Mi

Khi itu, aku pasti akan mencari beberapa musuh tangguh untuk diajak berkelahi."

"Anak muda tak boleh mempunyai pikiran semacam itu, dikemudian ahri kau bisa tersesat kejalan yang salah" tulis manusia berbaju perlente itu cepat dengan kening berkerut.

"Tapi suhu. bukankah kau sendiri yang bilang bahwa ilmu tersebut baru dapat terwujud

apabila kita sering berkelahi dengan orang? siapa bilang aku hendak menjadi bandit." Dengan kening berkerut, manusia berbaju perlente itu kembali menulis:

"Kancingkan pakaianmu itu, jangan kau perlihatkan dadamu dihadapan orang lain, karena cuma bandit yang bersikap demikian- sebagai seorang lelaki sejati yang belajar silat, kita harus bersikap sopan santun dan tak tahu adat, dengan begitu penampilan kita baru akan menarik simpati orang lain-"

Merah padam selembar wajah Kim Thi sia, cepat-cepat dia membetulkan kancing bajunya. setelah tersenyum manusia berbaju perlente itu baru menulis lagi:

"Ilmu Ciat Khi Mi Khi diciptakan oleh Leng Kong hweesio pada seribu tahun lalu, hingga jaman Kiam sianseng. sedikit sekali orang persilatan yang mengetahui tentang kehebatan ilmu tersebut, Kiam sianseng mengerti, apabila dia sampai membocorkan kehebatan dari kepandaian tersebut, sudah pasti kejadian tersebut akan menimbulkan kegemparan didalam dunia persilatan, kawanan jago lihay pasti akan berdatangan untuk memaksakannya menyerahkan ilmu sakti itu. Untuk menghindari segala macam kesulitan dan kerepotan, belum pernah Kiam sianseng membocorkan persoalan ini, tatkala mewariskan kepadaku, suhu berulang kali berpesan kepadaku agar tidak menceritakan masalah ilmu Ciat Khi Mi Khi tersebut kepada siapa saja. oleh sebab itu sekarang aku hendak berpesan pula kepadamu agar waspada dan jangan sampai membocorkan rahasia ini kepada orang lain, kalau tidak bibit rencana pasti akan menimpa dirimu."

Dengan perasaan kaget Kim Thi sia segera berseru:

"suhu, apakah kau juga mewariskan ilmu Ciat Khi Mi Khi tersebut kepada kesembilan orang muridmu yang lain?"

"Hmm, kawanan kurcaci macam mereka tak mempunyai rejeki sebesar itu Untuk mempelajari kepandaian tersebut maka seseorang harus mempunyai delapan prinsip yaitu, keras, lembut, jujur, yakin, damai, tenang, luwes dan cerdas. Kurang satu saja dari kedelapan unsur itu, tak mungkin kepandaian tersebut dapat dipelajari."

"Didalam menghadapi musuh, ilmu Ciat Khi Mi Khi ini mempunyai daya guna menghisap sari hawa murni lawan, tanpa disadari banyak manfaat yang diperoleh dari sini, tapi kau harus memperhatikan bila musuh yang dihadapi perempuan, maka kau harus menghadapi dengan unsur kelembutan, sebaliknya kalau musuhnya laki, kau harus menghadapi dengan unsur keras. Bagi mereka yang melatih ilmu ini, kemungkinan peredaran dari yang berbalik hampir tidak ada. Cuma dalam menghadapi musuh yang tangguh tenaga dalamnya, tak urung kau akan menderita luka dalam. Tapi kau tak usah kuatir, walaupun saat itu kau akan merasakan getaran yang keras sehingga tak mampu melanjutkan pertarungan lagi, tapi sebentar kemudian keadaanmu akan pulih kembali seperti sedia kala bahkan dari satu pukulan yang terhisap. kaki akan memperoleh manfaat yang tak terhingga. "

"Wah, kalau begitu bukankah aku akan menjadi kebal?" seru Kim Thi sia kegirangan.  Dengan cepat manusia berbaju perlente itu menggelengkan kepalanya berulang kali tulisnya: "Kau harus tahu setiap ilmu silat makin hebat daya gunanya, penyakit yang terkandungpun

sering kali makin besar. Walaupun bagi orang yang berlatih ilmu Ciat Khi Mi Khi tersebut, tenaga dalamnya bertambah sempurna. Toh kau tetap memiliki titik kelemahan yang sama sekali tak terduga, misalkan saja sewaktu kau berlatih ilmu tersebut mata kau gunakan sebagai titik konsentrasi maka titik kelemahanmu akan terletak dimata, oleh sebab itu walaupun kau mempunyai kepandaian sakti setiap saat tetap harus waspada kalau tidak kemungkinan bagimu untuk tewaspun tetap besar. "

Diam-diam Kim Thi sia merasakan hatinya bergidik dan tak berani banyak berbicara lagi. selang sejenak kemudian, manusia berbaju perlente itu baru menulis lagi:

"Yang paing berbahaya bagi orang yang melatih Ciat Khi Mi Khi adalah titik kelemahan itu sendiri Karenanya kau harus selalu ingat bahwa rahasia titik kelemahanmu itu tak boleh kau ceritakan kepada siapapun termasuk terhadap orang yang paling kau kasihi sekalipun- Ketahuilah manusia licik yang berkeliaran didalam dunia persilatan tak sedikit jumlahnya, siapa tahu diantara sanak keluargamu itu terdapat pula manusia sebangsa itu. "

Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi badan Kim Thi sia tanyanya kemudian-"Suhu, dimanakah letak titik kelemahanmu?"

"Berhubung saat ajalku telah dekat, tak ada salahnya kuberitahukan hal ini kepadamu. sesungguhnya titik kelemahanku terletak diatas rambutku tak nanti tenaga dalamku yang sangat sempurna itu bisa hilang lenyap kalau kesembilan manusia terkutuk itu tidak memapas habis rambutku?"

"Suhu, bagaimana dengan aku?" cepat-cepat Kim Thi sia berseru dengan perasaan cemas. "setelah berlatih ilmu Ciat Khi Mi Khi nanti, dimanakah titik kelemahanku?"

"Anak bodoh, aku toh bukan malaikat, dari mana aku bisa tahu titik kelemahanmu itu? Tapi untuk mengetahui letak titik kelemahan tersebut, kita memiliki suatu ciri yang khas, yaitu disaat kau selesai mempelajari kepandaian tersebut, disuatu bagian dari tubuhmu akan terasa sakit sekali. Nah, bagian yang terasa sakit itulah terletak titik kelemahanmu, rasa sakit mana baru akan hilang setelah lewat dua minggu kemudian mengertikah kau sekarang?"

sementara anak muda itu ingin bertanya lagi, manusia berbaju perlente itu sudah mengulapkan tangannya sambil menulis.

"saat ajalku sudah hampir tiba, kita jangan sampai membuang banyak waktu lagi dengan percuma, kemarilah suhu akan mulai mewariskan ilmu silat kepadamu, tapi oleh karena aku tak dapat berbicara maka penjelasan akan kutulis diatas tanah kau harus perhatikan dengan sungguh- sungguh karena selewatnya hari ini, tiada kesempatan baik lagi bagimu bila kurang jelas, segera tanyakan jangan berlagak sok pintar sehingga merugikan dirimu sendiri "

Kim Thi sia manggut-manggut dan segera bergeser kesisi gurunya.

Mendaak ia saksikan sorot mata gurunya memancarkan sinar kebencian yang amat tebal lalu tampak ia menulis diatas tanah. "Nyanyikan dulu lagu sembilan dendam kusumat"

Kim Thi sia manggut-manggut, kemudian dengan suara lantang ia bersenandung: "Dendam sakit hatiku, jauh melebihi samudra.

Haruskah aku mati dalam keadaan begini. Biar badan hancur, biar tubuh remuk.

Akan kucuci semua sakit hatiku ini.....

Lidahku dipotong, mataku dicukil. Rambutku dipapas, tulangku dikunci.....

Telingaku diiris, ototku dicabut. Lenganku dikutung kakiku ditebas.....

Rasa dendam serasa masuk ketulang. Aku merasa pedih, aku merasa sedih.

Dendam kesumat ini harus kutuntut balas."

Membayangkan penderitaan dan siksaan yang dialami gurunya, pemuda itu merasakan luapan api berkobar-kobar. semakin bersenandung suaranya semakin nyaring, apalagi ketika mencapai pada klimaksnya, aliran darah yang mengalir didalam tubuhnya serasa mendidih. 

Manusia berbaju perlente itu sendiri hanya termangu- mangu sambil menikmati senandung tersebut, dia seakan-akan sedang membayangkan kembali semua nasib tragis yang telah menimpa dirinya selama ini. Hingga Kim Thi sia menegurnya, ia baru tersentak bangun dari lamunannya. sementara air mata telah membasahi seluruh wajahnya.

"Anak pintar" tulisnya kemudian- "Daya ingatanmu memang sangat hebat, tak sepatah katapun yang salah kau ucapkan- Moga-moga saja kau dapat mengingat selalu bait-bait syair didalam lagu sembilan dendam kesumatku ini"

Paras muka Kim Thi sia yang putih itu tiba-tiba nampak bersemu merah, dengan alis mata berkerut segera serunya:

"Suhu akan kuingat selalu dendam sakit hatimu, tak usah kuatir. selama aku masih bernapas dendam sakit hati kau orang tua pasti akan kubalas." Manusia berbaju perlente itu segera menepuk-nepuk bahu Kim Thi sia lalu ia menulis: "Kau memang anak yang hebat, belum pernah kujumpai bocah semacam kau" Kedua orang itu segera saling bertukar pandangan sekejap. lalu sama-sama tertawa.

"Sekarang akan kuwariskan dulu bagaimana cara berlatih ilmu ciat Khi Mi Khi tersebut." Menyusul tulisan tersebut, malaikat pedang berbaju perlente segera melukis delapan belas gambar manusia. Ada yang berdiri ada yang berbaring, ada yang berjongkok ada pula yang duduk semuanya dalam posisi yang sangat aneh.

Dengan mengikuti petunjuk dari gurunya Kim Thi sia mulai melatih diri. Pada mulanya ia merasa perkataan dari gurunya terlalu berlebihan tapi sejak menirukan gambar yang kelima entah mengapa setiap kali ia mencoba untuk menirukan gerakan tersebut, selalu ada saja kesalahannya, tidak seperti permulaan tadi berjalan lancar kali ini banyak sekali hambatan yang dijumpai sekarang ia baru sadar akan sulitnya kepandaian itu untuk dipelajari.

Baru saja ia mempelajari tujuh buah lukisan tiba-tiba manusia berbaju perlente itu menulis: "Segala sesuatu tak boleh dipelajari kelewat cepat apalagi dalam waktu singkat kau bisa

menguasai tujuh gerakan. itu sudah terhitung luar biasa, hayo berlatihlah kembali" Kim Thi sia

berpikir.

"Aaaaah, omong kosong. Buktinya aku sekaligus dapat menguasai enam buah gerakan tanpa menjumpai halangan, apa salahnya kalau aku berusaha mempelajari semua gerakan itu dalam waktu singkat?"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba tangan dan kakinya terasa linu dan kaku, kepalanjya pening dan sekujur badannya terasa sakit sekali, tak kuasa lagi dia tertunduk diatas tanah sambil memegangi perutnya kencang-kencang.$

Malaikat pedang berbaju perlente segera tertawa menyaksikan keadaan itu, tulisnya kemudian: "Nah bocah keras kepala, sekarang kau tentunya sudah percaya dengan perkataanku bukan?

dulu suhupun keras kepala seperti kau sekarang tapi daya kemampuanmu jauh lebih hebat denganku karena sekaligus bisa menguasahi enam gerakan. Benar-benar tak kusangka dengan potongan wajahmu yang begitu sederhana ternyata memiliki kecerdasan otak yang luar biasa aku merasa gembira sekali karena ilmu silatku bakal ada pewarisnya."

saking letihnya tanpa terasa Kim Thi sia jatuh tertidur ketika mendusin kembali ia jumpai alis mata gurunya yang semula hitam kini telah berubah menjadi kelabu wajahnyapun menjadi layu dan kering. Dengan perasaan terkejut ia segera berseru:

"suhu mengapa wajahmu bisa berubah menjadi setua ini dalam waktu yang singkat?" Manusia berbaju perlente itu tertawa hambar kemudian tulisnya:

"Tenaga dalamku telah hancur usiaku melaju tambah cepat, inilah pertanda ajalku telah mendekat."

Belum habis perkataan itu diucapkan ia sudah menutup matanya dan mengantuk seolah-olah ia merasa sangat penat hingga tak mampu menahan diri lagi.

Kim Thi sia merasa amat terkejut ia tahu kalau gurunya dibiarkan tidur, kemungkinan besar dia tak akan mendusin lagi. Dalam keadaan demikian satu ingatan segera melintas dalam benaknya. Tiba-tiba ia menyanyikan lagu sembilan dendam kusumat dengan suara lantang....

Benar juga malaikat pedang berbaju perlente segera mendusin dan membuka matanya lebar- lebar. setelah mendengar nyanyian tersebut sorot matanya yang kabur oleh air mata memancarkan sinar kebencian yang amat tebal, dia seolah-olah memperoleh semangat hidupnya, setelah mendengar lagu itu.

"Muridku kau sudah menguasai enam gerakan, berarti masih ada dua belas gerakan yang harus kau latih baik-baik, Mumpung gurumu belum mati berusahalah sebanyak-banyaknya dariku."

Kim Thi sia sadar saat-saat semacam ini merupakan detik yang paling berharga baginya, detik yang akan merubah seluruh kehidupan dimasa yang akan datang, ia segera memejamkan matanya dan mulai melatih kedua belas gerakan yang belum terselesaikan itu Entah berapa saat telah berlalu, kini fajar telah menyingsing diufuk timur, angin sejuk berhembus sepoi-sepoi dibawah timpaan cahaya matahari yang berwarna keemas-emasan- Kim Thi sia merasa amat letih, seluruh tenaganya sudah terkuras habis, terutama ruas-ruas tulang belakangnya yang terasa begitu linu dan sakit seakan-akan hampir patah semua.

Tapi ia tahu kesempatan baik tak akan ditemui lagi dimasa yang akan datang, maka sambil menahan penderitaan yang luar biasa, ia pentangkan matanya yang merah membara lebar-lebar, kemudian dengan lantang nyanyikan lagi lagu sembilan dendam kusumat. semangat manusia berbaju perlente itu kembali terpacu dengan cepat ia menulis:

"Kini kau telah menguasai ilmu Ciat Khi Mi Khi aku percaya dengan bakatmu yang baik, asal mau berlatih dengan sungguh-sungguh kemajuan pasti akan tercapai dalam waktu yang singkat sekarang pusatkan semua perhatianmu karena akan kuwariskan ilmu Tay Goan sinkang kepadamu."

setelah berhenti sejenak. kembali ia melanjutkan-

"Tay Goan sinkang merupakan sejenis ilmu yang maha sakti, yang merupakan hasil ciptaan seorang tokoh dunia persilatan apakah nantinya kau berhasil menguasai ilmu tersebut atau tidak disamping tergantung pada bakatmu sendiri kaupun harus banyak melatih diri, perhatikan inilah jurus yang pertama Hawa sakti menembusi angkasa."

Dengan semangat yang menyala-nyala Kim Thi sia melatih jurus tersebut mengikugti petunjuk gurunya.

Kemudian manusia berbaju perlente itu menulis kembali:

"Kau harus mengingat baik-baik teori ilmu Tay Goan sinkang ini, disaat Ciat Khi Mi Khimu sudah mendatangkan hasil yang lumayan- Ilmu tersebut akan nampak kehebatannya. Perhatikan jurus kedua "Sukma gentayangan dalam kebingungan, jurus keempat " Kejujuran melumati batu emas", jurus kelima "Kepercayaan menyapu jagad", jurus keenam "Kepercayaan menguasai bumi", jurus ketujuh " Kelembutan mengatasi bencana", jurus kedelapan "Ketenangan bagaikan awan mega", jurus kesembilan "Kedamaian membumbung kelangit sembilan" jurus kesepuluh "Hembusan angin mencabut pohon".......

secara beruntung ia mewariskan kesepuluh jurus ilmu Tay Goan sinkang tersebut kepada Kim Thi sia dengan semangat yang bernyala-nyala pula pemuda itu mempelajari dan mengingat semua pelajaran itu dalam benaknya.

sehari telah berlalu tatkala Tay Goan sinkang telah mewariskan semua kepada Kim Thi sia kondisi badan malaikat pedang berbaju perlente semakin memburuk.

setelah memuntahkan darah segar dan mewariskan ilmu pedang ngo Hud Kiam (ilmu pedang ilmu buddha) yang maha dahsyat itu kepada Kim Thi sia kondisinya menjadi amat lemah.

Tiba-tiba ia meronta untuk bangun lalu dengan gerakan tangan yang amat berat ia menulis kembali:

"setelah aku mati nanti kuburlah jenasah ku dibukit tengkorak ini, muridku bila engkau telah menguasai ilmu silatku nanti pergunakanlah seluruh batok-batok kepala dari sembilan jahanam tersebut untuk bersembahyang didepan kuburanku jangan lupa ukirlah lagu sembilan dendam kesumat didepan batu nisan, bila malam Tiong ciu tiba berilah seuntai bunga kepadaku dan nyanyikanlah lagu sembilan dendam kusumat untuk menghibur arwahku, sekarang......cepatlah.......nyanyikan laguku sekali lagi. sampai matipun aku tak akan melupakan

dendam kesumatku."

Kim Thi sia segera melompat bangun lalu sambil membusung- busungkan dadanya dia membawakan lagu itu dengan penuh semangat.

Manusia berbaju perlente itu tersenyum dan manggut-manggut, ditengah gema lagu sembilan dendam kesumat jago ini mengakhiri hidupnya dengan menghembuskan napasnya yang penghabisan-

seorang tokoh dari dunia persilatan yang pernah termahsur dan disegani setiap orang akhirnya harus mengakhiri hidupnya dibukit tengkorak yang jauh dari keramaian orang. Matahari senja memancarkan sinarnya menyorotijenasah itu, ia pernah merasakan kebahagiaan hidup bagaikan dewata, tapi sekarang harus mengakhiri hidupnya sambil memendam dendam.

Kim Thi sia menangis tersedu-sedu air matanya jatuh bercucuran dengan amat derasnya, kemudian tubuhnya roboh terguling disisi gurunya dan tertidur nyenyak.

Entah berapa saat telah lewat, dari depan jalan bergema suara derap kuda yang amat nyaring, disusul munculnya sepasang muda mudi ditempat itu.

Mereka mempunyai wajah yang amat menarik. yang lelaki berwajah tampan dan gagah sedang yang perempuan cantik bagaikan bidadari dari kahyangan-

Rupanya pemuda berwajah tampan itu telah melihat adanya dua sosok tubuh yang tergeletak ditengah jalan, cepat-cepat ia menarik tali les kudanya sambil berseru:

"Adikku, coba kau lihat didepan sana ada mayat" nona berbaju merah itu agaknya tertegun lalu melompat turun dari kudanya gerakan yang amat ringan, diamatinya kedua sosok itu dengan seksama lalu katanya:

"Koko yang cacad telah mati dan yang muda itu masih bernapas rupanya ia sedang tertidur, kita tak usah mencampuri urusan orang lain mari kita pergi saja dari sini."

Kedua orang itu melanjutkan kembali perjalanannya tapi beberapa saat kemudian balik lagi kesana.

Tampak sinona berbaju merah itu berkerut kening sambil mengomel:

"Koko, bagaimana sih kau ini, sudah setengah harian kita menempuh perjalanan tapi akhirnya balik lagi kesini. Huuh makanya jangan sok menyombongkan diri katanya saja kau menguasai daerah sekitar sini, tapi bagaimana kenyataannya sekarang?" Dengan tersipu-sipu pemuda tampan itu tertawa.

"Kau memang benar adikku, koko mengaku salah. Gara-gara aku, kau jadi ikut menderita" sewaktu mereka berdua melewati lagi disamping tubuh Kim Thi sia serta manusia berbaju

perlente itu, nona berbaju merah itu melirik lagi sekejap lalu berkata:

"Koko yang berbaju perlente itu sudah mati tapi siapakah pemuda itu? kalau dibiarkan tidur ditepi jalan bagaimana nanti kalau sampai diterkam binatang buas? bagaimana kalau kita tolong saja?"

Pemuda berwajah tampan itu memperhatikan sekejap mayat simalaikat pedang berbaju perlente, mendadak seluruh tubuhnya bergetar keras. Ditatapnya mayat itu dengan pandangan termangu, lalu gumamnya:

"Bu.....bukankah dia adalah......ia malaikat pedang berbaju perlente? Aaaah. pasti

dia.....tapi. mengapa dia berada disini?"

Nona berbaju merah itu tersenyum geli ketika melihat pemuda itu mengawasi jenasah tersebut dengan pandangan termangu, segera tegurnya:

"Koko bagaimana sih kau ini? apanya yang aneh? memangnya dia kau anggap ia bukan manusia?"

Pemuda tampan itu seperti tidak mendengar perkataannya kembali dia bergumam:

" Ya h, pasti dia. aku pernah bertemu dengannya terutama alis matanya yang tebal dan

hidungnya yang mancung, aku tak eprnah akan lupa. bukankah ia berilmu sangat hebat?"

"Mengapa tangannya, kakinya, telinganya, rambutnya dan segala sesuatunya dicacad-

in orang? Tidak mungkin mustahil ini bisa terjadi?"

seperti mau mendusin dari impian buruk ia bergumam sambil menyeka keringat yang membasahi dahinya. Rupanya sinona berbaju merah itu mulai merasakan keluar biasaan persoalan tersebut. sepasang matanya yang bening dialihkan pula keatas mayat simanusia berbaju perlente itu tapi ia tidak menemukan sesuatu yang aneh, sehingga tanpa terasa serunya: "Koko, siapakah ia kau kenal dengan orang itu?"

"Ya dia adalah simalaikat pedang berbaju perlente. Tokoh sakti yang menguasai seluruh jagad"

Nona berbaju merah itu terperanjat pandangan matanya menjadi kaku, meskipun ia belum bertemu dengan malaikat pedang berbaju perlente, namun sudah banyak cerita yang didengar olehnya. Hampir saja dia tak akan mempercayai pendengarannya, bahwa manusia cacad yang berada dihadapannya adalah malaikat pedang berbaju perlente yang amat termasyur itu, serunya dengan gelisah:

"Masa dia adalah malaikat pedang berbaju perlente. Aku dengar simalaikat pedang itu berwajah tampan, sedang dia berwajah sayu dan cacad badan jangan- jangan kau salah melihat jangan kau anggap semua orang yang berbaju perlente adalah simalaikat pedang berbaju perlente itu, lagi pula bukankah ia berilmu sangat hebat mana mungkin bisa mati terbunuh disini?"

Cepat-cepat pemuda berwajah tampan itu menggelengkan kepalanya.

"Pasti dia, aku pernah berjumpa dengan orang ini dan selama hidup tak akan terlupakannya . "

Untuk sesaat suasana menjadi hening, dengan pandangan terkejut bercampur curiga mereka berdua mengawasi mayat itu tiada hentinya.

selang sesaat kemudian pemuda berwajah tampan itu baru berkata sambil menghela napas panjang:

" Celaka, ternyata simalaikat pedang berbaju perlente telah mati terbunuh orang yang sanggup membunuhnya pasti memiliki kepandaian silat yang sangat hebat, mendingan kalau hatinya bersifat baik, kalau hatinya jahat dan punya ambisi besar, bukankah dunia persilatan akan terancam kembali oleh badai pembunuhan yang mengerikan?"

"Koko" seru nona berbaju merah itu tiba-tiba dengan perasaan terkesipa. "Mungkinkah pemuda ini yang membunuhnya?"

Paras muka pemuda tampan itu berubah tapi sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya sambil berkata:

"Tidak mungkin usia pemuda ini paling banter baru delapan belas tahun, sekalipun sedari dalam rahim ibunya dia sudah mulai belajar tenaga dalam tak mungkin ia mampu bertahan sebanyak sepuluh gebrakan saja bisa jadi ia adalah seorang diantara kesembilan orang murid simalaikat pedang berbaju perlente itu."

"Aku dengar kesembilan orang muridnya adalah sipedang emas, pedang perak- pedang tembaga, pedang besi, pedang kayu pedang api, pedang air, pedang tanah, dan pedang bintang, bukankah begitu? aku dengar kesembilan orang itu masing-masing memiliki sejenis kepandaian silat yang luar biasa, apakah kita perlu menolongnya?" Pemuda tampan itu segera menghela napas panjang.

"Menolong selembar jiwa manusia berarti telah melakukan kebajikan yang terpuji, meski kesembilan orang murid simalaikat pedang berbaju perlente mempunyai watak yang liar dan memandang rendah orang lain, namun selama berada dalam pengawasan gurunya mereka tak berani banyak bertingkah. Koko kuatir setelah matinya simalaikat pedang ini, kesembilan orang muridnya jadi tak terkendalikan lagi sehingga menjadi bibit bencana bagi dunia persilatan-"

"Kalau begitu kita tak usah menggubrisnya lagi, biarkan saja dia diterkam binatang buas. "

kata nona berbaju merah itu dengan kening berkerut. Tapi pemuda tampan itu segera mengulapkan tangannya sambil menukas:

"Adikku, kau jangan berbicara sembarangan, menurut pendapat koko, pemuda ini bukan salah seorang diantara kesembilan murid malaikat pedang berbaju perlente. sebab aku dengar usia yang termuda dari kesembilan orang murid simalaikat pedang telah mencapai dua puluh tiga empat tahunan, sedang orang ini baru tujuh belas delapan belas tahunan, tak mungkin dia adalah muridnya."

"Lantas siapakah dia? coba kau lihat, disisi tubuhnya terdapat sebilah pedang mustika?" cepat-cepat pemuda tampan itu memungut pedang tersebut, dia tahu pedang yang baik

panjangnya hanya empat depa, tapi ia belum pernah mendengar ada pedang yang lebih panjang dari empat depa, maka pedang tersebut segera diloloskan dari sarungnya.

Namun setelah menyaksikan sinar tajam berwarna hijau yang memancar keluar dari pedang itu, pemuda tadi segera berseru memuji.

"Pedang bagus, pedang bagus, seandainya pedang ini adalah milikku. oooh. betapa

bahagianya hatiku."

"Koko" seru nona berbaju merah itu dengan tegang. "Mungkin pedang itu merupakan salah satu diantara pedang yang digunakan kesembilan murid simalaikat pedang."

"Aku memang belum pernah menyaksikan kesembila orang murid dari malaikat pedang berbaju perlente menggunakan pedang tapi menurut cerita dan aku yakin sepenuhnya, pedang ini bukanlah termasuk salah satu diantara pedang "emas, baja, tembaga, perak, kayu, api, air, tanah, dan bintang" sebab cahaya yang memancar keluar dari pedang ini berwarna hijau lembut seperti cahaya rembulan. Namanya pasti tak akan terlepas dari kata rembulan."

Nona berbaju merah itu segera menghembus napas panjang. "Lalu apakah koko akan menolongnya?"

"Tentu saja mari kita kubur dulu-jenasah dari simalaikat pedang berbaju perlente ini, meski hanya berapa tahun dia munculkan diri didalam dunia persilatan, namun dengan kemampuannya ia berhasil menjadi termashur diseantero-jagad, berbanggalah kita dapat melakukan sedikit bakti baginya." Nona berbaju merah itu segera tertawa.

"Ya, siapa yang tak tahu kalau kau sangat menaruh hormat kepadanya, kalau ingin dikubur ayolah dikubur, apalah artinya banyak bicara lagi?"

Mereka berdua segera menggali sebuah liang sepanjang satu kaki dan lebar lima depa, kemudian dengan hormat mengubur jenasah simalaikat pedang berbaju perlente, setelah menimbun dengan tanah, merekapun mengukir berapa huruf pada sebuah batu cadas dengan pedang mustika Leng Gwat Kiam itu, tertulis pada batu nisan itu. "Disini dimakamkan jenasah dari malaikat pedang berbaju perlente." " Hormat kami: sechuan siang kiat"

selesai bekerja, kedua orang itu saling berpandangan sekejap sambil tertawa. Nona berbaju merah itupun berkata:

"Koko, dengan meninggalkan nama kita berdia diatas batu nisan tersebut, andaikata ada yang membaca tulisan ini, tentu nama kita akan turut dihormati pula."

"Huuuusss kita kan belum mati masa engkau samakan dengan mereka yang sudah mati?"

Bersemu merah selembar wajah gadis berbaju merah itu dia segera mengayunkan cambuknya siap hendak memukul.

sambil tertawa nyaring pemuda tampan itu menyambar tubuh Kim Thi sia kemudian melompat naik keatas kuda dan beranjak pergi dari situ, sementara sinona sambil mencibirkan bibirnya cepat-cepat menyusul dari belakang.

sehari kemudian Kim Thi sia mendusin dari tidurnya ketika teringat kembali dengan kejadian yang dialaminya sejari berselang, ia menjadi terkejut sehingga tak mampu berkata-kata.

Ternyata dia telah menemukan tubuhnya berbaring diatas sebuah pembaringan yang indah dengan kelambu serta seprei yang putih bersih disamping pembaringan terdapat rak kain serta lukisan kuno yang menghiasi dinding. sejak kecil sampai sebesar ini Kim Thi sia boleh dibilang menghabiskan waktu diatas bukit yang terpencil, tentu saja dia tak pernah menjumpai keadaan senyaman ini. Tanpa terasa lagi teriaknya keras-keras:

"Hey, siapa yang menggotong aku kesini? mana guruku? hey, cepat kemari, kalau tidak aku akan bertindak kurang ajar."