Lembah Nirmala Jilid 02

 
Jilid 02

Sisa-sisa cahaya berwarna merah memancar diatas tubuh pemuda berbaju putih itu membuatnya kelihatan lebih gagah dan perkasa. Tampaknya pemuda berbaju putih itu mulai tak sabar, matanya berulang kali dialihkan keujung jalan raya dikejauhan sana. Kemudian menghela napas dan mencengkeram batu kecil serta ditimpuk ke kejauhan dengan gemas.

Memandang pasir dan tanah yang berserakan disekelilingnya, pemuda berbaju putih itu bergema lirih:

"Kesatu, mempersembahkan pedang mengangkat guru, kedua, merebut kembali pedang itu setelah selesai belajar silat, ketiga  menyelidiki  serta  membongkar  rahasia  dilembah Nirmala. "

Mendadak.......

Suara derap kaki kuda berkumandang datang dari ujung jalan sana, dengan kening berkerut pemuda berbaju putih itu melompat bangun serta memperhatikan dengan seksama.

Dalam sekilas pandangan saja kelihatan sekujur tubuhnya bergetar keras dan menunjukkan rasa tegang yang luar biasa, bisiknya kemudian dengan suara gemetar:

"Kau datang juga. akhirnya kau datang juga. Ayah bilang kau adalah penentu nasibku

selanjutnya. "

Dari kejauhan sana tampak seekor kuda putih pelan-pelan bergerak mendekat, penunggangnya adalah seorang lelaki yang berpakaian perlente dan bertubuh jangkung, ia menunggang seekor kuda kurus yang berwajah amat lesu sehingga kelihatan amat tak sedap dipandang.

orang itu menunggang kudanya sambil sesekali mengayunkan cambuknya, bibirnya yang terkatup rapat membentuk garis setengah lingkaran busur kearah bawah garis yang membuat kelihatan dingin, angkuh menyeramkan. sementara sekulum senyuman sinis diujung bibirnya penuh dengan nada ejekan dan sikap muak.

setelah menenangkan hatinya pemuda berbaju putih itu memburu kedepan tanpa memperhatikan wajahnya ia segera memberi hormat seraya berseru:

"Tecu Kim Thi sia atas perintah dari ayahku datang memenuhi janji dan akan mengangkat kau sebagai guruku"

Mengingat bahwa orang berbaju perlente ini disebut jago paling tangguh didalam dunia persilatan, dan lagi berwatak sangat aneh. sudah jelas dia memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain, karenanya dia tak berani berayal. sambil berkata dengan sikap yang amat menaruh hormat dia persembahkan pedang mustika Jeng gwat kiam itu. Penumpang kuda itu sama sekali tak bersuara, bahkan memandang sekejap kearahnyapun tidak dengan sesekali mengayunkan cambuknya ia biarkan kuda kurus itu melewati samping pemuda tersebut.

Cepat-cepat pemuda berbaju putih itu memburu kedepan lalu berseru kembali:

"Tecu Kim Thi sia atas perintah dari ayahku datang memenuhi guruku harap kau sambut pedang mustika Jeng gwat kiam ini."

Penunggang kuda berbaju perlente itu sama sekali tak menggubris, kuda kurusnya dibiarkan berjalan terus sehingga dalam waktu singkat telah meninggalkan Kim Thi sia jauh dibelakang.

Kim Thi sia menjadi tak senang hati pikirnya segera:

"sombong amat manusia berbaju perlente ini. Bukankah ia telah berjanji dengan ayah menyuruh aku mengangkatnya menjadi guru? masa setelah bertemu muka sama sekali tak menggubris? Hmmm memangnya cuma kau yang berilmu silat paling hebat didunia ini? dan aku cuma bisa belajar silat darinya?"

Dasar pemuda ini masih berdarah panas, setelah tertawa dingin ia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ

Tiba-tiba sorot matanya yang tertuju penunggang kuda itu menemukan sesuatu ia segera tertegun dan melongo. Ternyata lengan kiri serta kaki kiri manusia berbaju perlente itu sudah kutung, ujung bajunya dibiarkan berkibar ketika tertembus angin, penemuan ini membuatnya segera berpikir:

"Aaaaah, tidak betul, orang ini jelas bukan manusia berbaju perlente yang dimaksudkan ayahku."

Kemudian setelah memperhatikan penunggang kuda itu sekali lagi, kembali dia berpikir lebih jauh:

"Ayah bilang orang itu masih muda, berwajah tampan dan mempunyai tahi lalat hitam diantara keningnya. sekarang kecuali tahi lalat diatas kening yang kutemukan, sama sekali tidak kujumpai ciri yang lain. Andaikata dia memang cacad tangan dan kaki mustahil ayah tidak akan memberitahukan persoalan itu kepadaku, toh ciri semacam ini mudah dikenali?"

Bocah itu mencoba untuk mengamati kembali orang itu, dilihatnya meski kuda tunggangannya berjalan stabil, namun orang itu justru tergoncang kian kemari seakan-akan setiap saat dapat jatuh terjerembat.

sebagai seorang bocah yang berhati polos, bajik serta bijaksana, tiba-tiba saja muncul perasaan iba dan kasihannya terhadap orang itu, segera pikirnya lagi:

"Yaa, orang ini cacad tangan serta kakinya, diapun nampak loyo dan tak bersemangat. sudah pasti dia adalah orang yang sedang dirundung kesedihan, biasanya watak manusia semacam ini paling jelek mangapa aku mesti menyalahkan dia karena ia tak mau memperdulikan aku. "

semakin dipikir rasa simpatinyapun makin tebal, satu ingatan tiba-tiba melintas dibenaknya, cepat ia memburu kemuka tegurnya sambil tertawa: "Sobat, apakah aku bisa membantu sesuatu untukmu?"

Namun ketika sorot matanya menyapu lewat diatas wajah orang itu, dia semakin terkesiap lagi, pikirnya:

"Aaaaah ternyata selain cacad tangan dan kaki, daun telinga serta matapun telah dipotong dan dicukil sebelah. Ehmm tak nyana kau masih mempunyai keberanian untuk hidup lebih lanjut

andaikata aku. "

Dengan wajah bersemu merah dia segera berkata lagi penuh rasa simpatik:

"Sobat, aku tahu kau tidak leluasa dalam segala hal, apakah aku bisa membantu sesuatu bagimu?"

setelah berulang kali jalan perginya dihadang manusia berbaju perlente itu segera melirik sekejap kearah bocah itu dengan pandangan tak senang hati. sesudah tertegun sesaat, tibat-tiba Kim Thi sia berseru keras:

"Yaa, diatas keningmu jelas terdapat tahi lalat hitam, kau pasti adalah guruku. suhu mengapa kau tidak memperdulikan aku kau tahu aku mendapat perintah dari ayahku untuk datang memenuhi janji. "

Tapi ingatan lain segera melintas lewat didalam benaknya. jangan- jangan ayah membohongiku? kalau dilihat dari bentuk badan orang ini, boleh dibilang sekujur badannya telah dipenuhi dengan bekas luka, mengapa ayah justru melukiskan dia sebagai seorang pemuda yang paling tampan didunia ini? mungkinkah ayah kuatir aku menjadi muak setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya sehingga tidak bersedia menjadi muridnya?" akhirnya dengan anggapan bahwa ayahnya takut dia muak setelah mengetahui keadaan sebenarnya dari manusia berbaju perlente itu sehingga membohongi dirinya diapun berkata:

"suhu, biarpun bentuk tubuhmu macam begini rupa namun tecu tidak berpikiran memandang rendahmu, tentang hal ini harap kau orang tua berlega hati."

Manusia yang berbaju perlente itu hanya memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, kemudian menceplak kudanya dan lewat dengan begitu saja. Kim Thi sia menyaksikan bahwa dari balik mata tunggal manusia berbaju perlente itu sering kali memancar keluar sinar kebencian yang amat tebal, entah sedang memandang kearahnya atau termenung sambil memandang angkasa atau memandang pemandangan alar tertunduk sambil termenung. sorot mata kebencian yang amat tebal itu selalu memancar keluar tanpa terasa.

Menyaksikan kesemuanya ini Kim Thi sia menjadi amat terperanjat, tanpa terasa pikirnya keheranan:

"Dia tentu sedang memikirkan musuh besarnya pem bunuh yang berhati keji dan tak berperasaan itu telah memotong tangan, kaki serta mencukil mata sebelahnya, tapi enggan membinasakan dirinya sendiri sehingga membiarkan dia terus menderita sepanjang hidup, perbuatan yang begini kejam dan buasnya ini tak heran kalau membuat dia tak bisa melupakannya baik siang maupun malam."

Manusia berbaju perlente itu memiliki raut muka tampan dan gagah, disaat sorot mata Kim Thi sia menyentuh diatas wajahnya itu, tiba-tiba satu ingatan melintas pula didalam benaknya.

"Andaikata ia tidak dicelakai oleh musuhnya sehingga anggota tubuhnya menjadi tak sempurna, sudah pasti dia termasuk seorang yang tampan dan menarik."

Manusia berbaju perlente itu mengenakan topi lebar berwarna hitam, ketika angin berhembus lewat dan menggoyangkan topinya yang lebar, ternyata lelaki itu tak mampu menahan diri terhadap hembusan tersebut, tubuhnya segera kelihatan gontoi seolah-olah mau terjatuh dari atas kudanya. Tanpa terasa Kim Thi sia berkerut kening, pikirnya:

"Tampaknya orang ini lemah sekali sehingga ibaratnya tenaga untuk memotong ayampun tak dimiliki, bahkan terhadap hembusan anginpun dia tak tahan, bagaimana mungkin manusia semacam ini dapat menjagoi dunia persilatan serta merebut gelar jago pedang nomor wahid dikolong langit? Aaaai kebohongan ayah kali ini benar-benar kelewatan."

Jalanan yang mereka tempuh saat ini merupakan sebuah jalan kecil yang sempit lagi panjang, begitu sepi dan terpencilnya tempat itu sehingga walaupun mereka berdua telah menempuh perjalanan sekian waktu, belum nampak rombongan lain yang melalui tempat tersebut.

Manusia berbaju perlente itu tetap meneruskan perjalanannya dengan mulut membungkam, sedangkan Kim Thi sia mengikuti dibelakangnya dengan membisu. sebab dia tak ingin melanggar pesan terakhir dari ayahnya. Apalagi sebagai seorang pemuda yang polos dan tebal perasaannya. Baginya lebih baik menyiksa diri ketimbang mengingkari pesan ayahnya.

semakin cepat manusia berbaju perlente itu melarikan dirinya, semakin cepat pula dia mengikuti dibelakang, namun dia selalu mempertahankan suatu selisih jarak tertentu.

Tak lama kemudian jalan saus kambing itu sudah mencapai pada ujungnya. Dihadapannya sana terbentang tanah perbukitan yang berjajar-jajar menjulang keangkasa, ternyata jalan tersebut merupakan jalan buntu.

Manusia berbaju perlente itu segera mengerutkan dahi sambil duduk termangu. Menggunakan kesempatan tersebut Kim Thi sia segera berkata:

"Suhu, sekalipun kau seorang tua enggan menerima ku sebagai murid pun tak ada gunanya sebab ayahku telah meninggal dunia dan bagaimana pun juga aku tetap akan mempertanggungjawabkan diri terhadap dia orang tua. "

Tiba-tiba pemuda itu merasa bahwa ucapannya kelewat memaksa, seakan-akan dia mengharuskan orang itu untuk menerimanya sebagai murid, tanpa terasa pipinya berubah menjadi merah padam.

Manusia berbaju perlente itu mendengus dingin, lalu setelah memperhatikannya sekejap dengan pandangan ketus, dia menggapai dengan tangan tunggalnya menyuruh bocah itu mendekat.

Dengan perasaan gembira Kim Thi sia memburu kehadapannya, lalu berkata: "suhu, apakah kau telah bersedia? tecu berjanji akan berlatih diri dengan tekun dan bersungguh-sungguh . "

Paras muka manusia berbaju perlente itu berubah, tiba-tiba ia mengayunkan jari tangannya menyerang jalan darah sang seng hiat yang merupakan salah satu diantara dua belas buah jalan darah kematian ditubuh bocah tersebut.

Mimpipun Kim Thi sia tidak mengira kalau manusia berbaju perlente itu akan melancarkan serangan keji terhadapnya, menanti dia menyadari akan datangnya bahaya, keadaan sudah terlambat.

sejak kecil dia telah berdiam dibukit tengkorak bersama ayahnya sekalipun ayahnya belum pernah mewariskan ilmu silatnya secara resmi namun tidak sedikit yang pernah dilihat atau didengar olehnya selama ini.

Didalam keadaan kritis, sepamjang alis matanya segera berkenyit diiringi bentakan keras dia mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya itu untuk menumbuk dada orang itu keras-keras.

Didalam pemikirannya, biarpun ia mesti menjadi setan gentayangan, paling tidak harus beradu jiwa dulu dengan manusia berbaju perlente itu

semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata tahu-tahu ujung jadi telunjuk dan tengah dari manusia berbaju perlente itu sudah menyentuh diatas jalan darah sang seng hiat dari pemuda tersebut.

Tapi anehnya, Kim Thia sia sama sekali tidak merasakan sesuatu malah sebaliknya manusia berbaju perlente itu segera merintih kesakitan, peluh sebesar kacang segera bercucuran membasahi wajahnya, dengan rasa sakit ia menarik kembali tangannya sementara air mukanya tahu-tahu sudah berubah menjadi gelap. Dengan perasaan keheranan Kim Thi sia berpikir:

"Bukankah menurut ayah sang seng hiat merupakan salah satu diantara dua belas jalan darah kematian ditubuh manusia? jangan lagi ditotok orang, tersentuh pelan saja dapat mengakibatkan kematian, tapi mengapa orang ini tidak berhasil? ataukah dia sama sekali tidak memiliki sedikit tenagapun?"

Rasa kecewa segera muncul dan menyelimuti perasaan hatinya, dia berpikir kembali: "Mengapa ayah harus membohong iku dan menyuruh aku mengangkat manusia semacam ini

sebagai guru? Yaa, mengapa ayah tak mau mewariskan ilmu silatnya saja kepadaku sehingga tak perlu belajar dari orang lain? kini aku telah hidup sebatang kara, ditengah kehidupan bermasyarakat bagaimana mungkin aku bisa mengangkat nama serta menjayakan kembali nama keluarga?"

Berpikir rampai hal ini, dia menjadi amat pedih, tiba-tiba diambilnya sebutir batu besar lalu sambil berteriak keras menimpuknya sekuat tenaga kedepan.

Tiba-tiba saja dia merasa dirinya dibohongi, ditipu oleh manusia berbaju perlente itu sehingga dia mesti menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan sia-sia.

Dengan kening berkerut kencang, ditudingnya manusia berbaju perlente itu lalu empatnya: "Hmmm, semula kukira kau adalah seorang manusia yang dingin, aneh dan luar biasa, sungguh

tak kusangka kau tak lebih cuma gentong nasi yang sama sekali tak berguna, bukankah jalan

darah kematianku telah kau totok? tapi nyatanya aku masih tetap hidup segar bugar didunia ini. Hmmm coba bayangkan saja, manusia macam beginipun pantas diberi gelar jago pedang nomor wahid dari kolong langit?"

Umpatan yang diucapkan secara terang-terangan dan tajam ini segera membuat air muka manusia berbaju perlente itu berubah menjadi dingin dan kaku, tampaknya dia merupakan seorang yang tinggi hati dan belum pernah dimaki orang sedemikian rupa. setelah mendengus penuh amarah sekujur badannya gemetar keras lantaran mendongkol, tiba-tiba saja dia menjadi gontai sehingga akhirnya terjatuh dari atas pelana kudanya. Debu dan pasir segera beterbangan memenuhi manusia berbaju perlente itu menggeletak diatas tanah tanpa berkutik, seluruh badannya segera diliputi oleh debu yang amat tebal.

sinar matahari senja yang membiaskan cahaya kemerah-merahan menyoroti wajahnya yang hijau membesi serta pucat tak berdarah itu, Menyaksikan keadaannya yang mengenaskan, semua rasa mendongkol yang semula mencekam perasaan Kim Thia sia seketika hilang lenyap tak berbekas, segera timbul rasa sesalnya dihati, apakah dia tega menyiksa seorang manusia cacad seperti itu?

setelah mengumpat kebiadaban sendiri dia baru membantu untuk membangunkan orang itu namun ketika tangannya menyentuh lengan tiba-tiba terasa olehnya lengan itu sangat lembek seperti kapas dan sedikitpun tak bertenaga, keadaan tersebut jauh berbeda dengan keadaan manusia biasa.

Tanpa terasa pemuda itu menundukkan kepala serta memeriksa dengan lebih seksama. Apa yang kemudian melihat membuat hatinya bergidik, teriaknya segera:

"Aaaaah. rupanya seluruh otot badannya telah dipotong orang, tak aneh kalau kau tak

mampu menotok jalan darahku. " kemudian setelah mengamatinya dengan lebih seksama

kembali gumamnya:

" Lengan dikutungi, kaki dipotong, mata dicukil, telinga dipapas dan otot badanpun dipotong, manusia macam apakah orang berhati sekeji ini. ?"

Perasaan simpatinya segera tumbuh sepuluh kali lipat lebih besar, sementara dia masih memikirkan masalah itu. Tiba-tiba dilihatnya butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia tahu air mata itu bukan mengartikan suatu penderitaan atau kesakitan tapi didorong oleh rasa duka yang mendalam......

Lalu air mata tersebut melambangkan apa? mengartikan apa?

Manusia berbaju perlente itu sama sekali tak bersuara, lagi-lagi dia menggerakkan tangannya sambil menotok jalan darah kematian ditubuh bocah itu.

Biapun kepalanya tidak berpaling matanya tidak berputar, namun jari tangannya yang mengarah jalan darah kematian didada Kim Thi sia yang berada dibelakangnya mengenai secara telak ketepatan serangannya betul-betul mengagumkan.

sayang sekali Kim Thi sia tidak merasakan akibat dari totokan itu, malahan dia bertanya: "suhu, apakah kau merasa agak baikan?"

Menyusul pertanyaan yang penuh perhatian itu, manusia berbaju perlente itu mengenyitkan alis matanya rapat-rapat, kemudian mengalihkan sorot matanya keangkasa mengawasi awan putih yang bergumpal disitu tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Kim Thi sia segera berpkir dengan keheranan-

"Aneh betul orang ini dia seperti mempunyai persoalan yang tiada habisnya dipikir."

Dalam pada itu si kuda putih yang kurus kering itu seakan-akan sudah berapa hari tidak makan, waktu itu binatang tersebut telah lari kesisi jalan dan melalap setiap rumput yang ditemuinya.

"suhu" tanya Kim Thi sia lagi, "Apakah perutmu merasa lapar? bagaimana kalau kucarikan makanan untukmu?"

Manusia berbaju perlente itu tidak menjawab, keningnya yang semula putih halus, kini muncul beberapa kerutan yang mendalam karena kelewat banyak berpikir.

Untuk sesaat Kim Thia sia tak berani mengusiknya kedua belah pihak sama-sama terbungkam dalam seribu bahasa.

Begitulah mereka berduapun melewatkan malam yang sepi ditengah pegunungan yang terpencil.

Walaupun Kim Thia sia merasa amat lapar namun ia tak berani banyak berbicara wataknya yang keras hati membuat pemuda itu enggan menunjukkan setiap kelemahannya dihadapan orang lain, sebab manusia berbaju perlente itupun tidak memberi tanggapan apapun.

Diam-diam Kim Thia sia menelan air liur berulang kali, dia betul-betul merasa tak tahan lagi, baru saja hendak berbicara mendadak dilihatnya manusia berbaju perlente itu mengambil sebatang ranting kering lalu diderekkan berulang kali diatas tanah yang gembur.

Kim Thia sia amat keheranan menyaksikan tingkah laku orang itu, dengan perasaan keheranan dia maju mendekat.

Ternyata diatas tanah telah tertera beberapa huruf yang berbunyi demikian: "Apakah kau ingin belajar ilmu silatku?"

satu ingatan segera melintas didalam benak Kim Thia sia, cepat-cepat sahutnya:

"Benar, disatu pihak aku mesti melaksanakan pesan ayahku, dipihak lain akupun ingin mencari nama didalam dunia persilatan."

Manusia berbaju perlente itu segera mendengus, sesudah menghapus tulisan semula, kembali dia menulis.

"Percayakah kau bahwa aku memiliki ilmu silat?" Kim Thia sia menjadi tertegun segera pikirnya: "Ehmmm, pertanyaan ini memang tepat bila dilihat dari kemampuan dalam menotok jalan

darah kematianku tadi, anak yang berumur tiga tahunpun tak akan percaya kalau kau berilmu, apalagi aku?" Maka segera jawabnya:

"Percaya atau tidak tergantung pada dirimu, asal kau menganggap dirimu berilmu, maka akupun percaya dan sebaliknya begitu pula "

Manusia berbaju perlente itu kembali menulis.

"Aku mengerti, dalam hati kecilmu, kau menaruh curiga pada kemampuanku. HHmmm, coba kalau peristiwa ini terjadi beberapa hari berselang kau tak nanti berani berkata begitu."

"Maksudmu pada berapa hari berselang kau masih memiliki ilmu silat dan sekarang sudah tidak memiliki lagi?" tanya Kim Thia sia keheranan. Kembali manusia berbaju perlente itu menulis.

"Andaikata kau tahu siapakah aku, tatkala bertemu denganku tadi mungkin kau tak akan berani berbicara apalagi bertingkah macam begitu. " membaca tulisan tersebut Kim Thia sia segera

berkerut kening lalu terikanya keras:

"siapa sih kau ini? begitu hina kaupandang diriku begitu manusia macam apapun sama saja kenapa aku mesti merasa takut menghadapi sesama manusia? Hmm, mengingat kau sekarang sudah cacad tubuh dan lagi tidak memiliki sedikit tenagapun, aku bersedia mengalah, hanya kuharap kau jangan menulis lagi ucapan yang dapat membangkitkan rasa mendongkol dan marah bagiku."

Manusia berbaju perlente itu tercengang sejenak kemudian baru tulisnya lagi:

"Ehmmmm, kau keras kepala dan tinggi hati, mirip sekali dengan watakku dimasa muda dulu" "soal itu mah bukan urusanku"

Kembali manusia berbaju perlente itu termenung sejenak. lalu menulis.

"Sebenarnya aku amat berniat untuk mati dan menyelesaikan hidupku yang penuh derita ini namun watakku justru membuatku tak ingin mati dengan begitu saja, aku memang keras kepala. sejak berumur dua puluh tahun aku sudah mengarungi seluruh kolong langit. oleh karena itu secara diam-diam aku pernah bersumpah, aku harus hidup sebagai seorang jago yang keras hati dan mati sebagai serta yang keras hati juga. Watakmu mirip sekali denganku. Hal ini membuatku terkenang kembali masa mudaku dulu."

"Persoalan itu sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku, harap kau berbicara kembali kepokok persoalannya, yaitu soal perintah ayahku yang menyuruh aku belajar silat darimu" manusia berbaju perlente itu mendengus gusar. Tiba-tiba ranting yang dipakai untuk menulis ditekan lebih dalam pada lapisan tanah lalu mengguratnya dengan penuh tenaga sudah jelas orang itu telah dicekam perasaan gusar yang meluap. Ia menulis begini:

"selain kau ingin belajar silat dariku agaknya kau tidak menaruh perasaan apapun terhadapku? hmmm, kau memberi pelajaran atau tidak terserah kepadaku, apalagi nasibmu selanjutnya toh masih berada didalam cengkeramanku"

sementara Kim Thia sia masih tertegun manusia berbaju perlente itu telah menghapus tulisan serta menulis kembali.

"Yaa, aku memang tak bisa menyalahkan kau, siapa suruh aku menerima murid dengan cara memaksa diri Aaaai. "

Tampaknya seluruh perasaan sedih dan dukanya telah dilampiaskan keluar melalui suara helaan napas tersebut.

Kim Thi sia menjadi iba hati, segera ujarnya:

"Perasaan seseorang tak mungkin bisa dipaksakan, siapa melepaskan budi kepadaku, akupun akan turut membalas budi itu kepadanya, siapapun yang menanam dendam kepadaku akupun akan membunuh siapa. Kejadian semacam ini sudah umum dan lumrah, aku rasa kaupetak perlu terlalu memikirkannya dihati."

Dengan termangu-mangu manusia berbaju perlente itu berpikir berapa saat lamanya kemudian sepatah demi sepatah dia baru menulis kembali.

"Anak muda, selama berapa hati belakangan ini siang malam aku selalu berpikir dan berhasil menyelami apa arti kehidupan ini, sesungguhnya kehidupan manusia didunia ini hanya melulu soal mati atau hidup. Tapi bedanya justru dalam peralihan dari hidup kemati. orang dibebani oleh pelbagai masalah dendam dan sakit hati, padahal berapa sih besarnya seorang manusia dalam jagad ini dan berapa lama kehidupannya disini? seharusnya mereka jangan persoalkan tentang dendam dan sakit hati, tapi apa mau dikata soal " benci" justru paling susah dihilangkan, contohnya saja aku, gara-gara soal "benci" biarpun aku sudah mengalami penderitaan, siksaan dan kehidupan yang paling berat, sekalipun toh tak sudi mati dengan begitu saja. "

Dari balik mata tunggal simanusia berbaju perlente yang berwarna kelabu dan mulai memudar terpancar keluar sinar kebencian yang amat menggelidikkan hati.

"Diatas tubuhku telah tertera luka dari sepersembilan penderitaan yang tidak akan kuat dirasakan oleh sembilan orang biasa, namun aku tetap hidup terus, mengapa begitu? soal ini akan kusampaikan kepadamu disaat aku telah mengambil keputusan nanti. Aku tahu kau mencarikan belajar silat karena terdorong oleh perintah ayahmu, sekalipun orang-orang dalam persilatan saat ini semuanya berharap dapat memperoleh sebagian dari ilmuku atau bahkan berapa petuahku saja. Namun aku enggan berbuat demikian andaikata kau bukan muridku yang kesepuluh, jangan lagi belajar silat dariku. Untuk bersua muka dengankupun lebih sukar daripada mendaki bukit Thay san. Tapi aku paling menepati janji, setiap patah kata yang telah kuucapkan tak pernah akan kusesali kembali. "

sorot mata tunggalnya pelan-pelan dialihkan ketengah udara, kemudian seperti baru saja mengambil sebuah keputusan yang maha berat, dia manggut-manggut pelan dan menulis kembali.

"setelah mempertimbangkan persoalan ini seharian penuh, akhirnya aku memilih sebuah jalan. Aku hendak bertaruh sekali lagi dengan diriku sendiri, mungkin aku bersedia berbuat demikian."

"Berbuat bagaimana?" tanya sang pemuda. "Mewariskan segenap ilmuku kepadamu."

"Hal ini sudah merupakan kewajiban bagimu, bukankah barusan telah kau katakan bahwa sepanjang hidupmu, kau paling menepati janji?" Manusia berbaju perlente itu manggut-manggut, tulisnya. "Benar, tetapi hal seperti itu hanya mencakup sepersepuluh dari ilmu silat yang kumiliki dan sekarang aku telah memutuskan hendak mewariskan kesepuluh bagian ilmu silatku itu kepadamu kesepuluh bagian ilmu silat itu sudah mencakup seluruh kemampuan yang kumiliki, dapat atau tidak dikuasai terserah kepadamu sendiri, hanya aku ingin kau mengabulkan sebuah permintaanku" Diam-diam Kim Thi sia berpikir:

"Berapa banyak sih kepandaian silat yang sebenarnya kaupahami? Masa hanya sepersepuluh kepandaian silatnya saja yang diwariskan kepala murid-muridnya, benar-benar kejadian ini merupakan suatu kejadian yang aneh. "

Berpikir demikian disitu, diapun bertanya:

"Coba kau katakan akan kupertimbangkan kembali permintaanmu itu "

"Berilah sedikit perasaan kepadaku" Kim Thi sia tertegun-

"Perasaan bukanlah barang yang dapat diperdagangkan atau dapat diberikan kepada orang lain dengan begitu saja."

seluruh kulit wajah manusia berbaju perlente itu mengejang keras, segera tulisnya: "Bila permintaanku itu tak bisa kau kabulkan, terpaksa aku hanya akan mewariskan

sepersepuluh bagian ilmu silatku saja kepadamu, karena apa yang pernah kujanjikan dengan ayahmu dulu hanya sepersepuluh bagian saja." Dengan tidak senang hati Kim Thi sia berkata:

"Aku toh sudah bilang, perasaan itu tak bisa dipaksakan dengan begitu saja, apalagi macam benda yang diperdagangkan saja, hal ini tak mungkin terjadi jangan lagi baru sepersepuluh sekalipun kau cuma mewariskan seperdua puluh bagian dari ilmu silatmupun bukanjadi masalah, toh ada atau tidak bagiku tetap merupakan seorang manusia biasa belaka."

Manusia berbaju perlente itu berkerut kening, kemudian menulis:

"Anak muda kau berani memandang hina terhadap sepersepuluh bagian ilmu silat yang akan kuwariskan kepadamu itu? terus terang saja aku beritahukan, apabila kau bisa menguasai sepenuhnya maka kau akan menjadi seorang jagoan kelas wahid didalam dunia persilatan. "

Kim Thia sia segera tertawa dingin.

"Heeeehhh......heeeehhh.....heeeehhh aku justru tak percaya kalau dikolong langit terdapat

kejadian sehebat ini, kau kelewat takabur dan membual, tapi aku tak akan menyalahkan dirimu. "

Tiba-tiba pemuda itu merasa bahwa kata selanjutnya pasti akan menimbulkan perasaan sedihnya sehingga diapun menahan diri untuk tidak diutarakan keluar.

Mendadak terdengar manusia berbaju perlente itu berkaok-kaok dengan nada suara yang tidak jelas, samar-samar, kaku dan amat tak sedap didengar......

Kim Thi sia tersekat tiba-tiba ia seperti menyadari akan sesuatu rupanya lidah orang itupun telah dipotong orang sehingga membuatnya menjadi bisu.

suara gemuruh yang keras dari kerongkongan manusia berbaju perlente itu menunjukkan kalau dia merasa tersiksa dan menderita akibat sindiran anak muda tersebut. selang beberapa saat kemudian dia baru menulis lagi dengan tangan gemetar.

"Kalau toh kau enggan mengabulkan yaa sudahlah selama beberapa hari mendatang aku tetap akan memenuhi janji dengan mewariskan sepersepuluh bagian ilmu silatku itu kepadamu, lalu aku akan terjun kejurang untuk mengakhiri hidupku."

Ketika segulung angin gunung berhembus lewat, air mata yang meleleh keluar dari mata manusia berbaju perlente itu segera jatuh berlinang.....

Penderitaan dan siksaan yang dialaminya begitu tragis, rasanya tiada orang kedua didunia ini yang bisa menandinginya. Kim Thi sia masih polos dan berhati suci, tiba-tiba ia merasa sikapnya terlalu kejam apalagi terhadap manusia cacad semacam ini masakah dia harus berkeras kepala dengena menampik permohonannya ? Tampak orang itu menulis kembali:

" Hukuman yang dilimpahkan Thian kepadaku benar-benar kelewat batas sekalipun aku pernah melakukan kesalahan, toh tidak seharusnya melimpahkan hukuman yang begini keji dan tak berperi kemanusiaan kepadaku. Thian benar-benar tidak adil "

semua tulisan itu tertera dalam-dalam diatas tanah yang kering. Kim Thi sia justru dapat merasakan bahwa dibalik setiap huruf tersebut seakan- akan mengandung kisah penderitaan yang luar biasa, hal ini membuat rasa simpatik dan jiwa pendekarnya berkobar kembali....

segulung angin bukit kembali berhembus lewat.

Tiba-tiba topi lebar yang dikenakan manusia berbaju perlente itu terlepas dari kepalanya. Ketika Kim Thi sia berpaling diapun menjerit tertahan. "Rambutmu juga dipapas orang."

Entah darimanda datangnya gejolak hawa amarah pemuda itu merasakan darah yang mengalir didalam tubuhnya serasa mendidih dengan hebatnya, dia segera berteriak:

"Aku bersedia mengabulkan permintaanmu, aku akan memberi perasaan kepadamu bahkan akupun bersedia membalaskan dendam bagimu"

Manusia berbaju perlente itu memandang sekejap kearahnya, tahu-tahu air mukanya ikut berubah, berubah amat terharu setitik pengharapanpun melintas dibalik sorot matanya. Dengan cepat dia menulis diatas tanah.

"Baik, kita tentukan dengan sepatah kata ini akan kuwariskan segenap ilmu silat yang kumiliki kepadamu. semoga kau berhasil menguasainya dengan sempurna. Nak. setelah melewati hari-hari yang penuh penderitaan, dikemudian hari kau pasti akan menjadi seorang lelaki yang paling tangguh didunia ini. Kau pasti akan menerima sebala kekaguman, pujian dan sanjungan tapi kaupun akan menerima perasaan iri dan dengki dari sementara orang, kau harus menggantikanku didalam dunia persilatan."

Kim Thi sia sudah merasa amat menusuk pandangan setelah membaca tulisan itu pikirnya mengapa orang ini selalu menonjolkan kata-kata yang mengandung arti menjagoi kolong langit? dari sini dapat disimpulkan kalau dulunya pasti tinggi hati dan takabur. Maka ujarnya kemudian dengan suara hambar:

"Aku tidak acuh terhadap nama maupun kedudukan yang terpenting bagiku adalah membalaskan dendam bagimu, aku belum pernah mendengar atau melihat sebelumnya bahwa didunia ini terdapat manusia yang begitu kejam dan tak berperi kemanusiaan seperti orang yang telah mencelakai dirimu itu."

Dengan cepat manusia berbaju perlente itu menulis: "Sebelum kuwariskan kepandaian silatku, akan kututurkan lebih dulu asal usul, pengalaman serta tugas yang harus kau laksanakan dikemudian hari, kau merupakan jelmaanku, setiap persoalan yang membutuhkan penyelesaian boleh kau putuskan menurut perasaanmu sendiri setiap saat aku tentu akan memperhatikan hasil dari pekerjaanmu itu dari alam baka "

Lalu setelah berhenti sejenak. kembali dia menulis:

"Kisah ini panjang sekali untuk diceritakan, kau harus mendengarkan dengan seksama, sebab bukan saja cerita ini akan membuat kau menjadi satu-satunya orang yang mengetahui rahasia besar dunia persilatan yang diidamkan setiap orang, lagi pula akan menambah  pengetahuanmu. "

Ketika melihat Kim Thi sia memperhatikan tulisannya dengan penuh perhatian diapun tersenyum.

Walaupun hanya senyum yang hambar namun justru mengandung banyak perasaan yang bercampur aduk. rasa bangga, rasa tenang dan rasa lega. "Tiga puluh tahun berselang ditanah perbukitan Pak thian san diluar perbatasan tepatnya dibagian utara bukit Koa gan hong, terdapat sebuah tempat yang disebut Boan kok. Kalau dikatakan sebagai lembah maka sesungguhnya tempat itu merupakan sebuah tebing yang agak tinggi dan terletak agak tersembunyi."

"Tempat itu dilapisi oleh salju sepanjang tahun sehingga tiada tetumbuhan yang bisa hidup disitu, udaranya amat dingin dan amat menusuk tulang."

"Sebetulnya tempat semacam ini tak mungkin bisa didiami manusia, tapi apa mau dibilang orang yang berdatangan dari berbagai daerah justru makin lama semakin bertambah banyak disekitar tempat itu banyak didirikan perkembahan dan perkampungan kecil pada mulanya tiada orang yang tahu apa gerangan yang terjadi kemudian lambat laun orang dari daratan Tionggoan itu baru mendapat tahu dari mulut para rakyat sekitar sana bahwa disitu tumbuh semua dahan obat-obatan "Pek leng" yang tak ternilai dan tak terhingga harganya. Konon nilainya mencapai berapa ratus tahil perak setiap batangnya padahal dilembah Boan Kok tersebut bahan obat-obatan itu bisa ditemukan disetiap tempat, tidak heran kalau banyak orang yang berbondong-bondong mendatangi lembah tersebut "

" Lembah Boan Kok yang sepi dan terpencil itupun lamban laun bertambah ramai, asap dapur muncul dimana-mana, rumah rumput didirikan disekitar sana, yang datang mencari rejeki disitu bukan cuma kaum muda dan lelakinya saja bahkan ada yang memboyong seluruh keluarganya. Tak heran kalau dalam waktu singkat orang yang berdiam dilembah Boan Kok tersebut hampir melebihi jumlah penduduk sebuah kota besar didaratan Tionggoan. "

Manusia berbaju perlente itu berhenti sejenak sambil termenung, kemudian tulisnya lebih jauh: "Berhubung orang yang datang mencari obat makin lama semakin banyak sedangkan obat yang

dicari justru makin berkurang akhirnya timbullah hukum rimba disitu, siapa kuat dia menang, siapa lemah dia tertindas."

"Apalagi pek leng tidak mudah tumbuh, puluhan tahun lamanya baru akan tumbuh sebesar kecambah, tapi orang-orang itu tak ambil perduli kecambahpun mereka gali keakar-akarnya, seperti kuatir kalau tidak kebagian rejeki saja."

"Tak heran kalau setahun kemudian, jumlah Pek leng dilembah Boan Kok itu tersisa tak seberapa lagi. "

"Demi kesejahteraan hidup keluarga, maka muncullah sejumlah orang yang berani menyerempet bahaya dengan menembusi bukit yang lebih tinggi dengan harapan bisa memperoleh hasil yang luar biasa."

"Pada mulanya cara ini memang mendatangkan hasil tapi setelah cara itu ditiru pula oleh penduduk yang lain, maka yang datang menyerempet bahaypun bagaikan jamur hujan, makin lama semakin tambah ramai."

"sayangnya, Pek leng memang benda mustika yang langkah, tak selang berapa waktu kemudian kemiskinan dan kelaparanpun melanda orang-orang itu. "

"Entah dipelopori oleh siapa, tahu-tahu ada orang yang mengusulkan untuk menggali setiap jengkal tanah perbukitan itu, kasihan penduduk yang sudah kelaparan itu. Usul tadi membuat mereka jadi nekad dan mulai menggali lapisan salju itu secara sembrono."

"Sesungguhnya mereka tahu bahwa cara ini berbahaya sekali, karena suatu saat salju dapat longsor yang menyebabkan timbulnya musibah yang beasr, tapi demi kehidupan keluarganya, mereka harus tetap nekad dan mempertaruhkan selembar jiwanya."

"Makin digali makin banyak tempat yang menjadi keropos dan berliang, makin dibongkar makin luas tanah yang disingkirkan. Lama kelamaan bukit itu mulai terkikis dan tak dapat dipertahankan lagi."

"Longsor salju yang ditakuti setiap orang akhirnya terjadi juga, yang diiringi suara gemuruh yang amat memekikkan telinga, salju yang berton-ton beratnya itu mulai longsor dan mengubur setiap bangunan rumah dan setiap penduduk yang berada disitu, tak seorangpun diantara mereka yang berhasil lolos dari musibah tersebut. semuanya mati terkubur akibat dari ulah mereka sendiri? Tak lama setelah longsor salju tiba-tiba dari daerah sekitar lembah Boan kok muncul sesosok bayangan manusia yang berkelebat lewat bagaikan sambaran kilat. Kalau dilihat dari gerakan tubuhnya orang bisa mengira ada dewa yang baru turun dari khayangan-"

"Ia berhenti sejenak ditumpukan salju yang membukit sambil menghela napas panjang, lalu dilepaskannya sebuah pukulan yang membuat gumpalan salju memancar keempat penjuru."

"saat itulah dia mendengar ada suara rintihan berkumandang dari sekitar sana, ketika ia berpaling dilihatnya ada sepasang bocah laki dan perempuan sedang meronta disana, maka dengan suatu gerakkan yang luar biasa diapun menyambar tubuh kedua orang bocah itu serta dibawa menyingkir."

" orang itu pasti seorang pendekar yang berilmu luar biasa" sela Kim Thi sia.

"Dia bukan cuma seorang pendekar yang berilmu luar biasa, tapi dialah dewa pedang yang pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan selama dua puluh tahun lamanya. sejak merasa muak dengan kehidupan keduniawian, diapun hidup mengasingkan diri dibukit Pak thian san untuk menghindarkan segala kemelut hidup dan kerisauan."

"Beruntung sekali nasib sepasang bocah lelaki dan perempuan ini, dikemudian hari mereka tentu menjadi tokoh yang luar biasa" kembali Kim Thi sia berkata.

Manusia berbaju perlente itu mengerutkan dahi lalu menulis. "Kau jangan menyela dengarkan dulu semua kisah ceritaku. "

"Dewa pedang Kiam sianseng yang dianjung dan dihormati setiap umat persilatan ini berusia antara empat puluh tahunan, berwajah kurus serta mempunyai sepasang alis mata yang tebal lagi hitam. Tampangnya yang angker ini sudah cukup untuk menggetarkan hati setiap umat persilatan yang menjumpainya."

"sejak ditolong oleh pendekar aneh ini sepasang bocah lelaki dan perempuan ini selalu mengikuti disamping Kiam sianseng, sebagai anak yang pintar, mereka tahu kalau Kiam sianseng adalah seorang manusia yang berwatak aneh. Karena itu mereka selalu berusaha menyesuaikan diri dengan kemauan dan jalan pemikirannya, tak heran kalau hal tersebut menimbulkan perasaan simpatik dari Kiam sianseng. Akhirnya setelah mempertimbangkan selama beberapa hari, diapun menyanggupi untuk menerima kedua orang bocah itu sebagai muridnya. Biarpun Kiam sianseng adalah seorang jago yang bertampang bengis dan keren, sesungguhnya dia adlah seorang yang berhati penuh welas kasih sebagai orang yang berpengalaman. Kiam sianseng dapat mengetahui kalau kedua orang muridnya ini memiliki watak yang kurang baik, yang lelaki berjiwa sempit dan gampang menraruh dendam, sebaliknya yang perempuan jalang dan genit, sekalipun dia mengerti bahwa watak tersebut sukar dirubah, namun dia tetap berusaha untuk merubah watak itu secara pelan-pelan dia berharap setelah kedua orang muridnya menanjak dewasa nanti semuanya ini dapat berubah."

"Sepuluh tahun lewat dengan cepat, Kiam sianseng telah menggunakan waktu selama ini untuk mewariskan ilmu pedang, ilmu pukulan serta ilmu meringankan tubuhnya kepada kedua orang muridnya."

"Sementara itu kedua orang muridnya juga makin menanjak dewasa, yang lelaki tumbuh menjadi tampan dan gagah sedang yang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan- Atas pendidikan Kiam sianseng yang keras dan ketat, watak jelek merekapun turut terhapus banyak."

"Melihat kedua orang muridnya berhasil menguasai semua pelajaran yang diwariskan. Kaim sianseng merasa gembira sekali karena menganggap usahanya selama ini tidak sia-sia, saban malam diapun melewatkan hari-hari yang tenang dengan minum arak dan bernyanyi."

"Sementara itu sepasang muda mudi yang dibesarkan bersama, selain berlatih silat, kedua orang itupun melewatkan sisa waktunya untuk berpacaran dan saling melimpahkan rasa cintanya." "Suatu ketika tatkala mereka berdua berbincang-bincang soal ilmu silat, tiba-tiba mereka cekcok karena suatu masalah yang tidak sepaham sehingga menimbulkan pertarungan sengit. Kedua belah pihak sama-sama tak mau mengalah dan masing-masing mengeluarkan segenap kepandaian yang dipunyainya untuk saling menggempur, pertarungan yang berlangsung waktu itu benar-benar mengerikan sekali."

"Padahal ilmu silat yang mereka miliki terhitung sangat hebat, lima ratus gebrakan sudah mereka bertarung tanpa brhasil diantara siapa yang menang dan siapa yang kalah. Namun mereka sama-sama tak mau mengalah serta menyudahi pertarungan itu. lambat laun pertarunganpun berkobar makin sengit."

"seribu gebrakan kemudian kedua orang itu sama-sama mulai lelah, jurus serangan mereka makin melamban dan tenaganya terkuras, namun kedua belah pihak sama-sama tak mau mengalah, mereka bertarung terus mati-matian."

"saat itulah suatu peristiwa yang tak diduga sebelumnya telah terjadi tiba-tiba lelaki itu  berpekik nyaring sambil melancarkan sebuah tusukan pedang yang menciptakan berkuntum- kuntum bunga pedang, menyusul serangan itu dilepaskan pula sebuah pukulan yang ketika sampai ditengah jalan tiba-tiba berubah melingkar seperti sebuah jalan yang mengurung lawannya, serangan ini sangat aneh dan hebat."

"sinona segera mendengus menyambut serangan ini dengan jurus yang sama, siapa tahu akibat dari bentrokan ini ia kena dipukul mundur oleh pemuda tersebut sampai terhuyung sejauh satu kaki lebih."

"Padahal tenaga dalam mereka miliki seimbang jadi sesungguhnya keberhasilan pemuda itu untuk memukul mundur sinona merupakan suatu kejadian yang aneh."

"setelah menderita kekalahan itu, sinonapun berdiri termangu- mangu disitu sambil termenung, ketika pemuda itu minta maaf kepadanya ia tidak menggubris seakan-akan ada sesuatu persoalan yang sedang dipikirkan olehnya......

Ketika bercerita sampai disitu terlintas perasaan menyesal diatas wajah manusia berbaju perlente itu, sambungnya kemudian:

"selang beberapa saat kemudian gadis itu baru berkata secara tiba-tiba." "Mari kita pulang, jangan biarkan suhu menanti dengan gelisah."

"Pemuda itu mengira gadis itu sudah memaafkan kejadian itu dengan rasa gembira diapun mengucapkan kata-kata yang hangat dan mesra. tapi nona itu tetap membungkam,

entah setan mendengar atau memang tidak mendengarnya sama sekali. "

"Semenjak peristiwa itu, merekapun melewatkan kembali hari-hari dengan tenang nona itu tak pernah lagi menyinggung peristiwa itu Hanya saja semenjak saat itu dia seperti dibebani dengan banyak masalah dan pikiran ada kalanya dia berdiri seorang diri dipuncak bukit sambil memandang langit sepintas lalu nampak seperti lagi menikmati keindahan alam, tapi matanya berkedip-kedip dan wajahnya berubah tidak menentu."

"suatu hari, pemuda itu mendapat perintah gurunya untuk turun gunung serta membeli barang kebutuhan sehari-hari sebelum berangkat pemuda itu menyaksikan diatas wajah gadis tersebut menampilkan suatu perubahan yang aneh. Perubahan aneh itu seperti mengandung suatu kebulatan tekad, hal ini membuat pemuda itu tercekat dan merasa tak tenang, setelah turun gunung hatinya menjadi tak tenang, dia tahu kejadian semacam ini merupakan suatu hal yang luar biasa."

"Dengan membawa perasaan was-was akhirnya pemuda itu pulang kegunung beberapa hari lebih cepat, sampai digunung dia segera menemukan suatu perubahan yang amat besar."

"Suhu yang dihari-hari biasa penuh dengan senyum, kini justru bersandar diatas dinding sambil bermuram durja dan duduk bertopang dagu, kejadian ini menimbulkan rasa curiga pemuda itu sehingga cepat-cepat menghampirinya, namun Kiam sianseng seprti tidak merasakan kehadirannya, sampai itu memanggil suhu Kiam sianseng baru sadar kembali, maka diapun berkata setelah mengawasi pemuda itu sekejap. "Disini tak ada urusan, kau boleh pergi beristirahat."

"sikap yang aneh ini semakin mengejutkan dan mengherankan pemuda itu tapi ia tak berani bertanya, hanya dalam hatinya tercengang. Dihari biasa suhunya memiliki ketajaman pendengaran yang tinggi bunga atau daun yang jatuh pada jarak sepuluh kakipun tak bisa mengelabui pendengarannya mengapa hari ini ia seperti tak mendengar walaupun dirinya sudah sampai dihadapan mata? andaikata ada musuh yang datang, bukankah ia akan mati secara tragis?"

"Dengan perasaan curiga pemuda itupun memperhatikan adik seperguruannya ia jumpai gadis itu seperti orang yang kehilangan sukma. Namun dibalik itu wajahnya justru mencerminkan rasa puas, suatu sikap yang amat bertentangan, ketika pemuda itu mencoba bertanya gadis itu justru menjawab secara kasar. Pemuda itu jadi marah dan segera menegur, tapi sebagai jawaban nona itu mendengus serta melepaskan sebuah pukulan yang membuat pemuda itu tergetar mundur sejauh tiga, empat kaki lebih-"

"Pemuda itu terperanjat dengan cepat dia melepaskan pukulan balasan, siapa tahu gadis itu cukup menggoyangkan tangannya tahu-tahu serangan pemuda tersebut hilang lenyap dengan begitu saja tanpa menimbulkan akibat apapun, kejadian ini tentu saja amat mengejutkan hatinya, dia tak menyangka hanya dalam berapa hari saja ilmu silat adik seperguruannya telah mengalami kemajuan yang begitu pesat, ketika soal ini coba ditanyakan, nona itu justru berlalu sambil tertawa terkekeh-kekeh."

Pemuda itu menjadi kesal dan amat murung, dia tak mempersoalkan tentang ilmu silatnya yang ketinggalan, tapi tidak tahan terhadap sikap sinona yang dingin dan tak berperasaan itu, berapa hari kembali lewat. Paras muka Kiam sianseng yang semula merah bercahaya kini berubah menjadi kuning kepucat-pucatan dan kelihatan amat layu, pikirannya tak senang seperti kena tenung saja.

sebaliknya sinona itu justru makin sering melanggar peraturan perguruan, malah dalam sebutanpun makin tak sopan, terhadap kesemuanya ini Kiam sianseng hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

Sebagai seorang pemuda yang cermat, anak muda itu segera menjumpai sorot mata penuh penderitaan dibalik mata gurunya, jelas orang tua itu memendam sesuatu rahasia.

Merasa telah berhutang budi kepada gurunya yang telah memlihara, membesarkan dan mendidik ilmu silatnya. pemuda yang berbaju perlente itu segera bertekad untuk membantu Kiam sianseng untuk melepaskan diri dari penderitaan itu, walaupun sebagai resikonya badan bakal remuk.

"Tapi Kiam sianseng tetap membungkam diri dalam seribu bahasa akhirnya untuk mengetahui rahasia tersebut pemuda itupun bertanya kepada sumoaynya serta memohon penjelasan darinya. siapa tahu sumoaynya malah tertawa dingin sambil mengejek.

"Apa sih yang kau tanyakan? toh persoalan macam begitu bukan masalah besar yang perlu ditegangkan?"

Pemuda itu menjadi tertegun, dia merasa sikap maupun cara berbicara sumoaynya belakangan ini sama sekali berbeda, bahkan ketika berada disamping gurunyapun, ia sama sekali tidak menunjukkan sikap menghormat malah kata-katanya memojokkan orang dan nadanya memerintah.........

Ketika pemuda itu naik darah dan bermaksud menegur gadis itu, saat itulah tiba-tiba pemuda tersebut mendengar suara Kiam sianseng yang berbicara dengan ilmu menyampaikan suara:

"Nak. kau tak perlu bertanya kepadanya tengah malam nanti datanglah kedalam kamarku. Akan kuberitahukan segala sesuatunya kepadamu, tapi jangan sampai didengar oleh sumoaymu itu ingat baik-baik."

selesai mengucapkan perkataan itu Kiam sianseng segera kembali kedalam kamarnya. sedangkan pemuda itu melongo dan tak mampu berbicara tapi ia sadar urusannya sudah amat gawat, karena itu sambil menahan diri diapun kembali kekamarnya.

"Tengah malam itu diam-diam pemuda itu menyelinap kedalam kamar tidur Kiam sianseng. Dilihatnya ruangan itu gelap dan sama sekali tak bersuara tapi dengan kesempurnaan tenaga dalamnya biarpun berada dalam kegelapan pemuda itu masih dapat memperhatikan keadaan pada jarak lima kaki dengan jelas.

setibanya didalam kamar, ia menjumpai Kiam sianseng duduk bersandar diatas dinding dan sorot matanya sedang mengawasi semua hiolo dengan termangu- mangu.

Baru saja dia hendak menyapa, tiba-tiba didengarnya Kiam sianseng berbisik dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya.

"Nak, jangan berisik, tutup pintu rapat-rapat lalu duduklah disampingku."

Pemuda itu menurut dan segera merapatkan pintu kamar sementara dalam hati kecilnya timbul perasaan keheranan dan kaget atas ketelitian dan keseriusan Kiam sianseng sebagai seorang tokoh yang menjagoi seluruh kolong langit, apa pula yang dia takuti?

sementara pemuda itu masih termenung, Kiam sianseng telah berbisik lagi dengan ilmu menyampaikan suaranya:

"Nak. kau tentu merasa heran apa sebabnya gurumu selalu bermuram durja? Aaaai susah rasanya kemulai dengan keterangan ini, tapi dengarlah baik-baik dan jangan bersuara, daripada perbuatan kita sampai kedengaran olehnya."

Kiam sianseng berkata lebih laniut setelah berhenti sejenak,

"Aku telah melakukan suatu kesalahan yang amat besar, dan kesalahan besar yang kulakukan ini membuat aku tak punya muka lagi untuk hidup lebih lanjut. Aaaai. "

Ketika pemuda itu mendengar perkataan dari Kiam sianseng diucapkan dengan nada yang amat sedih, tanpa terasa dia turut melelehkan air mata meski tak berani bersuara kuatir kedengaran sumoaynya, dia memaksakan diri untuk menelan air mata serta kepedihannya kedalam perut.

Mendengar sampai disini, dengan keheranan Kim Thi sia segera bertanya:

"Persoalan apa sih yang membuat tokoh sakti itu menjadi gelagapan serta tak tahu bagaimana mesti mengatasinya?"

Manusia berbaju perlente itu termenung sejenak. kemudian menggerakkan rantingnya lagi dan menulis lebih jauh.

"Rupanya disaat pemuda itu sedang turun gunung untuk melaksanakan perintah gurunya, diatas gunung tinggal Kiam sianseng serta sumoaynya berdua. Kiam sianseng yang suka akan ketenangan ketika itu sedang berada didalam kemar sambil membaca buku, memang inilah satu- satunya hobi dan kegemaran tokoh sakti itu dalam sepuluh tahun terakhir. "

"Waktu itu, dikala Kiam sianseng sedang memikirkan suatu persoalan dengan penuh pesona, tiba-tiba dari luar pintu kedengaran suara orang merintih disusul suara ketukan pintu yang lemah."

Kiam sianseng segera mengenali rintihan itu berasal dari suara murid perempuan sebagai seorang guru yang menyayangi muridnya cepat-cepat dia bangkit berdiri serta membukakan pintu.

segera terlihat olehnya murid perempuannya itu masuk kedalam ruangan dengan sempoyongan lalu jatuh diatas pelukan gurunya.

Kiam sianseng segera membopong tubuh muridnya dengan seksama, dilihatnya gadis itu pucat pias, mandi peluh dingin dan napasnya tersengkal-sengkal. Maka dengan kening berkerut diapun bertanya: "Muridku, siapa yang telah melukai kau?"

sementara dia masih tercengang dan dilanda penuh rasa kaget karena melihat murid perempuannya yang hebat terluka, gadis itu telah menjawab dengan perkataan terputus-putus . "Bukan......bukan orang lain yang melukainya. Aku. aku sendiri yang kurang berhati-hati

dalam latihan, se. sehingga peredaran darah mengalir terbalik dan menyumbat jantung . "

Belum habis perkataan itu diutarakan, orangnya sudah tak sadar dan tubuhnya lemas tak bertenaga.

sebagai seorang tokoh yang berkepandaian silat tinggi, Kiam sianseng segera menotok semua jalan darah penting ditubuhnya dan membopongnya keatas pembaringan sendiri.

Tapi persoalan lain segera muncul untuk menyembuhkan luka yang diderita nona itu, yang penting adalah tangan menempel tubuh secara langsung, padahal disitu cuma ada Kiam sianseng seorang, tapi antara lelaki dan wanita toh ada batas-batasnya.

Betul Kiam sianseng sudah dapat menjauhi kehidupan keduniawian, tapi dia toh tak mungkin menelanjangi gadis itu untuk mengobati lukanya, persoalan inilah yang membuat Kiam sianseng jadi kelabakan.

Apalagi setelah melihat murid kesayangannya makin melemah, wajahnya yang semula merah bercahaya kini berubah menjadi kuning, lalu dari kuning berubah menjadi hijau dan akhirnya dari hijau menjadi kelabu. sudah jelas ini merupakan pertanda tersumbatnya dan aliran darah dan terancamnya jiwa gadis itu.

Tentu saja Kiam sianseng tak bisa membiarkan muridnya mati karena lukanya itu, tapi untuk menolong jiwanya terpaksa dia harus menelanjangi gadis itu, dua pilihan yang segera membuat Kiam sianseng bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Akhirnya diapun teringat untuk menggunakan ilmu menotok jarak jauh untuk menahan makin meluasnya penyakit itu menyerang kejantung, tapi kesulitan lain timbul. Cara ini hanya bisa bermanfaat selama satu hari, apalagi selewatnya satu hari belum tentu jiwanya bisa dipertahankan sekalipun tersedia obat mujarab.

Kiam sianseng segera merasa cara ini mustahil bisa dilaksanakan, karena dalam waktu satu hari diapun belum tentu bisa menjumpai seorang perempuan berilmu tinggi yang bisa mengobati luka muridnya itu, dengan demikian harapan Kiam siansengpun menjadi buyar. sementara dia masih ragu, murid perempuannya telah merintih makin menghebat, kesemuanya ini membuat Kiam sianseng makin bingung dan kelabakan dia baru menyesal mengapa tidak menerima murid perempuan lain sehingga dalam keadaan begini ada yang bisa mengatasi kesulitan tersebut.....

Tiba-tiba Kim Thi sia menyela:

"Kiam sianseng toh seorang pendekar besar, mengapa dia bimbang untuk menyelamatkan murid kesayangannya?"

Manusia berbaju perlente itu memandang sekejap kearahnya, kemudian menulis.

"Kau ini mengerti apa, gadis itu masih suci bersih dan belum ternoda bagaimana mungkin tubuhnya dapat dilihat orang lain sekalipun mereka adalah guru dan murid tapi bila ia menelanjangi gadis itu serta mengobati lukanya, maka setelah kejadian itu sang murid tak akan punya muka untuk kawin dengan orang lain selain dengan gurunya sendiri." Kim Thi sia segera terbungkam dalam seribu bahasa tapi dihati kecilnya merasa terkejut bercampur keheranan atas peraturan tersebut sebagai seorang pemuda yang semenjak kecil hingga dewasa hidup terpencil ditengah gunung. Tentu saja dia tak akan memahami aturan semacam itu.....

Manusia berbaju perlente itu kembali menulis. "setelah menderita seharian penuh, napas gadis itu makin bertambah lemah dan lirih menjumpai keadaan demikian akhirnya Kiam sianseng mengambil keputusan, ia rela mengorbankan diri untuk menyelamatkan muridnya. Maka sambil memejamkan mata diapun mencopoti pakaian yang dikenakan muridnya satu persatu."

"Dengan menggunakan tenaga dalamnya yang sempurna Kiam sianseng segera menotok seluruh jalan darah muridnya serta mendobrak sumbatan pada peredaran darahnya. Untuk itu, Kiam sianseng harus berjuang sampai setengah harian lamanya hingga paras mukanya menjadi pucat pias, dari sini dapat diketahui betapa sulitnya untuk mengobati luka tersebut." "Sepertanak nasi kemudian gadis itupun sadar, ketika menjumpai tubuhnya berada dalam keadaan bugil serta berbaring dihadapan Kiam sianseng yang sedang duduk bersemedi dia segera menangis tersedu-sedu. Walaupun Kiam sianseng telah berusaha untuk membujuk dan menghiburnya tapi isak tangisnya belum juga mereda. "
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(