Lembah Nirmala Jilid 01

 
Jilid 01

BUKIT TENGKORAK

Sejak dulu hingga sekarang. bukit tersebut sesuai dengan namanya, selalu mendatangkan suasana menyeramkan dan menggidikkan hati.

Kegelapan malam telah menyelimuti seluruh angkasa, angin malam berhembus kencang menggoyangkan pepohonan dan ranting-ranting, mendatangkan suasana yang mengerikan bagi siapa pun yang kebetulan berada di situ.

Saat itulah, dari atas puncak bukit tengkorak, tiba-tiba berkumandang suara helaan napas panjang yang parau dan dalam.

"Aaaaai "

Menyusul suara helaan napas itu, terdengar suara seorang tua berkata dengan nada yang parau:

"Nak, semenjak ibumu meninggal dunia, kau selalu ikut ayah hidup di tengah bukit yang sepanjang tahun tak nampak cahaya matahari ini. nah sekarang ayah hendak membeberkan sebuah rahasia kepadamu."

"Ooooh cepat, cepat ayah" teriak bocah yang berada disisinya dengan suara keras, semenjak

anak Sia dapat berbicara, setiap hari aku selalu menantikan kesempatan semacam ini, ayah, cepatlah kau beberkan rahasia tersebut "

"Aaaai, kehidupan semacam ini pada hakekatnya memang tak akan sanggup ditahan oleh siapa saja, tak heran kalau kau sangat berharap dapat mengetahui kejadian. nak disaat ayah selesai membeberkan rahasia ini nanti mungkin jiwaku akan melayang meninggalkan ragaku, karena itu perhatikanlah dengan seksama dan ingat baik-baik setiap persoalan yang telah kuucapkan dengan begitu walaupun ayah mesti berpisah denganmu aku bisa berangkat dengan perasaan tenang dan lega. " Bocah itu segera menjerit kaget, air matanya jatuh bercucuran dengan sangat derasnya, biar begitu sama sekali tak terdengar suara isak tangisnya: karena bocah ini memang memiliki watak keras hati, semenjak dilahirkan dari rahim ibunya dia memang tak pernah menangis tersedu biar cuma satu kali pun.

"Nak, waktu yang tersedia tak banyak lagi, ayah pun tak akan mengucapkan kata-kata perpisahan yang hanya akan mengibakan hati saja, perasaan semacam ini lebih baik disimpan dalam lubuk hati saja dan tak berguna diutarakan. Sekarang, sebelum ayah menemui ajalnya, akan kuberitahukan tiga masalah kepadamu, ketiga persoalan ini merupakan tujuan dari kehidupanmu selanjutnya. karena itu kau jangan sampai melupakannya.

"Ke satu..."

Suara yang tua dan parau itu segera terhenti sejenak, kemudian terdengar suara gemerincingan nyaring bergema memecahkan keheningan, dari asal suara tadi nampak sekaligus cahaya yang berkelebat lewat lalu lenyap kembali, suasana pun pulih dalam keheningan yang mencekam.

"Pedang ini bernama Leng gwat ( rembulan sunyi ). merupakan senjata mestika yang tajamnya bukan kepalang tapi benda ini bukan milikmu, sekarang tak usah kau tanyakan mengapa, di kemudian hari kau tentu akan mengetahui sendiri latar belakangnya!"

Setelah mendehem dengan suara yang serak dan kering, kembali terusnya.

"Sejak kecil hingga besar kau selalu berdiam ditempat yang terpencil dan jauh dari keramaian dunia, tapi besok pagi ayah ijinkan kau turun gunung, hanya kau tak boleh pergi terlalu jauh, setibanya di jalan raya di bawah bukit sana berdirilah ditepi jalan dan nantikan kedatangan gurumu."

"Apa?" seru bocah itu sambil melompat bangun saking gelisahnya. ayah anak Sia belum pernah mendengar kalau anak Sia sudah punya guru."

"Hmm!, Kakek itu mendengus rendah-rendah, "biarpun dia merupakan gurumu. sesungguhnya dialah yang akan menentukan nasib kehidupanmu selanjutnya, kau harus menuruti setiap perkataan yang dia ucapkan, misalnya dia menyuruh kau mati. kau harus mati. kalau dia menyuruh kau hidup, kau pun harus hidup. betapapun dia menyiksa dan mencemooh dirimu, kau tak boleh melawan atau membangkang karena kesemuanya ini gara-gara kesalahan ayah sendiri dan merupakan ketidak-becusan ayah, Oooh anak Sia, gara-gara perbuatanku kaulah yang menderita dan tersiksa, apakah kau membenciku?"

Bocah itu berpaling, ia jumpai paras muka ayahnya begitu kering dan kurus, rambutnya yang beruban banyak yang sudah rontok, padahal dia tahu ayahnya baru berusia empat lima-puluh tahunan, penderitaan dan siksaan yang dialaminya setiap hari telah merubah ia menjadi demikian rupa.

Tanpa terasa serunya:

"Anak Sia adalah anak ayah, sudah sepantasnya bila ananda yang memikul semua tanggung jawab tersebut, oooh ayah, mengapa aku harus membencimu?"

Sekali lagi kakek itu menghela napas dengan wajah yang kusut.

"Anak baik, kau memang tak malu menjadi keturunan keluarga persilatan dari Kanglam, ayah bangga mempunyai seorang anak seperti kau, dan aku tak menyesal untuk mati sekarang juga"

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Hari ini adalah bulan dua belas tanggal empat, besok kau harus turun gunung dan menanti di tepi jalan. saat itu akan kau saksikan seseorang yang berpakaian perlente akan melewati jalanan tersebut, orang itu adalah gurumu, dia berwatak sangat aneh tapi termasyhur namanya seantero jagad, kau harus baik-baik menghadapinya, setiap saat mesti mawas diri, jangan beradu mulut dengannya dan tak usah membantah semua perkataannya, mengerti?" Melihat bocah itu sudah manggut-manggut, si kakekpun melanjutkan kembali kata-katanya: "Asal usulnya manusia berpakaian perlente itu masih merupakan sebuah teka-teki, usianya

tidak terlalu besar, namun tiada orang di dunia ini yang tidak mengenalinya, dia berilmu tinggi dan

tiada tandingannya di dunia ini dalam hal tersebut ayah merasa sedikit terhibur, Tentang apa sebabnya sampai ayah menghadiahkan kau menjadi muridnya, di kemudian hari kau akan mengetahui secara jelas sekarang ayah tak sanggup lagi membeberkan semua persoalan itu kepadamu. karena keadaanku kini tak ubahnya seperti lentera yang kehabisan minyak..."

Lalu terusnya lagi:

"Orang itu berwajah tampan, gagah dan menarik hati dilihat sekilas pandangan dia seperti seorang kongcu dari keluarga kaya yang lemah lembut tak bertenaga padahal ilmu silatnya luar biasa hebatnya, hanya di dalam setahun saja, secara berurutan dia sudah mengalahkan berbagai jago dari macam-macam aliran tiga belas propinsi di Kanglam dengan empat puluh tujuh buah sarang telah dijelajahi semua keadaannya waktu itu boleh dibilang merupakan daerah kekuasaannya, hampir semua pentolan Bu-lim menaruh rasa jeri kepadanya.

"Besok pagi, setelah kau bertemu dengannya, serahkan pedang rembulan sunyi ini kepadanya dan terangkan bahwa kau adalah putra tunggal ayah yang datang memenuhi janji, dia tentu akan menerima pedang ini serta mewariskan ilmu silat kepadamu."

Setelah menarik napas panjang-panjang, kakek berambut putih itu kembali berkata: "Ayah tahu bahwa kau adalah seorang bocah yang berwatak keras hati dan ingin mencari

kemenangan selalu, demikian juga dengan keluarga Kim kita, dari dulu sampai sekarang sifat kependekaran selalu mengalir didalam darah kita itulah sebabnya ayah pada dua puluh tahun berselang tak luput juga dari keadaan seperti itu."

"Ayah tahu, saban malam kau tentu berpekik sambil membawakan lagu yang penuh bersemangat ayah sadar kau adalah naga bukan katak dalam kolam, mengurungmu di dalam tanah perbukitan yang terpencil seperti ini sama artinya dengan suatu perlakuan yang keji dan tak berperasaan bagimu."

"Anak Sia, kau tak usah menyangkal ayah cukup mengerti akan kemasgulanmu itu sebagai seorang pemuda yang bercita-cita tinggi, memang tak baik hidup mengekang diri, tapi kaupun harus belajar silat dengan tekun, sebab hanya dengan jalan ini kau baru dapat muncul sebagai seorang manusia luar biasa, seseorang yang dipandang dan di hormati umat persilatan..."

Paras muka bocah itu tiba-tiba berubah menjadi semu merah namun sepasang matanya yang besar justru memancarkan sinar yang gemerlapan.

Ia terlalu gembira, kendatipun rasa sedih sempat menyelimuti perasaannya karena teringat bahwa ayahnya akan mati, namun sentuhan yang tepat pada rahasia hatinya membuat semangatnya segera berkobar kembali.

"Nak, mempersembahkan pedang mengangkat guru adalah tugasmu yang pertama, kedua, Pedang mestika rembulan sunyi ini merupakan mestika keluarga Kim yang sudah turun temurun. Bila kau merasa sudah berkemampuan di kemudian hari, janganlah sekali-kali kau biarkan orang lain mendapatkannya..."

Bocah itu menjadi tertegun setelah mendengar perkataan tersebut segera ujarnya.

"Ayah bukankah kau pernah bilang pedang mestika rembulan sunyi ini harus diserahkan kepada manusia berbaju perlente itu? Mengapa kau berkata demikian sekarang?"

Kakek itu menghela napas panjang.

"Benar, ayah memang pernah berkata begitu, tapi ini hanya berlaku saat kau hendak mengangkat guru dan belajar silat, disaat pelajaran silatmu telah selesai dan kau yakin sudah mampu mengalahkan gurumu, maka kau harus memaksanya untuk menyerahkan kembali pedang mestika rembulan sunyi kepadamu." "Manusia berpakaian perlente itu pernah bilang, dia akan mewariskan segenap kepandaian silat yang dimilikinya kepada murid-muridnya dan suatu saat apabila ada diantara murid-muridnya yang berkemampuan hebat serta mampu mengunggulinya merekapun boleh membinasakannya atau memaksanya melakukan sesuatu perbuatan yang tak ingin dia lakukan..."

"Manusia berpakaian perlente itu benar-benar sangat aneh" gumam si bocah itu kemudian tertegun sejenak, "Bila dia berbuat begitu terus dengan memperhatikan masalah di depan mata serta mengesampingkan keadaan dimasa mendatang, suatu ketika dia pasti akan mengalami nasib yang tragis."

Kakek itu mendehem pelan, lalu berkata lagi pelan-pelan.

Hampir semua yang menjadi muridnya merupakan hasil paksaan dengan mengandalkan ilmu silat, menurut apa yang ayah ketahui saat ini dia sudah mempunyai sembilan orang murid. angkatan tua dari ke sembilan muridnya tampil semuanya merupakan tokoh-tokoh silat kenamaan di dalam dunia persilatan tapi semuanya telah ditaklukkan olehnya dengan kekerasan sehingga mereka terpaksa menyerahkan anaknya untuk di jadikan murid oleh orang itu."

Ketika berbicara sampai di sini, tiba-tiba ia tutup mulut karena teringat olehnya bahwa diapun merupakan salah satu diantaranya, rasa malu yang segera menyelimuti perasaannya membuat kakek itu nampak tersipu- sipu.

Dengan mata terbelalak lebar bocah itu mengawasi ayahnya sekejap kemudian katanya: "Ayah tidak usah kuatir, perbuatan semena-mena manusia yang berbaju perlente itu pasti

berakhir tragis baginya bila di kemudian hari anak Sia telah berkemampuan cukup, perkataan ayah tentu akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya--"

"Persoalan ke tiga merupakan persoalan yang paling penting, ayah merasa tak mampu membongkar teka-teki ini sekalipun sudah banyak pikiran dan tenaga yang ku korbankan untuk melakukan penyelidikan"

Ketika berbicara sampai di situ mendadak kakek itu merendahkan suaranya, seakan-akan dia kuatir rahasia besar yang hendak di utarakan itu sampai kedengaran orang lain, sebagai seorang bocah yang pintar, cepat-cepat bocah itu menempelkan telinganya di sisi mulut ayahnya.

Dengan suara agak gemetar kakek itu segera berkata:

"Disekitar daerah Ho-lam terdapat sebuah lembah yang berpemandangan alam sangat indah dan sepanjang tahun empat musim selalu hangat bagaikan di musim semi, lembah itu terletak di suatu daerah terpencil dikelilingi bukit karang yang menjulang tinggi ke angkasa,

"Menurut cerita penduduk setempat, lembah itu bernama lembah Nirmala. setiap hujan badai sedang melanda dan guntur serta kilat sedang menyambar dari balik lembah tersebut selalu akan bergema suara nyanyian merdu dari seorang perempuan. Suara nyanyian ini selalu menyebar sampai di punggung bukit dan menggema tiada hentinya.

"Bagi rakyat jelata disekitar lembah yang berpengetahuan rendah, mereka selalu menganggap suara nyanyian itu berasal dari bidadari yang baru turun dari kahyangan, itulah sebabnya lembah itu mereka namakan sebagai lembah Nirmala yang mengandung arti lembah yang suci dan tak ternoda.

"Maka peristiwa inipun memancing rasa ingin tahu bagi para pemuda di desa sekitar tempat itu berbondong-bondong mereka siapkan rangsum serta melakukan penyelidikan.

"Siapa tahu, kawanan pemuda yang berangkat ke lembah Nirmala karena terdorong rasa ingin tahu ini ibarat bakpao menimpuk anjing, setelah pergi tak seorangpun yang balik kembali.

Lama kelamaan para penduduk setempat segera beranggapan sang bidadari telah gusar dan sengaja menghukum orang-orang itu, mereka menjadi was-was serta tak berani menyerempet bahaya lagi untuk melakukan penyelidikan. "Waktu itu kebetulan sekali ayah baru lulus dari belajar silat dan turun gunung, ketika melewati desa sekitar lembah Nirmala dan mendengar cerita itu, timbul rasa ingin tahu dalam hatiku, sebagai seorang pemuda bersemangat tinggi dan baru turun dari gunung, maka berangkatlah ayah ditengah suatu malam yang gelap menuju ke lembah Nirmala itu....

Dengan meminjam cahaya bintang yang redup serta mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, dalam waktu singkat ayah telah melalui beberapa buah lembah dan tiba di lembah Nirmala setengah harian kemudian.

"Ternyata lembah Nirmala itu merupakan sebuah lembah dengan pepohonan yang amat lebar batuan cadas berserakan dimana-mana, air terjun terbentang bagaikan sebuah tirai membuat suasana di sekelilingnya dilapisi kabut yang tipis.

"Lembah Nirmala memang sebuah sorga dunia, udara di situ hangat dan nyaman, kalau sewaktu berangkat ayah memakai mantel yang tebal untuk melawan udara dingin, maka setibanya didalam lembah harus dilepas semua sehingga tinggal pakaian ringkas yang tipis"

Ditengah suara air terjun yang gemuruh pepohonan siong yang bergoyang terhembus angin, suasana disekitar sana sangat hening dan tak kedengaran suasana yang lainnya...

"Sekalipun tempat itu subur dengan aneka bunga yang harum semerbak dan rerumputan nan hijau, tapi ayah justru merasa seolah-olah sedang memasuki neraka yang mengerikan sehingga bulu kudukku tanpa terasa pada bangun berdiri."

"Di bawah sinar rembulan yang redup, ayah menelusuri sebuah jalan setapak dengan langkah yang amat riang. Sementara tanganku tak pernah terlepas dari gagang pedang Leng gwat-kiam guna menghadapi segala sesuatu yang tak di inginkan.

"Ayah tahu, biarpun penduduk setempat mengatakan Lembah Nirmala sebagai tempat tinggal bidadari dari kahyangan dan menurut pendapatmu hal ini terlalu berkhayal dan mustahil namun ayah sadar, seseorang yang dapat bernyanyi ditengah hujan badai bahkan suaranya bisa terdengar sampai jauh di dusun sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa orang itu memiliki ilmu tenaga dalam yang amat sempurna. Betul kepandaian silat ayah terhitung tangguh, namun rasanya masih selisih jauh dibanding-bandingkan dengan orang itu.

"Maka dengan hati kebat-kebit menahan rasa ngeri dan seram, ayah berusaha keras untuk menyembunyikan diri dibalik batuan cadas begitu rapatnya aku bersembunyi meski ada orang yang lewat disisikupun tentu akan menemukan jejak ayah. "

Semakin lama berjalan ayah memasuki lembah itu semakin dalam, keadaan medan dalam lembah itupun kian lama kian bertambah melebar, tiba-tiba dari depan sana kutemukan banyak tulang belulang yang berserakan di atas tanah, ayah menjadi terkejut serta meneliti lebih seksama ternyata tulang belulang itu semuanya berada dalam keadaan utuh dan lengkap tapi ditangan masing-masing justru menggenggam sebongkah benda berwarna kuning, ayahpun mengambil sebuah dan diperiksa, benda itu berat sekali dan ternyata merupakan emas murni.

Ayah segera menghitung tumpukan tulang belulang yang berserakan di situ semuanya berjumlah dua ratus lebih, anehnya dalam genggaman mereka semua terdapat pula sebongkah emas murni, Andaikata ke dua ratusan bongkahan emas itu dikumpulkan jumlahnya pasti luar biasa sekali ayah tak mengira kalau lembah Nirmala merupakan sebuah tempat harta karun yang berjumlah begitu besar "

"Waktu itu ayah bercita-cita tinggi, memandang harta dan perempuan bagaikan kotoran manusia. hatiku sama sekali tak tertarik oleh benda-benda berharga itu, hanya pikirku waktu itu:

"Bila dilihat dari suara nyanyian itu bergema dari sini, berarti ada seseorang yang berdiam dalam lembah tersebut, padahal emas-emas itu dibiarkan berserakan disini tanpa bermaksud dikumpulkan kembali.

Sudah jelas peristiwa ini mengandung suatu rencana tertentu, siapa tahu kalau di atas bongkahan emas itu telah diolesi dengan racun keji sehingga mereka yang kemaruk akan harta tak dapat melanjutkan tujuannya untuk menyelidiki rasa ingin tahunya. Tapi tewas di sini." Namun baru saja ayah berpikir sampai di situ, tiba-tiba lenganku mulai terasa kaku dan kesemutan, aku sadar kalau keadaan tak beres. Hal ini pastilah dikarenakan tanganku telah menyentuh bongkahan emas tadi.

Namun dari sini pula membuktikan bahwa dugaan ayah betul, bongkahan tersebut telah diolesi seseorang dengan racun yang amat ganas.

"Untung saja tenaga dalamku cukup tangguh ditambah pula latihanku yang tekun membuat kemampuanku terhitung hebat juga, Dengan mengandalkan kemampuan inilah ayah menutup semua jalan darah ditangan kiri dan berusaha menahan menjalarnya racun itu, tapi ayah sadar keadaan seperti ini tak bisa berlangsung lama, mumpung masih bisa bertahan, dengan membawa kobaran hawa amarah yang meluap, ayah segera meneruskan perjalanannya ke dalam.

"Belum lama berjalan di bawah sebuah batu cadas kujumpai ada sesosok bayangan manusia sedang duduk di situ sambil menangis tersedu-sedu, ayah menjadi berteriak tapi tak berani mengusiknya maka akupun bersembunyi dibalik batu sambil mengawasi gerak-gerik orang itu?"

Bayangan manusia itu menangis amat sedih, suaranya sudah kedengaran parau namun dia masih menangis tiada hentinya bila dilihat dari rambutnya yang telah beruban, ayah tahu kalau usianya sudah lanjut tapi entah mengapa dia justru sedang dirundung kesedihan yang tak terhingga sekali menangis setengah jam sudah lewat, biarpun tangisannya keras tapi suaranya tak terdengar dari jarak sejauh sepuluh kaki. Padahal ayah tahu, kakek berambut putih itu berilmu tinggi, hanya saja ia mampu mengendalikan suara itu sehingga tak sampai terpancar sampai ditempat kejauhan"

"Ayah semakin terkejut ketika mengetahui kesempurnaan tenaga dalamnya, aku makin tak berani bersuara, Siapa tahu tangisan kakek itu tiada hentinya sedang lengan ayah terasa makin kaku, pikirku kemudian bagaimanapun jua aku toh bakal mati, mengapa tidak kuselidiki persoalan aneh itu agar matiku lebih puas? Dengan hati yang mantap akupun segera munculkan diri.

"Ternyata kakek berambut putih itu memiliki ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa, baru saja ayah melangkah keluar ia sudah mengetahui jejakku, sorot matanya yang tajam segera dialihkan ke wajahku, "Ayah mengerti, setelah ku intip rahasianya niscaya kakek itu tak akan berdiam diri begitu saja, cepat-cepat ku himpun tenaga dalamku sambil bersiap sedia melakukan perlawanan.

Siapa tahu kakek itu hanya memandang sekejap ke arah ku dengan wajah tertegun, lalu setelah celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu, tiba-tiba tanyanya. "Kau datang dari mana?-"

"Aku datang dari alam semesta!" jawab ayah.

Kakek itu segera berkerut kening dan menegur lagi dengan suara dingin.

"Kau anak murid siapa dan mau apa menghantar kematian kemari?" Ayah menyahut.

"Aku murid siapa bukan urusanmu kalau memang kau berkemampuan, silahkan menghajar diriku lebih dulu. Waktu itu ayah menganggap dia orang jahat sehingga kata-kataku sama sekali tidak bersungkan-sungkan"

Ketika kakek itu melihat kekerasan kepalaku, sekali lagi dia amati ayah dari atas hingga ke bawah, sejenak kemudian dia baru berkata:

"Bila kulihat dari paras mukamu yang bersih dan cerah, jelas kau tak bernasib tragis, tapi buat datang kemari? Apakah tidak kau lihat tumpukan tulang belulang yang berserakan di depan sana

?"

Ketika ayah menjumpai kakek itu berwajah saleh, lembut dan tidak mirip orang jahat, tanpa terasa nada suaraku juga ikut berubah menjadi lebih lembut, segera sahutnya.

"Bukankah Locianpwe juga datang ke mari? Terdorong oleh rasa ingin tahu setelah mendengar cerita penduduk setempat di sepanjang jalan Boanpwe sengaja datang pula ke lembah Nirmala ini untuk melakukan penyelidikan." "Apakah kau tidak takut mati?" tanya si kakek itu lagi dengan wajah serius.

"Jangan lagi didalam dada Boanpwe tidak terlintas ingatan, "Takut," sekalipun aku pengecut yang takut matipun saat ini tidak berharapan lagi untuk pulang dengan selamat." sahut ayah segera.

Kakek itu menjadi tertegun dan segera bertanya:

"Apakah kau telah meraba emas itu?"

Ayah tersenyum dan manggut-manggut membenarkan. Tiba-tiba kakek itu menghela napas sambil berkata:

"Aaaai... anak muda, kau masih muda dan gagah perkasa, mengapa sih tidak mencari kesenangan hidup ditempat lain, sebaliknya justru bilang kemari untuk menghantar nyawa ?"

Satu ingatan segera melintas dalam benak ayah setelah melihat orang itu meski menegur namun wajahnya yang penuh welas kasih justru mencerminkan rasa kuatir dan menaruh perhatian yang serius, kataku kemudian.

"Berhubung situasi telah berkembang menjadi begini, Boanpwe pun tak ingin pulang aku hanya berharap bisa menggunakan selembar jiwaku yang berharga ini sebagai taruhan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang aneh ditempat ini."

"Baiklah" kata kakek itu kemudian sambil menghela napas, "Kalau toh kau tidak takut mati akupun akan membiarkan kau mati dengan perasaan puas..."

Ketika berbicara sampai di situ, kakek itu kembali menarik napas panjang-panjang, kemudian setelah mencoba mempertahankan tubuhnya yang gontai, ia berkata lagi.

"Setelah selesai mengucapkan perkataan itu kakek berambut putih itupun mengajak aku menuju ke daerah yang lebih dalam lagi dari Lembah Nirmala. sepanjang jalan kujumpai banyak ruang gua yang berserakan. kabut tipis menyelimuti permukaan tanah. kendatipun sinar rembulan bersinar redup namun susah untuk melihat pemandangan sejauh lima kaki sepanjang jalan yang kami telusuri hanya jalan setapak yang serta suara memercik air yang lirih, selain itu hanya bayangan punggung si kakek yang kulihat di depan mata.

"Dalam perjalanan itu, tiba-tiba si kakek berpaling seraya berpesan:

"Anak muda. Kau harus mengingat baik-baik, kejadian aneh macam apapun yang kau jumpai nanti, jangan sekali-kali kau bersuara, kalau tidak maka kau akan mampus sebelum sempat melihat apapun.."

Biarpun ayah merasa keheranan, namun ayah tak ingin banyak berbicara pula, maka setelah mengiakan, ku ikuti terus perjalanannya.

Tak selang berapa saat kemudian, ayah mendengar banyak sekali suara rintihan yang memilukan hati. suara rintihan tersebut bergema tiada putusnya dan hampir semuanya mengandung hawa murni yang sangat kuat, boleh dibilang kesempurnaan tenaga dalam orang yang merintih itu jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Waktu itu ayah sangat terkejut bercampur keheranan tapi karena teringat akan pesan kakek berambut putih itu, aku tak berani bersuara, hanya kucoba untuk menentukan sumber dari suara rintihan tersebut.

Akhirnya aku berhasil menemukan sumber dari suara rintihan itu, ternyata gua suara tadi berasal dari balik gua-gua yang berserakan di sepanjang jalan, rasa ingin tahu segera menyelimuti perasaanku, tanpa sepengetahuan kakek tadi diam-diam ku intip gua-gua itu, Tapi.. begitu ku intip, hatiku menjadi amat terperanjat. ternyata dibalik gua kecil yang gelap itu muncul sorot mata yang tajam bagaikan sembilu sedang mengawasi wajahku lekat-lekat, dengan hati terkesiap cepat- cepat kutarik diri dan balik ke jalan setapak, Tapi dengan kejadian itu pula, aku jadi tahu bahwa dibalik goa-gua kecil yang mirip itu sebetulnya terkurung seseorang, biarpun ayah belum sempat menyaksikan kepandaian silat mereka, namun dari sorot mata yang tajam dapat kuketahui bahwa salah seorang saja diantara mereda sudah cukup menggoncangkan seluruh dunia persilatan.

Si bocah yang asyik mendengarkan kisah tersebut tiba-tiba menyela.

"Mengapa mereka bersembunyi dibalik gua kecil yang gelap sambil berkeluh kesah?"

"Soal ini tidak kuketahui, sudahlah kau jangan menyela dulu, dengarkan kisah ayah sampai habis dulu, kalau tidak, ayah kuatir tak sempat lagi menuturkan kisah tersebut hingga selesai"

Bocah itu segera menutup mulutnya kembali, ia tahu kisah cerita ayahnya sekarang berpengaruh besar bagi pengembaraannya dalam dunia persilatan di kemudian hari, Kembali kakek itu berkata:

"Tampaknya semua perhatian kakek itu sedang tertuju ke suatu tempat tertentu sehingga dia tak tahu kalau aku telah mengintip gua-gua kecil di sepanjang jalan.

Selang beberapa saat kemudian kami telah melewati jalanan setapak itu dan tiba di depan sebuah kolam yang luas dengan teratai tumbuh subur dalam kolam, rumput nan hijau, aneka bunga yang harum semerbak membuat pemandangan alam di situ kelihatan sangat indah, ayah yang belum pernah menyaksikan pemandangan semacam ini kontan saja jadi lupa daratan dan menikmatinya dengan termangu."

Tempat dimana ayah berdiri tidak lain merupakan depan sebuah gua terakhir, sementara aku masih memandang terpesona, mendadak terdengar seseorang menegurku:

"Hey anak muda, apakah kau datang dari alam semesta ? "

Ayah terkejut dan segera mendongakkan kepala namun selain si kakek tadi yang sedang mencuci kaki", di sekeliling tempat itu tidak kujumpai orang ke dua.

Sementara aku masih diliputi perasaan kaget bercampur keheranan, terdengar suara tadi bergema lagi:

"Hey anak muda, benarkah kau datang dari alam semesta ?"

Saat itu ayah benar-benar merasa terkejut bercampur bingung. Pikirku kalau bukan datang dari alam semesta, memang ayah datang dari neraka? Lalu pikirku lebih lanjut. tempat ini sesungguhnya masih berada di alam semesta, Mengapa orang itu justru mengucapkan perkataan itu, Mungkinkah dia adalah roh halus atau sukma gentayangan? Makin dibayangkan aku merasa semakin takut, namun teringat dengan pesan si kakek berambut putih tadi, terpaksa aku hanya mengangguk sebagai pertanda mengiakan.

Maka suara orang itupun kembali bergema.

"Kau tak usah takut anak muda, aku dengan ilmu menyampaikan suara dengan kau tak melihat wajahku, Eeei!!!. Bila kulihat dari ilmu langkahmu, sudah jelas gerakan tersebut merupakan ilmu meringankan tubuh Jit seng san hoat dari Ang gwat it-kiam, apakah kau adalah muridnya Ang gwat it kiam?"

Ayah semakin terperanjat, orang itu bisa menyampaikan semua perkataannya ke dalam telingaku dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara. hal ini membuktikan kalau tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, yang lebih mengherankan lagi adalah dia mengetahui nama guruku, ini yang membuatku amat tercengang.

Terdorong oleh perasaan heran dan ingin tahu, hampir saja aku membuka suara untuk bertanya, tapi suara tersebut cepat-cepat mencegahku.

"Ssst, jangan bersuara atau kau akan melanggar pantangan yang berlaku dalam lembab ini, akibatnya kati bisa digigitkan berpuluh ribu ekor ular beracun sampai mati"

Sementara ayah merasa kaget sampai tak mampu bersuara, suara tadi kembali berkumandang. "Anak muda, kau tak perlu berpikir yang bukan-bukan, dari hubunganmu dengan Ang gwat it

kiam berarti antara kau dengan akupun terjalin pula hubungan yang cukup erat. Atas dasar hubungan ini aku rela mempertaruhkan selembar jiwaku untuk melepaskan budi, kepadamu jangan bergerak du1u. Dengarkan semua keteranganku.

Setelah berhenti sejenak, suara itu bergema lagi.

"Ikutilah semua petunjukku dalam tindak tandukmu selanjutnya, dengan berbuat demikian mungkin kau masih punya harapan untuk hidup terus, ingat baik-baik bila kau bertemu dengan seorang gadis cantik jelita bak bidadari yang mengutarakan rasa cintanya kepadamu, jangan sekali kali kau layani dirinya biarpun gadis itu memang cantik jelita dan memiliki daya pikat yang luar biasa sehingga siapa saja yang memandang sekejap ke arahnya, tentu akan dibuat tidak mampu mengendalikan diri.

Belum habis keterangan tersebut diberikan kakek berambut putih yang menjadi petunjuk jalannya telah memberi tanda agar perjalanan dilanjutkan.

Saat itulah satu ingatan melintas dalam benak ayah cepat-cepat ku alihkan sorot mataku ke arah lain dan berlagak seperti terpesona sehingga tidak melihat ajaknya padahal hatiku amat gelisah karena keterangan dari orang yang memberi petunjuk dengan ilmu menyampaikan suara itu belum selesai diutarakan .

Agaknya orang itupun amat gelisah, keterangan yang disampaikan bertambah cepat, katanya lebih jauh.

"Kau mesti perhatikan baik-baik anak muda, bila menghadapi keadaan seperti ini, usahakan untuk menggigit lidahmu keras-keras kemudian meludahi wajah gadis cantik itu sambil berlagak mengumpatnya dengan kata-kata menghina.

"Hmm, perempuan rendah yang tidak tahu malu, mengapa tidak bercermin dulu untuk melihat betapa jeleknya tampangmu itu, huuuh, apa gunanya kau memikat diriku? Hmmm !"

Andaikata perempuan cantik itu menamparmu keras-keras bahkan memakimu dengan mempergunakan kata-kata yang kotor dan tak sedap didengar, maka kau pun harus balas menamparnya serta menggunakan rangkaian kata paling jelek untuk mencemooh raut wajahnya, dengan berbuat demikian mungkin kau masih ada harapan untuk hidup, sebaliknya bila kau tak mampu mengendalikan tujuh perasaan dan enam napsu, terutama sekali terpengaruh oleh "kecantikan" dan belas kasihan hingga sorot matamu memancarkan rasa cinta dan kasihan akibatnya benar-benar mengerikan bagimu, aaaai mungkin nasibmu akan seperti kami semua." perkataan orang itu mengandung kesedihan dan rasa sesal yang tak terhingga sehingga membuat hati ayah turut beriba...

Tak selang berapa saat kemudian terdengar suara itu kembali berkumandang. "Nah pergilah anak muda, sudah tiga puluh tahun aku belajar silat namun gagal mengendalikan tujuh perasaan enam napsu sehingga harus mengalami kehidupan tersiksa yang begini mengerikan dalam neraka dunia. aaaai, manusia bukan manusia, anjing bukan anjing, pada hakekatnya kami dijadikan sebagai kerbau dan kuda perahan, beginilah akhir dari sejarah kehidupan..."

Rintihan dan keluhan yang begitu menggelitik perasaan, membuat ayah tak mampu menahan emosi lagi hingga titik air mata tanpa terasa jatuh berlinang...

Tiba-tiba saja suara orang itu berobah menjadi periang kembali, katanya lebih jauh. "Rupanya kau si anak muda adalah seorang yang berperasaan kalau begitu aku tak menyesal

untuk mati bagimu, haaahhh.. haaahh... kehidupan manusia memang ibaratnya sebuah impian, disaat telah mendusin apa lagi yang perlu disesalkan? Haaah . . . haaah . . . berangkatlah bila kau memang bernasib baik dan diberi umur panjang, setelah bertemu dengan suhu hidung kerbau mu, sampaikan saja kepadanya.

Biau-biau-cu dari Tiong-lam san yang telah menolong selembar jiwa muridnya, akan kulihat bagaimana caranya membalas budi kepadaku di alam baka nanti." Ayah tidak mengetahui siapakah Biau biao-cu itu, namun secara lamat-lamat dapat kurasakan bahwa Biau-biau cu adalah, seorang tokoh silat yang berjiwa besar, tanpa terasa air mataku kembali berlinang setelah mendengar perkataan ini.

Dalam pada itu si kakek berambut putih yang menjadi petunjuk jalanku tadi sudah tak sabar lagi menunggu. dia menghampiriku dengan cepat lalu mencengkeram bajuku dan di bawa lari. Ayah hanya merasa angin berdesing tajam di sisi telinga membuat wajahku sakit bagaikan disayat, aku tak mengerti mengapa kawan jago aneh yang berilmu tinggi ini bisa disekap semua di sana, tapi bisa kuduga orang yang berhasil menyekap mereka pastilah seorang siluman iblis yang luar biasa hebatnya.

Sementara pikiran masih melintas, tiba-tiba terdengar kakek berseru kalau sudah tiba di tempat tujuan, ketika aku mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitar itu nyatalah bahwa tempat itu berpemandangan alam lebih indah, pepohonan yang rimbun, aneka bunga yang berbau semerbak mengingatkan orang pada sorga loka yang sering dilukiskan orang lain tanpa terasa kembali ayah menghirup napas panjang.

Aneka bunga yang lebat mengitari sebuah bangunan besar berwarna kuning, semua perabot dalam gedung tadi hampir seluruhnya terbuat dari bahan kayu pilihan, terutama sekali sebuah hiolo kemala yang terletak di sudut meja dalam ruangan, terbuat diri batu kemala hijau yang bening dan tembus pandangan entah berapa nilainya di pasaran bebas.

Asap dupa mengepul lembut dari balik hiolo memercikkan bau harum yang lembut,  kesemuanya ini menghilangkan kesan buruk bagi siapapun yang memandang, bahkan memberikan perasaan kerasan terutama bagi para jago persilatan yang sudah terlalu sibuk dengan masalah dunia persilatan.

Waktu itu mendadak kakek berambut putih tadi menunjukkan sikap yang sangat menaruh hormat. dengan suara lirih ia berpesan, "Anak muda, Jangan sekali-kali berbicara, kejadian aneh macam apapun yang bakal kau temui bertingkahlah seakan-akan tidak menaruh perhatian, kalau tidak maka saat ajalmu segera akan tiba."

Ayah menjadi merinding dan menghembuskan napas dingin setelah mendengar perkataan tersebut.

Dalam pada itu si kakek telah bertekuk lutut dan menyembah ke arah ruang tengah berwarna emas itu sambil berkata dengan penuh rasa hormat.

"Tecu Ing Goan san menantikan kehadiran dewi!" Mendengar perkataan ini ayah-pun segera berpikir: "Dewi apaan itu? Masa didalam Lembah Nirmala benar terdapat seorang dewi ?"

Sementara ayah masih dicekam rasa heran dan ingin tahu, tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu bergema dari balik ruangan menyusul kemudian terdengar seorang gadis berkata dengan nada suara yang merdu merayu bagaikan kicauan burung nuri.

"Dewi sudah mengetahui maksudmu mengingat kau berwatak jujur dan berhati lurus, kita sama sekali tidak memikirkan kepentingan pribadi maka pelaksanaan di undur tiga hari kemudian nah bangunlah dan ajak masuk bocah cilik yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi itu"

Cepat-cepat kakek itu menyahut: "Hamba berterima kasih sekali atas budi kebaikan dari dewi."

Sekalipun perkataannya penuh dengan nada terima kasih, namun paras mukanya sama sekali tidak menampilkan perasaan tersebut, malah sebaliknya justru memancarkan rasa benci dan dendam yang amat tebal, seakan-akan dia mendendam dan gusar namun tak berani mengutarakannya keluar.

Sebelum ayah sempat berpikir lebih jauh tubuhku telan diangkat oleh kakek itu dan bagaikan menenteng sebuah benda saja tubuh ayah langsung digotong ke dalam ruangan.

Sesampainya dalam ruangan ayah mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitar sana kau tahu, ternyata ruangan tersebut gemerlapan penuh dengan kilauan cahaya emas yang berwarna kuning, kiranya setiap benda dan perabot yang berada di sana terbuat dari emas murni, tak heran kalau ayah pun mulai curiga dan berpikir darimana si dewi itu peroleh harta karun sebesar ini...

Berbicara sampai di situ, si kakek segera bangkit dan meluruskan duduknya, lalu dengan sorot mata memancarkan serentetan cahaya cinta yang aneh, ia menghela napas serta melanjutkan kisahnya.

"Di dalam ruangan itu berdirilah empat orang gadis berbaju hijau, mereka berparas cantik jelita, berkulit tubuh putih bersih dan berdiri di sisi ruangan dengan sikap yang lembut, sementara didekat jendela duduk seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. ia mengenakan pakaian putih bersih bagaikan salju memiliki sepasang mata yang jeli, sebaris gigi yang putih bersih dan rata, hidung yang mancung, bibir yang kecil mungil serta kulit tubuh yang putih bersih bersemu merah terutama sepasang lesung pipitnya yang begitu menawan, perempuan tersebut hampir boleh dibilang memiliki kecantikan daripada kecantikan seluruh perempuan tercantik di dunia yang digabungkan menjadi satu, anehnya lagi kecantikan perempuan itu begitu wajar, sedikitpun, tidak nampak aneh sehingga membuat orang bagaikan berada dalam alam impian serta melihat bidadari yang baru turun dari kahyangan"

Kembali kakek itu menghela napas panjang, melihat bocah itu mendengarkan kisahnya dengan asyik sambil tersenyum terusnya.

"Di sisi gadis itu duduk seorang bocah kecil berusia enam-tujuh tahun. raut wajah bocah perempuan itu persis seperti wajah sang "Dewi" atau tidak dibilang bagaikan pinang dibelah dua, dia berwajah mungil dan manis biarpun masih kecil namun memiliki daya pikat yang luar biasa, kesemuanya ini membuat ayah menjadi tertegun dan termangu-mangu dibuatnya.

"Tapi begitu teringat dengan pesan dari Biau biau cu. ayah menjadi terkesiap dan cepat-cepat menarik kembali sorot mataku yang penuh dengan perasaan cinta ini sambil berpaling ke arah lain padahal hatiku berdebar amat keras. Waktu itu sementara benakku penuh diliputi oleh bayangan wajah si nona berbaju putih yang cantik jelita bak bidadari dan kahyangan itu..."

Si bocah menjadi amat gelisah setelah mendengar sampai di situ, cepat, selanya:

"Ayah mengapa kau tak dapat melenyapkan napsu dari hatimu? Bukankah hal ini merugikan bagimu seperti apa yang telah di katakan Biau biau cu locianpwe ?"

Kakek itu tersenyum. Sahutnya:

"Selama mengembara didalam dunia persilatan ayah sudah menemui banyak kejadian besar maupun kecil tapi tak satupun yang patut dibanggakan hmm! Tapi dalam hal ini ayah justru merasa amat bangga saban kali disaat aku sedang putus asa. bila terbayang kembali kejadian ini maka semangat ayah segera berkobar kembali."

Berbicara sampai di situ diapun segera berhenti sejenak, agaknya orang tua ini merasa rikuh untuk menyombongkan diri di hadapan putranya, karena itu ujarnya lagi:

"Sebenarnya ayah sudah mulai terpikat oleh kecantikan wajahnya untunglah disaat yang kritis ayah teringat kembali dengan pesan kakek dimasa lalu yang pernah berkata begini. Bagi seseorang yang belajar ilmu maka mengendalikan perasaan merupakan kunci utama, apabila mengendalikan perasaan saja tak mampu dilakukan apalagi untuk belajar ilmu ?."

"Begitu ajaran tersebut melintas lewat pikiran ayah segera menjadi tenang kembali diam-diam kusalurkan hawa murniku untuk melindungi seluruh badan serta mengusir semua godaan napsu yang mulai menyerang tiba, dengan dasar ilmu tenaga dalam yang ayah pelajari, dalam waktu singkat pikiranku menjadi tenang kembali, kubayangkan perempuan cantik yang berada di hadapan mata bagaikan tengkorak yang berwajah mengerikan cukup membetot sukma, namun ayah tak pernah berkedip barang sedikitpun jua.

Melihat putranya menunjukkan perasaan kagum dan hormat kakek itu tersenyum dan berkata lebih jauh. "Belum lama setelah kakek petunjuk jalan tadi mengundurkan diri, gadis cantik berbaju putih itu telah datang mendekati ku sambil menegur:

"Hey, mengapa sih kau tak menggubrisku? Waah gaya mu sok amat..."

Ayah masih teringat selalu dengan pesan, "Biau biau-cu, karena itu segera jawabku ketus: "Kalau mau sok lantas kenapa? Kau tak usah cerewet terus menerus. ada urusan apa sih kau

mengundangku kemari? Ayoh cepat sampaikan aku sudah tak sabar menanti!"

Paras muka nona berbaju putih itu segera berobah tapi sekejap kemudian telah putih kembali seperti sedia kala, malahan sambil tersenyum ibarat sekuntum bunga segar baru mekar dia berkata lagi:

"Oooh lagakmu memang amat besar ya, hal ini memang tak bisa disalahkan seseorang yang bernama semakin besar biasanya memang lagaknya makin besar pula kau masih muda, tampan dan berilmu tinggi, tentu saja tak terlepas dari kebiasaan tersebut."

Ayah sebagai seorang jagoan yang baru turun ke dunia persilatan seperti halnya dengan kaum muda lain, Biar tidak takut langit tidak takut bumi tapi paling takut kalau disanjung orang, apalagi yang menyanjung adalah seorang perempuan cantik yang tiada taranya di dunia ini. Saking senangnya mendengar sanjungan tersebut pertahanan ayah menjadi buyar apalagi setelah mengendus bau harum dari tubuh nona itu di tambah lagi memandang wajah si nona yang begitu cantik, gelombang napsu yang secara bertubi-tubi lambat laun membuat ayah tak sanggup mengendalikan ke tujuh perasaan dan ke enam napsu ku.

Di saat yang amat kritis inilah, mendadak kudengar suara bentakan menggeledek bergema datang:

"Bocah muda, kau memang tak becus. patut mampus. patut mampus.." Bentakan menggeledek ini segera menyadarkan kembali ayah dari pengaruh napsu, peluh dingin segera bercucuran membasahi sekujur tubuh berkerut kening dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sikap tersebut kontan saja membuat ayah menjadi terkesiap dan bergidik, aku tak berani lagi memikirkan yang bukan-bukan."

Tiba-tiba nada suara kakek itu berubah menjadi sedih dan murung, rasa sesal tercermin di atas wajahnya, lama setelah termenung dia baru melanjutkan kembali kisahnya.

"Kulihat nona cantik berbaju putih itu segera memberi tanda kepada ke empat orang dayangnya yang cantik itu sambil berkata. "Biau-biau-cu telah melanggar pantanganku, hadiahkan pedang pemutus nyawa baginya!"

Ke empat dayang itu segera menyahut dan beranjak pergi, ayah saksikan salah seorang diantaranya membawa sebilah pedang yang gemerlapan. sadarlah ayah, gara-gara ingin menyelamatkan jiwa ayah, Bia biau-cu telah mengorbankan selembar jiwanya.

Ayah menjadi gusar setali, sambit membentak keras kugunakan segenap kekuatan yang kumiliki untuk menyerang nona tersebut, dalam anggapanku dalam sekali ayunan tangan niscaya nona berbaju putih itu dapat kurubuhkan.

Siapa tahu belum lagi seranganku tiba dan belum lagi tenagaku dipancarkan, tahu-tahu lenganku ini sudah kena di cengkeram oleh nona berbaju putih itu entah dengan gerakan apa.

Ayah mencoba untuk meronta, dan berusaha melepaskan diri tapi usahaku ini sia-sia belaka maka ayahpun segera memakinya kalang kabut.

Siluman iblis perempuan jelek tak ku nyana kau bercokol di lembah Nirmala hanya bermaksud untuk melakukan tindak kejahatan yang tak berperikemanusiaan, hmm, suatu ketika kau pasti akan menerima pula pembalasan yang setimpal."

Dengan kening berkerut nona cantik berbaju putih itu segera melepaskan cekalannya lalu bertanya dengan wajah tertegun.

"Kau menyebutku sebagai apa ?" Tanpa berpikir panjang ayah segera memaki dengan gusar:

"Kau adalah siluman perempuan, mau apa kau ?"

"Aku adalah siluman? Jelekkah wajahku?" tanya nona berbaju putih itu ragu-ragu. "Tentu saja kau jelek bagaikan siluman" sahut ayah "hmm, kau mengira wajahmu cantik

bukan? Huuuh padahal dalam pandanganku, kau mempunyai wajah yang lebih jelek daripada perempuan manapun. kalau tak percaya periksalah dirimu Hmm sudah jelek tak tahu diri !"

Oleh makian ayah yang bertubi-tubi itu si nona menjadi kebingungan dan berdiri melongo, dia tak tahu apakah wajahnya benar jelek seperti apa yang ayah katakan, maka cepat-cepat ia mengambil cermin untuk bercermin setelah itu baru katanya lagi.

"Sungguh aneh, mengapa aku tidak merasa kalau wajahku jelek ?"

Ayah beranggapan bahwa bagaimanapun juga toh jiwaku akan melayang, mengapa harus berbelas kasihan lagi kepadanya karena itu aku pun berseru lagi dengan lantang.

"Tentu saja kau tak akan merasa kalau wajahmu jelek, tak ada manusia di dunia ini yang mengatakan dirinya jelek hmm. kalau kubilang kau sudah jelek masih tak tahu diri. Rasanya perkataan ini memang tepat sekali."

Paras muka gadis yang berbaju putih itu berubah sangat hebat sekali. Tiba-tiba saja dia merintih, tubuhnya membungkuk dengan penuh penderitaan saat itu ayahpun merasa tindakanku kelewat batas sehingga membuat seorang gadis yang begitu cantik harus menderita gara-gara dilukiskan terlalu jelek, baru saja aku hendak menghiburnya, tiba-tiba kulihat gadis berbaju putih itu berkerut kening, hawa napsu membunuhpun segera menyelimuti seluruh wajahnya

Sadar kalau kematian tidak akan lolos, tak urung ayah mandi keringat dingin juga, sebab hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya itu benar-benar sangat tebal. andaikata wajahnya tidak cantik bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan pada hakekatnya dia mirip sekali dengan seorang perampok yang membunuh orang tanpa berkedip......

Tanpa mengucapkan sepatah katapun si nona berbaju putih itu melepaskan tiga buah pukulan secara beruntun semua serangannya dilancarkan dengan cepat dan begitu ganas jangan lagi menghindarkan diri, bahkan kelopak mata ayah belum sempat berkedip, sekujur, badanku sudah terasa panas sesak bagaikan dibakar di atas api, sedemikian panasnya sehingga kalau bisa aku ingin terjun ke dalam gudang es yang paling dingin untuk melenyapkan hawa kering dan panas yang membara. Aku merintih dan mengeluh kesakitan, tapi nona berbaju putih itu hanya tertawa dingin tiada hentinya "Sorot matanya yang dingin dan matanya yang melotot besar# mengawasi diriku tanpa berkedip seolah-olah penderitaan yang ku alami justru merupakan obat pelipur lara baginya.

Setelah tersiksa hampir setengah jam lamanya, aku mulai tak sanggup menahan diri tapi nona berbaju putih itu tetap membungkam dalam seribu bahasa. ditatapnya keadaanku yang mengenaskan dengan pandangan dingin, tentu saja aku menjadi amat membencinya dan kalau bisa ingin membunuhnya dengan sekali pukulan..

Tapi apa daya kalau aku tak berkemampuan sebesar itu. Bukan begitu saja, bahkan penderitaan dan siksaan yang ku derita pun tak dapat ku hapuskan dengan begitu saja.

Pada akhirnya nona berbaju putih itu seperti sudah tak sabar lagi, ia bertanya dengan suara dingin:

"Ayo cepat kau jawab, aku jelek tidak??"

Aku sadar, berbicara terus terangnya sama saja akan berakibat kematian bagiku, daripada membuatnya senang, apa salahnya kalau membuat siluman perempuan itu justru menderita untuk selamanya.

Oleh sebab itu sambil menahan siksaan dan penderitaan aku kembali mengumpat: "Kau jelek, kau jelek sekali. sedemikian jeleknya sehingga tampangmu kelihatan lebih jelek daripada perempuan terjelek di dunia sekalipun."

Sekali lagi nona berbaju putih itu membungkukkan tubuhnya lantaran menderita.

Kulihat air matanya hampir saja jatuh berlinang, tapi perasaanku waktu itu justru gembira dan lega, begitu gembiranya sehingga tak terlukiskan dengan kata-kata, dengan geram ku ejek lagi:

"Manusia semacam kau sesungguhnya tak lebih cuma seekor ulat kecil yang patut dikasihani, mana wajahnya sudah jelek, sekarang diejek pula sebagai si jelek..... haaah haaah.,. . . haaah..."

Dengan gusar nona berbaju putih itu melotot besar dan menatap wajahku tanpa berkedip, dari balik matanya yang jeli memancar keluar dua rentetan sinar tajam bagaikan sembilu, begitu seramnya sorot mata tersebut membuat tubuhku menggigil dan tak mampu meneruskan perkataan lagi.

Selang beberapa saat kemudian, kudengar dia berseru pula dengan penuh amarah.

"Baiklah kau memakiku jelek, memakiku sebagai perempuan terjelek di dunia ini. maka akupun akan menggunakan siksaan yang paling keji di dunia ini untuk menghadapimu akan kucongkel keluar sepasang biji matamu, kupotong kaki dan lenganmu kubetoti semua otot-otot tubuhmu kemudian menggantungmu di atas pohon biar beribu ekor ular menggeragoti dagingmu menyayati kulitmu dan menggigit hatimu, coba kulihat apakah kau masih mengatakan aku jelek"

"Waktu itu ayah menjadi semakin geram, dengan amarah yang meluap-luap kembali aku memaki:

"Benar-benar tidak kusangka bukan cuma wajahmu yang jelek, ternyata hatimu juga amat busuk, Tak usah kuatir silahkan turun silahkan turun tangan untuk menyiksaku, suatu hari kau sendiripun akan dicincang oleh kaum jago dari kalangan lurus sehingga hancur berkeping-keping."

Nona cantik berbaju putih itu mendengus, "Hmm, aku tak percaya kalau ilmu silat yang dimiliki para jago dunia bisa jauh lebih hebat dari padaku hmm, setelah mendengar perkataanmu itu, aku jadi tak berhasrat untuk berdiam lebih lama lagi dalam lembah ini, kaupun tak usah menguatirkan tentang keselamatan para gentong nasi kaum jago dunia persilatan Dewimu masih mampu untuk mengirim mereka satu persatu pulang ke rumah nenek nya."

Begitu kudengar perkataan itu, ayah jadi kaget dan sadar, gara-gara perkataanku itu bisa jadi para jago dunia persilatan harus menanggung akibatnya, maka dengan perasaan geram kembali aku memaki.

"Bila kau memang bukan dilahirkan manusia. lakukanlah seperti apa yang kau katakan. saya memang tak mampu menghalangimu, tapi bila kau merasa bahwa dirimu dilahirkan oleh manusia, hmm,... "

Nona cantik berbaju putih itu segera tertegun setelah mendengar perkataan ini segera gumamnya.

"Aku adalah dewi aku adalah dewi... dewi yang memegang kekuasaan terhadap kehidupan manusia di dunia ini siapa bilang aku tak boleh membunuh, omong kosong.""

Agaknya makin dipikir nona cantik berbaju putih itu merasa semakin mendongkol dia segera memerintahkan orang untuk melemparkan ayah ke dalam sarang ular beracun.

Di saat yang paling kritis itulah, tiba-tiba terdengar nona cilik itu berseru keras:

"Ibu, jangan kau bunuh orang itu dia bukan orang jahat, lepaskan dia anak Jin tak berani melihat, oooh ibu, lepaskan dia"

Biarpun gadis cilik itu masih berusia muda, namun suaranya justru amat merdu bagaikan burung nuri yang sedang berkicau pada hakekatnya tidak berbeda dengan ibunya. Nona cantik berbaju putih itu kelihatan tertegun, lalu menyahut. "Anak Jin. kau tak boleh mencampuri urusan ini. orang tersebut sangat jahat, aku harus membinasakannya !"

Tiba-tiba nona kecil yang bernama anak Jin itu mengucurkan air mata dari balik kelopak matanya yang besar, sambil menggoyang-goyangkan lengan ibunya dia berseru lagi:

"lbu kalau kau membunuhnya, anak Jin tak akan berbicara lagi denganmu..."

Biarpun nona itu masih kecil tetapi wataknya justru berbeda dengan ibunya dibalik wajahnya yang polos dan suci terpancar sinar kelembutan, aku yakin dia tentu seorang gadis yang penuh berwelas kasih, Kembali nona berbaju putih itu tertegun, dia mengerling sekejap ke arah nona kecil itu, kemudian termenung dengan wajah serius tampaknya dia sedang mempertimbangkan persoalan itu tapi dilihat dari mimik mukanya, ayah dapat melihat bahwa dia amat sayang pada siona kecil itu bahkan rasa sayangnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Selang beberapa saat kemudian, dia baru berkata dengan nada sedih: "Baiklah, ibu mengabulkan permintaan mu !"

Nona kecil itu segera bertepuk tangan kegirangan, sedang selembar jiwa ayahpun berhasil diselamatkan oleh nona kecil itu..."

Sampai di sini, kakek itu mengawasi sekejap wajah putranya, lalu dengan wajah bersungguh- sungguh dia berkata:

"Kebaikan hati nona kecil itu tak terlukiskan dengan kata-kata, anak Sia. bila di hitung, maka usianya sekarang tidak jauh dengan usiamu andaikata suatu hari kau bertemu dengan seorang gadis macam begini di dalam dunia persilatan maka kau mesti bersikap baik kepadanya, kau tak boleh membuatnya menderita atau sakit hati daripada arwah ayah dialam baka tidak peroleh ketenangan."

Bocah itu segera manggut-manggut sahutnya, "Ayah tak usah kuatir, anak Sia tentu akan mengingatnya selalu didalam hati"

Kemudian katanya lagi.

"Bagaimana kemudian dengan cara apakah ayah berhasil meninggalkan perempuan keji itu ?"

Setelah tertawa kecil kakek itu berkata, "Setelah membebaskan jalan darahku yang tertotok agaknya nona cantik berbaju putih itu melihat lenganku berubah menjadi hitam maka setelah mendengus dingin diapun memberi sebutir pil penawar racun kepada ayah.

"Sebelum pergi meninggalkan tempat untuk mencegah agar ayah tidak membocorkan rahasia ini ditempat luaran, diapun memerintahkan salah seorang diantara tempat dayangnya yang berparas cantik, Cing soat untuk menjadi istriku!"

"Oooh, dia adalah ibuku" teriak bocah itu keras-keras.

Nada suaranya penuh dengan rasa rindu cinta, sebab sejak dilahirkan di dunia ini dia memang tidak berkesempatan menjumpai ibunya itu.

Tatkala melahirkan dia, Cing soat mengalami pendarahan sehingga menyebabkan jiwanya tak tertolong lagi.

Dengan sedih kakek itu berkata.

"Ya benar. Cing soat adalah ibu kandungmu, sebetulnya ayah tak mau namun akhirnya tak kuasa menahan desakan dari bocah perempuan yang bernama "anak Jin" itli akhirnya ayahpun mengabulkan.

Mula-mula ibumu masih saja menguasai setiap gerak gerikku dengan penuh curiga tapi sejak dia berbadan dua, apalagi setelah benihmu berada dalam rahimnya, semua pengawasannya makin mengendor ia bersungguh-sungguh hidup sebagai suami istri yang berbahagia dengan ayah, siapa tahu kebahagiaan ini tidak berlangsung lama, ditengah malam yang hening dia telah berpulang ke alam baka setelah melahirkan kau, aaai . .. Membayangkan kembali kasih sayang serta semua kenangan manis disaat mereka masih hidup dengan bahagia, kakek itu tak mampu menahan rasa pedihnya lagi, air matanya berceceran dengan deras sementara wajahnya nampak lebih pedih dan murung.

Tiba-tiba ia berpekik dengan penuh emosi, semua perasaannya yang terkekang selama ini dilampiaskan keluar semua, dia seperti lupa kalau dia adalah seorang yang hampir mati. Sampai akhirnya semua tenaganya terkuras dan hawa darahnya bergejolak amat keras, darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya dengan suara terbata-bata katanya lagi:

"Anak Sia. inilah tugasmu yang ketiga... rahasia besar yang menyelimuti semua penghuni gua tersebut tak mungkin dapat ayah bongkar... hanya kau.. kau .. anak ayah yang tersayang, dalam darahmu mengalir darah warisan dari leluhur nan yang anggun, aku... aku akan melindungimu dari alam baka. "berbuatlah kebajikan demi kepentingan umum, aku... aku tak kuat lagi! baik, baiklah kau jaga dirimu."

Ketika berbicara sampai disitu, kakek tersebut tak mampu lagi menahan diri, tiba-tiba ia berkelejetan sebentar lalu menghembuskan napas terakhir.

Titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajah bocah itu, namun ia tak bersuara, hanya pancaran sinar matanya yang nampak diliputi kepedihan yang tak terkirakan.

"Ayah-- semua tugasmu akan kulaksanakan hingga selesai---" gumamnya, "aku berjanji akan menyelesaikannya-- aku akan selain mengingat perkataanmu," perasaan yang tebal bukan untuk diperlihatkan di wajah lihatlah, bukankah aku tak menangis? Meski aku menaruh perasaan yang jauh mendalam daripada isak tangis."

Suasana amat hening hanya angin yang berhembus sepoi-sepoi.

xxXxx

MATAHARI bersinar cerah menerangi seluruh jagad apalagi di musim gugur yang berangin kencang, tampak daun-daun kering berguguran memenuhi tanah.

Seorang pemuda berbaju putih pelan-pelan berjalan menuruni bukit tengkorak. Pemuda itu berusia enam-tujuh belas tahunan berwajah tampan dan bertubuh tegap.

sekalipun ia tidak termasuk seorang pemuda tampan namun alis matanya yang tebal lagi hitam cukup mendatangkan daya rangsangan yang besar bagi setiap gadis remaja yang menjumpainya karena dari situlah terpencar sifat kejantanannya.

Bahunya amat lebar dengan perawakan yang tegap namun wajahnya nampak agak putih, Hal ini menunjukkan bahwa dia sudah lama berdiam di suatu tempat yang sama sekali tak tertimpa cahaya matahari.

Ia turun gunung sambil membawa sebilah pedang mestika sepanjang empat depa di tangan kirinya dan setibanya di tepi jalan diapun duduk di atas batu dan memandang ke tempat kejauhan sana sambil bertopang dagu.

Dari pagi sampai siang, dari siang sampai senja...

Waktu berjalan terus bagaikan merangkak, kalau semula matahari muncul di ufuk timur, kini sang surya telan menyembunyikan diri di ujung langit barat.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(