Kereta Berdarah Jilid 21

Jilid 21

“SOAL itu lak bisa aku kerjakan. haruslah kau ketahui hubungan yang paling erat di bawah kolong langit ini adalah hubungan kasih sayang antara ayah-ibu putra dan putri. bilamana diantara ini sama sekali tidak memperlihatkan rasa kasih sedikitpun maka manusia itu tidak lebih hanyalah binatang2 yang tak tahu diri!”

Selesai mendengar perkataan itu si sastrawan berusia pertengahan tersebut tertawa tergelak-gelak karena dia tahu bahwa perkataan tetsebut sengaja diucapkan Koan Ing untuk dia dengar tetapi ia sama sekali tidak ambil perduli.

“Haaa.... haaa.... kau tak kehilangan sifat dari seorang lelaki sejati cuma sayang ada cacatnya.” katanya sambil tertawa.

Dengan pandangan yang sangat tajam. Koan Ing memperhatikan si sastrawan berusia pertengahan itu, dia yang melihat di atas wajahnya sama sekali tidak kelihatan perubahan apapun dalam hati segera mengerti bilamana dia bukanlah seorang nabi sudah tentu adalah manusia licik yang sangat berbahaya.

“Aku rasa diantara kita tak usah membicarakan persoalan ini lagi,” ujarnya kemudian dengan perlahan. “Kita sudah cukup banyak membicarakan tentang nasehat serta petuah yang tak berguna itu, tiap2 orang bertindak sesuai dengan kehendaknya sendiri2 aku rasa kitapun tak usah saling berusaha untuk menaklukan pihak lawannya dengan menggunakan kata-kata.”

“Hmm! tapi aku tak bermaksud untuk menaklukan dirimu dengan menggunakan kata-kata. aku hanya mengharapkan kau suka memahami keadaan diriku.”

“Kalau begitu katakanlah, akan aku dengarkan.” “Perbuatanmu kali ini benar-benar tidak memberi muka kepadaku seru si sastrawan berusia pertengahan itu sambil tertawa, “tetapi biarlah! Aku akan bekerja sesuai dengan kemampuanku. Aku hanya mengharapkan di kolong langit ada kedamaian, dan satu2nya cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah melepaskan senjata.”

Selesai berkata dia menoleh ke arah sipemuda dan memandangnya dengan tajam.

Koan Ing selama ini hanya mendengar saja tanpa ikut ambil komentar agaknya dia sama sekali tak tergerak hatinya oleh perkataan tersebut.

“Aku rasa inilah satu2nya cara yang bisa dilaksanakan” ujarnya kembali sambil tertawa. “Balas-membalas, bunuh- membunuh, bilamana tidak diakhiri mulai saat ini, sampai kapan baru bisa berakhir? Bilamana semua orang tidak menggunakan kekerasan dan senjata lagi, maka di dalam duapuluh tahun terakhir dunia bakal aman dan damai!”

Koan Ing tertawa tawar, dia tetap tak mengucapkan sepatah katapun.

“Di dalam kolong langit pada saat ini kaulah yang paling terkenal dan paling gagah” ujar si sastrawan itu lagi sambil kerutkan dahi. “Bilamana secara sukarela kau suka melepaskan pedang maka aku berani bertaruh pasti banyak orang yang ikut terharu dan mengikuti jejakmu, haaa....

haaa.... nah, sampai waktu itu dunia tentu akan aman dan tenteram!”

Selesai berkata kembali dia orang memandang tajam wajah Koan Ing.

Koan Ing pun mengerutkan alisnya rapat-rapat. Sebelum dendam sakit hati ayahnya terbalas bagaimana mungkin dia orang suka lepaskan pedang? “Hmm! Jikalau kau merasa perkataanmu sudah habis maka kau serahkan Cha Ing Ing serta obat pemunahnya!” katanya tawar.

Si sastrawan berusia pertengahan itu sewaktu melihat sang pemuda sama sekali tidak tergerak hatinya oleh perkataannya, kembali tertawa terbahak-bahak.

“Aku tahu kau orang tidak bakal suka mendengarkan perkataanku, tapi kau harus tahu perkataanku itu adalah perkataan yang keluar dari lubuk hatiku dan dengan maksuk baik untuk menasehati dirimu. Aku mengerti kalau banyak orang yang berotak tumpul dan tak bisa mengetahui apa yang aku maksudkan tetapi aku sama sekali tak punya cara lain.”

Sinar mata Koan Ing berkilat, tetapi mulutnya tetap membungkam seribu bahasa.

Dari dalam sakunya si sastrawan berusia pertengahan itu segera mengambil keluar pil berwarna merah darah, katanya sambil tertawa, “Orang berkata rimba Wang Yu Liem merupakan salah satu dari tiga tempat terlarang, tapi aku rasa tidaklah demikian! Selama hidup, aku selamanya mengutamakan kedamaian dan paling menentang orang yang suka mengutamakan kekerasan. Karenanya aku telah menyediakan sebutir pil yang bernama ‘Wang Yu Kuo’ atau buah pelupa kemurungan, siapa saja yang telah menelan pil ini, maka dia pasti akan melupakan kemurungan dan kesedihan, bahkan kepandaian silatnyapun akan punah dan dia akan jadi seorang biasa yang mencintai kedamaian!”

“Bilamana orang lain tidak suka menelan pil tersebut? Aku kepingin tahu kau masih ada cara apa lagi untuk menggunakan cara damai tanpa meminta mereka menelen pil itu?”

“Haaa.... haaa.... sudah tentu aku mempunyai cara untuk memaksa mereka menelan pil ini secara sukarela, dan aku tidak bakal menggunakan kekerasan!” Koan Ing yang mendengar perkataannya, semakin lama semakin tidak keruan dan hatinya jadi rada jengkel lalu pikirnya, “Hmm! Apa-apaan nih. Karena bilamana apa yang ia katakan sungguh-sungguh bisa dilakukan, bukankah dia bakal jadi seorang Nabi besar?”

Berpikir Sampai disitU, tak kuasa lagi ia telah mendengus dingin.

“Apa yang kau pikirkan, aku orang telah memahami sejelas2nya, akupun tahu kalau pekerjaan ini hanya bisa dilakukan oleh seorang yang berbakat dan berakal setan. Maaf aku orang tak sanggup untuk melakukannya, sekarang silahkan engkau serahkan obat pemunah serta Cha Ing Ing.”

“Haaa.... haaa.... permintaanku yang terakhir adalah mohon kau suka menelan pil “Wang Yu Kuo” ini, dan setelah pil ini kau telan, maka aku segera akan melepaskan Cha Ing Ing dan menyerahkan obat pemunah tersebut kepadamu!”

Dengan dinginnya Koan Ing tertawa panjang, ia tidak menyangka kalau perkataan yang amat banyak dan berbelit2 itu akhirnya hanya memancing dia sudah terjatuh ke dalam perangkapnya, waktu itulah ia baru merasa menyesal, kenapa sejak tadi ia suka mempercayai orang semacam ini.

“Heee.... heee. bilamana aku tidak suka menelan pil itu?”

tanyanya dengan suara berat.

“Aku bisa bertahan pada pantanganku, jaitu tidak menggunakan kekerasan, tetapi kau adalah seorang manusia, yang penting aku harus berusaha hingga mencapai hasil dan melihat kau lepaskan pedang secara sukarela!”

“Hee.... hee, kebetulan, kebetulan, aku memangnya kepingin sekali melihat kau orang hendak menggunakan cara apa untuk paksa aku menelan pil tersebut!!” kata Koan Ing sambil bangun berdiri. “Aku akan melanjutkan tujuanku membuat hatimu jadi takluk setelah kau takluk maka aku baru serahkan obat pemunah serta Cha Ing Ing kepadamu, kalau tidak aku tak akan serahkan semuanya itu kepadamu!”

Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi sangat gusar, sehingga dengan pandangan sinis dia memperhatikan diri si sastrawan berusia pertengahan itu.

“Kau sungguh merupakan seorang manusia yang tidak tahu malu!!” bentaknya dengan gusar.

“Hee.... hee semisalnya saja kau dengan Ciu Tong adalah musuh buyutan yang mempunyai sakit hati sedalam lautan,” kata majikan Rimba Wang Yu Liem lagi sambil tertawa tawar. “Tetapi bilamana kalian suka menggabungkan diri dengan pihak Rimba Wang Yu Liem kami, maka kalian akan saiing mencintai dan saling mengasihi seperti saudara sendiri, bukankah hal itu sangat bagus sekali?”

“Ehmmm.... ternyata tidak jelek juga.” kata Koan Ing sambil tertawa *Caramu untuk mencari kedamaian benar- benar sangat manjur sekali, tetapi akupun mempunyai cara untuk menghadapi manusia semacam kau, dan terhadap kau orang aku harus menggunakan hati yang terbuka dan menang buKannya menggunakan pedang!”

Selesai berkata dengan perlahan ia memasukkan kembali pedang kiem-hong-kiamnya ke dalam sarung, kemudian setelah memandang tajam sisasterawan berusia pertengahan itu baru selangkab demi selangkah dia mendesak maju ke depan,

“Kendati aku orang tak akan menggunakan kekerasan untuk menghadapi dirimu tetapi bilamana menghadapi keadaan yang kepepet aku masih punya kekuatan untuk membela diri!” seru orang itu tertawa.

“Hmm? Kau punya kekuatan untuk membela diri!?” teriak Koan Ing ssmbil tertawa dingin. Tubuhnyapun menubruk ke depan pedang Kiem-hong- kiamnya dengan disertai suara dengungan yang keras bagaikan kilat cepatnya meluncur ke arah sisasterawan berusia pertengahan itu,

Buru-buru majikan dari rimba Wang Yu Liem ini mengundurkan diri ke belakang, sedang, pedang kiem-hong- kiam dan Koan Ing laksana serentetan pelangi merah dengan meluncur ke depan, kecepatannya bagaikan sambaran kilat Agaknya sisasterawan berusia pertengahan ini sejak semula telah menduga kalau Koan Ing tak mungkin bisa ditaklukkan, tetapi dia pun tak menyangka kalau datangnya serangan pedang dari pemuda tersebut dapat demikian cepatnya.

Tubuhnya mepet ke arah dinding sedang tangan kanannya dengan cekatan menekan sebuah tombol....

“Grrr.... ” dengan menimbulkan suara yang amat keras terbukalah sebuah dinding batu yang amat besar disusul berkelebatnya sebuah cambuk menghajar pergelangan tangan Koan Ing.

Melihat datangnya serangan tersebut Koan Ing merasa hatinya rada berdesir, karena di dalam sekali pandangan saja ia telah dapat melihat kalau orang yang membokong dari tempat kegelapan itu bukan lain adalah Tong Phoa Pek.

Ditengah bentakan yang amat keras pedang kiem-hong- kiamnya ditarik kembali, pada ujung pedangnya laksana kilat menyajat keujung cambuk tersebut.

Dan terlihatlah tubuh Tong Phoa Pek dengan ringannya mencelat kesamping, pada tangan kirinya masih mengempit tubuh Cha Ing Ing sedang tangan kanannya melemparkan cambuk tersebut ke arah sang pemuda disusul pedangnya dicabut keluar dari dalam sarung.

Melihat kejadian itu Koan Ing merasa amat kaget, bagaimana tingginya kepandaian ilmu silat yang dimiliki oleh Tong Phoa Pek pemuda itu mengetahui dengan amat jelas, kini iapun lagi mengempit tubuh Cha Ing Ing sebagai sandera. hal ini menunjukkan keadaannya amat kejepit.

Berbagai ingatan dengan cepaf berkelebat di dalam benaknya, beberapa saat kemudian tiba-tiba ia membentak keras tubuhnya laksana burung elang saja dengan cepatnya menubruk ke depan, pedangnya menutul ke arah cambuk yang sedang melayang ke arahnya lalu diteruskan mengancam iga dari musuhnya.

“Tong Phoa Pek.... ” teriaknya marah....

Baru saja membentak sampai ditengah jalan mendadak ia menemukan kalau sinar mata Tong Phoa Pek amat sayu tak bersinar, jelas ia telah dikuasahi kesadarannya oleh si sastrawan berusia pertengahan itu, hatirja segera merasa rada berdesir laksana terjerumus ke dalam jurang es.

Tidak menanti majikan Rimba Wang Yu Liem buka bicara lagi ia telah berteriak keras, “Bilamana kau berani memerintahkan Tong Phoa Pek untuk mengganggu seujung rambutnya saja aku akan menyuruh kau segera bermandikan darah di atas lantai.

Bersamaan waktunya pula ia menubruk maju ke depan pedangnya membabat ketubuh Tong Phoa Pek....

“Traang....?” sepasang pedang terbentur menjadi satu menimbulkan bunga-bunga api tampaklah cahaya hijau dan keemas-emasan berkelebat menyilaukan mata, seketika itu juga seluruh angkasa telah dipenuhi dengan tenaga tekanan yang menyesakkan mata,

Pada saat ini Koan Ing melancarkan serangan dengan menggunakan sepenuh tenaga sebaliknya Tong Phoa Pek yang kena dipengaruhi kesadarannya oleh si sastrawan berusia pertengahan itu, tanpa terasa pula tenaga dalamnya telah mendapatkan sedikit gangguan. Maka begitu masing-masing pedang terbentur satu sama lainnya Tong Phoa Pek segera kena terdesak di bawah angin dan mundur beberapa langkah ke arah belakang dengan sempoyongan.

Koan Ing yang serangannya berhasil mengubah posisinya  di atas angin tidak mau membuang kesempatan yang baik ini lagi, ditengah suara suitan yang amat keras serangan pedangnya laksana curahan air hujan dengan gencarnya mencecar pihak musuh.

Melihat kejadian yang lagi berlangsung di depan mata si sastrawan berusia pertengahan itu hanya berdiri termangu- mangu saking kaget dan cemasnya, ia sama sekali tidak menduga bila mana Koan Ing berhasil meneter musuhnya hingga jatuh di bawah angin pada permulaan serangan. Bahkan dugaannya terhadap Tong Phoa Pek yang memiliki kepandaian dahsyat ternyata sama sekali meleset.

Oleh karena kejadian ini jelas sekali telah membuktikan kalau Koan Ing sipemuda yang baru berusia dua puluhan itu memiliki tenaga dalam yang jauh berada di atas Tong Phoa Pek,

Maka tubahnya dengan perlahan mengundurkan dirinya ke sebelah dalam guha itu.

Tujuan dari Koan Ing melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga justeru bermaksud untuk menawan si sastrawan berusia pertengahan itu. Kini melihat ia pergi mau molor, tangan kirinya segera dengan cepat mengajun ke arah depan....

“Sreet!” sebuah anak panah dengan disertai suara desiran yang tajam menukik ke depan dan tepat menancap disisi wajahnya.

“Jangan bergerak!” bentak Koan Ing dingin. Hati si sastrawan itu jadi tergetar, dia m rasa menyesal dirinya terlalu memandang rendah tenaga dalam serta kepandaian silat dari Koan Ing sehingga memaksa dirinya kini berada pada posisi yang amat membahayakan.

Kembali terlihat cahaya pedang yang berkilauan menyilaukan mata, dan masing-masing pihak saling menggencet dan meneter pihak lawannya dengan sepenuh tenaga, tetapi kelihatan sekali Tong Phoa Pek sudah terdesak karena saat ini ia terus mundur ke belakang tiada hentinya,

“Koan Ing cepat hentikan seranganmu.” bentak sisasterawan itu secara tiba-tiba. “Apakah kau sudah tidak maui obat pemunah ini lagi?!”

Koan Ing dengan tajam melirik sekejap ke arah orang itu, saat ini ia sudah mengerti benar kalau sisaserawan tersebut adalah seorang manusia yang sangat berbahaya dengan akalnya yang banyak serta sifatnya yang licik laksana ular berbisa.

“Heeee hee . aku rasa kaupun bakal serahkan barang itu

secara suka rela.” sahutnya tawar.

Walaupun perkataan dari Koan Ing ini diucapkan seenaknya saja tetapi bagi Majikan dari Rimba Wang Yu Liem hal ini membuat hatinya bergidik, karena jelas sekali maksud dari perkataan Koan Ing barusan ini adalah hendak memberi siksaan kepada dirinya kemudian baru paksa minta obat pemunah tersebut.

Buru-buru ia bersiul dua kali disusul dengan tangan kanannya diajunkan ke depan melemparkan sebungkus obat ke arah pemuda itu.

“Koan Ing terimalah obat pemunah itu!”

Koan Ing kerutkan keningnya rapat-rapat belum sempat dia orang mengambil keputusan untuk menerima bungkusan obat itu tahu-tahu Tong Phoa Pek telah ajunkan pula tangan kirinya melemparkan tubuh Cha Ing Ing ke arahnya.

Tujuan Koan Ing datang kesana justru dikarenakan benda serta manusia ini, maka tubuhnya buru-buru meloncat ke samping sedang, tangan kirinya berkelebat ke depan menyambut tubuh Cha Ing Ing serta bungkusan obat itu

Setelah tubuhnya berdiri tegak kembali dalam hati pemuda itu baru merasa heran kenapa Tong Phoa Pek tidak melakukan pengejaran? Matanyapun dengan cepat menyapu sekejap ke sekelilingnya.

Tampaklah dinding batu yang semula membuka kini telah merapat kembali, kiranya si sasterawan berusia pertengahan itu telah bersembunyi didalam, sebaliknya dari empat penjuru bermunculan puluhan orang berbaju hitam yang masing- masing pada mencekal sebilah pedang yang menyilaukan mata.

Melihat akan hal itu, Koan Ing merasa hatinya bergidik....

“Ooow.... kiranya begitu!” pikirnya dihati “Karena ia tak sempat melarikan diri maka orang-orang yang telah diatur sejak tadi tak bisa diperintahkan untuk keluar ”

Telapak tangannya dengan segera cepat ditabokkan ke atas tubuh Cha Ing Ing untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

Dan dengan perlahan-lahan Cha Ing Ing membuka matanya, setelah melihat Koan Ing ada di samping tak kuasa lagi sambil memeluk tubuh pemuda itu kencang-kencang ia menangis tersedu-sedu.

Engkoh Ing! kau jangan tinggalkan aku lagi ”

Koan Ing tersenyum, tangannya dengan perlahan membelai rambut sang gadis yang hitam pekat tersebut, sedang matanya menyapu sekejap ke sekelilingnya.... Walaupun saat ini ia tidak mengetahui bagaimanakah keadaan dan situasi yang sebenarnya tetapi hatinya jauh lebih tenang daripada tadi.

Atau paling sedikit saat ini ia tinggal menerjang keluar dari kepungan dan bereslah sudah!

“Koan Ing! kau menyerahlah, saat ini kau tak bisa lolos lagi.... walaupun kau punya sajappun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini!” seru sisasterawan berusia pertengahan itu dari balik dinding gua.

“Ooouw.... jadi inikah yang kau maksudkan sebagai cara yang sama sekali tidak menggunakan kekerasan?”

“Haa.... haa.... haa.... kau jangan berkata begitu tajam, karena untuk menghadapi manusia tumpul otak semacam engkau terpaksa aku harus menggunakan cara ini, apalagi akupun berbuat demikian untuk membela diri”

“Oouw bukankah tujuanmu adalah menginginkan semua orang jangan menggunakan kekerasan? Mana mungkin tindakanmu ternyata harus menggunakan kekerasan juga untuk mencapai tujuan?” ejek pemuda itu dingin.

Selesai berkata, dia tertawa menghina, dan sambil menggandeng tangan Cha Ing Ing dengan langkah lebar berlalu dari sana.

“Engkoh Ing!” tiba-tiba Cha Ing Ing berseru sinar matanya berkilat. “Mengapa kita tidak gunakan saja ilmu pedang ‘Cuo Ci Ju Ju’ atau kiri menangkis kanan menahan?”

Seketika itu juga Koan Ing jadi sadar kembali, pikirnya, “Ach.... perkataan dari Ing Ing ini sedikitpun tidak salah, kenapa aku orang begitu goblok?”

Maka dengan cepat ia serahkan pedang Kiem-hong- kiamnya itu kepada Cha Ing Ing sedang ia sendiri menggunakan sarung pedang sebagai senjata kemudian bersama-sama bartindak keluar, Sisasterawan berusia pertengahan hanya dengus dingin, atau berturut-turut ia bertepuk tangan sebanyak tiga kali.

Dan orang-orang berbaju hitam diempat penjuru itu bersama-sama dengan Tong Phoa Pek yang berhasil dikuasai kesadarannya oleh si orang berusia pertengahan itu setelah menerima perintah bersama-sama menyerbu ke depan.

Koan Ing segera membentak keras, sarung pedangnya menyerang ke depan dengan tenaga gabungan dari mereka berdua yang mengirim satu babatan ke arah musuh2nya.

Tetapi orang-orang berbaju hitam yang ada diempat penjuru itu merupakan jago pilihan yang berhasil ditawan oleh orang-orang pihak Rimba Wang Yu Liem dan sudah tentu kepandaian silat mereka benar-benar luar biasa sekali.

Di bawah serangan gabungan dari berpuluh-puluh orang itu sekalipun jurus serangan yang dipergunakan Koan Ing berdua merupakan jurus serangan yang sangat anpuh di kolong langit tetapi tenaga tekanan dari empat penjuru benar-benar luar biasa sekali yang membuat mereka berdua hampir-hampir tak dapat menggeserkan badannya setengah tindakpun.

Baik Koan Ing maupun Cha Ing Ing segera amat terperanjat, karena bilamana jurus serangan mereka tak sempat dimainkan keluar maka di bawah serangan gabungan orang yang sedemikian banyaknya ini terpaksa hanya duduk sambil menanti ajalnya.

Mereka berdua merasa amat terperanjat. apalagi sisasterawan berusia penengahan itu semakin terkejut lagi dibuatnya, karena dengan kekuatan gabungan dari beberapa orang ini sebetulnya tak bakal sampai memandang sebelah matapun terhadap tiga, lima orang semacam Koan Ing, tetapi dia tidak menyangka kalau Koan Ing serta seorang gadis cilik itu berhasil menangkis dan memunahkan serangan gabungan mereka. Dengan dinginnya ia segera mendengus, orang-orang itupun bersama-sama membentak keras dan serangan pedangnya ditarik ke belakang kemudian dari serangan ke atas ini mulai menekan ke arah bawah, jelas sekali kalau mereka bermaksud agar Koan Ing berdua dapat menerima serangan pedang mereka dengan keras lawan keras.

Sinar mata Koan Ing jadi berkilat, dengan gusarnya ia membentak keras. Tangan kirinya buru-buru memasukkan bungkusan obat itu ke dalam saku Cha Ing Ing sedangkan tangannya yang lain dengan menggunakan sarung pedang menahan serangannya yang mengarah lubang kelemahan mereka.

Cha Ing Ing benar-benar amat kaget, ia sama sekali tak menduga kalau Koan Ing bisa melakukan serangan dengan menggunakan tindakan tersebut, di dalam keadaan kurang waspada itulah tubuhnya yang terlempar ditengah udara hampir-hampir terjungkir jatuh.

“Cepat bawa obat itu untuk melarikan diri!” teriak Koan Ing dengan suara yang amat keras.

Cha Ing Ing dengan amat ringannya berhasil melayang turun ke atas permukaan tanah sewaktu menoleh ke belakang tampaklah pada waktu itu Koan Ing sedang bersuit nyaring dan menubruk ke arah depan sedang pedang kiem-hong- kiamnya dengan sejajar kening diangkat tinggi2 ke atas, inilah jurus “Hay Thian It Sian” yang merupakan jurus pertahanan yang paling sempurna.

Dia rada tertegun, air mata bercucuran dengan amat derasnya, karena dalam hatinya dia benar-benar merasa amat bingung apa yang harus dilakukan pada saat itu.

Bilamana dia pingin balik kesisi Koan Ing saat ini ada maksud  tetapi  tenaga  kurang,  bilamana  harus  pergi.    dia

merasa tak tega untuk melepaskan Koan Ing seorang diri di tempat yang sangat berbahaya itu!! Bilamana tidak pergi dan berdiri terus disana.... bukankah hal ini sama saja telah menyia2kan maksud dari Koan Ing?

Air matanya kembali bercucuran semakin deras lagi....

Waktu itu Koan Ing telah menutup mulutnya kencang- kencang, sepuluh bilah pedang dengan perlahan menekan semakin kebawah, agaknya jurus bertahan yang paling sempurna inipun tak berhasil menekan serangan gabungan yang amat dahsyat itu.

Hanya untung saja kesadaran mereka sudah dikuasai sehingga kebebasan berpikirpun sudah tak ada lagi, kalau tidak barang siapa pun yang merubah sedikit gerakan serangannya, maka Koan Ing akan segera rubuh bermandikan darah.

Tubuh Koan Ing dengan perlahan-lahan semakin tertekan kebawah, sinar matanya berkedip-kedip, ia memandang ke arah Cha Ing Ing yang sedang menagis itu, hatinyapun ikut kebingungan.

Semakin lama daya tekan itu semakin memberat, maka sambil menggigit kencang bibirnya Koan Ing terus bertahan diri sedang tanah yang diinjakpun satu coen demi satu coen mendesak kedalam....

Dengan perlahan si sastrawan berusia pertengahan itu munculkan dirinya kembali dari balik tempat persembunyiannya, kemudian sambil memandang ke arah mereka berdua ujarnya sambil tertawa, “Cha Ing Ing, cepat nasehatilah Koan Ing untuk menyerah!! Aku tidak bermaksud untuk membunuh dirinya!”

Sinar mata Cha Ing Ing tiba-tiba menajam bilamana Koan Ing mati karena dia buat apa dirinya pun ikut hidup lebih lama lagi? Dalam gusarnya ia segera membentak keras sedang pedangnya dengan disertai rentetan sinar yang amat tajam menubruk ke arah salah seorang musuhnya. Orang itupun segera membentak keras, pedangnya membalik untuk menangkis datangnya serangan tersebut....

“Criing.... ” dengan disertai suara bentrokan yang amat keras tubuh Cha Ing Ing kena dipukul pental sehingga menumbuk dinding tembok sedangkan pedang kiem-hong- kiamnya terlepas dari tangan dan meluncur ke arah dinding batu,

Melihat kejadian itu si sastrawan berusia pertengahan itu tertawa terbahak-bahak dengain kerasnya , .

Siapa tahu pada saat itulah mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam gua dan menyambar tubuh Cha Ing Ing yang sedang melayang ke arah dinding tembok tersebut. setelah itu dengan sinar mata yang amat dingin memperhatikan si sastrawan tersebut, pandangan tajam itu seolah2 hendak membinasakan orang seketika itu juga.

Koan Ing yang melihat Orang itu adalah orang tua dari Cha Ing Ing, si dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong, hatinya jadi amat girang.

Ditengah suara bentakannya yang amat keras sarung pedang kiem-hong-kiamnya digetarkan keras2 sehingga kontan terangkat satu setengah coen kealas.

Setelah munculnya Cha Can Hong disana maka disusul munculnya Thian Siang Thaysu itu ciangbunjien dari Siauw- lim-pay bersama Sin Hong Soat-nie.

Kemudian ditengah suara tertawa yang sangat nyaring sijari sakti Sang Su-im muncul pula bersama-sama dengan Sang Siauw-tan.

Ooo)*(ooO

Bab 52 Melihat kejadian itu air muka si sastrawan berusia pertengahan itu segera berubah hebat, tubuhnya tergesa2 mengundurkan diri ke arah belakang sedang kesepuluh bilah pedang itupun dengan cepat bubaran dan membentuk posisi setengah busur mengurung sekeliling tempat itu.

Koan Ing yang terlalu banyak mengeluarkan tenaga setelah barisan pedang itu bubaran iapun merasakan pandangannya jadi gelap buru-buru dia menarik napas pajang2, kemudian meloncat kesisi tubuh Sang Siauw-tan.

Sang Siauw-tan dengan mesranya membimbing tubuh Koan Ing dan membelainya dengan kasih sayang.

“Haaa.... haaa.... apakah pihak rimba Wang Yu Liem ada nyali untuk mencari gara-gara dengan kami sekalian!” tegur Sang Su-im sambil tertawa terbahak-bahak.

Airmuka si sastrawan berusia pertengahan itu pada saat ini telah berubah jadi tenang kembali, sinar matanya berkedip2 lalu tersenyum.

“Tidak kusangka seluruh orang gagah di kolong langit bisa pada berkumpul disini!” katanya sambil tertawa tawar. “Aku lihat hal inipun semakin baik lagi, akupun bisa mengambil satu penyelesaian yang lebih cepat!”

Saat itulah tubuh Koan Ing mencelat ke atas untuk mencabut lepas pedang kiem-hong-kiamnya lalu melayang balik kesisi Sang Siauw-tan.

Cha Ing Ing yang melihat kejadian ini lantas melirik sekejap ke arah pemuda tersebut Lama sekali baru ia menundukkan kepalanya kembali dengan amat sedih.

Diantara para jago yang hadir disana pada saat ini adalah Cha Can Hong serta Sin Hong Soat-nie yang paling gusar, walaupun murid serta puteri kesayangan mereka berhasil ditolong tetapi pahit getir ini bagaimana pun juga harus ditebus. Terdengar Cha Can Hong mendengus dingin. “Hmm! Semua orang Bu-lim menganggap rimba Wang Yu Liem merupakan suatu tempat terlarang, tetapi aku tidak akan menggubrisnya. Kau adalah majikan dari rimba Wang Yu Liem ini, bilamana ini hari aku tak berhasil membinasakan dirimu hatiku tidak lega,” katanya.

“Apakah muridku kau juga yang meracuni?” tanya Sin Hong Soat-nie sambil dengan perlahan maju ke depan.

“Haaa.... haaa.... selama hidup aku orang paling benci untuk menggunakan kekerasan, ilmu silat hanyalah digunakan untuk melawan sesuatu yang mengancam keselamatan seseorang. Seperti aku, walaupun merupakan majikan dari rimba Wang Yu Liem tetapi sedikitpun ilmu silat aku tidak mengerti.” seru si sastrawan berusia pertengahan itu sambil tertawa terbahak-bahak.

“Demikianpun lebih bagus lagi,” sahut Sang Su-im sambil tertawa keras. “Aku rasa di dalam persoalan ini kita dapat selesaikan sebaik-baiknya. Dan aku tahu kau adalah orang yang sangat memahami ilmu bangunan serta mengenal akan ilmu perbintangan, maka itu sengaja aku meminjam dua batang anak panah “Hek Siauw Lieh Hwee Ciam” dari nona Song, maka itu aku harus berhati-hati bila mana kau bermaksud hendak menggunakan ilmu kepandaianmu itu untuk menjebak kami maka jangan salahkan aku akan bertindak menggunakan kekerasan!”

“Aku rasa saudara tentu adalah pangcu dari perkumoulan Tiang-gong-pang bukan?” seru majikan dari rimba Wang Yu Liem itu sambil tersenyum.” Selamanya aku paling mengutamakan kejujuran untuk menghadapi seseorang dan belum pernah menggunakan cara-cara yang licik serta keji, karena aku sangat mengharapkan diantara kita bisa terjalin satu pengertian.... aku tahu kedatangan kalian semua ini adalah dikarenakan persoalan kereta berdarah itu, kini kereta berdarah ada di dalam gua sebelah dalam aku rela membawa kalian kesana....

Tapi kalian harus tahu aku memperoleh kereta tersebut bukannya bermaksud untuk mendapatkannya tetapi hendak aku orang musnahkan.”

Koan Ing yang mendengar perkataan tersebut segera kerutkan dahinya, ini hari ia baru tahu kalau di bawah kolong langit masih ada manusia yang bermuka begitu tebal, apa yang dikatakan sama sekali bertentangan dengan cara-cara tindakannya!

Thian Siang Thaysu yang mendengar perkataan tersebut iapun kerutkan alisnya rapat-rapat, kereta berdarah ada di dalam gua?

“Coba kau bawalah aku masuk!” serunya tanpa terasa.

Sinar mata Sang Su-im berkelebat lalu menyapu sekejap ke arah Thian Siang Thaysu saat inilah ia barulah merasa bilamana kereta berdarah itu sangat berbahaya sekali bagi keselamatan para jago karena mengandung nafsu membunuh yang sangat mengerikan sekali.

Tetapi kini adalah saat-saat untuk bekerja sama menghadapi pihak rimba Wang Yu Liem karenanya iapun merasa tak enak untuk mengutarakan pendapatnya.

Si sastrawan berusia pertengahan itu tersenyum, tangannya dengan cepat menekan sebuah tombol sehingga dinding batu itu membuka ke arah samping.

Dan dari balik dinding batu itu tampaklah dibelah dalam terlihatlah sebuah gua yang sangat gelap sekali.

Thian Siang Thaysulah pertama2 yang bertindak masuk terlebih dahulu mengikuti diri si sastrawan tersebut, dan Koan Ing tahu siflat serakah dari hweeshio Siauw-lim-pay ini belum lenyap karenanya ia tak suka menggubris dirinya. Setelah Thian Siang Thaysu maka disusul Sin Hong Soat-nie mengikuti dari belakangnya, tetapi saat itulah....

“Braaak....!” dinding batu kembali menutup rapat bersamaan itu pula terdengarlah suara bentakan gusar dari Thian Siang Thaysu.

Sang Su-im jadi amat terkejut ia pun membentak keras dan sepasang telapak tangannya buru-buru melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar dinding batu itu,

Cha Can Hong serta Koan Ing pun punya pikiran yang sama. mereka pun bersama-sama melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan.

Dinding batu yang kena digempur oleh tiga orang jagoan lihay seketika itu juga hancur berantakan ditengah suasana yang kacau serta debu pasir yang berterbangan memehuhi angkasa tampaklah Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soat- nie mengundurkan diri ke belakang dalam keadaan sempoyongan.

Pada saat yang bersamaan itu pula ditengah suara tertawa panjang yang amat nyaring kesepuluh orang yang berbaju hitam itu bersama-sama menubruk ke arah depan.

Koan Ing segera bersuit nyaring sedang pedang Kiem- hong-kiamnya dicabut keluar dari dalam sarung. dengan jurus serangan “Thian Hong Cu Lok” atau pelangi langit menutup jalan ia menahan datangnya serangan orang-orang itu dengan keras lawan keras.

Cha Tian Kong serta Sang Su-im pun dengan gusarnya membentak keras, jari serta telapak laksana menggulungnya ombak dahsyat menghajar ke arah orang-orang itu pula dengan santar.

Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soat-nie yang kena dihantam oleh tenaga gabungan kesepuluh orang itu pada saat ini telah pada menderita luka dalam. Walaupun dalam hati kedua orang itu merasa amat gusar tetapi bagaimanapun juga mereka adalah jagoan Bu-lim yang berkepandaian tinggi, mereka tahu bilamana luka tersebut tidak buru-buru disembuhkan maka sangat mengganggu kelancaran gerak mereka karena itu buru-buru mereka jatuhkan diri bersila dan pusatkan pikiran.

Sebenarnya dengan kekuatan dari Koan Ing seorang tidak akan sanggup menerima serangan gabungan dari kesepuluh orang itu. tetapi pada saat yang bersamaan Sang Su-im serta Cha Can Hong masing-masing telah mengirim pula satu serangan gencar hal ini membuat pedangnya berhasil mendesak mereka mundur ke belakang.

Pada waktu ini posisi dari pihak rimba Wang Yu Liem benar-benar amat bagus sekali, dan mereka bersama-sama melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan, maka terasalah segulung angin pukulan laksana ambruknya gunung Thay san dengan berat menekan Koan Ing sekalian.

Melihat kejadian itu Sang Su-im jadi amat terperanjat, karena saat ini pihak musuh telah menggunakan posisi yang baik serta dengan tenaga penuh menyerang mereka, bilamana mereka bermaksud untuk menerima serangan tersebut dengan keras lawan keras maka pasti kontan mereka bertigapun bakal terpukul luka.

Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soat-nie setelah bersemedhi sebentar tenaganya hampir pulih kembali separuh bagian. sekalipun lukanya belum sembuh tetapi sudah ada kekuatan.

Pada saatZ yang kritis itulah mereka berdua serentak bangun berdiri dan melancarkan pula pukulan ke depan,

Koan Ing, Cha Can Hong serta Sang Su-im serentak mengirimkan satu pakulan pula ke depan.

“Braaaak.... ” suara bentrokan yang amat keras serasa membela bumi bergema memenuhi angkasa, karena tenaga masing-masing pihak begitu bertemu laksana lengket saja. siapapun tak ada yang bergerak.

Dan masing-masing pihak dengan sekuat tenaga mempertahankan dirinya, sedang percikan bunga api karena pergesekan adu tenaga inipun beterbangan memenuhi angkasa.

Batu dan pasir pada berguguran ke atas tanah, semakin lama pasir serta batuan yang gugur semakin santer sehingga akhirnya laksana cucuran air hujan saja. Dan seluruh guha kini jadi tergetar dan goncang bagaikan gempa, agaknya sebentar lagi bakal meledak dengan hebatnya.

Sinar mata Sang Su-im bertambah berkilat, dia tahu pihaknya lama kelamaan bakal tidak kuat untuk menahan serangan gabungan tersebut. Apalagi Thian Siang Thaysu serta Sin Hong Soat-nie baru saja menderita luka dalam.

Pikirannya dengan cepat berputar....

“Lepaskan anak panah!” tiba-tiba bentaknya dengan keras.

Mendengar suara teriakan tersebut si sastrawan berusia pertengahan itu jadi terperanjat, tadi dia sudah dengar Sang Su-im berkata kalau mereka membawa anak panah berapi “Hek Siauw Lie Hwee Ciam” ke tempat itu, diapun tahu bagaimana dahsyatnya anak panah berapi tersebut.

Bilamana pada saat itu Sang Su-im benar-benar melepaskan anak panah berapi ditengah goncangnya adu tenaga dalam yang amat dahsyat itu, dirinya yang tidak mengerti ilmu silat bukankah akan terkubur hidup2 disana?

Maka ia buru-buru mengundurkan diri semakin ke belakang, sedangkan kesepuluh orang berbaju hitam itupun bersama-sama ikut berkelebat mundur ke arah belakang.

Sang Su-im yang melihat pihak musuh mengundurkan diri hatinya terasa amat girang, sewaktu ia hendak perintahkan untuk menyerbu itulah tiba-tiba telah menemukan wajah Thian Sian Thaysu Sin Hong Soat-nie berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, dan dengan perlahan mereka duduk bersila di atas tanah.

Melihat hal itu hatinya jadi tergetar sangat keras, jika ditinjau dari keadaan ini terang untuk melakukan pengejaran sudah tidak mungkin lagi.

Maka Sang Su-im segera mengajunkan sebatang anak panah “Hek Siauw Lie Hwee Ciam” ke arah dalam....

“Blaaam....?” dengan disertai suara ledakan yang amat keras dinding batu yang menghalangi perjalanan mereka sudah kena dihantam sehingga meledak dan hancur berantakan„

Sambil mencekal pedangnya erat-erat Koan Ing segera menerjang masuk ke dalam.tetapi sebentar kemudian dia sudah berdiri termangu-mangu Kiranya di dalam gua itu bukan saja mempunyai cabang yang luar biasa banyaknya bahkan setiap tempat terdapatlah selapis dinding tebal yang menahannya.

karena itu untuk beberapa saat lamanya ia jadi kebingungan.

Pada saat itulah dari balik gua yang amat dalam berkumandang datang suara ringkikan kuda yang amat panjang disusul berputarnya roda kereta berdarah yang amat berat bergema keluar kemudian hanya dalam sekejap saja telah lenyap tak berbekas.

“Heei.... tidak bakal kecandak? Mereka tentu sudah pergi,” kata Sang Su-im sambil tarik napas panjang-panjang. “Tidak disangka kecuali berdinding lapis, lorongpun ada demikian banyaknya, bahkan di belakang sana masih ada jalan keluarnya!!”

Selesai berkata kembali ia menghela napas panjang dan berjalan keluar, Koan Ing pun bungkam diri tak mengucapkan sepatah katapun, karena kini hatinya masih terus saja mengingat2 si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng dan memikirkan kemana perginya orang itu?

Ketika tiba diluar gua, tampaklah Thian Siang Thaysu dengan muka kecewa dan penuh penyesalan bangun berdiri.

“Heei karena pinceng masih saja serakah tak disangka urusan jadi sedemikian rupa!” katanya penuh penyesalan.

Sang Su-im hanya tersenyum saja, dia tahu Thian Siang thajsu jadi orang amat sombong sekali apalagi kedudukannya sebagai seorang ciangbunjien, selama ini belum pernah dia mengemukakan perjesalannya terhadap orang lain, tidak nyana ini hari dia bisa memperlihatkan kesesalannya dihadapan banyak orang.

“Thaysu buat apa kau menyesali dirimu sendiri?” hiburnya sambil tertawa. “Urusan telah lewat, lebih baik tak usah kau pikirkan lagi Kitapun masih bisa bertemu dengan Majikan Rimba Wang Yu Liem dikemudian hari!”

Baru saja berbicara sampai disitu, mendadak dari luar guha berkumandang datang lima kali suara ledakan keras.

Air muka Sang Su-im seketika itu juga berubah hebat. “Aaaah! Nona Song telah mengirim tanda bahaya, mungkin

keadaan nona Song kepepet!” teriaknya cemas. “Pasti ada musuh tangguh telah menyerbu datang. Mari kita cepat keluar!”

Selesai berkata, buru-buru ia meloncat keluar dari dalam guha,

Koan Ing pun merasa amat terperanjat dia mengerti Song Ing adalah seorang perempuan yang berhati tinggi, bilamana tidak menemui urusan yang benar-benar amat berbahaya, tak mungkin dia orang suka melepaskan tanda bahaya, Tubuhnya pun dengan cepat ikut menerjang keluar membuntuti diri Sang Su-im.

Waktu itu pepohonan diluar guha hampir seluruh bagian telah musnah, saat ini tinggallah abu serta arang.

Baru saja tubuhnya keluar dari gua, mendadak terdengarlah suara tertawa seram berkumandang keluar, kiranya sebuah jaring emas telah menyambut kedatangannya.

“Kalian hendak pergi kemana lagi!” bentak seseorang dengan suara yang berat.

Koan Ing yang mendengar suara bentakan tersebut, segera bisa mengenal lagi kalau dia bukan lain adalah sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu adanya.

Song Ing terhadap dirinya amat baik apa lagi dirinyapun berhutang budi terhadap subonya ini, kini melihat ada orang yang bermaksud menghalangi perjalanannya untuk menolong Song Ing hatinya jadi amat gusar sekali.

Dia membentak keras, tubuhnya laksana sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur melewati Sang Su-im sedang pedang kiem-hong-kiamnya bagaikan sambaran kilat cepatnya menyerang ke depan menekan ujung jaringan emas itu.

Jurus ini adalah jurus “Ban Sin Peng To”* dari ilmu pedang “Thian-yu Khei Kiam” yang paling dahsyat pengaruhnya,

Ujung pedangnya dengan cepat menekan jaring emas Phoa Thian-cu kebawah tubuhnya pun meminjam kesempatan itu meloncat ke atas udara disusul ujung kaki kanannya bagaikan sambaran angin melancarkan satu tendangan kilat menghantam iga musuhnya.

Seketika itu juga Phoa Thian-cu kelabakan dibuatnya, dalam hati benar-benar amat terperanjat sekali. Dia tidak menduga kalau semakin lama tenaga dalam dari Koan Ing semakin dahsyat, hal ini merupakan satu peristiwa yang sukar untuk dipercaya.

Maka tubuhnya dengan gesit ke samping untuk menghindar, dan dengan mengambil kesempatan itulah tubuh Koan Ing bagaikan sambaran kilat cepatnya sudah meluncur ke arah depan.

Melihat pemuda itu berhasil meloloskan diri dengan begitu mudahnya, Tong Phoa Pek jadi tertegun, saat itulah serangan jari tangan Sang Su-im telah menyambar datang mengancam keninqnya, hal ini memaksa dia orang mau tidak mau harus putar badan untuk menyambut.

Tubuh Koan Ing setelah berhasil menerjang halangan dari Phoa Thian-cu dengan kecepatan yang paling tinggi ia berkelebat ke arah depan.

Kurang lebih setengah li jauhnya tampaklah si iblis bongkok dari Si Ih telah menantikan pula kedatangannya.

Begitu melihat munculnya Koan Ing disana maka terdengar si iblis bongkok menegur dengar suara yang dingin,  “Bukankah kau orang hendak menolong Sian-thian-kauwcu? Aku rasa tindakanmu sudah terlambat!” Sambil berkata tongkat pualamnya laksana kilat menyambar ke arah depan mengancam jalan darah “Yauw Hu Hiat” dan tubuh Koan Ing.

Berbagai rasa curiga segera berkecambuk dihati pemuda itu, sebenarnya apa yang telah terjadi? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dirinya sepanjana jalan selalu ada saja jagoan yang mencegat dirinya, apa mungkin masih banyak jagoan berkepandaian tinggi yang telah pada datang? Lalu mengapa Song Ing mengirim tanda bahaya?

Pedang kiem-hong-kiamnya berturut-turut lancarkan delapan buah serangan ke depan, semakin lama serangannya semakin gencar yang membuat si iblis bongkok dari daerah Si In ini kena didesak mundur tujuh langkah ke belakang. Si Ih Mo Tuo benar-benar amat terperanjat melihat kedahsyatan diri Koan Ing yang berhasil mendesak mundur dirinya sejauh tujuh langkah itu karena hal ini belum pernah ditemuinya selama ini.

Koan Ing mendengus dingin, pedangnya kembali menyambar ke depan menahan serangan tongkat dari musuhnya setelah itu dengan sangat gesit tubuhnya mencelat ketengah udara dan berkelebat menuju ke arah depan.

Si Ih Mo Toa pun tidak turun tangan menghalangi Koan Ing, diam-diam hatinya merasa bergidik karena ia tahu bilamana Koan Ing tidak keburu pergi dari sana maka di dalam seratus jurus dirinya tentu akan terluka di bawah serangan pedangnya.

Dengan gerakan yang paling cepat Koan-Ing meluncur ke arah tempat dimana Song Ing berada, tetapi waktu itu suasana benar-benar amat sunyi tak tampak sesosok bayangan manusia pun di tempat itu.

Hatinya jadi amat terperanjat, matanya dengan cepat menyapu ke sekeliling tempat itu tetapi suasana tetap sunyi senyap tak tampak sesosok manusiapun.

Saat itulah pemuda itu baru merasa hawa berdesir berkecambuk dihatinya, ia merasa dirinya serasa berada di dalam gudang salju yang amat menggigilkan,

Buru-buru kepalanya didongakkan ke atas. tiba-tiba. di

atas sebuah puncak gunung disebelah kirinya terlihatlah seorang berdiri dengan angkernya dengan penjagaan yang ketat di sekeliling tempat itu. bukankah dia adalah Song Ing yang hendak ditolongnya?

Melihat subonya berada dalam keadaan sehat-sehat saja hatinya jadi lega. Tubuhnya segera meloncat ke depan berlari ke arah puncak tersebut, tetapi baru saja tubuhnya bergerak mendadak terdengarlah suara bentakan nyaring berkumandang datang.

“Koau Ing kau ingin pergi kemana lagi?”

Tubuhnya pun segera berputar ke belakang, tampaklah Yuan Si Tootiang dengan pandangan yang dingin sedang munculkan dirinya dari balik batu.

Saat ini toosu dari Bu-tong-pay itu mencekal sebilah pedang berwarna merah darah dari sinar matanya terlintaslah nafsu membunuh yang sangat mengerikan, lagaknya ia bermaksud untuk membinasakan dirinya dengan satu kali tusukan.

Maka dengan dinginnya Koan Ing pun memandang ke arah Yuan Si Tootiang. dia tahu toosu itu pasti sangat membenci dirinya karena tusukan pedangnya tempo hari sehingga dalam hati kecilnya tentu sudah tertera maksud untuk membinasakan dia Orang.

Kepandaian silat dari Yuan Si Tootiang memang berada di atas kepandaian Phoa Thian-cu, terhadap dirinya boleh dikata merupakan musuh tangguh. karena itu iapun tak berani berlaku ajal. dan dengan perlahan hawa murninya disalurkan ke seluruh tubuh untuk bersiap-siap.

“Hmm! Kepandaian silatmu benar-benar sangat lihay sekali dan merupakan hal yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun ini. Tempo hari kau sudah menusuk badanku sehingga aku terluka parah, kini aku hendak membalas sakit hati itu, tapi aku ingin kau suka tinggalkan seluruh kepandaian silat yang kau miliki!” seru Yuan Si Tootiang sambil tertawa dingin.

“Haaa.... haaa.... kaupun harus tahu di kolong langit pada saat ini kau merupakan salah seorang yang ingin aku beset kulit tubuhnya dan mendahar daging tubuhmu!” balas Koan Ing sambil tertawa panjang. Wajah Yuan Si Tootiang kontan berubah jadi merah padam bagaikan udang rebus, matanya dengan gusar memandang diri pemuda tersebut. sedangkan pedang berwarna merah darahnya pun dengan perlahan diangkat sejajar dengan dada.

Koan Ing segera menarik napas panjang-panjang dia sengaja memperlihatkan sikap yang tidak waspada dan memandang hina toosu tersebut dan ujung pedang kiem- hong-kiamnya ditudingkan ke arah permukaan tanah.

Yuan Si Tootiang bersuit nyaring, pedang merah darahnya digetarkan lalu melancarkan satu tusukan mengancam Koan Ing.

Koan Ing segera mendengus, tangan kanannya dengan ringan mencukil ke atas, diantara dengungan suara pedang yang amat keras pedang kiem-hong-kiamnya dibabatkan setengah lingkaran busur ke depan, dan dengan amat tepatnya ia berhasil menghalau serangan pedang dari Yuan Si Tootiang ini.

Baru saja kedua bilah pedang itu saiing menempel satu sama lainnya tiba-tiba Koan Ing menggetarkan tangan kanannya, dan diantara suara desiran yang keras itu pedang kiem-hong-kiamnya mencelat tegak dan mencukil pergi pedang merah darah dari Yuan Si Tootiang disusul kaki kanannya menutul permukaan tanah dan pedangnya langsung menusuk keperut toosu tersebut.

Maka dengan gusarnya Yuan Si Tootiang membentak keras pedangnya balas melancarkan serangan gencar ke depan sehingga hanya di dalam sekejap saja angin sarangan berkelebat memenuhi angkasa, diantara berkelebatnya tiga rentetan cahaya tajam pedang Yuan Si Tootiang kembali kena ditekan kebawah.

Saat itulah Yuan Si Tootiang baru merasa terperanjat karena tenaga dalam dari Koan Ing sebenarnya seimbang dengan tenaga dalamnya sendiri tetapi jika ditinjau dari keadaannya pada saat ini terlihatlah tenaga dalamnya jauh lebih setingkat dari dirinya bahkan di dalam hal jurus seranganpun dia jauh melebihi dirinya.

Sewaktu kedua orang itu lagi bertempur dengan serunya itulah menandakan dari tempat kejauhan

berkumandang datang suara tiupan seruling yang amat keras sekali.

Mendengar suara itu Koan Ing jadi amat kaget. karena bukankah suara seruling itu merupakan tanda dari perkumpulan Sin Tie Pang tidak aneh kalau Song Ing kirim tanda bahaya kiranya di sekeliling tempat itu sudah terkurung oleh kekuatan musuh.

Pedang kiem-hong-kiamnya berturut-turut melancarkan serangan gencar ke depan, tetapi Yuan Si Tootiang pun  segera mengetahui kalau pemuda itu bermaksud untuk melepaskan diri pedangnya laksana sekerat tali dengan kencangnya mengikat tubuhnya sehingga tak bisa bergerak.

Melihat tindakan dari Toosu tersebut Koan Ing benar-benar murka, sehingga dengan gusarnya ia segera membentak keras, “Siapa yang menghindar akan selamat, tapi siapa yang menentang pasti binasa!”

Dan pedang kiem-hong-kiamnya dengan dahsyat disentilkan ke depan dan menyerang ke depan sejajar alis. Inilah jurus “Giok Sak Ci Hun” yang amat dahsyat.

Pedang kiem-hong-kiamnya berdesir tajam ke depan dengan disertai suara ledakan yang memekikkan telinga.

Yuan Si Tootiang jadi bergidik melihat serangan itu, dia orang mana berani menerima serangan tersebut? Maka tubuhnya buru-buru meloncat ke samping untuk menghindar,

Mengambil kesempatan itulah Koan Ing mencelat ketengah udara kemudian laksana meluncurnya bintang dilangit meluncur ke atas puncak gunung di hadapannya. Manusia yang ada diempat penjurupun buru-buru menyingkir ke samping memberi jalan.

“Koan Ing menghunjuk hormat buat Subo” serunya kemudian sambil jatuhkan diri berlutut.

Song Ing yang melihat Koan Ing lah yang nomor satu berhasil menerjang naik ke atas puncak hatinya jadi ikut terharu lama sekali ia termenung akhirnya sambil membimbing tubuh pemuda itu bangun katanya, “Bocah, kau tak usah banyak adat!”

Sewaktu berbicara tak kuasa lagi air matanya ikut bercucuran dengan amat derasnya,

Suara dari tiupan seruling semakin lama semakin santar dan semakin memekikkan telinga, sinar mata Koan Ing segera berkelebat menyapu ke sekelilingnya sedang sang badan dengan perlahan bangun berdiri,

Tetapi ketika melihat situasi yang ada di depan mata hatinya jadi amat terperanjat, karena kiranya ditengah suara tiupan seruling yang amat santar itu tampaklah be-ratus2 macam binatang buas bersama-sama menerjang datang dengan dahsyatnya.

Sungguh tak disangka kalau perkumpulan Sin Tin Pang pun memiliki kepandaian untuk menaklukan binatang, karena ternyata mereka telah memancing datangnya seluruh binatang buas digunung itu untuk menghadapi dirinya.

Walaupun kepandaian silat mereka rata2 tinggi, tetapi untuk menghadapi binatang yang demikian banyaknya akhirnya pasti akan kewalahan sendiri.

Tampak Song Ing tersenyum. “Entah siapa yang sudah memperlihatkan permainan macam ini,” katanya perlahan “Ditambah pula racun ditubuh Cing It belum sembuh. Akupun tak dapat pecahkan perhatianku, karena melihat musuh sudah mengurung empat penjuru, terpaksa aku panggi! kalian pulang.”

“Obat pemunahnya sudah ada, cuma saja masih ada disaku Cha Ing ing!” sahut pemuda itu sambil menarik napas,

Sewaktu ia habis berbicara tampaklah Sang Su-im serta Cha Can Hong sekalian telah tiba pula di bawah puncak tersebut, karena mereka berjumlah banyak, terpaksa melakukan perjalanan perlahan-lahan.

Koan Ing yang mendengar suara seruling itu semakin mendekat, hatinya jadi benar-benar bingung, ia menduga binatang2 itu tentu sudah berada kurang lebih lima li dari sana dan sebentar lagi tentu sudah tiba disini! Lalu apa yang hendak diperbuatnya saat ini?

Sang Su-im sekalian yang telah tiba di atas puncak sewaktu melihat situasi tersebut, mereka pun jadi melengak dibuatnya. Mereka tak mengira kalau pihak perkumpulan Sin Tie Pang telah mengurung sekeliling tempat tersebut.

Selagi semua orang sedang berdiri tepekur itulah dari tiga jurusan telah tampak munculnya beratus-ratus ekor binatang buas.

Para jago yang berada di atas puncak, setelah melihat situasi di sekelilingnya kontan merasa hatinya bergidik. Bulu kuduk pada berdiri semua.

Ooo)*(ooO

Bab 53

DENGAN termangu-mangu Cha Can Hong memandang kebawah puncak, tak sepatah kata pun yang diucapkan keluar sedangkan Cha Ing Ing dengan tawarnya memandang sekejap ke sekeliling tempat itu lalu ia berjongkok dan mencekoki obat tersebut kemulut Cing It Nikouw.  Sin Hong Soat-nie yang melihat sikap dari Cha Ing Ing cuma bisa menghela napas panjang saja di dalam hatinya.

Waktu itulah dari empat penjuru sudah bermunculan binatang buas yang hanpir memenuhi seluruh tempat berapa jumlah yang sebenarnya sulit sekali untuk dihitung.'

“Heeei.... tidak disangka dari pihak perkumpulan Sin Tie Pang mempunyai orang yang berbakat” seru nikouw tua itu sambil tundukkan kepalanya rendah-rendah. “Kiranya kita sebentar lagi bakal akan menemui bencana di tempat ini!”

“Haa. haa . ,Suthay kenapa kau harus memuji kegagahan

orang lain sebaliknya melenyapkan kegagahan sendiri,” tegur sijari sakti Sang Su-im sambil tertawa terbahak-bahak.

Pada pinggangnya gunung saat ini telah dipenuhi dengan anak buah dari Tiang-gong-pang serta Sian-thian-kauw. walaupun Sang Su-im diluarnya bicara begitu tapi dalam hatinya iapun tahu bilamana bermaksud untuk melarikan diri bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, walaupun saat ini orang-orang yang ada dipuncak merupakan jago-jago berkepandaian tinggi tetapi binatang yang tak diketahui jumlahnya ini benar-benar sangat menakutkan sekali pada akhirnya mereka bakal juga kewalahan sendiri.

Selagi mereka sedang kebingungan itulah tiba-tiba suara seruling telah berhenti berbunyi. dan dari puncak di hadapannya pun muncullah sesosok bayangan manusia.

Orang itu sambil tertawa terbahak-bahak telah berseru keras, “Hey kalian jago-jago Bu-lim sampai keadaan seperti ini masihkah tidak mau menyerah kepada dirrku?”

Orang itu bukan lain adalah Sin Tie Pangcu Ti Siuw-su adanya!

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat belum sempat dia mengucapkan kata-katanya Thian Siang taysu sudah membentak keras, “Dengan meminjam kekuatan dari binatang apa gunanya?”'

Ti Siuw-su segera tertawa terbahak-bahak, tangannya diulapkan ke samping kemudian tampaklah seorang berbaju putih yang mencekal sebuah seruling muncul di atas puncak,

Sebentar kemudian suara seruling telah berkumandang kembali memenuhi angkasa. kali ini suara seruling itu mengandung nafsu membunuh yang tajam dan membuat kawanan binatang buas itu meraung dan mulai menyerbu ke atas puncak bagaikan aliran air bah.

Dan sinar mata Sang Su-im pun terlintas nafsu membunuh, kepada Song Ing segera ujarnya, “Nona Song, kau ingin menggunakan cara apa untuk hadapi mereka?”

Song Ing gelengkan kepalanya tidak berbicara, sewaktu Sang Su-im menoleh kembali maka terlihatlah anak murid perkumpulan Tiang-gong-pang sedang melancarkan serangan anak panah kebawah.

Seketika itu juga berpuluh-puluh ekor binatang buas meraung kesakitan dan tubuh binasa, walaupun begitu binatang yang ada dibelakangnya tetap melanjutkan serangannya ke depan.

Setiap langkah binalang buas itu menerjang ke atas, maka anak murid Tiang Cong Pang ikut terdesak mundur selangkah ke arah belakang, dan anggauta dari Sian Thian Pauw yang melihat kejadian itu buru-buru pada menerjang kebawah memberi bantuan.

Walaupun begitu mereka tetap tak kuat membeodung datangnya serangan kawanan binatang itu.

Sang Su-im benar-benar amat gusar sekali di buatnya, terlihatlah cahaya membunuh tiada hentinya terlintas diantara sinar matanya. “Kita adalah jago-jago Bu-lim yang dihormati orang,  apaKah saat ini harus duduk sambil menunggu saat kematian?” teriaknya sambil menyapu sekejap ke seluruh jago lainnya.

Koan Ing nenarik napas panjang-panjang, tiba-tiba tanyanya.

“Suara dari Ti Siuw-su tiba disini secara samar-samar saja, paling tidak juga jaraknya ada limapuluh kaki,” sahut Cha Can Hong sambil tertawa tawar. “Ditambah pula waktu turun puncak dan naik puncak, menanti kau tiba dipuncak sebelah sana, pihak kita sudah ada separuh bagian yang telah binasa!”

Koan Ing menoleh memandang sekejap ke arah sebuah pohon besar yang ada disebelah kiri lalu kepada Song Ing katanya, “Subo! Bagaimana kalau kau orang tua bantu aku untuk meluncur kepuncak seberang?”

Semua orang yang mendengar perkataan itu segera merasakan hatinya tergetar keras, jarak yang sedemikian jauhnya dengan sebuah jurang sedalam ratusan kaki sebagai penghalang kini Koan Ing minta dilemparkan ke depan, bukankah hal ini sangat berbahaya sekali?”

Sinar mata Song Ing berkilat, saat itu semua orang yang ada di bawah puncak telah mengundurkan dirinya mendekati punggung gunung, walaupun anak panah berapi telah mulai beraksi, tetapi sampai kapan mereka bisa mempertahankan diri?

“Mau pergi kesana tidak semudah apa yang kau pikirkan pada saat ini!” serunya perlahan.

Baru saja Koan Ing hendak menyahut suara seruling kembali telah berhenti disusul dengan suara tertawa keras dari Tie Siuw-su berkumandang datang.

“Manusia binatang paling banter cuma bisa bertahan selama tiga jam saja,” katanya dengan nada yang tawar. “Asalkan kalian suka serahkan nyawa Koan Ing dan mengakui kekuasaan dari pekumpulan Sin Tie Pang kami di daerah Tionggoan maka kami akan segera lepaskan kalian semua.

“Heee.... heeee.... daripada harus menanti kematian di tempat ini lebih baik pergi menempuh bahaya lebih baik.” kata Koan Ing sambil tertawa. Apalagi akupun memiliki delapan bagian pegangan. kalau tidak mana berani aku orang buka suara. Subo! Bagaimana ia kalau kita coba dulu!”

Song Ing termenung berpikir sebentar akhirnya dengan perlahan ia mengangguk.

Cha Can Hong sekalian sama sekali tidak percaya akan pendengarannya sendiri, tidak disangka Koan Ing memiliki nyali yang begitu besar, mungkin mereka serdiri pun tak ada yang berani mencoba untuk menempuh bahaya ini.

Dengan rasa terharu Sang Su-im maju ke depan menepuk pundak pemuda tersebut. “Thian-yu-pay bisa memiliki seorang anggota seperti dirimu sungguh beruntung sekali, Kong Boen Yu yang sudah matipun tidak akan menyesal pujinya.

“Terima kasih atas pujian dari empek Sang.” sahut Koan Ing merendah,” Koan Ing ada budi dan jasa apa yang patut menerima pujian tersebut.

“Koan Ing!” terdengar Sin Hong Soat-nie pun berseru, “Sejak ini hari sakit hati antara kau dengan pihak Sun Lie Hong kami akan aku sudahi sampai disini saja!”

Sedangkan Cha Can Hong serta Thian Siang Thaysu pada bungkam diri, karena dalam hati kecil merekapun mempunyai jalan pemikiran yang sama.

Setelah termenung beberapa saat lamanya akhirnya Sang Su-im berjalan ke arah pohon besar itu disusul oleh Cha Can Hong serta Thian Siang Thaysu mereka bersama-sama menarik pohon itu sehingga jadi bengkok laksana sebuah busur. Koan Ing memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan dengan pandangan sayu dan gadis tersebut dengan amat sedihnya menundukkan kepalanya dalam2.

Sesaat kemudian pemuda itu telah mencabut keluar  pedang kiem-hong-kiamnya dan berkelebat ke arah batang pohon.

“Koan Ing, kau baik-baiklah jaga diri!” seru Song Ing setengah berbisik.

Ditengah suara bentakan yang amat keras Sang Su-im bertiga bersama-sama melepaskan pohon tersebut.

“Sreeet....!” bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dan busur dengan cepat ia berjungkir balik ditengah udara kemudian melayang ke arah puncak seberang.

Menanti daya melempar dari pohon itu telah habis buru- buru Koan Ing bersuit nyaring, empat anggota badannya dipentang kemudian laksana seekor burung elang melayang jauh ke arah depan.

Tetapi menanti tiba pada jarak dua puluh kaki dari punljak itu tubuhnya telah menuju kebawah dengan cepatnya.

Sepasang tangannya dengan cepat dipentangkan, ia bersalto beberapa kali kemudian baru melayang ke arah bawah.

Dimana tubuhnya melayang turun tepat adalah punggung gunung diseberang, begitu kakinya menutul permukaan tanah bagaikan sambaran kilat cepatnya ia sudah meluncur ke atas.

Tiga orang lelaki berbaju putih segera membentak keras dan menghalangi perjalanannya.

Maka dengan amat gusar Koan Ing membentak keras, tangannya dikebaskan ke depan menahan serangan dari kedua orang yang ada di hadapannya itu. “Biarkan dia naik ke atas puncak!” tiba-tiba dari atas puncak berkumandang datang suara bentakan yang amat dingin.

Orang-orang itu segera menarik kembali pedangnya dan mengundurkan diri ke belakang.

Koan Ing ragu-ragu sejenak, akhirnya ia menggerakkan badannya melayang ke atas gunung.

Menanti setelah tiba di atas puncak tampaklah suasana disana telah berubah. kecuali Ti Siuw-su serta si lelaki berbaju putih yang meniup seruling tadi kini telah bertambah lagi dengan seorang kakek tua beralis putih yang sedang duduk bersila di bawah sebuah pohon.

“Hmm! sungguh besar nyalimu!” bentak Ti Siuw-su dengan dingin, “kepandaian silatmu sungguh tinggi. tetapi aku rasa datangnya gampang tetapi pergi tidak akan semudah itu.”

Koan Ing menarik napas panjang-panjang tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.... tiba-tiba tubuhnya menubruk ke arah si orang lelaki berbaju putih itu.

Baru saja tubuh sang pemuda bergerak, siorarg tua beralis putih yang lagi duduk bersemedi itu mendengus dingin, tangan kanannya membalik mengambil keluar seruling pualamnya dari balik saku kemudian mengirim satu pukulan berkabut putih ke arah Koan Ing.

Merasakan kedahsyatan dari serangan itu, Koan Ing jadi berdesir. Karena dia tidak mengira kalau di tempat tersebut bisa muncul seorang musuh tangguh yang kepandaian silatnya tidak berada di bawah si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong tempo hari.

Tubuhnya yang menubruk ke depan pada saat ini terpaksa ditarik kembali dengan paksa

“Iiiih....!” si orang tua beralis putih itu berseru tertahan, dan sepasang matanya dipentangkan lebar2 memandang sekejap ke arah pemuda itu dengan pandangan tajam. Agaknya ia merasa kaget karena tenaga dalam dari Koan Ing sangat luar biasa sekali.

Dalam mempertahankan tubuhnya ditengah udara bukanlah merupakan satu peristiwa yang aneh, tetapi bisa menarik kembali tubuhnya yang telah meluncur ke depan benar-benar luar biasa!

Koan Ing sendiripun merasa amat terperanjat karena pertemuannya dengan seorang jagoan lihay di tempat itu, tidak aneh kalau Ti Siuw-su berani melepaskan dirinya naik ke atas puncak.

“Siapakah orang itu?” pikirnya diam-diam.

Dengan perlahan pedang kiem-hong-kiamnya dicabut keluar dan memandang ke arah si orang tua itu dengan pandangan dingin.

Dengan dinginnya Ti Siuw-su segera mundur kesamping, dia percaya dengan kepandaian silat dari si orang tua itu pasti telah lebih dari cukup untuk menghadapi diri Koan Ing maka selama ini dia tak perlu lagi ikut campur di dalam urusan ini.

“Kau hendak mengapakan muridku?” terdengar si orang tua beralis putih itu bertanya.

Kembali Koan Ing merasa berdesir, kiranya si orang tua berbaju putih yang meniup seruling itu bukan lain adalah anak murid dari si orang tua ini.

“Aaaach.... agaknya sebelum berhasil menembusi halangan ini, aku akan menemui kesukaran untuk mencegah perbuatan mereka selanjutnya,” pikirnya dihati.

Sinar matanya segera berkilat.

“Heee.... heee.... perintahkan muridmu untuk meletakkan seruling tersebut, bilamana tidak jangan salahkan aku hendak bertindak menggunakan kekerasan!” katanya. “Hmm! Sungguh besar omonganmu!” desis si orang tua beralis putih itu dengan dingin. “Aku tidak akan takut menghadapi dirimu?”

Mendengar jawaban yang ketus itu Koan Ing segera mengangkat pedang kiem-hong-kiamnya ke atas, dan sepasang matanya memandang tajam si orang tua tersebut sedang hawa murninya dengan cepat disalurkan ke arah pedang.

Ditengah suara bentakan yang amat keras tubuhnya mencelat ke depan. sedang pedangnya dengan sejajar kening didorong ke depan menusuk tubuh musuhnya. Inilah jurus yang paling lihay di kolong langit pada saat ini “Giok Sak Ci Hun.”

Sinar keemas-emasan berkelebat memenuhi angkasa, sebenarnya si orang tua itu hendak menanti datangnya serangan tetapi bagitu melihat kedahsyatan dari serangan tersebut hatinya jadi berdesir. maka tubuhnya segera melayang ke atas lalu menangkis datangnya serangan dengan menggunakan seruling pualamnya.

Pedang serta seruling dengan cepat terbentur satu sama lainnya sehingga menimbulkan percikan bunga api. setelah serulingnya berhasil memunahkan datangnya serangan dari Koan Ing buru-buru ia melancarkan gencetannya ke depan.

Tampaklah bayangan putih berkelebat memenuhi angkasa, hawa serangan berkelebat tak ada putusnya menghantam tubuh pihak musuh. Hanya di dalam sekejap saja ia telah melancarkan delapan buah serangan sekaligus.

Koan Ing jadi amat terkejut, pedang kiem-hong-kiamnya diputar satu lingkaran memunahkan ketujuh buah serangan musuh, kemudian ditengah suara bentakan yang amat keras pedang kiem-hong-kiamnya digetarkan keras. Suara dengungan yang amat keras menulikan telinga, pedang tersebut seketika ita juga membentuk gerakan setengah lingkaran.

Inilah jurus serangan “Noe Ci Sin Kiam” dari ilmu pedang “Thian-yu Khei Kiam”, dengan dahsyatnya pedang tersebut mengancam iga kanan dari si orang tua beralis putih,

Maka buru-buru si orang tua beralis dutih itu menggunakan serulingnya untuk menangkis tubuh masing-masing pihakpun segera berpisah dan melayang kembali ke tempatnya semula.

Walaupun bentrokan yang terjadi diantara mereka hanya berlangsung di dalam sekejap mata saja tetapi masing-masing pihak sudah saling menyerang sebanyak sebelas jurus dalam keadaan seimbang,

Dengan hati terperanjat masing-masing pihak mengundurkan dirinya ke belakang dan saling berpandangan tajam.

“Anak murid siapakah kau?” tanya si orang tua beralis putih itu dengan suara berat.

Koan Ing tidak menjawab sebaliknya berteriak keras, “Cepat perintahkan anak muridmu untuk lepaskan seruling, kalau tidak masing-masing pihak tentu akan menemui kesulitan.”

“Haaa.... haaaa.... bocah! kau orang sungguh sombong sekali, aku Giok Yang Coen selamanya belum pernah bertemu muka dengan manusia sesombong kau, dan kau sudah berani dua tiga kali memerintahkan diriku. hmmm! kurang ajar!” seru si orang tua itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Mendengar disebutnya nama Giok Yang Coen, Koan Ing segera merasa sangat terperanjat. ia tidak menyangka kalau Giok Yang Coen. Suma Han masih sehat-sehat saja bahkan saat ini saling berhadap2an dengan dirinya. Tempo hari Giok Yang Coen ini adalah seorang manusia yang paling pandai menjinakkan binatang tetapi ia mendengar pula kalau si orang tua ini telah lama meninggal, tetapi tidak disangka orang itu bukannya mati bahkan masih segar bugar.

“Ooow.... kiranya Suma Cianpwee!” seru Koan Ing tawar, air mukanya sedikitpun tidak memperlihatkan perubahan apapun. “Cuma sayang cianpwee sebagai seorang manusia berbakat yang amat terkenal kini harus menggunakan kekuatan binatang untuk mencelakai orang, hal ini benar- benar sangat memalukan sekali!”

Dengan pandangan tawar “Giok Yan Coen” Suma Han memandang ke arah pemuda tersebut.

“Hmmm! Bilamana tadi kau Orang memohon dengan baik- baik mungkin aku bisa mengabulkan permintaan itu, tapi datang2 kau sudah mengubar kesombonganmu bahkan berani mencari gara2 dengan diriku, sehingga sekarang aku jadi kepingin coba-coba ada seberapa tingginya kepandaian yang kau miliki.”

Dengan pandangan yang tajam Koan Ing memandang sekejap ke arah puncak seberang saat itu suara ledakan telah berhenti jelas kalau anak panah berapi telah habis digunakan sedang anak murid kedua perkumpulan selangkah demi selangkah kena didesak mundur ke arah punggung gunung.

Dalam keadaan cemas bercampur gusar, itulah ia membentak keras, sedang pedangnya digetar keras sehingga menimbulkan suara desiran yang amat tajam. dengan membentuk gerakan satu lingkaran menghantam ke atas tubuh Suma Han.

Inilah jurus ‘Han Lie Sin Wei’ atau dingin membeku tunjuk kekuatan.

Suma Han pun membentak keras, seruling pualamnya diobat-abitkan berulang kali, ditengah berkelebatnya berpuluh- puluh bayangan pualam dari ujung seruling munculnya si sastrawan hawa tenaga dalam berwarna putih mengurung seluruh tubuh sang pemuda.

Kiranya ia telah mengeluarkan ilmu seruling andalannya ‘Kioe Thian Giok Sah Kang Khie’ atau ilmu tenaga khie-kang sembilan langit malaikat pualam.

Koan Ing merasa hawa bergidik mulai mencekal hatinya, buru-buru pedangnya ditarik kembali dan diangkat sejajar alis.

Inilah jurus bertahan yang paling sempurna, ‘Hay Thian It Sian’.

“Heee.... heeee.... apa yang kau pelajari ternyata tidak sedikit!” seru Suma Han dengan amat dinginnya.

Koan Ing tetap membungkam, iapun tidak berani menggerakkan pedangnya karena dalam hati dia mengerti kalau tenaga dalam dari si orang tua itu tidak berada dibawahnya, sedikit salah saja maka masing-masing pihak akan menderita luka yang parah.

Seruling serta pedang saling bertahan pada posisinya masing-masing, mereka berdua sama-sama takut untuk menyerang terlebih dahulu mengambil kesempatan itu, tetapi merekapun tak mau menarik serangannya terlebih dulu,

Diam-diam Koan Ing merasa hatinya amat cemas, dia tidak tahu bagaimanakah situasi diseberang puncak sana, karena hatinya sedikit bercabang inilah tekanan dari pihak musuh semakin memberat.

Suma Han tertawa dingin tiada hentinya, saat ini ia telah berada di atas angin dan sebentar kemudian serangannya tentu bakal memperoleh hasil.

Sedang suasana mencapai saat-saat tegangnya itulah dari bawah puncak kembali berkelebat sesosok bayangan hijau yang berteriak sambil tertawa keras;

“Mari aku bantu dirimu!” Baru saja suara tersebut bergema datang tampaklah serentetan cahaya tajam berkelebat datang, sebilah pedang yang dengan cepatnya menusuk ke arah punggung Koan Ing.

Sinar mata Koan Ing berkelebat, di dalam sekali pandang saja dia bisa melihat kalau orang itu bukan lain adalah Yuan Si Tootiang itu ciangbunjin dari Bu-tong-pay, hatinya jadi semakin berdesir.

Di bawah gencetan serangan seruling dari Suma Han ini ia sudah tak bisa bergerak lagi apalagi kini mengambil kesempatan tersebut Yuan Si Tootiang telah menyerang datang, sehingga untuk mengubah jurus sudah tak sempat lagi, maka satu2nya jalan hanyalah tutup mata menanti saat kematian saja.

Tapi pada saat itulah mendadak terdengar Giok Yang Coen membentak keras dengan amat gusarnya: “Kau berani!”

Ditengah suara bentakan yang keras seruling pualamnya telah ditarik kembali dan balik menyerang ke arah iga kanan dari Yuan Si Tootiang.

Yuan Si Tootiang sendiri sama sekali tidak menyangka kalau Suma Han bisa melancarkan serangan ke arahnya, buru- buru pedangnya ditarik kembali untuk menghalangi serangan seruling pihak musuh.

Dengan kejadian itu maka Koan Ing pun berhasil meloloskan diri dari kematian, tubuhnya merasa amat ringan dan satu ingatan segera berkelebat di dalam benaknya.

Tangan kirinya dengan cepat membalik, ditengah suara bentakan yang amat keras sebatang anaK panah telah disambitkan ke arah si lelaki berbaju putih yang meniup seruling itu.

Sewaktu pedang dan seruling dari Suma Han dan Yuan Si Tootiang berpisah itulah suara dengusan dengan berat berkumandang datang, si lelaki berbaju putih itu telah kena tertancap anak panah didadanya, dan kini rubuh ke atas tanah,

Melihat serangannya dengan sangat mudah mendapatkan hasil Koan Ing jadi melengak, ia sama sekali tidak menyangka kalau si orang berbaju putih itu sama sekali tidak mengertii akan ilmu silat.

Sebenarnya dia bermaksud untuk melukai orang itu saja sehingga tiupan serulingnya terganggu, tidak disangka orang itu dengan mudahnya kena dihajar sehingga mati seketika itu juga,

Melihat muridnya mati air muka Suma Han kontan berobah jadi merah padam bagaikan darah, belum sempat ia mengucapkan kata-kata selanjutnya dari bawah puncak sekali berkelebat datang dua sosok bayangan manusia.

Mereka adalah Kokcu dari lembah Chiet Han Kok, Phoa Thian-cu serta si iblis bongkok dari daerah Si Ih, Jien Kong Fang dua orang.

Dan Suma Han sama sekali tidak memperdulikan kedatangan dari kedua orang itu, hanya dengan napas ngos- ngosan menahan kemarahannya yang memuncak ia berteriak keras: “Bagus! aku, aku menolong kau kini kau malah membinasakan muridku.”

Koan Ing sendiripun saat ini rada menyesal sama sekali tadi ia berdiri termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Yuan Si Tootiang yang berdiri di samping segera tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya. “Haaaa.... haaaa....

terhadap manusia semacam itu buat apa kau masih dapat bicara secara baik-baik, bunuh mati saja kan beres sudah!” teriaknya,

Selama ini Suma Han hanya menerima dua orng murid saja, murid tertua mati ditangan musuh besarnya karena itu sejak peristiwa tersebut ia tidak menurunkan ilmn silat kepada muridnya yang terakhir ini, siapa sangka karena hal itu muridnya malah mati ditangan Koan Ing,

Hatinya pada saat ini benar-benar merasa amat sedih ditambah kini mendengar perkataan dari Yuan Si Tootiang hatinya jadi semaKin amat gusar, karena ia tabu bilamana sitoosu tersebut tidak muncul maka muridnya tidak bakal mati ditangan orang lain.

“Hey hidung kerbau, di tempat ini lebih baik kau jangan banyak bicara, nanti aku hajar bacotmu!” teriaknya dengan keras.

Yuan Si Tootiang sebagai ciangbunjien dari partai Bu-tong- pay selamanya belum pernah dibentak orang secara begini. apalagi di tempat itu bukan hanya mereka berdua. kehormatannya kali ini benar-benar tersinggung.

“Aku gembira bicara apa siapa yang berani menghalangi diriku?” ejeknya sambil mendengus dingin,

Suma Han sebenarnya memang telah merasa kheki terhadap dirinya, kini melihat Yuan Si Tootiang tidak suka mengalah ia segera tertawa keras dengan seramnya.

“Bilamana kau tahu diri cepatlah menggelinding pergi dari puncak ini, kalau tidak jangan salahkan aku orang lemparkan kau dari sini!” teriaknya keras.

Air muka Yuan Si Tooiang berubah hebat. Sebenarnya ia bermaksud untuk buka bicara tetapi saat itulah “Sin Tie Langcoen” Ti Siuw-su telah berjalan mendekat dan berbisik perlahan: “Dia adalah Giok Yang Coen. lebih baik Tootiang bersabarlah sedikit. yang penting pada saat ini adalah binasakan dulu Koan Ing kemudian urusan baru dibereskan secara damai. Buat apa kau orang harus mencari gara-gara dengan dirinya?” Yuan Si Tootiang yang mendengar si orang tua di hadapannya ini adalah Giok Yang Coen Suma Han hatinya rada melengak, meskipun hatinya agak kaget tetapi ia yang sudah berada di atas angin mana suka mengalah begitu saja.

Sinar matanya berkilat lalu mendengus dingin.

“Hmm! Lebih baik kau bereskan dulu urusanmu dengan Koan Ing, kemudian kita baru bereskan urusan diantara kita!” serunya.

Suma Han yang mendengar perkataan dari Yuan Si Tootiang begitu pandang rendah dirinya, dalam hati ia merasa sangat panas.

“Heee.... heee.... kau tidak usah banyak bacot lagi, aku ingin menjajal seberapa lihaynya ilmu pedangmu,” katanya kemudian sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Hm! apa kau kira aku betul-betul takut kepadamu?” Melihat kedua orang itu sudah siap-siap hendak bergebrak

Koan Ing baru menoleh ke arah puncak seberang waktu itu suara seruling sudah berhenti, dengan sendirinya kawanan binatangpun telah bubar keempat penjuru hal ini membuat hatinya jadi lega.

Suma Han dengan dingin memandang sekejap ke arah Koan Ing, dalam hati ia merasa kelabakan sendiri, ia tidak pingin melepaskan Yuan Si Tootiang dengan begitu saja tetapi diapun tidak mau melepaskan Koan Ing.