Kereta Berdarah Jilid 19

Jilid 19

“HMM! SESUKAMU apa yang hendak engkau lakukan,” sahut Cha Can Hong dengan wajah yang dingin dan suara yang tawar. Ih Su Seng segera putar tubuhnya siap-siap meninggalkan tempat tersebut.

“Hee.... hee jangan pergi dulu!” Tiba-tiba Koan Ing membentak keras. “Kau sudah melupakan diriku!”

“Kau!” teriak Ih Su Seng sambil tertawa dingin. “Ini hari aku tidak berhasil menghajar dirimu urusan akan aku bikin selesai sampai disini saja, apakah kaupun ingin menahan diriku?”

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, “Kau pura-pura mati dan hendak membokong diriku, urusan ini aku tidak akan menarik lebih panjang lagi. Tetapi terculiknya bocah perempuan tersebut bagaimana pun juga kau ikut tersangkut, bilamana ini hari kau tidak jelaskan kepadaku dimanakah gadis itu disembunyikan heee ,.... heee , . jangan harap bisa pergi dari sini dalam keadaan selamat!” katanya.

Cha Can Hong yang mendengar perkataan dari pemuda tersebut dalam hati lantas mendengus dingin.

“Hmmm! Koan Ing sungguh amat sombong!” pikirnya dihati. “Apakah dengan kepandaian yang dimiliki ih Su Seng bisa ia tahan semuanya? Hmmm! Sungguh tak tahu kekuatannya sendiri, walaupun aku sebagai cianpweenya, tetapi di dalam urusan ini aku tidak akan ikut campur. Biar dia merasakan bagaimanakah rasanya dihajar habis-habisan oleh Ih Su Seng, dengan demikian biar dia tahu di kolong langit bukan cuma dia seorang yang lihay.”

Walaupun tadi Ih Su Seng tidak berhasil membokong dirinya tetapi ia tidak percaya kalau Koan Ing betul-betul memiliki kepandaian silat yang sangat lihay. Setelah mendengar perkataan tersebut hatinya benar-benar merasa amat mendongkol bercampur marah. Tak kuasa lagi sambil menengadah ke atas ia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya. “Haaaaa.... haaaa.... bagus! Bagus” teriaknya. Inilah yang dinamakan harimau masuk kampung kena digoda oleh sang anjing. Ini hari aku akan menggunakan kepandaianku untuk memberi ajaran adat kepadamu, Hmm! anak muda! Semakin hari kau orang semakin tak tahu diri, kau kira aku betul-betul bisa kau hina seenaknya?”

Koan Ing sama sekali tak tergetar hatinya, dia tahu Lan Toojien suruh dia datang kemari perkataannya tentu tidak akan salah, bagaimanapun juga Ih Su Seng pasti tersangkut di dalam peristiwa terculiknya Cha Ing Ing.

“Heeeee.... heeeee.... bagaimana juga bilamana kau ingin berlalu dari sini maka jelaskan dulu duduknya persoalan,” katanya kemudian dengan tawar,

Kembali Ih Su Suseng dongakkan kepalanya tertawa seram tubuhnya mendadak berkelebat kehadapan Koan Ing sedang tangan kanannya dengan cepat dibabat ke arah depan mengancam pundak kanan dari pemuda tersebut.

Inilah jurus “Huan Ci Seng Gwat” atau desak hancur bintang dan bulan dari ilmu telapak “Ci Sin Ciang. Walaupun serangannya dilancarkan amat biasa tetapi segulung hawa pukulan yang amat dahsyat tiada putusnya menerjang ke depan.

Koan Ing tanpa menggerakkan pundaknya tahu-tahu sudah menghindar kebalik hioloo besar yang ada ditengah ruangan itu.

Gerakannya itu bukan saja membuat Ih Su Seng merasa amat kaget sekalipun Cha Can Hong pun merasa amat terperanjat. Bukankah gerakan tersebut adalah ilmu ‘Toa Nah Heng Ih Wie Kang’ dari ilmu tenaga dalam tingkat teratas? Bagaimana mungkin pemuda itu berhasil mempelajarinya?

Walaupun dalam hati Ih Su Seng merasa amat kaget tetapi keadaannya pada saat ini Sudah mirip dengan anak panah yang telah dipentangkan di atas busur, sekalipun tak sanggup harus dilepaskan juga.

Dengan cepat ia membentak keras, tubuhnya segera mengejar ke arah depan dan berturut melancarkan tiga serangan berantai.

Kembali Koan Ing berkelebat untuk menghindarkan diri dan serangan tersebut.

“Hmmm! Apakah kau orang masih belum tahu kalau aku lagi mengalah?” serunya dingin.

Walaupun mereka belum bergebrak secara resmi tetapi jelas kelihatan gerakan dari Koan Ing jauh lebih cepat dari diri Ih Su Seng tak usah dipertandingkan lagi sudah kelihatan kalau dia pasti kalah.

Lama sekali Orang bekas ketua Kay Pang ini termangu- mangu, akhirnya ia menghela napas panjang.

“Heeeei.... tidak kusangka kepandaian silatku tidak bisa memahami kepandaian dari seorang bocah cilikpun!” gumamnya.

“Di dalam kuil ini tidak mungkin tidak ada orang” kata Koan Ing lagi dengan perlahan, “Lenyapnya bocah perempuan itupun tidak mungkin tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, bilamana kau tidak mau juga berbicara.... heee. heeeee

jangan kau salahkan aku akan bertindak kasar terhadap kau orang!”

Dengan perlahan Ih Su Seng menundukkan kepalanya berpikir sebentar. sedang Koan Ing sambil kerutkan alisnya memperhatikan dirinya tak berkedip.

Cha Can Hong sebenarnya merasa tidak percaya kalau Ih Su Seng bisa turun tangan menculik puterinya tetapi melihat sikapnya yang lagi termenung ini, hatinyapun segera merasa ragu-ragu kembali. Pada saat ini dia tidak ingin ikut campur, makanya sambil tutup mulutnya rapat-rapat ia menanti jawaban dari Ih Su Seng.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, baru saja dia bermaksud untuk berbicara mendadak Ih Su Seng membentak keras sedang tubuhnya dengan amat cepat menubruk ke arah Koan Ing.

Di dalam sekejab mata ia sudah melancarkan delapan buah serangan dahsyat menghajar ke atas tubuh pemuda tersebut, inilah jurus “Seng Gwat Hwie Hun” atau bintang dan rembulan terbang berpisah yang merupakan jurus andalannya selama ini.

Seketika itu juga seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan berpuluh-puluh suara ledakan yang memekakkan telinga. Angin pukulan laksana mengamuknya ombak ditengah samudra dengan hebatnya menggulung tubuh Koan Ing.

Koan Ing sama sekali tidak menyangka di dalam saat seperti ini Ih Su Seng bisa melancarkan serangan bokongan. Tubuhnya bagaikan kilat berkelebat ke samping.

Ditengah menyambarnya angin pukulan, dengan cepatnya pakaian yang dikenakan oleh pemuda itu berhasil dihancurkan sehingga terbang berkeping-keping. Dengan demikian tampaklah sebaris pedang pendek serta cambuk perak yang dikenakan di pakaian sebelah dalam. 

Di dalam keadaan amat terkejut bercampur gusar, Koan Ing membentak keras, tangan kanannya menyambar ke arah pinggang mencabut keluar cambuk perak sepanjang delapan kaki itu dan menghajar ke arah pinggang Ih Su Seng.

Serangan yang dilakukan di dalam keadaan gusar ini telah menggunakan hampir seluruh bagian dari tenaga dalamnya, tampaklah cahaya keperak2an memancar keluar memenuhi angkasa, seluruh ruangan seketika itu juga sudah dipenuhi dengan hawa serangan cambuk yang berdesir menyesakkan napas.

Melihat kedahsyatan tersebut Ih Su Seng merasakan nyalinya terpecah, Ketika serangan cambuk laksana kilat menyambar ke arahnya ia membentak keras, telapak kanannya berturut-turut melancarkan dua puluh delapan buah serangan ke arah cambuk tersebut sedangkan tubuhnya sendiri dengan amat gesit menyingkir ke arah samping.

Dengan cepat angin pukulan itu terbentur dengan serangan cambuk sehingga menimbulkan gulungan angin taupan yang amat menyeramkan.

Baru saja Ih Su Seng menyingkir ke samping Koan Ing sudah enjotkan badannya mengejar dari belakang, cambuk panjangnya berputar satu lingkaran ditengah udara sehingga membentuk bunga-bunga cambuk yang amat banyak kemudian dengan cepatnya mengurung sekeliling tubuh musuhnya.

Buru-buru Ih Su Seng mencelat ke samping sepasang telapaknya kembali melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan.

Berpuluh-puluh suara ledakan segera memenuhi angkasa, tetapi begitu serangan cambuk itu tiba maka lenyaplah suara ledakan itu kena dipunahkan.

Suara desiran serangan cambuk semakin lama semakin mengencang sedang suara ledakan dari hasil angin pukulan Ih Su Seng pun semakin lama semakin lemah dan terkurung. yang satu maju yang lain mundur seketika itu juga membuat seluruh wajah bekas ketua Kay Pang ini telah dipenuhi dengan air keringat.

Di bawah serangan cambuk yang gencar dari Koan Ing ini napas dari bekas ketua Kay Pang benar-benar terasa amat sesak dan pusing kepala dibuatnya. Mendadak ditengah angkasa berkumandang jeritan kaget yang amat keras. dimana serangan cambuk berkelebat pakaian yang dikenakan oleh Ih Su Seng pun sudah kena berkeping-keping.

Dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat Ih Su Seng buru- buru mengundurkan diri ke belakang dengan sempoyongan. sedang tubuh Koan Ing dengan gagahnya menghadang jalan perginya.

Sebentar kemudian dari sepasang mata Ih Su Seng telah memancar keluar cahaya terkejut yang bukan alang-kepalang, di bawah serangan gencar dari cambuk Koan Ing itu benar- benar tidak memberi sedikit kesempatan pun baginya untuk balas menyerang, hal ini jelas memperlihatkan kalau tak ada harapan lagi buatnya untuk mengundurkan diri dari sana.

Koan Ing dengan cambuk panjang dilintangkan di depan dada tanpa mengucapkan sepatah katapun memperhatikan diri Ih Su Seng tajam-tajam.

Cha Can Hong yang menonton jalannya pertempuran dari sampingpun merasa agak terperanjat, jangan dikata kepandaian silat dari Ih Su Seng masih lebih rendah satu tingkat dari dirinya sekalipun dia sendiri yang maju belum tentu bisa menangkan diri Koan Ing.

“Ih Su Seng!” ujar Koan Ing dengan perlahan. “Aku tidak akan mengungkap lagi soal perbuatanmu yang pura-pura mati dan membokong diriku, ini hari juga aku minta kau menjelaskan jejak dari bocah perempuan yang kau culik itu. Kalau tidak. hmmm! Jangan harap bisa pergi dari sini!”

Sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan inipun merupakan jagoan dari Bu-lim, dia orang mana pernah menerima penghinaan yang seperti dialaminya ini hari? Sambil menggigit kencang bibirnya ia lantas membentak keras.

“Koan Ing! kau terlalu menghina diriku?” Koan Ing segera mengerutkan keningnya, belum sempat ia mengucapkan sesuatu mendadak dari belakang tubuhnya kembali berkumandang datang suara dari seseorang yang terasa amat dikenalnya,

“Koan Ing! kau terlalu menghina orang lain!”

Dengan perlahan pemuda itu putar badannya, tetapi setelah melihat siapakah dia orang dia jadi tertegun.

Kiranya orang itu bukan lain adalah Sin Tie Pangcu, Ti Siuw-su adanya.

Bukankah dia ada janji dengan Sang Su-im di atas gunung Jien Giok Hong? Bagaimana kini bisa muncul disini?.

Dengan langkah yang amat perlahan “Sin Tie Langcun” Ti Siuw-su berjalan masuk, ke dalam ruangan.

“Siapakah kau orang?” tanya Cha Can Hong dengan nada yang amat dingin.

Cha Can Hong tidak kenal dengan diri Ti Siuw-su sebaliknya Ti Siuw-su kesal dengan Cha Can Hong, terdengar ia mendengus dingin.

“Hmm! walaupun nama besar dari si dewa telapak dari gurun pasir amat terkenal di dunia kang-ouw! tetapi aku percaya kau masih belum apa-apanya dengan nama Sin Tie Pang tempo hari!”

Perkataan ini secara tidak iangsung telah memperkenalkan dirinya, tetapi bagi Cha Can Hong sudah cukup mengerti kalau yang datang adalah Ti Siuw-su sendiri, hatinya jadi amat terperanjat.

Dengan kepandaian silat yang aku miliki apakah masih bisa menangkan diri Ti Siuw-su?” pikirnya diam-diam.

Walaupun dihatinya dia berpikir demikian, tetapi wajahnya masih penuh dihiasi dengan senyuman. “Heee.... heee.... apa gunanya kau mengungkap2 kembali peristiwa yang telah lalu?” katanya dingin. “Kejajaan serta kecemerlangan nama Sin Tie Pang pun sudah merupakan peristiwa tempo hari, apa kau kira saat ini perkumpulanmu masih bisa main paksa?”

“Haaa.... haaa.... kurang ajar! sungguh kurang ajar sekali!” teriak Sin Tie Langcoen sambil tertawa seram. “Bilamana hari ini aku tidak kasih sedikit hajaran terhadap dirimu, tentu kau tidak mau tahu bagaimanakah pengaruh perkumpulan Sin Tie Pang kami!”

Selesai berkata dengan gusarnya dia membentak, “Atur barisan Seng Loo Toa Tin!”

Begitu suara perintah diucapkan, maka dari balik tembok segera bermunculan seratus orang bersenjatakan seruling besi yang masing-masing dengan cepat menempatkan diri pada posisi tertentu untuk mengurung seluruh ruangan tersebut.

Sinar mata Koan Ing berkilat dia pernah merasakan bagaimana dahsyatnya barisan “Seng Loo Tin”, bilamana waktu itu Cha Ing Ing tidak datang tepat waktunya pasti bereslah sudah nyawanya.

Kini Ti Siuw-su telah mengatur barisan “Seng Loo Toa Tin” ini terhadapnya, barisan yang semula hendak digunakan untuk menghadapi Sang Su-im tentu maha dahsyat.

Dengan dinginnya ‘Sin Tie Langcoen’ Ti Siuw-su  mendengus dingin, kendati dalam hatinya dia telah bermaksud untuk menjagoi seluruh daerah Tionggoan sudah tentu  ia telah mengerahkan semua tenaga serta kekuatannya pada barisan ini,

Tetapi dengan diri si Dewa Telapak dari gurun pasir dia tak ada dendam sakit hati apa pun, untuk mencari gara2 terhadap dirinya sudah tentu tidak mungKin terjadi. Setelah termenung beberapa saat lamanya, akhirnya ia menarik napas panjang.

“Cha Can Hong!” ujarnya. “Antara kita berdua tak ada ikatan sakit hati sedalam lautan, bilamana kau tidak ingin bermusuhan dengan diriku lebih baik cepat2lah  mengundurkan diri dari kalangan!”

“Haaa.... haaa.... Ti Siuw-su!” teriak Cha Can Hong sambil tertawa terbahak-bahak. “Sejak kapan kau pernah melihat aku orang she Cha mengundurkan diri dan lari terbirit2 setelah kematian berada diambang pintu?”

Sin Tie Langcoen tidak berbicara lagi sedang sipengemis tunggal dari kesembilan keresidenan Ih Su Seng pun dengan perlahan mengundurkan diri ke samping dia yang melihat Ti Siauw Su telah membentuk barisan “Seng Loo Toa Tin” hatinya merasa rada lega.

“Paman Cha!” Tiba-tiba Koan Ing berseru setelah memperhatikan sekejap keadaan sekelilingnya. Hanya untuk menghadapi barisan yang sedemikian kecilnya buat apa kau orang harus turun tangan sendiri? Lebih baik kau orang menyingkir saja ke samping kalangan dan menonton cayhe seorang diri mengobrak-abrik barisan jelek ini.”

Mendengar perkataan tersebut Cha Can Hong jadi rada melengak, sebentar saja ia sudah menaruh rasa kheki terhadap pemuda itu,

“Hmm? Bocah ini sungguh sombong amat aku dengar barisan Seng Loo Toa Tin dari perkumpulan Sin Tie Pang amat dahsyat sekali sekalipun maju dua orangpun belum tentu bisa dipecahkan apalagi dia turun tangan seorang diri.... ” pikirnya dihati.

Bukan begitu saja, walaupun nada ucapan sang pemuda yang menolak ia ikut campur kedengarannya amat enak didengar, tapi jelas mengandung maksud kata-kata, “Kepandaian silatmu belum cukup, kau tidak usah mengacau perhatianku. Lebih baik silahkan menyingkir saja!”

Berpikir akan hal itu hawa amarah segera membakar seluruh hati Cha Can Hong!

“Hmm! Hmm! Bagus, bagus, tidak malu kau orang jadi anak murid dari Thian-yu Khei Kiam” dengusnya dengan amat dingin “Baiklah, bilamana kau tidak membutuhkan aku Cha Can Hong akupun tidak akan memaksa, apalagi jelas sekali Ing Ing putriku bukan mereka yang culik, lebih baik aku pergi mencari putriku Hmm, manusia jahanam. manusia sombong, jangan kau kira aku orang she Cha suka bantu dirimu untuk memukul jebol barisan tersebut!”

Sehabis berkata dengan murkanya ia mendengus, lalu tanpa menoleh lagi segera putar tubuh dan berlalu dari sana.

Sebetulnya Sin Tie Langcoen memang tak ada maksud untuk mencari gara2 dengan diri Cha Can Hong, diapun tidak berhasrat untuk menahan dirinya karenanya melihat si dewa telapak berlalu dalam keadaan gusar ia tidak turun tangan mencegah.

Lama sekali ia memandang bayangan punggung Cha Can Hong dengan termangu-mangu akhirnya suatu senyuman dingin menghiasi bibirnya,

“Koan Ing!” serunya kemudian dengan keras sambil  tertawa terbahak-bahak. “Kau jadi orang sungguh terlalu sombong, bilamana kau berhasil memukul hancur barisan “Seng Loo Toa Tin” ku ini. bukan saja sejak ini hari aku tidak bakal munculkan dirinya kembali di dalam dunia persilatan bahkan segera akan mengumumkan di seluruh dunia kangouw kalau kau adalah manusia nomor wahid dari Bu-hm!”

Sinar mata Koan Ing berkilat. dia tidak mengucapkan sepatah katapun sebaliknya diam-diam mulai memikirkan cara-cara yang tepat untuk memukul hancur barisan itu. Ti Siuw-su dengan cepat berkelebat ke atas tembok dan mengundurkan diri keluar dari barisan, suara tiga kali tepukan dengan cepat bergema memenuhi angkasa.

Koan Ing tahu Ti Siuw-su bermaksud untuk menggerakkan barisannya, pada saat itulah suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya.

“Siapa yang turun tangan terlebih dulu, ia bakal menang di atas angin.”

Belum habis Sin Tie Langcoen bertepuk tangan, ditengah suara suitan yang amat nyaring tubuhnya sudah bergerak maju ke depan, cambuk peraknya dengan disertai suara sambaran yang amat keras menghajar kaki sebelah dari hioloo besar ditengah ruangan itu.

Dimana cambuk perak itu menyambar. hioloo raksasa tersebut dengan disertai suara desiran yang amat tajam menyapu seluruh orang yang ada ditengah kalangan.

Seruling besi dengan cepat mulai bergerak, berturut-turut sembilan buah seruling besi bersama-sama bergerak menahan serangan hioloo raksasa itu, sedang orang yang ada di belakang tubuh pemuda itu mulai melancarkan serangan menghajar punggungnya.

Ditengah suara desiran cambuk ditengah udara tampaklah bunga-bunga cambuk memenuhi angkasa, hioloo raksasa yang ada di dalam libatan sang cambuk mendadak terlepas dari cekalan dan menindih ke atas tubuh tujuh orang, bersamaan waktunya pula cambuk perak tersebut menyapu ke arah belakang tubuh mereka,

Melihat kejadian tersebut sinar mata Sin Tie Langcoen berkilat, dia sama sekali tidak percaya kalau orang yang ada di hadapannya saat ini adalah Koan Ing. bagaimana mungkin perpisahannya yang amat singkat dengan pemuda itu bisa membuat kepandaian silatnya memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya? Bilamana kepandain silat dari Koan Ing benar-benar sedemikian lihaynya maka seberapa dahsyatnya kepandaian silat yang dimiliki empat manusia aneh? cukup dengan jurus serangan terakhir dari Koan Ing ini saja telah lebih dari cukup untuk membuat hatinya terasa amat jeri.

Barisan ‘Seng Lo Toa Tin’ mulai bergerak, ditengah sambaran seruling besi yang amat gencar terasalah segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat balik menekan cambuk perak dari Koan Ing,

orang-orang yang ada disekiling barisan itupun mulai mendesak diri pemuda tersebut. Koan Ing yang melihat cambuknya kena di desak hatinya rada berdesir, dia merasa barisan ini cuma bisa dipukul hancur di dalam sekali serangan saja, kalau tidak maka tenaga kekuatan yang mendesak ke arahnya akan semakin menghebat! hal ini sangat berbahaya sekali bagi keselamatannya,

Sinar matanya kembali berkilat, ditengah menyambarnya sang cambuk perak berturut-turut ia melancarkan delapan buah serangan sekaligus! tetapi sayang, setiap serangannya berhasil kena dipunahkan oleh ‘Seng Lo Toa Tin’ dengan amat mudahnya.

Perlahan-lahan luas kepungan dari ‘Seng Lo Toa Tin’ inipun mulai mengecil dan mengencang.

Ditengah rasa terperanjat yang bukan kepalang Koan Ing membentak keras, cambuk peraknya dengan cepat menyapu hebat ke depan sedang tangannya yang lain melepaskan busur peraknya.

Sin Tie Lang coen dapat melihat seluruh kejadian ini dengan amat jelas, buru-buru lantas ia berteriak, “Cepat perketat serangan, jangan membiarkan dia orang lepaskan anak panah.” Barisan ‘Seng Lo Toa Tin’ dengan cepat berputar, beratus- ratus buah tali serat dengan cepatnya berdesir memenuhi angkasa meluncur ke arah diri Koan Ing,

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi sangat terperanjat, cambuknya dengan dahsyat menyapu keluar.

Ditengah berkilatnya cahaya perak yang amat menyilaukan mata tali serat itu berhasil disapu hancur oleh serangannya, sekalipun begitu ia merasa ngotot sekali....

Pada saat itulah ada beberapa orang berhasil menerjang maju dari barisan Seng Lo Toa Tin dan berdiri kurang lebih tiga kaki dari dirinya, segulung hawa serangan yang amat dingin dengan cepatnya berdesir dari sisi tubuhnya, ia tahu bilamana lebih banyak lagi orang yang berhasil menerjang lebih dekat maka serangan cambuknya akan berhasil ditangkis dan dipunankan kejalan yang buntu,

Dengan gusarnya ia meraung keras, cambuk peraknya ditarik kembali kemudian dilibatkan kepinggangnya.

Anak panah perak dengan menggunakan kecepatan yang paling top disambitkan ke arah depan, ditengah suara berkelebatnya cahaya keperak-perakan, terdengarlah suara jeritan ngeri memenuhi angkasa.

Tiga orang yang berada di hadapannya berhasil kena dihajar sehingga mati seketika itu juga.

Suara jeritan kaget segera bergema memenuhi angkasa, barisan ‘Seng Lo Toa Tin’ dengan menggunakan kecepatan yang paling dahsyat menarik diri ke arah belakang.

Sinar mata pemuda itu kembali berkilat, ketiga anak panah yang berada ditangannya kembali disambitkan ke arah depan.

Sreeet! Sreeet! Sreeet! Ditengah suara desiran yang amat tajam tampaklah serentetan cahaya keperak-perakan meluncur ke arah depan. Kembali sepuluh orang berhasil kena dihajar hingga terpental oleh serangan panah itu. Dengan dinginnya Sin Ti Langcoen mendengus dingin, dia tidak menyangka sesaat pemuda itu sudah berhasil didesak berada di bawah angin ia telah menggunakan busur serta anak panahnya.

Untuk menghadapi serangan cambuk panjangnya saja tadi barisan Seng Lo Toa Tin hampir-hampir kewalahan apalagi keadaannya pada saat ini, boleh dikata kekuatan dari barisan tersebut benar-benar kena tertutup dan berada pada jalan buntu.

Dalam hati iapun merasa kuatir bilamana secara tiba-tiba Koan Ing menerjang keluar dari dalam kepungan, tubuhnya dengan cepat berkelebat dan menghalang di depan pintu.

Dalam hati Koan Ing pun bermaksud untuk menerjang keluar dari tengah kepungan walaupun pada saat ini ia berhasil mengobrak-abrik barisan tersebut sehingga dirinya terbebas dari jepitan tetapi bilamana ‘Seng Loo Toa Tin’ kembali bersatu padu untuk menahan belum tentu ia akan kuat.

Diapun bisa melihat maksud dari Sin Ti Langcoen Ti Siuw- su yang hendak menghalangi jalan pergi nya,

Sekalipun begitu ia tidak jadi gentar karena di dalam hatinya telah ada perhitungan, ditengah suara suitan yang amat nyaring berturut-turut ia melancarkan dua buah serangan anak panah ke arah depan.

Anak murid dari perkumpulan “Sin Tie Pang” yang melihat Koan Ing berhasil membinasakan tiga orang di dalam sekali serangannya dalam hati sudah menaruh rasa was2, kini melihat datangnya serangan yang begitu dahsyat bagaimana mungkin mereka berani menerimanya, buru-buru semua orang pada mengundurkan diri ke belakang sedang orang yang ada di belakang barisanpun berganti mengerumun ke depan.

Tidak jauh kedua batang anak panah itu menyambar keluar mendadak telah berputar setengah lingkaran ditengah udara sehingga membentuk gerakan membusur dan meluncur kembali ke arah belakang tubuhnya.

Bersamaan itu pula Koan Ing balikkan badannya, ditengah suara suitan yang amat nyaring ia telah menubruk ke arah belakang.

Dimana anak panah itu datang menyambar semua orang menjerit ngeri dan rubuh bermandikan darah sedang lima orang lainnya kena terbawa oleh tenaga pentalan sehingga jatuh terjengkang.

Cambuk Koan Ing kembali menyapu ke arah depan, sepuluh orang seketika itu juga rubuh mencium tanah.

Mengambil kesempatan itu pemuda itu mencelat ke atas ruangan karena menurut anggapannya begitu menjebol atap, maka selamatlah jiwanya.

Bilamana tubuhnya telah mencapai atas atap maka sekalipun barisan ‘Seng Lo Toa Tin’ adalah sebagaimana lihaynya pun tidak mungkin bisa mengapa-apakan dirinya.

Siapa tahu baru saja tubuhnya meluncur sampai ditengah udara, terdengarlah suara bentakan yang amat dingin bergema datang.

“Hmmm! Kau masih ingin meninggalkan ruangan ini,  jangan bermimpi disiang hari bolong!”

Koan ing yang mendengar suara bentakan itu segera merasakan hatinya amat terperanjat, tampaklah tubuh sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan melayangkan diri dari samping kemudian berturut-turut melancarkan sepuluh buah serangan dahsyat menghalangi perjalanannya.

Koan Ing yang diserang secara demikian segera merasa amat kheki bercampur gusar, dia meraung keras, telapak kirinya menarik kembali busurnya dan melancarkan tiga buah serangan gencar dengan menggunakan tiga bilah pedang perak. Ditengah suara desiran yang amat keras serta berkelebatnya cahaya keperak2an ketiga biiah pisau terbang tersebut dengan membentuk posisi yang amat aneh dan mengerikan mengancam seluruh tubuh ih Su Seng.

Bekas ketua Kay Pang ini lantas merasakan hatinya bergidik, tubuhnya buru-buru melajang ke samping dan mengundurkan dirinya ke belakang.

Siapa tahu dimana saat tubuhnya melayang tahu-tahu sudah terhalang oleh pintu ruangan....

“Braaak!” tak kuasa lagi kedua bilah pedang pendek tersebut menghajar disisi tubuhnya sedang pedang yang terakhir dengan tepat menghajar pundak kanannya sehingga menancap kegagang-gagangnya.

Kontan saja Ih Su Seng dibuat ketakutan sehingga terkencing2, keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya. Lama sekali ia berdiri termangu-mangu disana dengan paras muka berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

Sewaktu berputar badannya tadi Koan Ing telah berhasil menggantungkan busurnya kepinggang, tanpa buang banyak tempo lagi sepasang telapak tangannya kembali diajun ke depan.

Sisanya Sembilan bilah pedang perak dengan memancarkan cahaya yang berkilauan sudah dicekal pada ujung2 jarinya, lalu dengan sinar mata yang amat tajam ia menyapu sekejap ke seluruh kalangan.

Ooo)*(ooO

Bab 47

DENGAN perasaan amat terperanjat dan tertegun “Sin Tie Lang coen” Ti Siauw Su berdiri disana, ia benar-benar tergetar hatinya melihat kelihayan dari Koan Ing dimana dalam satu jurus saja telah berhasil memantek tubuh sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan Ih Su Seng di atas dinding, jelas bilamana bekas ketua Kay Pang ini sedikit bergerak saja pemuda itu pasfi membinasakan dirinya.

Sampai dimana tingginya tenaga dalam yang dimiliki oleh lh Su Seng, dalam hati dia mengetahui dengan jelas sekali, tapi kini ternyata ia sudah dikalahkan oleh Koan Ing hal ini menunjukkan kalau untuk menghadapi diri Koan Ing bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

KOan Ing!” ujarnya kemudian dengan amat dingin. “Hitung- hitung saja ini hari kau berhasil ungguli diriku, tetapi mulai ini hari juga kita sudah berhadapan sebagai musuh, perduli bagaimanapun juga akan membinasakan dirimu!”

Mendengar perkataan itu Koan Ing kontan kerutkan keningnya, memang sejak semula, ia sudah menduga kalau Ti Siuw-su bisa berbuat demikian tetapi ia sama sekali tidak menduga kalau Ti Siuw-su bisa bersumpah di hadapannya.

Dengan perlahan sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan itu mencabut keluar pedang pendek yang menancap pada pundaknya dan selama ini belum pernah ia menderita kekalahan seperti hari ini.

Maka sambil menggigit kencang bibirnya dan mencekal erat-erat pedang pendek itu pada tangan kiri, teriaknya dengan amat sinis, “Pada suatu hari aku pasti akan menghancur leburkan tubuhmu!”

“Hmm? Itu urusanmu sendiri, tapi tinggalkan dulu pedang pendek itu!” sahut Koan Ing tawar.

Dengan gusarnya sipengemis tunggal dari sembilan keresidenan mendengus, tangan kirinya segera diajunkan mengembalikan pedang pendek tersebut ke arah Koan Ing.

Koan Ing pun mengajunkan tangan kirinya ke atas dan membalikkan pedang pendek tersebut ke dalam telapak tangannya, kemudian disusul jari tengah serta telunjuknya disentilkan ke depan menahan datangnya tenaga sambaran. Maka dengan mudahnya ia sudah berhasil menjepit pedang tersebut diantara kedua belah jari tangannya

Sin Tie Langcoen tak dapat mengucapkan sepatah katapun, saat ini tidak ada waktu baginya untuk merasa menyesal.

“Beritahukan kepada Sang Su-im” katanya kemudian dengan suara yang amat dingin “Perjanjian di atas puncak Jien Giok Hong kubatalkan!” Selesai berkata dia ulapkan tangan untuk mengundurkan seluruh anak murid dari perkumpulan Sin Tie Pangnya.

Hanya di dalam sekejab saja mereka sudah pada berlalu dari tempat itu, hingga tinggallah sebuah kuil yang amat sunyi saja.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, pakaiannya sudah pada kojak, serta iapun lalu masukkan pedang perak itu ke dalam sarungnya. Dan kembali suasana begitu sunyi- senyap, tak tampak sesosok manusiapun.

Lan Tojien meminta dirinya masuk ke dalam hutan tidak disangka bukannya tidak berhasil mendapatkan diri Cha Ing Ing sebaliknya malah sudah bertemu dengan Sin Tie Langcoen bahkan telah membuat si dewa telapak pergi dalam keadaan kheki.

Pemuda itu kerutkan alisnya rapat-rapat akhirnya dengan langkah yang perlahan berjalan keluar dari kuil.

Baru saja tiba di depan pintu kuil tiba-tiba satu ingatan kembali berkelebat di dalam benak pemuda tersebut.

Ia merasa Lan Toojien tidak ada alasan untuk menipu dia, lalu kenapa dirinya tak menemui seseorangpun? Apakan mungkin si kakek bongkok dari daerah Sie Ih itu telah pergi? Atau dia yang telah salah mencari?

Sinar mata pemuda itu dengan perlahan menyapu sekejap ke arah kuil tersebut, akhirnya setelah berpikir beberapa saat lamanya ia enjotkan badannya untuk mengitari pintu kuil itu menuju ke arah bagian belakang dari rumah ibadah tersebut.

Setelah kurang lebih dua lie sampailah dia itu ditengah jalan kecil seperti usus kambing diantara hutan itu yang menghubungkan tempat tersebut dengan sebuah mulut selat.

Sekali pandang saja pemuda itu lantas merasa kalau jalan itu mungkin masih ada satu lie. Melihat akan hal tersebut Koan Ing merasa hatinya rada berdebar.

“Apa mungkin tempat ini yang dimaksudkan?” pikirnya dihati.

Sekali lagi tubuhnya bergerak menuju ke arah mulut selat. dia yang berkepandaian tinggi serta bernyali tebal itu tanpa memperdulikan lagi apakah di tempat tersebut ada jebakan atau tidak dengan cepatnya menerjang ke depan.

Setelah berada di dalam selat itu sinar matanya kembali berputar, tampaklah batu-batu aneh bermunculan diempat penjuru, bunga tumbuh dengan suburnya di seluruh pelosok menambah semerbaknya suasana, kelihatannya tempat yang pemandangannya sangat indah....

Koan Ing berdiri termangu-mangu, lama sekali dia memandang ke arah mulut selat itu dengan pandangan melongo. Mendadak dari balik sebuah batu muncullah seorang kakek tua yang berbadan bongkok, kakek itu menundukkan kepalanya rendah-rendah sehingga tidak tampak bagaimanakah wajahnya tetapi yang terang ditangannya mencekal sebuah tongkat yang terbuat dari pualam yang berwarna hijau.

Dengan pandangan yang tajam Koan Ing memperhatikan si kakek bongkok itu, mendadak tanyanya, “Jang datang apakah Si Ih Tuo Su atau si kakek bongkok dari daerah Si Ih. Jien Kong Pang adanya!” Kakek bongkok tua itu menghentikan langkahnya baru kemudian dongakkan kepalanya.

Terlihatlah sinar mata yang amat tajam memancar keluar dari matania, di atas kepalanya terikat secarik kain putih dengan selembar wajah yang penuh kerutan, hal ini membuat semua orang yang melihat pasti merasa rada bergidik.

“Ehmmm! memang akulah Si Ih Tuo So, ada urusan apa kau datang kemari mencari diriku?” kata orang itu dengan suara yang amat rendah serak dan berat.

Suaranya itu amat tidak enak didengar sehingga membuat hati seperti dipukul dengan martil besar, Koan Ing pun yang mendengar nada suaranya amat tawar kontan kerutkan alisnya rapat-rapat....

“Hmmm! kalau kau adalah Jien Kong Fang maka cepatlah lepaskan gadis cilik yang kalian culik pergi itu!” katanya.

“Heeee.... heeee.... mungkin kaulah Koan Ing sipemuda konyol itu!” seru Jien Kong Fang sambil ketawa dingin tak hentinya. “Kau akan mengandalkan dirimu seorang buat minta orang? heee.... heee.... masih terpaut amat jauh, kendati aku berani menangkap orang sudah tentu berani pula menghadapi orang yang datang menolong dirinya!”

Koan Ing yang mendengar dia mengaku dengan begitu enaknya bahkan tak memandang sebelah matapun ke arahnya dalam hati merasa rada mendongkol juga, pikirnya; “Hmm? Agaknya bilamana ini hari aku tidak menggunakan cara kekerasan urusan tidak akan bisa beres.” 

Maka sinar matanya segera berkilat2, “Kalau begitu baiklah akan kuhadapi terlebin dulu dirimu!” katanya.

Koan Ing sebetulnya tidak mengetahui seberapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Jie Kiong Fang karenanya untuk sementara waktu ia tidak berani berlaku gegabah. Dan dengan perlahan cambuk peraknya dilepaskan sedang sepasang matanya dengan tajam memperhaatikan terus si kakek bongkok tersebut.

“Heee.... heee.... sebelum bergebrak baiklah aku peringatkan dulu dirimu, selamanya aku tidak pernah melepaskan setiap mangsa yang berani cari gara2 dengan diriku!” ujarnya si kakek bongkok dari daerah Si Ih ini sambil tertawa dingin.

Dengan perlahan Koan Ing mengangkat cambuk peraknya kemudian disilangkan di depan dada,

Pada saat itulah Jien Kong Fang merasakan ketegangan yang luar biasa, secara tiba-tiba ia merasa dengan keadaan dari Koan Ing pada saat ini tentu telah memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi dari pada apa yang didengarnya.

Maka tongkat pualam ditangannya segera didorongkan ke depan, sedang mulutnya tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa dingin yang berat dan rendah.

Koan Ing membentak keras, tubuhnya segera melayang ke depan sedang cambuknya dia dipancangkan dan segera dibabat ke depan, membentuk bunga-bunga cambuk yang amat banyak bagaikan naga sakti dengan cepatnya menghajar tubuh Jien Kong Fang.

Buru-buru Jien Kong Fang segera menyingkir ke samping sambil melancarkan tiga buah serangan sekaligus. hanya di dalam sekejap itu saja ditengah udara terdengarlah tiga kali suara ledakan nyaring, cambuk perak ditangan pemuda itu bagaikan seekor ular ketika dengan kencangnya melibat tongkat pualam itu

Jien Kong Fang merasa hatinya rada berdesir karena ia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing dapat berhasil melibat tongkat pualamnya sewaktu ia sedang melancarkan tiga buah serangan gencar. Maka lima jari tangan kanannya dengan kencarg2 memegang tongkat pualamnya sedang satu dengusan berat dengan bergema memenuhi angkasa dan secara diam-diam ia menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tongkatnya untuk memukul pental tubuh Koan Ing dan tangan kanannya dengan keras diangkat ke arah atas.

Tubuh Koan Ing yang ada ditengah udara buru-buru luruskan lengan kanannya ke depan, cambuk perak itu kontan jadi menegang laksana tongkat perak yang amar kuat, diantara menggetarnya tangan. cambuk peraknya membusur ke belakang sia2 menghajar tubuh Jien Kong Fang.

Pada saat yang bersamaan kedua belah pihak masing- masing telah menggunakan tenaga yang amat besar, Koan  Ing yang melihat serangannya tidak berhasil mencapai pada sasaran segera bersuit panjang, tubuhnya pun mencelat ke atas melepaskan cambuk peraknya lalu disusul satu sentilan dahsyat menjerat leher dari si kakek bongkok tersebut.

Sinar mata Jien Kong Fang kembali berkilat, ia sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing jauh berada dari dugaannya semula.

Maka tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas tongkat pualamnya dibabat mendatar menangkis datangnya serangan yang mengancam lehernya.

Mereka berdua sama-sama melancarkan serangan dengan seluruh tenaga. hanya di dalam sekejap mata suara bentakan keras menggetarkan seluruh angkasa, masing-masing pihak telah saling bertukar serangan sebanyak puluhan jurus.

Dalam hati Koan Ing pun merasa hatinya rada berdesir, ia mengerti kalau tenaga dalam yang dimiliki dirinya pada saat ini telah berada jauh di atas empat manusia aneh, sedang tenaga dalam dari Jien Kong Fang pun tidak berada di bawah empat manusia aneh, terutama sekali ilmu silatnya yang begitu sakti dan aneh, hal ini benar-benar membuat hatinya rada tercengang.

Mendadak Jien Kong Fang mengundurkan dirinya ke belakang, dan melayang ke atas sebuah puncak batu yang tinggi.

Cambuk panjang sang pemuda itu dengan cepat mengejar dari arah belakang, siapa tahu gerakan dari si kakek bongkok itu amat cepat karena tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat ke dalam lembah.

Setelah berada di dalam keadaan seperti ini mana mungkin Koan Ing suka lepas tangan begitu saja! Maka tubuhnya segera berkelebat mengejar dari arah belakang.

Tapi mendadak terdengarlah suara tertawa dingin yang melengking bergema memenuhi angkasa, Koan Ing pun segera merasa hatinya bergidig dan cepat2 menoleh ke belakang.

Tampaklah sesosok bayangan merah dengan kecepatan yang luar biasa muncul dari atas puncak batu dan menubruk ke arahnya dengan amat dahsyat.

Dia bukan lain adalah Si Budak Berdarah dari balik kegelapan, penyaruan dari Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien Bu-tong-pay.

Ditangan kanan toosu tua dari Bu-tong-pay ini mencekal sebuah pedang berwarna merah darah, tubuhnya laksana seekor burung elang dengan amat cepat menubruk kebawah sedang pedangnya laksana serentetan cahaya merah dengan kencang menyapu diri pemuda tersebut.

Koan Ing meraung keras, tubuhnya membalik cambuk peraknya balas menyapu diri Yuan Si Tootiang.

Ditengah berkumandangnya suara tertawa dingin dari Yuan Si Tootiang ia menarik kembali sepasang lengannya untuk menghindarkan diri dari serangan cambuk, sedang pedang merahnya kembali melancarkan satu tusukan menghajar alis Koan Ing.

Dimana pedang merah itu berkelebat segera terlintaslah suara desiran tajam yang membelah bumi, sinar mata Koan Ing kembali berkilat, cambuknya pun segera dikebatkan kebawah, kemudian dengan mempergunakan gagang cambuk menangkis datangnya serangan pedang dari Yuan Si Tootiang itu.

Pedang dan cambuk dengan cepat bentrok menjadi satu. Pemuda itu hanya merasakan segulung tenaga dorongan yang maha dahsyat menggempur dirinya sehingga tak kuasa lagi tubuhnya mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Rasa berdesir kembali meliputi hatinya, ia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam dari toosu itu dapat demikian dahsyat.

Tetapi tubuh Yuan Si Tootiang sendiripun ikut tergetar keras sehingga ia tidak melancarkan serangan dengan mengambil kesempatan ini tubuhnya mencelat dan melayang kehadapan tubuh sang pemuda.

Melihat akan hal ini Koan Ing mengerutkan keningnya rapat-rapat, baru saja ia bermaksud untuk berbicara mendadak terdengarlah satu suara yang amat dingin berkumandang keluar.

“Koan Ing ini hari habis sudah riwajatmu!” katanya.

Pemuda itu segera menoleh ke belakang tampaklah dibelakangnya berdiri seseorang yang memakai baju berwarna hitam dengan sebuah jaringan raksasa berwarna emas ditangannya, saat ini ia sedang memandang diri Koan Ing dengan pandangan yang amat dingin.

Dia bukan lain adalah jaring emas penguasa langit Poa Thian Coe adanya. Dengan pandangan dingin dia memandang ke arah Poa Thian Coe lalu menoleh kesamping, dan terlihatlah si kakek bongkok dari daerah Si Ih, Jien Kong Fang pun telah kembali munculkan dirinya dan saat ini lagi melototi dirinya dengan pandangan dingin.

Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau dirinya bisa terjatuh di dalam kepungan tiga umat manusia kuat, Kembali sinar matanya berkilat, saat inilah dia baru tahu kalau si kakek bongkok dari Si Ih itu sebetulnya telah mengadakan sekongkolan dengan diri Yuan Si Toootiang sekalian.

“Heeee.... heeee.... , terdengar Yuan Si Tootiang tertawa tiada hentinya. “Tidak kusangka kepandaian silatmu berhasil mendapatkan kemajuan yang demikian pesatnya, entah jagoan lihay dari manakah yang telah sudi menyalurkan tenaga dalamnya untuk memberi tambahan pada tenaga dalammu!”

Koan Ing hanya memandang ke arah mereka dengan sikap amat tawar, hanya sinar matanya menyapu sekejap ke arah mereka bertiga.

Mendadak dia membentak keras, tubuhnya menubruk ke arah depan sedang cambuknya dengan menimbulkan suara yang amat nyaring melancarkan satu serangan dahsyat menghajar diri Jien Kong Fang.

Si kakek bongkok dari daerah Si Ih mendengus dingin, tongkat pualamnya dilintangkan di depan menghalangi datangnya serangan tersebut.

Dan Yuan Si Tootiang sama sekali tidak mengira kalau di dalam keadaan seperti ini Koan Ing masih berani melancarkan serangan maka dengan gusarnya ia membentak keras:

“Koan Ing! Apa kau cari mati?”

Ditengah suara bentakan yang amat keras itu tubuhnya pun menubruk ke depan, pedang merahnya laksana sambaran kilat menghajar ke arah punggung si pemuda mengancam pada jalan darah “Leng Thay Toa Hiat”-nya.

Si jaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu pun dengan mengambil kesempatan itu maju mendesak diri sang pemuda, jaringan emasnya segera disebarkan ke atas kepalanya.

Koan Ing segera menangkis datangnya serangan tongkat pualam dengan menggunakan cambuknya, sedang tangan kanannya dihentakkan ke depan dan berbalik tubuhnya melancarkan serangan kilat dengan menggunakan tiga bilah pisau terbang,

Dua batang menghajar ke arah Yuan Si Tootiang, sedang sebilah lagi mengancam diri Phoa Thian-cu,

Yuan Si Tootiang yang melihat datangnya serangan pisau terbang itu buru-buru menggetarkan sepasang lengannya untuk menghindarkan diri dari ancaman bahaya maut itu, tangannya kemudian membalikkan pedang merahnya dengan membentuk gerakan setengah busur ditengah udara langsung menusuk ke arah dada Koan Ing.

Koan Ing yang pada saat ini telah kehilangan pedang Kiem- hong-kiamnya, merasa tidak leluasa di dalam gerakan serangannya. Mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benaknya, “Kenapa aku tidak coba-coba untuk merebut sebilah pedang?” pikirnya dihati.

Dengan gusarnya ia membentak keras, dan tangan kanannya diajunkan ke depan maka sembilan bilah cahaya keperak2an yang menyilaukan mata dengan cepat meluncur ke depan dan membentuk gerakan setengah busur ditengah udara lalu bersama-sama menerjang ke seluruh tubuh toosu dari Bu-tong-pay itu.

Melihat datangnya serangan tersebut Yuan Si Tootiang merasa amat terperanjat, ia tidak mengira kalau Koan Ing bisa mengeluarkan kepandaiannya untuk melawan dia orang dan karena selama ini belum pernah ia menemui jurus serangan yang sedemikian aneh dan saktinya apalagi datangnya serangan kesembilan bilah pedang pendek itu amat cepat dan sama sekali tidak memberi sedikit kesempatan buat dirinya untuk menghindar.

Dan dengan gusarnya ia membentak keras, pedangnya dilintangkan di depan dada menangkis datangnya serangan dari kesembilan pedang pendek tersebut.

“Triiing.... triiing.... ” suara benturan yang amat nyaring berkumandang memenuhi angkasa. kesembilan pedang pendek itu ternyata berhasil dipunahkan ditengah angkasa, kendati begitu separuh badannya telah dibuat kaku juga oleh getaran dari kesembilan bilah pedang tersebut.

Kembali tubuh Koan Ing bagaikan bayangan setan saja mendadak berkelebat ke depan, kelima jari tangannya laksana kilat cepatnya mencengkeram ke arah tubuh pedang di tangannya.

Jien Kong Fang serta Phoa Thian-cu yang melihat kejadian ini diam-diam merasa amat terperanjat, lepas tangan maju mendadak dan mencengkeram pedang lawan semuanya dilakukan KOan Ing hanya di dalam sekali gebrak saja, hal ini membuat mereka berdua sama sekali tak mendapatkan kesempatan untuk menghalangi gerakan dari pemuda tersebut.

Ditengah suara bentakan yang amat keras mereka berdua. satu dari sebelah kiri yang lain dari sebelah kanan dengan cepatnya menghajar tubuh Koan Ing.

Tujuan dari Koan Ing melepaskan kesembilan pedang pendeknya tadi justru bermaksud untuk merebut pedang  pihak lawan, siapa sangka perubahan gerakan dari si kakek bongkok dari daerah Si Ih serta sijaring emas penguasa iangit dilakukan begitu cepatnya dan berada diluar sangkaan. Dan dia tahu bilamana dirinya masih memaksa untuk merebut pedang dari toosu tersebut, maka tak ampun lagi tubuhnya pasti bakal menderita luka ditangan mereka berdua,

Tetapi kesembilan bilah pedang pendeknya tadi justru disambit keluar guna merebut pedang, bilamana kesempatan ini dibuang dengan sia2 pada saat ini, mungkin kesempatan baik tidak bakal kunjung datang lagi.

Berbagai ingatan dengan cepatnya berkelebat dihatinya. mendadak kelima jari tangan kanannya laksana kilat cepatnya menyambar ke depan mencengkeram pedang Yuan Si Tootiang, ditengah suara bentakan yang amat keras pedangnya berhasil kena direbut sedang kaki kirinya bersamaan waktunya melancarkan satu tendangan kilat mengancam jaringan emas dari Phoa Thian-cu, sedang tubuhnya laksana kitiran berputar ke sebelah kiri.

Sewaktu Koan Ing berhasil merebut pedang Yuan Si Tootiang itulah jaringan emas dengan cepatnya sudah menyambar kurang lebih beberapa inci dari batok kepalanya, sedangkan tongkat pualam dari si kakek bongkok dengan amat tepat berhasil menghadiahkan satu gebukan ke atas punggung Koan Ing.

Tubuh pemuda itu laksana kitiran dengan cepat berputar sejauh tiga kaki, lalu dengan sempoyongan mundur dua langkah ke belakang kemudian baru dapat berdiri tegak dan dari tenggorokannya ia merasa darah segar selalu mendesak ke atas.

Buru-buru matanya dipejamkan rapat-rapat dan dengan paksa menelan kembali darah yang mengucur keluar itu,

Dengan sempoyongan Yuan Si Tootiang pun mundur tiga langkah ke belakang, dalam hati mereka bertiga merasa amat kaget.

Mereka tidak mengira kalau Koan Ing berhasil merebut pedang Yuan Si Tootiang dengan kekerasan di bawah kerubutan tiga orang jagoan lihay yang berkepahdaian amat tinggi, hal ini selamanya belum pernah terjadi apa lagi Koan Ing tidak lebih merupakan seorang pemuda yang baru berusia dua puluhan....

Paras muka Koan Ing berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, walaupun begitu dari sepasang matanya masih memancarkan cahaya yang tajam bagaikan kilat menyapu wajah ketiga orang itu,

Si kakek bongkok dari daerah Sie Ih yang melihat gebukan tongkatnya tadi sama sekali tidak menimbulkan reaksi apapUn pada diri pemuda tersebut ia rada tidak percaya, sinar matanya berkilat kemudian tanpa mengucucapkan sepatah katapun secara tiba-tiba melancarkan serangan kembali menghajar diri Koan Ing.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, maka tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan tongkat, siapa tahu saat itulah jaringan emas kembali ditebarkan, maka diantara berkilatnya cahaya keemas-emasan terasalah suasana yang amat berat dan tekanan yang menyesakkan napas mengurung di sekeliling tempat itu.

Koan Ing yang berhasil mencekal sebilah pedang hatinya semakin mantap, ia mendengus dingin. Tubuhnya tiba-tiba mencelat ketengah udara, pedangnya dengan sejajar dada menekan keujung pinggiran jaring emas itu

Inilah jurus “Ban Sin Beng To” atau selaksa malaikat menenangkan ombak dari ilmu pedang ‘Thian-yu Khei Kiam’.

Dengan kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing pada saat ini ditambah dengan jurus-jurus pedang yang diandalkan olehnya di dalam menjagoi Bu-lim, dimana bagian yang ditekan tadi memaksa Phoan Thian Coe tidak berhasil berganti jurus sebelum pedang dari pemuda itu terangkat.

Sewaktu Koan Ing gerakan badannya tadi si kakek bongkok dari daerah Si Ih pun ikut menbabatkan tongkatnya ke depan, toya pualamnya dengan membawa serentetan cahaya putih yang menyilaukan mata mengancam punggung pemuda itu.

Koan Ing membentak keras, pedangnya ditarik lalu dengan disertai dengan tenaga dalam penuh berkelebat membentuk gerakan busur ditengah udara untuk menangkis datangnya serangan musuh itu,

inilah Jurus “Noe Ci Sin Kiam” atau dengan gusar kebaskan pedang.

Pedang dan tongkat dengan cepat bentrok jadi satu sehingga menimbulkan bungaZ api dengan seluruh tenaga Jien Kong Fang menekankan tongkatnya ke arah tubuh pemuda tersebut,

Dengan sejajar dada Koan Ing luruskan lengan kanannya pedang merahnya disentilkan ke depan dengan keras lawan keras mendorong diri Jien Kong Fang ke belakang.

Dalam hati sibongkok tua dari Si Ih merasa amat terperjat walaupun ia pernah mendengar nama besar dari “Thian-yu Khei Kiam” Kong Boen Yu dan pernah mendengar pula nama dari ilmu pedang “Thian-yu Khei Kiam” tetapi ia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu pedang tersebut demikian dahsyatnya.

Koan Ing yang berhasil mendorong mundur Jien Kong Fang baru saja hendak ganti jurus untuk melancarkan serangan susulan tiba-tiba terdengarlah Yuan Si Tootiang mendengus dingin, dan dengan menggunakan sebuah cambuk panjang dia hendak menghajar batok kepalanya,

Melihat datangnya serangan cambuk itu kontan pemuda itu mengerutkan alisnya rapat-rapat, cambuk itu bukan lain adalah cambuk peraknya yang dibuang tadi. tidak dinyana saat ini Yuan Si Tootiang sudah memungutnya untuk digunakan menghadapi dirinya. Dengan keras lawan keras Koan Ing putar tangannya dan menangkis datangnya serangan cambuk itu dengan menggunakan pedangnya.

Jaringan emas serta tongkat pualam bersamaan pada waktunya kembali melancarkan serangan dahsyat menjepit dirinya.

Koan Ing merasa hatinya bergidik, dia merasa bilamana keadaannya demikian terus menerus sekalipun dirinya tidak terkalahkan paling sedikit juga akan mati kepajahan, sekalipun kepandaian silatnya lebih lihaypun tidak mungkin bisa mengalahkan tiga orang jagoan lihay sekaligus di dalam keadaan terluka parah.

Pikirannya dengan cepat berputar, di dalam keadaan seperti ini ia harus mempertingkat serangannya atau paling tidak harus membinasakan Yuan Si Tootiang sibiang keladi dari semua peristiwa.

Baru saja Koan Ing melayang turun ke atas tanah tongkat pualam disertai jaringan emas kembali menghantam datang, ia segera bersuit panjang sedang pedang merahnya dengan sejajar dada ditusukkan ke arah depan inilah jurus “Hay Thian It Sian” atau langit dan laut satu garis yang merupakan jurus bertahan paling jempolan.

Melihat pemuda itu menggunakan jurus tersebut. pikiran mereka adalah sama, Koan Ing sama sekali tidak pinter dengan tindakannya itu, ditengah suara bentakan yang amat keras jaring emas dari sijaring emas penguasa langit serta tongkat pualam dari sibongkok tua dari Si Ih bersama-sama dibabatkan ke depan menangkis datangnya serangan pedang dari Koan Ing.

Walaupun jurus “Hay Thian It Sian” ini merupakan satu jurus bertahan yang paling dahsyat dan kini jaring serta tongkat mereka setelah menempel pada pedangnya sama sekali tak bisa kerahkan tenaga, tetapi keadaan dari kedua orang itu sudah mirip dengan anak panah yang ada di atas busur yang setiap saat dapat dilancarkan keluar.

Kecuali bila Koan Ing tidak berganti jurus mereka berdua tak bisa berbuat apa-apa, seandainya tidak begitu pemuda itu sedikit bergojang saja maka tenaga mereka berdua akan laksana menggulungnya ombak disungai Tiang Kang menggempur tubuhnya dengan amat dahsyat.

Yuan Si Tootiang yang cambuknya kena dihantam balik oleh pedang Koan Ing membuat darahnya menjadi panas. nafsu membunuh mulai berkilatan memenuhi sinar matanya. Tiba-tiba ia menggetarkan kembali cambuknya ketengah udara lalu dengan membentuk gerakan satu lingkaran menghajar ubun2 dari Koan Ing.

Kali ini ia melancarkan serangan dengan seluruh tenaga, bilamana Koan Ing sampai tidak lepas pedang mungkin ia bakal terluka ditangannya.

Dan di dalam hati pemuda itu sudah ada perhitungan maka pedangnya tetap menangkis datangnya serangan dari jaring emas penguasa langit serta si kakek bongkok, tetapi begitu serangan cambuk Yuan Si Tootiang tiba di hadapannya tahu- tahu jari kirinya diangkat ke atas melancarkan tiga buah sentilan gencar dan mencengkeram ke arah ujung cambuk tersebut.

Yuan Si Tootiang jadi amat terperanjat dan buru-buru tangan kanannya ditarik ke belakang, tapi siapa tahu tarikannya ini tak berhasil sebaliknya membuat cambuk tersebut tertarik menegang.

Pedang ditangan kanan Koan Ing dengan menggunakan jurus bertahan yang paling rapat untuk menghalangi dua serangan dari dua orang jagoan tinggi. Sedang tangan kirinya dengan mengerahkan tenaga dalam yang paling mengejutkan menahan cambuk perak itu dengan paksa. Dengah demikian seorang diri ia telah melawan serangan dari tiga orang jagoan lihay sekaligus.

Ketiga orang itu merasa hatinya pada bergidik, dengan nama besar mereka bertiga ternyata tak berhasil menghadapi seorang pemuda seperti Koan Ing, bagaimana mungkin mereka masih ada muKa untuk tancapkan kakinya kembali di dalam dunia persilatan?

Apalagi bilamana urusan ini sampai dibicarakan orang lain mungkin akan menuak nama besar mereka bertiga.

Nafsu membunuh kembali berkelebat dari sepasang mata Yuan Si Tootiang, dia membentak dengan dinginnya.

Cambuk ditangan kanannya dengan melingkar dua lingkaran besar tiba-tiba menyambar ke arah Koan Ing sedang tubuhnya bersamaan itu pula mendesak ke arah pemuda tersebut.

Sepasang telapaknya dengan sejajar dada didorongkan ke depan, segulung hawa pukulan berwarna merah darah bagaikan menggulungnya ombak ditengah samudera menghajar tubuh lawannya.

Inilah ilmu khie-kang ‘Hwee Hiat Chiet Sah Kang Khie’ dari Si Budak Berdarah dari balik kegelapan tempo hari.

Dengan gusarnya Koan Ing bersuit nyaring tangan kirinya digetarkan dengan sepenuh tenaga sehingga cambuk tersebut jadi menegang laksana sebuah pit baru kemudian dengan dahsyatnya menghajar ke atas tongkat pualam serta jaringan emas, dan bersamaan waktunya pula tiba-tiba ia menarik kembali pedangnya lalu dengan menggunakan jurus “Giok Sak Ci Hun” atau hancur lebur bagai abu menusuk ke depan dengan sejajar dada.

Begitu serangan pedang dilancarkan ke depan, ditengah udara segera bergemalah suara ledakan yang membelah bumi, pedang berwarna merah itu dengan cepatnya meluncur ke depan menyambut datangnya tubuh Yuan Si Tootiang.

Melihat kejadian itu Yuan Si Tootiang menjerit kaget, ia sama sekali tak menyangka kalau Koan Ing hendak mengadu jiwa dengan dirinya, ia tahu bilamana dirinya menerima serangan tersebut walaupan Koan Ing akan terluka tetapi ia sendiripun bakal binasa di ujung pedangnya.

Ooo)*(ooO

Bab 48

MAKA pukulannya dengan cepat ditarik, sedang lengannya ditekankan kebawah, diantara berkelebatnya bayangan merah ia sudah paksakan diri mencelat ke arah sebelah atas.

Saat ini Koan Ing memang bermaksud untuk melukai dirinya, sudah tentu kesempatan yang demikian baiknya tidak sampai dilepaskan dengan begitu saja, tanpa memperduli lagi dibelakeng tubuhnya masih ada musuh tangguh dengan gusarnya ia meraung keras dan mengejar diri Yuan Si Tootiang.

Gerakan Koan Ing ini amat cepat bagaikan kilat, walaupun Yuan Si Tootiang sudah menguniurkan diri tetap Koan Ing masih mengejar terus tanpa ampun hal ini memaksa ia tak sempat lagi untuk melancarkan pukulannya dan hanya berdiri termangu-mangu dengan terperanjat.

Koan Ing yang dikarenakan hendak mengejar diri Yuan Si Tootiang telah menarik kembali jurus ‘Hay Thian It Sian’ nya saat ini mungkin sanggup untuk menahan serangan dahsyat dari Phoa Thian-cu itu Kokcu dari lembah Chiet Hin Kok serta si kakek bongkok dari daerah Si Ih?

Tenaga pukulan dari keJua orang itu laksana menggulungnya ombak raksasa ditengah lautan dengan cepatnya menggulung ke arah depan. Koan Ing yang hendak mengejar diri Yuan Si Tootiang tahu-tahu diri belakang tubuhnya terasa satu tenaga besar menghisap dirinya ia jadi amat terkejut. Walaupun hal ini sudah diduga sejak semula tetapi sebelum maksudnya tercapai bagaimana mungkin ia suka menyerahkan nyawanya dengan begitu saja?

Suara suitannya berhenti, lalu disusul dengan dengusan berat, pedangnya dengan disertai tenaga penuh meluncur dari tangannya menghajar tubuh Yuan Si Tootiang.

Bersamaan waktunya ia berkelebat ke samping dan balikkan tubuh menyambut datangnya serangan gencar dari kedua orang itu.

Baru saja Koan Ing memutar tubuhnya setengah lingkaran, tenaga pukulan itu telah menghantam datang.

“Braaak. !” dengan dahsyatnya bentrokan terjadi ditengah

udara, tubuh pemuda itu laksana layang-layang yang putus benang, segera terpental jatuh dan menumbuk sebuah batu cadas yang amat besar.

Ia merasakan seluruh persendian otot maupun tulangnya jadi berantakan, pandangannya jadi gelap dan hampir-hampir ia jatuh tidak sadarkan diri.

Dan tiba-tiba terdengarlah suaraa bentakan yang keras bergema memenuhi angkasa, segulung hawa pukulan dengan dahsyatnya menghantam ke arah tubuhnya.

Tetapi pada saat yang bersamaan pula terdengar suara seseorang berteriak keras:

“Tahan!”

Tapi dengan menggunakan seluruh tenaga Koan Ing sudah berkelebat dan mencelat sejauh lima, enam depa, walaupun begitu tak tertahan lagi darah segarpun muncrat keluar memenuhi permukaan tanah. Dengan paksakan diri ia mencekal batu cadas dan merangkak bangun, terlihatlah waktu itu ada berpuluh-puluh titik hitam serta titik putih berputaran ditengah udara kemudian berbentuk jadi tiga sosok bayangan manusia yang kabur.

Ketika pandangannya jadi jelas kembali maka tampaklah olehnya Phoa Thian-cu serta si kakek bongkok dari daerah Si Ih lagi memandang ke arahnya dengan pandangan terkejut bercampur gusar, sedang Yuan Si Tootiang dengan wajah berubah pucat pasi lagi bersandar di samping sebuah pohon dan memandang ke arahnya dengan pandangan dingin, di atas dada sebelah kanannya tertancaplah sebilah pedang yang menembus hingga pada gagangnya.

Melihat hasilnya itu Koan Ing merasa rada kecewa, karena timpukannya tadi ternyata tidak berhasil membinasakan dirinya Yuan Si Tootiang.

“Koan Ing!” terdengar Yuan Si Tootiang berkata dengan dinginnya sambil menutupi mulutnya yang luka dan masih mengucurkan darah dengan amat derasnya. “Pertempuran kali ini sudah cukup untuk mengangkat namamu sebagai jagoan nomor wahid di kolong langit, cuma sayang tusukanmu ini tidak tepat, sehingga tidak sampai membinasakan diriku. Kau pun harus tahu kalau aku tidak ingin kau mati di dalam sekejab!”

Selesai berkata ia pun tertawa dingin dengan seramnya, kemudian tambahnya lagi, “Kau harus tahu, aku akan memaksa kau mati dengan perlahan-lahan dan menahan berbagai macam siksaan!”

Koan Ing sama sekali lidak menggubris akan kata-kata dari Yuan Si Tootiang ini, dari dalam hatinya saat ini hanya menyesali perbuatannya yang tak berhasil membinasakan diri Yuan Si Tootiang. Mengenai apa yang hendak dilakukan oleh tosu itu terhadap dirinya ia tidak gubris sama sekali.

Sehabis berkata, Yuan Si Tootiang kemba i tertawa dingin tiada hentinya, sedang keringat sebesar kacang kedelai dengan derasnya membasahi seluruh keningnya. Selama hidup baru pertama kali ini ia menderita luka parah ditangan orang lain dan untuk pertama kalinya pula melihat orang lain memiliki kepandaian silat yang demikian tingginya.

Chiet Han Kokcu, Phoa Thian-cu serta Si Ih Tuo So diam- diam pun merasa amat terperanjat.

Tiba-tiba....

Suatu suara yang amat halus berkumandang datang dari mulut lembah. Mereka bertiga dengan cepat menoleh ke depan sedang Koan Ing pun dengan hati heran menoleh ke arah mulut lembah itu.

Tampaklah seorang kakek tua berambut putih dengan mencekal sebuah tongkat berdiri kaku di depan mulut lembah, dan dia bukan lain adalah si iblis sakti dari lautan Timur, Ciu Tong adanya!!

Sepasang mata Ciu Tong yang amat tajam dengan cepat menyapu sekejap ke seluruh tempat, dari sinar matanya pun memperlihatkan rasa terperanjat yang bukan kepalang.

“Yuan Si!!” ujarnya kemudian dengan dingin. “Hee hee

tidak kusangka kaupun akan menemui sial seperti ini hari.”

Walaupun saat ini Yuan Si Tootiang berada dalam keadaan terluka parah tetapi disana masih ada Phoa Thian-cu serta Si Ih Tuo So yang belum terluka, sudah tentu ia sama sekali tidak jeri terhadap Ciu Tong.

“Hmm! Tidak kusangka kedatanganmu begitu cepat,” katanya dingin. “Aku rasa kau pun belum tentu bisa mempertahankan dirimu, buat apa kau mengejek dan mentertawakan orang lain?” Si Ih Tuo So sambil kerutkan keningnya selangkah demi selangkah berjalan mendekati diri Ciu Tong.

Terlihatlah Ciu Tong hanya tertawa menghina, sinar matanya dengan cepat melirik sekejap ke arah diri Koan Ing.

Si Ih Tuo So pun mendengus dingin, tubuhnya mendadak mencelat ke depan, sedangkan tongkat pualamnya dengan cepat bagaikan kilat menotok jalan darah ‘Giok Hu Hiat’ pada tubuh sang iblis tua.

Ciu Tong hanya mendengus dingin, tongkatnya dengan kuat-kuat dibabat ke atas menangkis datangnya serangan tersebut.

Gerakan jurus serangan dari si kakek bongkok buru-buru diubah, berturut-turut ia melancarkan delapan serangan sekalian menggencet musuhnya,

Ciu Tong tidak mau kalah diapun dengan menggunakan tongkatnya berturut-turut balas melancarkan serangan dahsyat.

Walaupun begitu tak urung tubuhnya kena didesak juga sehingga mundur dua langkah ke belakang.

Melihat kejadian itu hatinya baru merasa terperanjat. “Siapa kau?” tanyanya kaget.

“Heeeeee.... heeeee.... kau menggunakan tongkat, akupun menggunakan tongkat, apakah kau tidak tahu siapakah diriku?” balas tanya si kakek bongkok itu dengan dingin.

Waktu itulah Ciu Tong baru teringat akan diri si kakek bongkok dari daerah gurun pasir Jien Kong Fang yang amat lihay itu maka tak terasa lagi hatinya jadi bergidik.

Ia sama sekali tidak menduga, kalau si kakek bongkok Jien Kong Fang pun bisa munculkan dirinya di dalam daerah Tionggoan, hal ini membuat hatinya rada tidak tenang. Jien Kong Fang kembali membentak keras, tongkat pualamnya dengan gencar kembali menyerang diri Ciu Tong.

Ciu Tong yang diserang secara demikian lantas kerutkan keningnya rapat-rapat, ia yang namanya tersusun dalam empat manusia aneh bagaimana mungkin suka perlihatkan kehadapan orang lain?

Ditengah suara tertawa panjangnya yang amat keras tubuhnya meloncat ketengah udara kemudian berturut-turut melancarkan dua puluh empat buah serangan sekaligus.

Mereka berdua sama-sama menggunakan tongkat sebagai senjata, dan hanya di dalam sekejap saja puluhan jurus sudah dilewatkan

Lama kelamaan Jien Kong Fang berhasil juga dipaksa berada di bawah angin oleh serangan Ciu Tong yang gencar dengan menggunakan ilmu sakti dari lautan Timur itu.

Melihat kaWannya terdesak Phoa Thian-cu segera membentak keras, jaring emasnya digetarkan lalu mengurung seluruh tubuh sang iblis tua.

Sinar mata Ciu Tong berkilat, tubuhnya tiba-tiba bergerak dan menerjang ke arah diri Koan Ing.

Phoa Thian-cu serta Jien Kong Fang yang melihat gerakan dari Ciu Tong ini segera bisa mengetahui apa maksud tujuannya maka si kakek bongkok segera membentak keras, tongkat pualamnya di bawah putaran pergelangan tangannya bagaikan bayangan saja mengikuti diri Ciu Tong dan mengurung seluruh tubuhnya.

Buru-buru Phoa Thian-cu. itu kokcu dari lembah Chiet Han Kok menaburkan jalanya ke depan jaringan emas dengan memancarkan cahaya yang amat tajam menekan tubuh Ciu Tong.

Walaupun kepandaian silat yang dimiliki Ciu Tong amat tinggi tetapi diapun tidak mungkin tidak menjaga diri di bawah kerubutan dua orang jagoan lihay, maka dia membentak keras tubuhnya balas menubruk ke arah depan.

Tongkatnya balik menghantam ke atas jaringan emas diiri Phoa Thian-cu. Jien Kong Fang dengan gesitnya menghindar lalu menghantam tongkat pualamnya ke atas punggung Ciu Tong.

Ciu Tong menarik napas panjang-panjang, dengan mengerahkan ilmu ‘Hu Si Mo Kang’ atau ilmu mayat membusuknya ia mengalihkan peredaran darah pada tubuh bagian kanan.

Tongkat pualam tersebut dengan kerasnya berhasil menghantam tubuh bagian kirinya, dan Ciu Tong hanya merasakan tubuhnya tergetar keras tapi tongkatnya tetap meneruskan desakannya menyingkirkan jaringan emas lalu bersuit panjang dan mencelat ketengah udara menotok kening Jien Kong Fang dengan kedua jari tangannya.

Jien Kong Fang yang melihat serangan tongkatnya bagaikan menghantam sebuah kayu lapuk saja tanpa mengakibatkan musuhnya menderita luka, ia jadi berdiri termangu-mangu dibuatnya, selama hidup belum pernah terdengar olehnya ilmu sakti yang demikian aneh dan  lihaynya.

Saat itulah kedua jari tangan Ciu Tong sudah menyambar dihadapan wajahnya, hal ini membuat hatinya jadi bergidik. Maka tubuhnya dengan cepat menghindarkan diri kesamping.

Kendati ia sudah berkelit tak urung pipinya kena disambar juga oleh desiran serangan jari dari Ciu Tong sehingga terasa linu dan panas sekali.

Sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu sendiripun merasa amat terperanjat. iapun tidak mengira kalau kepandaian silat dari Ciu Tong sedemikian hebatnya. walau pun tenaga dalam dari tiga manusia genah empat manusia aneh boleh dikata seimbang tetapi di dalam keganasan jurus serangan boleh dikata ia paling lihay.

Dengan gusarnya ia membentak keras, jaringan emasnya kembali digetarkan dan mengurung tongkat ditangan kanan Ciu Tong.

Di dalam hati Ciu Tong sudah ada perhitungan, sehingga dengan dinginnya ia membentak keras sepasang jarinya rada merandek, lalu pergelangan tangannya ditekan kebawah melancarkan totokan ke arah jalan darah “Cian Cing Hiat” pada tubuh si kakek bongkok dari daerah Si Ih itu.

Jien Kong Fang yang baru saja berhasil menghindarkan diri dari serangan jarinya kembali kini Ciu Tong melancarkan satu serangan dahsyat, dan karena saat itu untuk menangkis tidak sempat lagi terpaksa tubuhnya sekali lagi mundur ke arah belakang.

Ciu Tong yang melihat dirinya berhasil menduduki di atas angin sama sekali tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk berganti napas, kembali kedua jarinya menekan kebawah dan berganti menotok jalan darah “Yau Hu Thoa Hiat” pada pinggang si kakek bongkok.

Phoa Thian-cu yang melihat serangan dari Ciu Tong segera mendengus dingin.

“Hmm! Agaknya Ciu Tong sudah tidak mengingini nyawanya lagi,” pikirnya dihati.

Walaupun begitu hatinya rada girang karena perhatian dari si iblis sakti itu cuma ditujukan pada Jien Kong Fang seorang terhadap dirinya, sama sekali tidak ambil perduli.

Dan tangan kanannya segera digetarkan jaringan emasnya kembali mengurung kebawah dan menggencet tongkat ditangan kanan Ciu Tong.

Si kakek bongkok dari daerah Si Ih ini ketika melihat Ciu Tong sudah kena didesak dan berada dalam keadaan berbahaya alisnya dikerutkan rapat-rapat tongkat pualamnya dengan disertai tenaga dalam penuh dengan dahsyatnya menghantam ke atas batok kepala musuhnya.

Terhadap tongkat serta lengan kanannya yang berhasil kena dijirat oleh jaringan emas dari Phoa Thian-cu ini si iblis tua dari lautan Timur sama sekali tidak ambil perduli dan hanya kedua jari tangan kirinya masih tetap tiada hentinya mengancam jalan darah “Yau Hu Hiat” pada tubuh Jien Kong Fang

Jien Kong Fang jadi amat terperanjat ia tidak menyangka kalau Ciu Tong sama sekali tidak memperdulikan nyawanya,

Kendati begitu ia masih inginkan juga nyawanya sendiri. maka tubuhnya dengan cepat berkelebat kesamping. Darah segar segera memancar keluar memenuhi seluruh angkasa, pada saat itulah lengan kanan dari Ciu Tong berhasil dihancurkan oleh jaringan Phoa Thian-cu di samping itu Jien Kong Fang pun kena ditotok rubuh oleh serangan dari Ciu Tong.

Dengan cepat Ciu Tong mencekal tongkatnya pada tangan kiri kemudian sambil mengempit tubuh Koan Ing ia melarikan diri keluar dari lembah tersebut.

Sijaring emas sipenguasa langit Phoa Thian-cu sama sekali tidak mengira kalau Ciu Tong suka mengorbankan tangannya untuk menolong jiwa Koan Ing. hal ini kontan saja membuat ia jadi berdiri termangu-mangu disana dan lupa untuk mengejar diri Ciu Tong yang sedang melarikan diri.

Yuan Si Tootiang sendiripun tertegun dibuatnya, dia sama sekali tidak menyangka Peristiwa bisa berubah jadi demikian, dari merekapun tidak pernah menyangka kalau Ciu Tong masih memiliki ilmu ‘Menumbuhkan kembali lengan yang telah terputus’ hatinya terasa amat murung dan kecewa, ia tidak mengira kalau dirinya sudah kena tertipu oleh siasat Ciu Tong, Ciu Tong yang membimbing Koan Ing melarikan diri dari mulut lembah tersebut dengan gerakkan yang amat cepat berlari melingkari dua buah bukit lalu berkelebat ke dalam sebuah gua dan meletakkan diri pemuda tersebut ke atas tanah.

Setelah itu ia baru mengambil keluar sebutir pil untuk dijejalkan ke dalam mulutnya dan duduk bersemedi,

Koan Ing yang melihat Ciu Tong suka menolong dirinya dalam hati merasa amat keheranan, dengan termangu-mangu dia memandang diri Ciu Tong yang pada saat ini lengan kanannya sudah mulai tumbuh kembali dengan perlahan- lahan.

Dan diapun menarik napas panjang-panjang kemudian ikut pula duduk bersila untuk mengatur pernapasan, ia bermaksud untuk menyembuhkan luka dalamnya, sesaat Ciu Tong pun lagi mengobati lukanya.

Entah lewat beberapa saat lamanya terdengar Ciu Tong mendengus dengan amat dinginnya. Koan Ing pun dengan perlahan membuka matanya, saat itulah ia telah menemukan lengan kanan dari Ciu Tong sudah tumbuh kembali seperti sediakala.

Dengan perasaan amat terperanjat, pemuda itu memandang ke arah si orang tua tersebut, hatinya benar- benar merasa amat kagum atas kelihayan ilmu kepandaiannya.

“Toocu, terima kasih atas budi pertolonganmu!” katanya kemudian sambil bangun berdiri dan menjura.

“Koan Ing!” kata Ciu Tong dengan suara yang amat dingin. “Kau tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku, selamanya aku tidak pernah bekerja untuk orang lain tanpa ada tujuan tertentu. Demikian pula de ngan perbuatanku kali ini yang telah turun tangan menolong dirimu. Kau harus tahu kesemuanya aku lakukan dikarenakan kereta berdarah tersebut!”

Koan Ing yang mendengar Ciu Tong berkata dengan begitu terus terang, ia tersenyum. “Walaupun apa yang kau inginkan, aku tidak ingin tahu! Dan aku harus mengucapkan terima kasihku atas pertolonganmu itu!” katanya perlahan.

“Haaaa.... haaa.... buat apa kau melakukan hal yang sama sekali tak berguna ini?” Seru Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak. “Seharusnya kau dengarkan dulu  perkataanku kemudian baru ucapkan terima kasihmu. Aku rasa sampai waktu itu kau sama sekali tidak akan mengucapkan terima kasih kepadaku!”

Dia berhenti sebentar kemudian tambahnya lagi, “Aku tahu kau tentunya sudah mendapatkan kepandaian silat aliran Hiat- ho-pay, kini aku maui ilmu kepandaian tersebut!”

Koan Ing tersenyum tawar, dia merasa Ciu Tong si iblis tua dari Lautan Timur ini seharusnya patut dikasihani, betapa gagah dan kerennya sewaktu ia memasuki daerah Tionggoan untuk pertama kalinya, sedang kini.... dia sudah kehilangan putera kesayangannya bahkan apapun tak diperolehnya,

Berpikir akan hal itu perlahan ia memejamkan matanya rapat-rapat, beberapa saat kemudian baru katanya;

“Sesaat Si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong menemui ajalnya, ia pernah menurunkan enam ribu katanya kepadaku, ia bilang kata-kata itulah inti sari dari seluruh kepandaian silat aliran Hiat-ho-pay, baiklah sekarang juga akan aku hapalkan buat dirri Toocu!”

Ciu Tong yang mendengar ia mengabulkan permintaannya dengan begitu mudah hatinya rada melengak, semula ia menduga kalau pemuda itu tentu tidak bakal mau, siapa tahu.... dan siapa sangka keadaan jauh berada diluar duaannya. “Hmm! Kiranya kaupun bukan Orang yang tak mengenal budi,” dengusnya kemudian.

Koan Ing cuma tertawa tawar saja, ia tidak suka banyak keributan dengan dirinya. Tanpa memperdulikan lagi si orang tua itu, ia sudah mulai pusatkan pikirannya untuk menghafalkan keenam ribu kata tersebut.

Usaha Ciu Tong yang dilakukan selama ini tidak lebih hanya dikarenakan ingin memperoleh kepandaian silat aliran Hiat-ho- pay kini setelah mendapatkannya sudah tentu dia tak berani berajal.

Maka seluruh perhatiannya dipusatkan pada satu arah dan mendengarkan semua kata-kata yang diucapkan oleh Koan Ing itu, semakin didengar ia merasa semakin girang, karena bukan saja ilmu silat, bahkan ilmu pengobatanpun sudah didapatkan olehnya pada saat ini.

Dia merasa keenam ribu kata-kata itu benar-benar amat dahsyat dan bisa membuat kepandaian silat seseorang yang mendapatkan kemajuan yang berlipat ganda, semakin didengar hatinya semakin girang sehingga hampir-hampir saja ia meloncat dan menari-nari.

Begitu Koan ing selesai membaca kata yang terakhir dari keenam ribu kata tersebut kembali ia mulai menghafal.

Mendadak Ciu Tong merasa hatinya berdesir. hatinya mulai menjadi tenang kembali Walaupun keenam ribu kata itu tidak banyak jumlahnya tetapi tidak mungkin bisa ia hapalkan di dalam sekejap mata.

Dan kini Koan Ing menghapalkan untuk yang ketiga  kalinya, ia merasa tiga kali sudah cukup bagi Ciu Tong untuk mengingatnya

Siapa tahu baru saja dia menyelesaikan pembacaannya, terasalah segulung angin serangan menerjang datang, tahu- tahu jalan darah “Cian Cing Hiat”nya sudah kena dicekal, perlahan-lahan ia membuka matanya kembali

Aaaakh....! kiranya perbuatan dari Ciu Tong, lalu apakah maksudnya?

“Koan Ing” terdengar Ciu Tong berseru sambil tertawa dingin tiada hentinya. “Sejak tadi aku sudah memberi tahu kepadamu jangan sekali-kali menolong diriku, karena kau itu adalah anak murid dari Thian-yu-pay dan dengan diriku sama sekali tak ada sangkut paut apapun, sebagai  perkataanku yang terakhir aku ingin memberi nasehat kepadamu, lebih  baik lain kali jikalau jadi orang lagi janganlah berbuat demikian gegabah.”

Koan Ing hanya bisa tertawa tawar saja dengan perlahan dia memejamkan matanya kembali.

“Hmmm! Kau jangan mengira aku tak tega untuk membinasakan dirimu,” ujar Ciu Tong lagi dengan mata berkilat. “Saat ini di kolong langit cuma kita berdua saja yang mengetahui ilmu silat aliran Hiat-ho-pay, karena itu diantara kita harus ada seorarg yang mati, dan orang itu bukan lain adalah kau!”

Selesai berkata telapak kirinya dengan dahsyatnya dihantamkan ke atas batok kepala pemuda itu,

Dengan gusarnya Koan Ing membentak keras, tubuhnya tiba-tiba berputar ke samping dengan menggUnakan ilmu ‘Ih Cing Hoat’ serta ‘Boe Lan Sinkang’ tahu-tahu tubuhnya sudah meleset ke samping sedang cekalan Ciu Tong pada  jalan darah ‘Cian Cing Hiat’ itupun telah terlepas.

Hal ini benar-benar membuat hatinya terasa berdesir, karena dia dapat melihat saat ini Koan Ing telah berdiri disisi tubuhnya