Kereta Berdarah Jilid 15

Jilid 15

“KAU BELUM MATI?” tanya Sin Hong Soat-nie dingin.

Percakapan antara Koan Ing serta Sang Siauw-tan tadi sekalipun dilakukan amat lirih tetapi dengan kehebatan dari tenaga dalam yang dimiliki Sang Su-im sekalian sudah tentu tak ada sepatah katapun yang ketinggalan oleh mereka.

“Sin Nie, kau jangan salah paham!” seru Sang Su-im dengan cepat. “Dia tidak lebih hanya bermaksud untuk menolong muridmu saja.”

Dengan pandangan yang dingin Sin Hong Soat-nie melirik sekejap ke arah Sang Su-im lalu dia menoleh kembali ke arah Koan Ing.

“Sekarang dia berada dimana?” tanyanya

Koan Ing segera mengetahui bahwa yang dimaksudkan dia sebagai dia bukan lain adalah Cing It Nikouw, mendengar pertanyaan tersebut segera jawabnya, “Dia terjatuh ke dalam air terjun dan sewaktu aku pergi dia masih berada disana.”

Dengan dinginnya Sin Hong Soat-nie segera mendengus. “Haaa....  haaa....  Soat-nie!”  teriak  Ciu  Tong  tiba-tiba.

“Bagaimana kalau urusan itu dibicarakan kembali setelah kita keluar dari tempat ini? Bukankah tadi kau sudah mengatakan tak akan datang lagi, kenapa sekarang balik kemari? Apakah ada urusan penting?”

Sin Hong Soat-nie sedikit mengerutkan alisnya, setelah berpikir sebentar akhirnya ujarnya kepada pemuda itu, “Baiklah setelah keluar dari sini aku baru menanyai dirimu”

Sehabis berkata dia menoleh ke arah Sang Su-im dan sambungnya lagi,

“Sang pangcu, anak buahmu sebagian besar sudah berada diluar lembah Chiet Han Ku, aku lihat mereka tidak menemui persoalan yang rumit lagi, sebelum malam hari menjelang sudah bisa dipersiapkan rencana penyerbuan secara besar2an, agaknya pihak lembah Chiet Han Ku tidak bakal kuat menahan gempuran mereka.”

“Aah.... tentunya mereka sudah memperoleh bantuan yang tidak sedikit dari Soat-nie,” kata Sang Su-im tertawa.

Macan2 tutul dari lembah Chiet Han Ku benar-benar sangat membosankan sekali, tapi anak buah dari Sang pangcu luar biasa sekali sehingga tidak memperoleh kerugian yang besar, kiranya di tengah lembah pun tidak bakal menemui kesulitan apa-apa?” serunya.

“Lalu mengapa kau tidak tinggal di tempat luar lembah saja?” sela Ciu Tong sambil tertawa.

“Karena ada beberapa persoalan yang hendak aku  tanyakan pada Yuan Si Tootiang”

Semua orang segera merasakan hatinya bergetar keras, seluruh perhatianpun tak terasa lagi sudah ditujukan pada Yuan Si Tootiang semua, mereka merasa bilamana Sin Hong Soat-nie tidak mendapatkan penemuan yang luar biasa sekali tak mungkin dia suka menempuh bahaya untuk mendatangi tempat itu. Mendengar perkataan dari nikouw itu dan melihat pula seluruh perhatian, para jago ditujukan kepadanya Yuan Si Tootiang mengedip2kan matanya dengan tajam,

“Apakah Suthay menaruh curiga terhadap diriku?” balik tanyanya,

Mendengar Toosu tua itu berusaha untuk mengalihkan perkataan Sin Hong Soat-nie tersenyum,

“Tootiang” serunya. “Kau rasa Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan apakah bisa bangkit kembali?”

Thian Siang Thaysu itu Ciangbunjien dari Siauw-lim-pay sewaktu mendengar Sin Hong Soat Nio masih juga mempersoalkan hal itu dalam hati dia merasa kurang puas.

“Omintohud Si manusia Tunggal dari Bu-lim pun sudah bangkit kembali, apakah Suthay tidak mengetahuinya?” sindirnya.

“Hmm.... aku tahu si manusia Tunggal dari Bu-lim sudah bangkit kembali,” kata Nikouw sambil tersenyum, “Tetapi hal ini tidak bisa dikatakan bangkit kembali, dia sama sekali tidak binasa dan berhasil melarikan diri sewaktu mendekati ajalnya, jelas di dalam hal ini tidak bisa dikatakan sudah bangkit kembali,”

Sehabis berkata sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke seluruh jago, lalu tambahnya, “Tetapi sewaktu Si Budak Berdarah dari tempat kegelapanjatuh ke dalam jurang, ulu hatinya sudah kena tusukan oleh pedangku, diajatuh ke dalam jurang dengan ulu hati yang masih tertancap pedang dan jelas tak mungkin masih mempunyai harapan untuk hidup lagi “

“Sekalipun begitu belum tentu dia harus mati!” bantah Thian Siang Thaysu sambil kerutkan alisnya. “Ada kemungkinan tusukan pedang suthay ini miring ke samping sehingga tidak sampai menimbulkan kematian buat dirinya. Jien Wong pun pada mulanya sudah menggeletak jatuh, tetapi akhirnya dia sadar dari pingsannya dan melarikan diri dengan menunggang kereta, jelas di dalam persoalan ini Si Budak Berdarahpun waktu itu juga jatuh tak sadarkan diri saja.”

Sin Hong Soat-nie segera mendengus dingin.

Thian Siang Thaysu tahu di dalam menghadapi urusan ini bilamana minta Yuan Si Tootiang memberi penjelasan sendiri sama sekali tak berguna, sedang empat manusia aneh pun agaknya tidak suka campur tangan karenanya terpaksa dia harus mewakili Yuan Si Tootiang untuk memberi penjelasan.

“Suthay,” ujarnya sambil tertawa. “Bilamana kau mencurigai aku yang sudah menyamar sebagai Si Budak Berdarah maka hal ini merupakan suatu lelucon yang sangat menggelikan sekali.”

Dalam hati para jago yang hadir merasa kalau Sin Hong Soat-nie terlalu menaruh curiga terhadap toosu tersebut, dan kesemuanya ini hanyalah disebabkan dia sudah menusukkan pedangnya ke dada sebelah kiri dari Si Budak Berdarah itu. Kembali Siu Hong Soat-nie mengerutkan alisnya rapat-rapat kepada Koan Ing tanyanya lagi, “Apakah kau masih ingat dengan suara dari Si Budak Berdarah itu?”

“Suaranya sangat tinggi melengking dan amat tajam  “jawab pemuda itu setelah termenung berpikir sebentar.

“Thaysu!” seru Sin Hong Soat-nie dengan cepat sambil menoleh ke arah Thian Siang Thaysu. “Benarkah suara dari Si Budak Berdarah amat tinggi melengking dan sangat tajam?”

“Suara manusia tidak mungkin tetap apalagi setelah terpaut puluhan tahun lamanya bilamana suthay masih tetap ngotot mengatakan Yuan Si Too-henglah yang sedang menyaru, hal ini benar2 amat menggelikan sekali?”

Air muka Sin Hong Soat-nie mendadak berubah hebat, serunya tiba-tiba, “Aku tidak percaya kalau Si Budak Berdarah itu belum mati, setelah dia terjatuh dalam jurang aku pernah menuruni tebing tersebut untuk mengadakan pemeriksaan mayat serta tulang belulang dari Si Budak Berdarah masih tetap menggeletak disana bahkan aku sudah menemukan suatu benda di sisinya.”

Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah medali yang terbuat dari batu pualam.

Ooo)*(ooO

Bab 36

“Ooooh itu medali pedangku!” tiba-tiba Yuan Si Tootiang

berseru dengan wajah yang tetap tenang.

Mendengar perkataan tersebut semua orang menjadi amat terperanjat, tak tersangka oleh mereka kalau Yuan Si Totiang bisa mengakui dengan begitu terus terang.

“Pedangku yang kutusuk kebagian dada dari Si Budak Berdarah hingga kini masih tetap utuh di atas kerangkanya. bagaimana mungkin bisa hidup kembali, kerangka manusia tak bisa bangkit kembali,” kata Sin Hong Soat-nie kembali dengan gusar.

Thian Siang Thaysu jadi termangu-mangu, saat ini dia tak dapat mengucapkan sepatah katapun, dengan perlahan kepalanya ditolehkan ke arah Yuan Si Tootiang agaknya dia bermaksud agar toosu itu memberi pembelaan sendiri.

Di dalam hati kecil Sang Su-im sekalian pun mulai merasa kalau urusan semakin ruwet dan bukanlah semudah apa yang dipikirkan mereka semula, jelas kebersihan hati Yuan Si

Tootiang masih merupakan satu persoalan yang besar.

Munculnya Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan kali ini kecuali ilmu silatnya saja yang sama, ia sama sekali tidak memperlihatkan wajah yang sebetulnya, suara tidak sama bahkan Sin Hong Soat-nie pun sudah menyelidiki kembali mayat Si Budak Berdarah itu dan masih menggeletak di bawah jurang. Terdengar Yuan Si Tootiang tertawa tawar.

“Kalian harus tahu selama ini aku selalu bersama-sama dirimu, sewaktu Si Budak Berdarah munculkan diri, kalian bisa melihat sendiri dari tempat kejauhan, bilamana aku mempunyai suatu maksud tertentu tidak bakal kembali lagi kemari.

Koan Ing sendiripun merasa keheranan, dia tahu bilamana Yuan Si Tootiang bermaksud tidak baik maka dia tidak akan kembali lagi kesana.

“Hmm” terdengar Sin Hong Soat-nie mendengus dingin. “Selama dua puluh tahun ini ada siapa yang pernah melihat jejaknya?”

Sekali lagi Sang Su-im sekalian dibuat melengak, selama beberapa tahun ini Soat-nie bersumpah tidak menuruni puncak Sun Li Hong, Thian-yu Khei Kiam lenyap, di samping itu memang Yuan Si Totiang lah yang tidak pernah kelihatan batang hidung maupun beritanya.

“Heee.... heee. selama ini aku selalu berada di gunung Bu

Tong san, agaknya belum tentu setiap orang harus mengetahui berita sertajejakku,” kata Yuan Si Tootiang sambil tersenyum.

Dia berhenti sebentar untuk kemudian tambahnya, “Menurut suthay, aku harus berbuat apa saat ini?”

“Tidak ada,” jawab Sin Hong Soat-nie sambil menyapu sekejap kesemua orang. “Cuma saja kereta berdarah menuju ke Tenggara kenapa kau membawa mereka ke Timur? Si Budak Berdarah sudah binasa bagaimana mungkin di samping badannya ada medali pedangmu itu?”

“Medali pedang itu bisa ada di samping badan Si Budak Berdarah ada kemungkinan benda itujatuh sewaktu pertempuran kita tempo hari, sedang soal kereta berdarah akupun berada di sini, jelas tidak mungkin merupakan suatu hal yang bohong” jawab Yuan Si sambil tundukkan kepala.

Sin Hong Soat-nie segera mengerutkan alisnya rapat-rapat dia mundur satu langkah ke belakang.

“Apa kau tidak sedang berbohong?” serunya dingin, “medali pedang itu cuma menggeletak di atas tanah, benda yang terjatuh dari tempat ketinggian beberapa ratus kaki tidak akan ada di atas permukaan tanah.”

Mendengar perkataan itu semua orang segera merasakan hatinya tergetar keras, Yuan Si Tootiang bilamana suka berterus terang mengatakan kalau dia pernah turun kedasarjurang, hal ini malah tidak mengapa tapi kini dia sudah berbohong, jelas dalam hatinya bermaksud untuk mengelabui semua orang.

Biji mata Yuan Si Tootiang kembali berputar2, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tidak mengucapkan kata-kata lagi.

Diantara mereka, Thian Siang Thaysulah yang merasa paling gusar, perjalanannya kali ini ia sudah membawa seluruh jagonya yang paling lihay di bawah ruangan Tat Mo Tong, dan kini sebagian besar sudah terluka maupun binasa di dalam lembah Chiet Han Ku ini. “Tootiang, bagaimana penjelasanmu?” dengusnya dengan murka.

“Heei.... baiklah biarlah aku akan bicara terus terang kepada kalian,” kata Yuan Si Tootiang kemudian sambil dongakkan kepalanya.

Dia menarik napas panjang, setelah termenung beberapa saat lamanya dia baru membuka mulut.

“Sejak semula aku sudah mengetahui kalau Si Budak Berdarah sudah mati,” katanya. “Akupun sudah menuruni dasarjurang itu untuk mengadakan pemeriksaan secara diam- diam, tetapi waktu itu pakaian yang dikenakan oleh Si Budak Berdarah sudah robek, jelas sudah ada orang yang pernah memeriksa badannya.”

Mendengar perkataan tersebut Thian Siang Thaysu segera mendengus dingin, selama ini dia selalu menganggap Yuan Si Tootiang adalah seorang beribadat yang amat suci, luhur dan ramah, tidak disangka sebenarnya dia adalah seorang manusia yang demikian rendah. 

“Aku merasa perbuatanku ini ada resiko merusak nama  baik Bu-tong-pay, apalagi tidak ada saksi yang melihat kalau aku sama sekali tidak memperoleh apa-apa. maka itu selama ini tidak pernah aku ceritakan soal tersebut. Heeei.... , tidak disangka Soat-nie sudah menuruni dasarjurang untuk mengadakan pemeriksaan dan menemukan medali pedangku tertinggal di sana sehingga karena soal itu sudah menimbulkan kesalah pahaman yang demikian mendalam.

Ciu Tong yang sudah kehilangan putra serta muridnya di tempat itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Kalau begitu kali ini kau bermaksud untuk memancing kita masuk ke lembah Chiet Han Ku ini?” serunya dingin.

Yuan Si Tootiang termenung sebentar setelah itu baru mengangguk perlahan.

“Aku tahu lembah Chiet Han Ku merupakan salah satu dari tiga tempat terlarang maka itu sengaja memancing kalian datang kemari, kereta berdarah kini sudah terjatuh ke tangan Si Budak Berdarah, aku rasa murid ku sudah pergi mengadakan pengejaran.”

Baru saja dia selesai berbicara dengan gusarnya Ciu Tong sudah membentak keras, tongkatnya diangkat siap dibabat ke arah pinggangnya. Buru-buru Sang Su-im menarik badannya ke belakang. “Ciu Tong tahan dulu, biarlah perkataannya selesai diucapkan baru kita mulai turun tangan.”

Terdengar Yuan Si Tootiang menghembuskan napas panjang, lalu ujarnya lagi, “Aku hanya ingin memancing agar kalian terkurung semua di sini, tapi di tengah jalan mendadak aku menemukan bayangan berdarah berkelebat sehingga aku melakukan pengejaran, siapa sangka di sini kalian sudah kena dihajar kocar-kacir oleh orang-orang lembah Chiet Han Ku.”

Thian Siang Thaysu kembali mendengus dingin dia sama sekali tidak menyangka kalau Yuan Si Tootiang demikianjahatnya, bilamana bukannya Sin Hong Soat-nie yang mendesak terus menerus ada kemungkinan selama ini dia selalu menganggap dirinya sebagai orang baik-baik.

“Tetapi akhirnya di dalam liang-sim aku menemukan kalau aku sangat berdosa bilamana kalian sampai menemui ajal di tempat ini apalagi diantara kita adalah kawan karib yang sudah lama, karena itu aku sudah balik lagi kemari,” kata Toosu tua itu lagi.

“Hmm tidak disangka kau masih teringat akan Liang-sim dua kata!” seru Cha Can Hong sambil mendengus,

Sewaktu berbicarajelas terlihat dia amat marah sekali, agaknya di dalam hati ia baru merasa menyesal dan kecewa karena orang yang selama ini dianggap sebagai pendekar sejati tidak lain dan tidak bukan adalah manusia rendah seperti ini.

Semakin dipikir dia semakin khe-ki, saking gemasnya kepingin sekali menghajar mati dirinya di dalam satu kali gaplokan,

“Aku kini merasa malu terhadap kalian,” seru Yuan Si Tootiang sambil tertawa sedih. “Dan akupun tahu kalau aku harus merasa malu terhadap para jago di kolong langit, merasa malu terhadap diriku sendiri, tetapi sedikitnya sebelum mati aku akan menebus dosa2ku ini sekeluarnya dari gua ini tidak usah kalian memaksa, aku bisa melakukan bunuh diri dihadapan kalian,”

Walaupun di dalam hati Thian Siang Thaysu merasa amat gusar tetapi diapun merasa tidak tega, bagaimanapun juga Yuan Si Tootiang tetap merupakan seorang Ciangbunjien dari suatu partai besar, bilamana sampai mendesak dia harus melakukan bunuh diri hal ini sangat mengenaskan sekali,

“Omintohud!” serunya kemudian sambil merangkap tangannya di depan dada. “Bila mana tootiang sudah merasa menyesali dosa-dosamu itu maka aku suka menjamin kalau urusan ini

tidak sampai tersiar di dalam dunia kangouw, dengan begitu nama besar dari Bu-tong-pay pun tidak sampai ikut rusak.”

“Terima kasih Thaysu,” sahut Yuan Si Tootiang menunduk.

Ciu Tong yang baru saja kematian putranya mana mau melupakan dendam tersebut terdengar dia berteriak secara tiba-tiba dengan suara yang amat keras:

“Aku Ciu Tong tidak akan ikut menjamin “keselamatannya.”

“Bilamana saudara- sekalian suka menjaga nama baik Bu- tong-pay, hal ini benar' merupakan suatu budi yang amat besar, aku Yuan Si mengucapkan banyak terima kasih tetapi bilamana berita ini hendak disiarkan akupun tidak bisa berbuat apa-apa karena itu memang kesalahanku sendiri”, kata Yuan Si Tootiang sambil tertawa pahit.

Koan Ing yang selama ini selalu berdiam diri setelah mendengar perkataan tersebut dalam hati lantas menaruh rasa kagum, pikirnya, “Hmm tidak kusangka kalau Yuan Si Tootiang masih merupakan seorang lelaki sejati “

“Heei.... kalian bersiap-siap hendak menjatuhi hukuman apa kepadanya?” tanya Sin Hong Soat-nie tiba-tiba. Sang Su-im termenung tidak menjawab, dia adalah seorang pangcu dari suatu perkumpulan besar apalagi dengan Yuan Si Tootiang tidak mempunyai ikatan budi maupun dendam sudah tentu iapun tidak suka bertindak gegabah di hadapan orang banyak.

“Aku mau menghisap darahnya!” tiba-tiba terdengar Ciu Tong yang menaruh dendam paling mendalam berteriak  keras.

Semua orang bungkam seribu bahasa, mereka tahu Ciu Tong bisa menaruh begitu benci terhadap diri Yuan Si Tootiang hal ini disebabkan putranya sudah mati di  tangannya, sekalipun perkataannya ini ada banyak orang yang merasa tidak setuju tetapi tak seorangpun yang mengucap kata-kata.

“Pinceng rasa malam kini sudah tiba, Yuan Si Tootiang sebagai seorang ciangbunjien dari suatu partai besar apalagi kini dia sudah menyesali dosanya, maka perkataan yang  sudah diucapkan tidak bakal diingkari sendiri,” kata Thian Siang Thaysu dengan suara perlahan “Bagaimana kalau urusan ini kita bicarakan kembali  setelah ke  luar dari  gua  ini. ?”

“Bilamana di dalam beberapa waktu ini terjadi suatu peristiwa, siapa yang akan menanggung?” bentak Ciu Tong marah. “Pinceng yang tanggung!”

Bagaimanapun juga Thian Siang Thaysu dengan Yuan Si Tootiang semula adalah kawan karib, sekalipun pada saat ini diapun menaruh rasa gemas dan benci terhadap dirinya tetapi melihat keadaannya yang kepepet ini hatinya merasa tidak tega juga, dia merasa sikap dari Ciu Tong sedikit keterlaluan.

Bagaimanapun juga jalan pikiran tiga manusia genah serta empat manusia aneh tidak akan sama.

Hweesio dari Siauw-limsi ini berbuat demikian karena makin menaruh rasa kasihan terhadap Yuan Si Tootiang, juga persoalan inipun sedikit2nya mempengaruhi kecemerlangan dari tiga manusia genah, karena itu walaupun dia merasa toosu Bu-tong-pay itu bersalah mau tak mau dia harus membelanya juga.

“Hmm hweesio apakah kau merasa kuat untuk memikul tanggung jawab tersebut?” ejek Ciu Tong dingin.

Kini perkataan sudah diucapkan keluar, walaupun Thian Siang Thaysu merasa beban ini sangat besar dan berat, tetapi perkataan sudah diucapkan keluar tidak bakal bisa ditarik kembali,

Setelah termenung beberapa saat lamanya dia baru berkata, “Bilamana dia berhasil melarikan diri, sekalipun lari ke ujung langitpun akan pinceng kejar terus “,

Ciu Tong lantas menarik napas panjang-panjang, keadaan pada saat ini sudah tidak mengijinkan lagi buat mereka saling bentrok, setelah memandang sejenak keadaan cuaca terakhir dia baru mengangguk.

“Baiklah biarlah kali ini aku menyetujui usulmu itu.”

Semua orang baru menghembuskan napas lega setelah mendengar perkataan Ciu Tong, walaupun begitu diantara mereka tak ada seorangpun yang berbicara.

Lama sekali baru terdengar Sin Hong Soat-nie menoleh ke arah Yuan Si Tootiang dan bertanya, “Sekarang kau sudah teringat belum siapakah yang menyaru sebagai Si Budak Berdarah?”

“Pinto tidak tahu.”

Sewaktu bicara sampai di situ mendadak dari luar gua berkumandang datang suara dentuman tiga kali yang amat keras sekali. “Blaaammm.... Blaaammm.... Blaamm. !”

“Ahh.... serangan total sudah dimulai!” teriak Sang Su-im cepat. Pada saat yang bersamaan pula mendadak terdengar Yuan Si Tootiang membentak keras, tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat sudah menubruk ke arah Koan Ing serta Sang Siauw-tan. Melihat kejadian itu para jago yang berada di tengah kalangan menjadi amat kaget. 

Thian Siang Thaysu menjadi sangat terperanjat, mana mungkin dia suka memberi kesempatan bagi Yuan Si Tootiang untuk melakukan kejahatan lagi.

Di tengah suara bentakan yang amat keras, tubuhnya berkelebat ke depan sedang sepasang telapaknya dengan sejajar dada menghantam ke tubuh Yuan Si Tootiang dengan menggunakan tenaga lweekang ‘Sian Thian Si Boe Cin Khie’.

Yuan Si Tootiang tertawa seram, tangan kanannya membalik melancarkan satu pukulan disertai hawa murni yang berwarna merah tawar mengancam tubuh Thian Siang Thaysu. “Aaach ilmu kh.^-kang Hwee Soat Chiet Sah Kang Khie!” teriak Sin Hong Soat-nie kaget.

Semua orang menjadi terperanjat dengan cepat dua gulung angin pukulan itu terbentur satu sama lain membentuk gulungan angin taupan yang amat dahsyat.

“Braaak!” dengan disertai suara benturan nyaring pasir serta kerikil pada beterbangan memenuhi angkasa.

Dengan cepatnya Sin Hong Soat-nie mencabut keluar pedangnya melancarkan serangan, dia merasa kaget karena Yuan Si Tootiang berhasil menangkis datangnya angin pukulan dari Thian Siang Thaysu dengan tangan sebelah, dari hal inijelas sekali tenaga dalam yang dimiliki sudah  mencapai pada taraf kesempurnaan.

Sewaktu Sin Hong Soat-nie melancarkan serangan itu Yuan Si Tootiang sudah berhasil menangkis datangnya Thian Siang Thaysu, sedang tangan kanannya dengan cepat menyambar tubuh Sang Siauw-tan. Melihat kejadian itu Koan Ing jadi terperanjat, dengan diiringi suara suitan yang amat nyaring pedangnya dengan cepat membabat ke depan dengan menggunakan jurus ‘Thian Hong Coe Lok’.

Sin Hong Soat-nie yang pedangnya berhasil dipukul ke samping oleh tenaga sabetan telapak kiri toosu Bu-tong-pay ini hatinya terperanjat segera menarik kembali serangannya, di dalam sekejap saja pedangnya kembali menyambar ke depan mengancam batok kepala Yuan Si Tootiang.

Dengan amat gesitnya Yuan Si Tootiang meloncat ke atas, kakinya melancarkan serangan tendangan memukul mental pedang Kiem-hong-kiam ditangan Koan Ing sedang tangan kanannya menotok jalan darah pingsan dari Sang Siauw-tan, sewaktu tubuhnya melayang turun ke atas permukaan tanah dengan lincahnya dia berhasil menghindarkan diri dari tusukan pedang Sin Hong Soat-nie.

Sang Su-im serta Cha Can Hong pun merasa amat terperanjat, ilmu jari Han Yang Ci serta ilmu pukulan Kiem Sah Ciang dari gurun pasir di dalam waktu yang bersamaan melancarkan serangan menghajar Toosu itu.

“Tahan!” tiba-tiba Yuan Si Tootiang membentak dengan suara yang amat keras sekali. Selesai membentak dia sudah menarik tubuh Sang Siauw-tan ke hadapannya.

Dari mulut gua tampak bayangan manusia berkelebat, dengan gusarnya Ciu Tong membentak keras toyanya dengan menimbulkan angin serangan yang dahsyat menyapu datangnya serangan dari orang itu.

Sang Su-im serta Cha Can Hong yang melihat Sang Siauw- tan berhasil kena ditangkap oleh Yuan Si Tootiang untuk dijadikan sebagai tameng dalam hati menjadi sangat terperanjat, di dalam keadaan terburu-buru serangannya kembali menerjang keluar gua. Seketika itu juga mulut gua tersumbat rapat, orang yang sedang menerjang masuk ke dalam gua itupun seketika itu juga kena dihantam oleh tenaga gabungan tiga orang jagoan lihay, di tengah suara dengusan berat dia mengundurkan diri kembali keluar gua.

“Hey hweesio gundul, bagus sekali sekarang aku mau lihat bagaimana kau hendak bertanggung jawab” ejek Ciu Tong sambil menoleh ke arah si hweesio dari Siauw-lim-si ini,

Thian Siang Thaysu merasa gusar bercampur khe-ki, tanpa perduli situasi pada saat itu lagi, Sambil mengeluarkan bentakan yang amat keras dia melancarkan serangan kembali untuk menghajar diri Yuan Si Tootiang,

Sang Su-im cuma mempunyai seorang putri saja, sudah tentu dalam hati tidak akan mengijinkan Sang Siauw-tan mati di sana, melihat Thian Siang Thaysu melancarkan serangan dengan terburu-buru dia mendorong pukulan hweesio tersebut.

“Jangan menyerang!” bentaknya keras,

Angin pukulan menyambar ke depan.... Braaak seketika itu juga seluruh dinding gua itu tergetar amat keras terkena hajaran tersebut.

Yuan Si Tootiang segera tertawa terbahak-bahak, dengan perlahan dia menoleh ke arah Sang Su-im.

“Haaa.... haaa.... Sang pangcu, silahkan kau perintah mereka untuk berhenti menyerang. !”

Sang Su-im jadi melengak, selama ini belum pernah ada orang yang berani memaksa dirinya, tidak disangka ini hari dia harus jatuh kecundang ditangan orang lain.

Tetapi kenyataan memang demikian, dengan hati mendongkol terpaksa dia mengayunkan tangannya ke depan, sebuah panah berapi dengan cepat meluncur keluar dari gua tersebut

dan meledak di tengah udara.

Mendengar suara ledakan tersebut Yuan Si Tootiang tertawa semakin keras lagi.

Koan Ing yang tangan kanannya kena di tendang oleh Yuan Si Tootiang dalam hati merasa terkejut bercampur gusar, walaupun serangannya tadi dilakukan di dalam keadaan tergesa-gesa tetapi tendangan dari Yuan Si Tootiang itu dilakukan demikian cepatnya sehingga tak ada kesempatan baginya untuk menghindarkan diri,

Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang ke arah Yuan Si Tootiang sedang dalam hati mulai berpikir bagaimana caranya untuk menolong Sang Siauw-tan dari tangannya.

Sin Hong Soat-nie yang melihat kejadian itu segera mendengus dingin, kepada Toosu dari Bu-tong-pay ancamnya, “Bilamana kau berani membinasakan diri Sang Siauw-tan, maka sejak kini jangan harap bisa keluar dari sini”,

Mendengar perkataan itu Yuan Si Tootiang segera tertawa terbahak-bahak.

“Yuan Si sungguh indah sekali cerita karanganmu tadi, kau sungguh berbakat sekali untuk menjadi seorang pembohong” seru Cha Can Hong dengan gusar.

Sekali lagi Yuan Si Toatiang tertawa ter bahak-bahak.

Pada waktu ini Thian Siang Thaysu benar-benar sangat gusar sehingga seluruh badannya gemetar, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkannya.

Mendadak dari belakang tubuhnya kembali sesosok bayangan manusia berkelebat masuk kedalam, dengan gusarnya Thian Siang Thaysu segera membentak keras, sambil membentak dia melancarkan satu pukulan dahsyat dengan manggunakan ilmu lweekang ‘Sian Thian Si Boe Cia Khie’.

“Braaak!” di tengah suara ledakan yang amat keras bayangan manusia itu kembali kena dipukul pental ke belakang.

“Yuan Si kau kepingin berbuat apa?” bentak Sang Su-im dengan kasar.

“Heee.... heee.... sungguh sayang!” seru Yuan Si Tootiang sambil tertawa dingin, “Sebenarnya aku mempunyai rencana untuk membasmi kalian di lembah ini, tidak disangka kalian bisa bersembunyi di dalam gua ini bahkan memperoleh bantuan dari seluruh anggota perkumpulan Tiang-gong-pang”

Setelah mendengar perkataan itu semua orang menjadi terkejut bercampur gusar, tidak disangka kejadian ini hari tidak lain merupakan siasat yang telah disusun oleh Yuen Si Tootiang sendiri, tidak disangka kalau hatinya begitu kejam dan licik sehingga bermaksud hendak membasmi seluruh jago Tionggoan disini.

“Kau.... kau manusia laknat!” teriak Thian Siang Thaysu saking khekinya sehingga seluruh badannya gemetar keras.

Ooo)*(ooO

Bab 37

MENDENGAR makian itu Yuan Si Tootiang segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaa.... haaa. dari dulu aku memang bukan lelaki sejati,

haaa. sekarang aku mau lihat apa hendak kalian terbuat?”

Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi sambil tertawa dingin, “Kini keadaan situasi sudah berubah, bukan saja aku sudah memasuki gua ini bahkan ditanganku masih terdapat seorang tawanan.” Koan Ing yang melihat Yuan Si Tootiang begitu bangga dalam hati merasa menyesal dan gemas, dia menyesal kenapa sejak tadi tidak terpikir olehnya bagaimana mungkin Sak Huan bisa mengetahui urusan yang meyangkut diri Jien Wong bilamana dia sendiri tidak ikut menerjunkan diri,

“Kalau begitu orang yang menyaru sebagai Si Budak Berdarah adalah kau,” sela Sin Hong Soat-nie dingin,

“Haa,.... haa.... dugaaamu sedikitpun tidak salah,” jawab Yuan Si Tootiang sambil tertawa terbahak-bahak. “Cuma sayang kau mengetahuinya sudah sedikit terlambat, kau harus tahu ilmu khie-kang Hwe Hiat Chiet Sah Kang Khie tidak ada keduanya di dalam kolong langit dan bisa menghisap tenaga dalam orang lain, sejak dulu aku sudah bermaksud untuk menjagoi Bu-tim tapi selama itu tak ada kesempatan yang baik, tempo hari setelah Si Budak Berdarah terjatuh kedasarjurang dan dengan menggunakan kesempatan setelah kalian berdua pergi dari sana aku turun sendiri kesisi mayatnya dan berhasil memperoleh rahasia dari ilmu khie- kang Hwee Hiat Chiet Sah Kang Khie tersebut.”

Selesai berkata dia segera tertawa terbahak-bahak,

“Hmm aku kira kau adalah ciangbunjien dari suatu partai besar, tidak disangka kau orang tidak lebih merupakan manusia laknat yang berhati rendah!” maki Thian Siang Thaysu dengan gusar.

“Haa.... haa.... kau baru tahu sekarang hweesio gundul?” ejek Yuan Si Tootiang sambil tertawa gelak, “Tahun dulu aku sudah bertemu dengan Kaucu dari lembah Chiet Han Ku ini, Hauw Thiau Kiem Wang atau si jaring emas penguasa langit Phoa Thian Cu untuk menyusun rencana membasmi seluruh jagoan lihay yang ada di kolong langit”

“Hmm apa kau kira tindakan ini bisa terlaksana?” ejek Cha Can Hong sitelapak dewa dari gurun pasir sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat. “Sudah tentu aku merasa yakin pasti bisa terlaksana,”  sahut Yuan Si Tootiang sambil tertawa dingin. “Sekalipun kepandaian silat yang kalian miliki berada diluar dugaanku tetapi kalianpun harus ingat bila mana tidak ada kekuatan dari anak buah-perkumpulan Tiang-gong-pang kalianpun belum tentu bisa keluar dari lembah ini dengan selamat, sekarang Sang Su-im sudah berhasil aku kuasai”

Paras muka Sang Su-im segera berubah menjadi hijau membesi, dengan pandangan termangu-mangu dia memperhatikan diri Yuan Si Tootiang dengan mata berapi2, sekalipun begitu dia tidak bisa berbuat apa-apa karena pada saat ini Sang Siauw-tan masih berada ditangannya,

Terdengar Sin Hong Soat-nie mendengus dingin. “Walaupun Sang Su-im berhasil kau kuasai tetapi masih ada

Cha Can Hong, Thian Siang Thaysu serta aku tiga orang.”

“Heee.... heee.... Cha Can Hong paling suka dengan diri Sang Siauw-tan, rasanya mereka berdua tidak akan berani bertindak  secara  gegabah,  sedang  kalian  berdua,   Hooo....

hooo.    kalian berdua apakah merasa yakin bisa mengalahkan

diriku? Terhadap kalian aku tidak akan memandang sebelah matapun.”

Sin Hong Soat-nie benar2 amat gusar, tetapi dia tahu keadaannya pada saat ini sangat tidak menguntungkan dan Yuan Si Tootiang sudah menduduki di atas angin, karenanya dia tidak berani banyak bertingkah.

“Kau siap-siap berbuat apa?” tanyanya kemudian.

Yuan Si Tootiang tertawa tawar, sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke seluruh gua.

“Menurut caraku yang paling baik adalah membinasakan kalian semua disini,” sahutnya dingin.

Para jago yang ada di dalam gua menjadi sangat terperanjat Sang Su-im merasa hatinya tergetar amat keras, dia tahu bilamana Yuan Si Tootiang tidak membinasakan dirinya maka peristiwa ini pasti akan tersiar ke dalam dunia kangouw sedang partai Bu-tong-pay selamanya tidak akan bisa menancapkan kakinya kembali di dalam Bu-lim. Berpuluh- puluh bayangan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, “Kau kira apakah maksudmu itu bisa tercapai?” ejeknya kemudian, “Haa.... haa dengan sepenuh tenaga kau kupaksa untuk mengambil jalan ke arah ini”

“Baiklah begini saja, aku akan memberi satujaminan kepadamu, asalkan kau suka melepaskan Siauw-tan maka urusan ini hari tidak akan kusiarkan di Bu-lim, sehingga nama

besar Bu-tong-pay pun tidak bakal menemui kerugian,” kata Sang Su-im kemudian dengan mata berkedip-kedip.

“Tidak bisa.” ujar Yuan Si Tootiang sambil menggeleng.” Bukan saja aku bermaksud hendak membinasakan kalian semua, bahkan hingga kini aku belum berhasil mendapatkan kereta berdarah, aku tidak akan melepaskan barang siapapun “

Koan Ing yang mendengar perkataan tersebut menjadi tertegun, dia masih mengira kereta berdarah itu sudah terjatuh ke tangan Yuan Si Tootiang, tetapijika di dengar dari perkataannya tadijelas kereta berdarah masih belum terjatuh ke tangannya, lalu ada dimanakah barang incaran para jago- jago Bu-lim itu. Kejadian apa yang kembali sudah berlangsung?

Dengan pandangan tajam Sang Su-im memandang ke arah Yuan Si Tootiang dalam hati pada saat ini benar-benar amat gusar sukar ditahan, tangan kanannya mendadak diayun ke depan sebatang anak panah berapi segera meluncur keluar dari gua dan meledak sebanyak tiga kali di tengah udara.

“Perintah penyerbuan aku sudah kirim” ujarnya kemudian sambil tertawa mengejek. “Bilamana kau berani melukai Sang Siauw-tan maka dengan tenaga gabungan kami berempat kau segera akan hancur berantakan, aku rasa lebih baik kau tahu diri.”

Yuan Si Tootiang sama sekali tidak menyangka kalau Sang Su-im berani melakukan tinndakan ini, air mukanya segera berubah hebat, dalam hati toosu itu tahu bilamana dirinya nekad turun tangan juga terhadap Sang Siauw-tan maka dirinya tidak bakal kuat menahan satu pukulan dari tenaga gabungan mereka berempat.

Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun dan tak mengetahui apa yang harus diperbuat pada saat itu.

“Yuan Si, kau sudah mengalami kegagalan,” ujar Sang Su- im sambil kerutkan alisnya. “Di dalam keadaan yang sangat kepepet, sekalipun tenaga dalam serta kepandaian silat dari orang-orang lembah Chiet Han Ku amat lihaypun, tidak mungkin bisa menahan serangan gabungan, hmm....

maksudmu untuk melenyapkan para jago Bu-lim ini sungguh menggelikan sekali!”

“Sang Su-im!” teriak Yuan Si Tootiang kemudian sambil menggigit kencang bibirnya. “Kau harus tahu putrimu berada ditanganku, sekalipun aku sudah membinasakan dirinya masih cukup tenaga untuk menerjang keluar dari sini!”

Air muka Sang Su-im berubah menjadi hijau membesi, hatinya benar' amat gusar sekali,

“Hmmm kau harus tahu aku sebagai pangcu dari perkumpulan Tiang-gong-pang, bisa melakukan beratus-ratus macam tindakan, kalau kau tidak percaya boleh!” tantangnya,

“Hmm.... sekalipun anak buahmu sudah memasuki lembah tapi harus membutuhkan setengah jam lagi baru bisa sampai disini, pihak lembah Chie Han Ku bukannya tidak mengadakan persiapan,” balas dengus Yuan Si Tootiang dengan ketus.

Sang Su-im segera tertawa dingin, dia puas kalau pihak lembah Chie Han Ku memang sudah mengadakan persiapan, agaknya Yuan Si Tootiang berkata demikian hendak maksudkan kalau kekuatan pihak lembah Chiet Han Ku pun tidak kecil,

“Sang Su-im!” ancam Yuan Si Tootiang dengan dingin, “Setelah mereka datang kemari dan aku tahu tidak bakal lolos dari sini, waktu itu nyawa putrimu. Hmmmm. ”

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras dia tahu Sang Su-im tidak bakal membiarkan Sang Siauw-tan menemui ajalnya ditangan Yuan Si Tootiang. “Lalu apa rencanamu?” tanya Sin Hong Soat-nie.

Dengan amat tawar Yuan Si Tootiang menyapu ke arah Sin Hong Soat-nie, mulutnya tetap membungkam, beberapa saat kemudian ia baru berkata kepada Sang Su-im.

“Kita bisa lolos dari sini dalam keadaan aman, dikemudian hari seluruh Bu-lim hanyalah milik kita berdua orang saja. Sang pangcu bagaimana kalau kita bekerja sama?”

“Mau bekerja sama sih boleh saja”jawab Sang Su-im sambil menghembus napas panjang. “tapi aku tidak setuju kalau kita kerja sama untuk menjagoi Bu-lim, lebih kita baik bergabung untuk menghadapi orang-orang lembah Chiet Han Ku saja, bagaimana pendapatmu?”

Sinar mata Yuan Si Tootiang berkelebat tiada hentinya, dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya bisa tertahan oleh Sang Su-im sekalian di dalam gua, sewaktu pikirannya lagi berputar itulah dari luar gua secara samar-samar sudah terdengar suara bentakan serta tindakan manusia yang amat banyak sekali.

Pikirannya dengan cepat berputar, mendadak dia mendengus dingin tengan kanannya mendorong tubuh Sang Siauw-tan ke samping kiri sedang tubuhnya dengan cepat berkelebat keluar dari dalam gua, Para jago yang berada di dalam gua jadi amat terperanjat sekali, Sang Su-im yang menaruh rasa kuatir atas keselamatan putrinya maka tak mempunyai minat untuk mengejar diri Yuan Si Tootiang, tubuhnya dengan cepat bergerak menubruk ke arah tubuh Sang Siauw-tan.

Cha Cin Hong pun di dalam waktu yang bersamaan melancarkan tiga pukulan menghajar toosu dari Bu-tong-pay itu sedang tubuhnya dengan cepat menubruk ke arah Sang Siauw-tan.

Sin Hong Soat-nie, Thian Siang Thaysu serta Ciu Tong be- ramai2 melancarkan pukulan dahsyat ke depan. Toya, pedang serta tenaga pukulan dengan mengambil tiga arah serangan yang berbeda menerjang ke tubuh Yuan Si Tootiang.

Sewaktu tubuh Yuan Si Tootiang menubruk ke depan pedangnya sudah dicabut keluar, di tengah suara tertawanya yang amat keras pedangnya bergetar tiada hentinya melancarkan jurus-jurus kiam hoat yang luar biasa dahsyatnya untuk menghadang datangnya serangan gabungan dari ketiga orang tadi.

Belum habis dia tertawa tubuhnya bagaikan seekor ikan belut sudah berkelebat keluar dari dalam gua,

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi melengak, setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya dia baru menghembuskan napas lega, walaupun Yuan Si Tootiang berhasil meloloskan diri dari dalam gua tadi setidak2nya Sang Siauw-tan berhasil ditolong dalam keadaan selamat.

Dengan perlahan dia berjalan ke depan, terlihatlah Sang Su-im sambil memeluk tubuh Sang Siauw-tan sedang berdiri termangu-mangu disana.

Koan Ing segera merasakan hatinya berdesir, karena matanya dapat melihat kalau air muka Sang Siauw-tan pada waktu itu sudah berubah menjadi pucat bagaikan mayat dan berbaring disisi Sang Su-im tak bergerak, sekalipun napasnya tidak sampai putus tapi jelas tubuhnya sudah terluka parah oleh tenaga pukulan yang amat dahsyat dari Yuan Si Tootiang.

Ciu Tong yang melihat Sang Siauw-tan terluka dengan cepat maju ke depan, beberapa saat kemudian dia baru menghela napas panjang.

“Siauw-heng, bagaimana ini bisa jadi?” katanya.

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera merasakan hatinya berdesir, Ciu Tong yang mengenal ilmu obat-obatan tidak mengerti bagaimana luka yang diderita oleh Sang Siauw- tan itu bagaimana baiknya.

Dengan cepat dia memegang pergelangan tangan kanan dari Sang Siauw-tan dan memeriksa urat nadinya, terasalah denyutanjantungnya amat lemah sekali cuma tidak mengetahui dia sudah terluka oleh pukulan macam apa, tetapi yang jelas pastilah suatu ilmu pukulan yang amat beracun sekali.

Berpikir akan hal itu Koan Ing dengan gusarnya lantas membentak keras, tubuhnya bergerak dan menerjang keluar dari dalam gua.

“Hati-hati jangan gegabah!” teriak Cha Can Hong dengan suara keras.

Tangannya dengan cepat menyambar ke depan, siapa tahu gerakan Koan Ing jauh lebih cepat, tahu-tahu dia sudah berada diluar gua,

Cha Can Hong jadi amat kaget, jangan dikata diluar ada jago-jago kelas wahid lembah

Chiet Han Ku yang mengepung tempat itu rapat-rapat, sekalipun mereka tidak berani menerjang keluar apalagi Koan Ing pemuda itu, bukankah hal ini sama saja dengan mencari jalan kematian buat dirinya sendiri? Siapa tahu setelah Koan Ing menerjang keluar dari dalam gua, suasana diluar gua tenang-tenang saja, dalam hati para jago yang berada di dalam gua segera menduga kalau Koan Ing sudah mati di tengah kerubutan orang banyak.

Tetapi kejadian yang sesungguhnya sama sekali bukan demikian.Koan Ing yang berhasil menerjang keluar dari mulut gua sama sekali tidak menemukan gangguan apapun, orang- orang dari lembah Chiet Han Ku sudah pada bubaran sedang dari tempat kejauhan tampaklah sesosok bayangan manusia dengan cepatnya berkelebat masuk ke dalam hutan, dengan cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk meluncur ke belakang lembah tersebut.

Sebatang anak panah berapi kembali meledak di tengah udara menimbulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Suara bentakan saling sahut menyahut dari empat penjuru. laksana air bah suara tersebut melanda mendekat, dalam hati pemuda itu lantas mengerti kalau orang-orang perkumpulan Tiang-gong-pang telah berhasil menjebolkan pertahanan lembah Chiet Han Ku dan kini sudah mulai mendekati tempat itu.

Para jago yang terkurung selama beberapa hari dalam gua akhirnya terbebas juga.

Sang Su-im sambil menggendong tubuh Sang Siauw-tan berjalan keluar dari dalam gua, dari sepasang matanya mengucur keluar titik-titik air mata, hatinya benar-benar amat kegirangan.

Dengan termangu-mangu Cha Can Hong memandang ke arah para jago yang sedang keluar dari

gua saling susul menyusul, hatinya lagi merasa kuatir atas keselamatan diri Koan Ing yang meluncur ke belakang Lembah. Pada saat itu anak buah dari perkumpulan Tiang-gong- pang mulai bermunculan dari empat penjuru.

Koan Ing yang sedang mengejar Yuan Si Tootiang sewaktu melihat toosu itu melarikan diri ke dalam rimba di belakang lembah hatinya merasa amat cemas bercampur gusar.

Dia gemas karena Yuan Si Tootiang sudah turun tanganjahat terhadap gadis itu, dalam hati ia bersumpah hendak mencari sampai dapat toosu dari Bu-tong-pay itu dan menuntut balas.

Beberapa saat kemudian sampailah pemuda itu di dalam sebuah hutan yang jauh lebih lebat dari hutan di depan lembah, setelah menembusi hutan tersebut di hadapannya muncul sebuah bangunan istana yang amat megah sekali.

Dia rada merandek, sedang pikirannya dengan cepat berputar, “Bangunan rumah itu tentu markas mereka, bilamana aku tidak berani memasuki sarang macan, bagaimana mungkin bisa memperoleh anak macan?”

Berpikir akan hal itu tubuhnya dengan cepat berkelebat masuk ke dalam bangunan mewah tersebut.

Pintu rumah terpentang lebar-lebar, di dalam ruangan sunyi senyap tak tampak sesosok bayangan manusiapun, keadaan benar-benar amat menyeramkan sekali.

Koan Ing tidak sempat berpikir panjang lagi, sambil memegang pedangnya kencang-kencang dia segera menerjang masuk ke dalam rumah tersebut.

Di dalam rumah itu tak ada seorang manusiapun, di tengah ruangan yang luas cuma tampak dua buah kursi saja, keadaan begitu sunyi sehingga terasa amat menyeramkan.

“Yuan Si!” terdengar Koan Ing mendengus dingin dan berteriak keras, setelah dirasanya Yuan Si Tootiang benar- benar berada di dalam rumah tersebut, “Aku hanya seorang diri, apakah kau merasa takut kepadaku?” “Koan Ing kau sungguh bernyali besar, berani betul kau menerjang kemari seorang diri!” seru Yuan Si Tootiang sambil berkelebat muncul di depan pemuda tersebut.

“Siauw-tan sudah kau apakan?”

“Ooow.... kiranya kedatanganmu karena soal ini, aku lihat kau menjadi orang terlalu gegabah tetapi aku kagum akan semangatmu, sekalipun kepandaianmu dahsyat tetapi masih terpaut jauh dari diriku.”

Sehabis berkata dia memutar badannya dan berlari masuk ke dalam rumah.

Sinar mata Koan Ing berkelebat dia tahu Yuan Si Tootiang hendak memancing dirinya masuk dalam jebakan, tetapi di dalam keadaan seperti ini mau tidak mau dia harus menerjunkan dirinya juga untuk mengikuti dia masuk ke  dalam ruangan.

Sambil menggigit kencang bibirnya dia lantas lari mengejar dari belakang, saat ini dia cuma mengharapkan munculnya suatu kejadian yang aneh atau sedikit2nya bisa  menahan Yuan Si Tootiang untuk melarikan diri.

Yuan Si Tootiang yang melihat pemuda itu melakukan pengejaran dari belakang segera tertawa terbahak-bahak, dengan cepat dia berkelebat ke depan dan melayang masuk ke dalam sebuah lorong.

Koan Ing tidak suka lepas tangan begitu saja, dengan cepat dia mengejar ke belakang.

Lorong itu ada beberapa kaki panjangnya, Yuan Si Tootiang yang lari di depan mendadak lenyap tak berbekas.

Koan Ing menjadi kaget, dengan cepat tubuhnyapun melayang ke depan menerjang ke arah dimana Yuan Si Tootiang melenyapkan dirinya tadi. Siapa tahu baru saja dia melayang turun ke atas permukaan tanah, mendadak dari kedua belah samping meloncat keluar enam orang lelaki berbaju hitam laksana bayangan setan berputar ke samping dan menyebarkan enam buah jaring merah yang amat besar ke atas kepalanya.

Melihat datangnya serangan tersebut, Koan Ing menjadi berdesir, pedang Kiem-hong-kiam ditangannya dengan cepat mencukil ke atas membabat ke arah ke enam lembarjaring merah tersebut disusul tangan kirinya menekan tembok dan melayang ke arah samping,

Kepandaian silat dari enam orang manusia berkerudung hitam itu sungguh lihay dan aneh sekali, begitu pedang sertajaring terbentur satu sama lainnya pedang kiem-hong- kiam ditangan Koan Ing sudah kena dihantam dan terlepas dari tangannya,

Koan Ing jadi terperanjat tubuhnya dengan cepat melayang turun ke atas tanah kemudian sekali lagi melayang ke atas menubruk ke arah pedangnya,

Siapa tahu baru saja tubuhnya melayang ke atas tanah kembali ada sebuah jaring merah yang akan menggulung kakinya,

Dengan gesitnya tangan kanan pemuda itu menyambar pedangnya, kedua kaki ditarik ke atas sedang pedang kiem- hong-kiamnya kembali membabat jaring merah itu,

Belum habis orang berkerudung itu menarik jaring merahnya kelihatan kelima buah jaring lainnya di dalam waktu yang bersamaan sudah mengurung tubuh sang pemuda.

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi terperanjat belum habis dia berpikir pedangnya mendadak disambit ke depan dengan disertai suara bentakan yang amat keras. Pedang Kiem-hong-kiam dengan cepatnya meluncur ke arah keenam orang itu memaksa mereka harus menarik kembali jaringnya untuk melindungi tubuh mereka sendiri.

Koan Ing yang dua kali didesak untuk melepaskan pedangnya dalam hati merasa kheki bercampur gusar.

“Yuan Si Tootiang Apakah kau takut padaku?” bentaknya.

Keenam lembarjaring merah itu dengan cepatnya berhasil melemparkan pedang kiem hong

kiam tersebut ke atas atap sedang jaring tersebut kembali menyapu ke arah Koan Ing

dengan dahsyat.

Koan Ing yang tidak mendengar suara jawaban dari Yuan Si Tootiang hatinya benar2 amat kheki bercampur gemas, kini pedangnya sudah terlepas, untuk memaksa dengan kekerasan pun percuma, terpaksa dia meloncat kesana kemari untuk menghindar.

Untuk mencabut kembali pedangnya yang tertancap di atas atap tidak mungkin baginya, di dalam keadaan kepepet tubuhnya kembali terdesak mundur beberapa langkah.

Mendadak punggungnya terasa menempel pada dinding, hal ini membuat dia terkejut sehingga keringat dingin pada mengucur keluar dengan amat deras, dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya bakal menemui kematian di tempat ini.

“Heeee.... bagaimanapun aku tidak akan mati dengan sia- sia di tengah kurcaci2 yang

wajahnyapun tak sampai terlihat olehku, paling sedikit aku harus membinasakan satu dua orang diantara mereka pikirnya, Sinar matanya berkelebat tajam, tubuhnya mendadak melayang mundur ke belakang dan menempel pada dinding. Pada saat itulah keenam orang itu mendadak merandek dan menghentikan gerakannya,

Koan Ing yang melihat kejadian ini menjadi keheranan. Tiba-tiba....

“Braak!” sebuah pintu berjeriji yang terbuat dari batujatuh ke bawah tepat mengurung dirinya didalam, diantara terbangnya debu memenuhi angkasa suara tertawa dari Yuan Si Tootiang memenuhi angkasa.

“Koan Ing” terdengar Yuan Si Tootiang berteriak sambil munculkan dirinya. “Alat-alat rahasia yang dipasang di dalam lembah Chiet Han Ku ini tidak pernah terduga oleh Sang Su- im, dia tidak akan bisa menerjang masuk sampai kesini, kau bolehlah beristirahat secara tenang-tenang disitu.”

Koan Ing yang melihat dirinya kena dikurung dalam hati merasa cemas bercampur gusar.

“Yuan Si!” makinya. “Malu sekali nama mu ikut tercantum diantara tiga manusia baik,

tidak disangka kalau kau sebenarnya adalah manusia yang paling licik di dalam dunia pada

saat ini “

Mendengar suara makian tersebut Yuan Si Tootiang segera tertawa terbahak2.

“Haa.... haa kau sama sekali tidak ada harganya untuk bergebrak melawan diriku, biarlah aku mengurung kau sampai mati kelaparan saja, coba bayangkan saja Jien Wong si manusia tunggal dari Bu-lim tempo haripun bisa menemui ajalnya ditanganku, apalagi kau sebagai kurcaci biasa haa....

haa.”

Di tengah suara tertawanya yang amat keras dia lantas berlalu dari tempat itu. Dengan termangu-mangu Koan Ing memperhatikan bayangan punggung dari Yuan Si Tootiang Ienyap dari pandangannya, dalam hati dia merasa amat sedih sekali,

Di bawah kakinya kembali ditemui anak tangga terbuat dari batu yang menurun ke bawah, saat ini dia berada di tengah sebuah ruangan batu yang amat gelap sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, untung saja sewaktu terkurung bersama Kong Bun-yu tempo hari dia sudah berhasil mempelajari memandang di tempat kegelapan.

Disebelah kiri dari ruangan batu tampak sebuah pintu, cuma saja dinding batu itu amat tebal sehingga tak sedikit sinarpun bisa memancar masuk,

Dengan hati yang amat kecewa Koan Ing duduk ditanah, dia merasa menyesal atas kehilangan pedang kiem-hong-kiam,

Pikirannya mulai melayang kemana2, terbayang kembali seluruh ilmu silat yang ia pelajari selama ini, dia merasa walaupun kepandaian silatnya sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat tetapi masih belum bisa menandingi kepandaian tiga manusia genah empat manusia aneh,

Pada saat pikirannya lagi berputar itulah mendadak terdengar suara bentakan keras bergema datang disusul terbukanya pintu batu, sesosok bayangan kembali melayang ke bawah disusul ditutupnya pintu batu dengan amat keras.

Koan Ing jadi amat terperanjat, ketika memandang lebih tajam lagi dia lantas dapat mengenali kalau orang itu bukan lain adalah putri dari Cha Can Hong, cuma tidak tahu dia adalah Ca Cing Cing atau Cha Ing Ing.

Agaknya gadis tersebut sama sekali tidak bisa melihat jelas keadaan di sekelilingnya, lama sekali dia berdiri di dalam ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun beberapa saat kemudian dia baru berteriak. “Engkoh Ing kau berada dimana, aku Ing Ing.” Dengan perlahan Koan Ing menghembuskan napas panjang, dalam hati dia merasa bingung bagaimana mungkin Ing Ing bisa sampai di tempat ini. “Ing Ing aku ada disini , kau. ”

Belum habis dia berkata mendadak Cha Ing Ing sudah menggerakkan badannya menubruk ke arah diri Koan Ing.

Melihat tindakan dari gadis tersebut Koan Ing jadi amat terperanjat, tangannya dengan cepat dipentangkan memeiuk Ca Ing Ing yang sudah muiai menangis.

Koan Ing menjadi meiengak tapi sebentar kemudian dia sudah paham mengapa gadis tersebut menangis, tentunya gadis ciiik ini iagi merasa takut karena baru untuk pertama kaiinya ditawan dan dikurung.

Peiukannya pada tubuh gadis itupun semakin diperkencang iagi.

“ing ing kau jangan menangis, segaia urusan bakai beres dengan sendirinya.”

“Engkoh Ing hatiku benar-benar amat girang seteiah bertemu dengan dirimu,” kata Cha Ing Ing mendongak.

Dengan periahan Koan Ing membimbing bangun badannya iaiu tersenyum ramah. “Bagaimana kau bisa sampai disini?” tanyanya sambii tertawa.

Waktu itu Cha Ing Ing cuma bisa meiihat bayangan dari Koan Ing secara samar-samar tetapi

dia mengerti kalau waktu itu pemuda tersebut lagi memandang ke arahnya.

Air muka berubah menjadi merah jengah, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya tak berbicara.

Beberapa saat kemudian baru angkat kepalanya kembali dan berkata, “Engkoh Ing sewaktu aku datang kesini sudah menemukan pedangmu, nih aku sudah mengambilkannya buat dirimu.”

Selesai berkata dia segera angsurkan pedang yang ada ditangannya itu kepada Koan Ing.

Pemuda itu segera menerima angsuran pedang Kiem-hong- kiamnya itu, dalam hati dia benar2 merasa amat berterima kasih terhadap Cha Ing Ing.

“Terima kasih, Ing Ing dimanakah paman Cha? Kenapa kau tidak bersama-sama mereka?” tanyanya kemudian dengan hati keheranan. “Aku tidak tahu, aku tadi kemari seorang diri”jawab Ing Ing.

Mendadak dia menarik tangan Koan Ing dan berseru dengan wajah berubah menjadi merah padam, “Engkoh Ing bukankah pertemuan ini adalah pertemuan yang pertama kalinya buat kita berdua?”

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar keras, mendadak dia menjadi paham kembali peristiwa apa yang terjadi, dia jadi tertegun dan untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.

“Engkoh Ing apa aku benar2 cantik?” tanya Ing Ing kembali dengan paras yang berubah semakin merah.

Kembali Koan Ing dibuat bungkam dalam seribu bahasa, dia tidak mengira kalau perkataan yang diucapkan secara geguyon tempo hari sudah ditanggapi dengan begitu serius oleh gadis cilik ini, hatinya benar-benar kebingungan. “Kau benar-benar amat cantik, tetapi ”

“Engkoh Ing” Seru Ing Ing dengan girang tidak menanti Koan Ing meneruskan kataknya. “Tempo hari Sang Siauw-tan ci ci bilang kau tidak baik, aku sedikit tidak percaya. ”

Bicara sampai disitu dia termenung berpikir sejenak lalu sambungnya lagi. “Aku tahu enci Siauw-tan bersikap sangat baik terhadap dirimu bahkan mencintai dirimu, kalau tidak dia tidak mungkin menaiki puncak Sun Li Hong karena dirimu tetapi aku tahu saat ini tak mungkin dia bisa tiba disini, bilamana sekarang....

” Mendadak dia mengangkat kepalanya dengan wajah penuh air mata tambahnya lagi, “Aku tahu tidak seharusnya aku berpikir demikian, tetapi engkoh Ing aku mengharapkan kita bisa berkumpul untuk selamanya, engkoh Ing kau boleh marah boleh memaki aku asal janganlah mengusir aku dari sisimu”

Lama sekali Koan Ing dibuat berdiri termangu-mangu, sampai lama sekali dia baru menyahut sambil membelai rambutnya.

“Ing Ing bagaimana kalau aku menjadi engkohmu saja?” “Aku bukan anak kecil lagi, kau tidak usah membohongi

aku.” seru Ing Ing secara tiba-tiba sambil menyampuk tangan pemuda itu, suara tangisnya semakin menjadi.

Koan Ing jadi sangat terperanjat, dengan pandangan terpesona dia memperhatikan diri Ing Ing sigadis itu, selama ini dia tidak pernah menyangka kalau Ing Ing secara diam- diam

menaruh hati terhadap dirinya. agaknya saat ini pemuda tersebut baru mengetahui kalau Ing Ing bukanlah seorang gadis cilik lagi. Kini dia sudah menginjak dewasa

Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat  lamanya dia baru menghela napas panjang. “Ing Ing, kau harus tahu bilamana aku sudah ada Siauw-tan ”

Bicara sampai disini tak tertahan lagi dari kelopak matanya mengucur keluar titik-titik air mata, walaupun pergaulannya dengan Siauw-tan tidak cukup lama tetapi hatinya masing- masing sudah saling memahami, dia tidak seharusnya pergi mencintai lagi gadis lain. Dengan perlahan Ing Ing dongakkan kepalanya memandang ke arah Koan Ing, agaknya baru pertama kali ini dia menemukan kalau rasa cinta dari Koan Ing terhadap Sang Siauw-tan begitu mendalamnya, dalam hati dia mulai merasa menyesal.

Dalam hati Ing Ing sangat mengharapkan dia adalah Sang Siauw-tan sehingga memperoleh cinta kasih dari pemuda tersebut, tetapi dia bukan gadis itu hatinya menjadi sedih....

“Ing Ing, aku tidak bisa menipu dirimu,” kata Koan Ing lagi.

Mendengar perkataan tersebut Ing Ing merasa hatinya semakin sedih, kepalanya di tundukkan rendah-rendah sedang air mata mengucur keluar dengan derasnya.

Sambil menundukkan kepalanya gadis itu termenung seorang diri, bayangan dari Koan Ing benar' sudah melekat di dalam benaknya, dia tak bertenaga untuk menghapus bayangan tersebut bagaimana dia harus berbuat pada saat ini? Kembali gadis itu menangis terseduh2.

Dalam hati Koan Ing pun ikut merasa sedih, bagaimanapun dia merasa Ing Ing adalah

seorang gadis yang baik bahkan menaruh rasa cinta terhadap dirinya.

Beberapa saat kemudian Ing Ing baru menarik kembali suara tangisannya, dia melepaskan diri dari cekalan Koan Ing dan berjalan keujung tembok, memejamkan matanya dan duduk bersila.

“Ing Ing,” terdengar Koan Ing menyapa sambil berjalan mendekati sisi tubuhnya. “Bagaimana kalau kita bersama- sama melatih semacam ilmu silat?”

Cha Ing Ing tetap memejamkan matanya tidak menggubris, melihat sikap gadis tersebut Koan Ing segera tertawa. “Bilamana kita bermaksud untuk meloloskan diri dari kurungan ini maka ilmu tersebut harus dilatih baik-baik, kalau tidak sekalipun berhasil meloloskan diri dari kurunganpun belum tentu bisa mengalahkan mereka,”

Mendengar perkataan itu Ing Ing lantas mementangkan matanya kembali memandang ke arah

pemuda tersebut.

Ooo)*(ooO

Bab 38

“ING ING,” ujar Koan Ing dengan suara yang amat halus. “Di dalam ilmu silat aliran Hiat-ho-pay ada semacam ilmu kepandaian yang bernama ‘Cio Ci Yu Su’ dan membutuhkan kerja sama dari dua orang yang menyerang menggunakan pedang bilamana dia menghalangi kiri tidak bakal bisa menangkis serangan kanan. bilamana dia menyerang kanan belum tentu bisa bertahan dari pukulan kiri, tapi ilmu baru berhasil bilamana ada kerja sama yang amat baik, bagaimana kalau kita bersama-sama mencoba?”

Dengan perlahan Ing Ing memejamkan matanya kembali tanpa mengatakan sepatah katapun,

dia merasa bilamana berhasil lolos dari situ maka dia bakal berpisah dengan Koan Ing, daripada berpisah lebih baik sama- sama menemui ajal di tempat ini.

Koan Ing yang melihat Ing Ing tidak mau mengikuti permintaannya, maka dengan perlahan lalu memutar tubuhnya dan berpikir keras.

Di dalam kitab pusaka Boe Shia Koai Mie baik dari Jien Wong maupun dari Song Ing pada mengungkit ilmu untuk menghadapi serangan bokongan, di dalam kitab pusaka pemberian Song Ing ada membicarakan ilmu Cang Su dari Siauw lim-pay sedang Jien Wong pernah memberi ilmu ‘Boe Jiei Kang’ dari aliran Hiat Hoo Bun. Kini setelah termenung sebentar Koan Ing merasa diantara kedua ilmu itulah bisa digunakan untuk menghadapi serangan jaring musuh.

Karena ajarannya terhadap gadis itu di tolaki akhirnya Koan Ing bangun dan mulai berlatih seorang diri,

Ing Ing yang mendengar lama sekali tidak terdengar sedikit suarapun hatinya mulai tidak sabaran, dengan perlahan matanya dibuka kembali, terlihatlah waktu itu Koan Ing sedang berlatih ilmu dengan giatnya....

Lama kelamaan Ing Ing tidak tahan untuk berdiam diri lagi di tengah kegelapan itu, dia menarik napas panjang-panjang lagi berseru -dengan perlahan, “Engkoh Ing.”

Waktu itu Koan Ing sedang berlatih hingga di tengah jalan, walaupun begitu dia tidak memusatkan seluruh perhatiannya karena di dalam keadaan waktu seperti ini dia masih harus menjaga serangan dari pihak musuh, karenanya sewaktu Ing Ing memanggil dirinya dengan

cepat dia sudah membuka matanya kembali.

“Engko Ing, mari kita bersama-sama melatih ilmu ‘Cuo Ci Yu Su’ tersebut,” ajaknya sambil menahan isak tangis.

Selesai berkata tak kuasa lagi dia menangis tersedu-sedu. Dengan termangu-mangu Koan Ing memperhatikan diri Ing

Ing, hatinya merasa amat tidak enak, setelah termenung beberapa saat lamanya baru berseru, “Ing Ing, kau jangan menangis lagi.”

Mendengar suara itu bukannya berhenti menangis, Ing Ing malah menangis semakin keras.

Koan Ing tidak bisa berbuat apa-apa terpaksa dia bungkam dan memandang ke arah Ing Ing dengan melongo. Setelah menangis beberapa saat lamanya dia baru merasakan dadanya mulai lega. “Engkoh Ing, mari kita berlatih ” ajaknya sambil mengusap kering bekas air mata.

Koan Ing pun lantas berdiri dan menjelaskan kedelapan belas jurus ilmu ‘Cuo Ci Yu Su’ itu.

Dengan dasar ilmu silat yang baik dari mereka berdua hanya di dalam waktu yang singkat mereka sudah memahaminya.

Ilmu sudah berhasil dipelajari, kini hanya kekurangan sebilah pedang saja, terpaksa Koan Ing serahkan pedang Kiem-hong-kiam itu kepada diri Ing Ing. “Kau gunakan pedang ini, biar aku memakai sarungnya saja,” ujar pemuda itu perlahan.

Ing Ing agak ragu-ragu sebentar, tetapi akhirnya dia menerima juga pedang Kiem-hong-kiam tersebut.

Koan Ing pun lantas mempersiapkan sarung pedang dan dengan menggunakan tenaga gabungan mereka berdua bersama-sama menghantam ke atas pintu batu tersebut. “Braak. ” dengan menimbulkan suara yang amat keras pintu

tersebut terpentang lebar.

Baru saja mereka berdua siap-siap meloncat keluar, mendadak tampaklah tiga orang lelaki berbaju hitam sudah menghalangi perjalanan mereka, tiga lembarjaring merah dengan cepat dipentangkan dan siap mengurung tubuh kedua orang itu.

Koan Ing segera tertawa terbahak-bahak, tubuhnya berkelebat ke samping sarung pedang yang ada ditangannya segera menekan ke atas jaring merah tersebut. ^

Ing Ing yang berada di sisi pemuda tersebut pun tidak berdiam diri, dia membentak keras dan pedang Kiem-hong- kiam ditangannya dengan memancarkan cahaya yang amat tajam membabat ke atas kepala salah seorang diantara orang berbaju hitam itu,

Orang berkerudung itu menjadi terperanjat, tubuhnya terburu-buru mengundurkan diri satu

langkah ke belakang sedang jaring merahnya dengan cepat dilemparkan ke atas tubuh gadis

tersebut.

Ing Ing dengan gerakan yang amat gesit meloncat ke atas, jurus pedang mereka berdua pun dengan cepat berubah, sarung pedang ditangan Koan Ing dengan dahsyatnya membabat pundak orang itu.

Dengan kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki pemuda tersebut mana mungkin orang itu kuat menahan babatan dari sarung nedang Koan Ing ini? Terdengar dia menjerit keras tubuhnya dengan sempoyongan mengundurkan diri ke belakang sedang jaring yang ada ditangannya sudah  terlempar lepas dari tangannya.

Bersamaan dengan gerakan dari Koan Ing segera membabat ke depan menghajar tubuh kedua orang itu.

Pedang serta sarung pedang bersilang di tengah udara, dua buah jaring merah lainnya kena disapujatuh oleh kedua orang itu.

Melihat kedahsyatan dari ilmu tersebut Koan Ing jadi termangu-mangu, dia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dikerahkan melalui ilmu ‘Cio Ci Yu Su’ ini bisa berubah demikian dahsyatnya, bukan pemuda itu saja sekalipun Ing Ing pun jadi melengak.

Mengambil kesempatan sewaktu kedua orang muda mudi ini lagi berdiri termangu-mangu itulah ketiga orang berkerudung itu dengan cepat melarikan diri dari situ. Koan Ing bertukar pandangan sekejap dengan Ing Ing lalu bersama-sama menerjang keluar. Tetapi sebentar kemudian mereka berdua sudah dibuat tertegun kembali, karena apa yang dihadapinya pada saat ini hanya merupakan reruntuhan belaka sedang bayangan dari ketiga orang berkerudung itu sudah lenyap tak berbekas.

Koan Ing yang melihat reruntuhan itu lalu mengerti kalau tempat itu sudah terbakar musnah, sedang cuacapun waktu itu menunjukkan tengah hari.

Dalam hatinya dia mulai menghitung, dia merasa sejak memasuki ruangan batu hingga sekarang sudah ada dua atau tiga setengah hari lamanya tak disangka dalam waktu yang singkat ini dia sama sekali tidak mengetahui kejadian apa  yang sudah berlangsung selama ini,

Dengan gesitnya mereka berdua lari ke depan, suasana di sekeliling tempat itu amat sunyi sekali, agaknya tak ada sesosok manusia pun yang masih tertinggal disana,

Selagi mereka berjalan mendekati ke tepi hutan mendadak terdengarlah suara seseorang lagi memanggil, “Aah Koan Siauw-hiap, kiranya kau berada disini”,

Dengan cepat Koan Ing menoleh ke belakang, kiranya orang yang baru saja menyapa dirinya itu bukan lain adalah Hoo Lieh, dia lantas tertawa, “Oouw.... kiranya paman Hoo” serunya,

“Nona Cha kiranya kaupun ada disini,” terdengar Hoo Lien berseru kembali sambil berjalan mendekati mereka berdua, “Ayahmu Cha Thay-hiap merasa amat cemas sekali atas lenyapnya kau.”

“Ayahku sekarang berada dimana?” tanya gadis itu cepat. “Paman Sang dan kawan-kawan kini berada dimana?”

tanya Koan Ing pula dengan hati cemas.

“Selama tiga hari ini kita melakukan penyerangan dengan dahsyat tetapi tidak berhasil, terpaksa akhirnya kami menyerang dengan menggunakan api, Yuan Si Tootiang serta sebagian dari orang-orang lembah Chiet Han Ku berhasil melarikan diri sedang Cha Thay-hiap sekalian sedang melakukan pengejaran.”

Berbicara sampai disitu dia menghembuskan napas lega, dan sambungnya lagi, “Pangcu sangat menaruh rasa kuatir atas keselamatan dari siocia dan kini telah berangkat ke daerah TiamPian untuk minta bantuan dari si tabib sakti Lam Kong Ceng untuk mengobati luka nona, dia sekarang sudah berangkat tapi pangcu sudah berpesan bilamana ini hari kita berhasil menemukan Koan Siauw-hiap maka aku harus menghantar nona ke daerah Tiam Pian.”

Jadi Siauw-tan sekarang masih berada disini?” tanya Koan Ing kegirangan.

Dengan cepat Hoo Lieh mengangguk. “Mari, aku antar kalian kesana!” serunya.

Dengan cepat Koan Ing menoleh ke arah Ing Ing dan ajaknya, “Ing Ing, mari kita pergi menengok diri Siauw-tan!”

Walaupun dalam hati Ing Ing merasa tidak suka, tetapi di dalam keadaan seperti ini dia mau tak mau harus ikut, dengan hati berat akhirnya dia mengikuti juga kedua orang itu berjalan masuk ke dalam hutan.

Setelah melewati jalan hutan beberapa saat lamanya mendadak Hoo Lieh menghentikan langkahnya dan menepuk tangan tiga kali, dari balik hutan segera muncullah sepuluh orang anak buah dari perkumpulan Tiang-gong-pang.

Diam-diam Koan Ing merasa amat terkejut tidak disangka Hoo Lieh adalah seorang manusia yang berbakat, tidak aneh kalau Sang Su-im begitu menghargai dirinya, cukup dengan penyagaan yang diatur olehnya ini sudah lebih dari cukup untuk menahan serangan yang bagaimana dahsyatnya.

“Saat ini nona masih berada di dalam keadaan tidak sadar diri,” ujar Hoo Lieh. “Karenanya aku tidak berani berlaku gegabah, di sekeliling tempat ini sudah dipasang enam lapis penjagaan ketat dengan empat lapis yang diperlengkapi panah2 beracun.

Koan Ing yang mendengar perkataan itu dalam hati merasa amat kagum, dia lalu mengangguk.

“Kali ini harus menyusahkan paman Hoo” katanya.

Dengan cepat mereka berjalan masuk ke dalam hutan, tampaklah ditengah-tengah antara pepohonan yang rindang berdirilah sebuah rumah kecil yang dibikin dari kain.

Di dalam ruangan itu tampaklah Sang Siauw-tan dengan wajah yang pucat pasi sedang berbaring di atas sebuah pembaringan.

Dengan langkah yang tergesa-gesa Koan Ing lantas berjalan mendekati badannya dan mengeluarkan tangan gadis itu dari balik pembaringan.

Denyutanjantungnya masih amat lemah sekali seperti keadaan semula, agaknya tak

terjadi sedikit perubahanpun atas dirinya.

Dalam hati diam-diam pemuda itu mulai merasa cemas, tempat itu ada seribu li jauhnya dari daerah Tiam Pian, bilamana di tengah jalan luka Sang Siauw-tan terjadi perubahan apa yang harus dia perbuat pada waktu itu? Apa lagi saat ini dia masih tidak mengetahui apa yang telah terjadi,

Mendadak suatu ingatan berkelebat dihati, pikirnya diam- diam, “Aku sudah memperoleh pelajaran ilmu obat-obatan serta tabib dari Jien Wong, apa kah semuanya ini tak ada gunanya?”

Teringat akan Jien Wong, dalam benaknya kembali terbayang seluruh perkataan yang diucapkan si manusia tunggal dari Bu-lim itu sesaat menjelang kematiannya, Hoo Lieh serta Ing Ing yang melihat wajah Koan Ing diliputi oleh kemurungan agaknya lagi memikirkan satu urusan yang penting mereka tiada yang berani mengganggu,

Mendadak.... Koan Ing teringat kembali kalau di dalam pelajaran dari Jien Wong ada semacam ilmu pengobatan yang disebut “Kiem Ciam Than Meh” atau ilmu menusuk jarum. “Paman Hoo, apakah kau membawajarum emas?” tanyanya kemudian kepada diri Hoo Lien.

Sinar mata Hoo Lieh segera berkelebat tiada hentinya. “Apakah    Koan    Ing    bisa    menyembuhkan  penyakit?”

pikirnya.Dalam  hati  dia  merasa  tidak  percaya,  dia  takut

bilamana Sang Siauw-tan semakin dibuat parah lagi, waktu itu bagaimana dirinya harus bertanggung jawab terhadap diri Sang Su-im?