Kereta Berdarah Jilid 09

Jilid 09

MENDENGAR suara yang begitu tidak enak dari Ciu Tong, diam-diam Sang Su-im berpikir, “Hmm.... sekalipun kini aku harus mati, aku tidak akan melepaskan dirinya dengan keadaan segar bugar.... aku harus melukai dirinya dengan menggunakan seluruh tenaga dalam yang aku miliki pada saat ini.” Dia sama sekali tidak menyangka kalau nama baik yang dipupuknya selama puluhan tahun harus hancur di tangan Ciu Tong pada hari ini.

Semakin berpikir hatinya merasa semakin seperti terbakar, tidak kuasa lagi dengan gusarnya dia lantas berseru, “Hmm....

bilamana kau ingin turun tangan, cepatlah turun tangan urusan yang terjadi di dunia ini tiada yang kekal aku takut sedikit lebih lama urusan bisa terjadi perubahan.”

“Apa? waktu lebih lama urusan bisa terjadi perubahan? haaa.... haaa.... aku belum pernah memikirkan sampai disitu,” sahut Ciu Tong sembari tertawa terbahak-bahak.

“Eeeei.... aku mau tanya padamu. Kini Koan Ing ada bersamamu tetapi entah putrimu ada dimana? Di dalam seratus hari ini aku bermaksud hendak mengatur perkawinan diantara dirinya dengan putra ku, hal ini jikalau tidak dilakukan secepatnya hatiku tidak akan merasa lega.”

Mendengar suara ejekan tersebut Sang Su-im mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia merasa Ciu Tong lagi menghina dan memperolok2 dirinya, daripada harus menanggung penghinaan

tersebut jauh lebih baik mengadu jiwa saja dengan dirinya Tetapi sewaktu teringat kembali kalau dirinya tidak kepingin

cepat mati, kenapa tidak tunggu2 lagi beberapa saat lamanya sehingga ada satu kesempatan yang baik untuk meloloskan diri? Atau sedikit2nya dia harus bisa memukul luka Ciu Tong semanusia laknat tersebut.

“Hmmm Tentang urusan perkawinan Siauw-li, sekalipun aku tidak ada, Cha Chan Hong bisa mewakili aku untuk menguruskan,” serunya dengan tawar.

“Haaa.... haaa.... haaa.... perkataan tepat perkataan bagus.... ” teriak Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak. “Kau jauh2 mendatangi daerah Tibet dan menyebarkan mata- matamu di seluruh daerah ini tetapi tidak pernah kusangka bukan? Kalau ini kali tidak bakal bisa pulang lagi ke rumah? Haaa.... haaaa. haaaa!”

Mendadak dia menarik kembali suara tertawa kerasnya disusul satu dengusan dingin bergema memenuhi angkasa.

“Hal ini berarti pula kalau setiap urusan tidak akan bisa terlaksana sesuai dengan cara pemikiranmu yang gampang itu,” tambahnya.

Sang Su-im lantas tertawa tawar.

“Sekalipun aku harus mati hal ini juga tiada mendatangkan kegembiraan bagi dirimu sendiri,” katanya. “Bukankah nyawamu juga tinggal seratus hari saja? Urusan yang terjadi di dalam dunia inipun tidak akan berjalan selancar seperti apa yang kaupikirkan dihati.”

Ciu Tong segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, sewaktu di dengarnya pada dalam keadaan seperti ini Sang Su-im masih terus mengejek dan memperolok2 dirinya.

Dalam hati merasa sedikit gusar juga, dia segera mendengus dengan dinginnya,

“Sebelum mati apakah kau mempunyai satu permintaan?” tanyanya sambil mendongakkan kepalanya ke atas,

“Namaku berada diempat manusia aneh dan menjabat sebagai pangcu dari perkumpulan Tiong Gong Pang, bilamana harus menemui ajalnya di dalam gua hal ini tidaklah seharusnya,” kata Sang Su-im sambil mengedip2kan matanya, “Bilamana kau tidak menolak, aku ingin melihat sekejap langit nan biru”

“Bagus sekali soal ini mudah untuk dilakukan,” ujar Ciu Tong mengabulkan.

“Tetapi kau harus ingat telapak tanganku selalu akan menempel di punggungmu, kau harus hati-hati Heze.... heee.... asalkan kau berani mengerahkan tenaga murnimu maka aku akan

segera turun tangan telengas!”

Sang Su-im segera merasakan hatinya berdebar, dia tahu harapan untuk lolos tidak akan ada lagi.

“Soal itu terserah padamu mau mengancam secara bagaimanapun aku tidak dapat melarang dirimu lagi,” sahutnya tawar.

Sehabis berkata dengan perlahan-lahan, dia berjalan keluar dari dalam gua tersebut. Ciu Tong yang menempelkan telapak tangannya di belakang punggung Sang Su-impun tidak berani berlaku gegabah, dengan kedahsyatan dari ilmu yang dimiliki Sang Su-im, bilamana sedikit dia pecahkan pikirannya maka ada kemungkinan dengan menggunakan kesempatan itu dia akan menerjang keluar.

Dengan perlahan-lahan Koan Ing pun ikut mengundurkan diri keluar dari gua itu dia yang melihat Sang Su-im kena ditawan dalam hati merasa kecewa bercampur sedih, tetapi sekalipun begitu tidak berani juga turun tangan memberikan pertolongannya.

Koan Ing tahu asalkan sedikit dia tidak berhati hati maka Sang Su-im akan menemui ajalnya di bawah serangan Ciu Tong.

Sekeluarnya dari gua terdengarlah Ciu Tong tertawa girang. “Haa.... haa.... sekarang kau boleh melihat langit yang

dicintai ini, haa.... ha ” ejeknya.

Dengan sedihnya Sang Su-im segera menghela napas panjang,dia dongakan kepalanya memandang ke angkasa. Teringat kembali seluruh pengalamannya pada masa lalu dimana untuk pertama kalinya keluar dari perguruan dan mendirikan perkumpulan Tiang-gong-pang, mengeroyok si manusia tunggal dari Bu-lim, pertemuan puncak para jago di gunung Hoa-san.... satu demi satu terbayang kembali di depan matanya.

Nama besar yang dipupuk selama puluhan tahun ini sebentar lagi bakal musnah tak kembali lagi.    kesemuanya ini

dikarenakan dirinya yang kurang hati-hati sehingga dengan begitu mudahnya terjatuh ke tangan Ciu Tong, Heei     masa

hidupnya hampir habis sampai disini saja entah inikah yang dinamakan takdir atau nasib?

Dengan termangu-mangu lama sekali dia memandang ke angkasa mendadak terdengar suara bentakan dari Ciu Tong

yang bernadakan rasa terkejut.

“Aaah.... Kereta Berdarah” Dia segera merasakan telapak tangannya Ciu Tong yang menempel di punggung sedikit tergetar, satu pikiran lantas berkelebat dihatinya. Tanpa banyak cakap bagaikan kilat cepatnya dia berkelebat ke arah depan.

Ciu Tong yang melihat munculnya Kereta Berdarah dalam hati merasa amat terkejut sehingga telapak tangannya tergetar kini melihat Sang Su-im menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri dalam hati jadi sangat terperanjat telapak kirinya dengan terburu-buru ditekan ke depan menghajar pundak kiri dari Sang Su-im,

Sang Su-im yang sedang berusaha untuk menghindarkan diri dari ancaman Ciu Tong tiba-tiba merasakan pundak kirinya jadi sakit dia mendengus sewaktu matanya melirik ke belakang itulah dia melihat tongkat baja di tangan kanan Ciu Tong sudah dihantamkan ke atas kepalanya.

Dengan gusarnya dia segera membentak keras, saat ini merupakan saat-saat yang amat kritis bagi keselamatan jiwanya, tangan kirinya segera membalik ke belakang melancarkan serangan dahsyat, tiga gulung angin serangan dengan tajamnya berderu menghajar iga Ciu Tong yang ada di belakang. Melihat dalangnya serangan tersebut Ciu Tong jadi merasa bergidik, tergesa-gesa dia tarik napas panjang-panjang untuk mengerahkan ilmu mayat membusuknya, separuh bagian aliran darahnya seketika itu juga berhenti mengalir.

Bersamaan waktu itulah tiba-tiba dia merasakan satu desiran angin tajam menyambar datang dari belakang badannya, sebilah pedang Kiem-hong-kiam yang ada di tangan Koan Ing sudah menyambar mendekati sang leher.

Sedikit dia berayal, itulah tiga buah serangan jari yang amat dahsyat dari Sang Su-im berhasil menghajar badannya, dia segera mendengus berat.

Tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang terkena dorongan angin

serangan itu, bersamaan pula kepalanya menunduk ke bawah menghindarkan diri dari serangan pedang Koan Ing.

Tetapi pada saat itu ujung toya yang di babat ke depan berhasil pula menghantam iga Sang Su 1m dengan kerasnya

Dengan kepandaian silat serta tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tong pada saat ini, Sang Su-im mana kuat menahan babatan tongkat dari Si iblis sakti dari luar lautan,

Terdengar diapun mendengus berat, tubuhnya terpental sejauh tiga kaki terkena sapuan yang dahsyat dari Ciu Tong ini,

Diantara suara ringkikan kuda yang amat ramai dan memekikkan telinga bagaikan bayangan setan saja kereta berdarah itu menerjang datang,....

Koan Ing yang serangannya tidak mencapai pada hasil dengan terburu-buru menarik kembali pedangnya sedang tubuhnya bagaikan kilat cepatnya berkelebat ke samping badan Sang Su-im, dengan cepat dia membimbing bangun Sang Su-im yang saat ini sudah jatuh tidak sadarkan diri, Ciu Tong yang melihat situ kesempatan yang paling baik untuk membinasakan Sang Su-im di bawah serangannya ternyata mengalami kegagalan, dalam hati merasa khe-ki bercampur gusar, sambil bersuit nyaring dengan dahsyatnya dia menubruk ke arah Koan Ing,

Koan Ing yang sedang menggendong tubuh Sang Su-im sewaktu melihat wajah Ciu Tong menyengir amat menakutkan dalam hati merasa sedikit bergidik, pedang panjangnya berturut-turut melancarkan lima buat serangan dahsyat menangkis datangnya hantaman toya dari Ciu Tong yang dilancarkan dalam keadaan gusar itu, tetapi tidak urung telapak tangannya terasa sakit juga.

Ciu Tong yang melihat serangannya tidak mendapatkan hasil, dengan gusarnya dia lantas membentak keras, sekali  lagi dia melancarkan satu serangan laksana menggulungnya ombak di samudra dan ambruknya gunung Thay-san.

Melihat datangnya serangan yang begitu dahsyat, Koan Ing jadi sangat terperanjat bagaimanapun juga sambaran toya dari Ciu Tong ini sukar baginya untuk menerima, saat ini kereta berdarahpun lagi menerjang ke arahnya membuat hatinya jadi benar-benar amat bingung.

Mendadak satu ingatan berkelebat di hati Koan Ing, tanpa banyak berpikir lagi sembari menggendong tubuh Sang Su-im dia segera meloncat naik ke arah kereta berdarah yang sedang menerjang datang.

Ciu Tong jadi tertegun melihat kejadian ini, dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing berani meloncat naik ke atas kereta berdarah sembari menggendong tubuh Sang Su-im,

Di tengah suara ringkikan kuda serta ramainya putaran roda kereta bagaikan segulung angin yang berlalu kereta berdarah itu sudah berkelebat melalui permukaan yang tertutup oleh salju. Lama sekali Ciu Tong berdiri termangu mangu di tempat semula, dia tidak tahu bagaimana keadaan dari Sang Su-im pada saat ini, hatinya jadi merasa sedikit sedih.

Di dalam sekejap saja Kereta berdarah itu sudah lenyap dari pandangan mata. Tidak disangka sama sekali olehnya Kereta berdarah sebenarnya adalah demikian misterius dan demikian menakutkan, tujuannya yang terutama mendatangi daerah Tibet tidak lain adalah

dikarenakan kereta berdarah itu tetapi kini dengan mata kepala sendiri dia melihat kereta berdarah itu berlalu bahkan melihat pula Koan Ing sembari menggendong tubuh Sang Su- im meloncat naik ke dalam kereta.

Tetapi mendadak hatinya merasa amat ketakutan, dia sama sekali tidak berani pergi mengejar. w

Koan Ing yang menggendong tubuh Sang Su-im masuk ke dalam kereta berdarah segera merasakan adanya seseorang yang lagi memandang dirinya dengan pandangan dingin sekali.

Dia jadi sangat terkejut, sewaktu memperhatikan lebih tajam lagi waktu itulah Koan Ing baru menemukan kalau dia orang bukan lain adalah Si manusia tunggal dari Bu-lim.

Sinar mata si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong dengan terpesonanya memandang diri Koan Ing, tak sepatah katapun diucapkan olehnya.

Koan Ing sendiripun tidak tahu bagaimana pada waktu tadi dia begitu berani untuk meloncat naik ke dalam kereta berdarah, waktu itu dia cuma memikirkan bagi keselamatannya sendiri dan kini.... setelah berada di dalam ruangan kereta hatinya mulai merasa amat tegang.

Jien Wong tak mengucapkan sepatah katapun, dia cuma memperhatikan dirinya dengan pandangan terpesona.... Di bawah tarikan empat ekor kuda berwarna merah, kereta berdarah itu bagaikan kilat cepatnya berkelebat melalui permukaan tanah yang sudah tertutup olah salju itu....

Saat itulah dengan perlahan Sang Su-im baru membuka matanya kembali, tetapi sewaktu dilihatnya Jien Wong musuh bebuyutannya muncul di hadapan mata, air mukanya segera berubah sangat hebat.

“Aaah.... si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong!” serunya tertahan.

Walaupun pada saat ini dia lagi menderita luka parah tetapi saking terkejutnya tidak tertahan lagi tubuhnya sudah meloncat bangun.

Sejak si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong menemui ajalnya di bawah kereta karena kerubutan empat manusia aneh pada masa yang lampau sehingga dia bangun dan melarikan diri hingga.... saat ini belum pernah dia bertemu muka dengan Jien Wong, tidak disangka kini selagi menderita luka parah Jien Wong munculkan dirinya kembali di depan mata, bagaimana hal ini tidak membuat hatinya jadi sangat terkejut?

Si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong masih tetap duduk di tempat semula tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sambil menghembuskan napas panjang Sang Su-im berbatuk batuk, darah segar segera memancur keluar dan mulutnya.

Dia tidak berani banyak berpikir lagi, dengan perlahan sepasang matanya dipejamkan

rapat-rapat untuk beristirahat sedang hawa murninyapun tidak dikerahkan lagi untuk mengobati

luka yang diderita, karena dia tahu lukanya ini tidak bakal bisa sembuh hanya di dalam satu dua hari saja. Sedang diapun tidak percaya kalau dirinya bisa lolos dari tangan si manusia tunggal Jien Wong ini.

Dengan cepatnya kereta berdarah meluncur masuk ke dalam sebuah gua gunung yang tinggi besar, lewat seperminum teh kemudian kereta itu berhenti dengan perlahan-lahan.

Jien Wong masih tetap memandang ke dua orang itu tidak bergerak, lama sekali baru terdengar dia berkata dengan suara perlahan.

“Untuk menuruni kereta ini tentunya kalian berdua tidak perlu aku yang bantu membimbing bukan?”

Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im segera membuka matanya kembali, alisnya

dikerutkan rapat-rapat, dia sama sekali tidak menyangka si manusia tunggal Jien Wong hendak

melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Koan Ing yang sejak semula sudah tidak pikirkan keselamatannya sendiri, dengan terburu-buru lantas membimbing diri Sang Su-im.

“Empek Sang mari kita turun dari kereta,” ajaknya.

Dengan perlahan Sang Su-im mengangguk, di bawah bimbingan Koan Ing dia segera turun

dari kereta berdarah tersebut.

Tampaklah di tempat mana mereka berada merupakan sebuah lambung gunung yang amat tinggi dan besar sekali, di sekeliling dinding gua penuh dihiasi dengan tiang2 salju telah membeku, kelihatannya gua ini merupakan satu gua salju alam yang sudah berusia sangat lama.

Jien Wong pun ikut meloncat turun dari dalam kereta, tetapi selama ini dia tidak memandang ke arah mereka, bagaikan tiada orang saja, matanya memandang ke tempat kejauhan.

Lewat sejenak kemudian Jien Wong baru menepuk kuda yang menarik kereta berdarah itu, disertai suara ringkikan yang ramai kereta berdarah itu mulai bergerak menuju ke ruangan gua yang lebih dalam lagi.

Menanti setelah kereta tersebut lenyap dari pandangan, sambil mungkuri kedua orang itu dia baru berkata dengan suaranya yang adem, “Sang Su-im, perpisahan kita selama sembilan belas tahun ini apakah selalu baik-baik saja?”

“Kedatanganku ke daerah Tibet kali ini justru hendak mencari dirimu,” jawab Sang Su-im dengan berat alisnya dikerutkan rapat-rapat.

Mendengar perkataan tersebut Jien Wong segera tertawa terbahak-bahak dengan seramnya dengan perlahan-lahan dia putar tubuhnya.

“Sejak pertempuran kita di gunung Hoa-san pada masa yang lalu kini sudah ada sembilan belas  tahun  lamanya.  Hee. hee kau masih berani mencari diriku?” serunya.

Dengan tawarnya Sang Su-im memandang sekejap ke arah Jien Wong, tetapi tak sepatah

katapun diucapkan keluar.

Mendadak tampak Jien Wong angkat tangan kanannya dan antara ujung lima jarinya segera terlihatlah lima gulung sinar berwarna merah darah memancar keluar, diantara berkelebatnya bayangan jari batu cadas di samping badannya sudah kena cengkeram sebagian sehingga haacur lebur bagaikan bubuk.

Diam-diam dalam hati Sang Su-im merasa sangat terperanjat melihat kejadian ini, jika ditinjau dari peristiwa ini jelas menunjukkan kalau tenaga dalam yang dimiliki Jien Wong pada saat ini jauh melebihi mereka berempat selama sembilan belas tahun ini kepandaian silatnya sudah memperoleh kemajuan yang begitu pesat sehingga sangat mengejutkan sekali. Dengan pandangan yang sangat dingin Jien Wong memperhatikan diri Sang Su-im.

“Apakah kau masih ada sanak keluarga?” tanyanya dengan perlahan.

Sang Su-im jadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka kalau Jien Wong sudah menanyakan soal ini.

Sewaktu hatinya jadi ragu-ragu itulah tampak sinar mata yang sangat tajam dari Jien Wong sudah mendesak dirinya,

“Cuma ada seorang putri saja,” jawabnya tidak kuasa lagi.

Dengan perlahan Jien Wong mengangguk, lalu menghela napas panjang, “Untung sekali kau masih ada seorang anak perempuan, aku tetap seorang diri saja.... Heei. ternyata

aku benar-benar si manusia tunggal dari Bu-lim!”

Diam-diam Sang Su-im merasa heran melihat sikap yang aneh dan Jien Wong ini, bagaimana mungkin sifatnya selama sembilan belas tahun ini bisa berubah amat besar? pada masa yang lalu begitu dia munculkan diri tanpa banyak bercakap lagi sudah menerjang ke arah empat manusia aneh, tetapi kini.... dia mengajak dia banyak berbicara bahkan yang dibicarakanpun merupakan persoalan yang sama sekali tidak ber guna.

Dengan perlahan Jien Wong menoleh ke arah Koan Ing dan memandangnya beberapa saat lamanya.

“Siapa kau?” Tanyanya kemudian. “Aku tidak kenal dengan kau, bagaimana kau bisa menerjang masuk ke tempatku?”

Koan Ing jadi melengak, terang pada beberapa hari yang lalu dia sudah pernah bertemu muka dengan Jien Wong bahkan mengatakan juga hendak membuatkan obat pemunah baginya, bagaimana sekarang dia bisa berpura-pura tidak kenal dengan dirinya? “Cayhe Koan Ing sengaja datang menghunjuk hormat buat cianpwee,” katanya dengan perlahan.

Air muka Jien Wong segera berubah sangat hebat, teriaknya tiba-tiba dengan seram, “Selamanya tiada seorangpun yang bisa hidup lebih lama lagi setelah bertemu dengan aku.”

Sehabis berkata tangan kanannya membalik ke samping, Lima jarinya dengan disertai lima gulung angin serangan yang dahsyat mencengkeram leher Koan Ing.

Dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat kini tangan kanannya lagi terluka, tangan kirinya sambil mencekal pedangnya kencang2 segera melancarkan serangan ke depan.

Terlihatlah serentetan sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata dari pedang Kiem-hong-kiam tersebut dengan dahsyatnya menggulung kelima buah serangan jari dari Jien Wong.

Tahu-tahu Jien Wong memperkencang lima jarinya....

“Tiiiing....!” disertai suara yang meletik nyaring dengan paksa dia berhasil merebut pedang Kiem-hong-kiam tersebut dari tangan Koan Ing.

Dengan terkejutnya Koan Ing mundur dua langkah ke belakang.

“Hmmm....! Kiranya anak murid dari Kong Bun-yu!” terdengar Jien Wong mengejek dengan suara yang dingin.

Selesai berkata tangan kanannya segera mengencang, agaknya dia bermaksud hendak mematahkan pedang Kiem- hong-kiam tersebut tetapi sekalipun dia sudah kerahkan seluruh tenaga tidak berhasil juga menghancurkan pedang itu.

Saking gemasnya dia segera melemparkan kembali pedang itu ke arah Koan Ing, “Hmm Hmm.... pedangnya sih bagus, cuma sayang kepandaian silatnya terlalu cetek!” serunya kembali.

Dia lantas termenung lagi beberapa saat lamanya, kira-kira seperminum teh kemudian tampaklah dia tertawa.

“Aaaah.... benar aku punya satu cara untuk mengubah kau menjadi seorang jagoan yang berkepandaian sangat tinggi di Bu-lim, hal ini pasti bisa terjadi!” katanya.

Pikiran Koan Ing segera tergerak, sewaktu melihat perubahan air muka dari Jien Wong yang amat bangga ini dia teringat kembali sikapnya yang sama sewaktu mengatakan hendak memunahkan racun dibadannya itu, mendadak saja dia menaruh satu perasaan yang amat aneh tetapi perasaan tersebut sukar baginya untuk mengucap kan keluar.

Terdengar Jien Wong kembali bergumam seorang diri, “Di dalam kolong langit pada saat ini cuma aku seorang saja yang bisa berbuat demikian.”

Sang Su-im yang melihat sikapnya yang sangat aneh dari Jien Wong dalam hati diam-diam merasa bingung, mendadak dia teringat akan sesuatu.

“Eeeei.... kenapa tadi kau menjalankan keretanya di atas permukaan salju?” tanyanya.

Jien Wong agak melengah dengan cepat dia putar kepalanya ke arah Sang Su-im.

“Sudah tentu sengaja pergi menjemput kalian,” jawabnya.

Sinar mata Sang Su-im berkedip-kedip sedang Koan Ing jadi tertegun.

Sengaja pergi menjemput mereka? Hal ini mana mungkin bisa terjadi? Apakah Jien Wong sebelumnya bisa menduga kalau dirinya bakal hendak meloncat naik ke atas keretanya.... Sewaktu Jien Wong melihat Sang Su-im memandang ke arahnya dengan keheran-heranan, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat, “Apakah kau merasa tidak percaya?” serunya.

Sang Su-im tersenyum lalu mengangguk.

“Lalu ada urusan apa kau sengaja menjemput kami?” tanyanya lagi.

“Aku mau suruh kalian tahu kalau kepandaian silat yang paling tinggi di dalam kolong langit pada saat ini adalah diriku,” jawab Jien Wong setelah berpikir sebentar. “Dimana kereta berdarahmu sekarang berada?” Tanya Sang Su-im secara tiba-tiba.

Ooo)*(ooO

Bab 20

JIEN WONG melirik ke kanan sebentar, setelah itu bersuit panjang.

Tidak selang berapa lama kereta berdarah itu dengan amat cepatnya sudah menerjang datang, tubuhnya lantas meloncat naik kereta. kereta berdarah kemudian diselingi suara tertawa tergelaknya dengan amat menyeramkan dia melarikan Kereta Berdarah tersebut ke tempat luar.

Dengan termangu-mangu Koan Ing memandang ke arah dimana kereta berdarah itu pergi, dia merasa heran mengapa Jien Wong pergi meninggalkan tempat itu Dengan perlahan Sang Su-im meaoleh kaarah Koan Ing lalu ujarnya dengan perlahan, “Manusia tungal dari Bu-lim, Jien Wong sudah jadi gila”

Koan Injadi terkejut Jien Wong sudah jadi gila? peristiwa ini sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, teringat akan dua kali perkataan terhadap dirinya, dia segera merasa kalau sikap serta tindak tanduk dari Jien Wong benar-benar rada aneh dan berbeda dengan manusia biasa.

Koan Ing yang mendengar perkataan dari Sang Su-im kemudian dicocokkan pula dengan perkataan serta tindak tanduk dari Jien Wong, maka segera terasalah olehnya kalau perkataan ini sedikitpun tidak salah.

Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang harus diperbuat terhadap beberapa perkataan yang diucapkan itu,” ujar Sang Su-im lagi “Dia cuma merasa dirinya merupakan jagoan yang paling lihay di kolong langit, hal inijelas menunjukkan kalau urat syarafnya sudah terganggu, Heei, untung sekali dia masih bisa kidup sampai saat ini, ya.... boleh dikata hal ini merupakan satu kejadian yang amat aneh sekali.”

Sebetulnya Jien Wong sudah menyanggupi dirinya untuk bantu dia bebaskan diri dan pengaruh racun, walaupun tentang soal ini dia sama sekali tidak memikirkan dihati tetapi di dalam hati dia selalu berdoa dan mengharapkan kalau Jien Wong benar bisa berhasil membuatkan obat pemunah baginya.

Tetapi kini setelah mendengar berita kalau Jien Wong adalah seorang gila, tidak kua”a iagi dalam hati merasa sedikit kecewa juga.

Tampak Sang Su-im termenung sebentar lalu berkata, “Aku tahu dua tiga kali kau menolong nyawaku dan hal ini dikarenakan soal Siauw-tan. aku tidak akan menanyakan kepadamu kau ingin minta apa, sejak ini hari urusan antara kau serta Siauw-tan boleh kalian putuskan sendiri.

Koan Ing jadi melengak, sebenarnya dia sendiripun tidak mengerti kenapa dua tiga

ikali dia turun tangan menolong Sang Su-im, dia cuma merasa pekerjaannya ini adalah satu keharusan, tetapi setelah mendengar perkataan itu dia mulai merasa kalau alasan itu adalah benar dan tidak dapat dibantah. Dengan perlahan Koan Ing menundukkan kepalanya rendah-rendah.

“Aku tidak akan mencelakai diri Siauw-tan, harap Empek Sang suka melegakan hati”

“Heeei.... urusan di dalam dunia selalu saja berubah dan hal ini siapapun tidak dapat menduganya terlebih dulu. Urusan di antara kalian akupun tidak ingin banyak ikut campur lagi, sejak ini hari urusan diantara kalian berdua boleh dibereskan oleh kalian sendiri,” ujar Sang Su-im sam bil menghela napas panjang. Selesai berkata dengan perlahan dia putar tubuhnya dan berlalu dari tempat itu.

Dengan pandangan yang melongo Koan Ing memperhatikan diri Sang Su-im sehingga lenyap dari pandangan, untuk sesaat lamanya dia merasakan perubahan yang terjadi di dalam dunia ini benar-benar sangat besar seakan di dalam satu hari seorang manusia bisa mengalami keadaan yang berbahaya sampai dua tiga kali banyaknya.

Sejak memasuki Daerah Tibet Ciu Tong bentrok dengan Sang Su-im, dipaksa dirinya menelan racun, ilmu silat dari Ciu Tong dimusnahkan oleh Sang Su-im, Pertempuran antara Sang Su-im dengan Thian Siang Thaysu. Ciu Tong menelan racun untuk melukai Sang Su-im satu demi satu berkelebat dihadapan matanya, masih ada lagi.... yaitu psrsoalan antara dia serta Sang Siauw-tan dua orang.

Sembari berpikir dengan perlahan Koan Ing berjalan keluar dari gua tersebut.

Waktu itu cuaca sudah amat gelap, kecuali pantulan sinar dari salju yang putih apapun tidak kelihatan lagi.

Lama sekali dia termenung berpikir keras, sejenak kemudian cuacapun mulai terang tanah,

Koan Ing agak ragu-ragu memandang sekelilingnya, akhirnya dia melanjutkan perjalanannya ke samping kanan. Tiba-tiba.... seorang penunggang kuda dengan amat cepatnya berlari mendatang.

Orang itu berusia kurang lebih tiga puluh tahunan dengan wajah yang putih bersih,

pada tubuhnya memakai satu mantel berwarna hitam dan menunggang seekor kuda hitam pula. Makin lama orang itu semakin mendekati diri Koan Ing, akhirnya setelah memperhatikan

beberapa saat dia bertanya, “Tahukah Ciat Ie Toocu ada dimana?”

Sinar mata Koan Ing berkelebat, sewaktu melihat sikap yang sombong danjumawa dari orang itu dalam hati diam- diam merasa sedikit mendongkol.

“Hmm, ada urusan apa dia hendak mencari Ciong Tong si manusia laknat itu?” pikirnya dihati.

Dengan tawarnya dia segera menyapu sekejap ke arah orang itu.

“Cayhe tidak tahu,” jawabnya kemudian.

Mendengarjawaban itu, orang berbaju hitam tersebut segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Agaknya kau merasa tidak senang untuk menjawab pertanyaatiku haa? Kurang ajar” teriaknya.

Dalam hati Koan Ing pun merasa rada gusar atas kelakuan dari orang itu, dia tidak menyangka kalau di dalam dunia ini masih ada orang yang demikian sombongnya seperti orang itu.

“Memangnya aku merasa tidak senang untuk menjawab pertanyaanmu, lalu kau mau apa?” Tantangnya kemudian sambil memandang sekejap ke arah orang berbaju hitam itu dengan tawar. “Haa.... haa.... aku bisa menyuruh kau merasa senang,” sahut orang tersebut sambil

meloncat turun dari kudanya.

Sehabis berkata tubuhnya segera berkelebat ke depan, tangan kanannya dengan kecepatan yang luar biasa mencengkeram pundak kiri dari Koan Ing.

Koan Ing segera mendengus dingin, dengan kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini, kecuali terhadap orang yang kepandaian silatnya jauh berada di atas tiga orang genah empat manusia aneh, dia sama sekali tidak merasa takut, dia merasa walaupun misalnya terluka maka lukanya itu tidak akan parah.

Tubuhnya dengan amat gesit berkelebat menyingkir dari datangnya serangan itu.

Gerakan tubuh orang berbaju hitam itu laksana mengalirnya air dengan cepat meluncur ke depan, mendadak tangannya membabat mencengkeram kembali ke arah Koan Ing.

Koan Ing yang melihat datangnya serangan itu mendadak pikirannya teringat akan sesuatu, dengan dinginnya dia lantas mendengus. “Hmm, kiranya manusia-manusia dari pulau Ciat It To,” pikirnya.

Tangan kirinya segera balas menghantam ke depan, menutup datangnya cengkeraman dari orang berbaju hitam itu.

Orang tersebut segera berkelebat kembali ke tempat semula, dengan pandangan yang tidak percaya dia memperhatikan diri Koan Ing.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu silat yang paling lihay dari pulau Ciat Io To bisa dipecahkan Koan Ing hanya di dalam satu gerakan yang sangat mudah. “Siapa kau?” tanyanya kemudian sembari memandang tajam diri Koan Ing.

“Hmm.... bukankah kau adalah anak murid dari Ciu Tong, Bu Sian adanya?” tanya Koan Ing sambil tertawa menghina.

Orang berbaju hitam itu segera merasa hatinya bergidik, dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa memecahkan asal usulnya di dalam waktu yang amat singkat,

diapun tidak mengira kalau sejak munculnya dia orang di daerah Tibet, bukannya bertemu dengan Ciu Tong sebaliknya sudah bertemu dengan seorang pemuda aneh semacam Koan Ing ini,

Tetapi hal ini terhadap diri Koan Ing boleh dikala merupakan satu urusan yang amat mudah sekali untuk dilakukan, dia tahu Bee Sian pun sudah memasuki daerah Tibet bahkan mengetahui pula kalau dia angkat nama bersamaa dengan si kongcu berbaju sutera Bun Ting-seng, maka sewaktu dilihatnya tenaga dalam yang dimilikinya lumayan juga maka dia segera bisa menduga akan orang itu.

Lama sekali Bu Sian berdiri termangu-mangu, beberapa saat lamanya kemudian baru terdengar dia membentak.

“Siapa kau? Kalau sudah mengetahui nama besarku kenapa sikapmu masih begitu congkaknya?”

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Hmm Buat apa aku sungkan-sungkan terhadap dirimu?” katanya dingin.

Dalam hati Bu Sian merasa amat gusar, dengan pandangan yang tajam dia memperhatikan diri Koan Ing.

Dia tidak menyangka kalau orang yang ada di hadapannya ini sudah banyak mengetahui akan dirinya, sebaliknya dia sendiri sama sekali tidak mengetahui asal usul maupun siapakah Koan Ing ini. Di dalam hati dia punya maksud untuk turun tangan lagi, tetapi sewaktu teringat akan asal-usul yang tak jelas dari musuhnya dalam hati merasa sedikit ragu-ragu pula.

“Kau masih belum beritahu kepadaku siapakah kau sebenarnya,” ujarnya sambil tertawa.

“Akulah Koan Ing” jawabnya tawar.

Bu Sian mengertikan alisnya rapat-rapat.

“Aah.... kiranya pemuda yang ada di hadapanku ini bukan lain adalah Koan Ing yang namanya sudah lama terkenal di dalam Bu-lim,” pikirnya.

Teringat akan serangannya yang digagalkan oleh Koan Ing hanya di dalam satu jurus saja dalam hati kembali merasa bergidik, dia tidak menyangka kalau Koan Ing memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya.

Jejak dari suhuku apakah Koan Siauwhiap mengetahui?” tanyanya kemudian sambil menarik napas panjang,

Koan Ing yang melihat sikap Bu Sian sudah berubah seratus persen, dalam hati diam-diam merasa heran, tetapi dia segera menduga kalau pada saat ini Boe Siao tidak ingin bentrok dengan dirinya. karena itu dia tidak memikirkan lebih panjang lagi, “Aku tidak tahu. ”jawabnya setelah termenung

sebentar.

Sebelum habis Koan Ing berbicara mendadak Bu Sian meloncat ke atas, sedangkan tangan kanannya dengan dahsyat menghajar pundak kanan dari Koan Ing,

Koan Ing merasa terkejut bercampur gusar, kiranya Bu Sian sudah melihat kalau tangan kanannya lagi terluka sehingga memancing dia untuk berbicara kemudian menggunakan kesempatan itu melancarkan serangan membokong dirinya,

Koan Ing bukanlah manusia yang sembarangan, jurus serangan yang dilancarkan oleh Bu Sian ini mana bisa berhasil melukai dirinya tampak tubuhnya dengan amat gesit dan lincah

sudah meloncat ke samping menghindarkan diri dari serangan bokongan lari Bu Sian ini,

Bu Sian yang melihat serangannya tidak mencapai hasil, dia tidak ragu-ragu lagi, pedang panjangnya segera diiyabut keluar dari sarungnya kemudian dengan amat gencar melancarkan serangan mengancam tangan kiri dari Koan Ing,

Melihat arah yang diserang Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dengan gusarnya dia membentak keras, tubuhnya berputar tangan kanannya balik mencabut keluar pedang Kiem-hong-kiam, sebaliknya tangan kirinya didorong ke depan melancarkan serangan dengan menggunakan jurus ‘Hay Ciau Thian Yang’ dari ilmu ‘Thian-yu Jie Cap Su Cau’ yang dahsyat itu,

Tampak serentetan sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi angkasa, pedang Kiem-hong-kiam tersebut bagaikan sambaran kilat cepatnya menyerang bagian Ieher dari Boo Sian.

Melihat datangnya serangan yang sangat dahsyat ini, Bu Sianjadi terperanjat dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing di dalam keadaan luka masih bisa melancarkan serangan yang begitu dahsyatnya.

Jurus Hay Ciau Thian Yang ini adalah satu jurus serangan ciptaan Kong Bun-yu sendiri, juga bel um pernah ditemuinya sejak dahulu. Karenanya tanpa bisa dicegah lagi mantel hitam yang dipakainya sudah kena terbabat kurang lebih empat lima Cun panjangnya.

Di dalam keadaan yang sangat terkejut, dengan terburu- buru dia mengundurkan dirinya ke belakang....

Dengan dinginnya Koan Ing segera membentak kembali, tubuhnya bagaikan kilat cepatnya menubruk ke depan, pedang Kiem-hong-kiam yang ada ditangan kirinya menyambar ke depan, dengan menggunakan jurus Ci Co Thai Yang dia mengancam alis dari Bu Sian. Dalam hati Bu Sian merasakan hatinya bergear membuat kepalanya pening.

Ditambah pula dengan jurus serangan yang dilancarkan Koan Ing dengan menggunakan tangan kirinya membuat dia benar-benar terdesak.

Di dalam keadaan yang pecah nyali, dia mana berani menerima jurus serangannya ini, tubuhnya segera menjatuhkan diri ke atas tanah lalu menggelinding pergi.

Tubuh Bu Sian dengan cepatnya menggelinding sampai dua kaki jauhnya, terasa olehnya angin pedang masih tiada hentinya menyambar lewat dari samping badan membuat dia tidak berani bangkit berdiri, sedang keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi bajunya.

Sewaktu dia meloncat bangun lagi, terlihatlah olehnya Koan Ing dengan pandangan yang amat dingin sedang memperhatikan dirinya sedang pada ujung bibir tersungginglah satu senyuman yang sangat menghina.

Diam-diam dalam hati dia merasa bergidik, umpama tadi Koan Ing mengejar terus, maka pada saat ini tubuhnya tentu sudah berbaring diantara ceceran darah, dia sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing jauh lebih dahsyat dari apa yang diingatnya dari orang lain.

Dia tidak mengira setelah dalam keadaan luka, tangan kirinya masih bisa memainkan pedang dengan begitu dahsyat sehingga memaksa dirinya terdesak mundur terus menerus.

“Hmm.... ” terdengar Koan Ing mendengus dengan amat dinginnya, “Orang-orang dari pulau Ciat Ie To tidak disangka cuma pandainya membokong orang lain saja.”

Bu Sian menghembuskan napas lega, dia pun mendengus dengan amat dingin, “Hmm. kepandaian silat dari Koan siauw-hiap jauh berada

di atas aku orang she-Boe,” katanya, “Tetapi kami orang- orang dan pulau Ciat Ie To tidak akan membiarkan kau mengumbar kata-kata yang begitu menghina kami, hati-hati saja dengan kata-katamu, hmm lain kali kami bisa datang untuk mencari balas dengan dirimu.”

“Haa.... haa aku Koan Ing akan selalu menantikan kunjungan dari orang-orang Ciat Ie To.”

Dengan perlahan Bu Sian Ialu berjalan ke samping kuda hitamnya dan meloncat naik ke atas tunggangannya.

“Kalau begitu kita berjumpa lagi dilain waktu!” serunya kemudian. Sehabis berkata dengan cepat dia melarikan kudanya meninggalkan tempat itu,

Koan Ing cuma tertawa tawar saja, Bu Sian tidak tahu kalau Ciu Tong sejak semula sudah bentrok dengan dirinya, sekalipun tidak terjadi urusan ini setelah bertemu muka dengan Ciu Tong diapun tidak bakal banyak memberi kesempatan buatnya untuk tetap hidup di dalam dunia ini.

Sedangkan dia pun bilamana ada kesempatan tidak akan melepaskan Ciu Tong dengan begitu saja.

Baru saja berpikir sampai disitu mendadak dia mendengar suara tertawa yang amat ramai berkumandang datang, tampak lah seorang gadis berbaju kuning berjaIan mendatang sambil menggandeng seorang gadis berbaju hijau, sembari tertawa mereka melanjutkan perjalanannya datang kemari,

Koan Ing jadi melengak, semula dia pernah menemui kedua orang ini bahkan Sang Siauw-tan pun sudah pernah mengejar mereka berdua, tetapi bagaimana sekarang mereka bisa munculkan dirinya di tempat ini?

Sesampainya dihadapan Koan Ing kedua orang gadis itu segera tersenyum. “Engkoh Ing!” serunya berbareng. “Kemaren dulu kami tidak kenal denganmu maka tidak menyapa, sungguh maaf yaa.”

Koan Ing jadi melengak.

“Apakah nona berdua adalah murid dari Cha Thayhiap?” tanyanya kemudian sambil tertawa.

“Bukan, dia adalah ayahku, aku bernama Cing Cing dan dia bernama Ing Ing,” sahut ke dua orang gadis itu lagi sambil tertawa.

Koan Ing yang melihat kedua orang gadis itu amat polos bahkan tidak tampak rasa malu2, dia lantas tertawa.

“Eei, apakah kalian pernah melihat Siauw-tan?” tanyanya, “dia sekarang ada dimana?”

Cing Cing serta Ing Ing saling bertukar pandang dan tertawa.

“Siauw-tan cici pergi mencari dirimu,” kata Cing Cing sambil tersenyum, “Namamu pun dapat kami ketahui dari Siauw-tan cici yang memberitahu.”

“Oooh. ” seru Koan Ing.

Diam-diam dia mengerutkan alisnya. Sang Siauw-tan seorang diri pergi mencari dirinya tetapi entah dia sudah mencari ke mana? Apakah dia tidak mengetahui peristiwa yang terjadi antara dirinya dengan Ciu Tong?

Bilamana sampai bertemu kembali dengan Ciu Tong, kemungkinan sekali manusia laknat itu tidak akan melepaskan dirinya kembali.

Kedua orang gadis itu sewaktu melihat Koan Ing mengerutkan alisnya, segera sama-sama tertawa.

Mendadak Koan Ing merasakan hatinya sedikit tergerak, kedua orang gadis ini adalah putri dari Cha Can Hong sedangkan Cha Can Hong pun paling suka terhadap Sang Siauw-tan, maka diantara mereka tentu tidak akan ada terjadi kesalah pahaman apapun. Berpikir sampai disini dia lantas bertanya kembali. “Kenapa kalian tidtk ikut dengan Cha Thayhiap?”

“Ayah masih ada urusan, dia minta kami berangkat bersama sama Siauw-tan otot terlebih

dulu,” seru Ing Ing tidak terasa.

Tetapi Siauw-tan cicipun hendak mencari kalian, maka terpaksa dia meninggalkan kami untuk berangkat sendiri.” sambung Cing Cing dengan cepat.

Koan Ing segera merasakan hatinya kembali bergerak, dia menarik napas panjang, karena dia tahu Sang Siauw-tan pasti ada di sekitar tempat ini, tentu sengaja dia menyuruh kedua orang gadis ini untuk memancing dirinya sehingga dia mengetahui apakah bisa kuatir terhadap dirinya atau tidak. Setelah berpikir sebentar mendadak dia tertawa kembali.

“Waaah.... paman Cha bisa mempunyai dua orang gadis yang demikian cantiknya seperti kalian sungguh mujur sekali”

“Tidak, Siauw-tan cici jauh lebih cantik dari kami!” bantah Cing Cing sambil gelengkan kepalanya

“Tidak, yang sesungguhnya kalian jauh lebih cantik dari dirinya!” bantah Koan Ing dengan cepat.

Sepasang biji mata dari Ing Ing segera berputar.

“Hmm perkataan yang kau katakan tentunya bukan lagi menggoda kami bukan? Engkoh Ing?” serunya perlahan.

Tiba-tiba Cing Cing mendorong tubuh Ing Ing dan memberi tanda kepadanya untuk jangan bertanya kembali.

“Engkoh Ing,” ujarnya kemudian dengan nada kurang senang. Bukanlah kau sangat baik sekali dengan Siauw-tan cici?” Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dia ragu-ragu sebentar lalu gelengkan kepalanya.

“Siapa yang memberitahu hal ini kepada kalian? Terus terang saja tidak ada urusan ini. ”

Cing Cing maupun Ing Ing jadi melengak, kemudian bersama-sama menengok ke arah belakang dibalik sebuah gundukan tanah.

Lama sekali mereka berdiri termangu mangu disana setelah itu dengan perlahan mengundurkan dirinya ke belakang.

Sebaliknya Koan Ing pun berdiri tertegun disana. Sepatah katapun tidak bisa di ucapkan keluar.

Dia tahu Sang Siauw-tan tentu ada di sana, dia ragu sebentar teringat akan seluruh lagaknya yang mirip sesunggihan, tidak terasa membuat hatinya radi merasa sedih.

“Eeeh kalian kenapa?” tanyanya kemudian kepada Cing Cing serta Ing Ing sambil tertawa paksa.

Selesai berkata dengan perlahan dia putar badannya.

Tampaklah Sang Siauw-tan dengan wajah yang pucat pasi berdiri di samping gundukan tanah itu kemudian selangkah demi selangkah berjalan mendekat.

Dalam hati Koan Ing pun merasakan hatinya seperti diiris- iris, tetapi dengan paksa dia menahannya di hati,

“Siauw-tan Moay, baik-baik kah kau selama ini?” sapanya.

Sang Siauw-tan tidak menjawab, dia berjalan mendekati diri Koan Ing dengan wajah penuh tetesan air mata.

Lama sekali dia memandang terpesona ke arah sang pemuda, setelah itu dengan nada yang gemetar tanyanya, “Per.... perkataanmu.... aaaa. apa sungguh?”

“Apa semua perkataanku sudah kau dengar?” tanya Koan Ing lagi. Sang Siauw-tan termenung, dia tidak menjawab, sebaliknya malah balik bertanya, “Lalu.... lalu sewaktu kita ada dilereng gunung itu ?”

“Waktu itu cuma ada kira berdua saja maka aku mengatakannya dengan sesuka hati.” sambung Koan Ing dengan tawar sebelum Sang Siauw-tan habis berbicara.

Dengan perlahan Sang Siauw-tan memejamkan matanya rapat-rapat lalu menundukkan kepalanya rendah, titik air mata mengucur keluar semakin deras lagi.

“Dengan sesukanya?.... ” gumamnya. Dengan kaku dan tawarnya Koan Ing berdiri tak bergerak, bibirnya kelihatan gemetar, hampir dia sendiripun tidak tahu apa yang diucapkan olehnya itu, dalam hati dia merasa sangat sedih dan perih sekali sehingga tidak kuasa lagi sudah tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Ooo)*(ooO

Bab 21

ENTAH lewat berapa lama kemudian sewaktu dia mendongakkan kepalanya kembali, tampak suasana di sekeliling tempat itu sunyi senyap tak kelihatan seorangpun.

Saat ini dia berdiri seorang diri ditanah yang kosong dan Iuas, sedang Sang Siauw-tan serta Ing Ing dan Cing Cing entah sudah pergi kemana.

Bagaikan baru saja sadar diri satu impian buruk dia dongakkan kepalanya memandang keangkasa, tidak kuasa lagi titik air mata mulai mengucur keluar membasahi pipinya.

Dengan termenung Koan Ing berdiri seorang diri di atas permukaan salju, dia memandang ke arah dimana bayangan tubuh Sang Siauw-tan melenyapkan diri, akhirnya dengan perlahan menundukkan kepalanya kembali. Dia tidak tahu bagaimana harus diperbuat olehnya sejak sekarang walaupun Sang Siauw-tan saat ini harus bersedih hati tetapi sebentar kemudian rasa sedih itu tentu akan lenyap dengan sendirinya, dia cuma merasa dirinyalah yang merasakan kesedihan dan kepedihan ini.

Jejak serta kabar berita dari Bun Tiang Seng sama sekali tak diketahui olehnya, harus kemanakah dia pergi mencari?

Sewaktu dia lagi termenung itulah mendadak dari tempat kejauhan kembali berkelebat

datang beberapa sosok bayangan.

Dia bisa melihat orang yang baru saja datang ada empat orang banyaknya, sepasang lelaki perempuan serta Ing Ing dan Cing Cing.

Belum sempat dia berpikir lebih lanjut tampaklah keempat orang itu sudah berada dihadapan tubuhnya.

Lelaki berusia pertengahan itu mempunyai bentuk wajah empat persegi dengan alis yang

tebal, keadaannya sangat berwibawa sekali.

“Kaukah Koan Ing?” tanyanya orang itu setibanya di hadapannya.

Koan Ing mengangguk.

“Apa locianpiwee adalah Cia thay-hiap?” tanyanya pula.

Lelaki berusia pertengahan itu mendengus kemudian mengangguk. “Akulah Cha Cau Hong, dimanakah Siauw-tan berada?”

Koan Ing termenung tidak berbicara, dia memandang sekejap ke arah Cing Cing serta Ing Ing sama sekali tidak tahu olehnya apakah yang sudah dikatakan oleh Sang Siauw-tan

sebelum meninggalkan tempat itu sehingga kedua orang gadis itu pergi mengundang ayahnya. Perempuan yang satunya tentulah istri Cha Can Hong, walaupun usianya sudah ada tiga puluh tahunan tetapi wajahnya masih cantik bahkan mirip sekali dengan wajah Cing Cing maupun Ing Ing.

Cha Can Hong yang mendengar Koan Ing tidak menjawab, dia memandang sekejap ke arah Cing Cing serta Ing Ing, lalu ujarnya kembali.

“Koan Ing, walaupun kau adalah jagoan dari angkatan muda, bahkan rnerupakan ahli waris dari Thian-yu-pay tetapi Sang Siauw-tan adalah keponakanku, kenapa kau mengganggu dirinya?”

Mendengar perkataan itu Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia tahu setelah Can Ca Hong mendengar perkataan dari kedua orang putrinya tentu akan timbul  kesalah pahaman dengan dirinya, tetapi dia tidak ingin menjelaskan urusan ini.

Dia merasa urusan ini adalah urusan di antara dirinya dengan Sang Siauw-tan, asalkan

dia merasakan perbuatannya benar, maka terhadap urusan yang lain tidak perlu pikirkan lagi dihatinya.

Cha Can Hong yang melihat Koan Ing tidak maujawab dalam hati merasa sangat tidak senang.

“Hmm, sekalipun kepandaian dari pemuda itu sangat tinggi tidak seharusnya bersikap demikian sombongnya, bilamana perlu aku harus kasih sedikit pelajaran kepadanya, demikian pikirnya dihati. Sepasang alisnya segera dikerutkan rapat- rapat.

“Hey Siauw-tan sudah pergi kemana?” Bentaknya kembali.

Koan Ing ragu sebentar, akhirnya dia menjawabjuga dengan suara yang amat lirih, “Dia sudah meninggalkan tempat ini, tetapi entah sudah pergi kemana?” “Hari ini aku akan melepaskan dirimu untuk sementara, setelah mengetahuijelas urusan ini dari Siauw-tan aku akan segera datang kembali untuk mencari dirimu.” seru Ca Can Hong sambil mendengus.

Sehabis berkata dia putar badan dan meninggalkan tempat itu.

Cing Cing dengan pandangan gusar melototi sekejap ke arah Koan Ing, sebaliknya Ing Ing yang tidak tahu urusan dengan melongo memandang ke arah Koan Ing sebentar lalu memandang ke arah encinya setelah itu baru berlalu mengikuti ayah ibunya.

Dengan termangu-mangu Koan Ing memandang mereka meninggalkan tempat itu sedang di hati diam-diam berpikir apakah perbuatannya ini benar atau tidak, tetapi dia mengerti kecuali menggunakan cara ini tiada cara lain lagi yang bisa digunakan.

Dia memandang ke arah kiri kanan, kemudian dengan mengikutijejak roda dari kereta berdarah berlari ke depan.

Lewat beberapa saat bemudian mendadak terdengarlah suara derapan kaki kuda yang amat ramai berkumandang keluar dari belakang badannya, sewaktu dia menoleh ke belakang tampaklah olehnya dua ekor kuda dengan amat cepatnya berlalu melewati sisi tubuhnya.

Pada saat itulah Koan Ing bisa melihat kalau penunggang kuda itu bukan lain adalah dua orang hwesio, bukan lain hweesio dari Siauw-lim-si. Dia mengerutkan alisnya rapat- rapat pikirnya.

“Apakah Ciangbunjin Siauw-lim-pay, Thian Siang Thaysu sekalian sudah mengejar datang kemari”

Ketika menoleh, mereka kembali ke belakang terlihatlah dari tempat kejauhan dari atas permukaan salju berkelebat datang beberapa sosok bayangan manusia, ditinjau dari jubah yang lebar dari beberapa sosok bayangan itu dia bisa menduga kalau mereka bukan lain adalah hweesio dari kuil Siauw-lim-si.

Koan Ing segera menoleh ke samping kiri kanan untuk mencari tempat persembunyian tetapi yang tampak permukaan salju yang kosong tidak ada sedikit tempat pun yang bisa digunakan untuk bersembunyi.

Dia merasa dirinya tidak bakal berhasil meloloskan diri kembali.

“Daripada gugup tidak keruan lebih baik aku bersikap tenang saja,” pikirnya.

Tidak lama kemudian tindakan kaki yang halus sudah semakin mendekat sebaliknya kedua

orang Hweesio penunggang kuda itu sudah lenyap tak berbekas.

Koan Ing pura-pura pilon, dengan kalemnya dia melanjutkan perjalanannya ke depan.

Terasa beberapa sosok bayangan manusia berkelebat di tengah suara dengusan yang amat dingin tampaklah sesosok bayangan manusia yang tinggi besar sudah menghalangi di depan tubuhnya,

Dengan perlahan Koan Ing dongakkan kepalanya, orang itu bukan lain adalah Thian Liong Thaysu adanya.

Sejak semula dia sudah menduga tentu hweesio-hweesio dari kuil Siauw-lim-sie tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, karenanya diam-diam dia sudah mengerahkan tenaga dalam siap-siap menghadapi sesuatu.

Dengan pandangan amat tawar dia melirik sekejap ke arah Thian Liong Thaysu lalu dengan perlahan tertawa.

“Thaysu, baik-baikkah selama perpisahan ini?” serunya. Thian Liong Thaysu yang melihat Koan Ing ada maksud hendak mengejek dirinya dengan dingin segera mendengus, sepatah katapun tidak diucapkan keluar, sedangkan sinar matanyapun segera beralih ke arah Thian Siang Thaysu yang ada di belakang tubuh Koan Ing.

Dengan pandangan yang mendongkol Thian Siang Thaysu memandang ke belakang punggung dari Koan Ing, dia tahu pemuda ini terang-terangan sudah mengerti akan kedatangannya tetapi dia sudah pura-pura berlaku pilon bahkan sampai badannyapun tidak mau berputar, sungguh jumawa sekali.

Walaupun kepandaian silat dari pemuda ini sangat tinggi tetapi dia sebagai seorang ciangbunjin sebuah partai besar ditambah pula merupakan pemimpin dari tiga manusia genah

sudah tentu tidak pantas baginya kalau bertempur sendiri melayani Koan Ing, tetapi dengan tindak tanduk yang amat sombong dari Koan Ing ini dia ingin sedikit memberi pelajaran kepadanya.

Setelah lama berpikir akhirnya dia menegur juga. “Hey. Koan Ing!”

Koan Ing sama sekali tidak menggubris dia tidak tahu mengapa terhadap si hweesio dari Siauw-lim-pay yang merupakan pimpinan dari tiga manusia genah ini menaruh rasa tidak puas, dia merasa kesal terhadap tindak tanduknya yang sama sekali tidak sesuai

sebagai seorang jagoan dari kalangan lurus.

Karenanya tanpa menoleh lagi dia sudah tertawa gusar. “Siapa yang sudah berbicara di belakang orang lain?

Kenapa kalau mau bicara datang ke depan?” serunya.

Thian Siang Thaysu jadi melengak, tetapi sebentar kemudian hawa amarahnya sudah berkobar dihatinya. Tidak disangka sama sekali sikap dari Koan Ing ternyata demikian sombong dan jumawanya, sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat sedang untuk beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Lewat beberapa saat kemudian dia baru berkata, “Koan Ing Kau kira tindakanmu bersama-sama Sang Siauw-tan membakar kuil Han-poh-si bisa diselesaikan dengan begitu saja karena mengandalkan nama besar dari empat manusia aneh?” Koan Ing tetap tidak menoleh.

“Hey Hweesio gede kalau mau bicara katakanlah sejelas2nya, buat apa selalu saja menuduh orang lain yang berdosa?” ejeknya sambil tertawa tawar,

Thian Siang Thaysu yang mendengar Koan Ing menyebutnya dengan si hweesio gede, hatinya seperti dibakar oleh api, dengan gusarnya dia segera mendengus, alisnya dikerutkan rapat-rapat kemudian kepada Thian Liong Thaysu teriaknya, “Sute Kau membawa dua belas orang arak murid Siauw-Iim tangkap pemuda ini, aku mau

berangkat mengejar kereta berdarah terlebih dahulu”, “Tecu terima perintah” sahut Thian Liong Thaysu dengan

hormat.

Dengan pandangan tawar Koan Ing memperhatikan Thian Siang Thaysu membawa sisa anak muridnya meninggalkan tempat itu, dia tahu Thian Siang Thaysu benar-benar sudah membenci dirinya sehingga dia sudah meninggalkan kedua belas anak murid Tat Mo Tong untuk menawan dirinya.

Dengan pandangan yang tajam Thian Liong Thaysu memperhatikan diri Koan Ing, setelah dirasanya Thian Siang Thaysu sudah jauh meninggalkan tempat itu, dia baru tertawa dingin setelah itu memerintahkan kedua belas orang hweesio- hweesio dari ruangan Tat Mo Tong untuk mengurung diri Koan Ing. Dia kembali tertawa dingin, kepada Koan Ing ujarnya, “Sejak pertama kali aku terjunkan diri ke dalam Bu-lim belum pernah pinceng bertemu dengan manusia yang sombong benar seperti kau.”

Koan Ing tertawa, dia melirik sekejap ke arah kedua belas orang hweesio itu.

“Heee.... heeee.... aku Koan Ing seorang diri harus menggerakkan otot untuk melawan

dua belas orang hwessio berkepandaian tinggi dari ruangan Tat Mo Tong serta si hweesio sakti Thian Liong Thaysu, kenapa aku Koan Ing tidak boleh merasa bangga dan sombong” ejeknya.

Thian Liong Thaysu segera tertawa dingin.

“Koan Ing kau mau mengikuti aku dengan sendirinya atau mengharuskan aku turun tangan?” serunya sembari memerintahkan kedua belas orang itu mulai menyebar.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, tangan kirinya dengan perlahan segera mencabut keluarpedang Kiem- hong-kiamnya, dan siap-siap melancarkan serangan.

“Thaysu, pernahkah melihat orang yang mencekal pedang Kiem-hong-kiam mengalami kekalahan?” ejeknya lagi sambit tertawa. Thian Liong Thaysu tertawa dingin.

“Sungguh bersemangat, tetapi haruslah kau ketahui lukamu belum sembuh, sedikit tidak berhati-hali maka seluruh kehidupan mu akan habis sampai disini,” balasnya.

Koan Ing tahu arti dari perkataan Thian Liong Thaysu ini, dia bermaksud hendak memusnahkan kepandaian silatnya. Hal ini membuat hawa amarahnya jadi memuncak. Tetapi air mukanya masih tetap kelihatan amat tawar sekali

“Masings pihak bertempur tidak akan terhindar dari luka, hee.... hee kalian pun lebih baik sedikit berjaga-jaga.' serunya. “Bagus sekali”

Sinar mata Koan Ing segera berkelebat dia mengerti kedua belas orang jagoan Siauw-iim ini memiliki kepandaian yang amat dahsyat, walaupun dimulutnya dia berbicara

congkak padahal dihati mulai memikirkan cara-cara untuk meloloskan diri dari kepungan

tersebut.

Pedang Kiem-hong-kiamnya segera di angkat sejajar dengan dada, sinar matanya dengan amat dingin menyapu ke arah kedua belas orang hweesio itu.

Kedua belas orang itu merupakan hweesiojagoan dari Siauw-lim-pay, kehebatan dari

ilmu silatnya boleh dikata termasu di dalam jagoan kelas satu, kini mereka dua belas orang harus bersama-sama turun tangan untuk menawan Koan Ing, sebagai seorang dari angkatan muda, sudah tentu mereka tidak akan mau turun tangan terlebih dulu.

Sinar mata Koan Ing kembali menyapu ke arah mereka, mendadak pedang Kiem-hong-kiamnya dengan menggunakan jurus ‘Han Lin Sin Wie’ menyerang hweesio yang ada di hadapannya.

Saat ini Koan Ing berdiri ditengah-tengah kepungan dua belas orang, dia tidak bergerak yang namun berdiam diri tetapi begitu pedangnya bergerak maka dari empat penjuru segera terasalah adanya angin serangan yang amat dahsyat.

Sejak semula Koan Ing sudah menduga akan hal ini, diantara berkelebatnya angin pukulan tangan kanannya sudah dibabat ke samping, jurus pedangnya dari ‘Han Lin Sin Wie’ kini sudah diubah jadi jurus ‘Thian Hong Sie Lang’ atau angin berlalu menggoyangkan ombak,. Serentetan suara pekikan yang amat nyaring segera menembus angkasa, diantara berkelebatnya sinar yang keemas-emasan, pedang Kiem-hong-kiam ditangannya sudah berubah jadi segulung lingkaran bulat laksana pelangi emas dengan dahsyatnya menghalangi datangnya serangan dari kedua belas orang tersebut.

Kedua belas orang hweesio dari ruangan Tat Mo Tong itu mana mau melepaskan dirinya

dangan begitu saja? Mereka yang sudah berlatih sangat lama, kerja samanya pun amat

dahsyat sekali. Mendadak mereka bersama- melancarkan satu pukulan menghajar pedang Kiem

Hong Kiam ditangan Koan Ing, agaknya hweesio-hweesio itu bermaksud hendak memukul terbang

pedang tersebut.

Koan Ing yang baru saja melancarkan satu serangan hendak mendesak mundur pihak musuhnya mendadak melihat mereka telah bersama-sama maju ke depan, dalam hati merasa agak bergidik, dengan keadaannya pada saat ini dimana lukanya masih belum sembuh apa lagi harus melayani pula dua belas pasang tangan sudah tentu keadaannya benar- sangat terdesak.

Selamanya dia belum pernah menemui kejadian seperti ini, begitu hatinya gugup, angin serangan dengan amat tepatnya sudah berhasil menghajar di atas tubuh pedang Kiem-hong- kiamnya.

Di tengah suara dengungan yang amat keras pedang ditangannya sudah terpukul lepas ke tengah udara.

Koan Ing jadi sangat terkejut, dia bersuit nyaring, sedang tubuhnya segera berkelebat ke depan mengejar pedangnya yang terlepas itu. Dari belakang badannya lantas terdengar suara bentakan yang amat nyaring, empat orang hweesio sambil melancarkan serangan sudah menubruk ke arahnya.

Dangan tangan kiri Koan Ing menyambar gagang pedangnya sedang tubuhnya yang masih ada di tengah udara mendadak berputar lalu melancarkan tendangan berantai menghajar keempat hweesio yang mengikuti dari belakangnya itu.

Dengan terburu-buru keempat orang hweesio itu menarik kembali serangannya, sedang yang dua segera membalikkan tangannya mencengkeram kaki Koan Ing.

Dengan gugup Koan Ing menarik kembali kaki kanannya, pedangnya bagaikan kilat cepatnya menyerang kedua orang hweesio tersebut dengan menggunakan jurus Ci Cie Thian Yang

Dimana pedang tersebut menyambar, ke dua orang hweesio itu segera terdesak mundur ke belakang sembari menarik kembali serangannya,

Baru saja Koan Ing menghembuskan lega, kembali sudah ada delapan orang hweesio lagi yang menubruk dengan dahsyatnya ke arah dirinya.

Di dalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak Koan Ing teringat kembali akan jurus serangan yang termuat di dalam kitab pusaka Boe Shia Koei Mie, dia segera menarik napas panjang-panjang sedang tubuhnya berjumpalitan di tengah udara.

Dua orang hweesio kembali membentak keras, tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dan busurnya bersama- sama menubruk ke arah depan.

Pedang panjang Kiem-hong-kiam ditangan Koan Ing segera dibabat ke belakang mengancam tubuh kedua orang hweesio tersebut. Kedua orang itu lantas mendengus dingin, yang seorang dengan menggunakan tangan kosong mencengkeram pedang di tangannya sedang yang lain mencengkeram dadanya, agaknya mereka bermaksud hendak membinasakan dirinya seketika itu juga.

Koan Ing segera melirik sekejap, dia tahu kedua orang hweesio itu melatih ilmu Pauw

Heng Cau yang dahsyat diri ilmu tunggal Siauw-lim-pay.

Di tengah suara suitan yang amat nyaring tangan kirinya segera digetarkan sehingga mengeluarkan suara dengungan yang memekikkan telinga, diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan pedangnya sudah berubah membentuk bulatan kemudian laksana roda kereta menggulung ke arah kedua orang hweesio tersebut.

Inilah yang dinamakan jurus Noe Ci Sin Kiam atau dengan gusar mata pedang dari ilmu

pedang Thian-yu Ji Cap Su Cau.

Melihat datangnya serangan tersebut kedua orang hweesio itu jadi sangat terperanjat dengan terburu-buru mereka menarik kembali cengkeramannya untuk melindungi dirinya sendiri,

Dengan cepatnya Koan Ing mengejar ke depan disertai suara sentilan yang memekikkan telinga, tubuhnya dengan mengambil kesempatan itu meloncat keluar dari tengah kalangan,

Baru saja tubuhnya mencapai permukaan tanah mendadak dari belakang punggungnya kembali terasa adanya segulung angin serangan yang amat dahsyat menghajar punggungnya, dia jadi terkejut karena terasa olehnya datangnya angin serangan itu meresap hingga dalam tulang,

Diantara kedua belas orang hweesio itu walaupun kepandaian silat mereka sangat tinggi tetapi tidak mungkin di dalam keadaan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun berhasil mendesak hingga di belakang tubuhnya, kecuali mereka berdua belas hanya ada seorang saja yang dapat melakukan perbuatan tersebut, orang itu bukan lain adalah Thian Liong Thaysu.

Koan Ing yang merasa terkejut tidak berani berlaku ayal lagi terburu-buru tubuhnya

merendah ke bawah sedang tangan kirinya membabat ke belakang, pedang Kiem-hong-kiamnya laksana kilat yang menyambar sudah membentuk gerakan busur kecil yang amat santar, jurus ini bukan lain adalah jurus Hiat Cong Ban Lie yang chusus digunakan untuk menangkis datangnya serangan bokongan,

Thian Liong Thaysu yang melihat Koan Ing meloncat keluar dari dalam kalangan, dalam hati merasa cemas dia merasa walau pun tenaga dalam dari kedua belas orang hweesio ini tidak di bawah kepandaian Koan Ing tetapi jurus serangan dari Koan Ing lebih sempurna, bilamana sampai membiarkan Koan Ing berhasil meloloskan diri dari kurungan ada kemungkinan sulit sekali untuk mengejarnya kembali, karenanya terpaksa dia harus turun tangan melancarkan serangan bokongan.

Dia yang mendapat malu banyak karena Koan Ing dan sekarang tidak berhasil pula menawan diri Koan Ing, bukankah hal ini sangat memalukan sekali? Bagaimana nanti dia hendak bertanggung jawab di hadapan ciangbunjin?

Kedua belas orang hweesio dari ruangan Tat Mo Tong itupun demi kedudukan serta kehormatannya sendiri harus berusaha keras untuk menawan diri Koan Ing, bilamana kali  ini Koan Ing sampai berhasil lolos, bukankah nama baik merekapun akan ikut hancur?

Thian Liong Thay-su yang melancarkan serangan bokongan, dia menduga Koan Ing tidak bakal bisa lolos lagi, siapa tahu di dalam keadaan yang amat kritis itu, Koan Ing bisa membabatkan pedangnya ke belakang, sehingga membuat dirinya terdesak, hal ini benar-benar membuat hatinya jadi terperanjat,

“Aaaaa.... bukankah jurus ini adalah ilmu tunggal dari perguruan Ciat Ie To?”

bagaimana Koan Ing pun bisa menggunakannya, demikian pikirnya di hati.

Hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan, bahkan dia merasa ragu-ragu untuk mempercayainya, bagaimana mungkin Koan Ing bisa memahami kepandaian silat dari tiga manusia aneh?

Sebetulnya pukulan ini bisa membinasakan diri Koan Ing, tetapi dikarenakan dia merasa heran akan kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing, membuat dia orang jadi melengak sehingga sulit baginya untuk meloloskan diri dari serangan tersebut. Tubuhnya sedikit miring ke samping lalu mendengus berat.

Dada sebelah kiri dari Thian Liong Thaysu terkena tusukan pedang itu dengan amat tepat sekali sehingga menembus beberapa Cun dalamnya sedangkan tubuhnya segera tergetar mundur dua langkah ke belakang.

Sebaliknya Koan Ing pun terkena pukuIan dari Thian Liong Thaysu sehingga terhuyung2 maju dua langkah ke depan, darah segar muncrat keluar dari mulutnya diikuti tubuhnya segera lari ke depan.

Melihat kejadian itu, kedua belas orang hweesio dari Tat Mo Tong itu jadi melengak semua dibuatnya, walaupun mereka merupakan anak murid dari Siauw-lim-pay tetapi dalam hati diam-diampun merasa rada menyesal.

Kejadian mereka dua belas orang harus menyerang seorag dari angkatan muda sudah merupakan satu perbuatan yang tercela, apalagi Thian Liong Thaysu yang sudah bilang tidak turun tangan ternyata sampai terakhir malahan turun tangan membokong dirinya, bukankah hal ini amat memalukan sekali?

Sembari menggunakan tangannya memegang mulut lukanya, dengan ter huyung- kembali Thian Liong Thaysu mundur dua langkah ke belakang, wajahnya berubah pucat pasi.

Dia yang melihat Koan Ing dengan paksa menahan rasa sakit melarikan diri dari situ, sinar matanya segera menyapu sekejap ke arah kedua belas orang hweesio itu.

“Hmmm cepat kalian tangkap dia kembali, tidak usah urusi aku lagi.” perintahnya dengan dingin.

Kedua belas orang hweesio itu jadi melengak, tetapi sebentar kemudian bersama- sudah merangkap tangannya memberi hormat lalu putar tubuh mengejar diri Koan Ing,

Koan Ing yang melarikan diri dari kepungan para hweesio dari Siauw-lim-pay, walaupun luka yang dideritanya amat parah tetapi kesadarannya belum pudar, dia tahu pada saat ini dia harus berusaha untuk meloloskan diri diri kejaran para hweesio-hweesio Siauw-lim-pay ini, mati ditangan mereka sama sekali tidak ada harganya,

Karena itu mau tidak mau dia harus berusaha untuk tetap hidup hingga dendam ayahnya berhasil dibalas.

Dengan sekuat tenaga dia melarikan diri ke depan, bahkan hampir melupakan luka dibadannya.

Walaupun Koan Ing sudah berusaha untuk lari lebih cepat tetapi bagaimanapun juga badannya yang menderita luka membuat kecepatan larinyapun semakin berkurang, baru saja mencapai dua li jauhnya, para hweesio dari Siauw-lim-pay sudah pada mendekat.

Koan Ing juga mendengar suara langkah di belakang tubuhnya semakin lama semakin mendekat, dia segera mengetahui kalau para hweesio- Siauw-lim-pay itu sudah mengejar datang lebih dekat lagi.

Terpaksa dengan sekuat tenaga dia berlari lebih kencang lagi ke depan.

Mendadak terdengarlah suara bentakan yang amat keras bergema datang dari belakang tubuhnya disusul berkelebat sesosok bayangan manusia yang melancarkan serangan dahsyat menekan kepalanya.

Koan Ing yang melihat kejadian itu dalam hati jadi amat gusar sekali, tanpa memperdulikan lukanya yang diderita dia bersuit nyaring, tubuhnya membalik tangan kirinya yang mencekal pedang Kiem-hong-kiam segera menyerang ke arah hweesio itu sedangkan tangan kanannya menotok jalan darah dipelipisnya.

Datangnya serangan tersebut amat cepat sekali, hweesio itu sama sekali tidak menduga kalau Koan Ing berani putar badannya memberikan perlawanan, hatinya jadi berdesir.

“Braaak....!” disertai suara ledakan yang keras pedang dari Koan Ing sudah menembus dada hweesio itu sedangkan kedua buah jarinyapun dengan amat tepat berhasil menembus pada pelipisnya.

Tetapi sesaat sebelum menemui ajalnya hweesio itupun melancarkan satu cengkeraman

menghajar dada Koan Ing, saking beratnya cengkeraman itu membuat tubuhnya jadi menempel

di sisi tubuh Koan In

Pada saat itulah kesebelas orang hweesio lainnya sudah tiba dikalangan dan mengurung Koan Ing rapat-rapat.

Waktu itu Koan Ing cuma merasakan kepalanya amat pening sekali, tetapi dia berusaha untuk jangan sampai jatuh pingsan dia tetap bertahan sembari mencekal kencang- kencang mayat dari hweesio tersebut.

Sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arah sebelas orang hweesio lainnya, mendadak sikut kanannya menyambar ke depan, dengan disertai suara benturan yang amat keras mayat hweesio itu sudah terlemparjatuh ketanah.

Darah segar segera mengucur keluar dengan derasnya sedang dada Koan Ing pun terasa amat sakit masih untung dia tetap sadar sehingga bisa bertahan beberapa saat kembali.

Dengan pandangan yang dingin dia memperhatikan kesebelas orang itu alisnya dikerutkan rapat-rapat lalu dengan dingin tantangnya lagi. “Siapa lagi yang berani maju?”

Kesebelas orang hweesio itu seketika itu juga dibuat termangu-mangu disana, mereka adalah orang yang beribadat sewaktu melihat keadaan yang amat mengerikan itu, tidak terasa hatinya merasa bergidik juga.

Mereka juga melihat seluruh tubuh Koan Ing sudah berlepotan darah segar bahkan boleh dikata merupakan seorang manusia berdarah, hal ini benar-benar amat menyeramkan sekali, untuk beberapa waktu lamanya tak seorangpun diantara mereka yang mengucapkan kata-kata.

Dengan dinginnya Koan Ingpun memperhatikan orang- orang itu, kemudian dengan langkah lebar berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Dari antara kesebelas orang hweesio itu tak ada seorangpun yang turun tangan menghalangi dirinya, mereka cuma memandang ke arah mayat kawannya dengan tertegun.

Setelah berhasil meloloskan diri dari kurungan kesebelas orang hweesio itu, sembari memegang kencang-kencang dadanya, Koan Ing melarikan diri kembali ke depan.

Dia terus lari ke depan tanpa memperoleh gangguan lagi, dalam hati diam-diam merasa heran. Pikirnya, “Kenapa hweesio-hweesio itu tidak mengejar aku? Mereka takut aku beradujiwa dengan mereka ataukah karena menurut anggapan mereka aku pasti mati?”

Selamanya dia belum pernah membunuh orang, dan ini hari adalah yang pertana kalinya. Walaupun hal ini dikarenakan untuk melindungi dirinya sendiri tetapi wajah yang amat menyeramkan dari hweesio itu sesaat menemui ajalnya selalu saja terbayang kembali di dalam benaknya.

Saat ini dia tidak memikirkan apa-apa lagi, sekalipun ingin berpikir, juga tak terpikir olehnya.... hatinya terasa kalut, kacau dan bingung sekali.

Kini di hadapannya muncullah sebuah gua yang amat besar dan gelap sekali, tanpa pikir lagi dia berlari masuk ke dalam gua tersebut.

Di dalam benaknya dia berniat untuk istirahat sebentar disana.

Tetapi agaknya gua itu sangat dalam sekali, walaupun dia sudah berlari selama seperminum teh lamanya belum sampai juga pada ujungnya.

Semakin lama Koan Ing tidak kuat untuk bertahan lagi, akhirnya dia berniat untuk istirahat saja di tempat tersebut.

Mendadak.... suara seseorang bergema datang dengan dinginnya. “Siapa?”

Dalam hati Koan Ing raeiasakan hatinya tergetar amat keras, dia sama sekali tidak menyangka kalau di dalam gua tersebut ternyata masih ada penghuninya.

Pikirannya yang semula mulai pudar kini menjadi sadar kembali oleh suara bentakkan itu, kepalanyapun segera ditoleh kesamping.

Tetapi suasana tetap sunyi senyap tak tampak sesosok manusiapun, dia cuma menemukan adanya serentetan sinar terang yang menyilaukan mata dan di tengah cahaya tersebut mendadak terlihat ada sesosok bayangan manusia yang menubruk datang.

Koan Ing jadi sangat terperanjat, pedang Kiem-hong-kiam ditaagannya dengan menggunakan jurus “Ci Cie Thian Yang” dengan sekuat tenaga segera berkelebat ke depan mengancam leher kiri dari orang itu. “Ilmu pedang yang bagus “Puji orang itu dengan keras.

Mendadak tangannya berkelebat merebat datangnya serangan pedang itu dengan menggunakan tangan kosong.

Koan Ing jadi sangat terkejut kesadarannya kembali menjadi pudar, saat ini dia cuma mengandalkan kepercayaan pada dirinya sendiri untuk menyerang ke depan. “Hmm kau masih hendak membandel?” Bentak orang itu dengan gusar.

Di tengah sambaran tangan kirinya, dia segera merasakan seluruh tubuhnya jadi kaku beberapa buah jalan darah ditubuhnya sudah kena tertotok oleh serangan tersebut sehingga tidak kuasa lagi dia sudah rubuh ke atas tanh.

Orang itu segera menggotong badan Koan Ing menuju ke tempat semula.

Sesudah membebaskan jalan darahnya yang tertotok dan menutup mengalirnya darah didada dia baru meletakkan kembals tubuh Koan Ing ke atas tanah,

“Kau ingin mencari mati? Darah didadamu terus menerus mengalir keluar. ”

omelnya.

Sambil berkata mendadak dia memungut kembali sesuatu benda yang terjatuh dari dada Koan Ing, lalu menjerit kaget.

“Aaah pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie!” teriaknya.

Koan Ing jadi sangat terkejut, ketika dia angkat kepalanya terlihatlah olehnya orang yang ada di hadapannya merupakan seorang kakek tua yang usianya diantara lima puluh tahunan dengan rambut putih yang terurai hampir menutupi separuh bagian wajahnya.

Ditangan kanannya pada saat ini mencekal sebilah pedang Hiat-ho Sin-pie yang sedang ditelitinya dengan amat cermat.

Koan Ing jadi terkejut, menurut pengetahuannya orang yang berhasil melatih ilmu khie-kangnya sehingga bisa dikerahkan dan ditarik sesuai dengan kemauannya cuma seorang saja yaitu si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong yang sudah gila

Dia sama sekali tidak menyangka sewaktu dia menderita luka di tempat seperti ini kembali menemui seorang manusia aneh yang memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi sekali. Tetapi siapakah orang ini?

Lama sekali orang itu memperhatikan pedang pusaka Hiat- ho Sin-pie tersebut kemudian gumamnya seorang diri, “Pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie.... akhirnya aku berhasiljuga melihatnya.”

Diam-diam Koan Ing menarik napas panjang-panjang, tetapi dengan tarikan napasnya inilah dia merasakan seluruh tubuhnya amat sakit saking sakitnya sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, bahkan saking tak tertahannya hampir-hampir dia jatuh tak

sadarkan diri.

Orang itu angkat kepalanya memandang terpesona ke arah diri Koan Ing, lalu tanyanya secara tiba-tiba, “Kau baru saja berkelahi dengan siapa sehingga terluka demikian parahnya?”

Koan Ing memandang sekejap ke arah orang itu tetapi mulutnya tetap bungkam dalam seribu bahasa.

“Walaupun kau tidak suka berbicara akupun bisa tahu kalau kau adalah anak murid dari Kong Bun-yu, lukamu terlalu parah sekali, walaupun kau tidak bisa menyembuhkannya tetapi aku bisa membantu dirimu untuk menyembuhkan luka tersebut asalkan pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie ini kau serahkan kepadaku.”

Koan Ing tertawa tawar, dia sama sekali tidak menduga ada orang yang mengingini pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie ini, tetapi entah siapakah orang ini sehingga mau membantu dia untuk menyembuhkan Iukaanya?”

Ketika orang itu melihat Koan Ing tertawa tawar, dia sudah salah menganggap kalau

dia tidak mau mengabulkan usulnya itu, cepat-cepat ujarnya lagi, “Bilamama lukamu tidak kau sembuhkan memiliki pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie ini apa gunanya?”

Sekali lagi Koan Ing tertawa tawar lalu mengangguk, tetapi sepatah katapun tidak diucapkan keluar.