Kereta Berdarah Jilid 01

Jilid 01

Bab 1

SINAR REMBULAN nan terang memancarkan sinarnya memenuhi seluruh permukaan tanah, sebuah bangunan rumah yang amat besar dan angker berdiri di bawah kegelapan malam yang membuta.

Dari dalam bangunan rumah itu terlihatlah sinar lampu yang redup secara samar-samar memancarkan sinarnya berkelap-kelip, suasana begitu sunyi.... sedikitpun tidak terdengar suara.

Saat ini merupakan musim rontok yang cukup dingin, angin berhembus dengan santarnya di sekeliling rimba membuat pepohonan pada bergoyang dan mengeluarkan suara yang amat berisik.

Di bawah sorotan sinar rembulan, tiba-tiba.... dari dalam hutan berlarilah mendatang seekor kuda dengan amat cepatnya di atas kuda itu duduklah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahunan, pada tubuhnya memakai seperangkat pakaian singsat yang berwarna putih keperak- perakan, pada punggungnya yang tertutup oleh secarik mantel berwarna hijau tua tersorenlah sebilah pedang panjang ikat kepala yang berwarna putih berkibar tak henti-hentinya bertiup angin. Jika dilihat dari wajahnya kelihatan sekali dia amat lelah, bahkan penuh dikotori oleh debu serta pasir.

Ketika dilihatnya bangunan besar itu cepat-cepat dia menarik tali les kudanya, suatu senyuman segera muncul menghiasi bibirnya diikuti oleh hembusan napas lega.

“Heeeey.... akhirnya sampai di rumah juga,” pikirnya di dalam hati. “Sekarang aku tidak usah terlalu cemas lagi.”

Dengan perlahan dia menjalankan kudanya ke depan pintu, sesudah meloncat turun dari punggung tunggangannya dengan perlahan dia mulai mengetuk pintu rumah.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara langkah yang ribut semakin lama semakin mendekat diikuti terbukanya pintu besar dengan amat perlahan seorang kakek tua berbadan bongkok dengan perlahan muncul di depan pintu dan memperhatikan sang pemuda dengan penuh keheranan.

Air muka pemuda itu sekali lagi memperhatikan senyuman manisnya.

“Tiong-siok,” panggilnya sambil tertawa. “Bagaimana keadaan kamu orang tua? Apa sudah lupa pada diriku?”

Air muka kakek tua bongkok itu segera berubah sangat hebat, titik-titik air mata menetes keluar dari  kelopak matanya.

“Ing Siauw ya!” serunya dengan nada gemetar. “Kiranya kau sudah pulang.”

Pemuda itu tertawa, dengan menggunakan tangannya dia menepuk-nepuk pundak si orang tua, ujarnya kembali sambil tertawa.

“Tiong-siok, tidak bisa salahkan kamu yang sudah lupa padaku, kita sudah ada sepuluh tahun lamanya tidak bertemu. Sesudah menerima surat dari Tia, karena suhu dia orang tua sedang sakit, maka dia menyuruh aku berangkat terlebih dahulu, entah Tia, dia orang tua apakah dalam keadaan baik- baik saja?”

“Kenapa?” seru si kakek tua bongkok itu tertegun.

“Suhumu Ku Kiam Seng atau si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng, Cu Thayhiap tidak ikut datang?” pemuda itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Sebetulnya di rumah sudah terjadi peristiwa  apa?” ujarnya, “di dalam suratnya Tia tidak memberi penjelasan, penyakit yang diderita suhu sangat berat dia tidak ikut datang.”

Si kakek tua bongkok itu berdiri tertegun kembali beberapa saat lamanya, akhirnya dengan nada amat sedih ujarnya, “Loo-ya sudah tiga hari lenyap tanpa bekas.”

“Apa?” teriak pemuda itu terperanjat. “Tiong-siok, perkataanmu apa betul?”

Dengan perlahan kakek tua bongkok itu menundukkan kepalanya rendah-rendah, tidak sepatah katapun diucapkan keluar.

Pemuda itu benar-benar dibuat terperanjat oleh berita ini dia berdiri tertegun di tempat, titik-titik air mata menetes keluar membasahi wajahnya, dia sama sekali tidak menduga dengan nama besar ayahnya sebagai Siang Kiang Thayhiap, Koan Thian Jen ternyata bisa lenyap tanpa bekas.

“Bagaimana keadaannya sekarang ini? Sebetulnya sudah terjadi peristiwa apa?”

Dengan termangu-mangu dia menoleh kembali ke arah kakek tua bongkok itu lalu tanyanya kembali, “Tiong-siok, sebetulnya sudah terjadi peristiwa apa?”

Dengan perlahan-lahan si kakek tua bongkok itu menghela napas panjang. pada setengah bulan yang lalu mendadak di belakang rumah kita muncul sebuah pintu

rahasia, aku beserta Loo-ya lalu bersama-sama pergi mencari dan membuka pintu tersebut.... Heey.... coba kau terka barang apa yang ada dibalik pintu rahasia itu? Sebuah tengkorak manusia, di atas kening tengkorak manusia itu tertancaplah sebilah pedang pendek.

Begitu Loo-ya melihat benda tersebut air mukanya segera berubah sangat hebat, sesudah menutup kembali pintu  rahasia itu dia segera kirim surat kepadamu meminta suhumu datang ke sini, dia sudah memutuskan sebelum suhumu datang ke sini tidak perduli sudah terjadi urusan apapun aku dilarang memasuki pintu rahasia itu lagi.... Heeeey. Tidak

disangka pada tiga hari yang lalu Loo-ya entah sudah pergi kemana?”

Dengan termangu-mangu Koan Ing mendengarkan kisah itu, sebuah tengkorak manusia? Di atas keningnya tertancap sebilah pedang pendek? Selamanya dia belum pernah mendengar orang berkata kalau di dalam Bu-lim ada perkumpulan atau partai yang menggunakan cara begitu sebagai tandanya.

Dengan termangu-mangu Koan Ing termenung berpikir keras, akhirnya dengan menggigit kencang bibirnya dia berkata kembali, “Tiong-siok, mari kita pergi kesana lihat- lihat!”

Seketika itu juga si kakek tua bongkok itu menjadi melengak.

“Tetapi.... tetapi Cu Thayhiap. ”

“Suhu tidak akan segera datang kemari, apalagi Tia sudah tiga hari lenyap tanpa bekas, dia orang tua tentu memasuki tempat itu.” Teringat akan lenyapnya ayahnya selama tiga hari air mukanya segera berubah menjadi amat murung bercampur sedih.

Tiba-tiba Koan Ing membuka mulutnya kembali menyadarkan lamunan dari si kakek tua bongkok itu, “Tiong- siok. Kau tidak perlu merasa kuatir buat diriku, aku sudah cukup besar, aku masih bisa menjaga diriku sendiri.”

“Ing Siauw-ya,” akhirnya ujar si kakek tua bongkok itu sambil menghela napas panjang, “ibumu sudah meninggal dunia sejak dahulu, kini tinggal kau  seorang  saja  yang  hidup kau harus lebih berhati-hati menjaga diri.”

Ketika Koan Ing mendengar si orang tua bongkok ini mengungkit kembali soal ibunya yang sudah meninggal dunia, teringat kembali ayahnya yang lenyap tanpa bekas, tidak terasa lagi hatinya serasa ditusuk oleh berjuta-juta batang golok sukar ditahan.

“Tiong-siok, aku sudah tahu!” serunya sambil mengerutkan keningnya rapat-rapat.

Sekali lagi si orang tua bongkok itu menghela napas panjang, kemudian dengan terpaksa dia putar badannya berjalan masuk ke dalam rumah.

Setelah masuk ke dalam ruangan tengah mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke ruangan belakang dan masuk ke dalam kamar paling ujung.

Sesampainya di dalam kamar itu terlihatlah si orang tua bongkok itu ragu-ragu sebentar akhirnya dia ulurkan tangannya menekan sesuatu pada dinding kamar.

Di balik pintu rahasia itu terlihatlah keadaan yang gelap gulita, tanpa berpikir panjang lagi Koan Ing segera menerobos masuk ke dalam tetapi mendadak dia menghentikan langkahnya, karena saat itulah dia sudah mendengar suara jeritan tertahan dari si orang tua bongkok itu. “Tiong-siok ada apa?” tanyanya.

“Itu.... itu tengkorak manusia, kenapa sekarang sudah rubuh ke atas tanah?”

Mendengar perkataan dari si orang tua bongkok itu dengan cepat Koan Ing memutarkan badannya dan berjalan keluar dari lorong tersebut. “Selama ini apakah pintu ini ditutup terus?”

“Selamanya aku belum pernah masuk lagi ke dalam, kecuali Loo-ya tidak ada orang luar lagi yang pernah masuk kesana.”

Beberapa perkataan dari Koan Ing baru saja ini sebetulnya diucapkan secara kebetulan saja, pada saat dia berbicara berbagai pikiran sudah berkelebat di dalam benaknya.

Mendadak dia maju kembali ke depan lantas masuk ke dalam pintu rahasia tersebut dan berjongkok memeriksa keadaan dari tengkorak itu dengan amat teliti, agaknya dia punya maksud untuk menemukan sesuatu dari benda tersebut.

Baru saja tubuhnya berjongkok sampai separuh jalan, mendadak dia merasakan segulung angin pukulan yang amat santar menyambar dari belakang badannya, hatinya menjadi sangat terperanjat, tanpa menoleh lagi dia sudah tahu ada orang sedang membokong dirinya dari arah belakang.

Dengan kecepatan yang luar biasa tubuhnya berputar ke samping, jari telunjuk serta jari tengah tangan kirinya dengan cepat ditonjokkan ke depan menotok jalan darah “Yao Hu Hiat” pada punggung orang itu.

Tetapi baru saja tangan kiri dari Koan Ing ini tiba di tengah jalan secara tiba-tiba terasalah olehnya suatu golakan hati yang amat keras menerjang hatinya, buru-buru dia mundur dua langkah ke belakang sedang bulu kuduknya pada berdiri. Kiranya orang yang baru saja membokong dirinya dari belakang itu bukanlah seorang manusia hidup, melainkan sesosok mayat yang sudah dingin kaku.

Dari gerakan menotok tangan kirinya segera diubah menjadi telapak biasa dan menyambut datangnya mayat tersebut, di bawah sorotan sinar lampu lilin yang samar di dalam satu kali pandang saja dia sudah mengenal kembali kalau mayat itu bukan lain adalah mayat dari ayahnya Koan Thian Jen.

Seketika itu juga Koan Ing merasakan seluruh tubuhnya kaku, bagaikan baru saja dia mentas dari gentong yang berisikan air dingin seluruh tubuhnya meringkik. Kepalanya pening matanya berkunang-kunang seperti baru saja dipukul dengan sebuah martil besar.

Mendadak.... dia mendengar suara teriakan dari Tiong-siok yang amat keras, dia sadar kembali dari kagetnya, bayangan pertama dengan cepat berkelebat di dalam benaknya.

Dengan perasaan amat gusar dia bersuit panjang, tubuhnya bagaikan kilat cepatnya menubruk ke arah samping terus naik ke atas wuwungan rumah pada lorong tersebut.

Setelah mengikuti suhunya si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng selama sepuluh tahun lamanya, imannya sudah dilatih cukup kuat, sekalipun baru saja dia menemui kejadian yang menyedihkan hatinya tetapi untuk sementara dia masih sanggup untuk menguasai dirinya sendiri.

Dengan perasaan amat gusar Koan Ing meloncat ke atas wuwungan rumah, dalam lobang itu dengan menggunakan sepasang matanya yang amat tajam dia memperhatikan keadaan di sekelilingnya, di bawah sorotan sinar api lilin yang redup mendadak matanya terbentur dengan sesosok bayangan manusia yang sedang berlari menjauhi tempat itu. Dalam hati dia merasa terkejut dan bercampur gusar, satu- satunya ingatan yang berkelebat di dalam benaknya saat ini hanyalah ingin menangkap si pembunuh.

Tubuhnya segera berkelebat ke depan, laksana seekor burung elang dengan gerakan yang amat cepat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia melayang ke depan mengejar ke arah bayangan hitam itu.

Dia sama sekali tidak menduga dengan nama besar dari ayahnya Siang Kiang Thayhiap ternyata bisa dibunuh orang dengan demikian mudahnya, bahkan masih ada satu teka teki buat dirinya siapakah bayangan hitam itu? Sungguh besar nyalinya sehingga berani menyatroni diri Siang Kiang Thayhiap yang sudah punya nama terkenal di dalam Bu-lim.

Walaupun di dalam hatinya Koan Ing terus berpikir keras tetapi kakinya sedikit pun tidak berhenti, bagaikan kilat cepatnya dia mengejar terus ke arah orang itu.

Di dalam dua tiga kali loncatan saja akhirnya Koan Ing berhasil mendekati sampai di belakang badan orang itu.

Agaknya orang itupun sama sekali tidak menduga kalau Koan Ing bisa mengejar begitu cepatnya, tubuhnya mendadak berhenti sambil membalikkan badannya dia melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar pundak kiri dari Koan Ing.

Saat ini Koan Ing memangnya sedang bersiap-siap menawan pihak musuh, melihat datangnya serangan ini dengan dinginnya dia mendengus, tubuhnya semakin mendesak ke depan sedang tangan kanannya di ayun menotok jalan darah Cian Cing Hiat pada pundak orang itu. 

Tubuh Koan Ing semakin mendekati tubuh orang itu, baru saja jarinya mau melancarkan totokan mendadak pergelangan tangan orang itu berputar balas mencengkeram tangannya. Koan Ing menjadi sangat terperanjat untuk menghindar sudah tidak sempat lagi, telapak tangan kiri orang itu dengan amat tepat menghajar dada kirinya.

Terdengar dia mendengus dengan amat beratnya, untung sekali tenaga dalam orang itu tidak tinggi sehingga pukulannya ini tidak terlalu berat bersarang di dadanya, walaupun begitu dia merasakan juga dada kanannya teramat sakit.

Ketika orang itu melihat serangannya mencapai pada sasarannya tanpa menunggu Koan Ing berganti napas lagi tubuhnya bertindak semakin maju mendesak tubuh Koan Ing, pada saat tangan kanannya berkelebat pada genggamannya sudah bertambah lagi dengan sebilah pedang pendek kemudian dengan dahsyatnya di tusukan ke iga Koan Ing.

Karena sedikit gegabah Koan Ing terkena hajaran dari pukulan orang itu, dalam hatinya dia benar-benar merasa terkejut bercampur gusar, kini mana dia mau mengalah lagi? Mendadak tangan kanan dengan mendatar berputar setengah lingkaran di depan dada.

Orang itu mendengus dengan dinginnya serangan dari Koan Ing ini kelihatan amat aneh dan tidak jelas arah yang hendak dituju, tetapi orang itu tidak perduli, tubuhnya semakin maju ke depan.

Baru saja pedang pendek orang itu di tusukan ke depan, tangan kanan dari Koan Ing yang berputar setengah lingkaran di depan dadanya mendadak berkelebat ke depan, tiga jari tangannya menyambar pergelangan tangannya dengan amat dahsyat.

Orang itu menjadi sangat terperanjat karena dia sekarang baru sadar ketiga jari tangan dari Koan Ing yang mengancam urat nadi pergelangan tangannya ini sukar untuk dihindari, walaupun dia mau berkelit dengan cara apapun tidak mungkin akan bisa berhasil. Waktu yang dibutuhkan mereka berdua untuk bertempur baru-baru ini sangat singkat sekali, belum sempat dia berpikir panjang mendadak terasalah olehnya urat nadi pada pergelangan tangan kanannya sudah terbentur dengan tiga jari totokan dari Koan Ing.

Di dalam keadaan yang amat terperanjat terburu-buru dia mundur ke belakang, dia tahu jika dia mau selamat maka pedang pendek itu harus dilepaskan, sedangkan tangan kirinya bersamaan waktunya pula melancarkan pukulan ke arah dada Koan Ing.

Tiga jari dari Koan Ing dengan cepat dibalik merebut pedang pendek yang ada di tangan orang itu kemudian dengan gerakan cepat pula dia meloncat mundur ke belakang.

Begitu dia mundur, orang itupun tidak berani mendesak kembali, masing-masing berdiri diarah yang berlawanan sambil saling berpandangan.

Agaknya orang itu sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam dari Koan Ing jauh di atas seperti apa yang diduga semula, tidak disangka pukulan yang dilancarkan olehnya ternyata sudah mencapai sasaran yang kosong.

Dalam hati Koan Ing semakin merasa terperanjat lagi, dia tahu pada saat ini orang yang bisa melancarkan serangan sambil memutarkan pergelangan tangannya saja cuma si manusia aneh dari Laut Timur Ciat Ie Toocu, Ciu Tong beserta anak muridnya.

Karena sifatnya yang aneh dan berkepandaian tinggi para jago yang ada di dalam Bu-lim tidak seorangpun yang berani mencari gara-gara dengan Ciu Tong ini, tidak perduli orang itu punya hubungan atau sangkut paut dengan Ciat Ie To, asalkan berbuat salah kepada mereka maka orang-orang itu tentu akan menawan orang tersebut, tetapi. dengan

kepandaian silat yang dimiliki ayahnya tidak mungkin beliau bisa terbunuh oleh orang semacam ini. Pikirannya dengan cepat berkelebat, akhirnya di dalam hati dia mengambil kesimpulan bahwa kematian ayahnya tentu mempunyai sangkut paut yang sangat erat dengan orang ini.

Berpikir sampai di sini, pandangan matanya segera beralih ke atas wajah orang itu, di tengah kegelapan dia hampir- hampir tidak sanggup untuk melihat lebih jelas lagi bentuk wajahnya, tetapi secara samar-samar dia masih bisa tahu kalau lawan di hadapannya merupakan seorang pemuda yang usianya masih muda.

“Heee.... heee.... kau punya hubungan apa dengan Ciat Ie Toocu dari lautan Timur?” terdengar Koan Ing dengan dinginnya berseru.

Pemuda itu menjadi melengak, dia sama sekali tidak menduga karena satu jurus serangannya tadi sudah memberitahukan perguruannya kepada Koan Ing sedang sampai kini dia sendiri masih tidak tahu jurus-jurus aneh yang digunakan Koan Ing tadi berasal dari perguruan mana.

Dia berdiam diri beberapa waktu lamanya, kemudian dengan congkaknya mendengus.

“Hmm, kalau sudah tahu aku orang punya hubungan dengan pihak pulau Ciat Ie, kenapa kamu orang masih tidak mundur teratur dari tempat ini?”

Sepasang alis dari Koan Ing dikerutkan semakin mengencang.

Pada sembilan belas tahun yang lalu sewaktu diadakan pertemuan puncak para jago di atas gunung Hoa-san, Ciat Ie Toocu dengan mengandalkan ilmu silatnya yang sangat aneh

dan lihay pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan sehingga mendapat sebutan sebagai Chiat Hay Mo Su atau si iblis sakti dari luar lautan, sejak itulah tidak ada orang yang berani mencari gara-gara lagi dengan si iblis dari pulau Ciat Ie To ini. Sekalipun di dalam hatinya Koan Ing tahu itu si iblis sakti Ciu Tong sukar untuk dilayani tetapi dendam sakit hati ayahnya harus dibalas, dia tidak akan mundur teratur karena hal ini.

Terdengar dia tertawa dingin tak henti-hentinya, ujarnya kemudian, “Hee.... hee sekalipun kamu orang punya sangkut paut dengan orang-orang pulau Ciat Ie To, aku juga tidak akan membiarkan kau pergi dari sini.”

Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak maju mendesak ke arah orang itu.

Orang itu sama sekali tidak menduga Koan Ing begitu bernyali berani mencari gara-gara dengan pihak pulau Ciat Ie To, dia tahu dirinya bukanlah tandingan tubuhnya dengan cepat berjumpalitan di tengah udara kemudian dengan tergesa-gesa mengundurkan diri dari situ.

Dalam hati Koan Ing sudah ambil keputusan untuk menawan orang itu, sudah tentu dia tidak akan membiarkan dia pergi dengan seenaknya, tubuhnya segera melayang pula ke depan mengejar dari belakang badannya.

Dengan cepat orang itu melarikan diri ke dalam sebuah lorong kecil di bawah tanah kemudian dengan cepatnya  lenyap di tengah kegelapan.

Melihat keadaan disana Koan Ing menjadi ragu-ragu. dia tidak paham seluk beluk di tempat itu tapi diapun tidak ingin melepaskan orang itu begitu saja.

Tangan kanannya dengan cepat dibalik memasukkan pedang pendek itu ke arah pinggangnya, sepasang telapak tangannya sesudah melancarkan satu serangan dahsyat tubuhnya baru berkelebat ke arah lorong tersebut.

Kiranya dia menggunakan tenaga pantulan dari angin pukulan tadi untuk mengetahui keadaan di sana, tubuhnya tanpa berhenti lagi dengan cepat melayang ke dalam. Lorong kecil di bawah tanah itu sangat sempit dan ruwet sekali, cabang kecil-kecil banyak tersebar di sekitar sana membuat dia yang sedang melakukan pengejaran di dalam sekejap saja sudah kehilangan jejak musuhnya.

Untuk beberapa saat lamanya Koan Ing menjadi sangat bingung, dia berdiri termangu-mangu di sana.

Lama sekali dia pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan keadaan di sekelilingnya tetapi selama ini tidak terdengar sedikit suarapun.

Diam-diam pikirnya di dalam hati, “Dengan kepandaian yang dimiliki orang berbaju hitam tadi, tidak mungkin dia bisa berjalan tanpa menimbulkan suara.... Hmm, kecuali dia sudah berhenti bergerak di sekitar tempat itu.”

Koan Ing agak ragu-ragu sebentar, sepasang telapaknya mendadak melancarkan satu serangan dahsyat ke depan sedang tubuhnya bersamaan waktunya pula membuka pintu besi itu untuk menerobos masuk ke dalam.

Berpikir sampai di sini, sepasang mata Koan Ing yang sangat tajam mulai memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu.

Lorong kecil di bawah tanah itu sangat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, tetapi pada sebelah kiri dari tempat itu secara samar-samar memancar keluar sinar yang agak remang.

Koan Ing semakin mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia mulai berjalan mendekati tempat berasalnya sinar itu.

Kurang lebih sesudah berjalan sepuluh kaki jauhnya terlihatlah sebuah pintu besi muncul di hadapannya, dari balik pintu secara samar memancar keluar sinar merah darah yang agak tawar, di dalam kegelapan sinar merah itu sangat menusuk mata membuat hati setiap orang yang melihat serasa bergolak dengan kerasnya. Begitu tubuh Koan Ing masuk ke dalam ruangan itu, dari samping tubuhnya segera terdengar suara dengusan yang amat dingin bergema mendatang, segulung angin pukulan yang sangat dahsyat menerjang dirinya dari arah samping.

Dia benar-benar merasa sangat terperanjat sekali, dari angin pukulan yang baru saja dilancarkan oleh orang itu dia sudah tahu kalau tenaga dalam orang itu sudah mencapai pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri, tangan kanannya dengan cepat dibalik lalu batas melancarkan satu serangan gencar mengarah pergelangan tangannya.

Jurus yang digunakan si pembokong itu ternyata sangat hebat dan mempunyai perubahan yang sangat aneh sekali, serangan yang dilancarkan Koan Ing dengan penuh perhitungan ini ternyata sudah mencapai pada sasaran yang kosong.

Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa sangat terperanjat, segera teringat olehnya kemungkinan sekali orang inipun merupakan orang-orang dari pulau Ciat Ie To di lautan Timur, walaupun saat ini dia sudah tahu tetapi dia sama sekali tidak mempunyai pengalaman bertempur dengan musuh- musuh yang menggunakan ilmu silat demikian anehnya  karena itu diapun tidak mempunyai cara-cara untuk memecahkan ilmu tersebut.

Terlihatlah pergelangan tangan orang itu tiba-tiba menekuk ke bawah menyambar badannya, dengan cepat Koan Ing berjongkok untuk menghindar.

“Sreeeet....!” mantel di punggungnya sudah terkena sambaran tersebut sehingga terobek.

Tubuhnya dengan cepat bergeser ke samping, di dalam keadaan yang amat kritis itulah dia berhasil menghindarkan diri dari serangan musuh kemudian berkelebat untuk berdiri di pinggir ruangan saat ini seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat dingin yang mengucur keluar dengan amat derasnya, dengan tenaga dalam yang begitu tinggi dari orang itu bilamana serangannya tadi dengan tepat menghajar badannya, saat ini dia pasti binasa atau sedikitnya terluka amat parah.

Setelah badannya bisa berdiri tegak, sepasang matanya dengan amat tajam menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu.

Di bawah sorotan sinar yang agak remang terlihatlah tepat di hadapannya duduklah bersila seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan dengan wajah penuh kegusaran, di sampingnya berdirilah si pemuda berbaju hitam yang memancing dirinya kemari tadi.

Sekali lagi Koan Ing merasa sangat terperanjat, kelihatannya orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan kepadanya itu bukan lain adalah orang yang duduk bersila

Jika dilihat keadaannya jelas orang itu adalah seorang yang cacat tetapi seorang cacat saja kepandaiannya sudah begitu

lihay, jelas sekali ilmu silat yang dimilikinya memang betul- betul mengerikan sekali.

Ayahnya telah dibunuh orang, tidak salah lagi orang yang ada di hadapannya inilah si pembunuh yang sesungguhnya.

Orang itu dengan pandangan amat dingin memandang ke arah Koan Ing, mendadak sepasang telapaknya menggebrak permukaan tanah tubuhnya laksana kilat yang menyambar berkelebat menubruk ke arah diri Koan Ing, bersamaan pula telapak tangannya dengan mengancam belakang maupun muka tubuhnya mengirim satu pukulan dahsyat ke arah diri Koan Ing.

Saat ini Koan Ing sudah melakukan persiapan, tangan kanannya dengan cepat membalik. “Criiing!” pedang panjang yang tersoren di punggungnya sudah dicabut keluar, di dalam sekejap mata dia sudah melancarkan tiga tusukan dahsyat.

Setiap tusukan pedangnya selalu berbentuk bulat setengah lingkaran, tetapi kecepatan arah yang diancam pedang itu memaksa orang itu mau tidak mau menarik kembali serangannya.

Mereka berdua saling serang menyerang sebanyak tiga jurus banyaknya, tampaklah orang itu secara tiba-tiba melancarkan satu serangan kosong ke depan sedang tubuhnyapun dengan cepat berkelebat kembali ke tempat semula.

Sepasang matanya jelas memperlihatkan perasaannya yang amat terkejut, air mukanya berubah menjadi merah padam saking gusarnya.

Koan Ing yang dipelototi sudah tentu tidak mau mengunjukkan kelemahannya, diapun balas memandang ke arah musuh dengan pandangan amat gusar sedang dalam hati diam-diam dia merasa sangat kaget, kehebatan dari tenaga dalam orang itu sungguh-sungguh memaksa dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.

Beberapa saat kemudian terdengarlah orang itu baru membuka mulutnya bertanya, “Hmmm. Tentu kau anak murid dari itu Kong Bun-yu.”

Kong Bun-yu yang dimaksud adalah si pendekar aneh Thian-yu Khie Kiam daripada Siao, Khet, Sin, Mo atau si dewa aneh, sakti, iblis daripada empat aneh di dalam dunia kangouw saat itu, dia merupakan suheng daripada suhunya si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng, Cu Yu.

Kiranya suhunya Cu Yu suheng-te pada masa yang lalu dikarenakan suatu urusan sudah berbentrok sehingga tidak akur, dan kini masing-masing pada mengambil jalannya sendiri-sendiri.

Kini sewaktu mendengar orang itu menyebut dirinya sebagai murid Kong Bun-yu dia segera tertawa dingin, belum sempat dia membuka mulutnya untuk memberikan jawaban terdengar orang itu dengan dinginnya sudah berkata kembali.

“Aku adalah anak murid dari Ciat Ie Toocu, Bun Ting-seng, lebih baik urusan yang sudah terjadi disini kau tidak usah ikut campur.”

Diam-diam Koan Ing sedikit merasa terperanjat, tidak terkira olehnya orang yang ada di hadapannya sekarang ini adalah si iblis sakti dari dalam Bu-lim, Cing Ie Kongcu atau si sastrawan berbaju sutera, Bun Ting-seng adanya.

Tidak tahu dikarenakan persoalan apa dia bersembunyi di tempat ini bahkan sepasang kakinya sudah cacat?

Tidak menanti Koan Ing berbicara, Bun Ting-seng sudah keburu menyambung kembali, “Perguruanmu maupun perguruanku tidak ada hubungan apa-apa dan selamanya tidak saling ganggu mengganggu, walaupun karena keteledoranmu ini aku harus mengorbankan latihanku selama tiga tahun, tetapi memandang wajah suhumu aku akan menyudahi saja urusan ini hari.”

Si pendekar pedang Thian-yu Khei Kiam, Kong Bun-yu memiliki kepandaian silat yang sangat aneh sekali, dengan mengandalkan ilmunya yang amat sakti Thian-yu Khie Kang dia merajai dunia persilatan, baik di dalam melancarkan pukulan maupun ilmu pedangnya selama ini selalu membuat setengah lingkaran dulu di depannya sendiri tetapi ketepatannya tidak pernah meleset, pihak lawannya bilamana tidak membubarkan serangannya sendiri maka dia pasti terluka di bawah serangan pedang atau pukulannya, karena itulah walaupun Bun Ting-seng merupakan seorang iblis yang amat lihay terhadap diri Kong Boeo Yu pun dia tidak berani berlaku kasar apalagi menyalahi dirinya. Koan Ing tertawa dingin tak henti-hentinya.

“Hee.... hee.... heee.... suhuku adalah si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng, sama sekali bukan itu si pendekar pedang aneh Thian-yu Khei Kiam, kau sudah salah sangka apalagi dendam terbunuhnya ayahku aku harus minta ganti pula.”

Bun Ting-seng jadi melengak, dia adalah seorang jago kawakan di dalam Bu-lim apapun juga dia sudah bisa menduga, dia tahu Koan Ing merupakan seorang pemuda yang baru saja menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw dan kini mau mengadu jiwa pula dengan dirinya, untung saja dia bukan anak murid dari Kong Bun-yu tetapi Koan Ing itu pasti tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.

Bilamana dia sungguh-sungguh berkelana di dalam dunia kangouw setelah mengetahui siapa dirinya, siapa yang berani mengganggu Su Khei Sam Ceng atau si empat aneh tiga genah?

Dia tertawa dingin pula.

“Kau memiliki ilmu aneh Thian-yu Khei Keng, memandang hal itu untuk sementara aku lepaskan kamu orang satu kali ini, apalagi urusan yang sudah terjadi disinipun kau tidak tahu. Hmmm.... Hmm perlu aku beritahu padamu, ayahmu modar karena dia cari jalan kematian ini sendiri!”

Sinar mata Koan Ing segera berkedip-kedip dengan gusarnya, dia tahu si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng ini jadi orang amat ganas dan kejam sekali, tetapi haruskah dia mengalah cuma karena atasan itu?

Apalagi ketidak akuran antara suhunya si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng ini dengan si pendekar pedang aneh Thian-yu Khei Kiam semua orang sudah mengetahuinya, bentroknya dia dengan pihak pulau Ciat Ie To dari pihak Kong Bun-yu tidak mungkin kau membantu dirinya tapi kenapa Bun Ting-seng mau menyudahi urusan ini. pikirannya dengan cepat bergerak memikirkan hal ini.

Bun Ting-seng yang melihat Koan Ing tetap tidak mau pergi air muka berubah menjadi sangat hebat....

“Kamu orang tidak mau pergi, apa sengaja menunggu saat kematian buat dirimu?” bentaknya dengan amat gusar.

Koan Ing pun mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Hmm.... hmmm.... ” dengusnya dengan amat gusar. “Sebelum dendam sakit hati kematian ayahku dilunasi aku tidak akan pergi dari sini.”

Air muka Bun Ting-seng berubah semakin menghebat, tangannya dengan cepat menggape memberi tanda kepada si pemuda berbaju hitam yang berdiri di sampingnya.

Si pemuda berbaju hitam itu segera putar badannya dan menekan sesuatu di atas dinding, tampaklah sebuah pintu rahasia terbuka dengan perlahannya ke arah samping.

Dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat, tubuhnya meloncat ke atas untuk menubruk ke depan, sedang mulutnya dengan perasaan amat gusar membentak, “Ini hari aku orang mau mencoba-coba kepandaian sakti dari Teng Hay Mo Kang!”

Baru saja tubuhnya mencelat ke atas mendadak tampaklah olehnya air muka Bun Ting-seng sudah berubah menjadi merah darah, dia membentak keras tangan kanannya dibabat ke depan dua bilah pedang pendek bagaikan kilat cepatnya sudah meluncur menghajar badan Koan Ing.

Pedang pancang yang ada di tangan Koan Ing cepat-cepat di pontang-pantingkan ke depan memukul jatuh kedua bilah pedang pendek itu.

Tetapi dengan cepat pula tubuhnya tergetar ke belakang beberapa tindak, pergelangan tangannya terasa sakit sekali tergetar oleh tenaga dalam yang disalurkan ke dalam kedua bilah pedang pendek itu.

Karena terdesak oleh kedua bilah pedang pendek itu tubuh Koan Ing jadi berhenti sejenak, saat itulah sepasang tangan dari Bun Ting-seng sudah memukul ke atas permukaan tanah, tubuhnya dengan cepat melayang ke atas sambil melancarkan lima serangan dahsyat mengancam seluruh tubuh musuhnya, jurus serangannya sangat aneh tetapi lihay sekali.

Koan Ing benar-benar merasa terperanjat, pedang panjangnya dengan cepat berputar satu lingkaran ke depan, dengan menggunakan jurus ‘Thian Hong Cu-hok’ atau pelangi langit menutup jalan pedangnya berkelebat menyerang pergelangan tangan dari sepasang tangan Bun Ting-seng.

Mereka berdua sama-sama tidak tahu jelas keanehan dan kesaktian ilmu silat pihak lawannya, jurus-jurus serangan yang baru saja digunakan separuh jalan terpaksa harus ditarik kembali.

Koan Ing hanya merasakan keanehan dari ilmu silat yang dimiliki Bun Ting-seng ini benar-benar membuat hatinya jera, karena pertempuran inilah tenaga dalamnya pun di dalam beberapa saat ini mengalami kerugian yang sangat besar.

Baru saja hatinya merasa ragu bercampur heran, tiba- tiba.... suara ringkikan kuda yang amat ramai berkumandang keluar dari dalam ruangan tersebut.

Bluuuk. !

Empat ekor kuda jempolan berwarna merah darah dengan menarik sebuah kereta yang amat besar dan megah menerjang keluar.... orang yang ada di atas kereta itu bukan lain adalah si pemuda berbaju hitam itu.

Ketika kereta kuda itu menerjang keluar dari pintu Bun Ting-seng sudah tidak kuat menahan diri lagi, dia muntahkan darah segar dengan sangat derasnya, sedang tubuhnya dengan kecepatan yang luar biasa menubruk ke arah kereta berkuda itu.

Koan Ing yang melihat munculnya sebuah kereta berkuda secara tiba-tiba di sana sesaat dibuat tertegun, tetapi sebentar kemudian dia sudah tahu apa yang telah terjadi, Bun Ting- seng pasti sudah terluka parah, sedangkan kereta berkuda itu bukankah “Kereta Berdarah” yang pernah menggetarkan dunia persilatan?

Sembilan belas tahun yang lalu sewaktu empat manusia aneh mengadakan pertemuan di atas gunung Hoa-san, tujuan mereka yang terutama juga dikarenakan Kereta berdarah ini.

Menurut berita yang tersiar di dalam Bu-lim katanya pada masa yang lalu pernah berdiri sebuah partai yang diberi nama Hiat-ho-pay atau partai banjir darah, kepandaian silat dari orang-orang Hiat-ho-pay ini sangat tinggi sekali sukar dijajaki oleh orang lain bahkan ciangbunjiennya memiliki sebuah kereta berkuda yang bisa digunakan di daratan maupun di dalam air dan diberi nama Kereta berdarah, dimana kereta itu berada di sana pasti akan terjadi banjir darah laksana mengalirnya air di sungai.

Akhirnya para jago di dalam Bu-lim bekerja sama untuk bersama-sama menumpas partai Hiat-ho-pay ini membuat kelanjutan dari kereta berdarah ini merupakan suatu teka-teki buat semua orang.

Menurut berita yang tersiar katanya di dalam kereta berdarah itu termuat juga ilmu silat yang dimiliki ciangbunjin partai Hiat-ho-pay tempo hari, karenanya Kereta Berdarah ini jadi incaran setiap jago di dalam Bu-lim bahkan diperebutkan baik oleh golongan Pek-to maupun dari kalangan Hek-to.

Berita tentang Kereta berdarah ini semakin tersiar luas, tapi karena tidak ditemukan buktinya maka keinginan para pencaripun semakin lama semakin menipis, tetapi pada dua puluh tahun yang lalu itulah mendadak Bu-lim Ku cu atau si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong munculkan diri dengan mengendarai kereta berdarah itu.

Kepandaian silat yang dimiliki Jien Wong ini sebetulnya biasa saja, tetapi ketika dia muncul kembali, kepandaian silat yang dimilikinya sangat tinggi sekali, berturut-turut dia membinasakan ratusan orang jago nomor wahid di dalam Bu- lim. Dimana kereta berdarahnya tiba di sana pasti banjir darah.

Dengan kejadian itu para jago di dalam Bu-lim lainnya segera berkumpul untuk mengerubuti pemilik kereta berdarah itu.

Pertempuran di atas gunung Hoa-san, empat manusia aneh bersatu padu mengerubuti si manusia tunggal dari Bu-lim itu dan akhirnya berhasil juga membinasakan dirinya, tetapi dikarenakan memperebutkan kereta berdarah ini masing- masing pihak lalu terjadi duel yang seru.

Kepandaian silat yang dimiliki manusia-manusia aneh ini masing-masing mempunyai keistimewaan yang tersendiri, sesudah bertempur siang malam sepuluh hari lamanya masih tidak dapat juga menentukan siapa menang siapa kalah.

Pada saat itulah si manusia tunggal dari Bu-lim sadar kembali dari pingsannya, dengan meminjam kesempatan sewaktu mereka berempat pada rebutan dia meloncat naik ke atas kereta dan melarikan diri dari situ.

Waktu itulah empat manusia aneh baru merasa terkejut, walaupun mereka tahu dia pasti binasa tetapi dalam hati mereka pun tak urung merasa murung juga.

Sembilan belas tahun kemudian persoalan kereta berdarah itu sudah dilupakan orang saat ini, cuma ada nama-nama ‘Sian, Khei, Sin, Mo’ saja yang menggetarkan dunia persilatan, siapa sangka kereta berdarah itu ternyata bisa muncul kembali di tempat ini. Pikiran ini dengan cepatnya satu persatu berkelebat di dalam benaknya, ketika dia sadar kembali dari lamunannya Bun Ting-seng sudah menunggang kereta melarikan diri, dia menjadi sangat terkejut baru saja dia bersiap-siap untuk melakukan pengejaran mendadak terlihatlah sesosok bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam, orang itu bukan lain si kakek bongkok.

Waktu itu kereta berdarah sedang beranjak menerjang ke depan sedang si kakek bongkokpun berlari mendatang dari arah depan, bilamana dia tidak cepat-cepat menghindar tentu segera akan terbinasa di bawah injakan kaki kuda itu.

Melihat hal ini Koan Ing menjadi sangat terperanjat, untuk sesaat dia tidak bisa mengurusi kereta berdarah itu lagi, tubuhnya dengan cepat berkelebat mendorong badan si kakek bongkok itu ke samping.

Kereta berdarah dengan amat cepatnya menerjang terus ke depan, cepat-cepat Koan Ing merendahkan badannya.

“Bluuuumm!” dengan menjebol dinding ruangan itu kereta berdarah tersebut melarikan dirinya ke arah depan.

Koan Ing dengan cepat menyambar ke dua belah pedang pendek yang disambitkan Bun Ting-seng ke arahnya tadi, tubuhnya segera berkelebat pula ke depan dengan mengambil jalan dinding yang sudah jebol tadi dia melakukan pengejaran.

Pada saat tubuhnya bergerak itulah terdengar suara ringkikan kuda yang memanjang diikuti dengan suara berputarnya roda-roda kereta menjauhi tempat itu.

Kereta berdarah sudah berlari menjauhi tempat itu, di bawah sorotan sinar rembulan terlihatlah dia seorang diri berdiri termangu-mangu di sana.

Setelah termangu-mangu beberapa waktu lamanya barulah terlihat Koan Ing menyimpan kembali pedang panjangnya dan memungut kedua bilah pedang pendek tersebut. Mendadak.... tampaklah olehnya di bawah sorotan sinar rembulan dari tubuh kedua bilah pedang pendek itu memancarkan sinar hijau yang sangat tajam sekali, di sekeliling tubuh pedang itu melingkarlah sebuah lingkaran garis berwarna merah darah, tidak lain tidak bukan itulah tanda kepercayaan daripada partai Hiat-ho-pay tempo hari.

Dari dalam sakunya dia segera mengambil keluar pedang pendek yang ditemuinya semula, kini terlihatlah tiga bilah pedang pendek dengan bentuk serta besar kecil yang sama berjejer di tangannya.

Seketika itu juga Koan Ing menjadi paham, kiranya Koan Thian Jen ayahnya sudah menemui tanda kepercayaan dari Hiat-ho-pay ini sehingga membuat orang tua merasa tegang, mungkin karena dia memasuki jalan di bawah tanah itulah maka sudah menemui kematian di bawah serangan Bun Ting- seng itu.

Dengan berdiam diri dia termenung berpikir beberapa waktu lamanya, tak terasa lagi air mata menetes keluar dengan derasnya membasahi wajahnya, dalam hati dia  merasa sangat sedih sekali.

Tidak disangka olehnya baru saja dia keluar dari perguruan belum sempat bertemu dengan ayahnya, ternyata dia orang tua sudah dicelakai orang lain.

Tiong-siok dengan perlahan berjalan mendekati diri Koan Ing, dari kelopak matanya air matapun menetes keluar membasahi wajahnya.

“Ing Siauw ya,” ujarnya dengan perlahan, “Kau harus mencari balas atas kematian Loo-ya.”

Mendengar perkataan dari Tiong-siok ini, Koan Ing merasakan hatinya semakin sedih, dengan perlahan-lahan dia memejamkan sepasang matanya. Sesudah berdiam diri beberapa waktu lamanya dia baru berkata, “Tiong-siok, aku pasti akan membalas atas kematian Tia, sesudah kita mengubur jenazah ayah, aku akan segera berangkat cari musuh besarku, tidak perduli dia lari ke ujung langitpun, aku pasti akan mengejar dan mendapatkan si pembunuh yang melarikan diri menunggang kereta berdarah itu.”

Dengan perlahan-lahan dia memutar tubuhnya, mendadak dia berdiri tertegun tampaklah olehnya di atas tanah menggeletak sebilah pedang pendek beserta sarungnya, dengan termangu-mangu dan hati penuh tanda tanya dia berjalan mendekati kemudian memungutnya.

Ooo)*(ooO

Bab 2

KETIKA Koan Ing memungut pedang pendek itu terasalah olehnya kalau pedang itu sangat berat, dengan meminjam sorotan sinar rembulan dia memeriksa lebih teliti lagi, tampaklah olehnya sarung pedang pendek itu terbuat dari emas yang memancarkan sinar terang. 

Dengan perlahan-lahan dia mencabut keluar pedang itu, terlihatlah seluruh tubuh daripada pedang itu memancarkan hawa dingin yang berwarna merah darah, jelas sekali pedang itu merupakan sebilah pedang yang sangat berharga sekali.

Koan Ing sekali lagi terjerumus di dalam keadaan termangu-mangu, bukankah ini yang di sebut sebagai “pedang sakti darah mengalir”?

Tidak salah, pedang ini bukan lain adalah benda kepercayaan dari ciangbunjin partai Hiat-ho-pay, ini hari tidak disangka bisa terjatuh di tangannya.

Dengan perlahan-lahan dia memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya kemudian menyimpannya di dalam saku, sesudah termenung beberapa waktu lamanya dia angkat kepalanya dan menghela napas panjang.

Dalam hati dia bersumpah pasti akan mengejar kereta berdarah itu, dia harus membalaskan sakit hati ayahnya, teringat akan ayahnya tak tertahan lagi air mata menetes keluar dengan derasnya.

Sang surya memancarkan sinarnya jauh di tengah udara, angin musim rontok bertiup dengan santarnya membuat awan yang menipis pada melayang menjauh. Kota Kang Cho merupakan pemandangan yang paling indah di daerah Kang Lam.

Pemuda dengan potongan badan tegak, pakaian berkabung, berpedang dan menunggang seekor kuda jempolan dengan perlahan menjalankan kudanya memasuki kota, dari sinar matanya jelas memperlihatkan dia sangat lelah, pemuda itu bukan lain adalah Koan Ing yang sedang melakukan pengejaran terhadap jejak kereta berdarah.

Dia sudah melakukan pengejaran selama sepuluh hari lamanya, selama ini dia cuma tahu arah dimana kereta berdarah itu melarikan diri, di sepanjang jalan yang dilaluinya, tampaklah olehnya mayat-mayat para jago-jago Bu-lim menggeletak di atas tanah, dia tahu itu pasti perbuatan dari si kereta berdarah itu. Dengan cepat Koan Ing melarikan kudanya ke dalam kota.

Baru saja dia berjalan melalui pintu kota tampaklah olehnya seorang pemuda dengan dandanan pelayan berlari mendatang.

“Kongcu kau mau cari penginapan?” tanyanya kepada diri Koan Ing. “Penginapan Lay Hong kami mempunyai pelayanan yang paling bagus.”

Koan Ing yang sudah melakukan perjalanan selama beberapa hari lamanya kinipun merasa badannya sedikit lelah, dia segera mengangguk kemudian mengikuti pelayan itu berjalan masuk ke dalam, sesudah berbelok satu lorong sampailah mereka di depan pintu rumah penginapan Lay Hong tersebut.

Di depan rumah penginapan itu sudah terlihatlah berpuluh- puluh orang dengan dandanan pakaian lebar berwarna putih, melihat hal ini tak terasa lagi Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia merasa sangat heran sekali atas keadaan di sana, buat apa orang-orang dengan dandanan yang sama itu berkumpul di sana?

Ketika teringat kalau urusan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya diapun tidak mau ambil perduli lagi, setelah turun dari kuda tunggangannya dia berjalan masuk ke dalam rumah penginapan itu, Keadaan di dalam rumah penginapan itu diatur sangat rapi sekali, begitu masuk dia sudah berada di sebuah ruangan yang amat besar, di belakang ruangan besar itu berderetlah dua buah bangunan rumah.

Koan Ing segera berjalan masuk ke dalam ruangan tengah, terlihatlah di tengah ruangan kini sudah bertambah lagi dengan seorang pemuda dengan berpakaian baju berwarna hijau, alis pemuda itu hitam pekat wajahnya penuh senyuman, jika dilihat dari dandanan serta sikapnya jelas dia merupakan anak seorang hartawan.

Dengan seenaknya saja Koan Ing melirik sekejap ke arahnya, dalam hati dia benar-benar merasa sangat heran, pikirnya dalam hatinya.

Di depan sana banyak kelihatan orang yang sedang melakukan jual beli, kenapa sesudah masuk ke dalam rumah penginapan ini seorang pun tidak tampak?

Sedang dia memikirkan urusan ini, pemuda berbaju hijau itu dengan langkah perlahan sudah berjalan mendekat, ujarnya sambil tersenyum. “Tolong tanya apakah saudara mau memberitahukan nama saudara?”

Koan Ing menjadi melengak. “Siauwte bernama Koan Ing, entah saudara punya urusan apa?”

pemuda tampan itu sekali lagi memperlihatkan senyuman manisnya.

“Bukankah saudara putra dari Siang Kiang Thayhiap? Dan baru saja datang dari rumah?”

Mendengar perkataan itu Koan Ing merasa sangat terperanjat, pikirnya, “Entah dari mana asalnya orang ini, dia tahu aku berasal dari daerah Siang Kiang tentu tahu juga tentang diriku, kelihatannya dia mengandung sesuatu maksud terhadap diriku.”

Dengan perlahan dia angkat kepalanya memperhatikan sekejap ke arah pemuda tampan itu, tampaklah sepasang matanya yang jeli menarik dengan kulit berwarna putih salju. persis mirip seorang gadis, dia benar-benar tertegun oleh keadaan itu. “Aku memang berasal dari daerah Siang Kiang.” sahutnya.

Ketika pemuda tampan itu melihat sinar mata dari Koan Ing dengan amat tajamnya memperhatikan dirinya terus menerus, sepasang matanya segera berkedip agaknya dia berusaha mau menghindar, alisnya segera dikerutkan dalam-dalam sambil balas melototi diri Koan Ing ujarnya.

“Lalu peristiwa kereta berdarahpun tentu kau tahu bukan?” “Kereta berdarah?” seru Koan Ing tertegun.

Dia sama sekali tidak menduga peristiwa munculnya kereta berdarah sudah tersebar luas di dalam Bu-lim, di dalam hati dia masih mengira orang yang mengetahui peristiwa Kereta berdarah ini cuma beberapa orang saja, sungguh tidak terkira orang inipun mencari dirinya karena soal ini.

Pemuda tampan itu sewaktu melihat Koan Ing tidak menjawab, dalam anggapannya Koan Ing mau berpura-pura, dengan perasaan tidak senang dia mendengus. “Kereta berdarah sudah muncul kembali di dalam Bu-lim bahkan sudah membinasakan tiga belas jago nomor wahid dari Bu-lim,” ujarnya sembari tertawa dingin. “Bukan begitu saja, bahkan setiap orang Bu-lim yang ditemuinya tentu dibinasakan, munculnya kereta berdarah kini sudah diketahui oleh para jago di dalam Bu-lim, bukankah kau sudah menguntit kereta berdarah itu sejak dia munculkan dirinya untuk pertama kali?”

Koan Ing yang mendengar pemuda ini berbicara tak henti- hentinya dia cuma mengangguk sambil tertawa.

Tetapi mendadak pemuda tampan itu berdiri melengak, sama sekali tidak terduga olehnya Koan Ing bisa mengaku begitu cepatnya.

“Lalu kereta berdarah itu sekarang berada dimana?” tanyanya dengan cepat.

“Bilamana aku tahu sekarang tidak akan berdiri mematung di tempat ini,” sahut Koan Ing sambil tertawa.

Pemuda tampan itu benar-benar terdesak oleh kata-kata dari Koan Ing ini, air mukanya berubah sangat hebat, bentaknya dengan amat gusar, “Kau tidak ingin bicara?”

Alis yang dikerutkan Koan Ing pun semakin kencang, dia merasa jengkel sekali melihat silat orang itu begitu buruknya.

“Kalau tidak mau berbicara lalu bagaimana?” serunya sambil tertawa gusar.

Air muka pemuda itu segera berubah sangat hebat, dengan pandangan yang amat gusar dia pandangi diri Koan Ing.

“Hmmm, jangan menyesal kau!” ancamnya.

Begitu dia selesai berbicara tampaklah dari luar pintu berjalan masuk seseorang sambil berkata, “Siauw Touw-cu, buat apa marah-marah dengan orang ini, biarlah aku beri sedikit hajaran kepada orang ini.” Dengan perlahan-lahan Koan Ing balik badannya, tampaklah di depan pintu rumah penginapan itu sudah bertambah lagi dengan seorang lelaki berusia pertengahan dengan memakai baju berwarna putih, wajahnya lebar telinganya besar, sikapnya gagah sekali.

Diam-diam dalam hati dia merasa sangat terperanjat, “Siauw Touw-cu? Entah pemuda ini berasal dari perkumpulan apa? Kini dirinya betul-betul sudah tersangkut dalam satu peristiwa dengan perkumpulannya. walaupun dia tidak takut segala sesuatu, tetapi dendam sakit hati ayahnya belum dibalas, dirinya mana boleh membuang waktu dengan percuma?”

pemuda tampan itu sekali lagi mendengus, dia mundur satu langkah ke belakang tanpa mengucapkan sesuatu, agaknya dia sudah memberi ijin kepada orang itu untuk turun tangan. Tampaklah orang berusia pertengahan itu melemparkan satu senyuman ke arah Koan Ing. 

“Koan Siauw-hiap” ujarnya. “Tahukah kamu orang  yang ada di hadapanmu sekarang adalah Siauw Touw-cu dari perkumpulan Tiang-gong-pang? cepat kau minta maaf kepadanya, kemungkinan sekali melihat kesopanan dirimu, dia orang mau melepaskan dirimu satu kali ini.”

Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa sangat terperanjat, “Tiang-gong-pang? Siauw Touw-cu dari Tiang-gong-pang? Bukankah dia adalah putra dari si Tiang Gong Sin-cie atau si jari sakti dari Tiang Gong, Sang Su-im dari “Sian, Khei, Sin Mo”- empat manusia aneh? Dia sama sekali tidak menduga kalau dirinya sudah bentrok dengan seorang manusia yang paling sukar untuk dihadapi.

Ketika pemuda tampan itu mendengar si lelaki berusia pertengahan itu meminta Koan Ing untuk meminta maaf kepadanya, dia menjadi amat gusar. “Hoo Lieh!” teriaknya keras. “Jika kamu orang tidak suka bertempur dengan dia, biarlah aku sendiri saja yang turun tangan.”

Koan Ing menjadi melengak, kiranya orang lelaki berusia pertengahan ini bukan lain adalah TanJiang KuayJien atau si tombak sakti Hoo Lieh, segera dia tertawa.

“Terima kasih atas kebaikan dari Ho Thayhiap, tetapi aku tidak salah, aku tidak akan meminta maaf kepadanya.”

Ketika Hoo Lieh melihat sikap Koan Ing tetap tenang- tenang saja tanpa berubah sedikitpun juga dia menjadi tertegun, pikirnya, “Pemuda ini sungguh mirip harimau yang baru saja turun dari gunung, bagaimana dia tidak takut dengan nama besar dari si jari sakti Sang Su-im?”

Di dalam hati sebetulnya pemuda tampan itu merasa tidak senang karena si Hoo Lieh sudah laporkan namanya, dalam anggapannya setelah Koan Ing mendengar namanya ini dia tentu minta ampun kepada dirinya tetapi tidak disangka olehnya dia sama sekali tidak menjadi jeri.

Dia menjadi amat gusar sekali.

“Bagus sekali!” teriaknya keras. “Nyalimu sungguh tidak kecil, aku sama sekali tidak menduga kamu orang mempunyai nyali yang demikian besarnya.”

Hoo Lieh tahu dengan jelas bagaimana sifat Siauw Touw- cunya ini, di dalam hatinya diam-diam dia mau memuji atas semangat yang tinggi dari Koan Ing, karena takut bilamana Siauw Touw-cunya turun tangan sendiri sehingga membuat Koan Ing celaka dengan gugup serunya, “Siauw Touw-cu tahan dulu, biar aku saja yang turun tangan memberi sedikit pelajaran kepadanya.”

Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak ke depan, telapak tangannya dengan melancarkan satu serangan dahsyat menghajar pundak kanan Koan Ing. Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, walaupun di dalam hatinya dia merasa sangat berterima kasih sekali atas maksud baik dari Hoo Lieh to tapi di dalam permainan kali ini dia sama sekali tidak mau mengalah barang satu tindakpun, karena di dalam kedua buah urusan ini sama sekali tidak mempunyai sangkut pautnya.

Tangan kanannya dengan cepat berputar satu lingkaran ke depan, jari tengah maupun jari telunjuknya dikencangkan setelah berputar setengah lingkaran di tengah udara dengan kecepatan yang luar biasa dia menggencet pergelangan tangan dari Hoo Lieh.

Dalam hati Hoo Lieh menjadi sangat terperanjat sekali datangnya serangan ini, ketika dia melihat tangan kanan dari Koan Ing menggencet pergelangan tangannya dia tahu jika tidak cepat-cepat menarik serangannya maka dia akan menemui bencana, tetapi terhadap cara menyerang yang digunakan Koan Ing baru-baru ini dia sudah pernah mendengarnya.

Tangan kanannya dengan cepat ditarik ke belakang, saat itulah Koan Ing sudah mendengus dengan amat dinginnya, tangan kanannya sedikit merendah dari serangan jari diubah menjadi serangan mencengkeram, lima jarinya dengan sangat dahsyat sekali mencengkeram pergelangan tangan Hoo Lieh.

Ketika Hoo Lieh melihat cengkeraman dari Koan Ing ini dilakukan amat cepat dan tepat bahkan lima jarinya laksana mega yang menutupi langit hatinya terasa berdesir, untuk sesaat dia benar-benar dibuat bingung oleh keadaan, dengan tergesa-gesa tubuhnya bergerak mundur ke belakang.

Baru saja Hoo Lieh mengundurkan dirinya terdengar si pemuda tampan yang menonton jalannya pertempuran di samping sudah memperdengarkan suara dengusannya yang sangat dingin. “Berhenti.” teriaknya. Sebetulnya di dalam hati Koan Ing dia tidak ingin berbuat sesuatu terhadap diri Hoo Lieh, kini mendengar si pemuda tampan itu berteriak untuk menghentikan pertempuran itu cepat-cepat tubuhnya meloncat ke samping, dengan pandangan yang amat dingin dia melototi diri pemuda tampan itu.

“Tidak kusangka sama sekali setelah si pendekar pedang aneh Thian-yu Lhei Kiam bersembunyi sepuluh tahun lamanya ternyata berhasil memperoleh seorang murid semacam kau!” seru pemuda tampan itu sambil mengerutkan keningnya.

Koan Ing cuma tertawa tawar saja, ketika dia mendengar si pemuda tampan itu sudah salah menganggap dirinya sebagai anak muridnya Kong Bun-yu, di dalam keadaan semacam ini dia tidak mau membantah suatu senyuman manis segera menghiasi bibirnya kembali.

Setelah Hoo Lieh mendengar perkataan dari pemuda tampan itu, melihat juga sikap dari Koan Ing yang tidak bermaksud membantah segera sudah menganggap dia benar- benar anak murid dari Kong Bun-yu, dalam hati kecilnya diam- diam dia merasa sangat terperanjat, si pendekar pedang aneh bukanlah seorang yang mudah diganggu, kini mereka mencari gara-gara dengan diri Koan Ing bilamana nanti Kong Bun-yu ikut unjukkan diri, mereka harus berbuat bagaimana untuk menghadapi dia orang?

Si pemuda tampan yang melihat Koan Ing cuma tertawa tawar saja tanpa berbicara sudah menganggap dia tidak pandang sebelah matapun terhadap dirinya, hawa amarah yang membakar di dalam hatinya semakin berkobar. Terdengar dia tertawa dingin tak henti-hentinya.

“Hmmm, kau kira kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini sudah sangat tinggi sekali? Hee.... hee.... jangan mimpi dulu di siang hari bolong, kau kira sesudah menjadi anak muridnya si pendekar pedang aneh Kong Bun-yu lalu tidak ada orang yang berani mengganggu kamu orang? Ini hari aku sudah ambil keputusan pasti akan menahan kamu di sini.

Koan Ing yang melihat kesalahpahaman pemuda itu terhadap dirinya semakin lama semakin mendalam, dia mengerutkan alisnya tetapi tetap membungkam di dalam seribu bahasa.

Mendadak.... dengan kecepatan yang luar biasa pemuda tampan itu menggerakkan badannya melayang ke depan diri Koan Ing.

Koan Ing yang melihat kecepatan gerak dari pemuda tampan ini jauh berada di luar dugaannya, dalam hati benar- benar merasa sangat terkejut, tangan kirinya dengan tergesa- gesa diangkat sedang tangan kanannya setelah berputar satu lingkaran ke depan menyambut datangnya serangan dari pemuda itu.

Tangan kanan si pemuda dengan cepat diulur ke depan, diantara lima jarinya yang runcing dan sangat tajam itu, jari tengah serta jari telunjuknya di kencangkan kemudian dengan cepat menyambar mengancam jalan darah Cie Tie Hiat pada diri Koan Ing.

Koan Ing yang melihat kecepatan gerak dari si pemuda luar biasa ditambah ketepatan menotok jalan darahnya dalam hati terasa bergidik. tidak malu dia sebagai putra dari si jari sakti yang punya nama besar di dalam dunia persilatan.

Dalam hati dia tahu dirinya bukanlah tandingannya, lima jari tangan kanannya segera dipentangkan lebar-lebar, gayanya seperti sedang menyambut datangnya serangan, seperti juga sedang menarik kembali serangannya, inilah yang dinamakan Thiao Hong pian Huan atau pelangi langit berubah- ubah daripada ilmu Mo Thian-yu Cap jie Si.

Jurus serangan ini boleh dikata merupakan suatu jurus serangan sungguh-sungguh boleh juga merupakan sebuah jurus serangan yang kosong, dapat ditarik dapat juga diserang sesuka hatinya, terhadap penjagaan tubuh boleh dikata rapat sekali sehingga air hujan pun sukar tembus.

Agaknya si pemuda tampan itupun pernah mendengar kehebatan dari ilmu telapak Thian-yu Ciang Hoat ini, sekalipun belum pernah bertemu secara langsung tetapi terhadap jurus serangan yang digunakan Koan Ing dia tidak berani menerimanya dengan gegabah.

Lima jarinya dengan perlahan ditarik kembali, tubuhnya dengan cepat berkelebat ke samping tubuh Koan Ing kemudian berjumpalitan di tengah udara.

Melihat gaya serangan dari pemuda itu, Koan Ing untuk sesaat dibuat bingung juga, tubuhnya dengan cepat berkelebat ke samping sepasang telapaknya dengan menggunakan jurus Seng Gwat Ceng Hwee atau bintang bulan berebut pamor melancarkan serangan dahsyat ke depan.

Baru saja Koan Ing melancarkan serangannya sampai di tengah jalan mendadak pemuda tampan yang tubuhnya masih ada di tengah udara itu membentak.

Mendadak tangannya dibalik melancarkan tujuh kali totokan, dimana serangan itu lewat segera terdengarlah suara gesekan yang amat membisingkan telinga.

Koan Ing menjadi sangat terkejut, walaupun dia pernah mendengar nama besar dari si Tiang Gong Sin-cie atau si jari sakti Sang Su-im, tetapi selamanya belum pernah mengetahui kalau ilmunya Leng Gong Chiet Cie atau ilmu tujuh jari menembus awan bisa begitu dahsyatnya, di dalam keadaan yang amat terkejut terasalah angin serangan itu sudah mendekati badannya.

Angin serangan itu sama sekali tidak memberikan sedikit tempat kosongpun buat dirinya untuk menghindarkan diri, terasa segulung demi segulung angin serangan menghajar setiap jalan darahnya, tubuhnya tergetar dengan amat keras, untuk menghindar tidak sempat lagi jalan darah 'Cie Ti', 'Sauw Hu', serta 'Cian Cing', tiga jalan darah besar sudah tertotok, tak tertahan lagi tubuhnya roboh ke atas tanah dengan menimbulkan suara yang amat keras.

Setelah pemuda tampan itu berhasil menotok rubuh Koan Ing, air mukanya kelihatan sudah berubah menjadi merah darah, dengusnya dengan dingin.

“Hmm, ilmu sakti Thian-yu Khei Kang tidak disangka cuma begitu saja.”

Sekalipun kini Koan Ing sudah dikuasai oleh pihak musuh tetapi dalam hati merasa sangat gusar bercampur malu, dia mengira dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini sudah lebih dari cukup untuk mengangkat nama di dalam dunia persilatan, siapa sangka ini hari dia harus jatuh kecundang ditangan seorang gadis yang sedang menyamar sebagai seorang putra, jika begitu saja tidak sanggup lalu kapan dia baru bisa membalas sakit hati ayahnya?

Dia memejamkan sepasang matanya erat-erat, sepatah katapun tidak diucapkan.

“Sungguh keras sekali hatinya,” terdengar si pemuda tampan itu mendengus lagi dengan amat dinginnya. “Cepat gotong dia ke dalam!”

Koan Ing tetap memejamkan sepasang matanya tanpa mengucapkan separah kata pun, terasalah dua orang segera menggotong badannya masuk ke ruangan belakang.

Tetapi.... baru saja badannya diangkat mendadak dari badannya terjatuh suatu benda.

“Criiiing. !” dengan cepat pemuda itu memungutnya.

“Pedang sakti Hiat Ho Sin pin!” teriak pemuda itu tertahan.

Tetapi sebentar kemudian dia sudah mendengus kembali dengan dinginnya, sambil mengembalikan pedang dia ke dalam tubuhnya, dia berkata, “Kiranya kau adalah ciangbunjin dari Hiat-ho-pay, sungguh maaf, sungguh maaf ”

Diam-diam dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat, kini pedang sakti Hiat Ho Sin pin sudah muncul, keadaan dirinya akan semakin merepotkan.

Baru saja dia digotong sampai di ruangan belakang, mendadak terdengar suara hiruk-pikuk bergema di luar ruangan hatinya jadi merasa sangat heran.

Bagaimanapun juga dia masih mempunyai sifat kanak- kanak, diam-diam matanya dipentangkan kembali, terlihatlah si pemuda tampan itu dengan sepasang matanya yang melotot lebar-lebar sedang memandang dengan gusarnya ke arah jendela luar.

Ketika Koan Ing memandang keluar kembali, terlihatlah saat itu tubuh si pemuda tampan dengan kecepatan yang luar biasa sudah berkelebat keluar ruangan.

Dari luar rumah penginapan itu muncullah seorang pemuda berusia dua puluh lima enam tahunan, seluruh tubuhnya memakai baju berwarna putih salju sedang pada ujung bibirnya tersungginglah suatu senyuman yang sangat congkak sekali.

Hoo Lieh pun dengan tergesa-gesa mengikuti diri pemuda itu berjalan keluar dari ruangan dalam, diam-diam Koan Ing mulai mengintip dari balik pintu belakang sedang dalam hati diam-diam pikirnya, “Ehmm.... siapakah sebetulnya pemuda berbaju putih itu?”

Ketika pemuda berbaju putih itu melihat munculnya Hoo Lieh serta pemuda tampan di hadapannya segera tertawa terbahak-bahak. “Dimana Siauw Touw-cu kalian?” tanyanya keras-keras. “Akulah, siapakah kamu orang?” teriak pemuda tampan itu dengan amat gusar, sedang suara dengusan yang amat dingin bergema terus dari hidungnya.

“Heee.... hee.... ” Terdengar si pemuda berbaju putih itu tertawa ringan, sedang sepasang matanya dengan amat tajam memperhatikan seluruh tubuh pemuda itu dari atas kepala hingga ke ujung kakinya. “Aku dengar si jari sakti Sang Loo pak punya seorang puteri yang sangat cantik sekali, ini hari aku bertemu sendiri tidak terkira begitu tampan kiranya, aku kira kamu orang tentunya Siauw-tan moa y bukan?”

Saking Kekhienya seluruh air muka Sang Siauw-tan sudah berubah menjadi merah padam, untuk sesaat tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar....

“Saudara sebenarnya siapa?” tanya Hoo Lieh yang ada di samping dengan cepat. “Kalau sudah tahu nama dari Siauw Touw-cu kami kenapa tidak lekas-lekas menghindar?”

“Ha.... haaa.... haaa.... cayhe adalah Ciu Pak, tentunya kalian sudah pernah mendengar namaku bukan?”

Dalam hati Hoo Lieh merasakan perasaannya berdesir, dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda berbaju putih yang ada di hadapan ini ternyata adalah bukan lain putra dari Chiat Hay Mo Su atau si iblis sakti dari luar lautan Ciu Tong, si Bo Cing Kongcu atau si sastrawan tak berbudi Ciu Pak.

Menurut berita yang tersiar di dalam Bu-lim katanya kepandaian silat orang ini jauh berada di atas kepandaian silat suhengnya si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng, entah karena persoalan apa ini hari dia bisa munculkan diri di hadapan mereka?

“Hmmm. Kiranya anak anjing dari iblis luar lautan!” seru Sang Siauw-tan sambil mendengus dingin, “Aku harus menjajal-jajal juga kepandaian silat Khi Bun Mo Kang dari kalian!” Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak, tangan kanannya dibabat ke depan menotok jalan darah Cie Bun Thoy Hiat pada dada sebelah kanan dari Ciu Pak.

Ciu Pak segera tertawa terbahak-bahak.

“Siauw-tan moay-moay, Walaupun kita bertemu baru untuk pertama kalinya tetapi sejak dahulu aku sudah ingin sekali bertemu dengan kamu orang, ada perkataan lebih baik kita bicarakan secara baik-baik saja buat apa turun tangan main kepalan?”

Walaupun pada mulutnya dia berbicara demikian tetapi gerakan tangannya sedikitpun tidak kendor, tubuhnya miring ke samping dengan gaya yang amat manis berhasil menghindarkan diri dari totokan jari Sang Siauw-tan ini.

Koan Ing yang mengintip dari belakang jendela, ketika melihat gerakan dari Ciu Pak di dalam hati diam-diam ikut merasa kuatir atas keselamatan dari Sang Siauw-tan, kelihatan sekali orang yang bernama Ciu Pak ini jadi orang kurang jujur dan berhati licik, sedangkan kepandaian silat yang dimilikipun sangat tinggi sekali, dia merupakan seorang manusia yang sangat berbahaya sekali.

Sang Siauw-tan ketika melihat serangannya mencapai pada sasaran yang kosong mendengar pula perkataan dari Ciu Pak begitu tidak memandang sebelah matapun kepada dirinya dalam hati betul-betul merasa sangat jengkel, tubuhnya dengan cepat mencelat ke atas kemudian melayang di tengah udara.

pertemuan puncak para jago di gunung Hoa-san tempo hari, walaupun Ciu Tong memiliki ilmu aneh Hu Si Kang atau ilmu mayat membusuk tetapi terhadap ilmu jari Han Yang Cie dia paling takut cukup satu kali totokan saja segera akan memecahkan seluruh tenaga dalam yang dilatihnya.

Berpikir sampai di sini tubuhnya yang ada di tengah udara segera membalik kearah yang berlawanan, berturut-turut dia melancarkan tujuh kali serangan totokan yang amat dahsyat, tampaklah tujuh gulung angin pukulan yang amat santar dengan amat cepatnya meluncur mengancam tujuh jalan darah penting pada tubuh Ciu Pak.

Dalam hati Sang Siauw-tan sekarang ini sedang merasa gemas atas kekotoran perkataan dari Ciu Pak ini, karenanya baru saja mulai bergebrak dia sudah menggunakan ilmu jari Tiang Gong Chiet Cie andalan ayahnya.

Tubuhnya dengan cepat melayang ke depan mendesak terus ke arahnya, tetapi Ciu Pak cuma tertawa terbahak- bahak, sinar matanya yang amat tajam berkelebat beberapa kali, mendadak tubuhnyapun ikut melayang ke tengah udara mengejar dari belakang tubuh Sang Siauw-tan.

Melihat gerak-geriknya itu Sang Siauw-tan menjadi amat gusar, diam-diam makinya, “Hmmm, omonganmu sedikitpun tidak bersih, aku harus memberi sedikit pelajaran kepada kamu orang.”

Suara angin serangan yang menembus udara meluncur ke depan membuat orang yang melihat benar-benar merasa sangat terperanjat.

pada tempo hari Ciu Tong pernah merasakan kerugian di tangan Sang Su-im, sudah tentu Ciu Pak pun tahu bagaimana lihaynya ilmu jari Han Yang Cie yang dimiliki Sang Siauw-tan ini, ketika dilihatnya tujuh serangan bersama-sama mengancam seluruh tubuhnya dia tertawa terbahak-bahak, tubuhnya sedikit miring ke samping, dengan sengaja dia membiarkan ke tujuh buah serangan itu menghajar separuh badannya yang ada di sebelah kirinya.

Dengan amat dahsyatnya ke tujuh buah serangan itu dengan tepat menghajar badannya, terdengar dia mendengus dengan amat beratnya, air mukanya berubah sangat hebat.... mendadak tubuhnya dengan dahsyatnya menubruk ke arah diri Sang Siauw-tan.

Sang Siauw-tan baru saja menggunakan seluruh tenaga yang ada untuk melancarkan tujuh totokan itu, ketika dilihatnya Ciu Pak sama sekali tidak menghindar dalam hati merasa sangat girang sekali, kini secara tiba-tiba dia melihat tubuh Ciu Pak bukannya rubuh bahkan menubruk ke arahnya, dia menjadi sangat terperanjat.

Sewaktu menghadapi Koan Ing tadi dia hanya menggunakan ilmu jari yang biasa saja tetapi sudah terasa amat ngotot, apa lagi kini dia harus menggunakan ilmu jari Han Yang Cie yang sudah terkenal di dalam Bu-lim, terasa olehnya tenaga dalamnya berkurang.

Kini melihat Ciu Pak mendesak terus ke arah dirinya, di dalam keadaan yang amat terdesak dia melancarkan satu pukulan dahsyat ke arahnya.

Ciu Pak tertawa terbahak bahak, dalam sekejap saja dia sudah berhasil menawan diri Sang Siauw-tan.

Hoo Lieh sama sekali tidak menduga keadaan di dalam kalangan pertempuran bisa berubah sampai sedemikian rupa, baru saja dia bermaksud untuk maju ke depan saat itulah Sang Siauw-tan sudah berhasil dikuasai oleh pihak musuh.

Dengan cepat Ciu Pak merangkul tubuh Sang Siauw-tan ke dalam pelukannya.

“Aku kira kalian tidak akan maju untuk merebut orang bukan?” tegurnya sambil menoleh ke arah Hoo Lieh sekalian.

Tempo hari sesudah Ciu Tong mendapatkan kerugian dari Sang Su-im di atas gunung Hoa-san dengan segera dia pulang ke pulau Ciat Ie To untuk memikirkan cara pemecahan ilmu tersebut akhirnya dia berhasil menciptakan sebuah ilmu aneh, dia mengalirkan seluruh darahnya pada separuh badannya sehingga membuat separuh badan yang sebelah menjadi kaku laksana kayu lapuki sekalipun terkena serangan yang bagaimana dahsyatpun saat itu tidak akan terasa lagi.

Setelah Ciu Pak mengumpulkan hawa murninya pada separuh badannya sekalipun dia tidak sampai rubuh oleh tujuh totokan sekaligus dari Sang Siauw-tan tadi tetapi dia merasakan juga badannya menjadi kaku, untung saja tidak sampai rubuh sehingga bisa menubruk kembali ke depan.

Setelah pertempuran di atas gunung Hoa-san tempo hari, sekalipun akhirnya si manusia tunggal di dalam Bu-lim melarikan diri dengan menunggang Kereta berdarah tetapi di dalam hati mereka berempat masing-masing merasa tidak puas lalu sudah memutuskan untuk mengadakan pertemuan kembali dua puluh tahun kemudian.

Saat itulah Sang Siauw-tan sudah kehabisan tenaga, untuk melawanpun tidak ada gunanya lagi.

Hoo Lieh tahu Ciu Pak yang disebut sebagai Bo Cing Kongcu atau si kongcu tak berbudi sudah tentu sifatnya sangat kejam sekali, cukup dilihat dari serangannya baru-baru ini saja sudah jelas tertera kalau hatinya amat kejam sedang serangannya pun sangat ganas. Segera dia tertawa dingin.

“Tentunya Ciu Kongcu masih ingat dengan pangcu perkumpulan kami bukan?”

“Haa.... haa ha.... haa.... waktu dua puluh tahun sudah hampir tiba, ayahku saat ini sedang melatih silatnya mencapai pada waktu yang terpenting, sudah tentu pamanpun demikian pula bukan?”

Hoo Lieh yang sedang omong kosong tetapi terbongkar oleh diri Ciu Pak untuk sesaat lamanya tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun, sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya barulah dia berkata kembali, “Entah apa maksud tujuan kedatangan Ciu Kongcu kali ini?” Ciu Pak tertawa, sesudah melihat sekejap ke arah Sang Siauw-tan yang berada di dalam pelukannya dia berkata, “Padahal jelasnya tidak ada urusan, sejak tadi aku sudah bilang sama kalian. baiknya kita berunding saja, asalkan kalian mau menyerahkan sang pemuda yang sedang melakukan pengajaran terhadap Kereta berdarah itu, segera akan menyudahi urusan ini.”

Hoo Lieh menjadi melengak, pikirnya, “Ooooh.... kiranya Si Bo Cing Kongcu Ciu Pak inipun sedang mencari diri Koan Ing.”

“Bagaimana?” tanya Ciu Pak sembari tertawa dingin. “Jangan coba menipu aku yaaah, aku tahu kalian sudah berhasil menipu dia kemari, sudah tentu dia tidak akan lolos dari tangan kalian, ayoh cepat serahkan padaku!”