Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 23

 
Jilid 23

It-hu Taysu melengak, sebagai seorang pendeta agung dia tak ingin membawa pihak Siau-lim-si terlibat dalam pertikaian dunia persilatan, tak disangka orang lain justeru mencarinya.

"Omitohud!" ujarnya memuji keagungan sang Budha, "harap Sicu tanggu sebentar, segera kudatang!" Dengan wajah kereng dia mengebaskan lengan jubahnya, kemudian dengan enteng melayang ke depan,

"Hati-hati Taysu!" Coan-sin-loni memberi peringatan, "Iblis itu tak boleh dipandang enteng!"

Perlu diketahui, hubungan Coan-sin-loni dan It-hu Taysu boleh dibilang sangat akrab, orang persilatan juga tahu pada waktu muda mereka dulu adalah sepasang kekasih.

"Terima kasih atas perhatian Toyu" sahut It-hu Taysu sambil berpaling, "bisa kujaga diriku."

Tenaga dalamnya sudah mencapai kesempurnaan, kungfunya juga tinggi, sekali berkelebat ia lantas lenyap ke dalam hutan.

Suasana dalam hutan sunyi sepi tak terdengar sedikit suara pun ....

Para jago merasa gelisah dan cemas, lebih-lebih Coan-sin- loni dari Go-bi-pai, ia meragu duduk tak tenang, berdiripun tak enak, hatinya benar-benar sangat gelisah ....

Sekian lama telah lewat pula.

It-hu Taysu tetap belum tampak muncul juga dari hutan, betapa mereka coba memperhatikan suasana di depan sana dengan saksama, namun hutan itu tetap sepi tidak nampak gejala terjadinya pertempuran, kepergian paderi agung itu seakan-akan lenyap dengan bsgitu saja,

Akhirnya Coan-sin-loni tidak sabar lagi, serunya, "Biar kumasuk ke sana untuk menengok keadaannya!"

Sejak puteranya terluka tadi, sesungguhnya Lamkiong Hian sudah berniat masuk ke hutan menemui tokoh aneh itu, ketika dilihatnya Coan-sin-loni isgin melakukan penyelidikan, seketika keberaniannya juga berkobar.

Sambil tertawa katanya, "Aku bersedia untuk menemani Siancu masuk ke dalam hutan!" "Percuma saja kalian berdua masuk ke situ," sela Tiong-ciu- it-kiam dengan dingin, "lebih baik kita bakar saja hutan ini sampai rata dengan tanah!"

Mendadak... It-hu Taysu muncul kembali dari hutan, ia muncul dengan wajah penuh rasa sangsi.

Melihat itu, mencorong sinar mata para jago, beratus pasang mata terentak tertuju ke arah paderi agung itu.

Semula mereka menduga It-hu Taysu pasti mengalami pertempuran sengit, siapa tahu paderi itu tampak aman tenteram dan wajar, sama sekali tidak terlihat adanya tanda- tanda bekas pertempuran,

Coan-sin-loni segera maju sambil menegur, "Taysu, sudahkah kau berjumpa muka dengan orang itu?"

"Belum, cuma aku sudah tahu siapakah dia!"

Semua jago sama memasang telinga, mereka ingin tahu asal-usul tokoh lihai dan misterius itu, terutama sekali Huan- in-kiam Lamkiong Giok, untuk sesaat dia menjadi lupa pada luka yang dideritanya dan bangkit berdiri.

"Taysu, siapakah dia?" tanyanya cepat. "Omintohud, dia adalah Kim-teng Cinjin "

"Haah?!" jeritan kaget bergema di sana sini.

Konon Kim-teng Cinjin adalah seorang iblis yang termashyur namanya pada ratusan tahun berselang, angkatan tua dalam dunia persilatan sekarang kebanyakan tahu kelihaian orang ini. Cuma kebanyakan mereka hanya pernah mendengar tentang kelihaiannya, namun belum pernah berjumpa dengan Kim-teng Cinjin pribadi, sehingga banyak yang mengira cerita tersebut hanya dongeng belaka.

Tapi nyatanya sekarang, seratus tahun kemudian tiba-tiba orang itu muncul di dalam hutan, mungkinkah ia sudah mencapai tingkatan sempurna yang bisa hidup panjang umur tanpa mati?

"Taysu, apakah benar Kim-teng Cinjin?" seru Tiong-ciu-it- kiam dengan perasaan terperanjat.

"Bukan, dia adalah muridnya!" kata It-hu Taysu sembari menggeleng kepala.

Mendadak dari balik hutan berkumandang lagi suara tertawa tak senang hati, lalu seseorang menegur. "Taysu, kenapa tidak kau laksanakan pekerjaan seperti perjanjian!"

Hati It-hu Taysu tergetar, cepat sahutnya, "Aku akan "

Belum habis dia berkata, secepat kilat ia menerjang ke muka.

It-hu Taysu menghampiri Bok Ji-sia yang menggeletak itu, setelah berseru memuji keagungan Buddha, dengan sangat berhati-hati dia memondong tubuh anak muda itu,

"Jangan sentuh dia!" mendadak bentakan nyaring  bergema. Menyusul bayangan orang berkelebat, tahu-tahu di situ sudah bertambah tiga orang nona.

Dengan tenang It-hu Taysu bertanya, "Omitohud!!

Mengapa nona melarang aku menyentuhnya?"

Si nona baju biru yang berada di antara dua orang nona berbaju pulih lainnya segera berkata dengan dingin, "Lukanya amat parah, bila kau sentuh dia, hal mana hanya akan mempercepat kematiannya saja."

Dengan wajah dingin It-hu Taysu berkata, "Orang beragama lebih mengutamakan kebajikan, justeru lantaran gawat keadaannya, aku bermaksud menyerahkan dia kepada seorang Cianpwe untuk mohon pertolongan baginya!"

"Di kolong langit saat ini kecuali aku seorang yang bisa menolong dia, tiada orang kedua yang memiliki ilmu pertabiban selihai ini," bentak si nona berbaju biru itu nyaring "jika Taysu menyerahkan dia kepada seorang bocah yang bernama kosong, bukankah tindakan ini sama halnya dengan mencelakai jiwanya!"

It-hu Taysu agak tertegun, kemudian katanya.

"Kedua tanganku tak pernah berpelepotan darah, tapi keadaan hari ini sangat berlainan, terpaksa akan kulakukan menurut apa adanya,"

Setelah berhenti sebentar, dia berpaling dan membentak lagi, "Kalau nona memiliki ilmu pertabiban yang tinggi, mengapa sejak tadi tidak menolongnya melainkan cuma omong kosong saja?"

"Kau tidak berhak mencampuri urusan nonamu, pula mati- hidupoya tiada sangkut pautnya denganmu!" jawab si nona baju biru dengan dingin.

Pada saat itulah tiba-tiba Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian mendekat sambil berseru, "Taysu, dia adalah pemilik yang sebenarnya atas kitab pusaka Hek-liong-kang!"

Mendengar perkataan itu, hati It-hu Taysu bergetar pula, segera ia merangkap tangannya dan memuji keagungan sang Budha.

"Omiotohud, kalau nona adalah pemilik kitab pusaka itu, apa sebabnya kitab tersebut tidak kau-kawal sendiri pulang ke Hek-liong-kang, sebaliknya menyuruh seerang pemuda yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Hek-liong-kang- pai untuk mencari gara-gara?"

"Ini adalah urusanku sendiri, kau tidak berhak mengetahuinya," jawab nona berbaju biru itu.

Tampaknya It-hu Taysu mulai naik darah, katanya dengan suara lantang, "Jika nona tidak mencegah terjadinya  pertikaian berdarah lagi, terpaksa aku akan bertindak kasar, lagipula orang ini perlu segera ditolong, aku tak mau beradu mulut lebih jauh denganmu!" Setelah berkata, dia lantas mencengkeram tubuh Bok Ji-sia, ia kuatir dihalangi orang, diam-diam dia berjaga dengan ketat.

"Jangan kau sentuh dia!" kembali bentakan nyaring bergema,

Pak Sat melompat maju ke depan, dua pukulan dan tiga tendangan berantai segera dilancarkan.

Karena ancaman tersebut, buru-buru It-hu Taysu menarik kembali tangannya.

Bukannya dia takut balas menyerang, soalnya pendeta agung ini enggan bertarung melawan seorang perempuan.

Lamkiong Hian sendiri pun mulai menyadari persoalan yang dihadapinya hari ini sangat gawat, terutama setelah menyaksikan kemunculan gadis berbaju biru itu, padahal manusia aneh dalam "Hutan Kematian" belum muncul, sekarang iblis perempuan ini telah menyusul tiba.

Satu ingatan jahat lantas terlintas dalam benaknya, segara ia berseru, "Nona, kitab pusaka perguruan kalian sudah terjatuh ke tangan seorang jago sakti yang belum diketahui namanya, sekalipun kami telah berusaha membantu Bok- siauhiap untuk melindungi kitab tersebut, sayang "

Nona berbaju biru itu pura-pura berlagak kaget, teriaknya, "Apa? Siapa yang merampas kitab pusaka perguruan kami?"

"Penguasa Hutan Kematian!" seru Huan-in-kiam Lamkiong Giok sambil menuding ke dalam hutan, saking emosinya dia sampai lupa pada luka yang dideritanya,

Nona berbaju biru itu mendengus, lalu serunya, "Hmm, cuma seorang boeah ingusan saja telah membuat kalian ketakutan setengah mati.".

Begitu perkataan itu diucapkan, seketika para jago melonggong, Sudah sekian lamanya kawanan jago itu berkumpul di situ tanpa berhasil melihat jelas wajah sebetulnya si pengusaha Hutan Kematian, tapi si nona aneh dari Hek-liong-kang ini segara mengetahui orang di dalam hutan itu adalah seorang bocah, mungkinkah perempuan ini pandai meramal?

Mendadak dari dalam Hutan Kematian terdengar seorang berseru, "Budak latah, sungguh sombong! Sudah lama aku ingin berjumpa dengan perempuan paling aneh di dunia, sungguh beruntung kita bersua di sini, mari kita coba-coba bertarung."

"Hmm, kalau begitu keluarlah kemari!" dengus gadis berbaju biru.

Orang di dalam hutan tertawa merdu, sahutnya, "Aku enggan menerima pancinganmu itu, mau bertarung silakan masuk, nonamu tak sudi menurunkan derajat di depan kawanan manusia yang bernama kosong itu1"

Dengan ucapannya itu maka semua jago menjadi turut tersinggung, kontan hawa amarah mereka berkobar sehingga untuk sesaat mereka lupa akan kelihaian orang.

Dengan gusar Tiong ciu-it-kiam berteriak, "Budak hina, kalau punya kepandaian jangan main sembunyi saja. Ayo keluar dan sambutlah tiga kali tusukan pedangku!"

"Hnm. mulut usil, lihat serangan!" suara terbawa ejek menggema dari dalam hutan.

Belum sempat Tiong-ciu-it-kiam bersiap, segulung angin tajam telah menyambar mukanya, dalam kejutnya cepat dia lepaskan pukulan, tapi mukanya gudah keburu sakit, cepat tangannya meraba

Tampak selembar daun sedang bergetar diwajahnya, sebagian daun itu menancap mukanya hingga darah bercucuran, dalam kejutnya ia meraung murka sambil mendepak-depakkan kakinya ke tanah. Walaupun di dunia persilatan terdapat ilmu sakti sejenis "memetik daun melukai orang", tapi ilmu itu tak bermanfaat dalam jarak begini jauh, tapi kenyataannya orang itu sanggup melukai orang dengan sehelai daun, kontan saja para jago terkesiap.

"Apakah kau sedang mendemonsrasikan kelihatanmu di hadapanku!" bentak si nona berbaju biru.

Gelak tertawa merdu menggema dari dalam hutan, "Tidak berani, aku hanya ingin beradu kepandaian denganmu."

Kembali nona berbaju biru itu tertawa dingin, "Jarak kita begini jauh, bagaimana caranya bertanding?"

"Heh, dengan kecerdasanmu, masa tak dapat kau temukan suatu cara yang baik?"

Sekarang nona berbaju biru itu baru merasakan gadis aneh di dalam Hutan Kematian itu benar-benar musuh tangguh yang belum pernah dijumpainya di daerah Tionggoan, baik bicara soal kecerdasan maupun kepandaian silat, tiada satupun yang berada di bawah dirinya.

Maka sambil tertawa katanya "Tampaknya kedudukanmu tidak kecil, silakan menyerang dulu!"

Ketika semua orang mendengar kedua pihak ingin bertarung, serentak mereka mundur ke belakang, namun mereka pun merasa heran tanpa menampakkan dirinya dari hutan, bagaimana caranya bertarung antara kedua orang itu bisa di langsungkan.

"nona," kata Pek Sat sambil melangkah ke depan, "biar aku yang mencobanya lebih dulu!"

Nona berbaju biru itu tertawa ringan, sahutnya, "Kami akan bertanding secara lisan, bukan pertandingan kekerasan,"

Mendadak dari dalam hutan bergema suara tertawa merdu, kemudian orang itu berseru, "Aku akan turun tangan, jurus pertama adalah Pek-sui beng-sim (dengan tulus bersekutu dalam hati)!"

Mendengar nama jurus itu, si nona berbaju biru tertegun, sekalipun ilmu silat di dunia ini bersumber satu, tapi tak ada orang yang mari membuka pertahanannya pada jurus yang pertama sehingga dimanfaatkan lawan, atau mungkin jurus ini hanya merupakan pancingan belaka?

Setelah berpikir sejanak dia berkata, "Nonamu mengutamakan pertahanan dan menggunakan jurus Tin-soan- beng-to (persekutuan sejati secara terang)!"

Tiada jawaban dari dalam hutan, rupanya orang, sedang memikirkan pemecahannya atas jurus lihai itu.

Perlu diketahui, kedua orang ini sama-sama manusia berbakat aneh di dalam dunia persilatan, sekalipun bertanding secara lisan, namun ketegangannya tak kalah daripada pertarungan dengan saling bergebrak.

Dengan kepandaian yang hampir seimbang ini, untuk sesaat tiada yang berbicara, masing-masing hanya memikirkan cara untuk mematahkan serangan berikutnya dari lawan.

Lama kemudian, orang dalam hutan itu baru berkata sambil tertawa merdu, "Bila kugunakan jurus Hui-mi-bu-ciau (air dan buras tiada sangkut-paut) untuk mematahkan jurus Tin-swan- beng-to, kau pasti akan menyerang dengan jurus Hwe-su-gin- hoa (pohon api bunga perak), jika aku berubah dengan gerakan Ing-sui-ji-ciang (memancing air masuk tembok), kau pasti gunakan jurus ampuh Kay-bun-gi-to (membuka pintu menyilakan pencuri) untuk menyerangku, Aih lebih baik aku menyerang dengan jurus Jit-seng-gwat-heng (matahari terbit rembulan muncul) saja!"

Terkesiap si nona berbaju biru itu, dia tidak menyangka pihak lawan memiliki pengetahuan yang begitu luas tantang ilmu silat, belum lagi serangannya dilancarkan, ia sudah menyebutkan nama-nama jurus serangannya lebih dulu, kenyataan ini benar-benar sangat mengejutkan.

Dengan waswas dia lantas berkata. "Nona benar-benar seorang kosen, tak perlu kita bertanding lagi!"

"Kenapa?" tanya orang dalam hutan itu dengan melangak. Nona berbaju biru itu menghela-napas, jawabnya, "Jurus

Jit-seng-goat-heng  tersebut  merupakan  intisari  dalam  kitab

pusaka Kim-teng-pit-kip, meski setiap jurus serangan di dunia ini bisa dipatahkan, hanya jurus Jit-seng-gwat-heng yang belum bisa dipatahkan orang, tentu saja terpaksa aku mengaku kalah saja. Cuma, seandainya kulawan dengan jurus Jit-he-bu-siang (tiada keduanya di bawah sang surya), meski bisa kupertahankan diri, keadaannya tentu mengenaskan sekali, jadi aku tetap kalah setingkat, maka aku menyerah kalah saja."

Kelihaian manusia misterius dalam Hutan Kematian itu selain menggetarkan perasaan si nona berbaju biru yang cerdik, juga mengejutkan semua jago yang hadir.

Sungguhpun mereka merasa diri masing-masing memiliki kemampuan khusus, tapi setelah mengikuti pertarungan lisan yang berlangsung tadi, mereka sadar siapa pun yang turut di dalam pertarungan, ia pasti akan keok secara mengenaskan, sebab tak satu jurus serangan pun yang mampu mereka patahkan.

Setelah menghela napas, gadis misterius itu berkata, "Kepandaian kita hanya bisa dibilang seimbang, bila kita tidak berhadapan sebagai musuh, sungguh aku bersedia mengikat tali persaudaraan denganmu untuk menjagoi dunia persilatan bersama .... Ai, sekarang serahkan Bok Ji-sia yang menggeletak di atas tanah itu kepada It-hu Taysu, aku akan segera mengobati lukanya, kalau tidak dia bisa mati karena pendarahan dalam tubuh." Mendengar nama "Bok Ji-sia", sekujur badan si nona berbaju biru bergetar keras, dia mendongak memandang awan di angkasa, kemudian setelah mengambil keputusan bulat, katanya sambil tertawa dingin, "Tak bisa kupenuhi kehendakmu kecuali. "

"Kecuali bagaimana?" orang misterius itu mendengus.

Nona berbaju biru itu tertawa dingin, "Kecuali kau tampilkan diri dan memperlihatkan wajahmu yang sebenarnya!"

"Kalau aku merasa keberatan!"

"Tentu saja aku punya cara untuk memaksa dirimu!" jawab si nona berbaju biru sambil tertawa dingin.

It-hu Taysu berkerut kening, kemudian ia maju ke depan, katanya, "Omintohud, nona memandang rendah keselamatan jiwa orang lain, maaf kalau aku tak menyetujuinya,"

Nona berbaju biru itu berpaling dan tertawa, katanya, "Seandainya aku yang menderita luka separah ini, dan sekarang ada orang hendak mencelakai jiwaku, apakah Taysu akan menolong jiwaku"

"Seorang yang beragama selalu mengutamakan belas kasihan, untuk menolong tidak dibeda-bedakan orangnya "

Nona berbaju biru itu segera menuding ke atas tanah sambil berkata, "Di sini terdapat orang banyak yang sekarat, bagaimana pula tindakan Taysu?"

It-hu tidak menyangka nona berbaju biru itu akan mengajukan pertanyaan seperti ini, ia tertegun, sampai lama sekali dia tak mampu bicara.

Mendadak dari dalam hutan melayang keluar sebuah benda berwarna, hitam yang langsung meluncur ke arah si nona berbaju biru. Menyusul seorang berkata sambil tertawa dingin, "Aku akan menukar jiwanya dengan kitab pusaka ini, tentunya kau bersedia lepas tangan bukan!"

Dengan cekatan Pek Bi menangkap kitab pusaka Hek-liong- kang itu, sedang nona berbaju biru itu tidak memandang sekejap pun ke arah kitab, seakan-akan kitab itu sama sekali tiada hubungan dengan dirinya.

Tergetar perasaan semua orang menyaksikan kitab pusaka yang diidam-idamkan itu melayang keluar, serentak semua orang memburu ke arah Pek Bi.

Huan-in-kiam Lamkiong Giok melompat maju, serunya, "Nona, sebelum Bok Ji-sia terluka, dia telah menyerahkan kitab itu kepadaku, demi melaksanakan janjiku kepadanya, harap nona menyerahkan kitab itu padaku"

"Yakinkah kau mampu melindungi kitab ini?" tanya si nona berbaju biru.

Lamkiong Hian segera berebut menjawab, "Kiam-hong- ceag kami pasti akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk melindungi kitab ini!"

Nona berbaju biru itu segera memberi tanda, sambil memegang kitab tadi Pek Bi maju sambari bertanya, "Nona ada pesan apa?"

"Serahkan kitab itu kepada Lamkiong Giok, biarkan Bok Ji- sia mengambilnya sendiri nanti!"

Pek Bi mengayunkan tangannya, melemparkan kitab pusaka itu ke tanah

Tentu saja Lamkiong Hian ayah beranak tidak menyangka kitab pusaka itu bisa diperoleh sedemikian gampangnya, mereka tidak tahu bahwa hal ini justeru merupakan siasat busuk si nona berbaju biru yang hampir saja membuat Kiam- hong ceng hancur berantakan. Begitu memperoleh kitab pusaka itu, Lamkiong Giok segera merasakan adanya ancaman yang berat dari musuh-musuh di sekitarnya, andaikata tidak meminta bantuan si nona berbaju biru niscaya sulit baginya untuk mundur dari situ dengan aman.

Tampaknya nona berbaju biru itu dapat menebak isi hatinya, dia segera berkata, "Akan kuperintahkan kedua orangku mengantar kalian!"

Pek Sat dan Pek Bi segera mengiakan, empat telapak tangan tiba-tiba diayunkan ke muka. Tiong-ciu-it-kiam dan Seng gwat-kiam Oh Kay-thian seketika itu terdepak mundur,

Setelah terbuka sebuah jalan, sambil mengempit kitab pusaka itu. Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian melarikan diri dari sana, serentak sebagian orang ikut mengejar ke sana sehingga dalam sekejap semuanya sudah pergi jauh.

Mendadak sesosok bayangan merah meluncur keluar dari balik hutan, It-hu Taysu merasakan bau harum berembus, tahu-tabu bayangan manusia lenyap, Bok-ji-sia dan si nona baju biru pun turut lenyap tak berbekas.

Kawanan jago masih begitu banyak, ternyata tak seorang pun sempat melihat jelas raut wajahnya, hal mana membuat semua orang bergidik, baru kali ini mereka menyaksikan kungfu sejati.

Tiba-tiba berkumandang lagi suara pekikan panjang yang mengerikan menggema angkasa, suara pekikan tersebut kian lama kian mendekat.....

Sementara It-hu Taysu terkesiap, dua sosok bayangan hitam laksana terbang cepatnya telah muncul dan kejauhan.

Terlihat seorang nyonya muda berbaju hijau dan seorang nona berparas cantik muncul bersama ke tempat itu, mereka tak lain adalah Lik-ih-hiat-li dan Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling. Begitu sampai di depan It-hu Taysu, Lik-ih-hiat-li lantas menegur, "Hei, hwesio, kau lihat seorang bocah she Bok?"

Suaranya dingin kaku, meski It-hu Taysu adalah seorang paderi yang saleh, tak urung dia rasakan juga ketidak sopanan Lik-ih-hiat-li-

"Omitohud!" pujinya keagungan Budha, "Dosa, dosa! Tolong tanya mengapa Li sicu menyebut diriku dengan begitu?"

"Maaf Taysu." buru-buru Tong Yong-ling menjura. "tolong tanya..."

Belum habis dia berkata, Lik-ih-hiat-li tak sabar lagi, kembali timbrungnya, "He, hwesio, jika kau tidak berbicara, awas kubakar biara hwesio kalian!"

"Tidakkah kau rasakan tindakanmu itu agak keterlaluan!" kata It-hu Taysu dingin.

Melihat suasana semakin panas, Tong Yong-ling amat gelisah, sekarang dia harus cepat bertemu dengan Bok Ji-sia, rasa cemasnya tak terkiranya, maka sambil menarik tangan Lik-ih-hiat-li, serunya, "Cianpwe, buat apa kau recoki seorang pendeta. kita "

Mendadak terdengar teriakan gusar menggema di kejauhan, "Budak rendah, sampai ke ujung langitpun kau pergi, tetap akan kubekuk dirimu!"

Mendengar suara orang itu, air muka Tong-Yong-ling berubah, tubuhnya agak gemetar, cepat ia tarik tangan Lik-ih- hiat-li sambil berseru, "Cianpwe, lekas kabur, Suhuku telah datang!"

"Apa yang mesti ditakuti?" sahut Lik-ih-hiat-li tak senang hati, "jika ia berani mengganggu seujung rambutmu, segera kubinasakan dia!" Meski di mulut ia berbicara keras, toh kakinya mengikuti juga maksud Bwe-hoa-sian-kiam untuk pergi dari situ, kedua orang itu segera mengerahkan ginkangnya menerjang masuk ke daiam Hutan Kematian sana.

Baru saja kedua orang itu masuk ke dalam hutan, terlihatlah Han-bwe-kokcu atau Bwe-hiang-sian-ki menyusul tiba, wajah sedingin es dan tongkat bajanya diketuk-ketukkan ke atas tanah, matanya berkeliaran mencari ke sana kemari.

It-hu Taysu sendiri pun dalam sekejap telah lenyap entah ke mana.

Seraya mengembuskan napas lega Tong Yong-ling berkata, "Cianpwe, tindakanku ini apakah termasuk perbuatan mengkhianati perguruan?.."

Lik-ih-hiat-li tertegun, kemudian katanya, "Kau kan tidak mengingkari dia, mana bisa dianggap sebagai pengkhianatan!"

Tong Yong-ling menghela napas panjang, andaikata gurunya, Bwe-hiang-sian-ci mengetahui dia berada bersama Lik-ih-hiat-li, mustahil dia tidak muntah karena mendongkolnya.

Mendadak Lik-ih-hiat-ii membentak bengis, "Kau berani melukai anak Sia!!"

Berbareng dengan jurus Tin-hong-cu-tian (mengejar angin mengusir petir) dia melesat ke depan dan melancarkan pukulan dahsyat.

Terdengar suara tertawa seram dingin menggema angkasa, lalu seorang mengancam, "Jika kau tidak menghendaki jiwanya lagi, silakan saja turun tangan!"

"Blang",- benturan keras menggelegar.

Lik-ih-hiat-li tergetar mundur beberapa langkah, dia tidak menyangka ilmu pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang bisa dipatahkan oleh seorang gadis berbaju merah, malah dia sendiri terdesak mundur beberapa langkah, kejadian semacam ini belum pernah dialami sebelumnya,

Dalam dunia persilatan, belum pernah ada orang yang mampu menyambut serangan Peng-sian-jit-gwat-siang, tapi nyatanya orang ini sanggup,

Makin dipikir dia semakin gusar, sambil tertawa seram katanya, "Sambut lagi pukulanku ini!"

Nona berbaju merah itu mengalihkan pandangnya ke bawah, lalu berkata dengan dingin, "Asal kau mau, setiap saat boleh kau lancarkan serangan!"

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-hng jauh lebih teliti orangnya, secermatnya dia sedang memperhatikan keadaan di depan, ia lihat seorang nona cantik berbaju merah sedang mengayunkan telapak tangannya untuk menepuk jalan darah penting di tubuh seorang pria.

Meski dalam hutan yang gelap, Tong Yong-ling masih dapat melihas bentuk tubuh orang yarg bergeletak itu adalah Bok Ji- sia.

Begitu timbul rasa curiga dalam hatinya, buru2 dia berseru "Tahan Cianpwe!"

Sejak menyaksikan Bok Ji-sia terjatuh ke tangan orang lain, pikiran Lik-ih-hiat li lantas kalut, ia tertegun demi mendengar seruan Tong Yong-ling, buru-buru serangannya ditarik kembali dan melompat mundur, meski begitu toh angin pukulannya sempat mendampar ke depan.

Dengan bingung lalu dia berkata, "Nona Tong, ada urusan apa?"

"Ciapwe, kita harus bikin terang duduk persoalannya lebih dulu sebelum turun tangan," ujar Yong-ling dengan cemas..

Sementara itu air muka si nona cantik berbaju merah itu tampak berubah hebat, keringat membasahi jidatnya, sedangkan telapak tangannya yang putih menepuk berulang kali.

Beruntun dia menutuk tiga puluh enam jalan darah besar dan tujuh puluh dua jalan darah kecil di tubuh Bok Ji-sia, namun anak muda itu tetap terkapar, di tanah tanpa bergerak, Rasa gelisah nona itu tak terlukiskan, dia takut kemampuannya tak sanggup menyelamatkan jiwa pemuda itu,

Lik-ih-hiat-li kembali maju ke depan sambil membentak, "Siapa yang melukainya?" .

Nona cantik berbaju merah itu tidak menjawab, sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya dia balas membentak keras, "Enyah dari sini, kalau tidak jangan menyesal jika aku akan turun tangan keji!"

Lik-ih-hiat-li tertawa seram, "Bila sampai terjadi hal-hal di luar dugaan, kau orang pertama yang akan kurenggut nyawanya!"

Sembari berkata ia mendesak maju lagi beberapa langkah.

Keberaniannya yang luar biasa ini diam-diam mengejutkan nona berbaju merah itu, sebab dari kedua telapak tangan Lik- ih-hiat-li, dia tahu perempuan ini telah berhasil melatih ilmu Peng-sian-jit-gw-at-ciang.

"Jika ia sampai mati, kalian berdua pun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini," serunya pula dengan gusar,

Baik Lik-ih-boat-li maupun Bwe-a-sian-kiam Tong Yong-ling, keduanya sama melengak dari sikap gelisah si nona berbaju merah itu, jelas kelihatan kalau gadis tersebut sangat memperhatikan keselamatan Bok Ji-sia,

Mengapa demikian? Apakah karena kasih? Atau Cinta?

Hanya perempuan-perempuan yang jatuh cinta saja yang berperasaan peka, dalam menghadapi persoalan ini, Bwe-hoa- sian-kiam Tong Yong-ling segera merasakan ada semacam hubungan aneh antara mereka.

"Jangan-jangan orang ini sama seperti aku diam-diam mencintai Bok Ji-sia" demikian terlintas ingatan ini dalam benaknya.

Dia takut apa yang dilamunkan itu menjadi kenyataan, tapi..........

Dengan nada menyelidik Tong Yong-ling coba bertanya, "Apa hubungan orang ini dengan nona?"

"Tak perlu kau turut campur!" sahut si nona berbaju merah itu ketus.

Setelah berhenti sebentar, teriaknya lagi dengan suara keras, "Nona Lau, dia masih bisa hidup berapa jam lagi?"

Liok-ih-hiat-li melengak, Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling juga melongo, mereka tidak mengerti siapakah orang yang dipanggil sebagai "nona Lau" itu? Mungkinkah didalam masih ada orang lain lagi!

Helaan napas sedih tiba-tiba menggema, lalu seorang menjawab pelahan, "Paling banter satu jam lagi!"

Mengikuti suara jawaban itu, Tong Yoag-ling memandang ke sana, tertampaklah seorang gadis bercadar berdiri bersandar di pohon dan memandang ke arah nona berbaju merah itu dengan rasa sedih, dia tak lain adalah si perempuan aneh dari Hek-hong-kang, nona berbaju biru adanya,

Berhubung selama ini Lik-ih-hiat-li dan Tong Yong-ling hanya menaruh perhatian teihadap si gadis berbaju merah, maka terkesiaplah kedua orang itu setelah mengetahui secara tiba-tiba di samping sana masih ada seorang lagi.

Tak terlukiskan rasa sedih Lik-ih-hiat-li setelah mendengar Bok Ji-sia hanya bisa hidup satu jam lagi, dua titik air mata segera jatuh membasahi pipinya, "Kembalikan nyawa anak Sia!" teriaknya sambil menerjang ke muka, suatu pukulan dahsyat dilancarkan ke batok kepala nona berbaju merah itu.

Dia seperti kehilangan kesadarannya, dia salah mengira nona berbaju merah itu sebagai orang yang melukai Bok Ji- sia.

Tinggal satu jam! Betapa pendeknya waktu yang tersisa Diam-diam Tong Yong-ling hanya bisa menghitung waktu,

dia tak mengira akan berpisah untuk selamanya dengan Bok Ji-sia dalam beberapa saat lagi, tanpa terasa air mata sedih turut menitik membasahi pipinya.

Nona berbaju biru itu menghela napas sedih, lalu berkata, "Gara-gara pengacauan kalian, dia bakal mati lebih cepat lagi!"

"Mundur dari sini!" bentak si nona berbaju merah itu bengis.

Pergelangan tangannya berputar, dengan jurus Cuan-thian- ta-tong (mengebor langit membuat lubang), mendadak telapak tangan kirinya menyambut pukulan Lik-ih-hiat-li.

"Blang", benturan keras terjadi dan menggetarkan bumi,

Lik-ih-hiat-li tergetar sehingga beruntun mundur sejauh belasan kaki, karena terkejut, dia pun tersadar, kembali.

Seraya berpaling dia bertanya, "Nona Tong, bila anak Sia mati, kau harus mengurus layon kami dan membalaskan dendam!"

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-hng menangis tersedu-sedu dengan sedihnya, ia berkata, "Bila engkoh Bok mati akupun tak mau hidup lagi di dunia ini!"

Mendadak nona berbaju merah itu bangkit berdiri, kemudian berkata, "Nona Lau, aku mengaku kalah!" Nona berbaju biru itu tercengang, kemudian katanya, "Kau tak mau melanjutkan pertandingan ini, maka kedudukan kita tetap seri, kau berhasil menang dalam jurus gerangan, sebaliknya aku menang dalam ilmu pertabiban, siapapun tidak dikalahkan"

Dengan gelisah nona berbaju merah itu berkata, "Pendarahannya telah menyerang hati, cepat kau "

"Kini kedelapan nadi pentingnya telah tersumbat," ujar nona berbaju biru itu dengan sedih, "jika kau ingin menyelamatkan jiwanya, gunakan Ji-mu To-sian soh-hiat untuk menahan darahnya yang bergolak, setelah itu buyarkan darahnya yang beku, lalu lancarkan jalan darah pentingnya."

Nona berbaju merah itu tak berani ayal lagi, begitu nona berbaju biru itu mengatakan sebab penyakitnya, ia lantas menemukan cara pengobatannya dengan cepat, telapak tangannya segera bergerak, berulang kali ia menutuk tiga jalan darah penting Bok Ji-sia.

Sekujur badan Bok Ji-sia tampak gemetar, mukanya yang semula pucat berangsur-angsur menjadi merah kembali, nona berbaju merah itu bergirang, buru-buru dia melanjutkan gerakannya menepuk semua jalan darah penting di seluruh badan anak muda itu.

"Nona, nona!" mendadak dari luar hutan berkumandang suara teriakan yang penuh kecemasan.

Gadis berbaju biru itu segera melesat pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sesungguhnya ia sedang mengalami pertentangan batin, siksaan batin yang jauh lebih menderita daripada orang lain.

Ia cinta kepada Bok Ji-sia, tapi iapun benci anak muda itu, sebab dia pernah melukai perasaannya, terkadang dia ingin memusnahkan pemuda itu, tapi ada kalanya ingin menolong jiwanya, pertentangan batin itu membuat hatinya selalu gundah dan tak tenang. Dalam pada itu, asap putih tipis telah mengepul di atas kepala si nona berbaju merah, secara beruntun dia menepuk tujuh puluh dua jalan darah pemuda itu, tampaknya pekerjaan tersebut amat payah dan membutuhkan banyak tenaga, semua ini membuat Tong Yong-ling serta Lik-ih-hiat-li yang berada di samping diam-diam ikut cemas.

Tiba-tiba bergema suara langkah orang dari luar hutan, langkah itu sedemikian kuat, jelas langkah jagoan yang bertenaga dalam sempurna.

"Cepat hadang mereka, jangan seorang pun datang mengganggu!" buru-buru nona berbaju merah itu berseru.

Baru selesai dia berkata, mendadak muncul tiga orang, ketika Tong Yong-ling berpaling, segera dikenalnya mereka adalah Hian-thiao-koan-cu, Pek-boat-kui-to dan Jian-hun- koay-sat-jiu, tiga orang jago tangguh.

Berhubung jaraknya masih jauh, ketiga orang itu belum tahu kalau di dalam hutan masih ada orang lain.

Terdengar Pek hoat-kui-po Jik Say-kiau berkata dengan dingin, "Dulu, kita Bu-lim-ji-coat adalah tokoh ternama dan disegani, tapi sekarang yang mampus telah mampus, yang pergi telah pergi, dalam dunia persilatan pun tinggal kita bertiga saja. Ai, kita sangka masih bisa malang melintang, siapa tahu belakangan ini muncul seorang yang bernama Lik- ih-hiat li, bukan cuma namanya lebih tenar daripada kita, kungfunya juga hebat, benar-benar..."

Kun-tun Cinjin lantas terkekeh-kekeh, "Hehehe, bukan aku sengaja omong besar, asal kita bertiga mau turun tangan bersama, kitab pusaka Hek-liong-kang itu pasti dapat kita rampas."

"Sungguh menjengkelkan," seru Jian-hune-koay-sat-jiu tiba-tiba dengan gemas, "tak terduga kita bakal terjebak oleh siasat busuk Lamkiong Hian, gara-gara siasat memancing harimau meninggalkan gunung, kita sendiri datang terlambat selangkah."

"Coba lihat, jelas sekali bekas pertempuran tertinggal di tempat ini!"

Saat itulah mendadak terdengar seorang berkata dengan dingin, "Bukan saja kedatangan kalian sudah terlambat, mau mundur dengan selamat pun sudah tak sempat lagi!"

Mendengar seruan itu, ketiga orang itu sangat terperanjat sehingga tanpa terasa mereka melompat mundur, dengan cepat mereka mendongakkan kepala dan mengawasi sekeliling tempat itu, namun tak sesosok bayangan pun yang tertampak.

"Setan gentayangan dari manakah yeng berani cari gara2 pada kami!" bentak Kun-tun Cinjin cepat.

"Hei, iblis tua," seru orang itu sambil tertawa dingin, "masa begitu cepat kau melupakan diriku!"

Serentetan bunyi aneh menggema di angkasa, menyusul terjangkitlah deru angin berpusing yang kuat dari empat penjuru dan menerbangkan debu pasir.

Dalam terkesiapnya Kun-tun Cinjin tak dapat meraba siapa lawan yang datang ini, sambil membentak keras ia melancarkan suatu pukulan ke depan.

Ketika kedua gulung tensga pukulan itu bertemu, Kun-tun Cinjin terperanjat, dia merasakan tenaga pukulan musuh mendampar seperti gugur gunung dahsyatnya.

"Hehehe....." gelak seram memilukan kembali bergema di udara.

Berubah air muka Kun-tun Cinjin, serunya "Kau..."

Suara tertawa Lik-ih-hiat-li dari balik kegelapan membuat ketiga orang itu terkejut dan ngeri, terutama Kun-tun Cinjin, sampai pucat wajahnya, sebab dia yang paling jelas mengetahui betapa kelihaian perempuan itu. "Hei, hidung kerbau," kata Lik-ih-hiat-li dengan suara dingin, "hari ini habislah riwayatmu, di dunia"

Setelah mendongak dan memperdengarkan suara tertawa panjang yang menyeramkan, mendadak tangan kirinya digerakan ke kiri dan kanan secara aneh, lalu telapak tangan kanan menahas ke depan,

Menyaksikan gerakan aneh itu, air muka Kim-tun Cinjin berubah hebat, seluruh tubuhnya menggigil, bahunya bergoncang dan tahu-tahu terdorong mundur sejauh beberapa tombak oleh telaga tak berwujud yang sangat kuat itu.

Pdc-hoat-kui-po Jik Say-kiau segera memutar tongkat bajanya seraya membentak, "Lik-ih-hiat-li, rasakan tongkatku!"

"Wess" tongkat baja panjang berputar dan membawa selapis cahaya hitam terus mengemplang batok kepala Lik-ih- hiat-li.

"Hmm, cari mampus!" bentak Lik-ih-hiat-li tertawa dingin.

Mendadak jari tangan kirinya yang menegang bagaikan tombak membuat gerakan di udara, lalu secara tiba-tiba mencengkeram ujung tongkat yang ratusan kati beratnya itu.

Serangan ini amat lihai dan membuat Pek-hoat-kui-po Jik Say-kiau terkejut.

Dalam pada itu Jian-hun-koay-sat-jiu yang bermata awas dapat melihat ada orang yang sedang berobat dalam hutan, dengan cepat dia menyadari apa yang terjadi, sambil membentak langsung ia menubruk masuk ke dalam hutan.

Mendadak dari balik hutan muncul selapis cahaya hijau dingin mengadang majunya.

Terdengar ia membentak marah, "O, kiranya kau!!"

Tong Yong-ling mendengus, bentaknya, "Enyah kau dari sini!" Dengan jurus-jurus Hoa bwe-ti-hong (bunga bwe hampir mekar), Jin-bin-tho-hoa (muka manusia bunga tho) dan Sui- tiong-han-lui (putih beku dalam air) beruntun dia lancarkan tiga serangan berantai, semua serangan merupakan jurus maut Bwo-hoa-kiam.

Seketika itu juga, cahaya pedang berkilauan memenuhi udara, hebatnya tidak kepalang.

Jian-hun-koay-sat-jiu tertawa seram, ejeknya, "Anak perempuan, cari mampus rupanya kau!"

Saat itulah mendadak Lik-ih-hiat-li menerjang, tiba suatu pukulan dahsyat langsung menyambar ke dada Jian-hun-koay- sat-jiu .

Seketika Jian-hun-koay-sat-jiu meragakan tubuhnya menggigil.

"Siapa saja berani maju selangkah lagi, akan kusuruh dia rasakan kelihaian pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciangku!" ancam Lik-ih-hiat-li sambil mengangkat telapak tangan kanannya.

Begitu menyaksikan telapak tangan kanan lawan yang dipersiapkan, perasaan Kun-tun Cinjin kontan menjadi dingin separo, dia nyaris mampus di tangan Lik-ih-hiat-li itu, dia cukup mengerti kekuatan yang terdapat di balik pukulan Beng- sian-jit-gwat-ciang, dia sadar kalau kemampuannya masih belum sanggup untuk menandingi serangan lawan.

Dengan jeri dia lantas berteriak, "Saudara berdua, cepat mundur! ..."

Mendadak bergema suara suitan panjang bagaikan pekik naga dari balik hutan sana.

Menyusul terdengarlah seorang tertawa seram kemudian berteriak dengan penuh kegusaran, "Kembalikan bukuku!"

"Blang," pecah benturan keras. Pasir batu segera beterbangan, bumi serasi berguncang keras, menggetarkan setiap orang yang berada di sana.

"Engkoh Bok, kenapa kau?!" Yong-ling segera berteriak.

Si nona berbaju merah berkata dengan dingin

"Sekarang kesadarannya telah punah, bertemu orang  lantas memukul, berjumpa manusia lantas membunuh, lebih baik cepat kau mundur!"

Sementara itu Bok Ji-sia tampak menyeringai dan melancarkan lagi pukulan dahsyat.

Kemudian sambil melompat bangun dari atas tanah, bagaikan orang kalap saja teriaknya keras-keras, "Kembalikan kitabku, bukuku "

"Engkoh Bok, kenapa kau...." seru Bwe-hoa-gian-kiam - Tong Yong-ling dengan kuatir.

Sementara itu, si nona berbaju merah sedang duduk dengan napas tersengal dan keringat membasahi sekujur badannya.

Dengan mengorbankan tenaga dalamnya gadis ini membantu Bok Ji-sia menembusi delapan urat nadi penting di dalam tubuhnya, akibat dari tindakan ini ia menjadi kehabisan tenaga dan lelah, sekujur badan serasa tak bertenaga lagi. Tapi Bok Ji-sia juga masih dalam keadaan setengah sadar.

Sambil melompat nona berbaju merah itu membentak, "Pikirannya masih kalut, lekas kalian mundur ke belakang"

Ketika Ji-sia melihat di dalam hutan terdapat banyak sekali jago lihai, semangat tempurnya segera berkobar, di tengah gelak tertawanya ia lantas mengangkat tangan dan melancarkan serangan peda Pek-hoat-kui-po Jik Say-kian.

Serangan ini dilancarkan tanpa jurus, namun angin pukulannya menderu hebat. "Anak muda, kau berani!" bentak Jik Say-kiau sambil berkelit. Tongkat bajanya segera berputar, mendadak telapak tangan kirinya ganas menghantam Bok Ji-sia.

"Blang!" di tengah benturan keras, ia mundur ke belakang, kemudian tongkat secepat kilat disodokkan ke perut Bok Ji-sia.

Waktu itu Ji-sia merasakan seluruh badannya kegerahan tanpa tenaga, peluh bercucuran seperti hujan, tapi setelah melepaskan suatu pukulan, tubuhnya menjadi segar, ia menjadi lupa Pek-hoat-kui-po Jik Say-kiau adalah seorang lawan tangguh, ia berdiri termangu, tidak menyadari nyawanya sudah mendekati ambang pintu kematian.

"Nenek setan!" mendadak Lik-ih-hiat-ih membentak, "kau berani mengganggunya!"

Cahaya putih berkilau seperti batu kemala lamat-lamat memancar keluar dari telapak tangannya, bukan saja cahaya itu memancar ke tubuh Pek-hoat-kui-po, bahkan Jian-hun- koay-sat-jiu dan Kun-tun Cinjin pvn turut terkurung oleh cahaya tersebut.

Kun-Lun Cinjin sudah pernah kecundang di tangan Lik-ih- hiat-li, andakata waktu itu tenaga dalamnya kurang sempurna, niscaya nyawanya sudah lama pulang ke alam baka.

Sekalipun kejadian itu sudah berlangsung cukup lama, tapi bila teringat kembali ia masih merasakan peluh dingin membasahi tubuhnya.

Begitulah, melihat cahaya berkilau Peng-sian-jit-gwat-ciang tersebut mulai memancar, dengan ketakutan segera ia mundur ke belakang sambil berteriak, "Cepat mundur, itulah pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang!"

Begitu selesai berseru, dengan jurus Cuan-in-wang-gwat (menembus awan melihat rembulan) dia kabur ke belakang. Sedangkan Pek-hoat-kui-po Jik Say-kiau dan Jian-hun-kuay- sat-jiu sambil membentak segera mendorong tangan masing- masing untuk melawan.

"Blang", terjadi benturan keras, tubuh Lik-ih-hiat-ii cuma bergetar sedikit, sedangkan Pek-hoat-kui-po lik Say-kiau dan Jian-Hun-koay-sat-jiu di tengah dengusan tertahan dan pekik keras segera melarikan diri.

Dengan kaburnya ketiga orang itu, dalam hutan tinggal si nona berbaju merah, Lik-ih-hiat-li, Tong Yong-leng dan Bok Ji- sia berempat.

Tiba-tiba Ji-sia melompat maju lagi seraya berteriak, "Kalian semua enyah dari sini!"

Saat itu kesadarannya belum pulih, yang dilihatnya semuanya seakan-akan musuh melulu, tangan kanannya segera mencengkeram pergelangan tangan kanan Lik-ih-hiat- li.

Jurus serangan ini sangat aneh dan sama sekali berlainan dengan jurus ampuh perguruan silat di daerah Tionggoan, kontan saja semua orang dibikin melengak.

Dengan suara gemetar Lik-ih-hiat-li segera berteriak, "Anak Sia...kau... kau ..."

Sebagaimana diketahui, Lik-ih-hiat-li adalah ibu kandung Bok Ji-sia, ketika menyaksikan putera kesayangan yang dirindukan siang malam ternyata melancarkan serangan ke arahnya, kejadian ini membuatnya sedih luar biasa. Buru-buru dia mendak sambil melompat ke samping.

Tapi cengkeraman Bok Ji-sia telah mempergunakan salah satu jurus serangan In-hui-huan-kiu-sik yang maha dahsyat itu, jurus serangannya aneh dan kuat sekali.

Baru saja Lik-ih-hiat-li menggerakkan tubuhnya, seperti bayangan Ji-sia telah menyusul tiba, gerakannya sama sekali tak berubah, ia tetap melanjutkan cengkeraman mautnya. Tak sempat lagi Lik-ih-hiat-li menghindarkan diri, tahu-tahu pergelangan tangan kanannya sudah tercengkeram.

"Mau kabur ke mana lagi kau!" bentak Ji-sia sambil tertawa seram.

Sekali tangan terangkat, tahu tahu badan Lik ih-hiat-li terlempar jauh ke depan.

Dipermainkan secara begitu rupa oleh putranya sendiri, timbul rasa sedih dalam hatinya, air mata Lik-ih-hiat-li bercucuran

Begitu melayang turun, dia lantas memaki, "Kau anak yang tidak berbakti!"

Tangan kanannya di bentangkan, cahaya putih berkilau tiba tiba terpancar keluar dari telapak tangannya, jelas dalam sedihnya dia hendak memusnahkan Bok Ji-sia.

Padahal dia cuma terdorong oleh emosi saja, andaikata dia disuruh turun tangan sungguhan belum tentu dia tega melakukannya.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-liag menjadi gelisah, teriaknya kuatir, "Cianpwe, jangan!"

Dia segera melompat ke depan Lik-ih-hiat-li dengan cepat luar biasa.

Mendengar suara Bwa-hoa-gian-kiam Tong Yong-ling, kesadaran Lik-ih-hiat-li pulih kembali, dia merasa sedih sekali, sudah menjanda, pada masa tua harus mengalami kejadian memilukan ini,

Meski kesadaran Bok Ji-sia kurang jernih, namun melancarkan serangan keji terhadap ibu kandungnya sendiri tetap dirasakan olehnya sebagai suatu tindakan yang tidak senonoh.

Mendadak nona berbaju merah itu melompat maju sambil membentak, "Telah kau apakan dia?" Berbareng dengan ucapan itu, bayangan merah berkelebat, segera ia mencengkeram tangan Lik-ih-hiat-li.

Gerak tangan yang sedemikian cepatnya ini menggetarkan perasaan Lik-ih-hiat-li, sebab selama berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ia temui musuh tangguh, tapi gadis ini dapat menaklukkan dirinya dalam satu gebrakan saja, peristiwa ini sangat menggetarkan perasaannya.

Lik-ih-hiat-li naik pitam karena seorang budak ingusan berani bertindak tidak sopan kepadanya, dia menjadi lupa pada budi kebaikan yang telah diberikan si nona baju merah itu kepada Bok Ji-sia.

Dalam gusarnya dia membentak, "Keparat, kau juga berani mempermainkan nyonyamu!"

Di tengah bentakan keras, tangan kanannya berputar berbareng tangan kiri menghantam dada nona berbaju merah itu.

Sekalipun berkepandaian tinggi, tak urung berubah juga air muka nona berbaju merah itu.

Sambil tertawa diagin katanya, "Bila kau berani mengganggu seujung rambutnya lagi, aku akan lemparkan dirimu keluar hutan ini!"

Tubuhnya ikut berputar, tanpa berubah dia tetap mencengkeram pergelangan tangan Lik-ih-hiat-li, dengan begitu serangan Lik-ih-hiat-li segera mengenai sasaran kosong dan tetap gagal melepaskan diri dari cengkeraman nona berbaju merah itu.

"Lepaskan cengkeraman mu!" bentak Lik- ih-hiat-li dengan gusar.

Jari tangan terpentang, dengan-cepat dia ancam lima jalan darah mematikan di tubuh nona berbaju merah itu. Nona berbaju merah itu hanya tersenyum, katanya, "Siapa yang sudi mencengkeram tanganmu terus menerus, hmm "

Di tengah gelak tertawanya dia lepas tangan dan melompat mundur.

Lik-ih-hiat-li menyeringai dan pelahan menghampiri nona berbaju merah itu, sedang si nona baju merah pun mengawasi gerak geriknya dan siap tempur.

Kedua pihak sama-sama menunggu kesempatan baik untuk melancarkan serangan dahsyat, suasana dalam hutan pun tercekam dalam keheningan dan ketegangan.

Melihat kedua orang itu siap melancarkan serangan pula, buru-buru Tong Yong Ling melmopat ketengah kedua orang itu seraya berkata "Hendaknya kalian tenanglah sedikit, coba lihat apa yang sedang dilakukan oleh Bok Ji-sia?"

Mendengar ucapan tersebut, dengan kaget nona berbaju merah dan Lik-ih-Hiat-li berpaling, ketegangan mereka segera buyar dan sama-sama mengalihkan perhatiannya pada Bok-Ji- sia.

Waktu itu, Ji-sia sedang berdiri termangu, mukanya menunjukkan penderitaan yang luar biasa, sementara matanya mengawasi kesepuluh jari tangannya yang terpentang itu tanpa berkedip.

Mengapa ia perhatikan kedua tangannya?

Sampai lama sekali dia baru mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, daun dan ranting pohon sampai tergetar oleh gema ketawanya, kontan ketiga orang perempuan itu dibikin terkejut.

"Suheng, kau sudah baik?" tegur si nona baju merah itu sambil maju kedepan dan menepuk bahunya. Panggilan "Suheng" ini kontan membuat semua orang melongo,demikian juga Bok-Ji-sia, ia menjadi heran dari mana bisa muncul seorang Sumoay secara mendadak?

Tapi setelah berpaling, anak muda itu lantas tertawa, "Oh, rupanya kau."

Kiranya gadis berbaju merah ini tak lain adalah putri kesayangan Se-to-sian-ki (Perempuan cantikdari pulau barat) Bwe Siau Leng dan Thian-kang-te sat-seng gwat kiam Oh kay Gak, Oh keng Kiau adanya, yaitu si gadis yang kita kenal pada permulaan cerita ini. 

Hati Oh Keng-kiau bergetar mendengar ucapan Ji-sia yang dingin seperti es itu, padahal sejak berada di dalam thian seng po ia sudah merasa Bok Ji-sia adalah seorang pemuda yang luar biasa, dia selalu terkenang padanya.

Sejak Bok-Ji-sia berjumpa dengan Se-to-sian ki Bwe siau- leng dalam benteng Thian-seng-po bukan saja si nona jadi mengetahui asal-usul sendiri, juga tahu bahwa Bok Ji-sia adalah murid kesayangan ayahnya, thian-Kang -Te-sat-seng- gwat-kiam Oh Kay Gak sebelum menghembuskan napas terakhir.

Kenyataan ini membuat perasaannya makin melekat pada kakak seperguruannya ini.

Tapi sikap Bok-Ji-sia yang dingin sekarang, dirasakan menghancur lumatkan perasaannya, membuatnya tertawa getir.

"Suheng, begitu cepatkah kau melupakan diriku!" desis Keng-kiau.

Ucapannya memilukan hati, badan juga sempoyongan nyari tergelepar ke tanah, air mata hampir saja jatuh bercucuran.

Semenjak Bok-Ji sia berkecimpung di dunia persilatna, Oh Keng-kiau boleh dikatakan merupakan satu-satunya teman perempuan yang pernah dimilikinya. Cuma berhubung dia pernah mengalami musibah pada masa kecilnya, mengakibatkan dia tak bisa menerima rasa persahabatan tersebut selain membayangkan saja didalam hati,

Perjumpaan tak terduga yang terjadi sekarang, mestinya akan meledakkan perasaan girangnya, sayang perasaannya sekarang sedang gundah, hatinya sedang menderita dan tersiksa, hingga dengan sendirinya nada perkataannya juga dingin dan hambar.

Begitu merasakans sesuatu yang aneh dibalik ucapan Oh Keng-kiau, pemuda itu tertawa pedih, kemudian sahutnya

:"Ah, mana, setiap saat, setiap detik aku selalu memikirkan subo (ibu guru) dan dirimu! Bagaimana dengan Subo? Beliau ada dimana?"

Oh Keng-kiau tahu ucapan tersebut timbul dari lubuk hatinya, sambil tersenyum ia menjawab "Entah sekarang beliau telah datang atau belum? Ia menyuruh aku memberitahukan kepadmu, tengah malam nanti beliau menunggumu disini, tampaknya banyak persoalan yang hendak dibicarakan ibu dengan mu!"

Mengetahui sang ibu guru se-to-sian-ki Bwe Siau-leng ada memberi perintah, Bok Ji-Sia tak berani ayal lagi, buru-buru katanya: "silahkan sumoay mengabarkan kepada beliau bahwa tengah malam nanti aku pasti akan berada ditempat!"

Oh Keng-Kiau, si nona berbaju merah, tampak merasa lega, sambil tersenyum ia lantas melambung ke udara seraya berseru:" Selamat tinggal Suheng, sampai berjumpa malam nanti!"

Begitu selesai ucapan tersebut, bayangan tubuhnya juga lenyap dari pandangan mata.

Sekalipun Bok Ji-sia mempunyai banyak persoalan yang hendak dibicarakan, tapi melihat gadis itu sudah pergi jauh, terpaksa ia cuma menghela napas. Bwe-Hoa-Sian-Kiam Tong Yong-ling merasa gundah sekali setelah meilhat adegan tersebut, dari sorot mata Oh Keng- kiau, dia tahu seperti dirinya, gadis itupun amat mencintai Bok

-Ji-sia.

"Dia adalah sumoaymu?" tanyanya kemudian sambil menghela napas.

"Ehm, benar." Jawab Ji-sia.

"Cantik nian wajahnya!" kata Yong-ling lagi sambil tertawa paksa.

Bok Ji-sia tak tahu ada maksud lain dibalik ucapan tersebut, sambil mengiakan dia berpaling dan memandang Tong Yong- ling dengan tercengang, dia tak tahu mengapa gadis itu mengucapkan kata-kata tersebut.

Maklum jiwa perempuan pada umumnya sempit dan besar cemburunya, seorang gadis tak akan memuji kecantikan gadis rivalnya, apalagi seorang gadis yang berparas cantik, tak mungkin dia sembarangan memuji gadis lain yang terlebih cantik daripada dia.

Demikian juga dengan pujian Bwe-Hoa-Sian-Kiam tong Yong-ling terhadap Oh Keng-kiau, pujian itu bukan timbul dari lubuk hatinya yang jujur, tapi sebaliknya karena rasa cemburunya yang besar.

Lik-ih-Hiat-li sudah cukup berpengalaman tentang masalah muda-mudi, setelah menyaksikan kejadian itu, timbul perasaan murung dan kesal dalam hatinya, inilah luapan perasan seorang ibu yang menguatirkan keadaan putranya.

Setelah menghela napas pelahan, tegurnya, "Bok siauhiap, apakah kau telah sadar kembali?"

"Kenapa? Adakah sesuatu yang tidak benar?" tanya Ji-sia dengan tercengang. Sikap semacam itu dirasakan Lik-ih-hiat-li persis seperti sikap ayah Ji-sia masa lalu, hampir saja dia hendak menerangkan bahwa dia adalah ibu kandungnya.

Tapi dia adalah seorang perempuan yang lebih mempergunakan otak daripada emosi, terutama setelah mengalami musibah berulang kali, membuat dia semakin memahami apa artinya penderitaan, sekalipun terpengaruh gejolak emosi, namun sekuat tenaga ia berusaha mengendalikannya.

Sambil tertawa dingin, ia lantas menegur "Kenapa kau mengawasi tanganmu terus-menerus? Apakah terluka?"

Walaupun mukanya dingin, sinar matanya lembut dan ucapannya penuh perhatian, ia sangat menguatirkan keadaan Bok Ji-sia.

Menyinggung soal tangan sekujur badan Ji-sia gemetar keras, ia benci kepada kedua tangannya karena tangannya itu telah mempergunakan jurus serangannya yang tak ingin digunakannya, yaitu In-hay-huan-kiu-sik.

Tatkala nona berbaju biru memaksanya untuk mempelajari In-hay-huan-kiu-sik, diam-diam ia telah bersumpah takkan menggunakan jurus serangan tersebut untuk selamanya, sebab kepandaian itu bukan kepandaian yang dipelajarinya dengan sukarela-

"Aku benci kepadanya!" dia berseru dengan dendam. "Kenapa?" desak Lik-ih-hiat-li.

Ji-sia menghela napas sedih, bisiknya, "Ai, tak perlu dibicarakan lagi!"

Mendadak Tong Yong-ling membentak, "Kalian berdua jangan bergerak!"

Lik-ih-hiat-li dan Bok Ji-sia sama terkesiap, dilihatnya Tong Yong ling tiba-tiba berjalan mengitari mereka, sementara matanya dengan tajam mengawasi wajah kedua orang dengan lekat-lekat.

Tindak-tanduk si nona yang aneh ini tentu saja memancing kecurigaan Lik-ih-hiat-li dan Bok Ji sia, mereka menganggap perbuatan Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling ini tidak wajar,

Dengan tercengang Lik-ih-hiat-li segera bertahya, "Nona Tong, ada apa?"

Tong Yong-Iing merogoh sakunya dan berkata, "Coba kalian lihat, benda apakah ini?"

Tampak dalam genggamannya adalah sebuah lukisan yang telah berubah warnanya, mungkin karena sudah lama tersimpan hingga warnanya berubah menjadi kuning, lukisan itu menggambarkan wajah tiga orang,

Mereka adalah wajah seorang lelaki tampan bermata jeli dan seorang perempuan cantik berwajah ayu, di antara kedua orang itu duduk seorang anak kecil, jelas lukisan suatu keluarga yang penuh kebahagiaan.

Terkesiap hati Lik-Ih-hiat-li menyaksikan lukisan tersebut, serunya dengan suara aneh, "Dari mana kau peroleh lukisan itu?"

Walaupun dia telah berusaha mengendalikan diri, toh ucapannya kedengaran gemetar, dari perubahan mimik wajahnya juga bisa diketahui kalau dia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan lukisan tersebut,

Sekalipun Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling tak berani memastikan perempuan cantik dalam lukisan itu adalah Lik ih- hiat-li, namun jelas Lik-ih-hiat-li mempunyai banyak kemiripan dengan perempuan cantik dalam lukisan itu.

Demikianlah, setelah memperhatikan Lik-ih-hiat-li, lalu lapan memperhatikan Bok Ji-Sia, sebab wajah si bocah dalam lukisan meski berbeda dengan wajah Bok Ji-sia, tapi lamat- lamat dia merasakan terdapat juga banyak kemiripan.

Ia tak berani memastikan apakah hal ini merupakan suatu kebetulan, tapi bila dilihat dari perhatian Lik-ih-hiat li terhadap Bok Ji-sia, dapat diduga di antara kedua orang itu mempunyai hubungan yang luar biasa, seakan-akan pula ibu dan anak dalam lukisan itu.

Waktu Lik-ih-hiat-li melihat Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong- ling tidak menjawab, tanpa terasa dia menyambung kata- katanya dengan lembut, "Nona Tong, darimana kaudapatkan lukisan itu!"

"Seorang Cianpwe memberikannya kepadaku," sahut Bwe- hoa-sian kiam sambil tertawa, "dia meminta kepadaku untuk mencarikan kedua orang yang tergambar dalam lukisan ini!"

Sekarang Lik ih hiat-li tak bisa menguindahkan rasa sedihnya lagi, meledaklah isak tangisnya yang memilukan hati, semua kesedihan dan penderitaan yang di alaminya selama banyak tahun dilampiaskannya keluar semuanya, sekarang dia telah melupakan dirinya sendiri, dia hanya mengenang kembali samua musibah yang dialaminya pada masa lalu.

Benar, perempuan cantik di dalam lukisan itu adalah Lik-ih- hiat—li sendiri, sedangkan bocah itu adalah Bok Ji-sia sebenarnya dia mengira sepanjang hidupnya tak bisa bertemu lagi dengan suaminya, siapa tahu hari ini dia telah menjumpai kembali wajah suaminya di tangan Tong Yong ling.

Ia lebih terperanjat lagi setelah mengetahui suaminya masih hidup di dunia ini, walaupun dia tak berani memastikan apakah hal ini merupakan suatu kenyataan, paling tidak ia dapat menduga sesuatu, yaitu orang yang memberikan lukisan kepada Tong Yong-ling kalau bukan suaminya pastilah sahabat karib suaminya. Berpikir sampai di sini, Lik-ih-hiat-li menangis sambil bergumam, "Thian!! Sungguhkah kejadian ini? Ai, masa silam yang penuh penderitaan,"

Tanpa terasa dia menyesali Thian yang tidak adil kepadanya, perasaan yang semula sudah tenang bergelora kembali karena peristiwa itu, kejadian lampau satu demi satu terbayang kembali didepan matanya.

Suatu, keluarga yang bahagia mendadak hancur berantakan, suami dibunuh orang, anak dan ibu melakukan hubungan badan di luar sadar, semua peristiwa pahit itu cukup mencabik hancur hatinya.

"Tidak mungkin, tidak mungkin ..."

Timbul perlawanan ddam hatinya yang membara, dia tak percaya kejadian ini merupakan kenyataan, suaminya tak mungkin bisa meloloskan diri dari kematian, peristiwa yang berlangsung pada malam itu masih teringat olehnya dengan jelas sekali,,..

Suaminya dikerubut puluhan orang jago berkerudung, dia tewas dengan tubuh yang hampir tercincang, badannva sudah tak utuh lagi, mana mungkin dia bisa lolos dari pembunuhan yang kejam itu

Saat ini Lik-ih-hiat-ii tidak mempedulikan segala akibatnya lagi, dia perlu mengetahui siapa yang memberi lukisan itu?

"Siapakah orang itu? Dia berada di mana?" teriaknya kemudian dengan perasaan pedih.

Air matanya jatuh bercucuran mengikuti ucapannya itu, sekarang ia sudah kehilangan sikap dinginnya seperti dulu, hal ini menunjukkan betapa hebat gejolak perasaannya.

"Cianpwe, kau........" tiba-tiba Tong Yong-ling menjerit kaget. Buru-buru dia menutup mulutnya dengan tangan kanan, sedang tangan kiri menuding ke atas kepala Lik-ih-hiat-li.

Rupanya dalam waktu yang teramat singkat, rambut itu hampir seluruhnya menjadi putih.

Lik-ih-hiat-li menarik secomot rambutnya yang  putih, sambil tertawa getir katanya, "Apanya yang perlu diherankan? Cepat katakan, dia berada dimana?"

Melihat kecemasan orang, Tong Yong-ling mengerti bahwa penderitaan yang dialaminya saat ini tak mungkin bisa ditahan oleh orang biasa, dia tak tega menampik keinginannya, maka sahutnya kemudian, "Dia berada di dalam perkampungan Kiam-hong-ceng"

Gelak tertawa seram bergema memecahkan keheningan, sedemikan kerasnya suara tertawa itu membuat ranting dan dedaunan turut berguncang dan rontok begitu mendengar nama Kiam-hong-ceng, dia langsung berlari ke arah perkampungan itu.

"Cianpwe, hendak ke mana Kau?" Ji-sia segera berteriak sambil mengadangnya.

Semua tingkah laku Lik-ih-hiat-li telah terlihat olehnya, tiba- tiba muncul suatu perasaan aneh di dalam hatinya, dia merasa antara Lik-ih-hiat-li dengan dia seakan-akan terdapat suatu jalinan batin yang erat, entah mengapa dia turut mengucurkan air mata ketika melihat isak tangis perempuan itu.

Tentu saja ia tak tahu kalau inilah yang dinamakan kontak batin antara seorang ibu dengan anaknya.

Tong Yong-Iing gelisah sekali menyaksikan keadaan tersebut, segera teriaknya, "Engkoh Bok, dia adalah ibumu"

"Jangan beritahukan kepadanya!" bentak Lik-ih-hiat-li.

Perlu diketahui, Lik-ih-hiat-li cukup memahami watak Bok Ji-sia, seandainya dia tahu sang Ibu masih hidup, Bok Ji-sia tentu tak akan punya muka untuk bertemu dengan orang lagi, dia pasti akan membunuh diri daripada menahan malu.

Betul juga, sekujur badan Bok Ji-sia gemetar keras, teriaknya tertahan, "Apa? Dia ibuku?"

Setelah berhenti sebentar, kembali teriaknya, "Tidak! Dia bukan ibuku ... tidak!!"

Sambil menutup muka sendiri dia menangis bersedu-sedu, peristiwa malang pada masa lalu terbayang kembali dalam benaknya, dia pernah berpikir untuk bunuh diri, apalagi satelah terjadi hubungan zinah dengan ibunya, dia merasa tiada berani lagi untuk melanjutkan hidup.

Tapi pesan terakhir ibunya membuat dia harus hidup terus di dunia ini...

"Anak Sia, aku tak akan menyalahkan dirimu, semua ini adalah merupakan bagian dari siasat busuk bangsat laknat itu, sebelum kejadian kau telah diberi semacam obat perangsang yang amat keras sekali, yang membuat kau kehilangan kesadaran."

"Kau harus berani untuk hidup terus, berani menghadapi kenyataan, keluarga Bok cuma tinggal kau seorang yang akan meneruskan keturunan, kau harus membalaskan dendam ayah-ibumu, bila ibu tidak mencintaimu, takkan kulakukan perbuatan ini, aku rela menyiksa diriku sendiri, aku tak ingin menyaksikan kau mati. "

Telinga Ji-sia seolah-olah mendengung kembali pesan ibunya itu, dia percaya ibunya telah bunuh diri, ia tak percaya jika ibunya masih melanjutkan hidupnya.

Dengari cepat, ia membuang semua pikiran itu, kemudian berjalan menghampiri Lik-ih-hiat-li, matanya telah basah oleh air mata bercampur darah...

"Benarkah engkau ibuku?" tanyanya dengan sedih. Lik-ih-hiat-li tahu hal ini tak bisa dirahasiakan lagi, setelah termenung dan berpikir sejenak, air matanya bercucuran, sekuatnya dia berusaha mengendalikan perasaannya, kemudian katanya sambil terisak, "Anak Sia, andaikata aku adalah ibu kandungmu, masih punya keberaniankah kau untuk hidup?"

"O, ibu ..." jerit Ji-sia, cepat dia memburu maju, dia tahu dirinya sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk hidup, dia bisa mempertahankan hidupnya sampai sekarang tak lebih karena ingin membalas dendam membuatnya hidup untuk sementara waktu saja.

Diam-diam ia telah mengambil keputusan bila dendamnya sudah beres, dan dendam gurunya juga selesai, dia akan menggorok leher sendiri untuk menebus semua dosanya.

Kini terbukti sudah Lik-ih-hiat-li adalah ibunya, bagaimana mungkin perasaannya tidak remuk rendam? Bagaimana mungkin dia masih mempunyai muka untuk melanjutkan hidupnya di dunia ini? Apa yang dipikirkan sekarang tak lebih hanya "kematian".

Hanya kematian yang bisa membebaskan dia dari penderitaan dan siksaan.

Mati! Mati ! Mati...

Sekarang dia hanya berpikir untuk mati. Mendadak Lik-ih- hiat-li menyingkir ke samping sambil membentak, "Kau dengar tidak pertanyaanku?"

Ketika tubrukannya mengenai tempat kosong, hati Ji-sia hancur luluh, apalagi desakan Lik-ih-hiat-li yang bertubi-tubi membuat ia tak mampu menjawab, benaknya terasa kosong melompong.

Dengan cepat dia mengambil keputusan, katanya dengan tertawa pedih, "Aku tak punya muka untuk melanjutkan hidup lagi!" "Semut saja ingin hidup, apalagi kau adalah manusia!"

Bok Ji-sia menjatuhkan diri dan berlutut di atas tanah, serunya "Ibu, apakah kau rela menyaksikan ananda dimaki dan dicemooh setiap orang di dunia ini. "

Walaupun Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling tidak mengerti peristiwa apa yang telah terjadi pada ibu beranak  itu, tapi dari sikap kedua orang itu dapat diketahui masing2 memiliki rahasia yang tak mungkin disiarkan keluar.

Sebagai orang luar, dia merasa tidak, pantas ikut bicara, maka ia hanya memandang kedua orang itu dengan termangu dan menitikan air mata terharu.

Lik-ih-hiat-li sendiri tentu saja ingin Bok Ji-sia melanjutkan hidupnya, sekuatnya mengendalikan perasaannya itu.

Sambil tertawa dingin kemudian serunya, "Kau kira dengan kematian maka kau akan lepas dari kesulitan?"

"Kenapa?" seru Ji-sia kaget, "apakah kematian ..." Waktu itu matanya berubah menjadi merah, basah oleh air bercampur darah, ketika mendongakkan kepalanya, hampir saja ia tak bisa melihat jelas bayangan tubuh Lik-ih-hiat-li, dia tahu kesedihan sendiri sudah mencapai pada puncaknya,

Kembali Lik-ih-hiat-li mendengus, katanya-"Mati, hanya suatu cara untuk menghindari kenyataan, jalan akhir dari kaum pengecut, arwahnya yang sudah terlepas pun takkan memperoleh keterangan. Cara penyelesaian yang benar adalah hidup dengan tabah, dengan kemampuan sendiri mencuci bersih noda sendiri, tidak menyerah kepada kekuatan jahat, berjuang terus pantang mundur. Ibu bisa hidup sampai sekarang tak lain adalah mengandalkan kekuatan ini, tentu saja yang lebih penting adalah demi dirimu, ingin kulihat kau balas dendam berdarah ini. "

Setelah mendengar teguran dan petuah dari Lik-ih-hiat-li, mendadak Bok Ji-sia merasakan becapa beratnya tugas yang berada di pundaknya sekarang, tanggung jawab ini tak mungkin diselesaikan hanya dengan kematian.

Tiba-tiba dadanya terasa lebih lapang dan longgar, katanya kemudian, "Ananda mengerti!"

Lik-ih-hiat-li menangis sedih. sekalipun ia telah berusaha mengendalikan gejolak perasaannya tapi akhirnya dia tak tahan, dia muntah darah dan persis menyembur pada wajah Bok Ji-sia.

Sambil menubruk ke depan ia memeluk pemuda itu erat- erat, meledaklah isak tangis yang memilukan hati

Sampai lama dia baru berhenti menangis, dengan penuh kasih sayang ditatapnya wajah Bok Ji-sia, dari balik sinar matanya yang penuh kelembutan itu terpancar juga sinar harapannya,

"Nak," katanya sambil tertawa pedih, "hanya dengan darah noda kita bisa dicuci bersih, kita harus membersihkan noda kita..."

"Aku pasti akan membersihkan noda ini dengan darah," Ji- sia berjanji dengan tegas, "Ibu, tunggu sajalah engkau!"

Di kejauhan sana bunyi kentongan bergema tiga kali menandakan sudah lewat tengah malam.

Bok Ji-sia mendongakkan kepala dan memandang bintang yang bertaburan di angkasa, tanpa terasa dia menghela napas, semua peristiwa berlangsung begitu mendadak, tak tersangka ibunya masih hidup di dunia ini.....

"Dapatkah aku hidup lebih jauh!" pernah ia bertanya kepada diri sendiri.

Walaupun pertanyaan ini sederhana dan gampang dijawab, namun selalu berkecamuk di dalam benaknya, tapi akhirnya dia memutuskan untuk hidup lebih jauh, paling tidak dia harus hidup dulu sampai dendam terbalas. Ia tahu perasaannya tiap hari dilewatkan dalam penderitaan, saban hari dia harus merasakan siksaan batin, peristiwa yang dialaminya dulu rasanya memalukan untuk berjumpa dengan orang lain, terutama hubungan badan dengan ibu kandung sendiri, membuat dia merasa pedih tak terlukiskan.

Benar kejadian itu merupaksn rahasia mereka ibu dan  anak, tapi rahasia itu tak pernah lenyap dalam benaknya.

Mendadak sesosok bayangan berkelebat di bawah sinar rembulan, oleh karena malam sangat gelap, tak jelas siapakah gerangan pendatang itu.

Tapi ia tak berpikir panjang, sebab ia menduga orang itu pastilah ibu gurunya, Se to-sian-ki Bwe Siau-leng.

Tapi ketika orang itu semakin dekat dan dirasakan tidak mirip, dia baru membentak, "Siapa?"

"Suheng, aku," sahut orang itu merdu.

Bok Ji-sia tertegun, sudah jelas Subonya mengajaknya bertemu malam ini, kenapa ia tak muncul sendiri, sebaliknya menyuruh Sumoaynya Oh Keng-kiau yang datang memenuhi janji, jangan-jangan ia tertimpa sesuatu musibah?

"Mana Subo?" tanyanya segera.

Di bawah sioar bulan tampak Oh Keng-kiau dengan wajah penuh air mata berjalan mendekat.

Ji-sia terperanjat sekali, buru-buru dia memapak maju sambil menegur, "Sumoay, apa yang terjadi?"

Sambil menyeka air mata seru Oh Keng-kiau dengan gelisah, "Suheng, cepat pergi!"

Sekali lagi Ji-sia melengak bingung, belum lagi dia berbuat sesuatu, Oh Keng kiau telah menarik tangannya dan diajak lari pergi dari situ. Sungguh cepat gerakan tubuh kedua orang itu, dalam waktu singkat dua-tiga li lebih sudah dilalui.

Tiba-tiba dari depan terdengar suara bentakan nyaring, menyusur sesosok bayangan melayang mendekat, di belakangnya mengikut puluhan bayangan hitam yang melakukan pengejaran.

"Suheng, mari kita bantu Subo!" seru Keog-kiau dengan kuatir.

Bayangan merah berkelebat, dengan jurus Cuan-in-liu-sui (menembusi awan air mengalir), seperti anak panah yang terlepas dari busurnya Keng-kiau meluncur ke depan,  dari jauh suatu pukulan dahsyat lantas dilancarkan.

Ji-sia kuatir Keng-kiau mengalami sesuatu, buru-buru bentaknya, "Sumoay, hati-hati!"

Baru selesai membentak, tampak Se-to-sian-ki Bwe Siau- leng telah tiba dengan sempoyongan, sementara para jago yang mengejar telah berdiri berjajar di hadapannya.

-o-o-

Apa yang terjadi atas ibu guru Ji-sia, yaitu Se-to-sian-ki Bwe Siau-leng?

Cara bagaimana Ji-sia akan menuntut dendam berdarahnya? Dan terhadap siapa!

-oo0dw0oo-