Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 22

 
Jilid 22

Baru saja Lamkiong Hian berteriak "Celaka" kitab pusaka tersebut tahu-tahu sudah melayang ke udara, cepat bentaknya, "Nikoh tua kau berani!"

Semua itu berlangsung dalam sekejap mata, baru saja para jago merasa terkejut, ketika melihat kitab pusaka itu melayang ke udara, serentak mereka berlompatan ke udara dan berusaha menyambar kitab pusaka tersebut.

Dengan Ilmu isapan Cian-kin-in-lik (tenaga betot seribu kati) Coan-sin-loni dari Go-bi-pai berhasil mengisap terbang kitab Hak-liong-kang-ki-su, baru saja dia akan melayang ke udara untuk merebut kitab pusaka itu, mendadak terasa segulung tenaga pukulan yang kuat menyambar tiba.

Dalam kagetnya buru-buru dia menahan gerak tubuhnya seraya berseru, "Biar kusambut seranganmu!"

Lengan jubahnya dikibaskan, timbul pusaran angin pukulan yang kuat memancar keempat penjuru.

Kedua orang sama-sama jago kelas satu dalam dunia persilatan, serangan itupun menggunakan tenaga penuh, begitu tenaga pukulan mereka saling bertemu, dengan terkesiap kedua pihak lantas menyurut mundur.

Belum lagi sempat mengatur pernapasan ketika Lamkiong Hian berpaling, diam-diam ia mengeluh, "Celaka! Kitab pusaka telah terjatuh ke tangan orang lain!"

Sambil bersuit nyaring, secepat kilat dia meninggalkan Coan-sin-loni dan menubruk ke arah kitab pusaka itu.

Kecuali It-hu Taysu dari Siau-lim, hampir semua jago yang hadir di situ bersama-sama turun tangan untuk memperebutkan kitab pusaka Hek-liong-kang-ki-su, tampak beberapa bayangan berkelebat bersama-sama menubruk ke depan.

Ketika Cian-sin Loni mengisap kitab pusaka tadi, Ki-sian-it- to dari Bu-tong-pay juga melompat maju, langsung mencengkram kitab pusaka yang sedang meluncur jatuh itu.

Tampaknya kitab pusaka itu segera akan terjatuh ke tangan Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai. Mendadak Thian-seng-pocu, Seng-gwat-kiam Oh-Kay-thian melompat ke depan sambil membentak, "Siapa yang bosan hidup, silakan tangkap kitab itu!"

Cahaya tajam berkilauan, pedangnya mencukil lagi ke atas kitab pusaka itu, terobek sebagian kitab pusaka itu dan mencelat kembali ke udara.

Gagal dengan cengkeraman pertama, telapak tangan kiri Ki-sian-it-to menghantam ke belakang, sekali lagi ia meloncat untuk meraih kitab itu.

Gerakan Ki-sian-it-to ini dilancarkan dengan cepat luar biasa, gagal dengan serangan pertama, untuk kedua kalinya dia menubruk lagi.

Seng-gwat-kiam-Oh Kay-thian tertawa seram, dengan jurus Pu-bong-tui-ing (menatap angin menubruk bayaogan) ia manabas tubuh Kie-sian-it-to, kuatir serangannya gagal, telapak tangan kirinya segera menyusulkan pula suatu pukulan.

Lihai sekali serangan Oh Kay-thian ini, mau-tak-mau Kie- sian-it-to harus menarik kembali serangannya untuk menghadapi lawan, dengan gerakan Leng-gong-huan-sin (berjumpalitan di tengah udara) dia melayang mundur.

Tiong-ciu-it-kiam selama ini hanya berdiri tenang di- samping, segera ia manfaatkan kesempatan itu, dia melompat ke udara dan menyambar kitab pusaka,

Saat itu Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian juga menubruk tiba, melihat gelagat tidak menguntungkan, pedang dan telapak tangan digunakan bersama, pedang menusuk jalan darah kematian di punggung Tiong-ciu-it-kiam, sementara pukulan tangan kirinya menghantam ke arah kitab pusaka.

It-hu Taysu dari Siau-lim yang menyaksikan kejadian itu cuma menggeleng kepala sambil bergumam dengan sedih,  "Ai, tidak kusangka dunia persilatan bakal diliputi oleh badai pembunuhan yang mengerikan hanya lantaran sejilid Hek- liong-kang-ki-su!"

Tenaga pukulan yang dilancarkan Lamkiong Hian sungguh amat dahsyat, akibatnya kitab pusaka melayang pergi sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

Melihat itu, para jago lupa untuk melukai musuh lagi, masing-masing lantas menubruk ke depan secara kalap,

"Semuanya berhenti!" mendadak terdengar bentakan keras menggeledek.

Para jago tertegun dan tanpa terasa menghentikan gerakan masing-masing, mereka memandang ke arah datangnya suara.

Tertampak dua sosok bayangan-manusia bagaikan sukma gentayangan meluncur datang, dalam waktu singkat telah tiba di depan orang banyak.

Semua orang merasa silau, tahu-tahu di tengah arena telah muncul dua orang pemuda yang berusia sebaya dan sama tampannya, mereka tak lain adalah Bok Ji-sia dan Lamkiong Giok.

Mengapa secara tiba-tiba Hian-lo-kiam Lamkiong Giok bisa melakukan perjalanan bersama dengan Bok Ji-sia.

Kiranya Bok Ji-sia jadi sedih dan marah karena kitab pusaka Hek-liong-kang-ki-si diserobot oleh senjata kait Lok-to- sianseng Ciang Lip-teng, ia bertambah gusar lagi setelah menyaksikan jalan perginya teradang oleh Ciu-siu-Thi-say In Ceng-bu, Ay-te-liong Yan Tong-seng dan Siu-tiok-hong Ki Kiu- jin.

Dengan gemas dia lantas membentak, "Kalian sampah- sampah persilatan yang tak tahu malu, serahkan nyawa kalian!" Serangannya dilancarkan dalam keadaan gusar dan tidak kenal ampun, meski harus bertarung satu lawan tiga, ia berhasil mendesak mereka hingga kalang kabut,

Akan tetapi, bagaimana pun juga Su-toa-tocu bisa menempati posisi tinggi dalam dunia persilatan tentu juga memiliki kepandaian yang bisa diandalkan, kungfu keempat orang Tocu itu memang cukup tangguh,

Lama kelamaan pemuda itu mulai merasa gerak-geriknya makin terkendali oleh kerubutan lawan, mendadak ia bersiul panjang dan beruntun melancarkan dua kali pukulan yang memaksa musuh mundur.

Cahaya emas berkelebat, Jian-kim-si-hun-pian dikeluarkan dan memancarkan titik-titik cahaya terang dan bunyi juara yang aneh.

Tiga jago lihai dari empat pulau besar tersebut sesungguhnya tidak berniat beradu jiwa. tujuan mereka hanya ingin mengulur waktu agar Lok-to-siao-seng bisa kabur dengan lancar.

Begitu melihat musuh mulai kalap, mereka lantas saling memberi tanda, mulailah pertarungan dilangsungkan dengan lari ke sana-sini, mereka menghindari pertarungan mengadu jiwa yang tidak bermanfaat, hal ini membuat Bok Ji-sia tambah gemas.

Pada saat itulah, tiba-tiba berkumandang suara orang mendengus, "Hm, sungguh tak tahu malu, tiga lawan satu "

Tertampak Huaa-ki-kiam Lamkiong Giok melayang tiba dengan gusar, ia putar pedang dan memainkan  jurus serangan Huan-in-kiam-hoat, langsung melancarkan serangan berantai ke arah ketiga orang itu.

Semangat Bok Ji-sia berkobar kembali, teriaknya, "Saudara Lamkiong, cepat bantu membereskan mereka!" "Jangan kuatir saudara Bok, mereka tak akan bisa lari!" sahut Lamkiong Giok sambil tertawa.

Bok Ji-sia merasa sangat terharu dan berterima kasih karena sobat karibnya itu selalu bersedia menjual nyawa baginya, tanpa terasa ia semakin menaruh hormat terhadap Lamkiong Giok.

Padahal mana dia tahu Huan-in-kiam Lamkiong Giok sesungguhnya adalah manusia munafik, ramah di luar, keji dan busuk di dalam. Sejak dulu ia sudah berniat menyingkirkan Bok Ji-sia dari muka bumi, apa daya dia  merasa tak mampu melawan Bok Ji sia, dan lagi dia pun takut pada Lik-ih-hiat li, maka terpaksa ia harus mencari akal lain.

Ay-te-liong Yau Tong-seng segera melepaskan pukulan sambil tergelak, serunya, "Lamkiong Giok, ekormu hampir kelihatan!"

Mendengar arti di balik ucapan tersebut, Lamkiong Giok kuatir tugas yang dipikulnya hari ini bakal dibongkar orang, buru-buru bentaknya, "Orang cebol, kau sudah bosan hidup rupanya!"

Dengan jurus Huan-in-liu-siu pedang pendeknya berputar membentuk sekuntum bunga bwe lalu secara terpisah mengancam lima tempat mematikan di tubuh Ay-te-liong Yau Tong-seng.

Buru-buru Ay-te-liong Yau Tong-seng memutar tamengnya untuk menangkis, kemudian melompat mundur, tapi belum lagi berheati, desing angin tajam kembali menyambar tiba.

Siau-tiok-hong Ki Kiu-jin menyaksikan kejadian, itu cepat ia membentak kuatir, "Saudara Yau,.cepat mundur!"

Berbareng tombak di tangannya segera diputar dan melancarkan serangan maut, menusuk ke lambung Bok Ji-sia. Menyaksikan hal itu, Ji-sia tertawa dingin, ejeknya, "Bila, hari ini tidak kubasmi kalian, malu aku Bok Ji-sia memberi pertanggungan jawab kepada seluruh dunia persilatan!"

Jian-kim-si-hun-pian segera berputar, sekaligus menyerang Siau-tiok-hong Ki Kiu-jin dan Ay-te-liong Yau Tong-seng.

Tampaknya kedua orang itu tak sempat menghindarkan diri dan segera akan terluka di ujung ruyung mestika itu....

Mendadak dari kejauhan terdengar tiga kali suitan panjang dan dua kali pendek, Ji-sia menjadi tertegun dan gerak serangannya melamban, dia mengira ada jago yang lebih tangguh lagi sedang menghampiri.

Kesempatan ini segara dimanfaatkan Siau-tiok-hong serta Ay-te-liong untuk melompat mundur, sedangkan si Singa bercambang In Ceng-bu juga mendesak mundur Huan-in-kiam Lamkiong Giok, lalu melompat mundur.

"Saudara berdua, cepat mundur!" serunya dengan terkesiap, "di sebelah sana keadaan agak gawat!"

Waktu mendengar suitan tadi, ketiga orang Tocu itu tahu Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek menjumpai musuh tangguh, sesudah saling tukar pandang, serentak mereka angkat kaki dari situ.

"Hahaha... Su-toa-tocu!" ejek Ji-sia sambil tertawa, "sesudah merampok barangku, kalian hendak kabur begitu saja?"

Segera dia hendak melakukan pengejaran, tapi dicegah oleh Lamkiong Giok.

Ji-Sia tertegun, serunya cepat, "Saudara Lamkiong, masa kita biarkan mereka kabur?"

"Musuh yang terdesak tak usah dikejar, kuyakin masih ada cara lain untuk menyusul mereka!" jawab Lamkiong Giok. Ji-sia menjadi amat sedih, hatinya sangat tersiksa, seandainya kitab pusaka Hek-liong-kang itu sampai hilang, bagaimana mempertanggungjawabkannya kepada si gadis ajaib Hek-liong-kang.

Huan-in-kiam Lamkiong Giok sesungguhnya sudah mulai menguntit di belakang pemuda ini sejak Ji sia berangkat mengawal barang, ia dapat melihat semua kejadian yang dialaminya dengan jelas.

Sekarang, ia pura-pura menghela napas panjang, katanya, "Ai,apakah saudara Bok ada rahasia hati?. Jika ada kesulitan, Siaute bersedia menolongmu dangan sepenuh tenaga..."

Ji-sia terharu sekali, katanya agak emosi, "Aku mendapat titipan seorang teman untuk mengantar suatu benda ke Hek- liong-kang, siapa tahu benda itu dirampas orang-orang keempat pulau besar di tengah jalan, sekarang aku tak bisa bertanggung jawab kepada si penitip barang itu, hatiku merasa, tak tenang..."

Diam-diam Lamkiong Giok merasa girang, sahutnya cepat, "Apakah saudara Bok maksudkan kitab pusaka yang kini terjatuh ke tangan orang empat pulau besar itu?"

"Betul, sekarang hatiku sedang kalut, harap saudara Lamkiong sudi mencarikan akal bagiku"

Lamkiong Giok sengaja berlagak, susah, ujarnya kemudian, "Wah, soal ini memang agak sulit, cuma... Ah, ada akal, asal saudara Bok mau menurut caraku ini, tanggung kitab tersebut bisa dirampas kembali, sampai waktunya biar aku yang menolongmu untuk menyampaikan barang titipan itu ke Hek- liong-kang."

Mencorong sinar mata Bok Ji-sia, suatu perasaan terharu yang aneh muncul dalam hatinya, tanpa bicara lagi mereka berdua segera melangkah ke depan. Sewaktu tiba di tempat ini, pertarungan memperebutkan kitab pusaka sedang berlangsung dengan serunya.

Itulah sebabnya, mengapa Bok Ji-sia baru datang  sekarang;

Kembali tadi. ketika Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian melihat putranya datang bersama Bok Ji-sia, dengan cepat dia paham duduknya persoalan, ia berlagak tak senang hati, tegurnya, "Giok-ji, siapa suruh kau datang kemari."

"Ayah, sobat ananda kehilangan sesuatu barang, sekarang ananda sedaag mencarikan, tak nyana berjumpa dengan ayah di sini..." sahut Lamkiong Giok dengan hormat.

Seperti tak sengaja, dia melirik sekejap ke arah kitab pusaka Hek-liong-kang padahal yang benar ia sedang memberi isyarat kepada ayahnya.

Lamkiong Hian pura-pura bertanya pula, "Bok-siauhiap kehilangan barang apa?"

"Kitab pusaka Hek-liong-kang inilah!" jawab Lamkiong Giok sambil menarik Ji-sia maju ke tengah arena.

Semua jago sama melengak, tanpa terasa mereka pun maju selangkah ke depan,

Tiong-ciu-it-kiam segera berseru, "Kitab itu tiada pemiliknya, cara bagaimana bisa kau buktikan dialah pemiliknya?"

"Memangnya milikmu!" bentak Ji-sia marah.

"Sekalipun bukan milikku, pasti juga bukan milikmu!" sahut Tiong-ciu-it-kiam ketus,

Lamkiong Giok tergelak, katanyaa "Setiap umat persilatan di dunia ini siapa yang tak tahu Bok-siauhiap mendapat titipan si gadis berbaju biru untuk menyerahkan kitab pusaka itu kepada Hek-liong Lojin? Jika kau Tiong-ciu-it-kiam berani mengalanginya, itu berarti kau sudah bosan hidup!" Tiong-ciu-it-kiam mendengus, "Hmm, mengingat usiamu masih muda, lebik baik cepat enyah dari sini!"

"Hehehe, ucapanmu menghina, rupanya kau sengaja hendak bermusuhan dengan Kiam-hong-ceng!" seru Kiam- hong-cengcu Lamkiong Hian dengan tertawa dingin.

Tindakan ini sungguh di luar dugaan orang, semuanya tak menyangka secara tiba-tiba pihak Kiam-hong ceng akan bermusuhan dengan Liong-ciu-it-kiam dan tampaknya Lamkiong Hian hendak membela Bok Ji-sia.

Sungguh pun Tong-ciu-it-kiam adalah seorang ketua suatu perguruan besar, namun dia enggan bermusuhan dengan Kiam-hong-ceng yang kuat itu, maka ketika dirasakan ucapannya kelewat batas, mau berubah pun sudah tak sempat lagi.

Katanya kemudian, "Ah mana, mana, jika Kiam-hong-ceng berniat begitu, akupun apa boleh buat!"

Siang-gwat-kiam Oh Kay-thian sejak tadi sudah menahan rasa dongkolnya, ia tahu semua yang hadir sekarang berhasrat mendapatkan kitab pusaka tersebut, ini berarti bukan pekerjaan gampang bila ingin mengangkangi kitab tersebut untuk diri sendiri.

Dangan terkekeh ia berkata, "Siapakah diantara kalian yang berhasrat memperebutkan kitab ini?"

Pertanyaan iiu boleh dibilang sudah tahu sengaja bertanya, tapi justru di sini pula letak kecerdikannya yang keji.

Sebagaimana diketahui, sebagian besar yang hadir ini adalah jago-jago kenamaan, meski sudah lama mengincar kitab itu, tapi kalau suruh mereka mengaku terus terang di hadapan umum, betapa pun merasa sulit,

Siapa tahu, mendadak Bok Ji-sia berseru, "Aku bertekad merampas kembali kitab pusaka itu!" Waktu itu ia lagi merasa menyesal, tak tahunya Seng-gwat- kiam Oh Kay-thian mempunyai rencana untuk mengendalikan orang-orang lain agar mau turut dalam perebutan kitab ini.

Ia memandang sekejap ke arah Bok Ji-sia, lalu katanya, "Baik, kau orang pertama, juga merupakan jago yang paling muda "

"Dan siapa lagi?" ia berseru pula setelah berhenti sejenak. "Aku pun ingin turut mencobanya!" seru Lamkiong Giok. Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa licik, katanya cepat,

"Sobat karibmu Bok Ji-sia kan sudah ambil bagian, buat apa kau turut pula dalam perebutan ini? Masa kau pun hendak berebut dengan sahabat sendiri?"

Bok ji-sia melenggong, ia tidak paham maksud ucapan tersebut, sebaliknya Lamkiong Giok yang cerdik segera dapat menangkap niat jahat orang, diam diam ia terkesiap.

Ia mendengus gusar, "Untuk apa menggubris orang yang cuma mengadu domba..." dia lantas melengos ke arah lain dan tak sudi memandangnya.

Tiong-ciu-it kiam segera maju ke muka, katanya sambil tersenyum, "Saudara Oh hanya menanyai orang lain, kenapa tidak jelaskan dulu pendirianmu sendiri!"

"Hmmnnn, tentu saja aku tak akan melepaskan kesempatan baik ini," dengus Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, "cuma aku tidak harus mendapatkannya, aku cuma ingin ikut meramaikan suasana, untuk menghindari pertumpahan darah yang tak ada gunanya, ada satu cara bagus yang bisa menyelesaikan masalah ini dengan adil. "

"Omintohod!" puji It-hu Taysu dari Siau-lim-si, "berbahagialah umat manusia jika Oh sicu bisa bertindak welas asih, asal tidak menggunakan kekerasan, aku tentu menyokong." It-hu Taysu dari Siau-lim-si adalah seorang paderi agung, dia tak ingin menyaksikan terjadinya pertikaian berdarah di situ.

Oh Kay-thian tertawa terbahak-bahak, katanya, "Kalau dibicarakan urusannya sederhana sekali, tapi sulit pelaksanaannya, mungkin hadirin enggan menerima usulku."

"Asal caramu itu adil dan cocok, tentu saja akan kudukung usulmu itu" jawab Coan-tin-it-to dari Bu-tong-pai.

Sambil menuding kitab pusaka yang berada di atas tanah itu, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian berkata, "Kitab pusaka ini sudah membuat orang persilatan menjadi tergila-gila, tidak sedikit umat persilatan yang ingin melihat isinya, mumpung hari ini kita berkumpul di sini, bagaimana kalau kubuka halaman kitab itu kemudian kita melihat isinya bersama? Setelah itu, kita masing-masing pihak mengambil semacam kepandaian untuk dilatihnya di gunung, kurasa kitab yang tebal ini pasti tidak cuma memuat semacam ilmu saja, sekalipun dibagi rata untuk yang hadir kurasa juga masih lebih."

"Cara ini memang bagus, cuma sayang kurang adil," kata Coan-sin-loni dari Go-bi pai sambil maju ke depan,  "bagaimana pun di antara sekian banyak ilmu yang tercantum di sicu pasti ada ilmu yang bagus dan ada pula yang jelek, bila pembagian kurang adil, akhirnya toh pertumpahan darah tetap akan berkobar juga?"

"Ah,kurasa setiap kepandaian yang tercantum dalam kitab ini sudah pasti adalah ilmu sakti yang belum pernah ada di dunia selama ini, asalkan semua orang bersedia membaginya secara adil, ku jamin setiap orang pasti akan mendapat bagiannya, cuma... kita mesti mempunyai dua orang pelindung untuk menjamin amannya pembagian ini."

Kiam hong-cengcu Lamkiong Hian tertawa, "Hehehe, kenapa kau ingin membuka kitab itu? Pasti ada niat busukmu." Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian gusar sekali mendengar perkataan Itu, hampir dia tidak tahan, tapi demi suksesnya rencana besar terpaksa ia bersabar daripada orang menaruh curiga lebih mendalam lagi kepadanya..

Maka sambil tertawa serak katanya, "Kalau pihak Kiam hong-ceng tidak percaya kepadaku, harap It-hu Taysu dari Siau-lim-pai saja yang memimpin pembagian ini!"

It-hu Taysu dari Siau-lim-pai adalah pendeta agung yang saleh, dan tidak mempunyai nafsu serakah, tentu saja semua jago percaya kepadanya.

Setelah memuji keagungan sang Budha, pelahan It-hu  maju ke depan, tiba-tiba pendeta ini merasakan tugasnya berat sekali.

"Omintohud!!" katanya kemudian, "Atas dukungan hadirin sekalian, aku menjadi malu sendiri. Tapi kalau semua orang telah setuju, terpaksa ku-singkap teka-teki yang meliputi kitab pusaka ini."

Suasana menjadi tegang, berpuluh pasang mata gama tertuju It-hu Taysu yang sedang maju ke depan.

"Jangan sentuh benda itu!" mendadak Bok Ji-sia membentak sambil menyeringai.

It-hu Taysu menghentikan langkahnya, lalu berkata, "Omintohud, apakah Sicu ada mempunyai pandangan lain terhadap diriku?"

Perlu diketahui, It-hu Taysu mempunyai kedudukan yang tinggi sekali di dalam dunia persilatan, terutama dalam kuil Siau-lim-si, bila menyinggung nama It hu Taysu tiada orang yang tidak menghormatinya, maka bentakan Bok Ji-sia tersebut dapat dianggap sebagai penghinaan terhadap pendeta agung ini.

Waktu itu Bok Ji-sia merasa gusar sekali sehingga sekujur badan gemetar, sekalipun kitab pusaka Hek liong kang itu. bukan miliknya, tapi ia merasa bertanggung jawab terhadap benda itu lantaran si gadis berbaju biru telah menitipkan kepadanya, paling tidak ia terhitung setengah pemiliknya.

Kenyataannya sekarang tanpa persetujuannya orang-orang itu bersikeras hendak menyingkap rahasia isi kitab pusaka tersebut, tentu saja hawa amarahnya berkobar.

Kalau orang sedang marah, sudah barang tentu iapun tak peduli kelihaian lawan.

Dengan suara menggeledek kembali bentaknya, "Bila kubilang jangan menyentuhnya, maka lebih baik jangan menyentuhnya,"

Sungguhpua It-hu Taysu seorang pendeta yang saleh, tak urung timbul juga amarahnya, sekali melompat mendadak ia menerjang ke depan Bok Ji-sia.

"Siau sicu, kau murid siapa? Berani kau bersikap kasar kepadaku?" tegurnya.

"Hmm, selama aku Bok Ji-sia berada di sini, barang siapa berani menyentuh kitab pusaka Hek-Jlong-kang itu, biar dia merasakan dulu kehebatan Jian-kim-si hun-pian."

Jawaban yang menyimpang dari pertanyaan ini membuat It-hu Taysu tertegun.

Sambil tertawa dingin Tiong-ciu-it-kiam segera berseru, "Taysu, buat apa banyak bicara, hadiahkan saja sekali pukulan kepadanya!"

Ji-sia tertawa seram, ejeknya, "Bila kau punya kemampuan, silakan maju, buat apa bersilat lidah melulu."

Mendadak Seng-gwat-kiam Oh Kay Khian menuding Bok Ji- sia, katanya, "Ia telah merusak peraturan kita, berarti dia adalah musuh kita bersama, biar kita binasakan dia lebih dulu!" Begitu selesai berkata, telapak tangan kiri tiba-tiba melepaskan pukulan dahsyat ke depan, langsung menghajar dada Bok Ji-sia.

Huan in-kiam Lamkiong Giok tahu kesempatan semacam ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sambil merentangkan tangannya dia lantas berseru, "Hei, kalian mau main keroyok? Tidak bisa kawan!"

Sementara itu Bok Ji-sia sudah mengegos ke samping dan mundur beberapa langkah, ia tertawa dingin, teriaknya dengan gusar, "Saudara Lamkiong, akan ku rebut kembali kitab itu, seandainya aku mati, kitab ini kuserahkan untukmu!"

Setelah berhenti sebentar, lalu bentaknya, "Nah, mati bagi siapa yang mengalangi aku dan hidup bagi yang menghindariku!"

Mendadak jagat serasa menjadi gelap, awan mendung menyelimuti angkasa.

Cahaya emas berkilauan, sekujur badan Bok Ji-sia dengan dibungkus oleh bayangan emas langsung menerjang ke arah kitab pusaka Hek-liong-kang.

Baru saja ia bergerak bayangan manusia yang berkumpul di situ pun serentak menyongsong ke depan.

Huan-in-kiam Lamkiong Giok merasa girang sekali menyaksikan Bok Ji sia sudah tidak mempedulikan soal mati- hidupnya lagi, dia kuatir Bok Ji-sia berubah pikiran, maka dengan suara lantang teriaknya, "Jangan kuatir saudara Bok, pasti akan ku bantu dengan sepenuh tenaga!"

Walaupun di mulut ia berbicara manis, tapi kakinya sama sekali tidak bergerak, ia malah tersenyum belaka memandang orang-orang mengalangi kepergian Bok Ji-sia.

Ketika Oh Kay-thian melihat Bok Ji-sia secara nekat hendak mengambil kitab pusaka itu, segera ia membentak, pedang Seng-gwat-kiamnya dengan jurus Kian-kim-si-kay (puteri agung memberi sedekah) sagera menusuk ke jalan darah penting di tubuh anak muda itu.

Tiong-ciu it-kim tidak ketinggalan, dengan gusar iapun membentaknya, "Orang she Bok, kau ingin mampus!"

Ilmu pedang Tiam-jong-pai segera menusuk  juga punggung Bok Ji-sia.

Kedua orang itu turun tangan hampir berbareng dengan kecepatan luar biasa.

Saat itu Bok Ji-sia tidak memikirkan mati-hidupnya lagi, melihat kedua orang itu mendekat, ia membentak, dengan jurus Hiat-in-tui-hun- (bayangan darah mengejar sukma), secepat kilat ia mengegos dan balas menyerang kedua orang itu.

"Sekalipun malam ini Bok Ji-sia bakal tewas di sini, tak nanti aku takluk kepada kalian!" serunya sambil tertawa panjang.

Tiong-ciu-it-kiam tergelak, "Hahaha, jika kau memang berhasrat mampus, akan kupenuhi keinginan mu!"

Di tengah gelak tertawanya, cahaya tajam pedang segera memancar ke empat penjuru.

Bok Ji-sia tertawa seram, Jian-kim-si-hun-pian di tangannya segera berubah bagai seekor naga emas yang berkilauan, diiringi bunyi mendenging menggema angkasa.

Bayangan manusia sirap, cahaya perak hilang pedang Tiong-ciu-it-kiam tahu-tahu patah menjadi dua, dengan wajah pucat ia berdiri terpaku di tempatnya.

Mendadak terdengar bentakan menggelegar, tahu-tahu Seng-gwat-kism Oh Kay thian telah menyelinap ke belakangnya, hawa pedang dingin sudah mengancam punggung Bok Ji-sia. Pada saat itulah, tiba-tiba It lm Taysu membentak keras, "Bok-siauhiap, awas belakang!"

Pendeta agung ini tak tega menyaksikan pemuda itu disergap secara licik, maka dia memberi peringatan.

Dengan cekatan Ji-sia melompat ke depan, kemudian sambil berpaling ia memaki, "Keparat, kau betul-betul licik!"

Ruyung segera menyabet ke belakang, tapi tangannya lantas tergetar hingga senjata itu nyaris terlepas, dalam kagetnya buru-buru ia menarik serangannya.

Sebaliknya Seng gwat-kiam Oh Kay thian juga berdiri dengan wajah kaget bercampur heran.

Tiba-tiba terdengar Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian membentak, "Huh, ketua perguruan ternama yang licik.."

Pukulan dahsyat dilontarkan dengan tangan kiri, sedang pedang lima lubang di tangan kanan mengeluarkan irama yang aneh.

Semua orang terkejut, kiranya Tiong-ciu-it-kiam entah sedari kapan tahu tahu sudah berhasil merampas kitab pusaka Hek- liong- kang itu.

Perintah segera diturunkan, para jago Kiam-hong-ceng serentak membentuk barisan dinding manusia mengadang jalan pergi Tiong-ciu-it-klam.

Pihak Thian-seng-po juga tidak tinggal diam, para jagonya berbondong-bondong maju ke depan.

"Toyu!" seru Coan-sin-loni sambil mengebaskan lengan jubahnya, "tidakkah kau merasa perbuatanmu ini akan ditertawakan setiap umat persilatan di dunia?"

Marah padam wajah Tiong-ciu-it-kiam, semula dia mengira dengan berlagak terluka dan mumpung orang tidak menaruh perhatian, ia bisa melarikan kitab pusaka itu secara diam- diam, tapi akhirnya toh konangan juga, tak terlukiskan rasa gemas dan kesalnya.

Dari malu dia menjadi murka, pedang berputar dengan gencar, jepitan ngeri berkumandang susul menyusul, empat orang jago Kiam-hong-ceng segera roboh tergeletak dan tewas seketika.

"Bangsat, kau berani mencelakai anak buahku?!" bentak Lamkiong Giok dengan gusar.

Lima jalur cahaya perak berkilauan menyambar ke depan mengincar jalan darah penting di sekujur badan Tiong ciu-it- kiam, pada dasarnya dia memang berhati keji, serangannya itu lebih-lebih tak kenal ampun.

Pada saat yang sama Lamkiong Hian juga menerjang ke depan, bentaknya, "Tiong-ciu-it-kiam rasakan pukulanku ini!"

Tiong-ciu-it-kiam hanya memperhatikan Hoan-in-kiam Lamkiong Giok yang mengancam dari depan, tapi lupa di belakang masih ada seorang tokoh sakti, ia lebih-lebih tak menyangka kedua ayah beranak itu bisa melancarkan serangan bersama.

Punggungnya terasa bergetar keras, tanpa ampun dia muntah darah, masih untung tenaga dalamnya sempurna, setelah terluka dia masih sempat loloskan diri di bawah ancaman pedang.

Tapi kitab pusaka itu kembali terlepas dan jatuh persis di samping Bok Ji-sia.

Hati anak muda itu tergetar, dengan jurus Cuan-gong-ki-uh (mengambil benda dari kantong) sedikit berjongkok ia sambar ujung kitab itu terus hendak terjang pergi.

Siapa tahu, pada saat itulah mendadak "Blang!" pukulan dahsyat dengan telak bersarang di badan Bok Ji-sia, anak- muda itu terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula dan menyemburkan darah. Gerak tubuh si penyergap benar-benar cekatan, telah menyerang terus mundur dengan cepat, malah Ji-sia tidak sempat melihat bayangan tubuh penyergapnya itu.

Dengan menyeringai Ji-sia bertanya, "Siapa yang menyergap diriku!"

Darah dalam tubuhnya bergolak hebat, tangannya yang sata memeluk buku kencang-kencang, sedang tangan yang lain memegang Jian-kim-si-hun-pian dengan pandangan gusar.

Tiada jawaban, siapapun tidak mengaku dirinya sebagai si penyergap.

Melihat itu, Ji-sia semakin naik darah, "Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, ternyata kalian semua adalah manusia pengecut "

"Kata 'kalian' yang kau maksud itu perlu diperjelas lagi," ujar Seng-gwat-kiam Oh Kay-tbian, "Tentang siapa yang melakukan sergapan itu? dapat kuberitahukan kepadamu bahwa dia adalah sahabatmu yang paling karib."

Jelas perkataannya ditujukan kepada Huan-in-kiam Lamkiong Giok, apalagi sambil berkata sinar matanya sengaja melirik ke arah orang she Lamkiong tersebut.

Bok Ji-sia adalah pemuda yaag benci pada kelicikan, iapun sangat jujur, dia tak pernah mencurigai Huan-in-kiam Lamkiong Giok, sebab dianggapnya hal ini tak mungkin terjadi.

Begitulah, ketika melihat tiada orang mau mengaku, terpaksa tanyanya, "Saudara Lamkiong, sebenarnya. "

Menurut perkiraan Lamkiong Giok semula, pukulannya itu pasti akan membinasakan Bok Ji-sia, siapa tahu serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga ini tak lebih cuma mengakibatkan Bok Ji-sia terluka parah, kenyataan ini membuatnya amat terkesiap. Ia makin gelisah setelah Ji-sia langsung menegurnya, dia mengira pemuda itu sudah mengetahui rahasianya, dengan wajah pucat cepat jawabnya, "Saudara Bok, jangan percaya pada perkataan oraog lain, jelas Thian-seng-po ada niat merusak hubungan kita. Meski tidak kulihat jelas siapa penyergap saudara Bok tadi, namun sudah pasti perbuatan ini dilakukan oleh pihak Thian-seng-po. "

Sebenarnya tenaga Bok Ji-sia ketika itu sudah kurang lancar, hakikatnya ia tak mampu lagi menghimpun tenaga lagi, tapi dia tahu sikapnya saat ini harus tegas dan tak boleh memperlihatkan rasa takut, kalau tidak niscaya kawanan jago itu ikan membinasakan dirinya.

Maka sambil tertawa nyaring, tegurnya, "Oh Kay-thian, kaukah yang melakukan perbuatan Ini?"

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian merasa mendongkol sekali karena Lamkiong Giok telah melimpahkan dosa itu kepadanya, tapi iapun tidak mau memberi ptnjelasan, sebab dia tahu kesalahan paham itu sudah telanjur mendalam.

Sambil tergelak, sahutnya dingin, "Peduli benar atau tidak, tak ada alangannya kau catat hal ini atas namaku,"

Betapa lega perasaan Lamkiong Giok setelah Seng-gwat- kiam Oh-Kay-thian menanggung dosanya, dia lantas mengecapkan mata kepada ayahnya sebagai tanda untuk melaksanakan siasat berikutnya.

Segera dia maju ke depan, lalu membentak keras, "Kau herani melukai saudara Bok? Bagus, akan kubalaskan dendam berdarah ini baginya"

Seraya berkata, dengan jurus Thian-ku-keng-hun (tambur langit mengejut sukma) dia kebaskan lengan bajunya, pedang pendek di balik pakaiannya bagaikan lima ekor naga perak terus menyambar ke depan Seng-gwat-kiam Ob Kay-thian mendengus, iapun memutar pedangnya menyambut datangnya ancaman.

It-hu Taysu dari Siau-lim-pai yang berada di samping hanya bisa menggeleng kepala sambil bergumam, "Siausicu, dengan usiamu yang masih muda ternyata memiliki kelicikan yang luar biasa, sungguh menguatirkan dan menakutkan!!"

Mendadak Ji-sia membentak, "Tahan!"

Padahal Lamkiong Giok memang tidak berniat melangsungkan pertarungan sengit, mendengar bentakan itu, cepat dia mundur, dia melirik sekejap ke arah Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dengan gusar, lalu berjalan ke depan Bok Ji-sia, "Saudara Bok ada pesan apa?"

Ji-sia menyerahkan kitab pusaka Hek-liong-kang itu kepada Lamkiong Giok seraya berkata, "Saudara Lamkiong, kuserahkan kitab ini kepadamu, dengan kepandaian ayahmu dan jago-jago lihai Kiam-hong-ceng, rasanya tidak sulit untuk mempertahankan kitab ini..."

Tiong-ciu-it-kism yang berada di samping mendengus, timbrungnva dengan ketus, "Bukan pekerjaan gampang bagi Kiam-hong-cengcu untuk membawa pergi kitab itu?"

Tegang perasaan Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian menyaksikan kitab pusaka itu berada di tangan putranya, dia tahu kesempatan baik semacam ini tak mungkin dijumpai pada lain saat.

Kepada kawanan jago Kiam-hong-ceng yang berada di sekeliling tempat itu segera serunya, "Lindungi Siaucengeu, bila ada orang bermaksud jahat, bunuh tanpa ampun!"

"Sreet!" segenap jago Kiam-hong-ceng segera menyebarkan diri dan melakukan penjagaan yang ketat di sekeliling tempat itu. diam-diam mereka awasi gerak-gerik orang Thian-seog-po, Tiam-cong-pai, Go-bi-pai, Go-bi-pai dan Bu-tong-pai. Timbul rasa haru pada wajah Huan-in-kiam Lamkiong Giok ketika menerima kitab pusaka itu, dia tak mengira Bak Ji-sia benar-benar akan menyerahkan kitab itu kepadanya.

Tapi iapun menyadari bahayanya situasi saat itu, bukan pekerjaan gampang bagi mereka untuk mundur dari situ dengan selamat, tanpa terasa timbul juga rasa kuatirnya.

Tapi di luar dia berpura-pura terkejut, serunya "Saudara Bok, mau apa kau?"

"Aku ingin berduel dengan Oh Kay-thian!" jawab Ji-sia tegas.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian bukan sembarangan orang, sttelah menyaksikan kitab pusaka Hek-liong-kang itu diserahkan kepada orang Kiam-hong-ceng, dia sadar keadaan bisa runyam, buru-buru dia memberi tanda kepada anak buahnya untuk bertindak dengan kekerasan.

Setelah itu, sambil tertawa seram katanya, "Kalau memang hendak mengajak berduel, akan segera kukirim dirimu ke runah nenekmu!"

Diiringi bentakan telapak tangan kirinya segera melancarkan pukulan, serangan ini aneh lekaii dan sukar untuk menghindarinya.

Ji-sia berkerut kening, nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan badan yang sudah terluka parah, ia tidak menghindar atau berkelit, dia angkat tangannya dan menangkis pukulan lawan dengan kekerasan.

"Blang", benturan keras berkumandang.

Sesosok bayangan hitam mencelat ke udara dan "bluk", terbanting ke tanah, tubuh Bok Ji-sia seperti tak berkutik lagi, hal ini membuat perasaan semua jago tergetar.

Lamkiong Giok juga terkesiap atas kejadian itu, tapi sekejap kemudaan wajahnya kembali berseri seakan-akan merasa girang menyaksikan musibah yang menimpa lawan, dari sini dapat diketahui betapa liciknya orang ini.

Mendadak suara tertawa seram bergema, Bok Ji-sia dengan badan berlepotan darah pelahan berbangkit lagi.

Melihat itu, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian kaget sekali, dia mengira dirinya sedang mimpi.

Tapi semua ini adalah kenyataan, Bok Ji-sia merangkak bangun, setelah tergelak, tiba-tiba air mukanya menampilkan perubahan aneh yang sukar dijelaskan, dia menyapu pandang para jago yang hadir.

Seog-gwat-kiam Oh Kay-thian betul-betul terkesiap, sampai bergidik lantaran ngeri, dia percaya serangannya tadi mempunyai kekuatan ribuan kati, sekalipun kebal juga belum tentu mampu menahan serangan dahsyat itu.

Tapi kenyataannya bukan saja Bok Ji-sia yang sudah terluka parah itu sanggup menyambut serangannya, bahkan sempat pula merangkak bangun, mau-tak-mau timbul juga perasaan ngeri dan takutnya terhadap pemuda aneh itu.

"Ehm, rupanya masih punya ilmu simpanan," serunya dengan wajah beringas, "sambutlah pukulanku lagi!"

Tiba-tiba Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai melompat ke depan seraya terseru, "Saudara Oh, kau hendak melakukan pembantaian habis-habisan?"

Sekalipun dia juga berhasrat mendapatkan kitab pusaka itu, namun bagaimanapun dia adalah seorang tokoh perguruan besar, timbul sifat pendekarnya setelah menyaksikan keadaan Bok Ji-sia yang payah, bila perlu ia siap membantu anak muda tersebut,

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa, katanya, "Kalau pihak Bu-tong-pai sudah menampilkan diri, biarlah kulepaskan dia kali ini!" Saat itu tenaga dalam Bok Ji-sia sama sekali telah punah, dia hanya mengandalkan semangat saja untuk mempertahankan tubuhnya, tapi ucapan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian yang tak sedap itu segera menimbulkan kembali kesombongannya.

"Siapa yang sudi menerima pengampunanmu?" teriaknya sambil tertawa seram, "Oh Kay-thian! Jika berani silakan maju lagi!"

Oh Kay-thian memandang sekejap sekeliling arena, katanya, "Dia sendiri yang ingin mampus, jangan salahkan aku bila kubunuh dia."

Lalu ia berteriak, "Bocah she Bok, akan kupenuhi keinginan mu!"

Telapak tangan diangkat, tiba-tiba diayun ke bawah dengan jurus Ki-hwe-liau-thian (mengangkat obor membakar langit), langsung membabat pinggang Bok Ji-sia,

Serangan ini dilakukan Oh Kay-thian dengan segenap tenaga dalamnya, kehebatannya luar biasa.

Bok Ji-sia dengan mata melotot seakan-akan tidak merasakan sesuatu, ia membiarkan angin pukulan menghajar datang.

Seandainya serangan itu sampai mengenai tubuhnya, sekalipun berbadan baja juga tukar menahan serangan yang maha dahsyat itu, tampaknya dia segera bisa binasa....

Mendadak terdengar Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hiin membentak, "Anak Giok, cepat pergi!"

Lamkiong Giok mengiakan, sambil mengempit kitab, pusaka Hek-liong-kang secepat kilat ia kabur dari situ.

Kawanan jago Kiam-hong-eengcu juga serentak bergerak dan melindungi Huan-in-kiam Lamkiong Giok begitu mendengar bentakan sang Cengcu, dengan ketat mereka melindungi keselamatannya dan meninggalkan tempat itu;

Para jago Thian-seng-po menjadi kelabakan, bentakan kerat bergema di sana-sini, beramai-ramai mereka menerjang maju,

Pihak Kiam-hong-ceng juga tak mau unjuk kelemahan, segera mereka menyokong datangnya serbuan.

Dalam waktu singkat, suasana dalam arena menjadi kacau- balau, cahaya golok dan bayangan pedang memenuhi angkasa, jerit kesakitan dan pekikan ngeri berkumandang susul menyusul.

Gelisah sekali perasaan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian menyaksikan Lamkiong Giok kabur dengan membawa kitab pusaka, ia batal menghantam dan memburu ke sana.

Bok Ji-sia tidak tahan keadaannya yang payah, dia roboh terkulai.

Pada saat, itulah, mendadak terdengar Tiong-ciu-it-kiam membentak sambil menubruk maju, "Mau kabur ke mana kau!"

Dengan jurus Kin keh-liau-ka (ayam emas menggetarkan bulu), pedang bergetar, desing tajam menyambar ke depan.

Belum jauh Lamkiong Giok melarikan diri, dilihatnya beberapa sosok bayangan meluncur datang, ia terperanjat, apalagi menyaksikan Tiong-ciu-it-kiam juga mengadang jalan perginya, dia semakin terkesiap.

"Enyah dari sini!" bentaknya dengan gusar.

Pedang pendek di tangan kanan secepat kilat meluncur ke depan, cahaya putih berkelebat ke arah Tiong-ciu-it-kiam.

Dengan cekatan Tiong-ciu-ii-kiam mengeluarkan urus Po- hoag-pat-ta (angin puyuh melanda delapan penjuru) dari Tiam-cong kiam-hoat, dengan kekerasan ia bendung ancaman tiga bilah pedang pendek Lamkiong Giok itu,

"Serahkan kitab pusaka itu dan akan kuampuni jiwamu!" bentaknya.

Lamkiong Giok terbahak-bahak, "Tiong-ciu-it-kiam, jika kau tak mau angkat kaki, terpaksa kuladeni kau!"

Mendadak bentaknya, "Atur barisan pedang, tangkap orang ini hidup-hidup!"

Para jago Kiam-hong-ceng serentak menyebarkan diri dan mengurung Piong-ciu-it-kiam di tengah, setelah itu serentak mereka turun tangan bersama.

Pada waktu Tiong-ciu-it-kiam terkepung, buru-buru Lamkiong Giok kabur lebih jauh lagi, baru saja hatinya girang karena berhasil lolos, mendadak dari empat penjuru bergema suara langkah manusia.

Ketika dia berpaling, ia terkesiap, tertampak Oh Kay-thian dan Coan-sin-loni masing-masing berjaga di satu sudut, sedangkan Ki-siao-it-to dari Bu-tong-pai juga menyusul tiba.

Dalam waktu singkat dia menghadapi musuh tangguh dari tiga penjuru, hal ini membuat air mukanya berubah hebat, dia segera berusaha mencari akal guna meloloskan diri.

Selain itu Lamkiong Giok juga merasa heran, kenapa sampai sekarang Lamkiong Hian belum juga turun tangan? Apakah ayahnya mengalami kejadian lain? Atau menganggap kitab pusaka Hek-Hong-kang itu tak perlu dibela lagi

Mungkin hal tersebut bukan alasan yang sesungguhnya, ketika masih berada dalam Kiam-hong ceng, ayahnya telah menyusun rencana yang sempurna untuk  meraih kemenangan, tak nanti dia akan mnlepaskan kitab pusaka nomor wahid di dunia dengari begitu saja. Apalagi kitab tersebut jelas telah berada di tangannya sekarang, tak mungkin ayahnya akan melepaskannya,

Timbul rasa curiganya, dia tak tahu apa yang terjadi, tanpa terasa ia berpaling ke belakang. Ternyata ayahnya sedang berbisik-bisik dengan It-hu Taysu, tampaknya seperti memperbincangkan sesuatu.

Apa pula arti semua ini? Apakah ayahnya dan It-hu Taysu adalah sobat lama? Atau....

Mendadak terdengar bentakan keras berkumandang dari belakang, dengan terkejut dia berpaling. Tertampak Siao-ki-it- to dari Bu-tong-pay sedang mengawasinya sambil tersenyum sinis, senyuman aneh dan misterius, membuat orang tak bisa menebak isi hatinya.

Lamkiong Giok segera mendengus, tegurnya, "Kalian bertiga masing-masing adalah ketua suatu perguruan, masakah hendak main kerubut terhadap saorang muda seperti diriku?"

Perlu diketahui, sejak kecil Lamkiong Giok  dibesarkan dalam kalangan hitam, meski ayahnya selalu muncul dalam dunia persilatan dengan macam-macam kebajikan palsu, namun secara diam-diam selalu melakukan perbuatan yang mencelakai orang, ini menyebabkan Lamkiong Giok menjadi ketularan menguasai berbagal cara keji, terutama kelicikan dan kebusukan hatinya boleh dibilang sudah mewarisi sang ayah,

Ditegur secara begitu oleh Lamkiong Giok, sebagai tokoh yang termashur dalam dunia persilatan, mau-tak-mau merah padam juga mukanya.

Terutama sekali Ki-sian-it-to dan Coan-sin-loni, mereka sdalah jago-jago yang berkedudukan, tinggi dalam dunia persilatan, kendatipun mereka berdua tidak menyatakan berhasrat merampas kitab pusaka itu, tak urung mukanya terasa panas. Dengan dingin Coan-sin-loni berkata, "Asal Siaucengcu bersedia melepaskan kitab pusaka Hek-lioog-kang itu, tentu takkan kubikin susah dirimu!"

"Oh, andaikata aku tidak bersedia?" sahut Lamkiong Giok. Dengan marah Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian berseru,

"Kalau begitu, boleh kau tinggal selamanya di sini!"

Mendadak dari sebelah lain bergema suara jeritan memilukan, tertampak Tiong-ciu-it-kiam seperti harimau ganas secara beruntun telah membinasakan dua orang jago lihai Kiam-hong-ceng.

Dengan lenyapnya kedua orang itu, barisan  pedang menjadi kacau, orang-orang itu semakin tak mampu mengurung Tiong-ciu-it-kiam. tampaknya dia segera akan terlepas dari kepungan.

Lamkiong Giok menjadi gelisah, cepat teriaknya, "Ayah, bantu"

Berbareng itu dengan segenap tenaga beruntun dia lepaskan lima bilah pedang pendeknya, seketika hawa pedang menyelimuti angkasa.

Kelima bilah pedang itu merupakan jurus andalannya, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dan Coan-sin-loni tidak menyangka pihak lawan akan melancarkan serangan lebih duluan, melihat hawa pedang menyambar tiba, kedua orang itu mundur beberapa langkah, justru hal ini memberi peluang bagi Lamkiong Giok untuk kabur.

"Sambutlah seranganku lagi!" teriak anak muda itu, mendadak lima bilah pedang berhamburan pula, sementara, orangnya kabur meninggalkan tempat itu.

Dua orang jago lihai ternyata dipermainkan seorang pemuda, hal ini tentu saja mengobarkan kemarahan mereka. Mereka membentak, serentak menyusul ke depan dengan cepat.

Mendadak Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai tergelak dan berkata, "Lamkiong-lote, perhitungan swipoamu terlalu bagus"

Ia terus melompat ke depan dan mengadang di depan anak muda itu.

Lamkiong Giok menjadi murka, damperatnya, "Tosu tua, rasakan pedangku!"

Pedang perak menabas dengan jurus Thian-lo-te-wang (jaring langit dan jala bumi), bayangan pedang terpancar ke empat penjuru, tak malu ia disebut sebagai Huan-in-kiam atau si pedang pelangi.

Ki-sian-it-to tertawa nyaring, serunya, "Ternyata ilmu pedang Huan-in-kiam juga cuma begini saja!"

Pedangnya berputar kencang menyongsong serangan lawan, Lamkiong Giok merasakan tangannya bergetar, bayangan lima jari lawan tahu-tahu juga mencengkeram tiba.

"Habis aku kali ini!" keluhnya dalam hati, sedapatnya ia melayang mundur.

Ternyata tenaga dalam Ki-sian-it-to jauh melampaui apa yang dibayangkannya baru saja badannya bergerak, seranganya menyusul tiba pula.

"Biar kuadu jiwa denganmu!" teriak Lamkiong Giok murka, ia tidak menghindar dan tidak berkelit lagi, kelima bilah pedang pendek dari arah yang berbeda sekaligus menghujani Ki-sian-it-to.

Jurus Thian-san-ti-Iok (setitik embun dari Thian-san) ini merupakan jurus terampuh ilmu pedang Huan-in-kiam-hoat, juga merupakan jurus untuk beradu jiwa. Ki-sian-it-to mendengus, telapak tangan kiri menahas, sedang pedang ditangan kanan ikut menusuk.

Mendadak suara tertawa dingin berkumandang, belum lagi bayangan orang tiba, beritakan gusar telah menggelegar, "Tosu tua, kau berani melukai dia!"

Menyusui bentakan itu Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian telah muncul di depannva. kontan ia melepaskan dua serangan berantai.

Ki-sian-it to tak mau menyambut gerangan kalap itu dengan kekerasan, cepat ia tinggalkan Lamkiong Giok dan melompat mundur.

"Giok-ji, cepat pergi! " bentak Lamkiong Hian kemudian dengan suara tertahan.

Huan-in-Kiam Lamkiong Giok tak berani berayal lagi, dia tahu berhasil lolos atau tidak bergantung pada detik tersebut, segera pemuda itu kabur ke depan.

Keempat penjuru di sekitar situ merupakan jalan kecil yang tandus, hanya sebelah kanan merupakan hutan lebat, dengan cepat dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya kabur kearah hutan.

Dalam pada itu, setelah mendesak mundur Ki sian-it-to, Kiam hong cengcu Lamkiong Hian tidak berhenti sampai disitu saja, dia membentak dan beruntun melancarkan pula delapan kali pukulan dan tiga tendangan kilat.

Kedelapan kali pukulan dan ketiga tendangan tersebut dilancarkan ke arah Oh kay thian dan Coan-sin-Loni yang mengekor tiba dari belakang, seketika itu juga kedua orang tersebut terdesak balik.

Ki-sian-it to tak mau tertahan disitu, dengan cepat dia mengejar ke arah Lamkiang Giok.

Mendadak Lamkiong Hian membentak :"Totiang, berhenti!" Telapak tangan kirinya siap di depan dada, sementara telapak tangan kanannya melancarkan pukulah dahysat, angin serangan yang kuat mendampar punggung Tosu itu.

Buru-buru Seng-gwat-kiam Oh khay thian berteiak "tutup rapat sekeliling hutan, jangan sampai dia kabur!"

Serentak para jago Thian-seng-po menyebarkan diri ke empat penjuru meninggalkan para jago Kiam hong ceng, mereka serentak berlarian menuju ke araha Huan-in-kiam Lamkiong Giok.

Tiong-ciu-it-kiam tergelak, setelah membinasakan delapan orang, katanya "Lamkiong Hian, sekarang diantara kita sudaha da hutang piutang yang perlu diperhitungkan."

Tubuhnya yang kekar menerjang maju, mukanya diliputi nafsu membunuh, begitu turun tangan langsung jurus mematikan.

Lamkiong Hian mendengus, dia balas serang dua kali pukulan berantai.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Seng-Gwat- kiam Oh-Kay-thian, "Bagaimanapun biar Lamkiong Giok berhasil kabur, Lamkiong Hian toh masih ada, mengapa tidak kubunuh tua bangka ini kemudian baru mengobrak-abrik Kiam-hong-cengnya? Bukankah tindakan ini jauh lebih baik?"

Setelah mengambil keputusan, dia terbahak-bahak, ujarnya "Meski hwesio-nya kabur, kuilnya tak akan lari. Hei Hwesio dan nikoh, mari kita binasakan dulu makhluk tua ini, kemudian baru merampas kitab itu di Kiam-hong-ceng, mumpung ada kesempatan, musuh tangguh ini perlu disingkirkan lebih dulu!"

Begitu selesai berkata, pedang Seng-gwat-kiam dengan menciptakan sejalur hawa berwarna kehijau-hijauan segera menyambar ke depan. Semangat Lamkiong Hian berkobar, katanya sambil terkekeh, "Biar kalian maju bersama juga akan kusambut kerubutan kalian."

It-hu Taysu cuma berdiri membungkam disamping, ketika melihat para jago hendak main kerubut, keningnya segera berkerut, katanya :" Omitohud! Jika Lamkiong sicu belum juga mau sadar, bisa jadi engkau akan bikin susah diri sendiri!"

Siapapun tak tahu apa sebabnya dia mengucapkan perkataan itu, tapi kalau melihat perbincangannya dengan Lamkiong Hian tadi, tampaknya pendeta agung ini bermaksud menyadarkan gembong iblis ini dengan kebajikannya.

Lamkiong Hian terbahak-bahak, katanya "Hweeshio gede, lebih baik jangan banyak berbicara, ada tujuan ku sendiri."

"Omitohud!" gugam pendeta itu lirih, dengan wajah khidmat dia mengundurkan diri dan tidak bicara lagi.

Seng-Gwat-kiam Oh-Kay-thian menjengek,"Buat apa taysu banyak bicara, dia ingin mencari kematian sendiri!"

Lamkiong Hian tertawa dingin, sambil melancarkan suatu pukulan serunya keras:"Oh Kay-thian, sambut dulu pukulan ini!"

Air muka Seng-Gwat-kiam Oh Kay thian berubah hebat, buru-buru dia mendorong telapak tangannya untuk menyambut ancaman itu dengan kekerasan.

"Blang!" Benturan keras terjadi, kabut kuning bertebaran hingga sulit membedakan bayangan manusia.

Kedua orang itu sama-sama tergetar, mereka saling mengagumi tenaga dalam lawannya.

Ketika melihat Lamkiong Hian mundur, Tiong ciu-it-kiam segera membentak, "Rasakan tusukan ku ini!" Awan gelap menyelimuti angkasa, pertarungan sengit yang melibatkan beberapa orang itu berlangsung dengan amat tegang.

Senja semakin kelabu, dalam suasana pertarungan yang seru, diatas bukit sana seorang nona berbaju biru bercadar sedang termangu-mangu memandang awan diangkasa.

Dibelakangnya dengan tenang berdiri dua orang nona berbaju putih, yang satu selalu mengulum senyum bagaikan bunga yang sedang mekar, sedangkan yang lain bermuka dingin bagaikan bunga bwe ditengah salu, mereka tak lain adalah Pek Bi dan Pek Sat berdua.

Tentu saja, gadis berbaju biru yang mengenakan kain cadar itu tak lain adalah si gadis aneh dari Hek liong-kang.

Dengan sedih ia menghela napas panjang, kedua matanya mengawasi pertarungan dibawah bukit, lebih-lebih diperhatikannya Bok Ji-sia yang terkapar ditanah.

Dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya, perlahan Pek bi berjalan kemuka, setibanya disisi gadis berbaju biru itu, tanyanya:"Nona sudah sekian lama ia tidak merangkak bangun, bagaimana kalau kita tolong dia?"

Wajah Pek Sat yang dingin bertambah dingin, katanya ketus: "Kalau nona menginginkan kematiannya akan kupergi membunuhnya sekarang juga!"

Sekujur badan nona berbaju biru itu agak gemetar, kemudian mengeleng kepala beberapa kali, rupanya dia tidak setuju dengan tindakan Pek Sat yang tak berperasaan itu.

"Siapa yang menyuruhmu ngaco-belo disini!" hardiknya marah.

Pek Sat tertegun dan cepat tutup mulut, sementara hatinya merasa sangsi, ita tidak habis mengerti kenapa sikap nonanya hari ini begitu kalut sampai berbicarapun tak keruan. Setelah menghela napas sedih, Pek Bi lantas berkata :"Aku merasa heran, sejak nona berjumpa dengan Bok Ji-sia, tampaknya engkau sedang mengubah diri, kutahu diam-diam nona "

"Apa kau bilang?" potong si nona dengan rawan.

"Kau mencintainya!" ujar Pek Bi dengan serius. tampaknya ia menjadi lebih berani dari biasanya,.

Mendadak air muka si nona berbaju biru berubah, dia tak menyangka Pek Bi bisa mengungkap perasaannya, terutama sekali ia terperanjat karena Pek Bi berani bicara secara blak- blakan padanya.

Melihat si Nona tidak bicara, Pek Bi berkata lebih jauh, "Nona, jika engkau mencintainya, mengapa pula engkau berikan sejilid kitab palsu kepadanya dan membiarkan ia mengalami macam-macam penderitaan! Bahkan karena kitab palsu itu sampai jiwanya turut melayang?"

"Kita harus membalas dendam," kata si nona berbaju biru denjan ketus, "hendak kulihat dia menyulut sumbu api untuk daerah Tionggoan, agar semua orang membencinya, supaya setiap orang yang mencintainya meninggalkan dia, agar daerah Tionggoan banjir darah " 

Sekeji-kejinya orang, hati perempuan terlebih keji, dari sini bisa diketahui betapa jahatnya niat nona berbaju biru itu, dan bisa dilihat pula betapa bencinya nona Itu terhadap Bok Ji-sia. Ai, masa depan Bok Ji-sia jelas akan bertambah suram...

Setelah menghela napas sedih, katanya lagi sambil menuding ke bawah bukit sana, "Sekarang baru suatu permulaan, coba kalian lihat, pertunjukan bagus sedang berlangsung lagi!"

Mengikuti arah yang ditunjuk, tertampak pertarungan di bawah sana semakin panas, Lamkiong Hian yang bertarung melawan empat musuh sudah penuh luka, tapi ia masih bertahan terus dengan sekuat tenaga.

Dia berharap anaknya, Lamkiong Giok bisa lolos dengan selamat dan pulang ke Kiam-hong-ceng,

Mendadak..... dari balik hutan lebat sana berkumandang jeritan ngeri yang membuat orang bergidik.

Pertarungan di arena pun serentak terhenti oleh jeritan itu, air muka Lamkiong Hian berubah hebat, hatinya terasa tenggelam, dan terus tenggelam...

Itulah suara Lamkiong Giok, suaranya tentu saja dikenal oleh Lamkiong Hian dengan baik karena siang, malam suara anak selalu terdengar olehnya.

Ia menjadi sangat gelisah dan menerjang ke arah hutan sana, sekarang dia hanya berharap semoga Lamkiong Giok tetap sehat, ia tidak peduli lagi terhadap lukanya sendiri.

"Tua bangka celaka, kau ingin kabur?" bentak Seng-gwat- kiam Oh Kay-thian dengan gusar.

Diiringi gelak tertawa seram ia melompat ke depan, segera angin tajam menyabat punggung Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian

"Orang shs Oh, lebih baik kau pulang saja!" bentak Limkioug Hian sambil tertawa seram.

Tanpa berpaling suatu pukulan dilontarkan ke belakang, sementara gerak tubuhnya tak berhenti, secepat kilat ia meluncur beberapa tombak ke depan.

Pada suat itulah mendadak tertampak bayangan hitam berkelebat dari dalam hutan, seseorang muncul dari balik pepohonan dengan sempoyongan. Orang itu tak lain adalah Lamkiong Giok, cuma sudah bertangan kosong, badannya penuh berlepotan darah. Kitab pusaka Hek-liong-kang sudah tidak berada padanya lagi, hal ini membuat kawanan iblis ikut melengak.

"Ayah, barangnya dirampas orang!" seru Lamkiong Giok sambil terengah-engah.

Baru selesai berkata, segera ia roboh terkapar, napasnya berat, air mata membasahi wajahnya, ditatapnya wajah sang ayah dengan sinar mata minta belas kasihan.

Tergetar perasaan Lamkiong Hian, serunya, "Siapa yang melakukan hal ini? Biar ayah bunuh dia untuk melampiaskan sakit hatimu!"

"Ananda sendiri juga tidak tahu!" jawab Lamkiong Giok sambil tersenyum pedih.

Lamkiong Hian tambah gusar, apalagi mengetahui Lamkiong Giok tak tahu siapa gerangan musuhnya, sambil mengentakkan kaki ke tanah dia berseru, "Manusia tak berguna, kau hanya bikin malu diriku saja!"

Tiba-tiba dari balik hutan bergema gelak tertawa merdu penuh bernada cemooh "Heheha, Lamkiong Hian, buat apa marah-marah? Kalau punya kemampuan ayolah masuk sendiri kemari! Hahaha. "

Dedaunan dalam hutan itu serasa tergetar oleh gema gelak tertawa orang itu, burung beterbangan karena ketakutan, tapi sejenak kemudian suasana dalam hutan itu pulih dalam keheningan.

"Siapa kau?" bentak Lamkiong Hian dengan terperanjat, "kenapa tidak berani menampilkan diri?"

Mendadak dari dalam hutan berkumandang suara bentakan nyaring, "Enyah dari. sini!"

Menyusul terdengarlah dua kali jeritan ngeri menggema memecahkan keheningan, dua sosok bayangan manusia bagaikan bola saja tahu-tahu terlempar keluar dari balik hutan dan tergeletak mampus, darah bercucuran dari ke tujuh lubang indera mereka.

Suara dengusan segera berkumandang pula dari dalam hutan, "Hai, Oh Kay-thian, buat apa kau suruh gentong- gentong nasi ini mengantarkan kematiannya? Kalau punya nyali lebih baik kau masuk sendiri..."

Gusar Seng gwat-kiam Oh Kay-thian menyaksikan anak buahnya dibanting mampus secara gampang oleh lawan, bentaknya murka, "Baik, akan kulihat manusia macam apakah dirimu!"

Diiringi pekikan nyaring, secepat terbang Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian menerobos masuk ke dalam hutan, hanya sekejap saja bayangannya sudah hilang dari pandangan.

Melihat Oh Kay-thian telah masuk ke dalam hutan, Lamkiong Hian tak berani ayal lagi, buru-buru dia mengeluarkan sebutir pil dan dijejalkan ke mulut Lamkiong Giok seraya berkata, "Anak Giok, ayah akan pergi dan segera kembali"

"Ayah, jangan pergi!" seru Lamkiong Giok dengan wajah ketakutan.

Jelas nyali Lamkiong Giok telah dibikin pecah oleh orang dalam hutan itu; tapi kejadian apakah yang membuatnya begitu ketakutan? Apakah orang di dalam hutan itu? Atau...

Pada saat itulah mendadak bergema suara tertawa merdu dari balik hutan, "Kaupun enyah saja dari sini!"

"Plak!" tubuh Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian yang tinggi besar itu tahu-tahu terlempar pula sejauh dua tombak lebih dari hutan.

Dengan wajah bingung bercampur ngeri Oh Kay-thian merangkak bangun dan berdiri termangu-mangu, kedua pipinya membengkak, jelas baru saja kena ditempeleng orang. Sesungguhnya siapakah orang itu? Ya, siapa?

Dalam deretan jago kenamaan dunia persilatan Seng-gwat kiam Oh Kay-thian termasuk juga seorang tokoh yaog bisa diandalkan, sekalipun tenaga dalamnya belum paling top, diapun terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi nyatanya sekarang ia kena dilemparkan terang dari dalam hutan.

Dari sini dapat diketahui kepandaian orang itu betul-betul sudah mencapai tingkatan yang sukar dibayangkan.

Dengan perasaan waswas Tiong ciu-it-kiam lantas bertanya, "Saudara Oh, apa yang terjadi sebenarnya?"

Serentak semua jago mengalihkan pandangannya ke wajah Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, sekalipun It-hu Taysu dari Siau-lim-pai juga tak urung pasang telinga dengan rasa ingin tahu.

Oh Kay-thian tertawa pedih, katanya seraya menggeleng kepala, "Sungguh memalukan sekali bila dibicarakan, jangankan menyentuh ujung bajunya, melihat tampangnya saja belum dan tahu-tahu badanku sudah terlempar keluar. Ai, coba kalau orang itu tidak mengampuni jiwaku, mungkin saat ini aku. "

Para jago semakin terkesiap setelah mendengar penuturan itu, siapa pun tidak menyangka dalam hutan itu terdapat seorang jago yang begini lihai, hanya sekali gerakan saja berhasil mendesak mundur seorang tokoh lihai dunia persilatan, bukan mustahil tidak ada yang mampu menandingi orang itu di antara yang hadir sekarang ini.

Dengan perasaan terkesiap Tiong-ciu it-kiam berseru lagi, "Bagaimana dengan kitab pusaku Hek-liong-kang ,.."

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa pedih, "Bayangan orang saja tak sempat kulihat jelas, apalagi kitab pusaka tersebut!" "Aku ingin berjumpa dengan jago lihai itu!" kata Ki-sian-it- to sambil tertawa dingin,

"Berada di hadapan jago lihai, akupun tak ingin  melewatkan kesempatan ini!" sambung Coan-sin loni dari Go- bi-pay sambil tertawa.

Mendadak dari dalam hutan bergema pula suara tertawa yang bernada mencemooh, begitu suara tertawa itu sirap, keadaan pulih kembali dalam keheningan.

Suasana yang seram menyelimuti seluruh hutan dan juga menekan perasaan tiap orang.

Sejak puteranya mencegah kepergiannya tadi?

Lamkiong Hian tahu permintaan anaknya itu pasti ada sebab-sebab tertentu, apalagi setelah menyaksikan Oh Kay- thian terlempar keluar, hal mana semakin membuktikan kebenaran apa yang dipikirnya.

Maka sewaktu tokoh Bu-tong-pai dan Go-hi-pai menyatakan akan masuk ke hutan, Lamkiong Hian tidak memberikan pendapat apa-apa melainkan hanya menyaksikan kepergian mereka dengan pandangan dingin, dia ingin menyaksikan dulu kejadian apa yang akan dialami kedua orang itu, kemudian baru mengambil tindakan.

Dengan melintangkan telapak tangan di depan dada dan sikap siap menghadapi segala kemungkinan, Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai dan Coa-sin-loni dari Go-bi-pai menuju ke depan hutan, kemudian berhenti dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu.

Mereka berdua saling bertukar pandang sekejap kemudian melangkak masuk ke dalam hutan. Mereka sangat berhati-hati dan tak berani bertindak gegabah karena orang itu berada dalam kegelapan, gedangkan mereka berada di tempat yang terang. Mendadak Tiong-ciu-it-kiam melompat maju seraya berseru, "Harap kalian tunggn sebentar, aku bersedia berjalan paling depan!"

Rupanya dia kuatir Ki-sian-it-to dan Coan-sin-loni akan mendapatkan kitab pusaka Hek-liong-kang di dalam hutan, ia pikir dengan gabungan tenaga mereka bertiga niscaya orang itu dapat di-taklukan..

"Bagus sekali." kata Coan-sin-loni, "mari kita bertiga kekerja sama sekali ini!"

Dengan posisi segi tiga mereka pelahan berjalan menuju ke dalam hutan, air muka mereka berubah amat serius, jelas tak berani memandang rendah kepandaian orang itu,

Bagaimanapun ketiga orang ini adalah ketua suatu perguruan besar yang bisa di andalkan, masing-masing orang dengan tangan melindungi dada dan senjata terhunus, selangkah demi selangkah mereka masuk ke dalam hutan.

Pada saat itulah mendadak dari dalam hutan berkumandang suara tertawa cekikikan yang nyaring, jalu seorang menegur, "Betulkah kalian bertiga ingin masuk kemari?"

"Siapa yang takut kepadamu!" jawab Ki-sian-it-to sambil tertawa dingin.

Mengikuti arah suara tadi dia menerjang ke depan, tenaga dalam yang terhimpun pada telapak tangan kanan segera melepaskan pukulan dahsyat.

"Kraak!!" sebatang pohon tersambar oleh pukulannya dan patah menjadi dua.

Suasana di dalam hutan yang rimbun dan gelap itu tetap sepi tak ada sedikit suara pun, yang terdengar cuma deru angin kencang yang berembus- Embusan angin itu aneh sekali kedengarannya, bagaikan tiupan angin dari neraka, makin lama semakin kencang, menderu tajam dan memekak telinga-

Mendadak terdengar suara tertawa merdu bergema memecah keributan angin kencang tersebut. Ketiga tokoh ini terperanjat sekali, sebab suara tertawa tadi berjangkit dari delapan penjuru, membuat orang sukar menentukan dari mana berasalnya suara tersebut

Setelah berhenti tertawa, dengan suara yang dingin seperti es orang itu berkata, "Besar amat hasrat kalian bertiga mengunjungi tempat ini, berani benar-melanggar pantangan Hutan Kematian!"

"Hutan Kematian", nama yang terasa asing sekali, belum pernah ada orang persilatan yang bicara tentang "hutan kematian", sedangkan mereka yang sepanjang tahun berkelana dalam dunia persilatan pun tidak tahu apa maksud yang sebenarnya istilah, "hutan kematian" itu?

Sambil menggetarkan pedang Tiong-ciu-it-kiam tergelak, katanya, "Kau ini manusia apa? Sudah berani mengangkangi hutan, berani pula memberi nama hutan ini sebagai Hutan Kematian!"

"Mulutmu paling kotor dan hatimu jahat, kau terhitung yang paling busuk di antara kalian bertiga, mengingat baru kali ini kau melakukan perlanggaran, sekarang juga enyah dari sini!" bentak orang di balik hutan itu.

Begitu selesai berkata, dengusan tertahan bergema dalam kegelapan, bagaikan mendadak terembus angin saja, Tiong- ciu-it kiam merasakan badannya menggigil.

Seat itu juga, Tiang ciu it kiam yang sebenarnya penuh harapan, seketika merasa putus asa, dada terasa tergetar dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke belakang. Untung saja tenaga dalamnya cukup sempurna, begitu merasakan keadaan tidak beres, segera ia berguling di atas tanah, dalam sekejap ia terlempar sejauh dua-tiga tombak keluar hutan.

Belum lagi berdiri, dia muntah darah segar mukanya berubah menjadi pucat seperti mayat.

Ki-sian-it-to belum lagi mengetahui apa yang terjadi, tahu- tahu jejak Tiong-ciu-it kiam sudah lenyap, keruan ia terkejut. "Toyu, kenapa kau?" serunya.

Suasana dalam hutan itu sunyi senyap, hakikatnya tiada kedengaran juara jawaban dari Tiong-ciu-it-kiam, sama sekali dia tidak menyangka Tiong-ciu-it-kiam telah terhajar keluar hutan oleh manusia misterius di dalam hutan itu.

Meski Coan-sin-loni merasakan keadaan yang aneh, akan tetapi dia tak menyangka orang itu sedemikian lihainya, tanpa menampakkan diri bisa menghajar seorang tokoh sampai mencelat.

Dengan perasaan kejut bercampur gusar segera bentaknya, "Totiang, mari kita periksa sekitar sini, kemudian kita menyerang bersama!"

Kedua orang itu tidak bicara lagi, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh serentak mereka menyerbu ke dalam hutan.

Mendadak terdengar lagi seorang berseru sambil tertawa merdu, "Kalian berdua adalah orang-orang kenamaan dalam dunia persilatan, kenapa begitu tak tahu diri?"

Baru saja tubuh kedua orang itu melambung ke atas, mendadak muncul segulung tenaga isapan yang maha dahsyat menahan tubuh mereka berdua di udara.

Terkejut sekail kedua orang itu. ternyata mereka tak sanggup melayang turun ke atas tanah. "Pergilah!" bentakan nyaring kembali menggema

Kedua orang itu kembali terkesiap, belum sempat mereka ganti gerakan, tahu-tahu mereka meluncur ke depan dengan cepat.

"Habis riwayatku!" keluh kedua orang itu dalam hati. Tapi nyatanya mereka melayang turun ke atas tanah dengan enteng.

Waktu ke dua orang itu membuka mata kembali, tertampak mereka berada di luar hutan tanpa menderita luka apapun, mereka merasa seakan-akan sedang bermimpi saja, apa yang terjadi tadi seketika berkecamuk di dalam benaknya,

Para jago lain pun mengawasi kedua orang itu dengan terkesiap, agaknya mereka ingin mendapat keterangan apa yang terjadi.

"Kami telah kecundang semua!" ucap Coan-sin-loni sambil tertawa sedih.

"Kita bakar saja hutan ini!" tiba-tiba Tiong-ciu-it-kiam berteriak.

Barusan tapun kecundang, rasa dendamnya belum hilang, maka ketika dilihatnya semua orang juga terpukul mundur kembali, timbul ingatan jahatnya, dia berniat membakar hutan sekalian membakar orang tadi sampai mati.

Dengan dingin Oh Kay-thian berkata, "Dengan kepandaian orang ini, bukan saja kita tak akan berhasil membakarnya sampai mati, mungkin sebelum kita turun tangan orang itu sudah keburu pergi jauh!"

Dengan perasaan tak puas Tioog-ciu-it-kiam mendengus, katanya, "Hm, tempat ini adalah bukit Bong-hong-po, hutan lebat itu menghadapi sungai, sekalipun tenaga dalamnya lebih hebat juga jangan harap akan melewati telaga Tim-mo-than (telaga bulu tenggelam) yang beberapa puluh tombak luasnya, jika ingin kabur, dia harus melewati jalan ini, paling tidak dapat kupaksa dia menampakkan diri."

Lamkiong Hian merasa cara ini boleh juga dilaksanakan, dia lantas berkata, "Walaupun usulmu cukup bagus, cuma kitab pusaka kan juga akan turut terbakar!"

"Hmm, sekalipun tenaga dalamnya sudah mencapai tingkatan nomor satu di dunia, tak nanti kitab pusaka yang diperolehnya itu dibuang begitu saja, asal dia muncul sambil membaca kitab tadi, kita bisa mengadangnya dan merampas kitab tersebut!"

Ki-sian It to termenung sejenak, lalu katanya "Kehebatan kungfunya belum kita lihat dengan mata kepala sendiri, aku tak percaya di dunia ini bisa terdapat seorang jago yang berilmu sedemikian hebatnya, kukira tujuannya tidak pada kitab pusaka itu melainkan. "

Tiba-tiba dari tengah hutan bergema lagi suara tertawa merdu, lalu serunya lantang, "It-hu Taysu, bagaimana kalau engkau masuk sebentar ke dalam hutan!"

-0—0-

Siapakah gerangan tokoh misterius yang menguasai "Hutan Kematian" itu?

Bagaimana nasib Bok Ji-sia yang terkapar itu?

-oo0dw0oo-
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(