Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 21

 
Jilid 21

Sebagaimana diketahui, Thian-seng-po adalah musuh bebuyutannya, dengan alasan demi kepentingan orang banyak, sekalian ia membalas sakit hatinya, syukur bila kedua- duanya bisa dilukai, dengan demikian sekalipun orang menuduhnya main sergap juga tidak mengapa.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian juga manusia licik dan berhati keji, sekalipun bagaikan orang bisu makan empedu, tapi otaknya segera berputar untuk menyusun rencana yang lebih keji lagi guna membalas pada orang lain.

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling menatap sekejap orang- orang itu, meski mereka tidak berminat ikut merebut mestika tersebut, dalam hati juga berpikir, 'Tak seorang baik pun diantara mereka, kalau sampai Im-hay-hue-kiu-sik dan kitab pusaka Hek-liong-kang jatuh ke tangan mereka, tentu tak akan ada ketenangan lagi dalam dunia persilatan!'

Dengan perasaan yang sama, kedua orang itu lantas memutar otak untuk mencari akal guna mencegah para jago itu masuk ke dalam istana.

Tiba-tiba Kay-sian-ong maju ke depan sambil berkata, "Siapa yang dapat mengangkat singa batu ini, dia boleh masuk. Yang tak mampu akan sama tekali kehilangan haknya."

Sambil berkata dia lantas mendekati singa baru sebelah kanan, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba ia menggeleng kepala dan berkata pula, "Aku sudah tua dan tak punya kapandaian apa-apa, lebih baik aku menarik diri saja!"

Pada saat itulah tiba-tiba dua sosok bayangan meluncur ke depan, salah seorang di antaranya segera menyambar kaki singa batu tersebut.

Mereka bukan lain adalah Si-hun-koay-sat-jiu dan Hian- thian-koancu Kun-tun Cinjin, setelah saling pandang sekejap sambil tertawa, mereka lantas tarik napas dan pamer kekuatan.

Sambil tertawa seram Kun-tun Cinjin berkata,, "Siapa bilang aku tak mampu mengangkat benda ini?" Tenaga murninya dikerahkan dan siap mengangkatnya ke atas... Tapi mendadak air muka mereka berubah hebat, lalu mundur ke belakang sambil menjerit ngeri...

Tertampak tangan mereka tiba-tiba terkulai lemah, kelihatan kesakitan, dalam waktu singkat butiran keringat mengucur membasahi wajah mereka

"Cepat salurkan tenaga dalam untuk menahan menjalarnya racun!" seru Kay-gian-ong dengan lantang.

Sambil berkata dari jauh ia menutuk tiga Hiat-to kedua orang itu untuk mencegah menjalarnya racun menyerang jantung.

"Pengemis busuk, kau benar-benar amat keji!" bentak Si- hun koay-sat-jui sambil tertawa seram.

"Apa kau bilang?" seru Kay-Sian-ong tertegun.

Sambil menahan penderitaan yang hebat, Kiutun Cinjin berseru, "Sudah meracuni orang masih berlagak menjadi orang baik, hmm"

"Hahaha... " tertawa Kay-sian-ong, ia gusar sekali atas salah paham mereka.

Setelah berhenti tertawa, ia mendengar, lalu katanya, "Coba ulangi sekali lagi ucapanmu itu!"

"Pantas kau melepaskan hakmu," kata Kun-Jun Cinjin sambil menyeringai, "rupanya secara diam-diam melakukan permainan busuk, sudah lama kudengar orang berkata Kay- pang suka memelihara makluk berbisa, tampaknya ucapan ini memang tidak salah"

Ji-sia melihat Kay-sian-ong tidak mirip orang licik, tergugah rasa keadilannya, dia melompat ke depan seraya berseru, "Cianpwe ini pasti bukan orang yang menaruh racun pada singa batu itu. " Kian hong-cengcu Lamkiong Hian paling senang dengan kejadian tersebut, sambil tertawa katanya, "Siapa benar dan siapa salah bukan persoalan, lebih baik kita cari dulu mestika yang ada di dalam ruangan sana!"

Seraya berkata dia lantas merogoh siku dan mengeluarkan dua biji obat, sambil dilemparkan ke depan serunya, "Harap kalian segera menelannya!"

Dalam keadaan demikian, Si-hua-koay-sat-jiu dan Kun-tun Cinjin tidak sempat berpikir banyak lagi, cepat mereka menerimanya dan langsung ditelan, kemudian menyalurkan tenaga dalam untuk melawan racun.

"Toa cengcu!" pelahan Liok-ha-hiat-li maju ke muka sambil tertawa merdu, "dengan cara apakah kita hendak menentukan dupa yang berhak masuk ke dalam istana itu!"

"Lebih baik ktta buka dulu pintu istana!" kata Lamkiong Hian dengan tertawa dingin. Dia lantas mengambil dua biji batu dan ditimpukkan ke mata siaga batu di kiri-kanan itu.

"Plak!!" diiringi suara nyaring, pintu batu Hian-liang-gin-hu pilahan terbuka lebar.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, Oh Kui gwat dan Oh Kay-thian serentak menerjang ke arah pintu.

Sebagaimana diketahui, Hian-liang-gin-hu hanya muat dua orang saja, kelebihan seorang pun bisa mengakibatkan runtuhnya istana tersebut, tentu saja gelisah kawanan jago yang lain.

Lamkiong Hian menjadi gusar, sambil melancarkan serangan, bentaknya, "Kalian berani!"

Lik-ih-hiat-li juga tertawa seram, katanya, "Rase tua yang licik!" Telapak tangannya bergerak memutar satu kali, seketika timbul daya tarik yang kuat membetot tubuh Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat dan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian.

Tenaga tarikan yang luar biasa kuatnya, tak bisa dihindari lagi, gerak tubuh kedua orang itu menjadi lambat.

Pada saat itulah mendadak terayun pukulan dari udara diiringi bentakan nyaring, "Balik kau!"

Menyusul terdengar dengusan tertahan, tahu-tahu Oh Ku- gwat dan Oh Kay-thian mencelat keluar dari dalam ruangan.

"Hah, kau!!!" jerit Lamkiong Hian dengan terperanjat.

Dari dalam Hian-Liang-sin-bu pilahan muncul siorang yang bukan lain adalah si nona berbaju biru dan berkerudung dari Hek-liong-kang, sinar matanya tampak angkuh.

"Ya, betul, memang aku!" jawabnya sambil tertawa merdu.

Munculnya nona berbaju biru ini sama sekali di luar dugaan siapapun, semua orang tidak menyangka Hian-Liang-sin-hu sudah ada pemiliknya.

Perasaan Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian menjadi dingin separo, jerih payahnya selama ini menjadi buyar.

Nona berbaju biru itu memandang sekejap wajah Bok Ji- sia, kemudian katanya, "Lamkiong Hian, kembali kau gagal total!"

Lamkiong Hian memang tak malu disebut sebagai pentolan suatu perguruan sendiri, walaupun murung ia masih dapat menjaga kegagahan dan keangkerannya.

Diam-diam ia menghela napas, lalu katanya, "Betul, aku memang gagal, gagal total!"

Tapi iapun merasa heran, si nona berbaju biru itu bukan malaikat dan bukan dewa, mengapa dia bisa memasuki Hian- liang-gin-hu tanpa diketahui olehnya. Tiba-tiba air muka si nona berbaju biru itu berubah menjadi dingin, katanya lagi, "Walaupun di luar kau bilang gagal, tapi dalam hati belum tentu mengaku kalah!"

Kembali Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian terkesiap, dia tidak mengira apa yang dipikirnya bisa ditebak oleh nona itu, hal ini membuktikan si nona benar-benar seorang musuh yang paling tangguh.

Maka sambil mendengus ujarnya, "Sekalipun kau berhasil mendapatkan barang itu, belum tentu sanggup kau bawa keluar dari sini!"

Nona berbaju biru itu tertawa, katanya, "Lamkiong Hian, kau kira aku sebodoh itu? Terus terang kuberitahu padamu, kilab Hek-liong-kang adalah kitab perguruanku, pada tiga hari yang lalu aku sudah mengutus orang membawanya pulang ke Hek liong-kang!"

Lamkiong Hian betul-betul amat kecewa, bukan cuma dia, bahkan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat pun ikut kecewa.

Mendadak Lik-ih-hiat-li maju ke depan dan secepat kilat mencengkeram tubuh si nona berbaju biru itu.

"Lepaskan cengkeramanmu!" kata si nona berbaju biru sambil tertawa terkekeh.

Ia tidak menghindar atau berkelit, cuma dari matanya lamat-lamat terpancar sinar yang memikat, entah mengapa, ketika Lik-ih-hiat-li menatap sorot matanya itu, tiba-tiba ia menarik kembali serangannya dan menyurut mundur,

Tiba-tiba si nona baju biru menunjuk ke arah Bok Ji-sia sambil berseru, "Kau kemari!"

Ketika sinar mata Ji-sia bertemu dengan sorot matanya, ia merasa terkesiap, tanpa terasa ia malangkah maju.

"Ada urusan apa?" tanyanya. Pada saat itulah dengan tergopoh-gopoh mendadak Lamkiong Giok lari mendekat sambil berseru, "Ayah!"

Tapi ketika melihat si nona baju biru berdiri di depan pintu, ia tertegun, rupanya dia tak menyangka akan berjumpa dengan gembong iblis perempuan itu di sini.

Si nona berbaju biru sama sekali tak memandang sebelah mata terhadapnya, ia menyapu pandang sekejap para hadirin, lalu berkata, "Kitab Hek liong-kang merupakan kitab pusaka perguruan kami, soal ini lebih baik jangan disinggung, mengenai Im-hay-huan-kiu-sik. ilmu itu adalah kepandaian Hiamliang Cinjin dari Tionggoan, maka sewajarnya ilmu tersebut didapatkan oleh orang Tionggoan sendiri."

"Nonamu tak ingin mengingkari janji Hian-liang Locianpwe, aku ingin mewujudkan pesan terakhirnya, maka Im-hay-huan- kiu-sik tersebut akan ku wariskan kepada pemegang Jian-kim- gi-hun-pian,"

"Aku tidak mau!" teriak Ji-sia cepat.

Mendengar itu dengan girang Lamkiong Giok berseru, "Biar aku yang mewakili saudara Bok!"

Dengan pandangan hina si nona berbaju biru melirik sekejap ke arahnya, kemudian berkata, "Sekalipun kau termasuk jagoan angkatan muda, sayang hatimu busuk  seperti kala, tidak cocok dengan syarat yang ditetapkan Hiang- lian Cinkun, aku hanya bisa berkata kau tidak cocok... "

"Hmm, aku tidak percaya....!" dengus Lam-kiong Giok. Dari malu dia menjadi gusar dan lupa kelihaian orang, serangan yang dilancarkan sungguh hebat sekail.

Sejak kecil ia dibesarkan di kalangan hitam, kekejamannya tidak di bawah ayahnya, sekalipun secara terang-terangan dia menyerang nona berbaju biru itu, namun sesungguhnya diam- diam ia melepaskan pukulan mematikan ke tubuh Bok Ji-sia. Waktu itu Ji-sia sama sekali tak menyangka akan diserang, bukan cuma tidak siap, merasakan pun tidak....

Tong Yong-ling berdiri agak jauh, untuk menolongnya tak sempat lagi, dia menjerit kaget.

Tiba-tiba bayangan hijau berkelebat, terdengar Lik-ih-hiat-li membentak, "Bangsat yang tak tahu malu!!"

Mendengar bentakan itu, sekujur badan Lamkiong Giok menggigil, sewaktu dalam kuburan kuno dulu ia pernah menyaksikan kelihaian perempuan itu, tentu saja ia tak berani menyambut serangannya.

Dalam kagetnya cepat ia berkelit ke samping dan sembunyi di belakang Lamkiong Hian, diam-diam ia membisiki sang ayah bagaimana Lik-ih-hiat-li telah mengacau Kiam-hong-ceng.

Waktu itu Lamkiong Hian sedang putar otak untuk mencari akal agar bisa mendapatkan ilmu Im-hay-huan-kiu-sik, dia seperti tak melihat kejadian itu.

Tiba-tiba si nona berbaju biru menarik tangan Bok Ji-sia sambil berseru "Ayo ikut masuk!"

Seperti orang yang kena sihir, tanpa sadar Ji-sia ikut masuk ke dalam.

Tong Yong-ling menjadi cemas hingga air matanya bercucuran, teriaknya, "Apa yang hendak kau lakukan terhadapnya?"

Nona berbaju biru itu tertawa, sahutnya, "Dalam tujuh hari, aku jamin dia akan kembali ke sisimu."

"Tujuh hari kemudian, akan kubuat tulangmu musnah dari muka bumi!" seru Lamkiong Hian dengan benci

Seraya berkata dia lantas pergi, dalam waktu singkat bayangannya sudah lenyap dari pandangan.

Suasana Hian-liang-gin-hu kembali dalam keheningan. Tanpa sadar Ji-sia mengikuti si nona berbaju biru ia masuk ke dalam istana, baru masuk matanya lantas silau dan sakit sekali, ia coba memandang sekitarnya, ia tambah heran.

Tampak di sekitar tempat itu dilapisi oleh cahaya putih keperak-perakan, intan permata memenuhi ruangan, serentetan cahaya merah terpancar dari atas ke bawah, ketika mendongakkan kepalanya ia lihat sebuah batu permata berwarna merah yang besar sekali.

Ketika tirai disingkap, tiba-tiba muncul seorang kakek berambut putih yang sedang duduk bersila di atas pembaringan.

Tiba-tiba si nona berbaju biru membentak, "Setelah berjumpa dengan Hiang-lian Cousu, mengapa tidak berlutut?"

Ji-sia mendengus, dia merangkap tangannya di depan dada dan memberi hormat, bentakan si nona dianggapnya seolah- olah tidak mendengar, hal ini membuat si nona tertawa dingin saking mangkelnya.

Dengan ketus ia lantas berkata, "Sejak masuk ke sini kau sudah menjadi murid Hian-liang Cinkun, mengingat sikapmu yang sombong, bagaimana mungkin arwah Hian-liang  Cianpwe bisa tenteram di alam baka."

"Hmm, aku tidak berminat atas Im-hay-huan-kiu-sik," dengus Ji-sia, "kau mempelajari ilmu tersebut, sepantasnya kau pula yang menjadi murid Hian-liang Cianpwe, sedang diriku..."

Tiba-tiba nona berbaju biru itu menghela napas sedih, katanya, "Dengan pelbagai akal aku mencari rejeki untukmu, tak kusangka kau tak tahu diri, sungguh membuat orang kecewa."

Melengak juga Ji-sia mendengar ketulusan orang, sejak bertemu dengan nona berbaju biru ini, dalam benaknya selalu terbayang wajahnya, apa mau dikata gadis itu bersikap anggun dan dingin, membuatnya tak berani berpikir yang bukan-bukan.

Sekarang mereka berdiri berhadapan, ini semakin membuatnya tak sanggup menahan gelora peragaannya, tapi sejak kecil ia sudah kenyang menderita, maka ia tahu bagaimana menekan perasaan, meski emosi bergelora, ia tetap bisa menahannya.

Setelah tertawa dingin, ujarnya, "Sekarang aku masih sempat mengundurkan diri..."

Seraya berkata dia lantas membalik tubuh dan berjalan balik ke tempat semula.

Nona berbaju biru itu tertawa dingin, "Huh bagaimana pun aku tetap akan memaksamu mempelajari Im-hay-huan-kiu- sik."

Ucapan ini membangkitkan keangkuhan Bok Ji-sia, jengeknya, "Kalau aku tetap menolak, bisa apa kau?"

"Coba pandanglah aku!" kata nona berbaju biru itu.

Dengan tercengang Bok Ji-sia beradu pandang dengan gadis itu, tapi selanjutnya dia tak sanggup berpaling lagi.

Tiba-tiba terpancar cahaya aneh dari balik matanya, seperti sinar mata lembut seorang ibu terhadap anaknya.

Semenjak kecil Ji-sia sudah kehilangan kasih sayang ayah- ibu, begitu berbentur dengan sorot mata nona itu, dia seakan- akan menemukan bayangan ayah-ibunya dibalik biji mata yang jeli itu,

Semakin dilihat semakin kesemsem, sehingga akhirnya tak sanggup untuk menarik kembali pandangannya.

Dengan suatu gerakan cepat nona baju biru itu mengambil kertas dan tinta, kemudian dengan cepat mencoret ke timur dan ke barat di atas kertas itu, dalam sekejap terciptalah suatu lukisan aneh di atas kertas tersebut. Tiba-tiba dia perlihatkan lukisan itu kepada Ji-sia, katanya, "Bok Ji-sia, apakah ini?"

Waktu itu kesadaran Bok Ji-sia mulai pudar, ia tak tahu kalau dirinya sudah terkena pengaruh ilmu Mi-sin-tay-hoat (sebangsa ilmu hipnotis). Begitu memandang lukisan yang disodorkan nona berbaju biru itu, bagaikan orang kalap ia berteriak, "Berikan kepadaku!!"

Dirampasnya kertas itu, dibeberkan di atas tanah, lalu dengan terkesima ia mengawasi lukisan itu tanpa berkedip, serangkaian gerak ilmu silat aneh tiba-tiba terlintas dalam benaknya.

Nona berbaju biru itu mulai membaca dengan lirih, "... bintang utara bintang selatan, rembulan dan matahari silih berganti, hawa bagaikan udara, mengalir dan berputar tak berhenti "

Tanpa disadari, Bok Ji-sia turut mangulangi kembali kata- kata tersebut.

Nona berbaju biru itu berkata lebih jauh seperti membaca sajak.

Makin mendengar Ji-sia semakin tertarik sehingga setiap kali ia mengulangi kalimat-kalimat itu, semua rahasia ilmu yang diajarkan si nona baju biru itu dialihkan atas lukisan tadi.

Ji-sia tahu lukisan itu mengandung arti yang luas dan luar biasa, rahasia yang tidak sembarang orang bisa dipahaminya, tapi semua kata yang disebut nona berbaju biru itu justru ada sangkut pautnya dengan lukisan itu, setiap katanya merupakan kata-kata kunci yang amat berarti.

Begitulah, yang satu membaca dan yang lain mempelajari, tanpa terasa Ji-sia telah menguasai ilmu Im-Hay-huan-kiau-sik itu sepenuhnya.

Nona berbaju biru itu menarik napas panjang katanya, "Kini kau tak bisa bicara apa-apa lagi!" Waktu itu, pada hakikatnya Ji-sia tidak mendengar apa yang diucapkan si nona, segenap perhatiannya tertuju pada lukisan tersebut.

Mendadak sesosok bayangan melayang turun di sisi nona itu, serunya, "Sumoay, kau benar-benar mengajarkan Im-hay- huan-kiu-sik kepadanya?"

"Ya, sepatah katapun tak ada yang kutinggalkan, seluruhnya telah kuwariskan kepadanya!" jawab si nona berbaju biru.

Sementara itu segenap perhatiannya tertuju di atas lukisan, ia sama sekali tidak merasa dalam ruangan itu telah bertambah satu orang.

Dengan munculnya si kakek berambut putih itu, nona baju biru segera bertanya, "Mereka sudah pergi semua?"

Kakek berambut putih itu tertawa, "Hanya orang-orang Kiam-hong-ceng yang masih belum puas, mereka masih mengawasi kita di luar istana."

Setelah berhenti sejenak, ia tertawa dan berkata pula, "Aku kagum sekali dengan syairmu itu, agaknya mereka benar- benar kaget dsn percaya di sini hanya mampu menampung dua orang, pada mulanya aku masih kuatir bila mereka nekat dan menyerbu kemari!"

"Jangan senang dulu," kata si nona sambil tertawa, "sekalipun mereka terkecoh untuk sementara waktu, lama kelamaan juga akan mengetahui permainan kita ini, kukira Lamkiong Hian dan Lik-ih-hiat-li pasti akan mengetahui rahasia ini "

Dari pembicaraan ini jelaslah duduk persoalannya, tak bisa disangkal lagi ketiga puluh dua huruf kecil pada singa batu itu tak lain adalah hasil karya nona berbaju biru ini. Si kakek berambut putih tergelak, katanya, "Kini kitab pusaka Hek-liong-kang sudah ditemukan kembali, kita pun harus pulang ke Hek-liong-kang untuk memberi laporan!"

"Tak usah terburu napsu" kata si nona dingin "Aku ingin menyaksikan dulu kekacauan dunia persilatan Tionggoan, aku ingin melihat mereka saling gontok-gontokan, ingin kulihat darah berceceran di sini ..."

"Sumoay, kau "

"Ia telah berhasil mempelajari Im-kay-huan-kiu-sik", ujar nona itu sambil menunjuk ke arah Ji-sia, "akan kugunakan tangannya untuk menciptakan badai berdarah dalam dunia persilatan, akan kugunakan tangannya untuk membunuh segenap jago silat Tionggoan, akan kupakai akalku untuk menciptakan dendam kesumat baginya!!"

Berdiri bulu kuduk kakek berambut putih itu mendengar ucapan tersebut, dia tak mengira watak Sumoaynya bisa berubah menjadi sedemikian mengerikan semenjak masuk ke Tionggoan.

"Sumoay, kau tak boleh berbuat demikian." seru kakek itu cemas.

Dua titik air mata tiba-tiba menetes dari mata nona berbaju biru itu, ditatapnya wajah Bok Ji-sia dengan termangu-mangu.

Hal ini memang peristiwa aneh, sejak pandangan pertamanya melihat Bok Ji-sia, hatinya lantas mulai bergolak, entah mengapa, seringkah di tengah keheningan malam dia suka bertanya kepada dirinya sendiri, "Jatuh cintakah aku?"

Lantaran biasanya ia berwatak angkuh, berpandangan tinggi, lelaki biasa tak pernah dipandang sebelah mata olehnya. Tapi Bok Ji-sia, kendatipun ia bukan seorang pemuda tampan, tapi justeru memiliki sifat kegagahan yang sukur dilukiskan ... Kegagahan itu membuatnya kesemsem, bibit cinta mulai bersemi dalam hatinya.

Ada kalanya ia pun tak sanggup menahan gejolak perasaannya, ia ingin berseru, "Aku cinta padamu!"

Tapi segera perkataan itu terbungkam oleh wataknya yang angkuh, apalagi semenjak Ji-sia menempelengnya, luka telah membekas dalam hatinya.

Ia benci.. benci pada Ji-sia yang tidak berperasaan. Ia cinta, mencintai keangkuhan Bok Ji-sia!

Di bawah himpitan dua macam perasaan tersebut, ia ingin membalas dendam, ia ingin menciptakan permusuhan agar selama hidup Bok Ji-sia dikejar oleh musuh dan balas membalas tak pernah habis.

Tapi dengan perbuatannya itu, apa pula yang akan didapatkannya?

Tiba-tiba ia berpaling dan bertanya, "Suheng, menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan?"

Sekalipun seorang cerdik pandai tak urung terlibat juga dalam soal cinta, terjerumus dalam pusaran cinta, malam ini nona berbaju biru itupun terjerumus dalam keadaan yang serba salah.

Kakek berambut putih itu sudah berusia setengah abad lebih, tentu saja pengalaman hidupnya jauh lebih banyak dari kebanyakan orang, ia tahu Sumoaynya telah terlibat oleh emosi cinta, perasaannya ikut tertekan juga.

Setelah menghela napas, katanya, "Kau harus berani untuk mencintainya!"

"Hmm, kau suruh aku memikat orang? Tidak nanti kulakukan," jengek si nona baju biru. Kakek berambut putih itu mengertak gigi sambil berseru, "Kalau begitu, bunuhlah dia!"

Tiba-tiba terdengar seseorang menyambung dengan dingin, "Benar. lenyapkan saja dari muka bumi!"

Entah sedari kapan tahu-tahu Hoa Hong-hui telah masuk ke situ, dengan wajah bengis berjalan menghampiri Bok Ji-sia,

Sambil tertawa dingin kedua tangannya menghantam anak muda itu.

Perlu diketahui, sejak kecil Hoa Hong-hui dibesarkan bersama dengan nona berbaju biru itu, boleh dibilang mereka adalah teman main sejak kecil, sudah sejak lama ia menaruh hati kepadanya, maka ketika mendengar buah hatinya jatuh cinta kepada Bok Ji-sia tentu saja ia cemburu bercampur benci, timbul niat jahat untuk membunuh pemuda tersebut dengan serangan yang mematikan.

"Engkoh Hong-hui, kau berani!" bentak nona berbaju biru itu gusar, segera pula ia menyambung, "Suheng, cepat halangi dia!"

Biasanya kakek berambut putih itu sayang Siau-sumoaynya seperti menyayangi nyawa sendiri, belum pernah ia membangkang permintaannya, apalagi di-antara mereka masih ada hubungan yang luar biasa.

Maka cepat ia menerjang maju sembari membentak keras, "Hoa-kongcu, jangan kurang ajar!"

Telapak tangaa kirinya bergerak, tongkat di tangan kanannya secepat kilat menyodok ke muka, menutuk jalan darah Ci-ti-hiat di bahu Hoa Hong-hui.

Hoa Hong-hui terkesiap, betapa pun ia tak berani menyambut serangan itu dengan keras lawan keras, cepat dia berkelit ke samping. "Blang", sekalipun pukulan itu segera ditarik kembali, tetap terjadi beradu kekuatan dengan kakek berambut putih itu seketika Hoa Hong-hui tergetar mundur sempoyongan, air mukanya berubah hebat.

"Bagus, kalian sama menganiaya aku, sekarang juga kupulang ke Hek-liong-kang!" serunya gusar.

"Jika kau berani ribut lagi, aku takkan mempedulikan dirimu lagi!" ancam si nona,

Hoa Hong-bui terperanjat, seperti diketahui bukan baru sehari ia mencintai nona berbaju biru itu, apapun dia tidak takut kecuali takut bila gadis itu tidak mempedulikan dia lagi, sebab hal itu jauh lebih menyedihkan daripada membunuhnya.

Setelah termangu sejenak, dengan sedih ia menyingkir.

Pada saat itulah, tiba-tiba Ji-sia tersadar kembali dari lamunannya, ia segera berteriak, "Aku tertipu olehmu!"

"Sekaraag kau telah menguasai Im-hay-huan-kiu-sik, mengapa kau bilang tertipu?" kata si nona dingin.

Sebenarnya Bok Ji-sia sama sekali tidak berniat mengincar ilmu sakti itu, sekalipun keras wataknya namun sedikit akalnya, dia tak mengira bakal terkesima oleh secarik lukisan yang diberikan nona berbaju biru itu.

Sambil menghela napas katanya kemudian, "Nona, kau memang cerdik sekali, baiklah akan kuturuti perkataanmu!"

Nona baju biru itu berpaling ke arah kakek berambut putih, serunya dengan tertawa. "Suheng, bawa kemari barang itu!"

Kakek berambut putih bertepuk tangan sekali, Pek Bi dan Pek Sat lantas muncul pelahan.

Kedua orang memegang sejilid kitab besar berkulit hitam, dilihat dari luar segera diketahui kitab itu bukan kitab biasa. Suatu perasaan aneh timbul dalam hati kecil Ji-sia, sesungguhnya kitab apakah yang berat?

Pek Bi dan Pek Sat membawa kitab tersebut langsung ke hadapan Bok Ji-sia.

"Hek-liong-po-tian!"

Ketika keempat huruf itu muncul di depan mata Bok Ji-sia, pemuda itu terperanjat, ia tidak menyangka nona berbaju biru itu akan menyerahkan kitab pusaka perguruannya kepadanya.

"Hei, mau apa kau?" serunya terkejut. "Kitab ini adalah pusaka Hek-liong-kang," kata si nona sambil tertawa dingin, "baru hari ini berhasil kami temukan kembali dalam Hian-liang- gin-hu ini, setelah kau pelajari Im-hay-hung-kiu sik, maka sesuai dengan pesan wasiat Hian-liang Cin-kun, kau harus membawa kitab pusaka ini kembali ke Hek-liong-kang dan menyerahkannya kepada ayahku, Hek-hong Lojin "

Setelah berhenti sebentar, lanjutkan, "Kitab ini menyangkut keselamatan seluruh dunia persilatan, moga-moga kau dapat melindunginya dengan baik hingga tidak mengecewakan pesan Hian-liang Lo-ciaopwe. Setiba di Hek-liong-kang, tentu ada orang yang akan menyambut kedatanganmu, berhati- hatilah dalam perjalanan."

Diam-diam Ji-sia mengeluh, dia tak menyangka malam ini bakai terjebak siasat orang, apalagi teringat akan dendam berdarahnya yang hingga kini belum ada titik terang, tanpa terasa ia menghela napas sedih.

Pikirnya, "Ai, siapa suruh kau mempelajari Im-hay-hung- kiu-sik? Apa boleh buat, terpaksa harus kuturuti perkataannya!"

Setelah mendengus, katanya dengan gusar, "Kalau tiada urusan lain, aku segera akan berangkat!"

Dari sakunya nona berbaju biru itu mengeluarkan selembut kain hitam dan turun tangan sendiri untuk membungkus kitab pusaka Hek-liong-kang tersebut, kemudian meletakkannya di atas punggung Bok Ji-sia,

"Antar Bok-kongcu keluar dari sini!" katanya dengan sedih, "Hamba terima perintah!" jawab Pek Bi dan lantas beranjak

lebih dulu.

Dengan perasaan berat Ji-sia melotot stkejap ke arah si nona baju biru itu dengan gusar, kemudian menghela napas dan berlalu dari sana.

Bayangan tubuhnya makin lama semakin kecil, akhirnya lenyap dari pandangan mata.

Memandangi bayangan punggungnya yang lenyap di kejauhan, tiba-tiba air mata jatuh membasahi pipi nona baju biru itu.

Ia cinta juga membencinya, kali ini hampir saja ia menghancurkan pemuda itu.

Ketika Hoa Hong-hui menyaksikan kitab pusaka Hek-liong- kang diserahkan kepada seorang yang tiada hubungannya dengan mereka, kontan saja amarahnya berkobar, katanya sambil tertawa dingin "Kau benar-benar telah serahkan kitab pusaka itu kepadanya?"

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba si kakek seperti menyadari akan suatu kejadian, dia lantas menjerit, "Sumoy, kau.."

Nona baju biru itu tertawa getir, "Hanya dengan berbuat demikian dunia persilatan baru akan terjerumus dalam pertikaian, hanya dengan berbuat demikian, aku baru dapat menggunakan Bok Ji-sia dengan Im-hay-huan-kiu-sik nya untuk membunuh jago persilatan yang sok gagah! Sudah kuperhitungkan dia tak akan bisa keluar dari daerah Tionggoan, selalu akan muncul musuh tangguh yang tak ada habis-habisnya yang akan mengejarnya terus menerus. Ai, semoga dia bisa selamat dan sehat-sehat saja!" Hai ini sungguh urusan yang tak terduga, nona berbaju biru ini benar-benar cerdas, tak tersangka ia telah menggunakan kitab pusaka Hek-liong-kang itu sebagai umpan untuk menerbitkan kekacauan dan badai pembunuhan dalam dunia persilatan.

Hati perempuan memang sukar diraba, setelah menyerahkan kitab pusaka itu kepada Bok Ji-sia, tiba-tiba timbul perasaan tidak tenang si nona berbaju biru.

Hoa Hong-hui berseru dengan cemas, "Seandainya kitab pusaka itu sampai terjatuh ke tangan orang atau Ji-sia secara diam-diam mempelajari isi kitab pusaka tersebut, bukankah ilmu silat Hek-liong-kang kita akan terlebar luas ke Tionggoan?"

"Kau anggap, aku ini bodoh?" saru si nona, "ilmu silat Hok- liong kang masih berada di sini komplit, kitab yang kuberikan kepadanya itu sama sekali tidak termuat satu jurus apapun, aku hanya menggunakanya sebagai umpan guna memancing keonaran dalam dunia persilatan .."

Hati manusia memang sukar diduga, apalagi hati perempuan, padahal Bok Ji-sia tidak mempunyai permusuhan dengan nona berbaju biru itu, tapi gadis itu justeru hendak memcelakainya,

"Sekarang kita harus menyiarkan berita ini secepatnya, katakan Bok Ji-sia telah mencuri kitab dan melarikan diri "

Begitulah diatur secara licik oleh nona berbaju biru dari Hek-liong-kang ini, dengan cepat berita tentang tercurinya kitab pusaka itu oleh Bok Ji-sia segera tersiar di seluruh dunia persilatan.

Ji-sia sendiri sama sekali tidak menyadari akan kejadian itu, dia masih seperti rencana semula membawa kitab itu menuju ke Hek-liong-kang. Ia tidak menyangka bencana besar sedang mengintip dirinya, seluruh jago golongan putih maupun hitam secara berbondong-bondong sedang mencari jejaknya.

Sepanjang perjalanan diam-diam sudah banyak gembong iblis dari dunia persilatan yang mengincarnya, mereka sedang menunggu kesempatan baik untuk turun tangan dan merampas kitab pusaka yang tiada taranya itu.

Tapi dalam dunia persilatan juga ada dua orang yang tidak percaya pada berita tersebut, malam itu mereka sedang berusaha melacaki jejak Bok Ji-sia sambil berusaha menyelidiki duduk persoalan yang sebenarnya, apakah benar Bok Ji-sia telah melarikan kitab pusaka itu dengan tujuan meraih kedudukan sebagai jago nomor wahid di kolong langit itr, kedua orang itu tak lain adalah Bwe-hoa-kiam Tong Yong-ling dan Lik-ih-hiat-li.

Dalam pandangan mereka, Bok Ji-sia tak nanti akan melakukan perbuatan yang melanggar etika. itu, mereka yakin pasti ada orang lain yang sengaja menyiarkan kabar busuk untuk menghancurkan masa depannya.

Tapi dengan cepat pelbagai kejadian menyangkal kecurigaan mereka itu, banyak jago golongan baik yang berhasil membuktikan kebenaran berita tersebut, ini membuat mereka menjadi sedih dan diam-diam menitikkan air mata.

Sebaliknya Bok Ji-sia mengira setelah tugasnya selesai, dia akan bisa membalas dendam bagi gurunya, menyelesaikan dendam keluarga dan kemudian mengakhiri hidup petualangannya dalam dunia persilatan,

Siapa tahu dendam lama belum terbalas, kini dia harui menanggung suatu beban baru yang lebih berat lagi.

Pemuda itu tahu tugasnya sangat berat, setiap orang berusaha mengincar kitab pusakanya, maka sepanjang jalan ia tak berani berhenti, perjalanan dilakukan siang-malam dengan cepatnya, dia berusaha secepat mungkin tiba di Hek-liong- kang dan menyelesaikan tugas.

Mendadak, dari belakang berkumandang suara gelak tertawa panjang mengerikan.

Ji-sia terperanjat, ia bergumam dengan dingin, "Siapa lagi yang berani..."

Belum habis berkata, suara seruling berkumandang ,dari empat penjuru, suara itu makin lama makin cepat dan semakin nyaring.

Ia coba memperhatikan sekeliling tempat itu, dengan sinar matanya yang tajam bagaikan kilat dia berusaha mencari sumber suara tersebut, tapi suasana amat sepi, tak sesosok bayangan pun berada di sana, anehnya suara seruling itu makin lama semakin mendekat ....

Pada saat itulah, tiba-tiba dari balik semak, belukar tampak sesuatu yang bergerak, dua sosok bayangan manusia menerjang datang.

"Siapa?" bentaknya dengan gusar bercampur kaget. "Serahkan benda itu. " bentak orang itu menggeledek.

"Blang", benturan keras terjadi, debu pasir beterbangan.

Sungguh cepat gerak tubuh kedua orang itu, dalam waktu singkat mereka sudah berada di depan Bok Ji-sia.

Dengan terkesiap Bak Ji-sia menggeser ke samping, dengan jari tangan bagaikan belati menusuk jalan darah penting di tubuh orang yang sebelah kiri, kemudian kaki kanannya menendang perut orang di sebelah kanan.

Kedua orang itu tampak terkesiap mereka tidak menyangka Bok Ji sia memiliki kepandaian sedemikian sempurna, dengan serangan yang begitu dahsyat. Dalam kejutnya kekua orang itu mendengus sambil membalik badan mereka melompat ke arah yang berlawanan,

Ji-sia juga mendengus, "Di tengah bukit terpencil begini, ada maksud apa kalian mengalangi perjalananku?"

Dilihatnya kedua orang itu mengenakan baju berwarna hitam, orang yang di sebelah kiri memakai caping dari bambu dengan membawa sebuah alat pengail, sedangkan orang tua yang berada di sebelah kanan membawa sebuah tombak.

Dandanan kedua orang itu tidak terlampau asing bagi pandangan Bok Ji-sia, sebab mereka tak lain adalah dua jago dari empat pulau besar, yakni Hi-kan-tocu, Lok-to-siansing (tuan unta) Ciang Lip-sek dan Tiang-mo- tocu, Siu- tiok-hong (si bambu kurus) Ki Kiau-jin.

Untuk sesaat kedua orang itu dibikin, tergetar okh tenaga dalam lawan, mereka tak tahu bagaimana mesti menjawab, dalam pandangan mereka kesempurnaan ilmu silat yang dicapai Ji-sia sungguh tidak masuk diakal

"Hm, sekalipun kitab pusaka itu tidak kau berikan kepada kami, jangan harap kau bisa keluar dari Tionggoan dengan tenang “

"Hei, apa yang kuucapkan sudah kalian dengar belum?" tegur Ji-sia lagi dengan dingin.

Ucapan yang bernada memerintah ini siapa-pun tidak tahan mendengarnya. Jelek-jelek kedua orang ini adalah Tocu yang dihormati dalam dunia persilatan, mana mereka boleh dibentak orang semacam itu.

Hi-kan-tocu Lok-to sianseng Ciang Lip tik segera tertawa dingin dan berseru, "Kau bukan pemimpin dunia persilatan, kenapa kami berdua mesti mendengarkan perkataanmu?"

"Kalau tak mau menurut, cepat enyah dari sini!" bentak Ji- sia pula. Tiang-mo tecu Siu tiok-hong Ki Kiu jin mendesak maju, serunya, "Suruh kami pergi boleh saja kecuali kau serahkan barang di punggungmu itu kepada kami!"

Sedari tadi Ji-sia sudah tahu kedatangan mereka adalah untuk kitab pusaka Hek-liong-kang, sekalipun dia merasa gemas kepada gadis aneh Hek-hong-kaiig, yaitu si nona baju biru yang memberi tugas berat kepadanya itu, dia lebih benci lagi kepada orang-orang yang berniat merampas kitab pusaka tersebut.

Sambil mendongakkan kepalanya ia tertawa seram, serunya. "Hahaha, enak saja kau bicara, memangnya aku orang she Bok adalah manusia yang boleh direcoki?"

"Hmm, sekalipun kitab pusaka itu tidak kau serahkan kepada kami, jangan harap pula kau bisa keluar dari daerah Tionggoan, ketahuilah segenap perguruan besar di Tionggoan telah berkumpul semua di sini. "

Mendengar itu Ji sia amat terperanjat, pikirnya "Seandainya semua jago dari pelbagai perguruan berkumpul di sini untuk merampas kitab pusaka Hek-liong-kang ini, jelas masalahnya akan menjadi sangat pelik, sekalipun aku tak sudi mempelajari ilmu maha sakti yang tercantum dalam kitab ini, akupun tak boleh kehilangan kitab ini sehingga menghilangkan kepercayaan orang terhadap diriku. "

Berpikir demikian, dia lantas mendengus, katanya, "Jangankan baru kalian empat orang Tocu, sekalipun setiap perguruan besar juga mengirim jagonya kemari, kenapa aku mesti takut!"

"Baik, rupanya kau minta diperlakukan dengan keras, jangan menyesal bila kami bertindak keji!" bentak Tiong-mo- tocu Siu-liok-hong Li Kiu-jin dengan gusar.

Tombaknya bergerak, dengan jurus Oh-liong-jut-hay (naga hitam keluar dari samudra) senjata tajam itu segera mengurung sekitar tubuh Bok Ji-sia. Debu pasir segera beterbangan, tombak itu seakan-akan seekor naga sakti hendak menerkam pemuda itu.

Ji-sia terkesiap, sambil berpekik nyaring teriaknya, "Yang mampus adalah kau sendiri!"

Tenaga dalamnya dihimpun, lalu dihantamkan menyongsong bayangan tombak lawan. Serangannya seperti tak bertenaga, padahal segenap kekuatannya telah dikerahkan.

"Blang", debu pasir beterbangan, Tiang-mo-tocu menjerit kaget dan cepat-cepat melompat mundur.

Ketika itulah, Lok to-sianseng Ciang Lip-tek telah mengangkat alat kailnya sambil tertawa, "Bok-siauhiap, maaf tindakanku yang lancang!"

Tampak alat pengailnya yang panjang dengan warna hitam itu diayunkan ke udara, kemudian ditarik ke belakang ....

Belum lagi serangan Bok Ji-sia mengenai tubuh Siu-tiok- hong Ki Kiu-jin, tahu-tahu Lok-to-sianseng menyergapnya, cepat dia membalik badan sambil membentak gusar, "Tidak tahu malu "

Belum lenyap suaranya, mendadak dirasakan ada sesuatu yang tidak beres. Baru saja bergerak, tahu-tahu hilang keseimbangan badannya.

Ji-sia terkejut, pikirnya, "Bisa celaka sekali ini!"

Terdengar Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek tertawa, serunya. "Roboh! Roboh kau!"

Ji-sia merasakan kaki kanannya menjadi kencang, hilang keseimbangan badannya dan roboh terbanting.

Baru roboh, tangan kiri segera menahan permukaan tanah dan melompat kembali ke udara, dari situ badan berputar lalu beruntun dia melancarkan beberapa kali serangan berantai, Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek tertawa dingin, serunya lagi, "Tepat sekali, tepat sekali pancingannya!"

Alat pengail itu menyambar ke belakang, Ji-sia merasakan badannya menjadi enteng dan kitab pusaka Hak-liong-kang itu tahu-tahu sudah melayang ke udara.

Alat pengait itu berputar dan kitab pusaka itu tergantung di udara sambil bergoyang tiada hentinya, Ji-sia terkejut, ia tak menyangka alat pengail itu memiliki kemampuan yang luar biasa, bisa digunakan untuk mencuri kitab pusaka di punggungnya selagi pertarungan berlangsung.

"Kembalikan kepadaku!" bentaknya,

"Hahaha ... tidak segampang itu ..." jawab Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek sambil tergelak.

Dengan enteng tubuhnya berputar, secepat kilat melesat ke arah datangnya tadi.

Tiang-mo-tocu Ki Kiu-jin melompat maju seraya berseru, "Jangan pergi dulu, menang kalah belum ketahuan!"

Tombaknya berputar menciptakan selapis bayangan tajam terus menyerang Bok Ji-sia dengan ganas, jelas ia berniat mengadang pemuda itu agar Lok-to-sianseng sempat melarikan diri.

"Bila tidak kubasmi orang empat pulau kalian, tak puas rasa dendamku!" teriak Ji-sia murka.

Mendadak berkumandang bentakan nyaring, "Orang latah dari mana itu? Sombong amat!?"

Ji-sia mendesak mundur Tiang-mo-tocu dengan suatu serangan, kemudian serunya, "Aku Bok Ji-sia yang berbicara, mau apa?"

Tertampaklah Cian-Ciau-toeu Ciu-siu-thi-say (siaga baja bercambang) In Ceng-bu serta Tua-bu-tocu Ay-te-liong (si naga cebol) Yau Tong-seng muncul bersama, tanpa bicara mereka terus menyerang.

Tentu saja tindakan ini termasuk rencana licik mereka berempat. Lok-to-sianseng ditugaskan mencuri buku dengan pengailnya, Siu-tiok-hong Ki Kiujin melindungi keselamatannya dan kemudian Ciau-ciau dan Tun-bu-tocu membantunya.

"Hari ini biar mati juga akan kubinasakan lebih dulu kalian!" bentak Ji-sia dengan geram, pukulannya bertambah dahsyat.

Hi-kan-tocu Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek yang berhasil mendapatkan kitab pusaka Hek-liong-kang-ki-su, tentu saja tak berani ayal lagi, cepat-cepat dia hendak kabur.

Mendadak terdengar seorang mendengus, "Hm, dengan mengandalkan kepandaiamu itu juga ingin mengincar kitab mestika!"

Lenyap ucapan itu, bayangan hitam berkelebat dan seorang kakek sudah mengadang jalan pergi Lok-to-tianseng Ciang Lip-tek.

Dengan terperanjat Lok-to-sianseng menghentikan gerakan tubuhnya, lalu membentak, "Kawanan tikus dari manakah berani mengalangi pekerjaanku?"

Ketika memandang ke depan, ia lihat orang itu berkumis melintang, menyandang pedang di punggung dan lagi tersenyum dingin.

Kakek itu berkata, "Dengan cara apa kau menyerobot buku itu, dengan cara itu juga akan kuhadapi dirimu "

"Jadi kau telah menyaksikan semua ini?" tanya Lok-to- sianseng dengan terkejut.

"Hehehe, bukan cuma melihat, bahkan seperti mengalami sendiri!"

Lok-to-sianseng makin terperanjat, "Siapa kau?" "Tanpa nama tiada julukan, orang memanggilku Lok Put peng (jalan tidak rata)!" jawab orang itu tersenyum.

Nama yang aneh ini membuat Lok-to-sianseng Ciang Lip- tek tertegun, jelas orang tak ingin menyebut nama aslinya.

Ciang Lip-tek memandang sekejap kitab pusaka di atas kailnya, lalu mangejek, "Jadi kedatanganmu juga untuk kitab ini?"

"Benda tanpa pemilik, siapapun boleh mengambilnya, memangnya buku itu cuma kau saja yang boleh mendapatkannya?"

Sekarang Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek baru tahu kakek di hadapannya ini terhitung musuh tangguh, setiap patah katanya selalu tajam mendesak,

"Jadi benar kau datang untuk kitab ini?" serunya terkesiap. Lok Put-peng tersenyum, "Yang kuat makan yang lemah,

ini merupakan kejadian yang lumrah, kalau tahu bukan tandinganku, lebih baik serahkan kitab Hek-liong-kang itu kepadaku."

"Hm, belum lagi dicoba, dari mana kau tahu aku bukan tandingan mu?"

"Perasaan tak tenang, hatimu sudah keder, sudah barang tentu kau bukan tandinganku!" jawab Lok Put-peng sambil tertawa,

Walaupun ucapan itu sederhana, namun maknanya cukup mengejutkan orang.

Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek merasa benar juga ucapan itu ,baru bertemu rasanya hati keder, sekarang bahkan boleh dibilang sudah ketakutan, ia merasa kakek aneh ini sungguh seorang yang jarang dijumpai.

Dengan gusar serunya, "Mengapa kita tidak coba-coba dulu!" "Mau coba juga boleh, cuma kitab itu harus kau serahkan dulu!"

"Hm, jangan mimpi di siang bolong" pengail di tangan kiri waktu itu terangkat tinggi-tinggi, membuat kitab pusaka Hek- liong-kang tergantung di udara sesudah mendengus, tiba-tiba Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek melepaskan pukulan dahsyat ke depan.

"Akan kusambut seranganmu!" bentak lok Put-peng.

Ia tidak berkelit dac tidak menghindar, telapak tangan kirinya meagebas, segulung angin pukulan tak berwujud dengan cepat menyongsong datangnya ancaman Lok-to- sianseng itu.

"Biang", benturan keras berkumandang ....

Beruntun Lok-to-slanseng Ciang Lip-tek tergetar mundur beberapa langkah, sebaliknya Lok Put-peng juga tergeliat mundur selangkah.

Dipandang secara umum, kekuatan mereka berdua seolah- olah seimbang, menang kalah sukar ditentukan, tapi di mata seorang ahli, dapat diketahui bahwa tenaga dalam Lok-to- sianseng masih kalah satu tingkat.

Tatkala Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek mundur ke belakang inilah, mendadak ia menjerit kaget, cepat ia menubruk maju lagi.

Cahaya perak berkelebat, "plak!" tahu-tahu kitab pusaka itu sudah melayang ke udara.

"Kau belum pantas mendapatkan kitab ini!" seru Lok Put- peng sambil tertawa.

Belum lagi Lok-to-sianseng melayang turun, ia merasakan datangnya segulung tenaga pukulan yang sangat kuat, bahwa dia bisa menjagoi lautan, tentu saja memiliki kepandaian yang hebat, maka begitu merasa gelagat tidak menguntungkan, cepat dia tahan gerak tubuhnya itu.

Kitab pusaka Hek-liong-kang-kiau itu tergeletak di tanah, ketika Lok-to-sianseng memeriksa kailnya, ternyata senjata itu sudah patah menjadi dua bagian, sekilas pandang saja ia tahu kail itu terpapas oleh pedang.

Lok Put-peng mengejek, "Kitab ini sudah kudapatkan, apakah kau belum puas!"

Betapa gemas Lok-to-siangsing melihat Hek-liong-kang kiau yang diperolehnya dengan susah payah itu ternyata dirampas oleh seorang kakek tak dikenal.

"Aku akan beradu jiwa denganmu!" teriaknya kalap.

Habis berkata, dia putar kail dan menyerang dengan jurus Kau-oh-soh-liong (mengail awan mengunci naga).

Serangan itu baru dilancarkan, dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara tertawa tiga kali panjang dan satu kali pendek, jelas bala bantuannya telah datang.

Lok-Put-peng tertawa dingin sambil bergeser ke samping, ejeknya, "Hah. tidak sedikit tampaknya bala bantuanmu?"

Lok to-sianseng Ciang Lip tek tidak menyangka jurus serangan Kau-oh-soh-liong yang digunakan itu akan gagal, sambil mendengus tangkai pengailnya berputar dan langsung menyabit bagian bawah Lok Put-peng.

Yang digunakan Lok Put-peng adalah ilmu meringankan tubuh Hu-ing- sui-seng (menempel bayangan mengikuti badan) untuk menguntit di belakang Lok-to siansing, meski bersifat menggoda, tapi dia juga cukup prihatin.

Beberapa kali gagal melepaskan diri dari kejaran Lok-Put- peng, Lok-to-sianseng naik darah, sebagai salah seorang di antara Su-toa-tocu, belum pernah ia dipermainkan orang seperti ini, tak heran dia menjadi mata gelap. "Kalau berani, bila kau anggap dirimu jagoan, ayo sambut lagi beberapa kali pukulanku" teriaknya.

Lok Put-peng tidak menggubrisnya, dia hanya tertawa dingin.

Tiba-tiba dari udara bergema suitan nyaring memekik telinga, belum habis suara itu, dua sosok bayangan melesat masuk ke dalam arena.

Pada matanya Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek mengira bala bantuannya tiba, tapi setelah mendongak kepala, ia menjadi kecewa. Sedikit meleng, segera ia mendengus tertahan, darah kental tertumpah keluar dari mulutnya, badan pun sempoyongan.

"Su-toa-to bersumpah takkan hidup bersama denganmu!" teriaknya murka,

Lok Put-peng terkekeh-kekeh, "Jika kutakut pada kalian berempat, tak nanti kuikut campur urusan ini."

Dalam pada itu, kedua sosok bayangan tad1 indah tiba di hadapannya, Lok Put-peng tak berayal ayal, cepat ia menggeser ke samping, tangan kiri segera menyambar kitab Hek-liong-kang-ki-su.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang berkata dengan tertawa seram, "Jika kau tidak pikirkan tanganku lagi, silakan ambil"

Cahaya putih berkelebat, rantai perak menggulung tiba, sebilah pisau tajam tahu-tahu menyambar pergelangan tangan Lok Put-peng.

Dengan terkejut buru-buru Lok Put-peng menarik kembali tangannya sambil melompat mundur, setelah ia melihat jeias penyerangnya, ia terkejut pula atas kelihaian penyerang itu,

"Aneh, kenapa kedua makluk aneh ini pun datang!" demikian ia berpikir. Tampak seorang berjubah merah dan memakai kalung tengkorak keefl sedang memandang padanya sambil tertawa dingin, ia mengenali orang itu sebagai Ang-ih-ko-lo (tengkorak berbaju merah) Biau-kiang-it-mo (iblis sakti dari wilayah Biau) Thian Tiok-kun.

Orang di sebelah lain juga berbaju merah, berperawakan tinggi besar, kedua lengannya masing-masing melingkar seekor ular kecil berwarna hijau gilap, dia tak lain adalah adik kandung Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun yang bernama Coa- long-kun (pemuda ular sakti) Thian Siau-kun.

"Huh, melihat tampang kalian yang tiga bagian mirip manusia dan tujuh bagian mirip hantu ini sudah kuketahui kalian pasti bukan manusia baik-baik " jengek Lok Put-peng.

Belum selesai katanya, Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun lantas menukas sambil tertawa, "Tiong-ciu-it-kiam, jangan kira sebagai seorang ketua suatu perguruan lantas menjual tampang di hadapan kami, dengan bertangan kosong aku Thian Tiok-kun akan menjajal ilmu pedang Ban-biau kiam-hoat dari Tiam-jong-pai-mu, akan kulihat kau cuma manusia bernama kosong atau bukan."

Lok Put-peng terperanjat, dia tak menyangka kedua iblis dari daerah perbatasan ini bisa mengenali dirinya, padahal sejak menjabat ketua Tiam-jong-pai, dia sangat jarang muncul dalam dunia persilatan, oleh karena itulah jarang yang tahu akan namanya, tak heran sampai Lok-to-sianseng pun tak bisa menebak asal-usulnya,

Tiong-ciu-it-kiam terbahak-bahak, katanya, "Thian Tiok- kun, dengan beberapa macam ilmu jahatmu itu kau kira dunia persilatan bisa kau pukul rata? Hahaha bukan sengaja ku turunkan derajat kalian, sesungguhnya kalian berdua masih belum pantas cari nama di daerah Tionggoan."

"Hehehe, aku tidak percaya kau ini manusia berkepala tiga atau berlengan enam!" jengek Coa-loog-kun Thian Sau-kun. Tiba-tiba ia berkomat-kamit kemudian bisiknya, "Lik-giok, cepat!?"

Cahaya hijau berkelebat, menyusul lengan kiri Coa-long- kun Thian Sau-kun digetarkan, "creet!" ular kecil berwarna hijau itu melejit ke udara dan meluncur ke depan.

Air muka Tiong-clu-it-kiam berubah ssriut, bentaknya. "Huh, makhluk semacam ini pun dipakai menggertak orang?"

Kakinya bergeser, pergelangan tangan berputar, tahu-tahu sebilah pedang mestika dilolos dari sarungnya, secepat kilat ia menahas ular kecil berwarna hijau itu.

Tampaknya ular kecil itu sudah terlatih, tubuhnya meletik dan "pluk!" tahu-tahu dia merambat batang pedang dan meluncur ke tubuh Tiong-ciu-it-kiam.

Mimpi pun Tiong-ciu-it-kiam tidak menyangka ular hijau kecil itu sedemikian cerdiknya, dia membentak gusar, pedang berputar kencang menciptakan selapis bayangan pedang di sekeliling tubuhnya

Coa-long-kun Thian Sau-kun tertawa terbahak-bahak, katanya "Kalau cuma seekor makhluk kecil pun tak mampu menaklukannya, terhitung seorang ketua perguruan macam apakah kau ini?"

"Hmm, ilmu silat daerah Tionggoan ternyata cuma bernama kosong belaka, tak tahan sekali serangan!" Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun menambahkan dengan dingin.

"Huh, kawanan tikus juga berani berbicara soal ilmu silat Tionggoan?" mendadak seorang mengejek,

Tertampak tiga orang muncul, mereka adalah It-hu Taysu dari Siau-lim, Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai, Coan-sin Loni dari Go-bi pai. Beberapa tokoh yang jarang menampakkan diri kini bermunculan semua. Coan-sin Loni, si nikoh tua Go-bi-pai menyapu pandang sekejap sekeliling arena, kemudian katanya, "Toyu, buat apa mesti membuang waktu? Biar kuberesi mereka!"

Telapak tangannya dijulurkan ke muka, lalu ditarik lagi, ular kecil yang sedang menari di udara itu tahu-tahu meluncur ke tangannya.

Sebagai seorang ketda suatu perguruan Tiong-ciu-it-kiam dibikin kalang kabut oleh seekor ular kecil, ia merasa kehilangan muka. Maka ketika dilihatnya ular kecil itu meluncur ke arah Coan sin-Loni, dia terperanjat.

"Sinni, hati-hati! Ular itu berbisa!" serunya kaget.

"Tidak menjadi soal," Coa-sin Loni dari Go-bi-pai tersenyum, "Kumampu menaklukannya!"

Baru selesai dia berkata, ular kecil berwarna hijau itu terjatuh ke tangannya, telapak tangannya membalik, "Cret!" dengan dua jari ia jepit leher ular itu, sekali dipencet, habislah riwayat makhluk berbisa itu.

Baru saja ular berbisa itu mampus, ular lain yang melingkar di tangan Coa-long-kun Thian Sau-kun mendesis dan tiba-tiba menyambar pula ke depan.

"Kau berani memunahkan Lik-giok!" bentak Coa-long-kun Thian Siau-kun dengan gusar.

Di tengah bentakan itu iapun bergerak ke depan, kedua telapak tangan bekerja dengan cepat, sejak kecil dia belajar silat dari seorang manusia aneh, yang dilatih adalah jurus maut aliran sesat, boleh dibilang semua serangannya sangat aneh dan sukar diduga. 

It-hu Taysu dari Siau-lim-pai segera tampil ke muka, serunya, "Omintohud, sifat berangasan Sicu belum juga berubah, mungkin..." Telapak tangan kiri mengebas dengan jurus Hud-kong-bu- ciau (cahaya Buddha memancar terang), segulung tenaga pukulan maha dahsyat segera mendampar ke muka.

Coa long-kun Thian Sau-kun terkejut bercampur marah, bentaknya, "Sembilan perguruan besar dari Tionggoan sudah datang empat, apakah kalian ingin main kerubut?"

Sementara itu Coa-sin Loni dari Go-bi-pai telah meremas hancur ular beracun yang lain, sambil melayang maju ujarnya, "Untuk menghadapi makhluk-makhluk tak berguna seperti kalian kenapa empat perguruan besar mesti bekerja sama?"

Biau-kiang-it-mo Thian siau-kun mendorong Coa-long-kun Thian Sau-kun ke samping, dengusnya, "Hm, hari ini jangan harap kalian bisa mendapatkan kitab pusaka ini!"

"Kitab itu adalah barang tak bertuan," kata Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai dengan dingin, "meski kami tak berniat mengangkangi, tapi jangan harap bisa terjatuh ke tangan sampah aliran sesat macam kalian, kedatangan kami hari ini hanya bertujuan mencegah buku ini jangan sampai terjatuh ke tangan manasia-manusia busuk."

"Benar, ucapan Totiang sangat tepat, sungguh aku merasa kagum," sambung Tiong-ciu-it-kiam sambil terbahak.

Mendadak seorang membentak marah, "Siapa yang melukai orang-orang keempat pulau kami?"

Entah sedari kapan, Tiang-mo-tocu Siau-tiok-hong Ki Kiu jin, Ay-te-liong Yau Tong-seng dan Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu telah muncul semua.

Tiong-ciu-it-kiam menatap sekejap ke arah Ciau-siu-thi-say dengan marah, lalu menjawab dengan dingin, "Jika aku, mau apa kau?"

"Hahaha, kalau begitu harus kau serahkan nyawamu!" teriak Ciu-siu-thi-say sambil tertawa seram. Seraya berkata dia lantas mendekati Tiong-ciu-it-kiam. Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun menjadi gusar melihat ada orang mengganggu setengah jalan, serunya, "Kau ini manusia apa? Berani berkaok tak keruan micnm jeritan setan!"

"kau sendiri manusia apa?" Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu berteriak gusar seraya berpaling.

Telapak tangan kanannya menghantam dengan enam bagian tenaga.

Pada dasarnya dia memang memiliki kekuatan ahm yang luar biasa, meski serangan ini cuma menggunakan tenaga sebesar enam bagian, tapi luar biasa hebatnya.

Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun tertawa mengejek. "Hehehe, tak nyana kau punya kepandaian juga!"

Mulut bicara tangan tidak berhenti, iapun melancarkan pukulan dahsyat ke depan, ketika dua gulung tenaga pukulan saling bentur, kedua pihak sama-sama terkejut oleh  kehebatan lawan.

Lok-to-sianseng merasa semangatnya berkobar setelah jago keempat pulau berdatangan semua, tapi setelah menyaksikan begitu banyak jago lain juga muncul, hatinya merasa dingin kembali.

Diam-diam dia berbisik kepada Siau-tiok-liong Ki Kiu jin, "Saudara Ki, dewasa ini yang penting adalah kitab tersebut, sebaiknya jika sekarang kita bisa merampasnya "

Siu-tiok-hong Ki Kiu-jin manggut-manggut, katanya, "Saudara In. harap mundur, kita laksanakan sesuai rencana!"

Waktu itu meski kitab pusaka Hek-liong-kang-ki-su masih tergeletak di tanah, tapi tak seorang pun bsrani turun tangan untuk merampasnya, sebagai mana diketahui kawanan jago lihai dari berbagai daerah telah berkumpul, siapa berani bertindak secara gegabah bisa berakibatkan kematian yang mengerikan, Semua orang dapat melihat ktadaan itu dengan jelas, maka siapa pun tak mau banyak bicara.

Baru saja Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu akan bertindak, dilihatnya Siu-tiok-hong Ki Kiu-jin memberi tanda dengan kedipan mata, dia lantas mengerti apa maksudnya, maka dengan uring-uringan katanya, "Untuk sementara kuampuni kalian"

Selesai berkata dia lantas mundur, jaraknya dengan kitab Hek-liong-kang-ki-su menjadi tinggal beberapa kaki dan seperti tanpa sengaja lewat disisinya.

"Siapa yang kau maksudkan?" tiba-tiba Tiong-ciu-it-kiam menegur dengan dingin,

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu menuding Tiong-ciu-it-kiam dan Biau-kiang-it-mo, sahutnya, "Tentu saja termasuk kalian berdua."

"Awas kupuntir lehermu!" ancam Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun sambil tertawa seram.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu mendengus, pada waktu membalik badan tiba-tiba kakinya menendang kitab pusaka Hek-liong-kang-ki-su. bentaknya, "Saudara Ki, cepat sambut!"

Hek-liong-kang-ki-su terus meluncur ke udara, Siu-tiok- hong Ki Kiu-jin sudah mengincar dengan tepat, sagera dia melompat maju dan menyambar kitab itu.

Ia disebut orang sebagai Siu-tiok-hong (angin bambu kurus), tentu saja gerak tubuhnya sangat ringan dan cepat, begitu melompat ke udara, tangannya lantas meraih..

Pada saat itulah mendadak Tiohg-ciu-it-kiam persero, "Manusia yang tak tahu malu, rasakan dulu pedangku ini!"

Cahaya tajam menyambar, dengan jurus Kim-ki-toh-hun (panji emas merampas sukma) dia tabas pergelangan tangan Siu-tiok-hong Ki kiu-jin. Sekalipun waktu itu Ki Kiu-jin menyadari kesempatan baik tidak boleh disia-siakan, apa daya sudah terlambat, terpaksa dia menahan gerak tubuhnya sambil melepaskan pukulan.

Ciu-Siu thi-say-in Ceng- bu dan Ay-te-liong Yau Tong-seng juga sudah sampai ke situ, sambil tertawa seram kedua orang itu segera menerjang maju menyongsong Siu tiok-hong Ki Kiu jin.

Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun kuatir mestika itu jatuh ke tangan orang, buru-buru bentaknya, "Jite, cepat cegat kedua orang itu!"

Ia melompat maju, di antara berkibarnya baju merah, kesepuluh jarinya memancarkan sepuluh jalur angin tajam, seketika kedua belas jalan darah genting di tubuh Tiong-Ciu-it- kiam terkurung di bawah jarinya.

Tiong-ciu-it-kiam sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya, mencorong sinar matanya, sedang Siu-tiok hong Ki Kiu-jin mundur ke belakang sambil pedangnya menahas, ke mana cahaya pedang terpancar, tiba-tiba kitab pusaka itu melayang keluar arena.

Di atas udara beruntun Tiong ciu- it-kiam ganti dua kali bentakan, lengan baju mengebas ke depan, serentetan angin pukulan menyongsong datangnya serangan Biau-kiang it-mo Thian Thian-kun.

Dalam pada itu Coa-long-kun Thian Sau-kun atas perintah Toakonya telah menyambut kedatangan Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu serta Ay-te-liong Yau Tong-seng.

Tangannya meraba pinggang, cahaya merah melayang ke atas, ternyata seekor ular merah hidup telah terpegang di tangannya,

Sambil tergelak serunya, "Silahkan kalian menemani Toaya dan bermain beberapa gebrak dengan Siau jing" Menggunakan ular sebagai senjata adalah hal yang luar biasa pada waktu itu, kenyataannya ular yang bernama "Siau- Jing" itu ibaratnya sebilah pedang tajam, dengan entengnya menyambar ke sana kemari, bahkan terkadang menyemburkan pula asap beracun.

Untuk sesaat lamanya, Ciu-siu-thi-say. Ia Ceng-bu maupun Ay-te-liong jadi keder dan tak berani mendekati musuh, mereka hanya melayani serangan lawan dari samping.

Waktu itu Hek-liong-kang-ki-su telah melayang keluar arena, It-hu Taysu dari Siau-lim-pai segera melayang ke sana seraya berseru, "Omintohud! Kedua Toheng, meski kita tak berniat mengngakangi kitab ini tapi kitab inipun tak boleh terjatuh ke tangan orang jahat, kuharap bantuan saudara berdua untuk melindungi kitab ini!"

Selesai berkata, ia melayang kesana, sementara Ki-sian-it- to dari Bu-tong-pai dan Coan-sin Loni dari Go-bi-pai merangkap tangan di depan dada sambil mengangguk, mereka bertiga juga melompat maju.

Dalam pada itu, kitab pusaka yang memancarkan sinar terang masih tergeletak di atas tanah.

Mendadak terdengar seorang tertawa nyaring lalu berkata, "Angin apakah yang membawa kalian bertiga ke sini hari ini?"

Menyusul bayangan orang bermunculan dari berbagai penjuru, dalam waktu singkat datanglah para gembong iblis tersohor di dunia persilatan, kuatir kitab pusaka terjatuh tangan orang lain, beramai mereka mendesak maju.

It-hu Tay-su dari Siau-lim-pai menyapu pandang sekejap wajah orang-orang itu, kemudian berseru memuji keagungan sang Budha,

"Omintohud, tidak kusangka bisa berjumpa dengan banyak kawan lama di bukit terpencil ini, sungguh kejadian yang menggembirakan!" Dengan sorot mata yang tajam dia menatap sekejap sekitar arena, kemudian berhenti pada wajah Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian yang baru ikut tiba itu.

Tampaknya Lamkiong Hian sudah mempunyai rencana yang matang, dia memandang sekejap kawanan jago di sana, lalu menegur, "Taysu, mengapa kau ikut menjadi serakah hari ini?"

"Omintohud! Dosa! Dosa!" puji It-hu Taysu dari Siau-lim-pai sambil mundur ke belakang.

Dalam pada itu, Tiong-ciu-it-kiam yang meyaksikan dalam arena telah muncul begitu banyak jago tangguh, ia tak berani bertarung lebih lama lagi dengan Biau-liang-it-mo Thiam Tiok- kun, buru-buru ia bergeser ke tengah arena.

Sambil tertawa serunya, "Orang-orang Kiam-hong-ceng telah berdatangan, tentu pihak Thian-seng-po tidak akan tinggal diam bukan?"

Gelak tertawa nyaring berkumandang, mula-mula suara itu kedengaran jauh sekali, tapi dalam waktu singkat telah tiba di depan mata, menyusul bayangan orang berkelebat, lima-enam sosok bayangan melayang masuk ke dalam arena.

Terdengar orang yang paling depan bergelak tertawa, kemudian berseru, "Benar, pihak kami juga telah datang!"

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian berkerut dahi, ia pikir, "Sialan, ornng-orang Thian-seng-po tidak mau datang sejak tadi dan tak mau datang nanti saja, tapi aku baru muncul mereka pun turut muncul. Hm, kalau dia bermaksud mengacau, hari ini pasti kuberi hajaran setimpal!"

Berpikir demikian, sambil tertawa dingin katanya, "Thian- seng-po juga bukan sesuatu perguruan besar, mau apa main gertak di tempat ini!" Orang yang berjalan paling depan itu tak lain adalah Seng gwat-kiam Oh Kay-thian, dia lantas mendengus, "Hm, bila kau merasa tidak senang, boleh coba tunjukkan kelihatanmu!"

"Hahaha, betul, memang sudah kutunggu datangnya hari seperti ini!" seru Lamkiong Hian dengan tertawa,

Waktu itu suasana telah berubah menjadi tegang, ibaratnya api dan air, kedua pihak sama-sama menyatakan sikiip permusuhan, serentak jago-jago Kiam-hong-ceng menyebarkan diri dan mengurung seluruh arena.

Tampaknya asal kedua pihak sama memberi komando, suatu pertarungan segera akan terjadi.

Mendadak dari tengah arena berkumandang dua kali jeritan kesakitan dan sekali dengusan tertahan, Ciu-siu-thi-say In Geng-bu sambil membawa luka di lengan melompat mundur ke belakang, mukanya tampak pucat seperti mayat, Ay-te- liong Yong Tongseng juga memegangi bahunya sambil mundur dengan wajah terkejut bercampur ngeri.

Coa-long-kun Thian Siau kun sendiri berhasil melukai kedua musuh dengan ular berbisa, tapi ia sendiri juga terkena pukulan sehingga muntah darah dan mundur dengan sempoyongan.

Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun memandang sekejap adiknya, kemudian berseru, "Adikku, jangan gugup, biar kakak ambil dulu barang itu kemudian kita pergi dari sini."

Sambil melangkah ke tengah arena bentaknya. "Minggir!

Enyah! Benda itu milikku!"

Dengan seolah-olah di sana tiada orang lain, dengan langkah lebar dia masuk ke dalam arena, melirik sekejab para hadirin, dengan sikap santai dia menghampiri kitab pusaka Hek-iiong-kang-ki-su. Seng-gwat-kiam Oh-Kay-thian tertawa dingin, serunya, "Kau ini manusia apa? Berani tidak pandang sebelah mata terhadap orang lain!"

"Hm, yang tidak terima, silakan maju!" seru Biau kiang-it- mo dengan pongahnya,

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian bergelak tertawa, ejeknya, "Tidak kusangka seorang liar dari luar perbatasan pun berani kurang ajar terhadap Thian-seng-po!"

Jelas itulah kata-kata hasutan untuk memanaskan suasana.

Sekalipun Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian juga tahu akan hal itu, tapi dia tak kuasa menahan amarahnya, dengan gusar dia melotot! "Lamkiong Hian," serunya, "Huh, segala macam badut kecil juga berani berlagak!!"

Di tengah bentakan, telapak ttngan kanannya segera menghantam Biau kiang-it-mo Thian Tiok- kun.

Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun tersohor karena kesombongan dan kekejiannya, sudah tentu dia enggan unjuk kelemahan di depan orang banyak, sambil tertawa dingin kedua tangannya yang kurus kering seperti bambu itu menyongsong datangnya pukulan lawan.

"Blang", terjadi benturan keras, oleh karena Biau-kiang-it- mo Thian Tiok kun bertindak gegabah dan terlalu memandang enteng Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, akibatnya ia merasakan dada tergetar keras dan hampir saja tak tahan.

Dari malu dia menjadi gusar, bentaknya, "Keparat, sambut pula pukulanku ini!"

Sebilah tangan segera menyodok ke depan.

Mendadak terdengar bentakan menggelegar, "Siluman tua, enyah kau dari sini!"

Berbareng dengan suara bentakan itu, mendadak Kiam- hang-cengcu Lamkiong Hian melepaskan serangan. "Blang!" oleh karena Biau-kiang-it-mo Thian Tiok-kun tidak dapat menahan diri, berubah serangan juga tak sempat, terpaksa ia sambut pukulan itu.

Tapi akibatnya, tubuhnya yang tinggi besar itu segera terlempar ke udara dan terjatuh jauh di luar arena.

Sambil merangkak bangun dia lantas tertawa seram, teriaknya, "Orang-orang Thian-seng-po dan Kiam-hong-ceng, dengarkan! Hadiah pukulan kalian ini akan selalu kuingat!"

"Catat saja semua perhitunganmu atas namaku setiap saat kunantikan kedatanganmu!" jawab Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian sambil tertawa dingin.

Dengan wajah marah dan penuh kebencian Biau-kiang-it- mo Thian Tiok-kun melotot sekejap ke arah Lamkiong Hian, kemudian melonglong seperti serigala, bersama Coa-lon-kun Thian Siau kun terus berangkat meninggalkan tempat itu.

Waktu itu Siu-tiok-hong Ki Kiu-jin sedang memeriksa luka Ciu-siu-thi-say dan Ay-te-liong, melihat kedua orang itu hendak pergi, ia lantas membentak sambil mengadang k« depan, "Berhenti!"

"Mau apa kau?" seru Biau-kiang-it-nio Thian Tiok-sun. "Tinggalkan dulu batok kepalamu sebelum pergi!"

Coa long-kun Thian Siau-kun segera tertawa dingin, "Huh, rupanya kau juga ingin mencicipi bagaimana rasanya dipagut ular berbisa!"

Lok-to-sianseng Ciang Lip-tek melihat di antara empat Tocu sudah ada tiga orang terluka, ia sedih dan putus asa, ia tahu tiada harapan lagi buat mereka untuk turut memperebutkan kitab pusaka itu, tanpa terasa dia menghela napas panjang,

"Sudahlah saudara Ki!" serunya, "lebih baik sembuhkan dulu racun kedua adik angkat kita." Rupanya Siu-tiok liong Ki Kiu-jin tahu makhluk berbisa wilayah Biau tersohor di seluruh dunia, bila karena urusan kecil menyebabkan kedua saudara tewas atau cacat, tentu akan menyesal selamanya. Maka dia mendengus, kemudian bersama Lok-to-sianseng dan lain-lain lantas berlalu dari sana.

Sementara itu kedua bersaudara dari wilayah Biau itupun sudah pergi. Dengan begitu suasana dalam arena kembali menjadi tegang.

Waktu keempat Toa tocu itu mundur dari sana mendadak sesosok bayangan berkelebat, Tiong-ciu-it-kiam melayang maju, secepat kilat mencengkeram kitab pusaka Hek-liong-- kang-ki-su.

Tindakan itu dilakukan dengus tiba-tiba, siapapun tidak menyangka seorang Ciangbunjin termashur ternyata bisa juga merampas kitab pusaka itu, serentak semua orang  membentak marah.

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian berdiri paling dekat, dia yang pertama tama melihat, sambil mendengus pedang berlubang lima segera dilolos dan menusuk Tiong ciu-it-kiam.

Mengikuti gerakan itu telapak tangan kirinya juga menyambar ke muka. ternyata gerakannya terlebih cepat daripada Tiong-ciu-it-kiam hingga tangannya sempat meraih ujung kitab lebih dulu.

"Siapa berani bergarak lagi, segera kuhancurkan kitab ini!" ancamnya sambil tertawa dingin.

Ancamannya ternyata manjur sekali, semua orang yang siap bergerak maju itu terpaksa mundur kembali demi menyelamatkan kitab pusaka itu dari ancaman kemusnahan, sedangkan para jago dari Kiam-hong-ceng yang menyaksikan kitab ttu sudah terjatuh ke tangan mereka, serentak mendesak maju untuk melindungi keselamatan Kiam-hong- cengcu Lamkiong Hian. Tiong-ciu-it-kiam berdiri tertegun di tempatnya dengan wajah masam, untuk sesaat lamanya dia tak mampu berbuat apa-apa.

Seng-gwat-kian Oh Kay-thian segera berkata dengan suara dingin, "Kalau kau berani memusnahkan buku itu, akan kucabut nyawamu!"

"Hm, lebih baik serahkan saja kepadaku!" mendadak seorang mendengus.

Tampak Ciong-sia Loni dari Go-bi-pai mengapung di udara, dengan suatu gerakan yang aneh, dalam sekejap ia sudah melewati kepungan para jago Kiam-hong-ceng, lalu lengan bajunya dikebaskan ke depan melepaskan semacam tenaga isapan yang sangat aneh.

Belum lagi Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian menarik kembali tangannya, tiba-tiba dirasakannya betapa besar tenaga isapan tersebut sehingga hampir saja tak mampu dilawan.

Akhirnya kitab pusaka Hek-long-kang akan jatuh ke tangan siapa?

Bagaimana dengan Bok Ji-sia? Apakah muslihat keji nona berbaju biru akan berhasil?

-oo0dw0oo-
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).