Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 20

Jilid 20

Tertampak pengemis tua aneh itu menuding Bok Ji-sia dan berkata, "Orang ini mempunyai budi kepada Kay-pang kita, selanjutnya. "

"Ah. mana, tidak apa," tukas Ji-sia sambil tertawa.

Kay-pang-sam-lo sama tercengang, tapi tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka lantas memberi hormat kepada Bok Ji-sia.

Dalam pada itu, Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau masih diliputi kegusaran, dengan gemas ia berseru, "Jika pada malam ini si nenek tidak dapat memusnahkan manusia-mamusia setan macam kalian, mulai hari ini aku akan menghapus namaku dari Bu-lim jit-coat "

Dengan perkataannya itu, tak bisa disangkal lagi ia telah melibatkan Sin-hun-koay-sat-jiu dan Kun-lun Cinjin dalam peristiwa ini sebab mereka juga tergabung dalam Bu-lim-jit- coat, tentu saja mereka tak bisa membiarkan anggotanya dihina orang.

Meskipun pada hari-hari biasa kawanan gembong iblis itu saling menjagoi wilayah tertentu dan masing-masing pihak saling tidak puas kepada yang lain, tapi bilamana ada orang hendak merusak nama Bu-lim-jit-coat, tentu saja lain pula persoalannya.

Tiba-tiba seluruh gua itu bergoocang keras, menyusul terdengar suara gemuruh yang keras.

Air muka Kay-pang-sam-lo berubah hebat, serunya berbareng, "Wah celaka, alat rahasia To-ti-thian-hu ini telah digerakkan."

"Apa?" bentak pengemis aneh tadi dengan mata melotot, "bukankah pusat alat rahasia istana ini sudah tertutup semua?"

Bu-siang-co-kay memberi hormat, katanya, "Lem-kiong Hian berniat menimbulkan bencana dengan memancing semua jago yang datang malam ini untuk berkumpul di sini, ia sangat apal dengan kedelapan puluh satu gua di tempat ini, sekarang semua tombol penggerak alat rahasia tempat ini telah dihidupkan semua!"

"Sungguh keji!"

Semua jago menjadi terperanjat, belum sempai ingatan kedua terlintas, dari empat penjuru telah bermunculan lagi puluhan sosok bayangan hitam yang sama lari ke arah tempat mereka berada ini dengan wajah panik dan ketakutan.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling amat terperanjat, tanpa terasa ia mendekati Bok Ji-sia dan berbisik, "Engkou Bok, bumi mulai berguncang!"

Ji-sia tertegun, betul juga ia merasa tubuhnya bergoyang seakan-akan bumi ini tertimpa gempa yang dahsyat.

Sementara itu muncul pula sejumlah orang, semuanya kelihatan ketakutan seolah-olanh suatu bencana segera akan terjadi.

"Krak! Krakl Krak" suara keras bergema, tiba-tiba dari empat penjuru bermunculan lagi puluhan orang berbaju putih, bila diamati lebih saksama ternyata tidak mirip manusia, lengan mereka terpentang dan masing-masing menggenggam pedang atau martil besar.

Perlu diketahui, ke 18 buah gua yang berada dalam Te-ti- hian-hu saling tembus antara yang situ dengan yang lain, kemunculan orang-orang itu seketika membuat para jago persilatan itu bertambah panik dan ketakutan.

"Sik-lo-han" tiba-tiba seorang menjerit kaget,

Belum lenyap suaranya, Sik-lo-han atau Budha batu itu sudah berbondong-bondong masuk ke dalam gua, jumlah manusia batu itu paling tidak dua-tiga ratus orang, meski mereka cuma batu tapi gerak-geriknya cepat sekali seperti hembusan angin, dalam sekejap rombongan manusia batu itu sudah tiba di depan.

Jeritan ngeri berkumandang, kawanan lelaki berbaju hitam yang tak sempat kabur atau berada lebih dekat dengan kawasan Sik-lo-han itu segera tertumbuk sehingga kepala remuk dan tubuh hancur tak keruan lagi bentuknya.

"Jangan dilawan dengan kekerasan, hindari mereka "

pengemis aneh tadi segera berteriak memberi peringatan.

Untuk sesaat suasana menjadi kacau balau, jeritan berkumandang susul menyusul, demi menyelamatkan jiwa sendiri kawanan jago itu buru-buru melompat ke udara dan meloloskan diri dari sergapan barisan Sik-lo-han itu.

"Crat" seorang yang baru saja melambung ke udara terbabat telak oleh pedang batu yang di angkat Sik-lo-ban itu sehingga terjatuh kembali ke tanah, diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, ia tewas tertindih manusia batu itu,

Barisan manusia batu itu ada yang berada dalam posisi tidur, berbaring, duduk maupun berdiri, untuk menghadapi yang satu para jago harus menghadapi pula yang lain, karena sedemikian banyaknya jumlah manusia batu itu, akhirnya mereka jadi kewalahan.

Apalagi kawanan batu itu seolah-olah bergerak pada jalur yang telah ditetapkan, kian kemari tiada hentinya, sekalipun seorang berilmu tinggi juga tak bisa berkelit terut menerus tanpa berhenti.

Setelah secara beruntun Bok Ji-sia menghindari sergapan dua belas Sik-lo-bas tersebut, saking kagetnya peluh dingin membasahi sekujur badannya, bukan saja ia tak mampu mengurus diri sendiri, malah harus bagi pikiran untuk memperhatikan Tong Yong-ling, hal ini membuatnya menjadi kerepotan. Percikan darah mulai berhamburan, jeritan ngeri berkumandang silih berganti.

Pemandangan yang menyeramkan di tambah jeritan ysng memilukan hati, semuanya itu mendirikan bulu roma orang.

Dalam waktu singkat belasan jago telah tewas di tangan Sik-lo-han itu.

Bok Ji-sia terkesiap, ia pikir "Daripada melakukan perlawanan tanpa hasil, kenapa aku tidak coba menyerempet bahaya. "

Belum habis berpikir, tiba-tiba terdengar kesiur angin dari belakang, ketika ia berpaling, hatinya segera bergetar keras, tampak empat Sik-Lo-han dengan gaya hendak menerkam sedang menubruknya.

Saking kagetnya ia tak berdaya, untuk sesaat pemuda itu hanya berdiri bagaikan patung.

Tong Yong-ling menjerit kaget, ia lupa akan keselamatan sendiri dan segera menubruk maju.

"Awas belakang!" seru Ji-sia.. Di tengah bentakan, dengan jurus Cuan-ciam-in-sian (menembusi jarum mencabut benang) ia meluncur lewat sisi tubuh keempat Sik-lo-han itu dengan cepat luar biasa, tindakannya itu betul-betul berbahaya.

Lantaran menguatirkan keselamatan Bok Ji-sia, Tong Yong- ling menjadi lupa pada bahaya di sekitarnya, belum lagi ia sempat memutar badan, sesosok Sik-Io-hia telah menerjangnya,

Untuk berkelit jelas tak sempat lagi, buru-buru dia lepaskan pukulan sambil melompat bangun, tapi saat itulah seseorang membentak, "Cepat berjongkok!"

Terkesiap Tkng Yong-ling, cepat ia mendekam ke tanah. "Wees!" desing angin menyambar lewat kepalanya, Sik-lo-

han itu telah menyambar lewat persis di atas kepalanya. Bok Ji-sia merasa lega menyaksikan Tong Yong ling  berhasil meloloskan diri dari bahaya maut, tanpa melayang turun lagi dia lantas melompat ke atas. tubuh salah satu Sik- lo-han.

Sebagai benda mati, gerak-gerik Sik-Lo-han hanya menurut aturan, oleh sebab itu dengan menghinggap di atas tubuhnya keselamatan malah lebih terjamin dan tak perlu kuatir akan diserang lagi.

Kenyataan itu sangat menggirangkan Ji-sia, cepat ia berseru, "Hinggap ke atas manusia batu itu, nona Tong, cepat!"

Ketika kata-kata tersebut selesai diucapkan ia sudah dibawa jauh dari tempat semula..

Toog Yong-ling merasa girang, ia segera melakukannya seperti apa yang diajarkan, para jago lainnya yang menyaksikan cara itu memang aman. buru-buru mereka menirukannya.

Dengan demikian uatuk sementara waktu keselamatan mereka jadi terjamin, sedangkan manusia batu itupun tak bisa memperlihatkan kehebatannya lagi.

Kiranya kawanan Sik-lo-han itu berpusar menurut jalur  yang telah ditentukan, kini para jago sudah kehabisan tenaga pun bisa beristirahat sejenak di atas tubuh manusia batu itu, meski demikian mereka merasakan juga kepalanya pusing dan mata berkunang-kunang, hampir saja mereka tak tahan.

"Wees!" mendadak sesosok bayangan terlempar sejauh beberapa tombak dan tewes seketika.

Tapi karena semua orang sedang istirahat sendiri-sendiri, siapapun enggan membuka mata untuk melihat siapa yang tewas terbanting itu, semua orang hanya pejamkan mata dan mengatur pernapasan masing-masing. Tiba-tiba terdengar seorang menjerit lagi dengan kaget, "Ah, celaka, Sik-lo-han ini main gila lagi!" .

"Blang", suara keras menggema, ternyata ada dua Sik-lo- han yang berputar menyimpang jalur yang sebesarnya hingga terjadi tubrukan keras, dua orang penumpang berada di atas batu itu ikut tertumpuk hingga hancur dan tewas dalam keadaan mengenaskan,

"Blang, blang", benturan demi benturan kembali terjadi, jeritan ngeri untuk kesekian kalinya berkumandang.

Istana Te-ti-thian-hu telah berubah menjadi neraka, dengan saling menumbuknya kawanan Sik-loban tersebut, kembali ada beberapa orang jago persilatan yang jatuh, sebagai korban.

Cara membunuh yang keji tanpa kenal ampun ini membuat kawanan jago kaum Hek-to yang biasa membunuh orang tanpa berkedip pun merasa ngeri.

Berhubung terjadi saling bentur antar Sik-lo-han ita, maka gerak benda tak bernyawa yang lain menjadi lebih lambat,  tapi semuanya masih bergerak-maju dan saling membentur.

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan sudah banyak kejadian aneh yang pernah dialami Bwe-hoa-san-kiam, tapi belum pernah ia saksikan kejadian seperti hari ini, dengan wajah pucat ia segera menubruk ke atas manusia batu di mana Ji-sia barada,

Dalam keadaan demikian Ji-sia sendiripun tidak lagi memikirkan soal laki dan perempuan, dengan cepat ia merangkul pinggang si nona, sementara matanya mengawasi sekeliling tempat itu, kuatir ikut tertimpa bencana.

setelah berada di dekat Bok Ji-sia, Tong Yong-ling merasa lebih tenang, sambil pejamkan matanya ia berbisik, "Kalau harus mati, biar kita mati bersama!" "Mati memang tidak menakutkan, tapi aku tak rela mati di tangan benda-benda mati ini!!" ucap Ji-sia sambil tertawa getir.

"Akupun demikian!" kata Yong-ling.

Tiba-tiba terdengar pekikan nyaring panjang bergema, sesaat kemudian suara itupun lenyap.

Tapi dengan lenyapnya pekikan itu, kawasan Sik-lo-han pun tiba-tiba berhenti bergerak. Perubahan di luar dugaan ini kontan saja membuat para jago tertegun, kemudian menarik napas lega.

Kay-pang-sam-lo memandang sekejap arah para jago, lalu mengiringi pengemis aneh itu bergerak cepat ke depan.

"Saudara bertiga tunggu sebentar!" tiba-tiba muncul sesosok bayangan dan berseru selagi masih mengapung di udara.

"Ada apa?" tanya pengemis Cui-hoa sambil berhenti. Kiranya  orang  ini  adalah  Huan-in-kiam  Lam-kiong  Giok.

Sambil     mengadang     jalan     pergi     Kay-pang-sam-lo, ia

menganguk dulu kepada Bak Ji-sia, lalu berkata pula kepada keempat pengemis itu, "Ayahku sedang menantikan kehadiran kalian dalam ruang bawah tanah!"

"Bagus!" seru pengemis tua tadi sambil tertawa "Besar amat ambisi Lam kiong Hian, berani dia memusuhi Kay-pang kami!"

Perlu diterangkan, pengemis tua yang aneh itu sebetulnya tak lain adalah guru Kay-pang-sam-lo, pada hari-hari biasa ia sangat jarang muncul dalam dunia persilatan, sebab itu tak banyak orang yang mengetahui tentang dirinya.

Tapi beberapa orang jago lihai yang sudah termashur sejak puluhan tahun lalu cukup mengetahui akan jago tua ini, semua orang menyebutnya sebagai Kay-sian-ong (si kakek dewa pengemis).

Lam Kiong Giok tidak kenal siapakah pengemis tua ini, betapa gusarnya ketika dilihatnya Kay-pang-sam-lo tak berani takabur, sebaliknya pengemis tua yang tak dikenal itu malah tak pandang sebelah mata kepadanya.

Maka sambil mendengus serunya "Kay-pang kan tidak berkepala tiga bertangan enam, apanya yang luar biasa!"

"Hmm orang bilang Lam kiong Hian punya anak bagaikan naga, kiranya naga macam begini yang dimaksudkan," jengek Poh-kay dengan gusar, "Huh, masa tak tahu adat lagi, sopan santun pun tak punya, sungguh sayang "

Belum lagi selesai ucapannya, sambil tergelak Kay-sian-ong telah mendorong Kay-pang-sam-lo sambil menukas, "Ayo berangkat'! Kita menuju ke ruang bawah tanah, coba lihat dengan cara apa Lam kiong Hian hendak menghadapi kita."

Bicara sampai di sini, dengan memimpin ketiga orang muridnya berangkatlah pengemis tua itu meninggalkan tempat tersebut.

Pek-hoat-kui-po Cu Say-kiau, Kun-tun Cinjin dan Si-hun- koay-sat-jiu sekalian tak mau ketinggalan untuk menghadiri pertemuan semacam ini, buru-buru mereka menyusul dari belakang.

"Saudara Bok, maaf aku berangkat selangkah lebih dulu!" kata Lam kiong Giok seraya berpaling.

Ji-sia tak mengira Huan in-kiam Lam kiong Giok juga sudah tiba di Te-ti-hian-hu, buru-buru sahutnya dengan tertawa, "Silakan, Siaute segera menyusul!"

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling yang berada di sisinya mendongkol setengah mati, kalau bisa dia ingin membacok mati orang itu, ia lebih kesal lagi waktu dilihatnya sikap Bok Ji- sia terhadap pemuda itu masih tetap seperti dulu, seakan- akan sama sekali tak tahu dirinya hampir tewas di tangan orang itu,

Tapi gadis itu cukup memahami karakter Bok Ji-sia. ia tahu bila semua kejahatan Lamkiong Giok dibeberkan sekarang, bukan saja tak akan mendatangkan manfaat apa2, sebaliknya mungkin akan menimbulkan kesalah-pahamannya terhadap dirinya.

Karena itulah sambil tertawa dingin ia menyindir, "Awas kalau kau dimakan olehnya!"

Mula-mula Ji-sia tertegun, segera ia tergelak, jawabnya, "Nona Tong, kutahu banyak orang merasa tak puas melihat aku bersahabat dengan saudara Lamkiong, tak kusangka bahwa kaupun ada salah paham atas dirinya, padahal ia cukup baik, cuma wataknya memang rada aneh."

Suaranya dapat didengar oleh Lamkiong Giok, keruan ia terkejut, dia kuatir Bwe-haa-sian-kiam akan mengeluarkan semua kebusukannya kepada pemuda itu.

Lamkiong Giok memang licik dan cerdik, merasa gelagat tidak menguntungkan, cepat-cepat ia putar balik, diam-diam ia telah menyiapkan suatu cara yang bagus untuk mengatasi persoalan ini.

Ji-sia heran menyaksikan pemuda itu muncul kembali, tegurnya, "Saudara Lamkiong, apakah ada sesuatu yang hendak kau bicarakan?"

Lamkiong Giok tahu Bok Ji-sia mudah dihadapi, satu- satunya yang paling memusingkan kepala adalah Tong Yong- ling, maka cepat ia menjura kepada gadis itu.

"Nona Tong," katanya. "bila aku berbuat salah padamu, harap sudi dimaafkan."

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling mendengus sambil melengos ke arah lain. Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak, katanya kepada Ji- sia, "Saudara Bok, banyak kesalah pahaman telah terjadi antara Cayhe dengan orang lain, akupun tak ingin banyak bicara, aku cuma berharap agar saudara Bok bersedia membantu diriku. Antara Cayhe dengan pihak Kay-pang sesungguhnya terdapat kesulitan yang tak bisa kuterangkan, bagaimana diketahui Siaute memang orang kejam dan suka ribut dengan orang lain "

Ji-sia tak menyangka Lamkiong Giok pernah melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan dirinya, biarpun ia angkuh dan keras kepala, tapi setia kawan, sekalipun harus berkorban demi kawan ia-pun rela.

"Jangan kuatir saudara Lamkiong," katanya sambil tertawa nyaring, "tak nanti kutinggal dirimu."

"Huh, tak ada harganya untuk berkorban bagi kawan semacam ini" tukas Tong Yong-ling sambil tertawa dingin.

Ji-sia melotot sekejap ke arahnya, Yong-ling tertegun dan tak dapat bicara lagi,

Ternyata Lamkiong Giok cukup mengetahui keadaan, serunya lagi, "Baiklah kita lakukan begini saja, akan kunantikan kedatangan kalian"

ooo)0d0w0(ooo

Yang dimaksudkan sebagai ruang di bawah tanah adalah sebuah ruang batu rahasia yang berada dalam Te-ti-thian-hu. Orang persilatan hanya tahu istana Te-ti-hian-hu merupakan sebuah gua raksasa yang tiada tara besarnya, tapi tak seorang pun yang tahu dalam gua Itu masih terdapat pula sebuah ruang batu rahasia.

Tentu saja di dalam ruang batu itu tersimpan banyak rahasia yang belum terungkapkan, terutama rahasia Jian-kim si-hun-pian, cuma Ji-sia sendiri belum mengetahui. Sudah barang tentu, kecuali Jian-kim-si hun-pian yang bisa mengungkap rahasia ruang di bawah tanah itu, tiada orang di dunia ini yang sanggup melakukannya.

Kini jago dari seluruh kolong langit telah berkumpul, bukan cuma jago-jago Kangouw saja, malah orang-orang Kiam hong ceng, Oh Ku-gwat dari Thian seng-po juga berkumpul semua di sini. Yang paling menyolok adalah oiang-orang dari Hek- liong-kang, semenjak kemunculan mereka dalam istana Te-ti- hian-hu tadi, ternyata tak seorang-pun yang muncul di sini.

Suasana sepi tak terdengar pedikit suara pun, siapa pun tak ingin memecahkan keheningan yang mencekam itu.

Dari pihak Kiam-hong-ceng, kecuali dua puluh empat orang jago yang dibawa Lamkiong Giok dsn berdiri tenang di kedua sisi ruangan, Lamkiong Hian belum juga menongol, hal mana segera menimbulkan rasa heran semua orang.

Kawanan gembong iblis yang biasanya tak pernah saling mengalah itu, ternyata sekarang membuang jauh perselisihan mereka dan menanti dengan tenang seakan-akan sedang menyelami isi hati masing-masing.

Sekalipun suasana tidak begitu cocok, tapi ada empat orang di antaranya, yaitu empat pengemis dekil yang tiada hentinya bergelak tertawa dengan suara yang menusuk telinga.

Tampaknya si pengemis pemabuk sudah cukup menenggak araknya, sambil menyeka mulutnya ia tertawa dan berkata, "Lamkiong Giok, kenapa bapakmu belum juga datang!"

"Hm, tenanglah sedikit," dengus Lamkiong Giok, "nama Kay-pahg sam-lo saja masih belum cukup untuk menggertak diriku!!"

"Hahaha ..." gelak tertawa nyaring berkumandang di ruangan, debu pasir pada berguguran, telinga para jago mendengung keras, diam-diam semua orang mengagumi kelihaian tenaga dalam Kay-pang-sam-lo.

"Tutup mulut!" bentak Lamkiong Giok gusar.

Lengan bajunya segera mengebas ke depan, tiba-tiba sejalur cahaya putih berputar di angkasa lalu menyambar wajah Cui-hua.

Pengemis pemabuk ita terbahak-bahak, "Haha Huan-in- kiam juga cuma begini saja!"

Sambil pentang mulutnya, tiba-tiba ia menyemburkan kabut kuning, sekeliling tempat itu segera diselimuti oleh hujan arak.

"Kreek!" tahu-tahu sebilah pedang pendek berwarna putih keperak-perakan telah tergigit oleh mulut pengemis pemabuk, hal ini membuat para jago melengak, Lamkiong Giok juga terkesiap, semua orang terkejut oleh kesempurnaan tenaga dalam orang ini.

Poh-kay lantas maju ke depan, katanya, "Bocah cilik, pedang sependek ini mana bisa melukai orang? Biar pengemis tua membuatkan pedang yang baru bagimu!"

Tangannya menjepit kedua ujung pedang pendek yang tergigit di mulut pengemis pemabuk, lalu ditarik ke kanan dan ke kiri, pedang pendek yang bersinar keperak-perakan itu terbetot makin panjang hingga mencapai lima kaki lebih.

Demonstrasi tenaga dalam yang luar biasa ini kontan membuat para jago tertegun kaget.

Mata Lamkiong Giok terbelalak lebar, sampai lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, ia mulai celingukan dan berharap ayahnya lekas datang.

Bu-siang-co-koay (pengemis jelek tak bermuka) geleng kepala berulang kali, gumamnya, "Sayang, sayang!" Sambil berkata ia lantas menarik pedang perak itu dari tangan Poh-kay dan terbahak-bahak, "Hahaha, terlalu panjang, terlalu panjang!"

Jari tangannya lantas menyentil, bunyi gemerincing berkumandang, tahu-tahu pedang pendek yang ditarik panjang itu tersentil patah.

"Cring! Cring! Cring " enam kali dentingan, pedang yang

mulur itu berubah menjadi tujuh potongan kecil. Setelah ditarik dan diremas lagi oleh Bu-siang-co-kay ke kiri dan ke kanan, tak lama terbentuknya tujuh bilah pedang kecil yang sama besarnya,,

"Kungfu hebat, tenaga dalam sempurna!" mendadak seorang berseru dan tertawa.

Berbareng itu, tahu-tahu di tengah arena telah bertambah sebaris laki-laki berbaju ringkas dipimpin oleh Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, rupanya jago-jago lihai Thian-seng-po juga berdatangan ke situ.

Setelah memandang sekejap sekeliling arena, Seng-gwat- kiam Oh Kay-thian berkata sambil tertawa, "Hahaha, selamat berjumpa, selamat berjumpa! Tak kusangka begini banyak jago lihai yang berkumpul di sini malam ini."

Waktu sorot matanya menemukan Thian-kang-kiam Oh Ku- gwat juga hadir, kontan ia mendengus.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tak pedulikan dengusan itu,  ia tetap berdiri di tengah kawanan jago Kiam-hong-eeng.

"Oh, rupanya orang-orang Thian-seng-po juga ada yang ikut ambil bagian, kukira pihak anda telah melepiskan kesempatan ikut memperebutkan mestika ini!" ejek Lamkiong Giok,

"Haha, lucu!!" seru Seng-gwat-kiam Oh Kay -thian, "istana bawah tanah Te-ti-thian-bu bukan milik Kiam-hong-ceng, kenapa kami tak boleh ikut datang kemari!" Seraya berkata dia lantas memberi tanda, dari rombongan jago-jago Thian-seng-po segera melompat keluar empat orang lelaki kekar, dengan cepat ke-empat orang itu menerjang ke depan pintu ruangan khusus itu dan melancarkan pukulan dahsyat.

"Halangi mereka!" seru Lamkiong Giok dengan cemas. "Sret" hawa pedang terpancar, para jago Kiam-hong-ceng

membentuk selapis kabut pedang dan merintangi jalan maju

jago Thian-seng-po.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa dingin, katanya, "Konon harta karun uang terdapat dalam Te-ti-thian-hu ini terletak dalam ruangan khusus ini, padahal Te-ti-thian-hu tiada pemiliknya, atas dasar apa kau mengalangi tindakanku?"

"Betul," sambung Si-hun-kui-sat-jiu, "apakah Kiam-hong- ceng berniat mengalingi maksud kami sekalian "

"Ya betul, kita harui membuka ruangan itu!"

"Siapa melarang kita membuka ruangan itu, dialah musuh umum kita bersama!"

Teriakan demi teriakan, berkumandang susul menyusul. Huan-in-kiam Lamkiong Giok sadar bahwa kemarahan orang banyak sukar dibendung, ia menjadi sangsi dan diam-diam mengeluh.

"Bocah cilik," tiba-tiba Kay-sian-ong berseru lantang, "bila masih tak tahu diri, menyesal kemudian tak ada gunanya!"

Pada saat itulah mendadak terkilas cahaya terang, lalu lenyap, semua jago sama terkesiap.

Terlihatlah di atas pintu ruangan khusus tersebut muncul dua baris tulisan yang berbunyi:

"Jodoh! Jodoh! Jodoh! Rejeki! Rejeki! Rejeki"

"Ruyung! Ruyung! Ruyung! Mestika! Mestika! Mestika!" Setelah timbul, tulisan itu lantas lenyap pula disusul munculnya bayangan yang bentuknya mirip ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian.

Para jago melenggong, mereka sama menjerit kaget.

Entah sejak kapan, tahu-tahu di depan setiap orang telah bertambah sesosok tengkorak manusia. Meski semua orang adalah jago kelas satu dunia persilatan, kenyataannya tak seorang pun yang tahu dari mana datangnya tengkorak- tengkorak ini.

Mendadak pandangan semua orang terasa gelap, keadaan di sekeliling tempat itu menjadi remang-remang, bayangan orang lenyap, ruangan khusus itupun hilang, setiap orang seakan-akan bersandar di atas seonggokan jerangkong manusia, karuan bulu kuduk semua orang sama berdiri.

Kawanan jago persilatan itu seolah olah orang yang tersesat di tengah hutan saja, mereka meraba kian kemari, bahkan terkadang mereka saling menyerempet lewat dan tak terasakan.

Orang yang pertama-tama mendusin dari keadaan tersebut adalah Kay-sian-ong, guru Kay-pang sam-lo, dengan kaget ia berteriak, "Hah, inilah Kut-lu-tay-hoat (ilmu sihir tengkorak manusia)!"

Baru selesai ia berteriak, hidungnya lantas mendengus bau busuk, ia sadar keadaan tidak menguntungkan, buru-buru ia tutup pernapasannya sambil memberi tanda kepada ketiga orang muridnya.

Harus diketahui, Kay pang-sam-lo dan Kay-sian-ong merupakan tokoh yang bertenaga dalam sempurna pada saat itu, meskipun untuk sesaat mereka terpengaruh ilmu Kut-lu tay-hoat, tapi dengan cepat kesadarannya didapatkan kembali.

Satu ingatan terlintas dalem benak Kay-sim-ong, tiba-tiba ia berpekik nyaring, dengan cepat ia melambung ke udara dan melepaskan diri dari pengaruh ilmu Ku-lu-tay-hoat tenebut, menyusul Kay-pang-sam-lo juga meloloskan diri.

Tak lama Oh Kay-thian, Oh Ku-gwat, Kun-lun Cinjin, Pek- hoa-koi-po Cin Say-kiay dan Si-hun-koay-sat-jiu sekalian juga berhasil meloloskan diri.

Andakaia Kay-sian-ong tidak berpekik nyaring tepat pada saatnya, mungkin kawanan jago lihai itu masih terkurung dalam barisan tengkorak. Walaupun demikian, para jago yang bertenaga dalam agak cetek tetap terkurung juga dalam barisan Ku-lu-tay-hoat tersebut.

Gelak tertawa seram menggema, tahu-tahu Kiam hong- cengcu Lamkiong Hian muncul di depan ruangan itu.

Sejak tadi Hian-in-kiam Lamkiong Giok berdiri di depan pintu, melihat ayahnya muncul, semangatnya segera berkobar kembali,

"Tak kusangka Ku-lu-tay-hoat tak berhasil mengurung kalian," Lamkiong Hian tertawa dingin.

Kay-sian-oog terbahak-bahak, "Hahaha, selama pengemis tua berada di sini, jangan harap siasat busukmu dapat menyusahkan kami!"

Dengan gemas Lamkiong Hiaa berpaling, serunya, "Anak Giok, lepaskan isyarat, malam ini seorang pun tak boleh lolos dari sini"

Lamkiong Giok mengiakan, ia memberi tanda, segera  panah berapi menjulang ke udara, terdengar suara ledakan, bayangan orang lantas bergerak, rupanya malam ini pihak Kiam-hong-ceng telah menyiapkan tenaga yang tak sedikit jumlahnya.

Menyaksikan itu, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa dingin, katanya, "Barisan semacam inikah andalanmu?"

"Tidak berani!" sahut Lamkiong Hian sambil tersenyum. Ia lantas memberi tanda, ketika seorang lelaki kekar muncul membawa sebuah tabung panjang, segera Lamkiong Hian menuding, "Blang", ledakan dahsyat segera menggelegar, di antara debu pasir yang beterbangan dinding batu telah berlubang.

Semua orang sama terkejut, andaikata Lamkiong Hian menyiapkan benda dahsyat semacam itu dalam jumlah yang banyak, malam ini bisa dipastikan tak seorang pun dapat lolos.

Sambil tersenyum Lamkiong Hian bertanya, "Yakinkah tubuh kalian tahan terhadap serangan benda ini?"

Setelah berhenti ssjenak, ia berpaling ke arah Thian-kang- kiam Oh Ku-gwat dan bertanya, "Saudara Oh, malam ini kau berdiri di pihakku atau "

"Hahaha, tak ada persoalan, tentu saja menurut rencana semula!" jawab Oh Ku-gwat.

"Oh Ku-gwat," seorang segera memaki, "di dunia ini kaulah manusia paling jahat, manusia busuk."

Bersama dengan perkataan itu, Ji-sia dan Yong-ling muncul bersama di tempat itu.

Melihat kehadiran kedua orang itu, dengan girang Lamkiong Giok menyongsongnya sambil berkata, "Saudara Bok, cepat kemari, sudah lama kutunggu kedatanganmu!"

Tong Yong-ling kuatir Ji-sia terjebak lagi oleh siasat busuk Lamkiong Giok, buru-buru ia menarik anak muda itu untuk berdiri di samping Kay-pang-sam-lo.

Baru saja Ji-sia hendak bicara, tiba-tiba terdengar seorang menghela napas dan bergumam, "Beruntung tiga teman, celaka juga tiga teman, bocah cilik, kau tertipu!"

Ketika berpaling ke sana, tertampak Kay-sian-ong sedang memandangnya sambil tersenyum, ia balas tersenyum, setelah memandang sekejap ke arah Seng-gwat-kiam Oh Hay-thian, segera ia hendak mendamperat.

Namun pada saat itulah Lamkiong Hian tertawa dan berderu. "Sebelum kalian mampus semua, terlebih dulu akan kupersilahken kalian menyaksikan rahasia besar yang terdapat dari istana Te-ti-thian-hu setelah terpendam ratusan tahun serta bersama-sama membuka pintu ruangan ini, Sayangnya, meski kutahu cara membuka pintu ini, tapi kurang suatu benda, maka kuharap Bok-siauhiap bersedia membantu!"

Saat itu, semua orang hampir melupakan kawanan jago Kiam-hong-ceng yang mengepung sekeliling tempat itu, mereka hanya berharap bisa melihat keadaan sebenarnya ruangan khusus itu.

Hanya orang-orang Kay-pang saja yang makin lama makin prihatin.

Ji-sia melengak, ia tak menyangka Lamkiong Hian akan memintanya, padahal bicara soal tenaga dalam ia tidak lebih tangguh, soal pengalaman dia juga ketinggalan jauh, lalu dalam hal apa ia bisa membantu?

Mana ia tahu kecuali sarung Jian-kin si-hun-pian miliknya yang dapat membuka pintu ruangan khusus itu, tiada jalan lain yang dapat membongkar pintu rahasia tersebut.

Sarung ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian itulah yang merupakan kuncinya.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalara benak Bok Ji-sia, tapi tetap tidak paham massud Lamkiong Hian itu, maka untuk sesaat ia menjadi sangsi.

"Bok-siauhiap!" ucap Lamkiong Hian sambil menjulurkan tangannya, "tolong pinjam sebentar sarung ruyung  kepadaku!"

Mendengar itu, Ji-sia terkesiap, ruyung mestika Jian-kim-si- hun-pian baru saja direbutnya kembali, sekalipun berkat bantuan Lamkiong Hian, tapi pesan terakhir Suhunya seakan- akan berkumandang di sisi telinganya ....

"Jian-kim-si-hoan-pian adalah mestika dunia persilatan, tapi sarung ruyung terlebih berharga daripada ruyungnya sendiri, kau harus menyimpannya baik-baik, karena dalam sarang ruyung itulah tersimpan suatu rahasia besar."

Apakah malam ini ruyung tersebut akan terungkap? Ataukah biarkan saja tenggelam selamanya sebagai teka-teki?

Rasa ingin tahu dengan cepat menyelimuti hati Bok Ji-sia, hampir saja ia serahkan sarung ruyung itu kepada gembong iblis tersebut.

"Engkok Bok, jangan, jangan kau serahkan kepadanya!" Tong Yong-ling segera berteriak.

"Hm, sebaiknya jangan kau campur urusan ini" dengus Lamkiong Hian.

Diam-diam Ji-sia mengambil keputusan, ia tahu jika sarung ruyung tidak diserahkan, niscaya akan menimbulkan perasaan tak senang orang banyak, apalagi iapun ingin menyingkap rahasia ini.

Maka sambil melemparkan sarung ruyung itu ke depan, serunya, "Ambil, Siauya tak kuatir akan kau gelapkan!"

Lam-kiong Hian terbahak-bahak, dengan membawa sarung ruyung Jian-kim-si-hun-pian ia mendekati pintu batu itu dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang kecil.

Tanpa terasa Oh Ku-gwat, Oh Kay-thiaa, Kun-ton Cinjio beserta para jago Kay-pang bersama-sama ikut melangkah ke depan dan siap-siap menyerbu lebih dulu ke dalam ruangan itu.

"Blung! Blung" diiringi suara gemuruh, perlahan pintu itu terbuka, perasaan semua orang pun ikut tegang. "Blung!! Blung!!" kedua sayap pintu batu itu membentang semakin lebar, semua jago segera menghimpun tenaga dan siap bertindak.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat paling tegang, ia memang tidak berniat baik, maka iapun paling kuatir bila Kiam-hong- ceog Lamkiong Hian mendahuluinya serta merampas barang yang diincar itu.

Buru-buru ia bergerak ke muka dan berdiri di samping Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian, tapi begitu ia bergerak, angin tajam berdesir di udara, semua jago lain pun turut berebut maju ke muka.

Krek! Krek! Krek! kedua belah pintu batu itu sudah terbuka sama sekali, tertampak suasana dalam ruangan bawah tanah itu gelap gulita.

Dengan tegap Lamkiong Hian melangkah ke dalam, dia berjalan dengan lambat, mata telinganya diam-diam memperhatikan gerak-gerik para jago di belakangnya, kuatir ada yang tiba-tiba menyergapnya.

Ketika terbukti suasana luar biasa tenangnya, ia malah tidak tenteram.

Maklumlah, Lamkiong Hian ini licik dan banyak tipu muslihatnya, apa yang terdapat dalam benaknya hanya tipu untuk mencelakai orang, oleh karena dia gemar mencelakai orang, otomatis iapun kuatir orang lain mencelakainya, itulah sebabnya semakin tenang suasananya semakin berat perasannya.

Dalam pada itu, Huan-in-kiam Lamkiong Giok dengan  kedua puluh empat jago pedangnya secara terpencar telah berdiri di sekitar ruang itu, jelas tujuan mereka adalah mengawasi gerak-gerik semua orang.

Kendatipun Bok Ji-sia tidak berniat turut ambil bagian dalam perebutan benda mestika itu, namun rasa ingin tahunya sangat besar, maka tanpa terasa bersama Bwe-koa-sian-kiam Tong Yong-ling mereka mengikut di belakang para jago.

Tiba-tiba terdengar seseorang mendengus, "Lamkiong Hian, berdasarkan apa kau berjalan paling muka?"

"Dengan mengandalkan mereka ini!" sahut Lamkiong Hian.

Sambil bicara dia membalik badan dan berhenti sedang tangannya menuding kawanan jago lihai Kiam-hong-ceng yang mengurung sekeliling tempat itu, sikapnya amat sombong.

Akan tetapi setelah diketahui si pembicara adalah Oh Kay- thian dari Thian-seng-po, seketika alisnya bekernyit, ia tertawa dingin, katanya, "Betul! Betul! Selain diriku, mungkin hanya Thian-seng-po yang masuk hitungan, aku memang tak tahu diri dan tidak berunding dulu dengan saudara Oh, tindakanku ini sungguh suatu kesalahan."

Ucapannya itu sama dengan menurunkan derajat para jago yang ikut hadir, diam-diam semua jago berkerut dahi dan menunjukkan wajah kurang senang.

Si-hun-koay-sat-jiu mendongakkan kepala dan tertawa, ujarnya. "Saudara Lamkiong, kalau malam ini adalah dunianya Kiam-hong-ceng dan Thian seng-po, lantas kami sekalian apa cuma berpesiar saja ke sini? Hmm... "

Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau, Hian-thian-koancu Kun-lun Cinjin sekalian juga menunjukkan sikap yang sama, agaknya suatu bentrokan segera akan terjadi.

Situasi lantas berubah, posisi Kiam-hong-ceng tampak terjepit, seandainya semua jaga bersatu, kendati pun Kiam- hong-cengcu Lamkiong Hian banyak tipu akalnya juga belum tentu sanggup melenyapkan segenap jago yang hadir, sedang kerugian pihaknya pun belum tentu bisa tertutup.

Dihadapkan pada kenyataan demikian, dengan sikap apa boleh buat dia tertawa, katanya, "Terus terang, benda mestika itu terbatas jumlahnya, mau dibagi pun tidak cukup, sukar rasanya menyelesaikan persoalan ini."

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa dingin, katanya. "Lamkiong Hian, tak perlu kau bicara ke timur dan ke barat, siapa pun tahu jalan pikiranmu, semua orang tahu kau ingin mengangkangi mestika itu seorang diri, kemudian membasmi para jago dan mewujudkan impian indahmu menjadi Bu-lim- bengcu."

"Hehehe, kalau saudara Oh berkata demikian, akupun tak akan berdebat lagi!" kata Lamkiong Hian sambil tertawa dingin, "malam ini rahasia ruang bawah tanah ini akan kuberikan kepada kalian, biar kuundurkan diri lebih dulu."

Sambil tertawa dingin ia benar-benar menyelinap ke depan pintu ruangan, siapapun tak menduga permainan busuk apa yang sedang dilakukan olehnya.

Para jago tertegun dan sangsi untuk maju, mereka kuatir terjebak oleh siasat busuk Lamkiong Hian.

"Ayah, mana boleh demikian?" seru Huan-in-kiam Lamkiong Giok dengan gelisah.

Kiam-hong-cengeu Lamkiong Hian tertawa seram, "Hehehe, jika ayah tidak berbuat demikian, orang akan menyangka Kiam-bong-ceng kita berniat jahat!"

Pada saat itulah, tiba-tiba Kay-sian-ong yang sejak tadi tak bicara itu tergelak, katanya, "Kenyataan tak akan lenyap oleh kelicikan, mengapa kalian tidak mencoba sendiri kenyataan atau hanya siasat!"

Semua orang tahu Kiem-hoog cengcu meski ramah di luar, tapi busuk di dalam, meski Kay-sian-ong telah mengungkitkan keinginan setiap orang untuk mencoba-coba, namun di balik kegelapan ruangan yang mencekam itu tak bisa dijamin tiada sesuatu jebakan, seandainya persis seperti apa yang diduga, begitu masuk di dalam lantas terperangkap, jiwa kan melayang secara sia-sia?

Waktu itu Tbhian-kang-kiam Oh Ku-gwat berdiri paling dekat dengan pintu, setelah sangsi sejenak, tanpa terasa ia melirik ruangan itu dengan sorot mata rakus, setelah itu dengan sangat berhati-hati ia maju selangkah.

Tapi begitu melangkah maju segera berubah pikiran dan cepat-cepat menarik kembali kakinya, tapi pada saat itulah para jago lain telah manfaatkan kesempatan itu untuk maju lebih dekat.

Suasana menjadi tegang dan hening, sedemikian heningnya sampai suara jatuhnya daun pun bisa terdengar.

Tiba-tiba Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian melemparkan ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian-siau itu ke depan sambil berseru, "Bok-siauhiap, sambutlah!"

Ji-sia menyambarnya dan dimasukkan ke dalam baju, lalu iapun memandang ke depan.

Lamkiong Hian tergelak, katanya, "Kalau orang membuang, biar aku mengambil. Bila orang mundur biar aku yang maju. Kalian telah membuang kesempatan yang baik ini dengan sia- sia, terpaksa aku berangkat lebih dulu!"

Sekarang para jago baru sadar, selain pandai bersiasat, diapun pandai menggunakan kata-kata untuk menipu orang, lalu dengan lagak gagah dia masuk ke dalam untuk mengambil mestika.

Cepat Lamkiong Hian hendak menerjang ke dalam ruangan. Tapi terasa angin menyambar tiba, diam-diam ia terkejut dan cepat mundur kembali ke tempat semula.

"Tidak bisa begitu caranya!" segera Kun-tun Cinjin berseru, "kalau mau masuk kita harus masuk bersama!" "Kurang ajar, jadi kau sengaja hendak mencari gara-gara?!" teriak Lamkiong Hian gusar.

Sesudah berhenti sejenak dan menyapu pandang sekejap sekelilingnya, katanya pula, "Baik! Kalau begitu, harap kalian ikut diriku!"

Walaupun bicara dengan gagah sehingga membuat orang tidak merasa kaku ia keberatan, padahal diam-diam ia berpikir sambil tertawa dingin, "Hm, sekalipun kalian ikut juga aku tidak takut, bagaimanapun jangan harap kalian bisa lolos dari istana di bawah tanah ini dengan selamat, bila aku tak berniat membikin kalian mati dengan mata meram, apa perlunya bersilat lidah secara bertele-tele?"

Huan-in-kiam Lamkiong Giok segera memberi tanda, dua puluh empat jago pedang yang berada di sekeliling tempat itu segera menyebar mengitari para jago dan bersama-sama masuk ke dalam ruangan.

Cui Hua, si pengemis pemabuk dari Kaypang-sam-lo segera tertawa dingin, katanya, "Lamkiong Hian juga bukan anak berumur tiga tahun, buat apa mesti diiringi begini banyak orang? Sungguh memalukan!"

"Ah.. kau mengerti apa?" kata si pengemis cacat sambil tertawa dingin, "bila sebentar mestika itu didapatkan, dia kan perlu orang-orang ini untuk mengantar kematiannya!"

Sindiran kedua tokoh sakti Kay-pang ini diucapkan dengan suara yang keras dan nyaring, kontan saja para jago Kiara- hong-cengcu sama melotot gusar.

Oh Kay-thian segera memberi tanda pula kepada anak buahnya, serentak semua jago ikut masuk ke dalam ruangan.

Tiba-tiba Huan-in-kiam Lamkiong Giok berpaling dan membentak, "Kalian mundur keluar!"

"Hehehe, begitu bapaknya begitu pula anaknya, kau juga ingin berlagak?" ejek Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, "tempat ini bukan rumahmu, berdasar ,apa kau ikut campur urusan kami?"

Waktu itu Lamkiong Hian belum lagi masuk jauh ke dalam, mendengai perkataan itu dia lantas berpaling, ketika dilihatnya kawanan jago Thias-seng-po yang turut masuk hampir sebanding dengan jago-jagonya, kontan saja keningnya berkerut.

"Harap semuanya mundur!" serunya, "setiap kelompok yang hadir hanya boleh diwakili satu orang!"

"Hm, tindakanmu ini sama halnya dengan mencoreng muka sendiri," kata Seng-gwat-kiam Oh Kay thian dingin, "kalau Thian-seng-po cuma boleh diwakili satu orang, mengapa pihakmu begitu banyak orang yang turut masuk?"

"Ya, jelas ia berniat mengangkangi mestika itu dan ingin menghancurkan kita semua!"

Lamkiong Hian adalah seorang yang pintar, ketika dilihatnya wajah para jago memperlihatkan sikap marah, biji matanya berputar, lalu sambil tertawa dingin katanya, "Keliru besar jika Oh-pocu berkata demikian, sama sekali aku tidak berniat menjadi seorang kotor. Baiklah, untuk menunjukkan bahwa pihak kami tidak berniat curang, dari pihak kamipun hanya aku saja yang akan masuk ke dalam ruangan!"

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian segera memberi tanda dan mengundurkan para jago Thian-seng-po yang berada di belakangnya.

Beramai orang banyak sama mundur ke belakang, mereka mengambil posisi tepat berhadapan dengan jago-jago Kiam- hong-ceng, jelas asal pihak Kiam-hong-ceng ingkar janji, mereka pun akan bergerak pula ke depan.

Sambil mendongakan kepala Kay-sian-ong tertawa dingin, katanya, "Satu pihak hanya diwakili satu orang, ini memang putusan yang adil, pihak Kay-pang juga tak ingin menjadi buah pembicaraan orang, murid-muridku, boleh kalian tunggu di sini saja!"

Kay-pang-sam-lo mengiakan.

Mendadak terdengar seosang mendengus, dengan nada tidak terima serunya, "Keputusan ini tidak adil!"

"Bagaimana tidak adilnya?" tanya Lamkiong Hian seraya berpaling.

Dengan ketus Si-hua-koay-sat-jiu berkata, "Adapun tujuan kita masuk ke ruang bawah tanah ini adalah untuk mencari mestika, sampai waktu nya semua orang pasti akan saling bertarung hingga darah berceceran demi mendapatkan mestika tersebut, kalau setiap pihak cuma boleh diwakili satu orang, kenapa pihak Thian-«eng-po selain Oh-lo sam ditambah pula dengan seorang Oh-lo toa?"

"Kau tak perlu turut campur!" bentak Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat marah, kontan kedua telapak tangannya menabas beruntun.

Si-hun-koay-sat-jiu mendengus, "Hmm, Memangnya kenapa bila beradu kepandaian di sini sekarang juga!"

Kakinya bergeser ke samping, tiba-tiba telapak tangan kanan memotong ke depan, sampai tengah jalan, ia ganti serangan dengan menutuk tujuh jalan darah penting di tubuh Thian kang-kiam Oh Ku-gwat.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah saling gebrak beberapa jurus.

Tenaga dalam kedua orang hampir seimbang sehingga untuk sesaat sukar ditentukan siapa yang lebih tangguh, tapi dengan terjadinya pertarungan ini, orang lainlah yang bergembira, diam-diam mereka berharap agar kedua orang itu sama-sama mampus atau terluka. Asal kedua orang itu tersingkir, berarti harapan mereka untuk mendapatkan benda mestika akan bertambah satu bagian, itulah sebabnya tak seorang pun yang menggubris pertarungan mereka, malah sebaliknya mereka berharap pertarungan ini berkobar terlebih seru.

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling saling pandang sekejap, mereka merasa tak ada harganya kedua orang itu bertarung mati-matian hanya lantaran urusan sepele.

Pada saat itulah, tiba-tiba Kay-sian-ong bergerak ke depan sambil membentak, "Bangau dan kerang bertarung, nelayan yang bakal beruntung! Mengapa kalian berdua tidak segera menghentikan pertarungan?!"

Ia betul-betul seorang tokoh persilatan yang kosen, walaupun kedua orang itu sama-sama gembong iblis yang tak perlu sayang bila mampus, namun ia tak ingin menyaksikan kedua orang itu mengacaukan langkah selanjutnya hanya lantaran urusan yang sepele.

Kiranya sepanjang penyelidikan Kay-sian-ong ia  mengetahui bahwa Kiam-bong-cengcu Lamkiong Hian telah menyiapkan banyak sekali jago tangguh di sekitar tempat itu, selain terdapat senjata rahasia beracun, juga terdapat beberapa macam benda yang lebih jahat lagi....

Iapun dapar melihat bahwa malam ini selain Lamkiong Hian telah menggunakan rahasia Te-ti-thian-hu sebagai pancingan, juga hendak manfaatkan kesempatan itu untuk membasmi kekuatan para jago sehingga menghilangkan bibit bencana di kemudian hari.

Itulah sebabnya Kay-sian-ong menyadari bila sebagian tenaga yang bisa dipertahankan saat ini tetap adalah kekuatan yang berguna, kalau kawanan jago itu saling membunuh lebih dulu, hal ini justeru akan memenuhi harapan Lamkiong Hian.

Ketika Lamkiong Hian menangkap kata-kata sindiran di balik ucapan Kay-sian-ong itu, dia lantas tahu sindiran itu sengaja tertuju kepadanya, tak tertukiskan rasa benci dan takutnya kepada pengemis tua itu, ia sangka semua rencana busuknya telah diketahui oleh Kay-sian-ong beserta ketiga orang muridnya.

Diam-diam dia lantas menyumpah, "Pengemis busuk, meski kau lihai, tapi akupun punya akal bagus, sekalipun ada malaikat yang turun ke bumi malam ini jangan harap kalian bisa lolos dari sini."

Lamkiong Hian tidak memperlihatkan sesuatu, sambil tertawa katinya, "Ya benar! Lebih baik kalian menghentikan pertarungan, caramu itu medang tidak ada harganya."

Sekalipun kata-katanya manis didengar, tubuh sama sekeli tak bergerak, Kay-sian-ong segera turun kalangan. Ia lepaskan pukulan dan memisahkan kedua orang yang sedang  bertempur itu secara paksa.

Padahal Thian-kaog-kiam Oh Ku-gwan dan Si-han-koay-sat- jin sendiri juga sadar telah terjebak, apa mau dikata, sama- sama menjaga gengsi, maka siapa-pun enggan menarik diri.

Maka tindakan Kay-sian-ong yang memisahkan mereka itu justru amat berkenan di hati mereka, maka cepat2 serangan ditarik dan melompat ke belakang, kendatipun begitu, kedua pihak telah sama-sama kehilangan banyak tenaga.

Oh Ku-gwat segera mendengus. "Hm, kalau hari ini tak ada urusan lain, sungguh ingin kulihat ilmu silat simpananmu."

Si-hun-koay-sat-jiu tak mau kalah, sambil tertawa dingin iapun berkata, "Tak perlu mengibul macam orang berkentut, kalau tidak puas boleh kita lanjutkan pertarungan ini setiap waktu."

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian melirik sekejap ke arah Thian-kang- kiam Oh Ku-gwat, dengan gaya seorang pemimpin katanya kepada Si-hua-koay-sat-jiu, "Meski Oh lotoa berasal dari Thian-seng-po, tapi malam ini bukan mewakili Thian-seng-po, siapa yang diwakilinya tak perlu ku-banyak bicara, cuma "

Ia sengaja berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, "Bukan sengaja kupilih kasih, tapi sesungguhnya memang banyak rahasia besar yang tak dapat kuterangkan."

Tiba-tiba seseorang mendengus, dengan terkesiap semua orang berpaling.

Tertampak Bok Ji-sia sedang tertawa dingin dengan sikap menghina kemudian katanya, "Rahasia apa? Ruh, cuma alasan yang enak kedengarannya, siapa yang tidak tahu Oh-lotoa telah bersengkongkol dengan Hong-lay-su-koay untuk mencelakai dunia persilatan, meminjam kekuatan Su-koay uutuk merampas ruyung mestika milikku."

Merah padam wajah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat dan tak mampu membantah, saking mendongkolnya sekujur badan menjadi gemetar, sorot matanya penuh rasa benci dan dendam.

"Bok-heng" dengan kening berkerut Huan-in-kiam Lamkiong Giok menegur, "Ucapanmu ini kan hendak bermusuhan denganku?"

"Tidak berani," jawab Ji-sia sambil tertawa dingin, "cuma ayahmu telah memutar balikkan persoalan, hal ini membuatku tidak tahan "

Setelah mengucapkan perkataan itu, timbul rasa menyesalnya, dia adalah seorang yang setia kawan, apalagi teringat pelbagai kebaikan yang telah diterimanya dari Lamkiong Giok dulu, hal mana semakin membuat perasaannya tak tenang, apalagi tidak hormat kepada ayahnya, sungguh tidak pantas.

Tong Yong-ling menyaksikan perubahan sikap Bok Ji-sia itu, ia jadi girang, ia mengira anak muda itu sudah tahu maksud Lamkiong Giok yang hendak mencelakainya itu. Tanpa terasa ia mencibir ke arah Lamkiong Giok, tentu saja anak muda itu naik darah.

Lamkiong Hian memang bisa sabar, ia tidak menjadi gusar, dia malah tertawa sehingga membuat para jago tercengang.

Seandainya perkataan Bok Ji-sia benar, mengapa ia tidak marah dan malah tertawa?

"Bok lote!" katanya kemudian, "kau masih muda, masih banyak persoalan yang tidak kau pahami"

Ternyata dia berlagak sebagai seorang Cianpwe untuk menasihati Bok Ji sia.

Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiu adalah seorang pemberang, ketika dilihatnya meresa omong terus tiada habisnya, kontan ia menghantamkan tongkat besinya ke atas tanah.

"Lamkiong Hian, bagaimana caramu bekerja?" tegurnva ketus.

"Nenek tua," balas Lamkiong Hian sambil tertawa dingin, "mengapa kau jadi gelisah?"

Tanpa bicara lagi dia membalik badan dan melangkah ke dalam ruangan bawah tanah.

Suasana menjadi sunyi senyap, dengan tegang para jago ikut masuk ke dalam ruangan, meski Huan-in-kiam Lamkiong Giok juga ingin turut ambil bagian, sayang ayahnya telah menyerahkan tugas berat kepadanya, maka ia cuma bisa menghela napas panjang.

Kay-pang-sam-lo tampak gelisah bercampur kuatir melihat Kay-sian-ong ikut Lamkiong Hian masuk ke ruang bawah tanah, si pengemis pemabuk meneguk arak tiada hentinya, si pengemis pincang tundukkan kepala sambil termenung, hanya si pengemis bermuka jelek yang tetap berdiri tegap.

Sementara itu para jago Thian-seng-po berdiri berhadapan dengan orang Kiam-hong-ceng Tiba-tiba terdengar pekikan nyaring menggetarkan sekeliling ruang gua ....

Menyusul sesosok bayangan hijau dengan kecepatan laksana kilat menerjang masuk ke dalam ruangan,

Belum sempat para jago Kiam-hong-ceng menghalanginya, bayangan itu telah berkelebat lewat.

"Siapa?" bentak Huan-in-kiam Lamkiong Giok dengan suara lantang.

Cahaya putih berkelebat, beberapa titik sinar tajam menyambar ke arah bayangan tubuh berwarna hijau itu.

"Hmm, cari mampus!" orang itu mendengus.

Dua kali jeritan ngeri berkumandang, jago Kiam-hong-ceng yang menerjang ke sana sudah tewas dengan kepala hancur.

Bayangan hijau itu sama sekali tak berhenti, tangannya diayunkan pula ke samping, pedang terbang yang disambitkan Lamkiong Giok segera mencelat ke samping, jangankan melukai, mengenai ujung baju pun tidak.

Lamkiong Giok terkesiap, satu ingatan terlintas dalam benaknya, meski usianya masih muda tapi ia mewarisi kecerdasan otak ayahnya begitu gelagat kurang menguntungkan, perhitungkan lain lantas timbul.

Ketika dilihatnya para jago Thian-seng-po berpeluk tangan belaka membiarkan pihaknya yang tertimpa bencana, dia lantas tertawa dingin, untuk menghindari korban yang berjatuhan. dia mengambil keputusan cepat.

"Lepaskan dia masuk!" serunya dengan suara tertahan.

Dengan terkejut para jago Kiam-hong-ceng sama menarik diri, mereka menunjukkan rasa heran, siapapun tidak mengerti sebab apa sikap Siaute cengcu mereka pada malam ini begini lunak. Manusia berbaju hijau itu mendengus terus meluncur ke depan.

Dalam pada itu suasana dalam ruang bawah tanah telah terjadi kegaduhan, tertampak para jago yang turut masuk sama menunjukkan rasa kaget dan bingung, buru-buru mereka mundur ke belakang,

Hanya Bok Ji-sia dan Tong Yong ling masih tetap tenang, dengan sorot mata bimbang mereka awasi kawanan jago yang dibodohi orang itu.

"Ayah, apa yang terjadi di dalam sana?" kedengaran Lamkiong Giok berseru dengan kuatir.

Lamkiong Hian tak sempat menjawab pertanyaan itu, ia terus membentak, "Ayo kita terjang lagi ke depan!"

Para jago terkesiap, segera mereka menggeger lagi ke dalam.

Suasana dalam ruang bawah tanah itu gelap gulita sehingga sukar melihat kelima jari tangan sendiri. Para jago merasa pandangan kabur, bahkan tidak jelas siapa yang berdiri di depannya, dengan curiga mereka melanjurkan perjalanan dengan tegang.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling merasa ngeri sejak masuk ke dalam ruangan itu, pada kesempatan tersebut dia berdiri lebih mendekati Bok Ji-sia.

Mendadak terdengar Thian-keng-kiam Oh Ku-gwat berteriak ngeri, lalu mendengus marah, kedua tangannya diayun ke muka, beruntun, dia lancarkan dua belas kali pukulan,

"Oh-lotoa, kau pingin mampus!" terdengar Kun-tua Cin jin membentak.

"Blang", benturan keras terjadi, dalam kegelapan dua orang sama-sama terpental ke belakang. Jelas dalam kegelapan ruangan yang sukar melihat jari sendiri ini telah terjadi kesalahan paham, jarak Oh Ku-gwat dan Kun-tun Cin-jm paling dekat, pukulan itu dengan telah bersarang di tubuh Kun-tun cinjin.

"Kenapa kau sergap diriku?" terdengar Oh Ku-gwat mendengus.

"Harap saudara sekalian jangan ribut, di sini ada orang!" tiba-tiba Kiam-hong-Cengcu berseru.

Saat itu suasana dalam ruangan geiap gulita, bila tidak berusaha memaksa keluar orang, tentu sangat tidak menguntungkan.

Betul juga, pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang tertawa dingin, katanya, "Lamkiong Hian, ketajaman, matamu memang luar biasa!"

Lamkiong Hian terkesiap, ia tidak menyangka di dalam tuangan yang begitu gelap ternyata ada perempuan yang bisa menyebut namanya, bukankah hai ini menunjukkan orang itu dapat melihat dalam kegelapan?

Padahal ketajaman matanya pun luar biasa, cuma sayang bentuk ruangan di bawah tanah itu sangat istimewanya sehingga sulit diketahui keadaannya kecuali bila mereka sudah berada dalam ruangan itu agak lama.

Lamkiong Hian berusaha memeriksa sekeliling tempat itu, namun tak berhasil, dengan cepat iapun berpikir, "Asal kau manusia, urusan tentu mudah, kuyaktn ada akal untuk memaksamu muncul!"

Berpikir demikian, sambil tertawa nyaring dia lantas berkata, "Didengar dari suaramu, agaknya kau kenalan lamaku, kalau kita sudah berada di sini, buat apa bermain sembunyi? Ayolah tampakkan dirimu."

"Hahaha..." gelak tertawa nyaring memekak telinga berkumandang, suaranya membuat para jago terkesiap. Menyusul kemudian terdengar seorang berkata dengan nada menghina, "Huh, semuanya bermata lamur, majulah tujuh langkah, kalian akan segera melihat diriku!"

Kawanan jago yang berkumpul dalam ruangan itu rata rata adalah pentolan persilatan gotongan hitam maupun putih, mendengar penghinaan orang itu, mereka sama naik pitam dan serentak menerjang maju.

"Takabur amat kau!'" seru Seng gwat-kiam Oh Kay-thian. "kalau kami lamur, apa pula dirimu?"

Belum sampai tujuh langkah, dengan suatu gerak cepat dia melancarkan pukulan dahsyat ke depan.

Di mana angin pukulannya menyambar, hanya deru angin yang terdengar, ternyata serangannya tidak mengenai sasarannya.

Oh Kay-thian terkesiap, dengan tenaga dalamnya tak mampu menghajar orang, bukankah itu berarti kepandaian orang itu jauh di atasnya?

Gelak tertawa melengking tadi tiba-tiba berkumandang lagi, "Oh-losam, siapa yang barusan kau pukul?"

Dilam pada itu gembong-gembong iblis lainnya sedang menunggu saat yang baik untuk melancarkan serangan, mereka sama mencari tempat sembunyi orang itu yang sebenarnya.

Maka hampir pada saat yang sama terdengar bentak mereka, beberapa sosok bayangan langsung menubruk ke depan.

Sekalipun gerakan mereka cukup cepat, ternyata orangnya sudah jauh lebih cepat, terdengar kesiur angin, tahu-tahu orangnya sudah menyingkir jauh, dengan demikian tubrukan kawnan jago itupun mengenai tempat kosong. Bok Ji-sia dan Tong Yong ling hanya berdiri tenang disamping, melihat keadaan para jago yang mengenaskan itu, diam-diam mereka merasa aneh.

Hanya Kay sian-ong seorang yang tetap berdiri disamping, dari sekian banyak orang dia terhitung paling tenang, setelah mengamati sekejap kejadian tersebut, tiba-tiba ia tertawa katanya: "Nona, bila kau tidak menampakan diri, bahkan aku si pengemis tua pun mulai kehilangan sabarnya."

"Hmmn, salah kalian sendiri yang bermata lamur, aku berdiri dihadapanmu, jika kalian sendiri tidak melihat, mengapa salahkan orang lain?"

Habis berkata ia sengaja berbuat suara entakan diatas tanah.

Baru saja para jago akan menubruk maju lagi, tiba-tiba terdengar Lamkiong Hian terbahak-bahak, serunya "Tunggu sebentar"

Menyusul bentakan itu, cahaya terang segera terpancar, tahu-tahu tangan Lamkiong Hian telah bertambah dengan sebatang obor besar, seketika itu juga suasana dalam ruangan menjadi terang benderang.

Dengan demikian maka segala sesuatu didalam ruangan jelas terlihat.

Sesosok tubuh tinggi semampai perlahan muncul di depan mereka, lalu terdengar beberapa kali jeritan kaget, kawanan jago itu sama menyurut mundur tanpa terasa.

"Lik-ih-hiat-li!" pekik Tong Yong ling dengan tubuh bergetar.

Jelas dia terkesiap oleh kemunculan Lik-ih-hiat-li ditempat ini. Semua dia mengira kalau orang itu seorang pendekar besar tentulah seorang gembong iblis dari dunia persilatan, siapa sangka orang itu adalah dia. Dengan kemunculan Lik-ih-hiat-li, suasana menjadi tegang. Dari sekian banyak jago yang hadir, sekarahg Kiam-hang-

cengcu Lamkiong Hian boleh dibilang paling besar pengaruhnya dan paling lihai pula ilmu silatnya, tak bisa disangkal, lagi dialah pemimpin para jago ini.

Ia lantas maju selangkah ke depan, tegurnya, "Sedari kapan nona tiba di sini?" , ia memang tak malu disebut sebagai jago kawakan yang licik, meski cuma sepatah kata yang sederhana, tapi justru mengandung maksud yang mendalam, membuat orang tak bisa menduga jalan pikirannya.

"Apa sangkut pautnya soal inr denganmu!" sahut Lik-ih- hiat-li denggan ketus.

Lamkiong Hian jadi terbungkam, dengan cepat otaknya berputar, setelah melirik sekejap sekeliling ruangan, dilihatnya semua orang sama termenung, ia jadi kualir bila dirinya bertindak, orang lain yang akan menarik keuntungan

Maka sambil tertawa ia berkata, "Ah ucapanmu terlalu serius. Kendatipun persoalan ini tidak pantas kutanyakan, tapi akupun perlu mengetahuinya, maklumlah ruang bawah tanah ini adalah tempat penyimpanan harta mestika, bila nona. "

Lik-ih-hiat-li tertawa terkekeh-kekeh. "Hahaha, kukira ada urusan apa yang luar biasa, rupanya cuma masalah itu, hmmm "

Sambil menunjuk ke depan, katanya lagi dengan nada sinis, "Mengapa tidak kau perhatikan tempat ini, apakah di sini mirip tempat penyimpanan harta?"

Semula semua oraog hanya memperhatikan Lik-ih-hiat-li, terhadap suasana di sekitar situ sama sekali tidak menaruh perhatian, setelah disinggung sekarang, dengan cepat mereka awasi sekeliling ruangan. Walaupun tempat itu termasuk ruang khusus, akan tetapi sesungguhnya cuma sebuah serambi yang panjang sekali, dinding di sekelilingnya licin bagaikan cermin terbuat dari batu hitam yang keras, tak heran sejak masuk ke situ mereka tidak dapat melihat apa pun.

Selain serambi panjang, tak sebuah benda pun terdapat di situ, semua jago jadi tertegun, mereka tidak menyangka ruangan rahasia ini cuma suatu tempat biasa tanpa keanehan. dalam perkiraan mereka semula tempat ini pasti penuh dengan intan permata dan mutu manikam yang tak ternilai jumlahnya, atau kalau tidak pasti terdapat kitab pusaka, siapa tahu sebuah bendapun tak nampak bayangannya.

Dalam waktu singkat, semua orang sama menunjukkan wajah kecewa, seperti bola yang kempes, samangat mencari harta karun yang berkobar tadi kini pun buyar.

Lamkiong Hian ingin mengetahui sejak kapan Lik-ih-hiat li masuk ke situ, mungkinkah ia yang menggelapkan benda mestika di situ sebelum kedatangan mereka?

Sambil tertawa dingin tegurnya, "Apakah telah kau bawa lari barang itu ..?"

Sedari tadi Lik-ih-hiat-li sudah mengetahui kecemasan orang. dengan sikap sengaja tidak sengaja dia memandang sekejap wajah Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling, lalu tertawa angkuh.

"Lamkiong Hian!" tegurnya, "tak perlu berlagak bisu atau tuli di hadapanku, semua persoalan hanya kau yang paling jelas, bila barang itu sudah kudapatkan, memangnya aku masih tinggal di sini? Haha ..."

"Banyak omong tak berguna, lebih baik kita lanjutkan perjalanan ke depan!" seru Kay-sian-ong sambil tertawa.

Habis berkata dia lantas berangkat duluan. Beramai-ramai semua orang saling berebut berjalan di muka yang lain. Lik-ih-hiat-li memandang sekejap Bok Ji-sia, perasaannya bergolak, terpancar sinar lembut matanya, ditatapnya wajah Bok Ji-sia.

Sampai lama sekali dia baru menghela napas, katanya, "Anak Sia, ahh .... tidak, Bok-siauhiap mari kita turut menengok ke depan. Cepat, mungkin hal ini akan sangat berguna bagimu ..."

Dalam waktu singkat bayangannya sudah berada jauh sekali, yang terdengar hanya suaranya yang masih bergema.

ji-sia merasa bimbang oleh sinar mata Lik-ih-hiat-li sewaktu mengawasinya, dia heran dan bingung.

Apalagi kejadian malam ini terutama sikap Lik-ih-hiat-li terlihat perhatiannya yang begitu besar terhadapnya, seolah- olah antara dia dengan dirinya ada hubungan yang luar biasa.

Sejak perjumpaan dalam kuburan kuno dulu, perempuan misterius ini seakan-akan mengikutinya secara diam-diam, tiap kali ia menemui kesulitan, perempuan itu selalu menampakkan diri untuk memberi pertolongan, semua ini menimbulkan  tanda tanya.

Melihat Ji-sia termenung. Tong Yong-ling merasa heran, dengan kening berkerut dia menegur "Engkoh Bok, cepat berangkat!"

Ji-sia tersadar dari lamunannya, ia tertawa rikuh, segera menarik tangan Yong-ling dan diajak berangkat.

Tak lama kemudaan mereka telah tiba di ujung lorong, akan tetapi tak seorang pun yang kelihatan.

Tiba-tiba pandangan mereka menjadi terang, tertampak di atas sebuah pintu terpampang dua baris huruf besar.

Yong-ling yang merasa tertarik, tanpa terasa dia meraba tulisan di atas. Siapa tahu baru saja tangannya menyentuh pintu, otomatis pintu bercat merah itu terbuka dengan sendirinya, kedua orang terkesiap dan cepat mundur ke belakang.

Hati Ji-sia tergetar, Yong-ling juga gemetar.

Pandangan pertama yang terlihat adalah kawanan jago yang berdiri kaku di situ seperti mayat.

Sebuah pintu muncul di depan sana, cuma saja ini agak aneh keadaannya, sebab lapisan kabut berwarna merah mengitari sekeliling pintu.

Rupanya kawanan jago ini tertarik perhatiannya oleh kabut merah yang aneh ini.

Kabut merah itu tersebar ke empat penjuru, yang lama menyebar, yang baru muncul lagi, kabut merah ini memang langka di dunia, yang lebih mengherankan adalah munculnya kabut yang tanpa berhenti, bahkan makin lama, makin tebal

....

Tiba-tiba kabut merah itu terpencar ke samping, lamat- lamat terbacalah empat huruf emas yang besar di depan sana:

"Hian-liang-gin-hun"

Kemunculan empat buah huruf emas yang dikelilingi kabut tebal berwarna merah ini makin menambah misteriusnya suasana.

Para jago hanya tahu tempat itu adalah Te ti-piat-si, siapa pun tak tahu tempat itu sesungguhnya bernama- Kian-liang- gin-hu, sekarang mereka hanya berpikir bagaimana caranya masuk ke sana, tapi lupa memikirkan darimana munculnya tulisan itu.

Tiba-tiba Lamkiong Hian membalik badan sambil berkata, "Mestika yang kalian incar sudah di depan mata, mengapa tidak kita bicarakan dulu bagaimana cara membaginya?" Lik-ih-hiat-li tertawa dingin, "Barang saja belum kelihatan, kenapa ribut soal pembagian."

Tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangannya, menghantam tulisan Htao-liang-gin-hu itu.

"Biang", suara keras terdengar menggetar.

Pada saat itulah terjadi keajaiban, kabut, merah yang tebal lenyap bersama tulisan tadi, kecuali pintu warna perak, hanya ada singa batu yang bertengger di depan pintu.

Sepasang singa batu itu memancarkan cahaya keperak- perakan, matanya merah membara dan hidungnya dilingkari hawa berwarna merah, mana ukirannya hidup persis seperti singa sungguhan. Kay-sian-ong tertawa, katanya, "Untuk masuk ke situ baru mengangkat singa batu lebih dulu, munculnya dua ekor singa sakti penjaga pintu itu berarti dari sekian banyak orang cuma dua orang yang boleh masuk ke sana, bila kelebihan satu orang saja akibatnya Hian-Jiang-gin- hu akan musnah bersama di tempat ini,"

"Pengemis busuk, jangan ngaco-belo, mana ada aturan semacam Itu?" dengus Oh Ku-gwat gusar.

Kay-sian-ong terbahak-bahak, ia melangkah mundur, serunya, "Kalau tidak percaya, silakan coba sendiri?"

Dengan melengak para jago mengamati badan sepasang singa batu itu.

Maka terbacalah beberapa huruf di atas singa batu itu yang berbunyi:

Di langit ada dua binatang, Gu-long dan Cit-li!.

Sungai perak menjadi jembatan penghubung, saling pandang dari jauh! Sesudah membaca tulisan di atas tubuh singa batu sebelah kiri, para jago membaca tulisan di tubuh singa batu sebelah kanan, di situ juga ada dua baris tulisan yang berbunyi,

Sembilan jurus bagal lautan awan, tertampak seperti seekor naga hitam.

Dua ruangan tak terpisahkan, hanya dua orang boleh masuk ke sini.

Lamkiong Hian lantas mendengus, "Hm, sudah lama kudengar Im-hay-huan-kiu-sik (sembilan jurus bagai lautan awan) merupakan ilmu sakti Hian-liang Cin-kun, seoran pentolan iblis dunia persilatan, tak kusangka pada masa tuanya pun memuji kehebatan ilmu silat Hek-liong-kang, betul-betul diiuar dugaan, jangan-jangan "

Para jago juga tidak, menyangka Hian-liang-gin-hu tersebut ada hubungannya dengan Hek-liong-kang„ dari nada ucapan Lamkiong Hian, dapat diketahui pada masa tuanya dulu Hian- liang Cinkun tentu berhasil mendapatkan kitab pusaka Hek- liong-kang, ketika kedua ilmu itu dibandingkan, dia baru merasa ilmu Im-hay-huan-kiu-sik masih kalah dibandingkan ilmu sakti Hek-liong-kang, karenanya sebelum tutup usia dia telah meninggalkan komentar penilaian yang jujur.

Dengan sendirinya kedua kitab pusaka yang telah berusia beberapa ratus tahun itu pasti berada di dalam Hian-liang-gin- hu atau istana Hian-liang.

Oh Kay-thian mendapat akal, katanya, "Jika hanya dua orang saja yang boleh masuk, tak ada salahnya kalau kita melakukan pertandingan yang adil di sini untuk menentukan siapa yang berhak masuk ke dalam sana "

"Bagus sekali, bagus sekali!" seru Kun-tun Cinjin sambil terkekeh; "Saat ini begini banyak orang yang berkumpul di sini," kata Lamkiong Hian, "bila harus bertanding sampai kapan baru akan selesai ?"

Belum habis berkata, tiba-tiba ia melayang ke sana cepat luar biasa, jari tangan menutuk tubuh si nenek berambut putih Cin Say-kiau dan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian.

"Kau berani!!" menyusul terdengarlah dengusan tertahan, karena serangan mendadak, si nenek setan berambut putih Cin Say-kiau terhajar telak oleh lawan, kontan mukanya pucat dan muntah darah.

Dengan gusar teriaknya, "Lamkiong Hian, keji amat perbuatanmu!"

Sekalipun dia ingin melakukan serangan maut untuk beradu jiwa, tapi sayang tenaganya sudah lemah, ia tersungkur ke tanah, meski belum mampus, terluka juga cukup parah.

Sedangkan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thiao sempat berkelit ke samping, meski berhasil menghindar, kejutnya sungguh tidak kepalang.

Bentaknya gusar, "Tidak kusangka seorang ketua suatu perkumpulan besar bisa menggunakan cara licik begini?!"

"Mana, mana!" jawab Lamkiong Hian sambil tertawa sinis, "jika aku tidak bertindak begini mungkin yang akan celaka bukan cuma dia melainkan kita semua. !"

Sengaja dia mengucapkan "kita semua" dengan jelas, semua jago terkesiap, bertambah rasa waswas mereka terhadap Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian.

Si-hun-koay-sat-lu mendengus, "Hm, dengan cara licik melukainya, kau tidak kuatir ditertawakan oleh umat persilatan?"

Lamkiong Hian tertawa dingin, "Hehehe, coba periksa dia lebih dulu, kemudian baru mengeritik orang " Sekalipun para jago merasa tidak puas atas kekejian Lamkiong Hian, namun secara diam-diam merekapun gembira, sebab dengan tindakan ini berarti kehilangan seorang saingan tangguh bagi mereka.

Begitu Lamkiong Hian selesai berkata, semua orang sama mengalihkan pandangan ke arah si nenek berambut putih Ciu Say-kiau. tampak ia sedang duduk bersemadi dengan wajah pucat kekuning-kuningan, napasnya terengah-engah ....

Tapi yang menyolok adalah jarum yang lambat dan berwarna hijau dalam genggamannya itu, dengan cepat para jago lantas tahu apa gerangan yang terjadi, sekarang diam- diam semua, orang sama memuji tindakan Lamkiong Hian tersebut.

Rupanya Cin Say-kiau mengira benda mestika dapat diperoleh dengan segera, maka timbul pikiran jahat, diam- diam dia meraih segenggam jarum beracun dan siap digunakan untuk menyergap orang

Lamkiong Hian melihat hal itu dengan jelas, dia berlagak tidak-tahu, sebaliknya hendak menggunakan kesempatan itu untuk menyergap kedua orang, yakni Cin Say-Kiau dan Oh Ku- gwat.

Sebenarnya harta pusaka apa yang akan ditemukan di istana bawah tanah ini?.

Dapatkah Bok Ji-sia mengatasinya untuk melaksanakan pesan Oh Kay-gak?.

-ooo0dw0oo-