Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 19

Jilid 19

Tiba-tiba cahaya lampu terang benderang, terlihatlah Bwe- hoa- sian-kiam Tong Yong-ling berada dalam sebuah kamar tidur yang mewah dengan perasaan tak tenang.

Ketika berpaling, gadis itu menjerit kaget sambil menyurut mundur.

Seorang kakek pendek bertampang jelek, wajah penuh bercodet sedang memandang sambil tertawa, suara tertawanya tak enak didengar, membuat bulu kuduk orang berdiri

"Kau . . . kau” dengan takut Tong Yong-ling menudingnya dan tidak sanggup meneruskan ucapannya,

Kakek cebol yang jelek itu kembali tertawa, "Hahaha, anak perempuan! Meski tampangku jelek, tapi jauh lebih baik daripada mereka yang berwajah tampan dan berlagak bajik, padahal hatinya lebih busuk daripada ular berbisa, kau jangan takut, dulu tampangku tak berbeda daripada orang lain, cuma

.... ai!" Setelah menghela napas ia melanjutkan, “Kejadian masa lalu tak padu diingat-ingat lagi. Anak perempuan, bukankah kau hendak pergi dari sini? Selama hampir dua puluh tahun lamanya aku berdiam di sini. Aku tak ingin menyaksikan kau jatuh ke dalam cengkeraman ibiis-iblis itu, maka dengan mempertaruhkan selembar jiwaku akan kulepaskan kau pergi meninggalkan tempat ini .. . jangan ragu-ragu, pergilah lekasi"

Perasaan Tong Yong-ling yang kalut dapat ditenangkan, tiba-tiba timbul perasaannya yang aneh terhadap kakek berwajah jelek ini, ia tidak merasakan kejelekan wajah kakek itu lagi, sebaliknya malah merasa iba dari kasihan padanya ....

"Siapa kau? Kenapa bisa berada di sini?” tanyanya kemudian dengan sangsi.

"Ai, tak perlu tanya lagi," tukas si cebol berwajah jelek itu sambil menghwla napas, "cepatlah pergi, kalau terlambat bisa jadi kau takkan keluar lagi dari sini "

Dari mimik wajah manusia jelek ini Tong Yongliog tahu orang masih ada persoalan yang hendak dibicarakannya, satu ingatan terlintas dalam benaknya, pelbagai hal mencurigakan segera timbul.

Dengan nada menyelidik ia coba bertanya,-"Locianpwe, apakah ada sesuatu yang perlu kulakukan?"

Manusia jelek itu kembari menghela napas, "Ada, kau harus membunuh Lamkiong Hian dan memusnahkan Kiam-hong- ceog ini.”

"Asal Wanpwe bisa melaksanakannya pasti akan kukerjakan," tanpa ragu Tong Yong-iing berjanji, "Eh, mengapa engkau menangis?"

Dua titik air mati meleleh di wajah manusia jelek itu, agaknya karena luapan emosi, ia menggenggam erat2 segulung kain. Melihat itu, Tong Yong-ling merasa heran, pikirnya, "Mungkin orang ini mempunyai dendam kesumat yang tiada taranya serta dendam asmara yang sulit dilukiskan, tapi kenapa ia rela hidup sengsara dan menderita di tempat ini dan bersedia menjadi budak di sini!"

Karena heran ia lantas, bertanya, "Cianpwe, kenapa kau tidak pergi?"

"Selama hidup aku takkan pergi, kecuali aku berjumpa dengan dia," jawab orang itu sambil menghela napas,

Setelah berhenti sejenak, ia membuka gulungan kain itu hingga tertampaklah sebuah lukisan yang menggambarkan seorang nyonya cantik sedang membopong seorang anak lelaki yang tampan, jelas orang ini mempunyai hubungan yang erat dengan nyonya cantik serta anak kecil itu, kalau tidak mana raung-km manusia aneh ini menunjukkan luapan emosi seperti ini?

Tong Yang-iing tertegun memandangi lukisan perempuan cantik itu, ia merasa perempuan ini seperti pernah dilihatnya di suatu tempat, bahkan terhadap anak lelaki itu iapun mempunyai kesan yang dalam.

Timbul rasa ingin tahunya, ia berkata, "Apakah dia istrimu dan anakmu?”

Manusia cebol berwajah jelek itu mengangguk sambil menghela napas, kembali dipandangnya lukisan itu dengan termangu, air matanya kembali jatuh bercucuran.

Dengan perasaan terharu Tong Yong-ling ber-kata, "Daripada menunggu di sini dengan percuma kan lebih baik tinggalkan tempat ini untuk mencari ibu beranak ini . ..

Manusia aneh itu menggeleng kepala, "Aku takut impianku akan buyar, meski tempat ini tak enak, tapi aku masih mempunyai sedikit harapan!"

"Harapan apa?" tanya Yong-liog. Dari ucapannya ia tahu orang mempunyai suatu masalah yang pelik, cuma masalah itu agaknya tertutup oleh selapis kabut sehingga membuat orang sukar memahaminya.

Kembali manusia aneh itu mengeluarkan sehelai kain, katanya sambil membentangkan lukisan itu, "Coba kaulihat, siapakah orang ini?"

Bwe-hoa-sian-kiam Tong-yong-ling terkejut, ternyata lukisan yang tertera di atas kain itu persis sekali dengan wajah Siaucengcu Kiam-hong-ceng, Lamkiong Giok adanya, malah boleh dibilang tiada perbedaannya sama sekali.

“Dia adalah Lamkiong Giok!" seru Yong-ling.

Orang aneh itu tertawa seram? "Betul, dialah harapanku ....

seorang yang tak mau mengaku sebagai putraku!"

"Apa katamu?" saking kagetnya hampir saja Tong Yong-ling melompat, ia tak menyangka manusia aneh berwajah jelek ini mempunyai asal-usul yang begitu misterius dan membingungkan orang.

"Sebenarnya berapa orang anakmu!" tanyanya heran. "Hanya dua orang ini!"

Tong Yong-Jing terbenam dalam renungan yang kalut, setiap ucapan dan tertawa orang aneh ini sedemikian misterius membuai orang merasa asal-usulnya merupakan suatu cerita indah yang sulit dipahami.

Bukankah jelas diketahui bahwa Lamkiong Giok adalah putra tunggal Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian? Kenapa bisa muncul seorang aneh ini yang mengaku dirinya sebagai ayah Lamkiong Giok?

Siapakah manusia aneh ini? Kenapa bisa berada di sini?

Di atas gulungan kain itu bukankah dengan jelas tertera storang nyonya eantik dan seorang anak lelaki? Apakah .... Ketika melihat gadis itu diam saja, manusia aneh itu menghela napas, lalu berkata, “Tak perlu kaupikirkan lagi, pergilah cepat! Aku hanya berharap bisa kau temukan mereka ibu dan anak berdua, beritahukan keadaanku kepada mereka, bila kau lihat anakku kelak, suruhlah dia membunuh Lamkiong Hiao . . .”

Diam2 Tong Yong-Ung bertekad hendak menyelesaikan tugas titipan manusia aneh ini, ia sambut gulungan lukisan itu dan dilihatnya sekali lagi dengan saksama.

"Jangan kuatir Cianpwe, aku pasti akan berusaha sepenuh tenaga . . ." tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, buru-buru ia berkata lagi "Wanpwe masih mempunyai seorang teman yang terkurung di sini, entah dia . . .”

"Mungkin dia sudah mendusin," kata orang aneh itu sambil tertawa misterius, "keluarlah lewat tempat ini, lalu berbelok ke jalan batu nomor tiga di sana kau akan bertemu dengan dia. Tapi aku hendak memperingatkan dirimu, kalau hendak kau- tolong anak itu tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, itu berarti kau cari kematian buat dirimu sendiri, aku tak sanggup menolong kalian lagi, apalagi aku juga tak bisa keluar ruangan ini barang selangkah pun!"

Ketika mengetahui Bok Ji-sia juga terkurung di situ, Tong Yong-liog merasa gembira sekali, hakikatnya peringatan manusia aneh itu sama sekali tak terdengar olehnya, buru- buru ia lari ke arah yang ditunjuk manusia aneh itu.

Ketika ia berbelok ke lorong ketiga, gadis itu baru ingat tidak tanya lebih jelas cara melewati tempat itu, tapi dengan wataknya yang angkuh, tanpa pikir panjang lagi ia terus melayang turus ke bawah.

Tiba-tiba terbit suara gemuruh, ia terkejut, waktu ia berpaling, ternyata jslsn mundurnya sudah tersumbat, hanya jalan ke depan yang masih terbentang lebar. Lorong itu gelap gulita, tercium bau busuk yang menusuk hidung berembus datang, beberapa kali. ia ingin tumpah, buru-buru ia menahan napas dan maju lebih jauh.

Mendadak terdengar seorang membentak gusar, "Siapa di situ? Berani maju selangkah lagi, jangan menyesal jika kulancarkan sarangan mematikan!”

Sulit bagi Tong Yong-ling untuk membedakan arah suara orang itu di tengah kegelapan, cepat ia menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil melompat ke samping, lalu dengan sangat berhati-hati kembali maju ke muka.

Baru selangkah maju, tiba-tiba dari balik kegelapan menyambar tiba angin pukulan yang luar biasa kuatnya, hampir saja ia tak sanggup mempertahankan diri, sambil mengertak gigi buru-buru dia balas sesuatu pukulan ke depan.

"Blang," pantulan tenaga pukulan menyebar keempat penjuru, menggetar ruangan dan mendengung tiada hentinya.

Suasana lalu kembali dalam keheningan, Tong Yong-Iing maju beberapa langkah taf i dengan hati-hati, ternyata ia tidak mengalami seraogan lagi, tahulah gadis itu bahwa jago lihai yang berjaga di sana telah pergi, maka dengan tabah ia maju lebih jauh.

Mendadak ada orang berteriak dari sisi kiri "Air! Air!"

Tubuh nona itu bergetar, hampir saja ia jatuh terjerembab, suara yang amat dikenalnya ini jelas suara Bok Ji-sia, cepat ia memburu ke sani.

"Engkoh Bok, kau berada di mana?" serunya.

.Tak jauh sana tergeletak sesosok tubuh, kepalanya sedang dibenamkan pada sebuah kubangan dan minum dengan rakusnya, tampaknya ia, haus sekali.

Agak lega Tong Yong-ling setelah menyaksikan kejadian  itu, ia tak menyangka luka Bok Ji-sia telah sembuh dengan sendirinya, buru-buru ia berjongkok dan memandangnya dengan sorot mata kuatir bercampur tercengang.

Setelah minum air, Bok lli-sia menghela napas seraya berkata, "Ai, nona Tong. untuk kedua kalinya kita hidup berbareng dan mati bersama, tempo hari kita alami nasib yang sama di penjara air Thian-seng-po, kini dalam lorong yang gelap ini ..."

Sinar lembut terpancar dari mata Tong Yong-ling, terhadap perkataan Bok Ji-sia itu ia seakan-akan tidak mendengar, ia hanya menatap pemuda itu dengan mesra, seakan-akan pada wajah Bok Ji-sia itu hendak ditemukan sesuatu ....

Lama, dan lama sekali, ia bertanya dengan agak sangsi, "Lukamu benar telah sembuh?"

"Aku sendiri juga tak tahu apa yang terjadi!" jawab Bok Ji- sia sambil tertawa, "ketika sadar kembali dari pingsan, aku merasa haus sekali, sementara luka dalam tubuhku telah sembuh dengan sendirinya, kenapa bisa begini aku sendiri kurang tahu”

Tong Yong-lieg menghela napas, "Asal kau tidak apa-apa, akupuo merasa lega hati." .

Sambil berkata ia mendekat sehingga bahu mereka saling berdempetan.

Ji-sia meiengak, ia mencium bau harum anak perawan yang khas, hal ini membuat hatinya bergetar keras dan hampir saja tak tahan,

Maklumlah, semenjak berada dalam penjara air di Thian- seng-po sudah timbul semi cintanya kepada Tong Yong-ling, hanya saja lantaran sakit hatinya belum terlampiaskan, ia tak berani menunjukkan rasa cintanya Itu dan terpaksa menahannya di dalam hati saja. 

Sebaliknya Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling scndiripun jatuh cinta yang sangat mendalam terhadap Bok Ji-sia, raga cintanya itu begitu mendalam sehingga ia bertekad untuk memberikan tubuhnya kepada pemuda i u, sayang Ji-sia selalu bersikap dingin dan kaku, hal ini membuatnya sukar mendekatinya.

Demikianlah ketika tubuh mereka saling menempel, mereka seakan-akan dialiri listrik, sekujur badan menjadi kaku, tanpa sadar keduanya merapat lebih kencang sehingga dengus napas pun terdengar jelas.

Tong Yong-ling memejamkan matanya rapat-rapat, dengan malu-malu dan manja ia menyongsong, kan mukanya ke depan, bibirnya yang kecil merah itu setengah merekah seolah-olah sedang menantikan sesuatu ..

Menyaksikan sikap malu-malu dan manja perawan itu makin dipandang makin tertarik, akhirnya tak tahan lagi Ji-sia menundukkan kepalanya dan menempelkan wajahnya ....

Sepasang bibir yang merah merekah itu kian mendekat, beberapa inci lagi bibir akan saling menempel,

Ciuman! Dalam hati masing-masing terasa akan kebutuhan tersebut, mereke merasa perlu pelampiasan .. - .

Tapi tiba-tiba . .. peristiwa tragis masa lalu seakan-akan terbayang kembali di depan mata Bok Ji-sia, sekujur tubuhnya kontan gemetar keras, cepat ia menarik kembali tubuhnya dan berkelit ke samping.

Waktu itu Tong Yong-ling sudah pasrah dan gedang menantikan tibanya detik-detik penuh keindahan, ketika dirasakan Bok Ji-sia menggeserkan tubuhnya, dengan terkejut ia membuka matanya dan menatap pemuda itu dengan sorot mata keheranan.

"Engkoh Bok, kau " bisiknya jengah.

Perasaan Ji-sia ketika itu sungguh tak keruan diam-diam ia sedang memperingatkin dirinya sendiri agar jangan merusak masa depan gadis tersebut. Berpikir demikian, sambil menegakkan tubuhnya sengaja ia berkata dengan dingin, ''Nona Tong sebaiknya kita berpikir dengan sadar agar tidak..."

"Berpikir dengan sadar? kau ingin menyiksaku sampai mati dengan kata-kata tersebut!" teriak Yong-ling dengan gemas, "berulang kali aku menerima pukulan batin yang berat tanpa kasihan darimu, apakah aku Tong Yong-ling tak pantas menjadi isterimu, menjadi kekasihmu? Bok Ji-sia!. . sesungguhnya apa maksudmu bersikap demikian kepadaku?..."

Saking sedihnya, sambi! menutup muka sendiri ia menangis tersedu-sedu.

Bicara sesungguhnya, memang tak sedikit siksaan btitin yang dialaminya selama ini, dia hanya tahu mencintai pemuda itu dengan tulus ikhlas, ia tak mau tahu ada kesulitan apa atas diri anak muda itu

Bok Ji-sia cuma menggeleng kepala sambil menghela napas panjang, terunjuk pemsaan apa boleh buat, dengan sedih ia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Pada saat itulah mendadak dari balik lorong bawah tanah itu berkumandang semacam suara beradunya batu yang aneh sekali, suara itu seakan-akan berasal dari sebelah kiri, seperti juga dari sebelah kanan, terkadang terasa di atas kepalap membuat orang sukar menentukan arah yang sebenarnya.

Dengan sorot mata tajam Ji-sia memandang sekitar tempat itu dan berusaha menemukan sumber datangnya suara itu, tapi keadaan gelap gulita, untuk sesaat sulit baginya menemukan sumber datangnya suara itu.

"Nona Tong, kaudengar suara apakah ini?” katanya kemudian,

Sebenarnya sejak tadi Tong Yong-ling sudah mendengar suara itu, tapi dalam sedihnya ia enggan menyelidiki hal itu, karena Bok Ji-sia menegur, dia baru pagsng telinga dan mendengarkannya dengan saksama.

Perempuan biasanya memang lebih teliti daripada lelaki, tak lama setelah mendengarkan dengan saksama, segera ia berseru, "Ah, kiranya di sini “

Sambil melompat ke depan, ia menarik tangan Ji-sia dan diajak lari ke dalam gua itu.

Setelah berbelok beberapa kali, sampailah mereka di ujung lorong, empat penjuru berupa dinding tebing yang keras dan tiada jalan tembus lain-nya, tapi suara itu kian lama kian nyaring agaknya tempat itu tak jauh letaknya dari sumber suara tersebut,

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling meraba sebentar sekitar dinding lorong itu, setelah termenung sejenak, lalu katanya, "Di sini pasti ada sebuah jalan tembus, atau mungkin tersumbat oleh batu besar, tak ada salahnya kalau kita mencarinya secara terpencar." 

Gadis itu segera melolos pedangnya, cahaya pedang terpancar membuat suasana dalam gua itu jadi remang- remang. Dengan teliti nona itu mulai mengetuk dinding sambil mendengarkan, diperiksanya sekeliling dinding itu mengikuti datangnya sumber suara itu, kian lama air mukanya berubah makin serius.

Menyaksikan ketelitian orang, dengan amat kagum Ji-sia bertanya, "Nona Tong, kau berhasil menemukan sesuatu?"

Dengan seksama ia coba memeriksa sekeliling dinding itu, akhirnya ditemukan sebuah retakan kecil di situ, sewaktu diketuk dengan jari segera menimbulkan suara "tuk,  tuk" yang nyaring.

"Jangan jangan di sini ada sebuah pintu?" demikian ia pikir. Ia coba menolak dindng tersebut, tapi tak bergerak, kedua tangan segera digunakan, hawa murni dihimpun pada telapak tangan dan pelahan mendorongnya.

"Krek!" diiringi bunyi keras, remukan batu beterbangan disertai debu pasir yang berguguran, celah tersebut makin lama semakin jelas dan membesar, akhirnya muncul sebuah pintu batu.

Ia tak berani ayal lagi, serunya, "Nona Tong, cepat ikuti aku!"

Dengan cepat Bwe-hoa-siaa-kiam Tong Yong-ling menariknya sambil berbisik, "Hati-hati ada orang!"

Dengan sangat berhati-hati kedua oracg menuju ke dalam, lalu secepat kilat bersembunyi di belakang sebuah batu sambil mengintip ke sana.

Ruangan di situ luar biasa besarnya, empat per juru penuh dengan batu-batu ansh yang berserakan, hanya tempat ini saja yang sama sekali tidak kacau dan teratur.

Tiba-tiba terdengar suara ujung baju terembus angin, menyusul muncul dua sosok bayangan yang meluncur datang dengan ctpat luar biasa.

Ketika mereka mengintip keluar, tertampak dua orang sedang berdiri di atas sebuah batu dan sedang menghitung batu-batuan yang berserakan itu.

Terkejut sekali Bok Ji-sia setelah menyaksikan wajah kedua orang itu, ternyata mereka tak lain adalah Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian dan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat dari Thian- seng-po.

Dalam kejutnya iapun berpikir, "Aneh, selama Ini Thian- seng-po tak pernah akur dengan pihak Kian-hong-ceng, kenapa kedua orang ini bisa muncul bersama di sini? Jangan- jangan mereka sudah menyelesaikan perselisihan lama dan sekarang bergandengan tangan!"  Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling lantas menggenggam tangan Bok Ji-sia erat-erat, peluh membasahi telapak tangannya, jelas ia merasa tegang sekali,

Melihat Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, tanpa terasa Bok Ji- sia teringat lagi pada ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian miliknya, dengan mata berapi-api ia siap melompat bangnn untuk menerjangnya.

Buru-buru Tong Yong-ling menahannya sambil berbisik, "Tunggu sebentar, coba kita lihat dulu permainan apakah yang akan mereka lakukan."

Dalam pada itu. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat telah menghitung sampai pada batu yang kedelapan puluh satu, sambil berhenti ia berkata, “Saudara Lamkiong, mungkin di bawah batu besar inilah letaknya!"

Kiam-hong-cetigeu Lamkiong Hian tertawa seram, "Kalau sudah ditemukan, marilah kita turun tangan!"

Ia lantas bertepuk tangan tiga kali, tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki orang bergema tiba, dalam waktu singkat dari tiap sudut muncul belasan orang lelaki kekar, masing-masing membawa alat mencangkul.

Sambil menunjuk batu besar yang aneh bentuknya itu, Oh Ku-gwat berkata, "Rahasia di balik batu itu hanya diketahui kita berdua, kuharap ..."

Mendadak terdengar seseorang mendengus sambil menukas, "Aku juga tahu!'

Baik Kiam-hong-cengeu Lamkiong Hian maupun Thiaa- kang-kbm Oh Ku-gwat sama terkejut, serentak kedua orang itu menubruk ke arah suara itu sambil melancarkan pukulan.

"Blang," angin pukulan menyambar, tapi kecuali batu-batu cadas yang berserakan tak nampak sesosok bayangan pun. Diam-diam kedua orang itu terkejut oleh ke-lihayan rnusuh yang dapat menghioda tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Lamkiong Hiao menyapu pandang sekeliling tempat itu, lalu serunya dengan suara menyeramkan, "Jago lihai darimanakah yang datang? Kenapa tidak menampilkan diri!"

Suasana tetap hening tiada jawaban. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat mendengus, "Hm, paling banter cuma seorang tak bernama tak perlu digubris lagi, ayo kita turun tangani”

Orang-orang pembawa cangkul sama mengiakan, mereka mulai bekerja mencangkul sekeliling batu cadas itu.

"Saudara Lamkiong," ujar Thian-kang-kiam Ob Ku-gwat dengan tertawa seram, "apakah Te-ti-hian-hu (istana bawah tanah) hanya terdapat sebuah jalan masuk saja?"

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian termenung sejenak, kemudian jawabnya, "Menurut keterangan dalam peta, kecuali di sebelah selatan terdapat sebuah jalan tembus, hampir semua jalan di bawah tanah ini merupakan jalan buntu, meskipun orang bisa masuk, tapi tak mungkin bisa keluar lagi

...."

"Trang!" tiba-tiba dari bawah batu cadas itu berkumandang suara nyaring, semangat kedua orang segera berkobar, wajah pun berseri-seri.

Segera Oh Ku-gwat melolos sebuah ruyung panjang yang memancarkan sinar emas, setelah diteliti sejenak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Tergetar hati Bok Ji-sia menyaksikan itu, sebab ruyung emas yang berada di tangan Oh Ku-gwat sekarang tak lain adalah Jian-kim-si-han-pian yang dihadiahkan Thian-kang-te- sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak kepadanya.

Cepat Tong Yong-ling menahan bahunya sambil berbisik, "Jangan bergerak dulu engkoh Bok, rahasia di tempat ini kemungkinan besar ada hubungannya dengan ruyung rnestika lian-kim-si-hun-pian!"

Ji-sia termenung, ia teringat pada pesan Suhunya menjelang ajal dulu, "Harus kau bela ruyung ini dengan segenap jiwa ragamu, ruyung ada orang hidup, ruyung hilang orang mati. ruyungnya sendiri terhitung benda rnestika yang tak ternilai harganya? lebih-lebih sarung ruyung Jian-kim-si- hun-pian, nilainya tak terlukiskan, karena di situ tersimpan suatu rahasia yang maha besar . . .

Dalam pada itu Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian tampak tertawa seram setelah memandang ruyung mestika itu sekejap, katanya, "Saudara Ku-gwat, meskipun rahasia itu kau yang menemukan, letak Te-ti-hian-hu justeru di dalam Kianchong-ceng milikku, bila benda tersebut berhasil ditemukan, entah bagaimana cara pembagiannya ”

Air muka Oh Ku-gwat berubah menjadi dingin, sahutnya, '"Tetap seperti kataku dulu, kita masing-masing mendapat setengah bagian.”

Setelah bergelak tertawa, katanya lebih jauh "Bukan aku sengaja mengibul, rahasia dalam Jian-kim-si-hun-piam ini kecuali diriku seorang biarpun Jiteku Oh Kay-gak juga belum tentu tahu . . .

"Ah, belum tentu," tiba-tiba seorang menyela lagi dengan sinis, "buktinya aku jauh lebih tahu daripadamu "

Menyusul perkataan itu, dari balik kegelapan muncul lima orang, tiga gadis dan dua lelaki, dengan wajah dingin pelahan mereka menghampiri kedua orang itu.

Oh Ku-gwat dan Lamkiong Hian terkesiap, sadarlah mereka bahwa keadaan tidak menguntungkan.

"Hehehe, tak kusangka nona juga akan mengambil bagian dalam persoalau ini...." jengek Oh Ku-gwat sambil tertawa seram. "Tidak boleh?" tanya nona cantik paling depan sambil tertawa cekikikan, "ketahuilah bahwa persoalan ini ada hubungannya dengan perguruan kami, mana mungkin kami menyia - nyiakan kesempatan baik ini untuk mendapatkan benda mestika ini?"

Oh Ku-gwat termenung, pelbagai ingatan dengan cepat terlintas dalam benaknya, sayang kepandaian musuh terlalu tinggi, siapa yang akan memenangkan perebutan pada malam ini masih sukar untuk diduga.

Kemunculan ketiga gadis dan dua lelaki ini sungguh merupakan suatu pukulan bagi Lamkiong Hian maupun Oh Ku- gwat, tak bisa disangkal lagi kelima orang itu merupakan musuh tangguh yang paling memusingkan kepala mereka.

Sementara itu para pekerja telah menghentikan pula usaha mereka untuk mencangkul tanah, dengan bimbang mereka mengawasi kemunculan kelima orang itu dan diam-diam menggerutu.

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling yang bersembunyi di balik kegelapan pun merasa tercengang, mereka heran kenapa dalam setiap peristiwa besar yang berlangsung dalam dunia persilatan, pihak Hek-liong-kang tentu turut menghadirinya?

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat maju ke depan lalu menegur, "Kedatangan nona pada malam ini merupakan suatu ketidak sengajaan ataukah memang sengaja hendak kemari?"

"Sengaja boleh, tidak sengaja juga boleh, pokoknya kita melakukan pekerjaan sendiri-sendiri, siapapun tidak mencampuri urusan orang lain!" dengus si nona baju biru bercadar itu sambil melirik hina.

Sehabis berkata ia lantas memberi tanda ke belakang dan katanya lagi, "Suheng, bongkar batu padas itu!' Yang ditunjuk adalah batu padas nomor dua puluh tujuh. Kakek berambut putih itu segera maju sambil mengentakkan tongkatnya, “Trang", bunyi nyaring menggema.

Sambil tertawa dia maju ke depan, sedangkan Hoa Hong- hui di belakangnya juga tertawa angkuh, bersama kakek itu iapun melangkah ke depan.

"Kalian berdua hendak ke mana?" mendadak seorang menegur, Kiara-hong-cengcu Lamkiong Hian angkat tangannya, segulung angin kuat men-dampar kedepan.

Kakek berambut putih dan Hoa Hong-hui merasa majunya teralang, seketika itu juga tubuh mereka tergetar.

Demonstrasi khikang (tenaga dalam) tak berwujud itu seakan-akan sengaja diperlihatkan kepada si nona baju biru, tampak nona itu menyapu pandang sekejap wajah Lamkiong Hian dengan sorot mata d'mgm.

Tergetar oleh khikang tak berwujud itu, tak kuasa lagi tubuh Hoa Hong-hui terdesak mundur dua langkah, sebagai orang yang tinggi hati dan biasa takabur, sudah barang tentu ia tak tahan menghadapi kejadian tersebut, sambil tertawa seram tegurnya dengan murka, "Toacengeu, kenapa kau mengalangi pekerjaanku?"

Lamkiong Hian tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, sebab tempat ini adalah perkampungan Kiam-hong-ceng, jadi kalian jangan bertingkah semaunya sendiri!"

"Aku tak percaya Kiam-hong- ceng bisa berbuat apa-apa kepadaku!" seru si kakek berambut putih sambil mengertakan lagi tongkatnya.

Lamkiong Hian tersenyum, "Ketiga kali pukulan tongkatmu saja tak bisa mengapa-apakan aku, memangnya Ingin coba- coba lagi?"

Kakek berambut putih itu sangat gusar, setiap orang persilatan menyaksikan ketiga kali pukulannya yang dihantamkan ke tubuh Lamkiong Hian dengan segenap tenaga di muka panggung Kiam leng tay tempo hari, ini kenyataan, dan ia memang tidak bisa melukai Lamkiong Hian sedikit-pun.

N Nona berbaju biru itu segera tertawa dingm, katanya, "Ilmu gerak tubuh In-si-huan-in masih belum terhitung kepandaian yang luar biasa, meskipun tiga kali pukulan tongkat gagal membunuhmu, lapi dengan tiga kali serangan jari aku sanggup mencabut nyawamu, kalau kau tidak percaya, mari kita buktikan sekarang juga!"

Lamkiong Hian terkejut, walaupun ia belum pernah bertarung khusus melawan nona berbaju biru itu. tapi dilihat dari caranya bicara, dapat di-duja ilmu silatnya pasti lihai sekali.

Maka sambil tersenyum sahutnya. "Tak perlu, biar kita tunggu pada kesempatan lain!”

"Hrnm! Memangnya kau berani!" ejek nona baju biru itu.

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian cuma tersenyum belaka pura-pura tidak mendengar, sementara dalam hati diam-diam ia menyumpah, "Budak sialan, jangan kira kujeri padamur justeru lantaran keadaan malam ini berbeda, bila tidak demi menyelamatkan rencana besarku, tentu sekarang juga akan kuberi hajaran padamu "

Bok Ji-sia juga tercengang melihat kejadian itu, sebagai seorang ketua suatu aliran, Lamkiong Hian mempunyai kedudukan yang tinggi dalam dunia persilatan, kenapa ia malah bersenyum belaka membiarkan nona dari Hek-liong- kang itu mengejeknya habis-habisan? 

Sementara itu Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat telah mengayunkan ruyung ' Jian-kirn-sl-hun-pian tambil tertawa terbahak-bahak» katanya, "Bila kedatangan nona juga untuk benda ini, aku bersedia mempersembahkannya kepadamu cuma, hehehe . . .besarnya istana bawah tanah Te-ti-hian-bu bagaikan sebuah bukit, sekalipun kau memiliki kecerdasan seperti dewa juga takkan bisa mengetahuinya dengan jelas . .

. kecuali . . . haha ”

Nona berbaju biru itu tertawa dingin, ejeknya, "Memangnya aku heran kenapa pada malam ini kau begitu baik hati, rupanya karena kau memiliki peta biru Te-ti-hian-tu Hm,

terus terang saja kukatakan, nonamu tak pernah melakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan, setelah kumuncu! di sini berarti punya cara untuk menemukan benda itu, contohnya caraku masak kemari, bukankah kalian mengatakan kecuali sebuah jalan tembus sudah tiada jalan lain? Kenapa kami bisa masuk pula di sini!"

Seketika itu juga Thian-kang kiam Oh Ku-gwat dan Kiam- hong cengcu Lamkiong Hian terkesiap, lama sekali kedua orang itu saling pandang tanpa bicara, sadarlah mereka bahwa hal ini sudah bukan rahasia lagi.

"Betul juga perkataannya," demikian mereka pikir, "bagaimana cara mereka sampai di sini? Jelas jalan tembus itu tak bisa dimasuki tanpa peta' tapi mereka .. “

Terdengar nona berbaju biru itu berkata lebih lanjut, "Semua jalan di sini adalah jalan tembus, tapi di mana-mana terdapat pula jalan mati, cuma harus dicari sendiri deigan kecerdasan masing-masing. Tempat ini luas sekali, gua batu semacam ini-pun jumlahnya puluhan, setiap gua mempunyai keadaan yang persis sama seperti yang lain Huh, kalian anggap kepandaianmu sangat hebat, siapa tahu justeru telah terjebak oleh perangkap pemilik gua ini. "

"Dari mana nona mengetahui sejelas ini? Kami betul-betul merasa kagum!" seru Oh Ku-gwat dengan terkejut.

Nona berbaju biru itu tertawa, lalu berpaling ke arah lain dan tidak berbicara lagi, hal ini membuat kedua jago tangguh itu menjadi sangsi.

Satu ingatan cepat terlintas dalam benak Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat. pikirnya, "Agaknya apa yang diketahui gadis Hek- Jiong-kang ini jauh lebih lengkap daripada apa yang kuketahui, walaupun kami berdua mempunyai peta biru penunjuk rahasia istana, tempat mestika itu tersimpan belum juga ditemukan, setelah nona baju biru ini tahu rahasianya berarti dia berniat pola untuk merampas mestika tersebut, lebih baik semua jago lihai yang telah masuk Te-ti- hian-hu ini dibasmi saja sampai habis!"

Ia melemparkan kerlingan misterius, lalu serunya„ "Saudara Lamkiong, malam ini kita..”

Sudah barang tentu Kiam-hong-eeogcu Lamkiong Hian dapat memahami aiti kata-katanya itu, sambil tertawa sahutnya, "Segala sesuatunya terserah pada kehendak Oh- ceng!"

"Sudah hitung dengan suipoa belum?" ejek nona baju biru itu sambil tertawa, "hati-hati, sekali salah hitung, maka langkah selanjutnya akan sulit dilalui!"

Sementara itu, Hoa Hong-hui dan kakek berambut putih telah kembali ke samping nona berbaju biru itu, agaknya mereka sudah menduga akan maksud jahat Oh Ku-gwat serta Lamkiong Hian.

Mendadak, ruang gua itu terang benderang setelah cahaya hijau itu berkelebat, lalu di atas dinding muncul empat baris huruf kecil yang berbunyi:

Pintu istana selalu terbuka lebar, Hanya jalan masuk tanpa jalan keluar.

Pusaka hanya bagi mereka yang berjodoh

Bila tak berjodoh nyawa akan kembali ke neraka!

Setelah huruf-huruf kecil itu lenyap, suasana dalam gua pulih kembali dalam kegelapan.

Terdengar kesiur angin, tiba-tiba Thian-kang-kiam Oh Ku- gwat membentak, "Saudara Lamkiong, cepat!" Bayangan orang segera berkelebat, angin pukulan yang kuat dengan cepat menghantam tubuh nona berbaju biru itu.

"Suheng, cepat hadapi dia!" dengus nona itn.

"Wess!" cahaya hitam menyambar dan mengurung batok kepala Tliian-kaog-kiam Oh Ku-gwat, serangan tongkat kakek berambut putih itu sungguh sangat lihai.

Oh Ku-gwat terkejut, ia tak berani menyambut serangan itu dengan kekerasan, begitu melihat gelagat tidak menguntungkan, buru-buru dia menarik kembali tangannya, lalu membalik ke atas, pada kesempatan itu suatu serangan dilancarkan, lalu buru-buru mundur.

"Hai, kenapa tidak kau sambut serangan tongkat ku ini!" ejek si kakek berambut putih itu dengan tertawa dingin.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tak tahan akan sindiran tersebut, ia sangat gusar tapi ketika berpaling, hatinya mrnjadi dingin separuh, dilihatnya Kiam- hong- cengcu Lamkiong Hian sedang berdiri berpangku tangan di situ sambil mendongakkan kepalanya, lagaknya seakan-akan tidak melihat serang menyerang yang baru terjadi.

Dengan mendongkol Oh Ku gwat menegur, "Saudara Lamkiong, kau "

Tiba-tiba Lamkiong Hian tersenyum, "Jika urusan kecil tak terkendali» mana mungkin bisa melaksanakan urusan besar? Saudara Gh, buat apa kau gelisah seperti ini?"

Nona berbaju biru itu tertawa sinis, sindirnya "Kalau rase berkomplot dengan serigala, kalian berdua memang pasangan yang cocok."

Dalam waktu yang amat singkat itulah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat melihat Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian telah berubah menjadi begitu dingin menyeramkan. "Diam-diam Lamkiong Hian sudah menunjukkan sikap yang misterius," demikian ia berpikir, "meskipun aku pura-pura memperalat tenaganya untuk menemukan harta rnestika di sini setiap saat aku harus waspada dan berjaga-jaga atas dirinya."

Berpikir sampai di sini, sambil tertawa dingin ia menegur pula, "Saudara Lamkiong, bagaimana menurut pendapatmu?"

Lamkiong Hian tertawa terbahak-bahak, "Ha-haha, menurut pendapatku, lebih baik kita tinggal-kan saja tempat ini "

"Tidak mungkin!" seru Oh Ku-gwat cemas.

Kembali Lamkiong Hian terbahak-bahak, "Ha-haha, apakah kau tidak membaca bait terakhir dari huruf-huruf kecil tadi? Bila tak berjodoh nyawa akan kembali ke neraka? Kalau kita tak berjodoh biarlah kita berikan kesempatan kepada perempuan dan Hek-liong-kapg ini untuk beradu nasib!'

Tanpa menunggu pendapat Oh Ku-gwat lagi, ia lantas menarik tangannya dan diajak msnyingkir ke samping.

Tiba-tiba dari samping sana meluncur keluar dua sosok bayangan, dengan cepat mereka melayang turun dihadapan Lamkiong Hian.

"Mau pergi?" ejek orang itu dengan gusar, "boleh, tapi tinggalkan dulu barang itu!"

Di antara remang keadaan Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling muncul di situ, kontan saja kehadiran mereka menambah tegangnya suasana.

Lamkiong Hian segera tergelak, serunya, "Orang hidup di mana pun dapat berjumpa haha, saudara Bok, tak tersangka kita berjumpa lagi di sini!"

Kiranya Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling yang bersembunyi di tempat kegelapan dapat menyaksikan semua kejadian di situ dengan jelas, ketika dilihatnya Oh Ku-gwat hendak pergi, hatinya menjadi gelisah.

Maklumlah, Jian-kim-si-hun-pian mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupannya, dengan susah payah dia sampai di sini. tentu saja pemuda itu tak ingin kehilangan kesempatan untuk merebut kembali ruyung rnestika miliknya itu9 maka dengan cepat dia menampilkan diri dari tempat sembunyinya.

Sebagai pemuda yang angkuh, pada mulanya mengingat "kebaikan" Lamkiong Giok ia masih menaruh rasa hormat kepada Lamkiong Hian, tapi setelah menyuksikan sendiri bagaimana Lamkiong Hian berkomplot dengan Oh Ku-gwat yang licik, rasa hormatnya itu kontan tersapu lenyap tak berbekas.

"Selama berjumpa! Selamat berjumpa!" serunya kemudian sambil tnerdengus, lalu kepada Oh Ku-gwat ia membentak, "Berikan benda itu kepadaku!"

Untuk mendapatkan Jian-kim-si-hun-pian, entah berapa banyak pikiran dan tenaga telah dikekarkan oleh Oh Ku-gwat, tak heran ia tertawa seram demi mendengar perkataan itu.

"Enak saja jalan pikiranmu ..." ejeknya.

"Tua bangka yang tak tahu malu. jangan sesalkan Siauya bertindak keji padaku!" bentak Ji-sia dengan guiar.

Dengan sorot mata tajam ia awasi Thian-kang-kiam Oh Ku- gwat tanpa berkedip, lalu sambil menghimpun tenaga pelahan ia menghampiri musuh.

Tong Yong-ling terkesiap, buru-buru dia mengikut di samping anak muda tersebut.

Air muka Thiati-kang-kiam Oh Ku-gwat berubah tegang, sambil menggenggam Jiari-kim-si-hun-pian kencang-kencang ia siap melancarkan serangan. Mendadak terdengar Lamkiong Hian terbahak-bahak, "Hahaha. ya, seharusnya demikian! Sepantasnya memang demikian!"

“Saudara Lamkiong, apa maksudmu?" seru Oh Ku-gwat terperanjat.

Kiam-hong-cengcu memperlihatkan senyuman misteriusnya, lalu menjawab, "Ruyung iiu sebetulnya memang milik Bok-siauhiap, jadi sepantasnya barang itu dikembalikan kepada pemiliknya!"

"Betul-betul suatu kejutan, tak kusangka kau masih memiliki jurus selihai ini!" ejek si nona baju biru.

Mendengar itu, dingin hati Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, keringat dingin membasahi punggungnya, semula ia mengira Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian pasti akan bahu membahu dengannya untuk menghadapi lawan, siapa tahu setelah berjumpa dengan Bok Ji-sia, dia mengucapkan kata-kata seperti itu.

Keruan Oh Ku-gvva;r merasa malu, sekujur  tubuh menggigil saking mendongkolnya.

"Lamkiong Hian!" bentaknya kemudian dengan gusar, "rupanya kau berniat bermusuhan denganku "

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian segera tersenyum, katanya, "Mau menurut perkataanku atau tidak terserah, cuma berdiri sebagai seorang ternan, bagaimanapun kita kan orang kenamaan, tidak seharusnya kita yang tua menganiaya yang muda sehingga ditertawakan orang di kemudian hari!"

Ucapan itu sungguh di luar dugaan semua orang, siapapan tak dapat menebak perhitungan busuk apa yang sedang dirancang Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian, sikapnya yang sebentar panas sebentar dingin atau ngalor ngidul ini membuat orang merasa bingung. Bok Ji-sia juga heran, betul antara dia dengan Lamkiong Giok mengaku sebagai saudara senasib sependeritaan, tapi dengan Lamkiong Hian pribadi boleh dibilang iiada hubungan apa-apa, apakah mengingat putranya maka ia tak segan- segan bentrok dengan Oh Ku-gwat untuk membantunya merampas kembali Jian-kim-'si-hun pian?

Dengan terharu katanya kemudian, "Terima kasih banyak atas bantuan Cianpwe!"

Terpancar sinar aneh dari balik mata nona berbaju biru itu, dari apa yang dilihatnya ia telah bisa menebak maksud Lamkiong Hian sebenarnya.

Kontan sindirnya, "Huh, berlagak bajik dan baik hati, siapa yang bisa kaukelabui?"

Kiarn-hong-eengcu Lamkiong Hian tersenyum, katanya, "Hendaknya mulut nona dijaga sedikit. "

Tiba-tiba Hoa Hong-hui melompat ke depan sambil menuding Lamkiong Hian bentaknya, "Kau berani menghina."

"Ah, mana aku berani, hahah ..." Kesabaran yang diperlihatkan Lamkiong Hian ini betul-betul di luar dugaan, tatkala bergelak itulah medadak ia berkelebat mendekati Thian-kang-kiara Oh Ku-gwat.

Sebetulnya, kemarahan Hoa Hong-hui hanya terdorong oleh luapan emosinya, ia mengira Lamkiong Hian tentu akan balas mendampratnya siapa tahu jago tangguh itu menunjukkan sikap ketakutan, hal ini membuatnya tertawa terbahak- bahak bangga.

Setelah berhenti tertawa dengan lagak seorang pembela gadis, sorot matanya tiba-tiba memancarkan sinar yang aneh, air muka yang semula dingin kaku berubah menjadi lembut dan halus, sambil memandang wajah si nona baju biru dia tersenyum mesra. Dengan jemu nona itu mendamprat "Siapa yang suruh kau ikut campur urusanku!"

Hoa Houg-hui menjadi melengak dan tersipu-sipu, disangkanya nona itu pasti akan memujinya, atau paling tidak akan melemparkaa senyuman mesra kepadanya. Siapa tahu bukan saja nona itu tidak senang hati, malahan mengunjuk marah, ia seperti diguyur air. dingin, harapannya tersapu lenyap.

Dengan tersipu-sipu ucapnya dengan tergegap, "Kau  ... kau "

Tong Yong-ling menyaksikan kejadian itu dengan tertawa geli.

Hoa Hong-hui menjadi naik pitam, bentaknya, "Perempuan sialan, apa yang kautertawakan?"

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling berkerut dahi, lalu balas membentak dengan marah, "Apa pula maksudmu melotot padaku?"

"Sret! SretI Sret!" cahaya pedang berkelebat, tiga tusukan kilat menyambar Hoa Hong-hui ditambah dengan sekali pnkulan.

Dalam keadaan tak siap, Hoa Hong-hui menjadi kececar sehingga harus meiampat mundur.

Tong Yong-ling memang jahil, setelah serangan itu ia tidak mendesak lebih jauh, ia berputar ke kiri dan bergerak ke kanac, tahu tahu ia sudah berdiri di samping Bok Ji-sia sambil melototi Hoa Hong-hui dengan tersenyum dingin.

Gusar sekali Hoa Hong-hui, sudah barang tentu ia tak mau menyudahi persoalan ini, teriaknya, "Budak hina, serahkan nyawamu!"

Mendadak ia melompat maju dan melancarkan pukulan dahsyat ke dada Tong Yong-ling. Terkejuc Tong Yong-ling, ia putar pedangnya dan menabas.

Pada saat itu pula, tiba-tiba Ji-sia angkat kedua tangannya, "blang", benturan keras terjadi, Hoa Hong-hui tergetar mundur,

"Sebelum persoalanku selesai, siapapun dilarang bertempur di sini!" seru Ji-sia ketus

"Hm, kau berhak melarang orang" jengek Hoa Houg-hui. "Kalau tidak percaya mengapa tidak dicoba sendiri!" seru Ji-

sia sambil melotot.

Gertakan itu membuat Hoa Hong-hui terkesiap, padahal selama hidupnya di Hek-liong-kang ia selalu dihormati dan disegani, siapapun yang berjumpa dengan dia tentu akan menyebutnya sebagai Hek-kongcu, siapa tahu hari ini Bok Ji- sia berani memandang hina padanya, hal ini membuatnya gusar sekali sehingga sekujur badannya gemetar keras.

"Ketahuilah, aku orang she Hoa bukan orang sembarangan yang boleh direcoki ..." teriaknya dengan bengis, segera ia hendak menerjang maju lagi.

"Hel, siapa yang suruh kauturun tangan!" hardik si nona baju biru tiba-tiba dengan nada tak senang.

Hati Hoa Hong-hui menjadi ciut, cepat ia menarik diri ke tempat semula, biarpun ia bernyali besar juga tak berani membangkang perintah sang Siocia.

Setelah melotot sekejap ke arah Bok Ji-sia dan Tong Yoag ling, lalu ia memandang pula si nona baju biru dengan lembut sambil tertawa jengah, kemudian ia berjalan balik ke sisi Pek Bi dan Pek Sat.

"Orang she Oh, kauhendak kabur?" mendadak terdengar Bok Ji-sia membentak.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat segera memutar badan kembali dan menjawab ketus, "Siapa yang takut padamu!" Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian yang licik dan banyak tipu mushhat itu diam-diam merasa kecewa Ketika dilihatnya Bok Ji-sia tidak jadi bertarung melawan orang-orang Hek- liong-kang, otaknya lantas berputar untuk mencari akal lain, sayang akal lain tidak didapatkan. Maka dengan mengikuti arah angin dia tertawa terbahak-bahak seraya berkata, "Saudara Oh, kita semua kau orang sendiri, ayo cepat serahkan kembali benda itu kepada Bok-siauhiap!"

"Huh, siapa yang mau mengaku orang sediri denganmu?" dengus Tong Yong-ling.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat memang seorang cerdas, pada mulanya dia rada enggan, tapi setelah mendengar ucapan itu, pikirannya segera sadar kembali.

Maka dengan tertawa serunya, "Baiklah, saudara Lamkiong, kuturuti perkataanmu!"

Baru selesai ucapannya,, tiba-tiba Jian-kim-si-hun-pian di tangannya menciptakan selapis cahaya berwarna keemas- emasan, bagai naga sakti menari di udara, secepat kilat cahaya tajam itu mengurung sekujur badan Bok Ji-sia dan rnengancam jalan darah pentingnya.

Sergapan yang dilakukan secara mendadak dan licik ini cukup menggetarkan perasaan orang, siapapun sulit menghindarkan diri dari sergapan keji semacam ini.

Saking kagetnya muka Tong Yong-ling menjadi pucat seperti mayat, bentaknya gusar, "Bangsat, kau memang keji!"

Dengan cepat pedangnya lantas menangkis Jian-kim-si- hun-pian.

Ji-sia membentak, dengan tenang dan mantap dia menyurut mundur, telapak tangan dengan eepat mendorong ke dspan, meski ia sempat menghindar, tak urung ujung bajanya tersambar juga oleh Jian-kim-si-hun-pian hingga robek sebagian. "Cepat mundur!" bentakan menggeledek bergema di udara.

Thian-kang-kiarn Oh Ku-gwat segera menarik kembali ruyung mustikanya, kemudian dengan gerakan Seng-ing-liok- sah (Burung manyar menyambar pasir), lalu dengan capat ia mundur ke belakang dan menyelinap ke tempat gelap.

Vvaktu itu, entah sejak kapan Lamkiong Hian beserta kawanan lelaki berbaju hitam tadi sudah lenyap juga dari situ,

"Hendak kabur ke mana?" bentak Ji-sia dengan, mata berapi-api.

Tak sempat mengurus Tong Yong-ling lagi, dengan ilmu mtringankan tubuhnya yang tinggi segera ia mengejar ke arah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat.

"Engkoh Bok, tunggu!" teriak Yong-ling cepat2 segera dia menyusul di belakang anak muda itu. Pada saat itulah si nona berbaju biru rnenghela napas, kemudian memejamkan lagi matanya seakan-akan ada suatu masalah penting yang sedang dipikirkan olehnya.

Hoa Hong-hui bergirang menyaksikan keempat jago itu telah mengundurkan diri, serunya tanpa terasa, "Kali ini barang-barang mestika itu tentu akan menjadi milik kita!"

Sambil tarik kakek berambut putih itu ia berjalan menuju ka arah batu padas tadi.

"Mau apa kau?" tiba-tiba Pek Bi menegur sambil melompat ke depannya.

"Kini musuh tangguh telah pergi, tentu saja barangnya harus kita ambil!"

Mendadak si nona berbaju biru membuka kembali matanya, lalu mendamperat, "Hm, kau betul-betul manusia bodoh yang tak ada gunanya!"

Hoa Hong-hui kaget dan tertegun untuk beberapa saat lamanya, sudah lama ia mencintai nona berbaju biru itu, tapi gadis itu sendiri sama sekali tidak menghiraukan luapan cintanya, tapi ia tidak kuatir sebab msnurut anggapannya dia adalah orang paling tampan dan gagah di wilayah Hek-liong- kang.

Siapa tahu semenjak masuk ke darah Tiong-goan, sikap nona berbaju biru ternyata mengalami banyak perubahan.

"Kenapa?” serunya kemudian sambil tertawa tersipu-sipu, "apakah mesiika di dalam Te-ti-hian-hu tidak tersimpan di sini?"

"Hm, kalau begitu gampang benda tersebut bisa didapatkan, tak akan menunggu sampai giliran kita untuk mengambilnya!"

Saat itulah, sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat tiba, tahu-tahu Kiam-hong-eengcu Lamkiong Hian muncul kembali dengan senyum dikulum.

Pek Bi dan Pek Sat mengira orang bermaksud jahat terhadap nona berbaju biru itu, buru-buru mereka siap di kedua sisinya untuk menghadapi segala kemungkinan,

"Sudah kuduga kau akan datang lagi kemari!” tegur nona berbaju biru itu sambil tertawa merdu.

Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian bergelak tertawa, "Habaha, kecerdasan nona memang tak bisa kutandingi "

Ia lantas mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya lebih jauh sambil tertawa, "Mengenai rahasia di dalam istana Te-ti-hian-hu, kupercaya kecuali diriku dan nona yang mengetahuinya sedikit banyak, sekalipun Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat sendiri juga sukar menemukan rnestika tersebut, oleh sebab itu . . . hehehe pertempuran untuk memperebutkan rnestika di kemudian hari tak akan lebih hanya terdiri dariku dan nona!”

"Kalau sudah tahu, kenapa datang mencari diriku lagi!" jengek si nona berbaju biru dengan tertawa dingin. "Tujuan nona hanya mendapatkan kitab pusaka Hek-Iiong- kang, sedangkan tujuanku di antara kita tak sampai terjadi

bentrokkan, kenyataan kau memang satu-satunya musuhku yang paling tangguh! Orang bilang jika ada dua ekor harimau saling bertengkar, salah satu di antaranya tentu akas ter-luka, untuk menghindari jatuhnya korban yang tak berarti pada kedua pihak, aku bersedia mengikat perjanjian dengan nona untuk berusaha mencari dengan bergantung pada kemujuran masing-masing. "

"Hm, kukira tujuan yang sesungguhnya tak cuma sampai di situ saja bukan?" dengus nona berbaju biru, itu.

Sekali lagi Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian meraba terkesiap. Ia benar-benar tak percaya seorang nona yang masih semuda itu ternyata sanggup menebak isi hatinya yang sebenarnya, maka iapun tertawa tersipu-sipu.

Nona berbaju biru itu menatapnya sekejap, kemudian melanjutkan, "Jangan kaupikir yang bukan-bukan, padahal pancaran sinar matamu telah mengungkapkan segala sesuatunya

Lamkiong Hian terbahak-bahak untuk menutupi rasa malunya, sementara dalam hati diam-diam ia menyumpah, "Tunggu saja sampai barang itu berhasil kudapatkan baru akan kaurasakan kelihaianku. Budak setan, saat itulah perhitungan utang piutang kita harus dibereskan"

Setelah tertawa terbahak-bahak ia berkata lagi "Kalau nona sudah tahu, akupun tak akan banyak bicara. Mari kita masing- masing bekerja sendiri untuk menemukan benda itu, asal jangan sampai terjadi bentrokan kekerasan kan sudah cukup?"

Belum habis ia berkata, mendadak dari dinding sebelah berkumandang suara teriakan keras.....

Air muka Lamkiong Hian rada berubah, buru-buru dia menjura sambil berseru, "Baiklah kita tentukan demikian saja, semoga kau bisa pegang janji." Selesai berkata, seperti badan halus ia terus menyelinap ke ruang gua sebelah.

Memandangi bayangannya yang menghilang, nona berbaju biru itu menghela napas, gumamnya. "Siapa berani bermain api dia akan terbakar sendiri, cara bekerja Lamkiong Hian ini hanya akan membinasakan dirinya sendiri!”

Pelahan ia berjalan dan masuk ke dalam gua yang lain. "Siocia, yakinkah engkau akan berhasil mendapatkan

kembali kitab pusaka perguruan kita?" tanya kakek berambut putih itu sambil memburu maju selangkah.

Nona baju biru itu berpaling, jawabnya, "Manusia berusaha, Thian yang menentukan, kita hanya berjuang sekuatnya dan pasrah kepada nasib!"

Ucapan itu penuh nada kepedihan, hatinya seperti penuh rasa murung dan bimbang.

Siapakah yang menduga dalam hatinya sekarang sedang terjadi perang batin yang bertentangan? Perasaan aneh itu sekalipun dia sendiri juga tak paham apa sebabnya.

o—o 00O00DW00O00 o—o

Ketika Thian-kang-kiam Oh Gu gwat sedang bersyukur karena berhasil mengundurkan diri dengan selamat, waktu ia berpaling, betapa kagetnya sebab bayangan Kiam-hong- cengcu Lamkiong Hian telah menghilang, ia merasa kejadian ini kelewat aneh dan mencurigakan. 

Mana dia tahu Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian mempunyai tujuan lain, setelah berpura-pura mengundurkan diri, secara diam-diam ia balik lagi ke tempat semula untuk mengadakan pembicaraan rahasia dengan gadis berbaju biru, Mendadak ia merasa ada sesosok bayangan hitam menyusul tiba, belum lagi orangnya sampai segalung angin pukulan yang sangat kuat telah menyambar.

Sambil melancarkan pukulan, Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat membentak gusar, "Keparat, kaukira aku bisa dipermainkan!"

Bok Ji-sia mendengus, telapak tangan kirinya diangkat, jari setengah ditekuk, lalu diiringi bentakan secepat kilat melancarkan pukulan dahsyat ke depan, menyusul telapak tangan kiri didorong pula setengah jalan.

Angin pukulan dengan cepatnya menggulung ke depan dan menghantam tubuh lawan.

Kaget Oh Ku-gwat, cepat ia berputar. "Wut, wut", ang;n dahsyat menyambar lewat, Diam-diam Oh Ku-gwat terkejut menyaksikan keiihayan Bok Ji-sia, kemajuan lwekang anak muda ini sungguh jarang ada dalam dunia persilatan, mungkinkah ia mengalami kejadian aneh lagi atau sejak dulu sengaja menyembunyikan kehebatannya itu?

Berpikir demikian, hawa napsu membunuhnya berkobar, sambil menggenggam Jian-kim si-hun-pian, selangkah demi selangkah ia mendesak maju, kalau bisa dia ingin sekali hantam mencabut nyawa jago muda ini.

"Orang she Oh” kata Ji-sia dengan dingin, "sekalipun kaukabur ke ujung langit, tetap skan kubekuk kembali, kecuali kalau kau mengembalikan benda itu kepadaku "

"Jangan mimpi” bentak Oh Ku-gwat dengan marah.

Selang sesaat, tiba-tiba ia membentak lagi "Orang she Bok, serahkan jiwamu!*'

"Ngung!" tiba-tiba jian-kim-si-hun pian berubah menjadi seekor naga emas yang memancarkan suara yang aneh, Bok Ji-sia merasakan pikirannya menjadi kalut dan tak tahan. Darimana dia tahu di sinilah letak kegunaan sesungguhnya Jian-kim-si-hun-pian itu, bila berhadapan dengan musuh, asalkan tenaga dalamnya dikerahkan hingga ruyung itu mengeluarkan suara mendengung, maka rnusuh pasti akan kena dicelaka pada saat pikirannya kacau.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertawa seram, tenaga dalamnya ditambah lagi dengan dua bagian cahaya emas segera terpancar ke empat penjuru, di-Iringi angin puyuh dengan dahsyatnya menyapu tumbuh Bok Ji-sia.

Sampai detik terakhir, Ji-sia masih berdiri termangu-mangu di tempat, seolah-olah tidak merasa jiwanya terancam oleh maut.

Pada saat kritis itulah, tiba-tiba berkelebat cahaya putih diiringi suara mendesing tajam, "Wess!" cahaya tersebut langsung menyambar dada Thian-kang-kiam Oh Ku gwat.

Terancam jiwanya, terpaksa Oh Ku-gwat harus melindungi keselamatan jiwa sendiri lebih dulu, buru buru ia putar badan dan menyampuk pedang itu dengan ruyungnya, "trang", sebilah pedang panjang segera mencelat ke udara.

Oleh getaran suara nyaring tersebut, Ji-sia tersadar dari lamunannya, diam-diam ia berpekik, "Wah, sungguh berbahaya!"

Tanpa terasa ia berpaling ke samping, dilihatnya Bwe hoa- sian-kiam Tong Yong-ling berdiri di sebelahnya dengan wajah pucat.

"Nona Tong, terima kasih atas bantuanmu!" seru Ji-sia sambil tertawa.

"O, kau betul betul membuat kukuatir sekali!" seru Yong- ling.

Sudah lama ia mencintai Bok Ji-sia, meskipun pemuda itu telah melukai hatinya, tapi setiap saat ia selalu memperhatikan keselamatannya, bahkan dalam pembicaraan serta tingkah lakunya juga terpancar luapan cintanya yang dalam.

Ji-sia melemparkan kerlingan terima kasih kepadanya, kemudian baru memutar badan dan berseru dengan gusar, "Tua bangka, rasakan juga pukulanku ini!"

Dengan menghimpun tenaga dalam sepenuhnya, kedua telapak tangannya segera menyodok ke depan.

Serangan itu dilancarkan dengan tenaga penuh ia memang bermaksud memberi hajaran kepada musuh, sudah barang tentu kehebatannya luar biasa, di mana angin pukulannya berembus, debu pesir pada jarak beberapa tombak pada berterbangan,

Tiba-tiba muncul pula segulung angin pukulan dari balik kegelapan, angin pukulan Bok Ji-sia yang maha dahsyat itu seketika tersapu lenyap.

Dalam kejutnya, dengan gusar Ji-sia menghardik, "Siapa di situ?"

Lamkiong Hian muncul sambil tertawa ter-bahak2, dengan sikap yang aneh ia melemparkan sebuah kerlingan ke arah Thian-kang kiam Oh ku-gwat. Lalu sambil manggut-manggut Bok Ji-sia, katanya, "Bok-siauhiap, buat apa kau marah- marah, biar aku yang menyelesaikan persoalanmu itu."

Sambil berkata dia lantas mencengkeram Jian-kim-si-hun pian yang berada di tangan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat.

Jago Thian-seog-po ini tak berani menyalahi tulang punggung andalannya, tanpa terasa dia menyerahkan ruyung kepadanya.

Seperti sengaja dan tak sengaja Larnkiong Hian memandang Jian-kim-si-hun-piaa itu sekejap, kemudian dengan iklas menyerahkan benda rnestika itu kepada Bok Ji- sia. Tindakan Lamkiong Hian ini membuat Ji-Sia tertegun, ia tak menyangka ruyung rnestika tersebut bisa didapatkan kembali semudah ini, baru dia akan menjawab, Lamkiong Hian telah tertawa dingin lebih dulu.

"Lain kuli jangan sampai hilang lagi!" serunya.

Ji-sia terkejut, setelah mendengus bersama Tong Yong-ling ia putar badan dan berlalu-dari situ.

Memandangi bayangan punggung kedua orang itu, Lamkiong Hian tertawa tiada hentinya, tampaknya bangga sekali.

"Terlalu mengenakkan bangsat itu!" seru Oh Ku-gwat dengan kurang senang.

Agaknya Kiem-hong-ceugcu Lamkiong Hian sudah mempunyai perhitungan yang masak, ia tertawa terbahak- bahak, katanya, "Saudara Oh, bukannya aku  mau menegurmu, tapi pandanganmu jelas kelewat pendek!"

"Kaukira Bok Ji-sia bisa membawa pergi ruyung emas itu?" "Huh, barangnya saja sudah ia dapatkan, apa lagi yang

mesti kukatakan?"

Lamkiong Hian mendengus, "Hm, mungkin untuk melangkah keluar pintu sTa-ti-hian-hu saja tidak mampu dan sudah mampus memeluk ruyung itu!"

Ucapan iri mengejutkan Thiao-kang-kiam Oh Ku-gwat, melihat cara Lamkiong Hian bicara agaknya sudah mempunyai perhitungan yang matang, jangan-jangan....

Dengan terkejut ia lantas berseru, "Harap memberi penjelasan lebih lanjut!"

Lamkiong Hian mendengus, dengan misterius ia berkata "Semenjak sepuluh tahun yang lalu ada satu harapanku, yakni menyikat habis semoa orang yang memusuhi diriku, hari ini Thian telah memberi krsempatan kepadaku, istana bawah tanah Te-ti-hian-hu merupakan tempat pembantaian yang paling baik ...

Makin mendengar Oh Ku-gwat semakin ngeri, sebenarnya dia memang ada tiga bagian rasa hormatnya  kepada Lamkiong Hian dan tujuh bagian rasa takut.

Dengan ngeri dia lantas berkata, "Selama ini Thian-seng-po dan Kiam-hong-ceng ibaratnya air dan api, aku orang Thian- seng-po, tentu saja saudara Limkiong.tak akan melepaskan diriku."

"Ah, mana.. mana," kata Lamkiong Hian sambil tertawa dingin, “aku masih mengharapkan bantuan saudara Oh untuk menyelesaikan masalah besar, sudah barang tentu saudara Oh harus dikecualikan.."

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan, "Selama itu, tujuanku adalah Tecing dan Thian-ho kedua macam rnestika itu.”

"Jadi saudara Lamkiong tidak menghendaki kitab pusaka Hek-liong-kang itu?" tanya Oh Ku-gwat dengan tercengang.

Lamkiong Hm memperlihatkan senyuman aneh, jawabnya, "Soal kitab itu adalah bagian saudara Oh, aku tidak ingin mendapatkannya!"

Di mulut ia berkata demikian, dalam hati diam-diam makinya, "Hm, tak perlu berpikir yang bukan-bukan,  sekalipun kuberikan kepadamu perempuan Hek-liong-kang itu juga tak akan tinggal diam”

Oh Ku-gwat kelihatan senang sekali mendengar perkataan itu, serunya cepat, "Semua ini berkat bantuan saudara Lamkiong "

"Mulai malam ini, Te-ti-hian-hu akan berubah menjadi lautan darah," kata Lamkiong Hian dingin. Habis berkata, ia lantas menarik tangan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat dan bersama-sama menyembunyikan diri.

Dalam pada itu, Bok Ji-sia dan Tong Youg-ling sedang menyusuri lorong dan berusaha mencari jalan keluar, sepanjang jajan mereka tidak bicara sepatah katapun, siapa sangka meski sudah setengah harian jalan keluar tak kunjung ditemukan.

Mendadak mereka menangkap suara seorang sedang berseru sambil tertawa, "Ahal Mestika, mestika!"

Dari suara orang itu agaknya terlalu emosi karena menemukan sesuatu benda mestika.

Timbul rasa ingin tahu Ji-sia mestika apakah yang menggirangkan orang itu, sambil menarik ujung baju Tong Yong-ling ia mendekati arah suara tadi.

Selama beberapa bulan ini telah banyak menambah pengalamannya, dia tahu mencuri lihat rahasia orang merupakan pantangan besar bagi umat persilatan, sebab itu langkahnya sangat berhati-hati kuatir jejaknya diketahui orang.

Tiba-tiba terdengar suara orang bertempur berkumandang tak jauh dari sana, angin pukulan menderu-deru menandakan betapa serunya pertarungan yang sedang berlangsung, jelas tenaga dalam kedua orang itu sangat hebat.

Tiba-tiba matanya terbeliak, lantai gua berserakan intan permata dan mutu manikam, sebuah peti besi terbalik di tanah, sedang dua orang lelaki berbaju hitam sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang seru.

"Sret, sret, sret. . . ." kesiur angin berkumandang tiada hentinya, beberapa sosok bayangan hitam dengan cepat menerjang tiba pula.

Ji-sia tertegun, pikirnya, "Aneh, kenapa begini. banyak orang yang datang pada malam ini?" Pikiran itu baru saja terlintas, tiba-tiba kedua orang yang sedang bertarung sengit itu memisahkan diri, kemudian tanpa menghiraukan batu permata yang berserakan-itu, mereka kabur ke arah yang berlainan.

Dalam waktu singkat, kawasan jago yang memang tiba itu sudah sampai di tengah arena, lamat-lamat tertampak di antaranya terdapat Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin, Pek- hoa-kui-po Cin Say-kiau dan Si-hun koay-sat-jiu sekalian.

Kawanan jago itu berkumpul dengan wajah tercengang, agaknya mereka tak mengira pertemuan malam ini merupakan suatu pertemuan besar kaum persilatan, tak sedikit jumlah kawanan jago yang tiba di situ.

Tentu saja kawanaa jago semacam mereka tak akan tertarik oleh tumpukan harta semacam itu, meski tak urung agak silau juga matanya, selain itu mereka merasa curiga juga atas kepergian kedua orang yang sedang bertarung itu secara tiba-tiba, tapi mereka sama tinggi hati sehingga tak seorang pun yang menaruh perhatian.

Nenek berambut putih Gin Say-kiau mencukil seuntai kalung mutiara dengan ujung tongkat, lalu berkata, "Benda ini indah juga bentuknya, pantas kalau kuberikan muridku "

Si-hun-koay-sat-jiu segera mendengus, "Hm, tak tersangka selera si nenek setan begitu kecil, hanya seuntai kalung juga menarik perhatiannya.”

Tiba-tiba nenek setan itu menyentil untaian kalung itu ke depan, serunya, "Kalau tidak puas, biar kuhadiahkan untukmu!"

“Cring!" tanpa mengangkat tangan rantai kalung mutiara itu sudah terhajar rontok oleh Si-hun-koay-sat-jiu sehingga untaian mutiara tersebut tersebar di lantai. Terdengar gelak tertawa nyaring bergema, lalu serunya, "Hahaha, barang imitasi disangka sebagai barang asli, sungguh menggelikan!"

Dengan terkesiap para jago memandang ke lantai, mereka sama kaget, ternyata mutiara-mutiara itu sudah hancur lebur tak satupun yang utuh.

Betul Si-bun-koay-gat-jiu memiliki kepandaian yang lihai, apalagi sebagai salah seorrmg Bu-lim-jit-coat, tapi ayunan tangannya tak mungkin bisa menghancurkan begitu banyak mutiara sekaligus.

Kun-tun Cinjin mengambil sebiji mutiara itu, lalu berkata, "Aneh, jelas mutiara ini adalah benda yang amat langka, kenapa tidak tahan? Apakah lantaran dimakan waktu maka mutiara ini menjadi lapuk? Cuma "

Mendadak terdengar lagi seseorang bergelak tertawa, menyusul bergema suara senandung yang nyaring:

Langit bumi bersatu jagat. Lubang hitam di atas sumur, Anjing kuning berbadan putih, Anjing putih berbadan hangus.

Sambil bersenandung orang itu makin mendekat, ia tak peduli raga tercengang para jago terhadap dirinya, dengan langkah lebar ia berjalan mendekat, setelah memandang sekejap sekeliling gelanggang, ia bersenandung lagi:

Badan berselimut kotoran kuda kepala menyunggih gayung,

Salju turun berhamburan cantik menawan, Kini kudapat begini banyak mutiara, Bagaimana dengan orang miskin di dunia? Suara nyanyiannya laatang menggema di seluruh ruangan, mendadak muncul seorang pengemis tua berbaju penuh tambalan, berkaki telanjang dan berambut kotor, ia tertawa lebar kepada para jago kemudian berjongkok dan mulai memunguti mutiara yang tersebar di tanah itu.

Nenek setan berambut putih Cin Say-kiau tampil ke muka, sambil menudiag dia memaki, "Pengemis bangsat, jangan mencari keuntungan di sini!"

'Berhubung rambut panjang pengemis itu hampir menutupi wajahnya, ia tak jelas melihat mukanya, segera telapak tangannya mendorong punggung pengemis tersebut

Dorongan itu cukup kuat, tapi pengemis tua yang aneh itu seakan-akan tidak merass sambil bersenandung ia masih melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan mutiara-mutiara hancur itu.

Mendadak terdengar seseorang membentak dengan gusar, "Menganiaya seorang cacat yang tua dan lemah, terhitung orang gagah macam apakah dirimu!"

Berbareng dengan bentakan itu, sesosok bayangan hitam, menerjang tiba dan menyambut serangan Cin Say-kiau tadi dengan'keras, akibatnya bahu kedua pihak sama-sama tergetar keras.

Dsngan gusar Bok Ji-sia memandang sinis Cin Say-kiau, nenek itu tercekat dan berkobar pula hawa amarahnya.

Sambi! tertawa seram dia membentak, "Hei, kau hendak mencari kutu di atai kepala harimau, mencari penyakit sendiri!"

Tangan berputar, dengan jurus Kim-ka-liau-ke (ayam emas menggetar bulu) ia menghantam dengan dahsyat.

Ji-sia terkesiap, waktu menyambut serangan Cin Say-kiau dengan kekerasan tadi, darah dalam dadanya sudah tergetar keras, tapi dia adalah seorang yang suka menang, ia enggan memperlihatkan kelemahan, maka sambil menghimpun tenaga dalam ia siap pula menghadapi segala kemungkinan.

Waktu itu jaraknya dengan Pek-hoat-kui-po Ciu Say-kiau sangat dekat, kebetulan pengemis aneh itu persis berada di antara mereka berdoa, ini membuat ji-sia tak berani menggunakan cara keras untuk membalas musuh, ia kuatir melukai orang tua yang tak berdosa itu.

Tiba-tiba pengemis dekil itu menari dan tertawa terbahak- bahak, teriaknya seperti orang gila, "Haha! Terbang, terbang, setan cilik di angkasa menebarkan kapur!"

Tindak-tanduknya yang kocak ini memancing galak tertawa semua orang, lebih-lebih Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling, m tertawa terpingkal-pingkal kzrena gelinya.

Sementara itu mendadak pengemis aneh itu melejit ke udara setinggi tiga tombak lebih, lalu secara beruntun dia berputar tujuh macam gerak tubuh yang berbeda-beda, demontrasi ini menimbulkan seru kaget para jago.

Ketujuh macam gerakan yang aneh itu dilakukan secara bersambung, setiap kali berubah gerakan tubuhnya lantas melambung lebih tinggi, tanpa terasa ia sudah enam tombak tingginya dari permukaan tanah dan melakukan enam kali perubahan gerak badan.

Tatkala gerak ketujuh hendak dilakukan, mendadak ia membentak, "Lihat serangan!"

Seluruh, ruangan dalam gua itu menjadi terang benderang, beribu sinar perak segera terpancar dan secepat kilat menerjang tubuh si nenek setan berambut putih.

Jerit kesakitan dan kaget bergema, belum lagi serangan si nenek tadi mencapai sasarannya, ia menjerit dan melompat mundur sambil meraung gusar. Pengemis aneh itu melayang turun ke tanah, gambil berkeplok la terbahak-bahak, serunya, "Nenek Cin, mukamu sekarang telah berubah seperti badut!"

Bubuk putih menghias seluruh wajah nenek bsrambut putih Cin Say-kiau seakan-akan berbedak tebal, bubuk itu adalah hamburan mutiara yang sengaja dipakai oleh pengemis itu untuk membuat malu si nenek.

Gemuruh gelak tertawa para jago, selain mereka kaget oleh kelihaian tenaga dalam pengemis aneh itu, merekapun merasa geli oleh perubahan wajah si nenek berambut putih.

Sambil mengusap wajahnya, dengan gemas Pek-hoa-kui-po berseru, "Pengemis bangsat, biar nenek beradu jiwa denganmu!"

Karena malunya dia himpun segenap tenaga-nya untuk melancarkan serangan maut, tapi sebelum serangan itu dilakukan, tiba-tiba ia teringat akan seorang, dengan terkesiap ia berseru kaget, “He, kau pengemis rongsokan, pengemis pemabuk, pengemis tak berbentuk, pengemis bertampang jelek!"

Dengan melotot pengemis aneh itu berseru, "Tanpa wajah mana berbentuk, kalau berbentuk tentu berwajah, nenek tua, kau salah melihat orang!"

Perlu diketahui, Po-kay (pengemis rongsokan), Cui-hua dan Bu-siang-sin-kay (pengemis sakti tak bermuka) adalah tiga dedengkot Kay-paog (perserikatan pengemis) dewasa ini, nama serta kedudukan mereka jauh di atas kedudukan jago dari aliran lain, sekalipun tidak terhitung dalam deretan jago lihai dewasa ini, tapi setiap orang yang menyinggung Kay- pang-sam-lo atau tiga tertua Kay-pang pasti akan menunjukkan sikap menghormat,

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjio segera tertawa dingin, katanya, "Kalau kau bukan Kay-pang-tianglo, kenapa menggunakan Jit-leng-sin-hoat (tujuh gerakan tubuh sakti)? Tolong tanya, dalam perguruan Kay-pang dewasa ini kecuali Sam-lo masih ada siapa yang mahir Ji-Heng-sin-hoat?"

Manusia aneh itu tertawa, katanya, '"Orang di dunia pada mabuk hanya aku sadar sendiri, jagat sama kotor hanya aku bersih sendiri."

Tiba-tiba terdengar seorang menyambung dengan cepat, "Muka dekil baju kotor badan terasa ringan, luar jahat dalam alim hati lebih suci!"

Para jago yang berada dalam gua merasakan pandangannya menjadi kabur, tahu-tahu dihadapan pengemis aneh itu sudah berdiri tiga orang berdandan pengemis, seorang berwajah jelek, seorang lagi kurus kering dan yang ketiga gendut.

Pengemis jelek itu segera maju memberi hormat sambil berkata, "Suhu, Tecu menunggu perintah!"

Ketiga pengemis itu tak lain adalah Kay-pang-sam-lo yang disebut Poh-kay, Cui-kay dan Bu-siang-co-kay tadi.

Sekali lagi semua jago terperanjat, kalau Kay-pang-sam-lo sendiri bersikap begitu menghormat kepada pengemis aneh tadi, bukankah hal ini berarti pengemis tua aneh ini adalah dedengkotnya Kay-pang?

Untuk apakah para tokoh Kay-pang juga muncul di tempat rahasia ini?

Apakah muslihat keji Lamkiong Hian akan menyikat semua orang yang hadir ini akan berhasil!

-oo0dw0oo-