Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 15

Jilid 15

Ketika Ji-sia mengamati lebih teliti pameran laki dan perempuan itu, hatinya seketika terasa hancur.

Sebab yang lelaki bukan lain adalah Kwanliong Ciong-leng, sedang yang perempuan tak lain adalah salah satu di antara kedua belas perempuan cabul itu.

Tampaknya Kwanliong Ciong-leng benar-benar sudah lupa daratan dan terpengaruh oleh nafsu berahi yang berkobar, ia menindihi perempuan ca-bul itu dan menerkamnya dengan buas.

Bukan kesakitan atau ketakutan, perempuaa itu malah tertawa jalang sambil mengimbangi gerakan Kwanliong Ciong- leng..….

Tak lama kemudian, gerakan-gerakan gila itu  mulai mereda, Kwanliong Ciong-leng terkulai lemas, agaknya sari kelaki-lakiannya telah terisap oleh pe-rempuan itu hingga ia kepayahan dan tak bertenaga lagi.

Ji-sia merasa gusar sekali, ia ingin menolong sang paman, tapi sekujur tubuh terasa lemas tak bertenaga, jangankan memberi pertolongan, bergerak pun tak mampu.

Sementara ia marah, gelak tertawa jalang kem-bali berkumandang, menyusul sesosok tubuh yang bugil menggiurkan muncul di hadapannya.

Dengan penuh kemarahan Ji-sia membentak, “Perempuan jalang, enyah kau!”

Tapi bukannya menjauh, perempuan itu se-makin mendekat ke arahnya dan dipeluknya erat-erat……

Ji-sia meronta dengan sekuat tenaga, tapi apa daya, ia tak mampu berkutik, dalam keadaan begini ia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat sambil berusaha mengendalikan diri. Bau harum semerbak aneh tiba-tiba terhembus, mencium bau itu Ji-sia terreranjat, ia berusaha me-nutup pernapasannya, sayang terlambat, bau harum itu sempat menyusup ke tubuhnya dan menjalar ke mana-mana.

Tak terlukiskan rasa kaget Ji-sia, ia sadar bau harum tadi pastilah sebangsa obat perangsang se-perti apa yang pernah dialaminya dulu….

Peristiwa lama terbayang kembali, ia teringat bagaimana dirinya diberi obat perangsang oleh mu-suh hingga berbuat mesum dengan ibunya sendiri….. Ia ingin menjerit, ia berusaha menenangkan pikir-annya dan melawan pengaruh racun itu…..

Tapi, saat itulah segulung hawa panas yang aneh muncul dari perutnya, terus menjalar ke atas dan menerjang ke bawah, ia mulai merasakan pe-ngaruh nafsu berahinya yang makin membara.

Tampaknya perempuan cabul itu tahu korban-nya sudah mulai terserang obat pemabuknya, tiba-tiba ia memperhebat gerakannya untuk menggoda dan memeluk anak muda itu….

Mula-mula Ji-sia masih berusaha mempertahankan diri, tapi lama-kelamaan api berahi yang ber-kobar makin menghebat, semakin ia tahan semakin besar nyala api berahinya….

Tak lama kemudian, pemuda itu merasakan anggota tubuhnya mulai beraksi seperti mengingin-kan sesuatu…..ditambah lagi gerakan perempuan bugil itu makin lama semakin menggila, ia hampir tak kuasa menahan diri.

Pada saat kritis itulah tiba2 muncul seorang gadis berbaju putih dalam ruangan itu, dia tertegun menyaksikan adegan yang luar biasa itu.

Pipinya menjadi merah jengah menyaksikan sepasang laki- perempuan yang sedang “gituan”, diam-diam keluhnya, “Ai, semua ini akibat perbuatan ayah, entah kenapa, ia gemar sekali mencelakai orang lain….”

Tiba2 ia bertekad menolong pemuda itu, ia merasa dangan berbuat demikian sedikit-banyak akan mengurangi dosa yang dilakukan ayahnya selama ini.

Setelah sangsi sejenak, sambil menggigit bibir gadis  berbaju putih itu akhirnya mengambil keputusan, ia tak ingin adegan yang memuakkan itu berlangsung lebih lama.

Tangannya segera bergerak, desing angin tajam segera meluncur ke depan dan menghantam jalan darah Hun-bun, Bi- piau dan Hong-bun-hiat di tu-buh perempuan cabul itu.

Seketika itu juga, permainan gila perempuan itu terhenti sama sekali, tubuhnya yang bugil dan bahenol itupun terkulai lemas.

Dengan tercengang Ji-sia membuka matanya, gumpalan daging yang menindihnya, membuat ma-tanya berkunang- kunang, ia berusaha mengerahkan tenaga untuk menyingkirkan tubuh perempuan itu dari atas badannya.

Tapi sayang ia lemas tak bertenaga, betul-betul lemas, sedikit pun tak mampu bergerak. Kecuali bagian tertentu, seluruh badan Ji-sia lebih lemas dari pada kapas.

Gadis berbaju putih itu menghampiri pemba-ringan dan mendorong tubuh perempuan cabul itu sehingga terguling ke samping. Sedemikian anggun gadis berbaju putih ini, wajahnya cantik jelita bagaikan bunga, matanya jeli, sikapnya yang agung membuat orang tidak berani memandangnya.

Begitu melihat wajahnya, Ji-sia segera kenal siapakah gadis ini, dengan kaget ia berseru, “Nona Oh, kiranya kau……“

Ternyata gadis berbaju putih ini tak lain ada-lah Oh Keng- kiau, putri tunggal Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay- gak, Pocu Thian-seng-po yang dulu. Dulu Ji-sia pernah hidup sebagai penjaga istal kuda dalam benteng Thian-seng-po, tentu saja ia kenal Oh Keng-kiau. Tapi Oh Keng-kiau tidak mengenalinya, karena waktu itu wajah Ji- sia dalam penyamaran.

Oh Keng-kiau menjadi tertegun, tergetar hati-nya ketika menatap wajah pemuda itu, ia merasa Ji-sia amat tampan dan seperti pernah dikenalnya, cuma untuk sesaat ia tak ingat di manakah mereka pernah berjumpa. Karena heran, ia hanya tersenyum hambar.

Ji-sia baru sadar, timbul perasaan aneh demi menyaksikan senyuman itu, untuk sesaat ia terte-gun.

Pelahan Oh Keng-kiau mengalihkan sinar ma-tanya dari wajah anak muda itu hingga ke bawah. Tiba-tiba wajahnya menjadi merah, tapi iapun geli oleh keanehan ‘barang’ yang menegang itu hing-ga ia tertawa cekikikan.

Tertawanya bagaikan bunga yang sedang me-kar, ditambah lesung pipinya yang manis, walaupun ditutup dengan tangannya yang putih, tapi tak bisa menutupi merah jengah wajahnya, kecantikan se-macam ini adalah kecantikan yang suci bersih tan-pa pikiran sesat.

Ji-sia menjadi tertegun, tanpa terasa ia me-mandang tubuh sendiri bagian bawah, seketika ia merasa malu, apalagi di depan seorang gadis yang dikenalnya.

Buru-buru Ji-sia menutupi tubuhnya dengan tangan dan menjerit kaget, saking gelisahnya ia ja-tuh tak sadarkan diri.

Sebab dia tahu Oh Keng-kiau adalah putri tunggal gurunya, Oh Kay-gak, dia masih perawan, mana boleh dirinya berbuat begini di hadapannya? Dan bagaimana pula tangung jawabnya di hadapan gurunya nanti?

Sewaktu Ji-sia sadar kembali, ia mendapatkan dirinya berbaring di dalam sebuah kamar batu, di atas pembaringan kayu cendana yang harum, pe-rabot dalam ruangan pun sangat indah, dinding ber-kilat seperti cermin, dua buah lentera model keraton menerangi ruangan, Oh Keng-kiau dengan baju pu-tihnya sedang berduduk bersandar dengan tersenyum.

Baru saja Ji-sia berpaling, Oh Keng-kiau segera merasakannya, sambil tertawa ia lantas menegur, “Kau telah sadar?”

Pelahan ia menghampiri pembaringan menying-kap kelambu dan bertanya dengan lembut.

Teringat pada kejadian yang baru berlangsung, Ji-sia merasa malu sekali. Ia teringat pula akan pesan terakhir gurunya agar menjaga gadis ini dan waktu itu ia telah me-nyanggupi permintaan gurunya, tentu saja ia tak mau membohongi kakek yang ramah dan hidup merana itu.

Akan tetapi ketika terbayang kembali peristiwa lampaunya yang tragis, hancur luluh hatinya.

Bukankah Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling terluka hatinya lantaran ia tak dapat hidup ber-samanya?

Ji-sia benar-benar terjerumus dalam penderitaan yang luar biasa.

Melihat lama sekali pemuda itu membungkam, Oh Keng- kiau bertanya, “He, kenapa kau cuma me-longo saja tanpa bicara?”

Ji-sia menghela napas, “Nona Oh! Ah, tidak…..adik Kiau aku….. aku……”

“Hei, kita kan baru saja berjumpa, kenapa kau menyebut namaku dengan begitu mesranya?” tegur Oh Keng-kiau dengan dahi berkerut, “Hm, kalau tahu kau ini laki-laki bangor, tidak nanti kutolong jiwamu.” Ji-sia agak tertegun oleh ucapan tersebut, tapi segera ia dapat memahami persoalannya, katanya, “Adik Kiau, kau tak tahu, sesungguhnya kita adalah kenalan lama.”

“Benar!” seru Keng-kiau sambil tertawa, “rasa-nya kita memang sudah kenal, cuma aku tak ingat lagi, siapa sih namamu?

“Aku…. dahulu namaku Cing Hok, bekerja di istal kuda….” Mata Oh Keng-kiau terbelalak lebar, ditatap-nya wajah Ji-

sia lekat- lekat. Sampai lama sekali mereka tidak berbicara.

Akhirnya gadis itu berteriak kegirangan, “Ah, kau benar- benar Cing Hok…..Bukankah kau su-dah mati? Lenyap…..? Wajahmu…..kenapa wa-jahmu berubah…..berubah demikian tampan…..?”

Bicara sampai di sini, air mukanya berubah menjadi merah jengah, ia tidak bicara lagi.

Ji-sia manggut-manggut, katanya, “Adik Kiau, sebenarnya aku bernama Bok Ji-sia. Tempo hari, karena harus menyelidiki benteng kalian maka ter-paksa aku menyaru sebagai tukang kuda….”

Tak tahan lagi pemuda itu menghela napas pedih.

Oh Keng kiau tertawa riang, serunya, “Ooo, jadi kau Bok Ji- sia? Nama yang amat termasyhur da-lam dunia persilatan dewasa ini!”

“Ai, adik Kiau, kenapa kau menolongku?” ta-nya Ji-sia dengan sedih.

Seketika murung wajah gadis itu, serunya tiba-tiba dengan kuatir, ”Ah, aku hanya bicara melulu denganmu, ayo cepat makan obat lebih dulu!”

“Adik Kiau, aku harus makan obat apa?” Kau terkena bubuk racun Mi-hiang-liu-san (bubuk pembangkit nafsu) perempuan siluman itu, konon barang siapa mengisap bau harum itu maka selamanya otaknya tak akan waras, dan tiada obat yang bisa menolongnya, meskipun tampaknya kau belum keracunan hebat, tapi kan lebih baik ber-hati-hati. Maka telah kumasakkan semangkuk-kuah Ho-ci untukmu, hanya kuah ini yang dapat memu-nahkan pengaruh racun jahat Mi-hiang-liu-san ter-sebut!”

Sambil berkata, Oh Keng-kiau menuju ke meja kecil di sisi pembaringan dan mengambil sebuah cangkir antik terbuat dari batu kemala dan diang-surkan kepada anak muda itu.

Hati Ji-sia bergetar keras, buru-buru ia mene-rima cangkir antik itu dengan perasaan terharu, kuah berwarna biru yang harum baunya segera di-minum sampai habis.

Selesai minum obat, Ji-sia menghela napas se-raya berkata, “Adik Kiau, darimana kau tahu obat ini bisa memunahkan racun tersebut?”

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Oh Keng-kiau menjerit kaget, “Aduh celaka! Mungkin kuah yang kau minum itu adalah racun perantas usus, cepat kau tumpahkan kembali!”

Ji-sia terkesiap, pikirnya, “Jika isi mangkuk itu adalah obat racun perantas usus, memangnya aku masih bisa hidup sampai sekarang?”

Sekalipun ia berpikir demikian, ia tetap cemas karena ia tak tahu sampai di manakah kekuatan obat Oh Keng-kiau ini.

Tiba-tiba Oh Keng-kiau berkata lagi, “Kau ti-dak mati setelah minum obat ini, mungkin bukan racun perantas usus, tapi sebangsa racun yang be-kerja lambat, cepat kau coba mengatur pernapasan, periksalah apakah ada sesuatu tempat yang kurang beres?” Karena gadis itu berbicara dengan serius, buru-buru Ji-sia menghimpun hawa murninya, sesaat kemudian air mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Ia menghela napas panjang, lalu katanya de-ngan lirih, “Mati hidup kita telah digariskan takdir, siapapun tak dapat disalahkan!”

Air muka Ji-sia mulai berubah menjadi pucat, lamat-lamat perut terasa agak kaku, hawa murni dalam tubuh mengalir sendiri dan sukar terkendalikan lagi. Tapi saat ini dia tidak dapat berpikir.

Bilamana seseorang mengetahui takdir meng-hendaki demikian dan kekuatan manusia tak da-pat mengatasinya lagi, maka dia akan menunjukkan sikap yang lebih tenang dan tak acuh.

Begitulah keadaan Ji-sia sekarang. Ia merasa jika dirinya bisa mati pada saat ini, hal mana justeru lebih baik lagi, daripada ia harus mati di tangan Kiu-thian-mo-li, waktu itu bukan saja namanya akan ternoda, iapun akan membawa rasa dendamnya ke akhirat, bukankah hal ini jadi lebih celaka lagi?

Saat ini Ji-sia tidak marah, pun tidak mendendam, ia menunjukkan jiwa besar, kalau harus mati ia ingin mati sebagai seorang kesatria, kalau tidak demikian, ia pasti akan ditertawakan Oh Keng-kiau.

Tiba-tiba terdengar Oh Keng-kiau bertanya, “Benarkah kau tidak takut mati? Ai! Semua ini akulah yang salah, aku sembarang memberi obat kepadamu.”

Ji-sia tertawa pedih, katanya, “Adik Kiau, ja-ngan kau menyesali diri sendiri, anggap saja na-sibku memang buruk, sampai hari ini aku Bok Ji-sia belum mati, semua ini adalah berkat pertolong-anmu, maka mati pun aku tidak  menyesal….” Tatkala kata terakhir itu diucapkan, tiba tiba Ji-sia merasakan darah dalam tubuhnya bergolak hebat, tiba-tiba ia terbungkam dan tak sanggup bi-cara lebih lanjut.

Ternyata ia teringat kembali akan dendam berdarah ayah- ibunya, penghinaan yang belum terba-las, tugas gurunya yang belum terselesaikan, kena-pa ia berani bilang mati menyesal? Tapi kalau dipikir kembali, apa pula yang bisa dilakukan sekarang?

Tanpa disadari air mata mengembeng dalam kelopak matanya.

Terbelalak lebar mata Oh Keng-kiau melihat pemuda itu melelehkan air mata, ia berseru terke-siap. Cepat-cepat dihampirinya anak muda itu, lalu dengan menyesal katanya, “Jangan menangis! Obat itu bukan racun!”

Dalam keadaan demikian, Ji-sia mana mau percaya perkataannya itu? Sebab disangkanya gadis itu hanya menghiburnya belaka, maka ia pejamkan mata dan tidak menjawab. Ketika matanya dipejamkan, dua titik air mata segera jatuh membasahi pipinya.

Melihat pemuda itu tak mau menjawab, Oh Keng-kiau bertambah gelisah, ia menarik tangan Ji-sia dan digoyangkan berulang kali, serunya, “Kau takkan mati! Isi mangkuk itu betul-betul Ho-ci-teng yang bisa memunahkan racun Mi- hiang-liu-san!”

Ketika tangan kiri Ji-sia dipegang oleh tangan yang halus bagaikan tak bertulang itu, ia merasa-kan hatinya bergetar keras, ditatapnya wajah si nona.

Alis matanya yang lentik, bulu matanya yang panjang, matanya yang jeli dengan wajah yang suci mempesona, ibaratnya bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Ji-sia menghela napas pelahan, katanya, “Adik Kiau, biar mati pun tak apa, cuma sakit hatiku be-lum terbalas, aku tak ingin mati sekarang…..Ai aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu.”

Ji-sia mengetahui akan kekejian Seng-gwat-kiam Oh Kay- thian, racun yang mengeram dalam tubuhnya sudah pasti bukan cuma racun Mi-hiang-liu-san belaka, maka ia berpendapat, walaupun Oh Keng-kiau benar-benar memberi obat mujarab yang bisa memunahkan racun Mi-hiang-liu-san, juga tak akan memunahkan racun yang lain, sekalipun bisa memunahkan racun yang lain, tapi dengan watak Oh Kay- thian, tentu saja ia tak akan membiarkan dirinya  meninggalkan Thian-seng-po dengan selamat, apalagi dirinya masih berada di tengah ruang raha-sia Thian-seng-po yang penuh dengan alat jebakan.

Oleh sebab itu, Ji-sia ingin mempergunakan kesempatan sebelum mati untuk memberitahukan asal-usul Oh Keng-kiau.

Tapi ketika dia akan buka suara, tiba-tiba terlintas kembali pesan Oh Kay-gak yang meminta kepadanya agar jangan memberitahukan asal-usulnya kepada gadis tersebut, meski menurut perasaannya, ia merasa hal ini harus disampaikan kepadanya.

Maka ia menjadi termenung dan tidak bicara, ia ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Agaknya Oh Keng-kiau tidak mendengar Ji-sia hendak memberitahukan sesuatu kepadanya, dia ha-nya mendengar pemuda itu mengatakan akan mati, hal ini membuatnya kuatir.

“Bok…..Bok…..bukankah kau merasa perut-mu kaku dan tenaga sukar dihimpun kembali?” tanyanya dengan gelisah.

“Ya, memang begitu!” Ji-sia manggut-manggut.

Oh Keng-kiau jadi gembira, serunya, “Itu ber-arti daya ampuh kuah Ho~ci sudah mulai bekerja, asal kau duduk mengatur napas selama setengah jam lagi niscaya akan sembuh seperti sedia kala. Mulai se-karang kaupun tak perlu kuatir akan terpengaruh oleh obat pemabuk seperti itu, sebab kuah Ho-ci adalah obat penawar racun, racun apapun yang ber-sarang di tubuhmu segera akan tersapu bersih.”

Mendengar keterangan tersebut, Ji-sia segera menghimpun tenaga dalamnya dan duduk bersemadi.

Oh Keng-kiau menjadi gelisah melihat pemuda itu hanya pejamkan mata dan tak berbicara, ia ber-maksud menggoyang tubuhnya, siapa tahu, baru tangannya menyentuh tubuhnya, dirasakas segulung tenaga tolakan yang besar menggetar tangannya hingga terpental. Dalam terkejutnya, ia mundur be-berapa langkah. Oh Keng-kiau menyadari apa yang terjadi, se-gera ia mundur ke belakang dan memandangi Ji-sia dengan termangu.

Tidak lama kemudian, lamat-lamat dari wajah Bok Ji-sia yang tampan muncul selapis uap putih, melihat itu Oh Keng- kiau terkejut bercampur girang, pikirnya, “Sungguh tak kusangka tenaga dalamnya sesempurna ini, agaknya jauh lebih hebat daripada Toapepek dan kalah setingkat dibandingkan ayah, cuma sulit juga bagi orang yang berusia semuda dia dapat memiliki tenaga dalam sesempurna ini, Cing Hok, wahai Cing Hok, ah tidak, dia bernama Bok Ji-sia, bukan Cing Hok , wahai Bok Ji-sia…..aku memang tahu engkau bukan manusia sembarangan, ternyata tepat dugaanku.”

Belum lenyap pikiran tersebut, tiba-tiba terde-ngar Bok Ji- sia bersiul nyaring. Siulan yang penuh nada gembira ini menun-jukkan pemuda itu merasa girang karena racun yang mengeram dalam tubuhnya berhasil disapu keluar.

Selesai bersiul nyaring, Ji-sia maju beberapa langkah dan memberi hormat, katanya sambil ter-tawa, “Budi kebaikan ayahmu belum sempat kubalas, kini aku Bok Ji-sia mendapat budi pula dari adik Kiau, semua ini meski badanku harus hancur rasanya sulit untuk membayarnya…..” Oh Keng-kiau menjadi bingung, dengan mata terbelalak pikir ya, “Ia bilang pernah menerima bu-di kebaikan ayahku? Jadi ia keracunan bukan lan-taran perbuatan ayah?”

Oh Keng-kiau, gadis yang patut dikasihani, hingga sekarang ia belum tahu akan asal-usulnya sendiri, dia mengira Seng- gwat-kiam Oh Kay-thian adalah ayahnya, padahal yang dimaksudkan Ji-sia adalah ayahnya yang sudah delapan belas tahun tersekap dalam ruangan terpencil dan akhirnya mati dengan penasaran…..Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak.

Demikianlah, setelah termenung sejenak, Oh Keng-kiau tertawa cekikikan, katanya, “Siapa yang minta balas budimu, bukankah perbuatan semacam ini adalah kewajiban yang harus kulaksanakan? Ai, ayah sudah banyak melakukan perbuatan semacam ini, tindakannya itu sungguh……”

Tiba-tiba ia berhenti, mungkin ia merasa mem-bicarakan dosa ayahnya di hadapan orang lain adalah perbuatan tidak pantas.

Setelah menghela napas sedih, gadis itu kem-bali berkata, “Agaknya guruku merasa tak senang menyaksikan perbuatan ayahku, aku menolongmu sekarang karena melaksanakan apa yang diinginkan guruku, siapa yang mengharapkan balas budimu?”

Dari kata-kata tersebut, ada sebagian yang membingungkan Ji-sia, karenanya pemuda itu men-jadi termangu dan tak tahu bagaimana mesti men-jawab.

Sambil tertawa kemudian ia berkata, “Adik Kiau, kalau memang demikian aku akan menarik kembali kata-kata membalas budi tersebut, tapi ni-atku tak akan berubah, budi kebaikan kalian ayah dan anak kucatat di dalam hati, pada suatu waktu pasti akan kubayar kembali.”

“Huh, kata-katamu itu percuma saja diucapkan!” tiba-tiba Oh Keng-kiau tertawa cekikikan. Ji-sia jadi melengak, baru saja dia hendak memberi penjelasan, dengan tertawa Oh Keng-kiau berkata lagi, “Kalau kau sudah menarik kembali soal balas budi, buat apa pula kau mengatakan akan membayarnya di kemudian hari?”

Ji-sia tidak memberi tanggapan lagi, tanyanya kemudian, “Adik Kiau, dari mana kau tahu cara

memunahkan racun ini?”

Oh Keng-kiau tertawa, katanya, “Begitu mesra kau memanggil diriku, kenapa sama sekali tak tahu masalah dalam keluargaku? Memangnya sang ayah tak bisa mewariskan ilmu beracunnya kepada puterinya?”

Ji-sia merasa sedih, ia merasa jika asal-usul gadis itu tidak diceritakannya, ia benar-benar me-rasa malu terhadap gurunya, Oh Kay-gak.

“Adik Kiau….panggilnya kemudian setelah menghela napas.

“Ada apa?” tanya si nona tercengang.

“Ai, adik Kiau! Tahukah kau tentang ibumu?” “Kau tahu tentang ibuku?”

Oh Keng-kiau balik bertanya dengan kaget, “cepat beritahu padaku, si-apakah ibuku?”

Pelahan Ji-sia menggeleng kepala, “Akupun tak tahu siapakah ibumu, aku hanya bertanya saja.”

Oh Keng-kiau menghela napas sedih, katanya, “Sejak kecil sampai dewasa aku sama sekali tak ta-hu siapakah ibuku. Ayah belum pernah memberitahukan hal ini kepadaku, setiap kali kutanya ten-tang ibuku, dengan wajah murung beliau selalu men-jawab telah mati, katanya mati secara menge-naskan….” Mendengar itu Ji-sia merasakan darah panas-nya mendidih, tukasnya dengan cepat, “Dia sendiri yang mencelakainya….”

“Dicelakai siapa? beritahukan padaku!” seru Oh Keng-kiau.

Bok Ji-sia tertegun, lalu menghela napas pan-jang, sahutnya, “O, bukan! Aku hanya teringat pa-da persoalanku sendiri.”

Sebenarnya Ji-sia hendak memberitahukan ke-padanya bahwa Oh Kay-thian bukan ayahnya me-lainkan musuh besar yang telah memaksa mati ayah-ibunya, tapi ketika dia hendak membuka suara, ti-ba-tiba ia seakan-akan mendengar kembali pesan gurunya, “Nak, aku tak ingin puteriku mengetahui siapa orang tuanya…? Sekarang ia hidup dengan tenang dan gembira, buat apa menyingkap kembali kejadian masa lampau yang penuh kesedihan hing-ga melukai hatinya yang masih suci itu? Dia ada-lah satu-satunya puteriku, asal ia bisa hidup senang dan berbahagia, sekalipun mati aku akan mati de-ngan mata meram……”

Berpikir sampai di sini, Ji-sia urung bicara lagi.

“Ya, benar!” demikian ia berpikir, “sekarang Oh Keng-kiau hidup senang dan bahagia, kenapa aku mengenangkan kejadian masa lampau yang pe-nuh kesedihan itu sehingga hatinya terluka dan me-rasakan pukulan batin yang  berat……?”

Oh Keng-kiau menghela napas sedih, tiba-tiba katanya. “Sekalipun kau tidak memberitahukan pa-daku, aku sendiri juga tahu, dari nada ucapan ayah, agaknya ibuku dipaksa mati oleh Jipekhu (paman kedua) Oh Kay-gak. Hmm, aku amat benci kepada Jipekhu……”

Air muka Ji-sia berubah hebat mendengar per-kataan itu, segera bentaknya, “Adik Kiau, jangan sembarangan bicara, dia….” “Dia adalah ayahmu yang sebenarnya,” kata-kata ini akhirnya ia telan kembali mentah-mentah.

Setelah berhasil menenangkan pikirannya, Ji-sia menghela napas dan berkata lagi, “Adik Kiau, aku berani bersumpah bahwa ibumu bukan dibunuh oleh…. oleh Jipekhu!”

Oleh karena Oh Kay-gak adalah ayah kandung Oh Keng- kiau, maka Ji-sia ragu menyebutnya se-bagai pamannya.

Mendengar itu, entah apa sebabnya Oh Keng-kiau berdiri termangu seperti orang linglung.

Kemudian iapun berpikir, “Aneh, cara bicara-nya ternyata persis seperti Suhu, jangan-jangan tu-duhan ayah yang mengatakan ibu mati dicelakai oleh Jipekhu adalah tuduhan yang salah?”

Melihat gadis itu membungkam, Ji-sia berseru lagi dengan cemas, “Adik Kiau, kau harus percaya kepadaku, aku sama sekali tidak bohong padamu!”

Tiba-tiba Oh Keng-kiau menarik muka, lalu berkata dengan dingin, “Kenapa kau panggil aku dengan begini mesranya?”

Ji-sia terkesiap, tapi segera ia tertawa, “Apakah tidak pantas kupanggil dirimu sebagai adik?”

Keng-kiau menggeleng kepala, ia mendengus, sahutnya, “Tidak, kutahu di balik ini pasti ada rahasia lain, kau harus menerangkannya kepadaku!”

“Jangan-jangan ia mulai curiga?” pikir Ji-sia dengan terkesiap, “tapi begitupun ada baiknya, se-moga Thian membiarkan dia memahami sendiri akan asal-usulnya.”

Berpikir demikian, ia lantas berlagak tidak me-ngerti, tanyanya, “Adik Kiau, kau suruh aku bicara soal apa?”

“Bicara soal hubunganmu denganku?” “Persahabatan biasa!” jawab Ji-sia tak acuh. “Omong kosong!” bentak Keng-kiau, “Aku tahu kau adalah seorang yang angkuh, kalau tiada hu-bungan yang istimewa, tak nanti kau mau menye-butku sebagai adik, selain itu sikapmu bicara juga aneh sekali…..”

Ketika mengucapkan kata-kata ini, nada si ga-dis keras dan nyaring seakan-akan sedang mendamperatnya.

Diam-diam Ji-sia merasa terperanjat, pikirnya, “Tak kusangka begitu cermat jalan pikirannya, ka-lau demikian halnya dia pasti dapat menyelidiki sen-diri asal-usulnya…”

Entah mengapa, tiba-tiba Oh Keng-kiau meng-hela napas sedih, kemudian berkata, “Bok…..Bok~ heng…. maafkanlah kekasaranku, kau tidak marah bukan?”

“Adik Kiau, masa aku menyalahkan dirimu?”

Dengan wajah merah jengah Oh Keng-kiau berkata lagi, “Tadi aku takut kau dating kemari untuk mencelakai ayahku, Ai, sesungguhnya ayah-ku cuma ada beberapa sifatnya yang aneh, padahal ia orang tua sangat ramah, tabiatnya pun baik sekali. Masih ada satu hal lagi, ia tidak suka aku bergaul dengan orang muda, jika ia melihat aku berada bersama pemuda maka dia akan mengusir orang itu dan mendamperatku habis-habisan.”

Bicara sampai di sini, senyumnya tiba-tiba le-nyap, sambil menghela napas ia mengerling sekejap ke arah Bok Ji-sia dengan aneh, lalu katanya lagi, “Aku tak ingin engkau diusir ayah, atau dibunuh olehnya!”

Ketika melihat sorot matanya yang lembut ser-ta mendengar perkataannya yang hangat, diam-diam Ji -sia terperanjat. Terhadapnya ia mempunyai suatu perasaan yang aneh, meskipun pengalaman yang tragis masa lalu membuat ia tak bergairah untuk main cinta lagi terhadap perempuan lain, tapi senyuman Oh Keng-kiau, kelembutannya…..bagaikan sumber air yang jernih mengalir ke lubuk hatinya… Ji-sia mulai merasa tak tenang….

Anehnya sejak Ji-sia mengalami peristiwa tragis dengan ibunya sendiri, selapis bayangan kematian sesungguhnya telah menyelimuti perasaannya, ia te-lah bertekad akan bunuh diri sehabis membalas dendam, karena itu cinta dari gadis-gadis seperti Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling, Cu Giok-ceng dan lain-lain telah ditolaknya mentah-mentah.

Akan tetapi terhadap Oh Keng-kiau, tiba-tiba saja dalam hatinya timbul semacam perasaan cinta yang aneh sekali.

Ia sendiri tak tahu apa sebabnya. Mungkin ka-rena Oh Keng-kiau adalah putrinya Oh Kay-gak, maka perasaan cinta itu timbul akibat budi yang pernah diterimanya?

Waktu itu dengan wajah merah jengah Keng-kiau sedang memandang Ji-sia dengan termangu-mangu. Sekulum senyuman pun menghiasi ujung bibir Ji-sia, tapi ia tidak berbicara apa-apa.

Suasana dalam ruangan hening, tapi tidak te-rasa membosankan. Kedua orang saling memandang tanpa bicara, tapi senyuman manis menghiasi wa-jah masing-masing. Senyuman lembut dan manis.

Semenjak mengalami peristiwa tragis, belum pernah Ji-sia mengalami ketenangan jiwa, selalu terbenam dalam kepedihan, baru sekarang…..

“Trang!” mendadak dari atas tirai pintu ber-kumandang suara keleningan yang nyaring.

Dengan terperanjat Bok Ji-sia mendongakkan kepalanya, ternyata di atas tirai pintu terikat seutas tali, pada ujung tali tergantung sebuah keleningan kecil, seandainya tidak diperhatikan dengan saksa-ma, sulit untuk ditemukan, tapi kenapa keleningan itu bersuara? Dengan perasaan curiga ia berpaling ke arah Oh Keng-kiau, tampak gadis itu sedang memandang ke luar pintu dengan air muka berubah.

“Hiang-lan, masuklah!” serunya kemudian de-ngan suara tertahan.

Sesosok bayangan hijau berkelebat, bau harum berhembus, seorang nyonya muda yang berdandan genit dengan kain hijau menutupi dada dan perutnya telah masuk ke dalam ruangan, kedua lengan-nya dalam keadaan telanjang.

Nyonya muda ini berusia antara 23-24 tahun-an, tubuhnya montok, dandanannya menyolok te-rutama sekali wajahnya yang bulat dengan lirikan matanya yang membetot sukma, bila dibandingkan kedua belas perempuan cabul itu, ia tampak lebih memikat…..

Terperanjat Ji-sia melihat kehadiran perempuan itu, pikirnya, “Dari mana Oh Kay-thian mendapat-kan begitu banyak perempuan cabul ini? Semoga nyonya muda ini bukan sebangsa perempuan cabul tadi.

Dalam pada itu, nyonya muda ku telah mem-beri hormat kepada Oh Keng-kiau, lalu berkata, “Nona, tempat ini tak boleh ditempati terlalu lama, ayahmu telah mendapat laporan…..”

“Apa? Kenapa Hiang-lan tidak datang mem-beri lapor?” dengan air muka berubah Oh Keng-kiau berseru.

“Hiang-lan telah ditahan ayahmu!”

“Wah celaka, bagaimana baiknya sekarang?” seru Keng- kiau sambil mengentakkan kaki ke tanah.

“Nona, kalau ia tidak cepat dibawa pergi, bila ketahuan ayahmu, pasti aku akan disiksanya sete-ngah mati.”

Tampaknya Oh Keng-kiau gelisah sekali, seru-nya cemas, “Lantas bagaimana baiknya sekarang?” “Bagaimana baiknya? Ia tak mungkin keluar dari si-ni, jalan tembus hanya ada satu, bagaimana mung-kin ia bisa keluar dari tempat ini?

“Nona, lebih baik sembunyikan saja untuk se-mentara waktu dalam kamarku!”

“Ah, ada akal!” tiba-tiba Keng-kiau berseru se-telah berpikir sebentar.

Ji-sia pun merasakan gelisah, sebab ia tahu bi-la dirinya terkurung di tengah alat jebakan, kalau ingin keluar lewat jalan yang benar, maka dia ha-rus menembus benteng Thian- seng-po, berarti ha-rus menembus pula pelbagai alat jebakan yang ber-lapis-lapis, bahkau mungkin belum jauh ia menyusup keluar sudah mati di tangan musuh secara mengeri-kan.

Ia menjadi murung, setelah mengetahui tiada jalan lain kecuali jalan yang ada ini, maka demi mendengar perkataan Keng-kiau tadi, cepat ia ta-nya, “Adik Kiau, benarkah masih ada jalan lain?”

“Nona, apakah kau hendak membawanya ke tempat tinggal gurumu?” tanya nyonya muda tadi.

“Ai, cuma tempat pengasingan guruku tak bisa didatangi oleh setiap anggota benteng, sekalipun ayahku sendiri juga  tak berani melanggarnya, tapi, engkoh Bok adalah…..adalah orang luar….”

“Adik Kiau,” kata Ji-sia sambil menghela na-pas, “kalian boleh segera pergi dari sini, biar aku menerjang keluar benteng ini seorang diri.”

“Engkoh Bok, kau tak boleh sembarangan me-nerjang, kalau terjadi sesuatu atas dirimu, bukankah sia-sia belaka usahaku menolongmu? Ai, di antara jebakan-jebakan di bawah tanah hanya jalan menuju ke ruang Hui-sim yang ditempati guruku saja merupakan jalan tembus, agaknya terpaksa aku harus memohon kepada Suhu agar mengizinkan kau lewat sana.”

“Nona, jika kau sendiri yang membawa dia ke ruang Hui- sim, ayahmu pasti akan mengetahuinya, kukira lebih baik kau turut saja usulku tadi, biar-kan dia tinggal sementara dalam kamarku, bebera-pa hari lagi baru keluar dari sini, sedang kaupun bisa menggunakan kesempatan selama beberapa hari ini untuk berunding dengan gurumu.”

Keng-kiau ragu-ragu sejenak, akhirnya ia men-jawab, “Baiklah, Mi-nio! Untuk sementara kuserah-kan dia kepadamu, tapi kalau terjadi apa-apa, hati-hati kalau kubunuh kau!”

Kiranya Mi-nio adalah seorang perempuan jalang yang  amat cabul, kedua belas orang perempuan iblis itu dilatih oleh Oh Kay-thian berdasarkan se-gala kecabulan Mi-nio ini, jadi boleh dibilang dia adalah cikal bakal kawanan perempuan cabul itu.

Tentu saja Keng-kiau mengetahui Mi-nio ada-lah seorang perempuan cabul, tapi ia pikir tak mungkin Mi-nio berani mengkhianatinya, karena perempuan itu pernah ditolongnya sekali, pula ke-tika Bok Ji-sia ditangkap kedua belas perempuan iblis itu. Mi-nio juga yang melaporkan kejadian ter-sebut kepadanya, jadi ia tak mungkin mencelakai pemuda tersebut.

Terdengar Mi-nio tertawa cekikikan, kemudian berkata, “Nona, menolong orang harus menolong sampai akhir, memangnya bisa kutelan dia?”

“Hmm, kutahu kau takkan berani. Nah, seka-rang aku pergi dulu!”

Selesai berkata Keng-kiau lantas berjalan lewat pintu samping, tapi sebelum pergi ia berpaling lagi sambil  berpesan, “Engkoh Bok, kau mesti hati-hati, cepatlah pergi mengikuti Mi-nio!” Habis berkata bagaikan burung walet ia me-nyelinap keluar ruangan. Sampai di manakah rasa cinta Oh Keng-kiau terhadap Bok Ji-sia dapat dilihat dari semua tin-dakan dan ucapannya yang sederhana itu.

Tiba-tiba Mi-nio berkata dengan merdu, “Saudara cilik, tampaknya nona kami baik sekali kepadamu.”

“Ya, aku orang she Bok sudah banyak menerima budi kebaikan mereka ayah dan anak.”

“Apa kau bilang?” seru Mi-nio dengan mata terbe-lalak. “Sudahlah, jangan dibicarakan lagi, mari kita beraagkat!

Harap enci Mi suka menunjukkan jalan.”

Mi-nio tertawa, sambil melemparkan kerling-an yang membetot sukma serunya, “Saudara cilik, kau betul-betul pandai menyenangkan hati orang!”

Segera ia berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan itu. Hampir semaput Ji-sia oleh kerlingan yang be-tul-betul membetot sukma itu.

Sebenarnya ia tak suka menerima perlindungan seorang perempuan, apalagi melakukan perja-lanan bersama Mi-nio yang genit, betapapun ia me-rasa waswas, ia mengikuti di belakangnya dan ber-lalu dari sana.

Di bawah pimpinan Mi-nio, mereka melalui sebuah jalan tembus yang amat panjang dan me-lewati beberapa puluh ruangan, tapi tak seorangpun penjaganya yang dijumpai, diam-diam Ji-sia kagum juga atas kehebatan bangunan Thian- seng-po yang megah itu.

Waktu itu mereka berdua telah tiba di ujung lorong yang panjang itu, tiba-tiba Mi-nio membalik tubuh dan menerjang Ji-sia.

Oleh karena jaraknya terlampau dekat, ketika Ji-sia merasa terkejut, wajah Mi-nio sudah berada di depan hidungnya, berbareng tangan kanan di-kibaskan, selapis asap merah segera menyebar.

Begitu kabut merah itu menyebar, Ji-sia segera merasakan bau harum yang aneh menembus hidung-nya dan terisap ke dalam perut.

Ketika ia mengetahui Mi-nio menerjang ke arah-nya tadi, ia mengira perempuan tersebut hendak turun tangan keji kepadanya, maka sambil meng-himpun tenaga, dalam ia siap menyambut serangan orang, siapa tahu yang disebarkan adalah bubuk pemabuk cinta yang berbau harum.

Kendatipun reaksinya cukup cepat dan begitu mengendus bau harum pernapasannya lantas ditu-tup, tapi toh masih terlambat juga. Apalagi dahulu Mi-nio memang seorang pe-rempuan cabul yang amat termashur dalam dunia persilatan dengan nama Mi-hun-sian-cu (dewi pe-mabuk sukma).

Entah berapa lama sudah lewat. Semua pakaian yang dikenakan Ji-sia seperti juga ketika ditangkap kedua belas perempuan iblis itu, telah dilepaskan hingga telanjang bulat. Tubuh-nya yang bugil terbaring di atas pembaringan ga-ding yang menyiarkan bau harum semerbak.

Tepat di depan wajahnya sedang bergerak se-raut wajah cantik jelita yang menawan hati. Semen-tara tubuhnya yang montok menindih di atas tubuhnya yang dalam keadaan telanjang.

Ketika Ji-sia membuka matanya, yang dilihat pertama-tama adalah bagian terlarang dari perem-puan itu.

Itulah bagian tubuh yang merangsang berahi, hampir saja pemuda itu tak tahan. Sedangkan perempuan itu sendiri tidak lain adalah Mi-nio yang cantik itu. Tak terlukiskan rasa gusar Ji-sia, buru-buru ia mencoba menghimpun tenaga dalamnya. Ketika diketahui jalan hawa murni lancar se-perti biasa, sama sekali tiada gejala keracunan se-perti yang dikuatirkan semula, kontan hatinya men-jadi tenang kembali.

Pada saat itulah, tiba-tiba Ji-sia merasa tubuh yang menempel di atas dadanya itu mulai bergerak dan….

Dengan gusar Ji-sia membentak, telapak tangan kanannya segera menghantam.

“Plok!” tubuh Mi-nio mencelat sejauh dua tombak lebih dan terkapar di ujung dinding.

“Perempuan siluman yang tak tahu malu!” ma-ki Ji-sia.

Sambil memaki ia melompat bangun dan me-nyambar pakaian di ujung pembaringan lalu buru-buru dikenakan.

Selesai berpakaian, tampaklah Mi-nio yang ter-banting di ujung dinding sana ternyata sama sekali tidak terluka, bahkan dengan senyuman cabul se-dang berjalan menghampirinya.

Bok Ji-sia tidak biasa melihat tubuh yang bugil, dengan gusar kembali ia membentak, “Berhenti! Cepat kenakan pakaianmu!”

Sambil berseru ia menyambar sepotong pakaian dan dilemparkan padanya.

Seandainya peristiwa ini terjadi di luar benteng, dengan watak Ji-sia yang angkuh niscaya perbuatan

Mi-nio yang cabul dan berani mempermainkan dirinya ini akan membangkitkan amarah untuk membunuhnya.

Tapi sekarang ia berada dalam sarang harimau, mau-tak- mau hawa amarahnya harus ditahan. Dengan cepat Mi-nio kenakan pakaiannya hingga tubuhnya yang putih montok itu tertutup.

Setelah itu, pelahan ia berjalan ke hadapan pemuda itu. Bagaikan berjumpa dengan ular berbisa, Ji-sia melompat mundur selangkah, lalu serunya dengan dingin, “Jika kau tidak berhenti, jangan salahkan aku akan bertindak kasar kepadamu!”

Dengan genit Mi-nio mengerling sekejap, lalu tertawa terkekeh, “Kau betul-betul tak tahu ba-gaimana caranya menyayangi perempuan, untung aku yang kau pukul, coba kalau orang lain, niscaya jiwamu sudah melayang. Tampangmu kelihatan me-nyenangkan, tak tersangka kau tak tahu menyayangi perempuan!”

Di tengah suaranya yang merdu merayu, ma-tanya yang genit melemparkan kerlingan membetot sukma.

Dipandang cara demikian, Ji-sia merasa tidak tenang, dengan wajah merah serunya, “Dengan per-buatan itu, apakah kau tidak malu terhadap no-namu?”

Mi-nio tertawa cekikikan, “Rupanya kau be-lum tahu siapakah aku?”

“Aku tak peduli siapa dirimu!” bentak Ji-sia.

“Saudara cilik, tahukah kaa bahwa aku ini Mi-hun-siancu yang tersohor dalam dunia persi-latan?”

Begitu mendengar nama “Mi-hun-siancu”, ha-ti Ji-sia bergetar keras, pikirnya, “Celaka, aku ha-rus cepat-cepat meninggalkan perempuan cabul ini!”

Perlu diketahui, Mi-hun-siancu sudah memiliki nama yang tersohor dalam dunia persilatan semen-jak tujuh tahun berselang, banyak sekali laki-laki muda dari dunia persilatan yang terjebak oleh tak-tik pembetot sukmanya, jarang ada orang yang ber-hasil lolos dengan selamat.

Mimpipun Ji-sia tidak menyangka perempuan cabul yang tersohor itu ternyata masih begini muda. Dengan langkah lemah gemulai, Mi-hun-siancu maju ke depan dan meraba bahu Bok Ji-sia de-ngan mesra, katanya dengan lirih, “Saudara cilik, bukan saja Cici bersedia buka pakaian di hadapanmu, akupun bersedia bermesraan dengan tubuh me-nempel tubuh, masakah kau tidak mau memenuhi harapan Cicimu ini? Ketahuilah, Cici tidak seperti kedua belas perempuan iblis yang gemar menghirup darah orang dan sama sekali tak berperasaan, asal kau mau memuaskan Cici selama beberapa hari pasti Cici akan mengantarmu keluar dari sini de-ngan selamat.”

Mi-hun-siancu berdiri sedemikian dekatnya de-ngan pemuda itu hingga suaranya yang lembut dan wajah cantiknya yang membetot sukma membuat Ji-sia merasakan wajahnya jadi merah padam, jan-tungnya berdebar lebih keras lagi.

Untunglah tenaga dalam Ji-sia amat sempurna, walaupun menghadapi adegan merangsang, ia masih dapat mengendalikan kobaran berahinya.

Dengan wajah serius ia mendorong perempuan itu ke belakang, lalu mendengus dan katanya, “Kau tak tahu malu, aku adalah seorang laki-laki sejati, tak nanti mau memuaskan nafsu berahimu yang kotor dan memuakkan itu. Cis! Jika kau tidak….”

Mi-hun-siancu terkekeh-kekeh dengan jalang-nya, dengan cepat ia menukas makian Ji-sia itu, “Aduh, saudara cilik, pada bagian manakah Cici tidak memuaskanmu? Coba lihatlah tubuh Cici yang padat ini, apakah kau masih belum puas? Aduh, kenapa kaubuang kesempatan untuk bersenang-senang denganku? Sebaliknya malah……”

Ketika di dengarnya perkataan perempuan itu makin lama makin tak sedap, murkalah Ji-sia, suatu pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan. Mimpi pun Mi-hun-siancu Mi-nio tidak me-ngira Ji-sia begitu tak punya perasaan, bahkan be-gitu ketus, mau turun tangan lantas turun tangan.

Sepanjang pengalamannya, belum pernah ada seorang laki- laki yang berhadapan dengannya de-ngan cara seperti ini, maka ia sama sekali tidak mengadakan persiapan apa-apa.

Ketika segulung angin pukulan dahsyat me-nyambar tubuhnya, dengan kaget ia mundnr lima-enam langkah ke belakang.

Ji-sia mendesak maju, kedua tangan diayunkan bersama, dengan segenap tenaga dalam dia hantam jalan darah kematian lawan.

“Anak goblok!” maki Mi-hun-siancu dengan mata melotot, “diajak bersenang-senang tak mau, rupanya kau bosan  hidup!”

Agaknya ia benar-benar naik darah, dengan kedua tangan ia sambut serangan tersebut. Tapi sayang ia terlampau rendah menilai te-naga dalam Bok Ji-sia…..

“Blang!” benturan keras terjadi, sambil men-dengus tertahan, Mi-hun-siancu mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, wajahnya pucat se-perti mayat. Ji-sia benar- benar benci terhadap perempuan cabul itu, kelima jari tangan kanan sagera menca-kar wajah perempuan itu.

Jerit melengking karena kaget berkumandang, di atas wajah Mi-hun-siancu yang genit dan cantik itu muncul lima jalur bekas cakaran, darah segar mengucur membasahi mukanya. Dalam sekejap ma-ta ia berubah jadi jelek dan menyeramkan.

Dengan cepat perempuan itu memutar badan dan menerjang keluar ruangan….

Bok Ji-sia cukup mengerti bahwa setiap ruangan di bawah tanah Thian-seng-po telah diperlengkapi dengan alat rahasia yang hebat, karena kuatir Mi-nio memasang alat rahasia, maka buru-buru ia menyusul dari belakang….

Dengan suatu gerakan cepat Mi-hun-siancu menyelinap masuk ke dalam sebuah pintu batu. Ji-sia cepat menubruk masuk pula, Tapi pada saat lain pintu batu mendadak tertutup rapat se-cara otomatis….

Suasana menjadi gelap gulita, Ji-sia mengerah-kan tenaga dalam dan mengawasi sekelilingnya, apa yang kemudian terlihat membuatnya terperanjat.

Ternyata ia telah berada dalam sebuah lorong yang sempit, dingin dan menyeramkan…..Berapa dalam lorong ini?

Ia tak tahu. Hanya selisih beberapa langkah saja Mi-hun- siancu sudah kabur entah ke mana?

Dalam keadaan demikian, terpaksa Ji-sia meng-himpun tenaga dalam dan menyilangkan tangannya melindungi dada, kemudian selangkah demi selang-kah masuk lebih ke dalam.

Tujuh-delapan tombak jauhnya ia berjalan, na-mun tiada sesosok bayangan pun yang tampak, ti-dak terdengar pula suara manusia….

Makin ke dalam suasana dalam lorong itu se-makin gelap, angin dingin berhembus kencang, namun udara sedikit pun tidak lembab atau berbau busuk, agaknya di sekitar sana terdapat banyak lobang hawa.

Bicara kemampuan Bok Ji-sia untuk melihat, walau di tengah kegelapan biasanya ia sanggup me-nembus kegelapan sejauh dua tombak lebih, tapi sekarang benda yang berada dekat di hadapannya tak sanggup dilihatnya dengan jelas.

Tanpa terasa hatinya mulai tercekam ketegang-an…..

Lamat-lamat ia merasa dalam lorong itu seakan-akan terdapat selapis benda yang sukar dikatakan dan tak bisa terlihat. Benda itu telah mengalangi daya penglihatan-nya, menghilangkan pula ketajaman pendengaran-nya, suara yang berada tiga tombak jauhnya dari sana pun tak dapat  ditangkap olehnya.

Tiba-tiba Ji-sia menghentikan langkahnya. Dalam suasana remang-remang, ia merasa ada segulung angin dingin berhembus tiba, menyerempet wajahnya dan lenyap tak berbekas.

Ji-sia membentak kaget, suara bentakan ngeri dan juga gusar.

Menyusul tubuhnya melambung ke atas, ke-mudian berputar satu lingkaran dengan cepat, pi-kirnya, “Asalkan dia bukan setan, aku yakin pihak lawan tak akan lolos dari pengejaranku yang cepat ini.”

Tapi suasana di sekeliling tempat itu amat ge-lap dan sunyi, tak sesosok bayangan pun yang tam-pak, hanya ada selapis bayangan setan yang gelap.

Hal ini membuat Ji-sia terkejut, ia menarik napas dingin dan menelan air liur. Mendadak Ji-sia merasakan sesuatu yang tak beres, ia ingat lorong itu amat sempit, tapi meng-apa ia dapat membuat lingkaran luas tanpa menum-buk dinding batu di kedua sisinya?

Pemuda itu segera merasakan lorong itu agak aneh, ia tak berani lagi melanjutkan perjalanannya. Setelah termenung sebentar, ia berdiri dan meng-heningkan cipta. Tak lama kemudian hawa murni-nya mengitari seluruh badan dan memasuki keadaan lupa segalanya.

Bisa tenang di depan bahaya, kalau bukan se-orang yang memiliki kecerdasan luar biasa, sulit ra-sanya melakukan hal itu, tapi Bok Ji-sia yang be-lakangan ini memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silatnya, ia tahu tempat ini bukan tempat yang aman, dalam keadaan begini ia tak boleh sembrono, sebab bukan mustahil akan mendatangkan kesulitan, bahkan kematian bagi diri sendiri.

Begitulah, setelah bersemadi sekian waktu, tiba-tiba ia merasa tak jauh di sana berkumandang suara langkah kaki yang amat pelahan.

Langkah kaki itu lirih sekali, seandainya bu-kan sedang memusatkan pikiran sulit rasanya me-nangkap suara itu.

Ji-sia terkesiap, setelah menentukan arah sasa-rannya, dengan memberanikan diri ia maju ke sana. Berjalan lebih kurang belasan kaki di tengah kegelapan, di depan sana muncul lagi sebuah din-ding hitam yang mengalangi jalannya, tapi di se-belah kiri-kanan terbentang dua buah lorong.

Angin dingin yang merasuk tulang itu justeru berhembus dari kedua lorong tersebut.

Ji-sia berkerut dahi, lalu memperhatikan lagi dengan saksama, ternyata suara tadi sudah lenyap. Ia menjadi bingung dan tak tahu harus memilih ja-lan mana di antara kedua lorong yang ada se-karang.

Sedangkan suara langkah yang pelahan itu datangnya begitu mendadak, kini lenyap pula secara cepat.

Tiba-tiba ia merasakan keadaan agak kurang menguntungkan.

Sedikitnya sudah lebih 30 tombak ia menelusuri lorong tersebut, tapi bayangan Mi-hun-siancu belum nampak juga. Kalau dibilang Mi-hun-siancu telah kabur me-lalui salah satu di antara kedua lorong ini, hal ini jelas tak mungkin, karena perempuan itu sudah terluka dan langkah kakinya pasti berat, bila berada dalam satu lorong yang sama, kenapa tidak terde-ngar sesuatu suara?

Waktu ia mendongak, tiba-tiba ia terperanjat. Kiranya ia berdiri di suatu ruangan yang sangat luas dan tingginya lebih empat tombak, kira-kira tiga tombak dari permukaan tanah terpancang sebuah papan berwarna emas, di tengah kegelapan huruf-huruf pada papan itu memancarkan sinar berwarna kehijau-hijauan.

“Hui-sim-ceng-sit”, empat huruf besar terbaca.

Ji-sia bersuara heran, pikirnya, “Oh Keng-kiau mengatakan gurunya berdiam di ruangan Hui-sim-ceng-sit dan tempat ini merupakan satu-satunya ja-lan yang langsung tembus ke luar benteng, agaknya salah satu dari kedua jalan tembus yang ada se-karang inilah bisa langsung ke luar benteng.”

Berpikir demikian, Ji-sia segera memilih lorong sebelah kanan dan menelusurinya, tapi baru dua tombak jauhnya ia lantas menghela napas, ternyata jalan di depan buntu.

Maka dia balik lagi ke tempat semula dan me-nelusuri jalan sebelah kiri, tapi baru dua tombak jalan inipun berakhir.

Hal ini membuat Ji-sia menjadi bingung, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, “Oh Keng-kiau mengatakan lorong rahasia yang berhubungan langsung dengan luar benteng harus lewat ruang Hui-sim-ceng-sit, jangan-jangan jalan tembusnya berada dalam ruangan itu.”

Karena pikiran ini ia lantas menerjang ke arah dinding hitam tadi. Siapa tahu tangannya menyentuh tempat yang amat dingin dan sama sekali tiada tempat berpe-gangan, selain itu dinding hitam ini membentang ke kanan-kiri seolah- olah sebuah dinding batu alam, sama sekali tiada celah-celah yang ditemukan.

Ji-sia jadi tertegun, ia coba memeriksa sekeli-lingnya untuk mencari tempat yang kiranya bisa dibuat pegangan.

Tiba-tiba ia maju selangkah, hawa murninya dihimpun dan segera menghantam ke arah papan nama emas tadi. Kiranya secara tiba-tiba ia teringat pada tom-bol rahasia dalam benteng Thian-seng-po yang kebanyakan terletak pada tulisan. Siapa tahu ketika angin pukulannya yang dahsyat itu menghantam ke depan, dinding hitam itu sama sekali tak bergerak, bahkan karena menggunakan tenaga terlampau besar, dia malah tergetar mundur dua langkah.

Ji-sia mengernyitkan alis, sementara ia masih mencari kian kemari, mendadak suatu hal aneh te-lah terjadi. Dinding hitam yang sama sekali tak bergerak walau sudah dihantam dengan sepenuh tenaga tadi, kini menunjukkan reaksinya.

Di mana ia melakukan dorongan tadi, kini muncul beberapa huruf yang memancarkan sinar gemerlapan, tulisan itu besar dan menyolok sekali.

Ketika diperhatikan lebih teliti, terbacalah tulis-an itu berbunyi,

“Membunuh orang hanya perlu mengangguk, mengapa tidak biarkan mereka me-netap di akhirat?

Budi dan cinta masa lalu tinggal seonggok sampah, kalau dibilang benci aku paling benci,

kalau dibilang cinta aku paling cinta, benci dan cinta saling bertaut,

tinggal dalam ruang Hui-sim untuk menyesali nasib”.

Untuk sesaat Ji-sia termangu-mangu, ia tidak mengerti makna tulisan tersebut namun lamat-lamat dia tahu bahwa penghuni ruangan ini mempunyai pengalaman mata lalu yang menyedihkan, dan peris-tiwa itu timbul karena cinta dan benci antara mu-da-mudi, maka sekarang ia hendak menggunakan ruangan Hui-sim-ceng-sit untuk menyesali kejadian masa lampau.

Suatu perasaan aneh mendadak timbul dalam hatinya, ia pejamkan mata dan termenung pula. Tiba-tiba suara langkah kaki yang lirih tadi kembali berkumandang.

Air muka Bok Ji-sia berubah menjadi serius, sinar mata tajam terpancar, cepat ia berpaling ke samping, Tapi sayang lorong rahasia itu terlalu gelap, ia tak berhasil menemukan sesuatu.

Pemuda itu yakin bahwa suara yang didengar-nya itu adalah suara langkah manusia, langkah ka-ki itu berasal dari lorong sebelah barat dan kede-ngaran sangat pelahan.

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benak-nya, dengan suatu gerakan ringan dia melayang ke atas papan nama emas itu, lalu dengan sorot mata yang tajam ia perhatikan lorong sebelah barat sana.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki tadi berhenti lagi. Lorong yang gelap gulita itu tetap hening, tak sesosok bayangan yang tampak.

Menghadapi hal ini, dengan tercengang Ji-sia melompat turun kembali ke tanah. Tapi, pada saat itulah hembusan angin dingin menyambar tiba, sambil mendengus Ji-sia segera memutar tubuh sambil melancarkan sebuah pukul-an untuk menyambut datangnya ancaman.

“Wess!” angin pukulan yang kuat menggulung ke depan dan menghantam dinding tembok, kemu-dian muncul segulung angin berpusing yang meman-tul kembali dan mengibarkan ujung bajunya.

Ji-sia terkesiap, ia merasa gerak tubuh orang itu sedemikian cepatnya, sehingga sukar diikuti.

Buru-buru Ji-sia menghimpun tenaga dalam dan memeriksa sekelilingnya, tapi tetap tak kelihat-an sesuatu.

Ia tahu ada orang bersembunyi tak jauh di sekitar situ, tapi tak jelas di manakah orang bersem-bunyi. Ji-sia berdiri tenang beberapa saat di sana, la-lu tiba-tiba katanya, “Jago lihai penghuni Hui-sim-ceng-sit, harap tampilkan dirimu, aku orang she Bok tidak sengaja datang kemari, aku tersesat dan sampai di sini, maafkan bila telah mengganggu ke-tenangan Anda.”

Baru selesai berkata, suara tertawa dingin ber-kumandang, tiba-tiba dari atas papan nama emas melayang turun sesosok bayangan.

Kecepatan gerak orang itu sungguh membuat Ji-sia terperanjat, apabila ia menengok ke de-pan, ia tambah terkesiap. Mimpipun ia tak mengira pihak lawan me-nyembunyikan diri di atas papan nama emas itu, coba kalau orang hendak melukainya, sepuluh nyawapun mungkin sudah lenyap sedari tadi. Padahal Bok Ji-sia tidak tahu bahwa orang itu baru melompat naik ke atas papan nama emas ter-sebut waktu ia melayang turun tadi.

Dilihatnya di depannya sekarang telah berdiri seorang nenek berambut putih bertongkat, namun mukanya ditutup oleh selapis kain cadar sehingga susah untuk diketahui wajah aslinya.

“Tolong tanya, apakah nenek adalah guru Oh Keng-kiau?” Ji-sia segera menyapa dengan ramah.

Senyuman dingin menghiasi bibir nenek itu, tegurnya, “Siapa kau?”

“Aku she Bok bernama Ji-sia, tanpa sengaja tiba di sini, mohon dimaafkan!”

Nenek bercadar itu tertawa seram, “Hehehe, kau bohong, bukankah kedatanganmu untuk me-nunaikan kewajiban atas perintah orang?”

Sejak kecil Ji-sia berwatak angkuh, kata-kata “diperintah orang” tersebut amat menyinggung perasaannya, seketika amarahnya berkobar. Ia tertawa, katanya, “Selain hidupku tak per-nah diperintah orang, akupun tak pernah bohong!”

“Jadi kau datang kemari atas dasar kemauan sendiri?”

Ketika dilihatnya nenek itu bukannya menjawab malah bertanya melulu, Ji-sia jadi naik darah, sam-bil tertawa dingin serunya, “Memangnya aku tak boleh kemari?”

Berkerut kening nenek bercadar itu, rambut-nya yang telah beruban tampak bergetar, agaknya ia marah sekali,

“Siapa bilang kau tak boleh datang?” serunya, “asal kau tidak sayang pada nyawamu, datang saja

ke sini! Nah, sekarang nenek ingin tanya padamu, ada urusan apa kau datang kemari?”

“Apakah kau tidak merasa pertanyaanmu sudah terlalu banyak?” kata Ji-sia sambil berkerut kening.

“Orang tua biasanya lebih banyak omong. Eh, anak muda, memangnya kau tidak sayang pada, jiwamu lagi?”

Ji-sia tertegun, pikirnya, “Manusia mana yang tak mau jiwanya lagi?” Tapi ia cuma termenung tanpa menjawab.

Nanek bercadar itu mendengus, mendadak ma-tanya bersinar tajam dan rambutnya yang beruban seakan-akan menegak seperti batang lidi, tiba-tiba tongkat besinya ditudingkan ke wajah Bek Ji-sia, sementara tangan kiri dengan kelima jari yang di-rentangkan menyambar ke muka.

Jurus serangan ini sungguh lihai dan keji.

Ji-sia tidak menyangka nenek itu bakal me-nyerang dirinya secara keji, dalam gugupnya cepat ia gunakan jurus sakti ajaran Oh Kay-gak, tangan kirinya memotong ke arah tongkat yang sedang me-nyambar tiba itu. Ketika tangan hampir menyentuh tongkat baja, mendadak jari tengah dan jari telunjuk tangan ka-nan menyelentik ke depan.

Inilah ilmu tenaga jari Tan-ci-sin-kang yang maha sakti dalam dunia persilatan. Agaknya si nenek pun tak mengira Ji- sia me-miliki ilmu silat selihai ini, maka waktu melancar-kan serangan tadi ia hanya menggunakan tenaga sebesar tiga bagian.

Ketika menyadari gelagat tak menguntungkan, tahu-tahu tongkat pada tangan kanannya mencelat ke udara.

Ternyata reaksi nenek bercadar itu cukup ce-katan, baru saja tongkat mencelat ke udara, ia su-dah bertekuk pinggang, tangan kirinya meraih ke belakang dan tongkat yang mencelat itu tahu-tahu sudah ditangkap kembali.

Pada kesempatan itu, Ji-sia mengejar ke depan, dengan cepat ia hantam punggung si nenek. Tanpa berpaling si nenek mengegos ke kanan, dengan suatu gerakan manis serangan itu berhasil dihindari.

Menyusul sekali bergerak mendadak ia mene-robos ke sebelah kiri Bok Ji-sia, tongkat lantas menyapu.

Serangan ini dilancarkan dalam keadaan gusar, sehinga luar biasa hebatnya.

Mencorong sinar mata Bok Ji-sia, dengan ge-rakan aneh ia cengkeram tongkat lawan dengan tangan kirinya, sedang telapak tangan kanan me-nabas pergelangan tangan kanan si nenek. Ketika tongkat dibikin mencelat oleh serangan Ji-sia tadi, si nenek berambut putih itu menjadi gu-sar sekali, ia kira serangan balasan pasti dapat me-lukai Ji sia atau paling tidak akan membuatnya terdesak mundur, siapa tahu, baru saja serangan dilancarkan, ternyata anak muda itu berbalik mencengkeram tongkat sendiri dengan suatu gerakan yang sangat aneh, hal mana membuatnya terkesiap. Delapan belas tahun berselang, dia masih ingat ilmu silatnya waktu itu terhitung jago tangguh da-lam dunia persilatan, kecuali suaminya serta bebe-rapa jago lihai yang lain, tiada lagi yang sanggup menandingi dirinya, tak tersangka delapan belas tahun kemudian ia  berjumpa  dengan musuh setang-guh ini, bahkan lawan hanya seorang pemuda ing-usan.

Pada saat ia tertegun itulah, telapak tangan kanan Bok Ji- sia membacok pergelangan tangannya dalam keadaan demikian, jika si nenek berambut putih tidak melepaskan tongkat, maka pergelangan tangan niscaya akan terluka.

Terpaksa ia lepas tangan dan menghindarkan diri dari bacokan tersebut, kemudian tangan kiri menghantam bagian mematikan di dada anak muda itu. Ji-sia tak menyangka sewaktu menghindar ne-nek itu bakal melancarkan serangan balasan, maka ia terdesak mundur tiga langkah, pada kesempatan itu, nenek itu melepaskan tendangan kilat dengan kaki kanan, sementara tangan kiri secepat kilat  mencengkeram tongkat dan membetotnya dengan sekuat tenaga.

Tindakan ini sungguh amat tepat, Ji-sia yang memegang tongkat terseret maju oleh betotan orang, dengan demikian tubuhnya persis memapak tendang-an yang dilancarkan si nenek.

Namun ilmu silat Bok Ji-sia sekarang sudah jauh berbeda daripada dulu, cepat ia miring ke sam-ping, tanpa melepaskan tongkat tangan kirinya se-gera menyambar ke muka, mencengkeram kaki kanan si nenek, lalu mengangkatnya ke atas. Karena kehilangan keseimbangan badan, tubuh si nenek segera terjengkang ke belakang.

Diam-diam nenek berambut putih itu terkejut, pikirnya, “Lihai amat ilmu orang ini!” Dalam hati ia berpikir demikian, sementara ta-ngan kiri masih memegang tongkat mati-matian dan ditariknya dengan sekuat tenaga, karena tarikan ini tubuhnya yang terjengkang pun bisa ditahan.

Mendadak ia melejit ke depan, lalu dengan jurus Tiau-ci- lam-hai (air pasang di laut selatan) ia dorong tangan  kanannya ke depan sejajar dada.

Ji-sia pun terkejut, pikirnya, “Sulit amat nenek ini dihadapi, tampaknya kungfunya tidak berada di bawah si nyonya berbaju merah yang kujumpai tadi -malam.”

Berpikir demikian, tangan kirinya secepat kilat menyambar urat nadi lawaa dengan jurus Ing-hong-toan-cau (menyongsong angin membabat rumput).

Nenek itu cepat menarik tangannya ke bawah, kemudian tangan kanan dikebaskan, kelima jari ta-ngan dengan setengah membacok dan setengah me-nusuk melancarkan tiga kali. serangaa kilat.

Ketika melihat bentuk jari tangan orang, Ji-sia tertegun, jari tangan nenek itu ternyata putih halus, sedikitpun tidak mirip jari tangan seorang nenek yang telah beruban.

Kiranya suasaua dalam lorong itu sangat ge-lap, walaupun kedua orang telah bertarung puluh-an jurus, namun Ji-sia tak sempat memperhatikan kulit tubuh lawan. Dengan heran ia menghindari ketiga jurus serangan lawan, kemudian tangan kirinya berkelebat cepat melancarkan serangan balasan.

Dengan dicengkeramnya kedua ujung tongkat, maka jarak kedua orang itu cuma dua depa saja, serangan demi serangan dilancarkan dalam ja-rak dekat ini hampir meliputi semua bagian mema-tikan, sekali salah bertindak atau kurang waspada akibatnya pasti mati atau terluka parah.

Suasana amat tegang, hati pasti berdebar se-andainya kebetulan ikut menyaksikan jalannya per-tarungan itu. Dalam waktu singkat, kedua pihak saling ge-brak lagi dua puluh kali lebih.

Agaknya si nenek berambut putih itu lebih tinggi setingkat tenaga dalamnya bila dibandingkan Bok Ji-sia.

Perlu diketahui, sesungguhnya Ji-sia telah me-nguasai jurus serangan yang tercantum dalam kitab pusaka Koat-im-siang- gi-cinkeng ditambah dengan jurus ampuh ajaran Oh Kay-gak sendiri, hanya sayang ia kurang sempurna dalam hal tenaga dalam, inilah cacat besar baginya.

Di tengah pertempuran, mendadak terdengar si nenek membentak keras, kemudian dengan suatu gerakan aneh melepaskan pukulan ke depan.

Ketika Ji-sia menyadari datangnya ancaman tersebut, terlambat baginya untuk memunahkan se-rangan itu, dalam keadaan demikian, terpaksa ia harus melepaskan tongkat itu sambil berkelit ke samping, kemudian dengan menempel di tanah ka-ki menyapu untuk menghadang gerak maju si nenek.

Tapi nenek itu telah menghentikan serangannya. “Kau murid siapa?” Ia menegur dengan suara dingin. “Buat apa kau tanyakan soal ini?”

Si nenek tertawa dingin, “Hmm, kau tidak mau bicara, apakah tak bisa kuselidiki sendiri?”

“Kalau begitu, selidiki saja sendiri!”

“Ketahuilah anak muda, seandainya aku ber-niat mencelakaimu, dua puluh nyawamu juga akan kusikat habis!”

“Hm, belum tentu!” jengek Ji-sia.

“Kalau begitu, sambut lagi beberapa jurus seranganku ini!”

Mendadak nenek itu menerjang maju, tongkat menyodok ke kiri terus menyapu ke kanan, dalam waktu singkat ia melancarkan tiga kali serangan. Jurus serangan yang dipergunakan ternyata sa-ngat aneh, sebentar mengemplang, lain saat menyerampang, desing angin tajam serasa menderu-deru mengancam seluruh tubuh Bok Ji-sia.

Menghadapi ancaman seperti ini, Ji-sia terke-siap, eepat ia melompat mundur. Nenek itu menyusul ke depan, di antara ber-kibarnya ujung baju, tongkat terus menyodok. Ji-sia menghantam tongkat lawan ke sam-ping, kemudian tangan kiri mencengkeram perge-langan tangan lawan yang memegang tongkat.

Jurus inipun jurus serangan Kim-na-jiu-hoat  Oh Kay-gak.

Nenek itu berseru kaget dan menyurut mundur, tapi tongkat masih melanjutkan serangan dengan membawa desing angin tajam di antara berkelekatnya bayangan hitam.

Jia-sia tergetar mundur dengan agak sempo-yongan, nenek itu menubruk maju, telapak tangan kirinya meraih bahu kiri pemuda itu.

Belum sempat Ji-sia mengerahkan tenaga da-lamnya, bahu kiri itu kena tersapu, dengan sem-poyongan ia mundur beberapa langkah. Akhirnya ia tak tahan dan jatuh terduduk.

Nenek berambut putih itu tidak mengejar lagi, dengan sorot mata penuh rasa terkejut dita-tapnya Ji-sia lekat-lekat, tangan kanannya terjulur ke bawah, agaknya terluka, tongkat pun jatuh ke tanah.

Walaupun hanya beberapa gebrakan saja, na-mun pertarungan itu berlangsung dengan seru. Ji-sia mengira  sekali ini pasti akan mampus di tangan nenek itu, siapa tahu meski sudah ditunggu sekian lama, nenek itu belum  juga turun tangan, hingga akhirnya ia mendongak dan memandang ke depan……

Didengarnya si nenek berambut putih sedang menghela napas, air mata berlinang. Pelahan ia membelai rambut sendiri yang beruban, kemudian mengambil kembali tongkat yang jatuh, gerak-gerik-nya begitu loyo hingga menimbulkan perasaan haru bagi orang lain.

Ji-sia termangu, bingung, ia tak tahu kenapa nenek itu bisa berubah menjadi begini mengenaskan.

Sementara ia termenung, terdengar nenek berambut putih itu bergumam, “Delapan belas tahun sudah, ya, delapan belas tahun sudah lewat. Ai, apakah ia masih tersekap di sana? Cintaku ini! Dan benciku ini! Selama delapan belas tahun tak per-nah kulupakan, putriku yang patut dikasihani, kau memang kasihan……”

Sudah barang tentu Ji-sia tak paham perkataan orang, namun ia tahu di balik ucapan itu pasti mengandung suatu kisah yang memilukan hati.

Mendadak Ji-sia merasa bahu kiri dan sikut kanan yang tersapu angin jari si nenek itu tadi mu-lai terasa sakit, ia terperanjat, buru-buru hawa mur-ninya dihimpun, tapi sekitar luka itu menjadi kaku dalam waktu singkat lantas menjalar hingga separuh bagian tubuhnya, rasa sakit yang menusuk itu mem-buat tubuhnya tak sanggup bergerak sedikitpun.

Ia sadar sudah terkena tangan jahatnya, ia menghela napas, ia merasa nasib sendiri terlampau buruk sehingga setiap saat selalu berhadapan dengan elmaut.

Setelah bergumam tadi, nenek berambut putih itupun berdiri kaku bersila dan perlahan mengatur pernapasannya.

Tapi begitu tenaga bergerak, lukanya menda-dak terasa sakit sekali, sedih hati Ji-sia, dia tahu lawan benar-benar telah turun tangan jahat kepadanya, bahkan sangat keji, ia tak tahu kenapa sekeji ini nenek berambut putih itu turun tangan melukai-nya.

Apakah karena dendam? Aatau benci? Tapi ia yakin dirinya tak punya permusuhan dengan nenek itu, bahkan kenal pun tidak. Sekarang ia baru sadar manusia sebetulnya ada-lah makhluk yang kejam, bahkan lebih buas dari-pada binatang. Ia mulai benci, membenci semua makhluk yang disebut manusia di dunia ini.

Tapi cuma membenci apa gunanya?

Kejadian lampau satu demi satu terlintas kem-bali dalam benaknya. Ia tambah sedih, sehingga air matanya bercucuran membasahi bajunya.

Mendadak terdengar seseorang menegurnya dengan suara yang lembut, “Anak muda, apakah guru-mu adalah pemimpin dari Bu-lim-jit-coat yang di-sebut Thian-kang-te-sat-gwat-kiam Oh Kay-gak?”

Ketika Ji-sia mendongakkan kepalanya, tampak olehnya yang berbicara adalah si nenek berambut putih tadi.

Sambil mengertak gigi menahan rasa benci ia mendengus, “Aku sudah hampir mati, memberitahu kepadamu juga tak menjadi soal. Benar, aku adalah muridnya, Oh Keng-kiau adalah putrinya dan juga Sumoayku, jika kau ini suhunya, kau akan menyesal karena telah turun tangan sekeji ini kepadaku!”

Air mata mengembeng dalam kelopak mata nenek itu, dia menghela napas panjang, kemudian berkata, “Perkataanmu memang benar, aku menye-sal telah melukai dirimu, untuk kedua kalinya ini aku merasa menyesal selama hidupku, cuma aku pasti akan menyembuhkan lukamu.”

Sesudah menyaksikan sikap orang yang penuh luapan emosi itu, rasa gusar Ji-sia pun agak mereda ia menghela napas sedih.

“Inilah suratan nasib, jangan membenci langit, jangan pula membenci manusia!” ucapnya. Mendengar itu, si nenek berambut putih ber-kata dengan sedih, “Jangan membenci langit, jangan pula membenci manusia. Ai? baru sekarang kupahami makna kata-kata ini.”

“Nenek, ada satu hal ingin kuberitahukan ke-padamu,” kata Ji-sia kemudian.

“Persoalan apa itu?”

“Ai, mumpung aku belum mati, ingin kusam-paikan suatu rahasia kepadamu, tahukah kau bah-wa muridmu Oh Keng- kiau bukan anak Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian? Ayahnya yang sebenarnya ada-lah Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak, Oh Kay-thian justeru adalah pembunuh ayah- ibunya!”

“Apa? Oh-Kay-gak sudah tiada di dunia lagi?” seru nenek itu dengan kaget.

“Ya, ia sudah tiada hampir empat bulan lama-nya!” jawab Ji-sia dengan air mata bercucuran.

Ketika mendengar berita tersebut, bagaikan sebatang anak panah menembus hatinya, sekujur tu-buh nenek itu gemetar keras, air mata pun bercu-curan dengan derasnya.

Diam-diam Ji-sia heran, ia tak mengerti kenapa nenek itu bisa sedemikian sedihnya demi mendengar berita meninggalnya Oh Kay-gak.

Bagi seorang yang telah lanjut usia, walaupun di antara mereka pernah berseri rasa cinta pada masa muda dulu, namun setelah melewati kehidup-an yang begini lama, seharusnya cinta tersebut ikut menipis oleh berlalunya sang waktu, sekalipun te-rasa sedih juga ketika mengetahui bekas kekasihnya meninggal, tidak sepantasnya rasa sedih itu se-demikian dalamnya.

Kiranya Ji-sia menduga nenek ini dulu per-nah jatuh cinta kepada Oh Kay-gak, mana ia tahu hubungan apa sesungguhnya yang terkait antara nenek ini dengan Oh Kay- gak?

Setelah terdiam sekian lama akhirnya nenek itu menangis terisak, gumamnya, “O, engkoh Gak, kau telah mati! Kau telah mati! Kau tahu tak kusangka kau akan berangkat lebih dulu! Tentu kau tak tahu aku masih menerima siksaaa hidup di sini? Aku tahu kau menyesal, tapi kau tak men-dengar lagi kata- kataku yang memaafkan semua ke-salahanmu itu, O, engkoh Gak? Aku menangis untukmu, dengarkah kau?

“Siang malam aku selalu berdoa untukmu, tak kusangka kau bakal pergi mendahuluiku! Aku tahu, kau seorang yang beriman teguh, berwatak keras, masa begini cepat kau meninggalkan diriku? Aku tahu… ya aku tahu…… kau rela mati, kau hen-dak membalas budi kebaikanku. O, engkoh Gak!”