Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 13

Jilid 13

Begitu ruyung menyapu ke depan, Cu Giok-ceng mencungkil pedang di tanah dengan kaki kirinya lalu digambarnya dengan tepat. Dari gerakan ber-kelit, menyerang, mencungkil dan menangkap pedang, semua dilakukan dengan cepat luar biasa, hampir dilakukannya pada saat yang sama.

Cahaya tajam berkelebat, pedang di tangan kiri Cu Giok- ceng secepat kilat menusuk. Melihat gerak serangan tersebut, mencorong tajam sinar mata Lik-ih-hiat-li, dengan nafsu mem-bunuh yang meluap ia membentak, telapak tangan kanan segera mengebas ke depan. 

Cu Giok-ceng merasakan angin pukulan me-nyambar tiba, menerjang dadanya. Dia seorang setan cilik yang cerdik, dari ke-mampuan Lik-ih-hiat-li memukul mundur Pek-pin-kui-po tadi telah diketahuinya bahwa perempuan misterius ini memiliki tenaga dalam yang sempurna, sudah barang tentu Cu Giok-ceng tak berani me-nyambutnya dengan kekerasan, buru-buru ia menarik serangannya dan mundur.

Tapi telapak tangan kiri Lik-ih-hiat-li meng-hantam pula, bahkan serangan yang mematikan, ka-rena ia melihat Bok Ji- sia berbaring tak berkutik, sementara Cu Giok-ceng membawa ruyung Jian-kim-si-hun-pian dan pedangnya dirampas oleh Pek Bi, ia menduga Cu Giok-ceng tentu sudah datang lebih dulu daripada ketiga gadis Hek-liong kang, pasti Ji-sia dicelakainya bersama Pek-pin-kui-po.

Buru-buru Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng membentak, “Lik-ih-lihiap, jangan menyerang dulu, aku ingin bicara!”

Kiranya Lik-ih-hiat-li telah menghimpun tenaga Peng-sian- jit-gwat-ciang pada tangan kiri, asal pu-kulan itu dilancarkan, niscaya Cu Giok-ceng akan binasa.

Entah sebab apa dalam waktu semalam saja Kwanliong Ciong-leng telah timbul kesan baiknya terhadap Bok Ji-sia maupun Cu Giok-ceng, ia tak tega menyaksikan gadis tersebut tewas di tangan Lik-ih-hiat-li, maka ia mencegahnya.

Dengan sinar mata yang tajam Lik-ih-hiat-li menatap wajah orang itu lekat-lekat, kemudian te-gurnya, “Apa yang hendak kau katakan? Siapa yang telah mencelakai Bok Ji-sia? Cepat katakan, kalau tidak kaliaa berenam harus mampus semua!”

“Jangan terlalu sombong dan tidak pandang sebelah mata kepada orang lain!” sambut si nona baju biru, “dengan sedikit kepandaianmu itu masih belum cukup untuk menjagoi dunia persilatan.”

Lik-ih-hiat-li mendengus, “Hmm, kalau begitu aku hendak membunuhmu lebih dulu!”

Tenaga pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang yang telah dihimpunnya pada tangan kiri itu siap di-lancarkan. Pek Sat dan Pek Bi buru-buru melompat ke de-pan si nona baju biru dan menghalanginya.

Nona baju biru itu tertawa merdu, ujarnya, “Kenapa kedua Cici cemas? Bila ia berani melukai-ku, maka orang she Bok itupun bakal mampus dan tak tertolong lagi.”

“Apa kau bilang?” tegur Lik-ih-hiat-li, “dia be-lum mati?” “Ya, cuma sudah hampir mampus, kecuali bi-la aku mau

menolongnya!”

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng buru-buru maju dua langkah ke depan, katanya. “Jika kau dapat meno-longnya, akan kuhadiahkan ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian ini kepadamu!”

“Memangnya ruyung itu milikmu?” ejek si no-na baju biru dengan tertawa dingin.

Cu Giok-ceng menjadi marah, teriaknya, “Ber-ada di tangan siapa ruyung ini, dialah pemiliknya!”

Mendadak Lik-ih-hiat-li menghardik, “Apakah kau yang mencelakai Bok Ji-sia dan merampas ru-yung mestika itu?”

“Kalau aku merampas ruyung mestika ini, buat apa aku menggunakan ruyung ini pula untuk me-nolong jiwanya?”

Hati Lik-ih-hiat-li seperti disayat-sayat me-nyaksikan Ji-sia yang pucat dan berbaring kaku di tanah, dengan suara keras kembali ia membentak, “Siapa yang mencelakainya?”

Sejak mengetahui Lik-ih-hiat-li menunjukkan sikap yang amat memperhatikan keselamatan Bok Ji-sia, dalam hati Cu Giok-ceng telah muncul suatu perasaan aneh, ia jadi mendongkol.

“Hei, telingaku belum tuli, mengerti?” serunya ketus, “buat apa kau berteriak macam orang gila? Apa hubunganmu dengan Bok Ji-sia? Kenapa kau begitu memperhatikan keadaannya?” Lik-ih-hiat-li adalah orang yang sudah kenyang asam

-garam kehidupan, tentu saja ia paham maksud ucap-an Cu Giok-ceng, diam-diam timbul rasa sedih ba-gi gadis itu. Ia menghela napas, lalu bertanya, “Si-apakah kau, nona?”

“Murid jago nomor satu dalam dunia persilat-an Kiu-thian- mo-li, Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng, mau apa kau?”

Lik-ih-hiat-li manggut-manggut, kembali ia ta-nya, “Nona Cu, jika kau mempunyai hubungan yang baik dengan Bok Ji- sia, maka seharusnya kau beritahu padaku siapakah pembunuhnya!”

Tiba tiba Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau yang berada di samping naengetukkan tongkatnya ke ta-nah, lalu dampratnya, “Bagus, budak setan, kau tidak menganggapku sebagai gurumu?”

“Jik-locianpwe,” jawab Cu Giok-ceng sambil berpaling, “Maafkanlah, mana boleh kuingkari per-guruanku sendiri?”

Nona baju biru bercadar itu segera menyindir dengan suara dingin, “Dengan sedikit kepandaian macam begitu saja berani menerima orang sebagai murid, huh, tak tahu malu!”

Kedudukan Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau dalam dunia persilatan cukup tinggi, mana ia tahan meng-hadapi sikap sinis nona baju biru itu?

Sambil tertawa seram tangannya bergerak, se-rumpun cahaya hijau segera menyambar ke depan….

“Nona cepat berkelit! Hati-hati dengan jarum beracun Lik- lin-tok-ciam….” Cu Giok-ceng ber-teriak kuatir.

Di tengah teriakan itu, kedua tangan Lik-ih-hiat-li telah mengebas, jarum-jarum hijau yang me-nyambar ke arah si nona baju biru itu segera ter-dampar jauh ke sana oleh pukulan dahsyat itu. Dengan gusar Lik-ih-hiat-li melotot sekejap ke arah nenek setan berambut putih, serunya, “Nenek aneh, sebelum dia menolong Bok Ji-sia, bila kau berani mengganggunya barang seujung rambut saja, segera kubinasakan kau!”

Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau berkaok gusar, “Kau,….kau manusia dari mana? Kau berani ber-sikap kurang ajar kepadaku…..?”

Belum habis seruannya, sambil mende-ngus Lik-ih-hiat-li telah melancarkan pukulan dari kejauhan. Cepat Pek-pin-kui- po Jik Say-kiau menangkis dengan pukulan telapak tangan kirinya, tenaga pu-kulan yang kuat segera menyambar.

Dua gulung angin pukulan saling bentur, tim-bul pusaran angin kencang yang menerbangkan de-bu pasir, bayangan tubuh kedua orang itu terbung-kus di balik lapisan kabut itu. Setelah kabut debu mereda, Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau tampak mundur beberapa kaki dari tempat semula, air mukanya yang jelek dihiasi rasa kaget menatap wajah Lik-ih- hiat-li tanpa berkedip.

Setelah terjadi bentrokan tadi, kedua pihak sama-sama menyadari akan kesempurnaan tenaga dalam lawannya, bila sampai terjadi pertempuran, siapa yang menang dan kalah sukar untuk diramal-kan.

Apalagi Lik-ih-hiat-li sedang menguatirkan Bok Ji-sia, ia tak mau mengulur waktu, sambil mende-ngus ia berpaling ke arah si nona berbaju biru.

“Nona,” katanya, “waktu tidak banyak lagi, cepat sembuhkan penyakitnya.”

Nona berbaju biru itu tertawa dingin, “Tidak sulit untuk menyembuhkan lukanya, cuma apa yang, hendak kau bayar atas jasaku ini?” “Apakah masih kurang dengan mendapatkan ruyung raestika yang digilai setiap umat persilatan ini?” teriak Cu Giok-ceng.

“Ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian memang benda tajam yang. luar biasa dan disukai setiap orang, tapi sarung ruyung emas itu lebih berharga lagi, bila kau bersedia memberikan pula sarung ru-yung kepadaku, maka segera akan kuselamatkan jiwanya.”

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng menghela napag sedih, “Baiklah!” ia berkata, “akan kuberikan pada-mu sekalian dengan sarung ruyung!”

Serayu berkata ia terus berjalan menghampiri Bok Ji-sia.

Tiba-tiba Kwan-liong Ciong-kng berteriak “Tak perlu dicari lagi nona Cu, sarung ruyung itu sudah dibawa kabur orang!”

“Dilarikan siapa? Apakah manusia aneh yang tinggi besar itu?” tanya Cu Giok-ceng kaget.

“Benar, telah dibawa kabur oleh manusia aneh tinggi besar itu,” sahut Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng sambil menghela napas sedih.

“Tiba-tiba Cu Giok-ceng menjerit kaget, “Wah, dia….dia telah mati……”

Kiranya Cu Giok-ceng melihat air muka Bok Ji-sia pucat pias, tanpa terasa ia meraba dahinya, ia jadi terkejut ketika tangannya menyentuh tubuh yang telah dingin, cepat ia periksa napasnya, ter-nyata napas pun tiada, malahan jantung pun ber-henti berdenyut, rasa kagetnya benar-benar mere-mukkan hatinya.

Mendengar seruan itu, Lik-ih-hiat-li segera me-nerjang ke depan dan memegang tangan Bok Ji-sia.

Seketika itu juga hatinya sedih bukan kepalang, sambil mendongak dan menghela napas ia mengeluh, “O, Thian!….benarkah engkau telah mereng-gut nyawanya? Ai, anak yang patut dikasihani, ber-istirahatlah dengan tenang! Aku pasti akan mem-balaskan dendam kematianmu…….”

Kiranya tangan Bok Ji-sia juga sudah dingin, ia merasa seakan-akan menggenggam sepotong batu pualam saja, sedemikian sedihnya perempuan ini hingga air matanya jatuh bercucuran bagai hujan.

Teka-teki sekitar hubungan antara Lik-ih-hiat-li dengan Bok Ji-sia tidak diketahui oleh siapa pun, akan tetapi setelah mendengar ucapan yang memi-lukan hati itu, Kwanliong Ciong-leng serta si nona baju biru yang cerdik dengan cepat dapat meraba hubungan antara mereka berdua, jelas hubungan itu bukan hubungan cinta antara muda-mudi melain-kan kasih sayang seorang tua terhadap kaum muda.

Terutama Kwanliong Ciong-leng, air mukanya segera berubah menjadi aneh sekali….entah men-cerminkan rasa girang? Ataukah rasa sedih?

Dalam sekejap mata air mukanya telah ber-ubah-ubah tak menentu, perubahan yang sukar di-lukiskan.

Akhirnya ia terbenam dalam kenangan lama….hendak ditemukannya sedikit bekas dari kenangan lama yang telah silam.

oooOooo

Sang surya bergantung di sebelah timur, udara bersih tak berawan, suatu hari yang cerah, tapi di tanah pekuburan yang sepi ini justru diliputi oleh awan kemurungan yang kelabu.

Mendadak, suara tertawa si nona berbaju biru itu memecahkan lamunan Lik-ih-hiat-li, Cu Giok-ceng dan Kwanliong Ciong-leng.

“Racun yang bersarang di tubuhnya telah ma-suk ke dalam darah, jiwanya terancam,” demikian ia berkata, “bila tidak mendapat pengobatan tepat pada saatnya, sekalipun dewa juga tidak bisa menyembuhkannya.”

“Nona, apakah dia masih bisa tertolong?” ta-nya Kwaliong Ciong-leng cepat.

“Jika tidak ditolong tepat pada saatnya, tentu saja akan mati,” sahut si nona baju biru sambil tertawa dingin.

“Yakinkah kau bisa menyelamatkan jiwanya?” tanya Cu Giok-ceng dengan nada sedih.

Meskipun pertanyaan itu diajukan dengan na-da ragu, namun ia berharap akan mendapatkan jawaban yang positif.

“Apa yang kau takuti?” tanya Pek Bi tiba-tiba, “asal nona kami bersedia menolongnya, sekalipun seorang yang sudah mati juga bisa hidup kembali.”

Kata-kata ini sungguh takabur, membuat orang menjadi sangsi malah.

“Sekarang napasnya masih ada, denyut jantung-nya belum berhenti, tapi ia sudah berada di pintu akhirat,” kata nona baju biru lagi, “jika tidak di-tolong tepat pada waktunya, mungkin akupun tak berdaya menolongnya.”

“Jadi nona mau menolong jiwanya?” tiba-tiba Pek Sat bertanya.

“Enci Pek Sat, aku belum menyanggupi per-mintaannya, cuma kupikir bisa kukabulkan asalkan mereka pun menerima permintaanku.”

Pek Sat cukup mengetahui akan kecerdasan Su-moaynya yang luar biasa itu, terutama dalam hal ilmu pertabiban, penyakit parah apapun asalkan ia bersedia memberi pertolongan, maka penyakit bagaimanapun parahnya akan dapat disembuhkannya.

Karena itu, setelah mendengar kesediaan Su-moaynya akan memberi pertolongan, gadis itu meng-hela napas sedih, wajahnya yang dingin tanpa emosi mendongak memandang angkasa.

Agaknya nona berbaju biru itu memahami pe-rasaannya, sambil menghela napas iapun mendongak kepala memandang angkasa, katanya, “Enci Pek Sat, apakah maksudmu lebih baik tidak kuselamatkm jiwanya? Kalau betul demikian, baiklah kubiarkan dia mati saja!”

Perasaan Lik-ih-hiat-li, Cu Giok-ceng dan Kwanliong Ciong- leng kembali tertekan, mereka ja-di cemas, bersama-sama mereka pandang wajah Pek Sat yang dingin dan tanpa emosi itu, mereka ber-usaha menemukan sedikit perubahan pada wajah-nya, tapi mereka kecewa.

Sampai sekian lama Pek Sat maupun nona ber-baju biru itu masih juga memandang angkasa tanpa bicara, air muka Pek Sat pun tetap dingin dan kaku, sedemikian dinginnya hingga seperti manusia salju.

Mereka tak berani bertanya, maka mereka ha-nya menanti, menanti berubahnya cuaca mendung menjadi carah kembali.

Tiba-tiba Pet Sat memecahkan suasana hening yang menegangkan itu, ia berkata, “Nona, Cici se-lalu mengikuti kehendakmu saja!”

Mendengar jawaban tersebut, nona berbaju biru itu menghela napas, katanya, “Baiklah! Kuputuskan untuk menyelamatkan jiwanya, cuma akupun minta agar mereka menyanggupi permintaanku!”

“Apa yang kau minta?” tanya Lik-ih-hiat-li.

“Amat sederhana, yakni akan kutolong jiwa-nya, tapi akupun hendak membunuh seorang lain.”

Permintaannya yang aneh ini, kontan saja mem-buat semua orang saling pandang dengan bingung. Melihat semua orang membungkam dan lama sekali tak berbicara, nona berbaju biru itu kembali bertanya, “Apakah kalian tidak dapat terima per-mintaanku?”

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng menghela napas sedih, katanya, “Hidup manusia di dunia ini ter-batas sekali waktunya, pada akhirnya toh akan mati juga, Aii, Biarlah aku saja yang mati baginya.”

Nona berbaju biru itupun menghela napas de-ngan pedih, katanya, “Apa yang kau katakan me-mang betul, sekalipun seorang bisa hidup seratus tahun, akhirnya toh akan mati juga, jika kematian-nya bisa meninggalkan kesan yang mendalam di ha-ti orang, kematian semacam itulah kematian yang berharga. Baiklah! Kau boleh mati baginya dengan tenang!”

Suaranya yang lembut itu terasa mengandung rasa sedih yang memikat, setiap katanya itu me-ngetuk lubuk hati orang, menimbulkan semacam perasaan tegang yang aneh.

“He, budak setan, rupanya kau sudah sinting? Siapa suruh kau terima permintaannya?” tiba-tiba Pek-pin-kui-po Jik Say- kiau membentak.

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng tertawa pedih, ka-tanya, “Jik- locianpwe, terima kasih atas kasih sa-yangmu, Aii, manusia macam diriku ini, apa guna-nya hidup di dunia? Setelah mati nanti, tolong sampaikan berita ini kepada guruku, sekalian katakan bahwa budi kebaikan beliau biar kubalas pada pe-nitisan yang akan datang.”

Kata-katanya mengandung rasa sedih yang amat mendalam. Tampaknya Lik-ih-hiat-li dibikin terharu oleh luapan cinta gadis itu, tiba-tiba ujarnya dengan lembut, “Nona Cu, cinta kasihmu pasti akan di-ingat selalu oleh Bok Ji-sia serta aku selama hidup. Kau….kau tak perlu mati baginya, karena ia tak bisa menerima kasihmu yang agung ini. Dahulu pernah kuterima budinya, maka biar aku saja yang mati untuk membalas budinya itu!”

Padahal Lik-ih-hiat-li yang berbudi kepada Bok Ji-sia dan tak pernah berutang budi kepada anak muda itu.

Ia bersedia mati karena masih terbayang oleh-nya peristiwa tragis masa lalu, ia bisa hidup sam-pai, sekarang oleh karena dorongan hatinya untuk menyelesaikan semacam tugas, bila tugas itu sele-sai, maka iapun akan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Sebab musibah yang menimpa dirinya itu sungguh tragis dan mengerikan, ia merasa tak punya muka lagi untuk hidup di dunia ini.

Tiba-tiba Pek Sat berkata dengan dingin, “Nona, kami hanya menghendaki kematiannya, bukan diri-mu!”

Mencorong sinar mata tajam Lik-ih-hiat-li, di-tatapnya sekejap gadis itu, kemudian serunya de-ngan gusar, “Sejak kapan ia menunjuk orang? Ka-lau kau berani banyak bicara lagi, hati-hati bila ku-bunuh kau!”

“Lik-ih-hiat-li,” Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng berseru dengan sedih, “ilmu silatmu jauh lebih tinggi daripadaku, ia sangat membutuhkan perlindungan seseorang yang berilmu tinggi, lebih baik biarkan aku yang berkorban baginya. Hanya saja, sebelum kematianku tiba, beritahukan dulu kepadaku apa hubunganmu dengan dia?”

“Baiklah! Nanti akan kuberitahukan kepadamu,” jawab Lik- ih-hiat-li dengan sedih.

Sementara itu si nona baju biru masih berdiri kaku di tempatnya seolah-olah sama sekali tidak mendengar kata-kata perpisahan mereka yang begitu memilukan hati, kemudian pelahan ia menghampiri Bok Ji-sia, berjongkok dan menarik sebelah tangan anak muda itu.

Sekalipun ia tidak bicara apa-apa, tapi di ba-lik kain cadarnya telah terjadi perubahan mimik wajah, sayang perubahan itu tersembunyi di balik kain cadar yang tipis hingga tidak terlihat dari luar.

Setiap langkah nona berbaju biru itu tampak-nya mengandung suatu daya pengaruh yang luar biasa. Kesepuluh jari tangannya pelahan menggeng-gam tangan Bok Ji-sia, sekalipun tangan itu agak gemetar, namun tak seorang pun melihatnya.

Sejenak kemudian, terdengar ia menghela na-pas dan berkata, “Enci Pek Sat, maafkan bila aku menyanggupi permintaan mereka tadi….”

Cu Giok-ceng terperanjat, serunya, “Kenapa? Apakah tak sanggup kau tolong jiwanya?”

Pek Sat juga merasakan sesuatu yuog aneh, cepat ia tanya, “Nona, kenapa kau?”

“Jika kutolong dia sekarang, maka suatu ke-tika dia pasti akan mecelakai semua anggota per-guruan kita.”

Keterangan ini sangat membingungkan semua orang, mereka tak tahu apa sebabnya ia berkata demikian….

Lik-ih-hiat-li segera berkata dengan dingin, “Asalkan kalian orang-orang Hek-liong-kang tidak menyusahkan dia selanjutnya, pasti juga dia tak-kan membunuh kalian.”

Pak Sat mendengus, “Hm, hanya sedikit kepandaiannya ingin membunuh kami?……”

Nona berbaju biru itu menghela napas, kata-nya, “Kutahu dia berkepandaian tinggi, setelah sa-dar nanti, dia akan menjadi penghalang paling besar buat orang-orang Hek-liong- kang kami.”

Tentu saja Pek Sat tidak paham maksud ka-ta-katanya itu, tapi ia percaya Sumoaynya tak akan sembarangan bicara tanpa dasar, maka ujarnya ke-mudian, “Kalau begitu, jangan kau tolong dia!” Nona berbaju biru itu menghela napas pan-jang, katanya, “Enci Pek Sat, kau toh tahu bahwa setiap ucapan yang kuutarakan tak pernah kujilat kembali? Ai, Baiklah, biar kusadarkan dia dulu, ke-mudian baru kubunuh dia lagi.”

Lik-ih-hiat-li menjadi amat gusar mendengar perkataan itu, teriaknya, “Eh, apakah kau ini orang gila? Kuperingatkan, jika kau berani mencelakainya lagi, maka kalian bertiga pun jangan harap bisa hidup.”

Pek Bi tertawa merdu, “Perempuan ini belul-betul bernyali besar, berani dia memaki nona kami. Hmm, sebentar kaupun akan terima nasib buruk!”

“Enci Pek Bi,” seru si nona berbaju biru tiba-tiba, “kita sudah dikepung orang!”

Baru habis dia berseru, dari kejauhan terde-ngar seorang berkata dengan suara seram, “Tiga perempuan siluman dari Hek-liong-kang, ternyata kalian bersembunyi di sini, lihat saja hari ini kami akan hancur lumatkan tubuh kalian.”

Berbareng dengan suara itu, dari balik semak belukar sebelah kiri pelahan muncul dua orang, mereka adalah Si-hun- koay-sat-jiu dan Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin.

Menyusul kemudian dari balik tanah pekuburan juga muncul sembilan orang, mereka dipimpin oleh Thian-kang- kiam Oh Ku-gwat, lalu muncul Hek-to-sam-koay, Mo-in-jiu Kok Siau-thian dan em-pat orang laki-laki berbaju ringkas.

Gelak tertawa nyaring tiba-tiba berkumandang lagi, “Siapa menang dan kalah masih sukar dira-malkan, lebih baik kalian orang Tionggoan jangan bicara takabur lebih dulu……”

Dari balik dedaunan pohon yang lebat sana melompat keluar seorang kakek berambut putih, melayang keluar seperti burung, dengan entengnya melayang turun di belakang Pek Bi dan Pek Sat. Untuk sesaat suasana arena menjadi tegang, suatu pertempuran sengit agaknya tak bisa dihindar-kan lagi.

Tapi si nona berbaju biru masih tetap bersikap tenang, ia mendongakkan kepalanya memandang awan di angkasa, setelah itu ia mengalihkan kem-bali pandangannya ke wajah Bok Ji-sia di tanah.

Oleh karena wajahnya tertutup oleh kain ca-dar, maka tidak diketahui perubahan air mukanya.

Tapi hati Lik-ih-hiai-li agak tergerak, pikirnya, “Dia berdiri termangu di situ, entah apa saja yang dipikirkannya?”

Sementara itu, sesudah kawanan jago persilatan yang baru muncul itu melihat keadaan dalam arena, masing-masing pihak segera timbul pikiran yang hampir sama, yakni merasa orang yang hadir saat ini, sebagian besar adalah tokoh yang sukar di-hadapi.

Si-hun-koay-sat-jiu sekalian melirik sekejap Jian-kim-si-hun- pian yang dipegang Cu Giok-ceng, mereka tampak melengak, agaknya tak percaya bahwa ru-yung mestika yang menjadi rebutan setiap orang itu akhirnya muncul juga di hadapan orang banyak.

Terutama sekali Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, rasa lesu dan kecewa menyelimuti wajahnya, usaha dan jerih payahnya selama bertahun-tahun pada akhirnya hanya sia-sia belaka. Ketika ia melihat tubuh Bok Ji-sia membujur kaku di atas tanah lantas timbul perasaan semacam ini.

Tanpa terasa ia menghela napas dan berpikir, “Tampaknya sarung ruyung Jian-kim-si-hun-pian telah dirampas oleh Samte….”

Sebab berita tentang beradanya ruyung mestika Jian-kim- si-hun-pian di tangan Bok Ji-sia hanya diketahui oleh Kwanliong Ciong-leng, dia sendiri dan samtenya, sedangkan kawanan jago lainnya be-lum ada yang tahu, apalagi hanya Samtenya seorang yang mampu membinasakan Bok Ji-sia dewasa ini, maka tak heran kalau Oh Ku-gwat segera menebak sarung ruyung itu sudah dirampas oleh Seng-gwat- kiam Oh Kay-thian.

Sementara itu, kawanan jago di sekitar arena te-lah maju mengepung Cu Giok-ceng dengan meman-carkan sinar mata aneh, jelas mereka berniat me-rampas ruyung mestika Jian- kim-si-hun-pian yang berada di tangan gadis tersebut.

“Berhenti semua!” Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau segera membentak, “kalau berani maju selangkah lagi, akan kubunuh kalian, rasakan dulu kelihaian tongkat bajaku!”

Kakek berambut putih dari Hek-liong-kang juga mengayun tongkatnya sambil membentak, “Si-apa berani maju, siapa pula yang roboh duluan, kalau tak percaya silakan mencobanya!”

Semua jago yang hadir kenal nenek itu adalak Pek-pin-kui- po dari Bu-lim-jit-coat, semua orang pun telah menyaksikan betapa lihai ilmu silat ka-kek berambut putih itu, maka ketika kedua orang ini menghadang di depan mereka, serentak para jago pun menghentikan langkahnya.

Si-hun-koay-sat-jiu tertawa seram, ejeknya, “Ne-nek setan, tak kusangka hari ini kau bisa bekerja sama dengan pihak Hek-liong-kang!”

“Tua bangka sialan, jangan sembarangan bi-cara,” bentak Pek-pin-kui-po Jik say-kiau dengan gusar, “sekarang nyonya besar hendak mencegah niat merampas ruyung kalian, karena dia adalah murid angkatku, murid resmi dari Kiu-thian-mo-li.”

Hati Si-hun-koay-sat-jiu tergetar mendengar perkataan itu, tanpa terasa ia memperhatikan seke-jap wajah Cu Giok-ceng yang dikatakan sebagai murid Kiu-thian-mo-li….jago paling tangguh dalam dunia persilatan masa lalu. Sementara itu, di pihak lain, Hian-thian-koancu Kun-tun Cin-jin lagi tertawa menyindir, “Nenek se-tan, apakah kau ingin mengangkangi sendiri ruyung mestika Jian-kim-si-hun- pian?”

“Apakah kau sengaja memusuhi diriku?” jawab Pek-pin- kui-po Jik Say-kiau ketus.

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin tertawa ter-bahak-bahak, “Hahaha, mana! Kukira setiap jago yang hadir di sini ini akan bermusuhan semua de-nganmu.”

Kun-tun Cinjin betul-betul seorang yang amat licik, dengan jelas ia menyadari dia dan Si-hun-koay-sat-jiu bukan tandingan beberapa orang itu, maka dia membakar hati para jago supaya mau bekerja sama dengan mereka.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat segera tertawa nyaring, serunya, “Hidung kerbau, silakan kau tu-run tangan duluan, pasti akan kubantu nanti.”

“Hm, apakah Oh-lotoa ingin memetik hasil terakhir nanti?” ejek Si-hun-koay-sat-jiu.

“O, tidak berani! Sama sekali aku tidak ber-maksud demikian.”

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin tertawa se-ram, teriaknya “Nenek setan, lebih baik kau me-nyingkir saja lebih dulu daripada kita harus me-ngingkari janji kita delapan belas tahun yang lalu.”

Air muka Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau berubah hebat, sedangkan Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng tahu janji Bu- lim-jit-coat akan bertarung ulang delapan belas tahun berikutnya, ia tahu mereka hen-dak menggunakan pertarungan tersebut untuk me-netapkan urutan kelihaian ilmu silat masing-masing serta menyelesaikan segala pertikaian di antara me-reka, tapi sebelum pertarungan itu berlangsung se-mua orang dilarang turun tangan sendiri- sendiri wa-lau menghadapi masalah bagaimanapun besarnya.

Oleh karena itulah begitu Kun-tun Cinjin me-nyinggung soal janji tersebut, Jik Say-kiau segera hendak mengundurkan diri.

Perlu diketahui, setiap umat persilatan umum-nya sangat taat janji, sekalipun persoalan itu menyang-kut keselamatan jiwa keluarganya, merekapun enggan mengingkari janji.

Dengan suara nyaring Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng segera berseru, “Walaupun Bu-lim-jit-coat terikat oleh janji pada delapan belas tahun yang lalu, tapi sekarang janji itu sudah hapus, ma-sih apa ikatan apa lagi di antara kalian?”

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertawa terba-hak-bahak, “Saudara Kwanliong, kau benar-benar tidak bersahabat, licik dan busuk, pintarnya cuma memutar-balikkan duduknya persoalan…..”

Belum habis ia berkata, tiba-tiba Lik-ih-hiat-li mendengus, “Kalau kalian ingin main gila, tung-gu sebentar lagi, aku pasti akan memenuhi semua harapan kalian.”

Mendadak si nona baju biru yang sedang me-nengadah memandang awan di angkasa itu menarik napas panjang, lalu berkata dengan pelahan, “Te-ngah hari telah tiba, saatnya sudah sampai. Nona Cu dan Kwanliong Cong-leng hendaknya menjaga di utara dan selatan, Pek Sat dan Pek Bi Cici ber-jaga di barat dan timur, sedang Lihiap berbaju hi-jau harap membantuku untuk mengobati lukanya.”

Perintah itu diutarakan cepat, setiap patah ka-tanya terdengar dengan jelas.

Lik-ih-hiat-li memandang sekejap ke arah no-na baju biru itu, katanya, “Nona, bantuan apa yang bisa kulakukan?”

“Sekarang salurkan tenaga Peng-sian-jit-gwat-ciang pada ujung jarinya dan tutuk jalan darah Jit-gwat dan Ngo-siu-hiat di tubuhnya!” kata si nona baju biru. Dengan marah Lik-ih-hiat-li membentak, “Se-ngaja ka suruh kubunuh dia dengan tanganku sen-diri?”

“Cepat laksanakan apa yang kukatakan!” seru si nona baju biru dengan gelisah, “lebih keras tutukanmu lebih baik.”

Kata-katanya mengandung daya pengaruh yang besar, membuat orang mau-tak-mau harus percaya pada perkataannya.

Demi menyelamatkan jiwa Bok Ji-sia, terpaksa Lik-ih-hiat-li menghimpun tenaga Peng-sian-jit-gwat-ciang dan menutuk Jit-gwat-hiat di tubuh Bok Ji-sia.

“Tutukanmu itu terlalu enteng,” teriak si nona baju biru, “mungkin takkan mendatangkan hasil yang diharap, sekalipun bisa mempertahankan jiwa-nya, tapi dia akan cacat seumur hidup!”

Lik-ih-hiat-ii terperanjat, buru-buru tenaga murni-nya dihimpun pada ujung jari, serangkum angin ta-jam dingin segera masuk ke Jit-gwat-hiat di tubuh Bok Ji-sia terus menembus Ngo-ku-hiat.

Ketika jari tangannya meninggalkan jalan da-rah anak muda tersebut, dua pancuran darah se-gera menyembur keluar dari jalan darah Ji-gwat dan Ngo-ku-hiat di tubuh Ji-sia.

“Cepat tutuk Yu-bun dan Im-tok-hiat lagi!” cepat si nona berbaju biru berteriak.

Menyaksikan cairan darah menyembur keluar dari tubuh anak muda itu, Lik-ih-hiat-li merasa se-dih, maka bentaknya demi mendengar perkataan si nona, “Dia….dia sudah kututuk mati!”

Tapi mendadak Lik-ih-hiat-li melihat tubuh Bok Ji-sia yang semula kaku kini mulai bergerak-gerak. Tanpa pikir lagi tenaga murni Peng-sian-jit-gwat-ciang dikerahkan dan menutuk pula keras-keras pada Yu-bun dan Im-tok-hiat, menyusul tutukan tersebut dua pancuran darah kembali menyem-bur keluar, tapi pancuran darah Ji-gwat dan Ngo-ku-hiat segera berhenti.

Baru-baru si nona baju biru berseru pula, “Ce-pat tusuk Sin-kok, Wan-ci, Kwan-bun, Tay-ik, Thian-siu, Gwa-leng- hiat……”

Seperti apa yang diperintahkan, jari tangan ka-nan Lik-ih- hiat-li bekerja cepat menutuki keenam jalan darah itu di tubuh Bok Ji-sia, setiap kali ha-bis ditutuk, darah segar segera menyembur keluar dari jalan darah tersebut.

Lemas hati Lik-ih-hiat-li melihat enam pancur-an darah dari tubuh anak muda itu.

“Nona, apakah kau sengaja mempermainkan di-riku?” keluhnya sedih.

Nona baju biru itu seperti tidak mendengar keluhan tersebut, dengan termangu dia mengawasi pancuran darah yang menyembur keluar dari keenam jalan darah di tubuh Bok ji-sia tanpa berkedip.

Tiba-tiba gadis berbaju biru berkata lagi, “Ce-pat himpun segenap kekuatan Peng-sian-jit-gwat-ciang dan siap melakukan pengobatan yang terakhir kali-nya, jika kali ini salah tindak, akibatnya semua usaha kita sebelumnya akan sia-sia belaka.”

Mendengar itu, diam-diam Lik-ih-hiat-li meng-gigit bibirnya sambil menghimpun segenap tenaga Peng-sian-jit-gwat-ciang, karena dia memang sangat ingin menyelamatkan jiwa Bok Ji- sia. Walaupun serangan ini sangat berbahaya, dia terpaksa harus berbuat, karena dengan menuruti perkataannya paling tidak masih ada harapan bagi pemuda itu untuk hidup.

“Cepat gunakan telapak tanganmu memukul jalan darah Pek-hwi pada batok kepalanya!” teriak si nona berbaju biru tiba-tiba. Dalam keadaan demikian, Lik-ih-hiat-li tidak sempat berpikir lagi, dengan Peng-sian-jit-gwat-ciang langsung dihantamkan Pek-hwi-hiat di kepala Ji-sia.

Begitu serangannya mengenal jalan darah ter-sebut, diam- diam Lik-ih-hiat-li berteriak sedih, “Anak Sia! Aku telah membunuhmu, aku telah membunuh-mu dengan tanganku sendiri….”

Rupanya ketika Lik-ih-hiat-li melancarkan se-rangan tadi tiba-tiba teringat olehnya bahwa Pek-hwi-hiat adalah salah satu di antara dua jalan darah kematian di tubuh manusia.

Dari ketiga ratus tujuh puluh sembilan Hiat-to di tubuh manusia, Pek-hwi-hiat di atas batok ke-pala serta jalan darah Yong-cwan di telapak kaki merupakan dua jalan darah kematian bagi manusia, sebab di situlah terletak pusat syaraf tubuh ma-nusia bagian atas dan bawah.

Bila kedua buah jalan darah tersebut kena di-hantam orang, akibatnya akan mati, kini Lik-ih-hiat-li telah menghantam jalan darah tersebut dengan segenap tenaga Peng-sian-jit-gwat-ciang, bisa diba-yangkan bagaimana mungkin jiwa Ji-sia bisa di-pertahankan? Karena itulah Lik-ih- hiat-li berteriak dengan sedih.

Sebenarnya semua jago yang hadir itu sedang tertarik oleh cara pengobatan si nona berbaju biru yang aneh sehingga lupa memperebutkan ruyung emas jian-kim-si-hun-pian, tapi sekarang mereka disadarkan kembali oleh jeritan dan isak tangis Lik-ih-hiat-li yang memilukan hati itu.

Diam-diam semua orang menghela napas, mereka ikut merasa terharu atas kematian jago muda yang lihai ini.

Perasaan manusia memang serba bertentangan, sebetulnya setiap jago yang hadir sekarang sama mengharapkan kematian Bok Ji-sia, sebab mereka tahu anak muda itu adalah calon tokoh aneh du-nia persilatan, kemajuan kungfunya dicapainya secara mengejutkan, setiap orang tahu bila ia berlatih se-lama beberapa tahun lagi, niscaya sulit untuk me-nemukan tandingannya, maka sebagai pihak lawan, mereka berharap bisa membinasakannya.

Akan tetapi sekarang tatkala Bok Ji-sia akan mati, timbul juga rasa sayang dan terharu dalam hati mereka, perasaan yang bertentangan ini me-mang sulit dipahami.

Si nona baju biru seakan-akan tidak mende-ngar teriakan dan keluhan Lik-ih-hiat-li, dia hanya memandangi pancuran darah yang masih menyembur keluar itu dengan termangu.

Akhirnya, keenam pancuran darah itupun ber-henti menyembur……

Tapi mendadak nona berbaju biru itu menjerit, sekujur tubuhnya jadi gemetar. Jelas perasaannya diliputi kobaran emosi, ka-get dan kuatir.

Cepat Pek Sat menghampirinya dan memayang tubuhnya, lalu bertanya, “Siocia, kenapa kau?”

“O, enci Pek Sat, aku…..aku telah mence-lakai diriku sendiri…..”

“Kenapa kau? Kenapa bisa mencelakai dirimu sendiri?

Apakah dia sudah mati?” tanya Pek Sat cemas.

“Tidak, aku telah menyelamatkan dia,” jawab nona itu lemah.

Agaknya Pek Sat dapat memahami maksudnya, wajah yang selalu dingin dan kaku itu mendadak diliputi kemurungan, setelah menghela napas sedih, ia berkata lembut, “Siocia, jangan berpikir yang bukan-bukan, sekarang kita sedang menghadapi mu-suh yang banyak….” 

Tiba-tiba terdengar helaan napas panjang yang memilukan hati, mendadak Lik-ih-hiat-li mengayun-kan tangannya melancarkan pukulan berhawa di-ngin yang merasuk tulang ke arah si nona berbaju biru.

Pek Sat dan Pek Bi cepat bertindak dengaa masing-masing memegang sebelah tangan si nona berbaju biru sambil melompat ke samping, semen-tara tangan yang lain sama melancarkan pukulan yang lunak tapi kuat.

Ketika dua gulung angin pukulan saling bentur, tanpa menimbulkan suara segera lenyap tak berbekas.

Lik-ih-hiat-li mendengus, seperti bayangan se-gera ia menubruk lagi ke depan.

Tapi kakek berambut putih yang berjaga di sebelah timur itu segera menbentak, Mundur!”

Tongkat diayunkan ke depan langsung meng-hantam tubuh Lik-ih-hiat-li yang sedang menerjang datang itu.

Lik-ih-hiat-li tertawa dingin, ia melompat ke samping menghindarkan serangan kakek berambut putih itu. Si kakek memutar tangannya, tongkat yang se-mula menghantam dari atas ke bawah itu tiba-tiba berubah menjadi serangan menyamping.

Lik-ih-hiat-li terperanjat, pikirnya, “Sungguh serangan yang cepat!”

Dengan gesit ia melejit ke udara, tongkat itu persis menyapu lewat di bawah kakinya, begitu tu-buhnya mencapai tanah, segera ia mengayunkan ta-ngan kiri melancarkan pukulan balasan. Kakek berambut putih membentak, telapak ta-ngan kiri menangkis.

“Brak!” benturan keras terjadi, pusaran angin kencang mengibarkan ujung baju semua jago yang berada di sekitar arena. Dengan sempoyongan si kakek tergetar mundur dua langkah, sebaliknya Lik-ih-hiat-li merasakan tangan kiri kesemutan akibat benturan keras tenaga pukulan lawan.

Setelah bentrokan ini, keangkuhan kakek itu jauh berkurang, ia pun merasa terperanjat, ia tak menyangka seorang perempuanpun memiliki tenaga pukulan sedemikian kuatnya.

Tiba-tiba si nona baju biru menghela napas sedih dan berkata, “Lik-ih-hiat-li, umpama kau ingin ber-tarung, sepantasnya kau tunggu sampai ia sadar kembali.

Mendengar ucapan tersebut, Lik-ih-hiat-li ber-tanya dengan dingin. “Memangnya ia masih bisa sadar lagi!!?”

“Bila dugaanku tak salah, lewat satu jam lagi dia akan sadar kembali!”

Lik-ih-hiat-li menjadi ragu dan bingung, sung-guh ia tidak percaya pada kata-katanya.

“Apa yang kau kuatirkaa?” seru Pek Sat dengan suara  yang dingin bagaikan es, “belum pernah Siocia kami gagal menyembuhkan luku orang.”

“Semoga saja kemikian, jika dalam satu jam ia tak sadar kembali, segera akan kurenggut nyawa kalian,” jengek Lik-ih- hiat-li.

Dari sakunya si nona baju biru itu mengeluar-kan sebutir pil, lalu diangsurkan kepada Lik-ih-hiat-li.

“Minumkan pil ini kepadanya,” ia berkata dengan dingin, “dalam seperempat jam lagi ia akan sadar, tapi akupun hendak memperingatkan dirimu, bila ia sadar nanti, segera akan kuperintahkan orang-orangku untuk membunuhnya.”

Tertegun Lik-ih-hiat-ii mendengar perkataan itu, akhirnya ia terima juga pil itu. “Nona,” katanya kemudian,  “kalau  ia sudah kau tolong, kenapa hen-dak kau bunuh dia lagi?” Nona berbaju biru itu menghela napas, “Ai, jangan kau tanya apa sebabnya, aku hendak mem-bunuhnya karena aku mempunyai alasan yang cu-kup kuat.”

“Baiklah,” kata Lik-ih-hiat-li kemudian sambil menghela napas, “bila kau hendak

membunuhnya, akupun akan berada di sisinya untuk melindungi ke-selamatan jiwanya.”

“Huh, untuk melindungi nyawa sendiri saja belum tentu mampu, masih ingin melindungi orang lain?” jengek Pek Sat dingin.

Mencorong sinar mata Lik-ih-hiat-li, agaknya dia hendak mengumbar hawa amarahnya, tapi ketika teringat akan diri Ji- sia, terpaksa ia tahan rasa gu-sarnya dan pelahan berjalan mendekati anak muda itu.

Melihat air mukanya yang pucat seperti mayat, timbul lagi rasa sedihnya, titik air mata pun ber-cucuran membasahi pipinya.

Dengan paksa ia membuka mulut Ji-sia yang terkatup rapat itu dan menjejalkan pil berwarna pu-tih itu ke dalam mulutnya, kemudian ia berdiri di sisinya untuk menunggu terjadinya perubahan.

Dalam pada itu, di tengah arena mendadak berkumandang suara suitan yang membetot sukma. Ternyata Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng dengan ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian di tangan kanan dan memutar pedang di tangan kiri sedang melang-sungkan pertarungan sengit melawan Hian-thian- koancu Kun-tun Cinjin.

Suara suitan yang membetot sukma itu ternyata berasal dari denging ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian.

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin adalah salah seorang jago lihai yang namanya sederetan dalam Bu-lim-jit-coat, agar maksudnya merampas Jian-kim-si-hun-pian terwujud, ia telah melolos pedangnya dan dengan kebut ditangan kiri melancarku se-rangan dengan jurus-jurus yang lihai.

Tenaga dalam Cu Giok-ceng masih kalah se-tingkat dari musuh, seringkali pergelangan tangan-nya kaku tergetar oleh tenaga musuh, hampir saja pedang terlepas, tapi dasar bandel, dengan nekat ia tetap melakukan perlawanan dengan gigih.

Untung ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian adalah senjata sakti, pedang maupun kebut Kun-tun Cinjin tak berani menyentuh ketajaman ruyung mestika tersebut.

Suatu ketika, mendadak Cu Giok-ceng mem-bentak, ia hentikan serangan pedang tangan kiri, sebaliknya ruyung mestika di tangan kanannya se-gera melancarkan serangan gencar.

Makin bertempur Kun-tun Cinjin semakin ter-peranjat, ia tak menyangka muda-mudi jaman se-karang semuanya memiliki ilmu silat yang tak ka-lah hebatnya dibandingkan jago-jago kenamaan ma-sa lampau.

Mendadak ia merasakan kekuatan yang mene-kan tubuhnya kian bertambah besar, cahaya tajam berwarna keemasan dengan membawa desing angin tajam yang luar biasa sungguh sukar untuk ditahan.

Setiap kali Kun-tun Cinjin menusuk dengan suatu jurus pedang, Cu Giok-ceng selalu meng-hadapinya dengan keras, seringkali ia harus batal-kan serangan di tengah jalan. Lama- lama timbul juga amarah Kun-tun Cin-jin, mendadak ia membentak, kebut di tangan kiri secepat kilat menyambar pergelangan tangan kiri Cu Giok-ceng.

Cepat si nona menghimpun tenaga pada ta-ngan kanan, ruyung menyabat ke arah senjata ke-but lawan, ia tahu Jian- kim-si-hun-pian amat tajam dan sanggup memotong emas dan baja, ia berniat hendak menghancurkan senjata kebut lawan. Siapa-tahu Kun-tun Cinjin sengaja mengatur siasat di balik serangannya itu, begitu kebut meng-hantam ke depan, tubuhnya terus melejit ke udara, dengan sendirinya kebut juga terhindar ancaman ruyung.

Ilmu meringankan tubuhnya cukup sempurna, sekali melompat lebih dua tombak tingginya, setelah berjumpalitan beberapa kali, pedang di tangan kanan dan kebut di tangan kiri secepat kilat melan-carkan serangan ke bawah.

Meski Cu Giok-ceng adalah jago muda yan§ hebat, tapi baru pertama kali ini ia saksikan kepan-daian sakti Kun-tun cinjin.

Bukan cuma Cu Giok-ceng saja, bahkan Si-hun-koay-sat-jiu dan Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau yang terhitung juga tokoh Bu- lim-jit-coat pun me-rasa kepandaian Kun-tun Cinjin ini belum pernah mereka saksikan pada delapan belas tahun yang lalu.

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng jadi terkesiap, se-ketika dia tak tahu bagaimana caranya menghadapi serangan lawan, cepat- cepat ruyung mestika di ta-ngan kanannya diputar ke atas hingga menciptakan selapis cahaya emas untuk melindungi kepala, ber-bareng itu tubuhnya bergeser tiga-empat langkah ke samping.

Di tengah teriakan dan bentakan, cahaya pe-dang itu lenyap, tahu-tahu Bok Ji-sia yang tadi menggeletak di tanah kini sudah berdiri tegap di tengah arena. Semua jago sama terbelalak dengan mulut me-longo, untuk sesaat mereka berdiri tertegun.

Kejut dan girang Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng, serunya merdu, “Bok….Bok Ji-sia, kau….kau telah hidup kembali.”

Ji-sia menggerakkan tangan kirinya dan ber-seru, “Nona, minggirlah kau!” Lalu dengan cepat ia bergerak maju.

Dengusan tertahan menggema, Hau Wi-kang, jago Hek-to- sam-koay yang berjuluk Eng-jiau-jiu itu tahu-tahu terbanting ke tanah, ternyata peluang tadi digunakan Hau Wi-kang untuk menerjang ma-ju sambil menyambar ruyung mestika Jian-kim- si-hun-pian yang terlempar di tanah itu.

Eng-jiau-jiu Hau Wi-kang termakan telak oleh pukulan Bok Ji-sia yang dahsyat itu, sedemikian hebatnya serangan itu, bukan saja tanpa menimbul-kan sedikit suara pun, bahkan orang lain tak sem-pat melihat jelas gerak serangannya, hanya tahu-tahu Eng-jiau-jiu Hau Wi-kang yang namanya meng-getarkan dunia persilatan itu sudah terhajar binasa seketika.

Tapi pada saat itu juga kebut di tangan kiri Kun-tun Cinjin secepat kilat membelit pergelangan tangan Giok-ceng, bila ditarik, tangan gadis itu niscaya akan kutung. Cu Giok-ceng menjerit kaget, telapak tangan kiri segera menghantam ke depan.

“Lepas tangan!” bentak Kun-tun Cinjin.

Mendadak kebut digetarkan dan ditarik, karena kesakitan di pergelangan tangannya, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian segera mencelat ke udara…..

Secepat kilat Kun-tun Cinjin melambung ke atas dan meraih ruyung mestika tersebut. Cu Giok-ceng yang angkuh dan  keras kepala segera juga membentak, pada saat yang sama ia pun melayang ke atas.

Beruntun telapak tangan kirinya melancarkan tiga kali serangan berantai….

Akan tetapi tubuh Kun-tun Cinjin telah ber-jumpalitan di udara, telapak tangan kanannya me-nyambut serangan si nona.

Pertarungan yang mengapung di udara meng-utamakan ketepatan waktu, tatkala Cu Giok-ceng melancarkan serangan tadi, secara kebetulan Kun-tun Cinjin sedang berjumpalitan di udara sambil menyerang, oleh karena itu tubuhnya jadi berada di bawah kurungan telapak tangan lawan.

Tampaknya pukulan itu segera akan bersa-rang telak di bagian mematikan di dada Cu Giok-eeng….Tiba-tiba menyambar datang cahaya putih.

Cahaya pelangi putih itu menyambar datang dari atas tanah dan langsung membabat pinggang Kun-tun Cinjin. Terkesiap Kun-tun Cinjin menghadapi jurus pe-dang yang demikian cepatnya, sebab cahaya putih pelangi itu bagaikan pedang terbang yang merupakan kepandaian tertinggi dalam dunia persilatan.

Mendadak Kun-tun Cinjin mendoyongkan tubuh dan  melejit, tiba-tiba tubuhnya melambung tiga kaki lebih ke atas.

Sekalipun reaksinya cukup cepat toh terasakan juga desing angin pedang yang dingin menyambar lewat. Sedangkan ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian dengan cepat meluncur ke permukaan tanah.

Kawanan jago persilatan yang berada di bawah serentak membentak dan berlomba melompat ke depan untuk memperebutkan benda mestika itu. Cahaya pelangi putih yang terpancar di udara itu tiba-tiba berubah menjadi berpuluh- puluh titik bintang yang berhamburan ke bawah, dibalik kabut sinar pedang yang tebal menggulung pula angin puyuh yang kencang.

Tapi Kun-tun Cinjin segera berjumpalitan di udara, secepat kilat ia melompat ke belakang ga-dis itu, selapis bunga pedang segera mengurung tu-buh Cu Giok-ceng, berbareng itu senjata kebut di tangan kiri menyabat pergelangan tangan si nona pula.

Tadi Cu Giok-ceng berhasil menguasai keadaan dengan mengandalkan kehebatan ruyung mestika Jian-kim-si-hun- pian, tapi sekarang ia malah terde-sak hingga musuh yang berbalik menguasai keadaan. Tiba-tiba bentakan nyaring berkumandang di-sertai suara bentrokan senjata. Akibat bentrokan tersebut, pedang di tangan kiri Cu Giok-ceng sampai terpental oleh pedang Kun- tun Cmjin.

Cu Giok-ceng benar-benar keras kepala, mes-ki pedangnya terpental, namun semangat tempurnya masih tinggi, sambil memutar badan ia menghindari sabatan kebut dan bacokan pedang musuh. Kemudian gadis itu melompat ke udara, ruyung mestika berputar kencang dan menghantam batok kepala Kun-tun Cinjin.

Kun-tun Cinjin tertawa dmgin, pedang diayun ke muka menyongsong serangan ruyung itu.

“Cring!” denting nyaring bergema, pedang Kun-tun Cinjin terpapas kutung menjadi dua bagian….

Selesai membunuh Eng-jiau-jiu Hau Wi-kang, dengan angkuh Bok Ji-sia berkata, “Barang siapa bosan hidup, silakan saja coba merampas Jian-kim-si-hun-pian ini!”

Si nona berbaju biru tadi segera berseru, “Ji-suheng, cepat kau bunuh dia!”

Kakek berambut putih itu membentak terus menerjang maju, tongkat bajanya diputar kencang dengan jurus Bong- hong-hu-sian (angin puyuh menderu-deru) dan langsung menyapu pinggang Bok Ji-sia.

Mengerikan sekali serangan ini, Cu Giok-ceng yang menonton di samping berseru kuatir. Ji-sia tertawa dingin, tubuhnya bergeser ke samping dengan gerakan aneh, pedangnya dengan cepat menabas tangan kakek berambut putih itu.

Gerakan menghindar kr samping serta maju menyerang ini boleh dibilang dilakukan hampir ber-sama waktunya. Tongkat si kakek berambut putih belum sem-pat ditarik kembali dan  tak sempat menangkis, ter-paksa ia menarik tangan dan miring ke samping. Gagal dengan serangannya, Ji-sia menubruk maju lagi, beruntun ia melancarkan tiga kali se-rangan kilat, kakek berambut putih itu terdesak mundur lagi dua langkah.

Kakek itu menjadi murka, bentaknya, “Kurangajar, kau cari mampus!”

Tongkat membawa deru angin tajam secepat kilat menyapu ke depan. Bok Ji-sia miringkan badan sambil melompat mundur. Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng yang berada di tepi arena cepat melompat maju dan menyambar Jian-kim-si-hun-pian yang tergeletak di tanah itu.

Hian-thian Koancu Kun-tun Cinjin tidak ting-gal diam, ia menerjang maju, kelima jari tangan se-gera mencengkeram.

“Minggir!” seorang membentak, tahu-tahu Lik-ih-hiat-li juga menubruk tiba, telapak tangan kiri-nya terus menghantam.

Hian-thian Koancu Kuntun Cinjin cukup tahu kesempurnaan tenaga dalamnya, setiap gerakan pe-rempuan itu mungkin saja merupakan serangan ma-ut, maka buru-buru ia melompat ke belakang.

Di pihak lain Si-hun-koay-sat-jiu tanpa me-nimbulkan suara sedikitpun mendekat ke belakang Cu Giok-ceng, secepat kilat ia mencengkeran pergelangan tangan kanan si nona yang memegang ruyung, seketika itu seluruh tenaga Cu Giok-ceng lenyap, ruyung mestika itupun jatuh ke tanah.

Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau membentak, tong-kat berputar dengan kuat terus menyapu ke depan.

Sesungguhnya Si-hun-koay-sat-jiu tidak ber-niat melukai Cu Giok-ceng, maka setelah ruyung emas itu jatuh ke tanah, ia lantas menyambarnya dengan tangan kiri. Tapi saat itulah tongkat Pek-pin-kui-po telah menyambar dari belakang, terpaksa dia mengangkat kaki kanan, Jian-kim-si-hun-pian didepak ke sana seraya berteriak, “Hidung kerbau, cepat sambut benda ini!”

Cahaya keemasan berkelebat, ruyung mestika itu meluncur ke arah Hian-thian-koancu. Cepat Kun-tun Cinjin menyambar ruyung mes-tika itu dengan tangan kanan. Tapi tangan kanan Lik-ih-hiat-li yang putih tahu-tahu meraih lebih dahulu.

Hun-thian-koancu Kun-tun Cinjin jadi gelisah melihat ruyung mestika itu bakal jatuh ke tangan orang, segera ia melepaskan pukulan dahsyat yang mementalkan ruyung itu lebih jauh ke depan.

“Prak!” ruyung itu tepat jatuh di depan ketiga gadis dari Hek-liong-kang, Si nona berbaju biru itu segera mengambil ruyung mestika itu, ujarnya sambil tertawa, “Hei, ini yang kalian perebutkan! Kenapa ruyung ini malah kalian antar ke hadapanku?”

Serentak semua orang yang bertarung berhenti bergerak, sedang si kakek berambut putih melompat ke depan ketiga orang gadis, tongkat bajanya di-rentangkan dengan sikap yang kereng.

Pelahan para jago melangkah maju dan me-ngepung rapat keempat orang itu.

Tiba-tiba Ji-sia menyerahkan kembali pedang-nya kepada Cu Giok-ceng seraya berkata, “Nona Cu, kukembalikan pedang ini padamu!”

Rupanya waktu Ji-sia sadar tadi, pedang Cu Giok-ceng yang dipentalkan oleh pukulan Kun-tun Cinjin kebetulan jatuh tak jauh di sisi tubuhnya.

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng menerima kem-bali pedangnya, katanya dengan tersenyum, “Coba kalau tidak kau tolong diriku tadi, niscaya aku su-dah celaka….”

Bicara sampai disini, tiba-tiba ia menghela na-pas sedih dan menitikkan air mata. Ji-sia menjadi heran, “Nona, kenapa kau?” tegurnya.

“Bok-siangkong….” tiba-tiba Cu Giok-ceng meratap sedih, ia melangkah maju dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan anak muda itu.

Buru-buru Bok Ji-sia mengegos dan menahan bahu si nona dengan tangan, “Nona, kenapa….”

“Bok Ji-sia, peluk dia!” kata Lik-ih-hiat-li sambil menghela napas.

“Apa katamu?!” seru Ji-sia kaget.

“Tak lama lagi nona Cu akan mati!” ucap Lik-ih-hiat-li sedih.

“Kenapa?” seru Ji-sia terkejut.

“Demi menyelamatkan jiwamu, ia rela mengor-bankan jiwa sendiri untuk menukar jiwamu dari tangan si nona berbaju biru itu.”

“Sebenarnya apa yang kau maksudkan?” tanya Ji-sia bingung, “dapatkah kau terangkan lebih jelas?”

Cu Giok-ceng mengira Ji-sia sengaja berlagak pilon, pedih hatinya, tak kuasa lagi ia menangis tersedu-sedu.

“Kau laki-laki tak berperasaan!” Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau membentak dengan gusar, “demi kau, ia rela mengorbankan jiwanya, tapi kau malah ber-sikap demikian…..”

“Jangan menyalahkan dia Jik-locianpwe,” pinta Cu Giok- ceng sambil menangis, “semua ini adalah atas kemauanku sendiri.”

“Bok Ji-sia” pelahan Lik-ih-hiat-li berkata, “tadi kau menderita luka yang parah, racun telah merasuk tulangmu hingga nyawamu berada di am-bang akhirat, tak seorang pun di dunia ini yang sanggup menyembuhkan lukamu kecuali si perem-puan berbaju biru itu, karena kau terkena racun Bu- siang-teh-im-hu-kut-kang yang lihai. Tapi waktu hendak menolongmu, nona berbaju biru itu me-nyatakan bila ingin dia menolongmu, maka iapun menghendaki nyawa lain sebagai penggantinya. Nona Cu rela mengorbankan jiwanya demi menyelamat-kan dirimu, untuk memenuhi janji seorang ksatria, setelah kau sembuh, kini iapun harus……”

Bok Ji-sia sangat terharu, dipegangnya kedua bahu Cu Giok-ceng erat-erat.

“Nona Cu, kenapa kau harus berbuat demikian?” tanyanya dengan suara gemetar.

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng yang biasanya ke-ras hati dan gagah perkasa, kini berubah menjadi lemah, ia meratap pedih, “Bok-siangkong…..”

Tiba-tiba ia membenamkan kepalanya di dada Bok Ji-sia sambil menangis. Ji-sia sudah pernah merasakan bagaimanakah menghadapi kematian, tentu saja ia cukup mema-hami perasaan sedih Cu Giok-ceng sekarang, apa-lagi dari ratapannya dapat diketahui bahwa gadis itu mencintainya.

Ji-sia merangkul pinggangnya yang ramping, air matanya pun berlinang-linang, dengan sedih ia berpikir, “Kenapa perempuan-perempuan ini sama mencintaiku…..?”

Tiba-tiba Cu Giok-ceng berhenti menangis dan menikmati sekedar kehangatan sebelum kematian menjelang tiba, sekarang ia dapat merasaksn betapa lembut, hangat dan mesranya rangkulan anak mu-da yang dicintainya.

Inilah saat yang paling bahagia sepanjang hidupnyn di dunia ini, ia pikir, seandainya dia tidak berbuat demikian, mungkin selama hidup tak ada kesempatan untuk menikmati pelukan yang hangat ini, karena ia tahu akan kejelekan wajahnya, tiada harapan baginya untuk merebut hati kekasih di tengah sekian banyak gadis cantik, dia hanya akan kecewa dan merasa-kan penderitaan akibat cinta yeng bertepuk sebelah tangan. Padahal jalan pikiran itu keliru besar, wajah cantik bukan syarat mutlak untuk mendapatkan, cinta kasih orang. Kecantikan rohaniah jauh lebih menarik dari keindahan di luar, dan seringkali lebih dikagumi orang.

Cu Giok-ceng memiliki perasaan rendah diri, maka sekarang ia merasakan kepuasan, dia rela ma-ti, dia tidak mengharapkan terlalu banyak, dia ha-nya membutuhkan kehangatan sejenak saja, dan ia akan mati dengan hati tenteram.

Tiba-tiba terdengar si nona berbaju biru ber-kata dengan dingin, “Jika kalian merasa berat ha-ti untuk meninggalkan tempat ini, lebih baik ber-angkat saja bersama ke akhirat, di situ kalian mau bermesraan dengan cara apapun dapat kalian laku-kan dengan sesuka hati.”

Mendengar itu, merah air muka Cu Giok-ceng, tiba-tiba ia meronta dan melepaskau diri dari rang-kulan Bok Ji-sia.

Sebaliknya sinar mata Ji-sia memancarkan ca-haya tajam, pelahan ia mendekati nona bercadar itu.

“Bok-siangkong!” teriak Cu Giok-ceng dengan sedih, “Jangan kau celakai dia…..”

Sambil berkata, dengan gerak cepat ia menye-linap ke samping Ji-sia. Memandangi wajahnya yang sayu itu, tanpa terasa Ji-sia menghela napas….

“Hmm, melihat tampangmu yang menyeramkan memangnya hendak bermusuhan denganku?” seru si nona berbaju biru.

Ji-sia segera tertawa dingin, “Aku bukan saja akan memusuhimu, bahkan hendak membunuh pula dirimu.”

Habis berkata, secepat kilat pemuda itu me-nerjang ke depan. “Berhenti!” kakek berambut putih itu mem-bentak, tongkat bajanya langsung disodokkan ke depan.

Dengan cekatan Ji-sia menyelinap ke samping meloloskan diri dari sodokan tersebut, lalu dengan lincah tubuhnya meliuk kian kemari dan tahu-tahu sudah tiba di depan nona berbaju biru itu.

Gerak tubuhnya itu sungguh aneh dan jarang terlihat, bahkan jago lihai seperti kakek berambut putih itupun tak mampu menghalanginya.

Gagal dengan serangannya, cepat tangan kiri kakek berambut putih itu menyambar bahu Ji-sia….

Terdengar kesiur angin, seperti hantu saja Lik-ih-hiat-li telah menyelinap maju, dengan jari tang-annya yang putih ia tutuk jalan darah Ci ji-hiat si kakek.

Sementara itu Ji sia menerjang lebih ke depan, buru-buru Pek Sat dan Pek Bi siapkan telapak ta-ngan hendak melancarkan serangan…..

“Cici berdua, biarkan dia kemari, dia tak akan berani memukulku!” tiba-tiba si nona berbaju biru menghalangi mereka.

Mendadak Ji-sia angkat telapak tangan kanan-nya, katanya dengan dmgin, “Kau bilang aku tak berani memukulmu? Huh, tak tahu malu!”

Diam-diam Pek Sat dan Pek Bi menghimpun tenaga dalam dan siap menghadapi segala kemung-kinan, asal Ji-sia melancarkan serangan, segera me-reka akan menghadapinya dengan sepenuh tenaga.

Nona berbaju biru itu memandang sekejap te-lapak tangan Ji-sia yang terangkat itu, kemudian katanya sambil tertawa merdu, “Telapak tanganmu telah diangkat, kenapa tak berani memukulku?” Sambil tertawa, pelahan ia maju lebih dekat. Sekalipun wajahnya memakai kain cadar berwarna biru, tapi dari suaranya Ji-sia seperti melihat senyum serta kecantikannya, apalagi potongan ba-dannya yang menggiurkan sungguh membuat orang membayangkan yang bukan-bukan.

Entah mengapa, telapak tangan kanan Ji-sia yang terangkat itu tak sanggup dipukulkan.

Tahu-tahu si nona berbaju biru sudah berada dekat di mukanya, terdengar suaranya yang dingin, “Kau laki-laki kasar yang tak berperasaan, sung-guh ingin kugampar kau dua kali!”

Terendus bau harum berhembus lewat, tahu-tahu “plak, plak,” kedua pipi Ji-sia tertampar nyaring, anehnya meski suaranya nyaring namun sama se-kali tak terasa sakit.

Ji-sia tertegun, ia mundur dua langkah, ta-ngannya sudah siap diayunkan ke depan, tapi hati-nya tak tega setelah dilihatnya butiran air mata membasahi pipi si nona yang kelihatan perlu di-kasihani itu.

“Bagaimanapun juga dia adalah penolong yang menyembuhkan penyakitku,” demikian ia pikir, “seharusnya kuucapkan terima kasih kepadanya, ma-na boleh…..”

Berpikir sampai di sini, rasa gusarnya lantas reda, pelahan ia turunkan tangannya dan bertanya, “Nona, kalau kau mau menolongku, kenapa harus mengorbankan jiwa orang lain lagi?”

Si nona berbaju biru menghela napas, “Selama hidupku tak mau menelan kerugian, lebih-lebih aku tak ingin menolongmu, tapi dia berulang memohon kepadaku agar menyembuhkan kau, maka terpaksa jiwanya harus digunakan untuk menukar jiwamu.”

Ji-sia tidak menyangka gadis itu memiliki ja-lan pikiran yang begitu sempit, ia menghela napas, “Aku orang she Bok pun selamanya enggan mene-rima budi kebaikan orang lain, kalau memang demi-kian, silakan kau turun tangan untuk merenggut nyawaku!”

“Bok-siangkong, kau tak boleh mati, aku mo-hon padamu, janganlah mati!” seru Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng tiba-tiba sambil menubruk maju.

Pelahan Lik-ih-hiat-li juga maju ke depan, ia mendongak memandang awan di angkasa, seperti lagi memikirkan suatu masalah yang sukar dipecah-kan.

“Budak setan!” maki Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau, “kenapa kau cari mampus?”

“Aku sudah menyanggupi permintaan orang, jadi aku harus mati!” sahut si nona.

Ji-sia tertegun, serunya tiba-tiba, “Urusan mati-hidup seorang mana boleh disanggupi dengan begitu saja?”

Cu Giok-ceng memandang sekejap ke arahnya, lalu menghela napas sedih, katanya, “Persoalannya telah berkembang menjadi begini, menyesal pun tak ada gunanya, tentu saja aku mati dengan rela, cu-ma kuminta setelah kematianku nanti dapatlah Bok-siangkong selalu teringat pada perempuan yang ber-nasib buruk ini…….”

Bicara sampai di sini, suaranya mendadak ber-ubah menjadi parau sehingga kedengarannya me-milukan sekali.

“Ya, sudah pasti dia akan teringat selalu pada dirimu si gadis malang yang mati karena dia,” sin-dir si nona berbaju biru, “bahkan, siapa tahu ka-lau dia akan membuatkan sebuah kuburan yang indah untukmu, setiap hari Cengbeng dia akan ber-ziarah dan membakar uang untukmu, dengan de-mikian kematianmu pun ada harganya. Nah, sudah waktunya, cepatlah menggorok lehermu untuk bu-nuh diri!”

Cu Giok-ceng menghela napas panjang, dia mengangkat pedangnya dan segera ditusukkan ke tenggorokan sendiri. “Ceng-ji!” tiba-tiba Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau berteriak, “Kau….kau tak boleh mati!”

Sinar pedang yang dingin telah menyentuh ku-lit leher Cu Giok-ceng, benak nona itu sekarang serasa kosong melompong, apa yang dipikirkan ha-nyalah kematian, akan tetapi setelah mendengar te-riakan Jik Say-kiau yang tidak biasa itu, pedang-nya menjadi agak merandek.

Pada saat itulah Ji-sia yang berada di sam-pingnya telah mencengkeram urat nadi pergelangan tangannya dan merampas pedangnya.

Dengan mata yang memilukan Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau barkata, “Anak Ceng, kau jangan mati, kutahu alasanmu ingin mati, tapi sekarang aku te-lah berhasil mendapatkan obat untukmu.”

Kata-kata ini diucapkan dengan penuh kasih sayang dan luapan duka yang tak terperikan. Titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi wajah Cu Giok-ceng, tiba-tiba ia menubruk ke dalam rangkulan Jik Say-kiau, serunya sambil terisak, “Jik-locianpwe, apakah….apakah engkau ibuku?”

Air muka Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau ber-ubah hebat, tapi hanya sebentar saja lantas lenyap, dan senyuman getir yang menghiasi wajahnya.

“Anak Ceng, aku adalah ibumu,” sahutnya, “tapi kuminta, untuk sementara waktu janganlah bertanya apa-apa kepadaku, kau mempunyai ayah….”

Sekarang Cu Giok-ceng telah mengerti akan kasih sayang Jik Say-kiau kepadanya, perasaan ren-dah diri yang menyelimuti hatinya berangsur men-jadi berkurang, sebab pada mulanya dia mengira dirinya adalah seorang anak yang tak berayah dan tak beribu. Lik-ih-hiat-li sebenarnya seorang yang penuh diliputi kesedihan, ketika melihat keadaan mereka berdua, tak tahan lagi air matanya ikut bercucuran.

Melihat kesedihan Lik-ih-hiat-li diam-diam Kwanliong Ciong- leng juga menghela napas sedih.

Si nona berbaju biru itu sungguh seorang ga-dis yang berhati keras dan tak berperasaan, walau-pun menyaksikan kejadian yang mengharukan hati itu, ternyata ia sama sekali tidak terpengaruh, bah-kan sambil tertawa dingin katanya, “Cu Giok-ceng, ucapan perpisahan kalian ibu dan anak sudah lewat!”

Ji-sia menjadi marah, teriaknya, “Kalau kau- ingin membunuhnya, boleh bunuhlah aku lebih dulu!”

Sambil berkata ia lantas membusungkan dada dan menunjukkan sikap seakan-akan memandang kematian seperti pulang ke rumah.

“Baiklah!” ucap si nona berbaju biru dingin, “pokoknya satu di antara kalian harus mati!”

Seusai berkata, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian pelahan diangkatnya dan ditujukan ke dada anak muda itu.

“Bok Ji-sia!” tiba-tiba Lik-ih-hiat-li meng-hela napas sedih. “Bolehkah kau mati sekarang?”

Anak muda itu terkesiap, pikirnya, “Betul! Dendam berdarahku belum terbalas, pesan guruku Oh Kay-gak juga belum terlaksanakan, mana boleh aku mati….?”

“Bok-siangkong,” terdengar Cu Giok-ceng me-ratap lirih, “kau tak boleh mati…..”

Sambil berkata, dengan cepat luar biasa men-dadak ia menerjang maju.

Kebetulan pada saat itu si nona berbaju biru lagi angkat ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian dan ditusukkan ke depan….. Jeritan memilukan hati segera berkumandang, jalan darah Im-tok-hiat di dada Cu Giok-ceng tertusuk oleh ujung ruyung hingga darah segar me-nyembur keluar dengan derasnya, pelahan gadis itu terkulai ke tanah.

Pek-pin kui-po Jik Say-kiau minjerit, ia me-nerjang ke depan dan merangkul tubuh gadis itu.

Sinar mata Bok Ji-sia seakan-akan membara, dengan suara agak gemetar ia membentak, “Perempuan liar, kau…kau sungguh keji, aku….aku…..Bok Ji-sia bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu…..”

Sekujur badan si nona berbaju biru tampak ge-metar, tiba- tiba ruyung Jian-kim si-hun-pian jatuh ke tanah.

Pek Sat segera maju memayang tubuhnya, lalu menegur, “Siocia, kenapa kau?”

“Enci Pek Sat, aku….aku salah menusuk!” desis nona itu dengan suara gemetar.

Tiba-tiba tak jauh dari arena berkumandang suara gelak tertawa yang nyaring, menyusul sese-orang menyambung, “Nona, kau tidak salah menusuk, tusukanmu itu sangat tepat, sedikit pun tak meleset, aku merasa kagum sekali dengan gerakan-mu itu, sungguh tiada tandingannya di dunia ini.”

Mendengar suara orang itu, air muka Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng berubah hebat, tiba-tiba ia menerjang ke muka dan secepat kilat me-nyambar ruyung mestika Jian- kim-si-hun-pian yang tergeletak di tanah itu.

Matahari sudah hampir terbenam di langit ba-rat, saat menjelang tibanya senja.

Di bawah cahaya senja, dari balik semak di samping kiri pelahan berjalan keluar seorang sas-trawan setengah umur yang tampan dan perlente dengan pedang tersandang di punggungnya, orang ini adalah Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian yang ber-hati busuk itu. Tindak tanduk si nona berbaju biru serta ke-munculan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian secara tiba-tiba membuat semua orang merasa bingung, mereka tak tahu permainan busuk apakah yang sedang ber-langsung ketika itu.

Tiba-tiba Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng menyerahkan ruyung mestika itu kepada Bok Ji-sia seraya berkata, “Ruyung ini milikmu, cepat kau- ambil kembali!”

Melihat itu, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian ter-senyum, katanya, “Saudara Kwanliong, begitu ba-nyak jago lihai yang hadir di sini, masakah kau -takut aku akan mengangkangi ruyung itu sendiri? Apakah perbuatanmu itu tidak terlalu memandang rendah teman-teman dunia persilatan?”

Bok Ji-sia sama sekali tidak menggubris ke-munculan Seng- gwat-kiam Oh Kay-thian, dia hanya melirik sekejap ke arahnya, lalu menerima ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian.

Kemudian katanya kepada nona berbaju biru itu, “Sekarang akupun hendak mempergunakan ruyung ini untuk membu-nuhmu, sekaligus membalaskan dendam baginya.”

“Jangan kuatir Bok-siauhiap,” kata Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian sambil tertawa, “Cu Giok-ceng takkan mati!”

“Apa? Kau bilang dia tak akan mati?” seru Pek-pin-kui-po Jik Say-kiau terkejut.

Oh Kay-thian tertawa, “Jik Say-kiau, sesama umat persilatan, masakah aku membohongimu?”

“Hmm, dari mana kau tahu dia belum mati?” de-ngus Ji-

sia.

Setelah mendengar perkataan Oh Kay-thian ta-di, Jik Say- kiau menundukkan kepala memperhati-kan Cu Giok-ceng dalam pelukannya.

Tertampak air muka gadis itu berubah pucat seperti mayat, bibirnya terkatup rapat, napasnya lemah sekali, keadaannya sudah senin-kamis, meski demikian, terlintas setitik harapan pada wajah ne-nek itu.

“Bok-siauhiap,” kata pula Oh Kay-thian, “soal ini boleh kau tanya saja padanya, dia pasti tahu.”

“Oh Kay-thian, apakah kau minta kukatakan?” ujar si nona berbaju biru sambil tertawa.

Air muka Oh Kay-thian rada berubah, tapi se-gera pulih kembali seperti semula, sahutnya sambil tersenyum, “Nona adalah dewi di tengah manusia, kecerdasanmu membuatku kagum sekali, bila kau tidak menolak, Oh Kay-thian suka mengikat tali persahabatan dengan perguruan kalian.”

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin tertawa dingin, sindirnya, “Oh-losam, tampaknya kepandaianmu makin hari makin besar, Hehehe, sekalipun kau bekerja sama dengan pihak Hek-liong- kang, kuyakin juga bukan tandingan seluruh umat persilatan  di dunia ini.”

“Lokoancu, kau salah mengartikan perkataanku,” kata Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dengan tertawa dingin.

“Saudara Oh,” ujar Kwanliong Ciong-leng, “melihat cara busukmu menghadapi teman, suatu hari kau pasti akan mendapat ganjaran atas perbu-atan busukmu itu.”

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tergelak tertawa, “Saudara Kwanliong, entah sejak kapan aku ber-buat salah padamu?”

Sinar mata penuh kebencian menyorot keluar dari mata Kwanliong Ciong-leng, “Apa yang telah kau lakukan tentu kau paham sendiri, buat apa aku banyak bicara?”

“Hmm, masakah kau berani mencari malu sendiri?” jengek Oh Kay-thian.

Dengan sinar mata penuh rasa dendam Ji-sia melirik sekejap ke arah Oh Kay-thian, lalu serunya, “Oh Kay-thian, suatu hari kelak pasti akan kucari kau untuk membuat perhitungan!”

Seperti diketahui, nama Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dalam dunia persilatan dewasa ini sama sekali tidak di bawah nama Bu-lim-jit-coat, maka sikap permusuhan Ji-sia ini amat membingungkan para jago, mereka tak tahu ada perselisihan apakah di antara mereka berdua.

“Mana, mana!” kata Oh Kay-thian dengan ter-tawa, “Bok- siauhiap, akan kunantikan dirimu.”

Lik-ih-hiat-li mendengus, “Hm, jika Bok Ji-sia sampai mengalami sesuatu, kau, Oh Kay-thian pun jangan harap bisa hidup.”

“Perkataan Lik-ih-lihiap terlalu serius, dalam dunia persilatan dewasa ini banyak sekali orang yang hendak mencelakainya, apakah aku harus bertang-gung jawab seluruhnya?”

“Coba katakan, siapa saja yang hendak men-celakainya?” bentak Lik-ih-hiat-li.

Seog-gwat-kiam Oh Kay-thian tersenyum, “Ru-yung emas Jian-kim-si-hun-pian terjatuh ke tangan-nya, sekalipun orang yang hadir sekarang tak berani turun tangan padanya, tapi mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa berdarah atas ruyung mus-tika ini pasti akan mencarinya untuk menuntut ba-las….

Gelak tertawa Si-hun-koay-sat-jiu yang menusuk telinga segera memotong perkataannya yang belum selesai itu, katanya, “Oh-losam, kalau bicara hendak-nya tahu diri sedikit, jangan terlalu meremehkan orang yang ada di sini.”

“Ah, rupanya saudara Si-hun juga berada di sini. Maaf! Maaf! Tentu saja kau berani turun tangan merampas benda itu dari tangannya.” seru Oh Kay-thian.

Ucapan ini bernada menyindir dan tak sedap didengar. Mendongkol sekali Si-hun-koay-sat-jiu, dengan gusar ia berseru, “ Oh Kay-thian, orang lain takut padamu, masa aku jeri kepadamu? Kalau punya kepan-daian ayolah sebutkan caranya?”

Oh Kay-thian memang cukup sabar, ia tidak menjadi gusar oleh perkataan itu, sambil tertawa katanya, “Saudara Si-hun, akhir-akhir ini hawa amarahmu benar-benar amat besar. Ketahuilah ke-datanganku ini bukan untuk berkelahi, apalagi aku-pun tidak berminat berbuat demikian.”

Si nona berbaju biru tertawa merdu, selanya, “Kalau begitu, apa maksud kedatanganmu? Apakah hendak mengobrol denganku?”