Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 10

Jilid 10

Kiranya semenjak dikalahkan Lik-ih-hit-li, Kun-tun Cinjin masih penasaran, ia berusaha mencari jalan untuk membalas dendam, maka ia sengaja mengumbar kata-kata besar di hadapan Si-hun-koay-sat-jiu dengan harapan orang mau bekerja sa-ma dengannya untuk membunuh Lik-ih hiat-li.

Melihat keseriusan orang, Si-hun-koay-sat-jiu tertawa dingin, ujarnya, “Hidung kerbau, rupanya nyalimu sudah dibikin ciut oleh tiga pria dan em-pat perempuan dari Hek- liong-kang?”

“Kau anggap ketiga orang laki-laki dan empat orang perempuan dari Hek-liong-kang itu bisa kau robohkan dengan mudah!?” Kun-tun Cinjin balas mengejek,”sesungguhnya bukan cuma orang-orang Hek-liong-kang saja yang lihai, masih ada jago lain yang lebik tangguh lagi, terus terang, aku sendiri pun pernah kecundang di tangannya.”

“Tosu tua, permainan setan apa yang sedang kau lakukan, dapatkah kau jelaskan perkataanmu dengan lebih terperinci?”

“Makhluk tua, tahukah kau siapa di dunia de-wasa ini yang sanggup menahan pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang yang maha lihai itu?” tanya Kun-tun Cinjin.

Mendadak Ji-sia berbisik kepada Lamkiong Giok, “Saudara Lamkiong, apakah kau tahu bilakah diselenggarakan pertemuan Bu-lim-jit-coat?”

Belum lagi Lamkiong Giok menjawab, tiba-ti-ba dari belakang mereka berkumandang suara ge-lak tertawa, menyusul seseorang menegur, “Lamkiong lote, kiranya kaupun berada di sini, kenapa tidak segera menampakkan diri?”

Lamkiong Giok segera berpaling, dengan ma-tanya yang tajam ia memandang sekejap sekeliling tempat itu. Tertampaklah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat dan Bu-sian-gisu Kwanliong Ciong-leng mun-cul dari balik kegelapan sana.

Menyusul kemudian beberapa sosok bayangan lantas muncul juga, mereka adalah Hek-to-sam-koay yang terdiri dari Kui-tau-kau Tu Leng-mong, Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou serta Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang, lalu tampak pula Im-hong- ciang Kui Kok-hou dan Mo-in-jiu Kok Siau-thian.

Bekernyit alis Lamkiong Giok menyaksikan Bu-sian-gisu Kwanliong Ciong-leng berada bersama orang-orang Thian- seng-po, tapi segera katanya de-ngan tertawa, “Saudara Kwanliong, sedari kapan kau bergaul dengan Oh Ku-gwat sekalian?”

Bu-sian-gisu Kwanliong Ciong-leng tertawa, sa-hutnya, “Kami baru saja tiba di sini dan bertamu secara tak sengaja, maka kamipun beramai-ramai datang melihat keramaian. Mari, mari! Kita ber-sama-sama unjukkan diri untuk bertemu dengan mereka.”

Sambil bicara Oh Ku-gwat sekalian lantas barjalan menuju ke tengah arena….

“Saudara Bok,” tiba-tiba Lamkiong Giok ber-bisik, “coba lihatlah keadaan kita yang tidak me-nguntungkan ini, bagaimana kalau kita menghindar dulu untuk sementara waktu?”

Baru selesai berkata, mendadak suara tertawa yang menyeramkan berkumandang tiba, menyusul seseorang berkata, “Anak keparat Lamkiong Giok, jangan harap kau bisa kabur dari sini. Hehehe, se-kali ini pasti ada kesenangan yang akan kau cicipi kecuali bila setan tua ayahmu muncul mendadak di sini sekarang juga.”

Ternyata Kun-tun Cinjin sedang berjalan ke arah mereka dengan langkah perlahan. Melihat itu, sadarlah Lamkiong Giok tak bi-sa kabur lagi, dengan nekat ia tertawa dingin, “Kun-tun Locianpwe, apakah kau hendak menganiaya orong muda?”

Kun-tun Cinjin tertawa seram, mendadak ia mencengkeram tubuh Lamkiong Giok, cepat serang-annya, tepat sasarannya.

“Mundur kau!” bentak Ji-sia, tangannya segera menabas tubuh Kun-tun Cinjin.

Terkejut Kun-tun Cinjin, terpaksa ia batalkan ancamannya terhadap Lamkiong Giok dan menyong-song serangan Bok Ji- sia.

“Plak!” terjadi adu tenaga pukulan. Kun-tun Cinjin segera merasakan segulung te-naga pukulan yang kuat menumbuk tubuhnya, ia tergetar mundur tiga langkah.

Hal ini membuat Kua-tun Cinjin terkejut, pi-kirnya, “Kenapa tenaga pukulan bocah ini jauh le-bih kuat dari dulu? Padahal dalam seranganku ba-rusan paling tidak telah kusertakan enam bagian te-nagaku, jangan-jangan malam ini aku mesti tertimpa sial terus menerus.”

Kemampuan Ji-sia memukul mundur Kun-tun Cinjin, seorang tokoh di antara Bu-lim-jit-coat, tentu saja mengejutkan semua jago yang hadir, meskipun semua orang tahu ia memiliki kungfu yang hebat, tapi tidak menyangka sedemikian pesat kemajuan yang dicapainya. 

Si-hun-koay-sat-jiu dengan sorot matanya yang tajam mengamati wajah Ji-sia sekejap, tiba-tiba ia maju menghampirinya.

“Saudara Bok, awas Si-hun-koay-sat-jiu!” mendadak terdengar Lamkiong Giok berseru kuatir.

Baru lenyap suaranya, mendadak Si-hun-koay-sat-jiu mengebaskan lengan baju kiri setajam pisau menyabat pergelangau tangan kanan Ji-sia.

Setelah mengalami pelbagai kelicikan dan ba-hayanya dunia persilatan selama setengah bulan ter-akhir ini, dalam hati Ji-sia telah mempertinggi ke-waspadaan, setelah menghajar mundur Kun-tun Cinjin tadi, diam-diam ia menghimpun tenaga dalam untuk menghadapi segala kemungkinan, maka wak-tu Si-hun-koay-sat-jiu menghampirinya, ia lantas ta-hu orang hendak mencari perkara kepadanya.

Karena itulah, ketika ujung baju Si-hun-koay-sat-jiu menyambar pergelangan tangan kanannya, cepat Ji-sia berkelit ke samping, kemudian ia balas mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-koay-sat-jiu.

Si-hun-koay-sat-jiu tidak menyangka pemuda itu memiliki ilmu silat begini hebat, sebab serangan balasan itu sedemikian aneh sehingga ia tak men-duga sebelumnya, apalagi di antara rentang jari la-wan terasa ada lima gulung angin tajam menyam-bar tiba.

Dengan terkejut buru-buru ia tarik kembali se-rangannya sambil melompat mundur. Ji-sia tak memberi peluang bagi musuh, sambil membentak telapak tangan kirinya menyerang pula dengan jurus Sin-liong-jut-in (naga sakti keluar dari mega), kembali ia menabas.

Meski Ji-sia tahu tenaga dalam sendiri menda-pat kemajuan pesat sejak mendapat warisan tenaga murni hasil latihan puluhan tahun Oh Kay-gak, te-rutama setiap kali bila terhantam oleh orang selalu muncul hawa murni yang aneh menyalur ke sendi tulang sehingga membuat tubuh menjadi se-gar dan tenaga dalam seakan-akan bertambah kuat, tapi dia sendiri tak tahu sampai taraf bagaimanakah tenaga dalamnya sekarang.

Kini ia berhadapan dengan Si-hun-koay-sat-jiu yang seangkatan dengan gurunya dalam Bu-lim-jit-coat, mau-tak- mau timbul juga rasa tegangnya, maka be-gitu turun tangan ia gunakan tenaga sepenuhnya.

Melihat datangnya serangan hebat, Si-hun-koay-sat-jiu tertawa dingin, dengan tujuh bagian tenaga dalam telapak tangan kirinya menyambut ancaman lawan.

Ketika dua gulung angin pukulan ysng maha dahsyat itu bertemu, Ji-sia terguncang keras, tapi ia tetap berdiri tegak di tempatnya, sebaliknya Si-hun-koay-sat-jiu merasakan tenaga dahsyat menum-buknya, untung tenaga dalamnya cukup sempurna sehingga tubuhnya tak sampai tertolak mundur. Semua orang yang hadir sama terkesiap, tim-bul perasaan jeri dan ngeri setiap orang terhadap Bok Ji-sia. Lamkiong Giok sendiripun merasa kaget me-nyaksikan kemampuan Ji-sia menyambut dua pukul-an dari dua tokoh Bu-lim-jit-coat, tapi diam-diam iapun kagum atas kesempurnaan tenaga dalam Ji- sia, tanpa terasa jerinya terhadap Kun-tun Cinjin dan Si-hun- koay-sat-jiu jadi berkurang.

“Meskipun posisiku malam ini sangat berba-haya,” demikian pikirnya, “tapi bila aku bekerja sa-ma dengan Bok Ji- sia, sekalipun tak bisa menan-dingi kedua jago lihai itu, untuk mempertahankan diri atau melarikan diri rasanya tidak menjadi soal.”

Ketika rasa jerinya hilang, keberanian Lamkiong Giok pun timbul lagi, ia tertawa terbahak-bahak, sambil memberi hormat keoada Si-hun-koay-sat-jiu katanya dengan lantang, “Sudah lama kudengar nama kebesaran Si-hun-koay-sat-jiu, sayang belum ada ke-sempatan untuk bertemu, sungguh beruntung ke-inginanku itu terpenuhi pada malam ini.”

Dengan sinar mata tajam Si-hun-koay-sat-jiu memperhatikan Lamkiong Giok dari atas hingga ke bawah berulang kali, kemudian ia tertawa seram.

“Konon Lamkiong Hian mempunyai seorang putera kesayangan bernama Huan-in-kiam Lam-kiong Giok, apakah kau ini orangnya?” ia mene-gur dingin.

“Tidak berani! Tidak berani!” Lamkiong Giok tersenyum. “Wanpwe hanya seorang pemuda ke-marin sore, masih sangat mengharapkan petunjuk dari Locianpwe.”

Si-hun-koay-sat-jiu lantas menuding Bok Ji-sia dan bertanya. “Lamkiong Giok, siapakah orang ini?”

“Dia adalah seorang sahabat karib Wanpwe, harap Cianpwe suka memaafkan,” jawab Lamkiong Giok. Meski orang berwatak aneh dan tinggi hati, menghadapi sikap sopan dan hormat Lamkiong Giok ini terasa enggan juga untuk bersikap keras, di sinilah terbukti betapa cerdiknya pemuda ini.

Ketika Kun-tun Cinjin melihat Si-hun-koay-sat-jiu bermaksud mengundurkan diri, buru-buru seru-nya, “Anak keparat Lamkiong, mulutmu memang tajam sekali, sungguh kagum Lamkiong Hian mem-punyai seorang putera seperti kau, cuma malam ini jangan harap kau bisa lolos dari perhitungan utang lama.”

Sambil berkata, pelahan Tosu itu mendekati Bok Ji-sia.

Pada saat itulah mendadak dari kamar sebelah kanan berkumandang suara teguran seorang laki-laki yang amat angkuh, “Hei, kalian manusia-manusia tak tahu diri, di tengah malam buta begini bukan saja sembarangan memasuki rumah orang, membuat gaduh lagi sehingga mengganggu ketenangan tidur orang, jika tidak cepat-cepat enyah dari sini, jangan menyesal jika aku bertindak bikin kalian mati tanpa tempat kubur.”

Sungguh nada yang sombong, siapa pun merasa tidak puas.

Si-hun-koay-sat-jiu tertawa seram, katanya, “Orang-orang Hek-liong-kang memang sombong, sebelum sempat melihat tampang mereka sung-guh aku merasa berat meninggalkan tempat ini!”

“Liong-coa-siang-siu, di mana kalian berdua?” suara orang tadi kembali berkumandang dari da-lam ruangan.

Dengan hormat Kau-lau-liong-siu menyahut “Kau-lau-liong- coa-siang-siu siap menunggu perintah Hoa-siauya!”

“Kalian berdua lekas turun tangan, bunuh orang yang baru saja berbicara itu!” perintah orang she Hoa dalam ruangan itu. “Liong-coa-siang-siu siap melaksanakan perin-tah Siauya, cuma orang ini……”

“Macam apakah orang ini?”

“Dia Si-hun-koay-sat-jiu, salah satu tokoh Bu-lim-jit-coat yang termashur dalam dunia persilatan.”

“Kenapa?” seru orang she Hoa dalam ruangan dengan gusar, “hanya seorang Si-hun-koay-sat-jiu saja masa membuat kalian ketakutan? Betul-betul gentong nasi yang tak berguna, hayo cepat laksa-nakan perintahku!”

Meskipun kedua kakek ular dan naga dari bu-kit Kau-lau jeri terhadap Bu-lim-jit-coat, tidak ber-arti mereka takut kepada Si-hun-koay-sat-jiu.

“Hoa-siauya” kembali Kau-lau-liong-siu berkata dengan hormat, “kami mendapat perintah Sian-Li-nio-nio untuk melindungi keselamatanmu, dewasa ini kawanan jago  lihai dari segenap penjuru dunia telah berkumpul di sini….”

“Tidak usah banyak bicara,” tukas orang da-lam ruangan itu sambil membentak, “kalau tidak kau laksanakau perintah, segara kujatuhi hukuman mati kepada kalian!”

Si-hun-koay-sat-jiu merasa gusar sekali, dengan suara dingin serunya, “Setan cilik dari Hek-liong-kang, kau betul- betul sombong, kalau punya kepandaian, ayo menggelinding keluar!”

Sungguh amat aneh, meski suara orang dalam ruangan itu amat sombong, tapi setelah Si-hun-koay-sat-jiu menantangnya, orang itu lantas membungkam.

Tiba-tiba Ji-sia berpaling kepada Lamkiong Giok dan bertanya, “Saudara Lamkiong, apakah orang yang berada di dalam itu adalah sasaran utama kita dari Hek-liong-kang?”

Lamkiong Giok tersenyum, sahutnya, ”Saudara Bok, dari pihak Hek-liong-kang telah datang tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan, pen-tolannya ialah seorang gadis muda.”

“Ku-cianpwe akan datang kemari, apakak maksudnya hendak berjumpa dengan pemuda itu?” kembali Ji-sia bertanya.

Lamkiong Giok manggut-manggut, “Mungkin begitu!”

Dalam pada itu, Kau-lau-liong-coa-siang-siu, yang satu jangkung dan yang lain pendek telah tiba di samping Si-hun- koay-sat-jiu, tanpa bicara ke-dua orang itu lantas melolos senjatanya.

Kau-lau-coa-siu dengan senjata Poan-koan-pit segera menerjang ke muka, senjatanya langsung menutuk dada Si- hun-koay-sat-jiu.

Menghadapi serangan tersebut, Si-hun-koay-sat-jiu tidak melakukan reaksi apa-apa, ketika senjata Poan-koan-pit mendekati dadanya, ia baru tertawa dingin, telapak tangan kirinya menyampuk Poan-koan-pit lawan, sementara kakinya menendang perut Kau-lau-liong-siu.

Ketika Kau-lau-coa-siu menyerang Kau-lau-liong-siu juga segera mencabut kipas dan menutuk ke depan, tapi oleh tendangan Si-hun-koay-sat-jiu yang cepat, terpaksa ia menarik kembali kipasnya sambil melompat mundur.

Setelah berhasil mendesak mundur Kau-lau-liong-siu dengan tendangannya, tiba-tiba Si-hun-koay-sat-jiu merasa angin tajam kuat menyergap datang, kiranya Kau-lau-coa-siu telah memanfaatkan kesempatan itu untuk menghantam dari samping.

Si hun-koay-sat-jiu tertawa seram, tiba tiba ia memutar tangan kanannya, ia sambut ancaman Kau-lau-coa-siu tersebut dengan keras lawan keras.

Kau-lau-coa-siu cukup mengetahui kesempur-naan tenaga dalam musuh, melihat kuda-kudanya sangat kuat, tanpa menggeser menangkis serangan-nya, ia tak berani menyambut serangan tadi dengan kekerasan, cepat ia melompat ke samping.

Setelah dipaksa mundur tadi, Kau-lau-liong-siu menanti kesempatan baik untuk melancarkan se-rangan pula, maka ketika dilihatnya Si-hun-koay-sat-jiu mendesak mundur Kau- lau-coa-siu segera ia mem-bentak, pada saat musuh belum sempat menarik kembali tangannya, secepat kilat kipasnya mengebas pula dengan kuat.

Kau-lau-liong-coa-siang-siu memang mahir me-lancarkan serangan bersama, kerja sama mereka ke-tat dan hebat, apalagi tenaga dalam mereka memang sempurna, setiap gerak tangan cukup untuk me-renggut jiwa orang.

Jangan kira senjata Kau-lau-liong-siu hanya se-batang kipas saja, bila Si-hun-koay-sat-jiu sampai tersambar, niscaya akan terluka parah.

Si-hun-koay-sat-jiu memang bukan jago yang lemah, ketika menahan serangan Coa-siu di se-belah kanan, mendadak dari arah kiri mendesing angin tajam, ia tertawa dingin, tanpa berkelit dia ayunkan telapak tangan kiri untuk menolak kipas yang sedang menyergap itu.

Serangan Kau-lau-liong-siu itu sebenarnya di-lancarkan di luar dugaan lawan, tenaga yang diper-gunakan sangat hebat. Ketika dilihatnya pihak lawan tidak berkelit, malahan menangkis pukulannya, dari kaget ia jadi takut, ia merasa sangsi, tahu-tahu te-naga pukulan Si-hun-koay-sat-jiu telah menekan kipasnya.

Ia merasa pergelangan tangan bergetar keras, kipasnya tertahan ke bawah dan nyaris terlepas, ke-ruan ia terperanjat.

Kau-lau-liong-siu sudah termashur selama pu-luhan tahun di dunia persilatan, seandainya senjata andalannya kena dipukul lepas oleh musuh dengan tangan kosong, hal ini akan merupakan kejadian yang sangat memalukannya, dan pasti akan dipan-dang hina oleh majikannya.

Berpikir demikian, dengan dahi berkerut tanpa mempedulikan keselamatan sendiri lagi ia himpun hawa murninya, kipas bergerak ke depan mengiringi gerak maju tubuhnya, serangan langsung pada Ciang-tay-hiat di dada musuh.

Pada saat yang sama senjata Poan-koan-pit dengan membawa desing angin tajam juga menutuk dari samping. Si- hun-koay-sat-jiu menjadi gusar, hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, sambil tertawa aneh ia mendesak maju.

Telapak tangan kiri masih tetap menahan kipas Kau-lau- liong-siu, sedangkan kelima jari tangan kanan terentang lebar, dari serangan memukul ber-ubah jadi mencengkeram, secepat kilat ia mendak ke bawah lalu meraih ke atas dengan jurus Pek-hay-pok-li (laut hijau memantulkan sinar).

Dengusan tertahan berkumandang, tahu-tahu senjata Poan-koan-pit Coa-siu kena dirampas oleh Si-hun-koay-sat-jiu.

Setelah berhasil merampas Poan-koan-pit itu dengan tangan kanannya, hawa nafsu membunuh Si-hun-koay-sat-jiu tambah berkobar, pergelangan tangannya bergetar dan Poan- koan-pit rampasan langsung menusuk dada Kau-lau-liong-siu.

Kakek naga dari bukit Kau-lau itu terperanjat, buru-buru ia membuang kipasnya sambil melompat mundur. Beberapa jurus serangan tersebut mereka laku-kan dengan cepat, terutama cara Si-hun-koay-sat-jiu merampas senjata lawan boleh dibilang merupa-kan jurus-jurus serangan ajaib.

Sambil mengacungkan senjata Poan-koan-pit dan kipas rampasan, Si-hun-koay-sat-jiu tertawa di-ngin, “Sekarang kalian harus memanggil anak jumawa itu untuk minta kembali senjata kalian ini.” Sejak terjun ke dunia persilatan, belum per-nah Kau-lau- liong-coa-siang-siu mengalami kekalahan seperti ini, mana mereka tahan terhadap ejek-an tersebut? Sambil membentak, kembali kedua orang itu menerjang maju.

“Jika ingin mampus jangan coba berkelit!” ejek Si-hun koay-sat-jiu, Poan-koan-pit dan kipas ram-pasan itu langsung diayunkan ke tubuh kedua ka-kek yang sedang menubruk maju itu….

Siapa yang tidak sayang akan jiwa sendiri? Se-kalipun Kau- lau-liong-coa-siang-siu telah mendapal penghinaan besar, tapi mereka enggan mati konyol, kedua orang itu segera menghindar dengan melom-pat ke kiri dan kanan.

“Liong-siu, Coa-siu, mundur kalianl” suara jumawa tadi tiba-tiba berkumandang kembali dari dalam ruangan, “kalian bukan tandingan orang ini!”

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut pintu kamar tiba-tiba terpentang, empat orang laki laki berbaju ketat berpedang muncul beruntun dari dalam ruangan, paling belakang muncul lagi seorang pemuda yang berdandan perlente.

Sikap maupun gerak-gerik keempat laki-laki dan pemuda perlente itu amat sombong, seakan-akan tiada orang lain yang terpandang oleh mereka, sambil membusungkan dada mereka maju ke tengah.

Sinar mata mereka tak pernah memandang ke arah kawanan jago itu, sikap sombong semacam itu sungguh menggusarkan hati semua orang. Mendadak keempat laki-laki itu terpencar ke kiri dan kanan, lalu berdiri tegak di situ, semen-tara si pemuda parlente berdiri tepat di depan Si-hun- koay-sat jiu.

Diam-diam Ji-sia mengamati pemuda parlente itu, wajahnya tampak tampan dengan mata yang memancarkan sinar tajam, pemuda itu tampak ga-gah perkasa. Cuma bibirnya tipis lagi lancip, jelas dia seorang yang berhati culas dan berjiwa sempit.

Pada saat itulah mendadak berkumandag su-ara siulan nyaring bernada sedih yang berkumandang dari jauh.

Tahu-tahu di tengah arena telah bertambah dengan seorang laki-laki berwajah kurus, orang ini adalah pendekar besar satu jaman, Siau-yau-sian hong-khek Ku Thian-gak, ketika ia muncul, pemu-da perlente itu tampak gelisah.

Melihat kemunculan Ku Thian gak, buru-buru Ji-sia menyongsong ke depan sambil berseru, “Ku-cianpwe, sungguh amat payah Wanpwe mencari-mu!”

Ketika melihat Ji-sia hadir di situ, sekulum senyuman pedih segera tersungging di ujung bibir Siau-yau-sian-hong khek Ku Thian-gak, wajahnya seperti sedih seperti juga murung, seakan-akan seorang yang putus asa dan menghadapi jalan bun-tu. Dari mimik wajah Ku Thian-gak tersebut Ji-sia segera tahu bahwa pendekar tersebut sedang di-liputi perasaan sedih luar biasa.

Tiba-tiba saja suasana di sekeliling tempat itu khidmat luar biasa. Ji-sia mempunyai rasa persahabatan yang te-bal dengan Ku Thian-gak, dengan perasaan terha-ru ia lantas menegur, “Ku-cianpwe, apakah engkau ada urusan yang perlu Wanpwe laksanakan ba-gimu?”

Sambil berkata ia maju ke depan menghampiri Ku Thian- gak….

Mendadak pemuda perlente tadi tertawa dingin dan menegur, “Siapa kau? Cepat berhenti!”

“Ada apa?” sahut Ji-sia dingin, “kau hendak menghalangi aku bicara dengannya?”

“Betul, kau merasa tidak puas?” Ji-sia tertawa hambar, “Ya, boleh kutahu si-apa nama Anda?”

Biasanya pemuda perlente itu beranggapan wajahnya amat tampan sehingga menimbulkan sikap angkuhnya, tapi setelah menyaksikan Ji-sia dan Lamkiong Giok sekarang, hatinya bergetar, pikirnya, “Tak nyana dalam dunia persilatan masih terdapat dua orang pemuda tampan dan gagah seperti mereka, saat ini Sumoay sudah mulai menginjak usia remaja, api asmaranya lagi berkobar, jika……”

Berpikir sampai di sini, sekulum senyuman li-cik segera tersungging di ujung bibir pemuda per-lente itu, katanya, “Siaute she Hoa bernama Hong-hui, mau apa kau tanya namaku?”

“Kulihat saudara Hoa cukup gagah, ingin se-kali kuikat tali persahabatan denganmu.”

“Ah, terpaksa membuatmu kecewa, aku tak suka bersahabat dengan orang,” sahut Hoa Hong-hui, si pemuda perlente itu dengan ketus.

Lamkiong Giok segera berseru sambil tertawa dingin, “Saudara Bok, lagak orang itu terlalu som-bong, mana ia mau menerima uluran tanganmu!”

Tiba-tiba Ji-sia tertawa dan bertanya lagi, “To-long tanya saudara Hoa, ada perselisihan apakah antara pihak kalian dengan Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak Locianpwe?”

Hoa Hong-hui, pemuda perlente itu tidak men-jawab, sebaliknya malahan menegur dengan dingin, “Sudah cukup belum pertanyaanmu?”

Ji-sia mengernyitkan kening, lalu berkata lagi dengan dingin, “Jika saudara Hoa daa Ku-cianpwe tiada perselisihan apa-apa, maka sekarang juga akan kuajak Ku-cianpwe meninggalkan tempat ini, bila kau berani mengalangi kami, hati-kati dengan batok kepalamu.” Pemuda perlente itu sudah terbiasa bersikap jumawa, ia tak menyangka Ji-sia jauh lebih sombong daripadanya, mendengar perkataan tersebut sambil tertawa seram katanya, “Nyalimu sungguh besar sekali, kuberi batas waktu sekarang juga se-gera meninggalkan tempat ini, kalau tidak, tentu kau akan mampus tanpa tempat kubur!”

Tiba-tiba Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak menghela napas sedih, ucapnya,” Bok-lote, tinggalkan tempat ini! Aku tidak menjadi soal di sini.”

Ji-sia tak mengira jagoan yang termashur dan disegani ini tanpa sebab yang jelas bisa berubah menjadi lemah begini.

“Ku-cianpwe,” Ji-sia berkata pula sambil menghela napas sedih, “bila kau tidak pergi bersamaku sekarang, maka segera kubunuh orang itu.”

Hoa Hong-hui tertawa dingin, serunya, “Ka-lau kau memang mencari kematian sendiri, jangan salahkan aku akan bertindak kejam padamu.”

Terdengar ujung baju berkesiur, dengan gerak-an yang sangat cepat Hoa Hong-hui menerjang ke samping Ji-sia, lalu dengan suatu cengkeraman ki-lat mengancam urat nadi pergelangan tangan Ji-sia.

Menyaksikan gerakan lawan diam-diam Ji-sia memuji di dalam hati, “Betul-betul ilmu meringan-kan tubuh yang sempurna.”

Sambil tertawa dingin, tangan kirinya segera membalik, secepat kilat ia balas cengkeram jalan darah Pit-ji-hiat pada lengan kiri Hoa Hong-hui. Tapi Hoa Hong-hui telah melayang lewat, ta-hu-tahu ia sudah berpindah ke belakang Ji-sia, su-atu pukulan dahsyat langsung menghantam pung-gung anak muda itu. Ji-sia terkesiap, tanpa berpaling kaki kanannya mendepak ke belakang dan tepat mendepak Ho-im-hiat di selangkangan Hoa Hong-hui.

Pemuda perlente yang jumawa itu tertawa se-ram, mendadak ia menyurut mundur, jurus-jurus serangan ganas dan lihai dilontarkan pula. Dalam waktu singkat ia telah melepaskan tiga kali tendangan dan enam pukulan, semua jurus se-rangan itu disertai dengan pancaran tenaga murni yang dahsyat.

Tapi semua serangan dapat dihindarkan oleh Bok Ji-sia, mendadak Hoa Hong-hui tertawa seram, tiba-tiba tangan kirinya menghantam Bok Ji-sia dari jauh.

“Awas, saudara Bok, ilmu pukulan Siau-yang-cin-kang….” teriak Lamkiong Giok dengan kaget.

Melihat datangnya ancaman, sebenarnya Ji-sia telah menghimpun kekuatan untuk balas-menyerang.

Mendadak dirasakan segulung tenaga panas menyengat meluncur tiba yang memaksanya mundur tujuh-delapan langkah.

“Ia sudah terkena pukulan Siau-yang-cin-kang-ku,” kata Hoa Hong-hui dengan suara dingin, “mumpung belum terlambat, lekas pergi mencari tempat untuk mengubur tubuhmu!”

Mendengar ucapan tersebut, Ji-sia gusar se-kali, sambil membentak kedua telapak tangannya menyodok ke depan….

Tapi sewaktu tangannya ditolak ke depaa, ter-nyata sama sekali tidak bertenaga lagi.

Terdengar Lamkiong Giok menjerit kaget, “Saudara Bok, wajahmu….”

Ternyata wajah Ji-sia telah berubah menjadi merah darah, bahkan pemuda itu merasakan ke-palanya pusing seperti mau pecah, langit serasa ber-putar dan bumi terbalik. Kehebatan ilmu pukulan Siau-yang-cin-kang ini seketika membuat kaget segenap jago lihai yang hadir.

Konon, barang siapa terkena pukulan itu, maka tujuh jam kemudian hawa racun panas akan me-nyerang jantung dan mengakibatkan korban tewas secara mengerikan, sesaat sebelum ajal tiba, dia akan merasakan siksaan yang hebat akibat kepanasan, penderitaan tersebut membuat siapapun tak kuat bertahan.

Setelah berhasil melukai Ji-sia, Hoa Hong-hui tergelak tertawa penuh rasa bangga, katanya, “O, rupanya dunia persilatan dewasa ini semakin keku-rangan jago berbakat….”

Ucapan itu sama artinya dengan menghina se-genap umat persilatan yang berasal dari Tionggoan, serentak air muka semua orang yang hadir berubah hebat.

Ketika selesai bicara, tiba-tiba Hoa Hong-hui bergerak maju dengan cepat luar biasa, ia mener-jang ke depan Si-hun-koay- sat-jiu.

Sebagai salah satu tokoh Bu lim-jit-coat, Si-hun-koay-sat-jiu juga seorang yang angkuh, ia me-rasa dongkol pada sikap Hoa Hong-hui yang som-bong itu, sambil tertawa dingin, tangannya segera mencengkeram ke sana.

Serangan ini menggunakan ilmu Toa-kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap dan mencengkeram) yang lihai, ia pikir meski Hoa Hong-hui memiliki ilmu yang lihai, pasti sulit juga untuk meloloskan diri dari sergapannya yang tiba-tiba itu.

Siapa tahu kejadian sama sekali di luar duga-annya, jangankan kena mencengkeram orang, men-jawil ujung baju Hoa Hong-hui saja tak berhasil, semua ini membuatnya terperanjat sekali. “Tak nyana bangsat takabur ini bisa lolos dari cengkeramanku,” demikian ia pikir, “tampaknya orang Hek- liong-kang rata-rata adalah jago silat yang tangguh.”

Hoa Hong-hui tertawa seram seraya berseru, “Rupanya Si- hun-koay-sat-jiu yang namanya ter-cantum dalam deretan Bu- lim-jit-coat tak lebih hanya begini saja.”

Tiba-tiba ia menerjang ke sisi kiri Si-hun-koay-sat-jiu, tangan kanan mengebas, segulung angin ta-jam menghajar dada musuh. Tenaga pukulan ini cukup hebat, kelihayannya tidak berada di bawah beberapa tokoh persilatan terkemuka yang hadir.

Si-hun-koay-sat-jiu menyingkir ke samping, kemudian secara beruntun ia melepaskan enam kali pukulan dahsyat. Hoa Hong-hui berseru heran, ia berputar cepat dan berpindah tempat beberapa kali, dalam waktu singkat ia berhasil menghindari keenam kali pu-kulan Si-hun-koay-sat-jiu tersebut.

Tapi berhubung kedua orang itu menyerang dan menghindar dengan cepat luar biasa, maka mereka yang berada di sekitar arena tak dapat melihat je-las jurus serangan yang dipergunakan mereka, tapi semua orang mempunyai satu perasaan yang sama yakni jurus serangan kedua orang itu jelas jurus sakti yang mematikan.

Setelah berhasil menghindarkan diri dari keenam kali serangan kilat, Hoa Hong-hui kembali melancarkan serangkaian serangan balasan. Tampak-nya kedua tangannya menyambar kian kemari men-ciptakan bayangan pukulan yang berlapis-lapis. Agaknya semua orang tidak menduga ilmu si-lat pemuda perlente ini akan begini lihai, keruan semua orang terperanjat.

Pertarungan antara kedua orang itu makin la-ma semakin cepat, kedua pihak sama-sama berusaha merebut posisi yang lebih menguntungkan. Mereka berdua sama menyadari hari ini mereka telah bertemu dengan lawan paling tangguh yang pernah dijumpainya, menang kalah pertarungan ini sangat mempengaruhi kedudukan mereka selanjut-nya, maka siapa pun tak ada yang berani meman-dang enteng musuhnya.

Di tengah berlangsungnya pertarungan sengit itu, tiba-tiba Hoa Hong-hui berseru, “Si-hun-koay-sat-jui, ternyata nama besarmu bukan nama kosong belaka, bagaimana kalau kau coba lagi tiga jurus pukulanku Toh-hun-kui-im-ciang (perengut nyawa kembali ke akhirat}?”

“Kepandaian andalan apalagi yang kau miliki, keluarkan saja semuanya!” ejek Si-hun-koay-sat-jiu.

Sudah belasan jurus pertarungan mereka berlangsung, ia sudah mendongkol karena dengan kedudukannya sebagai  jago kenamaan ter-nyata tak sanggup mengalahkan seorang anak mu-da, maka sambil membentak ia lancarkan pukulan tangan kiri dengan jurus To-coa-seng-gi (poros ber-putar bintang beralih), sementara tangan kanan membacok dengan jurus Thian-thian-lui-ing (ge-ledek membelah angkasa).

Kedua jurus serangannya ini yang satu  me-rupakan pukulan aneh dengan tenaga keras dan pukulan yang lain justeru merupakan pukulan hebat, ia ingin mengalahkan Hoa Hong-hui dengan cepat.

Tak sempat Hoa Hong-hui melancarkan se-rangan mematikan, tahu-tahu jurus pukulan Si-hun-koay-sat-jiu telah mengurung batok kepalanya, terpaksa ia mesti membendung serangan lawan le-bih dulu.

Pada umumnya bila jago-jago lihai sedang ber-tarung, maka begitu dirasakan pihak musuh me-nyerang secara gencar, biasanya mereka akan meng-gunakan cara yang jitu untuk memaksa lawannya menarik ancaman itu.

Hoa Hong-hui bukan jago sembarangan, ten-tu saja iapun dapat melihat bahwa jurus Thian-thian-lui-ing pada tangan kanan Si-hun-koay-sat-jiu yang menabas pelahan itu sesungguhnya me-ngandung tenaga dahsyat, bahkan kemungkinan be-sar tersimpan pula perubahan lain yang lebih hebat.

Maka dengan jurus Hua-liong-thiam-cing (melukis naga memberi mata), tangan kirinya men-cengkeram urat nadi tangan kanan Si-hun-koay-sat-jiu, maksudnya hendak mendahului lawan se-hingga terpaksa menarik kembali ancamannya dan tak dapat mengembangkan kekuatannya.

Sekalipun tujuannya betul, tapi jurus serangan tersebut adalah andalan Si-hun-koay-sat-jiu, sampai di mana perubahan gerak yang sesungguhnya sulit untuk diduga orang. Melihat serangan Hoa Hong-hui, dengan ce-pat Si-kun- koay-sat-jiu menarik kembali telapak ta-ngannya.

Tapi menyusul tenaga pukulan yang sesung-guhnya lantas terhimpun terus ditolak keluar pula. Kebanyakan jago yang hadir sama-sama di-bikin bingung oleh kejadian itu, mereka tak tahu kepandaian apa yang telah digunakan Si-hun-koay- sat-jiu sehingga pukulan yang pelahan dan tak ber-suara itu ternyata sanggup memukul mundur pe-muda jumawa yang kosen itu.

Sesudah merasakan pukulan itu, rasa jumawa Hoa Hong- hui jauh berkurang, sambil mengatur napas-nya, ia berkata dingin, “Ilmu silatmu memang sa-ngat hebat, sekarang sepantasnya kaupun menyam-but sekali pukulanku!”’

Selesai berkata, mendadak terdengar Ji-sia membentak, “Hei, orang she Hoa, pukulanmu itu biar aku orang she Bok yang menerimanya!”

Kiranya warna merah pada wajah Ji-sia telah hilang, mendadak ia menerjang maju, dengan telapak tangan langsung ia menghantam.

Hoa Hong-hui tidak mengira Ji-sia masih mam-pu menyerangnya meski sudah kena pukulan Siau-yang-sin-kang, bahkan tenaga pukulannya tambah kuat. Ia terkesiap dan buru-buru menghimpun te-naga dan menangkis.

Dengusan tertahan berkumandang, tubuh Ji-sia yang melompat maju itu terjatuh kembali ke ta-nah termakan oleh tenaga pukulan Hoa Hong-hui yang hebat.

Lamkiong Giok berkerut kening, cepat ia menerjang maju dan berseru, “Jangan gugup sau-dara Bok, kudatang membantumu!”

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba terdengar Hoa Hong- hui, si pemuda parlente menjerit keras, tubuhnya mencelat sejauh empat-lima langkah ke belakang. Lamkiong Giok tertegun, tanpa terasa ia henti-kan langkahnya.

Dengan pengetahuan dan pengalamannya yang luas, sekali pandang saja ia lantas mengetahui bahwa Hoa Hong-hui telah terkena pantulan tenaga pu-kulan Ji-sia.

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin amat ter-peranjat, pikirnya, “Sungguh aneh anak muda itu, jarang ada Lwekang sehebat ini kecuali Boan-yok-sin-kang dari golongan Buddha yang dapat menge-luarkan tenaga pantulan sedahsyat ini….Jangan-jangan anak muda ini sudah berhasil pula meyakinkan ilmu sakti tersebut….”

Ketika menyaksikan Hoa Hong-hui tergetar mundur, Lamkiong Giok yang licik merasa ada ke-sempatan baik baginya untuk membunuh orang itu, mendadak ia melolos pedangnya, cepat ia menusuk Hoa Hong-hui.

Tak terlukiskan rasa gusar Hoa Hong-hui oleh serangan itu, ujung bajunya segera dikebaskaa ke depan. Tiba-tiba Lamkiong Giok merasakan angin pu-kulan yang panas menerjang tiba, sambil tertawa dingin ia melayang ke samping, dengan pedang panjang ia tebas ujung baju Hoa Hong-hui yang mengebas datang itu, sementara tangan kirinya mengebut, empat titik cahaya putih secepat kilat me-nyambar ke sana. Mendadak Kau-lau-liong-coa-siang-siu memben-tak, dari kiri dan kanan mereka menubruk Lam-kiong Giok, sanjata mereka serentak bekerja.

Lamkiong Giok melotot gusar, bukan mundur sebaliknya ia malah maju, ia putar pedangnya hingga menciptakan berlapis- lapis cahaya hijau untuk melindungi seluruh tubuhnya.

Bentrokan nyaring berkumandang secara be-runtun, keempat bilah pedang pendek di tangan kiri Lamkiong Giok tahu-tahu terpukul rontok oleh sabatan kilat pedang Hoa Hong-hui, lalu hendak dipungutnya pedang pendek itu dari tanah.

Lamkiong Giok segera membentak, ia melom-pat maju, pedang berputar dan membacok tangan orang, serangan ini datang dengan cepat luar biasa, Hoa Hong-hui terkejut dan cepat melompat mundur.

Lamkiong Giok tampak gagah perkasa, sekali lagi ia lancarkan serangan, di antara putaran cahaya tajam, ia desak mundur Kau-lau-liong-coa-siang-siu yang sedang menubruk maju itu.

Pada kesempatan itu Lamkiong Giok menge-baskan ujung baju kirinya, keempat bilah pedang yang jatuh itu kembali meluncur masuk ke balik ujung bajunya.

Diam-diam Ji-sia kagum menyaksikan kehebat-an Lamkiong Giok, ia merasa ilmu silat sendiri terlampau cetek dibandingkan orang.

Di sebelah sana terdengar Bu-sian-gisu Kwan-liong Ciong- leng tertawa terbahak-bahak sambil ber-seru, “Lamkiong-lote, malam ini kami dapat me-nyaksikan ilmu silat andalan keluargamu, ternyata memang hebat sekali, sungguh kagum!”

Dengan gebrakan tadi, Hoa Hong-hui merasa kehilangan muka, matanya memancarkan sinar dengki dan benci, dengan gusar ia memelototi Lam-kiong Giok dan Ji-sia secara bergantian. Padahal kalau Hoa Hong-hui tidak kena di-hajar oleh Ji-sia lebih dulu sehingga darah di tu-buhnya bergolak keras, tak nanti Lamkiong Giok bisa mendesak mundur lawannya.

Melihat sorot mata Hoa Hong-hui itu, Ji-sia lantas mendongkol sekali, ia mendengus, “Mau apa kau melotot? Kalau mampu hayo majulah dan ber-tarung lagi beberapa jurus!”

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dan merdu berkumandang, “Aduh, Enci Sat, tahukah kau siapa orang itu? Kenapa begitu galak se-hingga membuat akupun merasa ketakutan?”

Mendengar suara tersebut, semua orang sama berpaling ke arah suara itu. Di bawah sinar bulan tertampak tiga sosok bayangan tubuh yang indah muncul dari kegelap-an. Setelah melihat jelas wajah ketiga orang gadis itu, seketika semua orang merasakan jantung berdebar, mereka sama menaruh perhatian ke arah ga-dis berbaju biru yang berada di tengah.

Kiranya gadis yang berada di tengah itu me-makai baju berwarna biru dengan potongan badan yang ramping tapi padat berisi, kulit tubuhnya pu-tih, jari lentik, sayang mukanya tertutup oleh kain cadar berwarna biru sehingga orang sulit melihat jelas wajahnya.

Walaupun semua orang tak dapat melihat je-las wajahnya, anehnya dalam hati setiap orang tim-bul perasaan bahwa dibalik kain cadar biru itu pasti tersembunyi seraut wajah yang cantik jelita bak bidadari dari kayangan. Sebab baik potongan tubuhnya yang menggiurkan serta suaranya yang merdu dan kulit tubuh yang putih dengan jari yang lentik, semuanya ciptaan Thian yang amat sempurna.

Potongan tubuhnya baik dipandang dari sudut manapun akan mendatangkan daya rangsang dan daya pikat bagi setiap lelaki. Kedua gadis lainnya mengenakan baju berwarna putih, mereka tidak bercadar, tapi wajahnya pun sangat molek, alisnya hitam bagaikan semut ber-iring, hidungnya mancung dan bibirnya mungil, kulit badannya putih, betul-betul kecantikan yang ti-ada tara.

Tapi setiap lelaki tak berani menikmati ke-cantikan mereka, sebab pada wajah kedua orang gadis berbaju putih itu masing-masing membawa ciri khas yang membuat orang takut.

Gadis di sebelah kiri yang berwajah kemerah-an selalu diliputi keseriusan seakan-akan sekuntum bunga sakura yang tumbuh dipuncak bukit salju, sikapnya anggun tapi dingin itu membuat orang tak berani memandangnya.

Si gadis yang di sebelah kanan selalu tersenyum simpul, senyuman yang penuh daya pikat dan cu-kup untuk merenggut nyawa siapapun, potongan tubuh serta gerak- geriknya genit penuh kemanjaan, membuat siapapun yang memandangnya jadi terpesona, bisa melayang sukma mereka, maka semua orang pun tak berani menikmati kecantikannya.

Sebab itulah pandangan semua orang sama ter-tuju pada diri gadis baju biru itu, karena hanya dia yang memiliki segala daya tarik bagi kaum pria sekalipun tanpa melihat mukanya.

Setelah melirik sekejap ke arah ketiga gadis itu diam-diam Ji-sia menghela napas, ia merasa dunia ini benar-benar ajaib bisa terdapat tiga orang pe-rempuan seaneh itu.

Setelah ketiga gadis ini muncul, serentak ke-empat orang laki-laki berbaju ringkas, Kau-lau-Liong-coa-siang-siu serta pemuda perlente tadi sama memberi hormat kepada gadis baju biru yang ber-cadar itu, kemudian dengan khidmat mereka ber-diri di samping.

Dengan suara nyaring Hoa Hong-hui lantai berkata, “Bila kehadiran Siocia tidak disambut oleh kakak sekalian, harap sudi dimaafkan.” “Hoa-suheng,” kata gadis berbaju biru itu dengan suara merdu, “siapakah laki-laki yang barusan berkelahi denganmu itu?”

Hoa Hong-hui melengak, sahutnya, “Siocia, akupun tak tahu siapa namanya….”

“Sangat tinggikah ilmu silatnya?” kembali gadis baju biru bercadar itu bertanya.

Hoa Hong-hui tersenyum, “Orang itu sudah terluka oleh pukulan Siau-yang-sin-kangku, mung-kin tak lama lagi akan pulang ke akhirat.”

“O, kalau begitu orang ini memang ganas dan keras kepala?”

Mendengar ucapan tersebut, Ji-sia merasa gu-sar sekali, bentaknya, “Perempuan liar, kalian jangan terlalu menghina orang. Hmm, orang she Hoa, kau betul-betul tak tahu malu, beraninya cuma di de-pan perempuan…”

Belum lagi selesai dampratan itu, kedua kakek naga dan ular dari Kau-lau-san segera menghardik, “Bangsat cilik, kau sudah bosan hidup?”

Ji-sia tertawa dingin, mendadak ia melompat maju ke depan kakek naga dari bukit Kau-lau, be-runtun tangan kiri dan kanannya melancarkan han-taman berantai.

Kedua kakek naga dan ular dari Kau-lau-san tidak menyangka Bok Ji-sia berani menyerang me-reka, cepat mereka membentak, kedua telapak ta-ngannya menolak ke depan.

Kedua orang itu berhasrat membinasakan Ji-sia, maka serangan itu menggunakan sepenuh tenaga mereka.

Tiba-tiba gadis berbaju biru itu berseru merdu, “Kalau dua lawan satu, itu artinya tidak adil. Enci Sat, punahkanlah tenaga pukulan mereka itu!” Baru selesai ia berkata, gadis bermuka dingin yang berada di sebelah kirinya segera mengebaskan tangan kanannya pelahan, segulung angin lembut se-gera berhembus ke tengah tenaga pukulan kedua pihak.

“Brek! Brek!” benturan terjadi, Kau-lau-liong-coa-siang-siu merasakan tenaga pukulan halus me-maksa mereka harus menyurut mundur dua langkah.

Ji-sia mendengus gusar, secepat kilat tubuhnya berkelebat ke samping Kau-lau-lioug-siu, telapak tangan kanan kembali melancarkan pukulan dahsyat.

Cepat Kau-lau-liong-siu memutar tangan kiri untuk menangkis dengan keras lawas keras. Begitu tenaga pukulan itu saling bentur, seketika Kau-lau-liong-siu merasakan darah dalam tubuh bergolak, tak kuasa lagi ia mundur tiga langkah.

“Sambut lagi pukulanku ini!” bentak Ji-sia, ta-ngan kirinya segera menghantam pula.

Kau-lau-liong-siu tidak mengira musuh yang cuma seorang pemuda lemah ternyata memiliki te-naga dalam sedemikian sempurna sehingga mampu menahan pukulannya, ini membuatnya terkejut, ma-ka ketika melihat serangan kedua Ji-sia datang lagi dengan kekuatan yang jauh lebih hebat dari serang-an pertama, ia jadi tak berani menyambutnya se-cara kekerasan, cepat ia lompat ke samping.

Melihat musuh tak berani menerima serangan-nya dengan kekerasan, Ji-sia memburu maju dan menghantam pula.

Kau-lau-liong-siu berkelit lagi, kemudian iapun balas hantam dada lawan. Ji-sia seolah-olah tak sempat lagi menghindar, ia menjatuhkan diri ke belakang sehingga tubuh ba-gian bawah sama sekali terbuka di bawah ancaman lawan.

Kesempatan baik ini tentu saja tidak dilewat-kan Kau-lau- liong-siu dengan begitu saja, kontan ia menghantam ke bawah, yang dibacok adalah perut Ji-sia. Tiba-tiba gadis berbaju biru tadi menghela na-pas sambil bergumam, “Kali ini dia terperangkap oleh siasat licin musuh….”

Belum lenyap suaranya, mendadak Ji-sia me-mutar tubuh, secepat kilat tangan kanannya me-nyambar dan samping.

Cengkeraman ini cepat luar biasa, lagipula di luar dugaan musuh, Kau-lau-liong-siu hanya mera-sakan pergelangan tangan kanannya menjadi kaku, tahu-tahu urat nadinya telah tercengkeram lawan, Ji-sia mengerahkan tenaga murninya, Kau-lau-liong-siu segera merasakan darah mengalir balik dan menyerang jantung, separuh tubuhnya menjadi kaku, seluruh kekuatan lenyap.

Air muka kawanan jago yang hadir sama be-rubah hebat, mereka terkesiap menyaksikan Kau-lau-liong-siu yang termashur ternyata kena diceng-keram urat nadinya oleh musuh hanya dalam bebe-rapa gebrak saja.

Terutama sekali Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, rasa kagetnya betul-betul tak terlukiskan, pikirnya, “Meskipun ia mendapat perhatian dari Oh Kay-gak dan memperoleh warisan tenaga murninya sehingga dalam waktu singkat menjadi seorang jago lihai, ta-pi bagaimanapun, mustahil ia dapat menguasai se-luruh kepandaian sakti Jite dalam beberapa hari saja. Tapi semua kepandaian yang ia gunakan ini jelas merupakan inti kepandaian Jite, kemajuannya betul-betul mengerikan sekali, bila manusia sema-cam ini dibiarkan hidup beberapa tahun lagi, nis-caya tak seorang pun dalam dunia persilatan yang mampu menandinginya lagi….”

Ji-sia mencengkeram urat nadi Kau-lau-liong-siu erat-erat, sementara telapak, tangan kirinya, ditempelkan pada punggungnya, lalu dengan dingin katanya kepada gadis berbaju biru itu, “Nona, ta-hukah kau bahwa mati hidupnya telah berada di ta-nganku? Jika kau masih memikirkan keselamatannya, maka kuharap kaupun bersedia mengabulkan sebuah permintaanku.” Air muka Hoa Hong-hui berubah hebat, tiba-tiba ia maju menghampiri Bok Ji-sia.

“Berhenti Hoa-suheng!” tiba-tiba gadis berbaju biru itu berseru merdu, “biar ia bicara dulu apa permintaannya!”

Ji-sia tertawa dingin, katanya, “Aku cuma ber-harap kau mau pulihkan kebebasan Siau-yau-sian-hong khek Ku Thian- gak Ku-locianpwe!”

Gadis genit di sebelah kanan gadis berbaju bi-ru itu tiba- tiba tersenyum, dengan lemah gemulai ia berjalan menghampiri Ji-sia. Melihat senyumannya yang penuh daya pikat itu, hati semua orang bergetar keras, tanpa terasa mereka sama menunduk kepalanya dan tak berani memandang lagi.

Mencorong sinar mata Ji-sia, ia mendengus pe-nuh menghina, lalu serunya, “Jangan coba main gila denganku, bila maju selangkah lagi, segera ku-hancurkan isi perutaya.”

Gadis baju biru bercadar itu berseru kuatir, “Enci Sat, sungguh aneh sekali! Kenapa orang ini sedikitpun tidak takut? Orang lain sama terkesima seperti orang linglung, tapi ia sama sekali tidak me-rasa apa-apa, seakan-akan sama sekali tidak terpengaruh…”

“Ia tidak melihat,” ujar gadis berwajah dingin, “coba kalau melihat pasti juga….”

Gadis genit tadi merasa dongkol ketika semua orang terkesima oleh senyuman manisnya sehingga menundukkan kepala, tapi hanya Ji-sia saja yang sama sekali tidak terpengaruh, ia mendengus, lalu putar badan sambil bergumam, “Aku tidak percaya kau adalah seorang lelaki berhati sekeras baja yang sama sekali tidak terpengaruh oleh nafsu. Hmm tunggu saja, suatu hari aku pasti akan menyuruh kau berlutut dan memohon di hadapanku.” Sebetulnya kata-kata ini merupakan isi hatinya, tapi dalam keadaan marah tanpa terasa terucapkannya.

Gadis baju biru bercadar itu tertawa cekikikan, serunya, “Enci Pek Bi, mulai kapan kau akan mem-buatnya berlutut dan memohon kepadamu?”

Selapis warna merah dadu menghiasi wajah gadis yang bernama Pek Bi itu, katanya dengan su-ara merdu, “Siocia, kenapa kau malah bergurau dengan Cici?”

“Hai, sesungguhnya bagaimana kalian?” Ji-sia berseru dengan dingin, “kalau tiada jawaban, segera akan kubunuh dia.”

“Kalau ia mati, kaupun jangan harap bisa hi-dup,” kata si gadis dingin dengan suaranya yang menggidikkan.

Mendengar ucapan tersebut, Ji-sia berpaling, tapi ketika beradu pandang dengan sorot mata la-wan, timbul rasa seram dalam hatinya, sebab so-rot mata gadis itu mengandung hawa pembunuhan yang mengerikan.

Dengan perasaan terkejut Ji-sia berpikir, “Kedua orang gadis yang berada di hadapanku ini, yang satu senyumnya mengandung daya pikat yang luar biasa sebaliknya yang lain sedingin salju yang mem-buat orang bergidik, mungkin mereka melatih semacam ilmu sesat yang lihai, kalau tidak kenapa sebesar itu daya pengaruhnya? Tampaknya ilmu di dunia ini memang beraneka ragam……”

Berpikir demikian, segera ia menjengek, “Ah, belum tentu!”

Sambil berseru cengkeramannya tambah kuat lagi, Kau-lau- liong-siu segera merasakan isi perut-nya seperti dipuntir, ia kesakitan.

“Bukankah Ku Thian-gak masih berada disitu dengan baik?” kata gadis berbaju biru itu de-ngan suara yang lembut, “kenapa kau malah memo-hon kepadaku, sungguh aneh.” “Hmm, jangan main gila padaku.”

Bicara sampai di sini, mendadak Ji-sia mem-bungkam, ia memang tak tahu ada perselisihan apa antara Siau-yau-sian- hong-khek dengan pihak Hek-liong-kang, cuma dia pikir Ku Thian-gak pasti ada alasannya sehingga kena  dikuasai mereka, kalau tidak dengan jiwanya yang gagah perkasa mana sudi tunduk pada gadis-gadis itu.

Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak tertawa getir, katanya, “Bok-lote, aku tidak apa-apa, cepat-lah tinggalkan tempat ini!”

Ji-sia dapat menangkap kesedihan yang meng-hiasi wajah Ku Thian-gak, sambil menghela napas katanya, “Ku-cianpwe, kau…..”

“Ku Thian-gak!” mendadak Hoa Hong-hui, si pemuda perlente itu berseru dengan nada memerintah, “cepat laksanakan perintahku, bunuh orang itu!”

Air muka Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak tampak berubah, kulit mukanya mengejang pe-nuh penderitaan, katanya sedih, “Hoa….masa su-dah kau lupakan hubungan baik dahulu? Daripada membunuhnya, lebih baik kuterima hukuman yang mengerikan menurut peraturan perguruanmu, matipun aku tak sudi melakukan perbuatan yang khi-anat dan durhaka.”

“Kau berani membangkang perintah Thian-yang- ciangbunjin!” bentak Hoa Hong-hui dengan gusar.

“Matipun tak berani aku melawan perintah Thian-yang- ciangbunjin, cuma kau…..”

“Tutup mulut, rupanya kau ingin, mampus!” bentak Hoa Hong-hui semakin marah.

Di tengah bentakan tersebut, secepat kilat ia menerjang maju, telapak tangan kanannya langsung menabas. Anehnya, pendekar besar yang gagah perkasa itu sedikit pun tidak berniat menghindarkan se-rangan tersebut, “Blang!” dengan telak dadanya termakan oleh pukulan itu.

Tidak enteng pukulan itu, tubuh Siau-yau-sian-hong-khek seketika mencelat sejauh beberapa kaki dan muntah darah, mukanya berubah menjadi pucat seperti mayat, kulit mukanya mengejang me-nahan rasa sakit dan penderitaan yang hebat.

Rasa sedih dan kesal jelas terpancar pada wajahnya….

Sambil tertawa dingin Hoa Hong-hui mengejar maju, suatu pukulan dahsyat dilancarkan pula. Para jago yang hadir betul- betul tak habis me-ngerti kenapa Ku Thian-gak tidak berusaha meng-hindarkan diri dari serangan tersebut, sebaliknya rela dipukul begitu saja, lebih-lebih tak dimengerti ada perselisihan apakah yang sesungguhnya di an-tara mereka.

Mencorong sinar mata Bok Ji-sia menyaksikan kejadian itu, bentaknya dengan gusar, “Orang she Hoa, aku Bok Ji-sia bersumpah tak akan hidup bersama denganmu!”

Tenaga murninya segera terpancar dari telapak tangan kirinya, tubuh Kau-lau-liong-siu tergetar hingga mencelat ke arah ketiga gadis tadi.

Kemudian bagaikan burung ia melayang ke arah Hoa Hong- hui, telapak tangan kanannya se-gera menghantam. Dalam serangan itu ia sertakan tenaga dalam-nya sembilan bagian, di mana desing angin me-nyambar, debu pasir segera beterbangan. Hoa Hong-hui, si pemuda yang angkuh itu ter-tawa dingin, kedua telapak tangannya bergerak mem-bentuk satu lingkaran di depan dada lalu ditolak ke depan, ia sambut ancaman Ji-sia itu dengan kekerasan.

“Blang!” benturan keras meledak, tenaga pu-kulan menyerang dengan membawa deru angin ke-ras. Hoa Hong-hui merasakan tenaga tekanan yang maha kuat menyambar datang, buru-buru ia him-pun tenaga untuk mempertahankan diri agar jangan terlempar ke belakang.

Ji-sia mendengus, telapak tangan kiri melan-carkan bacokan kilat pula. Dengusan tertahan berkumandang, tubuh Hoa Hong-hui segera terpental jauh.

Kejadian ini sungguh merupakan peristiwa me-malukan yang belum pernah dialami Hoa Hong-hui, selapis hawa pembunuhan yang kejam segera menghiasi wajahnya yang tampan, sambil tertawa dingin ia berseru, “Bagus! Bagus sekali! Orang she Bok, kali ini kau harus mampus!”

Sambil berkata pelahan dia mengangkat te-lapak tangan kanannya….

Ji-sia tahu ilmu silat orang sangat lihai, ia tak berani gegabah, ia menengadah ke depan.

Di bawah sinar bulan tertampak telapak ta-ngan musuh telah berubah menjadi merah membara, hatinya bergetar keras, pikirnya, “Inikah ilmu pu-kulan Siau-yang-sin-kang?”

Sementara ia termenung, telapak tangan Hoa Hong-hui yang diangkat itu mendadak memukul ke depan. Tiba-tiba saja Ji-sia merasa ada segulung ha-wa panas menerjang tubuh bagian atas, dengan ka-get ia kerahkan tenaga untuk mempertahankan diri sambil melancarkan serangan balasan.

Hoa Hong-hui cukup dalam pengetahuan ilmu silatnya, sewaktu dilihatnya serangan Ji-sia tidak membawa desing angin tajam, bahkan terasa halus dan pelahan, hatinya terperanjat, hawa murni Siau-yang-sing-kang yang terhimpun segera dilon-tarkan lebih cepat untuk menyongsong datangnya pukulan Ji-sia itu.

Pertarungan mereka ini berbeda dengan per-tarungan yang terjadi pada umumnya, jika dalam pertarungan biasa orang akan bertarung dengan ce-pat, sekarang pertarungan mereka dilakukan dengan lambat dan kelihatan amat sederhana. Namun dalam pandangan seorang ahli, justru mereka tahu di balik kelambanan tersebut sesung-guhnya terkandung tenaga pukulan yang maha dah-syat.

Dalam waktu singkat, hawa murni Siau-yang-sin-kang Hoa Hong-hui telah saling bertumbukan dengan tenaga pukulan Ji- sia.

Tiba-tiba di antara kedua orang itu muncul pusaran angin yang sangat kuat. Setelah melepaskan pukulan tadi, hati Ji-sia bergetar, ia merasa kekuatan pukulan lawan datang bagaikan gelombang yang tak terputus, nyaris ia tak sanggup mempertahankan diri, dengan mata melotot, telapak tangan kiri cepat melancarkan pukul-an pula.

Hoa Hong-hui dendam kepada Ji-sia kerena pemuda itu membuatnya malu di depan umum, timbul niatnya untuk membinasakan pemuda ter-sebut, asal musuh mampus maka iapun dapat jual tampang lagi di depan Sumoaynya.

Siapa tahu baru berpikir sampai di sini, men-dadak tubuhnya bergetar keras, tenaga pukulan yang merembes datang tiba-tiba bertambah kuat sehing-ga ia terdorong mundur selangkah. Dengan rasa kaget bercampur gusar ia men-dengus, telapak tangan kiri cepat dilontarkan pula ke depan.

Terdengar kua kali dengusan tertahan, debu pasir pun menyelimuti udara sekitar situ. Walaupun di antara para jago yang hadir ada yang memiliki ketajaman mata melebihi orang lain, tapi siapapun tak berhasil melihat jelas keadaan se-benarnya di balik tabir debu pasir itu.

Setelah tebaran debu pasir mulai rnereda, para jago berseru tertahan dan menghela napas panjang….

Di bawah sinar bintang tertampak dua sosok tubuh roboh terkapar di atas tanah. Melihat Ji-sia tergeletak tak berkutik, pelahan Thian-kang- kiam Oh Ku-gwat menghampirinya, lalu menghela napas sedih, “Ai, tak kusangka beginilah akhirnya pemuda yang keras hati ini, mengingat hubunganku dengan gurunya, bila kuuruskan jenazahnya ini….”

“Setan tua, jangan berlagak kasihan,” ejek ga-dis baju biru bercadar tadi, “memangnya kau kira dia sudah mampus?”

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertegun mende-ngar ucapan tersebut, diamati wajah Bok Ji-sia se-kali lagi, betul juga, meski pemuda itu berbaring dengan mata terpejam, tapi dengan ketajaman mata Oh Ku-gwat, di bawah sinar bintang yang redup tampak muka anak muda itu tetap segar seperti sediakala, hal ini membuatnya terperanjat.

Meski demikian, dengan wajah yang tak ber-ubah tapi bernada sedih ia berkata, “Coba lihat, begitu parah lukanya, mana mungkin ia hidup lagi?”

Sambil berkata, dengan tenaga dalam yang ter-himpun pada telapak tangan ia pura-pura memeriksa napas Bok Ji-sia, padahal pada kesempatan itu ia justeru hendak membinasakan pemuda itu.

Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak segera memben-tak, suatu pukulan dilontarkan ke depan.

Tak sempat lagi Oh Ku-gwat mencelakai Bok Ji-sia, terpaksa bentaknya, “Saudara Ku, kenapa kau ini?”

Telapak tangan kanannya menyambut serangan orang dengan keras lawan keras. Ketika tenaga pukulan saling bertemu, timbul angin puyuh yang mendampar kemana-mana, ke-dua pihak sama-sama merasakan tubuh bergetar keras.

Ku Thian-gak menarik kembali tangannya di depan dada, kemudian berkata dengan dingin. “Kenapa? Masa kau tidak mengerti? Sekalipun ia sudah mati, adalah menjadi kewajibanku untuk mengurus layonnya, apa urusannya denganmu?”

Tiba-tiba ia berjongkok dan meraba dada Ji-sia, ternyata denyut jantungnya masih ada, napas-nya juga masih terdengar meski amat lirih, sebagai seorang jago yang berpengalaman, hanya sekilas pandang saja ia sudah tahu Ji- sia terluka oleh se-macam tenaga pukulan beracun, sebab kalau pu-kulan Siau-yang-sin-kang saja air mukanya tak akan berubah menjadi semu merah.

Ia coba memegang jidatnya, ternyata dingin ba-gaikan es, parah sekali rupanya lukanya, cepat ia mengangkat tubuh Ji- sia. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertawa dingin, mendadak ia maju menyerang, secepat kilat tangan kirinya menyambar tubuh Ji-sia.

Dengan cekatan Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak melompat ke samping untuk menghindar.

“Oh Ku-gwat!” tegurnya ketus, “sekali lagi kau berani menyerang, kubeberkan semua akal busuk-mu di kepan umum, akan kulihat bagaimana cara-mu memberi sangkalan!”

Gagal dengan serangannya, Oh Ku-gwat ter-kekeh-kekeh, “Hehehe, mana, mana! Asal saudara Ku sanggup melindungi keutuhan jenazahnya akupun tak perlu banyak urusan lagi.”

Heran dan bingung bagi kawanan jago yang hadir, siapapun tak mengerti akan ucapan mereka berdua, yang jelas Oh Ku-gwat berniat membunuh Bok Ji-sia yang terluka parah, tapi apa tujuannya?

Sudah barang tentu semua orang tak menyangka ruyung emas Jian-kim-si-kun-pian berada dalam baju Bok Ji-sia, seandainya Oh Ku-gwat berhasil mem-bunuh anak muda itu dan mengurus layonnya, bukan-kah ruyung emas itupun tanpa diketahui orang akan berpindah tangan? Sayangnya, justru tipu muslihat Oh Ku-gwat yang licin ini diketahui oleh Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak serta Bu-sian-gisu Kwanliong Ciong-leng.

Sementara itu tiga nona dari Hek-liong-kang telah berada di samping Hoa Hong-hui, si nona genit Pek Bi coba memegang urat nadi Hoa Hong-hui, sejenak kemudian tiba-tiba ia lepas tangan, lalu katanya dengan senyum dikulum, “Nona, me-nurut analisa Cici, luka Hoa-suheng diakibatkan semacam tenaga pukulan yang lihai, Cici tak tahu ilmu pukulan apakah itu, tampaknya terpaksa nona harus turun tangan sendiri.”

Nona bercadar biru itu menghela napas sedih lalu berkata, “Pemuda she Bok itu betul-betul ga-nas. Ai, Pek Sat Cici, apakah kau hendak menyem-buhkan luka Hoa-suheng? Ia sudah terkena sejenis pukulan yang melukai pelbagai nadinya, untung saja tenaga dalam orang she Bok itu belum sempurna, coba kalau sudah mencapai puncak sempurnanya, mungkin korbannya akan tewas seketika…..”

“Apakah nona menyuruh aku membuyarkan darah beku dalam nadinya dengan tusuk jarum?” tanya Pek Sat dengan dingin.

Nona bercadar biru itu mengangguk.

“Enci Pek Sat,” katanya, “ambil jarum perak ini dan tusuk jalan darahnya mengikuti petunjuk-ku, asal beristirahat dua hari, niscaya lukanya akan sembuh kembali seperti sediakala.”

Sambil berkata, ia mengeluarkan sebatang ja-rum perak dari sakunya dan diarahkan kapada no-na yang bernama Pek Sat itu.

Pek Sat menerimanya, lalu berjongkok di sisi Hoa Hong-hui, semua perhatiannya dipusatkan ke tubuh pemuda itu dan menusuk jalan darahnya. Titba-tiba nona bercadar biru itu berkata, “Ja-rum pertama tusuk pada jalan darah Bong-gi-hiat, kedua pada jalan darah Im-tok-hiat, ketiga…….”

Secara beruntun nona bercadar biru itu me-nyebut nama lima jalan darah dan enam nadi, Pek Sat pun dengan cekatan menggerakkan jarum pe-raknya, dalam waktu singkat pengobatan tusuk ja-rum pun rampung.

Diam-diam kagum juga kawanan jago yang hadir di situ, sesudah menyaksikan cara pengobatan yang dilakukan kedua gadis itu, bukan saja cara-nya cepat, sasarannya pun tepat.

Sambil tertawa tiba-tiba Lamkiong Giok tam-pil ke depan, katanya, “Nona bertiga betul gadis terpuji, mana ilmu silatnya lihai dan cantik lagi, Cayhe benar-benar sangat kagum!”

Nona yang bernama Pek Bi itu berpaling dan menatap sekejap wajah Lamkiong Giok, lalu ter-senyum simpul.

Senyuman itu kontan membuat jantung Lam-kiong Giok berdebar keras, ia merasa dibalik se-nyuman itu mengandung suatu tenaga pembetot sukma yang amat kuat. Senyuman nona yang bernama Pek Bi ini me-mang berbeda daripada senyuman orang biasa, se-akan-akan setiap bagian yang terkecil pun meng-andung kekuatan yang memikat, seolah- olah be-ratus kuntum bunga beraneka warna yang mekar bersama, terhimpun menjadi suatu keindahan yang mempesona.

Tapi sayang, justru pada saat itu pula si nona Pek Sat yang dingin sedang melotot ke arah Lam-kiong Giok, anak muda itu kontan merasa bergidik, hati yang terpesona menjadi dingin kembali, segera pikirnya, “Dingin dan menyeramkan betul tampang orang ini…..”

Dalam pada itu, si nona bercadar biru telah menerima kembali jarum peraknya dari Pek Sat, tanpa melirik barang sekejap pun ke arah Lam-kiong Giok, ia menegur, “Mau apa kau?” Buru-buru Lamkiong Giok memberi hormat, jawabnya, “Memang ada persoalan yang hendak kuajukan kepada nona!”

Melihat gaya sopan santun orang, Pek Bi ter-senyum, “Apakah kau ingin mohon kepada nona kami untuk menyembuhkan juga luka orang she Bok itu?” sindirnya, “kalau tidak, dengan lagak kalian waktu menyerbu ke sini tak nanti sikapmu tiba-tiba ber-ubah menjadi begini ramah.”

Merah juga pipi Lamkiong Giok oleh sindiran tersebut, buru- buru tukasnya dengan tergegap, “O, bu….bukan, bukan, adapun kedatanganku dan saudara Bok tak lain hanya ingin melihat kecantik-an nona……”

“Omong kosong!” bentak Pek Sat ketus, “per-kataanmu hanya dipercaya oleh setan!”

“Soal ini….soal ini….harap kalian jangan sa-lah paham…. “ kembali Lamkiong Giok tergagap.

“Jangan ini itu,” tukas nona bercadar biru sambil tertawa, “bawa orang itu kemari, asal belum putus nyawa, pasti aku bisa menyembuhkan lukanya.”

Begitu meyakinkan perkataannya seakan-akan segala ilmu pertabiban yang ada di dunia ini telah dikuasainya semua olehnya.

Lamkiong Giok sangsi sebentar, kemudian se-runya, “Ku- cianpwe, tolong bawalah saudara Bok kemari!”

Padahal Lamkiong Giok tidak bermaksud de-mikian, tujuannya bukan memohonkan pengobatan bagi Bok Ji-sia melainkan hanya ingin mempergu-nakan kesempatan ini untuk berhubungan lebih akrab dengan ketiga nona cantik itu.

Lamkiong Giok bukan orang bodoh, ia tahu setelah Bok Ji- sia terluka parah, maka dia harus berdiri sendiri sekarang, padahal setiap jago silat yang hadir hampir semua menaruh dendam pada-nya, maka dia ingin membaiki Hek-liong-kang- sam-li atau tiga gadis Hek-liong-kang, agar seandainya ia dikerubut kawanan jago, gadis-gadis lihai itu mau membantunya.

Sebagai pemuda yang cerdik, semenjak kemun-culan ketiga gadis itu, Lamkiong Giok sudah men-duga ketiga orang itu pasti memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, asal mereka bersedia membantunya, maka kendatipun Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin dan lain-lain juga tidak perlu ditakuti lagi.

Selain itu iapun punya perasaan yang aneh dan muluk- muluk terhadap ketiga gadis cantik ini. Di pihak lain, Ku Thian- gak berdiri termangu sambil tundukkan kepala, termenung memandangi tubuh Bok Ji-sia yang dipondongnya, ia tak tahu luka apa yang diderita anak muda itu.

Ia sadar kambali setelah mendengar teriakan Lamkiong Giok, cepat ia berpaling, katanya, “Lam-kiong Giok, lukanya parah, aku kuatir….?”

Ternyata dia kuatir ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian dalam baju Bok Ji-sia diketahui ketiga gadis Hek-liong-kang saat menyembuhkan luka-nya nanti.

Sementara itu Hian-thian-koancu Kun-tun Cin-jin telah berseru, “Lamkiong Giok, aku heran kenapa hatimu menjadi begitu welas-asih malam ini! He he he terus terang kukatakan padamu, jangan kau mimpi akan berlindung di bawah selangkangan perempuan itu. Hmm, sekarang juga akan kubunuh kau!”

Kata-kata Kun-tun Cinjin memang kasar dan jorok, kontan saja membuat gusar ketiga gadis da-ri Hek-liong-kang.

“Pek Sat Cici, apakah si hidung kerbau itu se-dang memaki kita?” tiba-tiba nona bercadar biru bertanya.

Melihat ada peluang bagus, cepat Lamkiong Giok membakar sumbu perpecahan antara Hian-thian-koancu dengan ketiga nona dari Hek-liong-kang, ia berpaling ke arah nona-nona itu dan ber-kata sambil tertawa, “Maaf nona, gara- gara urusanku sampai nona sekalian ikut di damprat hidung kerbau itu, Lamkiong Giok menyesal atas kejadian ini.”

Hawa nafsu membunuh segera menyelimuti wa-jah Pek Sat, tiba-tiba ia maju menghampiri Kun-tun Cinjin. Bergidik Kun-tun Cinjin melihat ketajaman ma-ta orang, ia tertawa seram, mendadak ia menerkam ke arah Ku Thian-gak.

Gelak tertawa yang panjang melengking tiba-tiba berkumandang, berbareng sesosok bayangan hijau dengan cepat meluncur pula ke arah Ku Thian-gak….

Begitu mendengar suara tertawa itu, air muka Kun-tun Cinjin berubah hebat, tubuhnya yang me-ngapung di udara segera berjumpalitan dan mela-yang pergi dari situ. Pek Sat yang menubruk ke arah Kun-tun Cin-jin itu tak berhenti, tubuhnya berkelebat lewat lebih ke depan.

Melihat Pek Sat, bayangan hijau itu serentak menghadangnya, angin pukulan yang kuat langsung menyambar. Pek Sat mendengus, iapun menyerang, bentur-an keras bergema, tiba-tiba Pek Sat melambung ke udara dan melayang turun dua tombak jauhnya.

Seorang perempuan bercadar memakai baju hi-jau tahu- tahu sudah berada di tengah arena, dengan sorot matanya yang tajam ia sedang mengawasi Bok Ji-sia yang dalam dukungan Ku Thian-gak itu dengan termangu.

Sejak kemunculan perempuan baju hijau ini suasana lantas hening dan serasa membeku, air mu-ka setiap orang tampak prihatin. Sesungguhnya Ku Thian-gak tak tahu perempu-an di hadapannya adalah Lik-ih-hiat-li yang terso-hor itu, tapi dari matanya yang tajam serta ke-mampuannya memukul mundur Pek Sat, sadarlah dia bahwa perempuan ini ternyata berilmu tinggi.

Jantung Ku Thian-gak berdebar keras, makin tak tenteram setelah dilihatnya perempuan itu me-ngawasi Bok Ji-sia terus menerus tanpa berkedip, ia tak tahu itu pertanda dari bencanakah? Atau rejekikah?

“Siapa yang melukainya? Bicara!” tiba-tiba Lik-ih-hiat-li membentak.

Kedua mata Lik-ih-hiat-li yang tajam tiba-tiba beralih ke wajah Kun-tun Cinjin dan menatapnya lekat-lekat.

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin segera tertawa, “Lik-ih- hiat-li, apakah bentakanmu barusan ditujukan kepadaku?”

“Hmm, diantara sekian orang yang ada di sini, hanya kau dan Lamkiong bajingan tengik itu yang berulang kali ingin mencelakainya, kalau perkata-anku bukan kutujukan kepada kalian berdua, lalu kutujukan kepada siapa?”

Terkejut Lamkiong Giok mendengar perkataan itu, pelahan ia maju ke depan dan memberi hormat kepada Lik-ih-hiat-li, kemudian katanya, “Lihiap, harap jangan salah menuduh diriku, sekalipun ber-nyali, Lamkiong Giok tak berani mencelakai sau-dara Bok.”

“Lantas siapa yang mencelakainya?” bentak Lik-ih-hiat-li.

Mendongkol juga Si-hun-koay-sat-jiu mendengar bentakan perempuan itu, mendadak ia menegur ke-tus, “Di sini tidak ada orang tuli, buat apa kau berkaok macam orang gila?”

“Hmm, dilihat dari kata dan lagakmu, agaknya kau punya nama juga dalam dunia persilatan, siapa namamu?”

“Hehehe!…kami sama-sama termasuk dalam deretan Bu- lim-jit-coat….dia yang bernama Si-hun-koay-sat-jiu!” Hian- thian-koancu Kun-tun Cinjin tahu bila sendirian sukar menghadapi lawan yang tangguh itu, sejak awal sudah timbul niatnya untuk bersekutu dengan Si-hun-koay-sat-jiu, maka melihat ada kesempatan baik, cepat-cepat ia menyebutkan nama Si-hun-koay-sat-jiu. Terdengar Lik-ih-hiat-li mendengus, teriaknya, “Biar orang lain takut kepada Bu-lim-jit-coat, aku Lik-ih-hiat-li tak gentar terhadap kalian!”

Si-hun-koay-sat-jiu juga tahu Kun-tun Cinjin sengaja hendak menyeretnya terjun ke air keruh, tapi iapun tak tahan mendengarkan kata-kata yang tak sedap itu, kontan saja ia balas menjengek.

“Biar kau tidak takut pada Bu-lim-jit-coat, me-mangnya orang lain lantas takut padamu?”

Lik-ih-hiat-li marah sekali, sambil membentak ia menghantam dari kejauhan.

Si-hun-koay-sat-jiu tertawa seram, ia tak mau kalah, kedua tangan didorong ke depan untuk me-nyongsong datangnya ancaman tersebut. Tapi akibat dari benturan itu, kontan ia sem-poyongan mundur dua langkah.’

“Hm, rupanya nama besar Bu-lim-jit-coat me-mang bukan nama kosong,” jengek Lik-ih-hiat-li pula, “tapi kau tidak lebih lihai daripada Kun-tun tua, untuk merobohkan dia saja belum mampu apa-lagi melukaiku. Hm, hayo jawab siapa yang telah melukai anak itu?”

Matanya tampak merah membara, sekujur badan gemetar, jelas ia sangat marah, sedih dan emosi. Dari pancaran emosi yang diperlihatkan pe-rempuan itu, Ku Thian-gak menduga orang pasti mempunyai hubungan yang erat dengan Bok Ji- sia, segera ia berkata dengan menghela napas sedih, “Tolong tanya apa panggilan Lihiap terhadap anak muda ini?”

Seakan-akan luka hatinya tersentuh, mendadak Lik-ih-hiat-li menjerit keras-keras, “Tak perlu tanya, serahkan dia padaku!”