Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 09

Jilid 09

“Saudara Lamkiong, pendekar besar siapakah yang ditangkap?” tanya Ji-sia.

Lamkiong Giok menatap wajah Ji-sia lekat-le-kat, lalu sahutnya dengan tertawa, “Orang ini sa-ngat dikenal olehmu, dia bukan lain adalah Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak.”

“Apa?” teriak Ji-sia dengan kaget, “Ku Thian-gak Locianpwe ditangkap mereka? Kenapa mereka menangkapnya? Kini disekap di mana?”

Seperti diketahui, Bok Ji-sia mempunyai hu-bungan yang sangat dekat dengan Ku Thian-gak, tak heran kalau ia terperanjat mendengar berita ini. “Sekarang ia masih berstatus bebas, cuma ji-wanya telah dikendalikan oleh orang-orang Hek-liong-kang, bila Ku Thian- gak tidak menyerahkan benda yang mereka inginkan, dalam beberapa hari ini dia akan mengalami siksaan berat dan mati de-ngan mengenaskan!”

“Saudara Lamkiong, dapatkah kau terangkan lebih banyak?” tanya Ji-sia dengan bingung.

“Jangan gelisah saudara Bok, semalam aku te-lah bertemu dengan Ku Thian-gak Locianpwe, ia berpesan kepadaku agar membawamu menemuinya, mungkin dia akan merepotkan dirimu agar mem-bantunya mencari benda itu.”

Melenggong Ji-sia mendengar perkataan terse-but, pikirnya, “Benda apa yang hendak dicarinya? Kalau bisa kulakukan pasti akan kubantu.”

Tiba-tiba Lamkiong Giok berkata lagi, “Sau-dara Bok, aku kurang jelas urusan yang diminta Ku Thian-gak kepadamu, cuma aku hendak meng-ingatkan kepadamu, jika ia berpesan agar menca-rikan sesuatu benda, maka jangan kau kabulkan permintaannya, sebab persoalan ini menyangkut soal mati hidup saudara Bok sendiri.”

“Ah, sesungguhnya benda apakah yang kau- maksudkan itu, saudara Lamkiong?”

“Sejilid kitab pusaka!” sahut Lamkiong Giok sambil tersenyum.

“Apa? Sejilid kitab pusaka?”

“Ceritanya telah berlangsung dua ratus tahun yang lalu, waktu itu perguruan Siau-lim telah mun-cul seorang pendeta sakti, Thian-seng Taysu namanya, orang ini disebut sebagai satu-satunya tokoh sakti Siau-lim-pay sesudah Tat-mo Cousu. Oleh ka-rena Thian-seng Taysu dasarnya memang pintar dan berotak cerdas, selama hidupnya ia hanya mengabdi pada ilmu silat dan mempelajarinya secara tekun, maka dari tujuh puluh dua macam ilmu sakti Siau-lim-pay, ia berhasil mempelajari lima puluh tujuh macam di antaranya.”

“Seperti diketahui, walaupun dalam dunia per-silatan terdapat banyak perguruan dan tiap aliran memiliki silat sendiri-sendiri, tapi berbicara soal ke-saktian, maka Siau-lim- pay tetap nomor satu. Sa-yangnya bakat bagus sukar didapat, meskipun di dalam Siau-lim-si banyak terdapat kitab ilmu pu-kulan dan 72 macam kepandaian sakti, tapi tak seorangpun di antara mereka dapat memahami se-luruh kepandaian tersebut dalam perjalanan hidup yang cuma puluhan tahun ini.”

“Sebab ilmu silat itu amat luas dan tiada ba-tasnya,  sedang kehidupan manusia ada batasnya, bila ingin mempergunakan kehidupan yang singkat untuk mendalami ilmu yang luas, sudah barang tentu hal ini bukan pekerjaan yang gampang.”

“Sebab itulah kemampuan Thian-seng Taysu dalam memahami 57 kepandaian sakti dalam perjalanan hidupnya boleh dibilang merupakan kejadi-an yang luar biasa, namun ia toh gagal juga meng-usai ke 72 macam kepandaian itu.”

“Rupanya Thian-seng Taysu merasakan pula keterbatasan masa hidup manusia di dunia ini dan tak dapat mempelajari ilmu silat dalam jumlah ba-nyak, ia berpendapat jika pelbagai macam kepan-daian itu bisa dipersingkat masa belajarnya, maka kepandaian yang bisa dipelajari orang pun akan le-bih banyak, maka Thian-seng Taysu mulai menye-lidiki bagaimana caranya belajar silat dalam waktu singkat, pelbagai macam aliran ilmu silat di dunia ini telah dipelajarinya, tapi ia gagal juga menemu-kan suatu cara yang baik.” 

“Akhirnya Thian-seng Taysu tiba di wilayah Hek-liong- kang, aliran tersebut merupakan suatu aliran yang memiliki sistem belajar dalam waktu singkat. Maka Thian-seng Taysu pun berunding de-ngan Te-ing Sin-ni, ketua aliran Hek-liong- kang waktu itu untuk menyelidiki sistem kilat dari aliran tersebut dalam mempelajari ilmu silat. Kebanyakan per-guruan enggan menerima orang lain untuk menye-lidiki ilmu rahasianya, tentu saja Te-ing Sin-ni pun tidak suka tapi akhirnya toh Te-ing Sin-ni setuju juga tapi dengan sebuah syarat……”

“Apakah syaratnya?” sela Ji-sia tak tahan.

Lamkiong Giok tersenyum, sahutnya, “Syarat-nya, bila Thian-seng Taysu sudah menguasai sistem belajar secara kilat dan menulisnya menjadi sejilid kitab Siau-lim, maka kedua orang itu harus ber-tarung untuk menentukan siapa lebih unggul, yang menanglah yang berhak mendapatkan kitab itu…”

“Lantas bagaimana akhirnya?” kembali Ji-sia bertanya.

Rada bangga Lamkiong Giok melihat Ji-sia dibuat tertarik oleh ceritanya, ia merasa puas dengan pengetahuan sendiri yang luas, iapun bertutur le-bih jauh, “Akhirnya Thian-seng Taysu dengan ba-katnya yang bagus dan otaknya yang cerdas ber-hasil menulis sejilid kitab rahasia untuk mempelajari 72 macam kepandaian Siau-lim-pay secara kilat de-ngan sistem yang dipelajarinya dari aliran Hek-liong-kang, kitab pusaka itupun dinamakan Ceng-sia-bu-sia-pit-liok (kitab catatan rahasia ilmu silat aliran lurus dan sesat).”

“Setelah kitab itu selesai ditulis, Thian-seng Taysu dan Te- ing Sin-ni pun melangsungkan duel sengit untuk menentukan siapa pemenangnya, ter-nyata Thian-seng Taysu beruntung bisa memenangkan pertarungan itu dan memboyong kitab sakti itu pulang ke Siau-lim-si, ketika itu Thian-seng Taysu pernah berpesan, jika dari pihak Hek-liong-kang ternyata ada murid yang kosen, mereka berhak un-tuk menantang pertarungan lagi secara jujur dan pemenangnya berhak mendapatkan kitab pusaka itu.” “Tak tersangka Thian-seng Taysu lantas wafat setibanya kembali di Siau-lim-si, Te-ing Sin-ni pun kemudian menyusul berpulang ke alam baka. Sejak itulah kitab pusaka Ceng-sia- bu-sia-pit-liok menjadi incaran setiap umat persilatan, tak sedikit di antara mereka yang berusaha merampas maupun mecuri kitab itu, tapi tak pernah ada yang berhasil, sebab bahkan anggota Siau-lim-si sendiripun tak tahu ki-tab pusaka tersebut disembunyikan di mana.”

“Sejak itu ilmu silat aliran Siau-lim-pay kian lama kian lemah, sampai Ciangbunjin kesembilan perguruan besar secara tiba-tiba lenyap dan hingga kini lima belas tahun sudah lewat.”

Tentu saja Ji-sia mengetahui sebab-sebab le-nyapnya ketua kesembilan perguruan besar itu, ia menghela napas sedih dan berkata, “Pengetahuan saudara Lamkiong betul-betul mengagumkan, apa yang kudengar malam ini sungguh lebih bermanfaat da-ripada berkelana selama sepuluh tahun dalam dunia persilatan.”

Lamkiong Giok tertawa bangga, katanya, “Se-telah Ku Thian-gak ditangkap oleh orang Hek-liong-kang, iapun dipaksa mencarikan kitab pusaka Ceng-sia-bu-sia-pit-liok tersebut, sebab setiap umat persilatan tahu bahwa Ku Thian-gak mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Ciangbunjin kesembilan perguruan besar, karena itulah pihak Hek-liong- kang memaksanya untuk mencari kitab itu.”

“Kenapa orang-orang Hek-liong-kang begitu garang?” seru Ji-sia dengan penasaran, “kalau kitab itu tidak ditemukan, apakah orang akan dibunuh-nya?”

“Saudara Bok, kemungkinan besar Ku Thian-gak Locianpwe mempunyai hubungan perguruan dengan pihak Hek-liong-kang, kalau tidak masa orang se-perti Ku-tayhiap bersedia menjalankan perintah me-reka?” Tiba-tiba Ji-sia teringat bahwa Ku Thian-gak membawa tanda kebesaran dari kesembilan perguruan besar, serta kitab catatan ilmu silat ke-sembilan perguruan itu, bila barang tersebut sampai didapatkan pihak Hek-liong-kang niscaya keadaan akan runyam, apalagi tanda-tanda kebesaran itu menyangkut pula kehidupan beribu umat persilat-an…….

Makin dipikir Ji-sia semakin takut, buru-bu-ru tanyanya, “Saudara Lamkiong, sekarang Ku-Thian-gak Locianpwe berada di mana?”

Lamkiong Giok mendongakkan kepala meman-dang cuaca sekejap, kemudian sambil tersenyum sahutnya, “Sekarang baru kentongan pertama, se-lewatnya kentongan ketiga nanti Siaute akan mem-bawamu melihat keramaian, waktu itu kau pasti akan berjumpa dengan Ku-tayhiap.”

Baru selesai ia berkata, mendadak tak jauh di sisi mereka, dari balik kegelapan berkumandang suara tertawa dingin, seorang lantas berseru, “He-bat! Hebat! Tak tersangka Lamkiong Hian mem-punyai seorang putra yang berpengetahuan amat luas, sungguh membuatku sangat kagum, kini ingin kucoba pula kepandaian silatmu, apakah kungfumu sama lihainya dengan mulutmu!”

Ji-sia terkesiap, tak tersangka kehadiran orang itu sama sekali tidak dirasakan olehnya, hal ini membuktikan bahwa orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Ketika mendengar teguran tersebut, dengan ke-ning berkerut Lamkiong Giok lantas berkata, “To-long, tanya apakah yang datang adalah Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin dari Bu-lim-jit-coat?”

Ji-sia terkesiap, ia tak menyangka Lamkiong Giok bisa mengenali orang itu dari suaranya, apa-lagi orang itu adalah Hian-thian-koancu Kun-tua Cinjin nari Bu-lim-jit-coat yang siangkatan dengan gurunya, Oh Kay-gak. Gelak tertawa nyaring segera berkumandang, “Hahaha! Cerdik! Cerdik! Hanya sekali mendengar saja kau dapat mengenali suaraku.”

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, da-ri balik kegelapan melompat keluar seorang Tosu berjubah dan membawa kebut, bertubuh jangkung ceking dengan sebilah pedang tersandang di pung-gungnya.

Lamkiong Giok segera memberi hormat kepada orang itu sambil menyapa, “Kun-tun Locianpwe, baik-baikkah kau? Wanpwe memberi hormat untuk-mu! Tolong tanya sedari kapan Locianpwe tiba di sini?”

Lamkiong Giok memang pintar, ia kuatir ra-hasia yang dia bicarakan tadi terdengar olehnya, maka dia ajukan pertanyaan tersebut sembari otaknya berputar mencari akal untuk mengatasi hal ter-sebut.

Kun-tun Cinjin berdehem ringan, lalu menjawab dengan tertawa, “Jangan sungkan! sejak kapan kau menghormati seorang Bu-lim-cianpwe? Hmm. Jian-kim-si-hun-pian…..”

Mendengar perkataan ini, air muka Lamkiong Giok berubah hebat, tapi hanya sekejap lantas le-nyap, tapi Kun-tun Cinjin yang bermata tajam te-lah menangkap perubahan air mukanya.

Sambil tertawa dingin iapun melanjutkan, “Tapi tidak kudengar Jian-kim-si-hun-pian itu kini terja-tuh di tangan siapa, maka sengaja kudatang untuk menanyakan soal ini kepadamu, jika kau seorang bocah yang  menghormati seorang Cianpwe, tentu rahasia tersebut akan kau beritahukan kepadaku bukan?”

Bok Ji-sia segera merasakan betapa licik dan berbahayanya manusia ini, dari pembicaraannya yang berbelit-belit bisa diketahui orang ini tentu banyak tiipu muslihatnya. “Mana, mana!” seru Lamkiong Giok sambil tertawa, “Locianpwe kan sudah mendengar semua, buat apa pura-pura tanya lagi?”

Tiba-tiba air muka Kun-tun Cinjin berubah kelam, dengan tertawa dingin katanya lagi, “Setiap orang mengatakan Lamkiong Hian mempunyai se-orang anak yang licin dan banyak akal muslihatnya, tampaknya kabar itu memang benar, cuma entah bagaimana dengan ilmu silatnya?”

Melihat kekasaran orang, Ji-sia jadi gusar, segera selanya dengan tertawa dingin, “Huh, seorang pendeta masa berwatak kasar dan suka bertarung, sungguh tak tahu diri!”

Mendengar ucapan tersebut, Lamkiong Giok segera merasa keadaan bakal runyam.

Betul juga, dengan sorot mata yang dingin Kun-tun Cinjin memandang sekejap wajah Bok Ji-sia, lalu tanyanya kepada Lamkiong Giok, “Bocah ini didikan dari setan tua mana?”

Mendengar dirinya disebut “Bocah”, Ji-sia me-rasa gusar, ia mendengus, “Huh, kenapa memaki orang seenaknya, kau kira aku boleh sembarangan disebut sebagai bocah?”

Kun-tun Cinjin jadi melengak, sejak terjun ke dunia persilatan belum pernah ada orang yang be-rani bicara kurangajar kepadanya, ia tak menyang-ka pemuda yang tak ternama ini berani mengejeknya.

Kun-tun Cinjin tertawa seram, “Hehehe, kau tidak kenal diriku, maka berani bicara kasar pa-daku? Nah, cepat tempeleng muka sendiri beberapa kali!”

Ji-sia adalah pemuda yang angkuh dan keras kepala, ia tertawa dingin seraya menyambung, “Kalau aku tahu, kau adalah Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin dari Bu-lim jit-coat, apakah lantas hendak kau renggut nyawaku?”

Berubah hebat air muka Kun-tun Cinjin saking gusarnya, pelahan ia menghampiri Bok Ji-sia. Lamkiong Giok merasa gelisah, ia melangkah maju ke depan dan menghadang di depan Kun-tun Cinjin, lalu memberi hormat, katanya,  “Saudara ini adalah seorang sahabat Wanpwe, harap Locianpwe bersedia….”

Tanpa menggubris ucapan orang, Kun-tun Cinjin mengayun tangan kiri ke depan, segulung tenaga pukulan yang dahsyat langsung menerjang ke arah Lamkiong Giok. Lamkiong Giok telah memperhatikan gerak-geriknya, ia tahu ayunan telapak tangannya itu membawa tenaga pukulan dahsyat. Cepat ia mun-dur menghindarkan ancaman tersebut.

Sementara itu tubuh Kun-tun Cinjin yang jangkung mendadak bergerak maju lagi, senjata ke-but segera menyabat urat nadi tangan kiri Bok Ji-sia.

Bulu kebut itu tajam seperti kawat, bila ta-ngan Ji-sia terbelit niscaya akan terlilit putus. Ji-sia mirip anak banteng yang tidak kenal takut, sambil tertawa dingin ia mengegos ke samping, lalu tangan kanannya diayun ke depan, pukulan langsung menerjang dada Kun-tun Cin-jin.

Kun-tun Cinjin adalah salah seorang Bu-lim-jit-coat, tujuh tokoh top dunia persilatan, dia yakin satu kali kebut saja pasti akan melukai pemuda tak ternama itu, atau paling tidak akan mendesaknya hingga kelabakan, siapa sangka dengan suatu gerak-an aneh Ji-sia dapat menghindarkan serangan itu dan sebaliknya malah melancarkan serangan balasan.

Kun-tun Cinjin betul-betul naik pitam, napsu membunuhnya berkobar, ia melayang ke sisi kiri Ji-sia, telapak tangan kiri lantas didorong ke depan. Sebagai seorang jago kelas tinggi, ia enggan melangsungkan pertarungan jarak dekat dengan Ji- sia, maka sambil menghimpun tenaga dalam ia me-lepaskan suatu pukulan,

Ji-sia melihat serangan lawan datangnya enteng lagi lambat, dalam hati ia berpikir, “Hian-thian-koancu dan Oh Kay- gak terhitung Bu-lim-jit-coat, entah bagaimana tenaga dalamnya? Biarlah kusambut pukulannya untuk menjajal sampai di manakah kekuatannya?”

Berpikir demikian, hawa murni segera dihim-pun pada telapak tangannya dan didorong ke depan….

Ketika kedua gulung tenaga saling bertemu, Ji-sia segera merasakan keadaan tidak beres, meskipun datangnya serangan itu lambat, tapi kekuatannya maha dahsyat. Buru- buru ia melompat mundur, masih untung ia cepat merasakan gelagat kurang baik, kalau tidak, besar kemungkinan dia akan tergetar hingga terluka parah sebab dibalik serangan tersebut justeru Kun-tun Cinjin telah menyembunyikan suatu serang-an susulan yang mematikan.

Tampaknya Lamkiong Giok sangat kuatir ka-lau pembantu andalannya akan mati di tangan Kun-tun Cinjin, cepat ia melompat ke hadapan imam tersebut, lalu memberi hormat, katanya, “Kepandai-an Kun-tun Locianpwe amat lihai dan tiada tandingannya di kolong langit, buat apa ribut-ribut dengan seorang anak muda? Jika sampai salah hitung, bukankah nama baik Locianpwe bakal ter-pengaruh?”

Padahal ia sengaja berkata demikian dengan maksud bila Kun-tun Cinjin tidak berhasil melukai Bok Ji-sia, maka nama baiknya pasti akan ternoda, jadi sesungguhnya ucapan tersebut bernada meng-hasut. Kiranya Lamkiong Giok pandai melihat gelagat, ia tahu Kun-tun Cinjin berhasrat besar untuk mem-binasakan Bok Ji-sia, maka pikirnya, “Kungfu makhluk tua ini sangat lihai, bila ia betul-betul turun tangan, pasti Bok Ji-sia tidak mampu lolos dari cengkeramannya.”

“Watak orang ini sukar diraba, sebentar baik, lain saat suka bertindak sesuka hatinya, manusia semacam ini paling sukar diperalat, apalagi Lik-ih-hiat-li dari kuburan kuno itu membelanya mati-matian, jika Lik-ih-hiat-li (perempuan darah berbaju hijau) sampai membeberkan perbuatanku yaag menyergapnya secara diam-diam, dari bersahabat dia pasti akan memusuhiku, lebih baik biarkan saja ia ter-bunuh oleh makhluk tua ini, kemudian kulaporkan kejadian ini kepada Lik- ih-hiat-li, dengan kemam-puannya, Kun-tun Cinjin pasti dapat disikat lenyap, waktu itu dunia akan menjadi milikku….”

Seperti diketahui, Lamkiong Giok adalah ma-nusia licik dan panjang akalnya, meski usianya ma-sih muda, ambisinya sangat besar dan hatinya keji, memang ada niat membunuh Bok Ji-sia, tapi kuatir pembalasan dari Lik-ih-hiat-li, maka ia tak berani membunuhnya.

Betapa senangnya jika sekarang Kun-tun Cinjin hendak membunuh Ji-sia, tapi iapun kuatir Kun-tun Cinjin sayang kepada bakat Ji-sia yang ba-gus hingga urungkan niatnya semula, maka ia se-ngaja membakar hatinya, meski di luar ia bersikap seakan-akan membela Bok Ji-sia.

Mencorong sinar mata Kun-tun Cinjin, ia ter-tawa seram, katanya, “Lamkiong Giok, kau terlalu suka mencampuri urusan orang lain, biar sekalian kubunuh kau baru kemudian beradu jiwa dengan setan tua.”

“Kun-tun Locianpwe, kenapa kau gusar hanya karena urusan sepele?” kata Lamkiong Giok lagi dengan tertawa.

“Minggir!” bentak Kun-tun Cinjin dengan gu-sar, kebut di tangan kanannya segera diayunkan ke tubuh Lamkiong Giok yang menghadang di depannya.

Dengan gesit Lamkiong Giok menghindar ke samping, serunya kepada Ji-sia, “Saudara Bok, jika tak mampu menang, cari kesempatan dan kabur saja.”

“Terima kasih banyak atas perhatian saudara Lamkiong, orang she Bok yakin masih sanggup menghadapi beberapa jurus serangannya!”

Kun-tun Cinjin kembali tertawa seram, “Anak keparat, kau terlalu sombong, ingin kulihat berapa jurus sanggup kau hadapi.” “Kun-tun Locianpwe! Kau telah menyerang dua jurus, “seru Lamkiong Giok.

Ucapan ini benar-benar membakar Kun-tun Cinjin, dengan gemas ia berteriak, “Lamkiong Giok, boleh kau jadi saksi, dalam lima gebrakan akan ku-binasakan dia.”

Dalam hati Lamkiong Giok merasa girang, ta-pi di luar sengaja ia berseru,. “Kalau kau gagal me-lukainya dalam lima gebrakan, lantas bagaimana!”

“Segera aku pulang ke Hian-thian koan, la-lu semedi selama lima tahun dan tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi.”

Selesai menjawab, langsung ia mengayun ta-ngan kiri melancarkan serangan dahsyat ke arah Bok Ji-sia. Ji-sia yang tinggi hati sudah barang tentu ti-dak mau dipandang enteng lawan, memerasa jika lima gebrakan itu tak sanggup diterimanya, lalu apa gunanya berkelana dalam dunia persilatan?

Maka sambil membentak, tangan kanan diayun ke depan, ia sambut serangan si Tosu. Serangan Kun tun Cinjin itu luar biasa dahsyat-nya, betapa kaget Lamkiong Giok ketika menyak-sikan Ji-sia berani menangkis serangan itu dengan kekerasan……

“Heran, kenapa tenaga dalamnya bisa maju sepesat ini? Jika dibiarkan hidup lebih lama, niscaya kemampuannya akan tambah hebat, lebih baik dile-nyapkan saja dengan meminjam tangan Kun-tun Cinjin daripada meninggalkan bibit bencana di ke-mudian hari.”

Berpikir sampai di sini, Lamkiong Giok lantas berpaling ke arah Ji-sia dan berseru, “Saudara Bok, sungguh dahsyat tenaga dalammu, sudah pasti kau mampu menahan empat jurus serangannya lagi!” Kun-tun Cinjin merasa terperanjat juga karena serangannya dapat disambut lawan, ia berteriak aneh, hawa murni dihimpun, pelahan tangan kirinya di-dorong lagi ke depan. Setelah menyambut serangan pertama tadi, Ji-sia merasakan darah bergolak keras, tapi dia ada-lah pemuda suka menang, ia enggan menunjukkan kelemahan di depan orang, maka sambil mengatur pernapasan, iapun bersiap lagi untuk menghadapi segala kemungkinan.

Maka ketika Kun-tun Cinjin melepaskan serangan lagi, kedua telapak tangan Ji-sia segera didorong pula untuk menyambut ancaman tersebut. Serangan itu sepintas lalu tampaknya seder-hana dan biasa saja, padahal mengandung tenaga pukulan yang beberapa kali lebih hebat daripada serangan pertama tadi. Begitu benturan keras ter-jadi, Ji-sia kontan tergetar mundur dua langkah.

Tak terlukiskan rasa kaget Kun-tun Cinjin, ia tidak mengira dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago tangguh yang sanggup menerima tu-juh bagian tenaga pukulannya dengan cuma tergetar mundur dua langkah saja.

Air muka Lamkiong Giok juga berubah, se-runya, “Saudara Bok, tinggal tiga gebrakan lagi?”

Mendadak Kun-tun Cinjin mengernyitkan ke-ning, sambil membentak, “Sambut lagi pukulanku ini!”

Tenaga dalam dihimpun mencapai sembilan bagian, segera tangan kiri menghantam ke depan. Ji-sia yang sombong tetap, tidak menghindar, kedua telapak tangannya menyambut pula serangan tersebut dengan kekerasan.

“Blang!” angin kencang menyebar ke empat penjuru membawa suara benturan keras.

Kun-tun Cinjin merasakan segulung tenaga pu-kulan yang dahsyat memantul ke arahnya, ia ter-guncang sempoyongan dan mundur dua langkah. Dengan tenaga pukulaa sebesar itu, sebagai seorang jago tua ternyata tak mampu membinasakan seorang muda, sebaliknya ia sendiri malah tergetar mundur, sungguh kejadian yang membuatnya kehi-langan muka.

Sementara itu Ji-sia pun merasakan betapa dahsyatnya tenaga pukulan musuh, ia mencelat beberapa depa jauhnya, lalu turun lagi ke tanah. Air muka pemuda itu berubah menjadi keabu-abuan, senyuman masih tersungging di ujung bibir-nya, tapi mata melotot ke arah Kun-tun Cinjin.

Lamkiong Giok terkejut, pikirnya, “Malam ini aku betul-betul ketemu setan, masa tenaga dalam-nya seimbang dengan Kun- tun Cinjin….?”

Padahal pergolakan darah dalam tubuh Ji-sia sekarang sangat hebat, dadanya terasa sakit, ham-pir saja dia tumpah darah, tapi dasar keras kepala, dengan paksa ia telan kembali darah yang hambir tersembur keluar itu. Kepalanya sekarang terasa pusing tujuh keli-ling, matanya berkunang-kunang, tapi ia masih tetap berdiri tegak di tempat semula, seakan-akan tak ter-jadi sesuatu apapun, padahal tubuhnya betul-betul sudah tak bertenaga lagi, asalkan Kun-tun Cinjin melepaskan pukulan lagi, mungkin ia akan tewas seketika.

Lamkiong Giok yang berhati jahat ini kembali berteriak untuk memanaskan suasana, “Saudara Bok, tinggal dua gebrakan lagi, jika kedua gebrakan ini pun sanggup kau atasi, maka dia harus pulang ke Hian-thian-koan untuk duduk menghadap dinding selama lima tahun!”

Diam-diam Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin mulai menaruh rasa kagum atas kesempurnaan te-naga dalam Bok Ji-sia, timbul pula rasa sayang da-lam hatinya, ia tak ingin melukainya lagi dan cu-ma berdiri termangu di tempat semula.

Melihat itu, Lamkiong Giok segera berseru sambil tertawa, “Kun-tun Locianpwe, delapan be-las tahun tak pernah kau muncul dalam dunia per-silatan, tentunya tak pernah  kau duga bahwa air terus mengalir, ombak di sungai Tiangkang selalu mendorong ke depan, hahaha……” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Da-hulu kau dikalahkan oleh Ban-pian-sinkun Au-yang Seng, sungguh tak tersangka delapan belas ta-hun kemudian kau dikalahkan lagi oleh murid-nya Auyang Seng. Hahaha, dengan kepandaian be-gini saja ingin menjadi pimpinan Bu-lim-jit-coat….?”

Betapa kaget Hian-thian-koancu Kun-tun Cin-jin mendengar perkataan itu, serunya, “Jadi dia ini muridnya Ban-pian-sinkun Auyang Seng?”

“Kau heran?” tanya Lamkitong Giok sambil tersenyum,” dari pada dikalahkan oleh muridnya Ban-pian-sinkun secara mengenaskan, kuanjurkan kepa-damu lebih baik damai saja.”

Hasutannya mengobarkan lagi dendam Kun-tun Cinjin yang telah terpendam selama delapan belas tahun ini, serunya kemudian, “Baik, hari ini akan sekalian kubalas dendam atas sakit hatiku da-hulu itu!”

“Hm, kenapa tidak kau lanjutkan seranganmu?” ejek Ji-sia sinis.

Dengan murka Kun-tun Cinjin menghimpun tela-ga dalamnya dan melancarkan serangan terakhir, napsu membunuhnya telah berkobar, ini terbukti da-ri matanya yang melotot dan wajahnya yang me-nyeringai.

Ji-sia tak berani gegabah, ia himpun tenaga untuk menangkis pukulan itu. “Blang”, sekali ini Ji-sia tergetar mundur tiga tindak dan jatuh ter-duduk dengan tumpah darah….

Diam-diam Lamkiong Giok merasa girang me-nyaksikan kejadian tersebut, in tahu sekali ini Bok Ji-sia niscaya tak bisa lolos dari maut apabila Kun-tun Cinjin menambahi sekali pukul lagi.

Pada saat kritis inilah, mendadak seseorang membentak, “Berhenti!” Menyusul bentakan itu, sesosok bayangan hi-jau melayang tiba.

Air muka Lamkiong Giok berubah hebat me-lihat kemunculan orang ini, pikirnya, “Sialan, lagi2 orang ini muncul pada saat ini!”

Ternyata orang ini bukan lain adalah Lik-ih-hiat-li, si perempuan aneh berbaju hijau penghuni kuburan kuno.

Ji-sia memandang perempuan itu, lalu katanya “Mau apa kau kemari? Jangan ikut campur urusanku!”

“Anak muda, jangan kau paksakan diri mena-han serangan musuh!” kata Lik-ih-hiat-li lembut.

Lamkiong Giok agak bingung melihat keadaan itu, ia tidak mengerti apa sesungguhnya hubungan antara Lik-ih-hiat-li dengan Bok Ji-sia, yang jelas perempuan aneh ita sangat memperhatikan kese-lamatan Bok Ji-sia.

“Lik-ih-hiat-li pasti akan membalaskan den-dam untuk Bok Ji-sia,” demikian ia berpikir, “mung-kin saja iapun akan turun tangan kepadaku, bila aku tidak berlagak seakan-akan bermusuhan dengan Kun-tun Cinjin, pasti dia akan turun tangan jahat, kungfu Lik-ih-hiat-li ini mungkin jauh di atas Kun-tun Cinjin, jika ditambah dengan diriku, rasanya bukan pekerjaan sulit untuk membunuh Kun-tun Cinjin, bila malam ini ia disingkirkan, hal ini me-rupakan kejadian yang memuaskan juga…”

Dasar licik, sambil tersenyum katanya kemu-dian, “Kun-tun locianpwe, kau mesti berhati-hati!”

Segera ia mendekati Kun-tun Cinjin, diam-diam ia menunggu kesempatan untuk melancarkan serang-an, tapi senyuman masih menghiasi ujung bibirnya seakan-akan tak terjadi apapun, keadaan ini sung-guh membuat orang sukar untuk menduga maksud tujuannya. Sejak terpukul mundur tadi, Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin lantas waswas, pikirnya, “Ilmu silat perempuan itu jelas tidak lemah, cuma entah dari mana asal-usulnya? Mungkin  aku tak bisa menang-kan dia sekarang, padahal Lamkiong Giok tersohor dalam dunia persilatan sebagai seorang licin dan berhati keji, jika ia berniat untuk memusuhiku su-dah pasti malam ini aku tak akan memperoleh ke-untungan apa-apa!”

Berpikir demikian, tiba-tiba Kun-tun Cinjin mundur beberapa langkah kemudian tertawa terba-hak-bahak, katanya, “Lamkiong Giok, siapakah pe-rempuan ini? Kenapa belum pernah kudengar orang persilatan membicarakannya?”

“Orang ini belum lama muncul dalam dunia persilatan,” kata Lamkiong Giok sambil tertawa nyaring, “dia adalah jago lihai nomor wahid dalam dunia persilatan dewasa ini…..Lik-ih- hiat-li!”

“Apa? dia adalah perempuan aneh yang berhasil mendapatkan kitab pusaka Hian-ki-hian-cing?” seru Kun-tun Cinjin terkejut.

Ternyata peristiwa tentang berhasil dirampas-nya mestika dalam kuburan kuno oleh seorang pe-rempuan aneh pada tujuh hari yang lalu telah tersiar luas dalam persilatan, nama besar Lik-ih-hiat-li telah menggetarkan hati setiap umat persilatan. Oleh karena ilmu silatnya yang lihai dan per-buatannya yang keji, hal mana telah menimbulkan perasaan ngeri setiap orang, tentu saja Kun-tun Cinjin pun mendengar berita besar ini.

Maka begitu mengetahui orang itu adalah Lik-ih-hiat-li atau perempuan darah berbaju hijau, tiba-tiba ia putar badan dan hendak tinggal pergi.

“Bagaimana?” seru Lamkiong Giok, sambil mem-beri hormat dan tertawa, “apakah lantaran tahu dia adalah Lik-ih- hiat-li yang menggemparkan dunia per-silatan, maka Kun-tun Locianpwe menjadi ketakutan dan hendak melarikan diri? Jika berita ini sampai tersiar di luaran nanti, bukankah kejadian ini akan merusak nama besar Bu-lim-jit-coat dan di-tertawakan orang banyak?”

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin tersipu-sipu mendengar sindiran Lamkiong Giok ini, dengan ge-ram serunya, “Lamkiong Giok, nyalimu makin la-ma semakin besar, apakah kau sudah bosan hidup? Kalau suka hayolah  bermain beberapa gebrakan denganku!”

Huan-in-kiam Lamkiong Giok melirik Lik-ih hiat-li sekejap, diam-diam iapun berpikir, “Sewaktu berada dalam kuburan kuno dulu, perempuan ini tahu beberapa kali hendak kubunuh Bok Ji-sia, jika untuk sementara waktu ia tidak turun tangan, dan biarkan aku bertarung dengan Kun-tun Cinjin posisiku jadi semakin tidak beruntung….”

Ia memang seorang pintar, sebab itulah yang diharapkan oleh Lik-ih-hiat-li.

Maka sambil tertawa Lamkiong Giok berkata, “Mana, mana! Masa wanpwe berani melawan se-orang Bu-lim-cianpwe yang tersohor?”

Kun-tun Cinjin tertawa dingin, “Masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan, aku tak punya waktu untuk ribut mulut dengan anak mu-da yang tak tahu diri!”

Habis berkata, iapun putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

“Kun-tun Loto!” dengan suara yang dingin Lik-ih-hiat-li berseru, “sesudah menganiaya seorang Wanpwe, apakah kau hendak pergi dengan begitu saja?”

“Kun-tun Locianpwe,” Lamkiong Giok pun tertawa dingin, “rupanya kau cuma berani meng-aniaya anak-anak dan tak berani pada orang tua, hahaha, manusia macam begitupun berani menyebut-kan dirinya sebagai tokoh Bu-lim-jit-coat, tidakkah kau merasa hal itu akan merugikan nama baik Jit- coat?”

Sesungguhnya Hian-thian koancu Kun-tun Cin-jin bukan takut pada Lik-ih-hiat-li, apalagi setelah disindir berulang kali oleh Lamkiong Giok, amarah-nya kontan berkobar, sambil tertawa dingin men-dadak ia menerjang maju, tangan kiri secepat kilat mencengkeram bahu kiri Lamkiong Giok.

Tampaknya ia bermaksud menaklukkan Lam-kiong Giok dengan sekali serang, maka serangannya dilancarkan dengan cepat luar biasa. Lamkiong Giok juga bukan lawan empuk, ia mendak sedikit, tangan kanan didorong ke depan, iapun melancarkan pukulan dahsyat ke dada Kun-tun Cinjin. Berkelit sambil melepaskan serangan balasan, gerakan itu dilakukan dengan cepat.

Terkesiap juga Kun-tun Cinjin, sambil tertawa dingin ucapnya, “Anak keparat Lamkiong, ternyata kau masih memiliki jurus ampuh dari si setan tua!”

Sambil berkata, tenaga dihimpun pada tangan kiri dan pelahan didorong ke depan untuk me-nyongsong datangnya serangan telapak tangan ka-nan Lamkiong Giok. Huan-in-kiam Lamkiong Giok bukan orang bo-doh, ia tahu Kun-tun Ciojin telah menyembunyikan serangan mematikan di balik gerakan tersebut, ma-ka ketika tangan kanan didorong ke depan, segera ia melompat mundur sejauh enam-tujuh depa.

“Kun-tun Locianpwe,” serunya sambil tertawa, “Wanpwe merasa sudah cukup menerima hadiah dua gebrakan dari Cianpwe…..”

Kun-tun Cinjin tertawa seram. “Lamkiong Giok, hendak kulihat tiga empat jurusmu lagi!”

Kebut di tangan kanannya mendadak bergetar, bulu halus putih senjata itu segera berdiri kaku ba-gaikan bulu tengkuk singa yang sedang gusar, be-ratus jalur angin tajam sekaligus menyambar ke tu-buh Lamkiong Giok. Air muka Lamkiong Giok berubah, ia meng-himpun tenaga dalam dan tiba-tiba melompat ke atas, terus berjumpalitan dan melayang turun di sana.

Gerak tubuh yang digunakan untuk menghin-darkan diri ini amat aneh, sungguh gerakan yang jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Ji-sia kebetulan membuka matanya, ia memuji, “Saudara Lamkiong, sungguh gerakan yang indah!”

Mendengar suara Ji-sia, Lik-ih-hiat-li berpaling, dilihatnya anak muda itu sedang duduk bersila de-ngan tenang, sedikitpun tidak mirip seorang yang terluka parah. Perempuan aneh itu merasa heran, dia tak me-nyangka luka pemuda tersebut bisa sembuh secepat itu.

“Sudah sembuh lukamu?” tegurnya kemudian.

Ji-sia mengiakan, sinar matanya kembali ber-alih ke tengah gelanggang.

Ketika senjata kebut mengenai sasaran kosong, Kun-tun Cinjin segera tertawa dingin, “Lamkiong Giok, kau memang punya kepandaian hebat, aku ikut bergembira bagi Lamkiong Hian yang punya anak cekatan seperti kau, cuma sayang malam ini….”

“Kun-tun Locianpwe, kalau kau mendesak te-rus menerus, terpaksa Wanpwe melayanimu!” ben-tak Lamkiong Giok.

“Kun-tun tua!” tiba-tiba suara bentakan berkuman-dang, “sambut dulu beberapa jurus seranganku se-belum kalian lanjutkan pertarungan!”

Tidak tampak bagaimana bergerak tubuhnya, tahu-tahu Lik-ih-hiat-li telah menerjang ke depan Kun-tun Cin-jin. Terkejut Kun-tun Cinjin menyaksikan gerak tubuh orang, ia tahu malam ini telah berjumpa de-ngan musuh tangguh. Sambil mundur setengah langkah, ia tertawa dingin seraya menegur, “Apakah kau adalah Lik-ih-hiat-li yang memperoleh mestika Hian-ki-hian-cing?”

‘Tak perlu banyak bicara!” dengus Lik-ih-hiat-li, segera tangan kirinya diayun ke depan, segulung angin dingm segera menyambar.

Kun-tun Cinjin berkelit ke samping, kebut di tangan kanannya berputar dan bulu kebut segera membelit pergelangan tangan kiri lawan. Gerak tubuh Lik-ih-hiat-li ternyata cepat dan luar biasa, perubahan yang terjadi pun di luar dugaan.

Baru saja senjata kebut Kun-tun Cinjin menyabat, telapak tangan kirinya dari menepuk telah berubah menjadi menabas, tangan menekan ke bawah untuk menghindarkan kebutan tersebut, ber-bareng jari tangan langsung menutuk jalan darah Cian-keng-hiat di bahu lawan.

Kun-tun Cinjin terkesiap, sambil miringkan badan ia mundur tiga langkah. Lik-ih-hiat-li mendengus, segera ia mendesak maju, dalam waktu singkat ia telah melancarkan tiga kali pukulan dan dua kali tendangan.

Serangannya cepat luar biasa dan mengandung tenaga dalam yang maha kuat, meski terdiri dari tiga pukulan dan dua tendangan, tapi seakan-akan terjadi pada saat yang sama. Kun-tun Cinjin terperanjat, cepat ia menghindar ke kiri dan mengegos ke kanan, meski serangan Lik-ih-hiat-li amat cepat dan gencar, tapi semuanya bisa dihindarkan dengan baik, tapi tidak urung ter-desak mundur lima langkah.

“Sret! Sret! Sret!” kebut Kun-tun Cinjin dengan cepat menyabet beberapa kali, sementara tangan kiri juga melepaskan tiga kali pukulan dan tiga kali tutukan, semuanya terdiri dari sembilan jurus, se-mua itu dilakukan secara beruntun dalam waktu yang hampir sama. Setelah terdesak mundur lima langkah oleh tiga pukulan dan dua tendangan Lik-ih-hiat-li, sebagai seorang jago kenamaan, hal mana diang-gapnya sebagai suatu peristiwa yang memalukannya, oleh sebab itu dengan kesembilan jurus serangan berantai itu ia coba mempertahankan posisinya.

Kejut Kun-tun Cinjin tak terkatakan, ia merasa perubahan dunia persilatan selama delapan belas tahun ini betul-betul terlampau besar, ia tak mengira kemunculannya kembali setelah berlatih te-kun selama delapan belas tahun harus bertemu dengan jago setangguh ini, ketika terbayang olehnya bahwa je-rih payah selama delapan belas tahun berlatih akan sia2 belaka, napsu membunuhnya segera timbul, sinar mata be-ringas terpancar dari matanya.

Begitu kesembilan kali serangan lewat, ia mun-dur tiga langkah dan berdiri kaku seperti mayat sambil menatap Lik-ih- hiat-li tajam-tajam. Rupanya dia hendak mengeluarkan semacam kepandaian beracun untuk melukai musuh. Walaupun secara tidak sengaja Lik-ih-hiat-li berhasil memperoleh peninggalan kuno yang hebat sehingga membuatnya menjadi seorang manusia su-per, tapi setelah bertarung beberapa gebrakan, ia merasa kelihaian kungfu Kun-tun Cinjin juga tidak boleh diremehkan, maka ketika musuh berhenti, iapun ikut berhenti sambil mengawasinya dengan sak-sama.

Kecuali desir angin malam yang menggoyang-kan ranting dan dedaunan pohon sehingga menim-bulkan suara gemersik, suasana disekeliling sunyi-senyap, Lamkiong Giok dan Bok Ji- sia sama terpikat oleh jurus ampuh yang dipergunakan oleh kedua orang jago tangguh tersebut, dalam pertarungan me-reka, empat mata tanpa berkedip mengawasi kedua orang di tengah arena.

Pikiran Ji-sia sekarang sangat tenang, sebalik-nya perasaan Lamkiong Giok bergolak keras, tubuh Lik-ih-hiat-li yang ramping tapi padat itu membuat-nya terbayang pada hal yang bukan-bukan.

Perawakan perempuan itu memang terlalu in-dah, itulah potongan tubuh seorang perempuan yang penuh gairah, menurut perkiraan Lamkiong Giok, paling banyak perempuan itu baru berusia dua pu-luh tujuh-delapan tahunan, tapi kalau ditinjau dari sikap maupun reaksinya terhadap orang lain, maka dia pastilah seorang perempuan yang sudah berpe-ngalaman.

Agaknya Lik-ih-hiat-li tidak tahan suasana he-ning ini, katanya dengan dingin, “Kun-tun tua, sudah terhimpun kembali belum tenaga dalammu?”

Sambil berkata, tangan kanannya yang putih pelahan didorong ke depan….

Ketika mendengar teguran tersebut, Kun-tun Cinjin sedang menghimpun kekuatan dan siap me-lepaskan serangan lebih dulu, tiba-tiba ia merasa tenaga tekanan yang amat dingin menyergap tubuhnya, ia merasa terperanjat, sambil mengerahkan te-naga dalam untuk melindungi badan, ia lancarkan serangan balasan.

Terjadi, benturan keras, Lik-ih-hiat-li terperan-jat, ia merasa sekujur tubuh bergetar keras, ternya-ta kekuatan lawan tiba-tiba membanjir, hampir saja ia tak tahan. Kun-tun Cinjin tertawa licik, kebut di tangan kanannya cepat menyabat tubuh Lik-ih-hiat-li.

Bulu kebut Kun-tun Cinjin itu menegak kaku. “Sret!” dengan membawa desing tajam langsung me-nyambar tubuh perempuan darah berbaju hijau itu. Lik-ih-hiat-li mendongak dan tertawa seram, tiba-tiba telapak tangan kirinya secara aneh mengebas dua kali ke kiri dan kekanan….

Karena itu air muka Kun-tun Cinjin berubah pucat, sekujur tubuh menggigil, tubuhnya terdorong sejauh dua tombak lebih oleh kekuatan yang tak berwujud. Cepat ia menutuk tiga jalan darah penting di tubuh sendiri, dan muntahkan tiga gumpalan darah kental.

Gumpalan darah yang tertumpah itu seakan-akan sudah beku, ketika jatuh ke tanah telah me-nimbulkan suara seperti batu menimpa tanah.

“Untung nasibmu masih mujur dan telah me-latih Khikang pelindung badan,” kata Lik-ih-hiat-li dengan suara dingin, “tapi serangan tadi baru mempergunakan dua bagian dari kekuatanku, se-karang coba sambutlah pukulan Peng-sian-jit- gwat-ciang…..”

Belum lagi perempuan aneh itu selesai berkata, Kun-tun Cinjin segera putar badan dan angkat lang-kah seribu. Kiranya dalam dua kebasan ringan yang dilakukan Lik-ih-hiat-li tadi, perempuan ini telah me-lancarkan tenaga pukulan Peng-sian- jit-gwat-ciang yang dahsyat.

Pukulan tersebut merupakan sejenis tenaga pukulan berhawa dingin, sekalipun Kun-tun Cinjin berilmu tinggi juga tidak tahan, coba kalau hawa murninya tidak melindungi bagian-bagian yang pen-ting, niscaya jiwanya sudah melayang.

Kun-tun Cinjin mempunyai pengetahuan yang luas, begitu terkena serangan dan darah di sekujur badan seakan-akan beku, ia terperanjat, sadarlah dia bahwa musuh telah menggunakan ilmu pukul-an Peng-sian-jit-gwat-ciang yang maha lihai itu.

Buru-buru ia tutuk tiga kali pada jalan darah pentingnya untuk mencegah menjalarnya racun dingin, lalu ia muntahkan gumpalan darah beku, walaupun demikian, isi perutnya tetap menderita luka yang cukup parah, sudah barang tentu ia tak berani menyambut serangan Lik-ih-hiat-li lagi, ma-ka tanpa pikir lagi ia putar badan dan kabur.

Huan-in-kiam Lamkiong Giok memang pemu-da licik dan berhati busuk, ia tidak tinggal diam menyaksikan Kun-tun Cinjin hendak kabur dan Lik-ih-hiat-li tampaknya tidak berminat membu-nuhnya, ia merasa kesempatan baik untuk lenyap-kan Kun-tun Cinjin dari muka bumi ini tak boleh disia- siakan.

Maka sambil tertawa serunya, “Kun-tun Locianpwe, harap tunggu scbentar!”

Kun-tun Cinjin tahu maksud keji orang, ia se-makin tak berani berpaling, dengan sisa hawa mur-ninya yang belum buyar, seperti burung, dia mela-yang pergi dari situ.

“Lamkiong Giok,” demikian serunya, “jika kau berminat, ayo antarlah diriku…….”

Belum habis ucapannya, Lamkiong Giok me-ngebaskan ujung baju kanan, empat jalur sinar pu-tih tajam secepat kilat menyambar ke belakang tu-buh imam tua itu, Kun-tun Cinjin merasakan datangnya ancaman tersebut, tubuh yang sedang melayang ke depan itu mendadak berputar, dengan senjata kebut dia pukul pedang-pedang pendek itu.

Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak pula katanya, “Kun- tun Locianpwe, ilmu silatmu me-mang sangat lihai, pedang terbang yang kuyakin-kan tak lebih hanya mirip cahaya kunang-kunang bagimu!”

Sambil berkata, tangan kanannya kembali di-kebaskan ke udara, empat bilah pedang terbang yang meluncur itu mendadak menyebar keempat penjuru kemudian dengan membentuk satu garis lurus se-gera terbang balik ke belakang.

Melihat pedang pendek itu melayang balik, Kun-tun Cinjin tertawa dingin, ia kabur lebih cepat. Siapa sangka keempat bilah pedang terbang Lamkiong Giok itu seakan-akan terpengaruh ilmu sihir atau mempunyai mata, baru seja Kun- tun Cin-jin hendak kabur, pedang pendek yang telah ter-bang balik itu mengeluarkan lagi desing tajam. Dengan gerakan indah, keempat pedang pendek itu berputar membentuk setengah busur, lalu bagaikan empat jalur cahaya tajam langsung menyam-bar empat tempat mematikan di belakang tubuh Kun-tun Cinjin.

Mendengar desing tajam itu, segera Kun-tun Cinjin merasakan hawa pedang yang tajam itu te-lah dekat di belakang tubuhnya, dalam keadaan demikian ingin berkelitpun tak sempat lagi.

Tiba-tiba Kun-tun Cinjin membentak, pakaiannya mengembang besar, dari sekujur tubuhnya ter-pancar keluar hawa yang memaksa keempat bilah pedang pendek itu meluncur ke arah lain.

Pada waktu itulah sambil tertawa dingin Lam-kiong Giok telah menubruk tiba, tangan kirinya meraih ke depan dan empat bilah pedang pendek itupun melayang kembali ke dalam ujung bajunya. Dengan suara tertahan tubuh Kun-tun Cinjin jatuh tersungkur. Ternyata setelah mengerahkan hawa murni un-tuk menahan empat bilah pedang pendek tadi, luka yang dideritanya semakin parah, dada terasa sakit, darah bergolak keras dan tubuh pun jatuh.

Mendadak Lamkiong Giok mencabut pedang panjang yang memancarkan sinar tajam, segera ia menabas kaki Kun-tun Cin-jin. Hari ini Kun-tun Cinjin betul-betul sial, ber-ulang kali ia menelan kekalahan, hal mana mem-buatnya naik darah.

Sambil membentak, tangan kirinya menghantam ke arah Lamkiong Giok. Serangan ini dilancarkan dengan murka, keku-atannya luar biasa, terpaksa Lamkiong Giok mem-batalkan serangannya dan menyelinap ke samping.

Dalam sekejap itulah Kun-tun Cinjin sudah melayang jauh, serunya dengan penuh rasa dendam, “Lamkiong Giok, pada suatu hari pasti akan ku-binasakan kau tanpa tempat kubur!”

Ucapan itu berkumandang makin jauh, ketika kata terakhir terucap, orangnya sudah lenyap da-lam kegelapan. Menyaksikan Kun-tun Cinjin melarikan diri, Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak, suaranya keras menggema di angkasa.

Tapi suara tertawa dingin seseorang segera memotong gelak tertawa Lamkiong Giok itu. Lamkiong Giok berpaling dan kebetulan kebentrok dengan sinar mata yang membuatnya merinding. Entah sejak kapan Lik-ih-hiat-li telah mende-kati Lamkiong Giok.

Lamkiong Giok tahu perempuan itu hendak cari perkara padanya, terpaksa ia tersenyum dan memberi hormat, katanya dengan nyaring, “Terima kasih atas bantuan Lihiap untuk memukul mundur musuh tangguh….”

Belum habis ia berkata, Lik-ih-hiat-li telah me-nukas dengan suara dingin, “Anak licik, kau tak perlu berlagak di hadapanku, terus terang kuberi-tahukan padamu, malam ini aku tidak akan membi-arkan kau pergi dari sini!”

Perkataannya sudah cukup jelas, yakni tak akan membiarkan Lamkiong Giok hidup lebih lama. Ke-ruan air muka anak muda itu berubah hebat.

Tapi sejenak kemudian ia tertawa lagi, katanya, “Lihiap, tempo hari aku memang bersalah mengganggu ketenanganmu, apakah engkau…..”

“Tak usah banyak bicara,” dengus Lik-ih-hiat-li dengan menghina, “jagalah keselamatan jiwa-mu, asal kau sanggup menyambut sepuluh ju-rus pukulanku, maka malam ini akan kuberi ke-sempatan bagimu untuk pergi!”

Habis berkata, pelahan ia menghampiri anak muda itu. Sambil mundur berulang kali, Lamkiong Giok berseru, “Aku merasa kagum pada kehebat-an silatmu, tak berani kuterima seranganmu, urung-kan saja kehendakmu….”

“Hm, dengan kepandaian simpananmu, kukira sepuluh jurus seranganku masih mampu kau sambut, baik-baiklah siapkan diri, tentunya kau tahu bahwa aku tak akan menaruh belas kasihan kepadamu!”

Sambil mundur selangkah demi selangkah, kem-bali Lamkiong Giok berkata, “Lihiap, Peng-sian-jit-gwat-ciangmu tiada tandingannya di dunia ini, kutahu tak sanggup menyambut satu gebrakan saja.”

“O, rupanya kau takut pada ilmu pukulan Peng-sian-jit- gwat-ciangku…..Hm, agar kau bisa mampus de-ngan tenteram, dalam sepuluh gebrakan aku tak akan mempergunakan kepandaian tersebut, sambut saja seranganku!”

Dengan watak Lamkiong Giok yang tinggi hati, sudah barang tentu ia tak sudi dipandang enteng oleh musuh, sekalipun ayahnya Lamkiong Hian ju-ga tak mampu mengalahkannya dalam sepuluh ge-brakan bila tidak mengeluarkan ilmu simpanan.

Ia cuma jeri pada Peng-sian-jit-gwat-ciang an-dalan Lik-ih- hiat-li, sebab sekalipun ayahnya juga belum tentu sanggup menghadapi kepandaian ini. Oleh sebab itulah ia sengaja memancing agar orang tidak mempergunakan kepandaian tersebut dalam sepuluh gebrakan.

Betapa girangnya setelah mendengar janji la-wan, pikirnya, “Aku cuma takut bila kau meng-gunakan Peng-sian-jit-gwat- ciang, sekarang setelah kau berjanji takkan menggunakan kepandaian itu, hmm, akan kulihat dengan cara apa akan kau melukaiku, jika aku tidak perlihatkan sedikit kepandaian, pasti kau pandang enteng diriku…..”

Berpikir demikian, Lamkiong Giok lantas ber-kata, “Orang persilatan selalu pegang teguh setiap perkataannya. Baiklah, malam ini sekuatnya kusambut beberapa jurus saktimu.”

Lamkiong Giok betul-betul lihai, di balik se-tiap perkataannya selalu mengandung perkataan lain, sekalipun di luar ia berkata demikian, sesung-guhnya ia kuatir kalau Lik-ih- hiat-li melanggar janji dengan menggunakan ilmu sakti Peng- sian-jit-gwat-ciang, maka dia sengaja mengikatnya dulu dengan kata-kata.

Sinar mata dingin terpancar dari balik mata Lik-ih-hiat-li, katanya kemudian ketus, “Kau betul-betul memanfaatkan kelicikanmu menghadapi setiap persoalan. Hm, suatu hari kau pasti akan runtuh! Nah, jangan kuatir, aku tidak serendah yang kau- bayangkan!”

“Mana, mana!…Kalau begitu aku minta maaf dulu!” seru Lamkiong Giok sambil tertawa.

Mendadak ia angkat pergelangan tangan, cahaya tajam segera terpancar, segera ia menerjang ke arah Lik-ih-hiat-li. Sejak tadi Lik-ih-hiat-li sudah siap, begitu Lamkiong Giok menggetarkan pedangnya, serentak iapun turun tangan, pada saat yang sama tangan kanan didorong ke depan, segulung tenaga pukulan yang kuat mendampar ke sana, berbareng perempuan itu terus meluncur ke samping, tapi tiba-tiba menerjang maju lagi, ujung baju-nya mengebas, suatu pukulan dilancarkan.

Ilmu silatnya memang luar biasa, setiap jurus serangannya jarang dijumpai dalam dunia persilatan, gerakan mundur lalu maju lagi ini dilakukan de-ngan gerakan cepat. Lamkiong Giok tahu kelihaian perempuan itu, buru-buru ia berganti jurus serangan, pedangnya segera menabas lengan kiri lawan.

Siapa tahu Lik-ih-hiat-li sudah menduga akan serangannya itu, sambil tertawa ia mengegos, dengan jari tengah di telunjuk ia jepit pedang lawan, se-mentara kaki kanan menendang ke perut dan ta-ngan kanan menghantam iga kirinya.

Satu jurus dengan tiga gerakan, semuanya di-lakukan hampir sama waktunya, jurus yang aneh serta sasaran yang tepat, mau-tak-mau lawan harus menyelamatkan diri atas ancaman tersebut. Lamkiong Giok terkejut, ia batalkan serangan-nya, lalu dengan jurus Thian-ho-nu-sia atau sungai langit mengalir deras, dengan selapis cahaya hijau ia melindungi sekujur tubuhnya. Sekalipun Lik-ih-hiat-li berilmu tinggi, tapi iapun tak berani menangkis pedang yang tajam itu dengan tubuhnya sendiri, satu jurus dengan tiga gerakannya segera kena dibendung oleh pedang lawan.

“Sudah lima gebrakan!” teriak Lamkiong Giok tiba-tiba. Pedangnya berputar dan menabas lagi ke tubuh Lik-ih-hiat-li.

Ternyata Lamkiong Giok telah mengeluarkan Huan-in-kiam- hoat yang lihai. Tapi Lik-ih-hiat-li lantas mendengus, dengan cepat ia melompat mundur. Lamkiong Giok tertawa nyaring, dia kembang-kan serangkaian serangan berantai yang hebat, ujung pedangnya memancarkan titik cahaya yang banyak dan bergerak-gerak seperti ular. Sret!…Sret!…Sret!….Dalam waktu singkat ia menusuk tiga kali.

Ketiga jurus serangan lihai ini memaksa Lik-ih-hiat-li harus berkelit berulang kali.

Lamkiong Giok tertawa dingin, serunya, “Jurus ke sembilan!”

Pekikan nyaring menggema, dengan jurus Yok-siu si-huan (seperti kosong bagaikan khayal), sinar tajam yang menyilaukan mata pelahan menusuk tu-buh Lik-ih-hiat-li. Mencorong tajam sinar mata Lik-ih-hiat-li, di tengah gelak tertawa ia berkelit ke samping Lam-kiong Giok, tangan kirinya mengebas pelahan, angin tajam menyambar pergelangan tangan kanan pe-muda itu.

Lamkiong Giok terperanjat, ia tak menyangka jurus Yok-siu- si-kiam bisa dihindari musuh secara mudah, ketika merasakan sambaran angin tajam, tahu-tahu urat nadi pergelangan tangannya tersabet, separuh tubuh bagian atas menjadi kaku, nyaris pe-dangnya terlepas dari genggaman. Buru-buru dia menghimpun tenaga, tangan ka-nan ditarik ke belakang, ujung pedangnya bergetar, dengan jurus Ciau- san-cu-hwe (kipas angin meng-usir api) ia tusuk bahu kiri lawan. Tapi tatkala jurus serangan itu baru dilan-carkan, sikut kanannya mendadak terasa kaku, pedang rontok di tengah jalan.

Menyusul terdengar serentetan suara tertawa dingin berkumandang, “Jurus kesepuluh, Song-mia-kui-im (mengantar nyawa pulang ke akhirat)!”

Telapak tangan kanan Lik-ih-hiat-li yang putih berkilat pelahan menekan ke jalan darah Sim-kan-hiat di hulu hati Lamkiong Giok.

Tampaknya Lamkiong Giok pasti akan tewas di bawah telapak tangannya, mendadak terdengar seorang berteriak, “Jangan melukai dia!”

Embusan angin yang sangat kuat segera me-nyambar tiba dari samping Lik-ih-hiat-li. Pukulan itu mengandung tenaga yang sangat kuat, sekalipun lihai Lik-ih-hiat-li tak berani me-nyambutnya dengan kekerasan, apalagi yang me-lancarkan serangan itu ternyata adalah Bok Ji-sia.

Terpaksa perempuan aneh itu membatalkan se-rangannya yang nyaris merenggut nyawa Lamkiong Giok itu, cepat ia melayang mundur ke belakang.

Belum sempat ia bersuara, Lamkiong Giok te-lah menjtira pada Ji-sia sambil berseru, “Terima kasih saudara Bok,  kembali kau selamatkan jiwaku, budi kebaikan ini terukir dalam hatiku dan takkan kulupakan untuk selamanya.”

“Lamkiong Giok, kalau begitu kau pandang asing diriku!” seru Ji-sia dengan lantang.

Lik-ih-hiat-li tertawa dingin, “Bok Ji-sia, jangan kau berhubungan dengan manusia licik ini….” Lamkiong Giok menghela napas sedih, tiba-tiba dia menukas ucapan perempuan itu, “Sekalipun banyak kenalan di dunia ini tapi berapa orang yang bisa cocok dengan kita? Meski Siaute baru berkenalan dengan saudara Bok, ta-pi aku merasa amat cocok denganmu, sekalipun aku tahu saudara Bok mempunyai pandangan lain ter-hadap perbuatanku, tapi Siaute amat berkesan akan kebesaran jiwa saudara Bok dan ingin menjalin hubungan yang lebih erat denganmu, percaya atau tidak terserah kepada saudara Bok sendiri….”

Rupanya ia kuatir Lik-ih-hiat-li menceritakan niatnya membunuh Ji-sia tempo hari, maka dia per-gunakan kata-kata tersebut untuk menanamkan ke-percayaan atas diri anak muda itu.

Terdengar Lamkiong Giok berkata lebih lan-jut, “Malam ini kembali kuperoleh bantuan saudara Bok, kebaikan ini pasti akan kubayar di kemudian hari, untuk sementara ini biarlah kumohon diri le-bih dulu.”

Selesai berkata, dia putar badan dan berlalu. Melihat Ji-sia sama sekali tidak menunjukkan perubahan pada wajahnya setelah mendengar per-kataannya, Lamkiong Giok kuatir jika Lik-ih-hiat-li membongkar kedok kemunafikannya, mungkin mau kabur pun susah nanti, maka ia manfaatkan kesempatan itu untuk ngeluyur pergi.

Bayangan hijau berkelebat, tahu-tahu Lik-ih-hiat-li telah menghadang lagi jalan perginya.

“Lamkiong Giok!” serunya ketus, “kita telah berjanji tadi, jika tak mampu kau sambut sepuluh jurus seranganku, nyawamu harus kau tinggalkan di sini.”

Ji-sia menerjang maju, bentaknya kepada Lik-ih-hiat-li, “Kau jangan terlalu mendesak orang jika tidak mengingat budi kebaikanmu memukul mun-dur Kun-tun Cinjin tadi, tentu aku orang she Bok takkan sungkan padamu. Jika kau hendak membu-nuhnya, lebih baik bunuh sekalian diriku!” Lik-ih-hiat-li tidak marah, ia malah berkata dengan lembut, “Bok Ji-sia, tahukah dia ini orang baik atau jahat?”

“Hei, Lihiap, jangan terlalu mendesak orang,” seru Lamkiong Giok dengan tertawa seram, “peng-hinaan yang kuterima malam ini pasti akan kubalas kelak, sekarang kita berpisah dulu untuk sementara, selamat tinggal!”

Habis berkata, ia melejit dan berkelebat pergi.

“Jangan harap bisa kabur malam ini!” seru Lik-ih-hiat-li sambil tertawa dingin.

Gerak tubuhnya yang cepat seperti setan itu sungguh sukar dibayangkan, dengan sekali berkelebat saja tahu-tahu ia sudah menghadang lagi di depan Lamkiong Giok, telapak tangan kanannya segera diayun ke depan, segulung angin dingin segera meng-hantam tubuh Lamkiong Giok.

“Jangan kuatir saudara Lamkiong!” Ji-sia segera membentak, “kau boleh pergi lebih dulu!”

Di tengah bentakan, tangan kanannya mele-paskan pukulan dahsyat, menyambut serangan Lik-ih-hiat-li tadi.

Ketika dua gulung tenaga pukulan saling ber-temu, tubuh Lamkiong Giok telah berjumpalitan di udara dan melayang ke sana, kemudian sekali lompatan lagi ia sudah berada jauh.

Ji-sia juga melompat ke sana, dengan kecepat-an luar biasa dia ikut melayang pergi.

“Sia,…..kau tunggu sebentar…..”

Belum habis teriakan Lik-ih-hiat-li, Ji-sia dan Lamkiong Giok sudah lenyap di balik kegelapan sana…….

Ji-sia percepat larinya, dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah jalan bersanding dengan Lamkiong Giok, tanyanya dengan suara pelahan, “Saudara Lamkiong, kepergian kita ini apakah da-pat bertemu dengan Ku-locianpwe?” “Jangan kuatir saudara Bok,” jawab Lamkiong Giok sambil berpaling dan tertawa, “berita yang kudapat pasti bisa dipertanggungjawabkan, tak mungkin salah lagi, cuma kepagian kita ke situ, juga sangat berbahaya….”

Ji-sia menghela napas panjang, katanya, “Ku-locianpwe amat menyayangi diriku, sekarang ia ter-jatuh ke tangan orang Hek-liong-kang, mana boleh aku berpeluk tangan belaka? Sekalipun bukit pedang atau hujan golok yang akan kita datangi sekarang, te-tap aku akan pergi menyelamatkan dia.”

Agaknya Lamkiong Giok terpengaruh oleh ke-besaran jiwa Bok Ji-sia, katanya tegas, “Saudara Bok, kau betul-betul berjiwa besar dan amat setia kawan, hal mana sungguh membuatku sangat ter-haru, malam ini akupun pasti akan membantumu untuk menolong Ku-locianpwe.”

“Saudara Lamkiong, maksud baikmu biar ku-terima di dalam hati saja….”

“Ah, saudara Bok, masa kau tidak memberi muka kepadaku?” kata Lamkiong Giok.

“Ah, kenapa saudara Lamkiong berkata demi-kian? Justru karena kuatir mengganggu dirimu, ma-ka tak berani aku minta bantuanmu.”

“Aku merasa beruntung dapat berkenalan de-ngan saudara Bok, apalagi kau pun sudah beberapa kali membantuku, kini saudara Bok sedang meng-hadapi kesulitan, bila aku tidak membantumu, bu-kankah diriku ini bukan seorang laki-laki sejati?”

Ji-sia menghela napas dan tidak menjawab lagi. Untung tenaga dalam mereka berdua amat sempurna, perjalanan pun dilanjutkan dengan cepat. Dalam waktu singkat mereka telah melewati dua bukit yang tinggi dan tiba di suatu lembah….. Lamkiong Giok berpaling ke arah Ji-sia dan berkata, “Saudara Bok, kita sudah tiba di tempat tujuan, setelah memasuki lembah ini, gedung besar yang kita temukan nanti adalah tempat tinggal orang-orang Hek-liong-kang, kita harus bertindak lebih hati-hati.”

“Saudara Lamkiong, apakah Ku-cianpwe terse-kap di  dalam gedung tersebut?”

Lamkiong Giok mendongak mamandaag cuaca, lalu sahutnya pelahan, “Mungkin Ku-cianpwe belum datang, tapi waktu perjanjian mereka sudah hampir tiba.”

Sementara itu mereka telah memasuki lembah tersebut. Tampaklah di ujung lembah, di tengah kegelapan malam berdiri angker sebuah bangunan yang megah. Kecuali bangunan rumah yang sambung me-nyambung serta loteng yang menjulang tinggi, di sekeliling bangunan tadi penuh tumbuh pepohonan yang rimbun, cuaca gelap gulita tiada cahaya lampu, ini semua menambah seramnya keadaan.

Ji-sia dan Lamkiong Giok segera melayang ke bawah pohon besar di depan pagar halaman. Dengan sorot matanya yang tajam Ji-sia me-mandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian mereka tarik napas dan melompat masuk ke dalam halaman.

Bangunan ini terletak sangat terpencil, sepi dan menyeramkan, rumput ilalang tinggi lebat memenuhi halaman, bangunan sudah bobrok dan hampir roboh, banyak dinding yang retak atau berlubang.

Angin lembut berhembus menggoyangkan de-daunan, suara mendesir menambah seramnya suasana.

Setelah berdiri sekian lama di tempat kegelap-an, Lamkiong Giok dan Ji-sia kembali melayang ke atas bangunan dan melintasi wuwungan rumah. Mendadak mereka melihat sesosok bayangan melejit ke udara kemudian meluncur ke arah barat-laut dan lenyap di balik kegelapan. Terkejut Ji-sia, pikirnya, “Ditinjau dari gerak tubuh orang itu, jelas ilmu silatnya tidak lemah, sungguh banyak sekali  jago lihai dalam dunia per-silatan, rasanya kepandaianku masih selisih jauh….”

Berpikir sampai di sini, timbul perasaan kesal dalam hati, tiba-tiba ia menghela napas dan berbisik, “Saudara Lamkiong, bukankah di sekitar tempat ini sudah bersembunyi jago lihai dunia petsilatan?”

Lamkiong Giok tak tahu apa yang menimbul-kan helaan napas pemuda itu, sahutnya, “Saudara Bok, kita sudah berada di tengah bangunan ini, ibaratnya masuk ke sarang naga atau gua harimau, lebih baik kita bertindak hati-hati dan meningkat-kan kewaspadaan. Menurut apa yang kuketahui, terdapat banyak sekali jago lihai dari dunia persi-latan yang berdatangan kemari, terutama orang-orang dari Hek-liong- kang rata-rata berilmu silat tinggi.”

“Apakah saudara Lamkiong berminat melaku-kan pemeriksaan lebih dulu keadaan bangunan ini?”

Lamkiong Giok tersenyum, “Saudara Bok, se-telah sampai di sini, kita harus masuk ke dalam untuk melihat sendiri tempai macam apakah ba-ngunan ini, apa benar tempat yang mirip sarang naga atau gua harimau?”

Segera Ji-sia melompat ke depan lebih dulu, dengan suatu gerakan indah ia melayang ke sebelah sana.

Mendadak Lamkiong Giok berseru tertahan, “Ada orang datang, saudara Bok, cepat menyem-bunyikan diri!”

Waktu itu Ji-sia sudah berada dua tombak ja-uhnya dari tempat semula, mendengar seruan terse-but mendadak ia berjumpalitan, lalu berubah arah, setelah berputar di udara, cepat ia melayang kem-bali ke tempat semula, turun di sisi Lamkiong Giok. Waktu Ji-sia memandang ke sana, betul juga, ada dua sosok bayangan manusia dengan cepat luar biasa sedang meluncur datang. Dalam sekejap telah tiba di rumah di depan sana, setelah celingukan sebentar, kemudian melompat turun. Lamkiong Giok telah menyaksikan demonstrasi ilmu meringankan tubuh Ji-sia yang lihai tadi, di-am-diam ia menghela napas, pikirnya, “Kepandaian orang ini sungguh sukar diukur, menurut pengamat-anku selama beberapa hari ini, jelas ilmu silatnya setiap saat memperoleh kemajuan yang pesat, kecuali tenaga pukulannya yang bertambah kuat, jurus se-rangannya juga sangat lihai, malah tidak kalah da-ri pada jurus serangan Lik-ih-hiat-li. Dia mengaku sebagai murid Ban- pian-sinkun, tapi mungkinkah Auyang Seng dapat melatih seorang jago lihai se-perti dia ini…..? Sungguh sukar di mengerti.”

Sementara itu Bok Ji-sia tidak melihat sesuatu gerakan lag,i setelah menunggu sekian lama, ia ber-paling dan berkata, “Saudara Lamkiong, mari kita menyusup ke depan sana, kita lihat orang macam apakah kedua orang tadi!”

Lamkiong Giok mengangguk, ia melompat ke depan tanpa menimbulkan suara ia melayang turun, diam-diam mereka mengitari pekarangan dan ber-sembunyi di belakang pohon siong untuk mengintip.

Tempat ini merupakan halaman samping yang sepi, tertampak seorang kakek kecil dan seorang kakek jangkung berdiri tegak hormat di depan pin-tu ruangan sebelah kanan, agaknya mereka sedang menanti sesuatu perintah, tapi pintu dan jendela kamar itu tertutup rapat dan sama sekali tak terdengar suara apapun.

Ji-sia dan Lamkiong Giok menjadi heran me-nyaksikan adegan tersebut, mereka tak tahu kenapa kedua kakek itu berdiri di situ.

“Saudara Lamkiong, siapakah kedua orang itu?” bisik Ji-sia kemudian. Tempat di mana mereka menyembunyikan di-ri masih selisih enam-tujuh tombak jauhnya, Ji-sia pun berbisik dengan suara yang lirih, sekalipun jago yang berilmu tinggi juga belum tentu bisa menangkap suaranya.

Tapi baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, terdengar si kakek jangkung yang ceking itu mendengus, “Tak tersangka di tengah malam buta be-gini, saudara sekalian bersedia mengunjungi per-kampungan sepi ini, jika aku Kau-lau-coa-siu (ka-kek ular dari bukit Kau-lau) tidak sempat menyam-but, harap kalian sudi memberi maaf.”

Mendengar nama Kau-lau-coa-siu, diam-diam Lamkiong Giok terperanjat, ia tak mengira kedua orang ini adalah Kau- lau-liong-coa-siang-siu (sepa-sang kakek ular dan naga dari Kau-lau-san) yang telah termashur pada sepuluh tahun yang lalu.

Bila ditinjau dari munculnya kedua kakek sakti ini di perkampungan ini, jelas membuktikan bahwa mereka termasuk jago-jago Hek-liong-kang, apalagi ditinjau dari sikap hormat kedua oraag itu, tampak-nya kedudukan mereka teramat rendah. Jika tokoh dunia persilatan yang pernah me-nonjol pada sepuluh tahun yang lalu ternyata mem-punyai tingkat kedudukan yang begini rendah da-lam aliran Hek- liong-kang, ini mumbuktikan pula bahwa kungfu tokoh “tiga pria dan empat perem-puan” dari Hek-liong-kang pasti amat tinggi.

Ketika mendengar perkataan tadi, Ji-sia me-ngira jejaknya ketahuan orang, baru saja akan me-nampilkan diri untuk menjawab, tiba-tiba Lamkiong Giok menarik ujung bajunya.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari atas pohon di sebelah sana terdengar seseorang tertawa dingin dan berseru, “Mana, mana! Sudah sepuluh tahun lama-nya Kau-lau-liong-coa- siang-giu tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, kukira kalian sudah lama pulang ke akherat, eh…, tak tahunya sekarang berse-dia melacurkan diri dengan menjadi pelayan orang Hek-liong-kang, hehehe…..”

Meskipun disindiriorang, Kau-lau-coa-siu tidak menjadi gusar, katanya dengan dingin, “Si-apa kau? Kenapa tidak unjuk diri? Kalau didengar dari perkataanmu, tampaknya kau pun terhitung se-orang yang punya nama.”

Gelak tertawa aneh memanjang berkumandang lagi dari puncak pohon, suaranya sedemikian di-nginnya bagaikan embusan angin dari gudang es, membuat orang bergidik.

Hampir sekian lama, gelak tertawa panjang itu baru berhenti, katanya, “Sudah kalian kenali gelak tertawaku yang panjang ini?”

Air muka Lamkiong Giok berubah hebat se-telah mendengar gelak tertawa aneh itu, bisiknya kepada Ji-sia, “Saudara Bok, hati-hati sedikit, orang yang berada di atas pohon itu adalah Sip-hun-koay-sat-jiu (tangan aneh pembetot sukma) dari Bu-lim-jit-coat.”

Rupanya Kau-lau-liong-coa-siang-siu pun ter-peranjat mendengar gelak tertawa itu, si kakek ular dari bukit Kau-lau segera menjengek dan berseru, “Tak kusangka adalah kau. Bagus, bagus sekali! Malam ini perkampungan kami pasti tambah se-marak!”

Orang yang bersembunyi di atas dahan pohon itu mendengus, lalu melayang turun dan berdiri di hadapan kedua kakek ular dan naga dari Kau-lau-san. Waktu Ji-sia mendengar bahwa orang itu ada-lah Sip-hun-koay-sat-jiu yang seangkatan dengan gurunya dalam dunia persilatan tanpa terasa ia me-ngawasinya dengan lebih saksama.

Orang itu memakai jubah panjang dengan ujung baju yang lebar, rambutnya di sanggul tinggi di atas kepala, wajahnya angker, tulang pipi tinggi dengan mata cekung, sinar matanya tajam membuat orang jeri untuk memandangnya. Sementara itu Sip-hun-koay-sat-jiu telah me-mandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu kata-nya dengan dingin, “Sampai sekarang kenapa ma-jikannya belum juga tiba?”

“Entah majikan siapa yang kau maksudkan?” jengek si kakek ular.

Rada dongkol Sip-hun-koay-sat-jiu mendengar jawaban Kau-lau-coa-siu yang ketus itu, ia men-dengus dan berkata dengan menghina, “Hmm, bu-kankah yang disanjung pula oleh Liong-coa-siang-siu berdua adalah budak dari Hek-liong- kang itu?”

“Siapakah yang kau maksudkan sebagai budak?” bentak si kakek naga dari Kau-lau-san.

“Tentu saja si gadis pemimpin aliran Hek-liong-kang.”

Kau-lau-coa-siu tertawa seram, katanya, “Sip-hun-koay-sat- jiu, tampaknya kau sudah bosan hidup, betapa agung dan terhormatnya kedudukan putri Hek-liong-kang Siancu, memangnya kau kira boleh di maki seenaknya?”

Sip-hun-koay-sat-jiu tertawa panjang pula, sahutnya, “Aha, barangkali kalau kumaki dia jiwaku bakal melayang? Ingin kulihat betul terjadi atau tidak? Hehehe, ketahuilah, kawanan jago persilatan yang datang malam ini tak sedikit jumlahnya, ku-rasa di sekeliling bangunan yang dihuni bocah dogol kalian itu sudah dikurung oleh beberapa ribu orang, apakah dengan andalkan tenaga kalian, dapat membunuh sekian banyak orang?”

Tiba-tiba dari wuwungan rumah sebelah barat sana berkumandang suara gelak tertawa nyaring, kemudian seseorang menimpali, “Betul juga perkataanmu, hei makhluk tua, melulu kau dan aku sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka tahu rasa nanti!”

Begitu mendengar suara orang itu, dengan terkesiap Lamkiong Giok lantas berpikir, “Wah, tampaknya lebih baik bagiku tidak menampakkan diri pada malam ini, kalau tidak, jelas keadaan ti-dak menguntungkan diriku….”

Berbareng dengan sirapnya gelak tertawa tadi, sesosok bayangan melambung di udara dan seperti badan halus melayang turun di belakang Sip-hun-koay-sat-jiu, ternyata orang ini adalah Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin.

Sip-hun-koay-sat-jiu berpaling dan memandangi sekejap ke arah Kun-tun Cinjin, kemudian sambil tertawa dingin katanya, Kun-tun Tosu tua, sedari kapan kau tinggalkan Hian-thian- koan? Tampaknya ilmu silatmu telah memperoleh banyak kemajuan?”

“Ya, lumayan,” sahut Kun-tun Cinjin sambil tertawa dingin, “kukira selama delapan belas tahun ini kau si mahluk tua pun banyak mendapat kema-juan, cuma tampaknya kepandaian kita masih be-lum cukup untuk menjagoi dunia persilatan.”

“Hei, si hidung kerbau, kenapa kau mengucap-kan kata- kata patah semangat seperti itu?” damprat Sip-hun-koay-sat- jiu, “tampaknya dalam pertanding-an Bu-lim-jit-coat kita delapan belas tahunan nanti, lagi-lagi kau akan menempati urutan terakhir.”

Kun-tun Cinjin tertawa, katanya, “Setelah me-lewati masa delapan belas tahun yang panjang, ku-rasa Jit-coat sudah tak bisa berkumpul secara leng-kap lagi, soal pertarungan yang di tentukan juga tak mungkin bisa dilangsungkan, bila berlangsung, kuyakin masih mampu menangkan satu jurus dari kau si makhluk tua.”

“Hm, coba tiada perjanjian pada delapan be-las tahun dulu, pasti kutantang dirimu untuk ber-tarung lebih dulu.”

“Betul!” Kun-tun Cinjin tertawa licik, “maka sebelum waktu bertarung tiba, sepantasnya kita be-kerja sama menghadapi persoalan ini.” Mendengar ucapan tersebut, diam-diam Lam-kiong Giok menggerutu, “Tosu tua ini betul-betul licik sekali, jika mereka bertujuh sampai bersatu, maka keadaan dunia persilatan dewasa ini harus di-nilai kembali.”

Ji-sia tak tahu tentang perjanjian Bu-lim-jit-coat pada delapan be-las tahun yang lalu, maka sesudah men-dengar perkataan itu iapun berpikir, “Bu-limn-jit-coat sekarang ada tiga orang yang telah tiada, sisa empat orang tentu saja tak bisa melanjutkan perjanjian semula, tapi bila mereka melangsungkan juga pertarungan itu, aku pasti akan mewakili gu-ruku Oh Kay-gak untuk bertarung melawan mereka.

Sementara itu Sip-hun-koay-sat-jiu sedang ter-tawa dingin dan berkata, “He, hidung kerbau, rupa-nya kau mempunyai tujuan yang lain, untuk kerja sama tentu boleh, tapi harus diketahui dulu siapa lawan kita!”

Kun-tun Cinjin tersenyum, “Makhluk tua, tahu-kah kau bahwa dunia persilatan dewasa ini telah mengalami  perubahan yang amat besar?”

“Ehm, tampaknya memang ada perubahan, ta-pi dunia persilatan toh bukan ajang kekuasaan Jit-coat kita melulu?”

“Bukan begitu persoalannya, bila Jit-coat ingin menjagoi dunia persilatan maka kita harus berjuang dengan mempertaruhkan nyawa, bukan mustahil Jit-coat, bakal dimusnahkan oleh orang lain…..”