Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 08

Jilid 08

Bila jago-jago lihai bertarung, menang atau kalah seringkali ditentukan dalam waktu sekejap, Eng-jiau-jiu tidak menyangka Ji-sia mempunyai ge-rak tubuh secepat itu, terasa tangan menjadi kaku daa tahu-tahu urat nadinya sudah dicengkeram Bok Ji-sia. Di pihak lain, Lamkiong Giok dengan Ki-na-jiu-hoat berhasil pula memaksa Oh Ku-gwat me-narik serangannya dan melompat mundur. Ketika melihat Ji-sia berhasil mencengkeram urat nadi tangan kiri Eng-jiau-jiu, diam-diam ia merasa gembira, serunya sambil tertawa, “Saudara Bok, ilmu silatmu memang mengagumkan!”

“Saudara Lamkiong, hukuman apa yang hendak kau jatuhkan terhadap orang ini?” tanya Ji-sia.

“Jika saudara Bok ada permusuhan dengan dia, bereskan dia saja!” sahut Lamkiong Giok.

Waktu itu, Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou su-dah menyusup ke belakang Ji-sia, suatu pukulan terus dilontarkan. Ji-sia mendengus, tiba-tiba tangan kirinya di-tarik ke belakang, tubuh berputar setengah lingkaran dan telapak tangan kanan membacok keluar….

“Blang!” benturan terjadi, Ki Thi-hou tergetar mundur selangkah.

“Saudara Hou, kubantu kau!” tiba-tiba Oh Ku-gwat berteriak, telapak tangan kanannya dengan membawa deru angin terus menghantam iga kiri Bok Ji-sia…..

Sebagaimana diketahui, tenaga dalam Oh Ku-gwat amat sempurna, Ji-sia pernah nyaris tewas di bawah telapak tangannya, serangan yang mengguna-kan tenaga delapan bagian ini betul-betul dahsyat sekali. Ji-sia yang keras hati berkerut dahi, dengan tangan kanan ia sambut serangan tersebut.

Ketika terjadi benturan keras, Ji-sia tergetar sampai berputar dan mundur dua langkah, sebalik-nya Oh Ku-gwat juga tergetar. Oh Ku-gwat tertegun, ia merasa tenaga pukulan Ji-sia jauh lebih tangguh daripada beberapa hari yang lalu. Dalam pada itu Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou juga telah menyerang dari arah lain. Ji-sia memutar tangan kanan dengan jurus “Hong-eng-si-gi” (burung manyar pentang sayap) ia sodok iga Ki Thi-hou, serangan itu dilancarkan belakangan, tapi tiba disasaran lebih dulu dan Sat-hong-tok- ciang harus melindungi diri lebih dulu.

Sambil miringkan tubuh ia bergeser dua lang-kah ke samping, dengan demikian pukulannya pun mengenai sasaran kosong.

Ketika serangannya gagal tadi, Oh Ku-gwat marah dan mendongkol, bentaknya, “Saudara Ki, cepat kita bereskan dulu lawannya!”

Kedua telapak tangan segera membacok silih berganti, dua gulung angin tajam menyambar ke-luar. Ji-sia mendengus gusar, tangan kirinya menarik dan tubuh Eng-jiau-jiu Hou Wi- kang digunakan menyongsong serangan Oh Ku-gwat.

“Saudara Bok, biar kubantu tahan serangan-nya!” tiba-tiba Lamkiong Giok membentak.

Segera telapak tangan kirinya menghantam tu-buh Eng- jiau-jiu Hou Wi-kang, rupanya tujuan se-benarnya adalah untuk membunuh Hou Wi-kang. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertawa dingin, katanya, “Lamkiong Giok, hatimu benar-benar ter-lampau keji!”

Tiba-tiba serangan yang dituju Ji-sia itu berbalik menerjang ke arah Lamkiong Giok, perubahan ge-rak serangan ini betul- betul hebat sekali.

Ketika serangan dilancarkan tadi, Lamkiong Giok telah melompat maju ke depan, lalu mengejek, “Oh Ku-gwat, mulai kapan hatimu menjadi welas asih?”

Tiba-tiba Ji-sia melepaskan cengkeramannya pada pergelangau tangan Hou Wi-kang, sambil me-lemparkan tubuh orang, dia berseru, “Mengingat perjanjianmu dengan Lamkiong Giok, untuk semen-tara waktu kuampuni jiwamu.”

“Saudara Bok, kebesaran jiwamu ini sungguh membuat orang merasa kagum!” puji Lamkiong Giok dengan tertawa. “Memangnya saudara Lamkiong minta aku mem-bunuhnya?” tanya Ji-sia.

Ternyata Ji-sia salah mengartikan perkataan Lamkiong Giok, dengan sifat kejam orang tak nanti Eng-jiau-jiu Hou Wi- kang dilepaskan begitu saja.

Sambil melotot Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang ber-seru, “Lamkiong Giok, kau kejam dan berhati bu-suk, suatu hari pasti akan kubikin pembalasan!”

“Hei, saudara Hou kenapa kau membalas air susu dengan air tuba?” kata Lamkiong Giok sambil tertawa, “coba kalau kita tiada perjanjian di muka, hari ini kau pasti sudah tewas di tangan saudara Bok, mau kau anggap sahabat atau musuh tarserah pada dirimu, tapi lebih baik bantu saja diriku untuk me-lawan Thian-seng-po, kalau tidak, hmm, kukira da-lam dunia persilatan sudah tiada tempat lagi bagi kalian Hek-to-su- koay untuk menancap kaki.”

“Lamkiong Giok!” bentak Kui-tau-kou Tu Leng-mong dengan gusar, “dengan caramu yang ti-dak setia kawan, siapakah yang sudi bekerja sama denganmu. Hmm, hari ini juga kami akan mem-buat perhitungan denganmu!”

“Saudara Tu, saudara Hou, saudara Ki, laku-kan saja keinginan kalian!” timbrung Oh Ku-gwat, “segala akibatnya akan kutanggung bagi kalian!”

Mendengar perkataan ini, Hek-to-sam-koay tahu Oh Ku- gwat bersedia menerima mereka ke pihaknya, setelah merasa mantap ada Thian-seng-po sebagai tulang punggung yang tak kalah hebat-nya daripada Kiam-hong-ceng, perasaan mereka menjadi tenang, kalau tidak, mereka benar-benar takut Kiam- hong-ceng akan mencari balas kepada mereka.

Ji-sia merasa gusar menyaksikan sikap Oh Ku-gwat yarg berseri-seri itu, sambil membentak ia menerjang maju, tangan kiri membuat gerakan se-tengah lingkaran dan menyambar dari samping, se-mentara telapak tangan kanan menyodok ke depan. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat cukup tahu mu-tu serangan lawan, cepat ia berkelebat ke samping untuk menghindar.

Dalam pada itu. dengan langkah pelahan Hek-to-sam-koay mendekati Lamkiong Giok, rupanya mereka bermaksud mengerubuti orang itu.

Lamkiong Giok tertawa sinis, tiba-tiba tangan kirinya memberi tanda, serunya kepada kawanan laki-laki berbaju ringkas, “Siapkan barisan Huan-in-kiam-tin!”

Dua belas laki-laki berbaju hitam dari Kiam-hong-ceng serentak mencabut pedangnya, lalu ba-yangan orang berkelebat lewat, dalam waktu sing-kat kedua belas orang itu sudah maju mengurung Hek-to-sam-koay di tengah.

Lamkiong Giok segera berpaling ke arah Ji-sia, lalu katanya sambil tertawa, “Saudara Bok, mari kita bereskan dulu ketiga orang ini, kemudian bersama-sama menghadapi Thian-seng- po!”

Tong Yong-ling cukup kenal kekejian Lamkiong Giok, ia tahu saat ini tak lebih hanya ingin meng-gunakan tenaga Ji-sia untuk melawan musuh, se-bab keadaan sekarang sangat tidak menguntungkan Lamkiong Giok, maka kerja samanya dengan Ji-sia sangat diharapkannya.

Maka demi mendengar anjuran orang cepat kata-nya kepada Ji-sia, “Bok-siangkong, kedatangan kita kemari hanya untuk mencari kitab Hian-ki-hian-cing, kini mestika itu sudah diperoleh orang lain, lebih baik pergi saja dari sini. Apalagi sampai se-karang Ku-locianpwe belum juga muncul di sini, jangan2 beliau tertimpa musibah……”

Belum habis perkataannya, Hek-to-sam-koay te-lah mulai membuka serangan dengan pukulan dah-syat, secara beruntun mereka membinasakan tiga oraing laki-laki kekar di hadapannya, dalam waktu singkat mereka telah berhasil menjebol barisan pe-dang dari kedua belas orang itu dan melompat ke samping Oh Ku-gwat.

Begitu lolos dari kepungan, Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang segera tertawa seram, katanya, “Lamkiong Giok, barisan pedang Huan-in-kiam-tin dari Kiam-hong-ceng memang hebat sekali, nyaris kami ber-tiga kehilangan nyawa dengan percuma!”

Mendengar sindiran tersebut, saking gemasnya Lamkiong Giok tertawa, serunya, “Saudara Hou, kalian benar-benar berani memusuhi dinku?”

Ji-sia pun tidak habis mengerti, ia tak menyangka Lamkiong Giok yang cerdik ini bisa menyuruh dua belas orang tak berguna semacam itu untuk meng-atur barisan pedang dan pamer kejelekan belaka.

Terdengar Sat-hong-tok-ciang Ki Thi hou ber-kata sambil tertawa seram, “Lamkiong Giok, se-kalipun kau licik dan banyak tipu muslihatnya, ku-lihat hari ini kau akan sulit unjuk gigimu!”

“Betul!” sambung Oh Ku-gwat sambil tertawa bangga, “Lamkiong Giok, tak kau sangka bukan hahwa semua oraag yang kau bawa bakal menyeberang ke pihakku secara sukarela? Hahaha, sekarang ha-nya tinggal kau seorang, akan kulihat kehebatan apa yang bisa kau pertontonkan?”

Lamkiong Giok menyapu pandang sekejap se-keliling gelanggang, diam-diam hatinya tergetar, ter-nyata entah sejak kapan Bu sian-gisu Kwanliong Ciong-leng sudah tidak nampak lagi batang hidung-nya, Cian-ciau-tocu, si Singa baja bercambang In Ceng-bu pun telah meninggalkan tempat itu bersa-ma seluruh anak buahnya, yang masih tinggal dalam gelanggang sekarang hanyalah jago-jago dari Thian-seng-po.

Lamkiong Giok segera tertawa dingin, katanya “Oh Ku- gwat, jangan kalian mengandalkan jumlah lebih banyak, kalau cuma gentong nasi saja apa gunanya?” “Lamkiong Giok,” Oh Ku-gwat tersenyum, “siapakah orang persilatan yang tak tahu kau berilmu tinggi dan berakal busuk? Apalagi nama ayah-mu cukup membuat jeri orang, maka orang per-silatan sama mengalah padamu……”

Lamkiong Giok tertawa ringan, “Oh Ku-gwat, kenapa kau memuji diriku?

“Apakah ada sesuatu yang hendak kau katakan?”

“Sungguh mengagumkan! Memang ada sedikit urusan hendak kurundingkan denganmu”

“Dewasa ini kau berada pada posisi yang le-bih menguntungkan, entah ada persoalan apa hen-dak kau rundingkan denganku? Kenapa tidak cepat kau katakan saja?” kata Lamkioug Giok dengan ter-tawa dingin.

“Lamkiong Giok, jauh-jauh dari Kiam-hong-ceng kau datang kemari, bukankah tujuanmu hanya benda mestika Hian-ki- hian-ceng belaka?”

“Ah! Maksud tujuanku kan sudah kau ketahui dengan jelas.”

“Lamkiong Giok, dari Kiam-hong-ceng bukankah tidak cuma kau sendiri yang datang kemari?”

Mendengar pertanyaan itu, Lamkiong Giak tertegun, dengan sangsi pikirnya, “Apakah semua urusan Kiam-hong- ceng kami telah diketahui oleh pihak Thian-seng-po?”

“Sementara ia termenung, Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat telah berkata lagi dengan tertawa bang-ga, “Lamkiong Giok, kedatanganmu kemari bukan-kah membawai tiga macam tugas?”

“Benar! Benar! Entah mengapa kau tanyakaa persoalan ini?”

Sekali lagi Oh Ku-gwat bertanya secara mis-terius, “Lamkiong Giok? tahukah kau kenapa dari pihak Thian-seng- po hanya mengutus sedikit orang kemari? Sedangkan dari pihak Bu-lim-su-toa-tocu juga hanya Bian-ciau-tocu yang paling lemah yang diutus kemari?”

Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha, sebenarnya aku mengira orang-orang Thian-seng-po cuma katak dalam sumur, ternyata kalian pun siluman rase semua, serba tahu dan licin.”

Oh Ku-gwat mendengus sinis, “Hmm, Lam-kiong Giok, jangan merasa bangga dulu, terus te-rang kuberitahukan padamu, kalian orang-orang Kiam-hong-ceng yang sesungguhnya telah terjebak dalam siasat orang, walaupun untuk urusan lain itu kalian telah mengirim tenaga yang paling diandal-kan, tapi sayang kalianpun hanya akan menubruk tempat kosong belaka.”

Bok Ji-sia menjadi bingung mendengar pem-bicaraan kedua orang itu, ia tak tahu persoalan apa yang sedang mereka bicarakan itu. Berbeda dengan Tong Yong-ling, diam-diam ia merasa gelisah, sebab ia tahu salah satu per-soalan diantara ketiga soal yang dikatakan Oh Ku-gwat sebagai tujuan kedatangan Lamkiong Giok itu adalah soal yang menyangkut ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian, ia kuatir Oh Ku-gwat membocor-kan rahasia tersebut kepada orang lain sehingga mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Betul juga, air muka Lamkiong Giok segera berubah demi mendengar perkataan itu, tapi hanya sebentar saja lantas tenang kembali.

“Kalau begitu urusan itu sudah ditubruk oleh kalian orang- orang Thian-seng-po?” katanya.

“Belum pasti,” sahut Oh Ku-gwat sambil ter-tawa, “karena semakin banyak orang yang ikut serta dalam urusan ini, lagipula ilmu silat mereka rata-rata lihai sekali dan terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, maka kami mungkin agak sulit untuk merebut kemenangan, tapi kami akan melakukan suatu tindakan yang pasti di luar du-gaan siapapun,”

Lamkiong Giok tertawa dingin pula, “Pemeran utama persoalan itu seorang yang cerdik dan ber-ilmu tinggi, dengan sedikit kekuatan Thian-seng-po kalian kuyakin masih belum mampu menghadapi-nya!”

“Aku setuju dengan perkataanmu dan percaya bukan omong kosong belaka, cuma kemenangan ter-akhir tetap milik Thian-seng-po, selain itu tentu sa-ja masih ada soal lain yang jauh lebih penting lagi, paling tidak hingga kini telah mengalami banyak perubahan yang luar biasa, tapi seperti juga apa yang kukatakan tadi, pada akhirnya kalian akan kalah dengan mengenaskan.”

Mendengar perkataan itu, Lamkiong Giok me-ngira pihaknya benar-benar telah dikalahkan orang Thian-seng-po, ia berpikir, “Persoalan penting yang dimaksudkannya sekarang sudah pasti adalah Jian-kim-si-hun-pian, apakah selama delapan belas tahun terakhir ini ruyung tersebut benar-benar me-ngalami perubahan luar biasa?”

Dalam hati ia berpikir demikian, di luar ia ber-kata dengan dingin, “Oh Ku-gwat, buat apa kita bicara secara samar- samar? Kalau hendak berunding denganku, lebih baik katakan saja secara langsung.”

“Mana, mana!” Oh Ku-gwat tersenyum, “se-betulnya persoalan yang hendak kurundingkan de-nganmu adalah masalah yang sederhana, yakni ku-harap kau dengan semua anak buahmu segera meninggalkan tempat ini.”

Lamkiong Giok merasa geli, pikirnya “Sebe-tulnya setan tua ini sedang melakukan siasat apa kepadaku, kenapa setelah bicara begitu banyak dia hanya minta kepadaku untuk meninggalkan tempat ini, mungkinkah di sini bakal terjadi sesuatu peris-tiwa besar?” Mana dia tahu bahwa Oh Ku-gwat ingin tu-run tangan sendiri terhadap Bok Ji-sia dan merampas ruyung Jian-kim-si- hun-pian, lantaran kua-tir hal ini diketahui Lamkiong Giok, maka ia an-jurkan kepadanya agar cepat meninggalkan tempat itu.

“O, kiranya kau hanya minta kami meninggal-kan tempat ini… Tapi kenapa kau mesti merisau-kan soal ini? Atau mungkin ada rahasia lainnya? Apakah kau dapat menjelaskan lebih jauh?”

Sebagai seorang yang cerdik Lamkiong Giok tahu kekuatan Oh Ku-gwat sekarang sesungguhnya melampaui kekuatan dirinya, tapi bukannya me-ngancam dengan kekuatannya, ia malah melepaskan-nya pergi, sudah pasti hal ini bukan dikarenakan takut kepada ayahnya, tapi dibalik persoalan itu tentu masih ada rahasia lain, sebab itulah Lamkiong Giok menegurnya secara langsung.

Tentu saja Oh Ku-gwat juga tahu bahwa Lam-kiong Giok telah menaruh curiga, tapi dia telah mempersiapkan jawaban yang baik, maka sambil tersenyum ia berkata, “Saudara Lamkiong, kau adalah seorang yang cerdik, kuminta kau pergi ten-tu saja karena ada sedikit urusan, tapi urusan ini menyangkut kepentinganku dan lagi merupakan persoalan dendam pribadi.”

Ji-sia bukan orang bodoh, dengan cepat ia dapat menebak maksud lawannya, sambil tertawa dingin serunya, “Oh Ku- gwat, tak perlu kau gunakan tipu muslihat, nanti kubeberkan duduknya persoalan secara berterus terang, akan kulihat apa-kah angkara murkamu itu dapat kesampaian atau ti-dak?”

Mendengar perkataan itu diam2 Oh Ku-gwat terkejut, ia benar2 kuatir kalau Ji-sia membeber-kan soal Jian-kim-si-hun- pian kepada umum, ji-ka terjadi demikian, biarpun Thian- seng-po berkekuatan besar, harapannya untuk mendapatkan ruyung emas itu akan bertambah tipis. Sekalipun hati terkejut, tapi di luar ia berla-gak tenang, sahutnya sambil tertawa ringan, “Bok-lote, kurasa kaupun tak akan mencari kematian sen-diri.”

“Bok-siangkong” tiba-tiba Tong Yong-ling ber-bisik, “soal membalas dendam lebih baik kita kesampingkan dulu, untuk sementara waktu mari ki-ta tinggalkan tempat ini..”

Ji-sia pun sadar tak boleh tinggal terlalu lama di sini, ia mendengus lalu putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Tiba-tiba bayangan orang berkelebat, Sat-hong-tok-ciang Kui-tau-kou dan Eng-jiau-jiu dengan ce-pat menghadang jalan pergi anak muda itu.

“Apa maksudmu menghadang jalan pergiku?” te-gur Ji-sia dengan dingin.

“Orang she Bok.” kata Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang dengan penuh rasa dendam, “jika tidak ting-galkan batok kepalamu di sini, anak perempuan she Tong itupun jangan harap bisa pergi dari sini dalam keadaan hidup.”

“Huh, hanya dengan mengandalkan kekuatan kalian bertiga?” jengek Ji-sia ketus.

“Untuk menghancurkan bangsat seperti kau, tiga orang pun sudah lebih dari cukup!” Kui-tau-kou Tu Leng mong menyela.

“Betul-betul tak tahu malu,” damprat Tong-Yong-ling, “jadi kalian bisanya cuma mencari ke-menangan dengan main keroyok? Jika kejadian ini tersiar dalam dunia persilatan, akan kulihat wajah kalian akan di taruh ke mana?”

Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou tertawa seram, katanya, “Ia membunuh Bu Yan-hong, itu berarti mengikat permusuhan sedalam lautan dengan kami untuk membalas dendam, main kerubut juga bukan sesuatu yang memalukan.” Tiba-tiba mata Bok Ji-sia memancarkan sinar dingin yang menggidikkan, ia memandang sekejap ketiga orang itu, kemudian katanya, “Yang meng-alangi aku mati, siapa menyingkir hidup!”

Berbareng dengan ucapan itu, tiba-tiba kedua telapak tangan menghantam sekaligus ke tengah ke-tiga manusia aneh itu dengan jurus Tui-san-tim-hay (mendorong bukit membendung laut).

Hek-to-sam-koay dengan enam tangan segera menangkis. “Blang!” tenaga pukulan yang sangat kuat bertumbukan.

Ji-sia mendengus tertahan dan tergetar mundur dua langkah. Hek-to-sam-koay kembali mengayun telapak tangan masing-masing dan melancarkan pukulan ku-at. Mendadak Ji- sia berpekik, seperti hantu ia ber-kelebat lewat, telapak tangan kanan menghantam Kul-tau-kau Tu Leng-mong.

Gerak tubuh Ji-sia ketika berkelebat lewat itu sungguh jarang ada dalam dunia persilatan, seketika Tu Leng-mong terdorong mundur ke belakang, ia muntah darah dan isi perutnya menderita luka cu-kup parah. Pada saat yang sama, Tong Yong-ling melolos pedang Bwe-hoa-sian-kiam, sekali tangan bergetar menciptakan tiga kuntum bunga Bwe putih yang segera menyelimuti tubuh Eng-jiau-jiu dan Sat-hong-tok- ciang.

Jurus pedang yang aneh tapi mengerikan itu memaksa kedua orang itu tak berani mendekat dan terpaksa melayang mundur ke belakang. Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertawa dingin, cepat ia menerjang maju, jari tangannya menjentik berulang kali, desing angin menyambar jalan darah Ciang- buh-hiat di tubuh Ji-sia.

Ji-sia menghindar dengan cekatan, lima jari tangan kiri tepentang dan mencengkeram urat nadi lawan, sementara telapak tangan kanan melepaskan pukulan dahsyat menyambut tenaga jari musuh. Oh Ku-gwat tertawa dingin, ia menubruk ma-ju, kaki menendang dada Ji-sia yang terbuka, me-nyusul tangan kanan menghantam jalan darah Pek-hwe-hiat lawan. Tendangan maupun pukulan ini dilancarkan dengan cepat luar biasa, mana jurus serangan aneh lagi, semua bagian mematikan di tubuh Ji-sia terkurung di bawah ancaman jurus maut tersebut.

Terkesiap Tong Yong-ling, ia membentak, pe-dang berputar, cahaya pedang berkilauan secepat kilat menusuk Oh Ku-gwat. Siapa tahu Eng-jiau-jiu dan Sat-hong-tok-ciang juga menubruk ke arah TongYong-ling. Dalam keadaan begini, seandainya Yong-ling tidak menarik serangannya niscaya dia akan tewas di tangan mereka berdua.

Lamkiong Giok mendengus, serunya, “Saudara Hou, saudara Ki, kenapa kalian menyergap seorang gadis dengan cara yang memalukan……?”

Secepat kilat ia melayang maju, kedua telapak tangan di ayun sekaligus untuk menyambut datang-nya pukulan kedua manusia aneh yang tertuju pa-da Tong Yong-ling itu, Oh Ku- gwat sendiri terpaksa tarik serangannya di tengah jalan oleh desakan pedang Tong Yong-ling, cepat ia melayang ke samping.

Eng-jiau-jiu dan Sat-hong-tok-ciang yang me-nahan pukulan Lamkiong Giok sama-sama bergetar, air mukanya berubah, mereka tak menyangka kekuat-an pukulan Lamkiong Giok tidak lebih lemah dari-pada Bok Ji-sia.

“Lamkiong Giok, kau betul-betul hendak me-musuhi kami?” seru Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang de-ngan nada seram.

“Tidak berani!” Lamkiong Giok tertawa dingin, “tapi kalau aku bermaksud demikian, entah apa pula yang hendak dilakukan saudara Hou?”

Dengan wajah kaku Oh Ku-gwat berkata, “Lamkiong Giok, jika kau mau berpeluk tangan, la-in waktu pasti akan kubalasmu,   tapi   kalau    kau    membantu    mereka,    hm… hmm….Berikut di-rimu akan kami bereskan.”

Ttba-tiba ia melolos pedangnya, lalu berseru lantang, “Saudara Hou, saudara Tu, saudara Ki, kalian mengawasi Lamkiong Giok, akan kugunakan Thian-kang-kiam untuk membereskan mereka.”

Ketika Lamkiong Giok menyaksikan Oh Ku-gwat melolos pedangnya, ia merasa terperanjat, ia tahu kehebatan ilmu pedang Thian-kang-kiam-hoat, malahan tempo hari nyaris ayahnya terluka di ujung pedang Thian-kang-kiam Oh Kay- gak.

Maka setelah dilihatnya orang bermaksud mem-bunuh Bok Ji-sia, sadarlah dia bahwa bencana ini sukar dihindari lagi, diam-diam ia memutuskan un-tuk bermain sebentar dengan Sam-koay agar Oh Ku-gwat ada kesempatan membunuh Bok Ji-sia.

Ji-sia sendiri pernah mendengar tentang kelihai-an tiga macam ilmu pedang dari Oh Kay gak, ia terkesiap juga, tapi dia dapat melihat gelagat, pi-kiran lain disingkirkan jauh-jauh, segenap perhatian dan tenaga dihimpun menjadi satu untuk mengha-dapi segala kemungkinan.

Sementara itu Im-hong-siu Kui Kok-hou dan Mo-in-jiu Kok Siau-thian dari Thian-seng- po te-lah menghampiri Tong Yong- ling. Seketika itu suasana dalam gelanggang berubah menjadi hening, tapi dibalik semua itu justeru ter-selip hawa nafsu membunuh yang mengerikan.

Inilah keheningan menjelang tibanya badai yang dahsyat. Mendadak dari balik kuburan di tengah ru-angan berkumandang suara dingin seakan-akan em-busan angin dari neraka, “Bila kalian berani mengganggu kedua orang itu barang seujung rambut pun, akan kubikin kalian mampus tak berkubur!” Sebenarnya Oh Ku-gwat sekalian telah men-dekati Bok Ji- sia dan Tong Yong-ling, tapi setelah meadengar suara tersebut, serentak semua orang ber-henti dan menampilkan rasa jeri.

Ji-sia pun merasa heran bercampur kaget, dia tidak mengerti kenapa perempuan dalam kuburan itu selalu membela dirinya berdua?

“Sayang!” Lamkiong Giok berpikir, “kalau ti-dak, hari ini dia pasti akan tewas di sini. Kalau melihat keadaan sekarang, agaknya orang-orang itu sama jeri terhadap perempuan aneh dalam kuburan itu, jika aku tidak berusaha menyalakan api per-tarungan, kemungkinan dia akan lolos dari sini.”

Berpikir demikian, dengan tersenyum dia lan-tas berkata kepada Oh Ku-gwat, “Sekarang ada seorang kosen seperti ini yang muncul membela ka-mi, hmm, akan kulihat apakah kalian berani turun tangan atau tidak?”

Ucapan ini diutarakan dengan nada menghina, kontan saja air muka Oh Ku-gwat berubah.

Pada saat itulah ucapan dari dalam kuburan kembali berkumandang, “Lamkiong Giok, kau be-tul-betul licin seperti ular, sekarang kuberi peringatan yang terakhir kepadamu, malam ini juga aku akan meninggalkan tempat ini, jika sampai terjadi sesuatu yang tak beres, maka orang pertama yang akan menjadi korban adalah kau, sekalipun ayahmu Lamkiong Hian mendampingimu tetap akan kujagal dirimu.”

Mendengar itu, Lamkiong Giok terkesiap, pikirnya, “Perempuan ini benar-benar melindungi dia, kalau mengingat ilmu silatnya yang maha lihai itu, aku memang lebih baik tidak mengganggunya, cu-ma selama orang ini dibiarkan hidup dalam dunia, jelas rnerupakan alangan besar bagi kami.

Ji-sia tidak tahu Lamkiong Giok beberapa ka-li ingin mencelakai dirinya, ketika mendengar per-kataan perempuan aneh itu, ia menjadi tercengang dan tidak mengerti, maka tanyanya, “Saudara Lam-kiong, apa yang dikatakannya padamu tadi?”

Hati Lamkiong Giok bergetar, pikirnya, “Ma-sa aku harus memberitahukan soal ini kepada-nya… ”

Sementara dia berpikir, Tong Yong-ling telah berkata, “Bok- siangkong, Cici dalam kuburan itu bilang jika Lamkiong Giok berani mencelakai jiwa-mu, maka semua orang Kiam hong- ceng akan di-sikatnya.”

Lamkiong Giok betul dendam atas kelancangan Tong Yong- ling yang banyak mulut itu, pada saat itulah mata Ji-sia yang tajam sedang menoleh ke arahnya, dengan kikuk cepat ia tertawa dan ber-kata, “Saudara Bok, nona Tong suka bergurau, masa aku tak punya perasaan persaudaraan… ?”

“Mengapa kalian belum juga pergi dari sini?” suara dari dalam kuburan berkumandang lagi penuh kegusaran, “Mau apa kalian berdiam terus di sini? Sejenak lagi bila belum pergi dari sini, jangan me-nyesal kalau aku bertindak keji dan membikin ka-lian tetap tinggal selamanya di sini.”

Waktu itu pelbagai ingatan sedang berkecamuk dalam benak Oh Ku-gwat, pikirnya, “Jika perem-puan dalam kuburan itu membelanya, usahaku un-tuk merampas Jian-kim-si-hun- pian di masa men-datang pasti akan menemui kesulitan, tapi jika ku-lakukan sekarang, bila perempuan aneh itu sampai marah, dengan ilmu silatnya yang lihai, jelas aku tak dapat lolos dengan selamat.”

Oh Ku-gwat yang licin juga serba salah oleh kejadian ini, mimpi pun ia tak mengira di tengah jalan akan muncul seorang pengacau. Semua orang sama ngeri juga oleh kungfu pe-rempuan dalam kuburan itu, terutama tindakannya yang tidak kenal ampun membuat orang bergidik dan siapapun tak ingin mencari gara-gara. Tiba-tiba Ji-sia berseru, “Locianpwe dalam kuburan, budi kebaikan pertolonganmu ini pasti akan kubalas di kemudian hari, entah…….”

Sebenarnya dia ingin tanya nama perempuan itu, tapi dari dalam kuburan segera terdengar orang berkata, “Bok Ji-sia, Tong Yong ling, cepat kalian tinggalkan tempat ini, menghadapi setiap persoalan harus hati-hati, orang persilatan itu umumnya licik dan berbahaya, mereka tak tahu aturan dan me-ngutamakan kepentingannya sendiri, untuk mencapai suatu tujuan, tak segan-segan menggunakan cara yang paling keji, selanjutnya kalian mesti was-pada dan jangan sampai terjebak. Namaku sudah berakhir sejak lama, mulai kini aku akan muncul kembali dalam dunia persilatan dengan gelar Lik- ih-hiat-li (perempuan darah berbaju hijau), aku akan mencari kalian dengan sendirinya, kini pergi-lah dari sini!”

Diam-diam Ji-sia merasa terkejut, pikirnya “Heran, dari mana ia menghetahui namaku? Sikap perempuan itu tadi galak sekali, kenapa secara tiba-tiba begitu memperhatikan diriku? Siapakah dia? sungguh membuat orang tidak habis mengerti!”

Hampir semua orang yang berada di situ tim-bul pikiran menduga siapa gerangan perempuan itu? Sayangnya, meskipun mereka berpengetahuan luas toh tiada jawaban pasti yang didapatkan.

Terbayang kembali betapa lihainya kungfu pe-rempuan itu sehingga menimbulkan rasa takut orang banyak, timbul perasaan sedih dalam hati Ji-sia, ia mendongakkan kepala dan menghela napas panjang, diam-diam ia menyesali kepandaian sendiri yang terlampau cetek.

Akhirnya tanpa mengucapkan sepatuh kata pun ia putar badan dan bermaksud meninggalkan tempat itu.

“Saudara Bok, hendak ke mana kau?” Lam-kiong Giok segera menegur. “Jejakku tak menentu, ujung langit atau pojok laut, entah ke mana harus kutuju?”

Perkataan itu diutarakan Ji-sia dengan sedih dan kesepian. Sambil tersenyum Lamkiong Giok kembali ber-kata,

“Saudara Bok, kukira orang-orang itu tidak bermaksud baik kepadamu, jika tak keberatan aku bersedia mengiringi kepergian saudara Bok, sehingga andaikata bertemu dengan musuh tangguh mungkin dapat kubantu seperlunya.”

“Terima kasih atas perhatianmu, masih ada sedikit urusan pribadi yang harus diselesaikan,” tu-kas Yong-ling ketus.

Berhubung sejak kecil Ji-sia telah tertimpa pel-bagai musibah, terhadap kehidupan ini ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang biasa, ia suka menyendiri, dan dingin, sekalipun Lamkiong Giok memberi kesan yang baik dalam hatinya, tapi ia merasa tindak-tanduk orang ini bertolak be-lakang dengan jalan pikirannya.

Maka dari itu ia hanya tersenyum mendengar perkataan itu, ucapnya, “Maksud baik saudara Lam-kiong biar kuterima dalam hati saja, atas bantuan yang telah saudara Lamkiong berikan ini, lain wak-tu pasti akan kubayar, sekarang aku mohon diri lebih dahulu.”

“Harap saudara Bok menjaga diri baik-baik, akupun akan pergi meninggalkan tempat ini,” sahut Lamkiong Giok dengaa suara nyaring.

“Lamkiong Giok, mau pergi dari sini? Tidak segampang itu!” seru Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang de-ngan tertawa seram.

Perlu diketahui bahwa Hek-to-sam-koay me-mang berniat menggabungkan diri dengan Thian-seng-po, mereka tahu Kiam-hong-ceng mempunyai permusuhan dengan Thian-seng- po, maka jika tidak menunjukkan sedikit kebolehan niscaya mereka akan dipandang hina, apalagi mereka memang amat benci pada Lamkiong Giok, maka ketika dilihatnya pe-muda itu hendak pergi, serentak mereka bertiga mengurungnya rapat.

“Saudara Hou, kalian kira dengan kekuatan tiga orang dapat melukaiku?” ejek Lamkiong Giok dengan tertawa dingin.

Sebetulnya Ji-sia telah berlalu dari situ dengan langkah lebar, tapi demi mendengar perkataan Eng-jiau-jiu tersebut, segera ia putar balik dan mem-bentak, “Saudara Lamkiong, kau boleh segera ting-galkan tempat ini, biar aku yang menghadapi me-reka!”

Sambil membentak ia lantas melepaskan pu-kulan dahsyat ke arah Hek-to-sam-koay, angin pukulan yang sangat kuat menerjang ketiga orang itu hingga terdorong beberapa langkah ke belakang.

Lamkiong Giok berpaling dan tertawa, “Te-rima kasih saudara Bok, sampai jumpa lagi!”

Setelah menjura, dengan membawa sembilan orang anak buahnya ia meninggalkan tempat itu. Hek-to-sam-koay dan Im-hong-siu Kui-hou Mo-injiu Kok Siau-thian tahu napsu membunuh Oh Ku-gwat telah berkobar, pelahan mereka pun maju ke depan dan mendekati Ji-sia.

Tong Yong-ling sadar keadaan makin gawat, dengan cepat ia melompat maju dan berdiri di samping pemuda itu. Mendadak dari balik liang kubur berkuman-dang suara tertawa panjang, menyusul terdengar pe-rempuan aneh itu berseru, “Tampaknya kalian tak akan mengucurkan air mata sebelum melihat peti mati, dengan Peng-sian-jit gwat-ciang akan kubi-nasakan kalian satu persatu!”

Mendengar disebutkannya nama “Peng-sian-jit-gwat-ciang”, air muka semua orang berubah hebat.

Dengan suara lantang Oh Ku-gwat berseru, “Jago lihay dalam kuburan, kami tidak bermaksud memusuhi saudara Bok………” “Kalau begitu kalian lekas enyah dari sini!”

Sekarang Ji-sia mulai merasakan betapa ren-dahnya sifat manusia, lebih sering yang lemah menjadi boneka yang kuat, hanya berani menindas yang lemah dan takut kepada yang kuat.

“Bok-lote” tiba-tiba Oh Ku-gwat berkata lagi sambil tertawa, “mungkin dalam hatimu sekarang amat benci padaku, bukan?”

“Saking bencinya kami ingin makan dagingmu dan minum darahmu, memangnya kau kira kami tidak benci dirimu?” teriak Yong-ling dengan suara melengking.

Oh Ku gwat tertawa pedih, katanya, “Aku tak menyalahkdn kalian jika merasa benci padaku. Ai, yang sudah biar lewat, sekarang ada beberapa per-kataan hendak kusampaikan kepada kalian, anggap saja sebagai bahan berkelana nanti.”

“Kebanyakan orang muda sekarang tak tahu mengendalikan perasaan, mereka suka menonjolkan diri, tidak mengindahkan hukum, sok gagah-gagah-an, suka mencari gara- gara, mengacau masyarakat, perbuatan-perbuatan mereka bukan saja tak dapat menciptakan kebahagiaan, sebaliknya mendatangkan bencana, masih banyak lagi hal-hal yang tak dapat kuucapkan, pokoknya kuharap adik cilik yang ber-hasil mendapat ilmu sakti dapat menjaga diri baik-baik, lebih2 mengenai barang mestika yang berada padamu itu. Pepatah berkata, bencana atau rejeki tidak masuk lewat pintu, tapi akibat perbuatan manusia sendiri. Setiap sebab pasti akan menimbulkan aki-bat, maka kuharap berpikirlah sebelum bertindak. Nah, hanya sampai di,sini saja perkataanku, sampai berjumpa lagi kelak.”

Selesai berkata, ia memberi tanda dan mem-bawa anak buahnya berlalu dari situ. Ji-sia tidak menyangka Oh Ku-gwat bakal me-ngusapkan nasihat kepadanya, ia jadi bingung apa gerangan maksud orang? Perempuan dalam, kuburan pun tidak bicara lagi, Ji-sia memandang sekejap mayat di atas tanah, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata, diapun berlalu dari situ bersama Yong-ling, namun masih banyak persoalan yang berkecamuk dalam benaknya, membuat pikiran mereka terasa kalut.

000—000 ^ O ^ 000—000

Sang surya, telah condong ke barat, cahaya senja tampak gemilang di ujung langit sana.

Padang rumput yang luas dilapisi oleh cahaya emas yang indah, tiada angin yang berhembus, sua-sana amat hening, sedemikian heningnya sehingga membuat orang sesak napas.

Di atas sebuah bukit yang penuh tumbuh po-hon siong, tiba-tiba berkumandang suara pembica-raan orang memecahkan keheningan, menyusul su-ara itu, dari balik bukit muncul sepasang muda mudi yang cantik dan gagah.

Perempuan itu memandang sekejap cahaya senja yang indah, lalu serunya, dengan manja: “Bok-siangkong,  coba lihat betapa indahnya senja ini, sungguh suasana romantis yang cocok untuk orang menggubah syair atau berpacaran.”

Ji-sia mendongakkan kepalanya memandang cahaya senja itu, kemudian menghela napas panjang, “Ya, senja memang indah, sayang terlalu pendek waktunya.”

Mungkin ia merasakan kehidupan manusia se-pendek cahaya senja dan menghela napas sedih, ta-pi ia sendiri tidak terlalu serius akan kehidupan sendiri, ia menghela napas karena mengenang kem-bali masa kecil yang indah tapi hanya berlangsung sebentar, menyusul datanglah musibah yang me-nyedihkan.

Agaknya Tong Yong-ling terpengaruh oleh he-laan napas sedih itu, iapun menghela napas. “Bok-siangkong,” katanya kemudian, “selama beberapa hari ini tampaknya engkau selalu tak se-nang hati, apakah kau tak suka melakukan perjalan-an bersamaku?”

Ji-sia menatap sekejap wajah yang cantik itu, lalu menyahut dengan lembut, “Nona Tong, siapa bilang aku tak suka bersamamu? Apalagi selama beberapa hari ini aku telah banyak menerima perhatian dan pelayananmu…”

Tong Yong-ling diam-diam telah jatuh cinta kepada pemuda itu, meski selama beberapa hari ini mereka berkumpul, tapi sikap Ji-sia tetap dingin dan hambar, hal ini membuat sedih Yong-ling, ter-kadang di luar tahu Ji-sia ia suka melelehkan air mata, beberapa kali nona itu hendak pergi mening-galkannya, tapi setiap kali ia merasa berat untuk meninggalkan kekasih ini.

Sekarang Tang Yong ling tanya Ji-sia apakah suka berada bersamanya? Bila jawabannya tidak me-muaskan maka dengan membawa hati yang hancur nona itu akan pergi meninggalkan pemuda itu untuk selamanya. Sinar mata Tong Yong-ling yang penuh luapan cinta itu tiba-tiba bertemu pandang dengan mata pria yang penuh daya tarik, api asmara tambah mem-bara, tiba-tiba ia jatuhkan tubuhnya ke atas dada Ji-sia yang bidang, matanya yang mengobarkan api cinta menatap wajah pemuda itu lekat-lekat, seakan-akan sedang mengharapkan sesuatu.

Ji-sia memandang sekejap wajah nona yang can-tik itu, kemudian menghela napas. Dia masih tetap dingin, sama sekali tiada emosi, seolah-olah tidak tahu bagaimanakah perasaan Tong Yong-ling saat ini.

Tiba-tiba dari mata Tong Yong-ling yang jeli itu meleleh keluar dua titik air mata, tubuhnya menggigil lalu roboh ke belakang.

“Nona Tong, kenapa kau….” jerit Ji-sia ka-get, agak gugup ia menghadapi perubahan menda-dak ini. Disambarnya pinggang nona itu, dipeluknya dan didudukkan di atas tanah.

“Bok-siangkong, kau….kau amat kejam….” bisik si nona dengan menangis.

Mendengar ucapan tersebut, Ji-sia lantas tahu apa gerangan yang terjadi, ia menghela napas, ke-mudian sahutnya, “Nona Tong, untuk apa kau be-gini…..?”

Tong Yong-ling berbaring dalam pelukan Ji-sia, ia merasakan kehangatan dan kebahagiaan, ia kuatir saat indah seperti ini akan berakhir sing-kat bagai cahaya senja, maka ia pejamkan mata dan membungkam, dia ingin menikmati suasana in-dah ini meski hanya sejenak saja. Memandangi gadis dalam pelukannya yang can-tik dengan dada yang naik turun menghembuskan napas harum, tergetar juga perasaan Ji-sia, cuma sedapatnya ia berusaha mengendalikan pergolakan hatinya.

Pengalaman pahitnya pada masa lalu terus me-nerus menghantui pikirannya. Perzinahan! Perzinahan dengan ibu sendiri! Peristiwa yang mengerikan ini selalu melekat dalam benaknya, itu pula sebabnya ia tidak bergairah, ia merasa kehidupannya ini te-lah tamat. 

Ia bertekad setelah membalas dendam berdarah, segera dia akan mengakhiri hidupnya sendiri. Se-bab ia malu untuk hidup lebih jauh, sebab itulah semakin Tong Yong-ling mencintainya, semakin di-rasakan tidak seharusnya ia mencintai gadis itu, se-bab hanya akan mendatangkan kepedihan belaka di kemudian hari.

Musibah yang dilimpahkaa Thian kepadanya membuatnya tak mampu menikmati kebahagiaan orang hidup, diam-diam ia membenci pada takdir mengapa melimpahkan begitu banyak kesulitan dan kesedihan kepadanya. Karena berduka, air mata tanpa terasa jatuh membasahi dada Tong Yong-ling. Nona itu sedang menikmati kehangatan seperti dalam mimpi, titik air mata yang membasahi dada-nya membuatnya kaget.

“Bok-siangkong, mengapa kau menangis….?” serunya dengan mata terbelalak.

Buru-buru Ji-sia mengusap air matanya dan tersenyum pedih, “Aku teringat pada kematian ayah-ibuku yang mengenaskan, hingga tanpa sadar timbul rasa sedihku.”

Dalam pergaulan selama beberapa hari ini, Tong Yong-ling merasa anak muda itu selalu murung, ten-tu saja ia dapat menduga hal itu mungkin di-karenakan dendamnya, tapi perasaannya yang tajam merasakan juga bahwa kesedihan itu bukan hanya soal dendam, tapi ada kejadian lain yang tak sang-gup dikendalikan olehnya, sebab bagi pemuda keras kepala dan angkuh semacam Ji-sia tak nanti me-ngucurkan air mata bila bukan disebabkan sesuatu kejadian yang benar- benar menghancurkan hatinya.

“Bok-siangkong,” kembali nona itu berbisik de-ngan lembut, “bersediakah kau mengungkapkan se-dikit persoalan yang menyedihkan hatimu ini, agar aku bisa bantu meringankan kekesalan hatimu?”

Semenjak bertemu dengan Bok Ji-sia, belum pernah Ji-sia memberitahukan asal usulnya, pernah ia menanyakannya beberapa kali, tapi setiap kali Ji-sia selalu mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

Ji-sia menghela napas, katanya, “Nona Tong, kita sudah berkumpul belasan hari lamanya, dalam waktu yang singkat ini, tentu kau rasakan betapa keras hatiku dan tak berperasaan!”

Pelahan ia membelai rambutnya yang hitam mulus itu, wajahnya memancarkan rasa kasih sa-yang yang hangat. Inilah pertama kalinya bagi Yong-ling merasakah belaian kasih pemuda itu.

Yong-ling memeluk pinggang Ji-sia terus ber-sandar dalam pelukannya, matanya yang jeli menatap wajah anak muda itu, bisiknya lembut, “Tidak! Ti-dak! Bok-siangkong, aku merasa engkau adalah se-orang laki-laki yang penuh perasaan.”

Tergetar hati Ji-sia oleh sikap mesra dan ha-ngat si nona, ia tertawa getir, ucapnya, “Nona Tong, kutahu kau amat mencintaiku, akupun mencintai dirimu, tapi dalam kehidupan ini tak mungkin cinta kita dapat berpadu, sebab sudah demikianlah suratan takdir……”

Yong-ling merangkul pemuda itu dengan lebih erat lagi. Kobaran api cinta seorang gadis seketika itu hendak dilampiaskan semua, ibarat gelombang di tengah samudra yang bergelora dengan hebatnya. Walaupun mendengar juga apa yang dikatakan Ji-sia selanjutnya, tapi sekarang ia tak ingin memi-kirkan ucapan tersebut, apa yang akan dilakukan sekarang hanya menikmati kehangatan dan keme-sraan, sebab ia mengira kekasihnya telah beristeri, itulah sebabnya tak mungkin bagi mereka hidup bersama sampai tua. Karenanya ia membutuhkan kepuasan yang amat singkat ini.

Melihat keadaan ini, Ji-sia hendak bicara le-bih lanjut…… Sinar mata yang penuh rasa memohon terpan-car dari balik

mata Tong Yong-ling, desisnya, “Bok-siangkong, jangan……jangan bicara lagi, aku tidak…aku tidak bermaksud memiliki dirimu secara ke-seluruhan, aku hanya ingin menikmatinya sebentar, sekalipun cuma sekejap, tapi sudah puas bagiku……”

Tangannya memeluk dengan lebih kencang lagi, api cinta terpancar keluar dari balik matanya. So-rot matanya itu membuat iba, membuat pemuda itu tak tega menolak keinginannya. Ji-sia mengendus bau harum seorang gadis yang mirip bau anggrek tapi bukan anggrek, kea-daan seperti ini sesungguhnya pernah ia rasakan satu kali, hanya saja waktu itu ia berada dalam ke-adaan tak sadar.

Tapi kali ini ia berada dalam keadaan sadar, maka hatinya mulai goncang dan darah dalam tu-buhnya jadi mendidih. Hatinya yang dingin tiba-tiba saja dilumerkan oleh kobaran api cinta Tong Yong-ling, perasaanya yang tersekam ibaratnya bendungan yang bobol, se-gera tertumpah keluar tanpa bisa dibendung lagi. Ji-sia mendekap si nona dengan eratnya, ia merangkul pinggangnya yang ramping dan men-cium bibirnya yang mungil dan membara itu.

Tong Yong-ling enggan melepaskan rangkulan-nya, rasa cinta yang telah terpendam selama ini hampir terlampiaskan semua…..Ia mulai merin-tih dan mendesis, sudah tentu bukan rintih kesa-kitan. Kian lama kobaran api cinta itu makin berkembang hingga hampir mencapai puncaknya.

Pada saat itulah tiba-tiba Ji-sia mendengus, mendadak ia meronta dan berdiri, dengan wajah sedingin es dia berkata, “Nona Tong perkenalan kita hanya sampai di sini saja, selama hidup kita ja-ngan berjumpa lagi, semoga kau jaga diri baik- baik dan kita berpisah di sini saja.”

Habis berkata, segera Ji-sia putar badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar. Setelah menikmati kehangatan dan kemesraan sejenak ini, menurut Tong Yong-ling hati anak muda itu pasti telah lumer, mimpipun tak tersangka pemuda itu akan bersikap sedingin ini kepadanya. Sudah barang tentu perbuatan Ji-sia itu membuat harga dirinya sebagai seorang gadis merasa terpukul.

Seperti hujan air matanya jatuh bercucuran, dengan sedih ia berpekik, “Bok-siangkong, harap tunggu sebentar!”

Pelahan Ji-sia memutar tubuh dan bertanya dengan dingin, “Apa lagi yang hendak kau katakan?”

“Bok-siangkong, sekeras inikah hatimu? Tong Yong-ling bukan gadis murahan…….” Suaranya penuh rasa sedih, membuat siapapun terharu.

Timbul rasa iba dalam hati Ji-sia, ia menghela napas, tapi terbayang kembali musibahnya pada masa lalu, ia pikir lebih baik melukai hatinya se-karang daripada membuatnya menderita di kemu-dian hari, toh mereka tak bakal bisa bersatu.

Berpikir demikian, ia keraskan hati dan berkata dengan dingin, “Meskipun kau bukan perempuan murahan, tidak pantas kalau mengejar seorang le-laki, kutahu akan perasaanmu, tapi maaf aku tak bisa menerima cintamu, aku hanya berbicara sampai di sini saja, dan sejak kini kita akan berpisah untuk selamanya.”

Hati Tong Yong-ling seperti diiris-iris mende-ngar perkataan itu, tak disangkanya Bok Ji-sia be-gitu keji dan tega menolak cintanya.

“Bok-siangkong,” pekiknya, “kutahu perempuan bernasib jelek semacam diriku memang ditakdirkan hidup menderita, tentu saja aku tak pantas menda-patkan engkau, tapi aku tidak bermaksud untuk mengangkangimu seorang, asalkan memperoleh se-nyum balasan darimu sudah lebih dari cukup bagi-ku. Apakah aku tidak ada sepersepuluh saja dari-pada isterimu?”

Ji-sia mendengus, dengan nada sinis katanya, “Kau jangan tak tahu malu, terus terang kukatakan padamu, aku sama sekali belum beristri, percuma kita banyak bicara, aku pergi dulu!”

Ucapan Ji-sia ibaratnya seribu batang anak panah yang menancap di hatinya dan mengoyaknya menjadi berkeping- keping sehingga untuk selamanya tak dapat disembuhkan lagi.

Keadaan Tong Yong-ling sekarang ibaratnya orang gila, dia cabut pedang Bwe-hoa-sin-kiam dan membentak, “Kau laki- laki tak berperasaan, tak tahu budi dan cinta……ku……kubunuh kau…….kau si penipu cinta… ” Kiranya Ji-sia menjelaskan belum beristri, hal ini sama artinya meremehkan Tong Yong-ling, se-bab itulah perasaan Yong-ling sekarang boleh di-bilang remuk redam.

Dengan alis bekernyit dan wajah penuh hawa membunuh, dengan jurus Han-bwe-toh-lui (bunga bwe mendadak mekar) secepat kilat pedangnya me-nusuk dada Bok Ji-sia.

Melihat air muka si nona Ji-sia tahu karena patah cinta, gadis itu jadi membencinya setengah mati. Sebenarnya ia hendak memberi penjelasan dan minta maaf atas perkataannya tadi, tapi teringat ke-jadian masa lalu, iapun menjadi nekat.

Sambil ter-tawa dingin, ia menghindarkan diri dari tusukan itu.

“Lihat jurus kedua Giok-tay-wi-yau (ikat ping-gang kemala melingkar pinggang)!” bentak Tong Yong-ling.

Tangan berputar, cahaya pedang berwarna pu-tih salju menciptakan sekuntum bunga bwe segera menyambar pinggang anak muda itu. Sesungguhnya cinta Tong Yong-ling kepada Bok Ji-sia sangat mendalam, tapi sekarang rasa ben-cinyapun merasuk tulang sumsum.

Saking bencinya, kalau bisa gadis itu hendak menabas mati Ji-sia dengan pedangnya, sebab itu-lah begitu melepaskan serangan, ia segera menggu-nakan empat buah jurus ampuh yang paling diandalkannya.

Diam-diam terkesiap juga Ji-sia, dengan kening berkerut ia rentang kedua tangannya dan melambung ke udara, ujung pedang menyambar lewat persis di bawah kakinya. Tong Yong-ling tertawa seram, pada kesempat-an itu ia melancarkan lagi serangkaian serangan dengan jurus Cuan-in- ti-gwat (menembus awan me-metik rembulan) dan Wu-cian- in-siu (Kabut hilang awan pun buyar), dua jurus serangan yang ganas dan dahsyat. Diam-diam Ji-sia gregetan, ia melejit ke atas lalu menubruk Tong Yong-ling. Terdengar dengusan tertahan, paha kiri Ji-sia tersambar ujung pedang sehingga robek sepanjang satu inci lebih, darah segera mengucur dengan de-rasnya. Sekalipun demikian, pedang Tong Yong-ling pun tergetar oleh tenaga pukulan sehingga terlepas dan jatuh ke tanah.

Tiba-tiba Ji-sia tertawa seram, cepat ia ber-kelebat pergi meninggalkan tempat itu……

Suara tertawanya yang penuh rasa pedih ber-kumandang menggema angkasa hingga lama sekali, bayangan Ji-sia pun lenyap di balik kegelapan.

Pedang Tong Yong-ling telah tergetar lepas oleh jurus serangan aneh Ji-sia, Yong-ling berdiri termangu, setelah pemuda itu lenyap dari pandangan baru ia berjongkok dan menangis tersedu-sedu.

Setelah menangis sekian lama, ia melompat bangun dan memungut kembali pedangnya kemu-dian berseru lantang, “Bok Ji-sia, wahai Bok Ji-sia. Kau laki-laki tak berperasaan, selama aku Tong Yong-ling masih hidup, tak akan kubiarkan kau -hidup dengan aman, aku akan menyiksamu dengan cara- cara yang paling keji!”

Walaupun ia berbicara demikian, tapi tak da-pat membendung air mata yang jatuh bercucuran dengan derasnya.

Bintang berkelip di angkasa seakan-akan sedang mentertawakan dia yang terlalu obral cinta.

Tiba-tiba ia mengangkat pedang sambil berpekik, “Thian sebagai saksi, aku Tong Yong-ling pasti akan membalas dendam atas penghinaan yang kuterima ini!”

Di tengah teriakan seram iapun berkelebat pergi dan lenyap dalam kegelapan. Pada saat itulah tiba-tiba muncul seorang ber-baju hijau bertubuh ramping dari balik hutan sana, lalu menghela napas sedih.

“Cintanya merasuk tulang, bencinya juga me-rasuk tulang, ai……, anak Sia yang bernasib malang, apakah tekadmu untuk mati begitu besar?” gumamnya seperti orang mengigau.

Diiringi helaan napas sedih, perempuan ber-baju hijau ini seperti badan halus berkelebat pula meninggalkan tempat itu dan lenyap.

Dalam pada itu Ji-sia telah berlari dengan ce-pat luar biasa, setelah melukai hati Tong Yong-ling tadi, perasaannya sekarang amat kacau, dia ingm mempergunakan gerak lari cepat itu untuk mering-ankan tekanan batinnya.

Ia tak tahu ke mana harus pergi, ia berlari tanpa arah tujuan. Mendadak paha kirinya terasa sakit sekali, sambil mengeluh tertahan ia berhenti berlari dan memeriksa kaki kiri. Darah segar telah membasahi hampir separuh bagian celananya, ia mendekati sebuah batu cadas dengan sempoyongan, setelah duduk, dirobeknya kain baju dan dipakai untuk membalut lukanya.

Suasana di sekeliling tempat itu amat sepi, perasaan Ji-sia waktu itupun hampa, ia menenga-dah dan memandang bintang yang bertaburan di angkasa, lalu menghela napas sedih………

Rasa menyesal mulai timbul dalam hati, ia merasa sikapnya tarhadap Tong Yong-ling tadi agak keterlaluan. Sebagai seorang pemuda ia berperasaan, se-sungguhnya Ji-sia menaruh kesan baik terhadap Tong Yong-ling, sebab ditinjau dari bagian mana-pun nona itu memiliki sifat kelembutan dan ke-cerdasan sebagai seorang gadis, terutama pancaran api cintanya telah diterima dalam hati Ji-sia secara diam-diam.

“Ai!” ia menghela napas dan bergumam, “Tong Yong-ling, maafkanlah dku! Kau tahu betapa sedih hatiku? Jika aku tidak bersikap demikian malam ini, maka di kemudian hari kau pasti akan lebih men-derita lagi, semuanya itu adalah akibat dari musi-bah yang dilimpahkan takdir kepadaku…”

Sementara Ji-sia masih bergumam lirih, di ba-wah sinar bulan tampak sesosok bayangan sedang bergerak dari arah selatan menuju ke arahnya, da-lam waktu singkat sudah berada empat tombak di samping Ji-sia.

Mendadak bayangan itu melihat Ji-sia sedang duduk di situ, ia segera berhenti tanpa menimbul-kan sedikit suarapun, ilmu meringankan tubuh itu sungguh sangat tinggi. Agaknya Ji-sia dapat merasakan pula kahadiran orang itu, mendadak ia berpaling….

Orang itu segara tertawa, kemudian menegur, “Tolong tanya, apakah di situ adalah saudara Bok?”

Ji-sia melihat jelas orang itu, dia berseru ka-get, “Ah, rupanya saudara Lamkiong, entah ada urusan apa tengah malam buta begini kau lakukan perjalanan di tempat yang terpencil ini?”

Orang itu memang Huan-in-kiam Lam-kiong Giok, ia tertawa pelahan dan berjalan mendekat.

“Saudara Bok, tak tersangka dengan begini cepat kita berjumpa lagi,” katanya, “terima kasih atas budi pertolonganmu yang lalu. Kudatang ke-mari karena hendak menghadiri suatu keramaian.”

Mendadak sinar mata Lamkiong Giok yang tajam memandang sekejap paha kiri Bok Ji-sia yang terluka, lalu serunya kaget, “He, rupanya saudara Bok terluka, apakah kau bertemu dengan musuh tangguh?”

Ji-sia terkesiap juga oleh keterangan orang, pikirnya, “Rupanya di sini telah terjadi lagi suatu peristiwa besar?”

Dengan tidak mengerti ia tanya, “Saudara Lam-kiong, maksudmu di sini telah terjadi pgristiwa?” Diam-diam Lamkiong Giok berkerut dahi dan berpikir, “Tampaknya ia sudah tahu tapi pura-pura tanya, kalau betul- betul dia tak tahu persoalan ini, maka dia akan menjadi seorang pembantuku yang tangguh!”

Maka sambil tersenyum sahutnya, “Saudara Bok, masa kau tidak mendengar di sekitar benteng Thian-seng-po telah terjadi beberapa peristiwa besar yang menggemparkan dunia persilatan?”

Sejak meninggalkan kuburan kuno yang mis-terius itu, Ji- sia bersama Tong Yong-ling berdiam beberapa waktu lagi di sekitar Thian-seng-po sam-bil mencari jejak Siau-yau-sian- hong-khek Ku Thian-gak.

Tapi dalam tujuh hari itu mereka tidak mene-mukan jejaknya, memang dilihatnya banyak jago persilatan yang sedang melakukan perjalanan ter-gesa-gesa, meskipun tidak diketahui karena apa, mereka hanya menduga pasti ada peristiwa yang luar biasa, atau mungkin juga suatu badai pembunuhan akan menggemparkan dunia.

Sambil tertawa Ji-sia lantas berkata, “Sejak pe-ristiwa aneh di kuburan kuno itu, apakah ditempat itu terjadi lagi sesuatu?”

Melihat pemuda itu tidak mengerti, Lamkiong Giok pun merasa heran sekali, padahal ilmu silat-nya sangat tinggi, tentu berasal dari perguruan ke-namaan, mengapa pengetahuannya begini cetek?

Sambil tersenyum ia lantas menjawab, “Bela-kangan ini di sekitar Thian-seng-po telah terjadi tiga peristiwa besar yang menggetarkan hati setiap umat persilatan, harta pusaka kuburan kuno Hian-ki-hian-cing boleh dibilang merupakan peristiwa per-tama, tapi peristiwa itu sudah lewat dan dunia per-silatan dewasa ini telah bertambah lagi dengan se-orang jago maha lihai yang cukup membikin hati orang bergidik.  Tapi saat ini kembali terjadi lagi suatu peristiwa besar lain yang mungkin akan lebih membuat orang gila, peristiwa ini baru berlangsung dua hari yang lalu, pula terjadi banyak liku- liku di luar dugaan, tampaknya kejadian ini akan jauh lebih ramai, namun kedua peristiwa ini tetap tak bisa menandingi peristiwa ketiga….”

“Saudara Lamkiong, sudah setengah harian kau bicara, tapi belum kuketahui kejadian yang sesung-guhnya, peristiwa apakah itu?”

Lamkiong Giok tersenyum, “Saudara Bok, sa-bar dulu, biar kuceritakan semua yang kuketahui itu kepadamu.”

“Saudara Lamkiong, barusan kau bilang bahwa peristiwa yang ketiga jauh lebih mengejutkan orang daripada kedua peristiwa sebelumnya, kenapa ka-wanan jago persilatan itu tidak langsung menyelidiki peristiwa yang ketiga, sebaliknya malah mengurusi persoalan yang tidak penting?”

Lamkiong Giok kembali tertawa, “Saudara Bok, kau tahu persoalan ini tidak diketahui oleh sembarangan orang, seperti urusan pusaka dalam ku-buran kuno Hian-ki-hian-cing serta peristiwa ysng akan berlangsung sekarang, sejak tiga bulan yang lalu umat persilatan di dunia telah mendengar ka-bar ini dan siang malam melakukan perjalanan memburu kemari, akhirnya jumlah yang hadir jauh di luar dugaan, tapi kenyataannya orang yang betul-betul tahu tempat penyimpanan pusaka itu pa-ling-paling cuma beberapa orang saja, maka boleh dibilang kebanyakan mereka yang hadir hanya da-tang untuk melihat keramaian belaka.”

“Saudara Lamkiong, kalau memang kau tahu jelas ketiga peristiwa besar itu, kenapa kau lepas-kan kedua persoalan yang lebih penting dan meng-ikuti peristiwa di kuburan kuno?” tanya Ji-sia.

Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak, “Ha-haha, saudara Bok, kita memang merasa cocok se-jak petama kali bertemu, baiklah kubeberkan semua rahasia ini padamu.” Setelah berhenti sejenak, lalu ia melanjutkan,  “Tadi saudara Bok berkata, kenapa aku tidak me-ngikuti masalah yang lebih penting? Sesungguhnya sudah kuketahui bahwa si tuan rumah pada masalah yang kedua ini mempunyai otak yang cerdas dan kungfu yang melampaui siapapun, untuk semen-tara sulit menyelidiki kekuatan lawan yang sebe-narnya, apalagi jika harus menyelidiki urusan itu dengan kepandaianku, sekali salah tindak bisa me-ngakibatkan jiwa melayang. Oleh sebab itulah ayah-ku telah mengutus orang yang lebih diandalkan untuk menyelidiki gerak-gerik tuan rumah itu, un-tunglah jejak mereka belakangaa ini telah kuketa-hui garis besarnya.”

“Kalau begitu, saudara Lamkiong sudah pasti akan berhasil dengan masalah itu?”

Lamkiong Giok menatap Ji-sia dengan sinar mata tajam, sahutnya, “Urusan ini tidak gampang diselesaikan, sebab kecuali Kiam-hong-ceng kami yang mengetahui berita ini, orang-orang Thian-seng-po dan Bu-lim-su-to juga cukup memusingkan ke-pala, lebih-lebih Bu-lim-jit-coat yang berasal dari angkatan tua juga ada beberapa orang yang datang.”

“Apa? Para Locianpwe dari Bu-lim-jit-coat juga datang?” seru Ji-sia kaget.

“Bukan cuma Bu-lim-jit-coat saja yang dating, malahan gembong iblis dari angkatan lebih tua lagi mungkin juga akan berdatangan, cuma orang-orang itu lebih menaruh perhatian pada masalah yang ke-tiga daripada masalah lainnya.”

Tergetar keras hati Ji-sia, pikirnya, “Kalau be-gitu, masalah ketiga yang dimaksudkannya tentu menyangkut soal ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian.”

Tapi di luar ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya lagi, “Sebenarnya masalah ketiga itu me-nyangkut soal apa? Kenapa begitu banyak orang yang berdatangan?” Lamkiong Giok menatap wajah Ji-sia lekat-lekat kemudian balas bertanya, “Masih ingatkah saudara Bok dengaa masalah ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian yang pernah kusinggung sewaktu berada di gardu bobrok dulu? Nah, masalah yang ketiga me-nyangkut soal ruyung tersebut. Jika masalah ini su-dah berkembang, maka kemungkinan besar seluruh dunia persilatan akan berubah menjadi neraka, ba-haya kiamat setiap saat mengancam. Cuma berita tentang ruyung ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja, bilamana kedatangan orang-orang dari aliran Hek-liong-kang bukan lantaran ruyung tersebut, maka masalah ketiga pun tak akan gempar begini.”

“Saudara Lamkiong, maaf atas kedunguanku, aku tidak paham maksud ucapanmu itu….” kata Ji-sia.

“Hahaahaa, kenapa saudara Bok jadi linglung? Masalah yang kedua belum dibicarkan mengapa membicarakan soal ketiga?”

Ji-sia terkejut, pikirnya, “Kalau begitu masa-lah kedua ini pasti menyangkut ruyung emas Jian-kim-sl-hun-pian, urusan Suhu Oh Kay-gak pada de-lapan belas tahun yang lalu mungkin berkaitan pu-la dengan masalah ini………”

Berpikir demikian, iapun bertanya, “Saudara Lamkiong, apakah inti persoalan yang kedua ini?”

“Saudara Bok, pernahkah kau dengar cerita gurumu tentang seorang tabib sakti tersohor pada tiga ratus tahun dulu, Hin-si-cu (Pembenci jagat) Siang Hin-tang?”

Ji-sia heran karena tiba-tiba Lamkiong Giok membicarakan masalah yang terjadi tiga ratus ta-hun yang lalu, “Suhuku sudah lama wafat, aku sa-ma sekali tidak mengerti tentang Hin-si-cu Siang Hin-tang. Tapi kutahu orang ini lihai dalam ilmu pertabiban maupun ilmu silat, entah apa maksud saudara Lamkiong menyinggung nama orang ini?” “Saudara Bok, tahukah kau Hin-si-cu Siang Hin-tang itu berasal dari aliran mana?” tanya Lam-kiong Giok sambil tertawa.

Ji-sia menggeleng kepala “Aku kurang tahu!”

Tiba-tiba Lamkiong Giok bersikap seperti penuh rahasia, tanyanya setengah berbisik, “Saudara Bok, kau tahu ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian yang membuat orang persilatan tergila-gila itu dibuat oleh siapa?”

Hati Ji-sia tergetar, sahutnya, “Saudara Lam-kiong, kau maksudkan ruyung itu dibuat oleh si Pem-benci Jagat Siang Hin-tang?”

Lamkiong Giok manggut-rnanggut, “Saudara Bok memang cerdik, ruyung itu memang betul di-buat oleh si Pembenci Jagat Siang Hin-tang dan Siang Hin-tang konon berasal dari aliran Hek-liong-kang, kebetulan sekali si tuan rumah dalam ma-salah kedua ini adalah orang Hek-liong-kang, oleh sebab itulah kukatakan tadi jika kedatangan merekapun lantaran ruyung mestika tersebut, maka kekacauan yang bakal berlangsung dalam dunia per-silatan sukar diatasi lagi.”

Mendengar keterangan itu, Ji-sia menjadi pa-ham, ia tanya, “Saudara Lamkiong, jadi masalah kedua yang kau maksudkan adalah penyerbuan orang Hek-liong-kang ke daerah Tionggoan? Jika begitu, kenapa bisa menggemparkan dunia persilatan?”

“Saudara Bok, kau tak tahu, sesungguhnya kehadiran para jago di sekitar Thian-seng-po se-karang kebanyakan lebih mengutamakan kepenting-an pribadi.”

“Untuk kepentingan pribadi? Apakah orang-orang Hek- liong-kang datang ke Tionggoan dengan membawa benda mestikayang tak ternilai harganya?”

“Jika cuma benda mestika saja, tak nanti jago persilatan akan menempuh perjalanan jauh untuk berkumpul di sini.” “Habis apakah mungkin barang pusaka sebang-sa pedang wasiat atau kitab pusaka dan sebagainya yang memancing gairah orang-orang persilatan un-tuk berdatangan kemari?”

“Dugaan saudara Bok memang benar, cuma hal ini hanya satu diantaranya, yang kedua adalah masalah hidup atau matinya dunia persilatan.”

“Bagaimana maksudmu? Apakah mereka hen-dak menjajah daerah Tionggoan kita?”

Sambil tertawa Lamkiong Giok manggut-manggut, “Sewaktu masuk ke Tionggoan mereka telah sesumbar hendak mencari dua macam benda, sekali-an mengobrak-abrik dunia persilatan.”

“Berapa banyak jumlah mereka? Besar amat ucapan mereka….!” seru Ji-sia dengan gusar.

Lamkiong Giok tersenyum, “Menurut hasil pe-nyelidikanku, mereka terdiri dari empat perem-puan dan tiga lelaki, dua di antaranya adalah ka-kek, seorang nenek beruban, tiga orang gadis dan seorang pemuda.”

“Umat persilatan di wilayah Tionggoan tak pernah bermusuhan dengan mereka, kenapa mereka datang kemari untuk membantai umat persilatan Tioggoan kita?”

Tiba-tiba Lamkiong Giok menghela napas pan-jang, katanya, “Seluk beluk di balik urusan tidak kupahami, cuma bila terbukti mereka memang men-cari dua macam benda, maka di balik ini pasti ter-selip rahasia dunia persilatan yang amat besar.”

“Saudara Lamkiong, apakah kau bisa menebak benda apa yang mereka cari?”

Lamkiong Giok berpikir sebentar, kemudian sahutnya, “Benda pertama yang mereka cari menu-rut dugaanku adalah ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian, sebab benda itu dibuat oleh Cianpwe aliran Hek-liong-kang, Hin-si-cu Siang Hin-tang, apalagi ru-yung itupun menyimpan suatu. ”

Bicara sampai di sini, mendadak ia tidak me-lanjutkan kata- katanya.

Ji-sia merasa terkesiap, pikirnya, “Jangan-jangan ia hendak mengatakan ruyung itu menyimpan suatu rahasia besar dan cukup menggetarkan hati setiap umat persilatan ”

Ketika ia berpikir, sambil tertawa Lamkiong Giok melanjutkan lagi kata-katanya, “Mengenai ruyung emas Jian- kim-si-hun-pian, di samping menyangkut beberapa peristiwa berdarah, masih terdapat pula suatu rahasia lain, cuma aku telah ber-sumpah kepada ayahku ketika diberitahu rahasia itu untuk tidak menceriterakan lagi kepada siapa pun……”

“Orang persilatan memang mengutamakan sum-pah, saudara Lamkiong tak perlu memberi penje-lasan lagi!”

Di luar ia berkata demikian, sementara da-lam hati berpikir, “Ketika Suhu Oh Kay-gak menyerahkan ruyung ini kepadaku, ia bilang meski Jian-kim-si-hun-pian amat berharga, tapi masih ada mestika lain yang seratus kali lebih berharga tersim-pan di dalam ruyung ini, yang bisa membuat umat persilatan tergila- gila. Jika dicocokkan dengan apa yang dikatakan Lamkiong Giok sekarang, nyatalah bahwa soal itu bukan omong kosong belaka, tapi aku telah memeriksa ruyung itu dan sama sekali tidak menemukan apa-apa, jika ada waktu luang aku pasti akan memeriksanya sekali lagi.”

“Jika ditinjau dari apa yang dikatakan Lam-kiong Giok, perselisihan antara Oh Kay-gak, Lam-kiong Hian dan Kiu- thian-mo-li pada delapan be-las tahun yang lalu mungkin menyangkut juga soal Jian-kim-si-hun-pian, dan agaknya hal ini memang benar. Padahal Suhuku mempunyai dendam sedalam lautan dengan Lamkiong Hian, bila Lamkiong Giok tahu aku murid Oh Kay-gak, niscaya dari sahabat akan berubah menjadi musuh.” Berpikir sampai di sini, Ji-sia merasa hatinya berat sekali, kembali ia berpikir, “Aku berutang budi pada Suhu Oh Kay- gak, aku pun bersumpah hendak menyelidiki sebab-sebab kematiannya serta membalaskan dendamnya, andaikata terbukti Lam-kiong Hian adalah musuh besarnya, aku pasti akan membunuhnya, cuma seluk-beluk soal ini hingga kini masih belum jelas bagiku. Lamkiong Giok adalah putra Lamkiong Hian, entah mengetahui ti-dak tentang persoalan ini? Sebentar aku harus me-mancingnya untuk mencari keterangan!” 

Berpikir demikian pemuda itu bertanya lagi, “Saudara Lamkiong, tahukah kau ruyung Jian-kim-si-hun-pian itu jatuh ke tangan siapa?”

Sekali lagi hati Lamkiong Giok tergetar, pikir-nya, “Orang ini terkadang sangat gagah, terkadang suka menyendiri, entah dapatkah kuperalat tenaga-nya? Jika soal ini kuberi tahu kepadanya, kemudian iapun ingin memperebutkannya, bukankah aku akan rugi besar…?”

Mimpipun Lamkiong Giok tidak menyangka, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian justru telah berada pada Bok Ji-sia.

Ji-sia tahu orang tak bersedia mengungkapkan rahasia tersebut, terpaksa ia berkata, “Saudara Lam-kiong, tanpa sengaja aku telah menyadap pembicara-an Oh Ku-gwat, ia bilang Jian-kim-si-hun-pian ber-ada di tangan Oh Kay-thian, entah kabar ini betul atau tidak?”

Air muka Lamkiong Giok berubah hebat, tapi segera pulih kembali, ia menengok sekejap sekeliling tempat itu, lalu bisiknya, “Saudara Bok, jangan siarkan berita ini keluar, kalau tidak pasti akan memancing bibit bencana bagimu sendiri. Terus te-rang kuberitahukan kepadamu, ruyung tersebut berb-ada di tangan Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak!” Mendengar perkataan itu, diam-diam Ji-sia bergirang, ia tanya pula, “Saudara Lamkiong, kudengar pembicaraanmu di gardu bobrok sana, agaknya ayahmu Lamkiong Hian Locianpwe mempunyai sengketa yang tak pernah berakhir dengan Oh Kay-gak Locianpwe, pemimpin dari Bu-lim-jit-coat, apakah perselisihan itupun lantaran ruyung terse-but?”

Tiba-tiba air muka Lamkiong Giok berubah pula, ia menyeringai, dengan suara geram ia ber-kata, “Saudara Bok, ketika bicara soal ilmu silat ayahku, Oh Kay-gak dan Kiu-thian- mo-li tempo hari, kau membela Oh Kay-gak, sekarang mengaku saja terus terang apakah kau murid Oh Kay-gak?”

Sambil berkata, secepat kilat Lamkiong Giok mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Bok Ji-sia.

Untuk tidak memperlihatkan asal-usul sendiri, Ji-sia membiarkan urat nadinya dicengkeram orang, dengan pura- pura terkejut ia berseru, “He, saudara Lamkiong, kau salah paham kepadaku rupanya, te-rus terang kuakui guruku adalah Ban-pian-sinkun Auyang Seng dari Bu-lim-jit-coat, karena selama be-lajar aku sering mendengar soal Oh Kay-gak dari gu-ruku, maka tanpa terasa aku punya kesan baik kepadanya, sedang tentang wataknya yang sebenar-nya aku kurang jelas, tapi bila dilihat dari pende-ritaan yang pernah kuterima ketika menyerbu Thian-seng-po tempo hari, aku mendapat kesan Thian-seng-po sekarang adalah tempat orang berbuat ke-kejaman dan kebiadaban, apakah kau tidak tahu bahwa aku pernah hendak membunuh Oh Ku-gwat?”

Ban-pian-sinkun Auyang Seng merupakan sahabat karib Oh Kay-gak masa lalu, semua umat persilatan mengetahui tentang ini, jadi kebohongan Ji-sia boleh dibilang rapi sekali hingga Lamkiong Giok yang pintar pun dapat dikelabuhi olehnya.

Buru-buru Lamkiong Giok melepaskan ceng-keramannya sambil berkata, “Kalau begitu, kungfu Ban-pian-sinkun Auyang Seng sekarang tentu sudah di atas siapa pun.” Haruslah diketahui, Lamkiong Giok adalah se-orang licin yang dapat berpikir, ia merasa dengan kepandaian Ban-pian- sinkun belum dapat mendidik seorang murid selihai ini.

Sudah barang tentu Ji-sia dapat memahami maksud kata- katanya, sambil menghela napas kata-nya kemudian, “Ai, sungguh tidak beruntung ketika Suhu mengajar kungfu padaku tahun lalu, tiba-tiba ia jatuh tertunduk dan menghembuskan napas ter-akhir, agaknya sebelumnya ia sudah mempunyai fi-rasat akan wafat ketika memberi pelajaran kepada-ku, maka sebelumnya beliau menghadiahkan sejilid kitab pusaka kepadaku dan menyuruh aku berlatih sendiri. Ai, jika kubayangkan kembali sekarang, tampaknya Suhu bukan mati karena terserang pe-nyakit………”

Tiba-tiba Lamkiong Giok menjura dan berseru: ”Ah, Kiong- hi! Kiong-hi! Rupanya saudara Bok te-lah mendapat warisan tenaga dalam beberapa puluh tahun hasil latihan Auyang- locianpwe… ”

Selagi lagi Ji-sia menghela napas, “Ai, Suhu betul-betul berbudi, ia rela mengorbankan diri de-mi menciptakan diriku, budi kebaikan semacam ini entah kapan baru bisa kubalas, ai… ”

Melihat ketulusan hati Ji-sia, rasa curiga Lam-kiong Giok segera lenyap, sebaliknya timbul rasa kaget dalam hati.

“Jadi ia telah memperoleh tenaga dalam hasil latihan puluhan tahun Auyang Seng, pantas tenaga pukulannya kuat sekali,” demikian pikirnya, “di ke-mudian hari sudah pasti orang ini akan menjadi seorang tokoh terkemuka, aku harus baik-baik me-rangkulnya… ”

Cepat ia menjura sambil tertawa, katanya, “Saudara Bok, jika aku berbuat kasar kepadamu ta-di, harap sudi memaafkan!” “Ah, kenapa saudara Lamkiong berkata begitu?” Ji-sia tertawa, “ayahmu bermusuhan dengan Oh Kay-gak, pantas juga kau curiga padaku.”

Lamkiong Giok menghela napas, “Ai, per-musuhan antara ayah dengan Oh Kay-gak memang disebabkan Jian-kim-si- hun-pian dan sedikit soal lain, mengenai sebab utama dari perselisihan itu tidak begitu jelas karena ayahku tak pernah mem-bicarakan soal ini denganku.”

Mendengar jawaban itu, Ji-sia menghela napas pula seperti kecewa atas gagalnya menyelidiki la-tar belakang perselisihan Oh Kay-gak dengan Lam-kiong Hian.

Lalu Ji-sia tanya lagi: “Saudara Lamkiong, kau bilang orang- orang Hek-liong-kang hendak men-cari dua macam benda, apakah kedua benda yang hendak dicarinya itu?”

“Sebenarnya akupun tidak tahu benda apa yang hendak dicari, tapi setelah akhir-akhir ini se-orang pendekar besar ditangkap mereka, aku jadi teringat pada perselisihan antara pihak Hek-liong-kang dengan sembilan perguruan besar pada dua ratus tahun yang lampau.”