Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 07

Jilid 07

Tok-sim-siusu Bu Yan-hong yang licik tertawa seram dan menimbrung, “Saudara Lamkiong, dugaanmu memang benar, mungkin perempuan itu te-lanjang bulat, maka tak berani menampakkan diri.”

Mendengar ucapan tersebut, kontan semua orang bergelak tertawa.

Singa baja bercambang In Ceng-bu dengan suaranya bagai gembrengan pecah ikut menimbrung, “Tok sim-siusu, ucapanmu terlampau keji, bila ia menampakkan diri nanti, yang pertama dicari pasti kau!”

Bu Yan-hong bergelak tertawa “Hahaha, jika apa yang In- heng katakan benar, pasti akan kuajak perempuan setengah manusia setengah setan itu un-tuk mencari surga dunia, akan kucicipi bagaimana rasanya dia!”

Rupanya semua orang tahu perempuan itu menempati posisi yang lebih menguntungkan karena bersembunyi dalam kuburan, bila tidak dipancing keluar dengan kata-kata yang kotor, maka sukar melancarkan serangan kepadanya.

Tong Yong-ling adalah seorang gadis, wajahnya menjadi merah jengah mendengar kata-kata kotor tersebut. Melihat itu, dengan dahi berkerut Bok Ji-sia lantas berpaling ke arah Lamkiong Giok sambil berkata, “Saudara Lamkiong, kenapa mulut orang persilatan begitu kotor? Apakah mereka tidak me-rasa menurunkan martabat sendiri? Kalau mulutnya tetap tidak senonoh, akan kuberi hajaran kepada mereka.”

“Saudara Bok,” sahut Lamkiong Giok sambil tertawa, “mereka tidak sungguh-sungguh ingin bicara kotor, tujuannya hanya ingin memanaskan hati mu-suh belaka.”

Perempuan aneh di dalam kuburan itu sungguh memiliki iman yang tebal, sekalipun disindir dengan kata-kata kotor, ia masih tetap membungkam dan bersembunyi dalam liang kubur, dalam keadaan be-gini sudah barang tentu kawanan jago lain tak be-rani sembarangan bertindak.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu memang sudah senti-men pada Bok Ji-sia, dengan gusar tiba-tiba ia berteriak, “Bocah itu betul2 tak tahu diri, selalu suka mencampuri urusan orang lain.”

“Saudara In, kalau begitu mari kita jagal sa-ja dia,” ucap Tok-sim-siusu Bu Yan-hong dengan tertawa seram.

“Kalau aku suka mencampuri urusan, mau apa kau?” ejek Bok Ji-sia.

Sambil berkata, dengan suatu gerakan aneh ia menerjang maju, telapak tangan kanan segera di-ayun ke depan dan “plak-plok,” dua kali tamparan tepat mampir di muka Ciu-siu- thi-say In Ceng-bu.

Selama hidup belum pernah In Ceng-bu diper-lakukan semacam ini, apalagi ditampar di hadapan orang banyak, peristiwa ini dianggapnya sebagai su-atu penghinaan besar. Sambil membentak keras, telapak tangan ka-nannya dengan jurus Lip-pit-ngo-gak (membacok runtuh lima bukit) langsung menghantam kepala Bok Ji-sia. Anak muda itu tertawa dingin, pergelangan ta-ngan kanan berputar, dengan jurus Kim-soh- poh-liong (tali emas mengikat naga) ia balas menceng-keram pergelangan tangan kanan In Ceng-bu, lalu ditariknya, mau- tak-mau tubuh Ciu-siu-thi-say pun ikut terseret ke depan.

Mendadak tenaga pukulan yang terhimpun da-lam telapak tangan Ji-sia dikerahkan. Tanpa ampun tubuh In Ceng-bu mencelat ke udara oleh tenaga pantulan tersebut, masih untung ilmu silatnya cukup tangguh, hawa murni cepat di-himpun kemudian berjumpalitan di udara dan me-layang turun ke atas tanah dengan ringan. Sekalipun ia terlempar ke udara, namun sama sekali tidak menderita luka barang sedikit pun.

Sesudah mementalkan tubuh In Ceng-bu, Bok Ji-sia mendorong pula telapak tangan kirinya ke depan, segulung tenaga pukulan yang kencang kem-bali menghantam tubuh Tok-sim-siusu. Gerak tubuh Bok Ji-sia yang aneh tapi sakti membuat tercengang semua orang, tapi sikap pe-muda yang jumawa ini juga menimbulkan rasa ma-rah orang-orang itu.

Sejak pemuda itu memaki orang, diam-diam Tong Yong- ling sudah waswas, apalagi setelah me-nyaksikan ia menyerang dua orang itu, ia jadi kuatir. Perlu diterangkan bahwa semua jago yang ha-dir saat itu hampir seluruhnya dendam kepada Bok Ji-sia, seandainya mereka sampai bekerja sa-ma untuk mengerubutinya, biar pemuda itu berilmu tinggi, tapi dua tangan sukar menahan empat kepalan, apalagi kawanan jago yang hadir ini rata-rata adalah jago kelas tinggi.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu kembali menerjang ke dapan, langsung ia menghantam dada Bok Ji-sia. Serangan ini merupakan kepandaian andalan In Ceng-bu, dahsyat sekali tenaga pukulannya. Setelah berulang kali memukul mundur musuh, Ji-sia rada memandang enteng musuhnya, tangan  kiri yang menyerang Bu Yan-hong ditarik kembali dan digunakan menyambut serangan In Ceng-bu.

Ji-sia mengira bentrokan kali inipun pasti akan memukul mundur orang, siapa tahu kejadian sama sekali di luar  dugaan. Begitu telapak tangan saling bertemu, Ji-sia se-gera merasakan keadaan tidak beres, dia ingin me-ngerahkan tenaga untuk melawan, sayang terlambat. Tenaga pukulan In Ceng-bu yang hebat itu mendampar hingga Ji-sia sempoyongan mundur empat lima langkah dari posisi semula.

Sebaliknya Cian-ciau-tocu, si singa baja ber-cambang In Ceng-bu merasakan pula tenaga tolakan yang aneh muncul dari balik telapak tangan lawan, walaupun Ji-sia dipaksa mundur empat-lima lang-kah, tapi In Ceng-bu sendiri pun tergetar mundur beberapa langkah dengan terkejut.

Diawasinya wajah Ji-sia dengan termangu, ia tak mengira pemuda yang tak ternama ini memiliki tenaga dalam sesempurna ini. Padahal ia sudah menggunakaa hampir seluruh tenaganya, ia yakin musuh pasti terluka dan nama sendiri akan menonjol. Nyatanya sekarang tenaga pukulan yang dilatih-nya selama puluhan tahun itu dapat ditangkis lawan dengan begitu mudah, sekalipun lawan kena dipaksa mundur beberapa langkah, tapi jelas diketahui Ji-sia belum menggunakan seluruh kekuatannya.

Tiba-tiba Bok Ji-sia menerjang maju dengan gusar, bentaknya, “Sambut seranganku lagi!”

Dengan jurus Tui-san-tian-hay (mendorong bukit membendung samudra), ia bacok In Ceng-bu sekuatnya. Ciu- siu-thi-say In Ceng-bu juga menjadi gusar, sambil memutar telapak tangan kanan ia sambut pukulan tersebut dengan keras lawan keras.

“In-heng, jangan takut, Siaute membantumu!” Tok-sim- siusu Bu Yan-hong membentak nyaring, de-ngan jurus Ing- hong-hud-liu (mengikuti angin membabat pohon) ia hantam punggung Ji-sia.

Serangan ini dilancarkan dengan sergapan dari belakang, betul-betul ancaman yang berbahaya. Perlu diketahui, sejak bertarung dengan Ji-sia di gardu bobrok semalam, Hek-to-su- koay telah me-ngetahui bahwa pemuda itu berilmu tinggi, bila dibiarkan hidup terus sehingga tenaga dalamnya ber-tambah sempurna, maka akibatnya akan menjadi bi-bit bencana terbesar bagi kaum Lok-lim. Sebab itulah timbul niat jahat mereka, sewaktu di dalam gardu bobrok, mereka mengira Lamkiong Giok akan turun tangan untuk melenyapkan Ji-sia, siapa tahu malah dilepaskan pergi.

Kini, setelah melihat tenaga dalam Ji-sia me-nunjukkan kemajuan dalam pertarungan melawan In Ceng-bu, hawa napsu membunuh mereka makin berkobar. Dengan sinar mata tajam Kui-tau-kou, Sat-hong-tok-ciang dan Eng-jiau-jiu mengawasi Ji-sia le-kat-lekat, ketika Tok-sim-siusu turun tangan merekapun bergeser ke tengah arena.

Ji-sia tidak menyangka In Ceng-bu berani me-nyambut serangannya dengan kekerasan, ketika dua gulung tenaga saling bentur, buru-buru anak mu-da itu manfaatkan tenaga pantulan dan melayang keluar arena, dengan gerakan indah ia berhasil me-lepaskan diri dari sergapan Tok-sim-siusu.

Semua gerakan indah dan lincah ini membuat air muka Lamkiong Giok berubah hebat, pikirnya, “Orang ini berusia sebaya denganku, kenapa ilmu silatnya selihai ini? Entah Cianpwe manakah yang menjadi gurunya….?”

Sementara itu, Tok-sim-siusu Bu Yan-hong sedang berteriak “Saudara In, bocah ini rada ba-haya, dibiarkan hidup akan menimbulkan bencana buat kita, mari kita bekerja sama…..” Di tengah seruan tersebut, In Ceng-bu telah mengayunkan telapak tangannya dan melancarkan suatu pukulan pula ke depan.

Inilah ilmu Pek-poh-cuan-yang-kun (pukulan seratus kaki menembus pohon) andalan Ciu-siu-thi-say. Angin pukulan seperti putaran roda cepatnya menggulung ke depan. Satu ingatan terlintas dalam benak Bok Ji-sia, ia bergeser dua langkah ke samping, dari kejauhan ia melepaskan pukulan balasan.

Kemajuan yang di capai Bok Ji-sia boleh di-bilang pesat sekali, kini bukan saja ia dapat meng-gunakan tenaga sekehendak hati, bahkan tenaga da-lamnya sangat hebat, pukulan yang dilontarkan se-enaknya saja tidak kepalang lihainya. Tapi In Ceng-bu merasakan kekuatan pukulan itu tidak terlalu besar, segera tangan kanan me-lepaskan pukulan lagi dari jauh.

Ujung baju Ji-sia berkibar terembus angin, tahu-tahu ia sudah berkelit lagi ke samping, kedua tangannya segera diayunkan dan sekaligus menyerang In Ceng-bu dan Tok-sim- siusu. Tong Yong-ling tahu kesempurnaan ilmu silat Bok Ji-sia, walaupun dikerubut dua orang, belum tentu pemuda itu akan terluka, maka dengan hati lega dia menyingkir ke samping sambil berjaga2 terhadap sergapan ketiga manusia aneh lainnya.

Ketika In Ceng-bu beradu pukulan dengan Bok Ji-sia, Tok- sim-siusu segera menghimpun pula te-naganya dan melancarkan ssrangan dari samping. Tapi Ji-sia telah keburu menyingkir sehingga serangannya mengenai tempat kosong. Bok Ji-sia benci kepada Tok-sim-siusu yang licik ini, sambil mendengus ia menerjang ke depan dengan cepat, telapak tangan dan jari tangan digu-nakan sekaligus untuk melepaskan serangkaian se-rangan berantai, dalam waktu singkat ia sudah me-lancarkan lima pukulan, enam kali tutukan dan ti-ga kali tendangan. Keempat belas kali serangan ini cukup ganas dan cepat, ttnaga serangan juga kuat luar biasa. Tok-sim-siusu Bu Yan- hong berkelebat kian kemari untuk menghindarkan diri, ia mundur delapan-sembiian langkah baru berhasil melepaskan diri dari keempat belas kali serangan musuh, pada saat itu ia sudah berada beberapa kaki saja dari liang kubur yang mengerikan itu.

Timbul hawa napsu membunuh Bok Ji-sia, di-iringi bentakan menggeledek, kedua telapak tangan-nya diayunkan berbareng, dua gulung angin pukulan yang kuat bagai gulungan ombak mendampar tu-buh Tok-sim-siusu Bu Yan- hong. Serangan mematikan yang dilancarkannya sung-guh di luar dugaan, lebih-lebih Tok-sim-siusu, da-rah dalam dadanya bergolak setelah menerima em-pat belas kali serangan lawan yang cepat tadi.

Tok-sim-siusu Bu Yan-hong sadar bila serangan itu disambut dengan kekerasan, akibatnya dia akan terluka parah bahkan mungkin akan mati muntah darah, maka satu-satunya jalan adalah mengelak.

Dalam pada itu angin pukulan yang berat ba-gaikan gugur gunung dahsyatnya telah menekan da-danya, ia tak bisa berpikir panjang lagi dan buru-buru melompat ke depan liang kubur itu. Ji-sia memang bermaksud memaksanya masuk ke liang kubur itu, maka ketika dilihatnya Tok-sim-siusu sudah dekat di mulut liang, secepat kilat te-lapak tangan kirinya melancarkan lagi pukulan dahsyat.

Mendadak dari dalam kuburan berkumandang suara tertawa seram dan menusuk telinga, suara ter-tawa panjang aneh, seperti lolong serigala lapar yang menggetar sukma. Mendengar suara tertawa itu, Tok-sim-siusu Bu Yan-hong menjadi ketakutan setengah mati, suk-manya seakan-akan melayang meninggalkan raganya. Sambil menjejakkan kakinya, dengan cepat ia sam-but pukulan Ji-sia itu. Sayang waktu tidak mengizinkan ia berbuat demikian, serangan Ji-sia tahu-tahu sudah menekan tubuhnya, ia tergetar keras dan terpaksa menyelinap masuk ke daiam liang kubur untuk menyelamatkan jiwa. In Ceng-bu dan ketiga orang aneh lainnya se-rentak membentak keras, keempat orang bersama-sama melancarkan pukulan dahsyat ke punggung Ji-sia.

Seluruh perhatian Bok Ji-sia waktu itu hanya tertuju kepada Tok-sim-siusu seorang, ketika dira-sakan datangnya bahaya, tenaga gabungan keempat jago lihai itu sudah berada di belakang tubuh-nya, ia ingin membalik tubuh untuk menangkis, ta-pi waktu tidak mengizinkan lagi, terpaksa iapun melompat masuk ke dalam kuburan itu.

Sekali lompat, Ji-sia telah berada di mulut liang, tiba-tiba ia memutar badan sambil menghan-tam, dua gulung angin pukulan yang maha dahyat menyambar ke sana, menyambut serangan keempat orang tersebut…..

“Blang!” benturan keras berkumandang, Ji-sia mendengus tertahan, tubuhnya langsung terpental masuk ke dalam liang.

Tong Yong-ling, terperanjat melihat kejadian itu, pelahan bentaknya, “Bajingan yang tidak tahu malu, beraninya cuma main sergap!”

Pedang Bwe-hoa-kiam dengan membentuk bu-nga bwe secepat kilat menusuk tubuh Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu. Semua kejadian itu berlangsung dengan kece-patan luar biasa. Pada waktu itulah, tiba-tiba dari balik kuburan berkumandang jeritan yang memilukan hati, jeritan bagaikan lengking setan. Semua orang sama merasa terkejut, lebih-lebih Tong Yong- ling, saking kagetnya sampai permainan Bwe-hoa-kiam terhenti setengah jalan. Setelah sirapnya jeritan ngeri itu, perlahan mun-cul sesosok tubuh berdarah dari liang kubur itu….. Dia adalah Tok-sim-siusu Bu Yan-hong, cuma wajahnya sudah rusak dan berlepotan darah, bajunya koyak-koyak, keadaannya mengerikan sekali, membuat orang tak tega melihatnya. Kedua mata Tok-sim-siusu Bu Yan-hong me-rah membara dan melotot, mulutnya ternganga, titik darah seperti hujan menetes tiada hentinya. Muka-nya tampak mengejang, tubuhnya melangkah dengan kaku, hanya dua tindak, tanpa mengeluarkan suara ia roboh dan binasa. Baju bagian punggungnya juga robek-robek, lima jalur bekas guratan yang dalam tertera jelas di punggungnya.

Seorang gembong iblis golongan hitam yang menggetarkan dunia persilatan, akhirnya tewas da-lam keadaan yang mengenaskan. Melihat kematian Tok-sim-siusu Bu Yan-hong yang mengerikan itu, semua orang berdiri terbelalak dengan mulut melongo, rasa takut dan ngeri me-nyelimuti wajah mereka.

Tapi orang-orang itu masih berdiri menanti de-ngan tenang, puluhan pasang mata sama tertuju ke arah liang kubur yang mengerikan itu, seakan-akan sedang menantikan sesuatu. Rupanya mereka sedang menantikan jeritan ngeri yang lain……jerit kematian Bok Ji-sia.

Sampai sekian lamanya, suasana disekeliling tempat itu tetap hening dan tak kedengaran sedikitpun suara.

Tiba-tiba Tong Yong-ling berseru penuh ke-sedihan, “Bok- siangkong, cepat….cepatlah keluar!”

Sambil berteriak ia melompat maju dan ber-maksud menerjang ke dalam liang kubur itu.

Bayangan manusia segera berkelebat, Lamkiong Giok tahu- tahu sudah menyelinap ke samping Tong Yong-ling dan menarik tangannya sambil berbisik, “Nona Tong, jangan gegabah, ilmu silat perempuan aneh itu sangat lihai!”

Rupanya cinta Tong Yong-ling terhadap Bok Ji-sia sudah bersemi, ketika tangan kirinya diceng-keram Lamkiong Giok, sambil melepaskan diri ben-taknya, “Lamkiong Giok, kenapa kau menghalangi aku masuk ke situ?”

Air muka Lamkiong Giok agak berubah, tapi segera sahutnya sambil tertawa, “Nona Tong, aku kuatir kau akan mengalami kejadian yang tidak me-nguntungkan!”

“Kau kira ia sudah tertimpa musibah?” tanya Yong-ling dengan sedih.

Lamkiong Giok berpikir sebentar, kemudian jawabnya, “Sudah sekian lama ia masuk ke situ hingga sekarang tiada tanda apa pun, kukira dia….”

“Jika dia mati, aku harus masuk ke situ untuk membalaskan dendam baginya!”

“Tunggulah sebentar lagi, jika ia belum keluar, akan kutemani dirimu masuk ke sana dan mem-balas dendam,” kata Lamkiong Giok.

Tong Yong-ling tertawa dingin. “Kau bermu-suhan dengan dia, bila ia mati, memangnya kau ti-dak merasa gembira?”

“Nona Tong, kenapa kau berkata demikian? Sejak mula aku tidak pernah menaruh rasa dendam kepadanya.”

“Kalau begitu sekarang juga kita masuk ke situ dan membunuh perempuan keparat itu!”

Kiranya Tong Yong-ling tahu jika dia harus masuk seorang diri, jelas kepandaiannya bukan tandingan perempuan dalam kuburan itu, maka ia sengaja bikin hatinya panas dan berharap pemuda itu mau masuk ke liang kubur itu bersamanya.

Mendengar ajakan tersebut, Lamkiong Giok mengunjuk wajah serba salah, ia adalah seorang yang cerdik, tentu saja iapun mengetahui akan kelihaian perempuan aneh dalam kuburan itu, terutama ke-kejian serangannya. Melihat pemuda itu membungkam, dengan ter-tawa dingin Tong Yong-ling kembali menyindir, “Lamkiong Giok, kau pun takut padanya?”

Sesungguhnya diam-diam Lamkiong Giok menaruh cinta kepada Tong Yong-ling, ia tak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan orang pe-rempuan, maka sahutnya dengan tertawa, “Nona Tong, aku hanya kuatirkan kau tertimpa sesuatu yang tak terduga..”

“Kalau kau tak mau masuk, biar aku masuk sendiri!” ujar gadis itu dengan sedih.

Selesai berkata dia lantas menerjang masuk ke dalam liang kubur itu.

Entah mengapa ternyata Lamkiong Giok segera ikut masuk kedalam kuburan, ia berbisik, “Nona Tong, entengkan langkahmu, jika bukan tandingan-nya nanti, lebih baik cepat- cepat kita keluar lagi.”

Seakan-akan berhadapan dengan musuh tang-guh, sambil menghimpun tenaga dalamnya perlahan mereka menyusup ke dalam kuburan. Waktu itu, kawanan jago silat yang hadir te-lah dibuat ketakutan oleh kehebatan perempuan aneh dalam kuburan, ketika menyaksikan Lamkiong Giok dan Tong Yong-ling menyelusup ke dalam liang tersebut, mereka tak berani bergeser maju barang selangkah pun, puluhan pasang mata sana tertuju ke arah kuburan besar itu.

Suasana dalam kuburan gelap gulita, melihat jari tangan sendiri saja sukar, setelah masuk ke da-lam, kedua orang itu berhenti dan mulai memeriksa keadaan sekeliling tempat itu.

Sekalipun kedua orang itu terhitung jago lihai yang bertenaga dalam sempurna, tapi mereka tak mampu melihat keadaan sebenarnya dalam kuburan itu, Tong Yong-ling sendiri meski dapat melihat da-lam kegelapan karena kebiasaan dalam penjara air Thian-seng-po tempo hari, sekarang dia hanya bisa melihat segala sesuatu dalam jarak satu tombak jauhnya.

Ruangan kuburan itu lebar sekali, suasana te-rasa menyeramkan. Sesudah berdiri sekian lama, kedua orang itu baru meneruskan perjalanan lebih ke dalam. Ternyata satu tombak di dalam sana terdapat undak2an batu yang menjurus ke bawah. Tong Yong-ling dan Lamkiong Giok menuruni anak tangga batu itu, tiba-tiba mereka melihat se-sosok bayangan hitam sedang berduduk bersila di-depan sana, serentak mereka berhenti.

Tiba-tiba bayangan orang yang duduk bersila itu berpaling dan mengulapkan tangan, memberi tanda kepada mereka. Tong Yong-ling dan Lamkiong Giok dapat melihat bahwa orang itu tak lain adalah Bok Ji-sia.

Pada saat itulah mendadak Lamkiong Giok me-ngayunkan tangan kanannya, segulung tenaga pu-kulan yang kuat segera menerjang Ji-sia.

Harus diketahui bahwa Lamkiong Giok adalah seorang licik dan berhati keji, ia sudah tahu Ji-sia berilmu tinggi, sejak pertama kali bertemu dulu su-dah timbul ingatan untuk mencelakainya, maka de-mi melihat Ji-sia masih hidup, napsu membunuhnya segera timbul, ia pura-pura tidak melihat jelas orang itu adalah Ji-sia, hingga seandainya pemuda itu sampai binasa oleh pukulannya, Tong Yong-ling pun tak dapat menyalahkan dirinya.

Yong-ling memang tidak menyangka Lamkiong Giok berniat membunuh Bok Ji-sia, apalagi serang-an itu tidak menimbulkan suara, maka meski gadis itu berada di sampingnya juga tidak merasakan niat busuknya itu. Agaknya segera Bok Ji-sia akan termakan oleh serangan maut manusia licik itu…….

Pada saat itulah tiba- tiba dari dalam kuburan muncul embusan angin dingin yang secara diam-diam memunahkan tenaga pukulan Lamkiong Giok itu. Ji-sia merasakan juga angin dingin tersebut, telapak tangan kanannya segera berputar dan se-gulung angin pukulan cepat menyambar ke arah datangnya serangan itu……

Dia mengira perempuan aneh itu hendak me-nyergap kedua orang itu, maka ia memberi bantuan. Tapi serangan yang dilancarkan tersebut sama sekali tidak menimbulkan reaksi apa-apa, bahkan lenyap dengan begitu saja. Sergapan yang dilancarkan Lamkiong Giok pun punah oleh desing angin aneh tadi, tubuhnya ber-getar keras diam-diam ia gemas pada perempuan aneh yang telah mencampuri urusannya itu.

Agaknya Tong Yong-ling merasakan pula ke-adaan yang tak beres, segera ia berseru, “Lamkiong Giok, kau…..”

“Ssst, jangan bersuara nona Tong!” bisik Lam-kiong Giok cepat-cepat, “baru saja ada orang me-nyergapnya.”

Sementara itu mereka berdua telah tiba di sisi Bok Ji-sia, mereka bertiga berdiri sejajar.

Suara tertawa dingin yang menyeramkan tiba-tiba berkumandang dari kedalaman kuburan itu, “Anak muda, kau sungguh manusia licik yang sangat berbahaya. Hm, setelah memasuki kuburan ini, ja-ngan harap kau bisa keluar lagi.”

Ji-sia masih juga tak tahu Lamkiong Giok te-lah menyergapnya secara keji, mendengar ucapan tersebut ia lantas berseru, “Orang kosen, ucapanmu agak terlalu takabur, siapa menang dan kalah ma-sih sukar diramalkan, buat apa kau omong besar? sebenarnya aku orang she Bok tak ingin menganggu ketenanganmu, tapi sekarang mau-tak-mau ingin kulihat wajahmu, ingin kuketahui apakah kau seorang manusia berkepala tiga dan bertangan enam, atau kukan?”

“Saudara Bok, dengan tenaga gabungan kita bertiga, rasanya tak sulit untuk membinasakan dia.” bisik Lamkiong Giok cepat. Perempuan aneh dalam kuburan itu kembali tertawa dingin, katanya, “Siapa yang berdosa, dia tak boleh hidup, jika kalian sudah bosan hidup, boleh saja coba berbuat.”

“Kau kira aku jeri padamu?” teriak Ji-sia de-ngan gusar.

Seraya berkata, dengan suatu gerakan cepat anak muda itu melayang ke tempat datangnya su-ara itu.

“Mundur kau, anak muda!” bentakan keras menggeledek, segulung tenaga pukulan lunak dan dingin langsung menumbuk tubuh anak muda itu.

Ji-sia memang berwatak tinggi hati, ia men-dengus sambil berkelit, telapak tangan kanannya dengan cepat diayunkan pula ke muka, berbareng ia ikut menerjang maju.

“Hm, punya simpanan juga kau,” ejek perem-puan aneh itu, “Tapi bila kau ingin mengalahkan aku. Huh, terlalu tak tahu diri!”

Ji-sia menubruk tempat kosong sebab di sa-na tiada sesosok bayangan manusia pun, suasana gelap gulita dan susah melihat lima jari sendiri. Karena menubruk tempat kosong, buru-buru anak muda itu menghentikan gerak tubuhnya sam-bil siap menghadapi sergapan lawan.

“Saudara Bok,” Lamkiong Giok segera ber-seru, “cepat kembali ke tempat semula, jangan sam-pai termakan oleh siasat busuk lawan!”

Padahal Lamkiong Giok sama sekali tak menguatirkan keselamatan Ji-sia, sebab sejak masuk ke dalam kuburan, ia telah merasa perempuan aneh itu tidak bermaksud mencelakai anak muda tersebut, ia kuatir jika Ji-sia meninggalkannya, maka perem-puan aneh itu akan turun tangan keji kepadanya secara tiba-tiba.

Apa yang diduga Lamkiong Giok ternyata be-nar, perempuan aneh dalam kuburan itu memang tidak bermaksud mencelakai jiwa Bok Ji-sia, ka-lau tidak, dengan serangan mautnya, kendatipun sepuluh orang Bok Ji-sia juga amblas jiwanya. Begitu mendengar seruan Lamkiong Giok, de-ngan cepat Ji-sia melompat kembali ke tempat se-mula.

Dari balik kegelapan berkumandang lagi dengus-an menghina, lalu perempuan aneh itu berkata de-ngan suara dingin, “Anak muda, kau benar-benar tak tahu diri. Hm, betapa licin pun jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini!”

Sesungguhnya perkataan perempuan aneh itu ditujukan kepada Lamkiong Giok, tapi Bok Ji-sia salah paham dan mengira perkataan itu ditujukan kepadanya.

Dengan mendongkol dia mendengus, sahutnya, “Kau sendiri licin dan berbahaya, pandainya cuma mencelakai orang dari tempat kegelapan, bila punya kepandaian ayolah bertarung tiga ratus gebrakan dengan orang she Bok ini.”

“Kau orang baik dan berbudi luhur, tapi orang persilatan kebanyakan berhati licik dan busuk, orang jujur semacam dirimu akhirnya tentu akan dicelakai orang.”

“Kedatanganku kemari bukan untuk mendengarkan nasihatmu,” kata Ji-sia dengan marah, “bila kau tidak menampakkan diri lagi, jangan menya-lahkan aku akan melancarkan serangan secara membabi buta.”

“Untuk kesekian kalinya kuperingatkan pada-mu agar mundur dari sini,” kata perempuan aneh itu lagi, “bila berhenti lebih lama lagi di sini, ber-arti kau cari penyakit sendiri!”

Lamkiong Giok tertawa dingin, “Hehehe, de-ngan susah payah kami dapat masuk kemari, jika tidak bertemu muka dulu dengan jago lihai sema-cam kau, apakah aku takkan merasa menyesal untuk selamanya?”

Ji-sia berseru pula dengan dingin, “Boleh sa-ja bila kau minta kami mundur dari sini, tapi wajah aslimu harus kami lihat dulu…” “Enci yang baik,” timbrung Yong-ling, ‘“ke-datangan kami ke kuburan ini tidak bermaksud membalas dendam, kami datang terdorong oleh ra-sa ingin tahu saja………”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari luar kuburan berkumandang beberapa kali jeritan nge-ri……..

Kiranya para jago persilatan di luar kuburan itu samar- samar mendengar Ji-sia sedang bercakap-cakap dengan perempuan aneh itu, mereka mengira ada kesempatan baik, empat orang dari Kiam-hong-ceng segera menyelinap masuk ke dalam kuburan, tapi segera mereka dibinasakan oleh perempuan aneh tersebut. Dari jeritan yang memilukan hati, Ji-sia sekalian lantas mengetahui bahwa di luar kuburan korban kembali berjatuhan, keruan mereka  terperanjat, se-bab mereka sama sekali tidak melihat bagaimana caranya perempuan aneh itu melancarkan serangan-nya.

Ini berarti jika ia mau membunuh mereka ber-tiga, dengan pukulan yang tak kelihatan itu, me-reka pasti tak sanggup mengelak. Berpikir demikian, tanpa terasa mereka ber-tiga mempertinggi kewaspadaan dan diam-diam menghimpun tenaga. Di antara ketiga orang itu, Lamkiong Giok paling berat perasaannya, sebab perempuan aneh itu telah berkata hendak membinasakan dia.

Lamkiong Giok sadar, malam yang panjang akan mendatangkan impian yang banyak, berada terlalu lama di sini tidak menguntungkan dirinya. Maka kepada Ji-sia ia berbisik, “Bok-heng, lebih baik kita tinggalkan tempat ini untuk sementara waktu, ayo kita keluar sekarang!”

Ji-sia tertegun, ia tak habis mengerti kenapa Lamkiong Giok secara tiba-tiba berubah pikiran. “Saudara Lamkiong,” bisiknya, “bukankah kita hendak melabrak dia?”

Lamkiong Giok tersenyum, “Lain waktu masih banyak kesempatan buat bertarung dengan dia, ke-cuali selama hidup dia berdiam di kuburan ini, se-karang dia berada di tempat gelap dan kita ada di tempat yang terang, jelas kita akan rugi besar, ma-ka lebih baik kita keluar saja “

“Hai anak muda, jangan berpikir muluk-mu-luk,” ejek perempuan aneh itu dari sisi kiri, “he-hehe, bukan pekerjaan gampang untuk meninggalkan tempat ini!”

Mendengar seruan tersebut, Ji-sia, Lamkiong Giok dan Tong Yong-ling cepat berpaling. Beberapa kaki disebelah sana tampak berdiri se-sosok bayangan yang ramping menawan hati, cuma sayang terlalu gelap sehingga sukar melihat jelas raut wajahnya.

Lamkiong Giok tertawa terbahak-bahak, kata-nya, “Selama hidup aku Lamkiong Giok tak pernah jeri kepada siapapun, bila kau paksa orang terus menerus, maka akupun terpaksa mengiringi kehen-dakmu dengan mempertaruhkan selembar jiwaku.”

Lamkiong Giok memang berotak tajam dan licik, setelah mengetahui perkembangan urusan ini, dengan tenang ia menghadapinya tanpa rasa takut, hal ini tentu saja dikarenakan dasar silatnya me-mang tinggi dan pengalaman cukup.

“Keberanianmu memang mengagumkan!” seru perempuan aneh itu dengan suara dingin, “Bagus! Bagus sekali! Biar kusempurnakan keinginanmu.”

Ucapan tersebut sedemikian dinginnya hingga boleh dibilang sama sekali tidak bernada manusia, membuat siapapun yang mendengar akan bergidik. Perlahan perempuan aneh itu mengangkat te-lapak tangan kirinya, di tengah kegelapan tertam-paklah selapis warna putih gemerdep pada telapak tangannya.

Lamkiong Giok terkejut, pikirnya, “Ilmu apa ini?”

Sekalipun ia berpengetahuan luas, sulit juga untuk menebak asal-usul ilmu pukulan orang. Perempuan aneh itu sama sekali tidak melepas-kan serangannya, hanya dengan matanya yang tajam dia awasi Bok Ji sia, ia seperti terperanjat, sinar matanya berhenti pada wajah pemuda itu dan me-mandangnya dengan terbelalak.

Lantaran dalam ruangan itu gelap gulita, sekalipun sepanjang tahun ia hidup dalam kuburan itu dan terbiasa dengan kegelapan, tetap tak berhasil melihat jelas Ji-sia, hanya dirasakan raut-wajah orang sudah dikenalnya dengan baik.

Sekalipun demikian, ia tak mencurigai Ji-sia sebagai “dia”, sebab dianggapnya si dia sudah lama mati, sebab dalam tiga- empat tahun belakangan ini setiap saat ia selalu mencari jejaknya, namun tiada kabar sama sekali, maka ia menduga si dia lebih banyak celakanya dari pada hidup.

Tapi pemuda di depannya sekarang bukan saja wajahnya mirip, suaranya pun mirip dia, ditambah lagi mempunyai she yang sama, jangan-jangan me-mang dia inilah? Tapi bila betul dia, sepantasnya dia kenal di-rinya, dari bayangan badan saja dia harus kenal….

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak pe-rempuan aneh itu, pikirannya bagaikan ombak sa-mudra yang bergolak.

Mendadak perempuan aneh itu menghela napas sedih, lalu bertanya, “Orang she Bok, siapakah na-mamu?”

Pertanyaan ini membuat bingung orang, Ji-sia tertegun sejenak, lalu sahutnya, “Buat apa kau ta-nya namaku?”

“Ah, tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin tahu namamu saja!”

“Kita tak pernah saling mengenal, lebih baik jangan pula sembarangan tanya nama orang lain, jika tidak penting, kukira tidak perlu kukatakan.” Perempuan aneh itu tertawa dingin, tiba-tiba katanya, “Apakah hari ini kalian masih ingin me-ninggalkan tempat ini dengan selamat?”

Sambil mengangkat telapak tangannya yang pu-tih bersinar itu, ia awasi ketiga orang tanpa ber-kedip.

Lamkiong Giok tertawa, bukan menjawab, dia malah balik bertanya, “Ilmu silat apakah yang kau pergunakan sekarang?”

“Katak dalam sumur, betapa luas pengetahuan-nya? Tentu saja kalian tak tahu nama ilmu pukulanku ini!”

“Hmm, sekalipun keji ilmu pukulanmu juga ti-dak kupikirkan,” jengek Ji-sia.

Waktu itu Bok Ji-sia, Lamkiong Giok dan Tong Yong-ling telah menghimpun sepenuh tenaga dalamnya dan siap bertarung sengit melawan pe-rempuan aneh itu dengan cara mengerubut.

“Baiklah,” kata perempuan aneh itu dengan dingin, “kuharap kalian kenal nama ilmu pukulanku ini, agar matipun tahu mati dibawah kungfu apa. Inilah ilmu Peng-sian-jit-gwat- ciang (pukulan matahari rembulan berhawa dingin) yang sudah le-nyap dua ratusan tahun lamanya dari dunia per-silatan!”

Begitu mendengar nama ilmu pukulan tersebut, Lamkiong Giok merasakan dadanya seperti dipu-kul dengan martil, diam- diam keluhnya dalam hati, “Habislah riwayatku kali ini, habis! Kalau dia ber-niat membunuhku, hari ini aku pasti akan tewas di sini.”

Perlu diketahui bahwa Peng-sian-jit-gwat-ciang adalah sejenis ilmu sakti berkekuatan maha dahsyat yang amat sukar dilatih, kepandaian ini sudah ham-pir dua ratus tahun lamanya lenyap dari peredaran dunia persilatan, tak disangka kepandaian itu bisa muncul dalam kuburan ini sekarang. Tanda atau ciri khas seseorang yang telah berhasil melatih Peng-sian-jit-gwat-ciang adalah munculnya lingkaran warna putih bagaikan kaca pa-da tengah telapak tangan, makin kecil tanda ling-karan tersebut berarti makin sempurna tenaga da-lamnya.

Bila ditinjau dari tanda lingkaran pada telapak tangan perempuan aneh tersebut, dapat diketahui Peng-sian-jit-gwat- ciangnya baru mencapai tingkat pertengahan. Walaupun demikian, mungkin hanya beberapa orang saja dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup menahan serangan mautnya.

Bila serangan dilancarkan, orang tak akan me-nangkap sedikitpun suara, yang ada hanya hawa udara yang dingin membeku menyambar lewat. Jika tubuh terasa dingin dan menjadi kaku secara tiba-tiba, itu berarti sudah terkena pukulan, biasanya seorang korban segera akan menggeletak dan tewas.

Lamkiong Giok berseru dengan suara rada ge-metar, “Apakah hendak kau gunakan Peng-sian-jit-gwat-ciang untuk menghadapi kami bertiga?”

Perempuan aneh itu tertawa dingin, sahutnya dengan nada menghina, “Dengan kepandaianmu yang masih cetek itu, belum perlu kugunakan Peng-sian-jit-gwat-ciang, kepandaian apakah yang te-lah membinasakan orang-orang di luar tadi, dengan kungfu itu pula kalian akan menerima kematian!”

Tiba-tiba Lamkiong Giok tertawa dingin kati-nya, “Sekali pun ilmu pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciangmu itu maha dahsyat, dan masih berlebihan jika digunakan menghadapi kami angkatan muda, tapi bila ingin melukai kawanan jago lihay itu kukira masih belum cukup, apalagi dari sepuluh ba-gian tenaga pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciang paling-paling baru lima bagian saja yang kau kuasai.” Diam-diam perempuan aneh itu merasa kagum juga atas pengetahuan Lamkiong Giok, sebab cuma sekilas pandang saja telah mengetahui Peng-sian-jit-gwat-ciang yang dilatihnya baru mencapai lima bagian, meski demikian, dengan kemampuannya se-karang juga sukar dicarikan tandingan lagi dalam dunia persilatan.

“Walaupun demikian,” Lamkiong Giok me-lanjutkan lagi kata-katanya, “menurut berita dalam dunia persilatan, barang siapa bisa melatih ke-pandaian itu hingga mencapai lima bagian sudah merupakan orang yang mujur, menurut pengamatan-ku, mungkin hanya beberapa orang saja dalam du-nia persilatan dewasa ini yang sanggup menerima seranganmu.”

Tiba-tiba perempuan aneh itu bertanya dengan dingin, “Beberapa orang yang mana yang sanggup menyambut serangan Peng-sian-jit-gwat-ciangku ini?”

Harus diketahui bahwa Lamkiong Giok itu li-cik, ia sudah tahu bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, maka dia berusaha mengajaknya bicara untuk mengulur waktu sambil mencari akal untuk menghadapi keadaan gawat ini.

Sambil tersenyum sahut Lamkiong Giok, “Mi-salnya ayahku Bu-lim-sin-kun Lamkiong Hian, Thian-kang-te-sat-gwat-kiam Oh Kay-gak dan Kiu-thian-mo-li, ada lagi…..”

“Masih ada siapa lagi? Cepat katakan,” desak perempuan aneh itu dengan cepat.

Lamkiong Giok pura-pura termenung dan ber-pikir sebentar, kemudian baru menjawab, “Situasi dunia persilatan dewasa ini telah mengalami perubah-an besar, tentu saja ada sementara orang yang ti-dak ternama pada masa lalu, dalam waktu akhir-akhir secara tiba-tiba menjadi jago tersohor dalam dunia persilatan, oleh sebab itu masih ada siapa lagi yang sanggup menerima pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciangmu itu sukar dikatakan, seperti misalnya saja saudara Bok yang berada di hadapanmu seka-rang, siapa tahu kalau iapun sanggup menerima pukulanmu itu.”

Manusia persilatan memang berbahaya dan penuh tipu muslihat, seperti Lamkiong Giok, setelah timbul niatnya untuk membunuh Bok Ji-sia, maka dalam setiap pembicaraan yang mungkin menda-tangkan maut dia selalu menyertakan nama Bok Ji-sia, maksudnya untuk memancing rasa ingin me-nang perempuan aneh itu sehingga turun tangan keji terhadap anak muda itu.

Cara meminjam pisau membunuh orang sema-cam ini boleh dibilang suatu siasat yang keji.

Tentu saja perempuan aneh itu dapat pula me-nerka isi hati Lamkiong Giok, ia mendengus dan berseru, “Lamkiong Giok, kau terlalu busuk dan keji, manusia semacam kau hanya menciptakan banyak dosa saja bila dibiarkan hidup terus dalam dunia persilatan.”

Mendengar perkataan itu, diam-diam Lamkiong Giok merasa terkejut, tapi di luar ia tetap bersikap tenang, malah katanya sambil tertawa, “Apakah kau tidak percaya dengan perkataanku? Mengapa ti-dak kau coba sendiri? Sebentar akan kau ketahui sen-diri ucapanku ini benar atau salah!”

Perempuan aneh itu tertawa dingin, “Apakah kaupun sanggup menerima sekali pukulanku?”

“Tidak berani! Tidak berani!” Lamkiong Giok tersenyum, “tapi jika kau melancarkan serangan ter-hadap seorang Wanpwe, maka terpaksa akupun ha-rus menyambutnya dengan mempertaruhkan selem-bar jiwaku!”

“Hmm, dengan kemampuanku paling-paling hanya satu gebrakan saja sudah beres!” bicara sampai di sini, pelahan telapak tangan perempuan aneh itu diturunkan kembali. Diam-diam Lamkiong Giok menghembus napas lega, katanya lagi sambil tertawa, “Apakah aku bo-leh tahu siapa nama Locianpwe?”

Lamkiong Giok memang benar-benar pandai melihat gelagat, dengan sikapnya yang ramah tamah ini, sekalipun perempuan itu hendak membunuhnya, sulit juga turun tangan dalam waktu singkat, apa-lagi perempuan aneh itu memang tidak menaruh rasa dendam padanya.

“Kau masih belum pantas untuk tanya nama-ku!” jawab perempuan aneh ketus.

Ucapan ini sangat takabur dan cukup mem-buat orang gemas atau mendongkol, coba dalam keadaan biasa, sejak tadi Lamkiong Giok sudah me-ngumbar amarahnya.

Diam-diam ia menyumpah dalam hati, “Ja-ngan kau anggap aku jeri kepada ilmu pukulan Peng-sian-jit-gwat-ciangmu itu, padahal pukulan yang kau lancarkan belum tentu sanggup melukai diriku, cuma aku tak sudi menempuh bahaya dengan per-cuma.”

Berpikir sampai di sini, sambil tersenyum iapun berkata, “Kalau Locianpwe tak ingin menunjukkan identitasmu yang sebenarnya, tentu saja Wanpwe tidak akan mendesak lebih jauh, cuma lain waktu bila ada orang ingin menjajal Peng- sian-jit-gwat-ciang yang telah dua ratus tahun lenyap dari dunia persilatan, aku jadi sulit untuk menye-butkan namamu!”

“Siapa yang berani bertarung dengan Peng-sian-jit-gwat- ciangku ini?”

“Ayahku, lalu guru nona Tong dan guru sau-dara Bok!” “Siapakah guru mereka!”

“Suhu nona Tong adalah Bwe-hiang-sian-ki yang namanya termashur dalam dunia persilatan,” jawab Lamkiong Giok sambil tertawa, “sedangkan guru saudara Bok tidak kuketahui, konon iapun seorang Bu-lim-cianpwe yang bernama besar!” Dengan matanya yang tajam perempuan aneh itu menatap wajah Bok Ji-sia, lalu bertanya, “Sia-pakah gurumu!”

Ji-sia tertawa, “Dengan dasar apa kau ingin mengetahui asal-usul perguruanku?”

Mendengar jawaban tersebut, hawa napsu membunuh terpancar keluar dari balik mata perempuan itu, ia tertawa dingin lalu berkata, “Kau betul-betul pemuda keras kepala, cara bicaramu tak tahu aturan. Hmm, rupanya kau sudah bosan hidup!”

“Tak usah banyak bicara,” tukas Ji-sia marah, “mau bunuh aku, silakan sekarang juga turun ta-ngan!”

“Belakangan ini kebanyakan orang muda me-mang sok sombong dan takabur, bila tidak kuberi sedikit hajaran mungkin kalian masih tak tahu ting-ginya langit dan tebalnya bumi.”

Walaupun berkata dengan dingin, namun tak bisa menutupi suaranya yang merdu, bila ditinjau dari potongan tubuhnya maka dapat ditebak dia pasti seorang perempuan setengah umur yang can-tik, tapi ucapannya jumawa sekali. Sejak mula sampai sekarang Lamkiong Giok selalu berusaha menebak asal-usul perempuan ini, tapi tetap tak tahu siapa gerangan orang ini? Me-nurut perkiraannya perempuan ini pasti bukan jago persilatan yang sudah termashur.

Ji-sia jadi gusar mendengar perkataannya tadi, segera ia menjengek, “Kalau begitu biar aku orang she Bok menjajal dulu kepandaian saktimu.”

Sembari bicara Ji-sia terus menyusup ke sam-ping perempuan aneh itu. Belum sempat anak muda itu melancarkan se-rangannya, mendadak perempuan itu telah menda-hului mengayunkan telapak tangan kirinya ke depan. Ji-sia memang keras kepala dan tinggi hati, se-gera pula telapak tangan kirinya menyambut datang-nya serangan tersebut dengan keras lawan keras. Ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling bentur di udara, terjadilah ledakan keras, Ji-sia ter-dorong tiga langkah ke belakang, sementara perem-puan aneh itu masih tetap berdiri tenang di tempat semula. Diam-diam Ji-sia terkejut, dia tidak mengira dia bisa dipaksa mundur dalam sekali gebrakan, nyata ia tidak tahu kalau musuh hanya mengguna-kan tenaga dua bagian saja.

Sambil tertawa dingin, perempuan aneh itu berseru, “Pukulanmu memang cukup tangguh, se-karang terimalah satu pukulanku lagi!”

Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan dia melancarkan tutukan ke depan. Ji-sia memutar tangan kanan untuk menangkis datangnya tutukan itu dengan keras lawan keras.

“Blang!” benturan keras kembali terjadi.

Dalam serangan ini, perempuan aneh itu kem-bali mempergunakan tenaga sebesar dua bagian saja tapi kali inipun Ji-sia hanya merasakan kedua ba-hunya bergetar keras. Pada kesempatan baik itu tiba-tiba Ji-sia menerjang maju, telapak tangan kiri terus menghantam dada lawan.

Serangan ini bukan saja mengandung kekuatan yang dahsyat, juga membawa perubahan gerakan yang  tak terduga. Menyaksikan serangan itu, perempuan aneh itu terperanjat, dia tak menyangka anak muda itu mempunyai jurus serangan seaneh dan setangguh ini, tangan kirinya cepat menyambar ke bawah un-tuk mencengkeram pergelangan tangan Ji-sia.

Gerak serangan ini sungguh aneh dan jauh di luar peraturan jurus serangan umumnya. Ji-sia mendengus, telapak tangan kirinya tiba-tiba berubah gerakan di tengah jalan, pergelangan tangan berputar, kelima jarinya dibentangkan dan berbalik mencengkeram pergelangan tangan lawan. Perempuan aneh itu menjerit kaget, tiba-tiba sikut kirinya menyodok ke bawah, sementara kelima jari tangan terus menggeser, iapun balas menceng-keram urat nadi Ji-sia. Air muka Ji-sia berubah, suatu pukulan kilat segera dilancarkan dengan tangan kanan….

Tapi bersamaan waktunya, perempuan aneh itupun mengayun tangan kanan menyambut datang-nya pukulan itu.

“Blang!” benturan keras terjadi pula, Ji-sia merasakan darah dalam dadanya bergolak, tubuh ikut bergetar sehingga berputar satu lingkaran. Pada kesempatan berputar inilah, Ji- sia meng-angkat kaki kanan dan mendepak lutut lawan. Tendangan ini cukup keji dan aneh, baru se-karang perempuan aneh itu merasakan kehebatan musuh, sambil tertawa dingin ia berseru, “Mundur kau dari sini!”

Kaki kanannya tiba-tiba menghantam sisi kaki kanan Ji-sia, sehingga anak muda itu tergetar mun-dur. Lamkiong Giok terperanjat, sebab walaupun kedua orang itu cuma saling gebrak dua jurus, tapi perubahan dalam jurus itu terdiri dari beberapa ge-rakan lain, semuanya merupakan jurus sakti  yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, terutama sekali tendangan terakhir perempuan aneh itu, ia me-nyerang lebih lambat, tapi tiba pada sasaran lebih duluan. Tendangan aneh ini sungguh membuat orang tidak habis heran. 

Ketika didesak mundur berulang kali, Ji-sia jadi gusar, segenap kekuatan dihimpun pada tangan kanan, lalu didorong ke depan. Perempuan aneh itupun menggerakan tangan kanan dan pelahan mendorong…..

Supaya diketahui, dalam pertarungan antara sesama jago lihai, setiap gerak tangan maupun kaki bisa jadi mendatangkan kematian bagi musuh. Di tengah dorongan kedua orang itu terkandung ke-kuatan yang maha dahsyat, seandainya kekuatan itu tidak saling membentur, hakikatnya orang lain tak dapat melihatnya dengan jelas. Tiba-tiba di antara kedua orang itu berhembus lewat segulung angin, sekali lagi Ji-sia tergetar mun-dur sejauh beberapa langkah. Ji-sia mendengus, mendadak kedua telapak ta-ngannya didorong lagi ke depan. Ternyata sesudah melancarkan pukulan tadi, tiba-tiba Ji-sia merasakan hatinya berdebar keras, ia merasa tenaga tekanan musuh sedemikian besarnya bagaikan ombak mendampar dan sukar ditahan.

Maka dalam serangan berikutnya dia telah ser-takan segenap tenaga dalamnya, kekuatan ini sung-guh sangat mengerikan. Ketika memukul mundur Ji-sia kali ini, pe-rempuan aneh itu telah mempergunakan tenaganya sebesar tiga bagian, tapi sesudah terjadi benturan, ia merasa terkejut sekali, tak disangkanya pihak lawan yang muda itu ternyata memiliki tenaga da-lam sesempurna itu.

Sementara ia masih tercengang, Ji-sia telah mendorong lagi kedua telapak tangannya ke depan, ia tetap mempergunakan tenaganya sebesar tiga bagian. Mendadak tubuhnya bergetar keras, ternyata tenaga yang digunakan lawan jauh lebih kuat be-berapa bagian dibandingkan serangan sebelumnya, cepat tenaga telapak tangan kanannya dikerahkan menjadi empat bagian, dan dapat menahan serangan Ji-sia dengan sama kuat.

Rupanya nasibnya mujur, perempuan aneh itu berhasil mendapatkan kedua pil Ji-khi-kun-goan-sin-wan, tenaga dalamnya sekarang telah men-capai dua kali enam puluh tahun hasil latihan, menurut perkiraannya, dengan kekuatan tersebut ia bisa menjagoi dunia persilatan dan membalas sakit hatinya, siapa tahu sekarang berjumpa dengan pe-muda semacam Bok Ji-sia, yang terbukti sanggup menahan empat bagian tenaga pukulannya.

Dalam kejut dan gusarnya dia membentak, te-lapak tangan kanan menghantam pula, kali ini te-naga dalamnya dari empat bagian ditingkatkan menjadi lima bagian. Ji-sia menjerit tertahan, ia terpental sejauh beberapa tombak dan muntah darah, ia sempoyo-ngan lalu jatuh terduduk.

Buru-buru Lamkiong Giok dan Tong Yong-ling memburu ke depan, dengan kuatir nona itu berseru, “Bok-siangkong, parah….parahkah luka-mu?….”

“Isi perutnya telah terluka cukup parah,” pe-rempuan aneh itu berkata dengan suara dingin, “bi-la banyak bicara, niscaya lukanya akan bertambah parah, bahkan kemungkinan besar akan menemui ajalnya.”

Lamkiong Giok segera berpaling dan memper-hatikan Ji-sia, dilihatnya napas Bok Ji-sia berjalan teratur dan wajahnya tetap seperti biasa, pada ha-kikatnya sama sekali tidak menderita luka parah, hal mana membuatnya terperanjat sekali.

“Kenapa seaneh ini kepandaian silatnya?” de-mikian ia berpikir, “ia betul-betul punya ilmu simpanan yang menakutkan, kalau tidak, kenapa sece-pat ini lukanya bisa sembuh? Bila tidak dilenyap-kan sekarang, di kemudian hari aku pasti bukan tandingannya…….”

Berpikir demikian, pelahan dia menghampiri anak muda itu, katanya, “Parah sekali luka yang diderita Bok-heng biar kubantumu mengatur tenaga.”

Telapak tangan kanannya yang telah meng-himpun pelan- pelan ditempelkan pada punggung Ji-sia.

“Minggir kau!” tiba-tiba perempuan aneh itu membentak, segulung angin lembut memaksa Lam-kiong Giok tergetar mundur dua langkah ke be-lakang.

Pada saat itulah, tiba-tiba Ji-sia membuka ma-tanya sambil bangkit berdiri, dengan gusar bentak-nya, “Sambut lagi pukulanku ini!”

Telapak tangan kanannya menyodok langsung ke depan dengan kuat. Perempuan aneh itu terkejut oleh tingkah laku Ji-sia yang sangat aneh itu, dia mengira anak mu-da itu sengaja main gila untuk menakuti saja. Tapi perempuan aneh itu segera merasakan keadaan tidak beres, tenaga pukulan yang kuat selapis demi selapis bagai gelombang samudra menggulung tiba dengan hebatnya. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa tenaga dalam Ji-sia dapat pulih da-lam waktu sesingkat ini, bahkan kekuatannya ber-tambah besar.

Dalam keadaan tidak siap, tahu-tahu pukulan dahsyat itu sudah mendampar tiba, berada dalam keadaan demikian buru- buru dia mengayun telapak tangan kirinya ke depan. Tapi serangan Ji-sia betul-betul dahsyat, sisa kekuatan memaksa perempuan itu tergetar mundur setengah langkah, sementara Ji-sia sendiri juga ter-getar mundur dua langkah.

Kejadian ini mengobarkan amarah perempuan aneh itu, tiba-tiba ia mendongak dan tertawa menyeramkan………

Lamkiong Giok cukup cerdik, begitu mendengar suara tertawa itu, ia tahu musuh mulai kalap, ce-pat serunya, “Nona Tong, saudara Bok, lekas ke-luar dari kuburan ini!”

Sambil bicara segera ia mendahului melompat ke atas undak-undakan batu di tengah kuburan itu. Tapi perempuan aneh itu bertindak cepat, be-tapa ia tidak membiarkan musuh kabur begitu saja.

“Tinggalkan dulu nyawamu!” bentaknya.

Ji-sia dan Tong Yong-ling telah siap untuk ka-bur dari situ demi mendengar peringatan Lamkiong Giok, tapi ketika mendengar kata-kata jumawa la-wan, hatinya jadi panas, ia menghentikan tubuhnya dan menatap tajam-tajam perempuan aneh itu.

Perempuan aneh itu membentak, tiba-tiba te-lapak tangan kiri diayun ke depan, segulung tenaga pukulan berhawa lembut secepat kilat menyambar punggung Lamkiong Giok yang sudah berada cukup jauh dan akan melompat keluar liang kubur ter-sebut, tapi angin tajam itu telah menyusul tiba di belakang tubuhnya, ia tahu serangan orang amat lihai, terpaksa dia berkelit ke samping, secara ber-untun telapak tangan kanannya melepaskan empat kali pukulan berantai.

Serangan ini amat cepat dan luar biasa, mem-buat orang sukar menebak berapa kali serangan yang telah dilancarkan. Baru saja keempat kali serangan itu dilepaskan, tiba-tiba Lamkiong Giok merasakan datangnya te-naga pukulan yang amat tajam langsung menumbuk tubuhnya, ia terperanjat, telapak tangan kiri segera menahan ke depan.

Ketika sampai setengah jalan, tiba-tiba seperti anak panah terlepas dari busurnya Lamkiong Giok meluncur keluar kuburan.

Menyaksikan kejadian tersebut, perempuan aneh itu mendengus dan berseru, “Anak muda, aku telah tertipu, rupanya ilmu silatnya paling tinggi!”

Kemudian sambil berpaling ia membentak lagi, “Anak dungu, kau benar-benar tak sayang nyawamu lagi?”

Di tengah bentakannya perempuan aneh itu mengayunkan telapak tangan kanan ke depan, se-gulung angin segera meluncur ke arah Ji-sia.

“Bagus sekali!” bentak Ji-sia, “ingin kulihat dengan mengandalkan apa kau berani sejumawa ini!”

Suatu pukulan dilancarkan pula dengan telapak tangan kanan, angin menderu dan menggulung tu-buh perempuan aneh itu. Anehnya serangan Ji-sia ini tidak menumbuk serangan yang dilancarkan lawan, tapi langsung menghantam tubuh perempuan aneh itu. Perempuan itu mengebaskan telapak tangan kiri, lalu mendengus tertahan, tubuhnya bergetar dan mundur tiga-empat langkah dengan sempoyongan.

Jelas tak enteng lukanya termakan oleh serang-an Ji-sia ini, tapi dengan demikian justeru telah membangkitkan napsu membunuhnya terhadap pe-muda itu. Sesungguhnya perempuan aneh ini tidak ber-maksud mencelakai Ji-sia, bahkan beberapa kali menolongnya secara diam-diam, tapi serangan yang dilontarkan untuk memunahkan serangan gelap Lamkiong Giok pada Ji-sia itu telah disalah tanggap oleh Ji-sia, malahan Ji-sia sempat menghantam pe-rempuan itu.

Maka setelah menegakkan tubuhnya, sambil tertawa dingin perempuan aneh itu berseru, “Kalau kau ingin mencari kematian sendiri, jangan salahkan aku akan bertindak keji!”

Bagaikan hantu ia terus menerjang maju de-ngan cepat.

Tiba-tiba Tong Yong-ling berteriak, “Cici, ha-rap ampuni jiwanya, semua ini hanya salah paham saja.”

Waktu itu perempuan aneh sudah berada di depan Ji-sia, ketika mendengar seruan tersebut, de-ngan cepat ia menarik kembali serangannya. Ji-sia tidak menyiakan kesempatan itu, demi dilihatnya perempuan itu menerjang tiba, tanpa bi-cara ia melancarkan pukulan ke dada lawan.

Perempuan aneh itu mendengus, secepat kilat iapun menghantam menyongsong ancaman Ji-sia. Dua gulung tenaga kembali saling bentur dan menerbitkan angin topan, Ji- sia mendengus tertahan dan tergetar mundur tiga langkah, lalu jatuh ter-duduk di atas undak2an batu. Tapi begitu jatuh terduduk pemuda itu lantas melompat bangun lagi dan melepaskan pukulan dahsyat ke depan.

Perempuan aneh itu melengak, ia tak menyang-ka orang sedemikian aneh, seakan2 semua luka yang dideritanya segera sembuh kembali dalam se-kejap, bahkan tenaga serangannya makin lama se-makin kuat.

Ia berkelit ke samping, lalu dengan jurus Peng-ho-kay-tong (sungai es mulai membeku) ia balas hantam dari samping.

Tangan kiri Ji-sia menerobos dari bawah untuk menyambut serangan dari perempuan itu, tubuh bergetar pula, tapi dengan cepat ia menerjang maju lagi. Gerak tubuh yang aneh ini membuat kejut pe-rempuan aneh itu, dia merasa gerakan berputar itu sedemikian saktinya sehingga setiap jurus serangan yang dipelajarinya dari kitab Hian-ki-hian-ciang-pit- tik tak sanggup membendung gerak maju anak mu-da itu.

Sesudah menerjang maju, Ji-sia mendorong ke-dua tangannya ke depan, tangan kiri dan jari ka-nan menyerang bersama, dalam waktu singkat ia melepaskan lima kali pukulan dan empat kali tutukan.

Kelima pukulan dan keempat kali tutukan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan amat keji, semua tertuju pada jalan darah kematian. Sayangnya orang yang diserang memiliki ke-pandaian setingkat lebih tinggi, bukannya mundur, perempuan aneh itu malahan maju, kedua telapak tangannya bergerak berulang dan memunahkan se-mua pukulan maupun tutukan anak muda itu.

Semua gerakan dan jurus serangan perempuan itupun jurus sakti yang sukar diduga, hal ini mem-buat Ji-sia merasa amat kagum, ia tahu sekalipun dirinya berlatih sekian waktu lagi juga belum bisa menandingi lawannya, semangat tempurnya menjadi kendor dan iapun berhenti menyerang.

Perempuan aneh itu tertawa dingin, katanya tiba-tiba, “Sekarang tiba giliranku untuk melancar-kan tiga kali serangan!”

Segera ia menerjang maju, tangan kiri menya-pu dan tangan kanan menyodok ke depan. Ji-sia merasakan di balik serangannya tersebut banyak terkandung gerak perubahan yang aneh, un-tuk sesaat ia tak berhasil menemukan cara peme-cahannya, karena tak berani menyambut dengan ke-kerasan, maka cepat ia menyingkir ke samping.

Perempuan aneh itu kembali tertawa dingin dan berkata, “Kau orang yang tahu diri, kenapa tidak kau sambut seranganku ini? Hmm, serangan ke-dua ini tanggung tidak  bisa kau hindari lagi!”

Segera telapak tangan kirinya melancarkan ge-rak tipu ke udara, sementara tangan kanan dengan mengepal  melepaskan pukulan keras lurus ke dada. Ji-sia tertegun, ia merasa serangan ini belum pernah dilihatnya, lamat-lamat ia merasa di balik kelima jari tangan yang mengepal itu terkandung jurus mematikan yang sangat lihai.

Cepat ia melayang mundur ke belakang………

Siapa tahu pada saat itu tangan kiri orang yang melakukan gerak tipuan tiba-tiba menekan ke bawah, kelima jarinya dipentangkan, dari pu-kulan berubah menjadi cengkeraman. Perubahan jurus itu sungguh aneh sekali, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ji-sia sudah kena dicengkeramnya.

Ji-sia masih ingat ilmu menutuk Hiat-to ajaran Oh Kay-gak, walaupun nadi pada pergelangan ta-ngan kanan kena dicengkeram, hal itu tidak mem-pengaruhi kemampuannya untuk mengerahkan te-naga, sambil mendengus, telapak tangan kirinya segera menghantam dada perempuan aneh itu.

Perubahan gerakan ini dilakukan dengan cepat sekali. Perempuan aneh itu kembali tertegun melihat Ji-sia sama sekali tidak terpengaruh meski nadinya tercengkeram, tangan kirinya segera menariknya ke samping, sementara tubuhnya berputar dan ber-geser ke samping kanan anak muda itu, dengan de-mikian tubuhnya telah menempel rapat dengan tubuh Ji-sia.

“Sekarang kau boleh mati tanpa menyesal!” katanya sambil tertawa dingin.

Telapak tangan kanannya segera diangkat dan siap menghantam ubun-ubun kepala pemuda itu….

“Lepas tangan!” bentakan nyaring tiba-tiba menggelegar. Mendadak Tong Yong-ling melolos pedang Bwe-hoa-sian- kiam, cahaya tajam segera menerangi wajah Bok Ji-sia….

Perempuan aneh itu menjerit kaget……..tangan-nya yang mencengkeram pergelangan tangan kiri Ji-sia segera mengendur dan telapak tangan kanan yang siap menghantam ubun-ubun mendadak miring ke samping, jari telunjuk dan jari tengahnya melingkaran terus menyelentik.

Gerakan tersebut dengan tepat berhasil menjen-tik pedang Tong Yong-ling. Tapi cepat ia lepas tangan dan melompat mundur dengan tubuh meng-gigil, sayang suasana gelap sehingga Ji-sia dan Yong-ling tak dapat melihat jelas wajahnya.

Andaikata mereka dapat melihat wajahnya, maka akan terlihat titik air mata jatuh bercucuran….Dan hatinya pun mencucurkan darah.

Dalam hati ia berpekik dengan pedih, “Ah…..dia anak Sia…..dia anak Sia..……Ternyata ia be-lum mati. Oh. Thian! Ternyata iapun berhasil me-miliki kepandaian yang sakti.”

Seluruh benaknya dipenuhi oleh kejadian yang memilukan hati di masa lampau…….

Ji-sia tidak menyangka secara tiba-tiba orang membatalkan serangannya, dengan dingin tegurnya, “Kenapa kau tidak melanjutkan seranganmu yang keji?”

Terdengar helaan napas panjang, menyusul de-ngan suara yang memilukan hati perempuan aneh itu berkata, “Ce….cepat kalian keluar dari sini….”

Tong Yong-ling tertegun mendengar suara la-wan yang agak gemetar, tanyanya dengan lembut, “Cici, siapakah kau?”

“Kalian tak usah tanya siapa diriku, cepat….cepat keluar dari sini…..” Ji-sia benar-benar tak tahu siapa perempuan itu,  perubahan yang terjadi tiba-tiba ini membuat-nya bingung, apalagi teringat akan ilmu silat orang yang lihai, tanpa terasa anak muda itu menghela napas.

“Nona Tong, marilah kita pergi!” katanya lirih.

Tanpa membuang waktu ia putar badan dan keluar dari kuburan itu diikuti Tong Yong-ling di belakang….

Tiba-tiba dari dalam kuburan berkumandang suara perempuan aneh itu, “Dunia persilatan penuh dengan tipu muslihat dan kekejian, kalian harus bertindak lebih waspada. Nona Tong, hendaknya kau jaga dia baik-baik.”

Perkataan itu sedemikian lembutnya, sama se-kali tidak lagi bernada dingin seperti yang diper-dengarkan tadi, bahkan nadanya penuh perasaan kuatir dan penuh perhatian.

Heran Tong Yong-ling oleh ucapan tersebut, sahutnya, “Terima kasih atas perhatian Cici, aku mengerti, kau ”

Sebenarnya dia ingin tanya siapakah dia, tapi perempuan aneh itu segera memotong perkataannya, “Cukup, sekarang kau boieh pergi dari sini!”

Tong Yong-ling benar-benar tak mengerti, se-kalipun ia pintar, akhirnya dibikin bingung juga oleh perubahan yang aneh dan tak terduga itu. Se-jak masuk ke dalam kuburan tadi ia sudah merasa-kan berulang kali Lamkiong Giok bermaksud mem-bunuh Bok Ji-sia, tapi berulang kali ditolong oleh perempuan aneh itu, ia sudah merasa perempuan aneh itu memang tiada maksud untuk mencelakai Ji-sia.

Tapi ucapan Ji-sia yang terlalu kasar, akhirnya membangkitkan napsunya untuk membunuh, tapi pada serangan terakhir tadi, tiba-tiba ia mundur se-cara mendadak, agaknya perasaannya mengalami pergolakan keras…….

Satu ingatan dengan cepat terlintas dalam be-nak nona ini. “Jangan2 perempuan ini adalah bekas kekasih Bok Ji-sia?” demikian pikirnya, “Kalau tidak, me-ngapa bisa terjadi hal aneh ini? Bukankah sejak mula ia selalu tanya namanya…..?”

Berpikir sampai di sini, timbul rasa sedih dan kecewa dalam hatinya, ia menghela napas dan ikut di belakang Ji-sia keluar dari kuburan itu.

Baru saja akan melangkah keluar kuburan, ti-ba-tiba dari depan berhembus tenaga pukulan yang membendung jalan keluar mereka. Ternyata kawanan jago persilatan yang berada di luar kuburan masih tetap belum pergi, mereka masih berdiri mengitari kuburan, ketika melihat Ji-sia dan Tong Yong-ling berjalan keluar, serentak mereka lancarkan pukulan dahsyat.

Selagi Ji-sia merasa bingung, dari dalam ber-kumandang suara perempuan aneh tadi, “Boleh ka-lian melompat ke kiri- kanan mulut kuburan…….”

Melihat pukulan musuh yang sangat kuat itu, maka tanpa pikir panjang mereka menurut dan me-lompat ke kiri dan kanan sambil melancarkan pukulan. Pada saat mereka melompat ke samping, dari dalam kuburan menggulung keluar pula desing angin yang memunahkan serangan kuat kawanan jago persilatan di luar itu.

Tak terlukiskan rasa kejut kawanan jago per-silatan itu melihat perempuan dalam kuburan itu membantu Bok Ji-sia. Mendadak menyambar lagi angin tajam dari dalam liang kubur itu. Beberapa kali jeritan ngeri bergema, belasan orang tewas seketika dalam kea-daan mengerikan.

Suasana menjadi gempar, kawanan jago sama melompat mundur keluar ruangan itu. Dengan suatu gerak cepat Ji-sia dan Yong-ling segera melompat menuju ke ruang tengah.

Dengan sinar mata tajam Ji-sia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian membentak, “Siapakah yang menyergap kami berdua?” Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat mengelus jeng-gotnya dan tertawa terbahak-bahak, “Hahaha……sau-dara Bok,  sahabatmu sendiri yang membangkitkan semangat orang banyak untuk menyerangmu!”

“Sahabatku siapa?” tanya Ji-sia. Dalam pada itu Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang tiba-tiba menyusup ke belakang Ji-sia, kesepuluh jarinya terentang lebar dan secepat kilat mengancam bagian jalan darah penting di punggung anak muda itu.

“Saudara Bok, awas sergapan dari belakang!” mendadak Lamkiong Giok berteriak.

Dengan suatu lompatan cepat ia menerjang maju sambil melancarkan pukulan ke tubuh Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang.

Gusar sekali Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang karena Lamkiong Giok menggagalkan serangannya yang nyaris merenggut jiwa lawan itu, teriaknya keras, “Bagus sekali Lamkiong Giok! Ternyata kau ma-lah membantu musuh untuk memusuhi kami, kau betul-betul tidak bersahabat.”

“Saudara Hou jangan salah paham” sahut Lamkiong Giok sambil tertawa tergelak, “sesungguh-nya aku justeru telah menolong jiwamu!”

Ji-sia merasa berterima kasih kepada Lamkiong Giok atas bantuan yang diberikan, mendengar per-kataan itu katanya kepada Eng-jiau-jiu sambil ter-tawa dingin, ‘Terus terang kuberitahukan padamu, andaikata Lamkiong Giok tidak menyerangmu, se-jak tadi kau sudah mampus di bawah serangan balasanku!”

Lamkiong Giok tersenyum, sambungnya, “Sau-dara Hou, sekarang tentunya kau percaya maksud baikku bukan?”

Mendengar perkataan itu, Eng-jian-jiu jadi bi-ngung hingga untuk sesaat termangu. Padahal Lamkiong Giok berbuat demikian lantaran kuatir Oh Ku-gwat menunjukkan bahwa dia yang menganjurkan agar semua orang turun tangan membunuh Bok Ji-sia. Oleh karena itu dia pura-pura memukul mundur Eng-jiau-jiu agar rasa curiga Bok Ji-sia terhadapnya bisa dihilangkan. Sebab menurut per-hitungannya, lebih baik bermusuhan dengan Eng-jiau-jiu daripada memusuhi Bok Ji- sia, siapa tahu tindakannya itu justeru malah mendatangkan dua hasil sekaligus.

Oh Ku-gwat tertawa dingin, katanya, “Sungguh mengagumkan, Lamkiong Hian boleh berbangga karena mempunyai seorang anak pintar seperti kau….”

Ji-sia masih menaruh dendam kepada Oh Ku-gwat karena nyaris terbunuh dalam Thian-seng-po tempo hari, ia lantas mendengus dan bentaknya, “Oh Ku-gwat, utang-piutang kita sudah sepantasnya di perhitungkan sekarang!”

Sambil menghimpun tenaga dalam ia melepas-kan pukulan dahsyat ke arah Oh Ku-gwat.

Kakek kosen di belakang Oh Ku-gwat tertawa dingin, kedua tangannya mendorong ke depan, de-ngan pukulan dahsyat menyambut serangan Ji-sia itu.

Ji-sia bertambah gusar setelah mengenali kakek cebol yang bersekongkol dengan Oh Ku-gwat untuk menjebaknya dulu, semua kemarahan segera dilimpahkan kepadanya.

Sambil menghimpun segenap tenaga dalam, dia membentak, “Bangsat, kau cari mampus!”

Pukulan dahsyat dilontarkan, telapak tangan kanan membacok tubuh kakek cebol itu. Sungguh hebat serangan yang dilancarkan da-lam keadaan gusar, apalagi setelah memperoleh ke-majuan pesat. Suatu benturan keras terjadi, kakek cebol itu kontan terpental tujuh-delapan langkah.

Sementara itu kawanan jago Thian-seng-po pelahan bergerak maju mendekati Ji-sia dan Yong-ling. Cian-ciau-tocu, singa baja bercambang dengan memimpin anak buahnya juga mengurung sekitar tempat itu, menyusul juga bergerak Hek- to-sam-koay.

Suasana menjadi tegang, dalam keadaan seperti ini, keadaan Ji-sia amat gawat, suatu pertarungan sengit segera akan terjadi. Kakek cebol yang dipaksa mundur oleh Ji-sia itu membentak marah, ia melambung ke udara, bagaikan seekor burung elang menubruk ke arah anak muda itu.

“Jangan gugup saudara Bok, aku datang membantumu!” tiba-tiba Lamkiong Giok berteriak.

Tangan kanannya dikebaskan ke muka, empat jalur sinar secepat kilat menyambar batok kepala Bok Ji-sia.

Dengan rasa kaget Tong Yong-ling berseru, “Lamkiong Giok, kau… ”

Ketika Ji-sia melihat si kakek cebol itu me-nerjang datang, secepatnya ia bergeser ke samping, maka keempat bilah pedang terbang Lamkiong Giok pun menyambar lewat ke belakang kepalanya dan langsung menyambar tubuh kakek cebol itu.

Jerit kesakitan berkumandang, darah berham-buran, batok kepala kakek cebol itu terpenggal pu-tus dan menggelinding oleh sambaran keempat pe-dang terbang itu, tentu saja nyawanya melayang seketika. Empat jalur sinar tajam tadi berputar setengah lingkaran lalu melayang kembali ke dalam lengan baju Lamkiong Giok.

Ji-sia makin berterima kasih melihat Lamkiong Giok membantunya berulang kali, dengan suara lan-tang dia berseru, “Lamkiong Giok, demi memban-tuku kau tak segan- segan bermusuhan dengan Thian-seng-po, kebaikan ini sungguh membuatku terharu.”

Belum habis dia berkata, tiba-tiba desing ang-in tajam kembali menerjang datang dari belakang. Ji-sia menghimpun tenaga dan berdiri sekuat tonggak, lalu putar badan dan disambutnya serang-an tersebut dengan keras lawan keras, ketika ia me-mandang ke sana, kiranya Oh Ku-gwat yang sedang menyerang dirinya dan Lamkiong Giok dengan ta-ngan kiri dan kanan.

Lamkiong Giok juga berkelit ke samping menghindarkan serangan Oh Ku-gwat itu, kemudian sam-bil tertawa katanya kepada Ji-sia, “Dunia persilatan adalah tempat orang beradu akal, tipu muslihat yang lebih licin akan lebih baik, tapi kulihat saudara Bok seorang jujur dan berjiwa besar, sejak perke-nalan semalam aku sudah merasa cocok denganmu, asal saudara Bok tidak keberatan, kita tak perlu lagi membedakan kau atau aku, apalagi antara Thian-seng-po dengan Kiam-hong-ceng memang sudah ter-ikat permusuhan.”

Semakin tertarik Ji-sia oleh ucapan itu, kata-nya dengan terharu, “Saudara Lamkiong, sungguh beruntung Siaute dapat bersahabat denganmu, cinta kasihmu itu pasti akan kuingat selalu.”

Diam-diam Lamkiong Giok merasa girang se-kali, sebab bantuan anak muda ini jauh lebih ber-harga daripada Hek-to- su-koay, apalagi Tok-sim-siusu Bu Yan-hong telah tewas. Segera Lamkiong Giok berseru lantang, “Sau-dara Bok, mulai sekarang kita akan bekerja sama untuk menghadapi musuh yang bandel, terjang dulu kepungan dan kemudian baru berunding lagi tindak-an selanjutnya.”

“Lamkiong Giok?” Kui-tau-kou Tu Leng-mo tertawa seram, “apakah kau hendak membatalkan janji kita semula?”

Saudara Tu, kenapa kau berkata demikian? Tak pernah kubatalkan janji kita, malahan saudara Tu sekalian yang justru tidak pegang janji kita semalam untuk bersama-sama menghadapi Thian-seng-po…..” Dalam pada itu Oh Ku-gwat menjadi murka karena pembantu setianya tewas di tangkap Lam-kiong Giok, ia telah menubruk ke samping pemuda itu, dengan tiga jari segera ia menutuk jalan darah penting di tubuh Lamkiong Giok.

Sambil menyerang Oh Ku-gwat berseru, “Sau-dara Bengcu dari Holam, Shoatang dan Oupak, selamanya kami Thian- seng-po tak ada ganjalan apa-apa dengan kalian, buat apa kalian memusuhi kami? Sifat Lamkiong Giok kini sudah kalian ke-nal, lebih baik kita bekerja sama saja untuk  mem-binasakan mereka.”

Lamkiong Giok yang diserang merasa terkejut, “Sungguh dahsyat tenaga jari tangannya!”

Ia berkelit ke samping, dengan jurus To-coan-im-yang (memutar balikan im dan yang) dia balas menyerang, langsung ia cengkeram urat nadi tangan Oh Ku-gwat.

Tiba-tiba Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang dari Hek-to-sam-koay tertawa seram, serunya lantang, “Sau-dara Tu, saudara Ki, mari kita membinasakan me-reka!”

Sambil berseru, Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang men-dahului mencengkeram punggung Lamkiong Giok dengan cakar setannya.

Ji-sia mendengus, cepat ia berputar, de-ngan suatu gerakan aneh iapun mencengkeram pergelangan tangan Eng- jiau-jiu.