Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 04

Jilid 04

Ji-sia berkata, “Nama besar Thian-seng-po sungguh tidak omong kosong, di mana-mana penuh dengan bahaya maut, pantas orang yang masuk ke benteng ini tak seorangpun yang bisa keluar dengan selamat, coba kalau aku tidak memperoleh budi kebaikan Oh Kay-gak, mungkin sudah sejak tadi mampus dalam benteng ini.” Berpikir sampai di sini, tak tahan ia menghela napas panjang.

Tiba-tiba Yong-ling berseru dengan kualir, “Bok-siangkong, kita harus cepat menuju ke ruang-an sebelah selatan, mungkin di sana tiada alat jebakan.”

Siapa tahu, pada saat itulah dari liang permu-kaan lantai itu mendadak menyembur keluar puluh-an jalur panah air yang memancur ke empat pen-juru dan menyiarkan bau busuk. Air itu terpancur ke udara, dan berbenturan di atas, lalu menimbulkan percikan air yang deras berhamburan ke setiap sudut ruangan itu.

Air muka Bok Ji-sia maupun Tong Yong-ling berubah hebat, dengan cepat mereka melompat ke pojok dinding sebelah atas, telapak tangan me-reka menghantam hingga menimbulkan daya tolak yang kuat untuk menghalau percikan air.

Rupanya air yang mancur keluar itu mengan-dung racun yang jahat, baunya busuk dan memualkan. Untung air beracun yang menyembur keluar itu tidak banyak jumlahnya dan hanya sekali saja. Kendatipun demikian, setiap inci ruangan itu sudah dibasahi oleh air beracun. Ji-sia dan Yong- ling sangat terkejut, untung reaksi mereka cukup cepat, coba kalau tubuh me-reka terkena air racun itu sedikit saja, niscaya ku-lit tubuh akan mhembusuk.

Bau busuk air beracun itu makin lama sema-kin tebal, walaupun kedua orang itu memiliki te-naga dalam yang cukup sempurna, lama kelamaan tak tahan juga. Sepasang muda- mudi itu merasakan kepala se-akan-akan membengkak besar dan isi perut seperti dikocok hingga mau tumpah rasanya.

Ji-sia segera mengajak, “Nona Tong, lekas ki-ta ke sana!” “Ruangan  sebelah  selatan  tidak  pasti  bebas  da-ri  alat

jebakan,   kau   harus   hati-hati”   Yong-ling memperingatkan, “kalau ingin menyeberang ke sana, bergeraklah dengan cepat, kalau tidak, mungkin ki-ta akan gagal menhembusnya!”

Begitu selesai berkata, dengan kecepatan luar biasa kedua orang itu melompat ke sana, karena kuatir menyentuh alat jebakan, maka kali ini me-reka menyeberang dengan melompat. Pada saat itulah mendadak kedua orang itu me-rasakan suara pelahan di atas kepala, cepat mereka menengadah, tampak cahaya putih berkilauan me-nyambar dari atas, satu baris pisau tajam tahu-tahu jatuh ke bawah.

Kedua orang itu terkejut, sambil membentak mereka meluncur turun ke bawah, baru saja kaki mereka menempel lantai, barisan pisau tajam itu tinggal tiga kaki di atas kepala mereka. Buru-buru kedua orang itu menggelinding ke samping untuk menghindar.

“Blang!” diiringi bunyi yang keras, barisan pi-sau tajam itu menancap di atas lantai dan memisahkan ruangan itu dengan ruangan tengah di se-belah sana. Seandainya Ji-sia berdua sedikit terlam-bat saja untuk menghindar, niscaya kedua orang itu sudah tewas di ujung barisan pieau. Ketika mereka melompat bangun dan melihat barisan pisau tajam itu telah memisahkan ruangan ini dengan ruangan lainnya, diam-diam mereka ber-syukur terlepas dari renggutan elmaut.

“Untung kita sudah sampai di sini” kata Yong-ling dengan tersenyum, “coba kalau kita terkurung dalam ruangan itu, melulu bau busuk air beracun itu saja bisa bikin celaka kita.”

Ji-sia merasa alat rahasia dalam Thian-seng-po terlampau keji dan berbahaya, katanya setelah meng-hela napas panjang, “Aii, seandainya hari ini tiada nona, mungkin sekali diriku sudah tewas oleh alat jebakan tersebut!”

Baru selesai berkata, mendadak suasana dalam ruangan itu menjadi terang benderang. Lalu berkumandang suara tertawa dingin, suara tertawa seram dan tak sedap didengar. Ji-sia  dan Yong-ling ingin sekali bisa bertemu dengan anggota benteng dan melabraknya habis-habisan untuk melampiaskan rasa dendam.

Maka begitu mendengar suara manusia, dengan alis bekernyit Bok Ji-sia menatap ke arah suara itu dengan sinar mata membara, katanya dengan ketus, “Keparat, kalau berani, tunjukkan dirimu! Buat apa main sembunyi macam kura-kura.”

Suara tertawa seram kembali berkumandang dari balik ruangan. Menyusul seseorang lantas berkata dengan na-da seram, “Nasib kalian memang lagi mujur, wa-laupun perangkap tadi dapat dihindari, jangan harap bisa lolos dari jebakan selanjutnya. Secara gegabah kalian berani datang ke sini, maka jangan harap bisa keluar lagi dengan selamat, kalau kalian ingin cepat-cepat mampus, raja akhirat tak akan menunda panggilannya menjelang pagi nanti.”

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, mendadak terdengar desing tajam, empat jalur sinar berwarna hijau dengan membawa angin tajam me-nyambar ke arah Ji-sia dan Tong Yong-ling.

Melihat datangnya ancaman, anak muda itu membentak, telapak tangan diayun ke depan. Berbeda dengan Tong Yong- ling yang lebih lu-as pengetahuan maupun pengalamannya, ia tahu betapa hebatnya senjata rahasia lawan, buru-buru teriaknya, “Bok….cepat menghindar!”

Di tengah seruan tersebut, ia melompat lebih dulu ke samping. Ji-sia terperanjat, cepat dia ikut menghindar ke samping.

“Sret! Sreet!” dua jalur senjata rahasia berwar-na hijau itu menyambar lewat di sisi tubuhnya.

“Trang! Trang….” empat kali dentingan nya-ring bergema, empat buah senjata rahasia menum-buk lapisan dingin baja di belakang sana. Lalu ter-dengar suara letusan perlahan, senjata rahasia itu meledak begitu membentur besi dan berubah men-jadi api hijau yang menyembur ke arah Bok Ji- sia.

Anak muda itu terperanjat, cepat ia menjatuh-kan diri dan bergelinding berulang kali sejauh be-berapa tombak dari tempat semula. Api hijau yang memancar keluar dari empat biji senjata rahasia tadi segera berkobar di atas ta-nah, kebakaran terjadi, segera api menjalar, dalam waktu singkat sekitar tempat itu sudah berubah menjadi lautan api.

Air muka Ji-sia berubah hebat, diam-diam ia bersyukur dapat lolos dari bencana itu, pikirnya, “Andaikata serangan itu kutabas dengan tenaga pukulanku, niscaya senjata rahasia tersebut akan me-ledak dan sedikit saja badanku terciprat api hijau itu, tamatlah riwayatku!”

Lantai tempat mereka berada sekarang adalah ubin hijau, api itu tidak menjalar pada benda lain. Air muka Tong Yong- ling agak berubah demi melihat kobaran api hijau itu, jeritnya terkejut, “Ah, peluru Pek-liok-han-hun-tan, (api hijau pembakar sukma)!”

“Hehe.., setelah tahu Pek-liok-han-hun-tan, tentunya kau juga tahu bahwa nyawamu akan ber-akhir pula di sini,” ejek orang tadi sambil tertawa seram.

Ji-sia marah sekali, bentaknya, “Bajingan te-ngik, kenapa bersembunyi dan main sergap? Begitu-kah perbuatan seorang jago dunia persilatan?”

“Hah…anak keparat, tidak perlu kau bicara soal peraturan dunia persilatan dengan kami. Hmm, pada-hal kalianlah yang tidak mempunyai keberanian un-tuk mencari kami, buat apa omong besar?”

Ucapan tersebut membangkitkan rasa murka Ji-sia, bentaknya geram, “Bangsat, aku bersumpah menghancur- lumatkan tubuh kalian!”

Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke ruangan itu….. Tong Yong-ling ikut berjalan mendampinginya dan berbisik, “Bok-siangkong, musuh kemungkinan adalah jago lihai golongan hitam yang termashur dalam dunia persilatan, Jim- lik-yu-leng-jit-kui (tujuh Setan gentayangan berwarna hijau)!”

“Hm, peduli dia setan atau hantu, kita harus menangkapnya dan ceburkan ke dalam minyak mendidih,” dengus Ji-sia.

Dengan suatu lompatan Ji-sia menerobos ma-suk ke dalam ruangan pertama, mendadak terdengar suara tertawa dingin, bayangan orang berkelebat lewat dan segulung angin tajam menyambarnya. Merasakan betapa dahsyatnya serangan itu, Ji-sia menjadi gusar, telapak tangan kanan dengan sejajar dada didorong ke depan. Bertarung di ambang pintu yang sempit ini, kecuali cara pertarungan keras lawan keras, sulit untuk berkelit atau menghindar ke samping, dengan kuat mendadak Ji-sia melepaskan suatu pukulan balasan…..

“Blang!” benturan keras terjadi, Ji-sia tergetar keluar pintu, darah dalam dada bergolak keras.

Ia sangat terkejut, dia tak mengira kekuatan pukulan musuh begitu lihai, mana dia tahu bahwa serangan itu dilancarkan oleh tenaga gabungan dua orang yang berniat membunuhnya dengan sekali pukul. Ji-sia adalah laki-laki keras kepala, ia maju lagi sambil menerjang, tapi segulung angin dahsyat kem-bali menyapu dari depan.

Melihat serangn musuh terlalu kuat, dengan mata melotot Ji-sia menghimpun tenaga, ia mun-dur setengah langkah, kedua telapak tangannya te-rus didorong ke depan. Walaupun reaksinya cukup gesit, tapi oleh ka-rena jarak kedua pihak terlalu dekat, dan lagi se-rangan itu datangnya sangat cepat, belum sampai kekuatannya terdorong ke depan, lebih dulu ia su-dah diterjang olah kekuatan besar itu hingga terjengkang ke belakang….. Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benak-nya. Ji-sia membentak keras, kedua telapak tangannya tiba-tiba berputar miring ke samping kemu-dian didorong pula sekuatnya.

“Wess! Wess!” angin puyuh mendampar ke de-pan.

Pada saat itulah Tong Yong-ling ikut bertin-dak, suatu pukulan dahsyat segera dilancarkan pula. Dua kali jerit kesakitan berkumandang, agak-nya pihak lawan termakan pukulan dahsyat itu sehingga terluka parah.

Secepat, kilat Ji-sia dan Yong-ling melompat ke dalam ruangan, tapi ruangan itu sudah kosong, mereka menjadi tertegun, diam-diam mereka meng-gerutu, “Sialan, benar- benar ketemu setan…..”

Ruangan itu kosong melompong tiada benda lain, hanya di atas dinding tergantung sebuah obor, sekalipun sinarnya tidak terang, tapi cukup untuk melihat jelas setiap sudut ruangan itu. Tiba-tiba Ji-sia melihat dua comot darah di lantai, darah itu menetes ke arah pintu kamar no-mor dua.

Kiranya ruangan-ruangan itu meski saling ber-hubungan, tapi berhadapan dengan agak miring, atau dengan perkataan lain, meski ruangan itu ber-hubungan satu sama lain tapi berliku-liku. Setelah pengalaman yang pertama, Ji-sia ber-dua tak berani bertindak gegabah lagi, untuk meng-hindari sergapan lawan atau jebakan alat rahasia, dengan telapak tangan tiap di depan dada, pelahan ia berjalan menuju ke ruangan kedua.

Ji-sia masuk lebih dulu, tapi baru saja kakinya melangkah masuk…..

Tiba-tiba terdengar angin senjata tajam me-nyambar, dua buah senjata aneh bersinar gilap me-nabas dari kiri dan kanan. Menurut perkiraan lawan, serangan yang men-dadak, pula pintu masuknya sempit, betapa tang-kasnya musuh andaikan tidak terluka pasti juga akan terdesak mundur. Di luar dugaan, dengan suatu gerakan aneh tahu-tahu pemuda itu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan, kemudian dua kali pukulan dah-syat dilontarkan ke samping kiri dan kanan. Mimpipun orang-orang yang berada dalam ruangan itu tidak mengira Bok Ji-sia bakal menyusup masuk dengan menempuh bahaya, mereka terhajar telak oleh serangan tersebut, diiringi dengusan ter-tahan, tampak dua sosok bayangan mencelat ke arah dinding.

“Blang!” tubuh mereka menumbuk dinding, isi perut mereka tergoncang hebat, kepala menjadi pu-sing, mata berkunang-kunang, untung tenaga dalam mereka juga cukup sempurna, begitu menumbuk dinding, dengan cepat mereka melompat bangun dan lari masuk ke ruangan ketiga….

Sungguh cepat gerakan mereka, sampai-sampai dengan ketajaman mata Bok Ji-sia hanya sempat menangkap berkelebatnya bayangan.

“Mau kabur ke mana!” bentak Ji-sia, berbareng ia mengejar orang yang paling belakang.

Baru saja kaki orang itu melangkah masuk ke ruangan ketiga, tubuh Ji-sia sudah mendekat dengan cepat, tangan kiri segera mencengkeram. Rupanya orang itu sadar tak bisa kabur lagi, sambil memutar badan mendadak ia menyerang lambung anak muda itu dengan sebuah senjata yang aneh bentuknya dan berwarna hitam.

Reaksinya sungguh cepat, hebat dan keji…..Dengan terperanjat Ji-sia menyurut mundur se-langkah, tapi orang itu tampaknya tidak berniat berta-rung lagi, begitu musuh mundur, kembali ia ber-putar dan kabur ke dalam ruangan.

Tentu saja Ji-sia tak rela musuh kabur begitu saja, telapak tangan kiri diayun ke depan, suatu pukulannya menutup jalan mundur lawan. Bayangan orang bertubuh jangkung itu sudah dekat pada dinding kiri pintu ruangan, tiba-tiba tubuhnya berputar, lalu dengan senjata aneh yang bentuknya pentung bukan pentung, pedang bukan pedang, ia tusuk jalan darah Hian-ki-hiat di iga Ji-sia dengan jurus Hud-im-ki-gwat (mengebut awan menuding rembulan).

Di balik serangan itu mengandung gerakan bertahan maupun menyerang, membuat orang sukar untuk menduga arah tujuannya, serangan itu juga mengandung tiga perubahan yang sukar diduga. Ji-sia merasakan juga anehnya serangan lawan, cuma meski gerakannya amat cepat, tapi tidak di-sertai tenaga yang cukup.

Tangan kanannya segera memainkan jurus Ciong-hay-poh- liong (menangkap naga di tengah sa-mudra), kaki kiri mendadak maju selangkah, kelima jari mencengkeram pergelangan tangan kanan la-wan, sedangkan sikut dengan mengikuti gerakan itu menyodok jalan darah Ciang-tay-hiat di dada. Serangan maju dengan sikut dan jari sekaligus ini sungguh diluar dugaan orang, seketika serangan lawan dipatahkan, tapi cocok juga dengan maksud tujuan bayangan hitam itu. Mendadak ia buang senjatanya, lalu kabur me-nuju ke ruangan dalam.

Ji-sia tertawa dingin, cepat tangan kirinya ber-putar dan sempat cengkeram urat nadi pergelangan tangan lawan.

Pada saat itulah mendadak terdengar Tong Yong-ling berteriak, “Hati-hati atas kepala….”

Kiranya pada waktu itu Ji-sia tepat berdiri di tengah pintu, mendengar teriakan tersebut, tidak sempat mendongakkan kepalanya lagi, tangan kiri-nya bergetar, ia seret balik badan orang itu.

“Blang!” suara keras menggelegar, di tengah jerit ngeri darah pun berhamburan.

Batok kepala bayangan hitam itu tahu-tahu terpapas kutung oleh pintu bendungan yang jatuh dari atas, mulutnya tampak terbuka lebar, mata melotot, darah berhamburan ke mana-mana ,.., . Kematian orang itu betul-betul menggidikkan hati orang. Sekali tendang Ji-sia menyingkirkan batok kepala yang mengerikan itu, lalu tangan kanannya merogoh baju, “creng!” diiringi bunyi nyaring, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian di olesnya. Tong Yong-liog sudah pernah melihat ruyung ini ketika berada dalam air tadi, kini melihat untuk kedua kalinya, mau tak mau ia memuji, “Ehm, ruyung ini benar-benar ruyung mestika yang di gilai oleh setiap umat persilatan…….

Ia maju ke samping Ji-sia, lalu bisiknya, “Bok-siangkong, dapatkah ruyung ini dipakai untuk men-jebol bendungan besi itu?”

“Kita coba saja, kalau tidak bisa, maka selama-nya kita akan terkurung dalam ruangan ini!”

“Cring! Cring!” ruyung pembetot nyawa itu mulai berputar dan menimbulkan suara getaran yang nyaring.

Cahaya emas segera terpancar ke empat pen-juru, diiringi siulan nyaring, Ji-sia mengayun ruyung emas ke arah bendungan baja yang menghadang ja-lan itu…….

“Trang!” kembali berkumandang suara nyaring yang memekak telinga……..

Bagaikan kayu lapuk saja, bendungan besi itu robek sebagian.

Kejut dan heran Tong Yong-ling melihat ke-hebatan ruyung mestika itu, serunya tertahan. “Hah, tajam benar ruyung mestika ini, betul-betul tak kalah daripada pedang mestika mana pun.”

Ji-sia pun sangat gembira, ruyung mestikanya kembali bekerja berulang kali, lalu telapak tangan kirinya menghantam ke depan…..

“Blang!” kali ini bendungan baja tersebut be-tul-betul ambruk seluruhnya. Kedua orang ikut menyusup ke ruangan ke-tiga, tapi di dalam juga kosong tanpa bayangan se-orang pun. Sambil menggenggam ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian, Ji-sia menyusup lagi ke ruangan keem-pat. Ruangan ini jauh lebih luas daripada ketiga ruangan sebelumnya, enam orang aneh berbaju hi-tam tampak berdiri berjajar, tubuh mereka tinggi kurus, wajah menyeringai seram dan jelek sekali, ada yang pucat hijau, ada yang pucat putih mem-buat orang, merinding.

Ke enam orang ini bukan lain adalah Jim-lik-yu-leng-jit-kui yang termashur akan kejahatan serta kebuasannya, tapi salah seorang di antaranya su-dah tewas oleh bendungan besi tadi maka kini ting-gal enam setan saja.

Sinar mata mereka yang bengis sama tertuju pada ruyung Jian-kiam-si-hun-pian yang berada di ta-ngan Bok Ji-sia, teriak mereka kaget, “Hah, bukan-kah ruyung itu Jian-kiam-si-hun- pian……?”

Ji-sia tertawa, sahutnya, “Benar, ruyung ini khusus dipakai untuk menaklukkan segala setan iblis, siapa diantara kalian yang sudah bosan hidup, silakan maju merebutnya!”

Baru saja selesai bicara, salah seorang di an-tara tujuh setan itu segera menubruk maju. Ji-sia membentak keras, secepat kilat telapak tangan kiri membacok ke depan, segulung angin pukulan yang sangat kuat segera mendampar orang itu……..

Betapa kaget “setan iblis” itu, ingin berkelit pun sudah tak sempat lagi, terpaksa kedua tangan-nya diayun ke depan, melancarkan pukulan dahsyat untuk menyambut datangnya ancaman. Tenaga dalam Bok Ji-sia telah mendapat ke-majuan pesat sejak memperoleh warisan tenaga Oh Kay-gak, walaupun tujuh setan adalah kelompok jagoan termashur, tidak berarti kekuatan mereka di atas anak muda itu. Ketika dua gulung tenaga pukulan saling ben-tur, “setan” itu merasakan dada bergetar keras dan tubuh merosot ke bawah…..

Ji-sia tidak memberi kesempatan bagi musuh untuk menghindar, telapak tangan kirinya memukul sambil memburu maju. Ruyung mestika Jian-kiam-si-hu-pian dengan jurus serangan yang aneh langsung menyapu lawan.

Jeritan ngeri menggetar seluruh ruangan, “se-tan” itu tersabat pinggangnya oleh ruyung mestika dan terkutung menjadi dua bagian. Melihat rekannya tewas, kelima orang lainnya serentak menjerit aneh, telapak tangan mereka be-kerja bersama, angin pukulan yang kuat serentak melanda tubuh Bok Ji-sia.

Ji-sia membentak, tangan kiri segera mena-bas. Tong Yong-ling tidak tinggal diam, iapun me-lancarkan pukulan lunak ke arah setan-setan itu.

“Blang!” kembali terjadi benturan keras, Bok Ji-sia muntah darah dan mundur tiga-empat langkah dengan sempoyongan.

Tong Yong-ling juga bergetar dan mundur selangkah, tapi berhubung ia tidak menerima secara langsung pukulan lawan, maka daya pantulnya agak lemah. Ke lima setan itupun tergetar mundur dua lang-kah oleh getaran tenaga gabungan Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling.

Jin-lik-yu-leng-jit-kui termashur dalam dunia persilatan, mereka sangat dihormati oleh Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, sebab itulah ke tujuh orang tersebut ditugaskan untuk menjaga tempat itu. Siapa tahu setelah berjumpa dengan kedua muda mudi tak dikenal ini bukan saja kedua orang rekannya tewas, merekapun tidak lebih unggul, ten-tu saja mereka kaget, namun juga membangkitkan kebengisan serta kebuasan mereka.

Serentak kelima setan itu berteriak aneh….. Dua di antaranya menubruk ke arah Bok Ji-sia, sedangkan tiga lainnya menerjang Tong Yong ling, pukulan dan senjata rahasia di pergunakan se-kaligus. Bok Ji-sia menahan pergolakan darah dalam da-danya, sekalipun baru saja muntah darah, tapi te-lapak tangan kirinya kembali diayun ke depan.

Serangan ini seakan-akan tidak bertenaga, tapi sebenarnya mengandung himpunan tenaga murni peninggalan Oh Kay- gak, di mana angin tajam me-nyambar tiba, jerit ngeri berkumandang, satu di an-tara dua orang yang menubruk ke arahnya termakan oleh pukulan itu dan roboh tersungkur dengan mun-tah darah. Sebaliknya Bok Ji-sia sendiri pun sem-poyongan dan jatuh berduduk.

Kesempatan ini tidak disia-siakan seorang la-gi, dengan gerakan seperti burung elang menerjang kelinci, ia terkam Ji- sia. Tampaknya jiwa Bok Ji-sia bisa melayang, pa-da saat itulah mendadak pemuda ini tertawa seram.

Mendadak ia melejit ke udara, ruyung emas Jian-kim-si- hun-pian secepat kilat menyabat tubuh setan yang menubruknya itu. Mimpi pun orang itu tak mengira Bok Ji-sia bakal melancarkan serangan, ketika ia merasakan datangnya ancaman, perut segera kesakitan dan ha-wa murni buyar……

Tanpa bersuara, jalan darah Khi-hay-hiat di perutnya telah terthembus oleh ruyung mestika itu, berlubang, darah mancur seperti mata air, isi perut berhamburan dan tewas dengan mengerikan. Ji-sia coba bangkit berdiri, tapi sempoyongan, rasa sakit di dadanya menyebabkan pemuda itu jatuh terduduk lagi.

Dua kali jeritan kembali berkumandang, ia ber-paling, dilihatnya. Tong Yong-ling dengan pedang terhunus sedang berputar menciptakan serangkaian bunga Bwe yang berwarna putih salju, dua setan sudah tewas di ujung senjata mautnya. Kejut Ji-sia menyaksikan gerakan pedang nona, ia merasa ilmu pedang si nona sangat hebat dan jarang ada bandingannya. Sisa seorang setan yang masih hidup menjadi ketakutan setengah mati setelah menyaksikan ke-enam rekannya tewas semua, menjerit aneh dia pu-tar badan dan kabur menuju ke bangunan besar di depan sana…..

Tong Yong-ling tersohor sebagai iblis perem-puan yang membunuh orang tanpa kenal ampun, sambil tertawa dingin tiba-tiba pedangnya disambit-kan ke depan, cahaya putih segera meluncur. Jerit kesakitan kembali memecahkan kehening-an, pedang itu menancap di punggungnya hingga thembus ke dada, setelah sempoyongan orang itu jatuh ke tanah, sambil menahan rasa sakit ia meronta dan berusaha merangkak ke depan, tapi baru beberapa langkah ia roboh lagi.

Jin-lik-yu-leng-jit-kui yang malang melintang selama dua puluh tahun dalam dunia persilatan, akhirnya tewas dalam waktu singkat di tangan kedua muda-mudi itu. Hawa membunuh yang menyelimuti wajah Tong Yong-ling belum luntur, pelahan mayat didepak, lalu ia periksa pedang sendiri. Hawa dingin terpancar dari batang pedangnya, senjata itu mengkilap dan tidak bernodakan darah, jelas sebilah pedang mestika pembunuh yaug tidak kenal ampun.

Sesudah menyarungkan kembali pedangnya, Tong Yoag- liag menghampiri Ji-sia dan menegur dengan lembut, “Kau terluka?”

“Mendingan hanya darahku bergolak, tapi sekarang sudah tenang kembali.” jawab Ji-sia sambil duduk bersila dan tertawa pedih.

“Lain kali jangan bertindak gegabah,” kata gadis itu lagi dengan setengah mengomel, “kau mesti tahu, menghadapi musuh tidak harus beradu ke-kerasan saja untuk bisa meraih kemenangan, sebab bagaimanapun gagahnya kau, bila menghadapi jumlah lawan yang banyak, lama kelamaan kau akan mati kelelahan sendiri” Ji-sia mendengus, “Terima kasih atas perhatian nona.” Jawaban ini amat menyakiti hati Tong Yong ling, katanya,

“Apakah aku salah omong?”

Setelah menyarungkan ruyungnya Ji-sia bangkit berdiri, ditatapnya gadis itu sekejap, lalu sahutnya ketus, “Aku tidak mengatakan pendapatmu itu ke-liru!”

Tong Yong-ling yang cantik tapi dingin dan berhati keji ini sebenarnya amat memperhatikan diri Ji-sia, siapa tahu perhatiannya mendapat balasan sikap yang dingin dan ketus dari lawannya. Tanpa bicara lagi Ji-sia lantas melanjutkan per-jalanan menuju ke ruangan depan, sementara Tong Yong- ling dengan air mata bercucuran ikut di be-lakangnya.

Sudah dua tahun Tong Yong-ling berkelana dalam dunia persilatan, tidak sedikit pula pemuda tampan yang dijumpainya selama ini, tapi ia tidak pernah tertarik. Tapi setelah berjumpa dengan Bok Ji-sia, hati gadis ini seakan-akan air telaga yang tenang tiba-tiba diceburi sebutir batu hingga membangkitkan gelombang cinta yang bergelora. Api asmara yang sudah lama terpendam da-lam hatinya ibarat bendungan sungai Kuning yang jebol dan mengamuk dengan dahsyatnya, membuat ia kehilangan pegangan dan secara tak sadar mengutarakan rasa cintanya.

Sekalipun Bok Ji-sia selalu, bersikap dingin kepadanya, tapi gadis itu tetap mencintainya, ia merasa benda yang sukar diperoleh, barulah ada nilainya bila akhirnya berhasil didapatkannya. Sementara itu Ji-sia telah tiba di depan pintu ruangan, ia mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci, tanpa mengeluarkan banyak tenaga pemuda itu lantas masuk ke dalam.

Pertama-tama ia mengendus bau harum yang amat merangsang dan aneh sekali, tapi setelah me-lihat keadaan dalam ruangan itu, wajahnya segera berubah menjadi merah. Tong Yong-ling menyusul masuk ke dalam, berubah merah juga air mukanya dan terkesima. Ruangan itu diatur dengan alat perabot yang mewah dan indah, begitu indahnya bagaikan dalam impian, seperti dalam surgaloka. Orang-orang yang berada dalam ruangan adalah perempuan cantik bak bidadari kayangan, begitu cantiknya sehingga membuat orang terkesima dan lupa daratan bagaikan dalam impian…..

Di bawah sinar lilin, tampak dua belas tem-pat tidur terbuat dari gading berjajar dalam ruangan itu, pada tiap ranjang gading berbaring se-orang gadis cantik yang telanjang bulat dengan potongan badan yang sangat indah.

Cahaya lilin yang putih menawan menyoroti wajah kedua belas perempuan muda yang kecan-tikannya sukar dilukiskan. Tubuh mereka ramping tapi padat berisi, da-lam keadaan telanjang bulat terlihatlah payudaranya yang montok dan bawah perutnya yang……..

Ji-sia dan Yong-ling tidak tahu orang macam apakah kedua belas perempuan telanjang ini? Ka-lau dilihat keadaan mereka rupanya sedang terbuai dalam impian yang muluk, dada dan perut berge-rak naik turun teratur, mata terpejam dan senyuman manis menghiasi ujung bibir mereka.

Ji-sia tak berani melangkah lebih jauh, ia pu-tar badan dan siap keluar dari pintu ruangan itu, tapi Tong Yong-ling segera mencegahnya seraya berkata, “Pintu di sana sudah tertutup, kau hen-dak ke mana?”

“Apakah perempuan-perempuan ini disekap orang di sini?” tanya Ji-sia sambil tertawa kikuk.

“Entahlah, aku sendiripun tidak jelas, tapi kita jangan urus mereka, lebih baik mengambil jalan-nya sendiri-sendiri.”

Maka Ji-sia dan Yong-ling lantas berjalan me-ngitari kedua belas pembaringan gading itu dan melanjutkan perjalanan, anehnya perempuan-perem-puan telanjang itu masih tertidur nyenyak, mala-han senyuman yang memikat tetap menghiasi ujung bibirnya. Padahal bahwasanya Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling tidak membunuh kedua belas perempuan telanjang ini sesungguhnya merupakan suatu tindak-an yang keliru besar, mereka tidak tahu kedua be-las perempuan itu tak lain adalah Gie-hun-mo-li (iblis perempuan perayu sukma) yang sedang di-gembleng oleh Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian.

Di kemudian hari entah berapa banyak jago persilatan yang akan tewas dalam pelukan mereka dan mati kekeringan karena tenaga murni terhisap oleh mereka, malahan Ji-sia sendiri pun nyaris “di-lalap” mereka.

Setelah melewati ruangan penuh fantasi itu, mereka menhembus ke sebuah lorong sempit yang menyeramkan, untung ada obor sebagai penerang-an. Belasan tombak kemudian, setelah membelok sebuah tikungan, sampailah mereka di depan sebuah pintu.

Di atas pintu batu itu terpancang tulisan yang berbunyi, “Neraka tempat setan iblis, dilarang ma-suk!”

Ji-sia memandang Tong Yong-ling sekejap, ke-mudian bisiknya, “Apakah pintu inipun terbagi men-jadi jalan mati dan jalan hidup?”

Tong Yong-ling tidak menjawab, ia mendorong pintu itu, dengan bunyi gemercit, pintu batu itu terpentang lebar. Sambil jalan bersanding kedua muda-mudi itu masuk ke dalam, tapi pemandangan yang terben-tang di depan membuat mereka terkesiap dan ber-diri tertegun.

Dalam ruangan batu itu berjajar tiga belas bu-ah peti mati, peti mati tanpa penutup dan penuh de-ngan sawang, debu di lantai sangat tebal, sekilas pandang saja sudah cukup mendatangkan perasaan seram bagi siapapun yang melihatnya.

Pada dinding batu tertancap lima batang obor, api itu berwarna hijau dan menimbulkan rasa ngeri, bulu roma serasa berdiri. Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling serentak me-lolos senjata masing-masing dan siap siaga, mereka kuatir ada setan atau mayat hidup yang tiba-tiba melompat ke luar dari peti mati, pelahan mereka maju ke depan.

Mendadak kedua orang itu bergidik, sekalipun nyali mereka cukup besar, tapi pemandangan yang terpampang di depan mereka membuat mereka me-nyurut mundur tiga-empat langkah. Ternyata di dalam setiap peti itu berbaring se-sosok mayat berambut panjang, bermata melotot, bermulut lebar dengan lidah menjulur, sungguh menyeramkan dan berbaring kaku dalam peti mati.

Ji-sia dan Yong-ling dengan cepat dapat me-nenteramkan perasaan, kemudian melanjutkan per-jalanan melewati ruangan seperti neraka ini. Padahal sekali lagi kedua orang itu mengabai-kan suatu kesempatan untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, sebab mayat aneh dalam peti mati itu bukan lain adalah tiga belas mayat hidup yang sedang dilatih oleh Oh Kay-thian.

Di kemudian hari, ketiga belas mayat hidup ini bersama kedua belas gadis perayu sukma yang di-persiapkan itu bakal menciptakan badai berdarah dalam dunia persilatan, mungkin takdir menghen-daki demikian, sebab kalau tidak, kedua muda-mudi ini tentu akan heran atas makhluk aneh tersebut.

Setelah melewati ruangan batu macam neraka itu, Ji-sia berdua baru menarik napas lega.

Mendadak Ji-sia berteriak kaget, “Wah, celaka! kita betul- betul salah masuk ke pintu kematian, tempat ini sudah pada ujungnya, sekarang kita harus ke mana lagi?”

Kiranya setelah keluar dari ruangan, kedua orang tiba di sebuah ruangan kecil, dan tempat ini marupakan jalan buntu, karena tiada jalan thembus lain lagi. Tong Yong-ling memeriksa sekejap sekeliling dinding, mendadak pada dinding sebelah kiri ia li-hat ada sebuah lekukan, pada lekukan itu berjajar dua buah benda seperti pegangan yang berwarna hitam.

Sambil tertawa ia berkata, “Bok-siangkong, tampaknya di tengah bahaya kita akan menemukan keberuntungan!”

Ji-sia memperhatikan pula kedua benda aneh di atas dinding itu, katanya kemudian sambil ter-tawa getir, “Mungkin demikian, silahkan kau tarik benda itu nona! Sekalipun salah memencet tombol alat rahasia, biarlah kita mati dengan puas”

Tong Yong-ling tertawa, segera ia menarik pe-gangan hitam yang sebelah kanan…..

“Blang… blang!”, seperti gempa bumi saja ruangan itu

berguncang keras dan timbul suara ge-muruh. Tiba-tiba dinding sebelah kanan ruangan itu roboh.

Jeritan kaget berkumandang, entah bagaimana tiba-tiba permukaan tanah di mana Ji-sia dan Yong-ling berdiri ikut terbalik ke bawah, tubuh mereka langsung terperosot ke bawah liang Tiba-tiba dari lubang yang gelap itu berkuman-dang lagi jerit ngeri, dinding batu yang roboh tadi tahu-tahu menutup di atas lubang tersebut.

Waktu Ji-sia dan Yong-ling terperosot dalam perangkap tadi, masing-masing telah menghimpun hawa murni dan mengurangi daya luncur mereka ke bawah, dengan cepat ujung kaki kedua orang itu menempel di atas permukaan tanah. Tiba-tiba bau busuk menusuk hidung, menyusul dua sosok bayangan terus menerkam mereka dengan sikap yang garang.

Sungguhpun ruangan di situ tidak terlampau gelap bagi pandangan Ji-sia berdua, tapi lantaran serangan itu datangnya amat mendadak, tak sempat melihat jelas raut wajah kedua orang itu, mereka segera mengayun telapak tangan, melancarkan dua pukulan dahsyat ke depan. Angin puyuh menyambar, menyusul terdengar dua kali jeritan. Kedua penyerang itu mencelat jauh sambil muntah darah, begitu mencium tanah lantas tidak bergerak lagi. Sekarang Ji-sia dan Yong-ling baru sempat memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu….. 

Sekali lagi bergidik hati kedua muda-mudi itu, bulu roma sama berdiri, dengan perasaan seram mereka mundur beberapa langkah. Yang mereka lihat sungguh suatu neraka du-nia.

Keadaan orang-orang yang ada di sini jauh. lebih mengerikan daripada setan di neraka. Kiranya tempat ini merupakan sebuah ruang bawah tanah yang sangat luas, di mana mereka berdiri adalah sebuah panggung yang terdiri dari belasan undakan tingginya.

Ruang bawah tanah ini remang-remang suasa-nanya, namun mereka sudah terbiasa melihat di tempat gelap setelah disekap dalam penjara air yang gelap gulita itu, maka pemandangan seputar sepuluh tombak di sekitar situ dapat terlihat de-ngan jelas. Tengkorak manusia yang tak terhitung jumlah-nya berserakan dalam ruangan ini, sekilas pandang hampir mirip kota tengkorak dalam neraka.

Hal ini sudah cukup menyeramkan, tapi ada lagi pemandangan lain yang jauh lebih menyeram-kan terpampang di hadapan mereka. Di sekeliling ruangan itu berjubel manusia aneh yang kurus kering tinggal kulit membungkus tulang, baju hancur dan dekil, malah ada yang telanjang, ada yang sedang berbaring, ada yang berduduk dan ada pula yang sedang berdiri.

Pada hakikatnya mereka tidak mirip manusia lagi, tapi lebih mirip sukma gentayangan atau setan penasaran, sebab kulit badan mereka banyak yang tinggal kulit membungkus tulang belaka. Yang lebih menyeramkan lagi adalah di anta-ra sekian makhluk mengerikan, itu ada yang me-megang tengkorak manusia dan lagi digerogoti dengan lahapnya sehingga terdengar bunyi gemertuk.

Laparkah orang-orang ini? Ya, sebagian besar di antara mereka bahkan sudah puluhan tahun la-manya tak pernah makan nasi, setiap hari hanya makan tulang manusia yang mati untuk menahan lapar. Pandangan ngeri semacam ini cukup memberi-kan kesan yang dalam bagi siapapun yang melihat-nya, membuat orang sukar lupa untuk selamanya.

Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling tak sanggup menghitung berapa banyak manusia yang menang-gung sengsara itu, sebab sepuluh tombak di sekitar ruangan yang mereka lihat hanya jubalan manusia. Rupanya manusia sengsara yang berada dalam ruangan itu sempat mendengar jeritan ngeri yang berkumandang tadi sebab dengan mata mereka yang aneh dan cekung itu sedang mengawasi panggung.

Perasaan Ji-sia berdua terasa seperti dibebani benda yang berat, mereka ngeri dan takut hingga tak berani bersuara.

“Hiihi……..hahahaa…….” suara tertawa aneh menyeramkan seperti jeritan setan berkumandang di mana-mana.

Kawanan manusia aneh yang berdiri itu men-dadak mulai bergerak menuju ke panggung, rupa-nya hidung mereka telah mencium bau manusia. Ji-sia dan Yong-ling benar-benar ketakutan, sebab kawanan manusia aneh itu menunjukkan wa-jah kelaparan yang luar biasa, seandainya tempat sembunyi mereka ketahuan, niscaya mereka akan diganyang mentah-mentah. Dalam takut dan ngerinya, tanpa sadar Yong- ling menggeserkan tubuhnya mendekati Ji-sia……

Terdengar suara tertawa aneh berkumandang di sana sini. Empat manusia aneh dengan tubuh yang kurus seperti tengkorak hidup menerjang ke panggung. Ditinjau dari gerak-geriknya, rupanya mereka pandai ilmu silat dan ilmu meringankan tubuh, ini menandakan merekapun jago-jago dunia persilatan. Tak terlukiskan rasa seram Ji-sia dan Yong-ling, serentak telapak tangan mereka diayun ke depan. Empat gulung angin pukulan yang sangat kuat menyerang tubuh keempat orang aneh itu. Jerit keras berkumandang, tubuh mereka yang kurus itu mencelat jauh. Jeritan aneh kembali berkumandang, kawanan manusia aneh yang semua asyik m enggerogoti tu-lang manusia itu serentak bangkit berdiri dan me-nerjang bersama ke arah depan.

Bukan Ji-sia atau Yong-ling yang mereka ter-kam, sebaliknya adalah tubuh keempat manusia aneh yang tewas akibat pukulan itu, cakar mereka yang tajam segera bekerja beramai, tiga-empat pu-luh orang aneh dengan cara yang mengerikan me-ngerubuti keempat sosok mayat tadi, mencabiknya hingga berkeping-keping, lalu diganyang dengan nikmatnya.

“Krak! Krek!” bunyi gigi tajam menggerogoti daging dan tulang manusia.

Darah dan daging berhamburan, dalam waktu singkat keempat sosok mayat tadi sudah mereka sikat ludes tanpa sisa. Bok Ji-sia maupun Tong Yong-ling menyaksi-kan peristiwa mengerikan itu dengan mata terbela-lak dan mulut melongo. Mereka menyaksikan yang paling keji dan pa-ling brutal di dunia ini, seandainya tidak melihat-nya sendiri, tak nanti mereka percaya di dunia ter-dapat kejadian semacam ini.

Setelah kawanan manusia aneh itu menghabis-kan daging keempat sosok mayat tadi, mereka ber-diri tegak dan mengalihkan sorot matanya yang aneh ke arah panggung. Suasana menjadi hening, sedemikian heningnya sehingga terasa tegang mencekam perasaan. Mendadak kawanan manusia aneh itu mulai bergerak menghampiri panggung tinggi itu diiringi pekikan aneh, tiga-empat puluh manusia aneh itu serentak menerjang ke atas. Ji-sia tahu mau-tak-mau mereka harus unjuk diri, buru- buru serunya, “Nona Tong, jejak kita su-dah ketahuan, biarlah kita menampakkan diri!”

Sementara itu ada beberapa orang aneh sudah tiba di atas undak-undakan batu, terpaksa Ji-sia dan Yong-ling membentak, cepat melancarkan pu-kulan dahsyat ke depan. Empat orang aneh yang berada paling depan menjerit ngeri, tubuh mereka terpental dan tewas seketika. Dalam pada itu Ji- sia berdua telah melompat ka atas, bagaikan burung elang mereka menerjang ke bawah.

Mendingan kalau mereka tidak melompat ke bawah, begitu mereka muncul, serentak gelak ter-tawa seram berkumandang di sekeliling tempat itu. Manusia aneh yang berada di empat penjuru, bahkan mereka yang sedang berbaring juga serentak melompat bangun dan menerjang ke arah mereka. Teriakan aneh melengking seperti jeritan setan itu membuat bulu roma orang berdiri, keadaannya benar-benar mengerikan.

“Berhenti semua!” tiba-tiba Ji-sia membentak dengan suara yang menggelegar.

Keras sekali suara bentakannya, membuat seluruh ruang bawah tanah itu mendengung dan ber-getar. Ternyata bentakan yang menggeledek itu men-datangkan hasil, kawanan manusia aneh yang se-dang bergerak maju itu mendadak menghentikan langkahnya. Tapi mereka telah berhasil mengurung Ji-sia dan Yong-ling di tengah lingkaran kecil, dengan tampang mereka yang jelek mengerikan serta rambut yang panjang, mata terbelalak serta lidah yang se-tengah terjulur, orang-orang itu memandangi kedua mangsanya dengan tertawa seram, cakar setan me-reka yang kurus kering memperlihatkan gerakan hendak mencengkeram.

Ji-sia dan Yong-ling menyapu pandang sekejap wajah kawanan manusia aneh itu, ternyata jumlah mereka mencapai tujuh-delapan puluh orang, hal ini membuat air muka merek berubah   hebat   dan   me-nyurut   mundur   selangkah  demi selangkah. Melihat Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling mengun-juk rasa ketakutan, kawanan manusia aneh itu ber-teriak, secepat kilat menubruk maju dan cakar se-tannya, siap merobek mangsanya.

Ji-sia dan Yong-ling segera membentak, kem-bali mereka menghantam dari jauh, jeritan kesakitan berkumandang, empat manusia aneh itu binasa pu-la. Tapi jumlah manusia aneh itu terlalu banyak, serentak mereka mengerubut maju.  Di tengah jeritan kaget, ujung baju Tong Yong-ling kena disambar oleh seorang manusia aneh se-hingga robek. Tapi sekali hantam manusia aneh ter-sebut tewas di bawah telapak tangan gadis itu.

Posisi Ji-sia juga tak kurang gawatnya, ia ter-desak sehingga berkelit ke samping atau menghin-dar ke kanan, pukulan dahsyat menyapu kemanamana……….

Walaupun setiap kali pukulan selalu disambut dengan sekali jeritan ngeri, tapi jumlah orang-orang itu terlalu banyak, apalagi mereka sudah kalap dan secara nekat menerjang terus, hal ini membuat Ji-sia keder juga.

Beberapa bagian baju Ji-sia sudah robek kena disambar cakar setan mereka, lama kelamaan ge-ram juga anak muda itu, dengan sinar mata beri-ngas ia membentak, “Nona Tong, mari kita guna-kan senjata uutuk membasmi mereka!”

Angin tajam yang membetot sukma segera menggema di angkasa, Ji-sia telah lolos ruyung mes-tika Jiam-kim-si-hun- pian, sinar keemas-emasan ter-pancar menyapu orang-orang yang berdekatan. Batok kepala segera bergelindingan, percikan darah segar berhamburan. 

Rupanya Tong Yong-ling pun sadar bahwa tanpa pembunuhan besar-besaran tak nanti mereka bisa lolos dari kepungan orang itu, dengan suatu gerakan cepat ia melolos pedangnya dan dalam be-berapa putaran timbul beberapa kuntum bunga Bwe berwarna putih salju. Di tengah jeritan ngeri, darah berhamburan pula di mana- mana, tujuh-delapan orang segera te-was di ujung pedangnya yang keji dan tak kenal perasaan itu. Sesungguhnya kawanan manusia aneh itu ada-lah sekawanan manusia yang patut dikasihani, sudah puluhan tahun lamanya mereka disekap Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian di tempat ini, andaikata tiada kehadiran kedua muda-mudi ini, mungkin me-reka masih dapat hidup selama beberapa tahun lagi dalam neraka dunia ini.

Siapapun tak mengira tempat ini bakal di-kunjungi oleh pembunuh macam Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling, karenanya kehidupan mereka yang sengsara penuh penderitaan pun segera berakhir se-belum waktunya. Apabila orang-orang itu tidak melancarkan tubrukan maut kepada Ji-sia berdua, tak nanti pu-la kedua muda-mudi itu membantai kawanan ma-nusia yang patut dikasihani ini, sayangnya kesadar-an dan kecerdasan otak orang-orang ini sudah le-nyap, kalau tidak, mereka tentu takkan menyerang kedua orang itu dengan cara nekat.

Bayangan pedang dan cahaya ruyung kedua muda-mudi pembunuh ini sama sekali tak kenal ampun, dengan cepat luar biasa menggulung ke sa-na dan menyambar kemari mencari mangsanya. Sebaliknya kawanan manusia aneh itu pun betul- betul tak takut mati, dengan kalap mereka maju kedepan, menyongsong datangnya pedang serta ruyung mestika yang tajam itu dengan tangan atau tubuh mereka, seorang roboh, yang lain segera me-nerjang maju lagi dengan beraninya……

Sudah barang tentu kekuatan mereka tidak berarti apa-apa bagi Ji-sia berdua, ibaratnya daun kering yang terhembus angin musim gugur, semua-nya rontok ke tanah dalam keadaan tak bernyawa, hancuran daging, kutungan  lengan dan kaki berham-buran di mana-mana, sungguh mengerikan sekali pe-mandangannya. Ini masih ditambah pula dengan raungan dan jerit tangis mereka sesaat menjelang kematian, be-gitu nyaring dan ngeri menambah seramnya suasana. Dalam waktu singkat tujuh- delapan puluh orang manusia aneh seluruhnya sudah tewas di ujung sen-jata mereka. Kutungan lengan, tubuh yang tak lengkap serta butiran batok kepala yang menyeringai memenuhi lantai, bau amis darah memenuhi ruangan bawah tanah itu, membuat orang jadi mual.

Sekejam-kejamnya kedua orang ini akhirnya mereka menyesal juga setelah menyaksikan tumpuk-an mayat yang bergelimpangan itu.

“Tring! Trang! Tingl” tiba-tiba berkumandang guara nyaring logam beradu…..

Ji-sia dan Yong-ling tersentak kaget, sinar mata mereka yang tajam beralih ke arah datangnya su-ara itu. Tapi setelah berkumandang suara nyaring tadi, suasana kembali dalam keheningan.

“Siapa di situ?” Ji-sia segera menegur.

Tapi suasana tetap hening dan mengerikan. Sampai lama suasana tetap hening, sedikit-pun tak kedengaran suara apa- apa.

“Ting! Trang! Ting! Trang…..” serentak bu-nyi logam saling beradu kembali berkumandang, suara itu amat nyaring dan menusuk pendengaran, berlangsung terus dan menimbulkan pula gema su-ara yang keras dalam ruang bawah tanah, anehnya tidak kedengaran suara manusia.

Tidak lama, suara beradunya benda besi itu kembali berhenti.

“Siapa di situ? Kenapa tak berani menampak-kan diri?” Yong-ling membentak nyaring.

Dari balik ruang bawah tanah akhirnya berkumandang juga suara orang menghela napas pan-jang yang memilukan hati. “Apakah kalian orang Thian-seng-po?” tanya orang itu.

Mendengar perkataan itu, Ji-sia baru tahu ka-wanan manusia aneh yang baru dibantainya itu adalah tawanan yang disekap Oh Kay-thian, karena-nya orang yang bicara ini menganggapnya sebagai anggota Thian-seng-po, itulah sebabnya pula mereka tak berani menjawab tegurannya.

“Kami adalah orang yang terjebak oleh alat rahasia Thian- seng-po. Siapakah kalian?” sahut Ji-sia.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin me-nyeramkan. “Siapa yang percaya bila kalian bukan antek Thian-seng-

po?” ejeknya.

Ji-sia sangat marah, teriaknya, “Kalau kalian tidak percaya, sudahlah!”

“Apakah kalian dapat membuktikan bahwa kalian bukan anggota Thian-seng-po?” tanya suara lain dengan nada dingin.

“Apa yang harus kami lakukan untuk mem-buktikannya?” tanya Yong-ling.

“Caranya sederhana sekali, cukup asal kalian mengangkat sumpah!”

Ji-sia mendengus, katanya sinis, “Jika kami enggan mengangkat sumpah, mau apa kalian?”

Suara orang pertama yang lebih seram dari setan itu tertawa dingin, katanya “Kalau begitu, se-lama hidup kalian jangan harap bisa keluar dari sini, kalian akan hidup dengan makan daging manusia, menggerogoti tulang tengkorak dan hidup seperti dalam neraka!”

Terkesiap Yong-ling mendengar ucapan itu, sebab kalau mereka berdua betul-betul terkurung dalam ruang bawah tanah yang mereka lihat ini, sungguh mengenaskan sekali. “Apakah kalian dapat membantu kami keluar dari sini?” ia lantas tanya.

Ji-sia berpaling dan berkata kepada nona itu, “Nona Tong, jika mereka mengetahui jalan keluar-nya, kenapa mereka sendiri berdiam di sini?”

Kedengaran orang itu menghela napas sedih.

“Sicu berdua,” kata orang itu, “sudah lima be-las tahun kami tersekap di sini, kami memang su-dah menemukan jalan keluarnya, asal kalian berse-dia mengabulkan beberapa permintaan kami, maka akan kami bantu kalian untuk meninggalkan tempat ini.”

Mendengar sebutan “Sicu” (tuan dermawan) itu, Ji-sia dan Yong-ling menjadi tertegun, pikir me-reka, “Orang ini tentu Hwesio atau seorang Tosu….”

“Taysu!” kedengaran seorang lagi berkata de-ngan dingin, “masa kau percaya kedua orang ini bu-kan kaki tangan yang sengaja diutus oleh manusia jahat dan keji itu.”

“Ai, kalau mataku belum lamur, maka kuyakin kedua orang ini bukan kaki tangan jahanam itu!”

“Apakah kalian juga minta kami menolong ka-lian?” tanya Ji-sia dingin.

“Sicu berdua harap kemari dulu, setelah ber-temu muka baru kita melanjutkan pembicaraan.”

“Baik, kami segera ke sana!”

Bersama Yong-ling, anak muda itu lantas me-nuju ruang bawah tanah itu, senjata mereka terhu-nus dan hawa murni dihimpun siap menghadapi se-gala kemungkinan, sementara mata mereka yang tajam memperhatikan sekelilingnya. Mendadak terdengar suara tertawa seram di depan sana, suaranya mirip jeritan setan. Ji-sia dan Yong-ling segera mengalihkan sorot matanya ke depan. “Ah!” mendadak mereka menjerit kaget dan menyurut mundur.

Ternyata di depan mereka terdapat sebuah ruangan lain, pintu terbuat dari terali besi yang besar, melalui celah terali besi itulah menongol beberapa batok kepala aneh yang seram dengan rambut pan-jang terurai ke bawah.

Beberapa wajah yang jelek ini sudah seram, apalagi setelah melihat tubuh orang yang kurus ke-ring dengan deretan tulang iga yang tampak nyata, hal ini menambah seramnya keadaan orang-orang tersebut.

Setelah menenteramkan hatinya, Ji-sia kembali menegur dengan suara nyaring, “Siapakah kalian? Manusia atau setan?”

Dia mengira beberapa orang itu adalah siluman, sebab pada hakikatnya keadaan orang-orang itu tak ubahnya setan atau sebangsa siluman. Orang pertama yang berada di ujung kanan menghela napas panjang sedih.

“Sicu, tampang kami memang tak berbeda dengan setan,” katanya, “Kami telah dicelakai orang secara keji sehingga akhirnya berubah menjadi be-gini.”

Timbul juga perasaan iba dalam hati Ji-sia berdua sesudah menyaksikan keadaan mereka yang mengenaskan dan patut dikasihani.

Ji-sia menghela napas, katanya, “Siapakah yang telah menyekap kalian di tempat ini? Apa permintaan kalian? Katakan saja terus terang, selama hayat masih di kandung badan, pasti akan kulaksanakannya sekalipun badan bakal hancur dan nyawa me-layang!”

“Sung….sungguhkah perkataanmu ini?” tanya orang paling kiri dengan suara agak gemetar.

“Perkataan seorang laki-laki sejati, sekali ber-janji selamanya takkan kuingkari, harap kalian ja-ngan kuatir!” Orang ketiga dari sebelah kanan tiba tiba ber-teriak kaget, “Ah, coba lihat ruyungmu itu, bukan-kah ruyung ini adalah Jian-kim-si-hun-pian?”

“Ah, benar! Coba kau lihat pedang di tangan anak perempuan itu, bukankah pedang tersebut adalah Bwe-hoa- sian-kiam milik Han-bwe-kokcu Bwe-hiang-sian-ki?” demikian sambung yang lain.

Mendengar seruan itu, Ji-sia dan Yoiig-ling. sama terkesiap, mereka tidak menyangka manusia bertampang setan ini dapat mengenali senjata me-reka dalam sekali pandang saja.

“Siapakah kalian semua?” tanya Ji-sia dengan suara pelan, “kukira kalian pasti jago-jago kenama-an dunia persilatan?”

Orang paling kanan itu bergetar sekujur tu-buhnya, kemudian berkata dengan sedih, “Sicu, setelah melihat senjata kalian, dapat kami duga kalian pasti bukan orang sembarangan. apakah kau ada-lah murid Thian-seng-pocu Thian-kang-te-sat-seng- gwat-kiam Oh Kay-gak? Ataukah murid Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian….? Harap kau bicara lebih jelas bila kalian hendak membunuh kami, biar kami mati tanpa menyesal, sebaliknya kalau tujuan kalian ha-nya ingin menyelidiki rahasia itu, maka selama hi-dup jangan harap keinginanmu itu akan terpenuhi.”

Perkataannya sangat memilukan, membuat si-apapun yang mendengar akan ikut sedih.

Ji-sia termenung sejenak, lalu sahutnya, “Aku adalah murid Thian kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak, jika ada sepatah katapun kubohong, biar Thian mengutuk diriku!”

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan, “Dan siapakah kalian semua? Dapatkah kalian terangkan kalian ini Bu-lim- cianpwe dari mana?”

Orang yang berada di sebelah kanan kembali menghela napas sedih, “Ai, apakah gurumu masih hidup di dunia ini?” Menyinggung diri Oh Kay-gak, Ji-sia ikut meng-hela napas sedih, sahutnya. “Suhu telah meninggal dunia dua hari yang lalu!”

“Apakah ia telah meninggalkan pesan kepada-mu menjelang kematiannya?”

Jelas ia masih belum percaya bahwa Ji-sia adalah murid Oh Kay-gak, sebab lima belas tahun berselang ketika mereka berkunjung ke Thian seng-po telah diketahuinya bahwa Oh Kay-gak tersekap dan tidak punya murid. Oleh karena itulah, mereka tidak mau percaya dengan begitu saja ketika Ji-sia mengaku sebagai murid Oh Kay-gak.

“Sebelum meninggal dunia Suhu memang ber-pesan agar kulakukan beberapa tugas penting,” sa-hut Ji-sia, “hanya saja, beliau berpesan agar jangan membocorkan rahasia inii kepada orang lain, karenanya maaf bila aku tak dapat memberitahukannya kepadamu.”

Orang kedua di sebelah kanan tertawa seram, ejeknya, “Hei, manusia berhati busuk, lebih baik ja-ngan main tipu muslihat untuk menjebak kami, suatu ketika perbuatan kalian yang jahat dan merugi-kan umat manusia ini pasti akan mendapatkan pem-balasan yang setimpal.”

Ji-sia gusar sekali mendengar perkataan itu, ka-tanya. “Kami bukan sekomplotan dengan bangsat Oh Kay-thian, jika kalian tidak percaya sudahlah, kami yakin masih sanggup mencari jalan keluar sen-diri untuk meloloskan diri dari sini.”

“Sicu!” kata orang pertama di sebelah kanan sambil menghela napas, “kami percaya kepadamu, tapi kaupun harus tahu bahwa pesan serta rahasia yang hendak kami sampaikan kepadamu menyang-kut nasib seluruh umat persilatan di dunia, sebab itulah kami bersembilan rela untuk hidup selama lima belas tahun tersiksa dalam ruangan seperti ne-raka ini, kami rela tersiksa daripada memberitahu-kan rahasia ini kepada Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian serta membantunya yang ingin mewujudkan ambisi iblisnya.”

“Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian adalah musuh besarku yang paling kubenci, harap kalian jangan kuatir, aku dan nona Tong juga korban yang di-celakai oleh Thian-kang-kiam Oh Ku- gwat, kami terjebak oleh alat rahasianya sehingga tanpa sadar sampai di tempat seperti ini. Asal kami dapat lolos dari sini dengan selamat, sudah pasti kami tak akan hidup berdampingan dengan Oh Kay-thian dan Oh Ku gwat serta orang-orang Thian-seng-po, tentang ini kuharap kalian mau percaya padaku!”

“Hei, sudah sekian lama kita bercakap-cakap, belum juga kalian menerangkan asal-usulmu, sebe-narnya siapakah kalian?” seru Yong-ling.

Orang paling kanan itu menghela napas, gumamnya, “Semoga Budha maha pengasih melimpah-kan kasih sayangnya kepada seluruh umat manusia, terima kasih atas berkahmu yang membawa kedua Sicu ini ke sini. Semoga dari tangan merekalah na-sib dunia persilatan bisa diperbaiki…”

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut, “Sicu berdua, kami bersembilan adalah kesembilan Ciangbunjin, pejabat ketua dari sembilan aliran be-sar dunia persilatan…..!”

“Apa? Kalian adalah Ciangbunjin kesembilan aliran besar dunia persilatan?” dengan terkejut Ji-sia menjerit kaget.

“Benar, kami adalah Ciangbunjin kesembilan aliran besar yang hilang pada lima belas tahun yang lampau, diriku adalah Pek-hui dari Siau-lim-pay.”

Tong Yong-ling sudah sering melakukan per-jalanan dalam dunia persilatan, tentu saja ia tahu tentang peristiwa lenyapnya kesembilan Ciangbunjin dari kesembilan aliran besar. Lenyapnya para ketua itu menjadi sebuah te-ka-teki besar dalam dunia persilatan selama ini, siapapun tak menyangka bahwa kesembilan ketua itu ternyata tersekap di dalam ruangan semacam neraka ini.

Sesudah mengetahui mereka adalah para Ciangbunjin dari kesembilan aliran besar, dengan wajah berseri Ji-sia lantas berseru, “Sekarang kalian tak perlu mencurigai kami sebagai kaki tangan musuh lagi, coba kalian lihat, bukankah isi bungkusan ini adalah tanda kepercayaan kesembilan aliran besar? Suhu berpesan kepadaku agar menyerahkan sendiri benda-benda ini kepada kalian, tak kusangka kita akan berjumpa di sini.”

Sambil berkata pemuda itu lantas mengeluar-kan sebuah bungkusan kecil, kemudian diserahkan-nya kepada Pek-hui Siansu, ketua Siau-lim-pay. Dengan tangannya yang kurus Pek-hui Siansu menerima bungkusan itu, serentak kedelapan orang lainnya berkerumun maju dan saling berebut mengambil tanda kepercayaan masing-masing.

Setelah diperhatikan sejenak, dengan perasaan kejut bercampur girang orang-orang itu berteriak: “Ah, benar tanda kepercayaan kami! Ai, akhirnya benda ini terjatuh kembali ke tangan kami…..Se-lanjutnya anak murid kami dapat muncul kembali dalam dunia persilatan dan membalas sakit hati ini..”

“O, Thian! Engkau ternyata tidak menyia-nyia kan harapan kami…….”

Mereka menangis dengan sedih dan haru. Suasana ruang bawah tanah yang memang penuh kepedihan itu kini bertambah memilukan oleh isak-tangis mereka. Terharu sekali Ji-sia dan Yong-ling menyaksi-kan adegan tersebut, mereka ikut sedih dan me-nitikkan air mata. Setelah menangis sekian lama, kesembilan Ci-angbunjin aliran besar itu lantas berdiri termangu-mangu. Akhirnya bunyi logam saling bentur memecah-kan kesunyian, kesembilan orang ketua itu kembali berdiri barjajar didepan terali baja. Orang pertama di sebelah kanan tetap Pek-hui Siansu, ketua Siau-lim-pay. Dengan suara pedih katanya, “Sicu, tahukah kau kenapa tanda kepercayaan kami bisa terjatuh ke tangan gurumu Oh Kay-gak?”

Ji-sia mengeleng kepala berulang kali, “Sebelum meninggal dunia Suhu hanya berpesan agar menye-rahkan kesembilan tanda kepercayaan ini kepada kalian, kutahu di balik urusan ini pasti tersimpan rahasia yang luar biasa, tapi dengan sejujurnya ingin kuberitahukan bahwa guruku merasa menyesal sekali telah mengambil tanda kepercayaan ini, pe-rasaan menyesal itu diungkapkannya menjelang kema tiannya…”

Ia berhenti sebentar untuk berganti napas, ke-mudian sambungnya, “Sekarang aku telah menerima budi kebaikan guruku, andaikata beliau pernah melakukan suatu kesalahan besar harap kalian sudi memaafkannya, penderitaan yang dialaminya selama ini tidak lebih baik daripada kalian, biarlah budi dan dendamnya kupikul sendiri.”

Rupanya Ji-sia sudah merasakan bahwa tin-dakan Oh Kay- gak menahan tanda kepercayaan mereka pasti menyangkut pula suatu peristiwa be-sar, dan peristiwa itu mungkin merupakan perso-alan yang tidak dapat mereka sepakati.

Pek-hui Siansu menghela napas sedih, katanya “Urusan yang sudah lewat biarlah lewat, kalau di-singgung kembali hanya akan mendatangkan pera-saan sedih saja… Sebab

kalau dibicarakan, se-sungguhnya semua dosa dan kesalahan ini tidak ter-letak pada Oh Kay-gak seorang saja. Kini kami te-lah berhasil mendapatkan kembali barang-barang kami, dalam kehidupan kami inipun tidak lagi me-nyiakan harapan guru kami, tidak lagi malu kepada leluhur serta beribu anak murid kami. Ai, Sicu, se-karang ada beberapa persoalan hendak kami titip-kan kepadamu.”

“Katakan saja apa pesanmu, Taysu, pasti akan kulaksanakan dengan baik.” “Sicu, budi kebaikanmu ini tak akan kulupakan untuk selamanya, walau sudah berada di alam ba-ka pun,” kata Pek- hui Siansu sedih.

“Taysu, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian ini tajam sekali dan bisa memutuskan pintu besi, biar kutolong kalian lolos dari sini.”

Orang kedua dari sebelah kanan, yakni ketua Bu-tong-pay, wajahnya jelek menyeramkan, ia meng-hela napas, katanya: “Sicu, bolehkah kutahu siapa, na-mamu? Hidup kami takkan lama lagi, biarlah maksud baikmu itu kami terima di dalam hati saja, asal kau dapat melaksanakan pesan kami, maka puaslah hati kami.”

“Aku she Bok bernama Ji-sia, kenapa kalian tak mau keluar dari sini untuk kemudian memimpin anak murid kalian untuk datang menuntut balas kepada pihak Thian-seng-po?”

“Bok sicu,” sahut Pek-hui Siansu, “coba lihat-lah keadaan kami, dengan keadaan semacam ini, mana kami sanggup melanjutkan hidup? Sudah lima belas tahun lamanya kami tersekap dalam ruang bawah tanah, setiap hari tak pernah melihat sinar matahari, jika kami keluar dari sini dan terkena sinar sang surya, mungkin tubuh kami akan me-leleh menjadi air darah.”

“Selain daripada itu, kungfu kami sekarang te-lah punah, tubuh kamipun sudah cacat, apa pula artinya hidup di dunia ini? Sungguh menyesal kami tak dapat membunuh sendiri musuh kami yang licik dan berhati keji itu…….”

Kiranya antara tulang kaki, lengan dan tulang pundak Pi- pe-kut para ketua itu telah dithembus dengan rantai baja yang kuat, tadi lantaran suasana dalam ruang sangat gelap, Ji-sia dan Yong-ling ti- dak memperhatikan sampai ke situ. Baru sekarang pula diketahui dari sini timbulnya suara nyaring logam bergesek itu karena rantai di tubuh mereka. Setelah berhenti sejenak, Pek-hui Siansu ber-kata, “Sebenarnya kami bersembilan ingin bunuh diri saja, tapi lantaran kobaran api dendam dan banyak persoalan belum selesai, kami harus tahan hidup terus, kini kami telah bertemu Sicu, harapan kami sudah terpenuhi, sekalipun harus mati, pen-deritaan selama 15 tahun tidaklah sia-sia.”

Bok Ji-sia menghela napas, katanya, “Taysu, nasib kalian sungguh jelek dan mengharukan, aku berjanji akan membalaskan sakit hati kalian ini. Nah, sekarang harap katakan pesan kalian!”

“Kalau dipikir nasib kami masih mendingan, sebab harapan kami akhirnya terkabul, “ kata ketua Bu-tong-pay, “kalau dibandingkan mereka yang te-lah tewas di tangan kalian itu, mestinya kami da-pat mati dengan tenteram.”

Ji-sia dan Yong-ling merasa sedih dan menye-sal telah membunuh begitu banyak orang.

“Kami tidak berniat mencelakai mereka…..” kata Yong-ling. “Kalian membunuh mereka juga bukan perbuat-an yang

salah, malah tindakan ini merupakan tindakan mulia.” “Kenapa demikian?” tanya Ji-sia.

“Mereka sebenarnya adalah kawanan jago per-silatan yang berjiwa kesatria, mereka baru sadar bahwa Thian-seng-po adalah tempat maksiat sete-lah menjadi anggotanya, sebab itu timbul niat me-reka untuk memberontak, dan mengkhianati Oh Kay-thian, sayang usaha mereka gagal dan malahan tersekap di sini. Kini kalian telah membunuh me-reka, ini berarti kalian telah membantu mereka melepaskan diri dari siksaan neraka.”

“Kalau mereka adalah orang baik, perbuatan kami jadi lebih berdosa lagi, “ kata Yong-ling sedih, “walaupun mereka tersekap di tempat seperti neraka dan menjalani kehidupan yang penuh siksaan, tapi setiap manusia kan berharap akan hidup terus, kalau tidak, mengapa mereka makan tengkorak manusia untuk mempertahankan hidup? Ai, kami benar-benar menyesal telah melakukan tindakan kejam.”

Ji-sia sendiripun menyesal, sekarang iapun me-rasa telah melakukan perbuatan berdosa terhadap Thian.

Pek-hui Siansu menghela napas, katanya, “Apa-kah Sicu berdua tidak melihat bahwa orang-orang itu sudah kehilangan ingatannya? Andaikan mereka memiliki sedikit akal sehat, sudah lama orang-orang itu bunuh diri, apa gunanya mereka menjalani sik-saan hidup ini? Sebelum orang-orang itu dikirim ke-mari telah dicekoki dulu obat pelenyap pikiran oleh Oh Kay- thian, sebab itulah penderitaan yang me-reka alami tak  pernah mereka rasakan sendiri, ter-kadang jika tak ada tulang lagi yang dimakan, me-reka lantas saling membunuh, pemandangan sema-cam ini sungguh mengerikan sekali, sekalipun kalian tidak membunuh mereka, akhirnya mereka pun akan mati secara mengenaskan, sebab itulah tindakan kalian sama pula dengan membantu mereka me-lepaskan diri dari siksaan.”

Kembali Ji-sia menghela napas, “Walaupun demikian, hati kami menjadi tak tenteram mem-bunuh mereka. Ai…….tapi jika kami tidak membunuh mereka, mereka yang akan merobek tubuh kami untuk dimakan.”

Ketika bicara sampai disini, perasaannya men-jadi sedikit lega.

“Bok-sicu!” kata Pek-hui Siansu kemudian, “so-al pertama kami adalah mohon padamu agar me-nyerahkan tanda kepercayaan kami ini kepada anak murid perguruan kami, kemudian ceritakanlah ke-adaan kami yang mati dalam ruang bawah tanah ini kepada mereka, suruhlah mereka memilih se-orang ketua baru.” “Hal ini pasti akan kulaksanakan dengan ba-ik.” sambil berkata ia menerima kembali tanda ke-percayaan kesembilan aliran besar itu dan disimpan dalam baju.

Ketua Bu-tong-pay lantas berkata, “Bok-sicu, tanda kepercayaan kesembilan aliran besar itu me-nyangkut mati hidup dari puluhan ribu orang ang-gota perguruan kami, hal ini mempengaruhi juga mati hidupnya dunia persilatan daerah Tionggoan, kuharap kau jaga dengan baik serta menyampaikan-nya kepada alamat masing-masing”

“Aku juga seorang anggota dunia persilatan, tak nanti kubiarkan dunia persilatan dikacau orang dengan berpeluk tangan, selain itu Suhu telah berpesan kepadaku mengenai soal ini, maka selama orang she Bok masih bernapas, tugas ini pasti akan kulaksanakan.” 

“Soal kedua adalah kami harap ilmu silat ke-sembilan aliran kau hadiahkan kepada seorang Tay-hiap, suruhlah Tayhiap itu mempelajari ilmu silat kami dan setelah itu secara terpisah mewariskan kembali kepada Ciangbunjin baru perguruan kami masing-masing.”

Mendengar perkataan ini Ji-sia berpikir, “In-tisari ilmu silat masing-masing perguruan selamanya tak pernah diwariskan kepada orang luar, tapi se-karang mereka hendak menghadiahkan ilmu silat kesembilan perguruan itu kepada orang lain, kalau begitu orang tersebut harus mempunyai hubungan yang akrab dengan mereka.”

Orang yang berada paling kiri, yakni ketua Cong-lam-pay segera berkata sambil tersenyum, “Bok-siauhiap, bukankah kau merasa heran terhadap permintaan kami yang kedua ini?”

“Ya, memang demikian perasaanku.”

“Situasi dunia persilatan dewasa ini sudah men-capai keadaan yang kritis, sementara pengaruh kaum iblis semakin besar, kekuatan golongan baik sebaliknya malah semakin lemah, dengan dasar kekuatan tersebut jelas tak mungkin kaum kita dapat menentang pengaruh kaum iblis itu. Maka kami hendak menghadiahkan ilmu silat sakti kesembilan perguruan kami kepada Tayhiap tersebut dengan maksud hendak memupuknya menjadi seorang jago berilmu tinggi, agar ia dapat memimpin anak mu-rid kesembilan perguruan besar untuk bersama-sa-ma membasmi pengaruh kaum iblis dari muka bu-mi ini.

“Orang itu selain harus memiliki bakat yang baik serta kecerdasan yang luar biasa, ilmu silat yang dipelajarinya harus pula dari aliran lurus, dengan demikian intisari kepandaian perguruan ka-mi baru bisa diselami dengan baik, di samping itu dia mesti pula seorang yang jujur dan mengutama-kan kepentingan umum, hanya manusia yang tidak serakah saja yang bersedia mewariskan kembali kepandaian itu kepada ketua baru kesembilan per-guruan kami.”

“Tapi siapakah Tayhiap yang kalian maksud-kan itu?” tanya Tong Yong-ling.

‘“Dia bukan lain adalah saudara angkatku, Siau-yau-sian- hong-khek Ku Thian-gak!”

“O, rupanya Siau-yau-sian-hong-khek! Ya, dia memang seorang kesatria yang dapat dipercaya.”

“Lalu dengan cara bagaimana ilmu sakti itu harus kuhadiahkan kepada Tayhiap ini?” kembali Ji-sia bertanya.

“Kitab kecil tipis ini merupakan intisari semua jurus ilmu silat kami bersembilan perguruan hasil ciptaan selama lima belas tahun, bila ada waktu senggang silakan saja Sicu berdua mempelajarinya.”

“Kami berdua adalah anggota perguruan lain, kami tak ingin belajar ilmu silat lain di luar tahu perguruan!” sahut Ji-sia cepat. Ia tahu maksud Pek-hui Siansu, maka sengaja mengucapkan kata-kata ini sebagai tanda bahwa mereka tidak berminat mencuri belajar.

“Aku tahu Bok-sicu dan Tong-sicu adalah anak murid orang pandai, ilmu silat kalian sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi, ilmu silat dari perguruan lain tentu saja tak lebih hebat dari-pada kepandaian kalian sendiri,” kata Pek-hui Sian-su, “karenanya sebagai tanda terima kasih kami, akan kami hadiahkan sejilid kitab pusaka lainnya serta dua butir pil mestika untuk kalian berdua.”

“Kami tidak bermaksud menerima balas jasa untuk pekerjaan yang kami laksanakan, maaf kalau tak bisa kuterima pemberian Taysu.”

“Kebesaran jiwa Bok-sicu sungguh mengagumkan kami, tapi mestika ini merupakan rahasia besar yang sampai mati pun tak akan kami bocorkan ke-pada bangsat licik Oh Kay- thian, kini kami ber-jumpa dengan Sicu berdua, walaupun saat berkum-pul sangat pendek, tapi kami tahu kalian adalah pemuda pemudi kesatria, karenanya rahasia yang menjadi idaman setiap umat persilatan ini hendak kuberitahukan kepada kalian, semoga mestika ini dapat kalian temukan dan ilmu silatnya bisa kalian pelajari demi menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan. Nah, sambutlah!”

“Kitab pusaka macam apakah itu?” demikian pikir Ji-sia, “kenapa begitu dipuja mereka sehingga rela hidup tersiksa selama lima belas tahun daripada membocorkan rahasia ini kepada Oh Kay-thiaa?”

Rupanya Tong Yong-ling juga terkejut bercam-pur heran, ia lantas bertanya, “Kitab macam apa-kah itu? Dan obat mestika apa?”

“Pernahkah kalian mendengar cerita tentang pertarungan dua orarg tokoh sakti yang bernama Hian-ki Cinjin dan Hian- cing Cinjin untuk mem-perebutkan dua butir pil Ji-khi-kun- goan-sin-wan?”

Kiranya Hian-ki dan Hian-cing berdua Cinjin itu adalah tokoh-tokoh sakti pada seratus tahun yang lalu, kungfu mereka sangat lihay, sebenarnya kedua orang itu adalah sahabat karib, tapi suatu kali secara tak disengaja mereka menemukan dua butir pil mestika yang bernama Ji-khi-kun- goan-sin-wan, konon pil mestika itu buatan Hin-se-cu (pembenci jagad) Siang Heng-tang, seorang tabib sakti yang amat tersohor.

Pil mestika itu mempunyai sifat Im dan Yang, barang siapa menelan kedua butir pil itu, maka te-naga dalamnya akan peroleh kemajuan sebesar dua kali enam puluh tahun latihan. Betapa gembiranya mereka mendapatkan pil itu yang mesti dimakan dua biji sekaligus, jika hanya makan sebutir saja hingga mengakibatkan hawa Im dan Yang tidak seimbang, bukan saja tiada manfaat-nya, bahkan kemungkinan besar akan tewas.

Sekarang Hian-ki dan Hian-cing Cinjin masing-masing mendapatkan sebutir pil itu, tentu saja ke-duanya sama-sama tak mau memberikan pil pe-nemuannya kepada rekan yang lain, akibatnya ter-jadilah pertarungan sengit untuk menentukan pil itu akan menjadi milik siapa.

Tapi ilmu silat mereka seimbang, walaupun su-dah bertempur selama tujuh hari tujuh malam, me-nang atau kalah belum ketahuan juga, akibatnya kedua orang itu sama- sama terluka, kehabisan tenaga dan akhirnya tewas.

“Apakah dua pil mestika yang kalian maksud-kan adalah Ji- khi-kun-goan-sin-wan?” demikian Ji-sia lantas bertanya dengan kaget.

Pek-hui Siansu mengangguk, “Benar, dua butir pil mestika itulah yang kumaksudkan.” “Menurut cerita orang, Hian-ki dan Hian-cing sama-sama tidak makan kedua pil mestika itu,” kata Tong Yong-ling, “tapi entah bagaimana jejak-nya kemudian lenyap dari dunia persilatan, konon tempat terjadinya pertarungan itu pun tak pernah diketahui orang.” 

Pek-hui Siansu menghela napas panjang, “Se-tiap benda yang dikatakan mestika adalah benda yang membawa alamat jelek, bahwa kami jatuh da-lam keadaan begini tak lain karena kami mengetahui di manakah kedua tokoh itu melakukan pertarungan.

“Sesungguhnya mereka melangsungkan adu tena-ga dalam di sebuah kuburan kuno, hingga menjelang saat ajalnya mereka baru sadar bahwa tindakan me-reka itu keliru, maka di dalam kuburan tersebut mereka bersama-sama menyusun sejilid kitab pusaka yang diberi nama Thian-ki-hian-cing-pit-lik, ber-sama kedua butir pil Ji-khi-kun-goan-sin-wan, kitab tersebut disimpan dalam kuburan itu untuk menanti  datangnya orang yang berjodob dengan benda-ben-da itu.

“Kemudian menjelang ajalnya, mereka membuat sembilan buah peta rahasia yang menunjukkan tempat berlangsungnya pertarungan itu, meski ter-diri dari sembilan buah peta, sesungguhnya adalah selembar peta yang dibagi menjadi sembilan bagian yang secara terpisah dibagikan kepada sembilan orang ketua dari sembilan perguruan besar.

“Ketika itu, ketua dari kesembilan perguruan besar adalah kesembilan guru kami, demi mendapat peta itu, semua orang merasa gembira, tapi.., , ai, siapa tahu kesembilan lembar peta itu justru me-rupakan perenggut nyawa kesembilan orang guru kami.”

“Mendingan guru kami enggan untuk menye-rahkan peta bagiannya kepada orang lain, akibat-nya mereka mengikuti jejak kedua tokoh terdahulu dengan pertarungan yang mengakibatkan tewasnya mereka. Kemudian peta-peta itu pun jatuh ke ta-ngan kami bersembilan, waktu itu semua orang me-rasa bingung dan tak tahu bagaimana caranya me-nyelesaikan persoalan peta ini.”

“Pada saat semua orang menghadapi kesulitan inilah, tiba- tiba muncul seorang berkerudung yang mencuri tanda kebesaran kami….”

“Dan orang itu adalah guruku?” tukas Ji-sia sambil menghela napas.

Pek-hui Siansu juga menghela napas, katanya, “Manusia berkerudung itu bukan Thian-kang-te sat- seng-gwat-kiam, tapi selanjutnya tanda kebesaran dari kesembilan perguruan besar yang dicuri oleh manusia berkerudung itu jatuh ke tangan gurumu Oh Kay-gak.

“Pada mulanya kami tidak tahu Oh Kay-gak adalah pemimpin Bu-lim-jit-coat yang bernama Ban-kiam-sin-kun, kemudian setelah mengetahui hal ini, kami pun mohon kepada Oh Kay-gak agar me-ngembalikan tanda kebesaran itu kepada kami, tapi ia minta benda-benda tersebut ditukar dengan kesembilan bagian peta kami, atau kalau tak mau menyerahkan peta, maka ilmu silat kami ber-sembilan harus mampu mengalahkan dia. Maka kamipun berjanji untuk beradu kepandaian dalam ben-teng Thian-seng-po empat tahun kemudian.

“Peristiwa itu terjadi pada lima belas tahun yang silam, waktu itu kami mendatangi Thian-seng-po untuk memenuhi janji, siapa tahu Oh Kay-gak telah disekap Samtenya Oh Kay- thian, selama tiga tahun, ketika kami tiba di Thian-seng-po, da-lam keadaan tidak siap akhirnya kami terjebak oleh Oh Kay-thian sehingga tersekap selama lima belas tahun di sini”

“Taysu, apakah kalian tahu siapakah manusia berkerudung yang mencuri tanda kebesaran kalian itu!” tanya Ji-sia.

“Ilmu silat orang itu tidak kalah daripada Oh Kay-gak, lagipula merupakan musuh besar Oh Kay-gak sendiri, tapi entah bagaimana kemudian ter-nyata tanda kebesaran kami terjatuh ke tangan Oh Kay-gak, Menurut penyelidikan yang kemudian ka-mi lakukan dapat diketahui bahwa manusia berke-rudung itu ialah Cengcu perkampungan Kiam-hong-ceng yakni Bu-lim-sin-kun Lamkiong Hian.”

Mendengar nama itu, Ji-sia berpikir, “Kalau begitu Bu-lim- sin-kun Lamkiong Hian pastilah orang yang dikatakan Oh Kay- gak sebagai salah satu di antara laki dan perempuan yang tak dapat dikalah-kan beliau itu.”

Sementara itu Pek-hui Siansu menuju ke sudut ruangan dan mengeluarkan sejilid kitab kecil serta selembar kain kumal, sambil disodorkan ke tangan Ji-sia, katanya, “Kain kumal ini bukan lain adalah peta yang kami buat sesuai dengan lukisan pada kesembilan lembar peta aslinya,  di situlah akan kau temukan kitab pusaka serta obat mestika pe-ninggalan Bu-lim-siang-cin. Kuburan kuno itu letaknya mungkin dekat sekali dengan kompleks kuburan dekat Thian- seng-po, asal kau ikuti petunjuk pe-ta ini tentu tempat itu akan kau temukan dengan cepat.

“Sekarang kau membawa beberapa macam ben-da mestika, bilamana satu saja di antaranya diram-pas orang, maka akibatnya akan mempengaruhi ke-hidupan berpuluh- pulah ribu orang, maka kau harus perhatikan baik-baik bahwa orang persilatan seba-gian besar adalah manusia licik dan berhati keji, kau harus berjaga-jaga terhadap tipu muslihat me-reka, agar jangan sampai terjebak.”

“Terutama sekali yang harus kau perhatikan adalah ruyung Jian-kim-si-hun-pian itu, jangan kau-gunakan terlalu menyolok, tentu Oh Kay-gak per-nah menerangkan hubungan serta pengaruh ruyung ini dengan keselamatan dunia persilatan?”

Ji-sia terkesiap mendengar perkataan itu, sahutnya: lantang, “Terima kasih atas nasihat Taysu, ke-tika Suhu menyerahkan ruyung ini padaku, beliau bilang ruyung ini menyangkut beberapa kasus pem-bunuhan, katanya pula bahwa senjata mestika ini menyimpan suatu rahasia besar yang akan meng-gemparkan dunia persilatan.”

“Ya, ruyung Jian-kim-si-hun-pian memang me-nyangkut beberapa kasus pembunuhan, soal rahasia yang terkandung kurang begitu kupahami, tapi yang jelas kemunculan kembali ruyung ini pasti akan menimbulkan badai bencana dalam dunia persilatan, kuharap kau dapat bertindak lebih hati-hati!”

“Taysu,” tiba-tiba Ji-sia bertanya lagi, “tahukah engkau sebab apakah guruku dicelakai oleh adiknya? Dan soal-soal budi dan dendam lain selama hidup-nya?”

“Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak memang seorang berbakat, hanya dua orang di du-nia ini yang mampu menandingi kepandaiannya, se-lama hidupnya mengembara dalam dunia persilatan, soal budi dan dendamnya tentu saja ada, cuma sayang kami tidak mempunyai hubungan apa-apa de-ngannya, jadi sedikit sekali persoalannya yang kami ketahui.”

“Di antara kedua orang yang sanggup menan-dingi guruku selain Bu-lim-sin-kun Lamkiong Hian, siapa pula seorang lainnya?”

“Orang itu adalah seorang perempuan, tapi asal-usulnya kurang jelas, konon dia bergelar Kiu-thian-mo-li.”

Pelbagai ingatan lantas berkecamuk dalam be-nak Bok Ji- sia, pikirnya, “Tentang urusan Suhu yang membuatnya dendam, kemungkinan besar ada hubungannya dengan kedua laki perempuan itu, jika aku ingin membongkar soal perselisihan itu, harus kuselidiki langsung dari mulut salah seorang di antaranya, mungkin Oh Ku-gwat dan Oh Kay-thian juga mengetahuinya. Ai, urusan yang me-nyangkut diri Suhu benar-benar suatu teka-teki yang sukar dipecahkan, lagipula tampaknya mempengaruhi dunia persilatan pada umumnya….” Dalam pada itu, Pek-hui Siansu telah berkata lagi setelah menghela napas sedih, “Bok-sicu, usiamu masih muda, tapi tenaga dalammu berhasil men-capai tingkatan setinggi ini, bila dibina beberapa waktu lagi, kau pasti dapat melakukan karya gemi-lang bagi dunia pe;silatan, kuharap kalian suka baik-baik menjaga diri. Kini gunakanlah ruyung emas Jian-kim-si-hun- pian untuk menjebol pintu baja ini dan masuklah, segera akan kuberi petunjuk jalan keluar bagi kalian.”

Seraya berkata, kesembilan orang ketua per-guruan besar itu lantas mengundurkan diri ke be-lakang. Ruyung mestika di tangan Bok Ji-sia segera memancarkan sinar keemasan, di tengah kemilau ular-ular emas kecil, diiringi gemerincing nyaring pintu baja itu sudah terpapas menjadi dua bagian oleh ketajaman ruyung emas itu.

Baru pertama kali ini kesembilan orang ketua perguruan besar itu menyaksikan kehebatan ruyung tersebut, tanpa terasa semua orang memuji tiada hentinya, “Betul-betul senjata mestika yang tajam luar biasa, tak heran banyak jago persilatan yang tergila-gila padanya, sungguh beruntung kami sempat menyaksikan ketajaman senjata ini menjelang ke- matian kami.”

Dengan suatu gerakan cepat Ji-sia dan Yong-ling menerobos masuk dalam ruangan itu, ter-nyata di tubuh kesembilan orang Ciangbujin itu masing-masing di belenggu oleh tiga rantai sebesar lengan bocah, ujung rantai terikat pada dinding bau yang kukuh.