Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 03

Jilid 03

Agaknya bayangan sebelah sana juga tahu, de-ngan cepat ia mendekat, senjatanya segera dilolos. Dengan sorot mata yang dingin Bok Ji-sia menyapu pandang sekejap wajah orang-orang itu, ternyata mereka adalah kakek bertubuh tinggi tegap beserta dua belas orang laki-laki berbaju ringkas warna hitam.

Begitu berhadapan dengan Ji-sia, kakek tinggi besar itu seperti terperanjat, diam-diam ia berpikir, “Rupanya bocah ini belum mampus!”

Kiranya kakek bertubuh tinggi besar ini ada-lah gembong iblis kalangan hitam yang bernama Mo-in-jiu (tangan sakti) Kok Siau-thian.

Sejak menjadi anggota Thian-seng-po, oleh Seng-gwat- kiam Oh Kay-thian secara khusus ia ditugaskan mengawasi gerak-gerik Oh Kay-gak, se-bab Oh Kay-thian tahu Oh Kay-gak memiliki beberapa macam benda mestika, karena kuatir di-dapatkan orang lain, maka secara khusus dia me-ngutus dua orang jago lihaynya untuk mengawasinya.

Mo-in-jiu Kok Siau-thian lantas tertawa dingin, tegurnya, “Hei anak muda, apakah makhluk tua itu sudah mampus?”

Ji-sia mendengus, “Hm, kalian manusia busuk, sungguh tak tahu budi, setelah Pocu yang dulu di-celakai oleh Oh Kay- thian, bukannya kalian mem-belanya malah kalian mengaku musuh sebagai ma-jikan, sungguh manusia yang tak kenal budi! Malam ini juga orang she Bok akan membunuh kalian yang tak tahu budi dan tak setia…..”

Belum habis perkataannya, segulung angin pu-kulan yang kuat langsung dilontarkan ke tubuh Kok Siau-thian. Sejak awal Mo in-jiu Kok Siau-thian mere-mehkan Jisia. Karenanya ia tidak siap sedia, ia tidak mengira jurus serangan Ji-sia bisa begitu aneh dan sakti, keruan ia kagjt, tapi sudah terlambat.

Dalam gugupnya cepat telapak tangan kirinya berputar dan menangkis. Seperti diketahui, Ji-sia telah memperoleh sa-luran tenaga dalam Oh Kay-gak hasil latihan pu-luhan tahun, serangan itu sungguh luar biasa dah-syatnya, tubuh Mo-in-jiu Kok Siau-thian mencelat dan jatuh beberapa tombak jauhnya.

Begitu berhasil dengan serangannya, Ji-sia membentak, kedua telapak tangannya kembali bergerak ke depan, dua gulung angin pukulan maha dahsyat menyambar kedua belas orang laki-laki berbaju warna hitam itu. Ketika terkena  pukulan yang dahsyat tersebut dua orang yang berada paling depan mencelat jauh ke belakang dengan muntah darah, nyawa mereka melayang seketika.

Mo-in-jiu Kok Siau-thian sendiri meski terbantiog ke atas tanah oleh pukulan Ji-sia tadi, na-mun bagaimanapun dia adalah seorang yang memi-liki tenaga dalam yang cukup kuat, dengan cepat hawa murninya disalurkan untuk menekan pergolak-an darah dalam rongga dadanya, lalu melompat bangun. Diiringi bentakan keras, secepat kilat ia me-nubruk lagi ke arah Ji-sia.

Waktu itu baru saja Ji-sia melepaskan suatu pukulan, melihat Kok Siau-thian menerjang tiba dengan garang, ia bergeser ke samping, dengan te-lapak tangan kiri ia sambut serangan tersebut……

Belum sempat kaki Mo-in-jiu Kok Siau-thian menempel permukaan tanah, tiba-tiba segulung angin pukulan menekan tubuhnya, sebagai seorang jago golongan Hek-te yang terkemuka, apalagi kungfu andalannya adalah telapak tangan, ia ti-dak menjadi gugup. Tenaga segera dihimpun, kedua telapak tangan-nya melindungi dada dan pelahan didorong ke depan menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras. “Blang!” kedua orang sama tergetar mundur selangkah, sementara kesepuluh laki-laki berbaju hitam yang siap di samping segera manfaatkan kesempatan itu, cahaya perak berkelebat, sepuluh bilah pedang membacok kepala Bok Ji-sia dengan kecepatan luar biasa.

Tapi Ji-sia sekarang, bukan lagi Ji-sia tempo hari, bukan saja jurus maut dalam Jian-kim-siang-gi-pit-keng telah dikuasainya, iapun mendapat ajar-an ilmu sakti Oh Kay-gak, ia tak pandang sebelah mata terhadap serangan lawan, kini iapun tidak ra-gu lagi untuk mengerahkan tenaga dalamnya, se-bab penyakit dalam tubuhnya telah sembuh dan tenaga dalam sudah pulih, bahkan tambah sempur-na. Ia tertawa dingin, menerjang dengan suatu ge-rakan aneh ia cengkeram pergelangan tangan ka-nan dua orang lelaki kekar dan menggentakkannya kembali ke sana.

Jeritan ngeri berkumandang, kedua laki-laki kekar itu termakan pukulan pada dadanya, isi pe-rut mereka hancur, dengan tumpah darah tubuh mereka mencelat sejauh beberapa tombak dan te-was seketika.

“Sreti Sret!” desing tajam pedang menyambar dari kiri dan kanan.

Cepat Ji-sia berputar sambil menghantam pung-gung kedua orang laki-laki lainnya, tak sempat menjerit lagi mereka pun roboh terkapar menyusul kakek moyangnya. Hawa napsu membunuh berkobar dalam dada Bok Ji-sia, begitu menyelesaikan dua orang, ia me-lompat ke atas, kedua kakinya melancarkan ten-dangan berantai. Dua kali jeritan nyaring berkumandang, dua orang kena tertendang batok kepalanya hingga han-cur, darah dan isi benaknya berceceran.

Dalam waktu singkat Ji-sia telah membunuh delapan orang laki-laki berbaju hitam setiap gerak-annya cara pukulannya dan tendangannya merupakan gerakan yang aneh….. Kobaran hawa napsu membunuh Ji-sia belum sirap, dengan suatu gerakan cepat ia mencabut ruyung emas Jian-kim-si- hun-pian tiruan sambil tertawa seram…..

Di mana cahaya emas berkelebat, dengan gerak cepat senjata itu menggulung tubuh empat orang lain yang masih hidup…..

Jerit kesakitan berkumandang susui menyusul empat orang itu beruntun juga tewas secara me-ngerikan Selesai membunuh keempat orang itu, dengap sinar mata menggidikkan Ji-sia menyapu pandang sekeliling tempat itu, tapi entah sejak kapan ternyata Mo-in-jiu Kok Siau-thian sudah melarikan diri…..

“Hahaha!….” pemuda itu bergelak tertawa dengan suara yang mengerikan, setelah memandang sekejap mayat-mayat yang terkapar di tanah, de-ngan suatu gerakan cepat ia melompat pergi dari situ…..

Walaupun ilmu silat Bok Ji-sia kini sudah amat lihai, tetapi pemuda itu masih merisaukan keselamatan tanda kepercayaan kesembilan aliran besar, ia kuatir dikerubut kawanan jago lihai dari Thia-seng-po, sebab betapapun kemajuan yang telah dicapainya, dua tangan melamanya sulit menahan empat kepalan, jika benda-benda itu sampai dirampas mereka, bukankah berarti ia mencelakai beribu jiwa? Maka anak muda itu bertekad kabur dari Thian-seng-po secepatnya, ia harus kembali ke istal kuda lebih dulu, kemudian baru menyusun ren-cana selanjutnya.

Sepanjang perjalanan ia bergerak cepat dan tidak memperhatikan keadaan di tengah perjalanan, karena itu arah tujuannya menjadi salah. Sementara ia melakukan perjalanan cepat, tiba-tiba sesosok bayangan muncul di hadapannya.

“Bok-siauhiap, selamat atas keberhasilanmu!” se-ru orang itu. Dari balik pepohonan muncul seorang kakek berjenggot panjang berwajah lembut dan beralis tebal, orang itu bukan lain adalah kakak Oh Kay-gak….Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat adanya.

Terkesiap Ji-sia demi berjumpa dengan orang itu, pikirnya, “Wah celaka! Kalau apa yang dikata-kan Oh Kay-gak benar, orang ini pasti bermaksud jahat kepadaku.”

Buru-buru Ji-sia menghimpun tenaga dan menahan gerak tubuhnya yang sedang menerjang ke depan itu, setelah memberi hormat, katanya, “Oh-locianpwe, terima kasih atas petunjukmu semalam, kini penyakit yang kuderita telah sembuh sama se-kali.”

“Bok-siauhiap, bagaimana Jiteku sekarang?” tanya Oh Ku- gwat sedih.

Menyinggung soal Oh Kay-gak, timbul lagi kesedihan Ji-sia, air mata lantas bercucuran mem-basahi pipinya.

“Dia….dia orang tua telah meninggalkan du-nia yang fana ini…..” desisnya.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menghela napas, sekilas rasa sedih menyelimuti wajahnya, katanya, “Sesungguhnya aku berharap kau menolong Jiteku keluar, siapa tahu malah sebaliknya, jiwanya malah menjadi korban, ai….semua ini adalah kesalahan-ku, apalagi penyebab utama dari segala dosa ini adalah Samtcku yang berhati busuk itu.”

Dengan air mata bercucuran Ji-sia berkata, “Aku pasti akan membalas dendamnya?”

“Ai….Bok-siauhiap!” kata Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat sambil menghela napas, “siapa yang akan kau cari untuk membalas sakit hati ini!”

“Setiap orang yang pernah mencelakainya akan kucari dan menumpasnya dari muka bumi!” Mendengar ucapan ini, air muka Thian-kang-kiam Oh Ku- gwat agak berubah, tapi hanya se-bentar saja lantas lenyap tak berbekas.

Tiba-tiba Ji-sia bertanya, “Oh-locianpwe, kau adalah kakaknya tuan penolongku, tentuuya kau tahu siapa yang telah mencelakainya?”

“Ai, panjang sekali ceritanya,” kata Oh Ku-gwat sedih, “persoalan pada masa silam telah lama lalu, yang tertinggal kini hanya sakit hati, entah sampai kapan semuanya ini baru akan berakhir?”

Ketika berjumpa untuk pertama kalinya de-ngan Oh Ku- gwat, Ji-sia memang sudah menaruh kesan baik, apalagi setelah menyaksikan rasa menye-sal yang menghiasi wajahnya ini, tanpa terasa ia lan-tas berpikir, “Menurut Oh Kay-gak, kakaknya adalah seorang manusia yang licik, mungkin dahulu ia memang manusia semacam itu, tapi delapan be-las tahun kemudian, siapa tahu dia telah menye- sali perbuatan itu dan bertobat? Rasanya bila ku-ingin menyelidiki semua budi dan dendam tentang Oh Kay-gak pada masa lalu, harus kuselidiki dari orang ini….”

Berpikir sampai di sini Ji-sia lantas berkata, “Oh-locianpwe, Jitemu berbudi setinggi bukit ke-padaku, soal sakit hatinya akan Wanpwe selidiki hingga menjadi jelas, sekarang berhubung Wanpwe masih ada urusan penting lainnya, terpaksa aku mesti pergi dulu, jika Locianpwe tak ada. urusan lain, terpaksa aku mohon diri saja.”

“Tunggu sebentar Bok-siauhiap,” buru-buru Oh Ku-gwat mencegah, “masih ada sedikit urusan yang hendak kubicarakan denganmu, masalah ini me-nyangkut soal Jiteku itu, Ai. setelah perpisahan kita ini entah kapan baru dapat bertemu kembali, ka-renanya kutunggu kemunculanmu, ingin kuterangkan semua persoalan masa lampau kepadamu agar ma-salah ini tidak selalu menjadi teka-teki dalam be-nakmu.” “Bila Locianpwe bersedia memberi penjelasan, hal ini lebih baik lagi, Wanpwe pasti akan meng-ingatnya selalu.”

Di tengah keheningan malam itu tiba-tiba ber-kumandang suara siulan aneh yang agaknya ber-gerak menuju ke arah sini.

Air muka Ji-sia seketika berubah, buru-buru serunya, “Locianpwe, maaf tak dapat kutemani lebih lama lagi!”

Seraya berkata ia lantas melompat pergi dari situ. Mendadak Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat berkelebat maju, secepat kilat tangan kirinya menyam-bar pergelangan tangan kanan Ji-sia.

Sergapan ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, gerakannya pun aneh. Ji-sia merasakan ancaman itu, cepat ia berge-ser ke samping, tangan kanan menangkis ke belakang dengan suatu gerakan yang indah ia meloloskan diri dari cengkeraman tersebut.

Baru saja ia hendak menegur dengan kening berkerut, Oh Ku-gwat telah berkata duluan, “Bok- siauhiap, kau tidak apal jalan dalam benteng, jangan sembarangan berjalan, nanti kau bisa dihadang me-reka, adapun kedatanganku adalah bermaksud memberitahukan masalah Jite kepadamu, sekarang tempat ini tidak cocok sebagai tempat bicara, ha-rap kau ikut pergi ke tempat lain!”

Perkataan ini diucapkan dengan nada sungguh-sungguh, sedikitpun tidak nampak berpura-pura, serangannya tadi seakan-akan tidak pernah terjadi.

Diam-diam Ji-sia bersyukur karena nyaris bentrok dengan kakek itu, katanya kemudian de-ngan lantang, “Baiklah, harap Locianpwe bersedia menunjuk jalan.”

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat memutar badan dan pelahan berjalan menuju ke depan sana….. Ji-sia ikut di belakangnya, ia lihat walaupun Oh Ku-gwat berjalan sangat pelahan tapi gerak tubuhnya enteng dan gesit, diam-diam Ji-sia merasa kagum sekali. Mereka terus berjalan masuk keluar beberapa halaman rumah.

Sesaat kemudian sampailah mereka di depan pintu sebuah gedung yang berdiri menyendiri, seke-liling gedung ini dihiasi aneka bunga yang indah menawan dengan bau harum semerbak.

“Inilah tempat tinggalku,” kata Oh Ku-gwat, “anggota benteng lainnya tidak dapat masuk ke sini.”

Sambil berkata Oh Ku-gwat mendorong pintu, dengan cepat ia menerobos masuk ke dalam…..

Sama sekali Ji-sia tidak menyangka kakek itu akan mencelakainya, dia ikut masuk ke situ. Ruangan itu gelap gulita, melihat jari tangan sendiri saja sukar, Oh Ku-gwat yang berada di de-pan entah sudah kabur ke mana. Tapi Ji-sia tidak menaruh curiga, ia mengira kakek itu lagi mema-sang lampu.

Mendadak Ji-sia merasakan desir angin tajam dari belakang…..ia menjadi kaget dan siap siaga, tapi saat itu juga sekujur badan lantas bergetar, tahu-tahu urat nadi pergelangan tangan kanan su-dah dicengkeram orang.

Serangan itu dilakukan dengan cepat luar biasa, kendatipun Ji-sia memiliki ilmu silat tinggi te-tap tak dapat menghindar, sebab sedetik sebelum dia bergerak, nadinya sudah dicengkeram orang. Sebagai mana diketahui, nadi merupakan salah satu diantara 36 jalan darah penting lainnya, jika sampai kena ditangkap orang, maka separuh badan akan menjadi kaku dan tak bertenaga.

“Bok-siauhiap” seseorang tertawa seram di be-lakangnya, “maaf terpaksa aku bertindak kasar ke-padamu, biarpun ruyung sakti Jian-kim-si-hun-pian tidak kuambil, belum tentu kau sanggup men-jaganya dengan baik.” Baru bicara sampai di sini, ruangan tiba-tiba terang benderang. Ruangan itu luasnya lima-enam tombak, dalam ruangan tiada benda apa pun, kosong melompong kecuali beberapa obor di atas dinding, sekeliling ruangan dilapisi baja yang kuat, jelas tempat ini bukan tempat tinggal melainkan sebuah jebakan.

Ji-sia coba berpaling ke sekeliling tempat itu, ia lihat Oh Ku- gwat berdiri tidak jauh di samping-nya, sedangkan orang yang mencengkeram urat nadi-nya adalah seorang kakek kecil pendek bermuka pucat, berjenggot kambing dan berusia lima puluhan, dilihat dari tampangnya jelas adalah seorang jahat dan kejam.

Gusar sekali Ji-sia, baru saja dia mau mengum-bar kemarahannya, tiba-tiba hatinya tergerak, ia telan kembali kata-katanya dan berpikir, “Kini urat nadiku dicengkeram, semua kekuatanku lenyap, kalau sampai kubangkitkan kemarahannya, mung-kin mereka akan merampas mustika itu dengan kekerasan.”

Berpikir demikian, ia berusaha menahan rasa marahnya, lalu berkata sambil tertawa, “Oh-locian-pwe, apakah kau tidak merasa menurunkan derajat sendiri dengan caramu yang merampas barang mi-lik orang?”

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat terseayum. “Bok-siauhiap!” jawabnya, “serahkan saja ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian kepadaku, dan takkan kucelakai jiwamu,”

“Ah, rupanya Oh-locianpwe menghendaki Jian-kim-si-hun- pian? Ambil saja ruyung yang berada di atas bahuku ini!”

Kakek pendek kecil itu tertawa seram, “He-hehe, jangan berlagak bodoh di hadapan kami, kau-anggap kami tidak tahu ruyung itu adalah duplikat yang dibuat oleh Ban-pian-sinkun?”

“Bok-siauhiap,” kata Oh Kay-gwat pula, “di depan kami lebih baik jangan berbohong, bukan saja Jiteku telah mewariskan kepandaiannya kepa-damu, menyembuhkan lukamu, juga menghadiahkan benda mestikanya kepadamu, sekarang yang kuinginkan hanya ruyung mestika Jian-kim-si- hun-pian serta sarungnya, yang lain tidak akan kuambil.”

Ji-sia sadar keadaan sekarang tidak mengun-tungkan dirinya, tapi bagaimanapun juga ruyung itu tak boleh sampai dirampas olehnya, kata-kata Oh Kay-gak terasa masih mendengung di telinganya….Ruyung ini tak ternilai harganya, setiap orang yang belajar silat menganggapnya melebihi nyawa saudiri, di dalamnya mengandung suatu rahasia be-sar yang jauh lebih berharga daripada ruyung ini sendiri….

Maka setelah mendengar perkataan Oh Ku-gwat, lalu teringat kembali akan pesan Oh Kay-gak, Ji-sia” lantas berpikir, “Oh Ku-gwat meminta ruyung beserta sarungnya, jangan-jangan rahasia tersebut berada pada sarung ruyung….Tapi sarung lemas ini tampaknya tidak mempunyai sesuatu tanda yang mencurigakan.

Berpikir sampai di sini, pemuda itu mendengus, katanya, “Oh-locianpwe, Jian-kim-si- hun-pian ada-lah hadiah Oh-pocu untukku, ia suruh Wanpwe melindunginya dengan jiwa ragaku, apakah kau menyuruh Wanpwe mengingkari janji?”

Kakek pendek yang mencengkeram urat nadi Bok Ji-sia itu tertawa dingin, katanya, “Ruyung Jian-kim-si-hun-pian adalah benda pembawa mala-petaka, dengan maksud baik kuingin menolongmu untuk melenyapkan bencana besar yang berada di depan mata, tapi kau tidak tahu diri.”

“Bok-siauhiap, kau mesti tahu ruyung itu me-nyangkut peristiwa pembunuhan yang sangat besar,” kata Oh Ku-gwat pula sambil tertawa, “ada be-berapa orang gembong iblis yang sudah puluhan tahun tak pernah menampakkan diri kini secara diam-diam sedang menyelidiki jejak ruyung tersebut, dengan kekuatanmu seorang jangan harap mampu menentang kekuatan mereka. “Hehehe, terima kasih banyak atas maksud ba-ikmu itu,” jawab Ji-sia sambil tertawa dingin, “Wanpwe tidak akan memamerkan ruyung ini di depan umum.”

“Jangan kau anggap enteng ketajaman mata-orang persilatan, dewasa ini sudah ada banyak orang yang tahu bahwa kau membawa ruyung mestika ini, berita tersebut tentu segera akan tersebar ke mana-mana dalam waktu singkat, badai pun akan ber-jangkit. Selain itu semua orang tahu ruyung ini ber-ada pada Jiteku, gembong iblis itu pasti akan lang-sung kemari membuat huru-hara dalam Thian-seng-po, daripada mengakibatkan terjadinya peristiwa berdarah, kuharap Bok-siauhiap sudi berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan.”

Seandainya Ji-sia tidak mengalami sergapan tadi, tentu ia tak tahu kakek yang berwajah lembut ini sesungguhnya adalah seorang manusia licik yang berbahaya sekali.

“Jadi rahasia ini takkan tersiar bila ruyung ber-ada ditanganmu?” ejek Ji-sia.

“Jangan kuatir Bok-siauhiap, aku tidak bermak-sud mengangkangi ruyung ini, sengaja kusebarkan kabar ini ke dunia persilatan dengan maksud agar semua orang persilatan yang ada sangkut pautnya dengan ruyung ini berkumpul di dalam benteng Thian-seng-po, dan kita mencari suatu jalan penyelesaian yang baik.”

“Huh, hanya setan yang percaya pada perkata-anmu! Terus terang kuberitahukan padamu, tak nanti kukecewakan orang yang menghadiiahkan ru-yung ini kepadaku dan menyerahkannya kepada orang lain.”

“Jadi kau tidak mau menyerahkan ruyung itu kepada kami?” teriak si kakek pendek kecil dengan marah. “Baik, kami akan merampasnya dengan ke-kerasan.”

Tangan, kirinya yang mencengkeram urat nadi Bok Ji-sia segera diperkeras, sementara tangan kiri merogoh saku anak muda itu. Rupanya dalam pembicaraan tersebut menda-dak Ji- sia teringat pada ilmu menutup jalan darah ajaran Oh Kay- gak, ia menjadi tabah dan semua nadi penting pada lengan kanannya ditutup.

Sewaktu kakek kecil itu hendak merampas de-ngari kekerasan, mendadak ia tertawa dingin, tangan kirinya membalik dan balas mencengkeram urat na-di tangan kanan lawan, sementara tangan kanannya mengipat sekuatnya, begitu terlepas dari cekalan, suatu pukulan langsung menghantam dada kakek itu. Serangan balasan ini dilancarkan sangat men-dadak, betapa cerdik kakek itu juga tak menyangka Ji-sia masih sanggup melancarkan serangan balasan dalam keadaan urat nadi masih dicengkeram.

“Duk!” dengan telak pukulan Ji-sia bersarang di dadanya, ia bersuara tertahan, tubuhnya mencelat beberapa tombak ke belakang dan muntah darah, walaupun tenaga dalamnya cukup sempurna, namun pukulan Ji-sia itu menyebabkan dia tak sang-gup merangkak bangun lagi.

Air muka Oh Ku-gwat berubah hebat, hawa napsu membunuhnya berkobar, seperti hantu ia me-layang maju dan menahas dengan telapak tangan. Ji-sia berkelit ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan itu, lutut kanannya diangkat un-tuk menyodok perut Oh Ku-gwat.

Serangan ini sangat bagus, sekalipun Oh Ku-gwat sangat lihay, terpaksa ia melompat mundur. Tapi begitu mundur ia menerkam maju pula, ke-cepatannya luar biasa, pukulan demi pukulan di-lancarkan dengan tenaga dahsyat, secara beruntun ia lepaskan dua kali pukulan berantai.

Ji-sia mematahkan semua serangan dengan ge-rakan yang aneh, keruan Oh Ku-gwat terkesiap. Kejut dan heran Oh Ku- gwat melihat kelihaian lawan, ia tak mengira kepandaian pemuda itu se-demikian saktinya dengan tenaga pukulan yang sa-ngat kuat, tapi dengan begitu iapun tahu bahwa Jitenya telah memberikan semua tenaga dalamnya kepada pemuda itu.

“Bocah ini sangat berbahaya kalau dibiarkan hidup,” demikian ia pikir, “kalau ia berlatih setahun lagi, sulit rasanya untuk mencarikan orang yang mampu menaklukkan dia.”

Ingatan ini semakin mengobarkan hawa napsu membunuhnya. Pada saat itulah Ji-sia telah melancarkan se-rangan balasan, tangan kiri kanan melepaskan serangkaian pukulan berantai, sementara kaki kanan menendang jalan darah Ciang-bun-hiat di tubuh lawan. Oh Ku-gwat tertawa dingin, sambil menghindar ke samping ia lancarkan pukulan ke iga kanan pe-muda itu dari sudut yang tak terduga.

Sebagai jago kelas satu, serangan mereka boleh dibilang merupakan serangan mematikan, walaupun sepintas lalu tidak nampak kehebatannya, padahal tenaga dalam mereka sudah disalurkan sekuatnya, barangsiapa terkena serangan, sedikitnya akan terluka parah.

Ji-sia apal sekali akan jurus serangan dalam kitab Jian-im- siang-gi-pit-keng, semua serangan yang dipergunakan cukup memusingkan lawannya, men-dadak ia menyurut mundur, sambil melompat se-cepat kilat menendang jalan darah Ya-ho- hiat di-tenggorokan lawan…..

Tendangan semacam ini jarang terjadi dalam dunia persilatan, mau-tak-mau Oh Ku-gwat menarik diri ke belakang, sementara itu Ji-sia lantas me-layang turun.

“Ilmu silatmu memang lihay sekali,” seru Oh Ku-gwat sambil tertawa dingin, “tapi malam ini ja-ngan harap bisa tinggalkan tempat ini.”

“Ah, belum tentu!” ejek Ji-sia sambil meng-hantam pula.

Jurus serangan Bok Ji-sia memang hebat sekali, tapi dalam hal tenaga dalam dia tidak lebih kuat, di bawah desakan lawan, ia terpaksa mundur terus. Diam-diam Oh Ku-gwat heran, ia pikir kecuali Jitenya jarang menemukan tandingan di dunia, siapa tahu pemuda ini juga sanggup menahannya dengan sama kuat.

“Sret! Sret!” kembali pukulan-pukulan berat memaksa Ji-sia mundur tiga langkah ke belakang.

Begitu lawan mundur, Oh Ku-gwat menerjang maju seperti bayangan setan, tangan kiri meng-hantam muka lawan dan tangan kanannya dengan kuat menghantam pinggang pemuda itu. Satu jurus dengan dua serangan ini merupakan jurus yang ganas, dan tidak memberi peluang bagi Ji-sia untuk melancarkan serangan balasan, satu-satunya jalan hanyalah berkelit ke samping.

Agaknya Oh Ku-gwat telah memperhitungkan hal ini, kaki kirinya segera diangkat dan melepas-kan tendangan ke ulu hati anak muda itu. Andaikata Ji-sia termakan oleh tendangan ter-sebut, walau tak mati pun bakal terluka parah, da-lam gugupnya ia melompat ke tempat semula, ia tahan serangan tangan kiri lawan yang meng-arah muka dan bahunya.

Sambil mendengus tertahan, bahu anak muda itu kena dihantam telak, saking sakitnya tulang se-rasa retak, darah bergolak dan tubuh tergetar mun-dur tujuh-delapan langkah dengan sempoyongan….

Kesempatan yang baik ini tentu saja tidak di-sia-siakan Oh Ku-gwat, Ji-sia belum lagi berdiri te-gak, serangan kedua yang lebih dahsyat kembali me-ngurung sekujur tubuhnya. Mencorong sinar mata Bok Ji-sia, sambil membentak segenap tenaga dalamnya terhimpun pa-da telapak tangan, lalu membentuk satu lingkaran dan disambutnya ancaman Oh Ku- gwat dengan ke-ras lawan keras.

“Biang!” tubuh Ji-sia mencelat sejauh dua tom-bak, sebaliknya Oh Ku-gwat dengan muka pucat dan bahu bergetar terpental mundur sejauh tujuh-delapan langkah sebelum berhasil berdiri tegak. Ji-sia merasakan darah dalam dadanya bergolak keras, tapi ia tahan sebisanya, dengan tajam ditatap-nya Oh Ku-gwat sambil menanti serangan selanjut-nya. Mendadak kakek pendek yang terhajar luka parah oleh Bok Ji-sia tadi tertawa senang, mendadak ia menubruk sebuah rantai yang bergelantung-an di dinding sebelah kiri dan menariknya…..

Pada saat itu pula Thian-kang-kiam Oh Ku gwat melompat ke atas, seperti seekor elang ia menerjang Ji-sia yang sedang berjongkok. Terkejut anak muda itu mendengar gelak ter-tawa aneh si kakek tadi, tiba-tiba permukaan ta-nah tempat berpijaknya mulai bergerak, diam-diam ia mengeluh bisa celaka, cepat ia melompat ke atas.

Tapi pada saat itulah serangan dahsyat Oh Ku-gwat menyambar tiba dari atas kepala. Lantai di mana ia berdiri tadi sekarang telah berubah menjadi sebuah liang besar yang gelap gulita. Ji-sia terkejut, sukmanya seakan melayang me-ninggalkan raganya, kedua telapak tangannya diayun ke atas dengan harapan bisa menahan serangan Oh Ku-gwat tersebut….

Tanpa berdiri di tempat yang kuat, tentu saja serangan anak muda itu tak membawa kekuatan seperti biasanya, apalagi tenaga dalam Oh Ku-gwat memang sangat lihai.

“Blang!” tubuh Ji-sia terjeblos ke dalam liang dengan lebih cepat lagi, pada saat terakhir Oh Ku-gwat merentangkan kelima jarinya mencoba me-nyambar pinggang anak muda itu.

Ketika tertolak oleh tenaga dari atas tadi, Ji-sia tidak menderita luka dalam yang parah, supaya luput dari jambretan lawan, buru-buru dia memper-cepat daya luncurnya ke dalam liang.

“Sret!” ruyung Jian kim-si-hun-pian duplikat yang berada di bahu Ji-sia sempat dicengkeram oleh Oh Ku-gwat, sementara itu permukaan lantai pun rapat kembali seperti semula. Ji-sia yang terpaksa menambah bobot badan untuk menyelamatkan diri, dalam sekejap telah me-luncur sejauh tiga-empat tombak ke dalam liang ter-sebut. Suasana dalam liang sangat gelap, tak tampak sesuatu apapun, hawa dingin serasa menusuk tulang, buru-buru Ji-sia mengerahkan hawa murni untuk mengurangi daya luncurnya.

Ia tak tahu berapa dalam liang tersebut dan benda apa yang berada di bawah sana, sementara ia merasa sangsi, ujung kakinya telah menempel permukaan tanah. Tiba-tiba pemuda itu mendengar suara tertawa dingin seseorang dari samping, sesosok bayangan hitam lantas menerjangnya.

Ji-sia tidak menyangka ada orang akan me-nyergapnya di dasar liang tersebut, telapak tangan kanannya dengan cepat menolak ke depan…..

Tapi serangan orang itu sama sekali tidak bermaksud mencengkeram urat nadinya, di tengah ja-lan serangan cengkeraman itu berubah menjadi pu-kulan dan secepat kilat menekan dada pemuda itu. Karena suasana gelap gulita, sulit bagi kedua pihak untuk melihat jelas musuhnya yang tampak hanya bergeraknya bayangan hitam belaka.

Tahu-tahu Ji-sia merasa dada kena dihantam orang, sebaliknya tangan kanannya berhasil pula menekan dada lawan, ia merana tangannya seperti menyentuh sesuatu bagian badan yang kenyal, mirip payudara kaum wanita…..

Terdengar suara tertahan dua orang, tubuh kedua orang sama-sama terpental ke samping.

“Plung! Plung!” oleh getaran tenaga bentrokan itu, kedua pihak tercebur ke dalam air.

Agaknya tempat itu adalah sebuah penjara air, di mana Ji- sia hinggap tadi adalah sebuah batu karang yang menonjol keluar di permukaan air. Karena gelapnya suasana, apalagi serangan di-lancarkan kedua pihak dengan kecepatan tinggi, akibatnya mereka berdua sama-sama tercebur ke air hingga basah kuyup. Begitu tercebur ke air, Ji-sia mengigil kedingin-an, ternyata air itu dingin luar biasa.

Cepat telapak tangan kanannya memukul permukaan air dan tubuhnya melayang ke atas lalu dengan cekatan melompat ke atas batu yang karang luas cuma satu-dua kaki. Hampir pada saat yang sama. bayangan hitam itupun melompat ke atas batu karang itu.

“Kembali kau!” bentak Ji-sia gusar.

Dengan jurus Lip-han-san-gak tenaga (menggoncangkan tanah bukit) dia tabas batok kepala orang itu. Dia mengira orang itu adalah anak buah Thian-kang-kiam Oh  Ku-gwat yang sengaja dipersiapkan untuk menyergapnya, oleh sebab itu serangan yang dilancarkan dengan gusar itu cukup dahsyat, satu jurus serangan ajaran Oh Kay-gak.

Walaupun kungfu si bayangan hitam juga cukup lihay, tapi menghadapi bacokan Ji-sia yang hebat ini terkesiap juga dia, cepat ia menggegos ke samping.

“Blang!” pukulan Ji-sia menghantam permuka-an air, timbul gelombang tinggi beberapa kaki.

Secepat-cepatnya bayangan hitam itu menghin-dar toh masih terlambat sedetik, angin pukulan dahsyat itu sempat menyambar bahu kanannya dan membuat dia mundur ke tepi batu dengan sempoyongan, nyaris tercebur kembali ke dalam air.

Pukulan dahsyat ini membuat bayangan hitam itu terkesiap dan tidak berani menyerang lagi secara gegabah.

Ia coba memperhatikan raut wajah Bok Ji-sia, mendadak serunya terperanjat, “He, kau! Tak ter-sangka kita berjumpa lagi di sini!”

Dengan sorot mata tajam Ji-sia juga meng-amat-amati orang itu, ternyata dia tak lain adalah Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling. Melihat gadis ini, Ji-sia lantas teringat kembali pada dendam sekali pukulannya, ia mendengus, ke-mudian katanya, “Hmm, kebetulan, hari ini akan kubalas dendam pukulanmu semalam.”

Dia adalah pemuda yang mudah dendam, se-telah suatu pukulan Bwe-sat-ciang Tong Yong-ling semalam, rasa bencinya kepada gadis itu sudah me-rasuk tulang, maka perjumpaan kali ini menimbul-kan niat pemuda tersebut untuk membalas sakit hati.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling sendiri pun seorang gadis yang keras kepala, coba kalau orang lain yang menyerangnya, orang itu akan dibunuh-nya, tapi setelah mengetahui orang ini adalah Bok Ji-sia, tiba-tiba timbul suatu perasaan aneh dalam hatinya, maka ia tidak melanjutkan serangannya.

Melihat gadis itu diam saja, dengan marah Ji-sia membentak lagi, “Kau harus hati-hati, aku hen-dak membalas dendam padamu!”

Sebenarnya Tong Yong-ling hendak menjelas-kan bahwa ia menyesal setelah memukulnya sema-lam, tapi sikap Ji-sia yang garang menimbulkan ra-sa ingin menangnya.

Ia tertawa dingin, sahutnya, “Besar amat la-gakmu, kau percaya bisa mengalahkan aku? Hm, jika ingin membalas sakit hati, ayo seranglah! No-namu akan pertaruhkan nyawa untuk melayanimu, apa gunanya berlagak.”

“Baik, akan kuberi ajaran padamu, agar kau tahu di atas langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai.”

Habis berkata, anak muda itu melangkah maju dan melanearkan sesuatu tabasan. Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong- ling tertawa di-ngin, telapak tangan kanan yang halus bergerak, dengan jurus Cing-hong-hud-liu (angin lembut meng-goyangkan pohon liu) disambutnya pukulan lawan. “Justeru akan kucoba sampai di manakah taraf tenaga dalammu.”

“Blang!” kedua telapakan tangan bertemu dan menimbulkan suara nyaring, damparan angin menimbulkan gelembung air.

Baik Tong Yaog-ling maupun Bok Ji-sia, ke-duanya tetap berdiri di tempat semula.

Ji-sia terkesiap, pikirannya, “Ilmu silat perem-puan ini betul-betul luar biasa..,

Sementara itu Tong Yong-ling tertawa dingin, “Tenaga pakulanmu memang hebat. Nah, sambut pula pukuianku ini?”

Tiba-tiba telapak kanannya diayun ke depan. Telapak tangan kiri Ji-sia dengan jurus Lip-ging-thian-lan (Menutup rapat langit selatan) segera menyambut ancaman itu dengan sama kerasnya. Di dalam pukulan tersebut diam-diam Tong Yong-ling telah sertakan sembilan bagian tenaga pukulannya, pukulan yang sanggup menghancurkan pilar, menurut dugaan gadis tersebut, kendatipun tak mampu melukai, lawan. paling tidak lawan akan terdesak mundur.

Siapa tahu kejadian sama sekali di luar dugaan orang, sewaktu Ji-sia menerima serangan tersebut, tubuhnya tetap berdiri tegak seperti bukit, sedikit pun tidak bergeming.

Gadis itu terkesiap, pikirnya, “Ketika kulukai-nya semalam, tenaga pukulan yang kugunakan ti-dak sekuat sekarang, kenapa hanya selisih sehari saja tenaga dalamnya sudah memperoleh kemajuan sepesat ini? Padahal keadaannya semalam seperti tak bertenaga.., Sungguh aneh orang ini!”

Sementara dia berpikir, sambil membentak Ji-sia telah melancarkan serangkaian pukulan dan ten-dangan, dalam waktu singkat ia melancarkan lima kali pukulan berantai. Kelima serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan jurus serangan yang aneh Tong Yong-ling kebetulan berdiri di tepi batu dan tak mengira Ji-sia akan menyerang tanpa kenal ampun. Karena kerepotan menahan serangkaian pukul-an aneh itu, sedikit kurang hati-hati segera ia ter-cebur lagi ke dalam air.

Kekalahan ini boleh dibilang baru pertama kali dialami Bwe- hoa-sian-kiam Tong Yong-ling semen-jak terjun ke dunia persilatan, tentu saja ia men-jadi, murka, sambil mendengus ia melompat ke atas lagi sambil melepaskan serangan balasan. Dalam sekejap bayangan telapak tangan ber-taburan, angin pukulan yang maha dahsyat gulung gemulung menerjang tiada habisnya.

Ji-sia dapat merasakan pula betapa hebatnya serangan balasan lawan, tapi ia tak sudi mundur barang selangkah pun, kuda-kudanya diperkuat dan jurus serangan yang digunakan pun makin meng-gila. Jurus-jurus serangan yang aneh dan kuat ini segera membuat Tong Yong-ling tak berdaya, ia tetap tertahan di tepi batu karang dan tak sanggup maju selangkah pun.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong ling betul-betul naik darah, ia menyerang legi dengan kalap. Ia tahu bila pemuda itu gagal didesak mundur, akibatnya ia bisa tercebur lagi ke dalam air, sebab posisinya memang tidak menguntungkan. Ji-sia tertawa terbahak-bahak, serangannya di-pergencar, kedua orang segera terlibat dalam perta-rungan sengit.

Mendadak Tong Yong-ling membentak, “Mun-dur kau!” Dengan sepenuh tenaga ia menabas batok kepala lawan.

Bok Ji-sia tertawa dingin, sahutnya, “Aku tak mau mundur, mau apa kau?”

Telapak tangan kanan dengan jurus It-cu-keng-thian (satu tonggak menyangga langit) melakukan gerakan seperti menangkis sambil mengerahkan te-naga, padahal ketika mencapai tengah jalan mendadak tubuhnya bergeser ke samping kiri. “Wees!” angin pukulan yang dahsyat dari Tong Yong-ling itu terpancing ke samping oleh tenaga lunak Ji-sia, hal ini membuat si nona kehilangan imbangan badan.

Kaget sekali Tong Yong-ling, dia tak meng-ira Bok Ji-sia memiliki ilmu silat seaneh itu, mana dia tahu bahwa jurus lihai ini adalah kungfu an-dalan Oh Kay-gak? Sekalipun Bok Ji-sia berhasil memancing pu-kulan lawan yang hebat itu ke samping, tidak urung iapun terdorong mundur selangkah.

Meski demikian, tangan kirinya tidak berhenti sampai di situ saja, secepat kilat ia cengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri si gadis. Kim-na-jiu-hoat atau ilmu menangkap itu adalah ajaran Oh Kay-gak, sedemikian hebatnya hingga Tong Yong ling tak berdaya, tanpa ampun tangan kirinya tercengkeram.

Serangan aneh itu membikin si nona tertegun.

Dalam pada itu Ji-sia terus menarik tangan kirinya ke samping. Dengan urat nadi tercengkeram tenaga Tong Yong- ling banyak berkurang, karena tersentak, ser-ta merta tubuhnya terjerungup ke depan.

Ia menjadi malu dan marah, diam-diam ia meng-himpun tenaga pada tangan kiri, seketika tangannya mengeras seperti baja, ia meronta sekuatnya, ber-bareng itu telapak tangan kanannya dari sudut tak terduga terus menghantam jalan darah Ciang-tay-hiat di dada Bok Ji-sia.

Ketika Tong Yong-ling mengerahkan tenaga dalamnya tadi, Ji-sia sudah merasakan akan hal itu tiba-tiba cengkeramannya diperkuat, sementara sikut kanannya diangkat untuk menahan pukulan gadis itu. Mendadak Tong Yong-ling merentangkan ke-lima jari tangan kanan, ia terus balas mencengkeram persendian tulang siku kanan anak muda itu.

Dengan demikian kedua pihak sama-sama me-ngerahkan tenaga sambil saling mencengkeram tem-pat penting di tubuh lawan, karena kekuatan me-reka hampir seimbang, maka menang kalah pun sukar ditentukan. Kurang lebih seminuman teh, tiba-tiba Tong Yong-ling merasakan tenaga dalam yang dikerah-kan lawan semakin menghebat, ia menjadi terperan-jat, sambil membentak satu jurus serangan ma-ut dilepaskan…..

Lutut kirinya mendadak diangkat mendengkul jalan darah Khi-hay-hiat di bawah perut Ji-sia, ber-bareng itu badannya miring ke samping dan bahu kanan langsung menyodok iga.

Serangan jarak dekat semacam ini amat jarang terjadi dalam pertarungan antara jago-jago lihay. Satu jurus dengan dua serangan dari Tong Yong-ling ini merupakan serangan maut yang aneh dan mematikan.

Perlu diketahui bahwa jalan darah Khi-hay-hiat merupakan Hiat-to penting, jika jalan darah itu terpukul, maka pengerahan tenaga dahan sese-orang akan buyar dengan sendirinya, akibat dari serangan tersebut darah akan mengalir balik dan menyebabkan pecahnya urat nadi penting, sang kor-ban akan mampus dengan keadaan yang mengeri-kan.

Sesungguhnya Ji-sia memiliki kepandaian yang lihai, tapi bagaimanapun juga dia adalah pemuda yang cetek pengalaman tempurnya, sebab itulah ia terdesak. Ia mendengus kesakitan, tubuhnya tertumpuk oleh bahu lawan sehingga terpental mundur dengan sempoyongan.

Ternyata sodokan lutut kiri Tong Yong-ling yang mengarah jalan darah Khi-hay-hiat dekat selangkangan itu mendadak diangkat lebih tinggi dengan menumbuk perutnya, kalau tidak mungkin ji-wa Ji-sia sudah melayang. Kendatipun demikian, luka yang diderita anak muda itupun tidak terhitung ringan.

Sesudah memukul mundur Bok Ji-sia, Tong Yong-ling mendesak maju, tapi tidak menyerang lagi, dengan sinar mata yang lembut ia pandang wajah yang kesakitan itu. Ia jadi menyesal dan sedih…..

Ji-sia memandangnya dengan sinar mata penuh kebencian dan dendam. Bibir Tong Yong-ling bergerak seperti hendak bicara, tapi urung, akhirnya hanya menghela napas saja. Untuk sejenak suasana dalam penjara air itu menjadi sepi, hawa udara terasa dingin merasuk tulang. Dengan tenang Ji- sia mengatur pernapasan dan mengendalikan pergolakan darah dalam dadanya, kemudian tanpa mengeluarkan suara ia maju ke depan dan melancarkan serangkaian pukulan dan tutukan.

Tong Yong-ling terkesiap, sesungguhnya ia sudah terluka oleh pukulan Bok Ji-sia yang berat tadi, apalagi setelah melakukan pertarungan sengit sekian lama, tenaganya sudah lemah. Sekarang ia harus menerima lagi serangkaian serangan kalap Ji-sia, tentu saja ia kewalahan, ter-utama di bawah jurus serangan lawan yang aneh, ia benar-benar terancam bahaya. Padahal darah dalam dada Ji-sia sendiri sedang bergolak hebat, tapi dasar kepala batu, ia lebih suka menahan sakit daripada menghentikan serangannya.

Anehnya, semakin dahsyat ia melancarkan se-rangan, semakin hebat juga pergolakan darah di da-lam tubuhnya. Setelah berulang kali terancam bahaya, timbul juga perasaan gemas Tong Yong-ling, dia tak me-nyangka Ji-sia adalah seorang yang tak kenal ke-manusiaan dan berhati keji.

Tiba-tiba gadis itu berteriak keras, “Pukul saja! Ayo, pukul aku sampai mati!”

Suaranya penuh rasa sedih, seperti rintihan anak kecil. Sambil menjerit tiba-tiba Tong Yong-ling me-narik serangannya dan berdiri tak bergerak di sem-patnya. Ji-sia yang tak kenal kasihan mendengus, telapak tangannya langsung menghantam dada gadis ter-sebut Tong Yong-ling tidak menghindar, juga tidak melawan, hanya air mata jatuh bercucuran seperti hujan, ditatapnya lelaki tak berperasaan itu dengan termangu…..

Dalam serangannya Ji-sia telah sertakan tenaga yang  cukup keras, tapi ketika sinar matanya ter-bentur dengan sinar mata si nona, hatinya bergetar keras. Tiba-tiba hatinya menjadi lembek, buru-buru ia tahan pukulannya, tapi sayang sudah terlambat….

“Blang!” dada sebelah kiri gadis itu terhajar telak.

Sambil menjerit kesakitan, seperti layang-layang putus Yong-ling mencelat dan tercebur lagi ke dalam air. Tapi pada saat itu pula. mendadak Ji-sia juga merintih kesakitan, ia tumpah darah dan jatuh ter-duduk di atas batu, mukanya mengejang menahan rasa sakit, sekujur badan gemetar keras. Akhirnya ia tak tahan lagi, setelah muntah darah pula, ia roboh terkapar di atas batu dan tak sadarkan diri…..

Kiranya ketika pada detik terakhir Bwc-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling tidak melihat Ji-sia me-narik kembali serangannya, tiba-tiba terlintas ing-atannya untuk beradu jiwa. Pada saat telapak tangan kanan Ji-sia meng-hajar dada kirinya, tiba-tiba tangan kirinya juga melepaskan sebuah pukulan, itulah Bwe- sat-ciang yang amat keji. Ji-sia sendiri tidak menyangka gadis itu ba-kal melancarkan serangan keji padanya, seketika itu juga ia terhajar telak oleh pukulan Bwe-sat-ciang tersebut.

Tong Yong-ling yang tercebur ke dalam air segera tenggelam, sama sekali tak ada suara apapun, sejenak kemudian, di alas permukaan air terjadi gelombang dan muncul Tong Yong-ling. Mukanya pucat seperti mayat, dengan menahan rasa sakit sekuat tenaga ia merangkak ke atas ba-tu karang, air mata serupa butiran air kolam mem-basahi  pipinya.

Lamat-lamat kelihatan ujung bibirnya berdarah, pelahan ia merangkak ke sisi Bok Ji-sia. Akhirnya ia menjatuhkan diri di atas badan pemuda itu dan menggeletak tak bergerak lagi. Kedua muda-mudi ini sama-sama keras ke-pala dan tinggi hati, akibatnya keduanya sama-sa-ma terluka parah.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Ji-sia merasa tubuhnya ditindih oleh sesuatu yang lu-nak…… Iapun merasakan bibirnya seperti tertutup oleh sesuatu yang hangat, seperti terisap dengan rasa yang manis. Selama hidup, rasanya ia pernah melaku-kan perbuatan semacam ini, hanya saja sudah lupa kapan kenikmatan semacam itu pernah dialaminya.

Ia mengira sadang bermimpi……tapi kenya-taannya memang terjadi. Tiba-tiba ia mengendus bau harum segar, ia semakin terbuai dalam impian, semakin kelelap da-lam kekaburan…..

Dari kelelapan yang tak sadar, pelahan pemuda itu pulih kembali dalam kesegaran semula.

Ia mendengar suara isak tangis yang memilu-kan hati di tepi telinganya….

Ternyata Tong Yong-ling menggunakan bibir-nya untuk menolong pemuda itu, obat penawar ra-cun diloloh dari mulut ke mulut…..

Ji-sia segera membuka matanya, ia lihat gadis berbaju hitam dengan garis tubuh indah basah ku-yup duduk di sampingnya, pakaian hitam itu tampak robek di sana sini sehingga lamat-lamat kelihatan kulit badannya putih bersih.

“Hm, kenapa tidak kau bunuh aku?” dengus Ji- sia dengan nada dingin.

Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling segera ber-henti menangis, setelah menghela napas sedih, kata-nya, “Kau anggap aku seorang perempuan yang ber-hati kejam dan tak berperikemanusiaan?”

Ji-sia melenggong, pelahan ia bangun berduduk, ia membungkam dan seperti sedang meresapi per-kataan si nona.

Melihat pemuda itu diam saja, Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling kembali menghela napas sedih, katanya, “Walaupun orang persilatan menganggap-ku kejam, sesungguhnya orang yang kubunuh ha-nyalah mereka yang betul-betul jahat.”

“Hmm, belum tentu cocok seperti apa yang kau katakan,” dengus Ji-sia.

Sekali lagi Tong Yong-ling merasa tertusuk hatinya, air mata jatuh bercucuran, tapi si nona yang keras kepala berusaha menahan perasaannya.

“Kalau kau tidak percaya padaku ya sudahlah, tapi terus terang kukatakan, aku menyesal sakali setelah melancarkan pukulan Bwe-sat-ciang kepada-mu semalam.”

Ucapan itu diutarakan dengan nada sedih dan penuh penyesalan.

“Sakit hati atas pukulanmu semalam telah kubalas, sekarang kita sudah tidak saling berutang lagi…..”

“Kini kita dicelakai orang dan tersekap dalam penjara air sepantasnya urusan tetek bengek jangan dipersoalkan lagi,” kata si nona kemudian, “seha-rusnya kita bekerja sama untuk mencari akal guna kabur dan penjara air ini.”

Setelah disinggung baru Ji-sia ingat akan hal ini, pikirnya, “Betul juga perkataannya. Sekarang aku terkurung di sini, akhirnya bisa mati kelaparan.”

Teringat soal lapar, perut Ji-sia lantas terasa berkeroncongan, laparnya tidak kepalang, ternyata sudah sehari semalam dia tidak mengisi perut. Tong Yong-ling tahu anak muda itu lapar, segera ia mengeluarkan sebungkus dendeng yang terendam basah, tanpa bicara ia makan sendiri de-ngan nikmatnya. Melihat orang makan, Ji-sia hanya menelan air liur sambil memperhatikan bungkusan daging kering itu.

Tiba-tiba Tong Yong-ling bergumam, “Meski-pun dendeng ini telah basah oleh air, tapi di tempat seperti ini terasa lebih nikmat daripada hidangan lezat apapun.” Sambil berkata matanya yang jeli itu diam-diam melirik sekejap ke arah Ji sia. Waktu itu Ji-sia sedang memperhatikan si nona makan, mukanya menjadi merah oleh lirikan itu, buru- buru ia melengos ke arah lain.

Sesungguhnya pemuda itu lapar sekali, kalau bisa dia ingin minta sedikit bagian makanan untuk mengisi perutnya, tapi wataknya yang keras me-larang ia berbuat demikian, apalagi baru saja me-reka saling labrak. Tong Yong-ling adalah seorang gadis yang cerdik dan nakal, tadi ia tidak mendapat akal untuk berbaik dengan Bok Ji-sia, sekarang me-lihat sikap anak muda itu, diam-diam ia me-rasa senang dan geli.

“Hei, kau lapar tidak?” tiba-tiba sapanya.

Dongkol sekali hati Ji-sia, dia tahu si nona sengaja mengimingnya dengan makanan, maka ia pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pan-dangannya ke permukaan air. Walaupun suasana dalam penjara air itu gelap gulita, tapi setelah lewat sekian lama, matanya mulai terbiasa dalam suasana tempat itu, apalagi dia memang memiliki ketajaman mata yang melebihi orang lain.

Ia lihat sekeliling hanya bayangan air belaka, batu karang di mana ia duduk letaknya persis di tengah penjara, bagian timur dan barat penjara, kosong tanpa dinding, sebelah utara dan selatan yang berjarak belasan tombak ada dinding batu yang entah memanjang sampai ke mana, bagian atas gelap gulita sukar mengukur ketinggiannya, tapi jika ditinjau dari daya luncurnya waktu turun tadi, paling tidak ada sepuluh tombak lebih, ini menun-jukkan betapa besarnya bangunan ini.

Tong Yong-ling tahu pemuda itu sungkan minta makanan kepadanya dan pura-pura ti-dak mendengar tegurannya tadi, diam-diam ia merasa geli juga, pikirnya, “Akan kulihat sam-pai di manakah keteguhan hatimu untuk me-nahan lapar….” Ia sengaja menegur lagi, “He, kenapa kau ti-dak berbicara?

Apakah masih dendam padaku?”

Bagaimanapun tak mungkin bagi Ji-sia untuk memperhatikan permukaan air terus menerus, maka  sahutnya, “Untuk apa aku dendam padamu?”

Tong Yong-ling mengeluarkan dua bungkus dendeng, serunya, “Hei, kukira kau tentu lapar, tapi padaku hanya tersedia empat bungkus daging kering, jika kubagi dua, maka jiwaku akan se-hari lebih pendek, ai , , , Tapi bagaimana pun kita toh senasib sependeritaan, aku harus membantumu. Nah, mari kita makan seorang dua bungkus, mati biar kita mati bersama, kalau hidup juga hidup bersama, ini, sambutlah dua bungkus daging ini!”

Sehabis berkata Tong Yong-ling lantas me-lemparkan bungkusan daging itu ke depan, bung-kusan yang pertama ia lemparkan tepat di hadapan Ji-sia sebaliknya bungkusan kedua ia melontarkan lebih ke sana sedikit dan jatuh ke permukaan air berbareng ia berteriak, “Hei, lekas………, lekas tang-kap bungkusan itu!”

Sekalipun gadis itu tidak berkata apa-apa, tak nanti Ji-sia membiarkan bungkusan daging itu ter-cebur ke air, dia segera melompat ke depan dan menyambar bungkusan tersebut. Tong Yong-ling menyaksikan kejadian tersebut dengan senang, tadi ia kuatir pemuda aneh ini enggan menerima kebaikannya?

Setelah menerima kedua bungkus daging itu, Ji-sia baru memutar badan sambil berkata dengan terbata-bata, “Nona, lebih….lebih baik kau makan sendiri saja!”

“Ah, masa kau tidak lapar?” seru Tong Yong-ling pura-pura terperanjat.

Meski di luar Ji-sia pura-pura sungkan, sesung-guhnya kalau bisa dia hendak melahap kedua bung-kus daging itu sekaligus, dengan wajah merah kem-bali katanya dengan tergegap, “Nona, aku ,….ku-kira sebungkus saja sudah cukup”

“Ah, buat apa kau sungkan-sungkan lagi?’

Mendengar perkataan itu, Ji-sia betul-betul malu dan tersipu-sipu, tadi ia masih galak kepada si nona, tapi sekarang, karena makanan dia terpak-sa membaiki orang, tindakan ini sebenarnya tidak cocok dengan wataknya yang tinggi hati, tapi ka-lau tidak terima makanan itu, sukar menahan pe-rutnya yang betul-betul lapar sekali.

Kelaparan memang suatu siksaan hidup yang paling kejam, setiap manusia harus makan untuk mempertahankan hidupnya. Ji-sia menghela napas sedih, dengan menghela napas ini buyarlah rasa benci dan dendamnya kepada gadis itu. Ji-sia tidak bicara lagi, dengan lahap dia me-nyikat dendeng.

“Eeeh…..sia.., .siapa namamu?” tiba-tiba Tong Yong-ling bertanya.

Setelah menerima budi kebaikan orang, tentu saja Ji-sia tak dapat bersikap dingin seperti tadi, sahutnya, “Aku she Bok dan bernama Ji-sia!”

“O, nama yang aneh, persis seperti…..” se-benarnya ia hendak mengatakan persis seperti orang-nya, tapi mendadak ia telan kembali kata-kata ter-sebut dan tertawa cekikikan.

“Nona Tong siapa yang memancingmu kemari?” Ji-sia ganti bertanya.

Berkerut kening Tong Yong-ling demi mende-ngar pertanyaan itu, dengan gusar katanya, “Atas perintah guruku, kudatang menyampaikan pesan kepada Thian-seng-pocu Oh Kay-gak, siapa tahu tua bangka celaka itu liciknya tidak kepalang, aku dipancing ke ruangan di atas sana, lalu terjebak alat rahasia hingga tercebur ke dalam penjara air ini. Dan kau kenapa sampai di sini?” Dengan dahi berkerut dan mata memancarkan sinar kegusaran jawab Ji-sia, “Andaikata aku ma-sih hidup dan bertemu lagi dengannya, pasti akan kubalas sakit hati ini.”

Agaknya Tong Yong-ling marah juga, sambung nya, “Bok….Bok-siankong, kelak bila kita ber-jumpa lagi dengan  Oh Kay-gak, mari kita bersama-sama membunuhnya untuk melampiaskan dendam kita ini.”

Sebenarnya Tong Yong-ling hendak memanggil Ji-sia sebagai engkoh Bok, tapi ia merasa malu untuk buka suara, maka akhirnya sebutan itu ber-ubah menjadi Bok-siangkong atau tuan Bok.

Ji-sia menghela napas sedih, katanya, “Nona Tong, kau salah menuduh orang, yang mencelakai kita bukan Thian- seng-pocu Oh Kay-gak Locianpwe melainkan kakaknya, Thian- kang-kiam Oh Ku-gwat!

“Lantas berada di manakah Oh Kay-gak Lo-cianpwe? Aku mempunyai pesan yang harus disam-paikan kepadanya!”..

Terbayang pada kakek yang kesepian itu, air mata bercucuran membasahi pipi Ji-sia, sahutnya, “Dia……dia sudah mati!”

“Siapa yang membunuhnya? Cepat katakan, Suhu bilang kungfunya tinggi sekali, di dunia de-wasa ini jarang ada yang sanggup menandinginya….”

“Ia mati karena menolong diriku….”

Bicara sampai di sini, suara Ji-sia menjadi ter-sendat menahan kesedihan. Pada mulanya dia tidak tahu Oh Kay gak telah memberi semua tenaga murninya kepadanya, tapi setelah pertarungan berulang kali malam ini dan terbukti tenaga dalam yang dimilikinya cukup sem-purna, ia baru menyadari bahwa Oh Kay-gak telah menghadiahkan tenaga murni hasil latihannya selama ini kepadanya. Terbayang kembali budi kebaikan yang lebih tinggi dari gunung dan lebih dalam dari lautan, padahal ia tak sanggup membalas budi secara lang-sung, saking emosi air mata tak terbendung lagi, ia menangis sedih sekali.

Kemudian katanya, “Kematiannya boleh dibilang karena dicelakai kawanan manusia jahat…..”

Tong Yong-ling tambah bingung, dengan mata terbelalak dia tanya, “Sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Ceritanya panjang sekali, tapi benar-benar membuat orang sakit hati.”

“Kalau begitu cerita saja seringkas mungkin!”

Menyinggung soal tersebut, tiba-tiba Ji-sia ter-ingat pula pada beberapa macam mestika yang di-bawanya sekarang, ia menghela napas, katanya, “Ai, nona Tong, maaf kalau aku tak dapat mencerita-kan peristiwa ini kepadamu, sebab Oh- locianpwe telah meninggalkan tugas berat kepadaku menjelang ajalnya, iapun melarang kubicarakan persoalan ini dengan siapapun, sebelum duduk perkara yang jelas tentang budi dan dendamnya berhasil kuselidiki, sukar bagiku untuk bicara terus terang.”

Tong Yong-ling ikut menghela napas, “Ai, ka-lau begitu pesan dan guruku tak dapat kusampai-kan kepadanya.”

“Nona Tong,” kata Ji-sia dengan hati tergetar “pesan apa yang harus kausampaikan kepadanya katakan saja padaku!”

Belum lagi gadis itu menjawab, tiba-tiba ia menjerit kaget, “Wah celaka, air mulai pasang naik!”

Mendengar itu Ji-sia memandang permukaan air, betul juga batu karang di mana mereka berada sudah hampir tenggelam tertutup air, permukaan air yang mula-mula tenang tanpa gelombang pun kini mulai menggulung dengan suara gemuruh. Empat penjuru yang tampak hanya air melulu dengan pantulan cahaya menyilaukan.

Ji-sia berseru kuatir, “Mungkin kita tak dapat berdiam lebih lama di sini, kita harus lekas ting-galkan tempat ini…..”

“Tapi ke manakah kita bisa kabur? Empat penjuru hanya air melulu?” Tong Yong-ling merasa putus asa.

“Lantas apakah kita harus duduk di sini dan menunggu ajal?”

Sekarang Tong Yong-ling tidak lagi merasa nge-ri atau takut akan kematian, sinar lembut terpancar keluar dari matanya yang jeli, ditatapnya wajah Ji-sia dengan lembut, lalu katanya, “Kecuali mati teng-gelam, rasanya tiada jalan lain yang bisa kita tem-puh. Mati! Sekaraag tidak kutakuti lagi….”

“Kau tidak takut mati?” tanya Ji-sia tercengang.

Yong-ling tersenyum. “Yang paling kutakuti adalah mati sendiri, tapi setelah ada kau sekarang….”

“Nona Tong, jangan cuma memikirkan yang buruk saja, mumpung sekarang ada kesempatan, kita harus cari akal untuk mengatasi keadaan ga-wat ini.”

“Caranya sudah kudapatkan, asal air memenuhi seluruh ruangan ini, maka kita akan terapung dipermukaan air, bila di tempat kita masuk tadi ter-dapat lubang keluar dan selamatlah kita.”

“Kukira cara ini tidak masuk akal” kata Ji-sia dengan geleng kepala, “seandainya di atas permukaan tidak kita temukan jalan keluarnya, bukankah kita akan mati terendam dalam penjara air ini? Mereka telah memasang jebakan di sini, pasti disekitar ru-angan ini dibangun dengan kukuh dan rapat. Nona, caramu itu hanya bisa dicoba bila kita sudah tiada jalan lain, mari sekarang kita cari jalan keluarnya.” Air itu entah darimana datangnya, permukaan air kian lama kian tinggi dengan cepatnya, sementara kedua orang itu masih berbicara, permukaan batu karang sudah mulai terendam air.

“Coba lihat,” kata Tong Yong-ling kemudian dengan kesal, “empat penjuru hanya bayangan air yang tampak, di mana ada jalan keluar? Kalau be-gini terus, walaupun tidak mati tenggelam, tentu juga kita akan mati kelaparan.”

“Nona Tong, apakah kau dapat berenang?” tiba-tiba Ji-sia bertanya.

Satu ingatan terlintas dalam benak Yong-ling demi mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia teringat pada sumber datangnya air tersebut, pikirnya “Sumber air ini jelas bukan berasal dari sumber mata air di bawah tanah, air ini pasti dialirkan ke-mari dari luar, kalau kuikuti datangnya aliran dan menemukan jalan masuknya air, bukankah dengan muda bisa kukeluar dari tempat ini? Tapi pintu air itu pasti dilindungi dengani terali besi, jadi tetap sukar keluar.

Setelah berpikir sejenak akhirnya Tong Yong-ling berkata, “Aku bisa berenang, dan kau?”

“Kalau begitu bagus sekali,” seru Ji-sia dengan wajah berseri, “Aku telah mendapatkan cara bagus untuk meloloskan diri dari penjara air ini, aku sendiripun dapat berenang meskipun tidak terlam-pau mahir.”

“Apa caramu itu? Dapatkah kau terangkan lebih dulu?” “Daripada menunggu ajal di sini, lebih baik kita beradu

nasib saja, sudah kuperhatikan air ini datang dari barat menuju ke timur, asal kita be-renang menuju ke hulu dan menemukan pintu ma-suknya air, kemungkinan besar kita bisa lolos dari tempat ini.”

“Betul, memang cuma jalan ini yang bisa kita tempuh, cuma kuduga di sekitar pintu air pasti di-lindungi secara kuat, tak nanti mereka tidak mem-perhitungkan kemungkinan semacam ini.”

Ji-sia menghela napas, “Ai, banyak pekerjaan yang masih harus kulakukan, aku tak mau duduk menanti kematian, kita tak boleh tunda-tunda lagi, ayo kita cari pintu air, asal dapat ditemukan, soal dinding baja juga bisa kuatasi.”

Sementara itu permukaan air sudah semakin tinggi, kini lutut mereka sudah terendam. Ji-sia segera bertindak cepat, ia terjun lebih dulu ke dalam air disusul Tong Yong-ling di belakangnya. Air terasa dingin menusuk tulang sumsum, untungnya mereka berdua bertenaga dalam sempurna sehingga tidak menjadi soal.

Kepandaian berenang kedua orang itu cukup lumayan juga, sekalipun mereka harus berenang menentang arus, namun kecepatannya tetap tinggi. Yong-ling mempercepat gerak berenangnya di sam-ping Ji-sia.

Dengan tersenyum Ji-sia berpaling, katanya, “Nona Tong, bagus juga ilmu berenangmu!”

Pujian tersebut membuat senang hati Tong Yong-ling, katanya manja, “Bok-siangkong, kungfu-mu lihay sekali, bolehkah kutahu siapa gurumu?”

“Ai, guruku boleh dibilang ialah Thian-seng-pocu….thian- kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak. Ai…walaupun aku hanya berkumpul selama sehari semalam saja dengan beliau, tapi keuntungan yang kuperoleh melebihi pergaulan selama sepuluh tahun.”

“Jadi Bok-siangkong pergi mencarinya semalam?” “Benar, sebetulnya tujuanku memasuki benteag adalah untuk mencuri sejilid kitab Beng-yu-cin-keng guna menyembuhkan penyakit dalam yang kuderita, tapi diluar dugaan aku berjumpa dengan Oh Kay-gak Locianpwe dan malahan kudapatkan pula ke-untungan darinya.” Sementara itu permukaan air masih terus me-ninggi, makin berenang ke depan arus air terasa bertambah keras dan kuat, otomatis kecepatan me-reka berenang pun semakin merosot dan bertambah pelahan, padahal permukaan air di dapan sana ma-kin tinggi dan mendekati langit langit gua.

Kiranya terowongan penjara air itu makin la-ma makin menurun ke bawah, diam-diam terkejut juga Ji-sia menghadapi hal tersebut, pikirnya, “Ka-lau permukaan air akhirnya menutupi permukaan gua ini, jelas tak dapat berenang lebih jauh, dan. akibatnya tak bisa keluar dari sini untuk selamanya, di samping itu akupun tak sanggup berenang terlalu lama lagi.”

Mereka tidak berbicara lagi, entah sudah be-rapa jauh, sementara arus air bertambah kuat dan mendampar-dampar, rasanya sukar untuk berenang maju lagi. Waktu itu permukaan air sudah tinggal satu tombak dari langit-langit gua, mau-tak-mau kedua muda mudi itu mulai kuatir juga, Ji- sia coba me-nengadah dan memandang ke depan, ia lihat tidak jauh di depan sana lamat-lamat muncul sebuah dinding karang, rupanya mereka sudah sampai di ujung penjara air tersebut.

Tapi ketika mereka tiba di tempat itu, permu-kaan air dengan langit-langit gua sudah tinggal 2-3 kaki saja dan dapat diraba dengan tangan.

“Dinding batu di depan sana jelas merupakan pintu air ini,” kata Tong Yong-ling, “cuma arus airnya sangat kuat, tidak gampang rasanya untuk mendekati tempat itu.”

“Kalau kita harus menunda lagi, pasti lebih besar kesulitan yang kita jumpai. Ayo cepat, kita harus segera tiba di sana untuk memeriksa keadaan di sekitar situ.”

Walaupun jaraknya tinggal tiga-empat tombak lagi, tapi berhubung arus air sangat kuat melebihi arus air terjun, maka sewaktu tiba di ujung din-ding tersebut, napas mereka sudah terengah-engah. Arus yang mengalir di permukaan saja sudah begini kuat dan derasnya, dapat dibayangkan bagai-mana di bawah permukaan air itu?

Kedua orang berusaha maju dengan menempel dinding karang, sebab arus air itu menerjang ke de-pan, maka dengan cara begini mereka bisa mengu-rangi kekuatan arus air. Pada kesempatan ini, dengan cepat mereka berdua mengatur pernapasan sejenak untuk memu-lihkan tenaga. Pasang naik air itu sungguh cepat sekali, da-lam waktu singkat selisih dengan langit-langit gua tinggal dua kaki saja.

Ji-sia lantas berkata kepada Yong-ling, “No-na Tong, harap kau tunggu sebentar di sini, akan ku usahakan menghilangkan perintang di pintu air, segera akan kuhubungi kau lagi.”

“Bok-siangkong,” kata Yong-ling lembut, “arus air di bawah tentu kuat sekali, lebih baik kita pergi bersama saja, siapa tahu kalau kita dapat saling membantu?”

Ji-sia ragu-ragu sejenak, katanya, kemudian, “Baiklah!  Daya tekan air sangat besar, untuk meng-gerakkan anggota badan pun susah, kuharap nona berhati-hati, sebab mati- hidup kita bergantung pada tindakan kita ini.”

Selesai berkata kedua orang itu lantas meng-himpun tenaga dan menyelam, dengan mata terpe-jam mereka menyusup ke dasar air, di situ tekanan arus air terasa kuat sekali seakan-akan hendak me-lemparkan tubuh mereka ke permukaan air.

Kedua orang itu sama tahu bahwa di depan sana adalah pintu air, buru-buru kepalanya berpa-ling, dengan cepat tangan meraba ke depan, akhir-nya tangan mereka berdua berhasil menangkap dua batang besi yang besarnya selengan, setengah kaki di sampingnya terdapat terali lain lagi, dengan be-gitu tubuh mereka tak dapat menerobos lewat.

Dengan mengerahkan tenaga dalam mereka co-ba menarik batang besi itu, tapi terasa kuat sekali, tidak bergeming sedikitpun, Tong Yong-ling terpe-ranjat, buru-buru tangannya berpindah pada terali yang dipegang Ji-sia, maksudnya  hendak mengguna-kan tenaga gabungan mereka untuk mematahkan terali itu. Ji-sia tahu juga akan maksudnya, buru- buru dia kerahkan tenaga dan menarik bersama, tapi besi itu masih juga tidak bergerak.

Ji-sia menyadari bahwa terali itu pasti bukan terbuai dari besi biasa, sudah lama terendam di dalam air ternyata besi itu tidak berkarat, bahkan tidak menunjukan tanda-tanda lainnya. Mendadak satu ingatan terlintas dalam benak Ji-sia, tangan kanannya segera mengeluarkan Jian-kim-si-hun-pian, bukankah ruyung mestika ini ta-jamnya luar biasa?

Daya tekanan arus air semakin kuat, kedua orang merasa lelah dan kehabisan tenaga untuk berpegangan pada terasi besi itu. Pada saat kritis itulah sinar emas berkelebat, tahu- tahu ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian sudah dilolos Ji-sia dari sarungnya..…..

Bersama dengan munculnya ruyung emas itu, kedua muda- mudi itu merasakan berkurangnya daya tekanan, seakan-akan mereka tidak berada di dasar air yang berarus kuat. Tong Yong-ling terkejut bercampur heran, bu-ru-buru ia membuka matanya, demikian pula Ji-sia.

Permukaan air yang semula gelap gulita, kini remang- remang diliputi oleh cahaya keemas-emasan, ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian tersebut me-mancarkan selapis warna emas yang kuat. Anehnya, di mana cahaya emas itu memancar, arus airpun segera menyebar keempat penjuru, de-ngan demikian maka kedua orang itu tidak lagi menghadapi tekanan arus.

Kejut dan girang Ji-sia, mimpipun ia tak me-ngira ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian mem-punyai khasiat menolak air. Tong Yong-ling tak kurang kejutnya, dia tahu ruyung Jian-kim- si-hun-pian yang dipuja setiap orang persilatan itu. Kembali Ji-sia menggetarkan ruyung mestika itu, beribu- ribu ular emas kecil segera merayap ke depan, tanpa menimbulkan suara, ketiga batang terali besi itu patah menjadi dua bagian, menyusul ruyung emas itu menyambar ke bawah dan muncul sebuah celah besar yang cukup dipakai menerobos keluar.

Ji-sia berdua sangat girang, buru-buru mereka menyusup keluar dari tempat itu. Sepanjang jalan Tong Yong-ling selalu memeluk tubuh Ji-sia erat-erat, mereka berdua ibaratnya gu-la-gula yang lengket menjadi satu.

Seandainya mereka berdua tidak berbuat de-mikian, maka Tong Yong-ling pasti akan tertolak oleh daya tekan air yang kuat, bahkan sedikit sa-lah perhitungan bisa menyebabkan hilangnya nyawa. Walaupun dalam hati kecil Ji-sia enggan ber-buat demikian, tapi ia tak dapat menolak, sebab gadis itu begitu lembut kepadanya, sama sekali ti-dak mirip seorang gadis nakal.

Demikianlah, dengan tangan kanan memegang ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian dan tangan kiri merangkul pinggang si nona, mereka berdua bere-nang ke depan. Dengan khasiat menolak air ruyung mestika Jian-kim-si-hun- pian tersebut, kedua orang dapat meluncur ke atas permukaan air dengan kecepatan tinggi.

Dalam sekejap mereka sudah naik setinggi tu-juh delapan tombak, tapi belum juga mencapai permukaan air, padahal tenaga mereka sudah ham-pir habis, hal ini membuat kedua orang itu men-jadi kuatir.

Ji-sia coba memperhatikan sekejap Tong Yong-ling yang berada di sampingnya, ia lihat gadis itu memeluk pinggangnya erat-erat, matanya terpejam dan kepala menempel di atas dadanya sekulum senyuman menghiasi ujung bibir dara tersebut seakan-akan tidak memikirkan lagi keselamatan sendiri. Tergetar hati Ji-sia, diam-diam ia menghela napas. “Byuur!” akhirnya mereka muncul di permuka-an air, suasana tetap gelap, ketika Ji-sia melepas-kan rangkulannya, Tong Yong-ling baru seperti sa-dar dari impian, tapi ia masih memeluk pemuda itu erat-erat, enggan kehilangan impian indah tersebut.

“Nona Tong, kita sudah tiba di permukaan air.” seru Ji-sia.

Ketika Tong Yong-ling melihat air muka Ji-sia yang dingin itu, segera ia lepaskan rangkulan-nya, timbul perasaan kesal, ia menghela napas.

Butiran air menetes jatuh dari wajahnya, entah butiran air mata atau butiran air biasa. Ji-sia coba memperhatikan sekeliling tempat itu, ternyata mereka berada di atas sebuah kolam besar, sisi timur, barat dan utara dikelilingi dinding ka-rang, hanya sisi selatan yang terdapat sebuah lorong. Permukaan kolam hanya satu tombak di bawah, dinding kolam sebelah selatan terdapat sebuah tangga besi, Ji-sia dan Yong- ling segera berenang menuju ke tangga besi itu.

Air kolam sangat tenang, tidak terdapat pintu air masuk, Ji- sia menjadi heran. Tapi setelah dipikir sebentar pemuda itu lantas paham duduknya perkara, rupanya sumber air itu datang dari dasar kolam, pantas daya tolak air sangat kuat. Siapakah yang menduga dalam benteng Thian-seng-po terdapat penjara air begini besarnya, bah-kan bangunan itu begitu hebat, suatu hal yang ja-rang ada.

Setelah menghela napas ia berpaling ke arah lorong sebelah selatan, dilihatnya keadaan gelap dan seram.

“Bok-siangkong,” tiba-tiba Tong Yong-ling berkata sambil menghela napas, “andaikata kau tidak memiliki ruyung mestika Jian-kim-si-hun-pian, mungkin kita sudah mati tenggelam dalam penjara air ini.”

Ji-sia terkesiap mendengar gadis itu menge-tahui soal ruyung Jian-kim-si hun-pian, buru-buru ruyung tersebut dimasukkan ke dalam sarungnya. Melihat kegugupan orang, Yong-liong merasa sedih, ia menghela napas dan berkata pelahan “Jangan kuatir Bok-siangkong, tidak akan kurampas ruyung itu, apalagi membocorkan rahasia ini kepada orang lain.”

Merah jengah wajah Bok Ji-sia, katanya, “Te-rima kasih atas kesediaan nona untuk menyimpan rahasia, budi kebaikan ini pasti akan kubalas di kemudian hari.”

“Kenapa Bok-siangkong barkata demikian? Padahal nyawaku juga telah diselamatkan oleh-mu……”

“Nona Tong telah memberi makanan padaku, budi kebaikan ini luar biasa besarnya,” tukas Ji-sia, “anggap saja budi itu telah kubalas dengan me-nolongmu keluar dari penjara air, dengan demikian kita jadi sama-sama tidak berutang budi…”

Tambah sedih Tong Yong-ling mendengar per-kataan itu, dia tak mengira watak orang seaneh ini, iapun tidak menyangka anak muda itu lebih memperhatikan soal budi dan dendam daripada soal cinta kasih di antara mereka.

Dengan air mata berlinang katanya, “Begi..begini tegakah kau kepadaku? Masakah kau tidak berperasaan?”

Ji-sia tertegun dan berpikir, “Aneh, kenapa ia begini sedih?

Kenapa ia mengatakan aku tidak berperasaan?..,”

Anak muda ini memang belum tahu apa arti-nya cinta, ia tidak memahami perasaan si nona. Sesungguhnya bukannya ia tak tahu soal hubungan muda-mudi, tapi pengalamannya yang tragis mem-buat hatinya betul-betul sudah terkoyak, ia mere-sa rendah diri, merasa hina, dan tidak berani me-nerima kasih sayang gadis cantik mana pun juga, sebab dia tahu di kemudian hari ia pasti akan menyia-nyiakan mereka, maka lebih baik bersikap di-ngin dan ketus kepada setiap gadis, agar mereka berkesan jelek kepadanya dan tidak berani mende-katinya. Padahal Bok Ji sia pun berperasaan, malahan jauh lebih peka daripada laki-laki lainnya. Begitulah Ji-sia termenung, ia berlagak seakan-akan tidak mendengar perkataan nona itu. Lewat sejenak ia baru berpaling ke arah Tong Yong-ling seraya barkata, “Sekarang kita belum lolos sama sekali dari bahaya, baik atau buruk nasib kita se-lanjutnya masih sukar untuk diduga.”

Tong Yong-ling mengawasi wajah Ji-sia dengan sorot mata sendu, lalu bisiknya, “Bok-siangkong….kau….kau hendak pergi meninggalkan aku?…..”

“Sebagai seorang laki-laki sejati, tak nanti ku-tinggalkan seorang gadis dengan mencari selamat diri sendiri!”

Mendengar perkataan ini, tersembul senyuman pada wajah Tong Yong ling yang penuh kepedihan itu, pelahan dia menghampiri anak muda itu sambil berkata, “Bok-siangkong, tiba-tiba aku merasa ha-nya kau saja yang dapat melindungi keselamatanku, kau….kau….bersediakah kau tidak meninggal-kan diriku? Aku bersedia mendampingimu untuk selamanya.”

Ucapan yang penuh kasih sayang mi malah menimbulkan rasa bimbang Bok Ji-sia.

Setelah menghela napas, ia berkata, “Nona Tong, lebih baik kita mencari jalan keluar lebih dulu!”

Demikianlah, Ji-sia dan Yong-ling kembali me-lanjutkan perjalanan ke depan, sambil tak hentinya mereka perhatikan keadaan sekeliling tempat itu, mereka tahu keadaan cukup gawat, setiap saat me-reka bisa disergap oleh orang-orang Thian-seng-po, atau bahkan terjebak dalam alat-alat rahasia yang jahat.

Setelah berbelok tiga kali, keadaan mendadak terang benderang. Ternyata setiap jarak satu tombak terdapat sebuah obor di dinding karang itu, lorong yang se-mula sempit sekarang bertambah lebar, tempat itu merupakan sebuah ruangan batu yang besar, tapi keempat dindingnya licin seperti cermin, entah ter-buat dari batu apa?

Lorong ini berakhir sampai di sini, sebuah pin-tu batu tertutup rapat menghadang jalan mereka, dan sebaris tulisan dengan huruf besar terpancang di atas pintu, tulisan itu berbunyi: “Dilarang masuk, banyak alat rahasia!”

Membaca peringatan itu, Ji-sia dan Tong Yong-ling lantas termenung, lewat sejenak kemudian tiba-tiba gadis itu berseru, “Bok-siangkong, benarkah di dalam ruangan penuh dengan alat rahasia?”

“Kemungkinan besar betul,” sahut Ji-sia sambil mengangguk, “cuma walaupun ada alat jebakan yang bagaimanapun bahayanya, kita harus pertaruhkan nyawa untuk melewatinya, kalau tidak, maka se-lamanya, jangan harap bisa keluar dari sini!”

Tong Yong-ling tertawa, “Bok-siangkoog, pintu ini tertutup rapat, dengan cara bagaimana kita akan menhembusnya?”

Sementara gadis itu sedang bertanya, Ji-sia te-lah menghampiri pintu dan mendorongnya dengan sepenuh tenaga. Pintu batu itu berat sekali, jangankan terbuka, bergetar pun tidak, malahan ia terpental ke belakang saking besarnya menggunakan tenaga.

Dengan melenggong pemuda itu berpaling ke arah Tong Yong-iing, katanya, “Nona Tong, apakah kau mempunyai cara baik untuk membuka pintu ini?”

“Darimana kau tahu aku mempunyai akal un-tuk membuka pintu ini?” Tong Yong-ling balik bertanya sambil tertawa, “Betul, aku memang su-dah dapat meraba garis besarnya, tapi setelah ter-buka, di sana pasti ada pintu kematian dan pintu kehidupan, akupun sulit membedakan mana pintu kehidupan dan masa pintu kematian?”

“Nona Tong, apa maksud perkataanmu ini?” tanya Ji-sia tidak mengerti.

“Bok-siangkong, apakah kau tidak merasa lo-rong ini sering dilewati orang?”

Ji-sia mengangguk sebagai tanda sependapat, tapi ia tanya lagi, “Apakah yang dimaksudkan de-ngan pintu kematian dan pintu kehidupan?”

“Pintu kematian adalah pintu yang menuju ke tempat yang penuh aneka macam alat jebakan, se-dangkan pintu kehidupan adalah pintu yang sering-kali dipakai untuk masuk keluar, karenanya kupikir di tempat ini pasti terdapat dua  buah pintu.

“Sungguh mengagumkan pendapat nona, tapi dengan cara apa kita akan membuka pintu kema-tian dan pintu kehidupan itu?”

“Di sini tiada benda lain, barusan telah ku-periksa dengan seksama dan kurasa cara untuk membuka pintu terletak pada huruf ‘Dilarang ma-suk, banyak alat rahasia’ ini, coba kau perhatikan, bukankah huruf-huruf ini bisa digerakkan?”

Ji-sia coba memperhatikan huruf-huruf itu de-ngan lebih saksama, betul juga, huruf itu tidak di-tulis di atas pintu melainkan pada lapisan dalam, mau-tak-mau ia harus memuji atas ketelitian gadis tersebut.

“Ketajaman mata nona memang mengagumkan.” katanya sambil tertawa, “tapi huruf manakah me-rupakan kunci untuk membuka alat rahasia ini?”

Dengan tertawa bangga Yong-ling menjawab, “Setiap huruf merupakan kunci untuk membuka pintu kematian dan pintu kehidupan, hanya tidak kita ketahui huruf manakah untuk membuka pintu kehidupan dan huruf mana untuk membuka pintu kematian.”

“Jadi maksud nona, di sini terdapat delapan buah pintu?” “Bukan, bukan begitu, di sini hanya ada dua buah pintu,

setiap empat huruf adalah kunci untuk mengendalikan alat rahasia pintu masing-masing.”

“Ai, mati hidup sudah takdir, betapa berbahaya-nya harus kita coba juga.” ujar Ji-sia.

“Baiklah kalau memang tidak takut mati, to-long Bok- siangkong siapkan obor.”

Sambil berkata jari tangannya mulai menekan huruf itu. Ia menekan huruf itu secara selang-seling. Setelah empat huruf ditekan, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh yang keras, menyusul terbukalah sebuah pintu batu.

Ji-sia dan Yong-ling bersama-sama masuk ke sana, pemandangan di depan mereka telah berubah, tempat ini adalah sebuah ruangan besar, di bela-kang sana seperti ada pula beberapa buah ruangan. Semua ruangan ini gelap gulita, andaikan me-reka tidak menyiapkan obor lebih dahulu, hakikat-nya sukar untuk melihat keadaan di situ.

“Wah celaka!” tiba-tiba Yong-ling berteriak, “kita salah memasuki pintu kematian!”

Sambil berkata ia menarik ujung baju Ji-sia untuk mengajaknya keluar dari ruangan itu. Siapa tahu pada saat itulah kembali terdengar suara gemuruh yang keras, otomatis pintu batu itu menutup dengan cepatnya.

“Nona Tong, darimana kau tahu kita salah me-masuki pintu kematian?” tanya Ji-sia.

“Kalau pintu yang kita masuki adalah pintu hidup, maka seharusnya tempat ini adalah sebuah lorong panjang, bukan ruangan semacam ini. Bok-siangkong, cepat kemarilah, mungkin alat rahasia di dalam ruangan ini sudah mulai bergerak.”

Sementara bicara, Yong-ling lantas menarik anak muda itu untuk menyingkir ke sudut ruangan. Tiba-tiba terdengar suara berkeriut-keriut, tahu-tahu permukaan lantai muncul sebuah liang seluas satu tombak.

“Sret, Sret! menyusul berkumandang suara de-sing angin tajam, dalam liang lantai itu menyambar keluar anak panah yang amat deras seperti letikan bunga api, dan menyambar ke setiap penjuru ruang-an.

“Bok-siangkong, ayo kita melompat ke atas!” buru-buru Yong-ling berteriak.

Sementara ia berteriak, dari sudut ruangan lain berhamburan pula anak panah yang deras mengarah tempat mereka. Ji-sia dan Yong-ling sempat melompat ke atas, tangan mereka segera melepaskan pukulan dahsyat, hujan anak panah itupun tergetar berhamburan ke tanah.

Meskipun hujan panah itu terjadi dengan mendadak, untung tidak berlangsung lama, setelah hujan panah tiga gelombang itu lewat, serangan pun berhenti. Sekalipun begitu, pakaian mereka berdua ro-bek juga di sana sini tersambar oleh anak panah itu, peluh dingin membasahi tubuh mereka saking kagetnya. Mereka lihat ruangan sebelah timur, barat dan utara penuh dengan anak panah yang berserakan, hanya ruangan sebelah selatan yang bebas dari se-rangan anak panah tersebut…..