Kedele Maut Jilid 45 (Tamat)

 Jilid 45 (Tamat)

"Budak kurang berhati-hati."

"Kau sudah keracunan?" Tanya Dewi In Un terkejut.

Nenek perata bumi menggetarkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan, tiba-tiba badannya menjadi lemas dan robohlah dia dalam keadaan tak sadarkan diri.

Tak terlukiskan rasa gusar Dewi In Un menghadapi kenyataan tersebut, sambil menggertak gigi ia segera berpaling kearah nenek penunjang langit sambil menegur : "Bagaimana dengan kau?" Berubah hebat paras muka nenek penunjang langit namun sambil berusaha menahan diri sahutnya :

"Budak pun sudah terkena sari racun tersebut namun masih bisa mempertahankan diri" Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Ngo cun ki segera menyela :

"Padahal bukan bubuk racun yang kupergunakan melainkan dupa pemabuk An hun hiang dari Hoa sanpay kami, bubuk tersebut hanya menyebabkan orang jatuh pingsan namun tidak sampai merengut jiwanya."

"Hmm, beginikah cara kerja seorang ketua partai? Apakah kau tidak merasa malu?" bentak Dewi In Un penuh amarah. Ngo cun ki tertawa tenang, katanya :

"Segala tindakan yang dilakukan orang kebanyakan tergantung pada siapa yang di hadapi untuk menghadapi manusia semacam kalian, aku rasa tindakan seperti ini sudah terhitung cukup bagus."

Kemudian sambil menatap wajah Dewi In Un dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, ia berseru lagi :

"seandainya kami tak berhasil membongkar siasat busuk kalian itu dan memasuki selat Pek hong sia, entah bagaimanakah akibat yang bakal kami hadapi? Coba kau berpikir sendiri apakah perbuatan kalian itu tidak terlalu keji, buas dan memalukan"

Dewi In Un benar-benar amat gusar, dengan cepat dia mengayunkan tangannya keatas, sebatang panah api segera meluncur keatas udara dengan menimbulkan suara desingan yang keras dan memekakkan telinga, suara itu berkumandang hingga berapa li jauhnya. sambil tertawa dingin Ngo Cun ki segera mengejek : "Berapa orang sih yang kau bawa?" Dewi In Un tertawa seram.

"Heehh . Heehh .. heehhh .. terus terang saja kubilang, kami hanya berjumlah dua puluh empat orang tapi bila dikurangi dengan orang yang telah kalian celakai secara licik, orang yang masih bisa dimanfaatkan hanya dua puluhan." Ngo Cun ki kembali tertawa.

"suara panah tersebut bukan hanya mengundang kehadiran orang-orangmu saja, segenap jago persilatan yang telah tiba disini pasti berbondong-bondong akan meluruk kemari, bila kalian ingin menggunakan kekuatan seminim itu untuk menghadapi jago-jago pilihan dari dunia persilatan, aku rasa siapa bakal kalah sudah tertera jelas didepan mata." "Kalau memang begitu kita buktikan saja nanti" bentak Dewi In Un dengan penuh amarah.

Dengan cepat ia bergerak maju kemuka , sepasang lengannya secara beruntun menghajar dada Ngo Cun ki.

Agaknya Ngo Cun ki sendiripun cukup mengetahui kelihaian Dewi In Un, dia tak berani berayal, cepat-cepat tubuhnya menyingkir kesamping untuk menghindarkan diri, sementara dua pukulan yang dilontarkan persis menyerempet sisi tenaga pukulan dari Dewi In Un- 

Tindakannya itu sudah tentu bukan suatu pertarungan adu kekerasan, tapi dengan meminjam adu kekerasan, tapi dengan meminjam tenaga benturan dari kedua gulung kekuatan tersebut, Ngo Cun ki berjumpalitan ketengah udara membentuk gerakan satu lingkaran busur kemudian ujung bajunya dikebaskan kedepan kembali dua gulung kabut putih menyembur kewajah Dewi In Un-

"Heehh heehhh . Heehhh .hanya mengandalkan kepandaian semacam itupun kau ingin bermain gila denganku?" jengek Dewi In Un sambil tertawa seram.

sekalipun berkata demikian, toh tak urung badannya mundur sejauh berapa kaki untuk menghindarkan diri dari serangan kabut putih tersebut.

Begitu melayang turun keatas tanah Ngo Cun ki segera menjengek sambil tertawa dingin.

"sekalipun ilmu silatmu cukup hebat, namun bila terendus bau dupa An hun hiang kau sama saja akan roboh tak sadarkan diri"

Dewi In Un hanya tertawa dingin tanpa berbicara, sebaliknya si pelajar rudin, Bu wi lojin serta Hian im totiang menjadi kagum sekali atas kecerdikan Ngo Cun ki.

Walaupun kepandaian silat yang dimiliki gadis itu biasa-biasa saja namun dengan mengandalkan kecerdikannya biarpun harus menghadapi musuh tangguh macam Dewi In Un ternyata posisinya masih tetap diatas angin.

Tapi pada saat itu pula situasi dalam arena telah terjadi perubahan besar.

Tampak tiga sosok bayangan hitam mendadak meluncur datang dengan kecepatan tinggi, sekalipun saat itu masih terang benderang namun kehadiran ketiga orang tersebut ternyata tidak diketahui oleh siapapun.

Tampak ketiga orang itu mengenakan baju kuning dengan kain kuning menutupi wajahn sebuah senjata panji kupu-kupu terselip dipinggang masing-masing. sekalipun tidak Nampak raut wajahnya namun bisa diketahui bahwa ketiga orang tersebut adalah kakek berusia tujuh puluh tahunan keatas.

Dewi In Un segera berpaling kearah nenek penunjang langit yang baru selesai bersemedi, tegurnya : "Bagaimana rasamu sekarang?"

"Aku sudah merasa agak baikan" jawab nenek penunjang langit cepat. Dewi In Un menjadi gembira segera serunya :

"Kau tak usah mencampuri urusan disini cepat rawat lukamu itu" "Budak turut perintah"

Ia segera berjongkok disisi nenek perata bumi yang tidak bergerak lagi.

Dalam pada itu para jago telah mengalihkan perhatiannya mengawasi ketiga orang kakek berkerudung itu, mereka membungkam dalam seribu bahasa.

sambil tertawa angkuh, Dewi In Un segera berkata :

"Perlukah kuperkenalkan orang-orang ini kepada kalian semua? Tidak sedikit anak buah yang dibawa ayahku ketika meninggalkan markas besar kami di Hay sim san diantaranya terdapat empat tiang lo, dua belas pengawal pribadi." sambil menunding kearah tiga manusia berkerudung itu lanjutnya :

"Tapi ketiga orang ini adalah tiga rasul langit yang menjadi andalan partai kupu-kupu, mereka adalah jago kelas wahid dari partai kami, begitu sayangnya ayahku kepada mereka, maka ia menyerahkan ketiga orang andalannya ini kepadaku." Bu wi lojin mendengus dingin, tukasnya :

"Biarpun partai kupu-kupu mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki pun tak nanti umat persilatan akan menyerah dengan begitu saja, pertarungan ini adalah pertarungan untuk melenyapkan kaum sesat dari muka bumi."

"Hey tua Bangka Bu wi" bentak Dewi In Un gusar.

"sekalipun kau berderet dalam urutan nama tiga manusia aneh namun dalam pandanganku tak lebih Cuma kaum berandal ingusan, apalagi ilmu silatmu tak mampu menahan sebuah gempuranku, sebagai panglima perang yang pernah keok ditanganku, disini masih belum ada tempat bagimu untuk turut berbicara."

Merah jengah selembar wajah Bu wi lojin dibuatnya, dengan penuh amarah segera bentaknya :

"Perempuan siluman, sombong benar kau" Dewi In Un mendengus dingin- "Percuma kalau kita hanya bersilat lidah belaka, sebentar lagi kalian akan menyaksikan pertunjukkan yang menarik" sambil berpaling segera bentaknya :

"Tiga orang Thian cun, dengarkan baik-baik, orang ini adalah pemimpin dunia persilatan dewasa ini dan saat inilah waktu yang tepat bagi kalian untuk mencoba kemampuan yang dimiliki, baik dibunuh atau ditangkap hidup-hidup. kalian bereskan orang-orang itu."

"Nona tak usah kuatir, hamba sekalian tak akan mengecewakan hatimu" sahut ketiga orang kakek itu serentak.

"Bagus sekali" Dewi In Un tertawa bangga. "Kalian boleh segera turun tangan"

Dengan cepat dia bergerak mundur dari situ.

setelah memberi hormat, ketiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu itu segera bergerak maju kedepan dan mengepung Hian im totiang, Bu wi lojin serta sipelajar rudin Ho heng, sebaliknya Ngo Cun ki justru disisikan ketempat lain-Dewi In Un segera menjengek sambil tertawa dingin :

"Budak Ngo, kau jangan keburu bangga, tak seorangpun diantara rekan-rekan sekalian yang sanggup menghadapi seluruh jurus serangan dari tiga orang Thian cun kami, bila mereka telah keok nanti maka aku baru akan meringkusmu secara pelan-pelan, pokoknya aku tak akan membiarkan kau mampus dengan begitu saja."

Walaupun diluarnya Ngo Cun ki masih tertawa dingin dengan wajah tenang, padahal dalam hati kecilnya ia sudah merasa tegang sekali.

Dalam waktu singkat Bu wi lojin, Hian im totiang dan si pelajar rudin Ho Heng masing-masing telah mendapatkan seorang lawan, sementara ketiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu pun telah meloloskan senjata panji kupu-kupu dari pinggangnnya.

Dalam waktu singkat bayangan kupu-kupu telah menyelimuti seluruh angkasa, ditengah deruang angin kencang yang terlihat didepan mata Cuma tiga gulung bayangan putih saja. Mendadak ..

Terdengar jeritan ngeri bergema memecah keheningan, lalu tampak bayangan putih memisahkan diri, Ngo Cun ki terkejut sekali. Ia menjumpai paras muka Hian im totiang pucat bagaikan mayat, darah segar telah bercucuran dari atas bahunya. Untung saja manusia berkerudung itu tidak melanjutkan kembali serangannya. Menyusul kemudian terdengar dua kali dengusan tertahan, secara beruntun Bu wi lojin serta pelajar rudin Ho Heng pun menderita luka.

Bu wi lojin menderita luka dibagian dada, tangan kanannya dipakai untuk menutupi lukanya itu, kelihatan sudah basah oleh darah yang meleleh keluar melalui celah-celah jari tangannya.

sedang si pelajar rudin terluka dibagian pahanya, ia sudah tak mampu berdiri lagi.

Padahal pertarungan belum lagi mencapai sepuluh gebrakan, namun tiga orang jago persilatan ini sudah terluka secara beruntun dan tak mampu melanjutkan serangan lagi.

semenara itu tiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu telah membalikkan badan memberi hormat kepada Dewi In Un sambil berkata :

"silahkan siancu memberi petunjuk apakah perlu kita cabut nyawa mereka semua"

sambil tertawa Dewi In Un mengulapkan tangannya, ia berkata : "Mereka sudah menjadi burung di dalam sangkar, tunggu saja

sejenak lagi"

Ketiga orang Thian cun itu segera mengiakan dan masing-masing mundur tiga langkah kebelakang.

Ngo Cun ki merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris-iris pisau tajam, berada dalam keadaan seperti ini, biarpun dia memiliki kepandaian yang lebih hebatpun rasanya tak mungkin bisa dipergunakan lagi. Maka setelah menghela napas panjang, katanya : "Perempuan siluman In Un, kau yang menang" Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh :

"Padahal persoalan ini sudah berada dalam dugaan, tiada sesuatu yang aneh, aku ingin bertanya kepadamu sekarang, kau hendak menyerahkan diri untuk dibelenggu ataukah kami kirim orang untuk membekukmu?" Ngo Cun ki segera mendengus dingin :

"Aku adalah ketua Hoa sanpay, bila tak bisa menggungguli musuh tangguh maka bagianku hanya mati, kalau suruh menyerahkan diri untuk dibelenggu? HHmmm, tak nanti akan kulakukan"

"Bagus, kau memang sangat pemberani" kata Dewi In Un sambil berpaling kearah Hian im totiang sekalian, bentaknya dengan suara dalam : "Apakah kalian merasa takluk? "

Jawab Bu wi lojin dengan suara lantang : "Bagi kami kalah ditangan musuh yang lebih tangguh adalah suatu hal yang lumarh, bisa matipun kami mati dengan meram, kalau dihitung takluk. Hmmm, jangan harap"

"Haaah . Haahhh .. haahh .. kalau begitu habisilah nyawa kalian sendiri, aku bersedia menghadiahkan kematian yang utuh kepada kalian semua." Kembali Bu wi lojin tersenyum :

"Tak usah kau katakan, rasanya hanya jalan begitu yang bisa kami tempuh sekarang, Cuma ."

"Cuma kenapa?" dengus Dewi In Un- sambil menggigit bibir Bu wi lojin berkata :

"Ada satu hal tidak kupahami dan sebelum mati ingin kuketahui lebih dulu dengan jelas, sebab kalau tidak mungkin bakal mati tak terpejam." Dewi In Un tertawa .

"Bisa saja kuberi penjelasan kepadamu agar kau menjadi setan yang mengetahui keadaan sejelasnya, pokoknya asal pertanyaan tersebut dapat kujawab, kau tak bakal merasa kecewa, nah ajukanlah pertanyaanmu?"

setelah termenung sebentar, dengan suara dalam Bu Wi lojin berkata :

"siapakah yang telah menyaru sebagai diriku tempo hari sehingga menyebabkan terjadinya peristiwa berdarah di perkampungan HHu im ceng dengan tujuh puluh lembar jiwa melayang?"

Dewi In Un segera tertawa terkekeh-kekeh :

"Baiklah sekarang urusan telah berkembang jadi begini, boleh juga kuberitahukan kepadamu, orang yang menyaru sebagai dirimu waktu itu bernama Liong hoa sinkun, kenalkah kau dengan orang itu?"

"Apakah Go Liong hoa dari wilayah Biau?" gumam Bu wi lojin. "Haahh . Haahh haahh tak nyana pengetahuanmu luas sekali,

begitu kusebut segera kau ketahui siapa orangnya."

"setahuku Go Liong hoa bukan anggota partai kupu-kupu." Ucap Bu wi lojin dengan kening berkerut.

Dewi In Un mengangguk.

"Yaa, memang bukan, tapi dia adalah seorang sobat karib ayahku, itulah sebabnya ia bersedia membantuku tempo hari, tapi sekarang ia sudah menjadi kepala pelindung hukum dari partai kupu- kupu kami"

"sayang Kho Beng tidak mengetahui soal ini" seru Bu wi lojin sambil menggigit bibir. Kembali Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh : "Itu mah tak menjadi soal, bila aku kebetulan lewat dibukit cian san nanti pasti akan kuutus orang untuk bersembahyang disana dan memberitahukan masalah ini kepadanya, tapi bukankah sebentar lagi kaupun akan sampai ke akhirat? Disana kau bisa memberitahukan soal ini langsung kepada arwahnya. "

Mendadak ..

Tampak belasan sosok bayangan manusia lagi bergerak mendekat, mereka terdiri dari laki maupun perempuan sambil memberi hormat kepada Dewi In Un serunya : "Menjumpai siancu"

sambil tertawa Dewi In Un berkata :

"Rencana kita telah diketahui musuh, rasanya kecuali melakukan pertarungan adu kekerasan tak usah kita menggunakan otak lagi."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, kembali terlihat ada puluhan sosok bayangan menusia bergerak datang.

Ternyata mereka adalah kawanan jago persilatan yang dipimpin langsung oleh ketua siau limpay Phu sian sangjin-

Namun situasi yang terbentang didepan mata segera membuat para jago jadi tertegun-

"omitohud" Phu sian sangjin segera tampil kedepan dan berkata dtngan wajah serius : "sayang kedatangan kami terlambat selangkah."

"Cepat atau lambat aku rasa sama saja" Jengek Dewi In Un sambil tertawa, "hari ini adalah hari kiamat untuk kalian semua."

Phu sian sangjin mengalihkan sorot matanya kewajah Ngo Cun ki, lalu serunya : "Ngo ciangbunjin .."

sambil tertawa getir, Ngo Cun ki berkata :

"Bila takdir menghendaki demikian mungkin memang saat kaum iblis untuk menguasai jagat, kita hanya pasrah pada nasib. Tapi jumlah jagoan dari dunia persilatan puluhan kali lipat lebih banyak paling tidak kita bisa bertarung sampai titik darah penghabisan-"

"Tak perlu dicoba lagi." Seru Bu wi lojin dengan suara parau. "satu-satunya jalan saat ini adalah tinggalkan tempat ini

secepatnya, pertahankan sisa kekuatan yang ada sambil menunggu kesempatan yang lebih baik dikemudian hari." sambil menghela napas panjang, Ngo Cun ki berkata pula :

"Apa yang dikatakan Buwi cianpwee memang benar, kepandaian silat yang mereka miliki tak mungkin bisa ditandingi oleh ilmu silat perguruan kita semua, Bu wi cianpwee sekalian pun sudah menderita kalah tak sampai sepuluh gebrakan, apalagi saudara sekalian, aaai tak usah dicoba lagi" sambil tertawa terbahak-bahak Dewi In Un segera berseru :

"Asal kalian mengaku kalah dan menyerah, kau anggap aku bakal membebaskan mereka dengan begitu saja?"

"Lantas apa maumu?" teriak Bu wi lojin-Dewi In Un mendengus dingin :

"saat ini aku tak bakal mencabutjiwamu, sebab Kho Beng telah mampus, maka aku berniat mendapatkan kembali kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh itu dari tanganmu."

Kemudian sambil berpaling kearah Phu sian sangjin, kembali katanya :

"Aku dengar jumlah kawanan jago persilatan yang telah dihimpun mencapai berapa ratus orang, mengapa hanya berapa puluh orang saja yang Nampak disini?" Pelan-pelan Phu sian sangjin memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu berkata :

"Biarpun jumlah yang hadir saat ini tidak banyak. namun mereka adalah tokoh-tokoh pilihan, maka asal kau bisa membunuh berapa puluh orang yang hadir sekarang, sama artinya kau telah membantai seluruh jago yang ada dirimba persilatan"

Tiba-tiba Bu wi lojin berteriak keras :

"Kalian cepat mundur Apa gunanya mengorbankan diri secara percuma?"

Namuan perkataan tersebut belum sempat memberikan reaksi, Dewi In Un telah menurunkan perintahnya, tiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu itu sudah bergerak menyerang para jago.

Maka suatu pertarungan sengitpun kembali berkobar, puluhan orang jago pilihan dunia persilatan bertarung melawan tiga orang Thian cun, Dewi In Un serta belasan orang jago lihay dari partai kupu-kupu.

Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi oleh deruan angin pukulan serta bayangan senjata yang berkilauan, suasananya benar-benar mengerikan. Tak lama kemudian, jerit kesakitan pun berkumandang saling susul menyusul ..

Ketua Kun lun pay Hoa thian totiang, Thio bungkuk sekalian, lima enam orang jago persilatan telah menderita luka ringan maupun berat.

Phu sian sangjin merasakan hatinya terkesiap, "mungkinkah Thian akan mentakdirkan kaum iblis menguasai jagat serta melakukan pembantaian secara besar-besaran?" Begitu pikirannya bercabang, tiba-tiba bahunya terasa sakit ternyata ia sudah terhajar oleh senjata panji kupu-kupu lawan hingga separuh badannya menjadi kaku dan lengan kanannya bagaikan lumpuh.

Didalam terkejutnya dengan jurus Naga kaget palingkan kepala- dia melejit sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.

Situasi dalam arena bertambah gawat, jagoan yang terluka pun saling menyusul

sedangkan yang masih bertahan pun sudah mulai keteteran hebat ..

Disaat yang amat kritis dan berbahaya inilah, tiba-tiba terdengar seorang membentak keras : "Tahan"

suaranya keras bagaikan Guntur membelah bumi ditengah hari bolong, seluruh hadirin terperanjat dibuatnya dan tanpa sadar mengundurkan diri kebelakang.

Untuk sesaat lamanya suasana didalam arena menjadi hening, pertarungan terhenti untuk sementara waktu dan semua orang berdiri termangu.

Suatu peristiwa aneh memang telah terjadi dan inilah yang menyebabkan para jago yang sedang bertarung segera menghentikan pertarungan sambil mundur kebelakang. Ternyata suara bentakan yang keras bagaikan Guntur itu berasal dari atas langit.

Tampak seekor burung rajawali raksasa menukik turun dari atas udara, diatas punggung rajawali itu duduklah dua orang , seorang adalah kakek berjanggut putih sedang yang lain adalah Kho Beng.

Disaat rajawali tadi berada dua puluh kaki dari atas permukaan tanah, Kho Beng segera melompat turun kebawah dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

suasana tetap hening, para jago pun tidak bersorak gembira, namun phu sian sangjin, Bu wi lojin, pelajar rudin serta Thio bungkuk sekalian diam-diam mengucurkan air mata d engan perasaan syukur.

Pelan-pelan Kho Beng mengalihkan sorot matanya kewajah Dewi In Un-

Paras muka Dewi In Un telah berubah hebat, namun ia mencoba mendengus dingin sambil berseru :

"orang she Kho, tak nyana umurmu diberkahi panjang" "Hmm, sungguh suatu rencana yang keji, tampaknya kau berniat membantai segenap jago dari dunia persilatan?" seru Kho Beng sambil menggertak gigi menahan geram. Kembali Dewi In Un mendengus dingin :

"Hmm, berbicara menurut keadaan sekarang rencanaku tak akan berubah, betul ilmu silatmu peroleh kemajuanpesat, namun kau masih bukan tandingan jago dari partai kupu-kupu kami."

Kho Beng mencoba memperhatikan sekejap Phu sian sangjin, Bu wi lojin, pelajar rudin dan Thio bungkuk sekalian yang terluka kemudian dengan kening berkerut ia berpaling kearah Ngo Cun ki sambil katanya : "Mungkin anda adalah ketua Hoa san pay, bukan?"

sesudah melalui pertarungan yang begitu sengit, rambut Ngo Cun ki sudah awut-awutan tak rapi, dengan wajah bersemu merah segera sahutnya : "siauli adalah Ngo Cun ki, sudah lama kudengar nama besar Kho sauhiap ."

"Tolong urusi para rekan persilatan dan cianpwee yang terluka, sementara persoalan disini serahkan saja padaku."

"Kho sauhiap tak usah cemas, serahkan saja rekan-rekan semua kepadaku, tapi kau yang hadapi mereka harus berhati-hati."

Kho Beng manggut-manggut, pelan-pelan dia berpaling kearah Dewi In Un kemudian bentaknya :

"Biarpun mendiang guruku Kongci cu berpesan agar aku bisa mempertahankan keturunan dari partai kupu-kupu, namun bilamana keadaan sudah terpaksa, aku akan tetap membasmi kalian dari muka bumi" Dewi In Un tertawa tergelak .

"Kho Beng, kau terlalu sombong, jangan kau anggap kami tak mampu membekukmu" sambil berpaling segera bentaknya : "Cepat tangkap bajingan ini"

Ketiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu serentak mengiakan dan mengurung pemuda itu dari tiga arah.

Bu wi lojin yang menyaksikan peristiwa ini segera berteriak keras

: "Hati-hati Kho Beng, ketiga orang itu tidak gampang dihadapi" "Cianpwee tak usah kuatir," jawab Kho Beng lantang.

Kemudian sambil berpaling kearah tiga orang Thian cun itu, bentaknya keras-keras : "Tunggu sebentar"

sambil tertawa keras Dewi In Un mengejek :

"Kho Beng, bila kau bersedia minta ampun, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mengampuni jiwamu." "Kau salah paham," seru Kho Beng sambil tertawa dingin, "aku hanya ingin mengetahui identitas mereka bertiga lebih dulu."

"Mereka adalah tiga orang Thian cun dari partai kupu-kupu, jagoan kelas wahid dari partai kami."

"Hmm, orang-orang yang bersedia membantu penjahat melakukan kejahatan tidak boleh dibiarkan hidup terus, sekarang kalian boleh turun tangan" sambil berkata ia segera meloloskan pedangnya.

sementara itu, ketiga orang Thian cun pun telah meloloskan senjata panji kupu-kupu, tampak selapis bayangan kupu-kupu dengan cepat menyelimuti angkasa, dari dua berubah menjadi empat dan akhirnya terciptalah beribu-ribu ekor kupu-kupu yang mengepung Kho Beng dari empat penjuru.

Kawanan jago yang mengikuti jalnny a pertarungan tersebut dari sisi arena menjadi kecut hatinya setelah melihat keampuhan lawannya, tanpa terasa mereka mengucurkan keringat dingin saking gelisahnya.

Terutama sekali Bu wi lojin sekalian yang telah merasakan kelihayan dari ketiga orang Thian cun tersebut, belum sampai sepuluh gebrakan pun mereka telah menderita kekalahan, apalagi Kho Beng hanya seorang diri sekarang, betapapun pesatnya kemajuan yang dicapai dalam ilmu silatnya, mustahil ia mampu menghadapi tiga musuhnya itu bersama-sama .

Phu sian sangjin pun tak tega mengikuti jalannya pertarungan, ia segera memejamkan matanya rapat-rapat.

Dalam pada itu, Kho Beng yang terkepung ditengah arena sama sekali tidak melakukan gerakan apapun-

Tapi ketika para jago mulai gelisah dan cemas itulah, mendadak dari balik bayangan kupu-kupu yang menyelimuti angkasa menyembul keluar segulung cahaya putih yang tajam bagaikan sinar surya, cahaya tadi menerjang tiga kaki ketengah udara lalu berubah menjadi segulung hujan pedang yang menyebar kesekeliling arena.

Dalam waktu singkat terlihatlah hawa pedang yang mengerikan hati menyebar keseluruh arena, dalam lingkaran seluas sepuluh kaki, hawa pedang serasa membungkus setiap bayangan udara, sedang bayangan kupu-kupu yang semula menguasai angkasa tahu-tahu hilang lenyap tak berbekas.

Tak lama kemudian terdengarlah suara benturan senjata yang memekikkan telinga, lalu tak lama kemudian terdengar lagi tiga kali jeritan ngeri yang menyayat hati, sementara hawa pedang pun hilang lenyap tak berbekas.

sambil menghela napas para jago segera mengalihkan  pandangan matanya ketengah arena, bahkan si pelajar rudin Ho Heng yang terluka dipahanya pun menyempatkan diri untuk melompat bangun dan sambil menahan rasa sakit melongok kedalam arena.

Menanti apa yang terjadi telah terpampang jelas didepan mata, meledaklah tepik sorak yang gegap gempita, sementara rasa tegang dan cemas hilang lenyap tak berbekas.

Ternyata hanya didalam satu gebrakan saja, ketiga orang Thian cun yang sangat lihay itu sudah menderita kekalahan total.

seorang diantara mereka terpapas bahunya hingga tubuhnya terbelah menjadi dua, orang itu tewas seketika, sedangkan dua yang lain , satu kehilangan kaki yang satu lagi terpapas lengannya.

sementara itu Kho Beng yang berhasil meraih kemenangan masih berdiri termangu- mangu diarena.

"Ilmu pedang bagus" teriak pelajar rudin sambil bersorak gembira, .. "tapi kenapa kau?" Bagaikan baru tersadar dari lamunan, Kho Beng segera menjawab :

"Baru untuk pertama kali ini boanpwee mempergunakan jurus serangan tersebut, tak nyana kekuatan yang ditimbulkan begitu hebat."

Dilain pihak paras muka Dewi In Un telah berubah menjadi pucat seperti mayat, ia tidak ambil peduli terhadap dua orang Thian cun yang terluka parah itu, sambil menggigit bibir serunya kepada Kho Beng. "Ilmu silat apa yang kau pergunakan?"

"Inilah ilmu pedang Thian goan hui kiong kiam."

"Ilmu tersebut berasal dari kitab pusaka Thian goan bu boh?" "separuh benar, separuh tidak."

"Aku tidak memahami arti perkataanmu itu" seru Dewi In Un sambil menggigit bibir. sambil tertawa dingin Kho Beng berkata :

"Kau tak usah memahami, sebab sejak sekarang sekalipun partai kupu-kupu masih hidup didunia ini, aku tak akan memperkenankan kalian melakukan kejahatan lagi didalam dunia persilatan, paling tidak aku mampu untuk mengendalikan sepak terjang kalian."

"Bila kau sudah mampus" Kho Beng agak tertegun, lalu katanya : "sekalipun aku mati, pasti ada penerus yang bakal muncul

sebagai pengendali sepak terjang partai kupu-kupu." setelah berhenti sejenak, kembali katanya:

"tapi aku dapat memberitahukan kepadamu, ilmu Thian goan hui kiong kiam hoat tersebut berasal dari ilmu sakti yang tercantum didalam kitab pusaka Thian goan bu boh dikombinasikan dengan ilmu Hui liong sin kang guruku, dua ilmu yang bergabung jadi satu menciptakan kepandaian baru maha dahsyat, oleh sebab itu kalian semua jangan harap mampu mengendalikannya ."

Dewi In Un segera mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, mendadak jeritnya keras : "Cepat mundur"

sambil melompat kedepan, dia berusaha untuk melarikan diri kebawah puncak bukit.

Namun kawanan jago persilatan yang masih segar cukup banyak jumlahnya disana, Ngo Cun ki segera berseru :

"Jangan lepaskan seorangpun diantara mereka"

Maka suatu pertarungan sengitp pun segera berkobar kembali.

Dalam pada itu Kho Beng telah melejit keudara dan mengejar kearah Dewi In Un dengan kecepatan luar biasa.

Tak sampai belasan lompatan kemudian ia telah berhasil menghadang didepan lawannya.

sadar kalau tak mungkin lolos, Dewi in Un menghembuskan napas panjang dan segera menghentikan langkahnya. sambil tertawa dingin Kho Beng berkata :

"saat ini aku telah menguasai ilmu Hui liong singkang guruku, sekalipun kau dapat kabur sejauh sepuluh lipun, aku masih tetap mampu untuk menyusulmu"

"Kenapa kau tidak membunuhku?" jerit Dewi In Un- Kho Beng menggeleng, katanya :

"Kita belum pernah bertarung, mengapa kau tidak berusaha melakukan perlawanan?"

"Percuma," Dewi In Un menghembuskan napas panjang, "ilmu silatku tidak lebih hebat bila dibandingkan ketiga orang Thian cun itu, buat apa aku mesti mencari penyakit buat diri sendiri?"

"Jadi kau berniat menyerah? " jengek Kho Beng sambil tertawa dingin-Dengan cepat Dewi In Un menggelengkan kepalanya :

"partai kupu-kupu tak akan menyerah dengan begitu saja, paling tidak masih ada ayahku serta kawanan jago pilihan dari partai kupu- kupu kami, biarpun kali ini kau unggul namun bukan berarti kau berhasil menggungguli kami secara keseluruhan." sambil tertawa dingin Kho Beng berkata : "Mungkin kau mesti tahu keadaan ayahmu yang mengenaskan, lengan kanannya telah kutung dan semangat hidupnya sudah runtuh, sekalipun dibantu oleh Liong hoa sinkun suami istri, namun kemampuan mereka sudah amat terbatas sekali, kekuatan seperti itu tak perlu dirisaukan lagi."

"Kau .. kau bohong" seru Dewi In Un setelah tertegun sejenak. "sungguh atau bohong tak lama lagi akan kau ketahui sendiri,

aku segan banyak bicara lagi."

Kemudian setelah berhenti sejenak lanjutnya :

"Tapi aku bersedia untuk mengajukan pembicaraan secara blak- blakan"

"Katakanlah" ucap Dewi In Un sambil menghela napas. setelah berpikir sebentar, Kho Beng berkata :

"Aku tak ingin berbuat kelewat batas, apalagi mendiang guruku pun sudah meninggalkan pesan, maka asalkan kau bersedia untuk bertobat, aku jamin partai kupu-kupu masih bisa melanjutkan hidupnya didunia ini."

"Apa syaratmu?" Tanya Dewi In Un sambil menggigit bibir. "Tentu saja harus membebaskan ciciku, dua orang dayangnya,

kakek tongkat sakti serta nona Chin, dan kedua kau harus membujuk ayahmu agar mengundurkan diri dari daratan Tionggoan dan selama hidup tak boleh mempunyai ambisi lagi untuk menguasai jagat."

"Hanya itu saja?" Tanya Dewi In Un setelah berpikir sejenak. "selain itu, orang tuaku sekalian tujuh puluh lembar jiwa tak dibiarkan mati secara sia-saia, kau harus menunjukkan siapa yang

telah menyaru sebagai Bu wi lojin dimasa lalu, aku pun akan bertanggung jawab untuk mengembalikan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kalian-"

Dewi In Un tertegun berapa saat tanpa berbicara. Dengan suara keras Kho Beng segera membentak lagi :

"sesat dan lurus tak mungkin bisa hidup berdampingan, kecuali kau bersedia menerima syaratku tadi, kalau tidak. partai kupu-kupu akan musnah untuk selamanya dari muka bumi"

"Apakah semua perkataanmu itu muncul dari hari kecilmu yang jujur?" Tanya Dewi In Un sambil menggigit bibir.

"Bila anda tak percaya, aku bersedia untuk mengangkat sumpah" kata Kho Beng serius. Akhirnya Dewi In Un menghembuskan napas panjang. "Baiklah, aku bersedia memenuhi tuntutanmu itu."

"Jadi maksud anda .." Kho Beng sangat gembira. Dengan wajah serius Dewi In Un segera berkata :

"Bila kau tak percaya, akupun bersedia mengangkat sumpah tapi kau harus mengerti, hingga kini partai kupu-kupu belum menderita kekalahan total, aku masih mempunyai sandera yang bisa dipakai untuk mengancammu, akupun mempunyai ayahku sebagai tulang punggung, seandainya benar-benar terjadi pertarungan, siapa menang siapa kalah masih susah diramalkan tapi aku ."

setelah menghela napas panjang, agal emosi dia melanjutkan : "Mungkin aku telah dibuat terharu oleh sikapmu yang

bersungguh-sungguh dan tulus hati"

"Asal anda bisa merasakan hal tersebut, aku merasa berterima kasih sekali." setelah berpikir sebentar, Dewi In Un berkata lagi :

"Kini encimu sekalian sudah kupindah didalam sebuah gua dibelakang selat Pek hong sia, didepan gua tumbuh dua batang pohon siong, kau hendak pergi sendiri ataukah kutemani?" Kho Beng berpikir sebentar, lalu jawabnya :

"Bagaimana kalau kau berangkat dulu, sedang aku akan segera menyusul kesana?"

"Begitu percayakah kau kepadaku? Mengapa kau tidak segera berangkat kesana?" kata Dewi in Un sambil tertawa.

Dengan wajah bersungguh-sungguh, Kho Beng berkata : "Bila aku tak percaya kepada anda, tak mungkin aku akan

mengajakmu untuk membicarakan persoalan ini, sedang aku . Bagaimanapun juga aku harus meninggalkan pesan kepada para jago yang masih bertarung diatas bukit, ketahuilah banyak juga orang-orangmu yang masih terlibat dalam pertarungan"

"Aaaai . Tak nyana persoalan seperti itu pun mendapat perhatian yang cukup besar darimu, baiklah, aku akan menunggumu disana" kata Dewi In Un sambil menghela napas panjang.

Tanpa menanti lagi, ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Kho Beng bangkit berdiri, ketika melihat kentongan pertama telah menjelang tiba, buru-buru dia berangkat menuju keatas puncak bukit.

Pertarungan dipuncak bukit telah mereda, ternyata kecuali Dewi In Un serta tiga orang Thian cun, biarpun yang lain terhitung juga jagoan lihay dari partai kupu-kupu, tapi karena kesatu, Dewi In Un telah melarikan diri sehingga melemahkan semangat tempur mereka. Kedua, para jago yang mengerubuti mereka adalah jago- jago kelas satu, maka akhirnya mereka berhasil diringkus semua.

Kedatangan Kho Beng dipuncak bukit segera disambut dengan gembira oleh para jago. Kho sauhiap Ngo Cun ki segera berseru dengan cemas, "mana Dewi In Un ?"

"Atas petunjukku dia telah bersedia untuk berdamai dengan kita" sahut sang pemuda sambil tertawa.

"Damai?" para jago dibuat tertegun dan berseru kaget. sambil tersenyum Kho Beng berkata :

"Ya a, peristiwa ini memang terpaksa harus di akhiri secara begini."

secara ringkas diapun menceritakan kembali pesan terakhir dari gurunya yang harus dilaksanakan-

selesai mendengar penuturan itu, Bu wi lojin segera berkata : "seandainya Kengci cu tidak sadar akan bahaya yang mengancam

dunia persilatan, mungkin kita tak akan lolos dari bencana ini," "yaaa . Kalau dibicarakan kembali keputusan seperti ini memang

pantas, tapi apakah Ui sik kong"

"serahkan saja persoalan ini kepada boanpwee, akan boanpwee selesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya."

"Tahukah kau siapa yang telah menyamar sebagai diriku dulu sehingga mengakibatkan terjadinya peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng?"

"Boanpwee sudah mendengarnya dari Dewi In Un, katanya orang itu adalah Liong hoa sinkun, boanpwee bersumpah tak akan melepaskan orang itu" setelah berhenti sejenak. kembali ia berkata :

"Tapi ciciku dengan perannya sebagai kedele maut telah banyak membantai umat persilatan, apakah .."

"omitohud ." Tukas Phu sian sangjin-

"Dalam peristiwa inipun kesalahan bukan terletak pada dirinya, sudah sewajarnya bila ia mengambil tindakan untuk membalas dendam tersebut, untung saja duduk persoalan telah menjadi jelas sekarang, sakit hati inipun bisa dibereskan sebagaimana mestinya."

Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, katanya lebih jauh dengan suara dalam :

"serahkan saja penyelesaian masalah ini kepadaku, peristiwa yang sudah lewat biarkan saja lewat, mulai saat ini setiap orang yang mempunyai dendam dengan encimu akan diimpaskan dan tak akan menuntutnya lagi."

"Kalau begitu banyak terima kasih untuk kemurahan hati lo siansu, terima kasih banyak untuk pengertian rekan- rekan persilatan semuanya." seru Kho Beng seraya menjura. serentak para jago berkata :

"seharusnya kami yang minta maaf kepada Kho sauhiap serta mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya, andaikata bukan berkat perjuangan sauhiap. mungkin saat ini dunia persilatan telah menjadi dunia kekuasaan partai kupu-kupu." Mendadak Phu sian sangjin berkata :

"Bukankah Kho sauhiap berada bersama-sama keturunan dari tiga dewa?" Kho Beng mengangguk katanya :

"Ketika boanpwee bersama Thian cianpwee sekalian menyatroni gua pengikat cinta, hampir saja kami tewas oleh ledakan bahan peledak yang sengaja mereka persiapkan dari situ pula kami mendapat tahu tentang rencana busuk mereka disini, kebetulan boanpwee bertemu dengan siang thian eng cianpwee dengan bantuan rajawalinya kami pergi kesiau lim pay, dari situ kami mendapat tahu cianpwee sekalian telah berangkat keselat Pek hong sia, aaaai .. sayang kedatangan ku toh tetap terlambat selangkah, akibatnya cianpwee sekalian harus menderita luka."

"Haaah haahh haaahhh .. untung saja kami semua tidak menderita luka yang terlalu parah, peristiwa semacam ini benar- benar merupakan suatu keuntungan ditengah ketidak beruntungan tapi dimanakah siang Thian eng itu?"

Ternyata para jago hanya mencurahkan perhatian pada pertarungan dan melupakan kakek penunggang rajawali tadi, ketika dicari sekarang, bayangan kakek itu sudah tak Nampak lagi.

sambil tersenyum Kho Beng berkata :

"siang Thian eng adalah seorang tokoh silat yang enggan mencampuri urusan dunia persilatan, seandainya Thian dan oh cianpwee tidak memohon secara bersungguh-sungguh mungkin dia belum tentu mau membantu, karena enggan turut campur dalam urusan keduniawian tentu saja ia telah pergi dari sini sedari tadi." Kemudian setelah berhenti sejenak. katanya lagi seraya menjura : "Boanpwee hendak pergi dulu, harap cianpwee sekalian jangan marah." Thio bungkuk yang menderita luka paling ringan segera memburu kedepan dan berkata sambil tertawa :

"Kho Beng, akhirnya aku berhasil juga menyaksikan hari yang dinanti-nantikan ini." sambil melelehkan air mata terharu, Kho Beng berbisik :

"Kesemuanya ini adalah berkat bimbingan serta pendidikan dari cianpwee dimasa lalu." Thio bungkuk tersenyum .

"Kita tak usah membicarakan soal itu, .. aaaah benar, perguruan sam boan bun kini semakin merosot pamornya, namun ketua sam goan bun justru merupakan orang yang telah mmelihara serta mendidikmu, kau .."

"Boanpwee mengerti" kata Kho Beng cepat-cepat. "Begitu urusan disini selesai, boanpwee segera akan

menyambanginya sambil mengucapkan perasaan terima kasihku." Thio bungkuk manggut-manggut, katanya kemudian :

"Chee Tay hap terpengaruh ilmu sesat, karenanya ia disekap didalam kuil siau lim si untuk sementara waktu, biarlah menanti kesadaran pikirannya telah pulih kembali, dia baru kembali keperkampungan Hui im ceng." setelah berhenti sejenak. tambahnya

:

"Kau tentu akan kembali keperkampungan HHui im ceng, bukan?" "Tentu saja, boanpwee akan membangun kuburan yang lebih

banyak bagi orang tuaku, begitu urusan disini selesai, aku akan segera kembali keperkampungan Hui im ceng."

"Kalau begitu selesaikan dulu persoalan yang penting, aku si bungkuk tak akan mengganggumu lagi."

Baru saja Kho Beng hendak berangkat, terdengar Ngo Cun ki berseru :

"Tunggu sebentar Kho sauhiap. disini terdapat dua puluh empat orang anggota partai kupu-kupu, apa yang harus kita perbuat terhadap mereka? Harap Kho sauhiap memberi petunjuk."

"Aku tak berani menerima ucapan tersebut, kalau toh perdamaian sudah disepakati, aku rasa ."

sambil tertawa Ngo Cun ki segera menyela :

"Ya a, aku sudah mengerti sekarang, Kho sauhiap boleh berangkat"

Kho Beng agak tertegun, namun ia toh meneruskan kembali perjalanannya menuju kebelakang selat. Dari kejauhan Kho Beng dapat melihat diantara dua batang pohon siong yang lebat terdapat sebuah gua besar, waktu itu Dewi In Un telah menanti didepan gua. Dengan perasaan girang Kho Beng segera berseru : "siancu, tak nyana kau adalah orang yang pegang janji"

Ketika masuk kedalam gua, apa yang terlihat membuat hatinya terkejut bercampur girang.

Ternyata Kho Yang ciu, Bwee hiang beserta Kekek tongkat sakti dan Chin sian kun sedang duduk didalam gua itu.

Pertemuan ini benar-benar diliputi perasaan sedih bercampur gembira, saking tak tahannya Kho Beng segera berpelukan erat dengan Kho Yang ciu dan menangis kegirangan. "Adikku" gumam Kho Yang ciu kemudian. "semuanya ini memang kesalahanku.."

"cici, kau jangan berkata begitu, sekarang ."

"Yaa, sekarang keadaan telah beres" kata Kho Yang ciu sambil menghela napas. "Kau.."

Buru-buru Kho Beng menceritakan pengalamannya selama ini secara ringkas, sebagai akhir kata ia bilang :

"selain itu, masih ada satu hal lagi yang terpaksa kumohon maaf dari cici."

"soal apa?" Tanya Kho Yang ciu tertegun.

"Karena didesak terus menerus oleh Thian serta oh cianpwee, maka siaute telah .. telah mengikat tali perkawinan dengan Beng Gi ciu"

"Adikku, ini kan berita gembira, untuk bergembira pun cici merasa tak sempat"

Tapi belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak Chin sian kun yang berada disisinya telah roboh tak sadarkan diri

Kho Beng jadi terkejut sekali, buru-buru dia menghampiri dan menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Ki hay hiat nya, sambil mengerahkan tenaga murninya, dia berseru :

"Nona Chin , nona chin .."

Pelan-pelan chin sian kun mendusin kembali, namun air mata meleleh keluar membasahi wajahnya, biar begitu dia memaksakan diri untuk tersenyum, katanya : "Aa a a h, tak apa apa, mungkin aku kelewat gembira." sambil tertawa getir, Dewi In Un turut berkata pula : ^

"seharusnya akulah yang bersalah, selama ini berapa waktu kalian harus hidup dalam sekapan hingga akibatnya badan kalian menjadi lemah sekali, tapi cairan racun yang mengendap dalam tubuh cicimu telah hilang lenyap sama sekali."

Ternyata selain kurus kering, orang-orang itu sama sekali tidak menunjuk gejala sakit.

Kakek tongkat sakti menghela napas panjang, katanya pula : "Kesengsaraan yang ditentukan oleh takdir tak akan bisa

dihindari oleh siapapun, bayangkan saja diriku ini, enak-enak hidup ditempat pengasinganku, justru datang kedaratan Tionggoan untuk merasakan penderitaan seperti ini."

"selama hidup boanpwee tak akan melupakan kebaikan cianpwee" buru-buru Kho Beng memberi hormat.

Kakek tongkat sakti segera tertawa terbahak-bahak :

"Haaah . Haahh .. haahh itu Cuma urusan kecil, anggap saja aku sedang melayani semedi menghadap dinding, tapi dengan terjadinya peristiwa ini aku benar-benar akan mengundurkan diri dari dunia persilatan untuk selamanya." Mendadak, ..

Bayangan manusia Nampak berkelebat lewat, tahu-tahu Ui sik kong, Liong hoa sinkun dan Pek kut hujin telah menerjang masuk kedalam gua. Dengan sepasang mata berapi-api karena gusar Ui sik kong membentak keras : "Budak busuk Bagus sekali perbuatanmu"

suasana didalam gua seketika berubah menjadi tegang, dibawah petunjuk Kho Beng, Kho Yang ciu sekalian segera mengundurkan diri kesudut gua, sebab kondisi badan mereka masih amat lemah dan hakekatnya tidak memiliki kemampuan untuk melangsungkan pertempuran sambil menghela napas, Dewi In Un berkata :

"Ayah sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk membicarakan persoalan ini dengan pikiran dan hati dingin"

"Apalagi yang bisa dibicarakan saat ini?" seru Ui sik kong dengan kening berkerut.

"Kau tahu, semua perbuatan yang telah kau lakukan selama ini hanya menimbulkan kepedihan hatiku saja."

Lengan kirinya kelihatan gemetar keras, mekanya berubah menjadi hijau kemerah-merahan,jelas kemarahan yang menyelimuti perasaan Ui sik kong telah mencapai pada puncaknya, tapi seperti juga karena belum lama sembuh dari lengan kanannya yang kutung.

sementara itu Liong hoa sinkun suami istri hanya berdiri angkuh didepan gua, mereka tertawa dingin tiada hentinya. Dengan perasaan sedih Dewi In Un berkata : "Ayah telah kehilangan sebuah lengan, sementara situasi yang kita hadapi pun makin lama semakin runyam, buat apa sih kita harus berambisi menguasai daratan Tionggoan, mengapa kita tidak pulang saja ke Hay sim san dan melewatkan sisa hidup dalam kedamaian serta kegembiraan?"

"Anak durhaka" umpat Ui sik kong makin naik darah. "Apakah kau lupa dengan dendam kesumat leluhurmu dulu"

"Dendam sakit hati leluhur telah terjadi seabad berselang, padahal asal partai kupu-kupu dapat berdiri tegak didalam dunia persilatan hal ini sudah lebih dari cukup untuk kita."

"omong kosong" bentak Ui sik kong semakin gusar. "Aku benar-benar benci kepadamu, .. kau anak durhaka

pantasnya dibunuh sampai mampus"

"Ayah" kembali Dewi In Un mencoba untuk membujuk dengan suara lembut.

"Kini Kho Beng telah berjanji akan mengembalikan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kita, menurut pendapatku kalau urusan bisa disudahi lebih baik disudahi saja, bila kita lanjutkan pertarungan ini maka kitalah yang bakal memperoleh hasil yang tragis"

sepasang mata Ui Sik kong berkilat-kilat memancarkan sinar tajam, tiba-tiba menggigit bibir dia tertawa dingin, serunya :

"Heeehh . Heehh . Heehhh .sekarang aku sudah dapat menduga penyebabnya, rupanya kau sudah terpikat oleh ketampanan wajah bocah keparat itu bukan? sehingga bersedia membantu pihaknya? Anak bedebah, anak tak berbakti" Merah padam selembar wajah Dewi In Un, teriaknya keras-keras :

"Aaah, kau ." Ui sik kong sama sekali tak berbicara lagi, sambil menggetarkan lengan tunggalnya dia melepaskan sebuah serangan dasyat kearah Kho Beng.

Liong hoa sinkun serta Pek kut Hujin tidak tinggal diam, serentak mereka berdua dengan empat telapak tangannya melepaskan empat gulung tenaga pukulan yang dahsyat.

Desingan angin pukulan yang amat keras kedengaran makin menusuk pendengaran lagi didalam gua tersebut.

Kho Beng tidak mencoba untuk menghindar, dengan keras lawan keras ia sambut datangnya serangan itu. Blaaammmm

Ditengah benturan yang sangat keras, kedua belah pihak sama- sama tergetar mundur dua langkah kebelakang. Kho Beng merasakan isi perutnya mengalami goncangan keras, darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya.

sebaliknya Ui sik kong maupun Liong hoa sinkun suami istri berdiri pula dengan wajah pucat seperti mayat, napas mereka kedengaran terengah-engah.

Kho Yang ciu maupun chin sian kun segera menjerit kaget, namun baru saja bangkit berdiri mereka segera tertunduk kembali, karena mereka benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk membantu.

setelah menghembuskan napas panjang, sambil menggigit bibir Kho Beng meloloskan pedangnya dari sarung dalam waktu singkat ia telah melancarkan tiga buah serangan berantai mengancam tubuh Liong hoa sinkun maupun Pek kut hujin.

Dalam keadaan demikian , Liong hoa sinkun tak berani berayal , ia segera meloloskan kipas bertulang besinya, sedangkan Pek kut hujin menggunakan sekerat tulang tengkorak kepala sebagai senjatanya.

Walaupun isi perut Kho Beng telah menderita luka, namun dengan dasar tenaga dalamnya yang sempurna, ditambah desakan rasa dendamnya yang berkobar-kobar, pemuda itu memainkan pedangnya sedemikian rupa sehingga terciptalah rangkaian cahaya dingin yang menggidikkan hati.

Tiga gebrakan kemudian Liong hoa sinkun serta Pek kut hujin telah terdesak kesudut gua, nampaknya tidak sampai lima gebrakan lagi mereka berdua pasti akan menderita kekalahan total.

Mendadak Ui sik kong mengayunkan tangan tunggalnya sambil melancarkan serangan kembali.

Namun serangan yang dilancarkan kali ini bukan ditujukan kepada Kho Beng melainkan langsung menyikat tubuh Liong hoa sinkun.

Mimpi pun Liong hoa sinkun tidak menyangka kalau rekannya bakal berbalik menyerang tubuhnya, tak ampun lagi tubuhnya segera terhajar secara telak, diiringi jeritan kesakitan tubuhnya segera roboh terkapar diatas tanah.

Walaupun Kho Beng merasa peristiwa ini sama sekali diluar dugaan, namun gerak erangan pedangnya sama sekali tak berhenti, dia langsung menusuk Pek kut hujin dengan sebuah tusukan kilat.

Kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati, dua orang suami istri itu sama-sama tergeletak diatas tanah dalam keadaan terluka parah. sambil menggertak gigi menahan diri Kho Beng segera berseru :

"Cici inilah orang yang telah menyaru sebagai Bu wi lojin pada delapan belas tahun berselang, dia pula musuh besar sebenarnya dari keluarga Kho kita."

Cahaya tajam berkilau berulang kali disusul percikan darah segar menyembur kemana-mana, tahu-tahu tubuh Liong hoa sinkun suami istri sudah terpapas pinggangnya putus menjadi empat bagian suatu kematian yang mengerikan

selesai membunuh musuh besarnya, pelan-pelan Kho Beng menarik kembali pedangnya lalu sambil berpaling kearah Ui sik kong tegurnya : "Mengapa secara tiba-tiba kau berubah pendirian?" Ui sik kong menghembuskan napas panjang. "Aku merasa agak menyesal, maka .."

Tapi disaat Kho Beng sama sekali tidak siap. suatu gebrakan secepat sambaran petir, ia langsung menotok jalan darah tam tiong hiat, ditubuh anak muda tersebut.

Begitu jalan darahnya tertotok. otomatis Kho Beng kehilangan sama sekali segenap kekuatannya untuk melawan dalam keadaan begini terpaksa dia hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibir.

Kekek tongkat sakti, Kho Yang ciu dan chin sian kun sekalian berniat memberi bantuan, namun kesatu, tenaga dalam mereka belum pulih kembali. Kedua, keadaan tak memberi kesempatan bagi mereka untuk berbuat demikian, terpaksa mereka Cuma bisa mengawasi peristiwa tersebut dengan mata terbelalak. sambil tertawa angkuh, Ui sik kong segera berkata :

"Kho Beng, bila aku tak membunuh Liong hoa sinkun, akhirnya diapun pasti akan tewas ditanganmu, sebaliknya bila aku membunuhnya maka akan terciptalah kesempatan baik bagiku untuk membunuhmu, tentunya keadaan tersebut tidak pernah kau duga bukan?" sambil menggigit bibir Kho Beng membungkam dalam seribu bahasa. setelah mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, kembali Ui sik kong membentak :

"Kini lengan kananku telah kutung, putrid kandungku telah berhianat, tapi masih untung aku dapat membunuhmu hari ini, hitung-hitung dapat juga kulampiaskan rasa benciku selama ini."

"Ayah, kau harus berpikir tiga kali dulu sebelum berbuat .." teriak Dewi In Un "Anak durhaka" teriak Ui sik kong keras-keras.

"Biarpun hanya mengandalkan sebuah lengan tunggal, aku masih tetap akan malang melintang dikolong langit dan membangun kerajaanku, akan kubangun kembali partai kupu-kupu untuk membalaskan sakit hati leluhurku" Kemudian setelah berhenti sejenak, teriaknya keras-keras : "Kho Beng, kaupun harus segera berangkat"

Lengan tunggalnya segera diayunkan melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan. Blaaammmm Terdengar suara benturan keras menggema diudara disusul semburan darah segar menodai seluruh permukaan gua, sesosok tubuh segera toboh terkapar siatas tanah. Namun yang roboh bukan Kho Beng, sebaliknya adalah Ui sik kong sendiri. Tampak Dewi In Un memburu kemuka dengan langkah lebar, teriaknya sambil menangis : "Ayah .. ayah"

Ternyata disaat yang amat kritis itulah Dewi In Un telah melepaskan sebuah pukulan yang persis menghantam punggung Ui sik kong.

serangan tersebut dilancarkan dengan menggunakan ilmu Thian goan eng yang dipelajarinya dari kitab pusaka Thian gian bu boh, tak heran kalau Ui sik kong tewas seketika itu juga.

sementara itu Kho Beng dibuat termangu- mangu dia sama sekali tak menyangka kalau Dewi In Un dapat berubah secepat ini, dia lebih tak menyangka kalau perempuan tersebut akan membunuh ayahnya sendiri

Untuk beberapa saat dia malah dibikin bingung, harus menghiburkah atau berpeluk tangan saja?

sementara dia masih merasa serba salah terdengar suara hiruk pikuk menusia bergema diluar gua disusul munculnya serombongan manusia.

Ternyata sebagai orang pertama adalah Thian cun yang, oh Kui sam serta Beng Gi ciu dan siau wan sedang dibelakangnya mengikuti kawanan jago persilatan yang dipimpin Phu sian sangjin.

Begitu bersua dengan Kho Beng, paras muka Beng Gi ciu yang pucat pias segera berubah menjadi merah, dengan napas terengah- engah, serunya :

"Engkoh Beng .. kau tidak apa-apa bukan?"

"Masih mendingan-" sahut Kho Beng sambil tertawa getir. Thian Cun yang segera menimbrung sambil tertawa terbahak-

bahak. "Haa haaahh . Haaahh. Rupanya kami berdua sudah ketinggalan barisan, urusan disini telah selesai semua, kita baru tiba disini, waah

. Bakal menganggur nih."

"siapa bilang menganggur? Paling tidak kita toh mesti merayakan pesta perkawinan keponakan kita." sambung oh Kui sam sambil tertawa pula. Merah jengah selembar wajah Beng Gi ciu, segera omelnya :

"Empek oh, masa dihadapan bagini banyak orangpun kau masih bergurau, hati-hati kalau aku mengambek lho." Kembali oh Kui sam tertawa bergelak :

"Baik, baik tak akan menggoda lagi, apakah urusan disini telah selesai?" sambil berkata dia segera melongok kedalam gua. Tampak Kakek tongkat sakti berjalan keluar dari gua sambil berseru : "saudara Cun yang, kita bertemu lagi"

Ternyata antara Kakek tongkat sakti dengan Thian cun yang memang bersahabat, tak heran kalau pertemuan ini memlibatkan mereka dalam pembicaraan yang akrab.

sementara itu Kho Beng telah berjalan menuju kehadapan Thio bungkuk. katanya kemudian

"Thio cianpwee, boanpwee tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi saat ini, aku hanya ingin mengajak ciciku untuk pulang ke Hui im ceng dan bersembahyang dihadapan orang tua kami."

"Ya a, memang sepantasnya begitu" sahut Thio bungkuk. "Kini dunia persilatan bakal tentram untuk sementara waktu,

biarlah persoalan selanjutnya diselesaikan orang lain, tapi kau tak usah gelisah urusan ini dapat diserahkan kepada ketua siau lim pay Phu sian sangjin, dia pasti akan mengutus orang untuk menyelesaikannya."

Buru-buru Kho Beng hendak menjawab, Phu sian sangjin telah menyongsong datang sambil berseru :

"Kho sauhiap tak usah kuatir, aku bisa menyelesaikan segala sesuatunya bagimu" Mendadak terdengar suara lain berseru pula :

"Kho sauhiap. hampir saja aku tak bisa menyusul kemari untuk menyampaikan selamat kepada sauhiap"

Ketika Kho Beng berpaling dan mengetahui siapakah orang itu, kontan saja darah yang mengalir dalam tubuhnya serasa mendidih, hawa amarah langsung menyelimuti seluruh wajahnya. Ternyata orang itu adalah Liong kiong sincu Kiong ceng san dari telaga tong ting. sambil tertawa dingin Kho Beng berkata :

"ooo, . Rupanya Kiong tayhiap. entah karena persoalan apa anda datang kemari?"

setelah tertawa nyaring, Kiong ceng san berkata :

"selama ini aku selalu merasa tak tentram gara-gara persoalan Li sam, berkat kemurahan hati sauhiap yang tak akan memperpanjang persoalan itu, aku makin tak tentram lagi. Maka sewaktu menerima surat undangan dari Phu sian sangjin aku segera datang kemari untuk membantumu, sayang undangan tersebut terlambat kuterima hampir dua hari lamanya, karena itu tak sempat menghadiri pertemuan di siau lim si meski bagitu aku masih sempat juga datang kemari untuk menyampaikan selamat kepadamu, memang bila kita berbicara yang sesungguhnya, Kho sauhiap memang jagoan nomor wahid dikolong langit."

"Aku tak berani menerima pujian itu." Jengek Kho Beng sambil tertawa dingin. Kemudian dengan wajah berubah sedingin es, dia berkata labih jauh :

"Persoalan mengenai Li sam memang tak perlu diungkit lagi tapi bagaimana dengan persoalan tiga bersaudara Kim? Hmmm, aku tak bisa membiarkan persoalan ini selesai dengan begitu saja."

Berubah hebat wajah Kiong Ceng san setelah mendengar ucapan ini, butiran peluh dingin segera bercucuran keluar membasahi wajahnya, namun dia masih mencoba untuk tertawa paksa, katanya

:

"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Kho sauhiap maksudkan, apa sangkut pautnya antara tiga bersaudara Kim dengan diriku?"

sementara itu seluruh jago telah mengalihkan perhatiannya ke wajah Kho Beng, mereka memperhatikan pembicaraannya dengan Kiong Ceng san secara bersungguh-sungguh, itulah sebabnya suasana disekitar sana menjadi hening sekali.

Dengan perasaan emosi yang meluap-luap Kho Beng segera menceritakan kembali peristiwa berdarah didalam gua dibela kang bukit Cian san-

Mendengar penuturan itu, berubah hebat wajah para jago, serentak mereka berpaling dan mengawasi Kiong ceng san dengan penuh amarah. Menyaksikan keadaan ini, Kiong ceng san segera menghela napas panjang, tiba-tiba dia mengayunkan tangan untuk menghajar ubun- ubun sendiri Blaaammmmm Mayatnya segera roboh terkapar diatas tanah.

sampai lama sekali Kho Beng berdiri termangu- mang u, akhirnya ia berpaling kearah pelajar rudin Ho heng dan berkata : "Apakah cianpwee hendak pergi ke siau lim si?" sambil tertawa pelajar rudin berkata :

"Tak usah kau katakan lagi, aku sudah memahami maksudmu, tentu akan kuusir pergi keempat budak asing tersebut, begitu urusan selesai akupun akan segera berangkat ke Hui im ceng untuk menikmati arak kegiranganmu. "Kemudian setelah berhenti sejenak^ terusnya :

"Kau tahu, kami telah berunding disaat kau kawin dengan nona Beng, maka tujuh partai sekalian akan bersama-sama menyelenggarakan pesta tersebut bagimu, waaah . sampai waktunya suasana tentu amat gembira."

"Boanpwee tak berani menerimanya ." Buru-buru Kho Beng berseru dengan wajah bersemu merah.

Dengan wajah tersipu-sipu ia mengundurkan diri dari situ diiringi gelak tertawa si pelajar rudin.

Kebetulan Kho Yang ciu pun sedang pamitan kepada para jago, sebenarnya Kho Beng hendak ikut berpamitan tapi teringat akan Dewi In Un yang masih menangis sedih dia menjadi turut beriba hati, ia tak tahu apa yang harus dikatakan kepada perempuan itu, masih ada lagi masalah kitab pusaka Thian goan bu boh.

Tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, ternyata masalah pelik itu telah terselesaikan dengan sendirinya.

Tampak Dewi In Un berjalan mendekat bersama Bu wi lojin yang belum sembuh dari luka dalamnya, terdengar Bu wi lojin berkata sambil tertawa tergelak :

"Kho Beng, urusan didunia ini memang demikian tak disangka, dengan susah payah bahkan mempertaruhkan jiwa kucuri kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut, sampai akhirnya kitab itu harus kukembalikan sendiri kepada pemiliknya." Buru-buru Kho Beng menyahut :

"selama ini aku memang banyak ganggu kau orang tua, semoga siancu bisa baik-baik menjaga diri." Buru-buru Dewi In Un balas memberi hormat. sambil tertawa kembali Bu wi lojin berkata :

"Akulah yang menyebabkan terjadinya semua peristiwa ini, sudah sepantasnya kalau aku juga yang menyelesaikannya, Kho Beng mungkin aku tak sempat lagi untuk mencicipi arak kegiranganmu, selesai upacara perkawinan datanglah kebukit siong soat gayku, aaaai sebab aku sudah tak ingin mencampuri urusan keduniawian lagi."

sementara Kho Beng masih ragu-ragu Bu wi lojin serta Dewi In Un telah pergi meninggalkan tempat itu tanpa berpaling lagi.

Lama , lama sekali dia termenung, akhirnya ia baru terkejut setelah bahunya ditepuk orang secara tiba-tiba.

sewaktu berpaling, tampak cicinya Kho Yang ciu telah berdiri disitu, sementara dibelakangnya berdiri berjajar Beng Gi ciu, Chin sian kun, Bwee hiang, sia hong serta siau wan-

Terdengar Kho Yang ciu berkata :

"Mari kita berangkat duluan, toh tak lama kemudian para jago akan berkumpul lagi diperkampungan Hui im ceng, sekarang kau tak usah berpamitan dulu dengan mereka setibanya dirumah, pertama kita harus membereskan dulu kuburan kedua orang tua kita, setelah itu kita siapkan pesta perkawinanmu."

Belum lagi Kho Beng sempat berbicara, terdengar Kho Yang ciu berkata lebih jauh :

"Aku telah mengatur segala sesuatunya bagimu, nona Beng dan nona Chin akan menjadi istrimu bersama-sama, menurut urutan usia maka mereka akan menempati urutan sesuai dengan umur masing- masing, adik Beng aku lihat nasibmu memang amat mujur." Kho Beng menjadi terkejut sekali, segera teriaknya : "Ini, . ini, . "

sambil tertawa Kho Yang ciu berkata lagi :

"Akulah yang mengaturkan segala sesuatunya bagimu, nah kedua orang iparku saja telah setuju, masa kau masih akan menjual mahal?"

Sambil berseru ia segera menarik tangannya dan berialu dari situ, dibelakang mereka menyusul Beng Gi Ciu, Chin sian kun dan sekalian dayang.

Berapa waktu kemudian, pesta perkawinan pun diselenggarakan diperkampungan Hui im ceng dengan amat meriah .

Sejak itu Kho Beng hidup penuh kedamaian bersama kedua orang istrinya. Dan sampai disini pula kisah cerita ini.

 TAMAT.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).