Kedele Maut Jilid 44

 jilid 44.

"Aku telah bertemu dengan majikan muda Kho Beng, segala sesuatunya toh sudah kusampaikan?"

Thio bungkuk menghembuskan napas panjang, serunya sambil menggigit bibir : "Semua pengakuanmu itu cuma mengaco belo saja" Tiba-tiba Ngo cun ki berkata : "Thio Cianpwee tidak usah menyusahkan dirinya lagi, ketahuilah sebelum kesadaran pikirannya diperoleh kembali, dia tak akan mampu untuk menerangkan apa-apa."

"Aaaai, percuma aku berkelana sepaniang masa didunia persilatan," kata Thio bungkuk mengeluh.

"Nyatanya Ngo ciangbunjin masih begitu muda, namun dalam sekali pandangan saja sudah berhasil membongkar masalah yang begini pelik." Ketua Siau lim pay Phu sian sangjin berseru pula : "omitohud, akupun merasa sangat menyesal." Ngo cun ki tersenyum.

"PAdahal hal tersebut tak terhitung seberapa, mungkin lantaran kaum wanita jauh lebih teliti ketimbang kaum lelaki."

Buru-buru Thio bungkuk menjura berulang kali, tanyanya dengan harap cemas : "Dapatkah Ngo ciangbunjin menyadarkan kembali pikirannya?"

sambil tertawa Ngo Cun ki menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Aku hanya dapat melihat kalau dia terpengaruh ilmu sesat namun belum pernah mempelajari pengetahuan tentang ilmu semacam ini, tentu saja akupun tidak mengerti bagaimana cara pemecahannya, padahal padahal pengaruh tersebut tak perlu membingungkan." setelah berhenti sejenak. lanjutnya :

"sebab aku pernah mendengar penjelasan dari seorang cianpwee yang mengatakan bahwa pengaruh ilmu sesat yang betapapun lihai daya pengaruhnya tak nanti bisa bertahan sampai satu bulan keatas, secara otomatis sang korban akan mendapatkan kesadarannya kembali."

"Tapi tanpa menyadarkan kembali pikirannya, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya?" sela Phu sian sangjin.

"sekalipun kita berhasil menyadarkan kembali dirinya pun percuma, persoalan ini tak mungkin bisa ditelusuri sampai jelas, paling banter dia hanya bisa mengatakan siapa yang telah melakukan ilmu sesat tersebut kepadanya, tentang keadaan yang sebenarnya aku percaya pihak lawan tak akan membocorkan kepadanya, Karena tujuan mereka adalah memperalat musuh untuk memancaing kita semua mendatangi selat Pek hong sia." Kemudian menatap tajam wajah Phu sian sangjin, ia berkata lagi : "Jarak dari sini kebukit Hu gou san tidak terlalu jauh, apakah lo siansu cukup memahami daerah sekitar selat Pek hong sia ini?" Dengan cepat Phu sian sangjin menggeleng.

"Kecuali menghadapi persoalan yang gawat, aku amat jarang meninggaikan kuil, bahkan banyak tempat disekitar siong san sendiripun tidak begitu kukuasai, apalagi tempat kawasan lain."

Tapi kemudian dengan suara dalam ia segera berseru : "Adakah diantara kalian yang menguasai sekali daerah disekitar

selat Pek hong sia?"

Belum habis perkataan tersebut diucapkan seorang pendeta telah bangkit berdiri dan berkata : "Aku tahu"

Ketika semua orang berpaling ternyata orang itu adalah Kim Cuncu dari lima rasul panca unsur.

Buru-buru Phu sian sangjin berkata : "Kalau sute memang tahu cepat katakan" Kim Cuncu berpikir sebentar, lalu ujarnya :

"setahun berselang karena suatu persoalan aku telah menaiki bukit Hu gou san dan pernah menelusuri selat Pek hong sia tersebut."

"Tentunya bentuk perbukitan disana amat curam dan berbahaya sekali?" buru-buru Ngo Cun ki menyela.

"Bukit Hu gou san tidak termasuk gunung yang besar, namun selat Pek hong sia justru merupakan tempat yang paling berbahaya yang pernah kujumpai selama ini, jangankan dibukit siong san tak akan ditemukan tempat seperti itu, biarpun selama hidup aku sudah sering berkelana dipelbagai bukit kenamaan, namun belum ada sebuah tempat pun yang bisa dibandingkan dengan selat Pek hong sia"

semua orang memasang telinga serta memperhatikan dengan penuh seksama.

Kim Cuncu berkata lebih jauh.

"Mulut selat seperti lorong gua, sebab bukit dikedua sisinya menjulang tinggi keatas membentuk lingkaran yang mengepung selat tersebut, dengan begitu selat tadi terjuntai persis diantara bukit yang mengelilinginya."

"Berapa banyakkah mulut selat yang terdapat disana?" Tanya Ngo Cun ki dengan kening berkerut.

Dengan cepat Kim Cuncu menggeleng.

"Hanya terdapat sebuah jalan masuk saja, dalam selat itu amat lembab dan sepanjang hari susah melihat sinar surya, itulah sebabnya hampir semua permukaan tanahnya ditumbuhi lumut tebal, meski keadaan sisi dindingnya tak mencapai ketingian puluhan ribu kaki, namun yang terendahpun diatas ribuan kaki, benar-benar tempat tersebut merupakan sebuah tempat yang susah dilalu oleh burung sekalipun." Dengan gemas dan benci Ngo Cun ki segera berseru : "Tepat betul tempat yang dipilih bajingan tua itu." setelah berhenti sebentar, ia bertanya lagi :

"Berapa banyak manusia yang dapat tertampung didalam selat tersebut?" Dengan kening berkerut Kim Cuncu berpikir sebentar, kemudian jawabnya :

"Paling tidak dapat menampung lima enam ratus orang, lagipula letaknya amat strategis dan berbahaya, selain lembab suasana pun gelap. tempat semacam ini ideal sekali untuk menjebak orang."

"Hmm, terlalu berbahaya mematikan lagi." Kata Ngo Cun ki sambil menggigit bibir.

"Bila sebelum kejadian disekeliling dinding tebing ditanam sejumlah bahan peledak lalu bukit tersebut diledakkan pada saatnya, entah berapa persen manusia yang bisa lolos dari musibah itu."

Berubah hebat paras muka Kim Cuncu segera sahutnya : "Tiada seorangpun yang punya harapan untuk melanjutkan

hidup, apalagi kalau dinding dikedua belah sisinya runtuh sama sekali, biarpun manusia yang terdiri dari otot kawat tulang baja pun tak nanti bisa lolos dari selat tersebut dalam keadaan selamat." Dengan wajah berubah, Phu sian sangjin berseru pula :

"Ngo ciangbunjin, jangan-jangan .. dugaanmu memang benar,.

Rencana tersebut adalah siasat mereka."

Dengan wajah tenang Ngo Cun ki mengangguk katanya : "Bila menuruti perkataan Kim Cuncu mungkin cara tersebut

memang paling baik, sebab selian selat yang berbahaya seperti ini memang paling cocok dipakai menggempur musuh dengan bahan peledak karena dengan gempuran seperti ini, maka betapapun lihainya ilmu silat yang dimiliki seseorang jangan harap bisa lolos dari musibah ini."

Berpuluh-puluh pasang mata dari para pemimpin jago yang hadir dalam ruangan serentak mengalihkan pandangan kagumnya kewajah Ngo Cun ki, sebab dugaannya memang beralasan sekali.

Buru-buru Phu sian sangjin berkata :

"Perhitungan dari Ngo ciangbunjin nampaknya jauh lebih hebat daripada perhitungan bajingan tua Ui sik kong." setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan :

"Hal ini memang merupakan suatu masalah yang pelik." Kata Ngo Cun ki sambil berkerut kening, untuk sesaat lamanya ia jadi terbungkam dan tak berkata lagi. Dengan nada menyelidk Phu sian sangjin berkata lagi :

"Dengan perhitungan Ngo ciangbunjin yang begitu tepat, masa kau tak punya suatu usul"

"Usul sih ada tapi sulit untuk dilaksanakan" kata Ngo Cun ki tertawa.

setelah bangkit berdiri dan berjalan bolak-balik berapa kali, ia berkata lebih jauh :

"Cara yang terbaik tentu saja turun tangan mendahului mereka, kita bekuk semua orang-orangnya yang telah dipersiapkan disitu kemudian pada tengah malam pada tanggal tujuh belas kita sulut sumbu obat peledak tersebut serta meledakkan bukit itu."

"Apa gunanya bukit itu diledakkan?" phu sian sangjin tampak tak habis mengerti.

"Agar Ui sik kong mengira kita semua ketimpa musibah kemudian kita bisa menggunakan sedikit akal untuk memancing mereka yang masuk kedalam selat tersebut dengan rencana yang sama seperti yang dipersiapkannya kita ledakkan kembali obat peledak yang lain, atau bisa juga kita bius mereka dengan dupa An hun hiang dari Hoa sanpay kami, aku yakin dengan demikian mereka pasti akan dapat kita tumpas semuanya."

sipelajar rudin Ho heng yang selama ini membungkam terus tiba- tiba bersorak sambil bertepuk tangan : "sebuah akal yang sangat bagus." Dengan wajah serius Phu sian sangjin segera berkata :

"Persoalannya yang kita tidak mengetahui berapa banyak jago yang telah dipersiapkan dan berapa banyak bahan peledak yang ditanam disekitarnya. Andaikata seorang saja diantara mereka berhasil meloloskan diri, rasanya akan sulit bagi kita untuk memancing Ui sik kong masuk perangkap."

setelah menghembuskan napas panjang, kembali katanya : "Apalagi tugas tersebut amat berat dan masalahnya amat

penting, bajingan tua Ui sik kong pasti akan menngirim jago-jago pilihannya untuk sembunyi disana,"

"aku rasa Apa yang dikuatirkan , losiansu memang benar" sela Ngo Cun ki. "Tapi masalah yang penting adalah soal waktu, mungkin Ui sik kong kuatir bila waktunya berlarut-larut akan terjadi perubahan yang tak disangka, maka sedapat mungkin ia mempersingkat waktu yang tersedia, bila kita hendak bertindak demikian maka sebelum hari menjadi gelap semua jago-jagonya akan dipersiapkan harus sudah dapat dibekuk, kalau tidak maka kita tak akan punya waktu lagi." setelah berhenti sebentar, tambahnya :

"Tentu saja pekerjaan ini bukan suatu pekerjaan yang mudah, lagi pula kemungkinan untuk berhasil dengan sukses pun tidak terlalu besar."

Persoalan itu memang suatu masalah yang sangat pelik, bukan saja mereka harus berangkat saat itu- juga dan paling lambat menjelang matahari terbenam harus sudah sampai di selat Pek hong sia bukit Hu goa san, lagi pula mereka harus berhasil menyingkirkan semua jago musuh yang dipersiapkan disana dalam sekali serangan, karena satu saja diantara lawan berhasil kabur, semua rencana mereka pasti akan mengalami kegagalan total. Untuk sesaat suasana didalam ruangan menjadi hening dan tak seorangpun yang bersuara. 

Akhirnya Phu sian sangjin berkata sambil menghela napas. "sekarang waktu sudah makin larut, kita harus berani mengambil

keputusan dengan cepat Lebih baik diputuskan oleh lo siansu sendiri" seru para jago hampir bersamaan. "Kalau memang begitu mari kita berangkat" kata Phu sian sangjin dengan suara dalam. "seandainya usaha kita memang gagal, yaa . Itu kemauan takdir ."

"Berangkat sih berangkat, tapi kita mesti menyusun barisan dulu dengan secermatnya." Kata Ngo Cun ki.

"silahkan Ngo ciangbunjin memberi petunjuk"

"bila kita harus berangkat kesana dalam rombongan yang besar, apalagi dipagi hari yang begini cerah, sudah pasti sepak terjang kita akan segera diketahui musuh, paling tidak usaha kita akan mengalami kegagalan total." sesudah memutar biji matanya, ia melanjutkan :

"oleh sebab itu menurut pendapatku lebih baik kita berangkat dengan jalan menyaru rombongan pun harus dipecah-pecah dalam kelompok sekecil mungkin, tapi sebelum itu kita mesti menentukan dulu posisi masing-masing kelompok hingga dalam bertindak kita bisa bekerja sama secara diam-diam, serentak dan tanpa menimbulkan suara, selain daripada itu ditempat-tempat yang strategis menuju kearah selat mesti ditempatkan jago-jago lihay yang tugasnya menjaring setiap musuh yang berhasil lolos dari sergapan, dengan bertindak secara begini kemungkinan besar usaha kita akan berhasil dengan lebih baik." PErkataan Ngo ciangbunjin memang amat tepat.

Maka dengan melalui suatu perundingan rahasia yang dilaksanakan secara kilat, mereka berhasil memutuskan beberapa hal.

Kesatu, para ketua dari tujuh partai besar bersama Bu wi lojin, pelajar rudin Ho heng, Hwesio daging anjing, Thio bungkuk serta sepuluh orang jago lihai lainnya berangkat secara terpencar dengan jalan menyamar dengan tujuan menyergap jago-jago dari partai kupu-kupu yang dipersiapkan diselat tersebut.

Kedua, diseleksi oleh pelbagai perguruan maka dihimpun suatu kelompok kekuatan baru yang terdiri dari enam puluhan orang bertugas menyebar disekeliling selat Pek hong sia dan menangkap setiap musuh yang berhasil meloloskan diri atau bertugas menyampaikan berita.

Ketiga, dengan dipimpin oleh lima rosul panca unsur serta sepuluh pelindung hukum siau lim si dan memimpin dua rombongan jago siau lim si yang pandai dalam ilmu barisan Kim kong tin berangkat menuju dua sudut selat Pek hong sia yang berseberangan untuk menyikat setiap musuh yang berada disana.

Keempat, sisa jago yang tidak terpilih dalam rombongan diwajibkan tetap berada di siau lim si untuk menghadapi sergapan tak terduga dari luar, sebaliknya bila yang datang jago-jago utama dari partai kupu-kupu maka mereka diwajibkan melarikan diri tercerai berai untuk mengurangi jumlah korban jiwa yang jatuh.

Begitu keputusan telah diambil, maka dengan dipimpin oleh Phu sian sangjin serta Ngo Cun ki, berangkatlah kawananjago persilatan itu meninggalkan kuil.

Tidak sampai setengah peminuman teh kemudian para jago telah berbondong-bondong berangkat meninggalkan tempat itu.

Tapi begitu keluar dari Siau lim si, kawanan jago tadi segera menyebarkan diri dan hilangkan jejak masing-masing.

Waktu itu Ngo Cun ki menyamar sebagai seorang gadis dusun dan menempuh perjalanan bersama si pelajar rudin.

si pelajar rudin sendiri menyamar sebagai tukang obat yang rudin wajahnya yang memelas memang cocok dengan peranan yang dibawakan olehnya. Mereka berdua khusus menempuh jalan yang sepi yang jarang dilalui manusia.

sedang tugas yang dibebankan kepada mereka berdua adalah menghantam setiap jago partai kupu-kupu yang berada pada kawasan terdepan dari selat Pek hong sia, entah banyak atau sedikit, tangguh atau lemah, mereka diwajibkan untuk menyikat mereka semua sampai ludes.

sambil mengawasi orang dijalanan, kedua orang itu menempuh perjalanan dengan cepat sekali.

Berbicara soal ilmu meringankan tubuh serta kesempurnaan dalam ilmu silat tentu saja Ngo Cun titak bisa menandingi si pelajar rudin, namun si pelajar rudin tidak mempunyai kebiasaan berlomba dengan kaum wanita maka sedapat mungkin ia selalu membiarkan Ngo Cun ki berjalan lebih dulu dan sama sekali tak berniat melampauinya. Tiba-tiba Ngo Cun ki berkata sambil tertawa manis :

"Cianpwee dengan menempuh perjalanan bersamaku tentu kau merasa tersiksa bukan?"

"Apa maksud perkataanku itu?" seru si pelajar rudin sambil mendelik, Ngo Cun ki kembali tertawa.

"Ilmu meringankan tubuh yang cianpwee miliki telah mencapai tingkat kesempurnaan, bila bukan gara-gara aku, mungkin kau sudah berada puluhan li dari sini"

Diumpak dengan kata-kaTayang manis, si pelajar rudin merasa kegirangan setengah mati, segera serunya sambil tertawa :

"Baik sewaktu dibukit Tiong lam san maupun selama berada digunung siong san, kau selalu berhasil menonjolkan diri secara mantap. aku yakin sehabis peristiwa besar ini, pamor Hoa san pay kalian bakal melampaui nama besar siau lim pay"

"Aaaah, cianpwee kelewat memuji" buru-buru Ngo Cun ki berseru.

"Boanpwee tak berani menerima penghormatan sebesar ini, Siauli sebagai orang muda yang menjabat kedudukan tinggi dalam Hoa san pay, Cuma berharap bisa memperlihatkan sedikit kemampuan agar tidak dihina dan ditindas oleh pihak yang kuat, asal keadaan ini sudah terwujud maka siauli pun sudah merasa puas sekali" si pelajar rudin tertawa tergelak.

"Kau tak usah merendah lagi, Hoa san pay yang dipimpin seorang ketua hebat macam dirimu sudah pasti akan melambung tinggi, kalau dibilang ada orang berani menindas kalian .. aku rasa tak seorangpun yang akan mempercayainya." Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi sambil tertawa :

"Tapi apa sebabnya kau memilih untuk menempuh perjalanan bersama aku si pelajar rudin?"

"Masa kau orang tua tak bisa mengetahuinya?" Ngo Cun ki tertawa semakin manis. "Aku si pelajar rudin benar-benar tak dapat menduganya."

"PErtama karena kau orang tua mempunyai watak yang baik, mudah bergaul dan tidak suka menunjukkan soknya sebagai seorang cianpwee, kedua hal inipun merupakan keinginan pribadiku sendiri"

"Apa sih keinginan pribadimu itu?"

"Cianpwee memiliki ilmu silat yang sangat hebat, bila suatu ketika Hoa san pay menemui kesulitan, boanpwee percaya kau orang tua pasti tak akan berpeluk tangan saja bukan? Kau tentu akan mengingat-ingat persahabatan pada hari ini dengan membantu pihak Hoa san pay kami, bukan?"

Mendengar perkataan ini kembali si pelajar rudin tertawa bergelak

"Kau memang sangat pandai berbicara, aku si pelajar rudin benar-benar merasa kagum dan takluk kepadamu"

Dalam waktu singkat dia merasakan hatinya benar-benar sangat nyaman dan hangat.

Tak selang berapa saat kemudian Ngo Cun ki kembali bertanya : "Cianpwee apakah kau tinggalkan keempat budak asing itu dikuil

siau lim si?"

si pelajar rudin mengangguk.

"Ilmu silat mereka amat rendah, tak cukup untuk mengikuti rencana besar ini, karenanya terpaksa harus ditinggal di siau lim si?"

"Maaf, kalau boanpwee banyak mulut, aku rasa keempat orang itu rada kurang sesuai untuk tinggal disitu?"

"Kenapa?"

"Jiwa mereka sempit, wataknya tak stabil, besar kemungkinan akan berhianat dimasa depan, apalagi sifat mereka pun buas dan jahat, tidak mudah bergaul dengan masyarakat."

"Ketajaman mata Ngo ciangbunjin memang sungguh mengagumkan." Puji si pelajar rudin sambil mengangguk.

"Penglihatanmu memang benar tapi .., apa boleh buat, karena sesungguhnya keempat orang itu adalah pembantu-pembantu Kho Beng." "oooh, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Ngo Cun ki tertegun. secara tingkas si pelajar rudin segera menceritakan keadaan yang sebenarnya, sebagai akhir dari cerita tersebut, kedua orang itu saling

berpandangan sambil tertawa terbahak-bahak.

Matahari pelan-pelan bergeser kelangit barat, mereka berdua sudah mulai memasuki kawasan bukit Hu goa san. Dengan suara serius Ngo Cun ki segera berkata :

"Dewasa ini kita telah memasuki kawasan Hu goa san, ini berarti kita pun harus berganti sebutan-"

Kemudian dengan suara yang manis dan lembut, serunya : "Ayah.."

"Ada apa anakku?"

Kedua orang itu kembali berpandangan sambil tertawa, namun langkah perjalanan mereka pun segera diperlambat, pelan-pelan mereka mendekati selat Pek hong sia.

sepenanak nasi kemudian mereka telah sampai didepan mulut selat tersebut, ternyata sesuai dengan apa yang dilukiskan Kim Cuncu dari kejauhan sudah terlihat bahwa alat itu mengerikan sekali.

Tatkala mereka berdua masih celingukan, mendadak tampak seorang pendeta tua yang berkaki korengan, dengan mengenakan jubah yang amat dekil sedang berjalan pada arah sepuluh kaki disebelah kanan.

Hampir saja si pelajar rudin tertawa geli melihat tampang pendeta itu, sebab dia segera mengenalinya sebagai hwesio daging anjing.

sementara itu-jarak dengan selat Pek hong sia makin dekat, kedua orang itu mulai memasuki mendaki bukit disisi selat tersebut, namun mereka mendaki dengan bersusah payah, sengaja berlagak seolah-olah tidak memiliki ilmu silat. selain itu, Ngo Cun ki berbisik pula : "Ayah, sulit benar untuk mendaki bukit ini."

"Nak, berhati-hatilah," sahut si pelajar rudin dengan suara parau. "SEkali kita daki bukit ini, mungkin akan ditemukan jalan menuju keluar bukit."

"Ayah "kembali Ngo Cun ki mengomel. "Bukankah kau bilang hapal sekali dengan daerah sekitar sini, kenapa kita bisa tersesat jadinya?"

si pelajar rudin segera menghela napas panjang : "Aaaai, aku pernah kemari pada sepuluh tahun berselang, sekarang sepuluh tahun sudah lewat, bukit ini seperti berubah saja tak heran kalau kita menjadi tersesat."

"Aku sudah tak sanggup lagi untuk meneruskan perjalanan ." Keluh Ngo Cun ki dengan kening berkerut.

"Begini saja, bagaimana kalau kita beristirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan."

"Aku pun lapar ."

"Itu mah bukan masalah, ayah membawa ransum kering, kita dpat bersantap dulu sambil beristirahat."

Maka dia pun mengeluarkan kantong ransum dari punggungnya dan mereka berdua mulai bersantap dibukit tersebut. Mendadak .

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang nona berusia dua puluh tahunan telah melayang turun dihadapan mereka. Ngo cun ki segera berlagak kaget dan berteriak : "Ayah, ada orang

.."

"Malah kebetulan kalau ada orang," sahut si pelajar rudin sambil tertawa. "Kita bisa minta petunjuk kepadanya."

Buru-buru dia berpaling kearah gadis berpedang itu dan sapanya

: "Nona, apakah kau tinggal dibukit ini?"

Gadis itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersebut, sebaliknya malah menegur dengan suara dalam. "siapakah kalian?"

si pelajar rudin menghela napas panjang :

"Aaaai, kami hanya seorang pengembara yang hidup terlunta- lunta, selama ini kami mencari sesuap nasi dengan menjual obat, aaai dalam sepuluh hari kadangkala sembilan hari tak bisa makan hingga kenyang."

"oooh, rupanya kalian adalah penjual obat keliling?" paras muka gadis tadi kelihatan lebih cerah.

"Yaa benar, kalau nama yang lebih sedap didengar memang si penjual obat keliling, tapi kalau yang tingin didengar adalah si peminTa yang terlunta-lunta." sambil tertawa dingin gadis itu berseru lagi :

"Kalau dilihat keadaanmu yang begitu miskin mungkin ilmu pengobatanmu terlalu rendah sehingga tak ada yang berani mengundangmu"

"oooh, tidak mungkin, bukan begitu-jalan ceritanya." Buru-buru si pelajar rudin menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Lantas bagaimana ceritanya?" Tanya nona itu sambil tertawa. "Yang kupelajari kebanyakan adalah ilmu menyambung tulang patah atau mengobati luka-luka digigit binatang berbisa dan lain sebagainya, padahal kebanyakan penderita sakit dikota adalah muntaber, itulah sebabnya kepandaianku jarang sekali dimanfaatkan orang."

"Kau dapat menyembuhkan luka akibat digigit ular berbisa?" gadis itu menegaskan.

"Justru kepandaian semacam inilah merupakan andalanku, baik digigit ular berbisa maupun binatang berbisa lainnya, asal sudah kuberi obat pasti akan sembuh dengan cepat."

"Bagus sekali, cepat turut aku"

"Apakah ada orang disengat kelejengking?" Tanya si pelajar rudin dengan kening berkerut.

"Hmmm, bukan disengat kelejengking tapi digigit ular berbisa."

Tanpa banyak berbicara lagi dia segera menarik kedua orang itu dan berjalan menuju kedepan-

sepuluh kaki kemudian mereka sudah mendengar suara orang sedang merintih, rupanya ada orang yang benar-benar tergeletak dibalik batuan besar.

si pelajar rudin Ho heng mulai merasa serba salah, sebab dalam buntalannya sekarang sama sekali tidak membawa bahan obat- obatan, diapun tidak mengerti bagaimana cara mengobati luka bekas gigitan ular berbisa, Ngo Cun ki dapat menyaksikan kesulitan yang dihadapi si pelajar rudin Ho heng, sambil tertawa dia segera maju kedepan lebih dulu. Dengan kening berkerut gadis tadi segera membentak.

"Hey siapa suruh kau berebut maju? sebetulnya ayahmu yang akan mengobati atau dirimu?"

"siapa saja bisa melakukan pengobatan," sahut Ngo Cun ki sambil tertawa.

"Tapi menurut jenis kelamin si penderita maka sepantasnya aku yang turun tangan sebab dia adalah wanita, ayahku tak senang mengobati perempuan, aku takut bila dipaksakan maka akhirnya akan salah obat atau timbul kejadian lain yang kurang enak." Ternyata orang yang tergeletak diantara batuan memang tak lain adalah seorang wanita,

"Mengapa begitu?" Tanya si nona keheranan.

Ngo Cun ki mengerling sekejap kearah si pelajar rudin lalu menjawab sambil tertawa. "setiap bertemu dengan perempuan, ayahku langsung saja merasa gugup, maka akibatnya semua ilmu pengobatannya jadi terlupakan sama sekali, tentu saja hal demikian paling mudah menimbulkan gejala lain."

"Apakah kau yakin bisa mengobati lukanya itu?" Tanya gadis tersebut kemudian sambil tertawa.

Ngo Cun ki ikut tertawa lebar,

"Asalkan hanya digigit ular berbisa, kujamin lukanya pasti sembuh tapi jika isi perutnya menderita penyakit lain, aku tak berani menjamin."

"ooooh, jangan kuatir, ia sama sekali tidak menderita luka yang lain, gara-gara kurang cermat tadi tubuhnya terpatuk seekor ular yang berbisa."

Ngo Cun ki segera berjongkok sambil melakukan pemeriksaan, tampak olehnya perempuan itu berusia tiga puluh tahunan, kaki kanannya yang terluka oleh gigitan ular dan berada dalam keadaan tak sadar, wajahnya pun kelihatan bersemu hitam. Dengan nada menyelidik Ngo Cun ki segera bertanya : "Apakah disini hanya terdapat kalian berdua?" Mendadak gadis itu membentak keras :

"Lebih baik kau jangan banyak bertanya, cepat obati luka tersebut, yang penting toh kami akan memberi uang kepadamu?"

"oooh, tentu saja luka tersebut segera akan sembuh sekali." Kemudian sambil berpaling ia berkata lebih jauh.

"Aku hendak mengeluarkan racun dari tubuhnya lebih dulu, bersediakah nona untuk membantu?"

Gadis itu menurut dan segera berjongkok katanya : "Apa yang mesti kulakukan?"

"Coba tekanlah kedua sisi mulut luka tersebut"

Gadis tersebut sama sekali tidak menaruh curiga, sepasang tangannya benar-benar diletakkan pada kedua sisi mulut luka perempuan tersebut, dengan suatu gerakan cepat Ngo Cun ki segera menotok jalan darahnya.

setelah musuh roboh, si pelajar rudin baru memuji sambil tersenyum :

"Ngo ciangbunjin, cara kerjamu memang hebat dan cekatan"

Ngo Cun ki celingukan sekejap disekeliling tempat itu, kemudian katanya :

"Pendengaran serta penglihatan cianpwee sangat lihai, apakah kau berhasil menjumpai jejak musuh di sekitar sini?" Dengan cepat si pelajar rudin menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Paling tidak dalam jarak lima puluh kaki dari sini bisa diketahui tiada bayangan manusia dari sini bisa diketahui bahwa jago yang dikirim partai kupu-kupu ketempat ini tidak banyak jumlahnya,"

"heran kenapa mereka Cuma mengirim kaum wanita saja kemari?" Ngo Cun ki berpikir sebentar, kemudian sahutnya :

"Bisa jadi orang-orang ini adalah anak buah dewi In un, ditinjau dari situasi bisa disimpulkan juga bahwa pemimpin dari kawanan jago musuh ditempat ini tak lain adalah Dewi In un."

"Diantara kedua orang wanita tadi, tentunya tak ada yang bernama Dewi In Un bukan?" Tanya si pelajar rudin dengan kening berkerut. "Tentu saja tak mungkin ada" sahut Ngo Cun ki tertawa.

"Kalau Dewi In Un yang terpagut ular, tak mungkin kaki tangan partai kupu-kupu hanya berpeluk tangan belaka dan membiarkan racun ular bekerja didalam tubuhnya."

setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan :

"Menurut penilaian boanpwee, gadis yang kutotok jalan darahnya tadi pasti telah melapor kepada Dewi In Un bahwa rekannya terpagut ular berbisa. Tapi karena Dewi In Un masih berada dibawah bukit mengatur persiapan, maka ia tidak memberikan pengobatan sama sekali."

"Benar-benar luar biasa" seru si pelajar rudin sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Kau Nampak seperti menyaksikan sendiri peristiwa tersebut." Kembali Ngo Cun ki tersenyum.

"orang yang tergigit ular itu nampaknya sudah tak tertolong lagi, sebab racun ular telah tersebar luas keseluruh tubuhnya, berdasarkan keadaan tersebut, paling tidak ia sudah terpagut ular setengah jam berselang, sedang rekannya sigadis tadi sudah pasti tak berani berdiam diri saja dan melaporkan kejadian ini kepada Dewi In Un, tapi kenyataannya setengah jam sudah lewat sedang Dewi In Un belum datang kemari, dari sini dapat disimpulkan pula kalau Dewi In Un sudah mengambil keputusan tidak mengurusi keadaannya lagi."

"Ehmm, masuk diakal, tapi kenapa begitu?" Tanya si pelajar rudin tak habis mengerti. Ngo Cun ki tertawa dingin.

"Tentu saja hal ini menyangkut soal waktu, kini lohor sudah menjelang tiba, andai kata Chee Tay hap berhasil menipu para jago yang berkumpul di siau lim si berarti saat ini mereka sudah akan berdatangan kemari, tentu saja Dewi In Un tak ingin membocorkan rahasia mereka gara-gara mengurusi seorang anak buahnya, tentu saja terpaksa dia harus mengorbankan jiwa anak buahnya itu."

"Ya a, betul-betul, lantas apa yang mesti kita perbuat sekarang?" "Harap cianpwee perhatikan baik-baik apakah disekeliling sini

masih ada orang, kemudian biar kulakukan pemeriksaan disekitar sini, jelas sudah kedua orang itu satu kelompok dan mereka mempunyai tugas tertentu disini."

si pelajar rudin tak banyak berbicara lagi, dengan cepat dia memasang telinga untuk memeriksa keadaan diseputar sana, dalam waktu singkat ia sudah mendapatkan kenyataan bahwa disekitar sana tak ada orang laini

sementara Ngo Cun ki juga mulai melakukan pemeriksaan disekeliling bukit tadi.

Tak lama kemudian ia menemukan segundukun tanah yang gembur ditutup dengan rumput liar, sewaktu ditarik rumput tersebut berguguran semua dan muncullah sebuah sumbu berwarna hijau yang amat panjang.

si pelajar rudin segera memburu kedepan lalu dengan setengah rasa gembira dan setengah terkejut ia berseru :

"Ternyata dugaan Ngo ciangbunjin memang tepat sekali." sesudah menghembuskan napas panjang, kembali katanya :

"Andaikata Ngo cianbunjin tak berhasil membongkar rahasia ini, mungkin sulit bagi kami semua untuk lolos dari musibah ini."

Ngo Cun ki segera menutup kembali sumbu tadi dengan rumput- rumputan, kemudian setelah berpikir sebentar katanya.

"Entah berapa banyak orang yang ditempatkan disekeliling selat Pek hong sia ini, terutama kehadiran Dewi In Un disini."

"Aku dengar ilmu silat yang dimiliki Dewi In Un masih sedikit dibawah kemampuan tua Bangka Uisik kong, ini berarti susah bagi pihak kita untuk menandingi kemampuannya, bila sampai terjadi bentrokan kekerasan, akibatnya .."

"Aku rasa paling tidak barisan Kim kong tin dari siau lim pay masih bermanfaat untuk mengurungnya." sela Ngo Cun ki sambil tertawa.

"Hmmm, berbicara sejujurnya, aku kurang begitu yakin dengan kemampuan kawanan hwesio tersebut." sementara itu Ngo Cun ki sudah selesai memperhatikan sekejap sekitar sana, katanya tiba-tiba :

"Cianpwee mari kita lanjutkan perjalanan keatas"

Maka mereka berdua pun ebrgerak menuju keatas bukit.

Kali ini mereka sama sekali tidak menyembunyikan jejak tapi berlagak seperti orang yang tak mengerti ilmu silat, gerak-geriknya amat payah dan mempergunakan tenaga, sambil menyeka keringat sambil berjalan, orang akan merasa kasihan melihat cara berjalan kedua orang tersebut.

Tak lama kemudian terdengar suara orang berbatuk dari balik batu besar disisi bukit. Kedua orang itu sama-sama tertegun- lalu Ngo Cun ki berlagak berseru gembira. "Ayah, agaknya disitu ada orang, mari cepat kita Tanya jalan kepadanya."

"Baiklah, tapi betulkah kau mendengar ada suara manusia?" "Mungkin saja, telingaku rasanya masih lebih tajam daripada

pendengaran ayah."

"Aaai, dasar sudah tua, telinga dan mata ku makin lama semakin tak berguna." sambil berkata pelan-pelan mereka berjalan mendekati batu besar itu.

Namun setibanya dibela kang batu tersebut hampir saja mereka berdua tertawa karena geli, ternyata orang yang bersembunyi disitu adalah Bu wi lojin serta ketua Bu tong pay Hiam im totiang.

Kedua orang itu menyamar sebagai pemburu tua yang miskin, ditangan mereka membawa senjata garpu, sementara disisinya terkapar dua orang kakek berbaju ungu yang tertotok jalan darahnya, jelas kedua orang itu adalah anggota partai kupu-kupu.

"Kalian cepat kemari." Bisik Bu wi lojin sambil menggapai. Cepat- cepat si pelajar rudin berjongkok sambil berkata :

"Ancaman bahaya terhadapmu paling besar, kau tahu siapa yang telah dikirim pihak partai kupu-kupu untuk mengatur perangkap dan obat peledak ditempat ini"

"Dewi In Un, malah aku sempat bertemu dengannya" Bu wi lojin manggut-manggut.

"Kau telah bersua dengannya?" Tanya si pelajar rudin terkejut.

Bu wi lojin tertawa.

"Benar, kami saling berpapasan muka namun ia tidak melihat diriku, sayang aku pun tidak membayangkan sampai kesitu, kalau tidak. pasti akan kukenakan topeng kulit manusia agar gerak-gerikku lebih leluasa lagi. " "Tahukah cianpwee, Dewi In Un menuju kearah mana?" Bu wi lojin segera menunding kemuka, katanya :

"Tadi ia telah munculkan diri dari jarak sepuluh kaki, aku rasa jaraknya dari sini pasti tak terlalu jauh."

Dengan kening berkerut ketua Bu tong pay Hiam im totiang berkata :

"Kawasan sana merupakan tanggung jawab ketua Tay khek kun sam liu serta ketua Tong ting pang Kongsun Jiang, tapi hingga sekarang belum ada kabar berita dari mereka, entah bagaimana keadaannya? Aaai, membuat hati orang menjadi risau saja."

"Baik ada suara atau tidak belum cukup nyata untuk membuktikan keadaan yang sudah terjadi, apalagi dari pihak manapun yang berhasil dengan serangannya, tak nanti mereka akan bersuara, Cuma ." setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan :

"Bila Bu ciangbunjin dan Kongsun pangcu sudah dipecundangi musuh, sudah pasti Dewi In Un akan melakukan pemeriksaan secara diam-diam."

Belum habis perkataan itu diucapkan dari kejauhan sana sudah terdengar suara langkah manusia.

"Cepat bersembunyi." Bu wi lojin segera berseru.

si pelajar rudin dan Ngo Cun ki tak berani berayal, serentak mereka menyembunyikan diri dibelakang batu.

Tak lama kemudian tampak seorang pelayan berbaju biru munculkan diri disitu dan berseru kearah balik batu :

"siancu sedang mengadakan pemeriksaan, kalian cepat keluar" Tanpa menanti jawaban, dia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Ngo Cun ki segera berbisik kepada si pelajar rudin : "Dayang itu tak boleh dibiarkan hidup, cianpwee."

si pelajar rudin mengangguk tanda mengerti, dengan cepat dia melompat bangun dan menerjang kemuka dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dalam waktu sekejap dia telah berhasil menotok jalan darahnya dan menyeret dayang itu menuju kebalik semak.

Namun ia sama sekali tidak balik kembali ketempat semula, sebab Dewi In Un telah munculkan diri disitu.

Tampak perempuan itu berjalan mendekat dengan tergesa-gesa dikawal oleh dua nenek.

Mungkin keadaan yang gawat, sehingga ia tak sempat melakukan perubahan untuk mengatasinya, maka Dewi In Un segera membentak setibanya didepan batu tersebut. "Tan huhoat, ong huhoat dimana kalian?"

Tiada jawaban dari balik batu namun segulung kabut putih menyebar luas dari sana. Kebetulan jawaban dari balik batu namun segulung kabut putih menyebar luas dari sana.

Kebetulan Dewi In Un berdiri berhadapan dengan arah angin maka dalam waktu singkat kabut putih tersebut telah menyebar luas selebar dua kaki persegi. Dengan perasaan terkejut Dewi In un segera berseru : "Cepat menyingkir"

seraya berseru dengan cepat dia melayang mundur sejauh tiga kaki dari pos isi semula dan melompat kebalik batu besar.

Ternyata gerakan tubuh kedua orang nenek itupun sangat hebat, hampir bersamaan mereka sama-sama telah melompat pula kebelakang batu.

Dengan demikian betapapun banyaknya akal muslihat Ngo Cun ki, ia tak mampu lagi untuk menggunakan siasatnya guna melumpuhkan lawan- Bersamaan itu- juga dapat disimpulkan bahwa ketua tay khek bun serta ketua Tong ting pang telah jatuh ketangan musuh. sementara itu Dewi In Un telah berseru sambil tertawa seram.

sementara itu si pelajar rudin Ho heng telah menyusul datang setelah menyaksikan jejak rekannya ketahuan-

"sungguh tak disangka diantara kalian terdapat tokoh yang lihai sehingga rencana partai kupu-kupu kami bisa dibongkar."

setelah memandang sekejap dengan suara dingin kembali dia berseru lantang : "Ehmm, Bu wi lojin, Hiam im totiang ..siapakah bocah perempuan ini?" sambil tertawa dingin Ngo Cun ki berkata :

"Nonamu bernama Ngo Cun ki, kini menjabat sebagai ketua Hoa san pay."

Rupanya dalam keadaan terdesak tadi ia telah melepaskan segenggam dupa pemabuk Ang hun hiang, tapi diapun mengerti bahwa hasilnya tak dapat diharapkan apalagi dalam keadaan yang sama sekali tak terduga, hal ini membuatnya sedikit rada rikuh. sambil tertawa dingin Dewi In Un berkata :

"Tak kusangka semua yang hadir disini hari ini adalah jago-jago kelas satu dari dunia persilatan, pertemuan hari ini pasti akan meriah sekali." Kemudian sambil menatap wajah Ngo Cun ki lekat-lekat, terusnya : "Tapi aku menaruh perhatian yang paling khusus terhadapmu seorang, aku dengar kau berhasil menggagalkan rencana kami sewaktu berada di Tiong lam san, kalau begitu peristiwa hari inipun pasti merupakan usulmu bukan?"

"Benar" Ngo Cun ki tertawa lebar. "Memang akulah yang telah membuka rencana busuk kalian dan merusak siasat licik ini."

"Hmm, tak nyana kau berani mengakuinya secara jujur." "Berapa banyak jago yang kau bawa serta hari ini?"

"oooh, banyak sekali, setiap jago yang menganggap dirinya merupakan bagian dari dunia persilatan hampir semuanya telah berdatangan kemari, bila kau mulai menyesal sekaranglah saat yang paling tepat."

Lalu setelah berhenti sebentar, dengan suara dalam ia melanjutkan :

"Kalau tidak. bila sudah tertawan nanti mungkin sikap kami tak akan seramah sekarang."

Dewi In un tertawa terkekeh-kekeh :

"Haaahh . Haahhh .. haaahh .kalian anggap kemenangan pasti berada dipihakmu" Dengan suara dalam Ngo Cun ki berkata :

"sejak dulu hingga kini, pihak sesat pasti akan kalah dan tumpas, jangan lagi rencana busukmu sudah terbongkar, sekalipun rencanamu itu belum diketahuipun dibawah keroyokan seluruh umat persilatan, tak mungkin usaha kalian akan mencapai hasil." Dengan suara yang menyeramkan Dewi In Un berkata :

"Tujuh partai besar, jago-jago dari empat penjuru maupun kawanan jago silat kenamaan dari dunia persilatan belum ada seorang pun yang kupandang sebelah mata, hmmm, akan kulihat siapa saja yang mampu melawan kekuatan partai kupu-kupu kami?" si pelajar rudin mendengus dingin.

"Hmmm, lebih baik kau jangan mengibul dulu, ketahuilah dalam pertemuan diTiong lam san ayahmu sendiri sudah menderita kekalahan, apalagi Cuma manusia semacam kau. Hmmm, andaikata umat persilatan belum bersatu padu masih agak mending, tapi sekali telah bersatu maka tiada manusia sesat didunia ini yang mampu menanggulanginya" Dewi In Un menjadi amat gusar teriaknya.

"setelah mampus nanti kau bakal tahu akan kelihaian kami, aku ingin bertanya, apa sih yang kalian andalkan?" Namun sebelum semua orang menjawab, dia telah melanjutkan lebih jauh. "Mungkin Kho Beng serta keturunan dari tiga dewa?" Ngo Cun ki balas mendengus.

"Hmmm, bila partai kupu-kupu belum juga mau sadar dan kembali kejalan yang benar mungkin kalian akan mengulangi kembali sejarah seabad berselang."

"Tapi sayang Kho Beng dan keturunan tiga dewa yang kalian andalkan itu sekarang telah berubah menjadi abu dan entah sudah tersebar sampai dimana" Jengek Dewi In Un sambil tertawa.

"omong kosong, hal ini tak mungkin terjadi" teriak si pelajar rudin dengan penuh amarah.

"Tidak percaya pun bukan masalah, karena apa yang kukatakan sebenarnya merupakan suatu kejadian yang nyata."

sesudah berhenti sejenak, sambil tertawa ia melanjutkan : "Didalam gua pengikat cinta telah disekap encinya Kho Beng,

kakek tongkat sakti serta Chin sian kun, orang-orang tersebut merupakan orang yang hendak mereka tolong, maka atas permintaan Kho Beng, Thian cun yang yang mengetahui seluk beluk alat rahasia pasti akan mengajak rekan-rekannya pergi kegua tersebut untuk melakukan operasi pertolongan." sambil tertawa dingin Ngo Cun ki menyela :

"Kalau memang Thian cun yang cianpwee menguasai ilmu alat rahasia, sudah pasti ia dapat menghancurkan pertahanan gua pengikat cinta tanpa mengalami kejadian diluar dugaan."

"Haaah . Haahh .haahh perkataan itu memang benar" kata Dewi In Un lagi sambil tertawa tergelak.

"Justru kami telah memanfaatkan keadaan tersebut, dengan diprakarsai Thian cun yang yang mengusai ilmu alat rahasia, mereka pasti akan berusaha menerobos masuk kedalam gua tersebut, siapa sangka dalam barisan Pat kwa dan Ji gi kami justru sudah tambahkan dengan barisan Jit coat tin, nah bayangkan sendiri siapakah yang mampu keluar lagi dari gua tersebut?"

Diam-diam Ngo Cun ki merasa amat terperanjat, namun diluar ia sengaja tertawa paksa, katanya :

"sekalipun apa yang kau katakan merupakan kenyataan, namun ada satu hal belum kau ketahui secara jelas yakni soal hukum langit, bila Kho Beng serta keturunan dari tiga dewa benar-benar tewas dibukit Cian san, maka didunia ini tidak berlaku lagi hukum alam" Dewi In Un agak tertegun, lalu serunya sambil mendengus : "Mungkin saja disinilah letaknya hukum alam tersebut, paling tidak bibit penyebab yang ditanam seabad berselang kini harus menerima buah akibatnya."

Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam dia menambahkan :

"Masalah tersebut bukan persoalan yang perlu kita bicarakan saat ini, sekarang yang perlu kita bahas adalah nasib kalian selanjutnya, Ngo Cun ki, semua orang boleh kulepaskan tapi kau jangan mimpi bisa lolos dari cengkeramanku." Ngo Cun ki segera tertawa lebar, jengeknya :

"susah untuk menduga setiap perubahan yang terjadi didunia ini, sebelum menang kalah diketahui aku rasa terlalu awal bila kau berkata demikian."

"Jadi kau mengira kalian bisa mengungguli diriku?" jengek Dewi In Un sambil tertawa dingin,

"Jadi kau anggap pasti menang?" Ngo Cun ki balas mengejek sambil tertawa.

"Aku rasa persoalan ini perlu kita buktikan dalam kenyataan, Nah Ngo Cun ki, tahukah kau apa yang hendak kuperbuat terhadap dirimu?" Ngo Cun ki tertawa terkekeh-kekeh :

"Bila kau berhasil menduduki posisi diatas angin, maka semua kulit dan daging menjadi milikmu, mau dibunuh dicincang terserah kepadamu sendiri, sebaliknya bila kau yang menduduki posisi dibawah angin, tahukah kau apa akibat yang bakal kau rasakan?" Dewi In Un mendengus :

"Hmmm, apalagi selain sesuai dengan ucapanmu tadi, terserah apapun yang akan kalian perbuat."

"Lalu dengan cara apa kau hendak menentukan menang kalah tersebut? Dengan pertarungan kekerasan?"

Dewi In Un tertawa tergelak :

"Haaahh haahh haahhh .dengan cara apapun yang hendak dilakukan mungkin kalian semua bukan tandinganku."

Kemudian dengan suara dalam ia kembali membentak : "Ngo Cun ki, aku hendak meringkus dirimu paling dulu"

"aku rasa tak akan segampang yang kau katakan, jelek-jelek begini aku masih terhitung seorang ketua partai"

Dewi In Un tertawa seram, tiba-tiba bentaknya : "Nenek penunjang langit dan perata bumi, cepat kalian ringkus bocah perempuan itu, tapi ingat, jangan dibunuh, aku tak bisa membiarkan dia mampus dengan begitu saja."

Kedua orang nenek tua itu menyahut dan pelan-pelan berjalan mendekati Ngo Cun ki, setiap langkah kaki mereka berdua segera meninggalkan bekas sedalam tiga inci diatas permukaan tanah, sementara ujung baju mereka pun menggelembung besar, dalam sekilas pemandangan saja dapat diketahui bahwa mereka adalah jago-jago berilmu tinggi?

sementara itu Dewi In Un telah mengundurkan diri kesisi arena dan menyaksikan peristiwa tersebut dengan senyuman dikulum.

si pelajar rudin, Bu wi lojin serta Hian im totiang merasa terkejut sekali, karena mereka tahu secara pasti bahwa Ngo Cun ki bukan tandingan dari kedua orang nenek tersebut.

Namun untuk sesaat pun mereka merasa sangsi, haruskah turun tangan membantu ataukah lebih baik berdiam diri saja?

sebaliknya Ngo Cun ki nampak amat tenang, malah ujarnya sambil tertawa hambar :

"Terima kasih banyak atas perhatian siancu terhadap diriku, dengan menganggap diriku sebagai musuh yang utama, Ngo Cun ki merasa amat berbangga hati tentu saja akan kutemani mereka untuk bermain beberapa gebrakan lebih dulu."

Kemudian sambil berpaling kearah Bu wi lojin dan si pelajar rudin sekalian, katanya lagi sambil tertawa :

"Biar aku Ngo Cun ki yang turun tangan pada babak pertama ini, silahkan cianpwee sekalian mundur sedikit agak jauh."

sementara itu kedua nenek tersebut sudah berada lima depa dihadapannya, mendadak mereka mengayunkan tangan kanannya dan serentak mencengkeram bahu nona tersebut.

Ngo Cun ki sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya bukan tandingan lawan, maka ia tak menyambut datangnya ancaman tersebut, dengan cepat ia menarik diri sambil membungkukkan badan.

Pertarungan semacam inijauh diluar kebiasaan, suatu pertarungan yang umum, bukan saja dua orang nenek itu menjadi tertegun semua penonton pun menjadi keheranan setengah mati.

sebab tindakan Ngo Cun ki waktu itu tidak memberi perlawanan pun sama sekali tidak menghindar kebelakang, hal mana mendatangkan tanda Tanya besar bagi semua orang. Nenek penunjang langit dan nenek perata bumi adalah jago kelas wahid dari partai kupu-kupu, meski mereka agak tertegun menyaksikan peristiwa ini, namun gerak serangan mereka sama sekali tidak menjadi lamban seperti juga musuhnya, mereka merendahkan badannya dan menggunakan jurus yang tak berbeda langsung mencengkeram sebentar.

Tapi disaat Ngo Cun ki membungkukkan badan inilah, mendadak sepasang tangannya diayun keatas, dua gulung kabut putih kembali menyembur kedepan langsung mengancam tubuh nenek penunjang langit dan nenek perata bumi.

Tak terlukiskan rasa kaget kedua orang nenek tersebut menghadapi ancaman ini, cepat-cepat telapak tangan kanannya dikebaskan kebawah melepaskan pukulan yang gencar, sementara tubuhnya cepat-cepat menyurut mundur kesamping Dewi In Un-

Ngo Cun ki sendiri tertawa dingin, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berdiri ditempat sambil mengawasi lawannya.

sementara kedua orang nenek tadi telah kembali kesamping Dewi In Un dengan wajah malu bercampur menyesal.

Gusar dan heran segera menyelimuti perasaan Dewi in Un, serunya dengan suara geram :

"Hmmm, hanya mengandalkan kepandaian semacam itupun kalian berdua sudah didesak kembali?"

Rupanya bagi jago lihai yang sedang bertarung, sekalipun pihak lawan mempergunakan racun atau obat pemabuk. bukan berarti mereka harus mundur ketakutan apalagi jagoan seperti kedua orang nenek itu, tidak sepantasnya mereka mundur ketakutan begitu melihat musuh menyebarkan bubuk berwarna putih. Agak tergagap nenek perata bumi berkata :
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(