Kedele Maut Jilid 42

 Jilid 42

"Bukan begitu keadaan yang sebenarnya," ujar Thian cun yang bersungguh-sungguh

"Ketahuilah, musuh yang sedang kita hadapi sekarang adalah seorang manusia jahat yang licik dan banyak tipu muslihatnya, sekali kita bersikap kurang berhati-hati, bisa jadi kita akan terpeleset dan menderita kekalahan total" Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya dengan suara dalam :

"Satu hal perlu diingat-ingat, setelah masuk nanti , entah berada didalam keadaan seperti apa pun, kita tak boleh saling memisahkan diri."

"Empek Thian, kami akan mengingat baik-baik pesanmu" itu Beng Gi Ciu berjanji sambil tertawa.

"Selain itu masih ada satu lagi yang perlu diawasi yakni berhati- hati terhadap ilmu pukulan beracun atau ilmu sesat lainnya, apalagi serangan secara terang-terangan gampang dihindari, tapi serangan bokongan susah dihadapi , Kho Beng kau saja yang menjadi pembuka jalan"

Tapi baru berjalan berapa langkah, gelak tertawa yang amat keras telah bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian tampak serombongan bayangan manusia bermunculan secara tiba- tiba, sebagai pemimpinnya ternyata tak lain adalah Ui Sik kong sendiri. Terdengar ia berseru setelah tertawa nyaring :

"Walaupun aku sudah menduga bakal kedatangan tamu agung, namun tidak kusangka kau akan datang dimalam yang hujan dan dingin seperti sekarang ini."

Kemudian setelah mengawasi sekejap keadaan lawannya, dia melanjutkan :

"Waaah, kelihatannya kalian sudah basah kuyup semua, mari silahkan masuk untuk beristirahat sejenak, aku pasti akan menyambut kedatangan kalian dengan arak hangat." sambil berkata ia menyingkir kesamping dan mempersilahkan tamunya untuk lewat.

Thian Cun yang yang berdiri didepan sekali untuk menghalangi rekan-rekannya maju, ketika mendengar perkataan tersebut ia sama sekali tak bereaksi, hanya ujarnya sambil tertawa dingin : "Tak usah tergesa-gesa, lebih baik kita berbincang-bincang dulu disini" Ui sik kong segera tertawa tergelak :

"Haaahh haaahh haaahh .. biarpun ruangan dalam goa kurang indah dan mewah paling tidak jauh lebih hangat dan nyaman ketimbang tempat ang basah dan dingin seperti ini, mengapa sih kalian tak berani masuk?"

Thian Cun yang tertawa dingin : "Aku ingin mengetahui lebih dulu maksud tujuan anda."

Ui sik kong memperhatikan sekejap keadaan musuh-musuhnya, kemudian berkata :

"Panglima perang yang pernah kalah bertempur mana berani bicara besar? Tentu saja kami akan mendengarkan semua perkataan dari keturunan tiga dewa." Kemudian sambil menunjuk kebelakangnya, ia melanjutkan :

"Yang ini adalah ketua pelindung hukum partai kami, Liong hoa sinkun, sedang keempat orang ini adalah empat tiang lo partai kupu- kupu, sedangkan sisanya yang lain bukan terhitung orang-orang yang bisa diandalkan lagi."

"orang-orang itu tiada persoalan yang terlalu serius buat pandangan kami," tukas Thian cun yang tertawa "Justru yang ingin kuketahui adalah rencana anda yang selanjutnya."

Ui Sik kong mendengus dingin : "Hmmm, aku tidak mempunyai perencanaan apa-apa" Thian cun yang segera berpaling kearah Kho Beng dan serunya : "Bocah muda, lebih baik kau saja yang bedanya kepadanya."

Kho Beng menyahut dan segera tampil kedepan, bentaknya kemudian "Ui sik kong kau tak mengira bukan aku bakal datang pada hari ini?" Ui sik kong tertawa dingin :

"Walaupun perhitunganku belum bisa dibilang tepat seratus persen, namun sudah kuduga kau bakal datang, hanya sayang tendanganku tempo hari kelewat enteng, sehingga rasanya kurang mantap untuk menghantarmu pergi kerumah nenek."

"Hmmm, nampaknya kau tidak menunjukkan sedikit rasa menyesal pun," tegur Kho Beng gusar, "Apakah sudah kaupikirkan kembali syarat yang kuajukan?"

"sudah kupertimbangkan, dan aku dapat menerimanya" "Dapat menerimanya?" Kho Beng jadi tertegun dibuatnya.

Thian cun yang, oh Kui sam, Beng Gi ciu serta siau wan pun turut tertegun dibuatnya, keadaan tersebut sama sekali tak sesuai dengan apa yang mereka duga, dengan sikap maupun nada pembicaraan Ui sik kong, sudah jelas ia tak mempunyai rasa menyesal ataupun bertaubat, namun mengapa ia justru mengucapkan kata-kata seperti ini? sebenarnya apakah rencana serta maksud tujuannya?

"Apakah kau berbicara dengan sesungguhnya?" Kho Beng segera menegur dengan suara dalam.

"Apakah kau tak percaya?" Ui sik kong balik bedanya dengan suara yang tenang.

"Terus terang saja aku menaruh curiga yang besar terhadapmu, tapi asal kau benar-benar mempunyai maksud untuk bertobat, aku akan tetap menuruti pesan mendiang guruku dengan melindungi kehidupan dari partai kupu-kupu."

Ui sik kong tertawa.

"Waaah, kalau begitu aku amat berterima kasih sekali"

Untuk sesaat lamanya Kho Beng tidak mengerti bagaimana mesti berbuat, terpaksa dia berpaling kearah Thian cun yang serta oh Kui sam, sambil berkata : "Harap cianpwee sudi memberi petunjuk"

Thian cun yang tertawa bergelak.

"Haaahh . Haaahh . Haaahh .sesungguhnya gampang sekali, suruh saja dia membebaskan dulu orang-orang yang disekap dalam gua pengikat cinta"

Kho Beng manggut-manggut, segera serunya dengan keras: "Bila anda mempunyai niat yang tulus, harap ciciku dan kedua

dayangnya, kakek tongkat sakti serta nona Chin sekalian segera dibebaskan dari sekapan"

Ui sik kong segera menjawab sambil tertawa :

"Bila sikap anda sekalian tetap berhati-hati dan penuh perasaan curiga terhadapku, hal ini menunjukkan bukan aku yang tak mempunyai niat yang tulus, sebaliknya kalian sendiri ."

Kemudian dengan sinar hijau memancar keluar dari matanya, dia berkata lebih jauh :

"Dengan kuterima syarat yang kalian ajukan, sudah dapat kupastikan dunia persilatan akan pulih kembali dalam ketenangan dan kedamaian, kini aku telah mempersiapkan perjamuan untuk anda semua, apa salahnya kalau kita berbincang-bincang dulu sambil minum arak, kemudian aku akan memimpin para jago untuk kembali ke sin kiang, sedang kalian boleh meninggalkan bukit Cian san dengan membawa serta kakek tongkat sakti sekalian, bukankah segala urusanpun akan beres dengan sendirinya?" sebelum semua orang mengemukakan pendapatnya, tiba-tiba oh Kui sam menyela : "Perkataannya memang ada betulnya juga, apa salahnya kalau kita mengganggunya sejenak?"

Ia bukan ingin minum arak tapi merasa bahwa perbuatan drmikian tak akan menghilangkan pamor.

Thian cun yang segera berkerut kening, katanya dengan suara dalam :

"Ui sik kong, kau harus tahu, bila kau mempunyai niat jelek atau sudah merencanakan sesuatu secara licik, maka akibatnya bisa diluar dugaanmu sama sekali."

"Aku toh mengundang kalian dengan perasaan yang tulus, buat apa anda justru menaruh banyak curiga?" sahut Ui sik kong sambil tertawa hambar.

"Moga-moga saja apa yang kau katakan adalah ucapan yang sejujurnya, demi mati hidupnya partai kupu-kupu, keputusan yang kau ambil pada malam ini sangat penting, kuharap kau cukup memahami keadaan tersebut."

Ui sik kong segera tertawa bergelak.

"Haaahh haaahh haaahh bila anda masih saja mencurigai diriku dengan tuduhan yang bukan-bukan aku pun tak akan menahan kalian, silahkan saja segera pergi meninggalkan tempat ini."

oh Kui sam tertawa bergelak.

"setelah datang mengapa harus pergi lagi? Bila kami berani datang tapi tak berani memenuhi undanganmu, apa kata orang tentang keturunan dari tiga dewa? silahkan membawa jalan"

"Aaai nampaknya oh lohiap memang jauh lebih tegas."

Dengan sinar mata yang licik dia memandang sekejap sekitar situ, lalu terusnya : "Biar aku segera membawa jalan untuk kalian"

Ia membalikkan badan dan mengajak keempat tiang lo dari partai kupu-kupu dan ketua pelindung hukumnya Liong hoa sinkun yang berambut panjang sebahu memasuki pintu gua terlebih dahulu.

Tampaknya pintu gua terpentang lebar-pebar, cahaya lentera menerangi seluruh sudut ruangan.

sepanjang lorong rahasia, setiap jarak dua kaki, disisi kanan kiri lorong berdiri sepasang busu bersenjata yang melakukan penjagaan secara ketat, gaya maupun sikap mereka Nampak perkasa dan penuh kewibawaan. sementara itu Ui sik kong berjalan dengan wajah penuh rasa bangga sepanjang jalan tiada hentinya dia mengelus jenggot kambingnya sambil menengok kanan kiri

oh Kui sam serta Thian cun yang mengikuti dibelakangnya dengan senyum dingin menghiasi wajahnya, apalagi sikap Kho Beng serta Beng Gi ciu, kedua orang muda mudi ini kelihatan acuh tak acuh, mereka mengikuti dari belakang dengan angkuh.

Tak lama kemudian, tibalah mereka diruangan tengah, sebelum nya Kho Beng pernah berkunjung kesana, hanya bedanya waktu itu dia datang dengan perannya sebagai Koan ci Cu, sedang sekarang ia datang sebagai murid dari Kongci Cu.

Ditengah ruangan telah dipersiapkan sebuah meja perjamuan, dayang dan pelayan telah siap melayani , namun disekeliling ruangan tersebut dipenuhi dengan busU berpedang yang melakukan penjagaan secara ketat.

setibanya didepan meja, Ui sik kong segera mempersilahkan tamunya untuk mengambil tempat duduk lebih dulu. "silahkan anda sekalian duduk"

Bersamaan itu pula dia memberi tanda kepada rekan-rekannya agar duduk pula menurut urutan, tapi semuanya menempati sudut sebelah kiri, sebab ia sudah melihatnya bahwa dibagian sanalah merupakan posisi yang paling aman.

Ui sik kong segera tertawa terbahak-bahak , dengan mengajak Liong hoa sinkun dan keempat tiang lo dari partai kupu-kupu mereka menempati pos isi sebelah kanan tapi disamping Liong hoa sinkun Nampak masih ada sebuah tempat berada dalam keadaan kosong. sambil tersenyum Thian cun yang segera menegur, "Nampaknya masih ada amu agung lain yang bakal datang?"

sambil tertawa Ui sik kong manggut-manggut :

"Benar, masih ada seorang teman yang belum datang, tapi orang itupun tak bisa dianggap sebagai tamu."

"Bolehkah aku tahu siapakah orang itu?" Tanya Thian cun yang sambil tertawa.

Liong hoa sinkun yang duduk disamping Ui sik kong segera menyahut dengan suara dingin :

"orang itu adalah istriku Pek kut hujin"

"Hujan turun begini deras, malampun sudah semakin larut, mungkin dia tak bakal datang malam ini?"

Liong hoa sinkun mendengus dingin. "Hmmm, dia pasti akan datang, cuma soal waktu saja mungkin agak terlambat."

"Beranikah anda bertaruh denganku?"

Berubah paras muka Liong hoa sinkun setelah mendengar perkataan itu tegurnya : "Apa maksud perkataanmu ini?"

"Aaah, tidak bermaksud apa-apa, aku hanya mengadu nasib saja."

Buru-buru Ui sik kong menyela sambil tertawa :

"Aku rasa urusan sepele seperti itu tak perlu dipertaruhkan lagi, yang penting justru merundingkan masalah besar, biarpun Pek kut hujin tak bisa datang pada saatnya, toh bukan berarti akan mengganggu jalannya perundingan diantara kita"

Mendadak Liong hoa sinkun menggebrak meja seraya berseru : "Tiba-tiba saja aku mencurigai satu hal, sekalipun istriku tak bisa

datang pada saatnya, seharusnya Cun hong lengcu dan Hee im lengcu sudah balik kembali .aku rasa .." setelah berhenti sejenak, dengan suara dalam dia melanjutkan,

"Aku rasa hanya sebuah jawaban saja, sudah pasti istriku sudah mendapat celaka ditangan mereka?"

Buru-buru Ui sik kong menggoyangkan tangannya berulang kali sambil katanya :

"Tidak mungkin, tidak mungkin"

Menyusul kemudian sambil tertawa tergelak lanjutnya : "Haaahh . Haaahh haaahh mereka adalah jago-jago lihay yang

menganggap dirinya sebagai pendekar sejati yang berjiwa besar, tentu saja pendekar sebangsa mereka tak bakal melakukan perbuatan rendah seperti ini , mereka orang-orang perempuan sudah terbiasa menunda waktu karena urusan pribadi kaum wanita , lebih baik kita membicarakan dulu persoalan yang pokok."

sambil berkata dia segera melemparkan sebuah kerlingan misterius kewajah Liong hoa sinkun.

Thian cun yang dapat menyaksikan hal ini secara jelas, buru-buru dia berbisik kepada rekan-rekannya dengan ilmu menyampaikan suara :

"Keadaan sudah semakin nyata, sudah pasti bajingan tua she Ui ini mempunyai rencana busuk yang telah dipersiapkan."

Padahal sekalipun tidak disinggung oleh Thian cun yang pun Kho Beng sekalian sudah dapat melihat jelas, karena tindakan Ui sik kong yang tidak mengkuatirkan hilangnya Jin Cun dan Li sian soat sudah cukup untuk membuktikan hal ini.

Ditengah gelak tertawa nyaring, Ui sik kong mengangkat cawan araknya dan berkata :

"Untuk menunjukkan ketulusan hati kami, silahkan anda sekalian minum secawan arak terlebih dahulu"

Tunggu sebentar mendadak Kho Beng berseru dengan suara yang berat dan dalam. Ui sik kong meletakkan kembali cawan araknya, kemudian menegur dengan kening berkerut :

"apakah Khosauhiap mempunyai suatu petunjuk?"

"Kedudukan Dewi In Un didalam partai kupu-kupu tidak terhitung rendah, apalagi dia pun sudah banyak membuat jasa didaratan Tionggoan, mengapa tak Nampak ia turut hadir dalam pertemuan malam ini?"

Ui sik kong segera tertawa hambar.

"Kaum wanita tidak pantas ikut menyambut tamu, apalagi siauli merasa kurang enak badan sehingga sudah tertidur sejak sore tadi."

"Hmmm, itu mah Cuma alasan anda saja untuk menutupi keadaan sebenarnya," jengek Kho Beng sambil tertawa dingin, "muda-mudi dunia persilatan tidak mementingkan tata cara, apalagi berbicara dari tingkat kedudukan putrimu, sepantasnya kalau ia turut menghadiri perjamuan malam ini."

"Tapi bukankah telah kubilang, putriku sedang sakit?" jawab Ui sik kong sambil tertawa. Kembali Kho Beng tertawa dingin.

"Bagi orang yang belajar silat, penyakit demam tak mungkin bisa menyerang tubuhnya, apalagi putrimu masih muda, ia tak mungkin akan terserang sakit, apakah kau tidak merasa bahwa perkataanmu kelewat keterlaluan?"

Berubah hebat paras muka Ui Sik kong, segera katanya : "Kuharap anda jangan terlalu menyudutkan posisiku, kenapa kau

bersikeras menyuruh putriku turut hadir didalam pertemuan ini?" "sebab ada sementara persoalan yang cuma bisa dijawab oleh dia

seorang."

"Persoalan apa?" ui sik kong bertambah gusar.

"Misalnya saja siapa yang telah menyamar sebagai Bu wi lojin dalam peristiwa berdarah tempo dulu, dan dimanakah kakakku sekalian disekap? Lebih baik undanglah dia keluar agar semua persoalan dapat diselesaikan hingga tuntas." "Kalau hanya persoalan itu mah, aku pun dapat menyelesaikan" kata Ui sik kong sambil tertawa.

Kho Beng segera berpikir sebentar, lalu katanya :

"Kalau anda memang dapat menyelesaikannya, baiklah, kita pun tak usah mengganggu putrimu lagi."

sekali lagi Ui sik kong mengangkat cawan araknya sambil berkata

: "Harap kalian menerima penghormatanku dengan secawan arak ini." Tapi secara tiba-tiba Kho Beng menggebrak meja lagi sambil berseru : "Tunggu dulu"

Terpaksa Ui sik kong meletakkan kembali cawan araknya, lalu menegur :

"Kho sauhiap ada petunjuk apalagi, kenapa tidak diungkap saja seusai aku menghormati secawan arak kepada kalian?" Kho Beng menggeleng.

"Masih ada sebuah persoalan yang lebih penting dan harus diberi penyelesaian lebih dulu."

Tampaknya Thian Cun yang sekalian sudah dapat memahami maksud serta tujuan Kho Beng, tanpa terasa mereka mengangguk dengan perasaan puas, sebab siapapun tak ada yang tahu apakah dalam arak tersebut telah dicampuri racun atau tidak.

Andaikata keadaan yang sebenarnya belum diketahui secara pasti dan gara-gara itu mereka sampai diracuni, bukankah usaha mereka bakal menderita kegagalan total? Bukan Cuma begitu, bahkan bisa jadi keselamatan jiwa mereka pun akan terancam?

"silahkan Kho sauhiap utarakan" terdengar Ui sik kong berkata dengan kuning berkerut.

"Kalau memang anda telah menerima semua syarat yang kuajukan sebelumnya, kupikir kalian pun harus membebaskan dulu kakakku sekalian dan kita minum arak bersama-sama untuk menghilangkan segala kecurigaan dan pertikaian dimasa lalu" Ui sik kong segera tertawa seram,

"Perkataan Kho sauhiap memang benar tapi harap jangan lupa bahwa dalam salah satu syaratmu, terdapat pernyataan yang mengatakan kau hendak mengembalikan benda mestika dari partai kupu-kupu kami, yaitu kitab pusaka Thian goan bu boh."

"Tentu saja aku akan memenuhi janji itu, aku bukan manusia yang tak dapat dipercaya kata-katanya." Ui sik kong segera mengulurkan tangannya kedepan sambil berseru : "Kalau begitu sauhiap dapat segera menyerahkannya kepadaku soal ini"

Kho Beng nampak agak tertegun dan tidak menduga sampai kesitu, selang sesaat kemudian ia baru berkata :

"Jadi kau berniat untuk bertukar syarat dengan kitab pusaka tersebut?"

sebagaimana diketahui, kitab pusaka Thian goan bu boh memang tidak berada disakunya tapi disimpan oleh Bu wi lojin disuatu tempat yang sangat rahasia dalam lembah hati Buddha.

Ui sik kong tertawa dingin.

"semula aku tidak berniat untuk berbuat begini, tapi lantaran Kho sahiap bersikeras untuk memaksa kami membebaskan kakakmu sekalian terlebih dahulu, mau tak mau terpaksa akupun harus mengambil tindakan yang sama."

"Ini namanya mengancam, jelas kau tidak berniat secara tulus," seru Kho Beng dengan keras

Pryaaaanggg

Ia membanting cawan araknya keatas tanah.

Ternyata perbuatan Kho Beng dengan membanting cawan arak kelantaipun mengandung maksud tertentu, dia hendak menggunakan kesempatan disaat arak tersebut tertumpah dilantai untuk memeriksa apakah arak tersebut mengandung racun atau tidak.

Ui sik kong sama sekali tidak menjadi gusar karena ulah lawannya, malah sambil tertawa hambar ia berkata :

"Bagaimana pun juga anak muda memang berdarah panas, kalau toh kedua belah pihak bermaksud menyelesaikan persoalan secara damai, mengapa pula tindakanmu mesti menuruti emosi?"

sambil berkata dia segera mengambil cawan arak yang berada dihadapan oh Kui sam dan berkata lebih jauh.

"Mungkin anda sekalian mencurigai dalam arak ada racunnya, biar aku mencicipi secawan lebih dulu"

sembari berkata ia segera meneguk isi cawan arak itu hingga kering.

Mula-mula Thian cun yang kelihatan agak tertegun, tapi kemudian serunya sambil tertawa bergelak :

"Haaahh haahh haahh lagi-lagi kau menaruh kesalahpahaman, jangan lagi arak tersebut tidak beracun, biarpun benar-benar ada racunnya, apa pula yang mesti kami takuti? Namun bila arak ini benar-benar beracun, asal anda minum obat penawar sebelumnya, maka biarpun menghabiskan sepuluh cawan secara beruntun pun aku rasa tak akan sampai terpengaruh oleh daya kerja racun itu" Habis berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak. sambil tertawa dingin Ui sik kong segera berkata :

"Kalau toh anda berkata demikian, akupun tak dapat berbuat lain kecuali membatalkan perjamuan ini"

Kembali Thian cun yang tertawa bergelak :

"Tujuan kedatangan kami kemari memang bukan untuk minum arak tapi ingin mengajak anda untuk membicarakan persoalan ini secara baik-baik, kau harus mengerti, kami sama sekali tidak mempunyai niat jahat bahkan kami setuju dengan usul Kho Beng untuk tetap mempertahankan keutuhan dari partai kupu-kupu partai kupu-kupu."

"aku amat berterima kasih dengan usul kalian itu" kata Ui sik kong sambil tertawa seram, "tapi kitab pusaka Thian goan bu boh harus kalian serahkan lebih dulu."

"Asal semua persoalan telah terselesaikan, kujamin hanya didalam setengah hari saja kitab pusaka Thian goan bu boh sudah dapat kami serahkan kembali" kata Kho Beng dengan tegas, "kalau tidak. aku berani menjamin dengan batok kepalaku ini."

"Ditambah pula dengan batok kepala kami berdua," sambung Thian cun yang dan oh Kui sam serentak.

Ui sik kong segera tertawa.

"Kalau memang kalian telah berkata demikian, tentu saja aku akan menurut perintah." Kemudian setelah berhenti sejenak. katanya lagi.

"Begitu kitab cusaka Thian goan bu boh dikembalikan, aku segera akan menaik diri dari daratan Tionggoan."

"Tapi aku menuntut kepada anda untuk membebaskan dulu semua tawanan yang ada" desak Kho Beng dengan sorot mata yang tajam.

Ui sik kong tertawa tenang, bukan menjawab dia malah bedanya

:

"Apakah perjamuan ini masih akan dilanjutkan?"

"Tidak usah" tukas oh Kui sam, "Lebih baik dibubarkan saja" sambil tertawa hambar Ui sik kong mengulapkan tangannya

seraya berseru : "Pengawal, bubarkan perjamuan, ganti dengan air teh"

Dalam waktu singkat meja perjamuan telah dibongkar sementara didepan masing-masing orang dihidangkan secawan air teh. sambil tertawa misterius, Ui sik kong berkata :

"Bila anda sekalian kuatir dala air teh ada racunnya, tak usahlah diminum, tapi kuminta janganlah ditolak mentah-mentah, paling tidak lakukanlah sedikit lagak seakan-akan menerima hidangan tersebut."

sindiran ini amat tajam dan langsung membuat paras muka Thian Cun yang berubah menjadi merah padam, namun ia tidak berkata apa-apa. Kembali Ui sik kong berkata lagi.

"sekarang juga aku akan menyuruh orang untuk mengundang ang It ciang, Chin sian kun serta kakak perempuan Kho sauhiap agar bertemu dengan anda sekalian."

"Kalau benar begitu, hal ini menunjukkan ketulusan hati anda, aku pun pasti akan melaksanakan pesan guruku almarhum untuk melindungi partai kupu-kupu dari segala ancaman bahaya."

Ui sik kong tertawa dingin, sambil berpaling kearah satu diantara empat tiang lo partai kupu-kupu, serunya : "Harap Pek tiang lo melaksanakan perintah ini."

Kakek itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari situ.

Mendadak .

Terasa ada segulung bau aneh yang menyusup masuk kelubang hidung masing-masing, semua orang segera merasa bahwa bau itu berasal dari asap dupa yang baru dibakar , sementara asap berbau harum itu sedang menyebar secara pelan-pelan keseluruh ruangan.

Bagi penciuman orang awam, bau tersebut merupakan bau asap dupa sesungguhnya, sama sekali tidak ada gejala mencurigakan.

Tapi begitu Thian cun yang mengendusnya, berubah air mukanya dengan cepat buru-buru peringatnya dengan ilmu menyampaikan suara :

"Cepat tutup kelima jalan darah penting didepan dada"

Begitu mendengar suara peringatan tersebut, Kho Beng, Beng Gi ciu dan siau wan sekalian cepat-cepat menutup semua jalan darah pentingnya.

Terdengar Thian Cun yang pra-pura berbatuk dan menutup mulutnya dengan ujung baju, padahal ia berbisik lagi dengan ilmu menyampaikan suaranya : "Aku telah berhasil menemukan hal-hal aneh, kalian cepat berlagak seperti orang yang mabuk dan bersikap masa bodoh, namun ingat jangan sampai kosongkan pikiran, coba kita lihat permainan apalagi yang bakal mereka pergunakan."

Maka suasana didalam ruangan pun lambat laun tercekam kembali dalam keheningan.

Tampak Thian cun yang, oh Kui sam, Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan duduk kaku bagaikan hwesio tua yang sedang semedi sementara biji mata masing-masing cun makin lama semakin tak bergerak lagi.

Ui sik kong yang mengawasi terus perubahan wajah lawan- lawannya itu mulai memunculkan senyuman bangga setelah melihat kejadian ini.

setengah peminuman teh kembali sudah lewat, tiba-tiba Liong hoa sinkun bangkit berdiri lalu secara tiba-tiba mengayunkan kesepuluh jari tangannya dan digetarkan lebih dulu dihadapan Thian cun yang.

Thian cun yang berlagak seakan-akan sama sekali tidak merasakan gerakan tersebut, tubuhnya sama sekali tak bergerak.

Dengan suara yang dalam Liong hoa sinkun segera menegur : "Thian cun yang tatap kesepuluh jari tanganku ini lekat-lekat"

Thian cun yang sama sekali tak bersuara, namun biji matanya yang sudah tak berputar itu benar-benar berputar mengikuti gerakan ke sepuluh jari tangan Liong hoa sinkun.

sekilas perasaan girang segera menghiasi wajah Liong hoa sinkun, lagi-lagi dia menegur dengan suara dalam : "Kenalkah dengan aku?"

"Kenal" jawaban Thian cun yang bagaikan orang mengigau. "siapakah aku?" desak Liong hoa sinkun lebih jauh.

"Kau adalah si setan gantung hitam dari istana neraka" "Haaahh?" tanpa terasa Liong hoa sinkun berseru kaget dan

menghentikan perbuatan dengan wajah tertegun.

Ui sik kong turut melompat bangun dengan wajah tertegun, segera tanyanya : "Apa yang sebenarnya terjadi"

Liong hoa sinkun tergagap tak mampu menjawab, sinar matanya pelan-pelan dialihkan dari wajah Thian cun yang keatas wajah siau wan, lalu seorang demi seorang ditelitinya dengan seksama.

Ia menjumpai wajah orang-orang itu sudah berubah menjadi orang yang kehilangan pikiran, biji matanya kaku dan lagaknya seperti orang bodoh, sama sekali tidak ditemukan sesuatu gejala yang aneh. Karenanya sambil tersenyum, dia berkata :

"Mungkin tenaga dalam mereka kelewat sempurna, biarpun hamba telah menambah sepuluh kali lipat bahan sian hun liang yang dibakar, namun kesadaran pikiran mereka tampaknya belum terpengaruh secara keseluruhan."

"Tapi apa sebabnya ia mengatakan sinkun adalah si setan gantung hitam dari neraka?" Tanya Uisik kong dengan perasaan tak habis mengerti. Liong hoa sinkun tertawa jengah, buru-buru sahutnya :

"Hal ini, mungkin tampang hamba memang kurang sedap dipandang sehingga, sehingga dia menyebut begitu kepadaku."

"Lantas apa yang mesti kita perbuat dalam langkah berikutnya?" Tanya Ui sik kong kemudian serius.

Liong hoa sinkun tertawa bergelak :

"Itu mah gampang, biarpun kesadaran mereka masih tertinggal sebagian namun tenaga dalamnya telah punah, asal jalan darah mereka kita totok, orang-orang itu akan menurut semua perintah dan perkataan ciangbunjin"

"Betul juga perkataanmu itu," seru Ui sik kong gembira, "aaaai, nampaknya makin tua aku semakin pikun."

Dengan suatu gerakan cepat, jari kanannya segera disodorkan kemuka menotok jalan darah penting, ditubuh Thian cun yang.

Tapi disaat ujung jari tangannya hampir menyentuh diatas dada lawan ini, mendadak Thian cun yang menggerakkan pergelangan tangan kanannya, lalu dengan kelima jari tangan yang terpentang bagaikan kaitan, dia balik mencengkeram pergelangan tangan kanan Ui sik kong.

Bersamaan waktunya terdengar dia berseru sambil tertawa terbahak-bahak :

"Bajingan tua, nampaknya kau tak pernah menyangka bukan?"

Tak terlukiskan perasaan kaget Ui sik kong menghadapi kejadian ini, dengan suara dalam ia segera membentak : "Cepat kabur"

suasana didalam ruangan tengah berubah menjadi kacau, setiap orang yang hadir dalam arena serentak menghentakkan kakinya keatas tanah, dari bawah kaki masing-masing pun bermunculan lubang gua.

Terdengar suara gemerincingan yang nyaring dalam waktu singkat orang-orang itu sudah lenyap dari pandangan mata. sementara itu Thian cun yang berhasil mencengkeram pergelangan tangan kanan Uisik kong kencang-kencang. Hal ini membuatnya sama sekali kehilangan tenaga untuk melawan, Rengeknya kemudian sambil tertawa dingin :

"Asal kau, Ui tua sudah ditangkap. sama artinya seluruh partai kupu-kupu telah kukuasai"

Lalu sambil berpaling kearah Kho Beng sekalian, serunya pula : "Kalian jangan bergerak secara sembarangan, meskipun alat

rahasia yang melengkapi ruangan ini amat banyak, namun dibagian tempat ini pasti aman dan tiada ancaman."

sementara itu Ui sik kong telah berseru sabil menggigit bibir kencang-kencang menahan rasa bencinya.

"seabad berselang, leleuhurku telah tewas ditangan tiga dewa, apakah malam inipun ." sebelum perkataan itu selesai diutarakan, Thian cun yang telah mendengus seraya menukas :

"Bila aku membiarkan kau mati secara tenang, sejak pertemuan yang pertama kali aku sudah membuatmu kehilangan nyawa, buat apa aku mesti menyuruh kau hidup terus hingga kini."

Lalu dengan suara dalam terusnya :

"Asal kau bersedia menerima syarat dari Kho Beng, akupun tidak akan menyulitkan dirimu"

sambil menggigit bibir Ui sik kong berkata :

"Dendam sakit hati telah menyusup ketulang sumsumku, selama ini akupun bertekad hidup untuk membalas dendam atas aib yang menimpa leluhurku. Hmmm, jangan mimpi kalau aku bakal menerima syarat-syarat seperti itu."

"Hmm, itu berarti kau mencari kematian buat diri sendiri" kata Thian cun yang sambil menghela napas.

"Heee . Heehh . Heeehh .." mendadak Ui sik kong tertawa dingin, "sekalipun aku sedang mencari kematian buat diri sendiri, bukan berarti kalian mampu membunuh diriku."

"Bajingan tua" bentak Kho Beng dengan suara dalam, "biarpun aku berniat melaksanakan pesan terakhir dari guruku, namun bila mana keadaan terpaksa, aku tetap akan merenggut juga selembar jiwa anjingmu."

sambil menggigit bibir, Ui sik kong mendengus :

"Tua Bangka Thian, bajingan cilik Kho, aku akan mengucapkan selamat tinggal kepada kalian" Dengan suatu gerakan yang amat cepat bagaikan sambaran kilat, tiba-tiba dia mengayunkan tangan kanannya, lalu dengan pukulan yang mematikan ia menebas lengan kanan sendiri secara mentah- mentah.

Menyusul putusnya lengan tersebut terdengar lagi suara gemerincingan nyaring, ternyata Uisik kong telah membuka lubang rahasia dan melarikan diri pula dari situ.

siapapun tak ada yang menyangka kalau musuhnya akan berbuat senekat itu, sebab siapapun tak menyangka kalau Ui sik kong akan bertindak begitu tabah dengan memapas kutung lengannya sendiri

Tampak percikan darah menyembur dan menodai seluruh permukaan tanah yang berada dalam genggaman Thian cun yang saat ini hanyalah tinggal sebuah kutungan lengan belaka.

Dengan gemas Thian cun yang membanting lengan itu keatas tanah, lalu serunya dengan gemas :

"Baru pertama kali ini kujumpai peristiwa yang sama sekali diluar dugaanku"

Kini ruangan tersebut tinggal mereka berapa orang, sedang dari pihak musuh tak kelihatan lagi seorang manusia pun, suasana tersebut amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun. Tiba-tiba Ui sik kong berkata,

"sekarang kita sudah terjerumus kedalam keadaan yang amat berbahaya, Thian tua, apa yang harus kita perbuat sekarang?"

Thian cun yang memperhatikan sekejap keadaan disekeliling tempat itu, lalu katanya :

"Walau kita berada ditempat yang sangat berbahaya, namun ruangan ini justru aman sekali, sebab yang ada disini hanya alat rahasia untuk menyelamatkan diri, tak ada alat rahasia untuk mencelakai orang."

"Tapi kakek tongkat sakti sekalian justru berada dalam cengkeraman iblis mereka" sambung Kho Beng.

Dengan cepat Thian cun yang menggeleng, katanya :

"Tidak. sejak aku tiba dalam ruangan ini aku telah memahami akan hal tersebut, kakakmu sekalian sesungguhnya telah dipindahkan ketempat yang lain." Lalu setelah berhenti sejenak, katanya :

"Tapi hal ini memang wajib mereka lakukan sebab betapapun juga dia toh mesti mempersiapkan langkah terakhir seandainya benar-benar menderita kekalahan ditangan kita, paling tidak tiga sandera tersebut masih merupakan senjata yang cukup ampuh." Cepat-cepat Kho Beng menukas sambil gelengkan kepalanya.

"Persoalan itu lebih baik tak usah dibicarakan dulu, yang penting apa yang mesti kita perbuat sekarang?"

sambil menatap wajah rekannya, kembali dia melanjutkan : "Diantara kami semua, kaulah yang paling ahli dan

berpengalaman didalam soal-soal alat rahasia, ayoh cepat ajak kami meninggaikan tempat ini"

"ooooh tentu saja, sudah sewajarnya bila aku yang menjadi penunjuk jalan untuk kalian"

Mendadak dengan air mata bercucuran, Kho Beng berkata : "cianpwee berdua maafkanlah kelancangan boanpwee."

"Utarakan saja terus terang," tukas Thian cun yang segera, "sebetulnya apa rencanamu?"

"Terlepas apakah enciku sekalian sudah dipindahkan dari sini atau tidak. boanpwee berniat untuk melakukan pemeriksaan didalam gua pengikat cinta ini, kemudian baru meninggaikannya dengan perasaan lega."

Beng Gi ciu segera mendukung :

"Engkoh Beng, aku akan menemanimu"

Thian cun yang segera menghela napas, katanya kemudian : "Kalau kaupun bersedia menemaninya, untuk apa kami berdua

angkat kaki dari sini? sekalipun empek merasa yakin kalau mereka telah memindahkan para sandera dari sini, tapi kita memang wajib untuk menyelidikinya lagi sampai jelas."

"Tunggu dulu" cegah Kho Beng dengan suara dalam , "boanpwee tak berniat untuk berbuat demikian."

"Lantas apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Thian cun yang agak tertegun.

"Gua pengikat cinta bukan tempat yang aman, seandainya cianpwee berdua menjumpai peristiwa yang diluar dugaan dalam gua ini, berarti keselamatan seluruh umat persilatan pun akan kehilangan dukungan, oleh sebab itu lebih baik biar boanpwee seorang yang pergi melakukan pemeriksaan."

Kemudian sambil berpaling kearah Beng Gi ciu, katanya pula : "Adik Ciu, kaupun harus menuruti perkataanku."

"Kau tak usah berbicara lagi" tukas Beng Gi ciu agak emosi, "perduli apa pun bakal kau ucapkan, tak nanti akan kukabulkan, apalagi kau pun tidak mengerti tentang ilmu barisan serta alat-alat rahasia."

"Aaaah, sekalipun kau mengerti sedikit kukira tak nanti dapat menandingi pengalaman empek yang jauh lebih banyak" sambung Thian cun yang sambil tertawa. Kemudian agak emosi, dia melanjutkan :

"Beng toako bernasib kurang mujur dan mati kelewat muda, sedang kau adalah satu-satunya keturunan toako, andai kata empek berdua yang mati masih tak apa, bila kau yang mengalami musibah

.."

"Kebaikan hati empek biar kuterima didalam hati saja" kata Beng Gi ciu sambil menggeleng, "tapi akupun tak ingin kita menyerempet bahaya bersama-sama."

"Tak usah banyak bicara lagi" teriak oh Kui sam tiba-tiba. "Kalau ini dilanjutkan aku situa bisa menangis, Cun yang cepat membuka jalan"

Thian cun yang tak banyak berbicara lagi, setelah mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia melepaskan sebuah pukulan.

Blaaaammm

Ketika angin pukulannya menumbuk diatas dinding dengan menerbitkan suara keras, sebagian dinding batu itu runtuh ketanah.

Ternyata dinding batu itu tebalnya Cuma setengah depa, biarpun Thian cun yang hanya menggunakan enam bagian tenaga dalamnya, namun dinding batu tersebut sudah tak mampu untuk menahan , seketika muncullah sebuah lubang selebar tujuh depa.

oh Kui sam segera mengayunkan langkah berniat memasuki gua dibalik dinding yang roboh, namun Thian cun yang segera menariknya. Dengan sepasang mata melotot besar oh Kui sam segera berseru :

"Apakah lantaran dinding gua ini kau yang menjebolnya maka aku tak boleh menerobosinya lebih dulu?"

Thian cun yang segera tertawa.

"Kui sam, usiamu sudah begini besar mengapa sifat berangasanmu belum juga mereda, tahukah kau bahwa daerah diluar lubang dinding tersebut adalah kawasan yang sangat berbahaya? sekalipun tubuhmu terdiri dari baja aslipun, bisa jadi tubuhmu akan terlumat hingga hancur tak ada wujudnya lagi."

oh Kui sam segera memukul jidat sendiri, seraya berseru : "Didalam masalah ini aku memang tak mampu menandingimu, lebih baik kau saja yang membawa jalan"

Tapi Thian cun yang segera menggelengkan kepalanya : "Aku sendiripun tak sanggup, sebab tempat itu merupakan

sebuah kawasan yang amat berbahaya serta mematikan."

Hmm oh Kui sam segera mendengus, "kalau memang tempat tersebut merupakan kawasan berbahaya yang mematikan, apa gunanya kau memukulnya hingga berlubang?" sembari mengawasi daerah disekeliling tempat itu, Thian cun yang menjawab :

"Aku tak lebih hanya ingin membuktikan kebenaran dari dugaanku, coba akan kulihat apa betul bangunan ini dibuat menurut system Pat kwa yang dikombinasikan dengan barisan yang lain lagi."

Menyusul kemudian ia pun melepaskan sebuah pukulan lagi.

Gempuran keras kembali menerbitkan suatu dentuman yang amat nyaring, lagi-lagi ada sebagian dinding gua yang runtuh.

Akhirnya sambil manggut-manggut, Thian Cun yang berkata : "Dugaanku memang benar, tempat ini memang dibangun

menurut system Pat kwa dan Ji gi"

"Apakah aku boleh melalui lubang yang kedua ini?" Tanya oh Kui sam kemudian dengan kening berkerut.

sambil berkata lagi-lagi dia bermaksud menerobos masuk. Cepat- cepat Thian cun yang mencegahnya seraya berseru :

"Tidak boleh, tempat itu merupakan ceng kiong, sama seperti yang pertama, merupakan kawasan berbahaya yang mematikan"

"Huuuh, lagi-lagi kawasan yang mematikan" seru oh Kui sam mendongkol, "Kalau memang sudah tahu tempat tersebut mematikan, apa gunanya dilubangi? Bajingan tua Ui sik kong dan si banci Liong hoa sinkun sudah kabur dari sini, kenapa kita mesti membuang waktu lagi dengan percuma?"

Dengan suara dalam Thian cun yang berkata :

"Akupun dapat membayangkan hal tersebut, tapi kau jangan lupa sekali kita bertindak teledor akibatnya sepanjang masa akan merasa menyesal, bagaimanapun juga aku mesti bertindak lebih berhati- hati, lagipula sekalipun kita lebih cepat pun, kita tak akan bisa menyusul si tua Bangka tersebut."

Tiba-tiba oh Kui sam berpaling kearah Kho Beng danBeng Gi ciu sambil ujarnya : "Apakah kalian berdua tidak mempunyai sesuatu pendapat?" Beng Gi ciu memandang sekejap kearah Kho Beng tanpa menjawab, sedang Kho Beng seegra berkata sambil tertawa :

"Bukankah ada locianpwee berdua disini, tentu saja locianpwee berdualah yang mengambil keputusan buat kami semua."

"Tidak" memberi kesempatan kepada oh Kui sam buka suara, Thian cun yang telah berseru lebih dulu :

"Kalau begitu, biar akulah yang menjadi penunjuk jalan bagi kita semua dengan melakukan pemeriksaan lebih dulu disekeliling tempat ini." setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia berkata lebih jauh :

"Ruangan batu ini merupakan pusat dari seluruh gua pengikat cinta, tapi justru tempat ini pula yang paling aman, agaknya si bajingan tua Ui tidak punya rencana untuk menghadapi kita dengan mempergunakan alat rahasia Karena itu mempersilahkan kita datang kemari."

"Kalau memang pusatnya terletak disini, bukankah berarti seluruh kunci utama yang mengendalikan segala perubahan atas alat rahasia yang berada dalam gua pengikat cinta terletak pula disini?" Tanya Beng Gi ciu. Thian Cun yang segera menggeleng

"itu sih tidak. menurut pendapatku, letak pusat pengendalian alat rahasia berada dalam sebuah ruang lain disebelah kiri, namun pusat pengendalian alat rahaisa mempunyai komposisi yang berbeda satu dengan lain menurut selera pembuatnya, maka walaupun aku memahami system konstruksinya, bukan berari dapat menggunakan pula alat pengendali alat rahasia mereka."

"Aaaah, bicara pulang pergi, bukankah sama halnya dengan kau sudah angkat tangan, menyerah dan tak punya akal lagi?" teriak oh Kui sam penasaran.

sambil tertawa Thian cun yang menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya :

"Itu sih tidak. biarpun aku tak dapat mempergunakan pusat pengendalian alat rahasianya, namun untuk masuk keluar sih tak bakal dapat hambatan, bangunan ditempat ini semuanya terbagi menjadi dua, satu berunsur dingin dan yang lain panas, pihak yang berunsur dingin terdiri dari empat kawasan mematikan, sedangkan pihak yang berunsur panas merupakan kawasan hidup dan aman." Lagi-lagi sebuah pukulan gencar dilontarkan kedepan.

Kali ini dinding batu itu sama sekali tidak roboh, tapi terbukalah sebuah pintu rahasia. oh Kui sam segera bersorak gembira.

"Bagus sekali, kali ini kita boleh memasukinya, bukan?" "Memasukinya sih boleh saja, tapi biar aku saja yang bertindak

sebagai penunjuk jalan."

sambil berkata ia segera berjalan lebih dulu memasuki pintu rahasia tersebut.

secara beruntun semua orang mengikuti dibelakangnya menembusi pintu rahasia tadi.

Dibalik pintu rahasia merupakan sebuah lorong bawah tanah, dikedua belah sampingnya masing-masing terdapat empat buah ruangan dengan perlengkapan yang komplit, tapi ada pula yang kosong tak berisi.

Keempat buah ruangan tersebut segera diperiksa, sehingga dalam waktu singkat semuanya telah selesai diperiksa.

Diujung lorong situ terdapat sebuah persimpangan jalan, Thian cun yang dengan cepat mengebaskan ujung bajunya kesebelah kanan. Lorong sebelah kanan berbentuk setengah lingkaran, pada jarak lima kaki kemudian terdapat lagi sebuah tikungan menuju kekanan, disisi lorong terdiri pula dari empat buah ruangan, bentuk maupun perabotnya tak jauh berbeda seperti ruangan sebelumnya.

Hanya pada empat ruang berikut keadaannya kosong, Cuma pada ruang terakhir terdapat sebuah rak senjata, tapi diatas rak tersebut kecuali sebuah tombak yang telah berkarat, sama sekali tak Nampak senjata taham lainnya. Tak tahan oh Kui sam berseru :

"Tempat ini bagaikan gua yang sama sekali tak berpenghuni, kalau kita mesti melakukan pemeriksaan dengan cara demikian hasil apakah yang akan kita peroleh?"

"aku tak lebih hanya berusaha dengan segala kemampuan untuk melakukan penyelidikan ke setiap tempat yang bisa didatangi di gua pengikat cinta ini, andaikata tak berhasil menemukan sesuatu, yaa apa boleh buat lagi."

sambil berkata kakek dari marga Thian ini melanjutkan kembali perjalanannya kedepan. Beng Gi ciu berpikir sebentar, kemudian selanya :

"Menurut pendapatku, kemungkinan besar mereka sudah mempunyai rencana untuk mengundurkan diri dari sini." Dengan cepat oh Kui sam menggeleng.

"Berada dalam keadaan seperti tadi, dimana bajingan tua Ui sik kong melarikan diri dengan membawa luka dilengan, tak mungkin ia mempunyai rencana yang baik, keponakanku, kali ini dugaanmu tak tepat"

"Aku hanya berbicara mengikuti situasi didala m gua ini," ucap Beng GI Ciu sambil tertawa, "coba lihat semua barang yang penting telah mereka pindahkan semua,kalau bukan direncanakan masa dapat kita temukan dalam keadaan begini?"

"Betul juga perkataan itu," kata Thian Cun yang sambil menganguk, "Situa Bangka Ui Sik kong memang bukan manusia sembarangan, nampaknya dia telah melakukan pelbagai pesiapan, agaknya dia sudah berjaga-jaga bila usahanya kali ini mengalami kegagalan."

Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam kembali tambahnya : "Ia benar-benar merupakan musuh yang tangguh buat kita"

"Empek Thian, selanjutnya kita akan memeriksa kemana?" Tanya Beng Gi ciu kemudian dengan nada menyelidik.

"Tempat didepan situ adalah posisi Kan kiong, kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut," ujar Thian cun yang sambil mendampingi kedepan.

"Tampaknya keadaan ditempat itupun tak akan jauh berbeda dengan tempat disini?"

"Benar Empat kawasan terdiri dari empat tempat yang berbentuk sama, tentu saja keadaan disetiap tempat tak akan jauh berbeda, kalau bukan demikian masa bangunan ini disebut mengandung unsur Pat kwa dan Ji gi?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah memasuki sebuah lorong yang lain.

Tapi dengan cepat ia menghentikan perjalanannya dengan wajah tertegun, oh Kui sam, Beng Gi Ciu-serta Kho Beng sekalipun segera dibuat termangu.

Ternyata dugaan Thian Cun yang telah mengalami perubahan sama sekali diluar dugaan,

sebelumnya dia mengatakan bentuk bangunan dikedua tempat tersebut sama satu dengan lainnya, namun setelah menembusi tempat itu mereka temukan keadaan yang sama sekali berbeda.

Lorong itu Cuma sepanjang berapa kaki dengan ujungnya merupakan sebuah ruangan batu yang luasnya mencapai dua kaki, perabot yang berada disitupun tidak terlalu banyak. setelah sebuah meja besar yang etrletak dibagian tengah, empat buah kursi besar yang terbuat dari kayu cendana terletak diempat sudut, sementara pada empat dinding masing-masing tergantung sebuah lentera minyak. sebaliknya dibawah dinding bagian muka terletak sebuah patung Buddha yang tingginya dua kali manusia dewasa. Kening oh Kui sam berkerut, segera ia menegur : "Cun yang, apa maksud kesemuanya ini?"

Thian Cun yang terbelalak keheranan, gumamnya agak tergagap. "aneh, aneh, sunguh aneh"

"sebetulnya permainan busuk apa sih?" seru oh Kui sam lagi bertambah gelisah, "masa kau tak dapat melihatnya?"

"Jangan ribut, jangan ribut dulu" Thian cun yang mengulapkan tangannya, "keanehaan disini terletak pada patung Buddha tersebut, mengapa disini bisa dilengkapi dengan sebuah patung Buddha?"

"siapa tahu patung tersebut hanya sebuah tipu muslihat bajingan tua Ui yang sengaja hendak mengaburkan perhatian kita" sela Beng Gi ciu.

"Tidak mungkin, sudah pasti bukan begitu maksudnya," kata Thian cun yang sambil menggeleng. Mendadak.

"Hati-hati locianpwee agaknya dari mulut patung Buddha itu menyembur keluar segulung asap berwarna hijau"

Buru-buru semua orang mengalihkan perhatiannya kepatung itu, benar juga, dari mulutnya patung tersebut memang Nampak menyembur keluar segulung asap berwarna hijau.

Tak lama kemudian asap hijau tersebut telah berubah menjadi berwarna kuning bahkan dari telinga, mata serta mulutnya menyembur keluar asap. makin lama semakin tebal dan semakin banyak.

Dengan perasaan gelisah Beng Gi ciu segera berseru : "sudah pasti asap beracun"

Mendadak paras muka Thian cun yang berubah hebat, teriaknya kaget :

"Bukan asap beracun tapi asap belirang, aaah perhitunganku salah besar, tempat ini buka saja diatur dengan unsure Pat kwa dan Ji gi bahkan diantaranya disisipkan juga dengan barisan Jit coat tin yang mematikan." Kemudian dengan suara dalam serunya :

"cepat ikuti diriku untuk mundur dari sini" sambil membalikkan badan cepat-cepat dia mengundurkan diri dari tempat tersebut. oh Kui sam tak berani berayal , menyusul dibelakang Thian Cun yang semua berlarian meninggalkan gua pengikat cinta.

setibanya diluar gua, Thian Cun yang sama sekali tak berhenti namun dengan mengerahkan ginkangnya dia kabur menuju kebelakang lembah.

Hingga tiba didasar lembah Thian Cun yang baru menghentikan larinya sambil menghembuskan napas panjang.

Kemudian menyusul Beng Gi ciu, Kho Beng dan siau wan sekalian, mereka semua pun segera berkumpul dibalik semak. Dengan kening berkerut, oh Kui sam segera berseru :