Kedele Maut Jilid 41

 Jilid 41

"Hamba mengerti"

Liong hoa sinkun segera menyodorkan lencana naga kemala hijau itu ketangannya sambil menambahkan :

"Bawalah serta tanda pengenalku ini, bilamana perlu tunjukkan kepada mereka agar percaya dengan perkataanmu ini."

chee Tay hap menerimanya dan segera disimpan kedalam sakunya dengan hati-hati sekali, katanya kemudian : "Apakah hamba boleh pergi?"

"Boleh, kau boleh pergi sekarang" kata Liong hoa sinkun sambil tertawa.

chee Tay hap segera bangkit berdiri dan menjura dalam-dalam, katanya :

"Semoga majikan muda menjaga diri baik-baik, hamba hendak mohon diri lebih dulu"

Dengan langkah lebar dia segera beranjak meninggaikan tempat tersebut, tak lama kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Mengawasi bayangan punggung chee Tay hap yang menjauh, Ui Sik kong tak dapat menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahak- bahak : "IHaaahh .... haaahh .... haahhh bagus, bagus sekali" Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi : "Mengapa chee Tay hap bisa menganggap diri sinkun sebagai Kho Beng?"

"Disinilah letak keampuhan ilmu -menguasai sukma menggeser pikiran- yang kumiliki, walaupun aku yang berada dihadapannya, namun apa yang terlihat dan apa yang terdengar olehnya justru wajah serta suara Kho Beng. otomatis dia akan menyebutku sebagai majikan mudanya." "Tapi orang yang terkena pengaruh ilmumu itu apakah mempunyai sikap serta keadaan yang berbeda dengan orang lain? Atau mungkin lambat laun pikiran serta kesadarannya akan pulih kembali?" Liong hoa sinkun tertawa :

"seandainya orang yang terkena pengaruh ilmuku adalah Kho Beng dan bukan chee Tay hap. maka kemungkinan besar ilmu ku tak akan mendapatkan hasil yang memuaskan, sebab bagi seorang yang memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan keatas, dia memiliki mental yang sangat tangguh serta susah dipengaruhi, berbeda sekali dengan chee Tay hap. justru manusia sebangsa dialah merupakan sasaran yang paling ideal, mungkin sampai matipun dia tak akan mengetahui secara pasti akan duduk persoalan yang sebenarnya pada malam ini." Ui sik kong kembali bersorak gembira :

"Inilah berkah nasibku yang baik, asal rencana kita berhasil, maka jago-jago lihai dunia persilatan paling tidak akan menderita kehancuran sebesar tujuh puluh persen."

"Tapi Ciangbunjin jangan lupa kita masih mempunyai sebuah rencana yang lain," kata Liong hoa sinkun sambil tertawa.

"Bahwa rencana itu kurasa jauh lebih penting lagi, sebab yang menjadi sasaran pembantaian kita adalah keturunan dari tiga dewa serta Kho Beng kakak beradik"

Paras muka ui Sik kong segera berubah menjadi amat serius, tampak dia menggertak gigi kencang-kencang seraya berseru :

"Rencana kita itu hanya boleh berhasil, tak boleh gagal , hayo

berangkat"

Tampak dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat dan tak lama kemudian lenyap dibalik kegelapan sana.

ooooooo

Awan gelap menyelimuti bukit Cian san, angin barat yang kencang membawa air hujan membuat pemandangan indah disekitar tempat itu tertutup oleh suasana redup, Malam amat pekat, waktu sudah menunjukkan kentongan kedua.

Mendadak muncul tiga sosok bayangan manusia dibela kang lembah puncak bukit Cian san.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu amat sempurna, gerak-gerik mereka enteng dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun. Begitu memasuki lembah bukit, dengan cepat mereka menyelinap kebalik batuan-batuan besar.

Ketiga orang tersebut memang tak lain adalah Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan.

saat itu mereka bertiga sama-sama mengenakan jas hujan, namun di bawah rintikan air hujan keadaan mereka nampak agak mengenaskan.

Kho Beng nampak mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, meski tidak kelihatan rembulan dan bintang, namun ia dapat menduga kalau kentongan kedua telah lewat. Maka dengan kening berkerut, segera katanya kepada Beng Gi ciu :

"sayang waktu itu kita tak sempat berjanji dengan Thian dan oh locianpwee akan bertemu dibagian yang mana dari lembah ini, padahal coba kau lihat, lembah ini sangat luas, apalagi ditengah malam yang hujan, bagaimana mungkin kita dapat saling berhubungan?" 

" Kau tak perlu risau." hibur Beng Gi ciu sambil tertawa, "sekalipun tempat ini sangat luas, mereka pasti mempunyai cara

untuk menemukan jejak kita, kau tahu kepandaian yang dimiliki kedua orang tua tersebut sangat luar biasa sekali"

Kho Beng tertawa getir.

"sekarang kentongan kedua sudah lewat, padahal janji mereka adalah sebelum kentongan kedua, bukankah ,"

"Dalam hal ini tak dapat salahkan mereka," sela Beng Gi ciu cepat.

"Tapi kitapun tak bisa disalahkan, mereka tak mengira kalau kita akan meninggaikan mereka dengan begitu saja, sedang kita pun tak menyangka kalau gara-gara tersesat dijalan akhirnya bertemu dengan chee Tay hap"

"Maksud adik Ciu, mungkinkah kedatangan mereka berdua pun agak terlambat?" tanya Kho Beng.

"Yaa, sudah pasti hal ini akan terjadi."

sesudah tertawa cekikikan, kembali dia melanjutkan : "Empek oh adalah seorang yang getol minum arak, meskipun

empek Thian selalu bilang kalau minum tak boleh melewati takaran, namun ia tak pernah mau menuruti nasehat. Aku rasa mereka pasti tak akan menyangka kita bakal meloloskan diri dari pengamatannya,

sedang mereka pun merasa yakin kita tak akan lolos dari pandangannya. Maka empek oh tentu akan membujuk empek Thian agar minum berapa cawan arak lebih banyak. atas kejadian ini maka paling tidak mereka akan minum selama dua jam lebih. Menanti mereka menyadari kalau keadaan tak beres, sudah pasti empek berdua akan mencari kita dimana-mana, akibatnya paling tidak mereka harus membuang waktu selama satu jam lagi. Nah, coba kau hitung sendiri, apakah mereka tak bakal datang terlambat?"

"Aku rasa perbuatan kita agak kelewat batas, paling tidak tentu akan dimarahi oleh mereka berdua." kata Kho Beng dengan kening berkerut kencang. Beng Gi ciu segera tertawa.

"siapa suruh mereka permainkan kita terlebih dahulu, kenapa harus takut?"

sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak dari kejauhan situ nampak bayangan manusia berkelebat lewat. Buru- buru Beng Gi ciu berbisik :

"Itu mereka sudah datang, mari kita mempermainkan mereka sekali lagi." Tapi dengan cepat Kho Beng menarik tangan Beng Gi ciu sambil berbisik lirih. "Jangan bertindak gegabah, aku lihat gelagat sedikit kurang beres."

Beng Gi ciu segera dibuat tertegun pula, ternyata yang datang hanya seorang, walaupun berada dalam hujan gerimis dan kabut yang tebal namun dapat terlihat bahwa orang tersebut bukan Thian Cun yang ataupun oh Kui sam. Dengan suara lirih Kho Beng berbisik

:

"orang itu bukan Thian atau oh locianpwee, biasanya hanya orang dari partai kupu-kupu yang akan berkeliaran dibelakang lembah bukit Cian san." Beng Gi ciu mengangguk membenarkan.

"Yaa, hal ini tak mungkin diragukan lagi, perlukah kita bekuk dirinya?" Kho Beng berpikir sebentar, lalu berkata :

" Lebih baik adik Ciu menunggu disini saja, biar aku yang pergi membekuknya." Beng Gi ciu segera mengangguk.

Dengan cepat Kho Beng melompat keluar dari tempat persembunyiannya, bagaikan sukma gentayangan secara diam-diam dan tanpa menimbulkan sedikit suara pun dia mendekati orang tersebut.

selisih jarak kedua belah pihak cuma beberapa kaki, maka dalar^ sekali lompatan saja Kho Beng telah mencapai belakang tubuhnya, dengan cepat telapak tangan kanannya menyambar kedepan dan langsung mencengkeram bahunya. Walaupun orang itu bersikap seakan-akan tidak menyadari akan kehadiran Kho Beng dibelakang tubuhnya, namun dikala kelima jari tangan Kho Beng hampir menyentuh bahunya tiba-tiba saja dia menjatuhkan diri berguling kesamping.

Tindakan lawan ini sama sekali diluar dugaan Kho Beng, sebab ketenangan orang tersebut dalam menghadapi ancaman betul-betul luar biasa.

sementara dia masih tertegun, orang itu sudah mengayunkan tangannya kedepan, dua genggam senjata rahasia dengan ilmu - Hujan bunga memenuhi langit- segera dilontarkan kearahnya.

Dua genggam senjata rahasia berarti jumlahnya mencapai lima, enam puluh batang, bukan saja bentuknya lembut seperti jarum bahkan kawasan yang berada dibawah lingkungan ancaman senjata rahasia pun mencapai dua kaki persegi.

Dalam jarak serangan sedemikian dekatnya, ini betul-betul merupakan suatu ancaman yang sukar dihindari.

Didalam terperanjatnya buru-buru Kho Beng mengerahkan hawa kh lekangnya untuk melindungi badan, bersamaan waktunya dia mendorong sepasang telapak tangannya kedepan. "Triiiing .....

traaaanggg ..... triiingg traaanggg"

senjata rahasia tersebut jatuh berguguran keatas tanah dengan menimbulkan suara dentingan nyaring. Bersamaan itu pula .....

"Blaaaammm "

orang itupun termakan oleh tenaga dorongan Kho Beng hingga roboh terjungkal keatas tanah.

Waktu itu Kho Beng sudah bermandi keringat dingin saking terkejutnya, untung sekali tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan yang amat sempurna, walaupun dia telah menghimpun hawa khiekangnya secara terburu-buru namun kekuatan yang terhimpun sudah cukup untuk membendung serangan dari luar.

Biarpun demikian tak urung ujung bajunya tertancap pula oleh dua batang senjata rahasia, sewaktu diambil dan dilihat ternyata bentuknya tak jauh berbeda sekali dengan jarum pohon siong, hanya saja ujungnya yang tajam berwarna biru, hal ini membuktikan bahwa senjata rahasia tersebut telah dipolesi dengan racun jahat.

Dengan gemas Kho Beng membanting senjata rahasia itu keatas tanah, kemudian serunya dengan penuh amarah :

"Benar-benar seorang bajingan tengik yang licik dan berhati amat keji" sementara itu Beng Gi ciu serta siau wan telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya, dengan penuh rasa cemas dan gelisah Beng Gi ciu berseru : "Engkoh Beng, kau tidak apa-apa, bukan?"

"Hmmm, permainan busuk semacam ini belum akan bisa berbuat banyak terhadapku." jawab Kho Beng sambil tersenyum.

sementara itu orang tadi sudah terkapar diatas tanah dengan menderita luka dalam yang cukup parah, tenaga getaran yang terpancar dari balik tangan Kho Beng benar-benar amat tangguh.

Kini orang tersebut berbaring diatas tanah dan tak sanggup merangkak bangun kembali.

Kho Beng segera maju mendekatinya sambil menendang tubuhnya hingga terbalik, namun setelah mengamati wajahnya dengan seksama, seketika pemuda kita dibuat tertegun.

Rupanya orang itu tak lain adalah komandan sin, orang yang pernah mengawal Kho Beng dari kota Tong sin menuju kekebun Kiok wan. sambil tertawa dingin, pemuda kita segera mengejek.

"oooh rupanya si pedang geledek sakti sin Cu beng yang termashur dalam dunia persilatan dan sekarang menjadi pelayan kaum iblis, kenapa dalam kenyataannya kemampuanmu tak mampu menahan sebuah gempuranpun?"

sin cu beng memaksakan diri untuk menghembuskan napas panjang, lalu dengan sedikit terengah katanya :

"Benar-benar lain dulu lain sekarang, jangan kau anggap kepandaianku yang tak becus, melainkan ilmu silat andalah yang telah mengalami kemajuan yang sangat pesat." Kho Beng mendengus dingin.

"Hmmm, persoalan ini lebih baik tak usah disinggung kembali, aku hanya pingin bertanya kepadamu kenapa kau berniat mencelakai jiwaku dengan cara yang begitu keji?"

sin Cu beng berpikir sebentar, kemudian menjawab :

"Bila dua pasukan saling bertarung, masing-masing pihak berhak menggunakan cara apapun untuk mengalahkan musuhnya, bila menggempurmu tadi berhasil dengan sukses dan aku dapat membunuh kau, bukankah dihadapan siancu serta ciangbunjin aku bisa menunaikan sebuah pahala besar?"

"Tapi kau tentunya sudah membayangkan bukan, apa akibatnya bila gagal total?"

"Anggap saja memang nasibku yang jelek." "Hmmm, bajingan tengik," umpat Kho Beng dengan marah. "Tampaknya kau tak akan sadar sampai mati, mengapa sih kau

bersikeras menjadi pembantu kaum iblis dan enggan menyesal?" sin Cu beng menghela napas panjang.

"Aaaai, aku tak ingin memberi banyak penjelasan, bagaimanapun juga aku toh sudah kau tawan, berarti selembar nyawaku telah menjadi milikmu, biar mau dibunuh ataupun dicincang, aku sin Cu beng tak bakal berkerut kening."

"Ehmmm, kau memang tak malu menjadi seorang lelaki sejati, sayang kau telah salah memilih majikan"

Kemudian setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan :

"aku tidak berniat menghabisi nyawamu secara sungguhan, asal kau bersedia memberi keterangan tentang beberapa persoalan kepadaku, akan kubebaskan komandan sin untuk pergi sekehendak hatimu"

sambil tertawa getir, sin Cu beng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Jangan lagi aku sin Cu beng telah menderita luka, sekalipun belum terluka pun aku orang she sin tak ada rencana untuk melarikan diri"

Berbicara sampai disitu, dia segera mengayunkan tangannya dan dihantamkan keatas ubun-ubun sendiri

Tapi Kho Beng bertindak lebih cepat, dua desingan angin tajam berkelebat lewat, tahu-tahu jalan darah ciang keng hiat dibahu kiri kanan sin cu beng telah tertotok secara telak. akibatnya sepasang lengan itu menjadi lumpuh dan tak berguna lagi. Mendadak Beng Gi ciu bertanya :

"Apakah aku mempunyai niat untuk mengorek keterangan dari mulutnya?" Dengan suara dalam sahut Kho Beng :

"Biarpun kedudukan dia ini didalam partai kupu-kupu tidak terlalu tinggi, namun banyak masalah tak dapat mengelabui dirinya, padahal sebentar lagi kita akan memasuki daerah berbahaya, tentu saja paling baik kalau bisa mengorek keterangan dari mulutnya."

"Kalau memang begitu hanya ada satu cara, yaitu menyiksanya dengan kekerasan, aku percaya asal manusia masih terdiri dari darah dan daging tak nanti dia tak akan berbicara."

Baru saja Kho Beng hendak menjawab, mendadak terdengar lagi suara ujung baju yang terhembus angin berkumandang datang. Beng Gi ciu pun mendengar juga suara desingan tersebut karena suara tadi berasal dari berapa kaki dibelakang mereka berdua, sekalipun berada ditengah hujan gerimis, namun suara tersebut masih tetap terdengar dengan jelas sekali.

Dengan suatu gerakan cepat Kho Beng menotok lima buah jalan darah penting ditubuh sin cu beng sehingga membuat lawannya tergeletak bagaikan sesosok mayat kaku, kemudian mereka berdua bersama siau wan menyembunyikan diri kebalik batu besar. Tak lama kemudian Terdengar suara langkah yang amatpelan bergema datang, lalu terlihat ada dua sosok bayangan manusia melayang turun ditempat tersebut.

Ketika Kho Beng mencoba untuk mengintip dari balik kegelapan, tersiraplah darah panas dalam dadanya, hawa amarahnya segera berkobar-kobar dan serasa mau meledak.

Ternyata orang yang baru datang adalah Cun hong Lengcu Jin cun serta Hoa im Lengcu Li sian soat.

Mereka berdua tidak disertai dayang-dayangnya, gerak gerikpun amat lincah. sementara itu terdengar Cun hong Lengcu berkata : "Adikku, mungkin telingamu ada penyakit?"

"Toaci, apabila perhatianmu tidak terpencar sama sekali, sudah pasti akan kau dengar bahwa dari sini ada orang sedang bercakap- cakap." sahut Li sian soat dengan suara dalam.

"Hmmm, siapa bilang pikiranku terpencar?" dengus Cun hong Lengcu Jin cun sambil mendengus,

"Kau anggap saat ini adalah saat apa? Mana mungkin aku masih berkesempatan untuk memikirkan persoalan yang lain."

"Tapi , barusan aku benar-benar tidak mendengar suara apa saja."

Biarpun berkata demikian, namun tangannya meraba gagang pedangnya serta mencabutnya keluar dari sarung. Li sian soat sebera tertawa dingin.

"Hmmmm, tapi jelas kudengar ada orang sedang berbincang- bincang."

"Kalau begitu mati kita lakukan penggeledahan, bilamana perlu kita lepaskan tanda bahaya."

Mendadak Li sian soat berseru dengan suara dalam :

"Toaci, cepat lihat bukankah dia dia adalah komandan sin?" Ternyata telah menemukan tubuh sin cu beng yang tergeletak kaku diatas tanah. "Waaah celaka dia sudah mati" jerit Cun hong Lengcu setengah kaget. "Aku ,"

" Cepat kita periksa" tukas Li sian soat, "Siapa tahu ,"

sembari berbicara, mereka berdua segera meluruk kedepan dan mendekati sin cu beng. setelah diperiksa berapa saat, Li sian soat berseru :

"Dia belum mati, hanya menderita sedikit luka, agaknya sudah tertotok jalan darahnya oleh seseorang."

Cun hong Lengcu segera menghembuskan napas panjang, katanya kemudian :

"Terima kasih langit, terima kasih bumi, cepat diperiksa jalan darah apa saja yang tertotok. kemudian cepat bebaskan."

Namun sebelum perkataan itu selesai diutarakan, mendadak terdengar seseorang menyambung nada dingin :

"Lengcu berdua tak usah repot-repot, aku Kho Beng telah menjaga keselamatannya"

"Haaahh?"

Kedua orang Lengcu itu bersama-sama menjerit kaget lalu secepat kilat membalikkan badannya.

Tentu saja bayangan tubuh Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan segera muncul dihadapan mata kedua orang Lengcu tersebut, seketika itu juga paras muka kedua orang itu berubah hebat, tubunya ikut gemetar keras. sambil tertawa dingin, Kho Beng berkata lebih jauh :

"Malam ini sungguh kebetulan sekali, tak disangka aku bakal bersua dengan Lengcu berdua."

Cun hong Lengcu mengedipkan matanya berulang kali, tiba-tiba katanya pula sambil tersenyum,

"Kho kongcu, kami sendiripun tak menyangka kalau malam ini begini kebetulan. Tempo hari aku Cun hong Lengcu toh cukup baik melayanimu, mengapa kau bersikeras hendak meninggalkan kami?"

sebaliknya paras muka Li sian soat telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, mulutnya bungkam dalam seribu bahasa.

Kho Beng hanya tertawa dingin tanpa menjawab, pikirnya : "Siluman perempuan ini benar-benar tak tahu malu, entah apa

lagi yang hendak diucapkan olehnya?"

Tiba-tiba Cun hong Lengcu maju tiga langkah kedepan dengan langkah lemah gemulai, kembali katanya sambil tersenyum : "Kho kongcu, aku harus menyampaikan selamat kepadamu, kudengar ilmu silatmu telah mencapai tingkatan yang sempurna hingga ciangbunjin sucouw kami pun hampir bukan tandinganmu lagi"

"Hmmm, tajam benar pendengaranmu" dengus Kho Beng sinis. Cun hong Lengcu segera mengalihkan sorot matanya kewajah

Beng Gi ciu berdua, lalu tanyanya lagi. "Siapa sih kedua orang nona ini?"

Beng Gi ciu mendengus dingin, cepat dia melengos kearah lain.

Kho Beng segera berpikir sebentar, lalu katanya : "Memberitahukan kepadamu juga tak ada salahnya, dia adalah

keturunan keempat dari Kim ka sian, pemimpin tiga dewa, nona Beng beserta dayangnya siau wan." Buru-buru Cun hong memberi hormat.

"ooooh, sudah lama kudengar akan nama besarmu, beruntung sekali kami kakak beradik dua orang dapat bersua dengan keturunan tokoh termashur pada malam ini, nona Beng ilmu silatmu tentu amat tangguh dan terhitung jagoan lihai dari dunia persilatan?" Kho Beng tertawa dingin.

"Yang lain tak usah disinggung, cukup dengan mengandalkan ilmu jari Tong Kim cinya, biarpun kalian sudah kabur sejauh lima puluh kaki, ia masih mampu menciptakan berapa buah lubang luka ditubuh kalian."

Pucat pias paras muka Cun hong lengcu setelah mendengar perkataan itu, tapi kembali katanya sambil tertawa merdu.

"Padahal diantara kita tak pernah mempunyai ganjalan apapun, meski gara-gara kitab pusaka Thian goan bu boh kami pernah berurusa dengan mu, hal itupun hanya dikarenakan perintah dari suhu dan sucowku, jadi sesungguhnya diantara kita sendiri tak pernah ada dendam apapun."

Kemudian setelah berhenti sejenak. kembali ia berkata : "Lagipula kitab pusaka Thian goan bu boh sudah terjatuh

ketangan Kho kongcu dan suhu kami gagal untuk mendapatkannya kembali."

"Tak usah banyak bicara lagi, aku ingin menanyakan dua persoalan pokok kepada kalian berdua," tukas Kho Beng dengan suara dalam. "Aaaah mana, mana, silahkan Kho kongcu mengajukan pertanyaan, asal kami berdua mengetahuinya, tentu akan kami terangkan dengan sejelas-jelasnya."

"Asal kalian bersedia mengadakan kerja sama denganku, aku Kho Beng pun tak bakal mencabut nyawa kalian berdua."

"Bila aku benar-benar sampai berhianat pada perguruan sudah pasti aku akan berbakti kepada Kho kongcu," kata Cun hong lengcu sambil tertawa genit.

"Hmmm, dimanakah ciciku sekarang?"

"Ia berada diruang siksa dalam gua pengikat cinta, bahkan kedua orang dayangnya Bwee hiang dan sin hong pun berada disana, Kho kongcu mengenai persoalan cicimu itu, kami merasa amat menyesal tapi sesungguhnya persoalan ini bukan ide kami sendiri tapi atas perintah dari guru kami, jadi kami cuma melaksanakan perintah, Kho kongcu kau tak boleh marah kepada kami."

sambil menggigit bibir Kho Beng bertanya lagi : "Siapa saja yang menjaga ruang siksa itu?"

"Tak ada yang khusus menjaga ruangan itu," sahut Cun hong lengcu tertawa,

"Asal Kho kongcu dapat menerobos masuk kedalam gua pengikat cinta dan mengalahkan suhu serta sucouw, sudah pasti cicimu dapat ditolong keluar."

"Apa yang sedang dilakukan Ui sik kong sekarang?"

"sucouw masih merawat lukanya didalam gua, malah kudengar luka itu merupakan hasil karya Kho kongcu"

Dengan nada setengah percaya setengah tidak. Kho Beng bertanya lebih jauh : " Lantas kalian hendak kemana sekarang?" Cun hong lengcu tertawa terkekeh-kekeh:

"Kami hanya mendapat perintah untuk melakukan perondaan, padahal tiada persoalan apapun, hanya saja kami tak mengira kalau Kho kongcu bakal muncul disini." Tiba-tiba Beng Gi ciu menimbrung.

"Engkoh Beng, menurut pendapatku lebih baik tak usah ditanya lagi."

"Kenapa?"

"Masa kau percaya dengan perkataannya?" tanya si nona sambil tertawa.

"Aku memang rada curiga" "Sewaktu berbicara biji mata mereka berkeliaran liar, kata- katanya semau hati sendiri, aku lihat ia sama sekali tak berbicara secara jujur."

Buru-buru Cun hong lengcu berseru kepada Li sian soat yang selama ini hanya membungkam :

"Ji moa y, cepat kau perlihatkan lencana untuk mengontrol bukit, asal kita dapat membuktikan bahwa lencana tersebut asli, aku rasa persoalan yang lain pun mereka akan percaya dengan sendirinya." Kho Beng mendengus.

"Hmmm, aku sama sekali tak pingin memeriksa tanda lencana apa segala."

sementara dia masih berbicara tiba-tiba tampak Li sian soat mengayunkan tangannya.

Benar juga ditangannya memang menggenggam sebuah benda dia seperti hendak melemparkan benda itu kearah Kho Beng, padahal dalam kenyataannya hendak dilemparkan ketengah udara.

Beng Gi ciu mendengus dingin, mendadak dia melancarkan sebuah serangan dengan jari tangannya.

serangan tersebut tak lain adalah serangan Tong kim ci ilmu andalan Kim ka sian, bukan saja desingan angin serangannya amat dahsyat dan lihai, lagipula kecepatan serta ketepatannya sangat mengagumkan.

Tiba-tiba terdengar jerit mengaduh yang amat memilukan hati, Li sian soat yang semula bersikap gagah, kini sudah terbungkuk sambil memegangi pergelangan tangan sendiri.

Ternyata serangan yang dilancarkan Beng Gi ciu saat tadi dilepaskan tanpa belas kasihan, desingan serangan jari tangan itu seketika menembusi pergelangan tangan kanannya, sementara sebatang panah berlubang tujuh terjatuh dihadapannya. sambil tertawa dingin, Beng Gi ciu segera menjengek : "Inikah lencana untuk mengontrol bukit?"

Berubah hebat paras muka Cun hong lengcu, tiba-tiba dia melepaskan dua serangan berantai sambil serunya : "Cepat mundur"

Tanpa memperdulikan lagi rasa sakit pada pergelangan tangan kanannya, Li sian soat melompat bangun lalu melarikan diri menyusul dibelakang Cun hong lengcu.

"Hmmm, mau kabur kemana?"jengek Kho Beng dingin. Dengan sekali lompatan ia segera menyusul kedepan. Tapi sebelum sampai kabur sejauh dua puluh kaki, mendadak terdengar cun hong lengcu dan Li sian soat telah berteriak kaget menyusul roboh terjengkang keatas tanah. suara gelak tertawa yang keras pun berkumandang memecahkan keheningan.

Mula-mula Kho Beng agak tertegun, namun setelah diperlihatkan lagi, segera dikenalinya orang yang baru datang ternyata tak lain adalal Thian cun yang serta oh Kui sam, sedangkan cun hong Lengcu Jin cun dan Li sian soat sudah terkapar diatas tanah dalam keadaan tertotok jalan darahnya. Buru-buru Kho Beng memberi hormat sambil menyapa.

"cianpwee berdua "

Dengan penuh amarah dan mendongkol oh Kui sam berkaok- kaok.

"Selama hidup belum pernah kami berdua jatuh dipecundangi orang, tak disangka akhirnya kami dipecundangi juga oleh kalian."

"sudah, sudahlah" tukas Thian cun yang sambil tertawa, "Sekarang bukan waktunya untuk menghumbar nafsu kerbau, lebih baik masalah pokok dulu yang dibicarakan." Kemudian kepada Kho Beng, katanya lagi : "Ada tiga orang sobat yang hendak mencarimu."

"Siapakah mereka?" tanya Kho Beng agak tertegun.

"Aku dengar mereka adalah sahabat karibmu, mungkin kau tak akan pernah melupakan mereka."

sambil berkata ia segera menggapai kebelakang, sambil berseru : " Kalian bertiga boleh keluar dari situ"

Diliputi perasaan tak habis mengerti, Kho Beng menengok kedepan, tapi setelah mengetahui siapa yang datang, ia menjadi kegirangan setengah mati, rupanya ketiga orang yang dimaksud adalah Kim bersaudara. Dengan cepat Kim lotoa menjura seraya menyapa : "Kho sauhiap. kau membuat kami rindu setengah mati"

"sebetulnya siaute sendiripun mempunyai rencana untuk mengunjungi lembah hati buddha tak lama lagi," kata Kho Beng.

"sungguh tak disangka banyak masalah yang mendadak muncul didepan mata akibatnya."

Kim loji turut maju kedepan dan berseru sambil memberi hormat. "Kami dengar Kho sauhiap telah mendapat jodoh, apakah "

Berbicara sampai disitu, sorot matanya segera dialihkan kewajah Beng Gl Ciu

Kontan saja paras muka Beng Gl Ciu berubah merah jengah, pelan-pelan ia menundukkan kepalanya rendah-rendah. "Adik ciu, cepat menjumpai Kim bersaudara," bisik Kho Beng kemudian agak tergagap. Terpaksa Beng Gi Ciu memberi hormat sambil berbisik : "Menjumpai tayhiap bertiga"

Buru-buru tiga bersaudara Kim membalas hormat, setelah mengucapkan basa-basi, akhirnya Kho Beng pun bertanya.

"Mengapa kalian bertiga tidak mengikuti para jago yang lain pergi ke Siau lim si?" Kim lotoa menjawab :

"Orang yang paling kukagumi adalah Kho sauhiap sekalipun kami sadar bahwa kepandaian silat yang kami miliki sangat rendah dan tak cukup untuk membantu sauhiap. namun dalam situasi kritis dan gawat seperti ini, rasanya kami tak akan tentram kalau tak dapat membaktikan diri kepadamu." Kho Beng merasa sangat terharu, serunya cepat :

"Kesetiaan dan kerelaan saudara sekalian untuk membantuku dalam perjuangan benar-benar mengharukan hatiku, sampai mati pun aku tak akan melupakan kebaikan kalian." Buru-buru Kim lotoa berkata :

"Kho sauhiap. yang penting sekarang adalah menyelesaikan persoalan pokok lebih dahulu, kami akan mendampingi anda dimana saja."

"Kalau memang kita sebagai sesama saudara, harap kalian bertiga jangan bersikap begitu sungkan."

Namun Kim bersaudara tetap mundur tiga langkah dengan sikap yang menghormat sekali. sampai disini oh Kui sam segera berkata :

"sudah hampir mendekati kentongan ketiga, kita harus menyelesaikan urusan pokok lebih dulu."

Kemudian sambil berpaling kearah Kho Beng, tanyanya : "siapakah kedua orang wanita ini? Apakah kau kenal?" Buru-buru Kho Beng menjawab :

"Mereka adalah kedua orang murid Dewi In un, orang menyebutnya sebagai dua diantara empat lengcu."

"Bagus sekali, kita memang membutuhkan keterangan dari mereka," seru oh Kui sam girang.

"Barusan boanpweepun berhasil membekuk seorang lagi dia adalah seorang komandan dari pasukan Dewi In Un."

"Makin banyak makin bermanfaat, semuanya kita bekuk saja" seru oh Kui sam sambil tertawa.

Beng Gi ciu sebera menimbrung. "Didekat tempat ini keponakan mempunyai sebuah gua yang tersembunyi sekali letaknya,

mari kita berbincang-bincang disana saja." "Bagus sekali, ayoh kita berangkat sekarang saja"

Maka Kim leji dan Kim losam membopong tubuh Jin cun serta Li sian soat, sedangkan Kim lotoa membopong sin Cu beng, mereka bersama-sama berangkat menuju kegua yang dimaksud.

Gua itu lebar lagipula kering, dibandingkan dengan tempat diluar yang dingin dan basah oleh air hujan, tempat ini terasa jauh lebih hangat dan nyaman.

Thian Cun yang dan oh Kui sam segera menjatuhkan diri duduk dilantai, kemudian dengan wajah serius , berkata :

"PErsoalan yang harus kita tanyakan sekarang hanya satu, yaitu apakah Ui sik kong masih berada didalam gua pengikat cinta?" Dengan kening berkerut Kho Beng menyela :

"Cianpwee apalah gunanya hanya menanyakan satu persoalan saja?"

"Biarpun gunanya tidak terlalu besar, paling tidak kita bisa membuktikan dua hal. PErtama, ui sik kong belum mengincar siau lim si dan kekuatan intinya masih berada dibukit Ciansan. Kedua, ia telah membuat persiapan dengan tujuan hendak menumpas kita dahulu."

"seandainya ui sik kong tidak berada dibukit Cian san?" tanya Kho Beng setelah berpikir sebentar.

Dengan suara dalam dan berat Thian Cun yang menjawab : "Keadaan tersebut merupakan suatu berita yang tragis, bila ui sik

kong tak ada disini, hal mana berarti dia telah memindahkan kekuatan intinya dari sini dan sasaran yang paling besar kemungkinannya tentu saja para jago yang berkumpul di siau lim si, bila kita datang terlambat selangkah saja, mungkin pembantaian berdarah tak mungkin bisa dihindari lagi."

Kho Beng berpikir sebentar, lalu katanya lagi :

"seandainya Uisik kong berada dibukit Ciansanpun, aku rasa tempat ini pasti telah dilengkapi dengan pelbagai jebakan dan terdapat ancaman dari pelbagai penjuru."

"satu yang lurus membasmi seratus yang jahat, apa yang mesti kita takuti?" sambung oh Kui sam.

Thian cun yang segera berseru. " Cepat kalian tanyakan soal ini kepada mereka." Dengan cepat tiga bersaudara Kim berkata :

" Untuk urusan sekecil ini, kami bertiga bersedia untuk melaksanakannya."

Maka Kim lotoa segera mendekati Cun hong Lengcu Jin cun dan menegurnya keras-keras. "Apakah Ui sik kong berada dibukit Cian san?"

"Yaa, dia berada dalam gua pengikat cinta" sahut Jin cun dengan suara lantang.

Jawaban ini kontan saja membuat Kim lotoa berdiri tertegun, tanpa terasa dia mengalihkan pandangannya kewajah Thian Cun yang dan oh Kui sam sambil menunggu perintah berikutnya. sambil tertawa hambar, Thian cun yang berkata :

"Perkataan ini mungkin saja benar, tapi mungkin juga tidak benar."

"Apakah loya cu tak percaya?" kata Jin cun cepat, "Kalau begitu mah susah jadinya."

"Masalahnya sekarang bukan percaya atau tidak. tapi harus mencari buktinya."

"Loya cu menginginkan bukti dalam bentuk apa?"

"Ditengah malam buta begini, kalian berdua hendak kemana?" " Kami sedang melakukan perondaan, jawaban kami jujur dan

tidak berniat menipu."

Thian cun yang sebera mendengus :

"Bila Ui sik kong berada dibukit cian san, tak ada gunanya ia menyuruh kalian merondai gunung ini, sebab dia pasti mengerti dengan jelas, bila kami dua orang tua berniat, dironda atau tidak toh sama sekali tidak ada faedahnya." Kemudian setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam lanjutnya :

"Kim Lotoa, menurut kalian dengan cara apakah kita baru bisa memperoleh keterangan yang bisa dipercaya?"

"Paling baik kalau menggunakan jalan siksaan." sahut Kim Lotoa cepat-cepat. Thian cun yang segera bertepuk tangan seraya berseru

:

"Baiklah, terserah cara apapun kau pergunakan, bagi kami yang penting adalah jawab yang benar."

"Boanpwee turut perintah"

Dengan cepat dia mencabut keluar sebilah pisau belati dari pinggangnya, lalu bentaknya kepada Cun hoa lengcu : " Hari ini aku sudah tidak tertarik kepadamu, biar kucari keterangan dari mulutmu saja, nah pilihan sendiri, kau hendak mengaku secara jujur atau menunggu sampai lupa dirimu membuka suara?"

"Aku toh sudah menjawab, jawabanku jujur semuanya." jerit Jin cun keras-keras.

"Hmmm, sekalipun kau dapat mengelabui Thian dan oh locianpwee, katakan dulu sekarang kalian berdua serta sin cu beng hendak kemana?" Cun hong lengcu menghela napas panjang.

"Kami benar-benar sedang mengadakan perondaan kau menyuruh aku menjawab apa?" Kim Lotoa segera tertawa dingin.

"Baiklah, mungkin kau sendiri tahu apa yang seharusnya dijawab"

Mendadak pisau belatinya ditusukkan keatas pinggul perempuan tersebut, tusukannya keras dan tak mengenal belas kasihan.

Jerit kesakitan yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan, saking sakitnya hampir saja Jin cun roboh tak sadarkan diri

Kalau tadi pergelangan tangan kanan Li Sian soat yang berlubang hingga darah bercucuran deras, maka sekarang pinggul Jin cunlah yang menderita pendarahan hebat. sambil menahan sakit yang luar biasa, Cun hong lengcu berteriak keras : "Kim Kim tayhiap.

mengapa kau harus turun tangan sekeji ini kepadaku?" sambil tertawa dingin, Kim Lotoa berkata :

"Asal kau bersedia mengaku sejujurnya, tentu saja siksaan badan tak bakal dihindari." Kemudian sambil berpaling kearah Li sian soat, tegurnya : "Bagaimana dengan kau?"

sambil berkata, ia menangkap tangan kanan Li sian soat yang terluka sambil mempersiapkan pisau belatinya yang siap akan ditusukkan kembali keatas bekas luka tersebut.

Dengan ketakutan Li sian soat menjerit : "Taci, aku "

"Kita toh sudah menjawab dengan sejujurnya, bila mereka nekat tak mau percaya, kitapun tak bisa apa-apa." seru Jin cun keras- keras.

"Jimoay lebih baik kita mati saja, akupun sudah tak mampu menahan diri lagi." Kim Lotoa sebera mendengus dingin :

"sayang sekali, biar ingin mampus pun kalian tak bakal mampus semudah ini" Pisau belatinya segera ditusukkan keatas bekas luka pada pergelangan tangan kanan Li sian soat, kemudian pisaunya diputar- putar dalam bekas luka tersebut.

Li sian soat menjerit-jerit histeris begitu tersiksanya dia hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri

sementara itu Kim loji telah siap dengan kantung airnya, begitu melihat Li sian soat jatuh pingsan, ia segera mengguyurkan air dingin itu keatas kepalanya sehingga Hee im lengcu ini tersadar kembali dari pingsannya. Dh wajah pucat pias seperti meyat, dia berteriak kembali :

"Bila kalian adalah orang-orang gagah, lelaki sejati, mengapa tidak langsung pergi mencari sucouw atau suhuku? Buat apa kalian menyiksa perempuan lemah."

Kho Beng seperti tertawa : "Biarpun kalian adalah perempuan" ujarnya. "Tapi dibawah bimbingan serta pendidikan dari gurumu, tentu banyak kepandaian jahat yang pernah dipelajari, banyak pula kejahatan yang telah kalian perbuat, oleh sebab itu sedikit penderitaan yang diberikan kepada kalian sekarang, sesungguhnya belum terhitung seberapa."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh. "Disamping itu kamipun pasti akan pergi mencari sucouwmu ,

tapi bajingan tua itu terlalu licik dan banyak akal bulusnya, maka itu sebelum pergi mencarinya, kami harus mengetahui data-datanya dulu secara lengkap."

Melihat kedua orang gadis itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, Kim Lotoa kembali membentak kepada Jin cun :

"Tampaknya luka tusukanmu tadi tidak terlalu menyakitkan dirimu?" Buru-buru Jin cun berteriak mengaduh sambil serunya : "sakit, sakit sekali, aku hampir mampus saking sakitnya." Kim Lotoa segera tertawa, katanya :

"Padahal apa yang kulakukan barusan baru merupakan suatu peringatan, perbuatan Kim toaya yang lebih lihay segera akan menyusul datang."

sembari berkata dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya dan menuang sedikit bubuk bewarna merah diujung pisau belatinya yang tajam.

Melihat kejadian ini, cun hong lengcu segera berteriak dengan nada kaget bercampur ketakutan.

"Apa...apa yang hendak kau perbuat?" Kim lotoa tertawa dingin,

"ooooh, bubuk itu hanya bubuk merica biasa saja, tapi yang unik adalah bila dipoleskan disekitar mulut luka, maka dia akan memberikan penderitaan serta siksaan yang paling besar bagi orang itu."

Kemudian dengan suara dalam bentaknya :

"Sekarang aku akan membuktikan dari tubuhmu"

"Jangan, jangan, jangan kau bersikap begitu kejam kepadaku," jerit Cun hong lengcu sambil menggigit bibirnya.

"Bersedia tidak berbicara sejujurnya?" jengek Kim lotoa sambil tertawa dingin. Cun hong lengcu sebera menganguk berulang kali.

"Bersedia, bersedia, perkataan apapun pasti akan kujawab dengan sejujurnya."

"Nah, katakan sekarang, kalian hendak kemana?" setelah menghela napas panjang, cun hong lengcu berkata : "Kami hendak pergi mengudang seseorang."

"siapa yang akan diundang?" "Pek kut hujin dari Bi sing nia"

Kim lotoa segera mengalihkan pandangan matanya kewajah Thian cun yang dan oh Kuisam serta Kho Beng sekalian, nampaknya dia tidak mengenal siapakah Pek kut hujin atau nyonya tulang putih ini, sehingga menunggu petunjuk selanjutnya dari mereka. Dengan kening berkerut, Thian cun yang segera bertanya kepada oh Kui sam.

"Pernahkah kau mendengar nama Pek kut hujin?" oh Kui sam sebera menggeleng.

"Aku tidak lebih mengerti tentang urusan dunia persilatan daripada dirimu, kalau kau saja tak tahu masa bisa aku tahu, lebih baik ditanyakan kepada perempuan bau itu" Tidak menunggu kedua orang kakek itu berbicara, Kim lotoa telah bertanya, "siapakah Pek kut hujin itu?"

"Dia adalah istri pertama Liong hoa sinkun" sekali lagi Thian cun yang dibikin tertegun.

"siapa pula Liong hoa sinkun itu? PErnahkah kalian mendengar tentang nama orang ini?"

semua orang saling berpandangan tanpa menjawab, hal inim enandakan kalau mereka semua tidak kenal dengan orang tersebut. sambil mendengus oh Kui sam sebera menimbrung. "Aku pikir orang-orang itu pasti bukan manusia yang punya nama atau paling banter cuma kaum iblis dari golongan sesat."

Tidak menunggu ditanya lagi, Cun hong lengcu sebera menerangkan lebih jauh.

"Liong hoa sinkun adalah pembantu utama dari sucouw kami, bahkan sucouw kami pun menghormati sinkun, kedudukannya saat ini adalah ketua pelindung hukum." Mendengar keterangan tersebut, Thian Cun yang segera berkata sambil tertawa.

"Kalau begitu kita tak boleh memandang enteng dirinya, bagaimana dengan Pek kut hujin?"

"Aku dengar Pek kut hujin masih jauh lebih tangguh ketimbang Liong hoa sinkun, apabila mereka bertiga turun tangan bersama, siapapun tak akan ditakuti lagi."

"siapa yang kau maksud tiga orang?"

"Tentu saja Liong hoa sinkun, Pek kut hujin serta sucouw kami" Thian Cun yang termenung sebentar, lalu katanya :

"Aku lihat persoalan ini tak boleh dianggap enteng, rupanya ui sik kong telah sadar kalau kekuatan sendiri belum cukup untuk menguasai seluruh jagat, maka dia berusaha menggunakan cara lain."

"Mungkinkah mereka akan berhasil?" tanya Kho Beng setelah termenung sebentar.

"Kau adalah contoh yang paling nyata, coba jawablah dengan mengandalkan kepandaian silat yang kau peroleh dari kitab pusaka Thian goan bu boh, sanggupkah dirimu untuk mengalahkan ui sik kong, ketua dari partai kupu-kupu?"

"Memang tak mungkin" buru-buru Kho Beng menjawab. " dengan mengandalkan ilmu silat peninggalan Kongci Cu?"

"Mendiang guruku mati karena dia telah menderita luka dalam yang cukup parah disaat sedang bertarung melawan bajingan tua ui sik kong, coba kalau bukan demikian rasanya tak mungki "

Ia merasakan suaranya sesenggukan dan hampir saja mengucurkan air mata.

"Nah itulah dia hanya mengandalkan ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh, kau tak mampu menandingi ui sik kong dengan hanya mengandalkan ilmu silat warisan Kongci Cu pun tak berhasil, hanya bila dua jenis kepandaian itu digabungkan baru akan terwujud kekuatan yang luar biasa bukan?" "Maksud cianpwee, bukan saja mereka bergabung sewaktu bertempur, bahkan didalam ilmu silat pun ,"

Cepat-cepat Thian Cun yang menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Ilmu silat mereka belum tentu dapat digabungkan satu dengan yang lainnya, tapi daya pengaruh yang dihasilkan bila mereka bertiga bekerja sama, mungkin bisa bikin kepala orang pusing."

Cun hong lengcu yang berada disam^ingnya sebera menimbrung

:

"Bila kalian tak merasa mampu menandingi kemampuannya lagi,

lebih baik bebaskan kami, lalu cepat- cepatlah kabur untuk menyelamatkan diri"

Thian Cun yang sama sekali tidak menggubris perkataan cun hong lengcu, setelah tertawa nyaring katanya :

"Ditinjau dari hal ini jelas sudah bajingan tua ui Sik kong memang berada dibukit Cian san, kita harus berebut waktu sekarang, mari kita berangkat sekarang"

"cianpwee kau belum berpesan bagaimana dengan mereka" buru-buru Kim lotoa berseru. Thian cun yang menatap sekejap wajah Kho Beng, lalu katanya : "Apakah kau mempunyai suatu pendapat?" Buru-buru Kho Beng berkata :

"Biarpun boanpwee tidak mempunyai pendapat apa-apa, namun kedua orang siluman wanita ini adalah orang yang menjadi penyebab bagi penderitaan ciciku, lagipula mereka licik dan banyak tipu muslihatnya, biar dibunuh pun tak perlu disayangkan."

"Walaupun demikian, tapi tidak cocok kalau kita membunuhnya, dalam keadaan demikian, lebih baik disekap dulu."

sambil berpaling kearah tiga bersaudara Kim, katanya kemudian : "Menurut pendapatku, lebih baik kalian bertiga tetap tinggal disini

menjaga ketiga tawanan tersebut, tunggulah sampai kami semua kembali kemari, kemudian baru pulang bersama-sama . "

sekalipun tiga bersaudara Kim merasa enggan, namun mereka pun tak berani membangkang perintah Thian Cun yang, oleh sebab itu sahutnya cepat-cepat : "Boanpwee turut perintah." Kho Beng segera berkata pula.

" Ketiga orang ini memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, meskipunjalan darahnya sudah tertotok, namun kalian jangan menganggap enteng dirinya." "Kho sauhiap tak usah kuatir" Kim lotoa tertawa, "kalau cuma persoalan seperti itu rasanya kami masih mampu mengatasinya."

sambil berkata ia sebera mengeluarkan seutas tali otot naga dan berkata kembali :

"Betapapun lihaynya kepandaian silat mereka, aku rasa disaat jalan darah mereka tidak tertotok pun, tentunya tak mampu untuk menggetar putus tali ini, bukan?"

Dalam waktu singkat Kim loji dan Kim losam turun tangan pula untuk mengikat tubuh Cun hong lengcu, Li sian soat serta sin cu beng.

Kemudian mereka pun menotok jalan darah bisunya, dengan demikian ketiga orang itupun berubah menjadi kaku, bukan cuma tak mampu bergerak. berkaok pun tak dapat. oh Kui sam segera memuji sambil tertawa :

"Caramu ini memang bagus sekali, mari kita berangkat dengan perasaan lega."

Tanpa menunggu jawaban lagi, dia segera berangkat lebih dulu menuju keluar gua.

Hujan yang turun diluar makin deras, udara semakin gelap sehingga menghalangi pandangan mata semua orang.

secara beruntun Thian cun yang, Kho Beng, Beng Gi ciu serta siau wan bermunculan dari gua mengikuti dibela kang oh Kui sam, kemudian dibawah petunjuk Beng Gi ciu mereka langsung berangkat menuju kepuncak bukit Cian san.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kelima orang itu merupakan kepandaian yang sangat tangguh, tak selang berapa saat kemudian mereka telah sampai dipuncak utama seperti sukma- sukma gentayangan.

Kho Beng sudah cukup mengenal daerah sekitar situ, tanpa terasa timbul perasaan aneh dalam hatinya memandang puncak gunung yang dicekam kegelapan, pikirnya :

"Aaaa, apakah ciciku masih disekap disini? Lantas bagaimana keadaannya sekarang, tentu ia sudah disiksa sampai tak karuan lagi bentuknya."

Kemudian ia pun membayangkan kembali keadaan dari kakek tongkat sakti, Chin sian kun.

sementara dia masih melamun, mendadak Thian cun yang yang berjalan didepan menghentikan langkahnya seraya berseru : "Tunggu dulu" Ketika semua orang mengalihkan pandangan matanya keatas, terlihatlah puncak bukit itu amat gersang dan gungul, kecuali deruan angin barat yang amat hebat, kabut hitam yang menyelimuti atas permukaan tanah serta hujan yang cukup deras, tak nampak sesosok bayangan manusia pun disekeliling sana, seolah-olah tempat itu merupakan sebuah bukit yang sepi dan terpencil.

Mengawasi kesemuanya itu, tanpa terasa Thian Cun yang menghela napas panjang.

Pertarungan berdarah dibukit hati duka seabad berselang diduga bisa menyebabkab aman tentramnya dunia persilatan, siapa tahu seabad kemudian timbul kembali peristiwa yang tragis dalam dunia persilatan."

sementara dia masih berpikir, terdengar oh Kui sam telah berbisik disisi telinganya. "Mulut guanya berada disebelah sana, ayoh jalan, apalagi yang kaupikirkan?" Bagaikan baru mendusin dari impian, Thian cun yang menyahut : "Jangan tergesa-gesa, kita mesti meneliti lebih dulu keadaan sekeliling tempat ini." Kemudian sambil berpaling kearah Kho Beng, katanya lebih jauh :

"Diantara kita semua, hanya kau yang pernah memasuki gua pengikat cinta, sesungguhnya berapa luas sih kawasan gua ini dan berapa dalam jarak antara mulut gua kedasar ruangan? Apakah kau masih mengingatnya secara jelas?" Kho Beng berpikir sebentar, kemudian jawabnya :

"Jarak dari mulut gua sampai ruangan utama dibawah sana rasanya lebih kurang sepuluh kaki, ruang gua dibawah situ saling berhubungan satu dengan lainnya, aku rasa kawanan mereka tak terhitung kecil, tapi sayang boanpwee belum sempat mengelilingi semuanya" 

Thian Cun yang mengitari sekejap sekeliling tempat dengan sorot matanya, kemudian berkata :

"Luas puncak bukit ini paling banter hanya lima puluhan kaki persegi kebawahpun cuma enam, tujuh puluh kaki, kalau dihitung kembali secara cermat lingkupan mereka tidak termasuk kelewat besar, lagipula disudut utara sana sudah pasti dinding guanya amat

tipis benar."

oh Kui sam sebera menimbrung.

"Cun yang, mengapa sih pembicaraanmu hari ini kelihatan mencla mencle seperti orang yang ragu untuk berbicara? Peduli amat sih besar atau tidaknya kawasan mereka, asal kita sudah memasukinya toh segala sesuatunya akan terlihat dengan sendirinya?"