Kedele Maut Jilid 40

 Jilid 40

"Kau berani bertaruh denganku?" tiba-tiba Thian cun yang menantang dengan senyum misterius.

"Bertaruh? Hmmm, kenapa tak berani?"

"Kujamin hubungan mereka akan berubah menjadi amat erat bagaikan lem, bagaimana kalau kita bertaruh dengan semeja perjamuan saja?"

"Baik, kita bertaruh "

Sambil menunjuk kedepan Thian cun yang berkata :

"Hasil taruhan kita segera akan diketahui siapa pemenangnya, aku lihat kau pun bakal menjamuku tengah hari nanti."

"Asal aku bisa melihat hubungan mereka erat seperti lem dan bukan seperti air dan api, biar mesti mentraktir makan dirimu pun aku kalah dengan hati rela." kata oh Kui sam serius.

Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, medadak tampak Beng Gi Ciu-menghela napas sedih :

Oh Kui sam segera berbisik pula sambil menghela napas : "coba kau lihat, keadaannya semakin lama semakin bertambah

runyam, bila keponakan kita merasa puas dengan bocah muda she Kho itu, mengapa setelah ditunangkan ia justru berkeluh kesah?"

"Aaaah, terlalu awal untuk mengatakan demikian, " bantah Thian cun yang sambil tertawa.

Dalam pada itu Kho Beng telah berpaling sambil bertanya : "Nona

...... mengapa kau berkeluh kesah?"

sekali lagi Beng Gi ciu menghela napas panjang, katanya : "Aku mengeluh karena nasib ku jelek."

"Nona ...... aku cukup memahami maksudmu " kata Kho Beng

gelagapan.

"setelah bertemu dengan Thiam dan oh cianpwee nanti, aku pasti akan menyelesaikan secara baik-baik, pasti " "Apa yang kau ngaco belokan?" tukas Beng Gi ciu cemas. dengan wajah serius Kho Beng berkata :

"Sudah pasti lantaran aku tak pantas mendampingi nona, maka nona baru merasa masgul dan berkeluh kesah, itulah sebabnya "

Beng Gi ciu mendengus kembali, tukasnya :

"Apa maksudmu aku pun mengerti, kenapa aku pergunakan kata- kata seperti itu untuk menghadapi aku?" Kho Beng tertawa getir.

"Nona, apa yang kau artikan dengan perkataan itu? Dan dimana letak kesalahan dalam ucapanku ini?" Beng Gi ciu mendengus :

"Hmmm, terus terang kau yang merasa diriku tak pantas menjadi binimu, kenapa malah mengembalikan perkataan tersebut kepadaku? Aku tahu kau merasa sungkan untuk menampik perjodohan ini dihadapan empekku berdua, maka secara sengaja kau bersikap dingin kepadaku, aku cukup memahami keadaanku sendiri, biar aku saja yang mengusulkan untuk membataikan ikatan perkawinan ini."

oh Kui sam yang bersembunyi dua puluh kaki dari tempat kejadian itu jadi terkejut, pucat pias selembar wajahnya, sambil menggigit bibir katanya kemudian :

"Waaah ..... waaah bakal bubar sungguhan coba lihat,

hubungan mereka seperti air dan api, aku menang taruhan tapi kemanakah mesti kutaruh mukaku ini bila bertemu kembali dengan Beng toako dialam baka nanti?"

Namun Thian cun yang masih tetap tenang, malah katanya sambil tersenyum : "Tak usah keburu panik, pembicaraan diantara mereka toh belum selesai."

sementara itu paras muka Kho Beng telah berubah hebat, dengan suara lantang ia sebera berseru :

"Nona, aku tak berani menerima tuduhan mu itu, bila Kho Beng benar-benar mempunyai pikiran yang seperti apa yang nona tuduhkan, biarlah Thian mengutukku dan membiarkan aku. "

Belum lagi kata "mampus" sempat diucapkan, Beng Gi ciu telah melompat maju sambil menutup mulut Kho Beng dengan tangannya.

dengan wajah tertegun Kho Beng menghentikan pembicaraannya, sedang Beng Gi ciu juga merasakan perbuatannya kelewat mesra, dengan wajah bersemu merah cepat-cepat dia mundur kembali.

setelah agak tertegun beberapa saat, Kho Beng kembali berkata : "Nona, mengapa kau tidak mengijinkan diriku untuk melanjutkan perkataan tersebut."

" Hanya masalah kecil saja kenapa kau mesti mengangkat sumpah?" sahut Beng Gi ciu lirih.

"Untuk menunjukkan ketulusan hatiku, kalau tidak mengangkat sumpah lantas apa yang mesti ku perbuat?"

"Jadi tuduhanku tidak benar?"

"Aku bukan manusia yang lain dibibir lain dihati, bila aku benar- benar merasa tak puas dengan perkawinan ini, secara langsung lamaran dari Thian dan oh locianpwee akan kutampik, setelah kusanggupi berarti sampai matipun pendirianku tak bakal berubah." Kembali paras muka Beng Gi ciu menjadi merah padam, katanya kemudian : "jadi ..... kau kau sungguh-sungguh? Bukan lagi

membohongi diriku?"

"seharusnya nona percaya dengan perkataanku?" Kho Beng berkerut kening.

sekulum senyuman yang manis dan mesra segera tersungging diujung bibir Beng Gi ciu, kembali ujarnya :

"Kalau memang benar begitu, mengapa sikapmu begitu dingin dan hambar?"

"Bagaimna mungkin hal ini bisa terjadi? Kalau dibilang bersikap dingin dan hambar, seharusnya sikap nonalah yang dingin dan hambar sekali terhadapku"

"Hmmm, kalau berbicara harus tumbuh dari hati kecil yang jujur," seru Beng Gi ciu sambil cemberut, "Coba kutanya, kau memanggil apa kepadaku?"

"Memanggil nona"

Beng Gi ciu segera mendengus dingin :

"Hmmm, tapi apa pula hubungan kita sekarang? Bukankah kau sengaja bersikap dingin dan menjauh kepadaku?"

dengan cepat Kho Beng memahami arti perkataan gadis itu, buru-buru ia memukuljidat sendiri sambil berseru :

"Aaaah rupanya memang aku yang bersalah, tapi berhubung

kita belum menikah secara resmi, aku kuatir bersikap kelewat mesra maka dari itu aku menyebutmu "

Tapi setelah berhenti sejenak. buru-buru sambungnya lagi : "Kalau memang begitu biarlah aku mengganti dengan sebutan

lain, tapi aku mesti memanggilmu apa?" "Mana kutahu?" seru Beng Gi ciu sambil berpaling kearah lain. Kho Beng berpikir sebentar, mendadak serunya sambil tertawa : "Adik Ciu terimalah hormat dari kakandamu"

sambil berkata, ia betul-betul menjura dalam-dalam :

siau wan yang berdiri disamping tak dapat menahan diri lagi dan segera tertawa cekikikan.

Beng Gi ciu pun berusaha menahan rasa gelinya, sambil mendengus ia berseru : "Huuuh, usil"

oh Kui sam yang berada dua pulu kaki dari tempat kejadianpun menjadi sangat gembira, tak kuasa lagi ia berteriak menirukan lagak suara Kho Beng :

"Adik Ciu ..... terimalah hormat dari kakandamu Haaaahh ......

haaaahh haaaahh"

Gelak tertawanya amat keras bagaikan guntur yang menggelegar ditengah hari bolong, suaranya sampai menggema beberapa li jauhnya. Kho Beng menjadi malu sekali, dengan wajah tersipu-sipu serunya :

"Aduh celaka, rupanya kedua orang tua itu tidak pergi secara sungguhan, rupanya mereka menguntil dibelakang kita secara diam- diam."

"Jangan perduli mereka, mari kita lari" sahut Beng Gi ciu dengan wajah merah padam pula seperti kepiting rebus.

Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, Kho Beng merasa rikuh sekali untuk bersua dengan Thian cun yang serta oh Kui sam, sehingga dia justru berharap Beng Gi ciu mengusulkan hal itu.

Maka tanpa membuang waktu lagi, cepat-cepat dia beranjak pergi meninggaikan tempat tersebut.

Beng Gi ciu dan siau wan tak ketinggalan, mereka menyusul pula dibelakangnya, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka bertiga sudah lenyap dari pandangan. Thian cun yang segera menarik tangan oh Kui sam sambil menegur : "Mengapa sih kau tak dapat menahan diri, coba lihat, mereka kabur karena jengah" oh Kui sam berusaha menghentikan gelak tawanya, dengan wajah berseri ia berseru :

"Puas ..... puas hatiku benar-benar puas, dengan begitu

akupun tak usah kuatir lagi."

"Tapi kau telah kalah bertaruh, berarti harus mentraktir aku makan satu meja" "Jangan lagi cuma semeja, biar sepuluh meja pun aku rela seratus persen"

Tak lama kemudian sampailah mereka didusun pit keh ceng.

Pit keh ceng adalah sebuah dusun dengan lebih kurang dua ratus kepala keluarga, tempat itu merupakan persimpangan jalan utara dan selatan, karenanya banyak pedagang yang berlalu lalang disitu, suasana amat ramai.

Ketika menyusul kedalam dusun, Thian cun yang berdua menyaksikan Kho Beng sekalian bertiga telah memasuki sebuah rumah makan, maka mereka pun mencari tempat duduk dekat jendela dirumah makan seberang, dari situ mereka dapat mengaasi pintu depan rumah makan dengan jelas.

dengan perasaan gembira, Thian Cun yang berseru : "sekarang kita boleh makan minum dengan perasaan lega."

dengan cepat oh Kui sam memesan satu meja penuh hidangan yang lezat kemudian mereka berdua pun mulai bersantap dengan lahapnya sambil mengawasi pintu gerbang rumah makan seberang jalan.

sementara itu Kho Beng sekalian bertiga pun mencari tempat duduk yang agak longgar diatas loteng, kemudian dengan pikiran agak ringan tanyanya : "Adik Ciu, apakah kau ingin minum barang dua cawan arak?" Beng Gi ciu menggeleng.

"Lebih baik pesan saja hidangan seadanya, selesai bersantap kita harus segera bersantap."

"Hari masih cukup pagi, kenapa kita mesti tergesa-gesa menempuh perjalanan?"

" Kedua orang tua itu sudah mempermainkan kita, maka kita harus balas mempermainkan mereka berdua."

Mendengar itu, Kho Beng segera tertawa.

"sudah dapat dipastikan kedua orang cianpwee sedang bersantap dirumah makan sekitar sini, bila kita menempuh perjalanan dengan tergesa-gesa sudah pasti mereka tak jadi makan."

"Tidak akan kubuat agar mereka sama sekali tidak dapat menemukan diri kita lagi" kata Beng Gi ciu cepat.

Buru-buru Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya :

"Aku rasa hal ini sulit sekali, tak nanti mereka berdua akan melepaskan kita dengan begitu saja." "Tak usah kuatir" hibur Beng Gi ciu sambil tertawa, "tanggung kita akan berhasil"

Kho Beng tidak banyak berbicara lagi, dengan cepat dia memesan hidangan yang tersedia dalam waktu cepat, begitu selesai bersantap mereka pun membereskan rekening dan turun kebawah.

Namun ketika Kho Beng hendak melangkah keluar dari rumah makan itu, mendadak Beng Gi ciu menariknya sambil berbisik : "Tunggu dulu"

dengan wajah tertegun Kho Beng berkata :

"Bukankah adik Ciu ingin cepat-cepat menempuh perjalanan?

Mengapa kau "

"Benar, kita memang akan menempuh perjalanan sekarang juga," tukas si nona cepat.

"tapi bila kita keluar dengan begitu saja, sudah dapat dipastikan jejak kita akan mereka ketahui, itu berarti untuk meninggalkan mereka pun jadi amat sulit, karenanya kita tak boleh keluar lewat pintu muka."

Kemudian tanpa menunggu Kho Beng berbicara, ia telah berpaling kearah seorang kacung berusia sepuluhan tahun sambil tanyanya : "Apakah rumah makan kalian mempunyai pintu belakang?"

"Pintu belakang?" kacung itu membelalakkan matanya bulat- bulat, dengan wajah tak habis mengerti serunya, "Mengapa kek koan tidak lewat pintu muka?"

dengan cepat Beng Gi ciu menyerahkan sekeping uang perak ketangannya sambil menyahut "Kami senang lewat pintu belakang"

Terkejut bercampur girang kacung itu, segera serunya : "ooooh .....ada, ada silahkan kek koan mengikuti hamba"

sambil tersenyum Beng Gi ciu segera mengikuti kacung itu menuju kebelakang, setelah melalui dua beranda sampailah didepan sebuah pintu yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah lorong kecil.

Mereka bertiga segera saling berpandangan sambil tersenyum, kemudian dengan cepat menelusuri lorong kecil itu.

Tak selang berapa saat kemudian, mereka bertiga telah berada diluar dusun pit keh ceng.

Beng Gi ciu berpaling memandang sekejap kebelakang, kemudian katanya sambil tertawa : "Empek oh adalah seorang yang jujur, dia tak akan mempunyai pikiran yang tidak-tidak. sebaliknya empek Thian meski lebih banyak tipu muslihatnya, namun diapun orang yang amat jujur, sehingga tak nanti mereka akan menyangka kalau kita berbuat demikian."

Maka berangkatlah ketiga orang itu menempuh perjalanan dengan amat cepat.

Mendekati lohor sampailah mereka disebuah tanah yang datar, sejauh mata memandang hanya pepohonan yang rimbun tumbuh disana sini, sementara sinar surya sore membiaskan cahaya berwarna merah.

sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu, Kho Beng berkata dengan kening berkerut :

"Rasanya kita belum pernah sampai ditempat seperti ini, padahal menurut perhitungan seharusnya bukit Cian san sudah terlihat didepan mata" siau wan yang selama ini membungkam membungkam, segera menyela : "Mungkin saja kita sudah tersesat" Tapi Beng Gi ciu tidak ambil peduli, katanya cepat :

"Arah yang ditempuh tidak salah, sekalipun tersesat rasanya pun tak bakal terlalu jauh, asal kita mencari penduduk disekitar sini dan mencari keterangan dari mereka, rasanya sebelum kentongan kedua nanti kita sudah tiba dibukit Cian san."

Perkataan ini memang ada betulnya juga, namun kemanakah mereka harus mencari rumah penduduk yang terpencil seperti ini? Jangan lagi penduduk. orang yang berlalu lalangpun tak nampak seorang pun.

Namun mereka bertiga masih tetap meneruskan perjalanannya menuju kedepan.

Setelah berjalan lebih kurang tiga li kedepan, matahari telah tenggelam sama sekali dilangit barat, kegelapan malam pun lambat laun mulai menyelimuti seluruh angkasa, pemandangan disekeliling sepuluh kaki sudah amat sulit untuk terlihat jelas. Mendadak Beng Gi ciu menunding kedepan dan serunya sambil tertawa : "Coba kalian lihat, apakah itu?"

"Hah, kuil" sorak siau wan dengan nada gembira.

Kho Beng pun sudah melihatnya dengan jelas, ternyata dibalik hutan disisi kanan jalan tampak sebuah bangunan kuil berdiri angker diantara pepohonan. sambil tersenyum, Beng Gi ciu berkata lagi :

"Asal kita minta keterangan dari penghuni kuil tersebut, dengan cepat jalan menuju kebukit Cian san akan kita temukan." Tanpa menunggu jawaban lagi, dengan cepat ia meluncur lebih dulu menuju kehutan tersebut.

Kho Beng dan siau wan sebera menyusul dari belakang dan bersama-sama menerobos hutan menuju kuil tersebut.

Tapi setelah tiba didepan kuil tadi, mereka baru menemukan kalau kuil itu cuma sebuah sisa kuil yang sudah lama dtinggalkan dan terbengkalai, bangunan sebelah muka masih nampak utuh, namun pintu gerbang sudah roboh sedang papan namapun telah hilang.

Beng Gi ciu merasa amat kecewa, baru saja mereka bertiga bermaksud meninggalkan tempat itu, mendadak terdengar suara rintihan lirih bergema datang dari balik ruangan.

suara tersebut kedengaran aneh sekali, seperti suara tintihan orang kesakitan, seperti juga dengus napas binatang buas.

Kho Beng memandang sekejap wajah Beng Gi ciu, lalu bisiknya ": "Mari kita masuk kedalam memeriksa "

Beng Gi ciu mengangguk tanpa menjawab, maka dipimpin Kho Beng berangkatlah mereka bertiga memasuki kuil tersebut.

sarang laba-laba kelihatan tersebar dimana-mana, debu amat tebal menyelimuti lantas, rumput ilalang tumbuh liar, suasana disana terasa mengenaskan.

Walaupun gedung utamanya masih tegak berdiri, namun patung didalam ruangan sudah porak poranda tak utuh, kelihatannya paling tidak sudah sepuluh tahun kuil tersebut dibiarkan terbengkalai.

Kho Beng mencoba untuk memasang telinga dan memperhatikan sumber suara aneh itu, dengan cepat ia ketahui suara tadi berasal dari sebuah ruangan disebelah kanan.

Maka tanpa menunggu persetujuan Beng Gi ciu lagi, ia segera melangkah masuk kedalam ruangan.

Begitu berada dalam kamar, pemuda kita segera menemukan sumber suara tersebut. Ternyata disudut ruangan sana berbaring seorang kakek berusia enam puluh tahunan.

Dalam sekilas pandangan saja, Kho Beng sudah tahu kalau jalan darah orang itu sudah tertotok.

Kakek itu tak dapat berbicara, tubuhnya tak mampu berkutik, hanya dari tenggorokannya mengeluarkan suara dengan napas yang sangat aneh. Tatkala melihat kedatangan Kho Beng, sepasang biji matanya segera berputar dan dialihkan kewajah pemuda kita dengan harapan minta tolong.

Kho Beng kelihatan agak sangsi, sambil berpaling kearah Beng Gi ciu katanya :

" orang ini pasti telah dianiaya seseorang dan sengaja ditinggalkan didalam kuil ini, kalau kita tidak menolongnya, mungkin dia bakal mati kelaparan disini, apakah kita " sambil tertawa Beng

Gi ciu sebera menukas.

"Bukan soal besar, lebih baik engkoh Beng memutuskan sendiri, kenapa mesti bertanya kepadaku?"

Kho Beng tertawa, dengan cepat dia menggetarkan tangannya melepaskan beberapa desingan serangan, dalam waktu singkat lima buah jalan darah didepan dada sikakek yang tertotok telah dibebaskan semua.

Mungkin karena jalan darahnya sudah lama tertotok maka walaupun sudah dibebaskan kakek itu masih berbaring diatas tanah dengan napas tersengal-sengal.

Kejadian ini menumbuhkan perasaan iba dalam hati kecil Kho Beng, tanpa sadar ia berjongkok disisinya dan menempelkan telapak tangan kanannya diatas jalan darah Ki hay hiat, segulung hawa murni pun dengan cepat menyusup kedalam tubuh kakek itu.

dengan bantuan tenaga dalam Kho Beng, lambat laun kakek itu dapat mengatur pernapasan sendiri, air mukanya pun lambat laun berubah menjadi merah segar, akhirnya dia melompat bangun dan duduk bersila. dengan perasaan kasihan, Kho Beng bertanya : "Mengapa jalan darah lotiang ditotok orang sehingga tersekap disini?" Kakek itu menghela napas panjang :

"Aaaai panjang sekali untuk diceritakan, sejak dibokong

orang sampai kalian temukan kembali, paling tidak aku sudah lima jam lamanya tersekap dalam kuil ini, andai kata sauhiap tiak menolong, sudah dapat dipastikan aku bakal mampus disini." Kemudian setelah berhenti sejenak. tanyanya lagi : "Boleh aku tahu siapa nama sauhiap?"

"Aku Kho Beng"

"Kho Beng "berubah hebat paras muka kakek itu, agak

tertegun ia menegaskan, "Apakah Kho Beng Kho sauhiap

keturunan dari perkampungan Hul im ceng?" "Yaa benar" Kho Beng mengangguk, "dari mana lotiang tahu tentang diriku?"

sambil memaksakan diri untuk tertawa, kakek itu berkata : "Haaahh .....haaahh .....haaaahh dewasa ini Kho sauhiap

sudah menjadi manusia yang paling termashur dalam dunia persilatan, sebagai anggota persilatan mana mungkin aku tidak mengenali nama Kho sauhiap?"

" Kakek terlalu memuji tapi siapakah namamu dan mengapa

dicelakai orang ditempat ini?"

"Aku .....aku dari marga Go bernama Pou han " sahut kakek itu

agak tergagap.

"Aaaai, sewaktu lewat disini pagi tadi, aku telah bertemu dengan seorang sobat lama yang mengajakku datang kekuil ini, siapa sangka disaat aku tidak terlalu memperhatikan, ia telah menotok jalan darahku"

" Kalau memang orang itu dikenal, mengapa dia membokong dirimu?" tanya sang pemuda tak habis mengerti.

Kembali kakek itu menghela napas.

"Aaaai inilah yang disebut hati orang susah diduga."

setelah menghela napas panjang, kembali dia melanjutkan :

" Ketika aku masih sering berkelana diwilayah barat laut dulu, aku pernah dibegal oleh seorang perampok ulung, namun orang itu bukan tandinganku sehingga dalam pertarungan yang kemudian terjadi lengan kirinya berhasil kukuntungi."

"Kalau begitu dia seharusnya musuh besarmu, bukan teman lamamu?" sela Kho Beng. dengan cepat kakek itu menggeleng.

"setelah lengan kirinya berhasi kukutungi, ternyata dia merasa amat menyesali perbuatannya, dikatakan keluarganya sangat miskin sehingga tak punya uang untuk memelihara ibunya yang tua, karena keadaan yang mendesaklah maka dia menjadi begal.

Waktu itu aku merasa terharu mengingat dia berani mengakui kesalahannya serta bersedia untuk bertobat, lagipula mengingat rasa baktinya untuk membiayai hidup ibunya yang tua, maka bukan saja memberi nasihat agar dia mau bertobat, malah kuberi juga bekal hidup,

Waktu itu dia berlalu dengan rasa terima kasih yang amat sangat. Itulah sebabnya ketika bersua kembali hari ini, aku sama sekali tidak menaruh curiga kepadanya, siapa tahu dia justru mempunyai niat jahat." dengan rasa penasaran, Kho Beng segera berseru : "orang ini benar-benar bedebah, siapa sih namanya?" "Ia bernama .....bernama "kembali kakek itu gelagapan.

Berapa saat kemudian, buru-buru dia berkata lebih jauh.

" Waktu itu dia memang sudah menyebutkan namanya, namun aku tidak terlalu mengingatnya dihati sehingga namanya kulupakan."

"Aaah, itu bukan masalah penting, toh lengan kirinya jelas terpapas kutung, ciri ini tak susah diketahui, bila kau bersua dengannya dikemudian hari pasti akan kutuntut keadilan bagi totiang."

Kakek itu memutar biji matanya beberapa kali, mendadak katanya lagi sambil menghela napas :

"Budi kebaikan Kho sauhiap tak akan kulupakan untuk selamanya, tentang soal balas dendam aku rasa tak perlu

dirisaukan."

" Kenapa?"

"Aku selalu berprinsip bahwa kita hidup sebagai manusia, tak ada salahnya untuk mengalah pada orang lain, begaimanapun juga toh nyawaku tak sampai terenggut, kenapa pula aku mengingat-ingat masalah tersebut didalam hati?" dengan rasa kagum Kho Beng sebera berseru :

"Tak nyana kau berjiwa besar dan berhati mulia, aku benar-benar amat kagum "

setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :

"Apakah lotiang kenal dengan jalanan disekitar tempat ini?" "Kho sauhiap hendak kemana?" tanya kakek itu cepat. "Bukit Cian san"

Kakek itu berpikir sebentar, lalu sahutnya :

"Pergilah kearah utara, setelah menempuh perjalanan sejauh sepuluh li, maka bukit Ciansan akan sebera kelihatan cuma aku

...... aaaaai "

Tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang dan membungkam. dengan perasaan keheranan Kho Beng segera bertanya : "Lotiang apa yang ingin kau sampaikan?"

"Walaupun aku sudah berterima kasih sekali atas pertolongan dari Kho sauhiap. namun berhubung jalan darahku sudah tertotok beberapa jam lamanya hingga kondisi badanku lemah sekali, maka sebelum ajalku mungkin tiba, ingin sekali kutitip pesan akan satu hal."

"Ooooh, rupanya lotiang ingin meminta bantuan ku untuk mengerjakan sesuatu? Kalau begitu katakan saja terus terang, asal Kho Beng mampu melakukannya, tentu akan kukerjakan bagimu." dengan rasa gembira, kakek itu sebera "Terima kasih banyak Kho sauhiap. tapi "

Ia melirik sekejap kearah Beng Gi ciu serta siau wan yang berdiri disamping, kemudian tutup mulut dan tidak berbicara lagi

Kho Beng segera memahami maksudnya, kepada Beng Gi ciu serunya cepat : "Adikku, tolong menyingkirlah dulu, mungkin kakek ini "

Beng Gi ciu tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah katapun bersama siau wan mereka menyingkir dari sana

Menanti kedua orang itu sudah mengundurkan diri dari ruangan, sikakek buru-buru berbisik :

" Harap Kho sauhiap tempelkan telingamu kemari "

Kho Beng tidak berprasangka jelek. la benar-benar membungkukkan badan dan menempelkan telinganya didepan mulut kakek itu.

Tapi disaat Kho Beng sedang menempelkan telinganya itulah, tiba-tiba kakek itu menghimpun segenap tenaga dalamnya dan mencengkeram lambung pemuda tersebut dengan lima jari yang terpentang lebar.

Tenaga dalam yang dimiliki kakek itu benar-benar sangat tangguh, jangan lagi kelima jari tangan digunakan bersama, satu jaripun sudah cukup untuk mencabik-cabik perut Kho Beng.

Dalam keadaan seperti ini, biarpun ilmu silat yang dimiliki Kho Beng sangat hebat, namun oleh karena serangan yang dilancarkan kakek itu amat mendadak lagipula dari jarak yang begitu dekat, ditambah pula Kho Beng berada dalam keadaan tidak siap. menanti ia sadar akan gelagat yang kurang menguntungkan, keadaan sudah terlambat.

Terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati serta bergema memecahkan keheningan.

Namun yang terluka ternyata bukan Kho Beng, melainkan si kakek yang berniat jahat itu.

Diatas telapak tangan kanannya kini telah muncul sebuah lubang besar sementara disekelilingnya terlihat warna hitam pekat bagaikan hangus terbakar.

sambil tersenyum simpul Beng Gi ciu dan siau wan segera menyelinap masuk kedalam ruangan. sementara itu Kho Beng masih berdiri tertegun saking kagetnya, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, sambil memandang kearah Beng Gi ciu, katanya : "Adik Ciu, tak kusangka kau telah menyelamatkan jiwaku sekali lagi." Beng Gi ciu tertawa.

"Sejak pertama kali tadi aku sudah menaruh curiga kepada tua bangka celaka ini, sebab kulihat biji matanya berkeliaran aneh, paras mukanya tak menentu, ditambah lagi pembicaraannya terbata-bata seprti orang gugup, sudah jelas manusia semacam ini bukan manusia baik hati, itulah sebabnya sedari tadi aku telah mengawasinya dengan khusus"

Ternyata walaupun Beng Gi ciu sudah mengundurkan diri dari kamar, namun secara diam-diam mereka bersembunyi dibalik jendela sambil mengawasi keadaan dalam ruangan.

Ketika secara tiba-tiba ia menyaksikan kakek itu melancarkan serangan yang mematikan, secepat kilat pula dia melepaskan sebuah serangan Tang kim ci yang segera menembusi telapak tangan lawan.

dengan berlubangnya telapak tangan kanannya, kakek itu meraung-raung kesakitan lalu roboh tak sadarkan diri dengan gemas Kho Beng menyepak tubuh kakek itu keras-keras, sehingga kakek itu sadar kembali dari pingsannya.

dengan suara dalam Kho Beng sebera menghentak :

"Antara aku she Kho dengan dirimu toh tak punya ikatan dendam sakit hati, mengapa setelah kutolong jiwamu, kau malah berniat menghabisi nyawaku?"

Kakek itu memejamkan matanya sambil menggertak gigi kencang-kencang, mulutnya membungkam diri dalam seribu bahasa.

Beng Gi ciu berpikir sebentar, kemudian katanya :

"Mungkin saja orang ini adalah anak buah bajingan tua ui sik kong"

"Buat apa manusia tengik seperti dia dibiarkan hidup terus?

Nona, lebih baik ditusuk saja sampai mampus" bentak siau wan pula dengan nada benci. dengan cepat Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya, ia berkata :

"seandainya dia benar-benar adalah anak buah bajingan tua ui sik kong, kita justru manfaatkan dirinya untuk mengorek keterangan sedikit darinya, kenapa kita mesti biarkan ia mampus secara mudah."

"Yaa betul, perkataan adik Ciu memang tepat" dukung Kho Beng. "Kita harus dapat mengorek keterangan dari mulutnya." Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang lelaki telah menerobos masuk kedalam kuil dengan melompati pagar pekarangan. Kho Beng tertawa dingin ia segera menyambut datangnya orang tersebut.

Tapi dengan cepat ia dibikin tertegun sebaliknya lelaki itupun tertegun, kemudian teriaknya keras-keras : "Majikan kecil, kau "

Namun setelah sorot matanya memandang sekejap kewajah Beng Gi ciu dan siau wan, cepat-cepat ia menutup mulut kembali.

Ternyata orang itu adalah si saudagar racun berkaki sakti, Chee Tay hap. "Chee toako mengapa kau datang kemari?" tegur Kho Beng cepat. Kemudian sambil menunding kearah Beng Gi ciu katanya lagi

:

"Dia adalah keturunan dari Kim ka sian pemimpin tiga dewa, bila hendak menyampaikan esuatu, katakan saja berterus terang."

dengan sikap amat menghormat chee Tay hap segera memberi hormat kepada Beng Gi ciu, katanya :

"Rupanya nona Beng. Maaf .....maaf "

"sejak kapan majikan sampai disini? Apakah kau telah melihat si pedang iblis penutup awan ciu Bu ki yang berhasil kutangkap?"

"Apa? orang ini hasil tawananmu, dia adalah Ciu Bu ki?" seru Kho Beng dengan perasaan terperanjat. Cepat-cepat chee Tay hap berkata :

"siunta sakti Thio locianpwee berada ditebing oh llong nia sepuluh li dari sini, tanpa disangka hamba telah bertemu dengan bajingan tua ini dan akupun berupaya membekuknya hidup, hidup, sebab dialah pembunuh yang telah menghabisi nyawa putra Kho Po koan yang telah menjadi pengganti majikan. oleh sebab itu aku tak berani bertindak sembarangan, barusan hamba pergi mencari Thio locianpwee dengan maksud minta petunjuk."

"oooh, dia berada sepuluh li dari sini? apa dia bilang?" tanya Kho Beng dengan wajah gembira.

dengan kening berkerut chee Tay hap berkata :

"sayang sekali kedatangan hamba terlambat selangkah, ia telah berangkat ke siau lim si, itulah sebabnya buru-buru aku memburu kembali kesini." dengan nada amat emosi Kho Beng berkata :

"Ternyata bajingan tua ini adalah Ciu Bu ki, sudah sejak lama aku berniat akan membalaskan dendam bagi kematian tuan penolong yang telah menggantikan aku mati, apa lagi diapun sudah bermaksud mencelakai diriku secara keji. Hmmmm, hari ini dia tak bisa dilepaskan dengan begitu saja."

selesai berkata dia segera menyelinap masuk kedalam kamar.

Chee Tay hap segera menyusul pula dari belakang, tapi apa yang kemudian terlihat segera membuat hatinya tertegun.

Kho Beng tak sempat memberi penjelasan lagi, dengan gemas ia menendang tubuh Ciu Bu ki keras-keras, lalu umpatnya :

"Binatang tua, sekarang apa lagi yang hendak kau katakan?"

Ketika Ciu Bu ki mendongakkan kepalanya dan melihat kehadiran chee Tay hap. paras mukanya segera berubah hebat. ia berusaha meronta lalu mengayunkan telapak tangannya keubun-ubun sendiri, rupanya dia berniat menghabisi nyawa sendiri.

Tapi sayangnya Kho Beng bertindak lebih cepat, segulugn desingan angin jari tangannya membuat jalan darah cian keng hiat dibahu kiri dan kananya tersumbat sama sekali.

Berada dalam keadaan seperti ini ciuBu ki segera memejamkan matanya rapat-rapat dan sambil menggigit bibir tidak berbicara lagi. dengan penuh amarah Kho Beng membentak :

"Bajingan tua Ciu, pernahkah kau membayangkan bakal mendapat akhir seperti ini?"

Akhirnya Ciu Bu ki membuka kembali sepasang matanya, dengan nada setengah merengek pintanya :

"Kumohon ..... Kho sauhiap berilah kematian yang lebih enak

kepadaku?" Kho Beng sebera mendengus dingin.

"Hmmm, apabila kau tidak membohongi diriku habis-habisan serta berniat mencelakai jiwaku tadi, mungkin saja aku akan mengabulkan permintaanmu ini, tapi sekarang " dengan suara

yang berat dan dalam, sepatah demi sepatah kata dia berkata : "Aku hendak mempergunakan cara yang paling kejam dan buas

untuk menyiksamu sebelum mencabut nyawa anjingmu"

Chee Tay hap memandang sekejap kearah lubang yang menembusi telapak tangan kanan ciu Bu ki itu dengan pandangan tertegun, dia lebih tak mengerti lagi setelah menyaksikan amarah Kho Beng yang berkobar-kobar, sekalipun dalam hati dia ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya, namun rasanya rikuh untuk menanyakan maka niat tersebut akhirnya diurungkan.

Agaknya Kho Beng dapat memahami perasaan chee Tay hap ketika itu, secara ringkas dia menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi. Chee Tay hap ikut merasa mendongkol, katanya kemudian dengan penuh amarah :

"Manusia bedebah yang lebih rendah dari binatang ini memang tak boleh dibiarkan hidup, aku rasa biarpun disiksa dengan cara apapun masih terlalu keenakan baginya."

"Menurut chee toako, cara siksaan apakah yang terhitung paling keji?" chee Tay hap memperhatikan sekejap keadaan kakek itu, lalu katanya :

"Bila berbicara menurut keadaan yang berada didepan mata, aku rasa disiksa secara pelan-pelan boleh dianggap sebagai cara siksaan yang cukup keji"

"Baik" kata Kho Beng sambil mengangguk.

"Mari kita siksa bajingan ini secara pelan-pelan bersediakah

Chee toako membantu aku untuk melaksanakan siksaan ini?" "Hamba siap melaksanakan perintah" buru-buru Chee Tay hap

menyahut. dengan cepat ia mencengkeram tubuh Ciu Bu ki dan diseretnya menuju kehalaman luar. ciu Bu ki segera menjerit-jerit seperti babi yang mau disembelih, jeritnya :

"Kho sauhiap kumohon kepadamu sudilah memandang diatas

usiaku yang sudah tua .....berilah berilah kematian yang

secepatnya untukku?"

Kho Beng tertawa dingin :

"Heee ....heeee ....heeehh sebetulnya aku orang she Kho

enggan membunuh orang secara sembarangan, lebih-lebih tak berharap menyiksa orang dengan cara yang demikian keji, tapi terhadap bajingan tengik seperti kau, terpaksa aku mesti melanggar kebiasaanku itu"

dengan cara yang kasar chee Tay hap telah menyeret Ciu Bu ki keluar ruangan lalu mengikatnya diatas sebuah tiang besar, kemudian dari pinggangnya ia mencabut keluar sebuah pisau belati dan langsung ditusukkan keatas kakinya. setelah itu bentaknya keras-keras :

"Tua bangka Ciu, dalam seratus tusukan berikut, bila aku telah mencabut nyawa anjingmu, kumohon arwahmu dialam baka nanti tak usah marah kepadaku."

Jeritan ngeri yang memilukan hati pun segera bergema susul menyusul, suara nyaring keras tapi cukup mendirikan bulu roma orang Kepada Beng Gi ciu, Kho Beng segera berbisik : "Mari kita

menunggu diluar saja" Beng Gi ciu manggut-manggut, dengan membawa siau wan bersama-sama keluar dari kuil. sementara itu jeritan ngeri yang memilukan hati masih bergema susul menyusul. sAmbil menghembuskan napas panjang Kho Beng segera berkata :

"Adik Ciu, apakah kau menganggap perbuatanku ini kelewat kejam dan tidak berperikemanusiaan? "

Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya berulang kali : "Tidak Aku cukup memahami perasaanmu sekarang sebab

seandainya aku yang menghadapi masalah seperti dirimu kini mungkin cara yang kupergUnakan akan jauh lebih kejam lagi."

Paling tidak sudah setengah jam lebih suara jeritan itupun dapat didengar bahwa Chee Tay hap telah menusuk badannya paling tidak seratus tusukan keatas, suara jeritan ngeri pun makin lama semakin melemah dan bertambah lirih.

Akhirnya jerit kesakitan tersebut tak terdengar lagi, tampak chee Tay hap dengan badan berlepotan darah berjalan keluar dari halaman kuil dengan langkah lebar. sesudah memberi hormat kepada Kho Beng katanya : "Hamba telah menyiksanya secara pelan-pelan hingga akhirnya mampus."

"aku telah merepotkan chee toako saja," ujar Kho Beng sambil manggut.

"Tahukah chee toako bahwa ciciku telah disekap pihak partai kupu-kupu diatas bukit Cian san?"

sambil menggigit bibir chee Tay hap mengangguk, katanya cepat

:

" Hamba telah mendengarnya, hanya sayang kemampuan yang

hamba miliki terbatas sekali sehingga tak mungkin bisa menolong nona untuk lolos dari bahaya, pagi tadi ketika hamba bertemu dengan unta sakti Thio locianpwee, kami pun sempat membahas persoalan ini, namun Thio locianpwee merasa dalam persoalan ini tak boleh mengambil tindakan gegabah karena belum mengetahui dimanakah majikan muda berada, itulah sebabnya Thio locianpwee merasa lebih baik kekuil siau lim si serta menghadiri pertemuan puncak para jago"

"Lantas kemanakah chee toako hendak pergi sekarang?" tanya Kho Beng kemudian.

"Kemana majikan muda hendak pergi, sudah sepantasnya bila hamba mengikutimu" sahut chee Tay hap segera. Tapi dengan cepat Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya : "Tidak usah, lebih baik kau pun berangkat pergi ke siau lim si"

"Apakah majikan muda tak akan pergi kesana?"

"Terus terang saja kukatakan kepada Chee toako, saat ini aku justru hendak berangkat kebukit Cian san"

chee Tay hap menjadi amat terperanjat, serunya gelisah : "Bukankah bukit Cian san merupakan markas besar partai kupu-

kupu saat ini? Bila majikan muda berangkat kesana dengan kekuatan yang begitu minim, bukankah keselamatan jiwamu jadi terancam?"

"Aku sudah beberapa kali mendapat penemuan aneh, ilmu silatku telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, berbicara menurut kemampuanku sekarang, rasanya ketua partaikupu-kupu Ui Sik kong pun sudah bukan tandinganku lagi, apalagi keberangkatanku kesana kali ini bukan cuma seorang diri "

Kejut dan girang chee Tay hap segera berseru :

"Ooooh .... Thian benar-benar maha pengasih, tentunya .....

tentunya majikan muda hendak pergi kesana bersama-sama nona Beng, bukan?"

"Tapi tapi bolehkah hamba turut serta?" Buru-buru Kho Beng

menjelaskan :

"Selain nona Beng, keturunan dari Bu khek sian dan Thian lui

sian yakni Thian serta oh locianpwee pun akan bergabung dengan diriku disitu, oleh sebab itulah kuanjurkan kepada Chee Tay hap agar bergabung saja dengan orang-orang Siau lim si"

Hampir menjerit tertahan, Chee Tay hap saking kagetnya, ia berseru kemudian :

"Ooooh jadi ahli waris dari tiga dewa pun telah turun kembali

kedalam dunia persilatan? Waaah ini kan berarti saat

tertumpasnya partai kupu-kupu sudah hampir tiba."

Sesudah memandang sekejap sekeliling tempat itu, kembali tanyanya : "Lantas mana Thian dan oh locianpwee?"

Kho Beng tertawa :

"Kedua orang tua tersebut tidak berada disini, tapi dia berjanji akan bertemu dengan kami dibelakang bukit Cian san pada kentongan kedua malam nanti, karenanya aku harus buru-buru menyusulnya." Tampaknya Chee Tay hap pun sudah menyadari bahwa tak mungkin bagi dirinya untuk turut hadir dalam suasana seperti ini, maka diapun tidak mendesak agar dirinya diikutsertakan.

setelah memperhatikan sekejap keadaan disana, diapun berkata : "sekarang sudah hampir mendekati kentonganpertama, padahal

jarak dari sini sampai dibukit Cian san masih lima puluhan li, majikan muda harus segera berangkat"

setelah menanyakan arah bukit Cian san yang benar, Kho Beng berkata lagi sambil menghela napas :

"chee toako, kita sampai berjumpa lagi dilain waktu"

"Tunggu sebentar majikan muda" seru Chee Tay hap tiba-tiba dengan suara cemas. "chee toako masih ada urusan apa lagi?"

" Hamba akan menuruti perintah majikan muda untuk berangkat ke siau lim si, tapi apa yang mesti kuucapkan kepada mereka setelah bertemu dengan Thio locianpwee sekalian" Tanpa ragu-ragu Kho Beng berkata :

"Katakan saja aku bersama Thian dan oh Cianpwee serta .....

nona Beng sekalian telah berangkat kebukit Cian san, mungkin dalam waktu dekat kami pun akan menyusul ke siau lim si"

"Hamba akan mengingat baik-baik pesan ini" kata Chee Tay hap kemudian dengan sikap menghormat.

Kho Beng segera menjura :

"Chee toako, baik-baiklah menjaga diri"

Tanpa banyak berbicara lagi, bersama Beng Gi ciu serta siau wan berangkatlah mereka meninggalkan tempat tersebut.

Memandang bayangan punggung Kho Beng sekalian hingga pergijauh, Chee Tay hap baru bergumam dengan wajah agak emosi

: "Thian benar-benar maha adil ...... akhirnya "

Baru saja dia hendak meningalkan tempat tersebut, mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seorang kakek berbaju hijau telah muncul dihadapannya tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

dengan perasaan terkejut, Chee Tay hap segera membentak : "Siapa kau ?"

Kakek berbaju hijau itu tersenyum, jawabnya : "Aku Liong hoa sinkun"

Baru sekarang chee Tay hap dapat melihat raut wajah kakek berbaju hijau itu dengan jelas. Tampak mukanya penuh keriput, seharusnya dia berusia paling tidak tujuh puluh tahunan keatas, namun rambutnya yang panjang dan terurai sebahu justru berwarna hitam pekat, bagian bahunya licin dan bersih, tanpa selembar jenggotpun, ditambah lagi perawakan tubuhnya pendek lagi ceking sehingga membuat orang susah untuk menebak laki-laki atau perempuankah orang ini.

Tapi yang paling menonjol adalah sebilah kipas baja yang terselip diatas bahunya, jelas benda itu merupakan senjata andalannya.

Ketika Chee Tay hap sudah melihat dengan jelas raut wajah otang itu, diam-diam ia berpikir :

"orang ini bermata tikus, berhidung elang sudah pasti bukan tampang seorang manusia baik, lebih baik aku jangan mengusiknya." Berpikir demikian, ia segera berkata sambil tertawa paksa.

"sayang sekali pengetahuanku amat picik sehingga belum pernah mendengar nama besar anda maaf, aku tak dapat menemanimu

terlalu lama." Liong hoa sinkun tersenyum, selanya : "Harap cuangcu tunggu sebentar"

"Anda masih ada petunjuk apa lagi?" tanya Chee Tay hap dengan perasaan bergetar keras.

Liong hoa sinkun tertawa misterius.

"Bukankah kau yang bernama saudagar racun berkaki sakti Chee Tay hap?" Chee Tay hap tertegun sebentar, kemudian jawabnya cepat :

"Yaa betul, aku memang chee Tay hap tapi, dari mana anda bisa mengetahui namaku?"

Mendadak Liong hoa sinkun melepaskan senjata kipasnya, lalu sambil digoyangkan pelan-pelan ia berkata lagi sambil tertawa :

" Walaupun aku adalah orang gunung namun hatiku merisaukan keselamatan umat persilatan, karena itu tak sedikit persoalan dunia persilatan yang kuketahui"

Biarpun chee Tay hap merasa tak habis mengerti namun diapun enggan banyak berbicara, dengan cepat-cepat dia menyela : "Anda betul-betul dewa dari bumi."

Sesudah berhenti sejenak. sengaja dia memperhatikan sejenak keadaan cuaca lalu berkata lagi :

"Waktu sudah siang, aku benar-benar tak dapat banyak berbicara lagi denganmu" "Kalau memang saudara Chee benar-benar begitu repot, tentu saja aku hanya bisa mengatakan selamat tingal" kata Liong hoa sinkun sambil tertawa hambar. chee Tay hap segera menjura kemudian beranjak pergi dari sana.

Namun belum jauh dia melangkah, tiba-tiba saja kepalanya terasa amat pusing, pandangan matanya berkunang-kunang dan kakinya terasa lemas, belum sampai lima langkah tubuhnya sudah roboh terjungkal keatas tanah.

Liong hoa sinkun tertawa terbahak-bahak dengan cepat dia menghampiri Chee Tay hap sambil tegurnya dengan suara dalam :

"SAudara Chee, kenapa kau? Bukankan kau nampak segar bugar, kenapa dalam waktu singkat telah roboh terjungkal?"

Chee Tay hap menggigit bibir kencang-kencang sepasang matanya melotot penuh amarah, sudah jelas dia telah mengerti bahwa semuanya ini merupakan hasil permainan busuk dari Liong hoa sinkun.

Namun berada dalam keadaan seperti ini ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, akhirnya matanya terpejam rapat dan ia jatuh tak sadarkan diri

Liong hoa sinkun segera menyimpan kembali kipasnya dan diselipkan kebelakang bahu, sementara itu terdengar suara desingan angin tajam berkelebat lewat, tahu-tahu sesosok bayangan manusia telah muncul kembali ditempat tersebut, orang itu tak lain adalah ketua partai kupu-kupu, Ui sik kong.

Kepada Liong hoa sinkun segera serunya sambil tertawa gembira

: "Kepandaian sinkun betul-betul luar biasa."

"Ciangbunjin terlalu memuji" sahut Liong hoa sinkun sambil tertawa bangga. setelah memutar biji mata tikusnya, dia berkata lagi

:

" Hamba dan ciangbunjin harus secepatnya kembali kebukit Cian san, dalam persoalan ini kita mempersiapkan diri dengan sebaik- baiknya."

"Terserah kepada sinkun bagaimana akan mengatasi persoalan selanjutnya " kata Ui sik kong.

"Dalam soal kemampuan terus terang saja aku mempunyai keyakinan yang besar, persoalannya apakah Chee Tay hap bisa memberikan manfaat bagi kita." Ui sik kong sebera tertawa.

"Biarpun chee Tay hap adalah orang yang kurang suka berbicara, namun menurut apa yang kuketahui, ia masih dapat merebut kepercayaan si Unta sakti Thio Ciong lan, sedangkan si bungkun Thio itu dapat pula merebut kepercayaan si Phu sian sikeledai gundul itu."

Liong hoa sinkun sebera tertawa tergelak.

"Haaaahh ..... haaahhh .... haahhh , asal dapat meraih

kepercayaan dari Phu sian si gundul itu sama artinya menguasai seluruh umat persilatan didunia ini, nampaknya kawanan jago silat dari pelbagai partai lain akan segera tertumpas ditangan ciangbunjin." Mendadak Ui sik kong menukas :

"Tapi aku rasa tindakan kita ini bagaikan melukis harimau tidak berhasil, andaikata kita bisa memperoleh sebuah benda kepercayaannya, sudah pasti Thio bungkuk serta Phu Sian si kledai gundul sekalian akan mempercayainya seratus persen."

Liong hoa sinkun tertawa misterius, mendadak ia mengeluarkan sebuah benda dari sakunya dan diangsurkan kedepan sambil berkata

:

"Benda ini berhasil kuambil dari leher Kho Beng si bajingan cilik itu, coba kau periksa apakah bisa kita pakai?"

Ui Sik kong menerimanya serta diperiksa sejenak. kemudian serunya dengan girang :

"Tampaknya benda ini adalah lencana naga kemala hijau miliknya, bila kita pergunakan benda ini sebagai tanda pengenal aku pikir usaha kita pasti akan sukses." sambil mengembalikan benda itu, ia bertanya lagi dengan nada tak habis mengerti : " Kapankah sinkun bisa mendapatkan benda itu?"

" Kecuali sewaktu mereka beristirahat di dusun pit keh ceng, mana aku punya kesempatan?" sahut Liong hoa sinkun sambil tertawa.

Ui Sik kong semakin terkejut bercampur gembira, ujarnya lagi cepat :

" Waaah kepandaianmu benar-benar amat hebat, padahal menurut pengamatanku sendiri, sinkun toh tak pernah mendekatinya, dengan cara apa kau mencurinya?" Liong hoa sinkun semakin bangga lagi, dengan cepat dia berkata :

"Terus terang saja ciangbunjin bila hamba berniat mendapatkan sesuatu dari sakunya, maka asal aku dapat mendekati sampai jarak satu depa, betapapun rapatnya dia menyembunyikan benda tersebut, hamba masih tetap dapat memperolehnya bahkan perbuatanku ini tak pernah meleset. Ui sik kong menjadi gembira setengah mati, katanya kemudian. "Bila mempunyai seorang pembantu seperti kau rasanya aku

lebih gembira daripada mempunyai ratusan jago lihai, kemampuanmu benar-benar luar biasa" Kemudian setelah berhenti sejenak kembali serunya. "Cepat kau tunjukkan kebolehanmu"

"Hamba turut perintah."

dengan cepat dia mencengkeram tubuh Chee Tay hap kemudian menampar mukanya sampai belasan kali, tamparan yang begitu keras itu seketika membuat Chee Tay hap tersadar kembali dari pingsannya.

Tampak dia menggerakkan matanya dan berseru tertahan Namun dari balik mata tikus Liong hoa sinkun tahu-tahu telah

memancar keluar dua gulungan cahaya hijau yang mengawasi wajah Chee Tay hap lekat-lekat, bersamaan waktunya sepasang tangan dengan kesepuluh jarinya bergerak tiada hentinya dimuka Chee Tay hap. Suatu kejadian yang amat aneh segera berlangsung.

Chee Tay hap yang semula tersadar kembali dari pingsannya mendadak jatuh tertegun dan duduk melongo setelah bertemu dengan sorot mata serta gerakan sepuluh jari tangannya itu, seakan- akan terdapat segulung kekuatan iblis yang tak berujud  membuatnya tak bergerak sama sekali, sorot matanya pun seperti terhisap oleh cahaya hijau dari balik mata lawan.

sebaliknya Liong hoa sinkun pun sama sekali tidak berkedip. dia mengawasi terus wajah lawannya lekat-lekat.

Kurang lebih setengah peminuman teh kemudian, dari sakunya dia baru mengambil keluar sebutir pil berwarna merah dan diam- diam dijejalkan kemulut Chee Tay hap.

Bagaikan orang terkena hipnotis saja, tanpa sadar dan tanpa disuruh chee Tay hap membuka mulutnya menelan pil tersebut.

" Chee Tay hap. aku adalah Kho Beng, tahukah kau?" kata Liong hoa sinkun kemudian dengan nada girang.

Buru-buru Chee Tay hap menjawab :

"Majikan muda, apa yang hendak kauperintahkan?"

"Ingat baik-baik, berita ini sangat penting, kau harus segera menyampaikan ke siau lim si."

"Baik majikan muda"

"Bila bertemu dengan Phu sian sangjin serta Thio bungkuk sekalian, sampaikan pesan pentingku ini , katakan aku telah berhasil mendapat tahu sebuah rencana keji dari Ui sik kong, suruh Phu sian sangjin dengan membawa segenap jago dari pelbagai partai agar datang berkumpul diselat Pek hong sia dibukit Hu goa san pada tanggal tujuh belas bulan ini, aku dan keturunan tiga dewa akan menyusul disitu menjelang malam tanggal tujuh belas, akan kuajak mereka untuk berunding suatu masalah besar. Nah, kau masih ingat?"

"Hamba mengingatnya" sahut Chee Tay hap kaku.

" Entah peristiwa apapun yang kau alami ditengah jalan, jangan sekalipun kau tunda perjalanan mu, mengerti?"