Kedele Maut Jilid 39

 Jilid 39

Tenaga pukulannya dengan cepat menyelimuti daerah seluas berapa kaki, sudah dapat dipastikan kedua butir batu kecil itu sudah pasti akan terhalau kembali.

Siapa tahu kenyataannya sedikit agak diluar dugaan, biarpun batu kedua berhasil pula dihalau hingga runtuh ketanah, namun batu yang terakhir justru memiliki sisa kekuatan yang cukup tangguh walaupun sudah termakan oleh tenaga serangannya. Setelah membentuk busur lingkaran, bukan bertambah lemah kekuatan batu kerikil tadi, malah sebaliknya daya luncur benda itu makin bertambah cepat lagi. Duuuukk

Tahu-tahu batu kerikil itu sudah menghajar telak jalan darah ci ti hiat dilengan kanan Ui Sik kong.

Tak terlukiskan rasa kaget Ui Sik kong menghadapi kejadian ini, cepat-cepat tangan kirinya ditepuk untuk membebaskan kembali jalan darah sendiri yang tertotok.

Terlihat sesosok bayangan hijau berkelebat lewat, tahu-tahu seorang Kakek berbaju hijau telah berdiri bersanding dengan Kakek berbaju biru itu. Kejut dan gusar Ui Sik kong segera menegur : "Siapa kau?"

Kakek berbaju hijau itu tertawa bergelak :

"Aku merasa amat kagum dengan caramu membebaskan totokan jalan darah pada tubuh sendiri, itulah sebabnya aku ingin menyaksikan lebih dari satu kali."

Kemudian sambil berpaling kearah Kakek berbaju biru itu, kembali dia berkata :

"Kita harus membandingkan gerakan tersebut dengan apa?"

Kakek berbaju biru itu berpikir sebentar, lalu sambil ketawa tergelak katanya :

"Aku telah menemukannya, gerakan itu rasanya mirip orang yang tersengat lebah saja."

"Ya betul, tepat sekali" seru Kakek berbaju hijau itu bertepuk tangan sambil tertawa tergelak, "memang mirip sekali dengan orang yang tersengat lebah"

Rupanya gerakan Ui sik kong untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan memang amat menggelikan, kesatu karena perawakan tubuhnya kecil pendek, kedua berhubung rasa tegang karena jalan darahnya tertotok. maka sambil melompat tangan kirinya segera mana bok lengan kanan sendiri, begitu kerasnya tabokan ini sampai jenggotnya ikut bergoncangan.

Tak salah lagi kalau gerakan tersebut dibilang seperti orang yang tersengat lebah, sebab memang amat menggelikan.

Ui sik kong benar-benar sangat gusar, bentaknya dengan keras : "Huuuh, sungguh menjengkelkan"

sepasang lengannya segera direntangkan dengan ruyung ditangan kanan dan serangan kosong disebelah kiri secara terpisah dia menyerang kedua orang kakek itu pada saat yang hampir bersamaan.

Agaknya kedua orang kakek itupun cukup mengetahui kelihaian lawannya, mereka tak berani memandang enteng, cepat-cepat telapak tangan kanannya diayunkan kedepan untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut, terdengar suara desingan tajam menderu- deru, pasir dan batu beterbangan diangkasa membuat suasana disekeliling tempat itu menjadi amat mengerikan.

Namun disaat angin pukulan itu sudah berhembus lewat ternyata kedua orang kakek itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula, sebaliknya Ui sik kong justru tergetar mundur sejauh dua langkah, napasnya rada tersengal-sengal.

Dengan cepat dia mengayunkan tuyung lemasnya sambil berseru dengan penuh kebencian : "sebenarnya siapakah kalian?"

"Eeeeh.eeeehh jangan kelewat emosi" seru si Kakek berbaju hijau sambil mengoyangkan tangannya berulang kali.

Kakek berbaju biru itu berseru pula sambil tertawa. "jangan lupa, isi perutmu sudah terluka parah"

Akhirnya Ui sik kong berhasil juga menenangkan kembali hatinya, namun rasa gusar dan pedih sempat menghiasi wajahnya, sudah jelas kekalahan secara beruntun yang dideritanya membuat ia sangat emosi.

Kembali Kakek berbaju biru itu mengejek sambil tertawa. "Nah, begitu baru benar, selama bukit nan hijau kenapa kau

mesti takut kehabisan kayu bakar? Bila ingin mempertaruhkan selembar nyawa sendiri, waaahh.bagimu tak akan mendatangkan manfaat yang besar"

"Cepat katakan siapa kalian dan apa maksud kedatanganmu berdua?" teriak Ui sik kong sambil menggigit bibir.

Kakek berbaju biru itu mengerling sekejap kearah Kakek berbaju hijau lalu katanya, "Baiklah, tak ada salahnya kalau kami beritahukan kepadamu identitas kami, sebenarnya aku bernama Thian cun yang sedang dia bernama oh Kui sam"

Bagaikan tersengat listrik bertegangan tinggi, Ui sik kong berseru kaget lalu teriaknya keras-keras :

"Rupanya kalian berdua, jadi kalianpun telah datang kedaratan Tiongoan?"

"Benar" jawab Thian cun yang gamblang. "Pertama suasana didaratan Tionggoan cukup ramai, kedua kamipun ingin datang menghantar diri daripada akhirnya kau mesti bersusah payah datang mencari kami"

"Jadi kalian ingin mengulangi kembali peristiwa tragis dibawah tebing hati duka pada seratus tahun berselang?" Dengan cepat Thian cun yang menggeleng,

"Biarlah dendam kesumat leluhur kita diselesaikan sendiri oleh leluhur kita itu, kami tak ingin mengulangi kembali tragedy dibukit hati duka, namun tentu saja hal ini tergantung pada pilihanmu sendiri"

Ui sik kong memandang sekejap sekeliling arena, lalu serunya sambil menggigit bibir :

"sejak seabad berselang partai kupu-kupu berusaha hidup sambil menahan malu, tahukah kau apa tujuannya? Tak lain adalah untuk balik kembali dari liang kuburan serta membalas dendam atas sakit hati."

"Mungkin kau pun sudah dapat merasakannya sekarang bahwa untuk mencapai kedua hal tersebut, paling tidak kalian mesti berlatih lagi selama seabad" ujar Thian cun yang sambil tertawa.

"Hmmm, bagiku selama hayat masih dikandung badan, aku tetap akan berupaya mewujudkan kedua harapan tersebut, kalau tidak, aku lebih suka menghabisi hidup sendiri"

"Huuuh, kalau begitu kau memang ditakdirkan untuk mampus" jengek Thian cun yang.

"jadi, begitukah tujuan kalian itu?" Ui sik kong menghembuskan napas panjang. Cepat-cepat Thian cun yang menggoyangkan tangannya sambil tertawa. Katanya :

"Tidak. buat hari ini, asal kau bersedia meninggalkan Kho Beng disini, maka kau boleh meninggalkan tempat ini dengan segera"

Dengan pandangan penuh kebencian Ui sik kong mengerling sekejap kearah Kho Beng yang tergeletak ditanah serta Thian cun yang dan oh Kui sam, setelah itu serunya : "Kalian tak akan melarikan diri keujung langit, bukan?"

"Haaahhaaahhhaaahhh.perkataanmu tersebut kurang tepat, buat apa kami mesti melarikan diri?"

"Tapi mungkin juga begitu," sambung oh Kui sam sambil tertawa bergelak , "tapi hasil ini tergantung bagaimana kau si tua Bangka, asal kau bisa bertobat serta kembali kejalan yang benar, otomatis kami jadi menganggur, daripada diundang sana dipanggil kemari oleh rekan-rekan persilatan, lebih baik kami kabur saja keujung langit"

Ui sik kong tak ingin mendengar kata-kata sindiran dari kedua orang itu lagi, setelah mendengus dingin, dengan membawa luka dibadan ia segera berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung Ui sik kong yang menjauh, tanpa terasa kedua orang itu menghembuskan napas panjang. Lama kemudian, akhirnya oh Kui sam berkata :

"Mari kita memeriksa dulu bagaimana keadaan luka dari bocah anak muda she Kho itu"

Mereka berdua segera bersama-sama mendekati Kho Beng. sementara itu noda darah telah membasahi mulut dan hidung

Kho Beng, tendangan dari Ui sik kong terbukti memang sangat keji dan mengerikan sekali, kini isi perutnya telah menderita luka yang sangat parah.

Thian Cun yang yang berjongkok untuk memeriksa keadaan Kho Beng kemudian tegurnya : "Hey anak muda, apakah kau masih bisa mendengar suara kami?"

Pelan-pelan Kho Beng membuka sepasang matanya lalu menjawab lemah : "Cianpwee berdua, terima kasih banyak."

Biarpun suaranya amat lemah, namun setiap patah kata masih dapat terdengar dengan jelas sekali.

Untuk kesekian kalinya Thian cun yang memeriksa keadaan Kho Beng dengan seksama, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan berkata kapada oh Kui sam dengan serius :

"Tenaga dalam yang dimiliki bocah ini benar-benar amat sempurna, padahal denyut nadinya telah tergetar sehingga berdetak dengan lemah, kesadarannya pun hampir hilang, tapi kenyataannya masih bisa bertahan dengan bagus sekali, kalau dilihat dari tenaga dalam yang dimilikinya paling tidak telah mencapai seratus dua puluh tahun hasil latihan."

"Waaah kalau begitu kan jauh lebih tangguh dari pada kita berdua?" bisik oh Kui sam.

"sssst, jangan keras-keras" bisik Thian Cun yang pula, "buka aku sengaja melemahkan semangat sendiri, kalau dibandingkan kita berdua, dia memang lebih tangguh, kenyataan berkata demikian"

Mendadak.

Disaat dua orang tersebut sedang berbisik-bisik, tampak dua sosok bayangan manusia kembali berkelebat datang dengan kecepatan tinggi, sewaktu bayangan tersebut semakin dekat, terlihatlah mereka adalah dua orang gadis muda yang tak lain adalah Beng Gi ciu serta siau wan.

Thian Cun yang nampak gembira sekali, teriaknya : "ooooh, ternyata keponakan kita telah datang, hey kenapa

kedatanganmu begitu kebetulan?"

Buru-buru Beng Gi ciu memberi hormat kepada dua orang kakek itu, sahutnya :

"sesungguhnya keponakan memang sedang mencari empek berdua, tapi selama ini usahaku tak pernah berhasil, dalam kecewanya aku mendengar Phu sian sangjin sekalian para jago hendak mengadakan pertemuan dipuncak Giok cin hong dibukitTiong lam san, maka keponakan pun menyusul kesitu, siapa tahu ternyata mereka pun telah pergi dari situ, karena nya terpaksa keponakan meninggalkan tempat itu dan berkeliaran disekitar sini, tadi keponakan malah sempat mendengar teriakan dari empek berdua."

"Apakah kau mengetahui peristiwa yang barusan terjadi?" Tanya Thian cun yang kegirangan.

"Keponakan sendiripun kurang jelas, sekarang hendak kutanyakan persoalan ini kepada empek berdua."

Baru saja Thian cun yang hendak menjawab, mendadak terdengar siau wan berteriak keras :

"Nona.. celaka Kho kongcu."

Rupanya Thian cun yang dan oh Kui sam telah berdiri dihadapan Kho Beng sehingga dalam pembicaraan tadi Beng Gi ciu sama sekali tidak menjumpai kehadiran Kho Beng disitu.

Teriakan kaget dari siau wan membuat Beng Gi ciu menjadi sangat terperanjat, buru-buru dia menyelinap kedepan.

Betul juga, ia menemukan Kho Beng sudah tergeletak tak berkutik dengan tubuh penuh berlepotan darah, keadaannya tak berbeda seperti orang mati.

Tak terlukiskan rasa terperanjat Beng Gi ciu menghadapi kejadian seperti ini. Tanpa ambil peduli dengan kehadiran Thian Cun yang serta oh Kui sam lagi, buru-buru dia berjongkok disamping Kho Beng sambil teriaknya : "Kho kongcu, kenapa kau?"

Tanpa disadari saking paniknya air mata sampaijatuh berceceran membasahi pipinya.

Thian Cun yang yang melihat kejadian ini, buru-buru menarik tangan oh Kui sam sambil bisiknya : "Waaah, kelihatannya keponakan kita ini rada kurang beres" "Apanya yang kurang beres?" Tanya oh Kui sam agak tertegun. "Masa tidak kau lihat apa yang sedang diperbuat oleh

nya?Jangan lagi berada dihadapan kita berdua, sekalipun tidak berada dihadapan kita pun sikap dan tingkah lakunya yang diperbuatnya sekarang sedikit kelewat batas."

"Betul, memang rada kurang beres," sahut oh Kui sam. Kemudian seperti baru menyadari akan sesuatu.

setelah memutar biji matanya, dia berkata lagi agak keheranan. "Padahal keponakan kita ini belum lama datang ke daratan

Tionggoan, mengapa perkembangan salam soal ini berlangsung begitu cepat.ini namanya apa? orang menyebutnya sebagai..ehmmm betul, orang menyebutnya sebagai cinta dalam pandangan pertama"

"sssst. .jangan keras-keras" bisik Thian Cun yang sambil menarik ujung bajunya, "mari kita rundingkan persoalan ini."

Dalam pada itu Beng Gi ciu dan siau wan sedang berjongkok disisi Kho Beng bertanya ini itu, tentu saja mereka tidak menaruh perhatian terhadap kedua orang kakek tersebut, atau pada hakekatnya mereka tidak mendengar apa saja yang dibicarakan kedua orang tua tersebut.

sebaliknya Thian Cun yang dan oh Kui sam yang telah mundur dua langkah dan merundingkan masalah itu dengan suara lirih. Kata oh Kui sam :

"Beng toako sudah berangkat duluan, itu berarti kita dua orang tua Bangka ini tak bisa berpeluk tangan saja terhadap masalah yang dihadapi keponakan kita ini"

"Ya a, bocah muda she Kho ini mempunyai pengalaman yang luar biasa, masih muda tampan lagi, tak heran kalau keponakan kita itu segera tertarik dan jatuh cinta padanya, coba kau lihat dia masih juga menangis dengan begitu sedihnya."

Ternyata Beng Gi ciu memang sedang menangis tersedu-sedu karena terharu menyaksikan keadaan Kho Beng yang mengenaskan. sambil menghela napas kembali oh Kui sam berkata :

"Aaaai, kalau berbicara sejujurnya, bocah muda itu memang bagus sekali, bahkan aku sendiripun amat suka kepadanya." Lalu setelah berhenti sebentar, tambahnya : "Masih berkasiat kah pil sim mia wan mu itu?" Thian Cun yang segera tertawa.

"Dia kan Cuma menderita luka dalam yang biasa, bukan dilukai oleh racun jahat atau tenaga pukulan yang aneh, tentu saja obat tersebut akan berkasiat sekali, kujamin dalam tiga hari lukanya sudah akan sembuh seperti sedia kala."

"Kalau memang begitu, hayolah cepat kita obati luka itu" sorak oh Kui sam dengan gembira.

"Tunggu sebentar" tiba-tiba Thian cun yang mencegah, "dibalik kesemuanya ini masih ada persoalan lain?"

"Masih ada persoalan apa?"

"Persoalan besar sekali, kesatu keponakan kita tampak begitu mencintainya hingga seakan-akan ia sudah begitu pasrah kepadanya, tapi apakah bocah muda itupun menyukai keponakan kita? Hal ini belum ada kepastian secara khusus. Kedua, siapa tahu bocah muda itu mempunyai kekasih hati lainnya atau mungkin sudah beristri,"

"lantas bagaimana baiknya?" Dengan kening berkerut, oh Kui sam berkata :

"Ya a, hal ini memang merupakan sebuah masalah yang pelik, Beng toako sudah lama meninggal dunia, andaikata kita tak bisa menyelesaikan persoalan dari keponakan kita dengan sebaik- baiknya, seratus tahun kemudian dengan muka apakah kita akan menjumpai Beng toako dialam baka?"

Thian Cun yang berpikir sebentar, kemudian katanya : "Kau tak perlu kuatir, aku mempunyai ide yang sangat bagus."

"oya? Apa idemu ? cepat katakanlah agar kita dapat merundingkannya secara baik-baik,"

"Tidak. rahasia langit tak boleh dibocorkan," ujar Thian Cun yang sambil menggeleng, "pokoknya asal urusan dari keponakan kita gagal total, minta saja pertanggungan jawab kepadaku"

"oh" Kui sam menatap wajah rekannya sebentar, lalu katanya : "Baiklah, akan kulihat bagaimana kau menyelesaikan masalah ini

dengan sebaik-baiknya." Maka dengan langkah lebar mereka pun berjalan menuju kedepan, setelah mendehem, Thian cun yang segera menegur : "Keponakanku, apakah kau kenal dengannya?"

Merah padam selembar wajah Beng Gi ciu karena jengah, buru- buru ia bangkit berdiri sambil menjawab :

"Ya a, kami memang saling mengenal."

"oya? Aku dengar dia adalah keturunan dari perkampungan Hui im ceng, masih muda, ganteng lagi. Betul-betul seorang pemuda yang menarik hati." Kepala Beng Gi ciu ditundukkan makin rendah, bisiknya lirih : "Apakah empek berdua dapat menolongnya." oh Kui sam sebera berteriak keras :

"Tentu saja, Pil si mia wan milik empek Thian mu khusus untuk mengobati luka dalam,kujamin dalam tiga hari saja luka yang dideritanya sudah akan sembuh kembali seperti sedia kala."

Mendengar perkataan itu buru-buru Beng Gi ciu berseru kepada Thian Cun yang.

"empek Thian kumohon kepadamu agar bersedia mengobati lukanya."

"Heh, aneh betul dirimu ini, mengapa sih kau menaruh perhatian yang begini besar kepadanya?" tegur Thian cun yang sambil tertawa.

sekali lagi paras muka Beng Gi ciu berubah menjadi merah padam, agak tergagap dia berkata :

"sebab..sebab dia dalah orang yang berilmu sangat tinggi dan amat mempunyai perasaan, aku lihat dia adalah pendekar sejati yang jujur, suka menegakkan keadilan dan merupakan kekuatan yang tak boleh dianggap enteng dalam usaha menumpas kaum iblis dari muka bumi." oh Kui sam segera mengacungkan ibu jarinya.

"Waaah.waaahhh keponakan memang benar-benar seorang wanita luar biasa, tak nyana kau menaruh perhatian yang begitu besar terhadap keselamatan dunia persilatan, tak kusangka kaupun menaruh simpati terhadap tokoh hebat seperti ini."

Paras muka Beng Gi ciu berubah semakin merah lagi, kepalanya tertunduk rendah-rendah dan tak sepatah kata pun sanggup diucapkan lagi. Thian Cun yang kembali tertawa tergelak :

"Haaahhh.haaahhh.haaahhhh Kui sam jangan banyak berbicara lagi, cepat lepaskan kantung airmu"

sementara berbicara ia telah merogoh keluar sebuah botol kecil dari sakunya.

oh Kui sam pun sudah melepaskan kantung airnya dan diserahkan kepada rekannya itu.

Tanpa ragu-ragu Thian Cun yang membuka penutup botol itu dan mengeluarkan sebutir pil berwarna merah yang segera dijejalkan kemulut Kho Beng. Buru-buru oh Kui sam meloloh anak muda tersebut dengan air. Kemudian sambil tersenyum, Thian Cun yang berkata lagi :

"Tak jauh dari sini terdapat sebuah rumah penduduk milik pemburu Lan, dia sangat ramah dengan tamunya, selama inipun kami sudah dua hari menginap dirumahnya, untuk menyembuhkan luka dari Kho Beng bagaimana kalau kita berdiam berapa hari lagi disitu?"

"Terserah empek yang mengatur." Buru-buru Beng Gi ciu berseru. Lalu sambil berpaling kembali katanya :

"Tapi pantaskah keponakan ikut menginap disitu?"

"Tentu saja" Thian cun yang tertawa, "pemburu Lan punya anak istri, kau toh bisa menginap bersama mereka."

Dengan cepat oh Kui sam membopong tubuh Kho Beng dan dibawah petunjuk Thian cun yang sebera berangkat menuju kebawah tebing sana.

Pemburu Lan memang seorang yang sangat ramah, dia melayani tamu-tamunya secara ramah dan hangat, untuk keperluan tempat penginapan malah dia menyisihkan dua buah kmar kosong bagi tamu-tamunya itu.

sebuah untuk tempat mondok Beng Gi ciu dan siau wan, sedang yang lain untuk merawat luka yang diderita Kho Beng serta tempat beristirahat dua orang kakek itu.

Untung Kho Beng memiliki dasar tenaga dalam yang amat sempurna, dua hari kemudian kesehatan badannya telah pulih kembali seperti sedia kala, tentu saja dalam jangka waktu sesingkat ini dia telah menceritakan semua pengalamannya kepada Beng Gi ciu sekalian. Pada hari ketiga, pagi-pagi sekali selesai duduk bersemedi, Kho Beng merasakan tubuhnya menjadi amat segar, tenaga dalamnya pun telah pulih kembali seperti sedia kala, tanpa terasa dia berdiri dari semedinya, untuk mencari udara segar.

Didalam muka rumah ia menjumpai Thian cun yang berdua sedang melakukan senam untuk melemaskan otot.

Maka cepat-cepat dia memberi hormat kepada mereka berdua sambil sapanya : "selamat pagi cianpwee berdua"

"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Tanya Thian cun yang sambil tertawa.

"Boanpwee merasa kesehatan badanku telah pulih kembali seperti sedia kala, aku jadi tak mengerti bagaimana harus membalas budi kebaikan atas pertolongan dari cianpwee berdua."

"Haaah..haaahhh.haaahh justru persoalan inilah yang hendak kami bicarakan," kata oh Kui sam cepat sambil tertawa terkekeh- kekeh. Thian Cun yang melirik sekejap ke arah kamar tidur Beng Gi ciu yang tertutup rapat, lalu setelah tertawa misterius, ajaknya : "Kho Beng, mari kita berbincang-bincang disana saja."

Dengan dicekam perasaan tak mengerti, Kho Beng mengikuti kedua orang kakek itu menuju kehalaman belakang.

Halaman belakang rumah adalah sebuah kebun sayur, aneka bunga tumbuh disekelilingnya membuat suasana disitu terasa tenang dan nyaman.

Waktu itu hari masih amat pagi, keluarga pemburu Lan belum ada yang bangun, maka mereka bertiga pun duduk diatas undak- undakan batu.

setelah termenung sejenak dengan wajah tertegun, Thian cun yang mulai bertanya.

"Kho Beng, selanjutnya apa rencanamu?"

Kho Beng agak tertegun, tetapi segera jawabnya : "Tentu saja banpwee akan mengiringi cianpwee berdua

membasmi kaum iblis dari muka bumi"

"setelah itu?" desak Thian cun yang. sekali lagi Kho Beng dibuat tertegun.

"Bila segalanya berjalan lancer dan partai kupu-kupu berhasil dihancurkan, boanpwee ingin hidup bersama cici ku ditempat yang sepi, membereskan pusara orang tua ku dan membangun kembali kejayaan nama keluarga kami."

"setelah semua urusan itu beres?"

Kho Beng tidak habis mengerti, terpaksa katanya agak tergagap. "Boanpwee akan . Akan membaktikan diri demi kepentingan

dunia persilatan membantu yang lemah dan membasmi yang jahat, menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan"

"Hmmm, cita-cita yang amat luhur," puji Thian Cun yang sambil mengacungkan kembali ibu jarinya, "tapi"

oh Kui sam yang tidak sabar, cepat-cepat menukas.

"Kalau pingin bertanya lebih baik tak usah berputar-putar dulu. Kho Beng, biar aku saja yang bertanya kepadamu, apakah kau tak mempunyai rencana bagi diri sendiri. Apakah selama hidup kau tak akan kawin?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Kho Beng merasakan hatinya bergetar amat keras, sementara paras mukanya berubah menjadi merah padam. Pertanyaan yang diajukan oh Kui sam terlalu blak-blakan dan langsung menuju kesasaran, hal ini membuat anak muda kita menjadi gelagapan dan tak tahu yang mesti dikatakan.

Akhirnya dengan wajah bersemu merah padam, pemuda itu menjawab :

"Tentang persoalan ini aku rasa .. aku rasa bukan masalah yang perlu dibicarakan sekarang kekacauan didalam dunia persilatan belum lagi mereda, dendam sakit hati belum terbalas, mana berani boanpwee membicarakan soal perkawinan?"

"Tidak bisa" kata oh Kui sam dengan suara dalam, "perkataanmu toh hanya alasan yang dibuat-buat dengan maksud untuk mengulur waktu, tidak bisa kita terima sebagai alasan yang sesungguhnya, menentramkan dunia persilatan yang sedang kalut dan menuntut balas sakit hati memang termasuk pekerjaan besar. Tapi belum tentu orang mesti membujang terus, bila ditemui kesempatan yang baik dan tepat, apalah salahnya kalau persoalan tersebut dibicarakan?"

"Betul" dukung Thian Cun yang. "Disaat untuk berbincang- bincang memang tak ada salahnya kalau masalah perkawinan pun di bicarakan, nah Kho Beng, apakah kau mempunyai rencana dalam hal ini?"

Cepat-cepat Kho Beng menggeleng.

"Setiap hari boanpwee harus berkelana dari timur kebarat, dari utara ke selatan, masih hiduppun menjadi tanda Tanya besar, belum pernah kulewatkan hari-hari dengan tenang, bayangkan saja, mana mungkin aku sempat memikirkan persoalan seperti ini?"

"Kalau begitu, paling kau belum pernah bertunangan, bukan?" Tanya oh Kui sam lagi sambil tertawa gembira.

"Tentu saja belum"

Thian cun yang segera berpikir sebentar, lalu katanya : "Perkawinan adalah suatu kejadian besar dalam kehidupan

manusia, kau harus menerangkan dulu kepada kami, apakah dalam hati kecilmu mempunyai bayangan seseorang yang kau cintai? Atau mungkin kau pernah menaruh kesan dalam terhadap seorang wanita?"

Tanpa disadari Kho Beng segera teringat akan chin sian kun, paras mukanya seketika berubah makin merah, buru-buru sahutnya

: "Belum belum pernah ada yang kucintai" "Bagus sekali" sorak Thian cun yang sambil bertepuk tangan, "kalau begitu biar aku langsung membicarakan soal pokoknya, kau toh mengerti bahwa keponakan perempuanku Beng Gi ciu adalah keturunan dari Kim Ka sian pemimpin dari tiga dewa, ia pun terhitung jagoan yang cukup tangguh didalam dunia persilatan."

oh Kui sam ikut menimbrung tapi segera dicegah Thian cun yang dengan pelototkan matanya, setelah itu sambil tersenyum dia berkata lebih lanjut :

"Aku dengar, ia pernah menyelamatkan dirimu dibela kang lembah bukit Cian san, apakah benar demikian?"

Dengan cepat Kho Beng menyadari apa yang menjadi maksud kedua orang tua tersebut, ia sadar masalah tersebut memang sebuah masalah yang amat pelik, tapi setelah mendengar pertanyaan itu terpaksa dia harus menjawab : "Yaa benar"

"Beruntung sekali kami berdua pun telah menolongmu lagi dari situa Bangka Ui," kata Thian cun yang sambil tertawa ,"Itu berarti kau memang sangat berjodoh dengan kami keturunan dari tiga dewa, bukankah demikian?"

"Boanpwee merasa amat berhutang budi, selama hayat masih dikandung badan tak akan kulupakan budi kebaikan ini."

"Itu sih tak perlu." Cepat-cepat Thian cun yang menggoyangkan tangannya berulang kali, "kalau toh kita memang berjodoh, ini berarti pula segala sesuatunya telah diatur oleh yang kuasa dilangit karenanya kami berniat mempererat hubungan tersebut, menjadi lebih akrab lagi."

sesudah berhenti sebentar, tanyanya kemudian : "Bagaimana pendapatmu tentang keponakan perempuanku ini?"

"Cianpwee" Kho Beng menjadi serba salah .

"Hayo jawab pertanyaanku" seru Thian cun yang sambil menarik muka. Pelan-pelan Kho Beng mengangguk. katanya :

"Nona Beng adalah keturunan orang termasyur, wajahnya cantik, kepandaiannya pun tinggi, boleh dibilang dia adalah seorang nona yang sangat menawan hati. "

Jawaban itu diutarakan dengan perasaan yang sejujurnya.

oh Kui sam yang turut mendengarkan dari samcing menjadi amat kegirangan sambil mengerakkan tubuhnya yang gemuk pendek. dia berseru : "Hey anak muda, aku pingin bertanya kepadamu, seandainya kau bisa mendapatkan nona seperti itu sebagai istri, tentunya kau merasa tidak sia-sia bukan hidup didunia ini?"

Kho Beng menundukkan kepalanya semakin rendah lagi : "Ucapan cianpwee memang benar"

saking gembiranya oh Kui sam segera berteriak : "Nah, anak muda kami dua orang tua berniat menjodohkan keponakan perempuan kami itu kepadamu"

Kho Beng menjadi tertegun, meski sejak tadi ia telah menduga akan hal ini, agak tergagap serunya kemudian : "soal ini . soal ini .. boanpwee .."

sampai setengah harian lamanya ia tak mampu melanjutkan perkataannya, namun dia pun tidak mengutarakan keputusannya, setuju atau tidak.

Thian Cun yang dan oh Kui sam sebera menarik wajah masing- masing, sambil mendengus oh Kui sam sebera berseru :

"Aku anggap kejadian ini merupakan sebuah berita gembira yang luar biasa, mungkin kau bisa semaput saking girangnya tapi kenyataannya, kenapa kau justru tergagap seperti tak mampu mengemukakan pendapat? Apakah kecantikan dari keponakan kami ini belum bisa memenuhi harapanmu?"

"Ya a betul, apakah kau menganggapnya tak pantas menjadi binimu?" sambung Thian cun yang.

Buru-buru Kho Beng menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berseru :

"Harap cianpwee berdua jangan salah paham, kecantikan dan kepandaian nona Beng menawan hati, lagi pula dia berasal dari keturunan keluarga termasyur, apa lagi yang kurang begiku? Akan tetapi.."

"Akan tetapi kenapa?" dengus oh Kui sam. setelah berpikir sebentar, Kho Beng berkata :

"Boanpwee rasa dalam situasi seperti ini, kita tak seharusnya membicarakan persoalan macam itu, sebab cici ku masih berada dalam kesulitan, perkampungan Hui im ceng masih berupa puing- puing yang berserakan, sedang arwah orang tua kami pun masih gentayangan di alam baka dengan penasaran, boanpwee ."

"Ya a, aku tahu, ucapan mu memang benar sekali, tapi bukan merupakan sebuah alasan yang kuat," kata Thian cun yang tertawa. "Aku mempunyai sebuah usul bagus, bagaimana kalau kita atur dulu soal ikatan jodoh ini, kemudian setelah dunia persilatan tenang kembali dan dendam kesumat Hui im ceng sudah dituntut balas, upacara perkawinan baru diselenggarakan?"

"Betul, cara ini bagus sekali." Sambung oh Kui sam, "bagaimana kalau kita tentukan demikian saja?"

Dengan kening berkerut Kho Beng sebera berkata : "Boanpwee Cuma manusia biasa yang tak berkemampuan apa-

apa, mungkin juga nona Beng tak akan setuju." oh Kui sam sebera tertawa terbahak-bahak :

"Haaahh .. haaahhh .. haaahhh .. kau tak usah rikuh, padahal wajahmu tampan, tubuhmu tegap. berulang kali mendapatkan penemuan aneh membuat kemampuanmu mencapai tingkatan yang luar biasa sekali. Kecuali kau, siapa lagi yang pantas menjadi suami keponakan perempuan kami itu?"

"Ya a benar, kujamin dia pasti setuju," sambung Thian cun yang sambil tertawa pula.

Kho Beng berpikir sebentar kemudian katanya, "Walaupun orang tua boanpwee telah tewas namun ciciku masih segar bugar, boanpwee rasa masalah perkawinanku ini lebih baik dibicarakan dulu dengannya, apalagi ciciku toh sebagai pengganti orang tua."

Dengan cepat oh Kui sam menarik muka, tegurnya : "Hey bocah muda, kenapa sih kau berulang kali menolak"

"Kho Beng biar kutanggung masalah tersebut," kata Thian cun yang tiba-tiba, "bila kami telah bersua dengan cicimu nanti, akan kusinggung masalah perkawinanmu itu, aku percaya dia tak akan keberatan."

Mendengar perkataan ini terpaksa Kho Beng berseru : "Jangankan cianpwee berdua telah melepas budi pertolongan

kepada boanpwee, dilihat dari tingkatan kedudukan cianpwee berdua pun cici pasti tak akan keberatan."

"Kalau begitu urusan menjadi beres" seru Thian cun yang sambil bertepuk tangan. "nah, dengarkan baik-baik Kho Beng, dalam soal perjodohanmu dengan keponakan perempuan kami ini, anggap saja akulah yang telah memaksamu, setelah cicimu lolos dari bahaya nanti, akulah yang akan menjelaskan semua persoalan ini kepadanya."

Kho Beng segera menunduk tanpa berbicara, bukannya dia merasa keberatan. Berbicara dari kecantikan dan keluwesan Beng Gi ciu, ia memang seorang calon istri yang sangat ideal malah baginya bagaikan pucuk dicinta ulam tiba.

Tapi ia pun merasa tidak pantas untuk mengikat tali perkawinan disaat dendam sakit hatinya belum terbalaskan, encinya pun masih berada dalam keadaan berbahaya.

Tapi berhubung situasi yang berada didepan mata membuatnya tak dapat menampik lagi, maka diapun membungkam diri dalam seribu bahasa. sementara itu oh Kui sam telah memutar biji matanya sambil berseru : "Beres sudah, mari kita persiapkan hari yang gembira ini dengan sebaik-baiknya." Kemudian setelah berhenti sejenak. la melanjutkan dengan gembira.

"sekarang juga aku akan mencari si tua Lan agar dia siapkan perjamuan untuk kita semua hari ini kita harus merayakan peristiwa ini dengan sebaik-baiknya."

Tidak sampai perkataannya selesai diucapkan, dengan cepat kakek itu sudah berlalu dari sana. Dalam keadaan begini Kho Beng sendiri tak bisa mengatakan bagaimana rasa hatinya sekarang, disamping rasa gembira terselip pula rasa haru dan sedih. Tentu saja yang paling menonjol aadalah rasa malu-malu kucingnya.

"Ayolah jalan" kata Thian cun yang sambil tertawa. "Mari kita pergi kedepan"

Maka mereka berdua pun berjalan kembali kehalaman depan.

Baru saja melangkah keluar dari halaman tampak Beng Gi ciu dan siau wan sedang berjalan-jalan menghirup udara pagi.

Ketika melihat kedatangan dua orang tersebut, Beng Gi ciu segera menegur sambil tertawa.

"Empek Thian, sepagi ini kau sudah bangun dari tidurmu?" Thian Cun yang tertawa terbahak-bahak, sahutnya :

"Haaaa .. haaaahhh ..biasanya orang yang mendapat rejeki wajahnya selalu cerah, otomatis diapun akan bangun pagi, keponakanku kau mesti turut bergembira. "

Beng Gi ciu agak tertegun, lalu tanyanya sambil tertawa : "Apakah empek Thian menjadi kaya?"

"Haaahh . Haaahhh . Harta kekayaan adalah barang sampingan, apalagi usia empek sudah setua ini, apa artinya harta kekayaan bagiku? Rejeki yang sudah tak menarik perhatianku lagi"

Beng Gi ciu memutar biji matanya sambil berpikir sebentar, mendadak serunya keras. "Aaaah, aku mengerti sekarang, sudah pasti empek telah menemukan bibi baru"

"Ya a . Ya a a .dugaanmu sudah hampir tepat" kata Thian Cun yang sambil tertawa misterius.

"Cuma bukan empek yang mendapat bibi baru justru empek telah mencarikan pasangan yang serasi untukmu."

Kontan saja sepasang pipik Beng Gi ciu berubah menjadi merah jengah agak tersipu sipu serunya :

"empek, kenapa sih kau gemar menggoda diriku?"

Sambil membalikkan badan ia segera lari masuk kedalam kamar.

Sebaliknya Siau wan kelihatan gembira setengah mati sambil memandang Kho Beng segera katanya :

"Mungkin Kho kongcu yang bakal menjadi majikan mudaku?" Thian cun yang sebera mengangguk.

"Yaa, selain dia, siapa lagi yang pantas menjadi pasangan hidup nonamu itu?"

saking girangnya siau wan sebera berseru

"Kau orang tua memang betul-betul pandai bekerja, kalian pun sungguh memahami perasaan hati nona kami, kalau begitu siau wan mesti berterima kasih sangat kepada kau orang tua?"

sambil mengelus jenggotnya, Thian cun yang tertawa bergelak : "Haaahh . Haaahhh ..haaahhh .tetu saja kau harus berterima

kasih kepadaku, setelah nonamu kawin dengan Kho sauhiap. maka kau pun pasti akan menemani nonamu, kau tahu apa arti dayang yang turut majikannya kawin? Berarti kau pun merupakan istri muda dari Kho sauhiap"

Siau wan menjadi amat tersipu-sipu, serunya gemas : "Kau orang tua memang nakal, masa aku pun turut digoda?" Cepat-cepat dia membalikkan badan dan kabur dari situ

Thian cun yang segera tertawa tergelak, ia kelihatan gembira sekali dengan peristiwa ini.

oh Kui sam memang amat cekatan dalam mempersiapkan segala sesuatunya, dalam waktu singkat suasana gembira telah meliputi rumah pemburu Lan. semua orang sibuk berbenah, sibuk menghias dan mempersiapkan perjamuan untuk upacara pertunangan Beng Gi ciu dengan Kho Beng nanti.

Akibatnya Kho Beng serta Beng Gi ciu menjadi amat tersipu-sipu, bahkan gara-gara perkataan Thian Cun yang tadi, siau wan pun turut merasa jengah sampai tak berani mendongakkan kepalanya lagi.

Dia percaya perkataan dari Thian Cun yang memang benar, sudah pasti dirinya akan turut nonanya setelah menikah, ini berarti dia pasti akan menjadi istri muda Kho Beng.

Hanya Thian Cun yang serta oh Kui sam yang dapat berbicara sambil tertawa bergelak. bukan saja mereka selalu berteriak teriakan, tak lupa pula menggoda kedua pasangan sehingga membuat Kho Beng maupun Beng Gi ciu sekalian tak berani angkat kepala. Hari itu mereka lewati dalam suasana gembira ria.

Menjelang malam, suasana rumah pemburu Lan baru mulai hening, Thian Cun yang, oh Kui sam bersama sepasang calon suami istri ditambah siau wan duduk berkumpul dalam satu ruangan dan bersama-sama mengadakan perundingan. Pertama-tama Thian Cun yang yang berbicara lebih dulu, katanya :

"Kini luka yang diderita Kho sauhiap telah sembuh, tentu saja kurang leluasa buat kita untuk berdiam lebih lama disini, sekarang kita mesti membicarakan langkah kita berikut"

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian ujarnya.

"Dikala boanpwee meninggalkan kuil Leng thian sian wan dipuncak Giok cing hong bukit Tiong lam san tempo hari sudah pasti Phu sian sangjin sekalian dicekam perasaan ragu dan tak tenang. Y a, ketika itu boanpwee terpaksa berbuat demikian karena guruku almarhum telah berpesan demikian, mau tak mau aku mesti mengajak bajingan tua she Ui itu untuk mengadakan pertemuan empat mata serta mengemukakan diat dari mendiang guruku."

"Tindakan semacam ini merupakan suatu tindakan yang ksatria, perbuatanmu memang benar sekali" seru oh Kui sam nyaring.

"Sebetulnya maksud boanpwee akan kembali lari kekuil Leng thian sian wan dan memberi penjelasan kepada mereka setelah tugasku selesai, siapa sangka gara-gara kekhilafanku hampir saja nyawaku melayang ditangan bajingan she Ui itu, akibatnya . saat ini mereka semua telah berangkat ke Siau lim si," kata Thian cun yang.

"Malah kudengar surat undangan telah disebar luaskan keseluruh dunia persilatan untuk mengundang para jago berkumpul di Siau lim si dan bersama-sama membicarakan cara untuk menanggulangi peristiwa besar ini, dengan jarak yang begitujauh dari sini kebukitSiong san, aku pikir tidak cocok kalau kita mesti berangkat kesitu." "Tapi boanpwee kuatir kalau hal tersebut sampai menimbulkan kesalah pahaman umat persilatan kepadaku, akibatnya persoalan menjadi sulit untuk dijelaskan."

"Soal ini tak perlu kau kuatirkan, paling tidak perkataan dari kami dua orang tua Bangka masih punya manfaatnya, soal penjelasan kepada Phu sian sangjin hwesio sekalian, serahkan saja kepadaku, Cuma sekarang .. Hmmm, padahal apa susahnya?" dengus oh Kui sam tiba-tiba.

"Asal kita mendatangi bukit Cian san mengobrak-abrik sarangnya, bukankah semua persoalan menjadi beres?"

Dengan cepat Thian cun yang menggelengkan kepalanya. "Dis inilah letak masalahnya, kita tak boleh bertindak kelewat

gegabah."

"Memangnya kita harus takut dengan bajingan tua Ui sik kong?" seru oh Kui sam penasaran.

"Takut sih tentu tak perlu takut, tapi dibalik kesemuanya masih terdapat berbagai kesulitan."

"Hmmm, apa kesulitannya?"

Thian cun yang berpikir sebentar, kemudian katanya : "Pertama, Kho Beng telah menyanggupi permintaan si naga

terbang dari see ih Kongci cu untuk memelihara keutuhan dari keturunan partai kupu-kupu, padahal Ui sik kong hanya mempunyai seorang anak gadis, paling tidak kita kan tak bisa menumpas mereka berdua?" Bantah oh Kui sam :

"Padahal asal semua jago andalan partai kupu-kupu dapat kita sikat habis, dengan sisa mereka ayah dan anak berduaan saja, apa pula yang bisa mereka kerjakan?"

"aku rasa persoalan tersebut tak akan begitu sederhana, apalagi Ui sik kong adalah manusia yang amat licik, salah-salah kita sendiri yang menjadi korban." Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya

:

"selain itu, kakek tongkat sakti beserta kakak Kho sauhiap sekalian masih berada ditangan bajingan tua Ui Sik kong, bila ia menyandera orang-orang tersebut dan mengancam dengan nyawa mereka sebagai taruhannya, lalu apa yang mesti kau perbuat?" sambil meremas-remas sepasag tangannya, oh Kui sam manggut- manggut : "Yaa, bajingan tua itu memang dapat melakukan perbuatan apa saja, persoalan ini memang sebuah masalah yang amat pelik," Thian cun yang segera berkata lebih jauh :

"Hingga kini tiga hari sudah lewat, siapa yang tahu permainan busuk apa lagi yang telah dipersiapkan bajingan tua Ui sik kong. Biarpun tenaga dalam yang kita miliki masih mampu mengunggulinya, tapi bila ditambah dengan kelicikan hatinya, sudah jelas ia merupakan musuh yang amat tangguh untuk kita berdua."

"Ehmmm, kita berdua tak pernah mempunyai akal untuk main licik-licikan, memang disinilah letak kerugian bagi kita," kata oh Kui sam sambil menggigit bibir. " Lantas menurut pendapatmu kita tak boleh menyatroni bukit ciansan?" kemudian setelah menghembuskan napas panjang, ia berkata lagi :

"Apakah kita mesti pergi ke siau lim si untuk menggabungkan diri dengan Phu sian lo hwesio serta mengikuti perintahnya?"

"Tentu saja kita tak boleh berbuat begitu, bagaimanapun juga kita harus mendatangi bukit Cian san, hanya saja kedatangan kita tak boleh terang-terangan, kita mesti merahasiakan jejak kita dulu."

" dengan kedudukan serta pamor kita didalam dunia persilatan, masa kita berdua pun mesti mendatangi sarangnya seperti pencuri yang takut ketahuan?"

dengan wajah serius Thian cun yang berkata :

" Kesemuanya ini salahmu sendiri, kenapa sepanjang hidup mengasingkan diri terus menerus dipulau Bong lay to? Kalau tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, otomatis kau tak akan memiliki pengalaman apa-apa. Ketahuilah perbuatan seperti apa pun bisa saja terjadi dalam dunia persilatan, karena nya seorang dibutuhkan akal yang panjang untuk dapat mengatasi situasi dan kondisi setempat, biarpun kita datangi bukit Cian san secara diam- diam, hal semacam ini bukan berarti akan menurunkan martabat serta pamor kita." setelah berkerut kening berapa saat, akhirnya oh Kui sam berkata :

"Baik,lah, terserah pada yang hendak diperbuat, kalau memang akan didatangi secara diam-diam, mari kita datangi saja secara diam-diam." Thian cun yang segera berpaling kearah Kho Beng, lalu ujarnya lagi. "Apakah kau mempunyai pendapat lain?"

"segala sesuatunya boanpwee akan menuruti semua perintah cianpwee, hanya saja" setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam sambungnya lebih lanjut, "Dalam perjalanan kita menuju kebukit Cian san kali ini, boanpwee telah bertekad akan menolong kakek tongkat sakti, nona Chin serta ciciku sekalian dari sekapan musuh."

"oooh, tentu saja " Thian cun yang manggut-manggut.

"Malah jalan pemikiranku lebih hebat lagi, seandainya pukulan kita dibukit Cian san kali ini berhasil dengan sukses, bisa jadi segala kerepotan yang dilakukan orang-orang di siau lim si saat ini bakal sia-sia."

"Tentu saja" sambung oh Kui sam.

" Kalau gebrakan kita berhasil, anggap saja kita memang tidak menyia-nyiakan nama besar serta kemampuan yang diperjuangkan leluhur kita dimasa lalu, namun kalau gagal, pamor kita bakal hancur berantakan."

Kemudian setelah berhenti sebentar, katanya lagi. " Lantas kapan kita akan berangkat?"

Thian cun yang termenung sebentar lalu katanya : "Bagaimana kalau besok pagi?"

"Baiklah, besok pagi kita berangkat"

"Kini waktu berangkat telah ditentukan, mari kita rundingkan kembali bagaimana caranya untuk menempuh perjalanan?"

"Berangkat ya berangkat, memangnya kau ingin naik tandu atau menunggang keledai?" tanya oh Kui sam keheranan.

Thian cun yang mengerling sekejap kearah rekannya, lalu berkata

:

"Kau jangan salah artikan perkataanku itu, kita kan semuanya

berjumlah lima orang, bukan saja sasarannya menjadi lebih besar, perjalananpun pasti ditempuh amat lambat, lebih baik kita membagi diri menjadi dua rombongan saja."

dengan cepat oh Kui sam memahami tujuan rekannya itu, sahutnya dengan cepat. "Benar, benar, perkataan ini memang masuk akal" dengan wajah bersemu merah, Beng Gi ciu sebera berseru :

"Kalau begitu biar aku dan siau wan berada satu rombongan dengan empek Thian"

"Waaaah tidak bisa, aku tak ingin berada satu rombongan

denganmu " tolak Thian cun yang sambil menggelengkan

kepalanya berulang kali. sambil tertawa bergelak, oh Kui sam berseru pula : "Hey budak. kami berdua sudah terbiasa menempuh perjalanan bersama, masa kau ingin memencarkan kami berdua ?"

Air muka Beng Gi ciu berubah makin memerah, kali ini dia terbungkam dalam seribu bahasa.

Kembali oh Kui sam berkata :

"Biar yang muda berkumpul dengan yang muda, yang tua berkumpul dengan yang tua, sebab baru namanya cocok dan serasi, saudara Cun yang, tentunya kau tak merasa keberatan bukan dengan pembagian ini ?"

"ooooh tentu saja, tentu saja " sahut Thian Cun yang sambil

manggut-manggut.

"Kami berdua memang tak bisa dipisahkan satu sama lainnya, bagaikan kuali dengan tutupnya, tak seorangpun bisa memisahkan kami berdua nah keponakanku, kau toh berkunjung ke bukit

Ciansan, menurut pendapatmu dimanakah kita akan bersua muka ?" setelah berpikir sesaat, dengan wajah serba salah, akhirnya Beng

Gi ciu berkata lirih :

"Bagaimana kalau dilembah belakang puncak bukit Cian san ?" "Bagus kentongan kedua esok malam kita akan bersua lagi

ditempat tersebut."

Keesokan harinya dengan perasaan berat hati keluarga pemburu Lan melepas keberangkatan jago-jago tersebut hingga tiba didepan dusun.

setelah menempuh perjalanan lebih kurang setengah li kemudian didepan situ muncul sebuah persimpangan jalan.

Mendadak Thian cun yang menghentikan langkahnya seraya berkata : "Kita harus berpisah sekarang "

Tanpa sadar muka Beng Gi ciu dan Kho Beng sekalian berubah menjadi merah jengah, sebaliknya Thian cun yang dan oh Kui sam segera tertawa terbahak-bahak. dengan sekali lompatan saja mereka berdua telah berlalu dari situ.

Lebih kurang empat, lima puluh kaki kemudian kedua orang tua ini berhenti ditengah sebuah hutan lebat.

dengan kening berkerut oh Kui sam sebera menegur : "Hey kenapa? Sudah lelah?"

"Auuuuh, kalau baru berjalan berapa langkah sudah merasa lelah, buat apa aku berkelana terus didalam dunia persilatan ?"

" Lantas mengapa menghentikan perjalanan?" sambil tertawa Thian cun yang balik bertanya, "Kau anggap kita akan benar-benar berpisah jalan dengan mereka ?"

"Lho bukankah ede tersebut muncul dari benakmu ?" suara oh

Kui sam keheranan.

" Kenapa kau berubah pikiran lagi sekarang ?"

"Aku bukannya berubah pikiran, tapi mempunyai maksud lain, " tertawa Thian cun yang nampak misterius.

"Hmmm, tak sedikit akal busukmu, maksud apa lagi yang kau kandung ?"

" Untuk kepentingan keponakan kita, apalagi mereka harus menempuh perjalanan bersama kita berdua, sudah bisa diramaikan tingkah laku mereka bakal kaku sekali, padahal diantara mereka berdua tentu mempunyai banyak urusan peribadi yang hendak diutarakan, lalu apa artinya kita bedua menjadi pengganjal mata yang tak sedap untuk mereka berdua."

"Ya a betul, betul Itulah sebabnya aku menyetujui usulmu tadi dan menempuh perjalanan secara terpisah, tapi kau "

"Membiarkan mereka menempuh perjalanan sendiripun rasanya tak tega, "sela Thian cun yang, "sebab kita cukup tahu betapa licik dan kejinya si manusia laknat Ui sik kong. manusia semacam ini bisa saja melakukan perbuatan macam apapun, andaikata mereka sampai terjadi apa-apa bukankah kita bakal menyesal sepanjang masa ?"

"Bagaimana sih kau ini ?" oh Kui sam segera menghentakkan kakinya keatas tanah. "Mengapa kau menguatirkan yang bukan- bukan ? Lantas apa rencanamu selanjutnya?"

"Nah, disinilah letak kehebatan dari usulku tersebut, ibaratnya sekali timpuk mendapat dua hasil, bukan saja kita tak menjadi pengganjal mata untuk mereka, kita pun tak usah kuatir mereka mengalami kejadian yang diluar dugaan." oh Kui sam segera melototkan matanya bulat-bulat, teriaknya :

"Hey tua bangka, sudah cukup aku dipermainkan habis-habisan, sudah bisa kutebak, rupanya kau hendak menguntil mereka lagi secara diam-diam?" Thian Cun yang sebera tertawa berkelak :

"Haaah ..... haaaahh ..... haaahh tuh lihat mereka sudah

pergi jauh, ayo kita cepat menyusulnya."

"Kau betul-betul hebat, tak ubahnya seperti rase tua" puji oh Kui sam sambil tertawa gembira. Begitulah, mereka berdua tak membuang waktu lagi, bagaikan dua gulung hembusan angin puyuh, dengan cepat mereka berkelebat menuju kedepan.

^ooooooo

Kho Beng merasa amat tak tentram hatinya melihat kepergian Thian cun yang berdua.

Seandainya diantara mereka tak pernah ada ikatan pertunangan, menempuh perjalanan bersama bukanlah masalah yang terlalu merisaukan, tapi setelah adanya ikatan tersebut, ia justru merasa agak rikuh.

Akan tetapi dila teringat si nona yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan ini sudah menjadi istrinya yang tercinta, dari hati kecilnya timbul pula perasaan gembira yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Akibatnya untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu dan berdiri mematung bagaikan orang bodoh.

Beng Gi ciu yang menyaksikan hal tersebut menjadi amat geli, tanpa terasa ia tertawa cekikikan.

Suara tertawanya dengan cepat menyadarkan kembali Kho Beng dari lamunannya, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya sambil tertawa rikuh : "Nona, mari kita berangkat"

Beng Gi ciu manggut-manggut dan segera berangkat duluan. siau wan yang dihari-hari biasa banyak bicara dan lincah,

berhubung benaknya selalu dipenuhi ucapan Thian cun yang yang mengatakan dia adalah bini muda Kho Beng, akibatnya dayang yang lincah ini menjadi jarang berbicara dan membungkam terus. selama ini dia hanya mengikuti disamping Beng Gi ciu tanpa mengucapkan apapun.

Hampir dalam dua jam berikut, ketiga orang itu tetap berjalan dengan mulut terbungkam.

Mendekati tengah hari, sinar surya memancar dengan terik diatas langit, mendadak Beng Gi ciu menghentikan perjalanannya dan menjatuhkan diri duduk diatas batu dalam hutan.

Melihat itu Kho Beng ikut menghentikan langkahnya, lalu menegur :

"Nona, apakah kau lelah?"

Tanpa berpaling Beng Gi ciu menjawab : "Bukan cuma lelah, perutku terasa lapar" sambil tertawa Kho Beng sebera berkata : "Tak jauh didepan sana adalah dusun Pit kho ceng, bagaimana kalau kita beristirahat didusun tersebut?"

"Baiklah"

sikap dan jawaban si nona yang hambar segera menimbulkan perasaan yang amat tak sedap dalam hati kecil Kho Beng, pikirnya tanpa sadar :

"Waaaah susah amat melayani gadis keturunan orang

kenamaan sekarang saja sikapnya sudah panas dingin tak

menentu, entah bagaimana sikapnya setelah kawin secara resmi nanti?"

Tapi bila teringat Beng Gi ciu adalah tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya, apalagi ikatan jodoh itupun dilakukan oleh Thian cun yang serta oh Kui sam, pemuda kita merasa wajib untuk mengalah berapa bagian kepada gadis tersebut. sementara dia masih termenung, terdengar Beng Gi ciu menegur lagi dengan dingin

:

"Mengapa secara tiba-tiba kau berubah seperti patung?" Kho Beng agak tertegun, sahutnya tergagap :

"Maksud nona"

"Hmmm, coba kau lihat tampangmu sewaktu berdiri disitu, emangnya tidak mirip kayu saja? Kalau memangnya ingin beristirahat kenapa tidak duduk?"

"Aku tidak lelah" sahut Kho Beng terbata-bata.

Perkataan ini memang sejujurnya sebab bagi pemuda kita biarpun harus menempuh perjalanan sehari semalampun belum tentu dia akan merasa lelah.

Padahal Beng Gi ciu sendiripun tidak merasa lelah, hanya disebabkan rasa tak senangnya maka dia sengaja duduk untuk mengambek.

Diam-diam Kho Beng menghela napas panjang, sambil memaksakan diri untuk tertawa katanya kemudian : "Baiklah, biar akupun duduk"

Maka diapun mengambil tempat duduk disebuah batu yang berada disisinya.

Waktu itu diatas sebatang pohon, lebih kurang dua puluh kaki dibelakang ketiga orang itu, Thian Cun yang dan oh Kui sam sedang bersembunyi disana. Kalau Thian Cun yang masih tersenyum simpul, maka oh Kui sam dengan wajah serius berbisik kepada rekannya dengan ilmu menyampaikan suara : "Aku lihat keadaan sedikit kurang beres"

"Apanya yang tidak beres?" Thian Cun yang balik bertanya dengan ilmu menyampaikan suara pula.

"Hmmm, matamu belum lamur, telingamu belum tuli, masa kau masih juga belum tahu."