Kedele Maut Jilid 38

 Jilid 38

Blaaamm

Ditengah suara benturan yang sangat keras, deruan angin pukulan yang dihasilkan dari kedua belah tangannya itu sudah menghantam telak tubuh kesembilan orang tersebut.

Sedemikian hebat dan kuatnya tenaga serangan yang dihasilkan sehingga daerah seluas dua kaki persegi telah terkurung oleh desingan angin serangannya ini.

Dalam waktu singkat, Sembilan orang pengawal pribadinya itu sudah terhajar sampai remuk kepalanya, patah kaki dan tangannya dan tewas dalam keadaan yang sangat mengerikan. Peristiwa ini betul-betul berada diluar dugaan siapa pun.

Rupanya Bu wi lojin sekalian berdiri agak jauh dari sana, sedangkan Kho Beng pun tidak menyangka akan terjadinya peristiwa ini.

Ketika Ui Sik kong melangkah maju dua tindak kedepan tadi, sesungguhnya ketua dari partai kupu-kupu ini sudah mencari tempat atau posisi yang strategis dan menguntungkan, dimana selain dia bisa melancarkan serangan secara langsung, pun membuat para hadirin tak akan mampu memberikan pertolongan. Dengan perasaan geram, Kho Beng segera membentak :

"Bajingan tua, benar- benar perbuatanmu sangat keji dan tidak berperikemanusiaan"

"Padahal perbuatan inipun termasuk dalam rangka rencana busuknya," sindir Ngo cun ki kemudian, "rupanya dia takut kalau salah seorang dari kesembilan orang itu teratuh ketangan kita sehingga menyebabkan semua rahasianya terbongkar"

Ui sik kong tertawa keras.

"Haaaahh..haaahhhaahh boleh dibilang tindakanku ini merupakan tindakan tegas karena didesak situasi atau tegasnya saja biarpun mereka terhitung jago kelas satu dari partai kupu-kupu, namun dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan, mau tak mau terpaksa aku harus mengorbankan mereka semua."

Mengawasi mayat yang hancur dan berserakan diatas lantai, Kho Beng berseru sambil menggigit bibir :

"Bajingan tua Rasa benciku terhadapmu sudah merasuk sampai ketulang sumsum, kalau bisa aku ingin menghabisi nyawa anjingmu"

Ui sik kong tertawa dingin.

"sekarang memang tiba giliran kita untuk menyelesaikan persoalan yang ada silahkan saja melancarkan serangan" Ui sik kong mendengus.

"Hmmm, selamanya aku lebih suka bekerja secara cepat dan membedakan urutan masalahnya hari ini, aku hanya akan menyelesaikan pertikaian diantara kita berdua sementara terhadap partai-partai lainnya, aku hanya akan mngulangi pemberitahuanku yang terdahulu, yaitu dalam batas waktu satu bulan kalian semua sudah harus tiba dibukit Cian san, barang siapa melanggar perintah ini dan tidak sampai ditempat tujuan pada batas waktu terakhir, kami akan menganggapnya sebagai musuh serta menumpasnya tanpa belas kasihan lagi." Kho Beng tertawa dingin.

"Lanjutkan kata-katamu, bagaimana kita hendak menyelesaikan pertikaian ini?"

"setelah kau mengeluarkan sepasang gelang surya rembulanmu, nampaknya suatu pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi, aku pun tak ada perkataan lain yang bisa diucapkan selain pernyataanku untuk mengiringi kehendakmu itu"

"Bagus" seru Kho Beng sambil manggut-manggut, "bagaimanapun juga hari ini kita harus dapat menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita berdua, hayo cepat kau lancarkan seranganmu"

Ui sik kong memandang sekejap sekeliling ruangan, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak. aku tak ingin bertarung disini, bila kau berani menerima tantanganku, mari kita tinggalkan bersama tempat ini."

Pelajar Rudin Ho Heng yang mendengar perkataan tersebut segera berteriak keras : "Hey anak muda, jangan kau termakan oleh siasat liciknya" Kho Beng berpikir sebentar, kemudian menjawab

"sesungguhnya boanpwee memang ingin menantangnya untuk beduel satu melawan satu." "Tidak boleh tidak boleh.." seru pelajar rudin sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya.

Kho Beng tertawa getir.

"Boanpwee tidak mengemukakan alasan yang sebenarnya secara terperinci, tapi aku benar-benar mempunyai urusan yang penting untuk menantangnya berduel satu melawan satu."

Ui sik kong yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa terbahak-bahak. katanya dengan cepat :

"Tidak kusangka dengan usiamu yang begitu muda ternyata berani mengambil keputusan dengan tegas, aku merasa amat kagum sekali"

"Nah itu dia, orang itu sengaja hendak menggunakan siasat licik untuk memanasi hatimu." Kembali pelajar rudin berteriak. Bu wi lojin turur berseru pula dengan suara dalam.

"Kelicikan dan kebusukan hati orang ini tak mungkin bisa kau tandingi, lebih baik..." Namun sebelum perkataan tersebut selesai diutarakan, Kho Beng telah menukas :

"Walaupun boanpwee tak ingin melanggar permintaan cianpwee sekalian, namun dalam persoalan hari ini terpaksa aku mesti membangkang, kuminta cianpwee sekalian sudi memaafkan"

Ui sik kong segera memandang sekejap wajah para jago yang hadir dalam ruangan lalu katanya sambil tertawa.

"Pertemuan pada hari ini benar-benar merupakan sebuah pertemuan yang tidak menyenangkan, kuharap dalam pertemuan kita berikutnya keadaannya bisa jauh lebih baikan, nah, saudara sekalian selamat tinggal" Habis berkata, dia segera melejit keluar dari ruangan tersebut.

Tiada orang yang menghalangi, tiada pula yang melakukan pengejaran, semua orang hanya berdiri termangu menyaksikan kejadian kepergian tokoh sakti dari partai kupu-kupu itu.

Kho Beng sendiripun tidak banyak bebicara lagi, dia menjura keempat penjuru lalu bagaikan s eg ulung asap ringan segera menyusul dibela kang Ui sik kong.

Suasana hening segera mencekam ruangan kuil sampai berapa saat lamanya. Para jagoan hanya bisa saling berpandangan dengan mulut melongo.

Akhirnya Phu sian sangjin berseru memuji keagungan sang Buddha, hanya suara pujian itu yang memecahkan keheningan. Ketua Hoa sanpay Ngo Cun ki mengerling sekejap wajah para jago, lalu berkata :

"Peristiwa ini benar-benar sangat aneh, mengapa Kho sauhiap bersikeras hendak meninggalkan tempat ini dan melangsungkan pertarungan satu lawan satu dengannya."

sejak Ngo Cun ki berhasil membongkar siasat busuk dari kesembilan pengawal pribadi Ui sik kong, pandangan semua orang terhadap gadis muda inipun otomatis turut berubah. "omitohud" kata Phu sian sangjin, "apakah Ngo ciangbunjin mempunyai suatu pendapat?"

Dengan kening berkerut, Ngo Cun ki berkata :

"Menurut penuturan losiansu tadi, benarkah Kho sauhiap telah menderita luka parah dan terjatuh ketangan Ui sik kong?"

"Benar" sahut Phu sian sangjin serius. "Memang demikianlah kejadiannya, tapi barusan Kho Beng sama sekali tidak berkata apa- apa, aneh, kejadian ini benar-benar sangat aneh dan tidak masuk akal"

Ngo Cun ki berpikir sebentar, lalu katanya lagi :

"Menurut pandanganku, kemungkinan besar diantara mereka berdua telah terjadi suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan orang banyak. bukankah losiansu pernah bilang bahwa ilmu silat yang dimiliki Ui sik kong telah mencapai tingkatan yang luar biasa?" Phu sian sangjin manggut-manggut :

"Aku tidak bermaksud meremehkan kekuatan sendiri, juga bukan berniat mengungguli kemampuan lawan, tapi dalam kenyataannya Ui sik kong memang luar biasa sehingga menyebabkan Kho Beng harus kuserahkan kepadanya."

"Tadi, aku rasa losiansupun dapat melihat dengan jelas, walaupun antara Kho sauhiap dengan Ui sik kong hanya bentrok satu kali, namun kelihatan jelas kalau posisi mereka tetap berimbang dan tidak Nampak siapapun lebih lemah dari lawannya."

"Yaa benar, inilah masalah yang membuat aku semakin bingung dan tidak habis mengerti" Bu wi lojin menghembuskan napas panjang, mendadak dia menyela :

"Aku pernah mempelajari kitab pusaka Thian goan bu boh bersama Kho Beng dilembah, ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang aku paling mengetahui." Buru-buru Ngo Cun ki bertanya :

"Apakah cianpwee berhasil menemukan sesuatu yang janggal?" Walaupun dia adalah seorang ketua partai besar, namun karena pengaruh usia yang berbeda banyak maka dia selalu menghormati Bu wi lojin sebagai seorang locianpwee. Bu wi lojin berkata :

"Walaupun Kho Beng hanya berkelebat dalam sekali pintasan saja, namun aku dapat melihat dengan jelas bahwa kemampuan tersebut bukan ilmu yang dipelajarinya semula dan lagi yang membuat aku semakin tak mengerti adalah..."

Tiba-tiba ia berhenti berbicara dan membungkam, sementara sepasang matanya dipicing seakan-akan sedang memikirkan suatu masalah yang sangat pelik, "Apakah cianpwee menemukan sesuatu yang tak jelas?" Ngo Cun ki segera menyela.

Pelan-pelan Bu wi lojin mendongakkan kepalanya, ditatapnya Ngo Cun ki sekejap lalu pelan-pelan memandang sekeliling ruangan setelah itu dia baru melanjutkan :

"Yang membuat diriku tak habis mengerti adalah tentang senjata andalannya. setahuku, selama ini Kho Beng mempergunakan sebilah pedang, karena bukan saja dia mengandalkan ilmu pedang Liu im kiam hoat yang pernah kuwariskan kepadanya. Ilmu silat yang dipelajarinya dari kitab pusaka Thian goan bu boh pun merupakan inti sari dari ilmu pedang, tapi kenyataan sekarang ia justru mengandalkan sepasang gelang surya rembulan sebagai senjata andalannya."

Termasuk Phu sian sangjin diantaranya dengan cepat mereka dibuat tertegun, terutama setelah membayangkan kembali bentuk aneh dari senjata gelang surya rembulan tersebut.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh ruangan, mendadak pelajar rudin Ho Heng berjalan menghampiri Molim sekalian berempat yang masih berdiri termangu disudut ruangan, lalu bentaknya : "Hey, kalian cepat kemari"

Molim mengiakan,lalu bersama Mokim, Ha pukim serta Rumang berjalan mendekat dengan langkah lebar, serentak mereka berdiri berjajar dihadapan si pelajar rudin setelah memberi hormat kepadanya.

"sudah cukup lama kalian mengikuti Kho Beng, pernahkah kalian berempat melihat dia menggunakan senjata gelang surya rembulan?" Tanya si pelajar rudin kemudian. "sama sekali tidak pernah" jawab Rumang cepat. "Atau mungkin senjata tersebut selalu disimpan dalam buntalannya sehingga kalian tidak pernah melihatnya?" Kembali Rumang berseru :

"Jangan lagi buntalannya, bahkan setiap benda miliknya sudah pernah kami periksa secara diam-diam, namun tak pernah kami menjumpai sepasang gelang surya rembulan itu"

sebenarnya Molim hendak mencegah Rumang untuk berbicara, namun jawaban Rumang kelewat cepat sehingga tak sempat untuk dicegah lagi. sambil menarik muka pelajar rudin segera membentak : "Mengapa kalian melakukan pemeriksaan atas barangnya secara diam-diam?"

Rumang jadi tergagap :

"Waktu itu waktu itu kami sedang mencari kitab pusaka Thian goan bu boh miliknya tapi..." sambil mendengus pelajar rudin segera membentak : "Mundur sana"

Merah padam selembar wajah Rumang karena jengah, namun dia tak berani berkata apapun, setelah hormat, bersama Molim bersaudara dan Hapukim segera mengundurkan diri dari situ.

sambil tersenyum Ngo cun ki segera berkata :

"sekarang keadaannya sudah jelas, ketika Kho sauhiap diculik oleh Ui sik kong tempo hari, mungkin dia segera direbut lagi oleh seorang yang lain? Tapi siapakah dia?" tak tahan Hian im totiang, ketua Bu tong pay itu bertanya. Mula-mula Ngo Cun ki melengak. tapi menyusul kemudian ia segera tertawa cekikikan.

"Pengetahuan boanpwee tentang tokoh persilatan sangat terbatas, darimana aku bisa tahu siapa orang itu? Tapi menurut penilaianku bisa jadi orang tersebut adalah seorang tokoh dunia persilatan yang berilmu sangat tinggi bahkan senjata andalannya adalah sepasang gelang surya rembulan."

"Maksud Ngo ciangbunjin ada orang yang telah menolong Kho Beng, menyembuhkan lukanya serta mewariskan ilmu silat kepadanya." sela Phu sian sangjin cepat. Ngo Cun ki sebera mengangguk. "Ya a, memang begitulah menurut dugaan boanpwee"

"omotohud, bukankah hal ini berarti orang yang telah menolong Kho Beng adalah seorang tokoh silat yang memiliki ilmu silat jauh diatas Ui sik kong?"

"Kalau dilihat dari keadaannya, memang seharusnya demikian."

Tanpa terasa Phu sian sangjin menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, gumamnya : "seorang yang menggunakan sepasang gelang surya rembulan dan memiliki ilmu silat lebih hebat dari Ui sik kong."

Lama sekali dia termenung, kemudian sambil memandang sekejap wajah para jago dia melanjutkan :

"Aku benar-benar bodoh, aku betul-betul tak bisa membayangkan tokoh silat macam apakah itu dan siapakah dia?"

"Mungkin orang itu bukan jagoan dari angkatan sekarang." sela Bu wi lojin secara tiba-tiba, "aku jadi teringat seseorang."

"Bu wi sicu, siapa yang kau maksudkan itu?" cepat Phu sian sangjin bertanya.

"Si naga terbang dari See ih, Kongci Cu, hanya dia seorang yang menggunakan senjata gelang surya rembulan."

"omitohud.mana mungkin hal ini bisa terjadi? Memangnya dia sudah makan obat panjang umur sehingga dapat hidup sampai sekarang? Disamping itu Kongci Cu adalah sahabat karib Ui Thian it pendiri dari partai kupu-kupu. Kenapa dia mesti menolong Kho Beng dan kenapa pula dia mesti mewariskan gelang surya rembulannya kepada Kho Beng?" Dengan cepat Bu wi lojin menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya kemudian :

"Dalam dunia ini memang sering kali terjadi peristiwa yang tidak masuk diakal, bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya, mungkin hanya Kho Beng sendiri yang bisa menceritakan dikemudian hari."

Ngo Cun ki segera berpaling kembali kewajah Phu sian sangjin, lalu berkata :

"aku rasa dalam situasi demikian bukan waktunya bagi kita untuk membicarakan persoalan tersebut, masih ada masalah lain yang lebih penting mesti lo siansu putuskan dengan cepat"

"Yaa," Phu sian sangjin manggut-manggut, "sekarang kita sudah berada dalam keadaan yang amat berbahaya dan amat merikuhkan, sepantasnya bila persoalan semacam ini kita rundingkan bersama- sama, sebab aku tak berani mengambil keputusan sendiri."

Mungkin dikarenakan bocornya rahasia pertemuan dibukit Tiong lam san sehingga hampir kecundang musuh, Phu sian sangjin menjadi kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri didalam kedudukannya sebagai pemimpin umat persilatan. Bu wi lojin segera tertawa terbahak-bahak, katanya :

"Lo siansu tak usah terlalu berendah hati, apalagi merasa putus asa disebabkan suatu kegagalan yang tidak disengaja, yang terpenting buat kita sekarang adalah menanggulangi situasi yang sedang kita hadapi."

Hampir bersamaan waktunya ketua Bu tong pay berseru berbareng :

"Betul, sudah sepantasnya lo siansu tidak menampik kedudukan tersebut, kita anggap saja musuh yang sedang dihadapi memang jauh lebih licik dan berbahaya,"

Dalam keadaan demikian, kesatu, Phu sian sangjin merasa dirinya seperti lagi menunggang dipunggung harimau, kedua, karena hampir selama seribu tahun terakhir pihak siau limpay selalu menempati posisi sebagai pemimpin umat persilatan, tentu saja dia tak ingin menyaksikan pamor serta kedudukan partainya yang selalu dihormati orang selama ribuan tahun mesti hancur ditangannya?

Tapi, masalah yang dihadapi sekarang memang benar-benar merupakan suatu masalah yang pelik dan sukar diatasi. Ia sadar kendatipun tanggung jawab tersebut dialihkan kepundak lain orang pun, mereka tetap akan merasa pusing dan kebingungan.

Akhirnya Phu sian sangjin pun mengambil suatu keputusan yang paling berani, paling terpaksa juga paling cerdik, Katanya dengan suara sangsi :

"Bila kita tinjau dari situasi yang terbentang didepan mata sekarang, bisa kita duga sendiri, perundingan rahasia yang kita selenggarakan ini mustahil bisa berlangsung terus."

"Perasaan Lo siansu memang benar" Nao Cun ki yang pertama- tama mengangguk lebih dulu, "untuk mengumpulkan para wakil dari perguruan dan partai besar dari dunia persilatan untuk mengadakan perundingan rahasia memang juga tak mungkin bisa diselenggarakan lagi." Phu sian sangjin menghela napas.

"Aaaai.oleh sebab itu aku berniat mengalahkan posisi kita dari gelap menjadi terang, kita umumkan secara luas kepada seluruh dunia persilatan agar mereka yang berhasrat untuk menumpas kaum iblis dari muka dunia agar datang berkumpul disiau limpay dan bersama-sama merundingkan cara penanggulangannya."

Tindakan semacam ini jelas merupakan suatu tindakan menyerempet bahaya, sebab andaikata partai dan jagorjago persilatan lainnya tak berani mencampuri urusan tersebut, sudah jelas siau limpay yang akan menjadi sasaran penumpasan yang nomor satu bagi partai kupu-kupu. Lagipula biarpun para jago dari pelbagai partai datang memnuhi seruan tersebut, belum tentu kekuatan mereka mampu menandingi kekuatan partai kupu-kupu.

seandainya usaha ini mengalami kegagalan, maka yang sudah dapat dipastikan adalah kemusnahan partai siau limpay ditangan orang-orang partai kupu-kupu.

oleh sebab itulah keputusan yang diambil Phu sian sangjin saat ini boleh dibilang merupakan keputusan yang paling berani. Dengan suara lantang Ngo Cun ki sebera berseru :

"Losiansu bersedia berkorban demi keselamatan seluruh umat persilatan, siauli merasa kagum sekali dengan keputusan tersebut, sebagai ketua Hoa sanpay, siauli bersumpah akan mendukung seluruh keputusan Lo siansu beserta segenap kekuatan yang ada"

"Terima kasih banyak untuk pernyataan Nao Cangbunjin.." bisik Phu sian sangjin terharu.

Ia segera berpaling seraya berseru : "sute berlima, kalian berada dimana?"

Lima rasul panca unsur segera tampil kedepan, sahutnya dengan wajah serius : "Menjumpai ciangbun suheng, kami siap menantikan perintah"

Dengan suara dalam Phu sian sangjin segera bertanya : "Bagaimanakah menurut pendapat sute berlima tentang

keputusan yang telah kuambil?" Kim cuncu sebagai pemimpin dari lima rasul panca unsur segera menyahut dengan cepat :

"omitohud Keputusan dari ciangbun suheng memang tepat sekali, partai kita sebagai pemimpin dari segenap partai yang ada sudah sewajarnya menerima seluruh pertanggung jawab ini, apalagi keselamatan dunia persilatan sudah menjadi tanggung jawab kita semua, apakah partai kita mesti mencuci tangan sambil berpeluk tangan saja?" Phu sian sangjin segera manggut-manggut, katanya kemudian :

"Kalau memang begitu, harap sute berlima segera menggunakan segenap kekuatan dari partai kita untuk menyebar luaskan berita ini keseluruh dunia persilatan. Kesatu, segera beritakan keselurh dunia persilatan tentang kebulatan tekad partai kita untuk menumpas kaum iblis dari muka bumi serta niat kita untuk menghimpun seluruh kekuatan dunia persilatan untuk bersama-sama menanggulangi kesulitan tersebut. Kedua, segera mengirim berita agar pihak kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan rekan-rekan persilatan. Ketiga, melakukan penghadangan dan pencegatan ditengah jalan terhadap rekan-rekan persilatan yang masih berada diperjalanan agar merubah arah perjalanan mereka langsung menuju kebukit Ciong san."

"Terima perintah" sahut kelima rasul panca unsur itu serentak. setelah mundur tiga langkah, mereka sebera membalikkan badan

dan berlalu dari situ. Maka para jago pun bangkit berdiri sambil mempersiapkan diri, sudah jelas mereka hendak berangkat kebukit siong sanpada malam itujuga. Tiba-tiba Molim mendekati si pelajar rudin Ho Heng dan berbisik :

"Locianpwee, apakah kaukaujuga akan berangkat kesIau limpay?"

"Kalau semua orang pergi, tentu saja kita pun harus pergi," jawab pelajar rudin sambil tertawa, "kalau tidak. bisa jadi kita akan ditangkap oleh pihak partai kupu-kupu dan dibunuh tanpa liang kubur"

Dengan agak ragu Molim berkata :

"Tapi cukong kami telah pergi bersama situa Bangka itu, aku pikir lebih baik kita pergi membantunya saja"

"Percuma", pelajar rudin menggeleng, "bukan aku sipelajar tak punya keberanian tapi yang pasti tak seorang pun mampu membantunya, paling tidak. semua yang hadir dalam ruangan saat ini bukan tandingan situa Bangka Ui sik kong"

Molim tidak berbicara lagi, padahal disinilah letak kelicikan Molim.

Berbicara tegasnya, ia sama sekali tak ambil peduli terhadap keselamatan Kho Beng, dengan perkataan tersebut tadi dia bermaksud merebut rasa simpati sipelajar rudin terhadap mereka.

namun pada saat itu para jago sudah bersiap-siap hendak berangkat inilah tiba-tiba tiga bersaudara Kim mengurungkan niatnya, dengan nada serius Kim lotoa berkata :

"Boanpwee sekalian bertiga memutuskan tak akan mengikuti cianpwee sekalian pergi ke siau limpay, Mengapa kalian bertiga mengambil keputusan itu?" Tanya Bu wi lojin agak tertegun. Dengan wajah bersungguh-sungguh Kim lotoa berkata :

"Kami tiga bersaudara dapat menjalin tali persahabatan dengan Kho sauhiap karena kami merasa kagum atas wataknya. Itulah sebabnya kami bertekad akan mengikuti dirinya. sekarang Kho sauhiap telah menantang Ui sik kong untuk melangsungkan duel satu lawan satu. siapa akan hidup, siapa akan mati pun susah diketahui. Itulah sebabnya biarpun kami bertiga tak mempunyai kemampuan untuk membantunya, namun paling tidak kami ingin tahu bagaimanakah nasib Kho sauhiap selanjutnya"

Mendengar ucapan tersebut, Bu wi lojin segera menghela napas : "Aaaai, setiap orang memang mempunyai cita-cita yang berbeda

dan tidak bisa dipaksakan, kalau toh kalian bertiga sudah memutuskan demikian, tentu saja kami puncak dapat terlalu memaksa."

Kim lotoa segera bertukar pandangan sekejap dengan Kim loji serta Kim losam lalu sambil menjura katanya lagi :

"Kalau memang begitu, maaf bila boanpwee sekalian akan berangkat lebih dulu."

Kembali suasana hening mencekam seluruh ruangan. sementara tiga bersaudara Kim telah beranjak meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah lebar. sampai lama kemudian , Bu wi lojin baru bergumam sambil menghela napas panjang : "Aaaai.tak nyana, sungguh tak nyana."

Penolakan Kim bersaudara untuk berangkat ke siau lim si sama sekali tidak mempengaruhi rencana para jago, dibawah pimpinan Phu sian sangjin berangkatlah kawanan jago tersebut meningalkan kuil Leng thian sian wan."

Kuil kuno yang sudah lama terbengkalai itupun pulih kembali dalam keheningan, yang berbeda adalah disisi kuil bertambah dengan sebuah gundukan tanah baru. Itulah kuburan dari kesembilan pengawal pribadi Uisik kong yang tewas ditangan majikan sendiri

Disaat rombongan jago hendak berangkat meninggalkan tempat itu. Phu sian sangjin telah menurunkan perintah agar mengubur jenasah orang-orang tersebut.

ooooooo

Uisik kong berlarian sangat cepat sekali sementara Kho Beng mengikuti dibelakangnya dengan ketat.

setelah berlarian lebih kurang dua puluh li kemudian sampailah mereka berdua diatas sebuah tebing kecil, disitu mereka berdua sama-sama menghentikan langkahnya.

Dengan sinar mata yang hijau menggidikkan hati ui sik kong mengawasi pemuda kita lekat-lekat, lalu tegurnya sambil tertawa dingin : "Kho Beng, apakah dia telah mampus?" Kho Beng agak terperanjat, tapi ia segera bertanya : "siapa yang telah mati?" "Heeehh.heeehhh..heeehh..siapa lagi? Tentu saja si naga terbang dari see ih, Kengci Cu?"

Berubah paras muka Kho Beng, tapi sahutnya sambil menggigit bibir.

"Benar, dia sudah mati darimana kau bisa tahu?"

Ui sik kong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak :

"Haaaahh.haaahh.haaahh..biarpun aku berhasil dikelabui saat itu, namun setelah kejadian itu aku segera mengerti kalau bajingan tua itu pasti sudah menderita luka dalam yang mematikan, kalau tidak dia tak akan mempunyai kesempatan untuk mengungguli diriku."

"Hmmm, guruku adalah sahabat kakekmu almarhum," kata Kho Beng dingin. "Ini berarti dia telah mati ditanganmu sendiri, apakah kau tak merasa beriba hati karenanya?"

"Gurumu?" Ui sik kong berseru keheranan, "Apakah dia telah menerima mu sebagai muridnya menjelang ajalnya tiba?"

"Benar, disaat ajal hampir merenggut nyawa guruku, dia telah menerimaku sebagai muridnya, tapi kematian guruku bukan disebabkan oleh seranganmu yang berat itu?"

"Hmmm, lantas apa sebabnya?"

"Kesatu, daya kasiat cairan mestika Giok hu wan ci yang dimakan guruku telah lewat masa kerjanya. Kedua, guruku telah mewariskan sisa tenaga dalam yang dimilikinya kepadaku dengan menggunakan ilmu Kay teng ci hoat."

"Heeehh..heeehhheeehh.klau begitu mujur amat nasibmu," jengek Ui sik kong sambil tertawa dingin. "Tapi bayang biarpun kau berhasil mendapat penemuan aneh, hari ini kau telah bersua denganku, ini berarti semua penemuan tersebut tak akan berguna lagi untukmu, apakah kau telah memikirkan hal ini?"

Kho Beng segera menghela napas panjang, katanya : "Berbicara yang sesungguhnya, ilmu silat yang kumiliki memang

bukan tandinganmu, kepandaian sakti yang dimiliki mendiang guruku belum tentu dapat berbuat banyak terhadapmu, tapi ada satu hal yang tak akan kau duga sama sekali"

"Hmmmm, soal apa yang tak kuduga itu?" dengus ui sik kong. "Bila kukombinasikan ilmu silat dari mendiang guruku dengan

ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu boh, maka akan timbullah daya kekuatan yang tak akan kau duga sama sekali."

Ui sik kong jadi tertegun, tapi setelah tertawa dingin serunya : "sekalipun apa yang kau katakana memang merupakan kenyataan, namun dengan jangka waktu setengah bulan yang begini singkat berapa banyakkah yang berhasil kau serap."

"Hmmm, sampai dimanakah kepandaian silat yang berhasil kuserap dan bergunakah kepandaian tersebut, akan kugunakan dirimu sebagai kelinci percobaan sekarang juga." Ui sik kong menjadi teramat gusar, bentaknya :

"Hari ini adalah saat kematian bagimu, aku tak bakal membiarkan kau tetap hidup terus didunia ini"

Kho Beng tertawa seram :

"Heeehh.heeehh.heeehh.apabila kau benar-benar membunuhku, mungkin kitab pusaka Thian goan bu boh tak pernah akan terjatuh kembali ketanganmu, apakah kau sudah tidak menginginkannya lagi?"

"Kitab pusaka Thian goan bu boh adalah warisan mestika partai kupu-kupu kami, siapa bilang aku sudah tidak menghendakinya lagi."

Kemudian setelah menatap wajah Kho Beng sekejap dengan mimik yang menyeramkan, dia berkata lebih jauh

"Tapi hal tersebut adalah persoalan disaat ajalmu sudah hampir tiba nanti, sebab orang yang akan mati biasanya berbicara jujur, siapa tahu kalau sampai saatnya nanti kau akan berbicara terus terang?" Kontan saja Kho Beng tertawa dingin :

"Heeehh..heeeehh.heeehhh.kalau memang begitu kau boleh sebera turun tangan"

Ui sik kong memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian bentaknya keras-keras :

"Kho Beng coba kau rasakan jurus Guntur menggoncangkan seisi bumi ini"

Ditengah bentakan keras dengan suatu gerakan yang cepat ia telah meloloskan ruyung lemasnya dari pinggang dalam waktu singkat cahaya kuning telah menyelimuti seluruh angkasa bagaikan sebuah payung raksasa saja dengan cepatnya mengurung kacau disekitar situ

Kho Beng tidak berdiam diri saja, segera bentaknya pula : "Coba kau lihat jurus Angin menderu awan menggulung aku ini

segera akan mematahkan seranganmu."

sepasang gelang surya rembulannya serentak digetarkan keatas menciptakan lapisan cahaya kuning yang menyambar diangkasa. Dalam waktu singkat, cahaya kuning telah menyeliuti seluruh angkasa dan menggulung bayangan tubuh kedua orang tersebut.

Tapi peristiwa ini hanya berlangsung dalam sekejap mata, menyusul lenyapnya cahaya kuning itu, mereka berdua masih tetap berdiri diposisi semula.

Namun dari perubahan wajah kedua orang itu dapat diketahui siapakah yang lebih tangguh.

sambil menggigit bibir Ui sik kong berkata : "Kau tidak terluka?" "Tentu saja tidak" jawab Kho Beng sambil tertawa angkuh,

"bagaimana dengan kau sendiri?"

Ui sik kong tidak menjawab pertanyaan itu, sambil menarik muka kembali ia menegur : "Jurus serangan apakah yang kau pergunakan?"

"Bukankah telah kujelaskan tadi,jurus tersebut bernama Angin menderu Awan menggulung?"

"Jurus Guntur menggoncangkan seisi bumi merupakan jurus yang paling tangguh, belum pernah ada jurus serangan apapun yang mampu mematahkannya, hmmm.jurus Angin menderu Awan menggulungmu itu terhitung gerak serangan macam apa?" sambil tertawa tergelak. Kho Beng segera menyela :

"Kalau begitu aku perlu memberitahukan kepadamu, walaupun serangan tadi nampaknya eperti satu jurus, padahal dalam kenyataannya terdiri dari dua gerakan yang berbeda, atu adalah gerakan Angin langit menderu-deru dari kitab pusaka Thian goan bu boh, ementara gerakan yang lain adalah jurus ciptaan mendiang guruku sendiri yang bernama Awan tertutup surya menghilang, andaikata kedua jurus serangan itu dipergunakan secara terpisah, mungkin saja aku telah terluka diujung seranganmu sedari tadi."

Kemudian sambil menatap wajah lawannya dia meneruskan : "Namun jika kedua jurus itu dikombinasikan menjadi satu,

bukankah segera terwujud kekuatan yang sama sekali tak terduga?"

Ui sik kong segera menghembuskan napas panjang : "Huuuhhaku benar-benar amat benci"

"Apa yang kau benci?" Kho Beng keheranan.

"Aku benci dengan Kongci Cu, tapi benci pula kepada diri sendiri" sambil tertawa Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang

kali, ucapnya :

"susah bagiku untuk mencerna makna dari perkataanmu ini." Dengan penuh kebencian Ui sik kong berseru : "Aku benci kepada Kongci Cu karena dia tidak cukup setia kawan, akupun membenci diriku sendiri karena tidak memunahkan ilmu silatmu sedari dulu"

Kho Beng kembali menggelengkan kepalanya.

"Lambat laun kau bakal memahami bahwa mendiang guruku tak pernah melakukan tindakan yang menyalahi keluarga Ui kalian, tentang mengapa kau tidak memunahkan ilmu silatku setelah kau berhasil merampas diriku dari tangan Phu sian sangjin tempo hari, hal tersebut adalah menjadi urusanmu sendiri" Kemudian dengan suara dalam dia melanjutkan :

"Barusan kita baru bertarung satu jurus, aku rasa dalam gebrakan berikut belum tentu ada yang roboh diantara kita berdua, nah kau boleh melanjutkan seranganmu lagi."

Tapi Ui sik kong segera menggelengkan kepalanya berulangkali, ujarnya : "Aku tak ingin bertarung melawan orang yang memiliki ilmu yang seimbang denganku."

Kho Beng segera tertawa tergelak :

"Biarpun kau sangat licik, namun akupun bukan seorang manusia bodoh,"

"sebetulnya apa yang hendak kau utarakan, mengapa tidak disampaikan secara blak-blakan?" bentak Ui sik kong marah.

"sebetulnya sangat sederhana, kau membenciku setengah mati, boleh dibilang rsa bencimu itu sudah merasuk sampai ketulang sumsum, jadi tiada alasan bagimu untuk menolak suatu pertarungan melawanku, tapi hingga sekarang kau enggan bertarung hal ini hanya dikarenakan sebuah alasan saja.."

"Apa alasannya?" teriak Ui sik kong.

"Karena kau sudah menderita luka dalam, bila pertarungan ini dilanjutkan maka belum sampai tiga gebrakan kau tentu sudah roboh terjengkang mencium tanah"

Mula-mula Ui sik kong merasa amat gusar, tapi dengan cepat dia berhasil menenangkan kembali hatinya, terus terang dia berkata :

"Dugaanmu memang tepat sekali, tapi luka yang kuderita hanya dikarenakan aku terlalu memandang remeh kekuatanmu, kuakui bahwa kau adalah musuh tangguh yang pertama pernah kujumpai."

Namun setelah tertawa seram, lanjutnya :

"Kho Beng, apabila kau hendak menyerangku dengan sepenuh tenaga, mungkin aku benar-benar akan jatuh pecundang ditanganmu, marilah, inilah kesempatan terbaik bagimu." Tapi sambil tertawa Kho Beng sebera menggeleng :

"Aku bukan manusia yang senang memanfaatkan kesempatan disaat orang lain sedang mengalami kesulitan, kalau memang kau sudah terluka, biar kita sudahi saja pertarungan hari ini sampai disini saja."

Agaknya ucapan ini sama sekali diluar dugaan Ui sik kong, serunya dengan cepat . "Aku rasa kau bukan orang yang terlalu berbelas kasihan kepada lawannya bukan?"

"Ya a benar, disamping aku tak ingin memanfaatkan kesempatan dikala orang sedang sakit, akupun masih mempunyai alasan yang lain"

"Hmmm, apa alasanmu yang lain?"

"Kalau begitu kita boleh berbincang-bincang bukan?" Tanya Kho Beng sambil tertawa. sambil berbicara ia segera mengambil tempat duduk diatas sebuah batu cadas.

Ui sik kong memutar biji matanya sejenak. namun akhirnya diapun duduk sambil berkata:

"Bila ingin membicarakan sesuatu, katakanlah sekarang dengan blak-blakan.. " Kho Beng berpikir sejenak. lalu ujarnya :

"Pertama-tama aku ingin bertanya dulu tentang atu hal, benarkah kitab pusaka Thian goan bu boh adalah mestika turun temurun dari partai kupu-kupu kalian?" Agak emosi Ui sik kong menjawab :

"setiap umat persilatan mengetahui akan persoalan ini, aku tak ingin banyak berbicara lagi."

Kho Beng manggut-manggut, ujarnya kemudian :

"Aku bukannya merasa curiga tapi hanya tak habis mengerti. ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian goa bu boh kebanyakan adalah ilmu pedang, mengapa orang-orang partaimu justru menjadi kesohor karena senjata panji kupu-kupunya, sedang anda sendiripun lebih suka mengandalkan ruyung emas." Ui sik kong tertawa tergelak :

"Haaaahh.haaahh.haaahh..andaikata partai kami hanya mengandalkan jurus pedang dari kitab pusaka Thia goan bu boh belaka, mungkin kejayaan dan pengaruh kami didalam dunia persilatan tak akan seluas dan sebesar ini, apalagi kitab pusaka tersebut telah lenyap sejak seabad berselang, sisa peninggalan kepandaian tersebut pun sudah tak lengkap." "Lantas dari sumber manakah ilmu silat yang diandalkan partai anda?" Tanya pemuda kita sambil berkerut kening. "Tentu saja dari kitab pusaka Thian goan bu boh"

Kho Beng berpikir sebentar, dengan cepat ia pun menjadi paham dengan duduk persoalan yang sebenarnya, katanya kemudian :

"ooooh, rupanya kau menggunakan kepandaian dari kitab pusaka Thia goa bu boh sebagai dasar dengan mencampurkan kepandaian lain kedalamnya sehingga tercipta sejenis kepandaian manunggal yang khusus?"

"Cara tersebut persis seperti apa yang kau lakukan sekarang," kata Ui sik kong sambil tertawa seram, "tapi aku percaya jurus serangan yang berhasil kuciptakanjauh lebih hebat daripada mu."

"Hmmm, itu kan dikarenakan kau kelewat tinggi menilai kemampuan sendiri," jengek Kho Beng sambil tertawa dingin. Dengan geram Ui sik kong berseru :

"selewatnya hari ini bila kita sampai bertemu kembali, saat itulah aku akan menyuruh kau tahu dengan pasti, siapakah diantara kita yang lebih tangguh"

Kho Beng tertawa riang.

"selama seabad terakhir ini mendiang guruku sudah menciptakan beratus-ratus jenis ilmu silat yang tangguh, aku rasa dalam masa hidupmu sekarang tak nanti kau punya kesempatan lagi untuk angkat kepala dihadapanku"

Berubah hebat paras muka Ui sik kong setelah mendengar perkataan itu, namun sambil menggigit bibir ia berseru :

"Kho Beng, kau cukup mengingat satu hal saja, yaitu dalam suatu pertarungan yang berlangsung, belum tentu menang kalah ditentukan oleh tangguh tidaknya jurus serangan yang dimiliki, tapi terpengaruh pula oleh kerja sama dalam bidang lainnya."

Kho Beng tersenyum.

"sejak hari ini kau boleh saja berupaya dengan segala cara untuk mencelakai aku, tapi yang hendak dibicarakan hari ini bukan lah masalah tersebut."

"Apa yang hendak kau bicarakan?" Tanya Ui sik kong keheranan. "Apabila kitab pusaka Thian goan bu boh benar-benra merupakan

benda mestika dari partai kupu-kupu, akupun bersedia untuk menjelaskan kepada para pemimpin dari partai agar mengembalikan kitab pusaka tersebut kepada anda." Ui sik kong berpikir sebentar, lalu serunya : "Aku tak percaya kalau kau memiliki tujuan sebaik ini." "Ya a, tentu saja kitab tersebut tidak dikembalikan dengan Cuma- Cuma, aku mempunyai syaratnya."

"Lanjutkan perkataanmu" pinta Ui sik kong sambil memejamkan matanya.

"Mendiang guruku adalah sobat karib kakekmu almarhum, bahkan kakekmu pernah melepaskan budi kepada leluhur guruku, karena pikiran tersebut maka menjelang ajalnya ia telah berpesan kepadaku agar tetap memelihara keutuhan dari keturunan partai kupu-kupu."

"omong kosong" teriak Ui sik kong sambil menggigit bibir, "kau anggap siapakah aku ini? Memangnya aku bisa dipermainkan anak kecil macam kau ini?" Dengan kening berkerut, Kho Beng berseru pula dengan marah :

"kau tak perlu membangkitkan amarahku dengan cara demikian, kau harus menerima kenyataan ini, meski usiaku jauh lebih muda darimu, tapi dalam tingkat kedudukan masih lebih tinggi darimu," lagipula setelah tertawa dingin Lanjutnya :

"Berbicara dari soal ilmu silat, akupun masih jauh lebih tangguh daripada kepandaianmu" Ui sik kong mendengus dingin

"Hmmm, seandainya aku tidak memandang terlalu enteng kekuatanmu, siapa menang siapa kalah belum tentu bisa diketahui." Kho Beng tertawa dingin, tukasnya :

"Lebih baik anda mendengarkan dulu perkataanku hingga selesai, ketahuilah mendiang guruku adalah manusia yang bertanggung jawab dan amat setia kawan, ia bisa membedakan mana yang lurus dan mana yang sesat secara jelas. Ketika beliau merasa tak puas dengan kebiadaban kakekmu dulu, ia pernah membujuknya secara baik-baik,"

"Hmmm, justru disinilah letak kemunafikannya" tukas Ui sik kong sambil mengigit bibir,

"sekarang aku sudah menganggapnya sebagai musuh yang paling kubenci, cepat atau lambat suatu ketika aku pasti akan menggali kuburnya dan melecuti mayatnya dengan cambuk" sambil menghela napas, Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Tampaknya pengorbanan guruku almarhum tak mungkin bisa memperoleh pengertian darimu, tapi akupun merasa berkewajiban untuk menjelaskan dulu persoalan ini kepada mu, justru karena guruku tak ingin melupakan hubungan persahabatannya dimasa lalu, maka selama seabad lamanya dia tak berhubungan dengan partai kalian, padahal secara diam-diam setiap saat setiap waktu dia orang tua selalu memperhatikan sepak terjang kamu semua."

"Hmmm, mungkin saja dia sedang mencari kesempatan untuk membokong kami " jengek Ui sik kong sambil tertawa dingin

"Kalau toh kitab pusaka Thian goan bu boh merupakan benda mestika dari partai kupu-kupu, maka setelah aku mendapatkan pengertian dari para jago pelbagai partai besar, kitab pusaka segera kuserahkan kembali kepadamu, tapi kaupun harus memenuhi juga syaratku ini :

Kesatu, partai kupu-kupu harus segera mengundurkan diri dari daratan Tionggoan dan mulai saat ini tak akan melangkah masuk kewilayah orang lain lagi, kalianpun tak boleh mengandalkan ilmu silat untuk menguasai seluruh jagat.

Kedua, segera bebaskan kakek tongkat sakti, nona chin, ciciku bersama kedua orang dayangnya,

Ketiga, serahkan orang yang telah menyamar sebagai Bu wi lojin pada tujuh belas tahun berselang, karena orang itulah biang keladi dari peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng, sebab dia pula yang harus bertanggung jawab atas tujuh puluh lembar jiwa keluarga Kho kami yang terbunuh secara mengenaskan" Ui sik kong termenung sebentar, lalu sahutnya : "Aku tak ingin menerima perjanjian semacam ini."

"Hmmm, kalau toh kau tetap tak mau sadar, terpaksa aku harus menggunakan cara yang lain"

"Apa caramu?"

"Biarpun mendiang guruku berpesan demikian, namun dia orang tua pun sudah cukup menyelami watak dari keluarga Ui kalian, ia tahu bahwa kemungkinan seperti ini tak bisa terwujud, Itulah sebabnya diapun telah berpesan kepadaku, apabila keadaan sudah terpaksa, aku boleh menumpas partai kupu-kupu sampai keakar- akarnya."

Lalu dengan suara dalam ia menambahkan, "maka dari itu aku berpendapat, bila kau enggan menerima syaratku yang semula dan keadaan benar-benar sudah terpaksa, aku akan menuruti pesan dari guruku ini dengan membasmi partai kupu-kupu dari muka bumi, agar keturunan kalian turut tertumpas habis"

Berubah hebat paras muka Uisik kong, sambil menggigit bibir dia berseru : "Hal ini sudah berada dalam dugaanku." Dalam waktu yang relatif singkat ini, paras muka Ui sik kong beberapa kali berubah, tapi akhirnya dia menghela napas sedih, katanya :

"Bila hal ini sampai terjadi, riwayat hidup partai kupu-kupu pasti akan punah sama sekali."

Dengan cepat Kho Beng menggeleng, katanya :

"Aku toh sudah menegaskan tadi, partai kupu-kupu tak bakal musnah, tapi kalian harus merubah sepak terjang kalian selama ini, yang terpenting adalah padamkan ambisi kalian untuk menguasai jagat"

Ui sik kong menghela napas panjang, mendadak katanya : "Daripada cita-citaku berantakan, toh lebih baik aku mati saja."

"Hmmm, hal itu hanya disebabkan pandangan yang berbeda, bila setiap partai yang ada didalam dunia persilatan mempunyai ambisi yang sama untuk menguasai jagat, lantas kapankah dunia persilatan menjadi aman dan tentram? Yang penting adalah kau dapat mengendalikan ambisi sendiri"

Lama sekali Ui sik kong termenung tanpa berbicara, akhirnya ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram :

"Haaaahh.haahhhaaahhh..hari ini aku sudah dipecundangi habis- habisan olehmu, aku merasa tak punya muka lagi untuk hidup dldunia ini sudahlah.sudahlah.." Mendadak dia mengayunkan telapak tangan dan dihantamkan keatas ubun-ubun sendiri.

Kho Beng sangat terkejut, cepat-cepat dia melompat kedepan sambil mencengkeram urat nadinya.

Tapi sayang dia tak tahu kalau perbuatan itu sebenarnya merupakan siasat licik dari Uisik kong untuk menjebaknya, disaat kelima jari tangan Kho Beng hendak mencengkeram diatas nadinya itulah, mendadak ia melepaskan sebuah tendangan keras kedepan.

Tendangan itu dilepaskan Ui sik kong dengan sepenuh tenaga, lagipula dilancarkan pada saat Kho Beng tidak bersiap sedia sama sekali, tak ampun lambung pemuda itu terhajar telak.

Duuukkk

Tubuh Kho Beng tertendang sampai mencelat keudara dan terjatuh pada tiga kaki dari posisi semula.

Ui sik kong tertawa seram, sambil memburu kedepan serunya kepada Kho Beng sambil tertawa dingin :

"Bukankah sedari tadi aku sudah bilang dalam menghadapi pertarungan bukan hanya keampuhan jurus yang diandalkan, tapi tergantung pula pada situasi dan kondisi, tadi kau menyombongkan diri dihadapanku, katanya ilmu silatmu lebih tangguh daripada kemampuanku. Tapi sekarang..heeeehh..heeehhh..yang bakal mampus ditengah bukit bukanlah aku, tapi kau si bocah keparat"

Darah segar menyembur keluar dari mulut, dengan geram  pemuda itu berteriak : "Bajingan tua, akupun menyesal mengapa tidak memunahkan ilmu silatmu tadi" Ui sik kong tertawa bangga. "Haaahh.hahhhhhaaahhh..Kho Beng, tahukah kau apa yang

paling kubutuhkan sekarang? Kitab pusaka Thian goan bu boh.tapi jangan harap tujuanmu ini tercapai."

"Tebakanmu salah besar," seru Ui sik kong sambil tertawa seram, "bagiku lebih baik tidak mendapatkan kembali kitab pusaka Thian goan bu boh dari pada membiarkan kau hidup terus didunia ini, sebab kau sudah menjadi ancaman yang terbesar bagi kesuksesan cita-cita partai kupu-kupu kami."

Sambil meng kertak gigi Kho Beng membungkam dalam seribu bahasa, sepasang matanya segera dipejamkan rapat-rapat.

Ia cukup mengetahui sampai dimanakah kekejaman serta kebuasan bajingan tua itu, ia telah kena bokong hingga terluka parah, rasanya tak mungkin lagi baginya untuk lolos dari kematian.

sambil tertawa seram Ui sik kong mengangkat telapak tangannya keatas. Dengan menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, ia siap menghaar tubuh Kho Beng hingga hancur berantakan. Mendadak Pada saat telapak tangannya hampir diayinkan kebawah itulah, terdengar suara desingan tajam bergema lewat, disusul munculnya sebutir batu kerikil yang menghantam jalan darah Cun hiat dilengan kanannya.

seketika itu juga Ui sik kong merasakan lengannya menjadi linu dan kesemutan, jalan darahnya segera tertotok.

Kejadian ini seketika membuatnya tertegun, buru-buru dia mengerahkan tenaga dalam ditangan kirinya lalu mencoba membebaskan jalan darahnya yang tertotok itu.

Tapi kenyataan segera membuat hatinya terkejut sekali, siapakah orang yang memiliki ilmu silat begitu tinggi? Hanya dengan sebutir kerikil saja jalan darahnya sudah tertotok? Mungkinkah didunia ini masih terdapat Kho Beng kedua atau Kongci Cu kedua?

Ketika ingatan tersebut masih melintas dalam benaknya, tahu- tahu saja sesosok bayangan biru berkelebat lewat dan dihadapan mukanya telah berdiri seorang kakek berjenggot putih . "siapa kau?" Ui sik kong segera membentak. Kakek berbaju biru itu tertawa dingin, dengusnya :

"Aku tak sudi menyebutkan namaku terhadap manusia licik dan berhati busuk macam kau"

"Kalau begitu lebih baik kau mampus saja" bentak Ui sik kong dengan marah. sambil berkata dia berusaha meloloskan ruyung lemas yang melilit dipinggangnya.

Buru-buru kakek berbaju biru itu mengoyangkan tangannya berulang kali, seraya berseru :

"Lebih baik kau jangan turun tangan, apakah kau tak sadar bahwa isi perutmu sudah terluka parah?"

Ui sik kong betul-betul sangat terkejut, dengan mata melotot penuh amarah, teriaknya

"Jadi apa yang terjadi tadi telah kau saksikan semua?" Kakek berbaju biru itu tertawa tergelak :

"Haaaahh..haaahhh.haaahh..terus terang saja kukatakan, apa yang telah terjadi tadi memang telah kulihat semua, yaa, pertunjukkan tersebut memang sangat menarik hati"

"sebenarnya apa maksudmu?" tegur Ui sik kong kemudian sambil menggigit bibir.

"Menegakkan keadilan dan kebenaran memberantas segala hal yang tak adil merupakan prinsip hidupku yang terutama."

setelah berhenti sejenak, dengan suara dalam ia berkata lebih jauh :

"Bila berbicara dari semua sepak terjangmu, maka biar dijatuhi hukuman mati pun rasanya belum bisa menebus semua kesalahanmu itu, namun aku betul-betul merasa terharu oleh ucapan Kho sauhiap tadi, kalau toh dia pun bersedia menyingkirkan masalah dendam keluarganya untuk mempertahankan generasi penerus partai kupu-kupu, mengapa aku sekalian harus membunuhmu?"

Tiba-tiba Ui sik kong tertegun :

"Apa maksudmu mengucapkan kata- aku sekalian-?"

"Masa kau tidak memahami arti perkataan tersebut?" Tanya kakek berbaju biru itu sambil tertawa.

"Maksudmu, kau masih mempunyai teman?" Ui sik kong bertanya dengan nada menyelidik.

"Memang begitulah maksudku" si kakek berbaju biru itu sebera mengangguk, "itulah sebabnya kuanjurkan kepadamu agar tidak membuat rencana yang jahat lagi." "Hmmm, dimanakah orangnya?" Ui sik kong bertanya.

Mendadak kakek berbaju biru itu menggapai ke belakang sambil serunya keras-keras : "saudara Kui sam, situa Bangka Ui ingin cepat- cepat bertemu denganmu"

Dari atas sebatang pohon besar yang tumbuh takjauh dari situ segera terdengar seseorang menjawab dengan suara nyaring :

"Beritahu kepada orang she Ui itu, aku ingin memberi hadiah tiga macam kepadanya"

Ui sik kong merasa amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, dengan cepat la mengalihkan pandangan matanya kemuka.

Terlihatlah bayangan sinar berkelebat lewat, diiringi desingan suara yang amat tajam tampak sebuah senjata rahasia telah dibidikkan kearahnya.

Ui sik kong tak berani berayal, cepat-cepat dia mengayunkan pula telapak tangannya untuk menghalau ancaman tersebut.

Ternyata senjata rahasia itu adalah sebutir batu yang sangat kecil, sewaktu terkena tenaga serangannya itu segera terpental kesamping.

"Haaahh.haaahh.haaahhh.sebuah gerak serangan yang amat bagus" puji kakek yang berada diatas pohon itu sambil tertawa tergelak.

Menyusul kemudian batu kedua dan ketiga pun meluncur datang susul menyusul.

Biarpun Ui sik kong merasa terkejut namun diapun sedikit kegelian, sebab ilmu melepaskan senjata rahasia yang dipergunakan kakek itu tidak terhitung hebat, maka sebuah pukulan kembali dilontarkan kedepan.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).