Kedele Maut Jilid 35

 Jilid 35

"Yaa, dia adalah ketua partai kupu-kupu Ui Sik kong Yaa betul, memang bajingan tua ini."

Sesudah menghela napas panjang, ketua dari siau lim pay ini berkata lebih lanjut :

"Sungguh tak disangka aku telah jatuh kecundang ditangan bajingan tua ini..aaaai apa yang mesti kita lakukan sekarang?"

Sambil menggertak gigi Hwee cuncu berseru :

"Menurut pendapatku, lebih baik kita himpun seluruh kekuatan Siau lim pay dan melangsungkan pertarungan habis-habisan melawan partai kupu-kupu."

"Jangan kita tak boleh sekali-kali berbuat demikian" seru Phu sian sangjin sambil menggeleng.

"Mengapa? Apakah ciangbun suheng mengaku kalah dengan begini saja?"

"Kita harus tahu..

Dengan pengakuan kalah dariku paling banter cuma nama baik Siau lim pay serta nama baikku pribadi yang ternoda," tukas Phu sian sangjin cepat, "tapi jika kita langsungkan pertempuran habis- habisan, banyak kekuatan ini kita yang dipupuk dan dibangun selama banyak tahun ini bakal musnah dalam pertarungan tersebut, bahkan akan mempengaruhi pula hasil karya sejarah kuil kita yang telah berumur ribuan tahun."

"Tapi benarkah dia lihay?" seru Hwee cuncu sambil menggertak giginya kencang-kencang.

"Setelah merasakan ketiga jurus serangannya tadi, aku dapat merasakan bahwa cukup dengan kekuatan iblis tua tersebut seorang, dia mampu melenyapkan seluruh kekuatan dari partai siau lim kita."

Baru saja Hwee cuncu hendak berbicara tiba-tiba tampak dua sosok bayangan manusia berkelebat datang, ternyata mereka adalah Beng Gi ciu serta siau wan. Terdengar Beng Gi ciu telah berseru dari tempat kejauhan :

"siauli telah mendapatkan tempat tinggal yang baik, kenapa sampai sekarang Lo siansu baru sampai disini?"

Tapi menyusul ia menjerit tertahan, serunya : "Mana mana Kho kongcu?"

Dengan wajah pucat pias seperti mayat, sahut Phu sian sangjin lirih : "Dia..dia telah dirampas oleh ketua partai kupu-kupu Ui sik kong.."

"Haaaa"

Hampir saja Beng Gi Ciu jatuh pingsan, tanyanya tergagap : "sung . .sungguh?"

Terpaksa Phu sian sangjin menceritakan kembali pengalaman yang barusan dialaminya, sebagai akhir kata dia berkata dengan sedih : "Ya a a, semuanya ini memang kesalahanku."

"Lo siansu tak usah terlalu menyesali diri sendiri." Beng Gi ciu mencoba menghibur walaupun sepasang matanya telah berubah menjadi merah, "padahal Kejadian semacam ini bukan kesalahan lo siansu yang penting kita harus berunding bagaimana caranya menolong kembali."

Nona siau wan segera berteriak. "mari kita kejar bajingan tua itu dan merampas kembali Kho kongcu"

Agaknya dia merasa sangat tidak puas dengan kedua orang pendeta tua itu sehingga daLam pembicaraan pun sedikit banyak membawa nada menyindir. Dengan cepat Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya berulang kali : "Percuma, berbuat seperti itu sama artinya dengan perbuatan orang bodoh yang menghantar kematian sendiri, sama sekali tidak bermanfaat barang sedikitpun jua."

Kemudian sambil berpaling kearah Phu sian sangjin, tanyanya lagi : "Bagaimana rencana Lo siansu?" Phu sian sangjin menghela napas panjang,

"satu-satunya jalan saat ini adalah mengumpulkan semua jago persilatan yang ada didunia ini dan akan kujelaskan kisah kekalahanku ditangan Ui sik kong, kemudian akan kuusulkan untuk mencari pemimpin yang baru, dengan pemimpin yang baru inilah kita rundingkan bagaimana caranya menolong Kho sicu serta menumpas habis kaum durjana tua itu dari muka bumi."

"Menang kalah sudah menjadi peristiwa yang lumrah dalam setiap pertandingan," ujar Beng Gi ciu sambil tertawa getir, "apalagi Ui sik kong adalah pemimpin dari kaum iblis itu, jadi kesalahan dari Lo siansu sebetulnya sudah dapat diduga." Kemudian setelah memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh :

"Kini segenap kekuatan inti partai kupu-kupu telah terhimpun dibukit Cian san, dapat diduga tak lama kemudian mereka akan melakukan pembantaian berdarah didalam dunia persilatan, mati hidupnya dunia persilatan dan keutuhan dari umat kita justru akan tergantung sekali pada hasil pertarungan ini. Dalam keadaan demikian, aku rasa lo siansu tak usah terlalu mempersoalkan nama baik peribadi dan partai sendiri, yang penting kita mesti merundingkan cara penanggulangan yang terbaik."

Merah jengah selembar wajah Phu sian sangjin setelah mendengar perkataan katanya kemudian :

"Nasehat dari Beng li sicu memang benar, tapi ."

Kembali dia menghela napas dan tidak melanjutkan kata-katanya.

Beng Gi ciu termenung sambil berpikir sebentar, kemudian katanya :

"siauli mempunyai sebuah usul." "silahkan Beng lisicu utarakan keluar"

"Aku dengar Bu wi lejin, hwesio daging anjing serta pelajar rudin Ho heng sekalian berada dilembah hati Buddha, mengapa lo siansu tidak segera mengirim berita untuk mengundang para jago dari tujuh partai agar berkumpul semua didalam lembah hati Buddha."

"Lantas bagaimana dengan Beng li sicu sendiri?" "Aku hendak melanjutkan usahaku untuk mencari empek oh dan empek Thian, baik kutemukan atau tidak, sampai waktunya aku pasti akan hadir di lembah hati Buddha"

"Bagus sekali, kalau begitu kita tetapkan demikian saja"

Beng Gi ciu menghembuskan napas panjang, katanya kemudian : "Kalau memang begitu harap lo siansu baik-baik menjaga diri,

siauli hendak mohon diri lebih dulu. moga-moga kita berjumpa lagi di lembah hati Buddha tak lama kemudian."

"Beng lisicu harus menjaga diri baik-baik pula" kata Phu sian sangjin dengan perasaan menyesal

Beng Gi ciu tak banyak berbicara lagi, dengan mengajak siau wan berangkatlah dia menuju kejalan semula.

ooo)00000(ooo

Kakek berbaju kuning yang menculik Kho Beng memang tak lain adalah ketua partai kupu-kupu Ui sik kong.

Dengan senyum bangga menghiasi wajahnya dan mengapit wajah Kho Beng dibawah ketiaknya, ia berjalan santai menuju kearah bukit Cian san.

Tapi belum sampai sepuluh li kemudian, ternyata dia pun telah menjumpai suatu peristiwa yang sangat diluar dugaan.

Mendadak terdengar seseorang menegur sambil tertawa ringan : "Hey tua Bangka, kau boleh beristirahat sekarang"

Ui sik kong amat terperanjat, sebab Kejadian ini sama sekali tidak terduga sebelumnya, mungkinkah didunia ini masih ada orang yang memiliki ilmu silat jauh lebih hebat daripada kemampuannya?

Kalau tidak. apa sebabnya teguran itu bisa muncul begitu mendadak dan sama sekali tak diketahui sebelumnya?

sementara dia masih termenung dengan keheranan, tampak sesosok bayangan manusia telah melayang turun dan berdiri dihadapannya, bahkan sedang mengawasinya sambil tertawa.

orang itu adalah seorang kakek berjenggot putih yang berwajah bagaikan tembaga antik, usianya antara sembilan puluh tahun dan berwajah amat berwibawa.

setelah tertegun sejenak. Ui Sik, kong segera menegur : "siapa anda?"

"Lebih baik tak usah kukatakan" sahut si kakek sambil tertawa. "Kenapa?"

"Aku Cuma orang gunung yang liar, apa gunanya menyebut nama? " Ui sik kong semakin terperanjat, serunya lagi : "Apa maksud anda menghalangi jalan pergiku?"

Kakek itu segera tertawa.

"Aku sudah berkata secara jelas, silahkan mengaso sebentar sambil berbincang-bincang."

"Maaf aku tak ada waktu untuk menemani" tukas Ui sik kong dengan penuh amarah. sambil membalikkan badan ia siap beranjak pergi dari situ.

Tapi dengan suatu gerakan yang cepat kakek itu telah menghadang kembali dihadapannya

"Eeeeee..eeee..eeeee tunggu dulu.."

"sebenarnya apa maksudmu?" Ui sik kong semakin naik darah. "Hmmm, lebih baik kita berbicara blak-blakan, tinggalkan Kho

Beng dan serahkan kepadaku"

saking gusarnya Ui sik kong segera tertawa seram, teriaknya

:"Licik amat kau si bajingan tua, sebetulnya siapakah kau?" "Apakah kau tidak merasa bahwa pertanyaan ini tak perlu

kujawab sebab kau sudah tahu tapi pura-pura bertanya lagi?" "Sudah tahu tapi pura-pura bertanya?" Ui Sik kong tertawa

seram,

"heeee.heeeehehh kenapa aku mesti berbuat demikian?" jengek si kakek.

"Hmmm, masa dari wajah serta dandananku ini, kau belum dapat menduga siapakah diriku ini?" jengek si kakek.

"Aku benar-benar tak dapat mengingatnya" kata Ui sik kong sambil berkerut kening. Kakek itu berpikir sebentar, lalu katanya :

"Baiklah akan kuperlihatkan senjata andalanku, siapa tahu hal tersebut akan memperkuat daya ingatanmu sehingga menyebabkan kau dapat teringat kembali akan diriku."

seraya berkata dia segera mengeluarkan seperangkat senjata gelang rembulan dan gelang surya.

Ui sik kong memperhatikan sejenak. tiba-tiba meledaklah suara gelak tertawanya yang amat keras hingga menggetarkan seluruh angkasa, sampai lama sekali suara tertawanya masih menggema diangkasa.

Pelan-pelan kakek tersebut menyimpan kembali sepasang gelang surya rembulannya, kemudian menegur : "Apa yang kau tertawakan?" sambil berusaha menghentikan gelak tawanya, Ui sik kong berkata :

"Aku mentertawakan kau yang bertindak pintar, tapi mengapa justru melakukan perbuatan sebodoh ini?" si kakek mendengus. "Hmmm, dimana letak kebodohanku?"

"Siapapun boleh kau tiru, namun tidak sepantasnya menyaru sebagai si naga terbang dari see ih, Kong ci, ketahuilah dia sudah meninggal dunia hampir seabad berselang"

Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam kembali dia berkata :

"Bocah keparat she Kho pun pernah melakukan perbuatan bodoh yang sama namun hasil penyamarannya segera berhasil dibongkar oleh putriku"

Kakek itu segera tertawa.

"Kalau dia menyamar sebagai diriku, tapi aku justru sedang menyamar sebagai diriku sendiri, apakah menyaru sendiripun masih termasuk suatu penyaruan?" Dengan penuh amarah, Ui Sik kong segera berseru :

"Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berdebatan denganmu, jawab saja selekasnya, kau mau mundur dari sini atau tidak."

Kakek itu balas mendengus marah.

"Tentu saja aku tak bakal menyingkir dari sini, kecuali kalau kau meninggalkan Kho Beng disini"

"Tak nanti akan kulakukan hal semacam ini," seru Ui sik kong bertambah marah.

"Hmmm, tiada persoalan yang tak mungkin terjadi dengan ku, karena persoalan yang tidak mungkin pun bisa berubah menjadi memungkinkan."

Lalu setelah menatap sekejap lawannya, dia melanjutkan : "Beranikah kita bertaruh?"

"Bagaimana caranya bertaruh?" Ui sik kong mendengus. "Pokoknya siapa yang unggul dia yang menentukan nasib bocah

itu, mari kita pun beradu tiga jurus, siapa menang dia mendapatkan Kho Beng, bagaimana dengan cara ini, setuju bukan?"

Ui sik kong segera melototkan sepasang matanya bulat-bulat, dia berseru keras :

"Tampaknya kau telah menyaksikan apa yang telah berlangsung tadi?" "Betul" kakek itu mengangguk. "aku adalah satu-satunya penonton dari peristiwa tadi."

"Kalau memang sudah menyaksikan sendiri, mengapa kau masih berani mengajukan pertaruhan seperti itu dengan ku?" hardik Ui sik kong dengan suara yang berat dan dalam. Kakek itu segera tertawa tergelak : "Haaah.haaahh.lantas bagaimana menurut pendapatmua?"

"Hmm, rupanya kau sudah bosan hidup dan ingin selekasnya mencari mampus"

"sayang sekali dugaanmu kali ini keliru besar", kakek itu masih tetap tersenyum, "sebab aku sudah menyaksikan taraf kepandaian silat yang kau miliki, justru karena kutahu titik kelemahanmu maka kuusutkan cara tersebut kepadamu"

"Bagus sekali" teriak Ui sik kong kemudian sambil menggigit bibir, "akan kusuruh kau menyaksikan kehebatan ilmu silatku, hayo majulah" sambil berkata dia segera membaringkan tubuh Kho Beng keatas tanah.

"silahkan mulai menyerang" ucap si kakek sambil tertawa, sikapnya tetap santai dan seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu peristiwa pun terhadap dirinya.

"selamanya aku tak pernah turun mangan lebih dulu, lebih baik kau yang menyerang duluan" kata Ui sik kong.

Pelan-pelan kakek itu meloloskan sepasang gelang surya rembulannya, kemudian sambil dipersiapkan ia berkata :

"Kalau memang begitu, maaf kalau aku menyerang lebih duluan." sepasang gelang emasnya segera bergerak cepat, gelang surya

menyambar kearah kepala sementara gelang rembulan menyambar kearah pinggang, bagaikan dua gulungan asap kuning, senjata tersebut meluncur kemuka dengan sangat hebatnya.

sementara itu Ui sik kong telah mempersiapkan ruyung lemas bewarna emasnya, senjata tersebut diayunkan kedepan dan tiba-tiba saja berubah menjadi beribu-ribu cahaya banyaknya yang bersama- sama menyapu keluar. Traaang..traaaaaangggg

Ditengah suara dentingan yang amat nyaring, cahaya kuning memancar keempat penjuru sangat menyilaukan mata, bagaikan sang surya yang memercikkan cahayanya keempat penjuru.

Tempaknya kedua belah pihak sama-sama mundur dua langkah, agaknya menang kalah masih belum bisa ditentukan. Namun paras muka Ui sik kong telah berubah menjadi berat dan amat serius, jelas sudah didalam bentrokan tadi, dia telah menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek tersebut betul-betul lihainya bukan kepalang. Terpaksa sambil menggigit bibir dia membentak keras :

"Bajingan tua, ternyata kesempurnaan tenaga dalammu masih jauh diatas kemampuan phu sian si bajingan gundul itu, tak heran kau berani menantangku untuk bertarung?" Kembali kakek itu tertawa,

"Tenaga dalamku memang masih setingkat diatas kemampuanmu, dalam jurus yang kedua nanti, aku akan memaksamu untuk melepaskan ruyung serta mengaku kalah"

"omong kosong" teriak Ui sik kong dengan amarah yang meluap. "bila kau benar-benar mampu memaksaku untuk melepaskan ruyung, saat ini juga aku akan menggorok leher sendiri dan melakukan bunuh diri"

"Haaahh.hahhhh..haaaah masuk hitungankah perkataanmu itu?" "Hmmm, ucapan tersebut keluar dari mulutku dan masuk

kedalam telingamu, siapa bilang tak masuk hitungan."

setelah berhenti sejenak. kembali dia melanjutkan dengan suara dalam :

"Bagaimana kalau dalam jurus kedua nanti kau gagal memaksaku untuk melepaskan ruyung?"

"Itu mah gampang sekali. Aku tetap akan melakukan hal yang sama seperti dirimu, bunuh diri tepat dihadapanmu, nah, setuju bukan?"

Ui sik kong segera tertawa tergelak : "Haaah..haaah..haaahhh.bagus sekali, moga-moga saja kau

dapat menepati janjimu nanti"

"Hmmm, yang kukuatirkan justru kaulah yang akan menjilat ludah sendiri"

"Tak usah banyak bicara lagi" bentak Ui sik kong keras-keras , "ayoh cepat turun tangan"

Kakek itu segera mengulangi kembali serangannya dengan gelang surya diatas dan gelang rembulan dibawah dia melancarkan serangan dahsyat.

Dengan cepat Ui sik kong memutar ruyungnya menciptakan tiga lingkaran bayangan cahaya untuk membendung datangnya ancaman tersebut. Ketiga lingkaran cahaya itu dua diantaranya meluncur untuk membendung datangnya serangan dari sepasang gelang surya rembulan, sementara gulungan yang terakhir langsung menumbuk kearah dada lawan.

Terdengar kakek itu tertawa terbahak-bahak, mendadak jurus serangannya berubah, sepasang gelang surya rembulannya berubah menjadi segulung cahaya tajam dan secara keras melawan keras menerjang bahu kanan Ui sik kong.

Terdengar dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, Ui sik kong mundur tiga langkah dengan sempoyongan sementara ruyung lemas bewarna emasnya terlepas dari genggaman dan mencelat sejauh dua kaki lebih dari tempat semula.

Bersamaan itu pula bahu kanannya nyaris tak mampu diangkat kembali, sudah jelas luka yang dideritanya cukup parah.

Peristiwa ini boleh dibilang suatu peristiwa yang luar biasa dan tidak terduga sebelumnya.

Namun sikap kakek itu masih tetap santai, berdiri disitu sambil tersenyum seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu peristiwa pun.

Paras muka Ui sik kong berubah menjadi mengenaskan, sambil menggigit bibir dia membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Nah, bagaimana?" tegur si kakek kemudian sambil tertawa. "Kau yang unggul.." nada suara ui sik kong dingin seperti salju.

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi :

"Ada suatu pertanyaan, kumohon agar kau bersedia menjawab dengan sejelasnya"

"Kalau ada yang mencurigakan hatimu, silahkan tanyakan saja" kata si kakek sambil tertawa.

"Ruyung terbangku sudah jelas bersarang tepat didadamu, sepantasnya kalau tak mampus tentu menderita luka yang parah, mengapa kau masih tetap tenang dan sehat walafiat?" Kakek itu segera tertawa tergelak :

"Haaaa.haaaahh.haaahhh aku pernah minum cairan mestika Giok hu wan ci ditambah pula hasil latihanku hampir seabad lamanya, kesemuanya itu membuat tubuhku berubah menjadi keras dan tahan serangan, tentu saja aku tak takut menghadapi gempuranmU yang dahsyat itu"

Pucat pias selembar wajah Ui sik kong, ia berdiri kaku disitu tanpa sanggup berkata-kata lagi. Dia tak pernah menyangka kalau dirinya bakal menderita kekalahan secara mengenaskan, dia pun tak mengira kalau Kong ci Cu masih hidup didunia ini, kesemua Kejadian tersebut hampir saja membuatnya tak percaya sama sekali. sambil menggeser tubuhnya kembali, kakek itu bertanya : "Apakah masih ada persoalan lain yang mencurigakan?"

sambil menghela napas ui sik kong segera berkata : "Ternyata kau benar-benar adalah Kongci Cu"

"Aku toh tak pernah memaksamu untuk percaya."

"Bila kau benar-benar adalah Kongci Cu, masih ada satu hal yang tidak kupahami?" kata Ui sik kong dengan kening berkerut.

"soal apa?"

"Kongci Cu adalah sobat karib kakekku almarhum, terhitung juga orang yang berbudi untuk keluarga ui, seharusnya dia adalah sobat kami bukan musuh."

"ooo maksudmu tidak seharusnya aku membantu orang lain?" tukas si kakek cepat.

"Yaaa, begitulah maksudku."

Kakek itu menghela napas panjang.

"Aaaai. aku tak bersedia memberi penjelasan yang terlalu mendalam tentang masalah ini, tapi bila kukatakan kepadamu bahwa setiap orang mempunyai cita-cita yang berbeda."

Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya dengan suara dalam : "Bagaimana dengan pertaruhan kita tadi? Apakah anda akan melaksanakannya?"

"Pertaruhan apa?" Tanya ui sik kong terperanjat. sambil tertawa kakek itu berkata :

"Bagi yang unggul, bukan saja akan memperoleh Kho Beng, lagipula dapat menyaksikan lawannya menggorok leher sendiri dan bunuh diri, aku rasa begitu bukan pertaruhan yang kita janjikan tadi?"

"Kalau aku tak mau melaksanakannya, mau apa kau?" seru Ui sik kong sambil menggigit bibir.

Kakek itu segera tertawa tergelak. "Haaahh..haaaahhaaaah..sejak tadi telah kuduga bahwa kau tak

bakal menepati janji, tapi akupun tak akan memaksamu untuk melakukan bunuh diri." sesudah menghela napas panjang, kembali ujarnya : "Anggap saja aku memandang diatas wajah saudara Thian it, sobat lamaku itu dan membatalkan perjanjian kita tadi, tapi kau mesti ingat cepat atau lambat Kho Beng akan mendesakmu untuk mati."

"Jangan harap kau bisa membawa pergi Kho Beng dari sini" seru Ui sik kong sambil menahan geram.

"Tapi bagaimanapun juga aku tetap akan membawanya pergi" kata si kakek sambil menarik muka.

Ui sik kong tidak berkata kata lagi, mendadak dia membalikkan tangannya sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Kho Beng. Blaaaam

Benturan yang amat dahsyat berkumandang memecahkan ke heningan, pasir dan batu beterbangan diangkasa. Diatas permukaan tanah segera muncul sebuah liang raksasa yang luasnya mencapai beberapa depa.

Tampaknya dia bermaksud membunuh Kho Beng dengan gempuran dahsyatnya itu.

Namun ketika dia mencoba mengamati lagi dengan seksama, ternyata Kho Beng yang semula masih berbaring diatas tanah, kini telah berada dalam pangkuan kakek tersebut. Tentu saja ui sik kong menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu. Terdengar kakek itu tertawa terbahak-bahak sambil berkata :

"Haaahhh.haaahh..haaahhh mungkin kau telah melupakan sesuatu, ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerakku sudah tersohor didalam dunia persilatan sejak seabad berselang"

"Kalau begitu kau benar-benar adalah Naga terbang dari see ih, Kongci Cu yang asli?" kata ui sik kong sambil menghela napas sedih. Kembali Kongci Cu tertawa.

"Bukankah telah kukatakan sejak tadi, namun kau sendiri yang enggan percaya, apa yang mesti kuperbuat lagi?"

"Kalau kau benar-benar adalah Kongci Cu yang asli, kenapa sikapmu terhadapku sejelek ini, apakah."

Dengan penuh amarah dia menghela napas, lalu terusnya dengan suara yang berat lagi dalam :

"Apakah kau menyangkal pernah menjalin tali persahabatan dengan mendiang kakekku? Apakah kau berniat memusuhi keluarga ui kami?"

Kongci Cu menghela napas panjang. "Berbicara sesungguhnya aku tak akan menjadi sahabat pun tak menjadi musuh kalian, sebab aku tak pernah melupakan persahabatanku dengan mendiang kakekmu dulu saudara Thian it. Akan tetapi aku pun tak ingin menyaksikan kalian membuat kejahatan dan menerbitkan keonaran dimana-mana, itulah sebabnya aku tak bisa berpeluk tangan belaka."

Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya kewajah Ui Sik kong, kembali dia menambahkan :

"Moga-moga saja kau tidak terjerumus kedalam lembah kehancuran, cepatlah menyadarkan diri atas segala perbuatanmu serta kembali kejalan yang benar. Nah jagalah dirimu baik-baik."

Usai berkata ia segera berkelebat pergi dari situ dan lenyap dari pandangan mata.

Mengawasi kepergian Kongci Cu sambil membopong tubuh Kho Beng, ui sik kong berdiri termangu-mangu, dadanya bagaikan tersumbat oleh sebuah batu cadas yang amat besar, seperti juga tersulut oleh api amarah yang membara.

Mendadak dia mengayunkan sepasang telapak tangannya dan secara beruntun melepaskan serangkaian pukulan yang amat gencar.

Biarpun perawakan tubuhnya kurus dan ceking, namun tenaga pukulannya betul-betul sangat dahsyat dan mengerikan hati.

Terdengar suara gemuruh yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan, batang pohon bertumbangan saling menindih, hancuran batu beterbangan bagaikan hujan gerimis, sedemikian dahsyatnya gemurh suara disitu, sampai daerah sejauh sepuluh lipun bisa mendengar suara gemuruh tersebut secara jelas dan nyata.

Ia menyerang dan melepaskan serangan tiada hentinya, jelas jagoan tua dari keluarga Ui ini ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk melampiaskan keluar seluruh rasa kesal dan jengkelnya.

Hingga dia merasa amat penat dan kehabisan tenaga. Ui Sik kong baru menghentikan perbuatannya, namun dalam kawasan seluas berapa li sudah tak Nampak sebatang pohon pun berada dalam keadaan utuh, tak sejengkal tanah pun berada dalam keadaan rata.

Akhirnya ia jatuh terduduk diatas tanah sementara air mata bercucuran membasahi wajahnya. Apakah partai kupu-kupu yang telah hidup memencilkan diri selama seabad bakal mengalami nasib yang tragis kembali? Apakah dia tak akan mampu mencapai apa yang dicita-citakan ketua partai mereka menjelang kamatiannya dibawah tebing hati duka?

Mendadak..

Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat datang dengan kecepatan tinggi sambil meluncur tiba, serunya pelan : "Ayah.."

Ternyata yang muncul adalah Dewi In Un.

Dengan penuh kelembutan, perempuan tersebut duduk disamping ayahnya, lalu menegur lirih :

"Ayah, mengapa kau?"

Ui sik kong menghela napas panjang, ia tetap terbungkam dalam seribu bahasa.

Namun sorot matanya palan-pelan dialihkan kedepan sana.

Tampak ke empat tiang lo dari partai kupu-kupu, dua belas pengawal khusus serta keempat lengcu dari Dewi In Un sekalian, kini telah berdiri tegak pada lima kaki dihadapannya.

sekali lagi Ui sik kong menghela napas panjang tanpa berkata- kata. Menyaksikan hal ini, Dewi In Un segera bertanya lagi dengan sedih :

"Ayah, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kekuatan apakah yang membuat dirimu berubah menjadi begini rupa?"

Akhirnya Ui sik kong buka suara, dengan nada yang sangat dalam dan berat dia berkata

"Ketika partai kupu-kupu didirikan mendiang kakekku dulu, kita pernah menyapu seluruh jagat dan menaklukan banyak perguruan besar."

"Kemunculan partai kupu-kupu saat inipun akan berbuat yang sama membuat seluruh jagat tunduk dibawah perintah kita," kata Dewi In Un cepat.

Kembali ui sik kong menghela napas :

"Namun kejayaan yang dikecap waktu itu hanya berlangsung sesaat, menyusul hilangnya kitab pusaka Thian goan bu boh dan kekalahan tragis di tebing hati duka, menyebabkan mendiang kakekku tewas secara mengerikan , partai kita terpencil diwilayah yang jauh." 

"Hutang darah tersebut wajib kita tuntut kembali, kita harus membalas dendam atas sakit hati tersebut " seru Dewi In Un sambil menggertak gigi kencang-kencang. "Aaaaai, semenjak peristiwa itu partai kupu-kupu kita tak mampu bangkit kembali, lenyap bagaikan asap dipagi hari, terusir sama sekali dari percaturan dunia persilatan"

"Tapi sekarang kita toh sudah bangkit kembali" seru Dewi In un. "Benar, dalam seabad terakhir ini kita melatih diri secara terus

menerus selama tiga generasi, akhirnya partai kupu-kupu dapat bangkit kembali didalam dunia persilatan." sesudah menghembuskan napas panjang, dia melanjutkan :

"Memimpin pasukan menduduki daratan Tiong goan, membangun kembali kejayaan lama, inilah yang menjadi cita-cita partai kupu- kupu kita sekarang."

"Benar, kita mencuci dulu daratan Tiong goan dengan cucuran darah, menaklukan seluruh umat persilatan, kemudian setelah berhasil menduduki kursi pimpinan yang tertinggi dalam dunia persilatan, kita baru pergi membunuh keturunan tiga dewa untuk membalaskan dendam bagi leluhur kita dan sekarang segala sesuatunya hampir terwujud didepan mata"

"Tapi sekarang, kita telah menjumpai tantangan yang amat besar" bisik Ui sik kong sambil menghela napas.

"Ayah , sebenarnya apa yang telah kau alami?" buru-buru Dewi In un bertanya.

"Ayah, telah bertemu dengan ketua Siau limpa y, Phu sian si bajingan gundul itu sedang membawa Kho Beng yang terluka parah, didalam pertarungan tiga jurus secara mudah ayah berhasil mengalahkan phu sian serta merampas Kho Beng dari tangannya, tapi."

sesudah menghela napas kembali ia menggigit bibir serta tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

"Mana Kho Beng sekarang?" Tanya Dewi In Un.

"Aaaai, ayah telah berjumpa lagi dengan orang lain, Kho Beng pun dirampas kembali oleh orang tersebut."

Dewi In Un menjadi sangat terperanjat, segera serunya : "siapakah yang memiliki kepandaian silat sehebat ini, apakah ilmu

silatnya masih jauh diatas kemampuan ayah?"

"Dengan pertarungan sebanyak tga jurus, orang itu berhasil mengungguli ayah" bisik Ui sik kong sedih.

"sebenarnya siapa sih orang itu?" desak Dewi In Un dengan perasaan amat gelisah.

sekali lagi Ui sik kong menghela napas. "Aaaaai..dia adalah naga terbang dari See ih, Kongci Cu" "Haaaah" tak terlukiskan rasa kaget Dewi In Un setelah

mendengar perkataan itu,

"tak mungkin hal ini bisa terjadi, siapa pula yang telah memerankan dirinya? Ayah, kau tentu belum lupa bukan dengan penuturanku tempo hari, dimana Kho Beng pun pernah menyamar sebagai Kongci cu?"

"Tiada orang yang menyamar sebagai dirinya. Dialah Kongci Cu y asli"

Dewi In un membelalakkan sepasang matanya bulat-bulat, serunya kurang percaya :

"Hal ini mana mungkin bisa terjadi? Kalau orang itu adalah Kongci Cu, seharusnya dia membantu pihak ayah. Selain itu, masa dia

betul-betul bisa hidup selama dua abad lamanya?"

"Dalam jagad raya yang begini luas, tiada keajaiban yang tak mungkin terjadi, apa bila orang yang dapat hidup melebihi dua abad pun bukan hanya Kongci Cu seorang." Sesudah berhenti sejenak, kembali serunya :

"Tentang apa sebabnya Kongci Cu tidak membantu pihak kita masih ada satu hal ayah tak pernah menceritakannya kepadamu."

"Tentang soal apa?" Tanya Dewi In Un agak bimbang.

"Kongci Cu betul-betul adalah tuan penolong keluarga ui kita, tapi itupun hanya disebabkan dia telah mengurusi layon kakekku almarhum serta memiliki jalinan persahabatan yang cukup erat dengan kakekku dulu, sedang terhadap segala tingkah laku maupun sepak terjang partai kupu-kupu kita dia tak pernah mau tahu atau mencampurinya."

"Dia telah pergi kemana sekarang?" Tanya Dewi In Un. Ui Sik kong tertawa getir.

"Entah, kemanapun dia pergi, yang pasti tak mungkin bisa kita temukan, ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sangat hebat, apalagi merupakan kepandaian andalannya."

Setelah memancarkan sinar kebencian dari balik matanya, kembali dia melanjutkan : "Padahal sekalipun kita berhasil menemukannya, apa pula yang dapat kita perbuat?"

"Dengan mengandalkan kekuatan partai kupu-kupu yang ada sekarang, kita bunuh tua Bangka tersebut, masa kita tak mampu melakukannya?"

Kembali Ui sik kong tertawa getir. "Percuma, menurut apa yang kuketahui sekalipun seluruh kekuatan partai kita kerahkan pun belum tentu bisa menandingi kemampuannya"

"Kalau begitu, apa yang mesti kita lakukan sekarang?" Tanya Dewi In Un terperanjat. Tapi kemudian seperti memahami akan sesuatu, kembali tanyanya : "Aku mempunyai sebuah ide yang bagus sekali, apakah ayah menyetujuinya?"

"Apa idemu itu?"

"Kita ajukan rencana yang semula dengan melakukan pembantaian lebih awal terhadap umat persilatan didunia ini, kita harus melakukan pembantaian berdarah untuk menyapu serta menaklukan orang-orang itu"

Tapi Ui sik kong segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya : "Cara tersebut bukan sebuah cara yang baik."

Kening Dewi In Un berkerut, segera serunya : "Lalu ayah.."

Mendadak Ui sik kong merasakan semangatnya berkobar kembali, serunya cepat : "Aku telah berhasil mendapatkan sebuah akal yang sangat bagus."

"Apa akalmu itu?" Tanya Dewi In Un cepat.

"Tempat ini bukan tempat yang cocok untu berbicara, mari kita pulang dulu kebukit Cian san "

"Baik ayah, mari kubimbing dirimu"

Maka ayah dan anak pun saling berangkulan sambil melakukan perjalanan, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka telah lenyap dikajauhan situ diiringi segenap jago-jago lihainya.

ooo)00000(ooo

ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Kongci Cu benar-benar sangat lihai, dalam sekali lompatan dia berhasil mencapai jarak sejauh puluhan kaki, gerakannya begitu ringan seperti segulung asap lembut, dalam waktu singkat berpuluh li telah dilewati.

selama ini Kho Beng berada dalam keadaan sadar, meskipun rasa tentram telah menyelimuti perasaannya, namun persoalan lain membuat pikirannya terasa bertambah berat.

Berhubung gerakan tubuh dari Kongci Cu sedemikian cepatnya membuat Kho Beng hampir saja tak dapat membedakan jalan bukit atau jalan datarkah yang mereka lalui selama ini, tapi menurut perkiraannya paling tidak seratus li telah mereka lampaui. saat itulah pelan-pelan Kongci Cu baru menghentikan larinya. Kho Beng mencoba memperhatikan keadaan sekelilingnya secara diam-diam, ternyata mereka masih berada ditengah hutan yang lebat, namun dia tahu tempat tersebut bukan bukit Wang hu san , juga bukan bukit Cian san.

sambil membungkukkan badan Kongci Cu segera menegur sambil tertawa ringan.

"Kho Beng, apakah keadaanmu rada mendingan?"

Kho Beng mencoba menggerakkan bibirnya namun tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan.

sambil manggut-manggut Kongci Cu berkata lagi : "Kondisi tubuhmu sudah lemah sekali, bila tidak diobati

secepatnya, mungkin ilmu silatmu bakal punah sama sekali." sembari berkata ia segera membaringkan tubuh Kho Beng keatas

tanah.

Tampak ia termenung sebentar, kemudian dari sakunya mengeluarkan sebutir pil berwarna merah dan dihadapankannya sebentar pada telapak tangannya, setelah itu baru katanya :

"Pil ini adalah pil mestika Giok ci sin wan terakhir yang kumiliki, cepatlah kau telan"

Tanpa peduli apakah Kho Beng setuju atau tidak, dia segera menekan jalan darah Coat ho hiat ditenggorokannya dan menjejalkan pil tersebut kedalam mulutnya.

Kho Beng tak bertenaga untuk menampik, terasa olehnya pil yang menggelinding masuk kedalam mulutnya itu segera menyebarkan hawa segar keseluruh badannya, bersamaan itu pula dia merasakan semangatnya kembali berkobar. Tiba-tiba Kongci Cu berbisik d isisi telinganya :

"Usahakan sedapat mungkin untuk menghimpun kembali kekuatanmu serta mengatur napas." Kho Beng menurut dan segera berusaha menghimpun kembali tenaga dalamnya.

Mungkin Karena bantuan sisa hawa murni yang dimilikinya, ternyata percobaan yang dilakukannya kali ini mendatangkan hasil yang diharapkan, segulung aliran hawa panas pelan-pelan muncul dari pusarnya dan menyebar keseluruh tubuh.

Kho Beng menjadi girang setengah mati, dengan cepat dia mengatur napas dengan penuh semangat, matanya dipejamkan rapat-rapat dan mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

sementara itu Kongci Cu duduk pula disisinya sambil memejamkan mata rapat-rapat, jelas diapun sedang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengatur pernapasan, lebih kurang sepertanak nasi kemudian Kho Beng telah membuka matanya kembali dan bangkit dari tidurnya.

Ia merasakan tubuhnya jauh lebih segar dan bertenaga, ketika mencoba bangkit berdiri ternyata usaha ini pun berhasil, buru-buru dia berlutut dihadapan Kongci Cu sambil serunya :

"Boanpwee mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan locianpwee"

Pelan-pelan Kongci Cu membuka matanya kembali, ia sama sekali tidak membangunkan Kho Beng, hanya ujarnya sambil tersenyum :

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Boanpwee telah merasakan kesehatan tubuhku jauh lebih sehat dan kuat."

"Bagus, bagus sekali" sorak Kongci Cu dengan gembira, "hitung- hitung aku telah melakukan suatu pekerjaan yang amat memuaskan hati."

"Benarkah cianpwee adalah Kongci cianpwee?" mendadak Kho Beng bertanya agak ragu-ragu. Kongci cu segera tertawa tergelak :

"Haaahh.haaahhh..haaahhh..masa kau tidak mendengar pembicaraanku dengan Ui Sik kong tadi?"

"jadi jadi kesemuanya ini sungguh-sungguh? Tapi Boanpwee pernah mendengar penuturan kakek tongkat sakti katanya cianpwee..sudah.."

"Sudah mati bukan?" sambung Kongci Cu sambil tertawa. Kho Beng jadi tergagap, "Lantas cianpwee.."

setelah menghela napas Kongci Cu berkata :

"Aaaaai, aku memang pernah mati sekali tapi waktu itu Cuma pura-pura mati, hal ini pun disebabkan masalah partai kupu-kupu"

"Boanpwee benar-benar bingung dan tidak memahami keterangan dari cianpwee, bersediakah cianpwee untuk menerangkan lebih jelas lagi?" pinta Kho Beng dengan wajah tak habis mengerti.

"Tentu saja." Kongci Cu manggut-manggut, "aku pasti akan memebritahukan kepadamu." sesudah berhenti sejenak. kembali dia melanjutkan :

"Tatkala aku menjalin tali persahabatan dengan Ui Thian it pendiri partai kupu-kupu, waktu itu usiaku masih amat muda, hal inipun bisa terjadi lantaran aku merasa berhutang budi kepadanya." "Apakah dia pernah menolong cianpwee?" Tanya Kho Beng .

Dengan cepat Kongci Cu menggeleng.

"Dia pernah menolong ayahku almarhum, meskipun ayahku akhirnya mati karena lukanya yang parah, namun dia telah berusaha dengan sekuat tenaga yang dimilikinya, oleh sebab itu aku merasa amat berterima kasih kepadanya hingga selanjutnya menjalin persahabatan yang sangat akrab.

Tapi setelah persahabatan itu berjalan berapa tahun, aku mulai menemukan banyak kelemahan dan kesalahan yang dilakukan Ui Thian it didalam pelbagai tindakannya, misalkan saja dia amat berambisi, tidak mengenal perikemanusiaan, sadis, buas dan kadang-kadang pula menunjukkan sifat kemunafikannya."

"Mungkin disinilah letak perbedaan antara kaum pendekar dengan kaum sesat?" sela Kho Beng.

Kongci Cu mengangguk.

"Yaa, boleh dibilang begitu, berhubung tabiatnya yang susah didekati itu maka lambat laun mulai menjauhkan diri dari pergaulan dengannya, namun berhubung aku merasa berhutang budi kepadanya, maka masalah ini selalu mengganjal didalam hatiku dan tak pernah dapat kulupakan."

"Disinilah letak kebesaran jiwa locianpwee" kata Kho Beng.

Tiba-tiba Kongci Cu melototkan sepasang matanya bulat-bulat serunya sambil mendengus

"Hmmm bocah muda, kau tak usah bermaksud menjilat pantatku"

Merah padam selembar wajah Kho Beng, namun ketika menyaksikan raut wajah Kongci Cu yang lucu, tak kuasa lagi dia tertawa geli.

Dia tahu manusia yang berusia hampir mendekati dua abad ini bukan saja gampang diajak bergaul, lagipula tak senang dengan segala macam tata cara pergaulan. Terdengar Kongci Cu berkata lebih jauh,

"semenjak peristiwa itu, aku sering tak bertemu dengan Thian it sampai berapa tahun lamanya, namun setiap kali bertemu, hubungan kamipun sangat hangat dan akrab, aku masih ingat pada pertemuan kami yang terakhir, yaitu empat tahun sebelum dia mati ditangan tiga dewa.

Waktu itu kitab pusaka Thian goan bu boh warisan leluhLimya telah hilang, ia sedang mempersiapkan diri untuk melakukan pembantaian secara besar-besaran didalam dunia persilatan. Aku berusaha membujuknya agar mengurungkan niatnya itu namun tidak berhasil, akhirnya a kupun terpaksa mohon pamit.

Tapi sebelum pergi meninggalkannya diapun sempat mengajukan sebuah permohonan kepadaku."

Ketika berbicara sampai disini, ia segera termenung dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

"Entah apakah permintaan itu?" Tanya Kho Beng dengan nada menyelidik. sambil tertawa getir Kongci Cu berkata :

"Mungkin pada saat itu diapun sudah menduga kalau hari kiamatnya hampir tiba, ternyata sebelum itu dia telah meninggalkan pesannya, akupun menyanggupi permintaannya untuk berusaha dengan sepenuh tenaga melindungi keturunan dari partai kupu- kupunya sehingga tidak mengalami kemusnahan total"

Kho Beng segera manggut-manggut, katanya :

"Tindakan locianpwee memang sudah terhitung suatu bukti bagi kesetiaan kawanmu."

Lalu setelah berhenti sejenak. dengan nada menyelidik kembali dia berkata :

"Apakah locianpwee tidak merasa bahwa perbuatan cianpwee menolong boanpwee adalah suatu perbuatan yang salah?"

Kongci cu menggeleng.

"sudah kukatakan sedari tadi, setiap orang mempunyai cita-cita yang berbeda, walaupun aku telah menyanggupi permintaannya untuk melindungi keturunan dari partai kupu-kupu, namun secara diam-diam aku pun telah mengambil keputusan pula bahwa aku tak akan membiarkan partai kupu-kupu menerbitkan bencana bagi umat persilatan, apalagi menciptakan badai pembunuhan berdarah lagi."

setelah berhenti sejenak. kembali dia berkata :

"Anak muda, apakah kau menyetujui pandanganku ini?" Buru-buru Kho Beng menjawab :

"Boanpwee merasa kagum sekali dengan tindakan cianpwee, sebab apa yang dilakukan kau orang tua memang tepat sekali"

Kongci Cu menjadi kegirangan, serunya :

"Waaah..jilatan pantatmu betul-betul membuatku merasa nyaman.. dulu aku sengaja berlagak mati karena secara diam-diam aku hendak mengamati segala perbuatan serta sepak terjang dari ahli waris partai kupu-kupu. Ternyata selama tiga generasi mereka hidup mengasingkan diri dan tak pernah terjun kembali kedalam dunia persilatan, selama ini mereka selalu menekuni ilmu silat keluarganya."

"Bukankah hal semacam ini sudah menunjukkan dengan nyata bahwa mereka telah bersiap sedia melakukan pergerakan kembali untuk menuntut balas atas sakit hatinya dimasa lampau?" kata Kho Beng.

"Aku pun mengetahui akan hal ini," Kongci Cu manggut-manggut, "sungguh beruntung aku memperoleh penemuan tak terduga sehingga menyebabkan hidupku juga lebih lama dari dugaan orang, selama ini pula aku melakukan pengawasan secara diam-diam."

Berbicara sampai disitu, dia menghela napas panjang.. selang berapa saat kemudian, ia kembali berkata :

"Tapi sayang walaupun aku diberkahi usia panjang, tapi sekarang telah tiba saat habisnya minyak lentera."

"Cianpwee, apa maksud perkataanmu itu," sahut Kho Beng dengan perasaan amat terkejut. Kongci Cu tertawa :

"Maksudku sudah amat jelas, aku hampir mati"

"Bukankah locianpwee telah makan obat panjang usia? Mengapa kau menyinggung soal mati?" Kho Beng sangat keheranan. Kongci Cu tertawa terbahak-bahak :

"Haaahh..haaahh..haaahhh..tiada obat yang benar-benar bisa membuat seseorang tak dapat mati didunia ini, cairan mestika Giok hu wan ci yang kebetulan kutemukan tak lebih hanya memperpanjang umurku selama enam puluh tahun, lagipula barusan aku telah dilukai Ui sik kong dengan serangan yang mematikan"

"Locianpwee benar-benar terluka?" Tanya Kho Beng tercengang.

Kongci Cu tertawa paksa.

"Jurus kedua yang kupergunakan tadi merupakan jurus berbahaya, kalau bukan begitu mana mungkin aku bisa mengunggulinya."

Kemudian setelah berhenti sejenak. dengan suara yang dalam dan berat dia meneruskan.

"Berbicara sesungguhnya, kepandaian silat yang dimiliki Ui sik kong telah mencapai tingkatan yang amat sempurna, rasanya tiada orang kedua dalam dunia persilatan saat ini yang sanggup menandingi kemampuannya itu"

Kontan saja Kho Beng merasakan hatinya jadi tenggelam, terasa beratnya bukan kepalang. sambil mengawasi pemuda tersebut, Kongci Cu berkata lagi sesudah termenung sebentar :

"Anak muda, sekarang marilah kita membicarakan persoalan antara kita berdua, kau apakah kau sudah mempunyai guru?" Buru- buru Kho Beng menyebut :

"Buwi lojin pernah mewariskan ilmu silat kepada boanpwee, namun tidak mempunyai hubungan sebagai guru dan murid."

Kongci Cu segera bersorak gembira :

"Bagus sekali, bersediakah kau mengangkat diriku sebagai gurumu?"

"Memang inilah yang sangat boanpwee harapkan."

Buru-buru pemuda itu bertekuk lutut dan telah menyembah diri, katanya pelan : "suhu, silahkan menerima hormatku ini."

Menyusul kemudian dengan sikap yang serius dan hormat dia melakukan sembilan kali sembahan.

sambil mengelus jenggotnya, Kengci Cu tertawa terbahak-bahak, katanya kemudian :

"Haaahhhaaahhh.hahhh setelah kau mengangkat diriku sebagai gurumu, berarti kau harus meneruskan cita-citaku."

"Tentu saja, silahkan suhu memberi petunjuk"

"Hutang budiku kapada Ui Thian it belum sempat dibayar, lagipula aku telah menyanggupi permintaannya untuk melindungi partai kupu-kupu dari kemusnahan, ini berarti kewajiban serta beban tersebut sudah jatuh ketanganmu"

Kho Beng jadi serba salah dibuatnya, agak sangsi dia berkata : "Tapi tecu mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan

mereka, apalagi kaum sesat dan kaum lurus tak mungkin bisa hidup berdampingan, bagaimana"

"Itu mah soal gampang," kata Kongci Cu sambil tersenyum, "seperti contohnya tindakanku terhadap Ui sik kong tadi."

sambil mengawasi wajah sianak muda itu lekat-lekat, dia melanjutkan : "Apakah kau memahami maksudku?"

"Apakah kita wajib menghilangkan sifat sesatnya serta merubah kejahatannya menjadi perbuatan mulia" Tanya Kho Beng dengan suara berat.

"Itu sih pandangan dan pengharapan yang paling tinggi, tapi aku rasa mustahil hal semacam ini dapat terlaksana, namun kalau bisa membuat generasi partai kupu-kupu tetap hidup didalam dunia persilatan dan menempati sebuah posisi tertentu yang tak berubah untuk selamanya, itu sudah lebih daripada cukup"

"Tecu mengerti sekarang" kata Kho Beng kemudian sambil manggut-manggut.

Kongci Cu semakin gembira.

"Bagus sekali kalau begitu, dengan demikian biarpun aku berangkat kealam baka nanti, rasanya dapat pula kuberikan pertanggung jawab ku kepada saudara Thian it."

setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan : "Tak jauh dari sini terdapat sebuah goa, mari kita berangkat ketempat itu"

Tak selang berapa saat kemudian, mereka berdua telah duduk didalam sebuah ruang gua yang sangat luas.

Dengan suara dalam dan berat Kongci Cu segera berkata : "Dari sini sampai bukit Cian san kira-kira jaraknya mencapai

seratus dua puluh li, bukit ini bernama Bi san dan mungkin merupakan tempat tinggalku untuk beristirahat untuk selamanya."

"suhu jangan mengucapkan kata-kata macam begitu. Kau orang tua toh." Kongci Cu tertawa, tukasnya :

"Kalau lahir ada tempatnya, kalau matipun harus ada tempat juga, segala sesuatunya telah ditakdirkan sebelum kita dilahirkan didunia, lebih baik tak usah kita singgung kembali masalah ini."

setelah terbatuk sebentar, katanya lebih jauh :

"Yang paling penting sekarang adalah mewariskan ilmu silat kepadamu, aku pernah menciptakan semacam kepandaian silat, meskipun belum dapat dibandingkan dengan ketangguhan ilmu silat dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, namun kepandaian ini memiliki kelebihan lain."

"Kalau ilmu silat yang dimiliki Ui sik kong sudah mencapai tingkat kesempurnaan sehingga suhu pun bukan bandingannya, buat apa tecu."

"Apakah kau takut bukan tandingan Ui sik kong sehingga tak berani memikul tanggung jawab ini?" sela Kongci Cu.

"Tecu bukan tidak berani tapi kuatir mengecewakan pesan dari suhu itu" kata Kho Beng agak tergagap.

Kongci cu segera tertawa terbahak-bahak : "Haaahh.haaahhh..haaahh.tidak usah kuatir, aku dapat

memastikan kalau ilmu silatmu dapat melampaui kemampuan Ui sik kong"

"Kenapa?" Tanya Kho Beng tak habis mengerti. "Bukankah kau sudah melatih ilmu silat yang tercantum didalam kitab pusaka Thian goan bu boh?"

Kho Beng segera mengangguk.

"Yaa benar, boanpwee pernah mempelajarinya tapi berhubung ilmu tersebut belum berhasil kukuasai dengan matang, maka susah bagiku untuk mewujudkan kedahsyatannya sebagaimana yang diharapkan dalam catatan ilmu silat tersebut."

"Biarpun aku kurang begitu memahami tentang ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, namun bila kepandaianku ini bisa dikombinasikan dengan kepandaian yang tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh itu, aku percaya tentu akan menghasilkan kemampuan yang sama sekali diluar dugaan, bila hal ini berhasil dengan sukses, berarti Ui sik kong tak nanti sanggup menandinginya lagi."

Kho Beng menjadi sangat gembira, serunya segera :

"Kalau memang demikian, tecu pun tak usah merasa ragu-ragu atau sangsi lagi"

"Lukamu belum sembuh betul, kira-kira masih membutuhkan waktu selama tiga hari sebelum dapat pulih kembali seperti sedia kala, ditambah lagi dengan tujuh hari mempelajari ilmu silat berarti semuanya membutuhkan waktu sepuluh hari, aku percaya sepuluh hari kemudian kau pasti telah berubah menjadi seorang yang lain."

"Terima kasih atas bimbingan suhu," cepat-cepat Kho Beng berseru. Kongci Cu menghela napas panjang :

"Aaaaai, biarpun jangka waktu sepuluh hari tidak terhitung panjang, namun cukup menimbulkan banyak perubahan dan Kejadian, mungkin juga."

Ia tidak melanjutkan perkataan itu, setelah menghela napas , desahan suara dalam dan berat dia tutup mulut rapat-rapat. Kho Beng menjadi sangat risau, katanya cepat :

"Kekalahan yang diderita Ui sik kong ditangan suhu mungkin akan memancing berkobarnya sifat buas orang tersebut, seandainya dia sampai melakukan tindakan untuk menyerbu berbagai partai didalam dunia persilatan, mungkin banjir darah akan melanda manusia dan mayat bergelimpangan memenuhi bumi, entah bagaimana nasib dari dunia persilatan selanjutnya?"

"Ya a, kemungkinan tersebut memang ada tapi semuanya terserah bagaimana kehendak tadir nanti, bila memang sudah ditakdirkan untuk mengalami Kejadian seperti ini, apalagi yang dapat kita katakana?"

Kho Beng menundukkan kepalanya dan tidak berbicara. Kongci Cu menghela napas panjang, kembali ujarnya :

"Anak muda, sekarang berbaringlah baik-baik untuk melepaskan lelah, aku tak punya obat mestika yang lain untukmu lagi."

"suhu, yang paling penting kau harus mengobati luka yang kau derita lebih dulu."

sambil tertawa getir, Kongci Cu menggeleng :

"Yang kuminta kepadamu untuk diperhatikan adalah keselamatan dari seluruh dunia persilatan serta bagaimana menghindarkan partai kupu-kupu dari kemusnahan, masalah yang lain tidak usah kau campuri"

Terpaksa Kho Beng mengiakan dan menurut saja, membaringkan diri untuk beristirahat.

Melihat Kho Beng telah memejamkan matanya, Kongci Cu segera menjatuhkan diri duduk bersila dan memejamkan mata pula untuk mengatur pernapasan.

Dalam waktu singkat, ruangan gua yang lebar pun pulih kembali dalam keheningan yang mencekam.

ooo)00000(ooo

Fajar baru saja menyingsing, matahari pagi yang cerah menyinari lembah hati Buddha.

saat itu yang mendapat tugas untuk menjaga mulut lembah adalah Molim, Mokim,Rumang serta Hapukim.

Memandang sinar surya yang baru terbit, tiba-tiba rumang menghela napas sambil menggerutu :

"Kita betul-betul ketimpa sial tujuh turunan"

"Ya a betul" Hapukim menyambung, "kita datang gara-gara kitab pusaka Thian goan bu boh, tak dinyana bukan saja pusaka tersebut tak berhasil didapatkan, sebaliknya nyawa sendiri pun nyaris dibuat tanggungan"

"Walaupun sekarang kita belum kehilangan nyawa," ucap Rumang lagi, "namun jalan darah kita telah ditotok oleh si pelajar rudin Ho Heng dengan ilmu memotong nadi menyumbat jalan darah, seandainya Kho Beng si bocah keparat itu tak pernah kembali lagi, bukankah riwayat kita pun akan berakhir disini, mati secara konyol?"

"Aaaaai.inilah yang dinamakan nasib, apa lagi yang bisa kita perbuat selain pasrah?" kata Molim sambil menghela napas. "sudah beberapa hari lamanya kita tak mendapat kabar, bila Kho Beng si bocah keparat itu betul-betul mampus, bukankah kita.."

"ssssst. .jangan berisik," mendadak Molim memperingatkan, "Ketiga orang she Kim itu datang"

Tampak tiga bersaudara Kim muncul dari balik lembah dan menuju kearah mereka dengan langkah lebar.

Bersambung ke jilid -36