Kedele Maut Jilid 34

 Jilid 34

Phu sian sangjin tidak menggubris, dia melangkah masuk lebih dulu kedalam ruangan, lalu setelah memandang sekejap kearah lima buah peti mati yang berjajar-jajar itu, sambil tertawa dingin dia mengayunkan telapak tangannya dan menghantam salah satu peti mati tersebut. Blaaaammm

Ditengah benturan yang sangat keras, peti mati itu seketika hancur berantakan dan berceceran keempat penjuru.

Dengan hancurnya peti mati tersebut, maka muncullah sebuah jalan rahasia dibawah tanah.

Tanpa ragu sedikitpun, Phu sian sangjin langsung berjalan menuruni jalan rahasia tersebut.

Begitu sampai didalam ruang bawah tanah, semua orang segera dibuat tertegun, ternyata meja altar ditengah ruangan sudah terbalik, pintu menuju kearah tiga buah ruang rahasia lain pun berada dalam keadaan terbuka lebar, selain meja kursi yang berada dalam keadaan hancur, disitupun membujur dua sosok mayat wanita.

Dari kedua sosok mayat tersebut, seorang berusia empat puluhan tahun, berbaju berkabung sedang yang lain adalah seorang dayang yang masih muda. Beng GI Ciu memperhatikan sekejap kedua sosok mayat wanita itu, tiba-tiba katanya : "Aaaaah, seorang masih hidup." Tanpa membuang waktu lagi dia menempel telapak tangannya  diatas jalan darah Ki hay hiat ditubuh perempuan setengah umur itu

dan menyalurkan hawa murninya kedalam tubuh orang itu.

Tak lama kemudian terdengar perempuan itu merintih, lalu sadar kembali dari pingsannya.

Dengan cepat Beng Gi ciu menambahi tenaga dalamnya dengan satu bagian, serunya : "Bagaimana rasamu sekarang?"

Perempuan setengah umur itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu gumamnya : "Tempat ini. .tempat ini bukan akhirat bukan?"

"Bukan" sahut Beng Gi ciu sambil tertawa paksa, "Kau masih hidup didunia ini, sedang ia siansu itu adalah ketua siau lim pay, aku sendiri dari marga Beng, kami datang untuk menolongmu."

Dalam pada itu Phu sian sangjin telah mengeluarkan sebutir pil berwarna putih dan diserahkan kepada Beng Gi ciu seraya berkata :

"Pil ini adalah pil penyambung nyawa sio mia pisia wan dari partai kami, tolong Beng li sicu berikan kepadanya"

Buru-buru Beng Gi ciu menerimanya serta dijejalkan kedalam mulut perempuan setengah umur itu.

Nyata sekali kasiat pil itu, tak lama kemudian kesegaran dan semangat perempuan itu pun jauh lebih baik.

setelah menghembus napas panjang, tiba-tiba perempuan itu menengok kearah mayat dayang tersebut sambil jeritnya kaget : "ciu leng ciu leng.."

"Tak usah dipanggil lagi, dia telah tewas" kata Beng Gi ciu sedih.

Perempuan itu segera menangis tersedu-sedu, keluhnya :

"Bocah yang mengenaskan. .kau. kau mati dalam keadaan yang sungguh mengenaskan."

Cepat-cepat Beng Gi ciu menghiburnya, kemudian dengan nada amat gelisah dia berkata :

"sebenarnya apa yang telah terjadi disini? Bukankah ada seorang Kho kongcu yang telah disekap orang jahat yang bernama setan tua dari Lam ciang dan dibawa kemari? Tahukah kau kemanakah mereka telah pergi?

Perempuan setengah umur itu menganggukkan kepalanya berulang kali, sahutnya : "Aku tahu. Kho kongcu telah diculik mereka, dengan ilmu beracun Ham im tok kang mereka bermaksud merubahnya menjadi seseorang yang lain, akulah yang menyuruh ciu leng secara diam- diam menghadiahkan sebutir pil anti racun hawa dingin kepadanya sehingga membuat Kho sauhiap mendapatkan kembali kesadarannya, tapi.."

Tiba-tiba napasnya tersengal sehingga tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.

Beng Gi ciu menunggu sampai napasnya menjadi reda kembali, kemudian baru bertanya dengan nada cemas : "Tapi kenapa?"

"Tapi perbuatanku segera diketahui iblis tua tersebut, akibatnya kami berdua.kami berdua sama-sama dicelakainya."

sesudah memandang sejenak sekeliling ruangan, kembali dia berkata lebih jauh :

"Kho kongcu telah dibawa keluar oleh setan tua dari Lam ciang serta Hian thian si tosu tua itu melalui lorong rahasia"

Dengan nada gelisah Beng Gi ciu segera berseru kepada Phu sian sangjin : "Lo siansu, apa. apa yang mesti kita perbuat sekarang?"

Phu sian sangjin segera berpaling kearah Hian hoat tojin yang berdiri ketakutan ditepi arena, kemudian bentaknya :

"Apakah lorong rahasia tersebut tembus langsung ke punggung bukit?"

"Benar, pinto tak berani berbohong"

Phu sian sangjin segera manggut-manggut, katanya lagi :

"Beng li sicu tak usah kuatir, aku jamin mereka tak akan berhasil meloloskan diri dari kepungan para pendeta siau lim pay dan kujamin Kho Beng pasti dapat lolos dari ancaman maut secara aman dan selamat." Kemudian sambil berpaling serunya : "sute"

"silahkan ciangbun suheng memberikan perintah" buru-buru Hwee cuncu memberi hormat.

"Kuminta bantuanmu untuk segera menolong Kho Beng, soal lain tunggu pemberitahuanku selanjutnya."

"Terima perintah"

setelah memberi hormat, Hwee cuncu segera meninggalkan tempat tersebut dengan langkah lebar.

"omitohud.." Phu sian sangjin berkata kemudian, "kalau begitu suara jerit kesakitan yang kami dengar tadi sudah pasti berasal dari li sicu berdua sekarang, dapatkah kau mengisahkan pengalamanmu kepada kami?" Dengan rasa amat berterima kasih perempuan itu menjawab : "Aku hanya memohon kepada lo siansu agar bersedia

membalaskan dendam bagi kematian kami berdua."

"Kau tak usah kuatir, kami pasti akan berusaha membalaskan dendam" kata Phu sian sangjin sedikit agak emosi,

"kalau tidak, apa artinya aku menjadi pimpinan dari tujuh partai besar?"

Perempuan setengah umur itu segera menghembuskan napas panjang.

"Aku bernama Yu si hoat , sedang suamiku bernama Tam Cun hoo."

"Tunggu sebentar" mendadak Phu sian sangjin menggoyangkan tangannya.

Yusi hoat tertegun dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pembicaraan.

Dengan kening berkerut kencang, Phu sian sangjin segera bergumam seorang diri :

"Tam Cun hoo..apakah kau maksudkan si Tabib sakti dari Tiong ciu, Tam sicu?"

"Yaa, dia adalah suamiku, apakah lo siansu." Phu sian sangjin menghela napas panjang.

"Aaaaai.dua puluh tahun berselang, aku pernah bertemu dengan Tam sicu bahkan sempat bermain catur sambil minum arak, sayang selama dua puluh tahun terakhir kami tak berjodoh untuk bertemu kembali, dia."

Dengan air mata bercucuran, Yu si hoat berkata : "Ia telah dicelakai Hian thian koancu hingga tewas"

setelah menahan isak tangisnya , kembali ia meneruskan kata- katanya :

"suamiku almarhum adalah seorang yang termashur karena kepintarannya dalam ilmu pertabiban, rupanya Hian thian siluman tosu itu berniat memakai tenaganya untuk melakukan kejahatan, suamiku bersumpah tidak mau menurut. Maka bajingan itupun menculik aku dan dayangku serta menyekapnya disini, dia menyandera kami serta memaksa suamiku agar menuruti kemauannya, tapi suamiku tetap menolak. Suatu hari suamiku melihat ada kesempatan baik untuk membunuh siluman tosu Hian thian, siapa tahu usahanya bukan cuma gagal total, nyawanya sendiripun turut melayang ditangan siluman tersebut" Berbicara sampai disini, kembali dia menangis tersedu-sedu. "Bagaimana selanjutnya?" Tanya Beng Gi ciu menunjukkan rasa

simpatinya, "apakah mereka tetap menyekapmu didalam kuil?" sambil menggigit bibir menahan rasa benci yang meluap Yu si

hoat berkata lagi :

"siluman Hian thian telah .tela h memperkosaku, ia menyekap kami berdua didalam ruang bawah tanah, sama sekali tiada kebebasan buat kami berdua." Dengan kening berkerut dan emosi yang meluap, Beng Gi ciu segera berteriak :

"Aku Beng Gi ciu bersumpah, kalau tak dapat menguliti tubuh Hian thian tosu siluman serta setan tua dari Lam ciang, aku tak akan hidup sebagai manusia layak"

Yu si hoat tertawa getir.

"Aku mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan lihiap untuk membasmi bajingan itu dari muka bumi, meski aku sudah berada diaLam baka aku bakal mati dengan mata meram."

Dengan kening berkerut, tiba-tiba Phu sian sangjin menyela : "Yu sicu, tahukah kau apa hubungan antara tosu siluman Hian

thian dengan partai kupu-kupu?"

"Aku. .aku tak pernah mendengar tentang partai kupu-kupu. aku..aku hanya tahu Hian thian si tosu siluman itu hendak.hendak bekerja sama dengan setan..setan tua dari Lam ciang untuk. .untuk menguasai jagat.."

Dengan semakin menyusutnya kasiat obat yang ditelah, lambat laun kesadaran perempuan itu makin memudar, kini ia sudah berada diambang pintu kematian, Dengan wajah gelisah Beng Gi ciu berkata kepada Phu sian sangjin : "Lo siansu, apakah kau masih mempunyai obat lain yang bisa menyelamatkan jiwanya?"

"omitohud, aku adalah murid Buddha yang mengutamakan cinta kasih terhadap sesama dan menolong setiap orang yang membutuhkan bantuan andaikata aku sanggup menolongnya, masa aku akan berpeluk tangan belaka."

Kemudian setelah menghembuskan nafas panjang, pelan-pelan dia berkata lagi :

"Denyut jantungnya sudah melemah, nadinya telah terputus, kalau tadi ia masih sadar karena rasa gusar dan penasaran masih menyelimuti dadanya, kini ada orang menyatakan kesediaannya untuk membalaskan dendam, berarti keinginannya telah tercapai, dengan sendirinya hawa murni yang terkumpul pun ikut membuyar, nyawanya sekarang sudah siap meninggalkan raga kasarnya."

sementara pembicaraan berlangsung, benar juga, kepala Yu si hoat Nampak terkulai kesamping dan memejamkan mata untuk selamanya, ternyata ia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Beng Gi ciu penuh dicekam emosi yang meluap, katanya tiba-tiba sambil menghela napas

"Aaaai, mengapa kita lupa bertanya siapa yang telah membunuh mereka berdua?"

"Ditanya atau tidak bukan masalah, yang pasti perbuatan ini kalau bukan hasil karya Hian thian si tosu siluman sudah pasti setan tua dari Lam ciang, pokoknya kedua orang itu harus dibasmi dari muka bumi, sebab mereka adalah manusia-manusia jahanam yang berhati keji."

setelah berhenti sejenak, kembali katanya :

"Tak ada gunanya kita berdiam terus disini, mari kita berangkat" Beng Gi ciu memandang sekejap sekitar tempat itu, lalu katanya : "Aku rasa masih banyak urusan yang harus kita kerjakan disini,

misalkan saja mengurusi lelayon mereka berdua, lalu mengurusi para tosu penghuni kuil ini."

Phu sian sangjin manggut-manggut :

"Persoalan semacam ini tak mungkin bisa diselesaikan dalam waktu singkat, sebentar aku akan mengirim anak buahku untuk mengurusi semua masalah disini."

Lalu kepada Hian hoat tojin yang berdiri ketakutan disisinya, ia membentak : "Lorong rahasia itu terletak dimana?"

"Itu dia, berada disisi kiri ruang rahasia tersebut," buru-buru Hian hoat tojin menunjuk kemuka.

Phu sian sangjin berpikir sebentar, lalu katanya :

"Untuk mempersingkat waktu, lebih baik kita menelusuri lorong rahasia tersebut."

Beng Gi ciu mengangguk tanpa menjawab, maka dibawah bentakan phu sian sangjin, berangkatlah Hian hoat tojin memasuki ruang rahasia sebelah kiri untuk bertindak sebagai penunjuk jalan.

sebelum melangkah masuk kedalam ruangan, phu sian sangjin memutar biji matanya dulu mengawasi sekeliling tempat itu, tampaknya dia sedang memeriksa apakah disekitar sana masih terdapat perlengkapan alat rahasia yang lain. Namun dari senyuman lega yang menghiasi wajahnya kemudian, dapat diketahui bahwa ia telah mmeriksa dengan amat jelas keadaan diseputar sana dan merasa yakin kalau tiada ancaman bahaya yang mungkin mereka hadapi.

Beng Gi ciu serta siau wan mengikuti dibelakang Phu sian sangjin, mereka berjalan cepat memasuki lorong.

Tampak Hian hoat tojin menekan sebuah tombol rahasia, lalu terbukalah sebuah pintu rahasia disisi ruangan tersebut.

Dinding bagian atas dan bawah lorong rahasia tersebut terbuat dari lapisan batu rata, selain lebar dan luas juga amat licin, bisa diduga entah berapa besar biaya, tenaga dan waktu yang telah dihabiskan untuk membangun lorong ini.

Lorong tersebut berliku-liku naik turun tidak menentu, setelah berjalan sejauh tiga li lebih, keadaan didepan situ baru Nampak terbentang lebar dan sampailah diujung lorong tersebut.

Dimulut keluar lorong rahasia itu terbentang sebuah hutan yang lebat, suasana amat redup, namun kelihatan sekelompok manusia mengelilingi sekitar tempat itu dengan rapat.

Sebagai pemimpin dari rombongan itu ternyata tak lain adalah Hwee cuncu sendiri, sementara yang lain terdiri dari dua puluhan pendeta siau lim pay yang rata-rata berusia enam puluhan tahun, bermata tajam dan mempunyai gerak gerik yang lincah dan cekatan, dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa mereka adalah sekawanan jago silat yang memiliki tenaga dalam amat sempurna.

sewaktu Phu sian sangjin munculkan diri dari balik lorong, dipimpin oleh Hwee cuncu serentak para pendeta itu memberi hormat seraya berbisik : "Menjumpai ciangbunjin"

"Apakah orangnya berhasil dihadang?" Tanya Phu sian sangjin agak gelisah. "orangnya sih berhasil dihadang, tapi.."

Beng Gi ciu segera merasakan jantungnya hampir copot, mendengar perkataan tersebut, buru-buru dia bertanya : "Tapi kenapa? Lo siansu, cepat katakan"

Hwee cuncu mengerling sekejap kearahnya, kemudian menjawab

:

"Kho sicu berada dalam keadaan sehat walafiat, Cuma hawa

murninya belum pulih kembali sehingga keadaannya masih sangat lemah, tapi bila dirawat lukanya selama berapa hari, aku percaya kondisi badannya akan pulih kembali dalam waktu singkat, hanya sayang si setan tua dari Lam ciang memiliki kepandaian silat yang  tangguh, terutama ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurna, ia ia berhasil kabur dari sini."

Biarpun dia bisa melarikan diri sampai keujung langit pun, cepat atau lambat akhirnya pasti akan tertangkap juga, kita tak usah terlalu panik dalam hal inibagaimana dengan Hian thian si tosu siluman itu?

"Ia telah tewas karena kesalahan tanganku" buru-buru Hwee cuncu menjelaskan.

"Waaah sebetuinya aku telah bersumpah akan menguliti tubuhnya, sekarang dia sudah mampus, keenakan baginya." omel Beng Gi ciu.

"Kalau toh orangnya sudah mampus, ya itu anggap selesai saja persoalan ini." Kata Phu sian sangjin, "mana Kho sicu?"

"Dia berada diatas batu cadas disebelah sana" sahut Hwee cuncu sambil menunjuk kedepan.

sebetulnya persoalan inilah yang ingin diketahui Beng Gi ciu secepatnya, maka tanpa banyak berbicara lagi bersama siau wan buru-buru ia berangkat kesana.

Benar juga, lebih kurang dua puluh kaki didepan sana terdapat sebuah batu cadas yang besar, diatas batu inilah Kho Beng yang kelihatan agak kurus berbaring tak bergerak, disisinya berdiri empat orang pendeta tua berbaju kuning yang siap berjaga-jaga, sementara tak jauh dari situ berbaring sesosok mayat tosu tua.

Beng Gi ciu tahu, mayat tersebut tentu mayat dari Hian thian siluman tosu tersebut, tapi ia tak punya waktu untuk memperhatikan hal-hal semacam ini. sambil mendekati Kho Beng yang berbaring diatas batu, segera serunya lirih : "Kho kongcu, Kho kongcu"

Dengan sorot mata yang sayu namun penuh luapan rasa terima kasih, Kho Beng mengawasi gadis tersebut, bibirnya tampak bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang diucapkan keluar, jelas sudah kondisi badannya telah berubah menjadi sedemikian lemahnya sehingga untuk bicarapun tak mampu lagi.

Dengan penuh rasa iba Beng Gi ciu segera berbisik :

"Kau jangan berbicara dulu, beristirahatlah dengan tenang, kalau hendak berbincang-bincang tunggu sampai badanmu puluh seperti sedia kala."

Berbicara sampai disitu, ia segera melepaskan sekulum senyuman penuh rasa cinta kepadanya. Mendadak terdengar suara pujian kepada sang Buddha bergema memecahkan keheningan, ternyata Phu sian sangjin serta Hwee cuncu telah berada dihadapannya.

Tidak menunggu Beng Gi ciu buka suara, Phu sian sangjin berkata lebih dulu dengan suara dalam :

"Aku telah mengirim orang untuk menyelesaikan persoalan dikuil Hian thian koan, tapi menurut laporan yang kuperoleh, sekawanan jago lihay dari partai kupu-kupu telah berdatangan dibukit Cian san, padahal tempat ini dekat sekali letaknya dengan bukit Cian san, kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya."

"Tapi keadaan Kho kongcu," Beng Gi ciu mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Aku sendiripun sedang bimbang karena masalah ini." setelah berpikir sebentar, kembali ujarnya :

"Disebelah selatan bukit Wang hu san, jaraknya lebih kurang sepuluh li dari sini terdapat sebuah dusun yang bernama Leng san cun, dalam dusun tersebut hanya terdapat belasan kepala keluarga, kebanyakan hidup sebagai pemburu atau penebang kayu, ketika datang kemarin kami sempat melalui tempat tmpat tersebut, kulihat tempat itu terpencil dan amat sepi, cocok sekali sebagi tempat pengobatan bagi penyakit Kho sicu, aku rasa bila diberi pengobatan secara insentif, tak sampai tiga hari kemudian kondisi tubuhnya telah pulih kebali seperti sedia kala."

siau wan yang mendengar perkataan ini segera berkata kepada Beng Gi ciu : "Kalau begitu mari kita buatkan sebuah usungan buat Kho kongcu"

"Kini hari sudah hampir gelap, lebih baik kita segera berangkat," sela Phu sian sangjin cepat-cepat, "apalagi bila mesti diusung tandu, jelas hal ini akan menghambat, andaikata sampai diketahui orang- orang partai kupu-kupu, bukan mustahil kita akan menjadi kerepotan sendiri"

"Kalau memang begitu, biar aku saja yang membopongnya" seru siau wan sambil menawarkan diri

Dengan cepat Phu sian sangjin menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Aku rasa hal semacam ini kurang baik, sebab seorang nona yang membopong seorang pria yang terluka berjalan ditengah gunung paling gampang menarik perhatian orang." "Huuh, begini tak baik, begitupun tak baik, lantas bagaimana yang baik?" Tanya siau wan sambil cemberut.

Dengan wajah amat serius Phu sian sangjin segera berkata : "Aku mempunyai sebuah usul yang amat baik, bagaimana

kalauBeng lisicu berdua berangkat dulu ke dusun Leng san cun untuk menyewa sebuah rumah penduduk lebih dulu sementara aku bersama suteku dengan membawa Kho sicu menyusul dari belakang dengan memecahkan diri menjadi dua rombongan kita bisa menghindari kecurigaan orang partai kupu-kupu, selain itu gerakan kita pun akan bertambah cepat lagi."

Dengan penuh rasa terima kasih Beng Gi ciu berkata :

"Lo siansu, bersediakah kau mengorbankan begitu banyak waktu demi Kho kongcu?"

Phu sian sangjin segera berkata dengan suara dalam :

"Aku hendak mengajaknya berunding bagaimana cara menumpas kaum iblis dari muka bumi setelah menunggu luka Kho kongcu sembuh kembali, tentu saja aku tak akan ambil peduli soal waktu"

"Kalau memang begitu, biar siauli berangkat selangkah lebih duluan." seru Beng Gi ciu dengan amat gembira.

setelah memberi hormat, bersama siau wan berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.

Phu sian sangjin mengawasi hingga bayangan tubuh Beng Gi ciu berdua lenyap dikejauhan sana, kemudian baru katanya kepada Hwee cuncu : "Cepat bopong Kho sicu, kita pun harus segera berangkat"

Buru-buru Hwee cuncu mengiakan dan membopong tubuh Kho Beng, lalu bersama-sama keduanya berangkat menuju kearah selatan.

Waktu itu fajar telah menyingsing, untung saja kabut tebal masih menyelimuti tanah perbukitan itu sehingga pemandangan pada jarak dua kaki masih Nampak agak samar-samar.

Phu sian sangjin menempuh perjalanan tidak terlalu cepat, sebab dia ingin mempertahankan jarak yang tertentu dengan Beng Gi ciu berdua. sambil menempuh perjalanan Hwee cuncu berkata :

"seabad berselang, tiga dewa see gwa sam sian bersama-sama mengerubuti ketua partai kupu-kupu sehingga menyebabkan iblis tua tersebut tewas dibawah tebing hati duka, andaikata mereka bertarung satu lawan satu entah bagaimanakah akibatnya?" "Ilmu silat dari partai kupu-kupu mempunyai banyak bagian yang memiliki kehebatan yang luar biasa, jangankan keadaan pada seabad berselang susah ditebak. berbicara menurut keadaan yang terbentang didepan mata saat inipun, bila terjadi pertarungan antara kaum sesat dan lurus, entah siapa yang akhirnya bakal keluar sebagai pemenang?"

sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara yang dingin menyeramkan :

"Hey kalian dua orang hwesiotua, sekarang boleh menghentikan dulu perjalanan kalian."

Phu sian sangjin serta Hwee cuncu yang mendengar teguran ini menjadi terperanjat sekali.

Rupanya walaupun mereka berdua berbincang-bincang sambil menempuh perjalanan, sesungguhnya tak pernah kedua orang itu mengendorkan kewaspadaannya untuk mengawasi sekeliling tempat tersebut.

Padahal kalau berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki mereka berdua, asal ada orang memasuki kawasan seluas dua puluh kaki dari tempat mereka berada, jejaknya segera akan ditemukan.

Tapi kenyataannya sekarang, kemunculan orang tersebut sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun, seandainya orang itu tidak buka suara menegur, mungkin Phu sian sangjin sendiripun tak akan menyadari atas kehadirannya.

serentak kedua orang pendeta sakti dari siau lim pay ini menghentikan langkahnya seraya berpaling, tapi apa yang kemudian terlihat membuat mereka berdua makin terperanjat lagi.

Ternyata orang itu berdiri persis ditengah jalan setapak hanya dua kaki dihadapan mereka, orang tersebut seolah-olah muncul dengan begitu saja dari dalam tanah.

Perawakan tubuhnya ceking lagi kecil, berusia delapan puluh tahunan, memakai baju bewarna kuning dan memelihara jenggot kambing bewarna putih, andaikata sepasang matanya tidak memancarkan cahaya hijau yang menggidikkan hati, mungkin orang akan mengiranya sebagai dewa yang baru turun dari kahyangan.

"omitohud, apakah anda sedang menegur kami?" Phu sian sangjin segera bertanya. Kakek berbaju kuning itu tertawa.

"Aneh betul, bukankah sudah kukatakan sejelas-jelasnya? Tentu saja kalian berdua yang sedang kuajak bicara." "Ada urusan apa sicu memanggil kami?"

"Kuharap kalian berdua suka beristirahat sejenak untuk berbincang-bincang."

Lalu dengan sorot mata yang hijau dia menatap wajah Hwee cuncu sekejap dengan pandangan tajam, kemudian katanya lagi :

"Dengan menempuh perjalanan cepat, apalagi mesti membopong seseorang yang menderita sakit berat, tidakkah merasa lelah? "

"Aku tidak lelah" jawab Hwee cuncu mendongkol.

Buru-buru Phu sian sangjin maju menghadang dihadapan Hwee cuncu, kemudian tegurnya sambil tersenyum.

"sicu berasal dari mana dan siapa namamu?"

"Aku hanya seorang gunung dan tak usah menyebut nama," sahut Kakek berbaju kuning itu sambil mengelus jenggot kambingnya. setelah memutar biji matanya sebentar dia melanjutkan

:

"Kalau dugaanku tidak keliru, Lo siansu pastilah ketua siau lim pay saat ini Phu sian sangjin, sedang sicu adalah pendeta dari lima rasul panca unsur bukan?"

Phu sian sangjin semakin terperanjat, dia tak menyangka Kakek berbaju kuning yang enggan menyebut namanya itu ternyata dapat mengenali dirinya sebagai ketua dari siau lim pay.

Buru-buru dia berseru :

"Yaa benar, aku memang Phu sian, dari mana sicu bisa kenali diriku?" Kakek berbaju kuning itu tertawa misterius :

"Ditinjau dari tindak tanduk serta mimik wajahmu, dalam sekilas pandangan saja aku sudah tahu, ternyata dugaanku memang tidak meleset"

sekali lagi Phu sian sangjin dibuat tertegun.

sudah jelas perkataannya tak dapat dipercaya, dengan begitu banyak pendeta suci yang hidup didunia ini, darimana Kakek berbaju kuning itu bisa mengenali satu diantara sejuta orang dengan begitu tepat dan jelas? Maka setengah bergurau dia berkata lagi :

"Kecuali sicu adalah dewa yang baru turun dari kahyangan, kalau tidak mana mungkin bisa mengenali diriku dalam sekilas pandangan saja?"

"Kalau memang begitu anggap saja diriku sebagai dewa dari kahyangan" ucap Kakek berbaju kuning itu semakin misterius.

Phu sian sangjin merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia berseru : "Maaf kalau aku tak bisa berdiam terlalu lama disini, biar kita berpisah sampai disini saja"

Namun Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak berniat untuk memberi jalan malah sambil tertawa dingin jengeknya :

"Bukankah orang Buddha mengutamakan soal jodoh? Hari ini aku dapat berjumpa dengan taysu berdua, hal ini menunjukkan kalau diantara kita memang punya jodoh."

"Bila dikemudian hari ada kesempatan silahkan sicu berpesiar kebukit siong san, aku akan menjadi tuan rumah yang baik dan mempersilahkan sicu untuk menginap beberapa hari dalam kuil kami"

Dengan cepat Kakek berbaju kuning itu menggeleng.

"sayang sekali aku tak akan mempunyai waktu luang seperti yang kau maksud, lebih baik sekarang saja kita berbincang-bincang sebentar"

"Tapi menolong orang bagaikan kebakaran, maaf kalau aku tak dapat melayanimu lebih lama," seru Phu sian sangjin mulai gelisah.

Pelan-pelan Kakek berbaju kuning itu mengalihkan sorot matanya ke wajah Kho Beng yang berada diatas punggung Hwee cuncu, sesudah tertawa seram, katanya : "Mungkin lo siansu hendak menolong orang tersebut?"

"Benar" ketua siau lim pay ini membenarkan.

"Mengapa dia sakit? sakit atau terluka? Atau mungkin mengalami peristiwa lain?"

"Dia..dia menderita sakit parah" Phu sian sangjin berusaha menahan sabarnya.

"sakit parah lantas losiansu hendak membawanya kemana?

Apakah hendak membawanya pulang kebukit siong san?" Dengan cepat Phu sian sangjin menggeleng.

"Menuju siau lim si harus membutuhkan waktu yang lama karena perjalanan yang kelewat jauh, tak mungkin kami punya waktu, karenanya aku bermaksud mencari sebuah dusun kecil disekitar bukit ini guna merawatnya."

Kakek berbaju kuning itu memutar kembali biji matanya, mendadak ia bertanya : "siapakah si penderita sakit itu?"

"soal ini."

sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya Phu sian sangjin melanjutkaan : "Aku sendiripun kurang begitu jelas, kami hanya menjumpainya secara kebetulan ditengah gunung, oleh karena keadaannya sudah amat parah, timbul rasa kasihan kami untuk menolongnya."

"Hmm, sebagai murid Buddha paling pantang berbohong" tegur Kakek berbaju kuning itu dingin.

"Apalagi dengan kedudukan lo siansu sekarang, rasanya tak mungkin akan berbohong pula, perkataanmu mungkin bisa dipercayai."

Merah padam selembar wajah Phu sian sangjin setelah mendengar sindiran itu, diam-diam bisiknya :

"Aku terpaksa harus berbohong, semoga Buddha maha pengasih mengampuni dosa-dosaku."

sementara itu, Kakek berbaju kuning tadi telah mendesak kembali

:

"Aku masih ingin menanyakan satu hal lagi.ketua siau lim pay

adalah seorang yang sangat terhormat, biasanya tidak gampang meninggalkan kuilnya dengan begitu saja, tapi kali ini kalian tak segan-segan menempuh perjalanan jauh datang kemari, apakah inipun dikarenakan untuk menolong si penderita sakit ini"

Phu sian sangjin segera tertawa paksa.

"Maksud perjalananku kali ini adalah untuk. untuk memeriksa sebuah cabang-cabang kami dipelbagai daerah, mengenai menolong orang .sesungguhnya hal ini hanya merupakan suatu kejadian yang kebetulan saja."

Mendadak Kakek berbaju kuning itu tertawa terbahak-bahak : "Haaahhhaaahhhhaaahhhh.lo siansu memang tak malu disebut seorang pendeta agung dari agama Buddha, aku betul-betul merasa

sangat kagum"

setelah berhenti sejenak. dengan nada suara yang berat dan dalam kembali dia berkata

"Aku mempunyai sebuah usul, apakah pantas bila kukatakan secara terus terang?"

"silahkan sicu mengutarakannya secara blak-blakan" "Jikalau pasien tersebut hanya ditemukan lo siansu secara

kebetulan ditepi jalan, berarti dia sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diri siansu, bukan?"

Terpaksa Phu sian sangjin manggut-manggut. "Yaa, perkataan sicu memang benar." "Kebetulan sekali, akupun mengerti akan ilmu pertabiban, lagipula tempat tinggalku pun tak jauh dari sini, bila lo siansu sedang sibuk untuk mengontrol cabang-cabang, bagaimana kalau kau serahkan saja pasien ini kepadaku, kujamin dalam waktu yang amat singkat aku bisa memulihkan kembali kondisi badannya seperti keadaan semula."

Diam-diam Phu sian sangjin merasa amat terkejut sehabis mendengar perkataan ini, namun dia berusaha menunjukkan ketenangan hatinya, ujarnya kemudian : "Mengapa sicu?"

"Lo siansu tidak usah curiga," kata Kakek berbaju kuning itu sambil tertawa. setelah memandang sekejap sekitar sana, terusnya :

"setelah mencapai usia setua ini, aku ingin sekali melakukan kebajikan untuk menebus dosa-dosaku yang lama, coba kalau aku tidak memikirkan nasib seorang cucu perempuanku, mungkin akupun telah mencukur rambut menjadi pendeta."

"omitohud, siapa berniat baik dia pasti akan menerima buah kebaikan, asal sicu mempunyai minat yang baik dan tulus, hal itu sudah lebih dari cukup"

Kakek berbaju kuning itu segera tertawa terbahak-bahak : "Haaahh.haaahhh.haaahh.harap losiansu menyerahkan si penderita kepadaku"

"soal ini...soal ini..." Phu sian sangjin menjadi terkejut sekali.

Untuk sesaat dia menjadi gelagapan sebab tak berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menolak permintaan orang, karena merasa serba salah akhirnya paras mukanya pun ikut berubah menjadi merah padam.

"Apakah lo siansu keberatan?" Kakek berbaju kuning itu menegur lagi dengan suara dingin.

setelah berpikir sebentar, sambil tertawa paksa Phu sian sangjin segera berkata :

"Bukan keberatan, aku telah menguruti seluruh jalan darah dengan ilmu mengurut rahasia dari partai kami, cara pengurutan seperti ini paling tidak harus berlangsung selama lima hari tanpa berhenti, kalau hal ini tak dilakukan maka akibatnya dia bakal celaka."

"Heeehhheeehh.heeehh.tak nyana lo siansu berhasil mendapatkan alasan yang begitu bagus," jengek Kakek berbaju kuning itu sambil tertawa dingin, "tapi itupUn tak menjadi soal, karena aku mempunyai bahan obat-obatan yang paling bagus untuk dirinya, kujamin kesehatan tubuhnya akan pulih kembali seperti sedia kala."

Dalam urutan lima rasul panca unsur, rasul api termasuk pendeta yang paling berangasan, sejak tadi ia sudah habis kesabarannya meladeni Kakek berbaju kuning itu. Hanya selama ini ia mencoba bersabar karena didepan ketuanya.

Tapi sekarang, habis sudah kesabarannya, tak kuasa lagi dia berteriak dengan keras-keras :

"sicu, mengapa sih kau begitu cerewet dan ngomong tiada habisnya?"

Kakek berbaju kuning itu terbahak-bahak : "Haaahhhaaahhaaahhsaat ini aku sedang berbicara dengan ketua

partai anda, hmm orang bilang peraturan dalam siau lim pay amat keras, tampaknya apa yang diceritakan selama ini tiada kenyataannya sama sekali."

Hwee cuncu menjadi amat gusar, baru saja dia hendak mengumbar hawa amarahnya, Phu sian sangjin segera menghalangi niatnya seraya berkata :

"Yaa, peraturan perguruan kami memang sudah kendor, harap sicu jangan mentertawakannya ."

"Lo siansu, sesungguhnya kau bersedia menyerahkan si penderita itu kepadaku atau tidak?" kembali Kakek berbaju kuning itu menegur dengan suara dingin menyeramkan.

"Maaf, kalau terpaksa aku berbicara blak-blakan, permintaan sicu tak mungkin akan kukabulkan, sebab aku pernah bersumpah bila sudah mengerjakan sesuatu maka aku tak akan mengakhirinya sebelum berhasil."

Kakek berbaju kuning itu segera tertawa dingin : "Heeehh.hehhheehhh..kalau toh lo siansu merasa keberatan, aku

masih mempunyai sebuah usul lain." "silahkan diutarakan."

"Siau lim pay sebagai pimpinan dari tujuh partai besar tentu memiliki ilmu silat yang paling top didunia persilatan saat ini, sedang lo siansu sebagai ketua siau lim pay tentu mempunyai ilmu silat nomor wahid pula didunia ini."

"omitohud, puji-pujian sicu tak berani kuterima." Kembali Kakek berbaju kuning itu tertawa dingin :

"Lo siansu tak usah merendah karena aku tak lain adalah hendak menantang lo siansu untuk menentukan menang kalah lewat pertarungan ilmu silat, siapa yang unggul dialah yang berhak dengan sipenderlta ini, entah bagaimana pendapatmu?"

Perkataan ini sudah jelas merupakan sebuah tantangan bagi Phu sian sangjin, karena bagi umat persilatan yang menampik tantangan orang lain sama artinya dengan mengaku kalah sebelum bertanding.

Biarpun Phu sian sangjin termasuk seorang pendeta agung yang tak memiliki napsu lagi, namun sebagai ketua siau lim pay, sebagai pemimpin dari seluruh umat persilatan didunia ini, bila ia menampik tantangan Kakek berbaju kuning itu sama artinya bahwa pamor serta nama baiknya akan hancur berantakan.

Karena berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia berkata sambil tertawa paksa :

"Bila sicu bersikeras hendak menentukan persoalan ini melalui pertarungan, terpaksa aku hanya melayani kehendakmu itu."

"Bagus sekali." seru si kakek kegirangan, kemudian dengan nada berat lanjutnya :

"Aku bersedia untuk bertarung melawan lo siansu dalam tiga gebrakan, dengan batas tiga jurus inilah kita tentukan siapa yang unggul dan siapa yang kalah."

"Yakinkah sicu dapat meraih kemenangan dalam tiga jurus saja?" kata Ketua siau lim pay ini dengan kening berkerut. Kakek berbaju kuning itu tertawa hambar :

"Berdasarkan pengalaman selama bertarung melawan orang, rasanya tiga jurus pun sudah lebih dari cukup"

Hwee cuncu tak dapat menahan diri terus menerus, tiba-tiba ia menimbrung :

"Ciangbun suheng adalah seorang yang berkedudukan terhormat, untuk menghadapi seorang manusia gunung yang tak beradab kenapa mesti turun tangan sendiri? Biar aku yang mewakilimu"

"sute cepat mundur." Bentak Phu sian sangjin. sementara dengan ilmu menyampaikan suara dia berbisik lagi :

"Aku lihat orang ini rada kurang beres, tampaknya aku mesti turun tangan untuk menghadapinya sendiri"

Hwee cuncu tidak berani banyak berbicara lagi, terpaksa dia menurut dan mengundurkan diri.

sementara itu si Kakek berbaju kuning itu telah berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak :

"Haaahh.haahhhhaaahh kelihatannya lo siansu telah menerima tantanganku?" "setelah sicu mengusulkan begitu, selain kusambut tantanganmu rasanya memang tiada jalan kedua yang dapat kupilih lagi."

"Bagus sekali, bagaimana dengan taruhan kita ? siapa yang unggul dialah yang berhak atas diri sipenderita "

"Aku tak punya usul yang lain" jawab phu sian sangjin sambil diam-diam menggigit bibir.

sambil tertawa Kakek berbaju kuning itu manggut-manggut, pelan-pelan ia mencabut keluar sebuah ruyung lemas bewarna emas dari pinggangnya, lalu berkata : "silahkan lo siansu meloloskan senjata"

sebetulnya Phu sian sangjin telah bersiap-siap menghadapi musuhnya dengan tangan kosong, namun setelah menyaksikan Kakek berbaju kuning itu meloloskan sebuah ruyung lemas, tergerak hatinya, maka diapun merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan senjata sekop kecil yang jarang sekali dipergunakan.

"silahkan lo siansu melancarkan serangan" ujar Kakek berbaju kuning itu kemudian dengan gembira.

Phu sian sangjin sebagai ketua siau limpay tentu saja tak dapat melancarkan serangan lebih dulu, sahutnya cepat : "omitohud, lebih baik sicu menyerang lebih dulu."

"Hmmm hampir saja aku lupa dengan kedudukan lo siansu" jengek Kakek berbaju kuning sambil tertawa seram,

"tampaknya jika aku tidak menyerang dulu, losiansu pun tak bakal turun tangan, bukan?"

Phu sian sangjin segera mengangguk. "Ya a, tebakan sicu memang tepat sekali"

"Haaaahhhaahhhaaahhhh.kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku menyerang duluan"

Ruyung lemas berwarna emasnya segera digoyangkan dan dilancarkan sebuah sapuan kedepan.

Phu sian sangjin tak berani berayal, secepat kilat ia sambut datangnya ancaman itu dengan senjata sekopnya, ia telah bersiap melangsungkan pertarungan adu kekerasan melawan Kakek berbaju kuning itu.

Tapi secara tiba-tiba Kakek berbaju kuning itu merubah gerakan serangannya, sapuan yang melayang kedepan tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah tusukan langsung. Ternyata ruyung lemas itu telah berubah menjadi sebilah pedang, bukan cuma keras dan menegang, lagipula jurus serangan yang dipergunakanjuga merupakan urus pedang yang maha sakti.

Dari sapuan tahu-tahu berubah menjadi tusukan, sesungguhnya hal semacam ini mustahil bisa terjadi, tapi Kakek berbaju kuning itu bukan cuma bisa merubahnya menjadi mungkin, bahkan sama sekali tak disangka-angka sebelumnya.

Dalam terperanjatnya, cepat-cepat Phu sian sangjin mundur setengah langkah kebelakang, senjatanya segera diputar setengah lingkaran dan untuk kedua kalinya menangkis datangnya ruyung lawan.

Mendadak terdengar Kakek berbaju kuning itu tertawa terbahak- bahak. ruyungnya yang dipakai untuk menusuk bagaikan sebilah pedang, kini berubah kembali sebagai alat penotok jalan darah, sedang yang diarah adalah jalan darah kitong hiat ditubuh Phu sian sangjin.

Dengan sebilah ruyung lemas ternyata dalam waktu singkat bisa dirubah menjadi tiga macam senjata dengan tiga jurus serangan yang berbeda pula, hakekatnya peristiwa semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Tak terlukiskan rasa terkejut Phu sian sangjin menghadapi kejadian seperti ini, oleh karena jurus serangan Kakek berbaju kuning itu secara beruntun berubah tiga kali. Phu sian sangjin terdesak hingga dari posisi menyerang menjadi pihak bertahan, selain itu diapun mesti mundur tiga langkah secara beruntun untuk meloloskan diri dari serangan lawan.

"Jurus pertama" seru Kakek berbaju kuning itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Bukan saja paras muka Phu sian sangjin berubah menjadi semu merah, peluh dingin sempat membasahi tubuhnya karena kaget, sampai Hwee cuncu yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi arena, segera menjadi tertegun dibuatnya.

"Bersiaplah lo siansu untuk menyambut serangan kedua" seru Kakek berbaju kuning itu mendadak sambil tertawa.

Ruyung lemasnya digetarkan hingga menciptakan serentetan suara pekikan yang sangat aneh, mendadak bagaikan segumpal roda cahaya bewarna kuning ia sambar batok kepala Phu sian sangjin.

Phu sian sangjin sama sekali tak sempat melihat dengan jelas jurus serangan apakah yang dipergunakan lawannya, otomatis dia pun tidak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi serangan tersebut.

Dalam gugupnya terpaksa ia menciptakan selapis cahaya tajam dengan senjata sekopnya, kemudian dengan menyusunjaringan cahaya yang lembek tapi kuat dia mencoba untuk membendung datangnya ancaman dari musuh. Traaaaanggg..traaaaangg suara dentingan nyaring berkumandang tiada hentinya, dalam waktu singkat senjata tajam kedua orang itu sudah saling beradu sebanyak tujuh kali lebih.

Phu sian sangjin segera merasakan lengannya menjadi linu dan kesemutan, gejolak darah didalam dadanya membuat hatinya berdebar keras, ia betul-betul merasa terkejut oleh ketangguhan musuhnya.

Walaupun demikian, dengan susah payah jurus serangan inipun berhasil dibendung secara baik.

Kakek berbaju kuning itu segera menarik kembali senjata ruyungnya, sambil tertawa dia berkata :

"Lo siansu memang tak malu menjadi ketua siau lim pay, kesempurnaan ilmu silatmu betul-betul luar biasa."

Merah padam selembar wajah Phu sian sangjin lantaran jengah, walaupun dalam dua gebrakan ini menang kalah masih belum ditentukan namun menurut kejadian yang sesungguhnya sudah jelas dia berada dalam posisi dibawah angin. Dalam keadaan begini, terpaksa dia berkata sambil tertawa paksa : "silahkan sicu melanjutkan seranganmu yang terakhir"

Kakek berbaju kuning itu tertawa.

Dua jurus telah berlalu, berarti menang kalah akan segera ditentukan oleh jurus terakhir ini

"Tampaknya sicu sudah mempersiapkan jurus serangan yang amat tangguh?"

"Jurus serangannya belum tentu tangguh, namun menang kalah sudah pasti akan diketahuinya."

Dengan suara dalam ia melanjutkan :

"Bila dalam jurus serangan yang terakhir ini aku gagal mengungguli lo siansu, aku akan mengaku kalah"

Perkataan itu diucapkan kelewat sombong dan tekebur, bila diucapkan terhadap kawanan jago persilatan yang lain mungkin tidak mendatangkan sesuatu yang luar biasa, namun lawan bicaranya sekarang adalah ketua siau lim pay, tentu saja ucapan mana sangat menggetarkan sukma.

Phu sian sangjin segera tertawa hambar, katanya : "Bila dalam jurus yang ketiga sicu tak berhasil meraih

kemenangan, kau toh bisa melanjutkan pertarungan dan tidak usah mengaku kalah?"

Tapi kakek itu menggeleng.

"Tidak Setiap perkataanku berat bagaikan bukit karang, sekali telah kuutarakan selamanya tak pernah akan kusesali kembali, setelah kubilang tiga jurus, tentu saja menang kalah harus ditentukan dalam tiga jurus juga"

Ruyung lemasnya segera digetarkan dan langsung menusuk ke dada lawannya.

Jurus serangan yang dipakai kali ini adalah jurus pedang, ruyung itupun menegang bagaikan sebilah gedang dan langsung menusuk jalan darah Tam tiong hiat ditubuh lawan.

Dengan cepat Phu sian sangjin menggetarkan senjata sekopnya sambil menciptakan segulung cahaya hitam, serangannya kali ini ditunjukkan untuk membabat pergelangan tangan si kakek yang memegang senjata.

Jurus serangan yang dipakai kali ini merupakan taktik serangan mematahkan serangan, dalam perkiraan phu sian sangjin betapapun istimewa dan sombongnya Kakek berbaju kuning itu, serangan yang dilancarkan dengan dahsyat itu tentu bisa memaksa Kakek berbaju kuning itu menarik kembali serangannya guna melindungi keselamatan sendiri dengan demikian serangan yang ketiga inipun dapat dipatahkan secara mudah.

Asal jurus ini bisa dipatahkan, biarpun Kakek berbaju kuning itu mengingkari janji dan enggan mengaku kalah, paling tidak ia pun tak usah menanggung malu atas kekalahan yang tragis.

Hal ini adalah menurut perhitungannya didalam hati, tapi sayang jurus serangan yang dipergunakan Kakek berbaju kuning itu kelewat dahsyat dan luar biasa, ternyata ditengah jalan terjadi lagi perubahan yang sama sekali diluar dugaan.

Ruyung lemas dari Kakek berbaju kuning itu mendadak berubah bagaikan ular sakti saja, dalam waktu singkat senjata sekop dari Phu sian sangjin telah terbelenggu kencang-kencang .

Bersamaan waktunya muncul pula segulung tenaga maha dahsyat yang susah dilawan menghantam perg elangan tangannya, tak ampun lagi senjata sekop ditangan phu sian sangjin terpental dari cekalan dan terjatuh lebih kurang sepuluh kaki dari tempat semula.

Dengan cepat Kakek berbaju kuning itu menarik kembali ruyung lemasnya, kemudian mendongakkan kepala dan menperdengarkan gelak tertawanya yang amat keras.

sebaliknya paras muka Phu sian sangjin berubah menjadi pucat bagaikan mayat. seperti sebuah patung saja untuk berapa saat lamanya ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Kejadian semacam ini betul-betul tak pernah disangka sebelumnya, dengan kedudukan ketua siau lim pay sebagai pimpinan umat persilatan, ternyata dalam tiga gebrakan saja senjatanya kena dipentalkan orang hingga terlepas dari genggaman, apabila kabar ini sampai tersiar diluaran, sudah pasti seluruh dunia persilatan akan menjadi heboh.

Akibatnya bukan saja pamor serta nama baik siau lim pay akan hancur berantakan, seluruh dunia persilatan pun akan terjadi kehebohan yang menggoncangkan masyarakat.

sementara itu Kakek berbaju kuning telah menghentikan gelak tertawanya, kemudian menegur :

"apakah lo siansu mengaku kalah?"

Phu sian sangjin menghela napas panjang.

"Aaaai, dalam kenyataan aku memang kalah, tentu saja aku tak akan banyak berbicara lagi."

sambil memutar sepasang biji matanya, Kakek berbaju kuning itu berkata lagi :

"Lo siansu sebagai ketua siau lim pay yang memimpin seluruh dunia persilatan, aku rasa kau tentu mengutamakan soal nama baik, setelah menderita kekalahan hari ini, tentunya kau tak akan tahan, bukan?" setelah tertawa seram, lanjutnya :

"sebaliknya kalau peristiwa ini sampai tersiar luas diluaran, nama besarku tentu akan menggetarkan kolong langit dalam waktu singkat"

"omitohud, sudah pasti hal ini akan terjadi, untuk itu kuucapkan selamat dulu kepada sicu"

Kakek berbaju kuning itu tertawa :

"sayang sekali aku bukan seorang manusia yang gemar akan nama besar, terhadap semacam ini aku tidak tertarik sama sekali." Kemudian setelah menatap sekejap wajah Phu sian sangjin secara misterius, dia berkata lebih jauh :

"aku bersedia menyimpan rahasia ini dengan sebaik-baiknya dan tak akan membocorkan nya kepada siapa pun, dengan begitu nama baik lo siansu serta partai siau lim pay pasti tak akan ternoda oleh peristiwa ini."

Mula mula Phu sian sangjin agak tertegun, kemudian sahutnya : "Tidak usah, aku tak pernah mempersoalkan masalah semacam

itu, setelah menderita kekalahan ditangan sicu, biarpun sicu merahasiakannya, aku toh tetap akan menyiarkan kejadian ini kepada umum."

"Lantas apa yang hendak lo siansu lakukan?" Tanya si kakek sambil tertawa.

"Aku akan mengumpulkan segenap jago dari kolong langit dan mengumumkan dihadapan mereka kalau aku sudah dikalahkan oleh seorang jago lihay tak dikenal dalam tiga jurus, karena itu aku tak punya muka untuk memikul tanggung jawab sebagai pemimpin umat persilatan lagi, akan kuminta mereka untuk memilih seorang pemimpin baru yang jauh lebih hebat."

Kakek berbaju kuning itu mendengus dingin.

"Hmmm, kalau toh lo siansu tetap keras kepala, aku pun tak akan membujukmu lebih lanjut, terserah pada kemauanmu sendiri," tapi setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam ia menambahkan :

"Apakah lo siansu masih ingat dengan perjanjian yang kita buat sebelum pertarungan tadi?"

Phu sian sangjin merasakan hatinya bergetar keras, cepat sahutnya :

"Tentu saja masih ingat, tapi. .apalah gunanya si pasien yang sakit itu untuk sicu, mengapa sicu bersikeras."

"Tujuanku justru terletak pada si sakit itu, karena semua keputusan yang kuambil tak pernah akan kurubah kembali."

Phu sian sangjin segera menghembuskan napas panjang dengan nada dalam dan berat, katanya kemudian :

"Kalau memang begitu, paling tidak sicu harus meninggalkan nama"

"oooo tentu saja," Kakek berbaju kuning itu tertawa, "Aku pasti akan menyebutkan namaku agarlosiansu mengetahui identitasku yang sebenarnya, tapi sebalum itu tolong serahkan dulu sisakit kepadaku" Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Phu sian sangjin berpaling kearah Hwee cuncu sambil katanya : "serahkan kepada sicu ini"

"soal ini. .soal ini" Hwee cuncu menjadi terkejut sekali.

saking gugup dan tergagap nya sampai setengah harian lamanya dia tak mampu melanjutkan perkataan itu.

Menyaksikan hal ini, Kakek berbaju kuning itu segera tertawa terbahak-bahak :

"Haaahh.haaahhhhaaahhhh..siau lim pay adalah suatu partai besar yang memimpin dunia persilatan, mengapa ucapan dari seorang pendeta agungnya justru menela mencle dan sama sekali tidak pegang janji?"

Phu sian sangjin merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau, terpaksa katanya dengan suara dingin : "sute, sudah kau dengar perkataanku?"

"turut perintah" ucap Hwee cuncu sambil menggigit bibir. Dengan langkah yang berat dia maju berapa langkah kemuka ,

lalu membaringkan Kho Beng keatas lantai.

Waktu itu kesadaran Kho Beng masih tetap utuh, sehingga terhadap semua perstiwa yang terjadi pun mengetahui dengan jelas, sayang dia tak mampu berkata-kata sehingga terpaksa hanya bisa pasrah pada nasib.

Kakek berbaju kuning itu tertawa girang, dengan cepat ia menyambar tubuh Kakek berbaju kuning dan mengempitnya dibawah ketiak. setelah tertawa katanya kemudian : "Terima kasih banyak atas bantuan kalian , aku hendak mohon diri lebih dulu"

Lalu setelah berhenti sejenak, terusnya :

"aku tidak akan menceritakan peristiwa hari ini kepada orang lain, kalian berdua tak usah kuatir, tentang apa yang hendak kalian perbuat, aku tak ingin turut campur" sambil berkata ia segera percepat langkahnya siap meninggalkan tempat tersebut. Dengan perasaan gelisah Phu sian sangjin berseru : "Eeeei, tunggu dulu"

"Apalagi yang hendak lo siansu katakan?" Tanya si kakek sambil menghentikan langkahnya.

"sicu belum meninggalkan nama" "Haaahhhaaahhhh.haaahhh.bila losiansu tidak mengingatkan

hampir saja melupakan hal ini, nah dengarkan baik-baik lo siansu."

Menyusul kemudian ia pun bersenandung : "Darah menodai bukit hati duka Dalam sekejap mata seabad telah lewat Kupu-kupu terbang ditanah yang gersang Rumput layu dahanpun mengering Thian melindungi keluarga Ui Ilmu silat berhasil, kekuatan pun pulih Daratan tengah kuserbu, kubangun kembali kejayaan keluargaku"

Bersama dengan selesainya senandung itu, bayangan tubuhnya turut lenyap pula dari pandangan mata.

"omitohud" Mendadak paras muka Phu sian sangjin berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, ia segera jatuh terduduk keatas tanah.

Hwee cuncu pun berdiri tertegun bagaikan sebuah patung, lama sekali ia tak berkata-kata.

Entah berapa saat telah lewat, pelan-pelan phu sian sangjin menghela napas sambil berbisik : "sute"

"Ciangbun suheng.. "buru-buru Hwee cuncu menyahut.

Nada suara mereka agak parau sehingga kedengarannya sangat mengenaskan. sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Phu sian sangjin berkata : "Tentunya sute sudah mengetahui bukan siapa yang telah kita jumpai barusan?"

Hwee cuncu mengangguk.