Kedele Maut Jilid 33

 Jilid 33

"oya betul, dengan jelas kita memang mendengar suara jerit kesakitan yang memilukan hati, tapi.."

setelah memutar biji matanya, kembali dia melanjutkan, "Kedengarannya suara itu berasal dari suatu tempat yang jauh

sekali, mungkin juga bukan berasal dari kuil ini." Beng Gi Ciu segera mendengus :

"Kecuali kuil tokoan ini, di bukit Wang hu san sudah tiada rumah penduduk yang lain, juga tak ada bangunan kuil yang lain, dari mana suara tersebut bisa berasal kalau bukan dari sini?"

"Yaa, perkataan nona memang benar," Siau wan manggut- manggut, akan tetapi Setelah berpikir sejenak, Beng Gi Ciu berkata :

"Lebih baik kita menunggu sebentar lagi, coba kita lihat apakah suara tadi akan berkumandang lagi?"

Mereka berdua pun melanjutkan usahanya bersembunyi diatas pohon, tapi tunggu punya tunggu hingga mendekati kentongan keempat pun sama sekali tak kedengaran lagi suara tadi.

"Mari kita pergi" ajak Beng Gi ciu kemudian.

Mereka berdua segera bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan bangunan kuil tersebut.

Disaat mereka berdua sedang meluncur keluar bangunan kuil inilah, mendadak tampak ada dua sosok bayangan kuning, bagaikan burung elang saja langsung melayang turun diruang depan.

Beng Gi ciu menghentikan langkahnya dan bersama siau wan menyembunyikan diri dibalik pepohonan.

Mereka mencoba untuk pasang telinga, akan tetapi tak kedengaran sedikit suara pun, dengan suara dalamBeng Gi ciu segera berkata :

"Tampaknya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang tersebut cukup tangguh, mereka bisa terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan, tapi siapakah mereka?"

"Mungkin Hian thian loto telah pulang kembali?"

"Tak mungkin, setiap tosu penghuni kuil ini mengenakan jubah berwarna abu-abu, tak mungkin mereka ganti baju kuning dalam waktu singkat, selain itu menurut pendapatku, jangan lagi si Hian thian tosu si tosu tua itu, sekalipun gurunya Hian thian tosu masih  hiduppun, rasanya mereka tak akan memiliki kepandaian sehebat ini."

"jadi kalau begitu mereka bukan anggota kuil ini?" "Ya a, sudah pasti bukan"

sementara mereka masih berbicara, terdengar suara ujung baju yang terhembus angin bergema memecahkan keheningan, lalu tampak dua sosok bayangan kuning berkelebat lewat dari sisi kiri, lebih kurang tiga kaki dari tempat persembunyian mereka.

Gerakan tubuh orang itu sangat enteng dan cekatan, biarpun sedang melintasi atap rumah, namun nyatanya seperti berjalan ditanah datar saja.

Tanpa terasa Beng Gi ciu serta siau wan dibuat tertegun kembali, kali ini mereka dapat melihat dengan jelas, ternyata mereka adalah dua orang pendeta. siau wan segera berbisik sambil tertawa geli :

"Aneh betul kedua orang hwesio tua itu, mau apa mereka mendatangi kuil para tosu ditengah malam buta begini?"

"Mari kita ikuti mereka" bisik Beng Gi ciu.

Dengan gerakan tubuh yang sangat ringan, dia segera menguntit dibelakang kedua orang pendeta tua itu, selisih jarak mereka kira- kira sepuluh kaki lebih.

sementara itu kedua orang pendeta tua tadi telah berputar satu lingkaran mengelilingi bangunan kuil itu, kemudian meluncur keluar dari sana, dengan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Beng Gi ciu serta siau wan, ternyata perbuatan mereka berdua sama sekali tidak disadari oleh kedua orang pendeta tersebut.

sementara itu, meski kedua orang pendeta tua sudah meninggalkan komplek kuil tersebut, ternyata mereka tidak pergi jauh, kembali kedua orang itu mengelilingi pagar kuil satu kali dan akhirnya berhenti didepan pintu gerbang.

Beng Gi ciu dan siau wan segera bersembunyi dibelakang sebatang pohon, jaraknya dengan pintu gerbang ternyata hanya tujuh delapan kaki.

Dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya siau wan segera bertanya : "Nona, tahukah kau apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara pula Beng Gi ciu menjawab : "Jelas sudah keadaannya sekarang, jelas kedua orang pendeta tua itu pun sedang melakukan penyelidikan atas kuil Hian thian koan ini."

"Tapi mengapa mereka keluar lagi dari dalam kuil tersebut bahkan malah berniat mengetuk pintu segala?"

Baru saja Beng Gi ciu hendak menjawab, mendadak tampak salah satu diantara kedua orang pendeta itu membalikkan badannya, kemudian setelah melirik sekejap kearah tempat persembunyian Beng Gi ciu serta siau wan, ia membentak keras : "siapa disitu?"

Tampak bayangan kuning berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah berada didepan pohon tersebut.

Dengan cepat Beng Gi ciu munculkan diri dari tempat persembunyiannya, sambil tertawa dingin ia berseru :

"Lo suhu tajam amat pendengaranmu."

"omitohud." Paras muka pendeta tua itu tetap dingin tanpa perubahan emosi,

"boleh aku tahu siapakah lisicu berdua dan ada urusan apa melakukan penyelidikan di saat tengah malam buta begini?"

"Kau anggap berhak untuk mengetahui soal ini?" seru siau wan cepat.

Dalam pada itu, pendeta tua yang satu nya telah melayang datang kesana, mendengar perkataan tersebut, dia segera membentak : "Besar amat nyalimu, berani bersikap kurangajar terhadap kami?"

sebenarnya Beng Gi ciu hendak menegur siau wan, tapi setelah mendengar perkataan dari pendeta tua itu, tanpa terasa dia berkerut kening dan balas membentak :

"Nyalimu pun cukup besar, berani sekali berbicara sekasar ini terhadap kami?"

Pendeta tua itu makin naik darah, katanya :

"Hayo cepat katakan asal usul serta identitas kalian yang sebenarnya"

"Kalau kami enggan bicara?" jengek Beng Gi ciu hambar.

Pendeta tua itu Nampak agak tertegun, agaknya ia tak menyangka kalau lawannya akan menjawab seperti itu, amarahnya makin berkobar, segera serunya keras-keras :

"Hmmm, kecuali kalian sudah bosan hidup."

"Ya a, mungkin saja kami sudah bosan hidup, tapi adakah orang yang mampu membunuh diriku?" "Budak ingusan Kau terlalu jumawa, tampaknya aku perlu memberi sedikit pengajaran kepadamu"

sepasang tangannya segera direntangkan, tampak bajunya menggelembung besar dengan cepatnya, sementara jalan darah tay yang hiat dikedua belah keningnya Nampak menonjol keluar.

Beng Gi ciu tertawa dingin, pelan-pelan dia maju kemuka, lalu jengeknya : "Kau ingin berkelahi?"

"Ya a, kecuali kau bersedia menjawab seluruh pertanyaanku sejujurnya."

"Hmmm, kalau memang ingin berkelahi, mari kita berkelahi, rasanya nonamu tak akan menundukkan kepala dihadapanmu",jengek Beng Gi ciu dengan suara sedingin es.

"Kurang ajar" pendeta tua itu makin gusar,

"Nampaknya tabiatmu makin lama makin menjadi, hati-hati dengan seranganku ini"

Tangan kanannya segera diputar, kemudian melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Beng Gi ciu segera mengebaskan sepasang ujung bajunya kedepan tiba-tiba saja berkelebat lewat selapis cahaya emas yang amat menyilaukan mata, langsung menyongsong datangnya serangan dari pendeta tua itu.

Pendeta tua lainnya yang menontonjalannya pertarungan itu menjadi terperanjat sekali, mendadak dia melejit ke udara sambil berteriak keras : "sute, cepat mundur"

Ditengah bentakan tersebut, tubuhnya yang masih berada diudara segera menyambar tubuh pendeta tua rekannya dan menariknya hingga mundur sejauh tiga kaki lebih dari posisi semula.

Tentu saja perbuatan ini membuat si pendeta tua tersebut jadi tertegun dantakhabis mengerti.

Menanti tubuh mereka telah melayang turun ketanah, ia baru bersuara dengan nada gelisah:

"Ciangbun suheng, apa-apan kau ini?"

Pendeta tua yang disebut sebagai ciangbunjin itu tidak segera menjawab pertanyaan tersebut, dia mengulapkan tangannya, kemudian berjalan menghampiri Beng Gi ciu.

sementara itu Beng Gi ciu telah menarik kembali serangannya dan tertawa dingin tiada hentinya. Dengan langkah lebar, pendeta tua itu berjalan mendekat, kemudian sambil merangkap sepasang tangannya didepan dada untuk memberi hormat, katanya :

"Boleh aku tahu siapa nama li sicu?"

"Mengapa kau tidak melapor dulu namamu?" sahut Beng Gi ciu dengan suara sedingin salju.

Pendeta tua itu manggut-manggut, katanya :

"Aku Phu sian, saat ini menjabat sebagai ketua dari siau lim pay"

Kemudian sambil menunjuk ke arah pendeta tua lainnya yang sedang berjalan mendekat, katanya :

"sedang dia adalah Hwee cuncu, satu diantara lima rasul panca unsur partai kami, juga masih terhitung adik seperguruanku."

Mengetahui siapa yang sedang dihadapannya, Beng Gi ciu merasa amat terkejut, sebab walaupun ia sudah mengetahui kalau ilmu silat yang dimiliki kedua orang pendeta tua itu sangat lihai, namun dia sama sekali tak menyangka kalau orang tua itu adalah ketua siau limpa y, pemimpin dari tujuh partai besar lainnya. Maka setelah tersenyum, ia berkata :

"Maaf, maaf, siauli adalah Beng Gi ciu, sedang dia adalah budakku siau wan."

Phu sian sanjin segera merasakan semangatnya berkobar kembali, dengan cepat katanya :

"Maafkan kelancanganku untuk bertanya, benarkah ilmu yang Beng li sicu perlihatkan tadi merupakan kepandaian dari tiga dewa see gwa sam sian?"

Beng Gi ciu tertawa hambar, segera tukasnya :

"Losiansu memang hebat sekali pengetahuannya, betul ilmu tersebut memang Kim ka sinkang"

"Kalau begitu Beng siocia adalah keturunan dari Kim ka sian? " "Benar" gadis itu mengangguk.

Phu sian sangjin menjadi sangat kegirangan, segera serunya : "Benar-benar sangat kebetulan, tak disangka kami akan bersua

dengan Beng lisicu ditempat ini.Dalam seratus tahun terakhir ini setiap umat persilatan boleh dibilang menyangjung serta menghormati kehebatan tiga dewa, namun sayang belum pernah melihat keturunan dari tiga dewa terjun kembali kedalam dunia persilatan. " 

Kemudian sambil berpaling kearah Hwee cuncu serunya lagi : "sute, hayo cepat minta maaf kepada Beng Li sicu" Terpaksa Hwee cuncu maju memberi hormat, katanya : "Maaf atas kelancanganku tadi"

Cepat-cepat Beng Gi ciu balas memberi hormat, katanya kemudian :

"Lo siansu terlalu sungkan, padahal siauli sendiripun telah berbuat kesalahan yang sama"

Phu sian sangjin berkata setelah termenung sebentar. "Kemunculan Beng lisicu secara tiba-tiba dalam dunia persilatan

tentunya disebabkan karena ada urusan besar bukan?" Beng Gi ciu tersenyum.

"sejak kecil siauli berdiam dipulau Bong lay to, ilmu silat yang berhasil kupelajari juga hanya ilmu kucing kaki tiga, sebetulnya aku hanya bermaksud menambah pengetahuan serta mencari pengalaman didalam dunia persilatan, sekalian mencari kedua orang empekku yaitu empek Thian serta empek oh yang sudah setahun meninggalkan pulau Bong lay to, siapa tahu situasi yang kuhadapi sekarang nampaknya telah berubah menjadi amat rumit dan kacau."

"Apakah empek Thian dan empek oh yang Beng li sicu maksudkan adalah keturunan dari Bu khek sian serta Thin lui sian?"

Beng Gi ciu mengangguk.

"Benar, mereka masih setingkat berada diatasku, oleh sebab itu aku memanggil empek kepada mereka."

Kemudian setelah memutar biji matanya, dia berkata lagi : "Hingga saat ini jejak kedua orang empek ku belum berhasil

kutemukan, tapi kujumpai kemunculan kembali partai kupu-kupu di dalam dunia persilatan, oleh sebab itu."

Mendadak ia menghentikan perkataannya dan tidak melanjutkan kembali.

"omitohud" Phu sian sangjin segera berseru memuji keagungan sang Buddha,

"apakah Beng li sicu sudah mengetahui semua peristiwa yang terjadi dalam dunia persilatan belakangan ini?"

Beng Gi ciu menggeleng.

"Kami berdua belum lama meninggalkan pulau Bong lay to, jadi tidak banyak pula yang kami ketahui tentang persoalan dunia persilatan."

Phu sian sangjin memandang sekejap kuil Hian thian koan yang sepi itu, lalu setelah berpikir sebentar, katanya : "Beng li sicu adalah keturunan dari tiga dewa, sudah sepantasnya bila kubeberkan keadaan yang sebenarnya."

Maka secara ringkas dia menceritakan kemunculan kedele maut didalam dunia persilatan, bagaimana Kho Beng datang memberi kabar, bagaimana Bok cuncu membuat perjanjian kerja sama dengan Kho Yang ciu dan sebagainya

Beng Gi ciu mendengarkan semua penuturan tersebut dengan asyik, menanti Phu sian sangjin telah menyelesaikan perkataannya, dia baru berkata :

"Apakah losiancu telah memohon bantuan dari jago-jago partai lainnya untuk bersama-sama melacaki sarang dewi In Un?"

"Tentu saja" jawab Phu sian sangjin cepat.

"Aku telah mengirim surat pemberitahuan keseluruh perguruan besar, aku yakin pelbagai perguruan besar telah mengirim jago- jagonya yang lihai untuk mulai bekerja."

Beng Gi ciu sebera tertawa getir.

"Menurut apa yang kuketahui, sarang Dewi In Un terletak dipuncak bukit Cian san dan yang lebih penting lagi adalah ketua partai kupu-kupu yang sekarang Ui sik kong sudah tiba dibukit Cian san."

"Ehmmm, tentang hal ini aku pun sudah mendapat kabar," phu sian sangjin segera mengangguk.

"Tajam benar pendengaran losiansu," puji Beng Gi ciu sambil tertawa,

"lantas apa rencana siansu untuk menanggulangi masalah ini?" "Masalah tersebut betul-betul amat rumit dan membingungkan hati, tempo dulu entah siapa yang telah dipergunakan Dewi In Un

untuk menyamar sebagai Bu wi lojin hingga membangkitkan amarah umat persilatan dan terjadi peristiwa berdarah diperkampungan hui im ceng. Akibat peristiwa itu, Kho Beng kakak beradik berhasil lolos dari musibah, selanjutnya Kho Yang ciu dengan kedele mautnya melakukan pembantaian secara besar-besaran terhadap umat persilatan, kejadian ini dengan cepat menjalinkan permusuhan yang amat mendalam antara Kho Yang ciu dengan segenap umat persilatan, dalam suasana itulah rupanya partai kupu-kupu memanfaatkan kesempatan untuk menancapkan kakinya didaratan Tionggoan."

"Nah coba bayangkan sendiri, bukankah persoalannya menjadi bertambah kalut dan membingungkan." Beng Gi ciu mengangguk.

"Ya a, situasi memang sangat kalut, tapi..ada urusan apa lo siansU datang kemari?"

"omitohud, setelah aku mendapat laporan dari Bok cuncu yang mengatakan bahwa Dewi In Un sering munculkan diri disekitar bukit Cian san, maka aku merasa perlu untuk melakukan penyelidikan sendiri dengan harapan persoalan diperkampungan Hui im ceng tempo dulu bisa diselidiki hingga tuntas, dengan demikian perselisihan kami dengan dua bersaudara Kho pun bisa mendapat penyelesaian secepatnya."

Beng Gi ciu tertawa hambar.

"Kini pusat kekuatan partai kupu-kupu telah dialihkan kebukit Cian can, aku lihat perselisihan antara dua bersaudara Kho dengan umat persilatan pun telah berubah menjadi masalah kedua"

Dengan wajah serius Phu sian sangjin manggut-manggut. "Akupun sudah berpikir bahwa masalah penting yang kita hadapi

sekarang adalah masalah kehadiran Partai kupu-kupu, andaikata Dewi In Un tidak menyuruh orang menyamar sebagai Bu wi lojin, tak mungkin akan terjadi peristiwa berdarah di perkampungan Hui im ceng. Karenanya akupun mengambil suatu kesimpulan asal masalah Partai kupu-kupu sudah terselesaikan secara otomatis masalah dua bersaudara Kho pun akan terselesaikan dengan sendirinya. Tapi Kho Yang ciu terlalu banyak membunuh orang, rasa dendam yang menumpuk susah rasanya untuk dihapus dengan begitu saja, sedangkan Partai kupu-kupu jelas mempunyai niat jahat terhadap umat persilatan, besar kemungkinan akan terjadi lagi suatu peristiwa besar didalam dunia persilatan."

"Aku dengar perkampungan Hui im ceng pun telah diporakporandakan hingga hancur tak karuan, darah bercucuran dimana-mana dan mayat bertumpuk membukit, tujuh puluh lembar jiwa keluarga Kho telah kalian bantai sampai ludas?"

"omitohud..aku merasa amat menyesal dengan peristiwa ini, tapi.aku tetap berpendapat bahwa bencana besar yang kita hadapi sekarang berasal dari Partai kupu-kupu?"

Kemudian setelah memandang sekejap kearah Beng Gi ciu, kembali dia berkata :

"Pada seabad berselang, tiga dewa telah membunuh ketua Partai kupu-kupu dibawah tebing hati duka dan sekarang Partai kupu-kupu telah muncul kembali dalam dunia persilatan, aku lihat tujuan mereka yang pertama mungkin hendak membalas dendam atas sakit hati itu."

Beng Gi ciu tertawa hambar.

"Persoalan ini memang sudah berada dalam dugaan, tapi ada satu hal yang justru membingungkan hatiku?"

"Persoalan apa?"

"Setiap orang persilatan tahu kalau tiga dewa See gwa sam sian berdiam di pulau Bong lay to, andaikata tujuan Partai kupu-kupu hanya untuk membalas dendam atas sakit hatinya pada seabad berselang sudah pasti mereka akan langsung menuju kepulau Bong lay to, mengapa mereka tidak berbuat demikian sebaliknya malah langsung memasuki daratan Tionggoan?"

Phu sian sangjin dibikin tergagap oleh perkataan tersebut. "soal ini.soal ini."

sambil tersenyum Beng Gi ciu melanjutkan kembali kata-katanya

:

"Dalam hal ini mungkin saja ada dua penyebabnya, kesatu,

mereka hendak merebut kembali kitab pusaka Thian goan bu boh yang telah hilang sejak seabad berselang, kedua, mereka hendak membantai umat persilatan, menaklukan setiap partai dengan kekerasan agar bisa menjadikan dirinya sebagai pemimpin tertinggi dunia persilatan."

Merah jengah selembar wajah Phu sian sangjin, katanya kemudian setelah menghela napas.

"Perkataan Beng li sicu memang benar, tapi aku rasa mereka pun tak akan melupakan dendam sakit hatinya dengan tiga dewa see Gwa sam sian."

"Tapi aku yakin masalah itu masih masalah kedua setelah usahanya menguasai seluruh dunia persilatan berhasil seratus tahun berselang, Partai kupu-kupu pernah melakukan pembantaian berdarah terhadap umat persilatan, walaupun akhirnya ketua mereka tewas ditangan tiga dewa, tapi seratus tahun kemudian ternyata mereka muncul kembali didalam dunia persilatan.sudah pasti kekuatan mereka saat inijauh lebih tangguh, ini berarti badai berdarah tak bisa dihindari lagi oleh umat persilatan. Walau pun demikian, asal tujuh partai besar serta segenap umat persilatan dari empat arah delapan penjuru mau bersatu padu dan memberikan perlawanan secara bersama-sama, aku rasa siapa menang siapa kalah masih susah ditentukan mulai sekarang. " "siauli sekalian pun pasti tak akan berpeluk tangan belaka," kata Beng Gi ciu sambil tertawa,

"atau tegasnya saja maksud siauli mencari empek Thian dan empek oh pun tak lain bermaksud hendak mengajak mereka merundingkan bersama cara untuk menanggulangi serbuan Partai kupu-kupu."

Phu sian sangjin menjadi amat girang, katanya cepat :

"Asal keturunan dari tiga dewa bersedia membantu, sudah pasti usaha kami untuk menumpas kaum iblis tersebut akan berhasil dengan sukses, apakah Beng li sicu akan berhasil menemukan Thian tayhiap dan oh tayhiap." Belum Beng Gi ciu menggeleng.

setelah berhenti sejenak. dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya :

"sebelum itu, ingin sekali siauli mendengar pendapat lo siansu tentang dua bersaudara Kho?"

"seharusnya musuh besar dua bersaudara Kho yang sebetulnya adalah Dewi In Un yang melakukan pengacauan dari tengah, andaikata beruntung Partai kupu-kupu dibasmi, maka asal mereka tidak ingin membuat perhitungan dengan umat persilatan, aku rasa sanak keluarga umat persilatan yang tewas ditangan dua bersaudara Kho pun tak akan mempersoalkan peristiwa itu lagi dan perselisihan dengan begitu saja."

sambil tertawa Beng Gi ciu manggut-manggut, katanya : "Pandangan losiansu memang cukup adil, lantas apa sebabnya

kau melakukan pemeriksaan atas kuil Hian thian koan ini?"

Kembali paras muka Phu sian sangjin berubah menjadi semu merah.

"Tampaknya Beng li sicu telah mengetahui jejakku sedari tadi?" "Yaa, sejak masih berada didalam kuil."

"Kalau begitu Beng li sicu pun sedang melakukan penyelidikan atas kuil Hian thian koan ini?" Tanya Phu sian sangjin tercengang. Beng Gi ciu manggut-manggut.

"Tapi siauli ingin mengetahui lebih dulu apa sebabnya lo siansu melakukan penyelidikan atas kuil Hian thian koan ini?"

"Dalam perjalanan melalui tempat ini tadi, aku seperti mendengar ada suara perempuan yang menjerit kesakitan, suara yang memilukan hati itu berasal dari dalam kuil, karena curiga maka akupun melakukan pemeriksaan disekitar tempat ini" "Yaa, siauli pun sempat mendengar jeritan kesakitan itu, tapi yang membuat aku bertekad melakukan penyelidikan dalam kuil Hian thian koan ini adalah sebab yang lain."

"Boleh aku tahu apa sebabnya?" buru-buru Phu sian sangjin bertanya. Agak memerah paras muka Beng Gi ciu.

"sebenarnya Kho Beng sedang merawat luka beracunnya dalam kuil ini, tapi.."

Tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang dan menghentikan perkataannya.

Phu sian sangjin menjadi agak tertegun dan tak habis mengerti, dia tak mengira Beng Gi ciu yang baru terjun kedunia persilatan ternyata dapat menjalin hubungan dengan Kho Beng, lebih-lebih tak menyangka kalau Kho Beng bakal merawat lukanya didalam kuil Hian thian koan ini.

Agaknya Beng Gi ciu sendiripun mengerti bahwa persoalan ini tak mungkin bisa dijelaskan hanya dengan dua tiga patah kata saja.

Maka secara ringkas dia pun bercerita tentang bagaimana perkenalannya dengan Kho Beng, tentu saja banyak persoalan diantaranya yang sengaja ditutupi.

"omitohud." Phu sian sangjin berseru memuji keagungan sang Buddha.

"Rupanya begitu, tapi aku menemukan ada dua halyang mencurigakan."

"Dalam hal yang mana lo siansu menaruh curiga?" buru-buru Beng Gi ciu bertanya.

"Kesatu, aku mengetahui dengan pasti kuil Hian thian koan bukan termasuk pengawasan partai Kun lun, ini berarti ucapan Hian hoat tojin jelas berbohong dan tak ada kebenarannya. Kedua, sisetan tua dari Lamciang adalah seorang manusia munafik yang jahat, keji dan licik sekali, aku cukup memahami watak orang tersebut, jadi mustahil kalau dia mengobati luka Kho Beng hanya dikarenakan kemaruk akan harta."

"sungguhkah perkataan lo siansu ini?" Tanya Beng Gi ciu sangat terkejut.

"omitohud, apakah Beng li sicu menganggap aku punya kepentingan untuk berbohong?"

siau wan yang berada disisinya cepat menimbrung. "Nona, cepat kita tangkap Hian hoat tosu tua itu dan menyiksanya agar mengaku, siapa tahu Kho kongcu sudah mereka celakai"

Phu sian sangjin termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya :

"Barusan aku telah melakukan pemeriksaan disekeliling bangunan kuil ini, sepintas lalu tampaknya tiada sesuatu yang tak beres dengan tempat ini, baru saja aku hendak mengetuk pintu untuk melakukan pemeriksaan kedalam, saat itulah kujumpai kehadiran Beng li sicu disini. Nah Beng Li sicu, apakah kau berhasil menjumpai sesuatu yang mencurigakan?"

"Apapun tak berhasil kutemukan,"

"kalau tidak. masak kami akan tinggalkan tempat ini dengan begitu saja?"

"Waaah.kalau begitu Kho Beng sudah terjebak dalam keadaan yang sangat berbahaya." Kata Phu sian sangjin kemudian dengan suara berat. Beng Gi ciu menggertak gigi kencang-kencang.

"seandainya sampai terjadi keadaan demikian, aku bersumpah akan meratakan kuil Hian thian koan ini dengan tanah"

Dengan cepat Phu sian sangjin menggeleng kepalanya berulang kali, ia berkata :

"Aku minta Beng li sicu jangan kelewat emosi, yang terpenting buat kita sekarang adalah bagaimana cara menyelamatkan Kho Beng dari ancaman bahaya."

Beng Gi ciu agak tertegun, serunya :

"Menurut yang kuketahui, antara losiansu dengan Kho Beng masih terikat permusuhan yang mendalam, apa sebabnya.."

"Beng lisicu dapat berkata demikian karena kau belum memahami jalan pemikiranku," kata Phu sian sangjin sambil menggoyangkan tangannya berulang kali,

"padahal yang menjadi tujuan utama dari perjuanganku ini tak lain adalah mencari ketenangan dan kedamaian bagi umat persilatan, jadi bagiku tiada hubungan dendam atau sakit hati dengan siapa saja. Tatkala terjadi peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng belasan tahun berselang, akupun telah berusaha untuk mencegahnya, sayang aku tak berhasil mengatasi kemarahan umat persilatan akhirnya terjadilah peristiwa yang amat mengenaskan itu." Kemudian setelah menghembuskan napas panjang, pelan-pelan dia berkata lagi :

"Menurut hasil pengamatanku sendiri maupun apa yang kudengar dari pemberitaan, dapat kutarik kesimpulan bahwa Kho sicu sesungguhnya adalah seorang sauhiap yang patut dihormati dan dikagumi, malah banyak hal didalam usaha untuk menumpas kaum iblis tersebut kita masih membutuhkan bantuannya, oleh sebab itu sudah sepantasnya bila aku berusaha memberi pertolongan dengan sekuat tenaga"

Beng Gi ciu tertawa gembira.

"Dengan pengalaman lo siansu yang begitu luas serta pengetahuanmu yang amat banyak, sudah pasti banyak bermanfaat bagi usahaku menolong Kho Beng, kalau begitu aku ucapkan banyak terima kasih atas kehadiran lo siansu ini."

"Aaaah, ini kan sudah menjadi kewajibanku"

Kepada Hwee cuncu segera serunya : "sute, cepat maju dan menggedor pintu"

Hwee cuncu mengiakan dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedepan pintu gerbang kuil Hian thian koan lalu menggedornya keras-keras.

Gedoran itu dilakukan dengan kekuatan besar sehingga menimbulkan suara yang nyaring sekali, ditengah keheningan malam yang mencekam, hampir boleh dibilang seluruh kuil dapat mendengar suara itu.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, disusul pintu gerbang pun terbuka lebar, seorang tosu setengah umur dengan pandangan terkejut bercampur keheranan mengawasi Phu sian sangjin dan Beng Gi ciu sekalian berempat sekejap. lalu katanya :

"Ditengah malam buta begini, ka. kalian ada urusan apa datang kemari?"

Hey tosu tua dengan suara yang amat nyaring bagaikan genta, Hwee cuncu berseru :

"Pentang sepasang matamu lebar-lebar, coba lihat siapakah diri kami ini?"

Walaupun dia termasuk seorang pendeta tua yang telah mempunyai hasil latihan selama puluhan tahun dalam agama Buddha, namun sifat berangasannya tak hilang barang sedikitpun, baik dalam tingkah laku maupun dalam pembicaraan dia selalu bersikap kasar. Itulah sebabnya julukan Hwee cuncu atau rasul api memang cocok sekali dengan keadaannya. sambil tertawa paksa tosu setengah umur itu menjawab :

"Aku tak ambil perduli siapakah kalian, paling tidak kalian toh tidak seharusnya datang mengacau kuil kami ditengah malam buta begini."

"Mengacau?" bentak Hwee cuncu semakin gusar,

"perkataan tersebut sangat tidak pantas kau pergunakan bagi kami, yang benar kami datang untuk melakukan penggeledahan, mengerti? Hmmm kami adalah rombongan dari siau lim pay, aku dikenal orang sebagai Hwee cuncu"

Lalu sambil menunding kebelakang, kembali katanya : "Dan dia adalah ketua dari partai kami, Phu sian sangjin "

"Aaaaah.." dengan wajah berubah hebat tosu setengah umur itu berseru tertahan, buru-buru ia memberi hormat sambil katanya,

"Tak disangka ada tamu agung yang datang berkunjung, maafkan kelancangan pinto."

Phu sian sangjin segera melangkah maju mencegah Hwee cuncu bertindak lebih jauh, kemudian tegurnya :

"Apakah koancu kalian ada didalam kuil?" "Tidak ada" jawab tosu itu agak tergagap.

Mendadak Hian hoat tojin munculkan diri dengan langkah lebar, sambil memberi hormat ia segera menyapa :

"Benar-benar menjadi kehormatan buat kami untuk menerima kunjungan dari anda sekalian, silahkan masuk kedalam ruangan untuk minum teh."

Lalu setelah memandang sekejap kearah Beng Gi ciu serta siau wan, sambil tertawa paksa :

"silahkan lisicu berdua masuk pula kedalam"

Beng Gi ciu tertawa dingin, ia sama sekali tak berbicara.

Walaupun Hian hoat tojin telah mempersilahkan tamunya untuk masuk. ternyata Phu sian sangjin sama sekali tidak menggeserkan langkahnya, dia masih tetap berdiri ditempat semula.

Tentu saja Hian hoat tojin menjadi tersipu-sipu dibuatnya, sambil tertawa paksa segera katanya lagi :

"Apakah lo siancu tidak bersedia untuk memasuki kuil kami?" "omitohud, boleh aku tahu gelar totiang?"

"Pinto Hian hoat, untuk sementara waktu ini menjabat sebagai koancu kuil ini." "oooh dimanakah koancu kalian?" Tanya Phu sian sangjin lagi dengan suara dingin.

"Dia telah pergi kebukit Kun lun," karena Dengan cepat Phu sian sangjin menukas :

"Totiang tak usah melanjutkan perkataanmu itu, aku sudah mengetahui secara pasti kalau kuil kalian tidak termasuk aliran Kun lun pay, lebih baik undang saja koancu kalian untuk bertemu kami."

Berubah hebat paras muka Hian hoat tojin setelah mendengar perkataan ini, katanya :

"Apabila losiansu berkeras mengatakan demikian, pinto pun tak bisa membantah apa-apa, tapi kenyataannya koancu kami betul- betul tak berada didalam kuil hingga tak mungkin bagiku untuk mengundangnya keluar"

Phu sian sangjin segera tertawa dingin :

"Baiklah, kalau toh totiang bersikeras mengatakan demikian, terpaksa aku mesti berbuat kasar kepadamu."

"Apa yang hendak lo siansu lakukan?" Tanya Hian hoat tojin sambil berusaha menenangkan hatinya.

"Aku sebagai pemimpin dari tujuh partai besar terpaksa akan turunkan perintah untuk melakukan penggeledahan atas kuil Hian thian koan, apakah totiang bermaksud menghalangi perintahku ini?"

"Aku tak berani, silahkan lo siansu melakukan penggeledahan" buru-buru tosu itu berseru.

Phu sian sangjin mengangguk, kepada Beng Gi ciu katanya kemudian,

"Beng li sicu, mari ikut masuk kedalam kuil"

Dengan langkah lebar dia sebera berjalan masuk kedalam ruangan kuil itu.

Hian hoat tojin yang mengikuti dibelakang Phu sian sangjin sebera berkata lagi sambil tertawa paksa :

"Murid-murid kuil kami sudah pada tidur,bagaimana kalau kubunyikan genta untuk membangunkan mereka serta menanti petunjuk dari losiansu?"

"Tidak usah" jawab Phu sian sangjin hambar. Lalu sambil berpaling kearah Beng Gi ciu tanyanya,

"Dimanakah Kho sicu merawat luka beracunnya?" "Digedung To leng tiang, tapi sekarang sudah tak ada apa-

apanya lagi disana." Mendadak Hian hoat tojin menimbrung sambil tertawa terbahak- bahak.

"Haaaahhhaaahhhaaahhhi.rupanya lo siansu pun datang kemari dikarenakan persoalan tersebut, padahal sicu yang mengobati pemuda itu sudah lama pergi dari sini."

"Aku tak perduli mereka sudah pergi atau belum, yang ingin kulihat adalah gedung To leng tian itu."

"Biar aku menjadi penunjuk jalan" seru Hian hoat tojin tanpa ragu-ragu.

Tak lama kemudian sampailah mereka didepan gedung To leng tian, Hian hoat tojin segera membuka pintu lebar-lebar dan berdiri menanti disamping.

Dengan langkah berhati-hati Phu sian sangjin melangkah masuk kedalam ruangan itu, tampak ditengah meja altar tergantung gambar dari To leng, sebuah lentera minyak tergantung disisinya. Kecuali dibagian muka dan belakang masing-masing terdapat sebuah pintu, jendela di dinding sebelah kiri dan kanan berada dalam keadaan tertutup rapat.

Dengan sorot mata yang tajam Phu sian sangjin memperhatikan sekejap keadaan sekeliling tempat itu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Hian hoat tojin segera berkata diiringi senyuman yang tidak leluasa.

"Berhubung jemaah yang sembahyang di kuil kami pada siang hari terlalu banyak dan ramai sehingga suasananya amat hiruk pikuk. maka Peksicu itu."

Namun sebelum perkataan itu selesai diucapkan, tanpa berpaling sama sekali Phu sian sangjin membentak secara tiba-tiba :

"sute, cepat bekuk kedua orang tosu tersebut"

Hwee cuncu sama sekali tidak berayal, begitu mendapat perintah ia segera turun tangan dan secepat kilat melancarkan dua buah totokan dahsyat.

Hian hoat tojin menjadi amat terperanjat, namun sebelum ia sempat mengambil suat tindakan, desingan angin jari dari Hwee cuncu telah menghajar dadanya dengan tepat, seketika itu juga tubuhnya roboh terjengkang keatas tanah.

Nasib yang dialami tosu setengah umur yang membukakan pintu gerbang pun tak jauh berbeda, dia berubah menjadi patung yang kaku dan tergeletak diatas tanah. setelah kedua orang itu berhasil dirobohkan, Phu sian sangjin baru berpaling kearah Beng Gi ciu seraya bertanya :

"Apakah Beng li sicu pernah melakukan pemeriksaan atas ruangan gedung ini?^"

"Akupun hanya melongok sekejap dari sisi pintu, dalam gedung ini kecuali meja altar tersebut sama sekali tiada benda yang lain, apa pula yang harus kuperiksa dengan seksama?"

Dengan suara dalam dan berat Phu sian sangjin sebera berseru : "Untung sekali li sicu tak masuk kedalam ruangan ini kalau tidak."

sambil memuji keagungan Buddha, dia pun menutup mulutnya kembali rapat-rapat.

"Kalau tidak bisa kenapa?" tanya Beng Gi ciu ingin tahu. Phu sian sangjin tertawa ringan.

"Apakah Beng li sicu pernah mempelajari soal ilmu alat rahasia atau alat perangkap serta lain sebagainya."

"sama sekali tidak pernah" tukas si nona sambil tertawa, "mungkin lo siansu pun seharusnya tahu, tiga dewa see gwa sam

sian tidak pernah mempelajari ilmu kepandaian semacam itu." "Biarpun kepandaian tersebut hanya terhitung ilmu sampingan,

kadang kala justru kepandaian semacam inilah yang sering membunuh orang secara keji dan luar biasa."

"Waaah, kalau begitu ruangan ini pasti telah dilengkapi dengan alat rahasia serta alat perangkap yang sangat lihai dan mengerikan hati?"

Phu sian sangjin manggut-manggut.

"Bukan cuma ada, bahkan telah dilengkapi dengan jebakan api Lei kiong hwee cing yang paling hebat dan luar biasa, bahkan pemasangan yang mereka lakukan pun betul-betul kelewat keji"

Kemudian setelah memperhatikan sekejap kedua orang tosu yang telah tertotok jalan darahnya itu, dia berkata lagi :

"Justru disinilah terletak alasanku mengapa kuturunkan perintah untuk membekuk kedua orang tosu tersebut, mungkin mereka sudah terlalu banyak melakukan perbuatan keji dan tak berprikemanusiaan ditempat ini"

"Lo siansu tak bakal salah melihat bukan" Tanya Beng Gi ciu setengah percaya setengah tidak.

Phu sian sangjin tertawa.

"Aku akan segera membuktikannya dihadapan Beng li sicu." Ujung bajunya segera dikebaskan kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat cun sebera menggulung kedepan dengan sangat hebatnya.

Angin pukulan yang maha dahsyat itu langsung menghantam kasur duduk yang terletak didepan meja altar. Blaaammm

Ditengah suara benturan yang amat keras, kasur tersebut terhantam hingga tergetar keras.

Tapi dengan bergetarnya kasur duduk itu, mendadak seluruh ruangan gedung To leng tian ikut berguncang keras bahkan diiringi suara yang amat memekikkan telinga, sebagian besar dari ruangan tersebut amblas dan tenggelam kedasar perut bumi, dalam waktu singkat ruangan tersebut telah lenyap dibalik tanah, sementara permukaan tanah pun merepat kembali seperti sedia kala.

Tak terlukiskan rasa terkejut Beng Gi ciu setelah menyaksikan peristiwa itu, serunya sambil menggigit bibir :

"Benar-benar sebuah alat jebakan yang sangat lihai" Phu sian sangjin terus tertawa.

"adahal kelihaian dari alat perangkap ini tak sampai disitu saja.."

Belum selesai ucapan itu diucapkan, terdengar suara gemuruh yang amat keras bergema dari bawah tanah sana.

suara tersebut amat keras dan sangat menusuk pendengaran, malah seluruh permukaan tanah pun turut bergetar keras.

Menyusul kemudian muncul segulung gelombang panas yang suhu udaranya makin lama semakin bertambah tinggi, begitu panasnya suasana disitu sehingga tanpa terasa Beng Gi ciu mundur berulang kali kebelakang. Phu sian sangjin segera berkata :

"Tatkala seorang sudah terperangkap didalam jebakan dibawah tanah tersebut, maka kobaran api yang maha dahsyat dan sanggup melelehkan besi baja akan menyembur serta membakarnya hingga hancur menjadi abu. Dalam keadaan begini, jangan lagi manusia biasa, biarpun dewa atau malaikat juga akan terbakar hancur menjadi abu. Bisa Beng li sicu bayangkan betapa keji dan luar biasanya alat perangkap tersebut"

sambil menggertak gigi, Beng Gi ciu sebera berkata :

"Benar-benar sangat berbahaya, alat perangkap semacam ini tentunya bukan dipasang sebuah tempat saja bukan? Dan bagaimana lo siansu bisa tahu?"

Phu sian sangjin mengangguk dan berkata, "tapi biarpun partai kami belum terhitung lihai dalam ilmu perangkap serta alat jebakan, namun aku yakin tiada alat jebakan atau alat rahasia lain yang dapat lolos dari penglihatanku"

sementara pembicaraan masih berlangsung suara goncangan dibawah tanah makin lama telah makin mereda sebelum akhirnya berhenti sama sekali, suhu panas yang menyengatpun makin berkurang hingga akhirnya mendingin. suasana hening dan sepi yang luar biasa mencekam daerah sekeliling tempat itu.

Dengan sorot mata yang tajam Beng Gi ciu mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya keheranan :

"sejak kita masuk kedalam kuil sampai alat rahasia itu mulai bekerja dengan menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga, mengapa tak Nampak seorang tosu pun yang datang kemari?"

"Yaa betul, kali ini benar-benar dicekam keheningan yang sangat aneh dan mencurigakan," sambung siau wan.

"Padahal tiada sesuatu yang perlu diherankan," kata Phu sian sangjin kemudian,

"oleh karena mereka telah menduga bakal ada musuh yang menyerang kuil mereka, mungkin saja mereka telah merencanakan ini dengan baik serta cara untuk menanggulanginya, meski kita telah berhasil merusak salah satu alat perangkapnya, mereka toh masih mempunyai alat perangkap kedua, ketiga dan seterusnya untuk menunggu kita masuk perangkap, lantas buat apa mereka harus munculkan diri disini?"

"Menurut lo siansu, apa yang harus kita lakukan sekarang? " Tanya Beng Gi ciu sambil berkerut kening.

Phu sian sangjin tertawa hambar.

"Aku rasa paling tidak Hian hoat tojin masih terhitung seorang jago kelas satu dari kuil Hian thian koan, jadi tidak salah buat kita untuk mendapatkan pengakuan dari mulutnya."

Ujung bajunya segera dikebaskan, segulung desingan angin jari segera menyebar kedepan dan membebaskan tosu tersebut dari pengaruh totokan jalan darah.

Begitu jalan darahnya bebas, Hian hoat tojin segera meronta bangun dan berusaha melarikan diri

Melihat itu Phu sian sangjin tertawa terbahak-bahak, ujung jubahnya segera diputar sambil menggulung. Terasalah segulung tenaga pukulan berpusing menyapu kedepan dan menggulung tubuh Hian hoat tojin hingga tak sanggup berdiri tegak lagi, ia segera roboh telungkup tepat didepan kaki Phu sian sangjin. setelah mendengus dingin, Phu sian sangjin berkata :

"Bila aku membiarkan kau lolos dari sini, kedudukanku sebagai ketua siau limpay harus kuserahkan pula kepada orang lain"

Hian hoat tojin sadar kalau tiada harapan lagi baginya untuk meloloskan diri, matanya dipejamkan rapat-rapat dan mendekam diatas tanah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kembali Phu sian sangjin sengaja menghardik,

"Walaupun aku terhitung masih merupakan murid Buddha yang tak boleh sembarangan melakukan pembunuhan, namun disaat aku bisa membunuh seorang untuk menyelamatkan jiwa seratus jiwa, aku pun tak akan ragu-ragu untuk mengayunkan golok serta menjagalmu, mengerti?"

"Kalau ingin membunuh silahkan membunuh, jangan dianggap aku takut mati" teriak Hian hoat tojin sambil menggigit bibir.

Telapak tangannya segera diayunkan dan siap dihantamkan keatas ubun-ubun sendiri Hwee cuncu yang menjaga disisinya segera bertindak cepat dengan menotok kembali dua buah jalan arahnya, setelah itu hardiknya dengan suara dalam .

"Hmmm, pingin mampus? Tak akan segampang itu"

Ternyata kedua buah totokan tersebut dengan tepat sekali menyumbat jalan darah cian keng hiat dibahu kiri dan kanannya.

"omitohud.." Phu sian sangjin kembali berkata,

"baiklah, kalau roh dia lebih suka mati daripada mengaku terpaksa kita akan memaksanya untuk membuka suara dengan cara menyiksanya ."

Hwee cuncu berpikir sebentar, lalu serunya : "Bagaimana kalau kita menggunakan ilmu menutup nadi

memotong urat untuk memaksanya mengaku berbicara?" Phu sian sangjin tertawa hambar :

"Asal bisa memaksanya untuk berbicara, terus terang cara apapun bisa kita halalkan."

Hwee cuncu tidak berayal lagi, dia segera mendekati Hiat hoan tojin lalu bentaknya :

"Tosu tua kau benar-benar enggan menjawab"

sambil menggertak giginya kencang- kencang, Hian hoat tojin membungkam diri dalam seribu bahasa. Hwee cuncu tertawa dingin, kelima jari tangannya segera disentilkan kedepan, kemudian secara terpisah dia mengetuk tiga kali tulang iga kiri dan kanan tosu tersebut.

Hian hoat tojin sama sekali tidak mengeluh atau mengerang kesakitan, akan tetapi sekujur badannya kelihatan gemetar keras, giginya saling beradu keras dan peluh dingin sebesar kacang kedele bercucuran membasah, jidatnya. Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, Phu sian sangjin berseru pelan.

"Aku rasa sudah cukup,"

Hwee cuncu mengiakan, dengan cepat dia melakukan gerakan mengurut diatas tulang iga kiri dan kanan tosu tersebut.

Lambat laun Hian hoat tojin tidak gemetar lagi, namun nafasnya justru ngos-ngosan seperti dengusan nafas kerbau, dengan suara yang samar dan tak jelas ia berteriak :

"Bunuhlah diriku, kumohon kepada kalian cepatlah bunuh aku.." Hwee cuncu sebera mendengus dingin :

"Bukankah sejak tadi telah kukatakan kepadamu, mencari matipun bukan suatu pekerjaan yang mudah nah, katakan saja, sebetulnya kau bersedia mengaku atau tidak"

sambil menggertak gigi kembali Hian hoat tojin membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Itu mah gampang sekali" Jengek Hwee cuncu kemudian sambil tertawa dingin,

"tak salahnya kalau kita mencoba sekali lagi, mungkin kalau ini kau akan berubah pendirianmu."

Kelima jarinya sebera digetarkan lagi, dia hendak mengetuk tulang iga tosu tersebut. Namun ilmu menyumbat nadi memotong urat betul-betul sebuah siksaan yang luar biasa hebatnya dan sukar ditahan oleh siapapun, cepat-cepat Hian hoat tojin berteriak keras : "Tunggu dulu, tunggu dulu"

"Nah, cepat katakana, bagaimana keputusanmu?" kata Hwee cuncu sambil menghentikan gerakan tangannya. Hian hoat tojin menghela napas panjang.

"Aaai baiklah, aku akan berbicara."

"Nah begitulah baru terhitung tindakan orang yang pandai, sekarang kau boleh berbicara pelan-pelan."

sambil berpaling kearah Phu sian sangjin, katanya kemudian. "silahkan ciangbun suheng mulai memeriksanya" Phu sian sangjin

manggut-manggut, tanyanya kemudian : " sebenarnya koancu kalian berada didalam kuil atau tidak?" "Aku tidak tahu" jawab Hian hoat tojin sambil menghela napas.

Mendengar jawaban tersebut, Hwee cuncu kembali bersiap-siap dengan kelima jarinya, ia membentak :

"siluman tosu bau, licik amat akalmu, rupanya sebelum kusuruh kau merasakan siksaan serta penderitaan yang paling hebat mungkin kau enggan menjawab sejujurnya" sambil berkata lagi laGi dia berniat mengetuk tulang iganya. Tapi Hian hoat tojin telah menjerit lebih dulu :

"Tunggu dulu Hud ya"

"Hmmm, jika kau berani berbohong lagi jangan salahkan kalau aku pun tak akan sungkan-sungkan."

Hian hoat tojin menghela napas panjang.

"Maksudku walaupun dia berada didalam kuil namun berada dimanakah dia sekarang aku sungguh-sungguh tidak tahu."

"Lalu sebetulnya dia berada dimana?"

"Didalam ruang bawah tanah didasar peti mati, namun ruang rahasia tersebut mempunyai sebuah lorong jalan tembus langsung berhubungan dengan punggung bukit, andaikata ia menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan mungkin saja dia kabur melewati tempat itu."

"Lantas kemanakah perginya kakek berambut putih serta Kho Beng?"

"Mereka pun berada didalam ruang rahasia."

Beng Gi ciu menjadi sangat terperanjat, tak tahan lagi dia menimbrung dari samping.

"Lo siansu, kalau toh dalam ruang rahasia , bisa jadi mereka telah membawa kabur Kho kongcu dari tempat tersebut?"

"Beng li sicu tak usah kuatir," kata Phu sian sangjin sambil tertawa lebar,

"dalam perjalananku meninggalkan bukit siong san kali ini , selain lima rasul panca unsur turut bersamaku, akupun membawa serta enam puluh orang pendeta sakti yang kini telah menyebarkan diri disekeliling bukit Wang husan.Asal mereka belum keluar dari sini, aku percaya tak nanti mereka bisa lolos d ari pengawasan anggota pendeta siau limpay kami."

Beng Gi ciu segera menghembuskan napas panjang, serunya tanpa sadar :

"Kalau begitu aku harus berterima kasih sekali kepada lo siansu" Agaknya Phu sian sangjin sudah mengetahui hubungan gadis tersebut dengan Kho Beng dilihat dari sikap dan nada pembicaraannya yang gelisah dan tak tenang tanpa terasa tersenyum.

Kontan saja paras muka Beng Gi ciu berubah menjadi semu merah karena jengah.

setelah menarik wajahnya Phu sian sangjin segera membentak lagi kearah Hian hoat tojin :

"Betulkah kakek berambut putih itu mengobati luka beracun dari Kho Beng."

Kembali Hian hoat tojin menghela napas,

"Aaaai,,,setelah aku berbicara terus terang rasanya tiada rahasia yang bisa mengelabui lo siansu lagi, sebetulnya racun Ang bong tok yang diderita Kho sauhiap tak lain adalah ulah dari kakek berambut putih itu sendiri."

"Hmmm, kalau itu mah aku sudah tahu" tukas Beng Gi ciu sambil mendengus. Dengan keheranan Hwee cuncu segera menyela :

"Beng li sicu, kalau toh sudah mengetahui hal ini, mengapa kau biarkan dia membawa pergi Kho Beng?"

Beng Gi ciu segera menghela napas panjang,

"Aaaai, hal ini disebabkan aku tak mengerti ilmu pertabiban, andaikata aku menahan Kho kongcu kemudian berakibat dia mati keracunan, bukankah.bukankah...iaaaai?"

sekali lagi dia menghela napas panjang dan menutup mulut.

Phu sian sangjin segera berpaling kembali kearah Hian hoat tojin seraya membentak :

"Lanjutkan perkataanmu"

"Kakek berambut putih itu sudah lama tertarik dengan Kho sauhiap. sebab selain berilmu tinggi diapun sudah menguasai ilmu silat yang tercantum dalam kitab Thian goan bu boh, maka dengan mengandalkan ilmu beracun Im ham tok kang ia berhasil merubah Kho sauhiap menjadi se seorang yang lain."

"Ilmu beracun Ha im tok kang? omitohud" seru Phu sian sangjin cepat,

"benar-benar suatu maksud tujuan yang sangat keji dan tak berperi kemanusiaan, walaupun aku sudah mendengar kalau si setan tua dari Lam ciang adalah manusia busuk. namun belum pernah kusangka kalau dia sebetulnya adalah manusia buas yang berhati sekeji ini" Beng Gi ciu yang berada disisinya buru-buru bertanya : "sebetulnya ilmu macam apakah ilmu racun Im ham tok kang tersebut?"

Dengan suara dalam Phu sian sangjin berkata :

"Kepandaian itu merupakan sejenis ilmu beracun yang sangat jahat dari wilayah Lam ciang. Dengan menggunakan tiga jenis kekuatan yang sesat yang mengandung hawa dingin beracun, mereka bisa merubah watak seseorang yang berilmu tinggi menjadi orang yang bewatak sesuai dengan kehendak hati mereka. Biasanya orang yang dirubah olehnya dengan menggunakan ilmu beracun tersebut bukan saja watak aslinya akan hilang, kejadian dimasa lampau terlupakan sama sekali, namun tenaga dalam yang dimilikinya justru akan meningkat menjadi sepuluh kali lipat lebih dahsyat."

setelah berhenti sejenak, kembali ia berkata :

"Jelas sudah sekarang, rupanya si setan tua dari Lam ciang telah bersekongkol dengan pemilik kuil Hian thian koan ini untuk menciptakan seorang tokoh sakti yang bisa mengobrak abrik dunia persilatan serta menguasai seluruh jagat. Benar-benar sebuah rencana yang amat keji"

Lo siansu,Beng Gi ciu segera berkata , "menurut pandanganku, lebih baik kita berangkat dulu keruang rahasia dibawah tanah untuk menolong orang terlebih dahulu."

"Betul" sambil tertawa ketua siau lim pay ini mengangguk.

Kepada Hian hoat tojin segera bentaknya :

"Ayo cepat bangun dan tunjukkan jalan buatjalan kami"

Hian hoat tojin tak berani membantah, sambil meronta untuk bangun berdiri, katanya :

"Lo siansu, dapatkah kau membebaskan dulu jalan darahku?" "Tentu saja boleh" sahut Phu sian sangjin sambil tersenyum,

"Cuma kau mesti ingat, apabila mencoba melarikan diri atau mengacau ditengah jalan, kau bakal mendapat sebuah akhir yang amat tragis dan mengerikan hati"

Berbicara sampai disitu, ia segera menyentilkan jari tangannya dan membebaskan jalan darah cian keng hiat dibahu kiri kanangnya yang tertotok.

setelah bebas dari totokan, Hian hoat tojin menggerak-gerakkan dulu sepasang tangannya, kemudian katanya sambil menghela napas : "Apakah lo siansu hendak berkunjung keruang rahasia dibawah peti mati?"

"Bila apa yang kau ungkap adalah jujur, tentu saja kami harus berkunjung kesana"

Hian hoat tojin tidak banyak berbicara lagi, ia segera beranjak meninggalkan tempat tersebut.

Tak selang berapa saat kemudian, rombongan tersebut telah berjalan masuk kebawah peti mati.

sambil menghentikan langkahnya dan mendengus dingin, Phu sian sangjin segera berkata

"Ditempat ini bukan saja terdapat ruang rahasia dan lorong bawah tanah, masih ada tiga buah alat perangkap yang sangat lihai."

"Ketajaman mata lo siansu betul-betul mengagumkan," cepat- cepat Hian hoat tojin berseru,

"namun ketiga buah alat perangkap itu tak akan digerakkan secara sembarangan.