Kedele Maut Jilid 32

 Jilid 32

 "Kho Beng, tataplah sepasang mataku tanpa berkedip, jangan kau gerakkan badanmu, jangan menggunakan tenaga, ingat, aku sedang berusaha mengobati lukamu."

Kata-kata yang muncul dari bibirnya seakan akan mengandung semacam kekuatan atau daya pengaruh yang susah dilawan, membuat Kho Beng menuruti semua perintahnya tanpa membantah.

Mata, kecuali sinar mata terpancar dari balik matanya itu, Kho Beng merasa dirinya seakan-akan sudah tak hadir lagi di dunia ini, seolah-olah seluruh badannya punah dengan begitu saja, kecuali sepasang sorot mata yang tak bergerak.

Tak lama kemudian, Kakek berambut putih itu mengerakkan sepasang telapak tangannya, segumpal asap putih menyembur keluar dari balik telapak tangannya itu dan menyelimuti seluruh tubuh Kho Beng.

Tanpa disadari Kho Beng merasakan kembali tubuhnya bergetar keras, tiba-tiba gumamnya :

"Dingin. dingin"

Namun Kakek berambut putih itu sama sekali tidak menghentikan gerakannya, kabut putih yang menyebur keluar terus menerus menyelimuti seluruh badan Kho Beng hingga sepenanak nasi lamanya, setelah itu baru dia menghentikan perbuatannya.

Bersamaan waktunya, cahaya hijau yang memancar keluar dari balik matanya pun turut hilang, ia pulih kembali kedalam keadaan semula.

Dari balik buli-bulinya dia mengeluarkan sebutir pil merah dan dijejalkan kemulut anak muda tersebut sambil berseru : "Cepat telan"

Agaknya Kho Beng sudah tak berpikiran dan perasaan lagi, sekarang dia hanya tahu menuruti semua perintahi bahkan tanpa ragu barang sedikitpun dia telan pil merah itu.

selang berapa saat kemudian, Kakek berambut putih itu baru bertanya dengan suara lembut :

"Bagaimana rasamu sekarang?"

"sudah ada baikan, tidak sedingin tadi lagi"

"Bagus sekali" kakek itu tertawa gembira, "Aku telah mendesak keluar racun jahat itu dengan menggunakan ilmu hawa dingin, kau harus tahu Ang bong tok merupakan racun paling jahat di kolong langit, kecuali mempergunakan cara ini tiada cara lain yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya." "Aku tahu." sahut Kho Beng kaku.

"sekarang berbaringlah dahulu dengan tenang, selanjutnya tiap hari aku akan mengobati lukamu sebanyak dua kali, kurang lebih sepuluh hari kemudian ia akan sembuh kembali seperti sedia kala."

"Baik kembali" sahut Kho Beng kaku.

"Apakah kau lapar?" tiba-tiba Kakek berambut putih itu bertanya dengan lembut.

"Yaa, aku agak merasa lapar" Kakek itu segera mengangguk :

"Beristirahatlah dulu dengan tenang, aku akan menyuruh orang untuk menyiapkan hidangan bagimu"

Ia segera membalikkan badan berjalan menuju keluar, sementara pintu kamar rahasia pun rapat kembali.

Kali ini dia tidak menuju kejalanan semula tapi berbelok ke sisi kiri ruang tengah, disitu dia membuka pula sebuah pintu rahasia yang lain.

Ternyata disekeliling meja altar terdapat dua buah pintu rahasia yang berbeda letak. Dibalik pintu rahasia itu terdapat pula sebuah ruang rahasia yang luasnya tak berbeda seperti ruangan dimana Kho Beng berada, cuma saja disana tidak terdapat pembaringan, yang tersedia hanya sebuah meja kecil serta dua buah kasur duduk.

Diatas meja kecil terdapat sebuah hiolo kecil yang mengepulkan asap dupa, sementara diatas kasur duduk itu terdapat seorang tosu tua yang kurus dan berambut putih sedang duduk bersila disana.

Ketika Kakek berambut putih itu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan, pintu rahasia kembali menutup rapat. Tosu tua itu menegur :

"Bu liang siu hud, setan tua, tampaknya usahamu telah berhasil dengan sukses"

Kakek berambut putih itu tertawa misterius :

"Tegasnya saja aku baru berhasil mendapat setengahnya saja." "Apa maksud perkataanku itu?"

"Bocah muda itu mempunyai dasar kekuatan yang sangat tangguh, andaikata tidak dibantu oleh pengaruh obat, hampir saja aku tak mampu mengendalikan dirinya"

"Bagaimana sekarang?" Tanya si tosu ceking itu sambil tertawa. "Dengan bersusah payah akhirnya aku berhasil juga menguasai

seluruh kesadarannya." "Bukankah hal ini berarti kau sudah berhasil sembilan puluh persen? waaah..pinto wajib menyampaikan selamat kepadamu"

"Persoalan ini merupakan urusan kita berdua," ucap Kakek berambut putih itu dengan wajah serius,

"ada rejeki kita nikmati bersama, ada bencana kita tanggulangi berbareng, berhasil atau gagal bukanlah urusanku seorang"

tosu tua itu Nampak tertegun, segera ujarnya :

"Jika kutinjau dari nada pembicaraanmu barusan, tampaknya dalam persoalan ini sudah timbul kesulitan?"

"Darimana kau bisa menduganya?" dengus si kakek. tosu tua itu balas mendengus .

"Hal ini sudah terlalu jelas membentang didepan mata, dengan tabiatmu, seandainya tiada kesulitan yang timbul dari peristiwa ini, tak mungkin kau akan bilang, ada rejeki dinikmati bersama, ada bencana ditanggulangi berbareng"

Kakek berambut putih itu segera tertawa tergelak : "Haaa..haaa.haaaa.tepat sekali, hitung-hitung kau memang

termasuk seorang yang hebat, sebetulnya persoalan ini bukan timbul dari Kho Beng pribadi, tapi dia justru membawa ekor yang memusingkan kepala."

"Ekor macam apa?"

Kakek berambut putih itu menghela napas :

"Ada seorang budak tolol jatuh cinta kepadanya, ia tak segan- segan mengobral uang untuk memohon pengobatan dariku, malah darinya aku berhasil menipu sejumlah uang."

"Haaahhaaahhhaaahhhi.kalau hanya urusan sekecil ini mah bukan menjadi masalah," seru tosu ceking itu sambil tertawa tergelak-gelak.

"Hmmm, kelihatannya saja bukan menjadi suatu masalah, tapi kau tahu, budak tersebut bukan termasuk manusia persilatan biasa."

"oya, lantas dewa dari manakah dia?" Tanya tosu ceking itu mulai tertarik.

"Dihadapanku, budak tersebut telah mendemontrasikan kehebatan ilmu silatnya, ilmu jari Tong kim ci."

"Tong kim ci?" tosu ceking itu baru merasa terperanjat, "jangan-jangan dia adalah.."

"Yaa, dia adalah keturunan dari Kim ka sian Beng Cung ciu yang menjadi pimpinan dari tiga dewa" Tosu ceking itu segera garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, ujarnya kemudian :

"waaahi.waaah kalau persoalan ini mah betul-betul merupakan suatu masalah yang sangat merepotkan."

setelah berpikir sebentar, kembali dia bertanya : "Lantas bagaimana caramu melepaskan diri dari

penguntitannya?"

"Aku telah membuat suatu perjanjian dengannya, kuminta sepuluh hari kemudian ia siapkan lima puluh tahil emas untuk ditukar dengan Kho Beng."

"Apa salahnya kalau kau mengingkari janji setelah sampai pada waktunya? Masa dia

bakal datang mencarimu?"

"Tentu saja dia akan datang mencariku, sebab tempat perjanjian kami adalah bukit Wang hu san ini."

Berubah hebat paras muka tosu ceking tersebut, mendadak ia cengkeram dada si Kakek berambut putih itu dan membentak keras : "Bajingan tua Percuma kau dipanggil setan tua, mengapa kau

pintar dimasa-masa silam justru pikun disaat seperti ini."

Kakek berambut putih itu sama sekali tidak gusar, malah sambil tertawa ia berkata lagi :

"jadi kau menganggap tidak sepantasnya kuberitahukan persoalan ini kepadanya?"

"Tentu saja tidak boleh" teriak tosu itu.

Kemudian sambil menggertak gigi kencang-kencang, katanya lebih lanjut :

"Dengan perbuatanmu ini, bukankah sama artinya hendak mengobrak abrik kuil Hianthian koan ku ini?"

Kakek berambut putih itu masih tetap tersenyum.

"Coba tenangkan dulu pikiranmu, aku ingin bertanya, andaikata dia benar-benar mengobrak-abrik kuil Hian thian koan mu, tapi kau justru mendapatkan Kho Beng si bocah muda tersebut. Coba kau bandingkan, apakah hal ini lebih menguntungkan atau merugikan?"

Tosu tua itu menjadi tertegun, segera hardiknya : "Apakah maksud perkataanmu itu?"

si kakek mendengus .

"Hmmm, sebab aku mengetahui dengan pasti, budak tersebut pasti akan menguntil dibelakangku hingga seandainya kukatakan sesuatu tempat secara sembarangan, lagi kenyataannya aku mendatangi kuil Hian thian koan, mungkin kuilmu saat ini sudah diobrak-abrik tak keruan olehnya"

"Benar juga "tosu ceking itu segera berhasil menenangkan pikirannya, tapi sambil menggigit bibir ia berseru :

"Aku rasa hal ini kurang baik."

"Tiada persoalan di dunia ini yang bisa berlangsung dengan lancer dan sukses, paling tidak gangguan toh tetap ada."

"Kalau begitu si budak tersebut pasti sudah berada diluar kuil sekarang?"

Kakek berambut putih itu mengangguk. "Tak akan salah lagi dugaanku ini."

"Lantas apa yang harus kita perbuat sekarang?"

"Itu mah terserah padamu, sebab urusan ini adalah urusanmu sendiri"

"Mengapa urusanku sendiri?" teriak tosu ceking itu gusar,

"Kau yang membawa musuh tangguh tersebut kemari, tentu saja kau pula yang mesti menghadapinya."

Kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak : "Haaahhihaaahhhhahh.ini sih menurut pemikiranmu yang egois,

bukankah kita berkewajiban menanggulangi bencana bersama? sekarang aku sudah mendapat tugas mengurusi Kho Beng, maka sudah sepantasnya kalau kau yang mendapat kewajiban menghadapi serbuan dari musuh tangguh tersebut."

Tosu ceking itu segera menggeleng :

"Rasanya aku tak akan sanggup menghadapi keturunan dari tiga dewa see gwa sam sian."

"Kalau memang begitu terpaksa kita harus menggunakan cara yang lain."

"Bagaimana cara itu?"

"Dalam sepuluh hari mendatang aku rasa dia tak akan berani menyerbu ke dalam kuil sekalipun menyatroni kuilmu, tak mungkin bisa menemukan rahasia dibawah tanah ini. sepuluh hari kemudian, bila kau bersedia meninggalkan kuilmu untuk melarikan diri aku rasa keadaan masih belum terlambat."

"Kau suruh meniggalkan hasil karyaku yang telah kupupuk dan kubina selama hampir separuh hidupku ini?" seru si tosu sambil menahan rasa gemas. Kakek berambut putih tertawa bergelak. "Bila usaha kita telah berhasil dengan sukses dan seluruh dunia telah menjadi milik kita semua, apalah artinya tokoan semacam ini bagimu?"

sekilas rasa girang segera menghiasi wajah tosu tua itu, setelah berpikir sebentar katanya kemudian :

"Baiklah, kita bicarakan lagi sepuluh hari kemudian"

"kalau begitu kau mesti mengatur sebala sesuatunya dalam kuilmu itu."

Tosu tua tersebut menghembuskan napas dan segera bangkit berdiri

"Tunggu sebentar" mendadak Kakek berambut putih itu menghalangi.

"Masih ada suatu persoalan yang perlu kupesankan kepadamu." "soal apa?"

"Semua kegiatan didalam kuil harus berjalan seperti keadaan semula, lipat gandakan jumlah hio dan dupa yang dibakar dan kerahkan semua anggotamu untuk bersembahyang, pokoknya kita harus merubah suasana di dalam tokoan ini jauh lebih ramai dan semarak."

Tosu tua itu mendengus tanpa menjawab. sambil tertawa Kakek berambut putih itu berkata lagi :

"Pintu gerbang harus selalu terbentang lebar, kalau belum sampai tengah malam janganlah ditutup, tapi tindak tanduk kalian tak boleh sampai menimbulkan kecurigaan."

"Andaikata budak itu menggunakan alasan hendak bersembahyang didalam kuil dan masuk kemari melakukan penyelidikan?"

"Kau harus melayaninya sebaik mungkin, ajak dia mengunjungi setiap bagian kuil dan jangan sampai kau tunjukkan hal-hal yang mencurigakan, mengerti?"

"Bajingan tua , dengan berbuat begitu bukankah sama artinya kau hendak member kesulitan kepadaku, bila budak itu diperbolehkan melakukan peninjauan kesegala pelosok dan ternyata tidak menjumpai kau serta Kho Beng, apa akibatnya mungkin kau sendiripun tidak dapat membayangkan sendiri"

"Aaahhh..tampaknya dalam segala hal, aku mesti menuturkan untukmu, kau toh bisa menutup sebuah ruang khusus yang terpencil dengan alasan tempat itu dipakai untuk melakukan pengobatan."

Kemudian setelah tertawa bangga, dia melanjutkan : "sudah pasti budak tersebut tak akan menunjukkan identitasnya sendiri, dalam hal demikian kau pun tak usah memperlihatkan bahwa kau telah mengetahui identitasnya yang sebenarnya, bila dia bertanya kepada mu mengapa ada disebuah ruangan yang ditutup,"

Bagaikan baru menyadari akan hal itu, tosu tua itu segera menjawab :

"Yaa, pinto bisa bilang kalau ada orang meminjam tempat kepadaku untuk menyembuhkan luka seseorang, siapapun tak boleh mengganggunya sebab hal tersebut dapat membahayakan orang yang menderita keracunan itu."

Kakek berambut putih itu segera menepuk nepuk bahu tosu tua tersebut sambil katanya :

"Totiang, mengapa secara tiba-tiba kau dapat berubah menjadi begini pintar?"

Merah jengah selembar wajah tosu ceking itu, tanpa berkata kata dia segera membalikkan badan dan beranjak dari situ.

sedang si Kakek berambut putih itu segera menjatuhkan diri duduk diatas kasur dan tak lama kemudian sudah terlelap dalam impian yang indah. Kho Beng masih berbaring diatas pembaringan dengan tenang.

suasana didalam ruangan batu itu memang amat hening, sedemikian heningnya sehingga dapat didengar suara napas serta detak jantung sendiri dengan amat jelas.

Dia ingin merangkak turun dari pembaringan, namun keempat anggota badannya bagaikan tak bertenaga, namun ia dapat merasakan tubuhnya sangat nyaman, rasa sakit dipunggungnya telah lenyap sejak tadi, kecuali sama sekali tak bertenaga, yang lain tidak memperlihatkan gejala yang aneh atau luar biasa.

Ketika ia mencoba untuk mengingat-ingat kembali kejadian yang dialaminya selama dua hari terakhir ini, pikirannya terasa begitu rusak hingga tak mampu untuk mengumpulkan kembali semua pikiran dan perasaannya, seakan-akan segala sesuatu yang pernah terjadi sudah tiada sangkut pautnya lagi dengan dirinya.

Berada dalam keadaan beginilah dia mendengarkan dengus napas dan jantung sendiri, membawanya menuju kealam impian yang penuh ketenangan dan kedamaian.

Entah berapa saat telah lewat, suara gemerincing pintu rahasia yang dibuka orang membuatnya mendusin kembali dari impian. Ketika ia mencoba untuk membuka matanya, apa yang kemudian terlihat segera membuat pemuda itu tertegun.

Ternyata yang datang bukan Kakek berambut putih itu, juga bukan tosu penghuni kuil, melainkan seorang dayang yang berwajah cantik,

Dayang tersebut membawa sebuah baki, diatas baki terletak pelbagai macam hidangan, sambil mendekati Kho Beng ia berbisik lirih "Kho kongcu."

"Terima kasih banyak untuk hidangan yang kau bawakan," kata Kho Beng dengan kening berkerut, "tapi aku.."

"Kau tak bertenaga dan tak mampu bergerak bukan?" sambung dayang itu cepat.

"Ya a benar, sekarang aku merasa terlalu lemah dan lelah." "Tak apa" ujar dayang itu sambil tertawa, "aku dapat

membimbingmu untuk bangun "

sambil berkata dia benar-benar memayang Kho Beng untuk dibantu bangkit dari pembaringan.

Kho Beng tak mampu menggerakkan tubuhnya, terpaksa dia membiarkan dayang itu untuk membantunya bangun dan duduk bersandar dipinggiran pembaringan.

Tak sampai Kho Beng berbicara, dayang itu telah mengambil semangkuk nasi serta berapa sayuran lalu menyuapnya dengan sabar.

Kendatipun Kho Beng merasa sangat rikuh dan tidak leluasa, namun oleh karena dia betul-betul merasa lapar, maka dalam suapan dayang tersebut dia melahap semua hidangan yang diberikan.

Menanti Kho Beng telah selesai bersantap. dayang itu baru mengamati sekejap paras muka anak muda itu, kemudian menghela napas panjang

sesudah menghabiskan hidangan yang tersedia, Kho Beng merasakan semangat dan kesegaran tubuhnya telah pulih kembali, buru-buru dia berseru :

"Terima kasih banyak nona atas perhatianmu"

Dayang itu menggeleng : "Kho kongcu tak usah sungkan- sungkan.."

Kemudian sesudah menatapnya sekali lagi, dia berkata dengan sedih : "Aku harus segera pergi dari sini" Namun baru berjalan berapa langkahi dia telah balik kembali kesisi tempat tidur dan berkata :

"Kabarnya ilmu silat Kho kongcu amat tinggi serta menggemparkan seluruh dunia, entah.."

"dari mana kau tahu?" Tanya Kho Beng setengah bingun. "Aku dengar hal ini dari majikanku."

siapa pula majikan perempuan itu? Dayang tersebut menghela napas.

"Majikan perempuan ya majikan perempuan.. a i, nampaknya pikiran dan kesadaranmu telah mulai kabur dan hilang, apalah gunanya banyak bicara denganmu?"

"Kalau memang tak mau berbicara ya sudahlah, otakku ini memang tak bisa dipergunakan lagi, aaaibila kau mempunyai masalah yang menyulitkanmu, lebih baik pergilah mencari totiang itu"

si dayang segera mendengus sambil menggigit bibir serunya : "Hmmm, justru dialah seorang raja iblis yang membunuh orang

tanpa mengucurkan air mata."

Kho Beng yang mendengar perkataan tersebut jadi tertegun tapi kemudian tertawa hambar, matanya segera dipejamkan kembali dan tidak berbicara lebih lanjut.

Dengan cemas dayang itu mendekatinya serta menggoncangkan bahunya Kho Beng, setelah itu bisiknya :

"Andai kata kuberi sebutir pil untukmu, bersediakah kau untuk menelannya?"

"Tak sedikit obat yang telah kumakan. kenapa pil tersebut harus kutelan?"

"obat tersebut pemberian majikan perempuanku," bisik si dayang, "tapi kau tak boleh mengatakannya kepada Kakek berambut putih itu, sebab kalau tidak, aku serta majikan perempuanku akan dicelakainya sampai mati"

"Mengapa begitu?" Tanya Kho Beng dengan kening berkerut.

Dayang itu makin gelisah.

"Biarpun kuterangkan kepadamu sekarang juga tidak ada gunanya, lebih baik telan obat ini lebih dulu, mungkin sesudah itu kau akan mengerti dengan sendirinya."

sambil berkata dia segera mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam pekat. Paras muka Kho Beng sangat dingin dan hambar, sama sekali tidak Nampak perubahan apapun diwajahnya.

Jari tangan dayang itu Nampak agak gemetar, dia seperti rada sangsi, tapi setelah termenung sejenak akhirnya dia menjejalkan obat tersebut kedalam mulut Kho Beng.

Kho Beng sendiri ternyata tanpa ragu-ragu segera menelan pil tersebut kedalam perutnya.

Paras muka dayang itu Nampak berubah makin pucat kehijau- hijauan, cepat-cepat dia berbisik ditelinga Kho Beng :

"Ingat, disaat kau dapat memahami perkataanku ini berarti kau akan tahu kalau Kakek berambut putih itu mengandung niat jahat kepadamu, dia hendak mempergunakan ilmu beracun Im han tok kang nya untuk merubah dirimu menjadi seseorang yang lain, maka usahanya tak pernah akan berhasil. Bila kau sudah dapat memahami arti perkatanku ini, jangan sekali-kali kau katakana bahwa aku telah memberimu sebutir obat, ingat baik-baik"

"Mengapa kau begitu ketakutan?" Tanya Kho Beng. Dengan suara gemetar dayang itu menjawab :

"sebab bila kau mengatakannya, maka aku bersama majikan perempuanku bakal mati konyol, kumohon kepadamu ingatlah baik- baik pesanku ini"

"Baiklah" sahut Kho Beng kemudian sambil menghela napas.

Dengan perasaan gelisah kembali dayang itu berkata :

"sekarang aku harus pergi dari sini, ingat baik-baik pesanku tadi, jangan sekali-kali kau melupakannya."

Kho Beng mengangguk tanpa bicara, diawasinya bayangan punggung dayang tersebut hingga lenyap dari pandangan mata, sementara pikirannya tetap kosong dan hampa.

Dengan termangu- mangu dia mencoba untuk berpikir namun tak berhasil, tanpa disadarinya akhirnya dia tertidur.

Entah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba pemuda itu terjaga kembali, namun kali ini tiada orang yang memasuki ruangan rahasia tersebut, melainkan dia sendiri yang terjaga dari tidurnya.

Mendadak ia merasa ada sesuatu yang tak beres, entah apa sebabnya tiba-tiba muncul perasaan bergidik didalam hati kecilnya.

Ternyata pikiran dan kesadarannya menjadi agak jernih, dia seperti teringat kembali akan dirinya yang terlupakan, disamping itu perkataan dari dayang tersebut mendatangkan pula manfaat bagi dirinya. 'Kakek berambut putih itu hendak menggunakan ilmu Im han tok kang untuk merubahmu menjadi seorang yang lain. obat ini mungkin bisa membuat kesadaranmu pulih kembali. Jangan sekali-kali kau katakana, aku dan majikan perempuanku..'

Teringat olehnya tempat ini adalah sebuah tokoan, siapa pula dayang tersebut? Dan siapa pula majikan perempuannya?

Ia ingin memecahkan persoalan tersebut namun tak berhasil menemukan suatu jawaban. Tapi dia pun terbayang kembali akan cicinya Kho Yang ciu, teringat si kakek tongkat sakti sertya Chin sian kun, teringat Bu wi lojin, Kim bersaudara, pelajar rudin Ho heng serta hwesio daging anjing yang berada di lembah hati Buddha, teringat juga dengan Beng Gi ciu serta siau wan..

Dia cun teringat bagaimana dirinya menyamar sebagai si Naga terbang dari see ih Kongci Cu, bagaimana dia melompat kedalam jurang hingga terluka, teringat juga bagaimana Beng Gi ciu menolongnya, bagaimana si Kakek berambut putih itu muncul secara tiba-tiba hingga membuat luka dalamnya yang sembuh dalam waktu singkat tahu-tahu menderita keracunan hebat.

Makin lama pikirannya semakin jernih, diapun semakin mengerti bahwa Kakek berambut putih itu adalah seorang manusia jahat, walaupun dia belum bisa memastikan dimanakah letak maksud tujuannya, tapi paling tidak dia bermaksud mencelakai dirinya.

Dengan perasaan gelisah dan gusar, buru-buru dia mencoba untuk menghimpun kembali tenaga dalamnya.

Namun dalam pusarnya seolah-olah terjadi pembekuan, seperti juga kosong tanpa ada isinya, betapapun dia telah berupaya untuk menghimpun kembali tenaganya, ternyata tak berhasil juga untuk mengumpulkan kekuatan tenaga murninya.

selain daripada itu, keempat angota badannya tetap terasa lemas tak bertenaga, bahkan keingainannya untuk membalikkan badan pun tak mampu dilakukan.

Dalam perasaan sedih yang mencekam, tiba-tiba saja dia terinagt kembali dengan dayang tersebut, maka dia pun meletakkan seluruh pengharapannya ke atas pundak dayang itu.

Suasana didalam ruang gua gelap gulita tanpa cahaya, dia tak tahu pukul berapa sekarang, dia pun tak tahu sampai kapan Kakek berambut putih itu bakal datang kembali.

Tapi ada satu hal yang diketahui secara pasti, ia sudah pasti telah terpengaruh oleh sejenis ilmu sesat sehingga kehilangan daya pikiran serta kesadarannya, ini berarti selama tenaga dalamnya belum pulih kembali seperti sedia kala, dia masih harus berlagak seakan-akan orang yang kehilangan kesadaran.

Akhirnya ditengah suasana yang serba tak menentu, pintu ruangan rahasia tersebut terbuka kembali, kali ini yang muncul adalah Kakek berambut putih itu.

sedapat mungkin Kho Beng berusaha untuk mengendalikan gejolak hawa amarahnya, dia berusaha memperlihatkan sikapnya yang bodoh bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, selama ini dia hanya memandang sekejap sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

sambil tertawa terkekeh- kekeh, Kakek berambut putih itu menegur :

"Kho Beng apakah hari ini kau merasa baikan?" "Yaa, rada baikan" sahut sang pemuda.

Namun Kakek berambut putih itu seperti merasa sangat terperanjat sekali, dengan sorot matanya yang tajam dia mengawasi wajah pemuda tersebut tanpa berkedip. nampaknya dia seperti kebingungan dan tidak habis mengerti.

Kho Beng yang menyaksikan kejadian ini menjadi sangat terkejut, hatinya berdebar keras.

Tampak Kakek berambut putih itu menegur lagi dengan kening berkerut kencang :

"Apa yang sedang kaupikirkan?" Dengan cepat Kho Beng menggeleng.

"Rasanya aku seperti tak memikirkan apa-apa, segala sesuatunya terasa kosong dan samar-samar, aku tak bisa mengingatnya kembali secara pasti dan jelas"

Memang itulah perasaan yang dialaminya setelah menelan obat berwarna hitam.

Kakek berambut putih tertawa puas, nampaknya semua kecurigaanya pun hilang lenyap dari benaknya, dengan wajah girang kembali dia berkata :

"Ya a, begitulah gejala yang akan kau alami selama proses pengobatan dilakukan, tapi lewat berapa hari kemudian keadaanmu akan jauh lebih segar lagi." Kemudian setelah berpikir sejenak, kembali dia berkata dengan suara dalam : "Kho Beng, sekarang aku hendak melakukan pengobatan lagi atas racunmu itu, tataplah mataku lekat-lekat serta jangan berpikir yang lain"

"Baik" jawab Kho Beng segera.

Dari balik sepasang mata Kakek berambut putih itu kembali mencorong keluar dua buah cahaya hijau yang menggidikkan mata, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Kho Beng balas menatap sorot mata tersebut.

Bersamaan itu pula, seperti apa yang dilakukan sebelumnya, dari sepasang telapak tangannya kembali memancar keluar dua buah gulungan asap putih yang sangat tebal dan segera menyelimuti seluruh badannya.

segulung hawa dingin yang menusuk perasaan dengan cepat menyusup kedalam tubuhnya membuat dia gemetar keras.

Namun pada saat ini pikirannya sudah tertuju pada peringatan dari si dayang, walaupun sepasang matanya menatap sinar hijau yang terpancar keluar dari balik mata lawan, namun pikirannya justru membayang persoalan lain.

Akhirnya Kakek berambut putih itu menghentikan pengobatan dengan senyuman dan menatap Kho Beng tanpa berkedip.

Kho Beng merasa terkejut sekali, buru-buru dia memejamkan matanya rapat-rapat. Melihat gejala ini si Kakek berambut putih itu berseru tertahan :

"Aaaah, aneh betul.."

Kho Beng yang mendengar seruan tersebut jadi sangat terkejut, namun di masih tetap memejamkan matanya tanpa berbicara. sesudah termenung dan berpikir sejenak, Kakek berambut putih itu segera berkata :

"Kho Beng, apa yang sedang kaupikirkan?"

"Aku tidak memikirkan apa-apa" terpaksa pemuda itu menjawab.

Kakek berambut putih itu segera mendengus.

"Hmmm, aku tak percaya kalau dalam dunia saat ini terdapat orang yang memiliki dasar tenaga dalam yang begini kuat dan sempurna, ternyata dibawah pengobatan serta daya kerja obatku masih dapat mengendalikan pikiran serta perasaan sendiri"

"Lotiang, apa yang kau katakan?" Kho Beng berlagak bingung serta tak habis mengerti.

"Hmm, tidak apa-apa"

Lalu setelah berhenti sejenaki dia berkata lagi : "Kau harus beristirahat sekarang"

Dengan cepat dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ, tak lama kemudian pintu rahasia kembali tertutup rapat.

Kho Beng segera merasakan hatinya bagaikan tenggelam kedasar samudra, sebab dia tahu tingkah lakunya barusan telah memperlihatkan titik kelemahan yang mengakibatkan timbulnya kecurigaan dihati kakek tersebut.

Ditinjau dari sikap gusar yang diperlihatkan Kakek berambut putih itu sesaat hendak meninggalkan tempat tersebut, dapat disimpulkan dia pasti hendak pergi mencari dayang tersebut.

Terbayang kembali apa yang pernah dikatakan sidayang, tanpa terasa hatinya tercekat, mungkinkah ia benar-benar telah mencelakai si dayang beserta majikan perempuannya?

Tapi apa boleh buat, keempat anggota tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, hal ini membuatnya sama sekali tak mampu berkutik, selain hatinya yang amat sakit bagaikan diiris-iris, ia tak bisa berbuat yang lain.

-ooo00000ooo-

kuil Hian thian koan termasuk sebuah tokoan yang amat termasyur, saban hari tak sedikit peziarah yang berkunjung kesitu untuk memanjatkan doa ataupun membayar kaul. senja itu, tampak ada dua orang gadis muda berjalan memasuki bangunan kuil tersebut. Tentu saja kedua orang ini tak lain adalah Beng Gi ciu beserta dayangnya, siau wan.

Waktu itu suasana didalam kuil kelihatan sangat bersih dan lenggang, sebab sebagian besar peziarah telah meninggalkan tempat itu, yang masih tetap tinggal disitu hanya Beng Gi ciu berdua.

Mula-mula Beng Gi ciu memasang hiolo lebih dulu diruang tengah, kemudian kepada tosu kecil dia mengajukan permohonannya untuk bertemu dengan pimpinan kuil. Buru-buru tosu kecil itu berkata :

"Koancu sedang berada didalam kuil lo kun tian, silahkan lisicu mengikuti diriku"

Dengan cepat tosu kecil itu mengajak Beng Gi ciu serta siau wan berangkat menuju keruanga Lo kun tian.

Ruang lo kun tian merupakan ruang yang paling besar didalam kuil Hian thian koan tersebut, waktu itu ketua kuil Hian thian koan sedang duduk diruang tengah. Begitu tiba dimuka ruangan, tosu kecil itu segera berseru : "Lapor koancu, ada dua orang li sicu hendak bertemu dengan

koancu."

Buru-buru Hian thian totiang munculkan diri untuk meyambut, katanya kemudian sambil tertawa :

"Bolehkah pinto tahu, li sicu ada urusan apa?"

"Jauh-jauh datang kemari, siau li selain ingin bersembahyang kepada sam hong congsu, juga karena ingin mengunjungi tokoan termashur diseluruh dunia."

"Perbuatan semacam ini merupakan perbuatan mulia, silahkan duduk untuk minum teh." sambil tertawa Beng Gi ciu menggeleng, ujarnya :

"siauli hanya ingin menanyakan bangunan-bangunan besar yang berada didalam kuil ini serta member derma untuk kesejahteraan kuil ini.."

Lalu kepada siau wan merunya : "Ambil sepuluh tahil emas dan berikan kepada totiang"

Buru-buru Hian thian totiang berkata :

"semenjak pinto jadi pimpinan dikuil ini, belum pernah kami menerima sumbangan sedemikian besarnya, sicu berdua , terima kasih banyak atas derma kalian ini."

siau wan segera mengeluarkan sepuluh tahil emas dan disodorkan kedepan. Ternyata tanpa sungkan-sungkan Hian thian totiang segera menerima sumbangan tersebut.

Menyusul kemudian, Hian thian totiang pun mengajak kedua orang tamunya untuk mengunjungi setiap ruangan yang berada didalam komplek bangunan kuil itu.

Ketika tiba diruangan paling belakang, tampaklah gedung yang disebut Tay lang tian berada dalam keadaan tertutup rapat. Beng Gi ciu segera menegur :

"Apa yang terjadi disini? Mengapa gedung ini tertutup?" sambil tertawa paksa sahut Hian thian totiang :

"Kebetulan berapa hari berselang telah datang seorang tabib yang hendak mengobati seorang pasiennya dari keracunan, untuk kelancaran pengobatannya dia telah meminjam gedung tersebut untuk dipakai selama beberapa hari."

"Lalu apa sebabnya pintu gedung itu tertutup rapat?" "sebab sicu yang menderita sakit itu telah keracunan hebat,

untuk pengobatannya dibutuhkan waktu yang lama serta menggunakan semacam pengobatan dengan hawa dingin, oleh karenanya orang lain tak boleh mengganggu ketenangan mereka."

"Berapa harikah yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka keracunan semacam itu?"

"Konon delapan sembilan hari lagi orang tersebut dapat disembuhkan kembali seperti sedia kala."

Beng Gi ciu segera manggut-manggut : "Terima kasih banyak untuk keterangan totiang"

Maka ia bersama siau wan segera memohon diri dan meninggalkan kuil tersebut dihantar oleh Hian thian totiang hingga didepan pintu gerbang.

Beng Gi ciu serta siau wan segera menuruni bukit Wang hu san, tak lama kemudian mereka berhenti disebuah hutan yang lebat.

Dengan nada menyelidik siau wan segera berkata :

"Hian thian totiang mempunyai tampang yang licik dan banyak akal, dalam sekilas pandangan saja sudah diketahui kalau ia bukan manusia baik-baik, selain itu aku merasakan betapa misteriusnya bangunan tokoan tersebut." Beng Gi ciu segera mengangguk.

"Yaa, bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya sulit bagi kita untuk menentukannya, malam ini kita harus melakukan penyelidikan kembali keatas kuil Hian thian koan tersebut."

Tak lama kemudian hari sudah gelap. kentongan kedua pun sudah menjelang tiba.

Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh jagat inilah, Beng Gi ciu serta siau wan segera berangkat menuju ke kuil Hian thian koan dengan kecepatan tinggi.

Mereka langsung mendekati bangunan tersebut dan bersembunyi disebuah sudut bangunan yang gelap dan tersembunyikan disana.

suasana dalam kuil Hian thian koan waktu itu amat hening, sepi dan tak terdengar sedikit suara pun, meski dalam setiap gedung dipasang lentera sebagai penerangan namun cahayanya amat redup, mungkin semua tosu penghuni kuil tersebut sudah pada tidur.

Lama sekali kedua orang itu bersembunyi disudut ruangan, setelah yakin kalau tiada sesuatu yang mencurigakan, Beng Gi ciu berbisik : "Ha yo berangkat, kita langsung menuju ke^edung To leng thian."

senja tadi dibawah bimbingan Hian thian totiang mereka telah mengunjungi setiap bangunan gedung tersebut serta mengamatinya dengan teliti, yang dimaksud sebagai gedung To leng thian tak lain adalah gedung yang dimaksud Hian thian totiang sebagai tempat yang digunakan Kakek berambut putih untuk mengobati luka Kho Beng.

Dengan gerakan yang amat cepat dan ringan, dalam waktu singkat kedua orang tersebut telah tiba diluar gedung TO leng thian, namun setelah diteliti dengan seksama mereka jadi amat terperanjat.

Ternyata pintu gerbang bangunan gedung itu sudah terbuka lebar, kertas segel dipintu pun sudah dilepas orang.

Beng Gi ciu segera member tanda kepada siau wan, kemudian mereka bersama-sama menerobos masuk kedalam ruangan gedung itu.

Ruangan gedung itu tera watt amat rapi dan bersih, diatas meja altar tergantung gambar dari TO leng coasu, lentera yang terletak diatas meja altar menyinari seluruh ruangan yang amat redup itu secara samar-samar.

sejauh mata memandang gedung tersebut berada dalam keadaan kosong, bayangan tubuh Kakek berambut putih maupun Kho Beng sama sekali tidak Nampak disana. Dengan perasaan gemas siau wan segera berseru :

"Nona, kita sudah ditipu mentah-mentah"

Beng Gi ciu segera memberi tanda agar jangan berisik, kemudian menarik tangan Siau wan dan diajak mengundurkan diri dari ruangan To leng thian dan menyembunyikan diri dibalik kegelapan.

Nona kembali siau wan berbisik. "Menurut pendapatku si Kakek berambut putih itu pasti bersekongkol dengan Sian thian totiang dari kuil ini, kalau tidak, mengapa tosu tua hidung kerbau itu menipu kita habis-habisan?"

"Permainan busuk apakah yang sedang mereka lakukan saat ini rasanya susah untuk disimpulkan sekarang," kata Beng Gi ciu dengan suara dalam, "bagaimana punjuga, pokoknya malam ini kita harus dapat membongkar persoalan ini hingga jelas dan tuntas."

"Menurut aku, satu-satunya jalan yang terbaik adalah melakukan keonaran secara besar besaran di dalam kuil Hian thian koan ini, kita tangkap Hian thian totiang dulu, tosu tua itu kemudian menyiksanya agar mengaku, masa kita takut dia tak akan memberikan pengakuannya buat kita?" "Kita jangan bertindak terlalu gegabah, mari aku sudah mempunyai akal yang bagus," kata Beng Gi ciu kemudian seraya menggeleng. Tiba-tiba..

Terdengar suara jerit kesakitan yang amat memilukan hati berkumandang mmecahkan keheningan malam.

Walaupun jerit kesakitan tersebut kedengarannya amat lemah dan jauh sekali, namun dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Beng Gi ciu, ia dapat menangkap suara tersebut dengan jelas sekali. Kepada siau wan segera tanyanya :

"Apakah kau sudah mendengar?" siau wan mengangguk berulang kali :

"Ya a, aku sudah mendengar, ada orang menjerit kesakitan, suaranya sangat memilukan hati, bahkan nampak seperti suara wanita."

Kemudian setelah celingukan sejenak sekeliling tempat itu, kembali la berkata :

"Nona, apakah kau sudah dapat mendengar secara pasti, suara jerit kesakitan itu berasal dari arah mana?"

Beng Gi ciu segera menggeleng.

"seandainya tempat itu bukan terletak dibawah tanah, tentu letaknya sangatjauh dari sini, saking jauhnya sehingga aku sendiripun tak dapat menentukan arahnya secara tepat."

Mereka berdua segera berusaha untuk memasang telinga serta mendengarkan lagi dengan seksama, namun sepeta nak nasi sudah lewat suara jerit kesakitan tersebut ternyata tak kedengaran lagi.

Tak tahan lagi siau wan segera berseru :

"Nona, apa gunanya kita menunggu terus disini? Toh mereka tak akan munculkan diri secara sukarela, lebih baik kita lakukan pemeriksaan kedalam "

Dengan wajah serius Beng Gi ciu termenung berapa saat lamanya, kemudian ia berkata :

"Ya a, nampaknya kita terpaksa harus berbuat begitu, tapi ingat, kau tak boleh bergerak secara sembarangan, mengerti?"

"Mengerti" sahut Siau wan cepat. "Tak usah kuatir nona, aku akan menuruti semua perkataanmu."

Beng Gi ciu segera melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan bergerak menuju kearah bangunan kuil, kali ini dia tak berusaha menyembunyikan jejaknya lagi, tapi langsung menuju keruangan dimana Hian thian totiang berdiam. Didepan kamar ketua kuil merupakan sebuah halaman kecil dengan aneka macam bunga yang tumbuh indah, meski berada dalam kegelapan malam namun tidak mengurangi keindahannya . siau wan segera berbisik.

"Coba lihat, pintar amat tosu itu menikmati hidupnya, panorama ditempat ini Nampak sangat indah dan menawan hati."

sementara pembicaraan berlangsung, mereka telah sampai didepan pintu ruangan.

Ruangan itu terbagi menjadi tiga , dua diantaranya berada dalam keadaan gelap. sedangkan bilik yang berada dibagian tengah masih memancarkan cahaya lentera yang redup,

Beng Gi ciu segera mendekati pintu ruang itu, diperhatikannya sejenak ruangan disekitar sana, kemudian baru mulai mengetuk. Tiada suara jawaban dari dalam ruangan. Beng Gi ciu menggertak gigi tiga kali ketukannya kali ini dilakukannya keras-keras.

"siapa disitu?"

Nona siau wan segera berbisik, "mereka tak bakal membukakan pintu untuk kita, lebih baik kita langsung menyusup kedalam."

Baru saja Beng Gi ciu hendak menjawab terdengar dari dalam ruangan bergema suara teguran seseorang : "siapa diluar?"

Menyusul kemudian pintu ruangan dibuka orang.

Yang membuka pintu adalah seorang tosu berjenggot putih, namun orang itu bukan Hian thian totiang pribadi.

setelah tertegun sejenak, Beng Gi ciu segera menegur : "Apakah Hian thian totiang tidak berdiam disini?"

tosu berjenggot putih itu kelihatan amat tercengang dan agak gelagapan, dia berkata :

"si.siapakah kalian? Mengapa kamu berdua datang kemari ditengah malam buta begini..apakah kalian adalah.adalah kawanan perampok"

Berbicara sampai disitu, dia sudah bermaksud untuk berteriak keras-keras memanggil rekan-rekannya .

Tapi Beng Gi ciu telah bertindak cepat, tangannya segera bergerak cepat dan kelima tangannya disentilkan kedepan melepaskan desingan angin serangan yang langsung menotok jalan darah ditubuh si tosu tua tersebut.

Tanpa disuruh siau wan memburu kedepan serta menahan tubuh sitosu tua tersebut agar tidak roboh ketanah, lalu menyeret tubuhnya kedalam kamar dan didudukkan diatas sebuah bangku. Beng Gi ciu yang menyusul ke dalam segera mengunci pintu ruangan rapat-rapat, kepada siau wan serunya :

"Cepat kau geledah dua bilik lainnya."

Siau wan menyahut dan menyusup masuk kedalam ke dua bilik lainnya, tak lama kemudian ia telah muncul kembali seraya berkata :

"Nona, tiada seorangpun disitu."

"Tak apa, akhirnya toh kita akan berhasil menemukan mereka semua," sahut Beng Gi ciu sambil tertawa dingin.

Kemudian dia ayunkan jari tangannya kedepan, desingan angin tajam segera menyambar api lentera hingga padam, lentera tersebut seketika itujuga padam. Dengan rasa gembira siau wan maju kedepan, serunya :

"Nona biar budak yang memeriksa orang ini." "Baik" Beng Gi ciu mengangguk,

"tapi jangan sampai kau lukai dirinya."

siau wan mengangguk berulang kali, segera dia mengeluarkan sebuah pisau belati kemudian sambil diayunkan dihadapan tosu tua berjenggot putih itu katanya : "Bila ingin menyelamatkan nyawamu, berbicaralah secara terus terang, mengerti?"

Jalan darah tosu itu tertotok hingga mulutnya tak mampu bebricara, badanpun tak dapat bergeraki hanya biji matanya saja yang berputar-putar panik, Kembali siau wan membentak dengan suara dalam :

"Jangan kau anggap aku tak berani melukai dirimu, kalau amarahku meluap, akan kusayati tubuhmu lebih dulu, ingin kulihat apakah kau bersedia untuk berbicara atau tidak,"

Kembali tosu tua itu memutar biji matanya dengan panic, namun tak sepatah kata pun yang diucapkan.

Beng Gi ciu yang melihat kejadian ini segera tertawa geli, selanya

:

"siau wan, kalau jalan darahnya yang tertotok tidak kau

bebaskan, bagaimana mungkin dia dapat berbicara?"

setelah ditegur, siau wan baru menyadari apa yang terjadi, dia sendiripun jadi kegelian sehingga tertawa cekikikan.

sesudah termenung sambil berpikir sejenak, akhirnya dia menotok dulu jalan darah cian hong kiat di kedua belah bahu tosu tersebut, kemudian baru menepuk bebas ketiga buah jalan darah penting yang berada didada tosu tersebut. Dengan begitu kecuali sepasang tangannya tak mampu digunakan lagi, tosu tua itu dapat berbicara seperti orang normal.

sesudah menghembuskan napas panjang dengan nada setengah merengek tosu tua itu berseru:

"Lihiap berdua, ampunilah jiwaku ini?"

"siapa namamu?" tegur siau wan sambil tertawa dingin.

"Pinto bernama Hian hoat, aku termasuk adik seperguruan Hian thian totiang, ketua kuil ini."

Kembali siau wan mendengus,

"Hmmm, nona kami tiada maksud untuk mencelakai jiwa mu, tapi sebagai timbal baliknya kau harus menjawab semua pertanyaan dari kami dengan sejujurnya, kalau tidak,hmmm, aku tak akan menjamin keselamatanmu itu"

Hian hoat totiang mengiakan berulang kali, sahutnya :

"Baik, aku akan menjawab, aku akan menjawab, asal tahu pasti akan kujawab dengan sejujurnya."

"Bagus sekali, dimanakah Hian thian totiang suhengmu sekarang?"

"Dia telah berangkat ke bukit Kun lun" Jawab tosu itu tanpa berpikir lagi.

Beng Gi ciu menjadi melengak sesudah mendengar jawaban itu, segera timbrungnya :

"Pergi kebukit Kun lun? Mau apa dia pergi kebukit Kun lun?" "Kuil kami masih terhitung cabang dari Kun lunpay, koancu kami

mempunyai kewajiban mengunjungi bukit Kun lun satu kali setiap tiga tahun."

"Kapan kembalinya?" Tanya Beng Gi ciu kemudian sambil menghela napas. Hian hoat totiang tertawa getir :

"Paling cepat tiga bulan, paling lama setengah tahun, bila lihiap berdua bermaksud menantikan kedatangannya, aku rasa.."

"Hmmm, kau pasti sedang berbohong" bentak siau wan tiba-tiba, "tak mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan di dunia ini

sewaktu kami datang kemari senja tadi, dia masih berada dalam kuil, mana mungkin begitu malam tiba dia telah berangkat kebukit Kun lun?"

Dengan wajah bersungguh-sungguh Hian hoat totiang berkata : "Apabila lihiap bersikeras mengatakan tak percaya, yaa apa boleh

buat, tapi keputusan koancu kami untuk berkunjung kebukit Kun lun sudah lama sekali ditetapkan, jadi bukan kebetulan." "selama Hian thian totiang berkunjung ke Kun lun san, mungkin kaulah yang mewakilinya menjadi koancu kuil Hian thian koan ini?" Tanya Beng Gi ciu setelah termenung sejenak.

sambil tertawa paksa, Hian hoat totiang manggut-manggut. "Ya a, memang begitulah, entah apa urusan apa lihiap berdua

mengunjungi kuil kami ditengah malam buta begini."

"Kemana perginya orang yang mengobati luka beracun digedung To leng thian tersebut?"

Tiba-tiba Hian hoat totiang tertawa :

"oooo..rupanya kedatangan lihiap berdua disebabkan persoalan ini."

"Hey, apa yang kau tertawakan? Mengapa cepat katakan, mengapa gedung To leng thian sudah kosong? Kemana perginya orang itu?"

"Ia sudah pergi meninggalkan kuil menjelang malam tadi, si tabib yang berambut putih itu telah pergi membawa pasiennya, dia bilang terpaksa harus pindah dari sini karena orang yang berziarah di kuil ini terlalu banyak sehingga ia sulit melakukan pengobatan disiang hari."

"Kemana dia telah pergi?" Tanya Beng Gi ciu terkejut. Dengan kening berkerut Hian hoat tojin menyahut :

"Aku dengar dia hendak pergi ke belakang bukit situ mencari gua, tapi tidak dijelaskan tempat yang sesungguhnya,"

walaupun demikian setelah menatap wajah Beng Gi ciu sekejap. dia meneruskan :

"Dia bilang delapan hari kemudian akan datang kembali kesini, sebab waktu itu pasiennya sudah sembuh sama sekali dari pengaruh racunnya."

"Hmmm, apa lagi pesannya?" dengus si nona. Tosu itu segera menggeleng.

"Tak ada pesan yang lain, hanya itu saja."

Beng Gi ciu dibuat setengah percaya setengah tidak, untuk berapa saat lamanya dia menjadi kesulitan untuk mengambil keputusan.

sementara itu siau wan telah memutar biji matanya berulang kali, lalu katanya :

"Nona, percayakah kau dengan semua omongan setannya itu?" Beng Gi ciu berpikir sebentar, mendadak timbul sebuah akal dalam hatinya, sambil tersenyum ia segera berkata kepada siau wan

:

"Aku rasa dia tak bakal bohong, mari kita pergi saja."

siau wan masih ingin membantah, namun niatnya segera dicegah oleh Beng Gi ciu dengan kedipan matanya.

Dengan cepat dayang itu memahami apa yang dimaksud majikannya sambil mendengus serunya :

"Hmmm, malam ini terlalu keenakan untuk si tosu tua hidung kerbau ini."

"Jangan kau ceritakan kepada siapa pun atas kejadian malam ini," ancam Beng Gi ciu dengan suara dalam,

" dengan jalan darah cian keng hiat yang tertotok, lebih baik kau sendiri yang mencari akal untuk membebaskannya."

Tidak menunggu sampai Hian hoat tojin sempat berbicara, gadis itu telah beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut diikuti siau wan dari belakang.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, mereka melompat keluar dari halaman lalu menyembunyikan diri di atas sebatang pohon yang besar.

setelah menyembunyikan diri baik-Baik, mereka berdua segera menyingkap dedaunan yang rimbun dan mengintip kebawah.

Tampak Hian hoat tojin muncul dari ruangannya dengan sempoyongan, begitu sampai di depan pintu segera teriaknya keras- keras memanggil rekan-rekannya yang lain.

Lama kemudian baru kelihatan seorang tosu setengah umur yang masih mengantuk munculkan diri dihalaman tersebut, dengan kaget bercampur gugup dia berseru : "susiok, susiok, ada apa?"

"Cepat cepat bebaskan jalan darah cian keng hiat ku yang tertotok" seru Hian hoat tojin dengan gelisah.

Tosu setengah umut itu kelihatan terkejut , seakan-akan saat itu baru mengetahui kalau sepasang lengan Hian hoat tojin terkulai lemas kebawah dan tak bisa bergerak.

Dengan gerakan cepat dia menepuk bebas jalan darah Hian hoat tojin yang tertotok itu, kemudian tanyanya dengan perasaan terkejut, bercampur keheranan.

"susiok, sebenarnya apa.apa yang telah terjadi?" Hian hoat tojin menghela napas panjang : "Aaaaai sebetulnya sicu berambut putih dan anak muda yang keracunan itu berada dimana?"

setelah agak tergagap tosu setengah umur itu menjawab. "Aku dengar mereka sudah pergi ke belakang gunung untuk

mencari gua yang sepi, tapi tidak diketahui gua yang manakah mereka berada."

Kembali Hian hoat tojin menghela napas.

"Ingat baik-Baik, bila menjumpai persoalan semacam ini lagi dikemudian hari, jangan sekali-kali mereka ditampung."

"Kee.. kenapa?"

"Tak usah banyak bertanya lagi tukas Hian hoat tojin marah, pokoknya ingat saja pesanku ini, gara-gara peristiwa tersebut, hampir saja selembar jiwaku turut melayang."

Tosu setengah umur itu mengiaka berulang kali dan tak berani bertanya lebih jauh. Hian hoat tojin segera mengulapkan tangannya berulang kali seraya berkata :

"sudah, disini tak ada urusan lagi, cepat mundur dari sini"

Tosu setengah umur itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari situ sementara Hian hoat tojin pun balik kembali kedalam ruangan.

suasana di dalam kuil Hian thian koan pun segera pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa.

sementara itu siau wan yang telah memutar sepasang biji matanya sambil mengawasi Beng Gi ciu.

Beng Gi ciu sendiripun sedang terjerumus dalam lamunan yang dalam, sebab berdasarkan yang terbentang didepan mata saat itu, sudah jelas semua tindak tanduk Hian hoat tojin bukan sengaja dibuat-buat tapi memang begitulah kenyataannya. Melihat majikannya hanya tercengang saja, tak tahan siau wan segera menegur :

"Nona, kawasan dibela kang bukit situ tak terlalu luas, mari kita pergi melakukan pencarian, siapa tahu kita akan berhasil menemukannya?"

Tapi Beng Gi ciu segera menggeleng : "Tidak Lebih baik kita menunggu sebentar lagi."

Nona kata siau wan sambil berkerut kening, "kelihatannya apa yang diucapkan tosu itu benar, apa lagi yang kau sangsikan? Lebih baik kita segera." "Aku mencurigai suara jerit kesakitan yang memilukan hati tadi" kata si nona dengan suara dalam.